Dan ‘rumah kita’ pun menyala, tidak gulita…

20 Mei 2018 | Kabar Baik

Selamat Hari Raya Pentakosta! Inilah hari dimana Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan turun atas para rasul.

Roh Kudus adalah ‘sosok’ yang sering kita dengar. Dalam Syahadat ‘Aku Percaya’ namaNya disebut tapi pernahkah kita melihat wujudNya? Kalau belum, lantas bagaimana kita mempercayaiNya?

Guru IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di kelas di sekolah dasar dulu memperkenalkanku pada listrik. Lampu, katanya, bisa menyala karena listrik. Televisi, katanya, bisa menampilkan siaran juga karena listrik. Komputer, bisa dijadikan alat kerja, setelah ia dihubungkan dengan listrik. Tapi semua masih katanya hingga aku suatu malam membuktikannya bahwa ia ada.

Saat itu, setelah belajar, seperti biasa aku mematikan lampu meja belajarku. Sial, waktu mencabut steker, salah satu kakinya tertinggal di ‘colokan.’ Dengan santai aku mencabut kaki itu dan mudah ditebak, aku kesetrum!

Aku teriak kesakitan. Mama dan Papa berlarian ke arahku memastikan aku tak kenapa-napa. “Hati-hati, Le! Kamu kesetrum!” ujar mereka.

Sakit. Kaget. Takut. Tapi aku mensyukuri kejadian itu. Aku jadi mengerti dan membuktikan bahwa listrik itu ada dan apa yang selama ini kuanggap sebagai ‘katanya’ Guru IPA adalah benar adanya!

Roh Kudus, dalam sudut pandangku pun demikian. Ia tak kasat mata tapi Ia ada dan bekerja menggerakkan serta memimpin kita menuju pada kebenaran yang seluruhnya seperti yang ditulis Yohanes dalam Kabar Baik hari ini (Yohanes 16:13).

Roh Kudus hadir dan tercurah saat diri ini menerima Sakramen Pembaptisan dan Sakramen Tobat dalam Gereja Katolik.

Tapi kalau demikian, kenapa tak semua orang yang sudah dibaptis dan sudah menerima sakramen tobat tidak menunjukkan sebagai pribadi-pribadi yang kudus? Apakah ini pertanda bahwa Roh Kudus kekurangan daya? Atau jangan-jangan Roh Kudus tak ada sama sekali?

Tentu tidak demikian.
Hal itu terjadi karena Roh Kudus seperti halnya pribadi Bapa dan Yesus yang menghormati kehendak bebas kita, Ia tidak memaksa.

Ibaratnya rumah dan aliran listrik, jika pemilik rumah tak memanfaatkannya untuk menyalakan lampu, menghidupkan televisi dan komputer itu bukan pertanda listriknya yang tak berdaya tapi karena kehendak si pemilik untuk tak menghidupkannya!

Oleh karena itu, mari kita nyalakan dan hidupkan hidup kita! Jangan biarkan budaya-budaya kegelapan dan kematian kekal yang ditawarkan kuasa jahat membuat kita tak berdaya karena dayaNya, daya Tuhan, ada dalam diri kita.

Marilah juga kita memaksimalkan talenta-talenta yang diberikanNya! Dengan memanfaatkan karunia-karunia Roh Kudus yang telah kita terima yaitu kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah (lih Yes 11:1-2) talenta-talenta itu bisa kita pakai untuk semakin memuliakan Allah melalui karya nyata bagi sesama.

Dan ‘rumah kita’ pun semakin menyala, tidak gulita…

Sydney, 20 Mei 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.