
Minggu pagi yang temaram.
Udara begitu dingin. Langit berbungkus awan setelah hujan mengguyur utara kota semalam-malaman dan kabut belum pula beranjak dari permukaan. Sementara itu genangan air di beberapa sisi ruas jalan, lampu-lampu di pucuk tiang tinggi yang belum dimatikan, embun di daun serta burung-burung yang menggigil kedinginan di tepian sangkarnya adalah sebuah melodi pagi yang menawarkan sendu; elegi sepi yang menanti datangnya mentari.
Aku seorang diri, berbalut jaket tebal, celana jeans serta sepatu kets berjalan bersicepat menuju ke arah gereja yang jaraknya tak sampai dua kilometer dari rumah. Tangan kumasukkan ke saku jaket erat-erat dan hanya kertak gigi serta dengus nafas berasap yang menemaniku, tiada yang lain.
Hingga akhirnya seorang wanita paruh baya berdiri disebelahku.
Segaris senyum memancar di bibir keriputnya.
“Pagi-pagi begini mau kemana?” tanyanya.
“Oh, ke gereja!” Jawabku singkat.
“Ah! Apa yang kau cari?” Tanyanya sembari tersenyum.
Aku tak menjawab selain menggelengkan kepala dan tersenyum.
“Apa yg kau cari di Gereja?” Tanyanya diulangi, senyumnya mengerucut.
“No! Aku tak sedang mencari siapa-siapa! Hanya ingin bersyukur untuk hidup yang indah ini.” jawabku membalas senyumnya.
“Bersyukur pada siapa? Tuhan?” Tanyanya lagi, sekali lagi.
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa harus? Bukankah lebih penting kamu kembali melanjutkan tidur untuk nanti siang bangun lebih kuat dan berbuat baik pada sesamamu?”
“Kenapa harus? Kenapa aku harus mengikuti pengharusanmu.. anjuranmu, Madam?” Tanyaku mengembalikan pertanyaannya.
“Karena Tuhanmu! Ia yang mengharuskan demikian” jawabnya lagi.
Aku mencibir! “Oh ya? Kalau begitu tuhan kita beda, Madam! Tuhanku tak pernah berucap begitu… Kamu salah memilih Tuhan!” jawabku sambil mengebatkan langkah.

“Maksudmu?”
“Mempersembahkan hidup untuk sesama adalah yang terutama! Itulah Christianity Value yang terutama, aku setuju! …. Tapi, kamu butuh awalan! Kamu butuh pijakan! Sebelum terbang, bukankah kita butuh tenaga untuk meloncat? Dan sama seperti itu, untuk melakukan yang terbaik bagi sesama kamu butuh kekuatan rohani, sebelumnya kamu butuh penyadaran bahwa kita hidup karenaNya. Itulah bersyukur! Itulah hakikatnya aku pergi ke gereja sepagi ini.” jawabku panjang lebar.
Wanita tua itu terdiam. Ia terus melangkah disampingku hingga ke depan pintu gereja yang kutuju. Tiada lagi kudengar celoteh pertanyaan-pertanyaan darinya tergantikan oleh suara pastor yang terdengar hingga ke halaman gereja sedang membacakan Bacaan Injil hari itu. Ah, aku sudah terlambat memulai misa rupanya, barangkali lima belas menitan lamanya.
Mea culpa! Mea maxima culpa!
tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang…
Tinggalkan Balasan