Christianity Value

15 Okt 2009 | Cetusan

Minggu pagi yang temaram.
Udara begitu dingin. Langit berbungkus awan setelah hujan mengguyur utara kota semalam-malaman dan kabut belum pula beranjak dari permukaan. Sementara itu genangan air di beberapa sisi ruas jalan, lampu-lampu di pucuk tiang tinggi yang belum dimatikan, embun di daun serta burung-burung yang menggigil kedinginan di tepian sangkarnya adalah sebuah melodi pagi yang menawarkan sendu; elegi sepi yang menanti datangnya mentari.

Aku seorang diri, berbalut jaket tebal, celana jeans serta sepatu kets berjalan bersicepat menuju ke arah gereja yang jaraknya tak sampai dua kilometer dari rumah. Tangan kumasukkan ke saku jaket erat-erat dan hanya kertak gigi serta dengus nafas berasap yang menemaniku, tiada yang lain.

Hingga akhirnya seorang wanita paruh baya berdiri disebelahku.
Segaris senyum memancar di bibir keriputnya.
“Pagi-pagi begini mau kemana?” tanyanya.
“Oh, ke gereja!” Jawabku singkat.
“Ah! Apa yang kau cari?” Tanyanya sembari tersenyum.
Aku tak menjawab selain menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Apa yg kau cari di Gereja?” Tanyanya diulangi, senyumnya mengerucut.
“No! Aku tak sedang mencari siapa-siapa! Hanya ingin bersyukur untuk hidup yang indah ini.” jawabku membalas senyumnya.

“Bersyukur pada siapa? Tuhan?” Tanyanya lagi, sekali lagi.
Aku mengangguk pelan.

“Kenapa harus? Bukankah lebih penting kamu kembali melanjutkan tidur untuk nanti siang bangun lebih kuat dan berbuat baik pada sesamamu?”

“Kenapa harus? Kenapa aku harus mengikuti pengharusanmu.. anjuranmu, Madam?” Tanyaku mengembalikan pertanyaannya.
“Karena Tuhanmu! Ia yang mengharuskan demikian” jawabnya lagi.

Aku mencibir! “Oh ya? Kalau begitu tuhan kita beda, Madam! Tuhanku tak pernah berucap begitu… Kamu salah memilih Tuhan!” jawabku sambil mengebatkan langkah.

“Maksudmu?”
“Mempersembahkan hidup untuk sesama adalah yang terutama! Itulah Christianity Value yang terutama, aku setuju! …. Tapi, kamu butuh awalan! Kamu butuh pijakan! Sebelum terbang, bukankah kita butuh tenaga untuk meloncat? Dan sama seperti itu, untuk melakukan yang terbaik bagi sesama kamu butuh kekuatan rohani, sebelumnya kamu butuh penyadaran bahwa kita hidup karenaNya. Itulah bersyukur! Itulah hakikatnya aku pergi ke gereja sepagi ini.” jawabku panjang lebar.

Wanita tua itu terdiam. Ia terus melangkah disampingku hingga ke depan pintu gereja yang kutuju. Tiada lagi kudengar celoteh pertanyaan-pertanyaan darinya tergantikan oleh suara pastor yang terdengar hingga ke halaman gereja sedang membacakan Bacaan Injil hari itu. Ah, aku sudah terlambat memulai misa rupanya, barangkali lima belas menitan lamanya.

Mea culpa! Mea maxima culpa!

tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang…

Sebarluaskan!

50 Komentar

  1. Penjelasan yang mantap :)

    Balas
    • Sip! Mantap! Jelas!

      Balas
  2. Singkat, natural, bermakna :)

    Balas
    • Tengkiuu :)

      Balas
  3. satu bacaan yang sedikit berbeda dari yang biasa kutemu disini Don (tuh udh gak panggil mas :P) hehehe
    esensi salib, keatas dan kesamping. KIta harus penuh dulu dengan yng diatas hingga dapat berbagi ke sesama di samping kita. Jadi saluran berkat.
    salam, EKA

    Balas
    • Sip!
      Aku setuju, meski banyak orang bilang sebaliknya “Ngapain ke gereja kalau belum berbuat baik untuk sesama” Hehehehe….

