Kategori: Bunyi Yang Kudengar

  • Apa kaitannya antara lagu Bintang Kehidupan dengan listrik yang kerap padam?

    Apa kaitannya antara lagu Bintang Kehidupan dengan listrik yang kerap padam?

    Lagu Bintang Kehidupan adalah salah satu bintang bagi kehidupan Nike Ardilla yang paling berkejora selama karirnya yang tak terlalu lama. Ya! Nike Ardilla harus berpulang saat usianya baru menginjak 20 tahun karena kecelakaan di Bandung.

    Lagu ini diciptakan Deddy Dores dan amat berkesan bagiku. Aku pernah membawakan lagu ini di depan ratusan kawan dan akhirnya aku menyabet juara 1 Lomba Nyanyi antar kelas di SMP N 1 Kebumen. (Ini info penting jadi harus kuceritakan hahaha?)

    Dua puluh tujuh tahun setelah rilis, hari ini tiba-tiba aku tergelitik untuk menuliskannya di blog ini. Kenapa? Aku menemukan arti dan makna yang baru dari lagu yang amat dalam nan melodius ini. Bukan tentang cinta terhadap seseorang tapi tentang kepasrahan kita saat menghadapi mati lampu. Lho? Cekidot!

    Jenuh aku mendengar
    Manisnya kata cinta
    Lebih baik sendiri

    Lirik lagu ini diawali dengan kata ?jenuh?. Jenuh karena mendengar manisnya kata cinta dan janji. Kalau lagu ini diciptakan zaman now, barangkali bukan lagi ?Jenuh aku mendengar manisnya kata cinta? tapi bisa jadi ?Jenuh aku melihat/ menemukan meme/emoticon cinta-cintaan di layar WA.?

    Akibat rasa jenuh, seseorang memutuskan untuk lebih baik sendiri. Masuk akal? Masyukkk!

    Bukannya sekali
    Seringku mencoba
    Namun kugagal lagi

    Rasa jenuh dan keputusan untuk ?sendiri? itu ternyata karena sering ia mencoba menjalin cinta namun selalu gagal. Karena apa? Ih kepo deh!

    Mungkin nasib ini
    Suratan tanganku
    Harus tabah menjalani

    Inilah jawabannya! Semua karena nasib dan suratan tangan. Paham?!

    Jauh sudah langkahku
    Menyusuri hidupku
    Yang penuh tanda tanya

    Hidup itu misterius, Kakak! Tak ada yang bisa dijawab dengan sempurna oleh karena itu menyisakan tanda tanya. Pesan dari bait ini barangkali begitu. Pokoknya tetap melangkah dan susuri hidup serta barangkali yang tak tertulis adalah syukuri hidup.

    Kadang hati bimbang
    Menentukan sikapku
    Tiada tempat mengadu

    Saking misterinya hidup yang dihadapi, hati pun bimbang dalam menentukan sikap dan tibalah di titik yang paling menyeramkan, ketiadaan tempat mengadu. Ini seram, saudara-saudara! Hidup tanpa teman dan tanpa tempat mengadu bagai hidup bersama batu-batu. Hidup yang rentan stress dan frustrasi.? Kawan terkadang hanyalah ilusi, mereka ada ketika butuh, mereka pergi ketika tak lagi mengingini? Duh!

    Hanya iman di dada
    Yang membuatku mampu
    Slalu tabah menjalani

    Ah! Untunglah punya iman! Tapi kenapa iman ada di dada? Lirik ini begitu misterius mengingatkanku pada lirik lagunya Mas Ebiet yang juga tak kalah misterius ketika kita diajak untuk bertanya pada rumput yang bergoyang?

    Malam malam aku sendiri
    Tanpa cintamu lagi oh..oh ho..ho
    Hanya satu keyakinanku
    Bintang kan bersinar
    Menerpa hidupku
    Bahagia kan datang ..oh oh

    Reffrein selalu menjadi puncak lagu begitu pula Bintang Kehidupan ini. Terungkap sudah siapakah cinta yang dimaksud dalam lagu ini? Listrik!

    Malam-malam tanpa listrik menyala adalah malam-malam yang penuh kesendirian. Kenapa? Karena ketiadaan listrik membuat kita tak mampu melihat orang-orang di sekeliling kita karena gelap.

