Cinta itu kekuatan, mencintai itu (terkadang) melelahkan

25 Agu 2017 | Kabar Baik

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
(Matius 22:37 – 39)

Australia sedang punya hajatan besar. Warga negara negeri kangguru ini diminta untuk memberikan pendapat, menentukan apakah pernikahan sejenis (same sex marriage) layak dilegalkan atau tidak.

Apapun itu, tanggal 15 November 2017 nanti hasilnya akan diumumkan di hadapan publik. Banyak yang bilang kali ini klausul itu akan menang, meski ada juga yang tidak menganggapnya demikian.

Sebagai orang Katolik yang baik, sebenarnya apapun hasilnya harusnya tak mempengaruhi bagaimana cara kita mengasihi. Kita tetap mencintaiNya dan tetap mencintai mereka termasuk para penganut konsep homoseksual. Toh mencintai tak berarti harus sepakat dengan konsep orang yang kita cintai, kan?

Tentu pada prakteknya, tak semudah kalian membaca tulisan ini karena meski cinta itu adalah kekuatan tapi mencintai itu terkadang melelahkan.

Lelah itu wajar, tapi semoga kita jangan pernah berpikir untuk berhenti hingga kesudahan hidup kita nanti karena diam-diam Allah yang tak kasat mata itu adalah Allah yang tak pernah berhenti mengasihi. Ia mengasihi bukan dari kejauhan, bukan dari masa lampau melainkan dari jarak terdekat yang lebih dekat dari apapun yang bisa kamu bayangkan sebagai yang terdekat!

Sydney, 25 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.