      Balas
  4. artikel yang menyentuh jiwa

    Balas
    • Thanks!

      Balas
  5. Jadi tersadar tentang sesuatu. Selama ini ke gereja kadang cuma sebatas rutinitas dan mencari hingga terkadang lupa untuk bersyukur.
    Gusti mberkahi mas,,

    Balas
    • Sami-sami… berkah Dalem!

      Balas
  6. daleemm… daleemmm…. besok gw ke gereja deh don…

    Balas
    • Hehehehehe, sip! Eh kok sip? Maksudku… nggak ikut-ikut hahahah :))

      Balas
  7. Minggu Don, masih di tempat retreat?
    Happy anniversary!
    :)
    Ps: Foto titik hujan di kaca-nya bagus, aku suka.

    Balas
    • Wah aku udah balik dari kemarin, aku nggak menginap di tempat retreat karena cuma diminta mengisi salah satu sesi dalam retreat tersebut.
      Thanks ucapannya….

      Balas
  8. wah spiritual
    sip di belah sisi mata uang kelengkapan sampean …… salut salut
    salam kangen
    sori dap jarang silaturahmi kepekso luar daerah terus jadi jarang online wakakakaka
    kapan balik jogja mas

    Balas
    • Sip, Mas! Balik Jogja? Secepatnya! :)

      Balas
  9. Hmmmmm…..mantap!!
    Aku dibesarkan dalam keluarga yang taat dan rajin ke gereja tiap Minggu,kecuali sakit parah hingga tak bisa bangun.
    Waktu SMA dan kuliah aku tinggal di asrama Katolik. dan lagi-lagi tak ada kamus absen misa.
    aku tak pernah terpikir tentang nilai religi dari menghadiri misa. Tapi, sekarang, saat sengaja atau pun tidak aku absen misa Minggu, terasa ada yg janggal, seperti ada yang kurang dalam menjalani hari-hari dalam seminggu itu.
    Sayang banget, justru sekarang-sekarang ini, sudah banyak kali aku absen misa.
    Tapi, tadi pagi, kuniatkan ke gereja…dan yippie…I feel that Im abundantly blessed!

    Balas
    • Yupe! Aku selalu menggali dan terus menggali dari dalam hati kenapa aku harus selalu berangkat ke gereja.
      Mari kita saling berdoa agar kita semakin dikuatkan dan diperteguh atas iman dan pengharapan kita!

      Balas
  10. Salam kenal & salam hangat.

    Balas
    • Sama-sama…. salam kenal dan semoga kita sama2 hangat :)

      Balas
  11. aduh diteringatin soal greja aku jadi kangen ama keluargaku yang di kampung.kangen ketika bersama sama berkumpul dan berbagi sukacita…tapi kangen juga ama tulisan ka dony yang lainnya.sgra kirim ya ka……..

    Balas
    • Hehehehe, sip… sip!

      Balas
  12. thanks untuk christianity value-nya mas…, hari ini aku dapet jawaban untuk seorang sahabat yang agak susah kalo diajak ke gereja, alasannya persis wanita dalam cerita diatas. ntar aku suruh baca tulisan ini aaah….

    Balas
    • Makasih, saya senang kalau tulisan saya bermakna bagi orang lain…

      Balas
  13. Postingan ini mengingatkan saya pd someone yg jarang sekali ke gereja. Dia selalu bilang dimanapun dia bisa berdoa, tp bukan berarti dia melupakan Tuhan. Tp suatu hari saat sedang di jalan, karena tiba2 terdengar lagu rohani, muncul keinginannya utk ke gereja. Katanya, bisikan itu memang bisa muncuk kapan saja…
    Saya percaya, kekuatan rohani memang penting sekali saat kita mau membantu sesama.