    Kesendirian membuat seolah kita hidup tanpa cinta. Namun dalam kekecewaan yang bertalu-talu, seorang yang hebat adalah ia yang masih mampu berpengharapan dan berkeyakinan bahwa suatu saat bintang kan bersinar menerpa hidup tanpa harus mengharapkan listrik menyala lagi yang entah kapan? dan bahagia kan datang?uwoo..uwooo.. uwooo?.

    https://www.youtube.com/watch?v=Ugb8vplA8sw

     

  • Mengenang Yon Koeswoyo melalui tujuh lagu terkece-nya

    Mengenang Yon Koeswoyo melalui tujuh lagu terkece-nya

    Pagi tadi (5/1/2018) Yon Koeswoyo meninggal dunia pada usia 77 tahun. Dia adalah vokalis sekaligus gitaris grup band legendaris Indonesia, Koes Plus.

    Sebenarnya aku tak terlalu gandrung pada Koes Plus meski pernah sekali nonton konsernya di Kridosono Jogja, meski alm. Papa dulu tiap hari menyanyikan lagu-lagu mereka dengan gitar bututnya.?Tapi sejak pindah ke Australia, 2008, mau-tak-mau aku jadi suka.

    Kenapa? Kebanyakan kawanku orang Indonesia yang tinggal di sini usianya cukup lanjut. Mereka bermigrasi keluar Indonesia sejak awal hingga pertengahan tahun 70an sehingga kenangan mereka terhadap Indonesia dalam hal musik tak lain dan tak bukan adalah Koes Plus.

    Dari ratusan lagu yang mereka keluarkan, beberapa lagu yang mengesankanku adalah sebagai berikut:

    Bukan Lautan Hanya Kolam Susu

    Lagu ini bagiku sangat nasionalis karena menunjukkan kecintaan pada tanah negeri yang subur-makmur. Aku kagum dengan pilihan kata-katanya yang menggambarkan keindahan dan kemudahan hidup di Indonesia: tongkat kayu dan batu jadi tanaman dan ikan dan udang menghampiri dirimu.

    Why Do You Love Me

    https://www.youtube.com/watch?v=0uQyr7hSzSY

    Lagu Why Do You Love Me menurutku adalah contoh bagaimana orang Jawa sebaiknya mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris.

    Kalau Bob Marley dan para penerusnya di Jamaika (termasuk Rihanna) bisa dengan pede-nya mengemukakan dialek mereka berbahasa Inggris, harusnya kita nggak perlu nekuk-nekuk lidah nggak keruan supaya terdengar keren ketika berbahasa Inggris.

    Contohlah seperti Mas Yon, apa-adanya, tak dibuat-buat?.

    Diana

    https://www.youtube.com/watch?v=aRUpZ0NztdI

    Lagu Diana kusuka karena beberapa musabab.

    Yang pertama karena iramanya riang gembira. Progresi chordnya juga agak sedikit lebih kompleks ketimbang lagu-lagu Koes Plus lainnya dan yang terakhir pilihan katanya.

    Mereka jeli memilih kata ?Cincin yang bermata jeli itu?? Nyaman diucapkan dan indah didengar!

    Tul Jaenak

    Lagu ini paling banyak di-request kalau aku diminta nyanyi di sini. Lidahku yang memang lidah Jawa barangkali penyebabnya, lebih enak didengar bagi mereka karena Mas Yon, penyanyi aslinya, pun juga orang Jawa sepertiku.

    Ada seorang kawan yang meninggal awal tahun 2010 setelah bertarung melawan kanker yang sangat menggandrungi lagu ini, setiap mendengar dan bernyanyi lagu ini aku selalu teringat olehnya.

    Kujemu

    Seperti halnya Diana, lagu ini punya nuansa berbeda dari lagu-lagu Koes Plus yang lain meski aku melihat ada soul yang sama dengan lagu ?Come together? nya The Beatles.

    Aku terpikat pada pilihan kata di lirik ini: ?Kerja keras bagai kuda, dicambuk dan didera??

    Kembali ke Jakarta

    Mendengarkan lagu ini mengingatkanku pada lampu-lampu merkuri yang sinarnya jatuh di aspal basah jalanan Jakarta di malam hari. Permainan keyboard alm Tony Koeswoyo memainkan peranan penting membuat lagu ini begitu syahdu ditambah suara ?cempreng? Mas Yon yang legend!

    Oh ya, menurutku lagu ini juga punya soul yang sama dengan Massachusetts-nya Bee Gees.

    Manis dan Sayang

    Aku bisa main gitar ya gara-gara lagu ini!

    Lagu yang amat sederhana tapi tak luntur dinyanyikan sepanjang masa. Erwin Gutawa dan Andy Rif pernah mengaransemen dan menyanyikan ulang lagu ini dengan amat sukses. Kesederhanaan lagu? berubah begitu megah di tangan mereka.

