Damai sejahtera versi siapa?

23 Nov 2017 | Kabar Baik

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kataNya ?Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera mu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.”
(Lukas 19:41-42)

Sejauh yang kutahu, mohon koreksi kalau aku salah, Yesus dituliskan menangis hanya tiga kali.

Pertama saat Lazarus meninggal dunia karena sakit. (Yohanes 11:33-36). Kedua, saat Yesus berada dalam sakaratul maut di Getsmani (Ibrani 5:7) dan yang ketiga yang dibahas dalam Kabar Baik hari ini.

Seperti ditulis Lukas, Yesus menangisi kota Yerusalem. Ia menyayangkan kenapa penduduk kota itu tidak mengindahkan damai sejahtera yang diberikan.

Aku menggunakan kata ?tidak mengindahkan? karena sebenarnya damai sejahtera itu bukannya tidak diberikan tapi Yerusalem memilih ?damai sejahtera? yang lain, yang ditawarkan dunia.

Damai sejahtera yang Yesus tawarkan memang tidak sama dengan damai sejahtera yang ditawarkan dunia.

Dunia menawarkan kenikmatan dalam kemasan yang begitu indah dan merayu. Sapaanya menggoda membuat nafsu bertekuk lutut. Sayangnya hanya sesaat, sepanjang-panjangnya tak kan pernah bisa lebih dari panjang usia kita karena ketika kita mati, nafsu tak memiliki umur lagi.

Sedangkan damai sejahtera versiNya berorientasi pada kehidupan kekal. Tentang bagaimana kita justru harus menahan diri terhadap nafsu demi memperoleh keselamatan setelah kehidupan di dunia ini berakhir. Hal itu merujuk pada diri Yesus Kristus sendiri karena hanya Ialah penyelamat dunia.

Salah satu contoh aktual tentang kekontrasan dua versi ?damai sejahtera? itu adalah apa yang tampak dalam diri para koruptor.

Koruptor mencuri uang karena nafsu. Mereka tak puas dengan apa yang mereka terima secara halal. Mereka mengira bahwa dengan hidup berkelimpahan, damai dan sejahtera akan otomatis didapatkan.

Hingga akhirnya KPK meringkus melalui operasi tangkap tangan, sadarlah mereka bahwa apa yang didapatkan selama itu bukanlah damai sejahtera yang datang daripadaNya. Namanya jadi pergunjingan. Wajah kuyunya mengenakan jaket kuning bertuliskan ?TAHANAN KPK? jadi hiasan media-media baik mainstream maupun sosial. Kebaikan nama keluarga besar pun jadi taruhan.

Tentu bukan akhir dunia karena ketika ia dipenjara, sejatinya waktu mendekam di dalamnya adalah waktu terbaik untuk membayar hukuman atas perbuatannya sekaligus memperbaiki diri mencari kembali damai sejahtera dariNya.

Persoalannya sekarang, apa kita harus seperti mereka? Apa kita harus dihukum terlebih dahulu untuk bisa mengerti dan sadar damai sejahtera yang hakiki? Apa perlu membuat Yesus menangis lagi untuk kita kembali mengindahkan kasihNya?

Waktu kita masih ada, bergegaslah!

Sydney, 23 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.