    Balas
    • Hehehe, banyak orang berpikir demikian, demikian pula denganku dulu bahwa bersyukur bisa dimana saja… Tapi kemudian aku bertanya, kalau bersyukur bisa dimana saja, untuk apa dibangun gereja? :))

      Balas
  14. Mas Verdian, kadang kita juga dituntun oleh naluri alamiah kita. sehingga terkadang kita gagap untuk menjelaskan atau tepatnya mengapa kita melakukan sesuatu.
    Tetapi beberapa waktu kemudian kita secara perlahan menyadari bahwa yang kita lakukan sebelumnya memang harus kita lakukan.
    Saya memang bukan kristen, tetapi esensi dari sebuah ajaran agama menurut saya tidak ada bedanya. Memberikan kita pijakan agar kokoh untuk melangkah, seperti yang mas verdian analogikan diatas. Sukses Bro.

    Balas
    • Saya senang dengan komentar ini!
      Tulisan saya memang berlabel “christian” tapi itu semata-mata karena saya memang seorang kristen, bukan berarti tulisan ini khusus untuk yang bau-bau Kristen.
      Dan, Anda… Anda berhasil menerjemahkannya untuk sebuah lintas batas yang indah.
      Sukses juga untuk Anda!

      Balas
  15. Hari ini aku buka webmu karena cuplikan kalimatmu yang (tumben)mendayu-dayu di FB..heheheh!
    Loh, knapa kamu ke gereja sendiri gak sama Joyce? hayah malah wawancara .. hihhi

    Balas
    • Dari mana kamu tahu kalau Joyce nggak ikut? Apa kisah ini nyata? :)

      Balas
  16. Thanks Don, renunganmu dalam sekali,terus terang aku memang disuruh istriku baca “Christinity Value” Ezri itu istriku Don, (kebetulan sudah agak lama aku nggak buka blogmu ), setelah kubaca dan kurenungkan terus terang aku agak tergetar, kamu benar Don kita memang butuh energi/kekuatan rohani sebelum melakukukan sesuatu untuk orang lain. Masalahnya kadang kita terjebak sama rutinitas sehingga menjadi kehilangan makna. kayak jaman dulu tiap Senin harus ikut upacara dan mengucapkan Pancasila, tapi mana hasilnya….. Begitu juga ke gereja.kalau mau mengucap syukur toh tiap detik kita bisa melakukannya dimana saja,kapan saja, ambil gitar atau harmonika dan nyanyikan lagu penyembahan bagi Tuhan dengan segenap jiwamu yang paling dalam sehingga kamu merasa demikian dekat dengan Tuhan. Don sebenarnya aku nggak ektrim ekstrim amat kok ,tiap Minggu aku juga pergi ke gereja walaupun kadang terus terang aku merasa ini ” Kewajiban ” demi ke dua anakku yang masih duduk di SD sekedar supaya memberi teladan bagi mereka, dan ini yang paling tidak disukai istriku tercinta,padahal sebenarnya kalau saja dia tahu kadang ditengah malam aku menyelinap pergi kegereja lalu berlutut didepan gua Maria yang terletak dihalaman gereja untuk mengucap apa saja baik keluh kesah maupun syukur atas segala anugerah kehidupan ini….( untuk yang satu ini yang tahu hanya koster ) dan semua ini kulakukan tanpa harus hari Minggu.
    Satu hal lagi, bagiku gereja adalah persekutuan itu muntlak,bukankah jaman Yesus dahulu mereka adalah komunitas? Aktif dalam komunitas entah Kring maupun kepengurusan Stasi ,komunitas basis atau apalah muntlak dilakukan oleh seorang Katolik sejati,itu prinsipku. Tapi yang bikin sedih istriku tercinta ya itu tadi prinsipku kenapa tiap Minngu orang harus wajib kegereja, kalau nggak ke gereja rasanya gimana gitu…. lha iya wong wis kebiasaan.Biasa makan nasi sebulan nggak ketemu nasi ya pasti gimana gitu…Oya Don, intermzzo ….Yesus tuh dulu tiap Sabbath rajin ke bait Allah nggak sih? setahuku dia rajin ke bait Allah hanya ketika anak2 dan menginjak usia remaja aja deh, ketika Yesus dewasa dia lebih sering mengunjungi BapaNya di puncak puncak bukit, dan ditepi tepi danau bersama komunalnya,ah….aku membayangkan betapa asiknya mendengar ia bercerita tentang si anak hilang, rambut gondrongnya bergoyang tertiup angin yang berhenbus sepoi dipinggir danau Galilea atau gimana perasaan ini serasa teriris sembilu mendengar nada nada blues dari gitar dan blues harp yang dimainkannya ditengah malam sunyi.di taman Zaitun sepulangnya dari makan malam bersama murid murid kesayangannya…….
    Apapun itu, terima kasih untuk renunganmu…aku butuh teman seperti kamu.
    – Salam dari Bontang –