    Selamat jalan Mas Yon! Terima kasih telah menghibur Indonesia sejak lama?

  • Salam Indonesia, tonggak eksistensi dan supremasi Endank Soekamti

    Salam Indonesia, tonggak eksistensi dan supremasi Endank Soekamti

    Endank Soekamti merilis album ke-8 bertajuk Salam Indonesia.

    Ini adalah album pertama sejak Ari Hamzah (drum) mundur tahun lalu. Posisinya diganti Tony yang sempat diperkenalkan sebagai Super SAS (Save Ari Sukamti) tapi lantas pada saat peluncuran album Salam indonesia akhirnya dikenalkan sebagai Tony Soekamti (lihat poster di bawah).

    Poster Endank Soekamti
    Poster Endank Soekamti

    Tony bukanlah makhluk asing bagi Endank Soekamti karena ia dummer pertama 2001 silam.

    Aku berusaha membuat catatan-catatan terkait dengan album tersebut karena hari-hari ini, tujuh belas lagu yang ada di dalamnya kuputar berulang-ulang di telinga.

    #Kemasan aneka rupa

    Album ini dijual dalam beberapa jenis kemasan dengan target segmen pasar yang tentu juga berbeda. Boxset premium yang paling mahal, boxset regular, t-shirt dan buku, digipack, digipack – tshirt. Detailnya silakan dilihat di link ini.

    Aku sendiri menikmatinya lewat iTunes. Sempat berpikir ingin membeli boxset premium tapi bagaimana dan siapa yang bisa membawakannya kemari?

    #Uba rampe

    Tak hanya lagu dan CD/digital, Endank Soekamti juga menyertakan uba rampe mulai kaos ?Salam Indonesia?, buku catatan proses rekaman dan perjalanan ke Papua, ?Soekamti Goes to Papua? karya Iwan Pribadi (Iwan Pribadi adalah sahabat dekatku dan aku pernah menuliskan wawancaraku dengannya di sini) serta buku foto ?Di balik layar rekaman Endank Soekamti 8th Album? karya Deka Pramana.

    Cover buku 'Soekamti Goes to Papua'. Foto oleh Agib Tanjung
    Cover buku ‘Soekamti Goes to Papua’. Foto oleh Agib Tanjung

    Nan tak kalah uniknya, pada boxset premium, Endank Soekamti menyertakan kacamata ?molo? yang adalah kacamata selam khas Papua yang terbuat dari kayu serabut kelapa. Oh ya, kacamata ?molo? ini juga yang dijadikan cover album Salam Indonesia.

    #Tiga puluh hari berlayar

    Materi album ini kebanyakan direkam di atas kapal Kurabesi di atas perairan kepala burung di Papua selama tiga puluh hari pada bulan Ramadhan 2017 silam. Hal ini mengingatkanku pada pembuatan album Soekamti Day (album ketujuh mereka) yang diproduksi di Gili Sudak, Lombok, dua tahun sebelumnya.

    Perjalanan ini mempengaruhi banyak pilihan kata dan tema lirik lagu yang disajikan. Oh ya, rangkaian video catatan harian perjalanan bisa kalian simak di Youtube. Klik di sini

     

    #Karakter Drum Dewasa

    Tak ada yang salah dengan Ari Hamzah tapi karakter permainan Tony menurutku memberi nuansa baru.

    Keputusan Endank Soekamti merekrut Tony setelah Ari pergi adalah tepat demi sejarah ke depan yang akan mencatat transformasi perjalanan musik Endank Soekamti yang menunjukkan kemajuan dan kedewasaan dari waktu ke waktu.

    #Kekuatan Lirik

    Kekuatan memilih dan menyusun kata-kata adalah nilai jual Endank Soekamti. Kata-kata penuh semangat, ajakan untuk maju bersama-sama yang tertuang dalam hampir keseluruhan lagu adalah cerminan energi Erix dan kawan-kawan.

    Coba dengarkan lagu ?Mimpi?, lirik mejik-nya begini:

    Hidupkan mimpi,
    Sudah diberi mimpi boleh mimpikan hidup,
    Sudah diberi hidup boleh hidupkan mimpi?

    #Perselisihan dan Keindonesiaan

    Adanya tunas-tunas perselisihan yang mengemuka di Tanah Air terkait isu politik beberapa tahun belakangan direspon secara trengginas oleh Endank Soekamti.

    ?Salam Indonesia? yang dirilis duluan pada 17 Agustus silam (simak review-ku di sini) adalah cara jawab yang jitu tentang bagaimana mencintai Indonesia dengan penuh bakti melalui hal-hal yang kita kerjakan setiap hari. Bukan tentang memperebutkan posisi pemerintahan atau menyodorkan secara paksa ?isme-isme?.

