Damai itu berarti lawan! Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!

16 Mei 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 16 Mei 2017

Yohanes 14:27 – 31
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.

Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Renungan

Ketika rumah ibadah kita dirusak dan hak beribadah diganggu oleh oknum, haruskah kita diam saja tanda damai karena bukankah seperti yang Yesus katakan hari ini, Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu?

Apakah damai itu berarti kita harus diam? Apakah damai itu berarti kita lemah, takut dan tak punya daya?

Hari-hari ini seolah kita punya definisi baru dari kata ‘damai’.

“Kita ini kan cuma minoritas, mending diam saja! Damai-damai!”

“Gereja dibakar? Diamkan saja! Damai saja! Doakan saja nanti kita minta rejeki pada Tuhan untuk bikin yang baru!”

Damai bukanlah diam. Damai tidaklah?takut. Damai bukanlah berlindung dibalik kata ‘doakan saja’ karena yang menarik, menurut Yesus hari ini, damai sejahtera diberikan dan ditinggalkanNya justru supaya kita merasa tidak gelisah dan tidak gentar hati. (“Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”)

Jadi?
Satu kata: Lawan!

Hah? Ngacau kamu, Don!
Ya, mending melawan daripada diam tapi dalam hati menyisakan dendam. Kalau dendam, hati jadi gentar, gelisah lantas darimana damai itu datang?

Caranya?
Aku tertarik mencuplik apa yang ditulis Pramoedya Ananta Toer di lembaran akhir buku Bumi Manusia-nya, “Kita telah melawan Nak Nyo! Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!” Jadi, lawanlah dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya!

Melawanlah secara baik, tidak anarkis seperti mereka!
Melawanlah secara terhormat, tanpa merendahkan lawan dan tak pula merendahkan martabat kita!

Dalam konteks perusakan rumah ibadah atau gangguan atas hak beribadah, lawanlah melalui jalan yang benar. Laporkan pada pihak berwajib dan bersuaralah lantang di media bahwa kita mengecam tindakan barbar tersebut karena secara konstitusional hak kita dijamin negara.

Dengan melapor, kita telah menjadi contoh warga negara yang baik yang menggunakan jalur konstitusional untuk melawan. Kita juga telah memberi contoh pada mereka yang takut dan diam tentang bagaimana sebaiknya bersuara dan menyuarakan hak yang harus dibela.

Melaporkan pada pihak berwajib berarti juga kita telah menunjukkan kepercayaan pada pihak berwajib tentang bagaimana memberikan rasa keadilan yang harus ditegakkan.

Tapi bagaimana kalau pihak berwajib pun tak mengelola laporan kita dengan baik atau tak memberikan rasa keadilan?

Tak mengapa yang penting kita sudah melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.