    Balas
    • Wew! Ini mungkin salah satu komentar terpanjang selama sejarah nge blog saya.
      Tiada kata lain, terimakasih banyak.
      Pada dasarnya, ketika saya menulis artikel ini, satu hal yang saya pikirkan adalah, mana yang lebih dulu jadi landasan, “bekerja untuk sesama” atau “bersyukur atas hidup pada Tuhan”, dan pemicu dari munculnya permenungan itu adalah satu kejadian yang melibatkan sosok manusia nyata…
      Saya bukan kaum fanatik (semoga) tapi selalu menganggap bahwa bersyukur memang bisa dimana saja, tapi mempersembahkan syukur pada ekaristi mingguan adalah berbeda.
      Bagi saya, dan semoga bagi Anda, ekaristi adalah puncak tertinggi pertemuan kita dengan Tuhan selama kita hidup karena di sana kita tak hanya bersekutu dengan saudara seiman, tapi lebih dari itu, kita diijinkan untuk “memakan” tubuh dan “minum” darahNya, bukankah ini sesuatu yang luar biasa?:)
      Bung, saya tidak terlalu konsern dengan kehidupan sehari-hari Yesus, tapi satu hal yang pasti, pada saat Ia hidup, tata aturan liturgi gereja belumlah dibentuk, dan karena saya juga tak tahu tata aturan agama Yahudi, maka saya juga tak tahu apakah Yesus wajib ke bait Allah atau tidak.
      Bung Boyke serta Ezri, terimakasih atas kesetiaan membaca blog ini, saya senang sekali tulisan ini menjadi bahan permenungan bagi Anda :)
      Tuhan memberkati!

      Balas
  17. selamat siang.
    aku suka gaya penuturan postinganmu sahabat
    meski (maaf) kita beda dalam emnjalankan ritme doa pada altar yang berbeda namun blue suka karena ada kebaikan,seruan di sana
    salam hangat selalu

    Balas
    • Tak perlu minta maaf, Bos… Semua tak perlu sama dan disamakan, bukan? :)

      Balas
  18. wetsss…mas donny gitu loch!!
    mendung2 gini aku aku baca postingan sambil mikir…pijakan yg kuat itu harus di mulai dengan diri sendiri ya mas…membiasakan bertemu dengan tuhan apapun keadaannya…kalo kamu ke gereja aku ke mesjid…
    nice post ;)
    btw btw…kok foto yg paling atas itu hampir sama dengan foto yg di postingan terbaruku ya…hihihihi

    Balas
    • Sip! Iya, setelah kucheck, foto kita hampir sama hahaha :)

      Balas
  19. bagus tuh, walaupun saya bukan umat kristian

    Balas
    • Sip! Anda tak harus menjadi kristiani kok :)