    Begitu juga dalam lagu ?Podo-podo?, lagu berlirik Bahasa Jawa yang menyadarkan orang-orang untuk tak saling bertengkar karena ?podo-podo? tinggal di Nusantara.

    Lagu ?Podo-podo? adalah salah satu yang kusuka di album ini.

    #Diet

    Masih soal lirik, tapi sepertinya ?diet? cukup menginspirasi Endank Soekamti dalam membangun lirik kali ini. Coba simak lirik yang dinyanyikan.

    Tidak mau kalau berat,
    tidak berat kalau diet (Rock revolution)

    Punya mesin yang bikin kurus (Mimpi)

    Ayo diet dab-dab semua biar langsing seperti saya! :))

    #Miauw

    Lagu Miauw dikolaborasikan dengan Saykoji. Intronya mirip betul dengan Popeye The Sailorman (Face to Face) yang ngetop di era 90an silam.

    #Tawuran Pelajar

    Suka lagu ini karena nadanya beda dari lagu-lagu lain, dinyanyikan Dory Soekamti yang memiliki karakter suara berbeda dari Erix.

    #Tak Terlupakan

    Lagu yang dinyanyikan di acara perpisahan kru Endank Soekamti dengan kru kapal Kurabesi ini ?nyawanya? mirip dengan lagu ?Sampai Jumpa? di album Soekamti Day, akustik dan dinyanyikan bersama para kru.

    Hal lain yang menarik dari lagu ini adalah, di bagian paling akhir, Ipang Soekamti menutup lagu dengan celotehan ?Tak terlupakan teman-teman?? yang mengingatkanku akan hal yang sama yang ia lakukan di lagu ?Soekamti Day? (Soekamti Day) Ipang bilang, ?Hari yang indah teman-teman??

    #Supremasi dan Energi

    Album ini secara keseluruhan menurutku makin meletakkan Endank Soekamti sebagai entitas penting tak hanya dalam industri musik tanah air yang masih lesu tapi dalam creative content creator di Indonesia.

    Eksistensinya makin mirip Slank dimana lagu dan musikalitas sudah bukan jadi PR utama melainkan pesan sosial dan kemanusiaan yang hendak dilontarkan.

    Bahkan lebih daripada itu, Endank Soekamti terhitung peka membaca gelagat jaman. Perhatian warganet tertuju pada DOES (Diary of Erix Soekamti), DOES University dan langkah-langkah lain nan kreatif dan inovatif yang dilakukannya. Hal ini tentu bisa jadi inspirasi bagaimana sekelompok anak muda seharusnya berproses dan berkarya.

    #?Konserable?

    Lagu-lagu dalam album ini sangat bisa dijadikan amunisi untuk acara manggung-manggung ?Soekamti Day? nantinya. Mendengarkan ?Intro? album Salam Indonesia, aku bisa membayangkan bagaimana set lagu akan digelar.

    Dimulai dengan ?Intro? yang memasukkan unsur musik Papua dan galeman Jawa lalu Tony tiba-tiba muncul di balik drum disorot lampu panggung dan mulai membangun ritme seiring munculnya Erix dan Dory dari sisi kanan dan kiri berloncat-loncat ke sana kemari.

    Sayangnya, hingga saat ini aku baru bisa membayangkan menonton konser mereka? mungkin suatu waktu nanti ketika mereka main kemari?

    Hari yang indah kawan-kawan…

    Simak tulisanku yang berisi wawancara dengan Erix Soekamti di sini. Menarik juga untuk membaca/melihat tulisan/video yang berisi wawancara Erix Soekamti denganku di sini.

  • 10 Finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V

    10 Finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V

    Album 10 Finalis Festival Rock se-Indonesia ke-V (Ya! Harusnya memang V tanpa ‘ke-‘…) adalah salah satu album rock klasik Tanah Air. Terlebih bagiku, album tersebut adalah pembuka tirai untuk berani menikmati musik rock lainnya setelah sebelumnya selalu menyerah pada Dian Pisesha, Tomy J Pisa, PMR dan lainnya para dedengkot musik Indonesia tahun 1980an.

    Selepas mendengar album ini aku mulai mengoleksi serial album Metallica, Judas Priest, Scorpions berlanjut ke Nirvana, Pearl Jam dan seterusnya.

