Selembar cawat (sebenarnya ini bukan pengertian yang benar tapi akhirnya ?dibenarkan? karena terlampau sering digunakan -red) yang tertinggal di ruang ganti pria gym yang hampir tiap hari kudatangi itu membuatku berpikir kenapa mesti ia yang tertinggal dan bukannya kemeja, celana jeans atau saudara karibnya, singlet?
Apa karena celana jeans terlalu mainstream, kemeja dan singlet terlalu besar bentuknya sementara celana dalam adalah sesuatu yang bisa kita komentari, ?Ah buang saja!?

Atau barangkali demikian.
Selepas shower, si pemilik celana dalam yang tertinggal itu berjalan kaki ke arah locker lalu mengganti cawat dengan yang baru dan menyelampirkannya di gantungan sementara ia berbenah, berganti baju (termasuk berganti cawat yang baru) lalu pergi begitu saja, lupa kalau cawat kotornya tertinggal! Ya, lupa!
Mungkin juga karena ia anggota kaum orang yang slordeh (slordig – belanda) yang ketika sudah tak menghendaki mengenakan cawat, ya ditinggalkan begitu saja!
Tapi sudahlah. Tak menarik bicara cawat orang lain, bagaimana dengan cawat kita masing-masing? Bagaimana ?persinggungan? dan caramu ber-budaya dengannya? Kapan pertama kali kamu bercawat?
Seingatku dulu aku mulai bercawat ketika aku masuk SD.
Awalnya aku tak suka dan protes kepada Mama karena kalau alasannya untuk melindungi alat kelamin, bukankah celana juga melakukannya?
?Tapi kalau kamu nggak pakai celana dalam, lalu kamu pipis di toilet lalu pas nutup ritlsetingnya kalau tak hati-hati tititmu bisa kejepit!?
Dan sejak saat itu aku tak berani bertanya lagi, membayangkan dan pernah beberapa kali melihat ?punya teman? juga terjepit, aduh sakitnya!
Bagiku, cawat juga bisa dijadikan penanda mapan tidak mapannya tingkat ekonomi seseorang.
Dulu ketika aku masih mahasiswa dan konsentrasi uang pada makan dan fotokopi materi kuliah, cawat itu cukup punya beberapa saja. Maksudnya beberapa itu … uhmmm coba hitung jumlah jari pada satu tanganmu, berapa? Lima? Nah di bawah itu!
Beberapa kawan yang lain waktu itu lebih ekstrim lagi, cawat itu cukup satu atau dua saja. Cara gantinya juga cukup empat hari sekali, model puter kaset, ‘Side A’ dan ‘Side B’. Hah? Maksudnya?
Ya, hari pertama dipakai dengan cara ‘biasa’. Hari kedua, dibalik maksudnya ya dibalik dengan obrasan tampak keluar gitu, makanya disebut side B. Hari ketiga, dibalik lagi dengan cara normal lalu hari keempat pake side B lagi.. hari kelima dicuci dan diikuti dengan cawat yang kedua.
Jangan membayangkan bau dan betapa senangnya kuman atau bakteri atau apapun itu hidup dan tinggal di dalamnya.. ya jangan dibayangkan saja pokoknya.
apa fungsi cawat sih sebenarnya? Apakah ia menutupi kemaluan? Kalau ya, berarti … ada pengulangan fungsi antara celana dalam dan celana dong?
Waktu lalu beranjak, punya duit!
Cawat jadi perhatian karena kita baru sadar ia melindungi alat vital yang memang benar-benar vital bagi kehidupan apalagi kalau kita sudah punya pacar atau setidaknya punya angan-angan untuk punya pacar lalu menikah.. alasannya? you know lah! Belilah dua atau tiga lembar lebih banyak dengan pola penggunaan yang lebih manusiawi, sehari sekali ganti.
Lalu punya duit yang lebih banyak lagi!
Cawat dijadikan bagian yang tak terpisahkan dari fashion! Beli cawat yang karet bannya gede-gede dan ditulisi brand yang memang sudah gede! Mengenakan celana jeans yang hipster dan kaos yang tak terlalu panjang yang kalau kita angkat ketiak langsung kelihatan pusarnya.
Harapannya? Kalau pas lagi jongkok atau duduk di antrian publik orang bisa tahu bahwa untuk cawat pun kita pake yang ber-merk dan mahal!
Tapi itu tak lama. Makin banyak makan enak berlemak, sayangnya bentuk perut makin tak bagus untuk dipamerkan jadi percuma pake cawat berkaret ban tebal karena toh brand nya gak akan terbaca lagi karena ia terdesak tergelung ke bawah karena lemak perut yang membuncit.
Lalu akhirnya beli cawat yang biasa saja. “Yang penting nyaman dipakai dan sering diganti dan kalau mau dibuang nggak sayang karena nggak mahal!” Ya, tapi asal gak begini cara gantinya ya?! Meninggalkan begitu saja di gantungan baju locker room dan berharap orang lain membereskannya!
Eh sebenarnya kalau memang kalian sudah bisa menghindari resiko kejepit ritsleting atau ada beberapa yang punya celana tanpa ritsleting, apa fungsi cawat sih sebenarnya? Apakah ia menutupi kemaluan? Kalau ya, berarti seperti yang kuungkap pada Mamaku tadi, ada pengulangan fungsi antara celana dalam dan celana dong?
Hayo.. jawab! Untuk apa?
Tinggalkan Balasan