      Balas
  20. Aku manggut-manggut baca tulisanmu Don. Meskipun aku tidak pernah ke gereja, renunganmu tentang Tuhan dan berbuat baik untuk sesama, menjadi nasehat yang meresap ke hati.
    Memang begitu. Sholat dan berdoa juga bisa dilakukan di rumah, tetapi sholat di masjid memberikan sentuhan ruhani yang tidak akan bisa diperoleh dengan sholat di rumah.
    Thanks ya Don …

    Balas
    • Sami-sami, Bu.. Senang kalau tulisanku berguna bagi orang lain…

      Balas
  21. Don… aku terkesan dengan kalimat: “Tapi, kamu butuh awalan! Kamu butuh pijakan! Sebelum terbang, bukankah kita butuh tenaga untuk meloncat?”
    Ya, begitulah selayaknya orang mengabdikan dirinya kepada sesama, seyogyanya hubungannya dengan Sang Pencipta haruslah terlebih dahulu terjalin dengan erat.. agar orang-orang yang kamu layani tidak bagaikan bergantung di akar lapuk…
    Well written, Bro…
    Ps: Kok aku membayangkan wanita separuh baya itu sebagai jelmaan iblis yang hendak menggoda umat-Nya untuk beribadah? Its just another story kan, Bro?

    Balas
    • Hmmmm, to be honest, motivasi menceritakan hal ini adalah sesuatu yang benar-benar terjadi, sebagian isi cerita adalah sesuatu yang nyata juga… tapi memang ada beberapa bagian yang kurangkai dengan bayanganku sendiri :)
      Thanks, Bro!

      Balas
  22. Aku setuju dengan pendapatmu, kita butuh awalan…butuh pijakan.
    Mengapa orangtua waib memberikan dasar pemahaman agama terhadap anak sejak kecil, juga pemahaman etika, budi pekerti beserta contoh nyatanya.
    Karena setiap kali nantinya kita akan keluar rel, maka dasar ini akan melekat dihati, yang memberikan kita arahan unuk kembali ke rel tujuan kita semula.
    Tulisan yang bagus, Don

    Balas
    • Makasih, Bu!
      Sepakat bulat dengan Ibu, pijakan iman dalam agama sangat diperlukan meski smoga tidak justru menjadi beban dan mengubah karakter orang yang terlalu gimana-gimanaaa gitu :))

      Balas
  23. great…
    selama kita tidak tinggal di pedalaman
    selama masih ada jalan dan sarana transportasi
    selama masih ada bangunan gereja
    dan selama masih ada komunitas orang kristen yang berkumpul di suatu tempat karena tak ada gedung
    memang sebaiknya kita ke gereja setiap minggu
    satu jam seminggu…. dari 7×24
    hanya satu jam…masak tidak bisa diusahakan?
    EM

    Balas
  24. buat seseorang? hmmm … kok diberi elipsis, mas don? mungkinkah mbak joyce, hehe … *sok tahu*

    Balas
  25. terima kasih sharing nya DV…
    dulu aku setiap hari ke kotabaru, sekarang hari minggu pun sering lewat… uh dasar!!
    terima kasih telah diingatkan :-)

    Balas
  26. Pergi ke Gereja adalah kewajiban umat kristiani untuk berkumpul bersama dengan saudara seiman memuji dan memuliakan serta mendengarkan firmanNYA.Tapi yang terpenting adalah perjumpaan secara pribadi melalui persekutuan pribadi kita di rumah dengan Tuhan.Jadi kalau sering ke Gereja hanya sekedar setor muka,kasihan deh lu……buang waktu aja.

    Balas
    • Hehehehehe, makasih atas komentarnya.. Barangkali kamu adalah salah satu yang bisa jadi tempat tujuan tulisanku. (Kamu adalah salah satu dari yang kumaksud sebagai “Untuk seseorang” )

      Balas
  27. don, beneran dulu cuma ngrasa kayak rutinitas. Entah nggak ngrasa esensinya. Tp sekarang aku di rantau, kalimantan, ke gereja yg jaraknya lumayan jauh pun aku niat, pulang jadi semacem dapet power lebih.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.