    Keping kasetnya kubeli di rak toko kaset yang sekarang sudah kulupa namanya di Kebumen, Jawa Tengah dulu. Waktu itu aku baru masuk kelas 1 SMP, 1990, dan kalau tak salah kaset itu kuongkosi sebesar Rp 2500,00, angka yang tidak terlalu murah apalagi untuk seorang anak SMP sepertiku.

    Kenapa aku baru menuliskan review-nya sekarang setelah 27 tahun berselang? Karena beberapa waktu lalu aku menemukan link album ini di Apple Music. Hal ini menarik karena pengaruh waktu yang menyatakan bahwa album ini adalah album usang jadi tak berlaku lagi. Kemajuan teknologi menjadikan musik adalah sesuatu yang timeless, bisa dinikmati kapanpun dengan kualitas yang sama (nggak ada acara pita kaset kusut). Jadi, siapa tahu dengan menuliskan review ini kalian jadi tertarik untuk mendownload/streaming secara legal ke gadget kalian dan usaha tak seberapa ini bisa jadi suntikan darah bagi Om Log Zelebhour dan kawan-kawan lain untuk tetap memproduksi rekaman-rekaman rock klasik berkualitas di Tanah Air!

    Semoga bagian di atas barusan tak terlalu terdengar naif mengingat maraknya pembajakan ya hahaha!

    So, berikut adalah review-ku.

    Kerangka Langit (Kaisar – Solo)

    Kaisar http://amrilfranks.blogspot.com/

    Kaisar menurutku adalah penerus tradisi band berkelas dari kota Solo setelah Trenchem berkibar di era 70an (Setiawan Djody pernah bermain gitar di band Trenchem ini?sebelum ia pergi ke Amerika).

    Kaisar Band yang digawangi Deny (vokal), Diki (gitar), Burhan (drum), Yudi Kosasih (keyboard) dan Didik (bass) ini membawa lagu yang menurutku amat rapi dan cocok dijadikan lagu pembuka di Side A album meski kenyataannya mereka hanya meraih juara ke-4 dari 10 peserta final.

    Struktur lagunya straight dan entah kenapa setiap kali mendengar lagu ini aku melihat ada ‘nyawa’ yang sama dari lagu Kehidupan-nya Godbless yang dirilis kira-kira 4-5 tahun sebelumnya di album Semut Hitam.

    Bagian interlude dimana Yudi (keyboard) berkolaborasi dengan Diki (gitar) adalah bagian yang paling kusuka.

    Dara Pusaka (Rudal – Bandung)

    Rudal. Foto diambil dari Wikipedia

    Lagu ini termasuk salah satu yang tak terlalu kusuka karena lirik lagunya penuh kiasan padahal musiknya lugas sekali.

    Coba simak ini:

    Bangkitlah dan bangkitlah
    sibakan teja nestapa
    Gapailah nirmala tunjukan
    cipta karyamu pada dunia
    Inilah aku dara pusaka
    Meski demikian, Rudal meraih peringkat kelima terbaik dalam festival tersebut. Oh ya, konon Rudal ini adalah band lawas yang masih terus eksis hingga sekarang meski beberapa personil telah berganti.

    Malapetaka (Power Metal – Surabaya)

    alm. Punky Dheaz. Foto diambil dari Metal-Archives.com

    Power Metal adalah juara pertama pada festival yang diadakan di Malang, Jawa Timur ini. Lagu Malapetaka memang keren, berlirik lugas dan tak bertele-tele secara musikalitas. Dulu kupikir vokalis Power Metal untuk lagu ini adalah Arul Efansyah tapi ternyata bukan! Vokalis Power Metal saat itu adalah Pungky Dheaz yang setahun setelah festival ini lantas hengkang ke Andromedha Band yang juga berasal dari Surabaya dan sama-sama masuk sebagai finalis di festival ini.

    Pungky Dheaz meninggal pada 2013 pada usia 58 tahun setelah terserang stroke.

    Sadar (Saltis – Sumenep)

    Saltis Band

    Entah kenapa, Sadar adalah salah satu lagu yang amat kusukai saat itu. Liriknya bertutur/bercerita dan membentuk alur yang hidup. Reffreinnya amat kuat dan terutama aku suka dengan progresi chord di bagian, “menatap cahaya putih menyambutku, membersihkan hitamnya hatiku” lalu dilanjut melodi simple yang asyik.

    Musik dan Aku (Partha Putri – Yogyakarta)

    Partha Putri

    Partha Putri mencuri perhatian! Semua anggotanya perempuan dan lagunya juga tak buruk. Satu-satunya hal yang membuatku selalu ingin men-skip lagu yang dibawakan band bervokalis Dyah Kutut ini adalah intro yang panjangnya hingga 1:49 menit!

    Prestasi (Andromedha – Surabaya)

    Andromedha adalah juara ketiga dalam festival ini. Dua personilnya ditetapkan sebagai best player masing-masing Lucky Setio Wicaksono (gitar) dan Yoyo Prasetyo (drummer).

    Yoyo? Yup! Yoyo ini ya Yoyo yang kita kenal sekarang adalah drummer Musikimia dan sebelumnya berkiprah bersama Padi. Ia menjadi drummer terbaik di festival ini saat usianya baru menginjak 13 tahun!

    Andromedha Band setelah Punky Dheaz bergabung (tengah). Yoyo ada di paling kanan mengenakan bandana.

    Permainan double pedal-nya memang luar biasa di lagu ini dan kalau kalian membandingkan permainannya di lagu ini dengan beberapa lagu Padi dan Musikimia, kalian bisa tahu bahwa karakternya sudah tampak sejak saat itu!

    Kok malah ngebahas Yoyo-nya? Yup! Karena aku tak terlalu suka pada lagu dan vokalnya yang kalau boleh aku menyarankan sih, “Nada dasarnya diturunkan setengah atau satu, Rek!” ada beberapa part yang agak sedikit dipaksakan dan ketinggian.

    Oh ya, Lucky, sang gitaris, kemudian berpindah ke Power Metal hingga kini. Menarik ya, Lucky pindah dari Andromedha ke Power Metal sementara Pungky Dheaz sebaliknya, hijrah dari Power Metal ke Andromedha!

    Generasi (New Chordhex’s – Medan)

    Termasuk lagu yang tak terlalu kuperhatikan dalam album ini. Tak istimewa tapi juga tak buruk.

    Polusi Kehidupan (Big Boys – Banjarmasin)

    Yang paling menonjol dari lagu ini adalah vokalisnya! Siapa lagi kalau bukan Arul Efransyah! Ya, Arul yang kemudian kita kenal sebagai vokalis Power Metal pada saat itu adalah vokalis kelompok musik asal Banjarmasin ini. Lengkingan suaranya stabil layak jika ia dinobatkan sebagai vokalis di festival ini.

    Arul. Foto diambil dari Rollingstone.co.id

    Arul kemudian hengkang ke Power Metal menggantikan Pungky Dheaz (alm) yang keluar dari Power Metal saat grup tersebut sedang menjalani tour bersama God Bless.

    Racun Neraka (Kamikaze – Surabaya)

    Kamikaze Band

    Kamikaze adalah salah satu band klasik Surabaya bersama dengan Power Metal, Andromedha dan Phytagoras. Yang kusuka dari lagu ini adalah permainan keyboard di intro lagu yang khas sekali!

    Ada yang menarik dari Kamikaze. Aku pernah menonton live concert mereka di alun-alun kota Klaten pada pergantian tahun 1990/1991! Ya, aku ingat betul mereka jadi bintang utama pada konser malam itu :)

    Rock Bergema (Roxx – Jakarta)

    Ini adalah lagu paling baik yang dibawakan band paling keren dalam festival ini!

    Meski dewan juri festival waktu itu yang terdiri dari Ahmad Albar, Arthur Kaunang, Jelly Tobing, Jocky Suryoprayogo dan Bens Leo memilih Roxx sebagai juara kedua tapi bagiku lagu dan band ini adalah yang paling keren.

    Roxx Band. Foto diambil dari Metal-Archives.com

    Buktinya? Hingga sekarang masih banyak orang mengenali Rock Bergema. Lagu ini sempurna dari segala lini. Permainan melodi yang menghiasi intro sangat familier di telinga tak ayal jika Tonny, sang bassist ditetapkan menjadi best player. Oh ya, Trison sang vokalis pernah berkiprah bersama Edane sepeninggal Ecky Lamoh yang kini tinggal di Jogja itu.

    Kabar terakhir tentang band ini adalah keluarnya Jaya (gitaris) pada 2016 silam.

    Nah, tunggu apalagi? Buruan beli/stream album lengkapnya di sini.

  • Libertaria dan koruptor jancuk!

    Libertaria dan koruptor jancuk!

    Dari sisi musik, Libertaria sebenarnya tidak jauh beda dengan banyak lagu/album diskodut (disko dangdut) yang banyak dijual para penjual kaset yang menggelar lapak di trotoar Pasar Tumenggungan Kebumen saat kukecil dulu.

    Tapi hal ini justru seolah jadi playground yang asik bagi Marzuki Muhammad a.k.a Kill The DJ dan kawan-kawan di Libertaria untuk bermain kata-kata menyampaikan pesan melalui lirik yang kaya makna, membuat album ini jadi menarik.

    Kuncinya kupikir pada pilihan diksi nan sederhana. Ia menghindarkan kita dari pretensi, semua lugas apa adanya.

    Album ini memang bukan tentang bagaimana cara nembak cewek atau nguri-uri percintaan sepasang kekasih. Ini lebih bicara tentang bagaimana memandang hidup dari sisi lain yang kadang dianggap remeh-temeh oleh mainstream. Tentang bau penguk karena solar dan keringat para sopir truk, kesenian ?jalanan? organ tunggal, miras oplosan dan lainnya.

    Jadi jangan kaget menemui kata ?jancuk? pada lagu Orang Miskin Dilarang Mabuk yang dibawakan Farid Stevy.

    Orang miskin mati minum oplosan
    Politisi busuk mabuk kekuasaan
    Bangsa munafik koruptor jancuk
    orang miskin kok dilarang mabuk

    Ini adalah track yang paling kusuka dari album ini. Kasar, tapi memangnya ada kata yang lebih halus dan pantas untuk disematkan pada koruptor? Ada?

    Track ini berkelakar tentang kepongahan penguasa yang meluluskan peraturan anti miras. Alih-alih membawa perubahan moral yang lebih baik, pelarangan minuman keras di tingkat akar rumput malah membawa konsekuensi buruk bagi orang miskin yang butuh ?kanalisasi?. Mereka mengkonsumsi oplosan murahan lalu mati.

    Beda dengan orang kaya, tinggal datang ke tempat-tempat mahal dan ?buka botol? import. Tumpul ke atas, tajam ke bawah? Nah itu dia!

    Aku juga suka dengan track Jalur Pantura.?Romantisme ala supir truk di jalur sisi utara pulau Jawa berhasil dikulik secara manis di sini.

    Liriknya natural menandakan proses kreatif terciptanya lirik ini juga melalui observasi lapangan yang mengakar.

    Demi dapur ngepul ikhtiar jarang pulang
    Dengan diiringi restu dari ibu madhep mantep tak pancal gasku

    Demit ora ndhulit, setan ora doyan, semoga selamat sampai tujuan

    Putus cinta itu soal biasa, kalau putus rem nya mati-matilah kita

    Banyak istilah Jawanya? Ya kan mereka memang dari Jogja dan beruntung yang nyanyi, Paksi Raras, juga penyanyi Jogja jadi medhoknya benar-benar terasa.

    Keterbalikan moral dan sosial jadi bahan tertawaan di lagu ini. Stereotipikal ‘warung remang-remang’ yang identik dengan prostitusi ditabrakkan dengan ?ikhtiar? dan ?doa restu ibu?.

    ‘Bau solar’ dan ‘keringat’ yang kalian bisa bayangkan seperti apa aromanya, dijejerkan dengan koruptor yang dalam bayangan kita adalah hidup dalam kelimpahan, wangi, dan gelontoran AC di kamar dan lobi hotel.

    Mata sepet lelah melihat jalanan butuh hiburan mampir warung remang2-remang.

    Badan bau solar ditambah campur kringet, hidup memang harus sabar dan ulet?lebih mulia daripada korupsi jelek-jelek hasil keringat sendiri?

    Hadirnya Riris Arsita yang konon adalah memang penyanyi dangdut organ tunggal dalam album ini membawa nuansa dangdut benar-benar terasa, bukan sekadar album sok kedangdut-dangdutan saja.

    Ia, kalau boleh kuistilahkan, menjadi tulang punggung album ini. Karakter suaranya menggemaskan. Genit, empuk dan cengkok dangdutnya lumayan.

    Coba simak bagaimana ia berdendang di Citra itu mahal. Lagu ini renyah bertutur tentang pencitraan di era digital. Tentang bagaimana orang berlomba-lomba untuk tampak lebih baik dan cantik daripada aslinya meski untuk itu mereka harus menggunakan ongkos mahal.

    Citra itu mahal cantik itu luka
    Hidup sibuk untuk mengejar yang fana
    Jika memang bahagia itu sederhana, jadilah dirimu sendiri apa adanya.

    Track yang menarik perhatianku meski bukan favorit adalah yang dijadikan title album, Kewer-kewer.

    Single ini berpotensi jadi hype lewat ?Goyang Kewer-kewer?-nya.?Flashmob ?Goyang Kewer-kewer? bukannya tak mungkin bisa marak dimana-mana.

    Konon kawan-kawan Libertaria secara khusus bereksplorasi dan menggelar workshop untuk mendapatkan goyangan khas ?kewer-kewer?. VIdeo ?tutorial? goyang kewer-kewer pun tak lupa dibuat dan dipublikasikan.

    Secara umum, album ini adalah oase menarik di tengah iklim industri musik di Tanah Air yang senyap.

    Meski materi dibagikan cuma-cuma di situs mereka, Libertaria.ID, aku menyarankan sebagai langkah apresiasi, simaklah album ini dari Apple Music yang kuyakin lebih mendatangkan upah bagi para senimannya.

    Itung-itung bantu buat urunan beli anggur kolesom supaya karya berikutnya makin gahar lagi.

    Top!

  • Kangen

    Kangen

    Selain Yogyakarta-nya KLa Project, salah satu lagu yang mengawal masa remajaku (bukan masa muda karena aku hingga kini masih merasa belum tua hahaha) adalah Kangen.

    Lagu ciptaan Dhani Manaf yang sekarang lebih dikenal sebagai Ahmad Dhani ini adalah single pertama album Dewa 19 yang pertama yang bertajuk Dewa 19 (self-titled album) dirilis pada 6 Januari 1992.

    Kenapa aku sangat suka lagu ini dan barangkali sebagian besar kalian yang besar dan menikmati era 90-an juga suka?

    Alasan terbesar adalah terlalu banyak kenangan yang bisa dipantik Kangen.?Secara musikalitas, Kangen menurutku sangat orisinal kalaupun ada unsur ala TOTO dan Chicago tentu karena Andra, Dhani, Ari, Erwin dan Wawan waktu itu banyak mendengarkan mereka. Dalam bermusik, sepengetahuanku, keterpengaruhan bukanlah sesuatu yang haram.

    Uniknya lagi, Kangen bukanlah lagu yang lantas menjadi buruk ketika dinyanyikan oleh orang lain.

    Beda misalnya dengan Yogyakarta-nya KLa Project. Entah kenapa, bagiku tak ada grup musik lain yang bisa menyanyikan Yogyakarta sebagus KLa Project selain KLa sendiri. Itupun saat rekaman diadakan.

    Maksudnya? Sepanjang dan sebanyak aku mengikuti konser KLa Project, belum pernah sekalipun aku merasa puas dengan penampilan mereka membawakan Yogyakarta.

    Jadi? Tak ada Yogyakarta yang lebih baik dari Yogyakarta yang ada di album rekaman ?Kedua? milik Katon, Adi dan Lilo (waktu itu masih bersama Ari Burhani juga).

    Nah, kembali ke Kangen, aku mencatat beberapa versi bagaimana lagu ini dibawakan yang menurutku menarik.

    Kangen (Original)

    https://www.youtube.com/watch?v=PuiYxeL9Sto

    Video klip Kangen versi asli diproduksi oleh TVRI Yogyakarta, mengambil tempat di sekitar Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

    Selain wajah mereka yang masih culun, dandanan era awal 90an mendominasi. Selebihnya kalian komentar sendirilah. Aku sendiri tak terlalu suka dengan video klip ini mungkin karena terlalu jadul dan ketinggalan jaman…

    Kangen versi Denada

    Entah pendapatku benar atau tidak, tapi Denada adalah artis pertama yang menyanyikan ulang (cover version) lagu Kangen.

    Aku suka karakter suara Denada meski secara aransemen musik, tak terlalu banyak yang diubah dari versi aslinya yang dinyanyikan Dewa.

    Kangen versi Chrisye – Sophia Latjuba

    Hingga di sini, aku baru tersadar bahwa agaknya memang sulit untuk mengubah karakter musik yang melekat di lagu Kangen terutama bagaimana menghilangkan part petikan gitar Andra di bagian awal lagu.

    Meski demikian usaha Chrisye menggaet Sophia Latjuba untuk berduet di lagu ini kuacungi jempol. Keduanya punya timbre suara yang unik dan seksi.

    Keren lah!

    Kangen versi Dewa – Once

    https://www.youtube.com/watch?v=fSQ3KUTObEU

    Agak sulit menentukan mana yang lebih bagus antara Once dan Ari, oleh karenanya yang harus kuacungi jempol adalah kepiawaian Dhani untuk memilih Once sebagai pengganti Ari.

    Keduanya tak bisa diperbandingkan karena karakter suaranya beda berseberangan. Alhasil? Lagu Kangen yang sebelumnya juga sudah bagus dibawakan penyanyi lain, tak kurang jadi paten ketika dibawakan Once sekalipun.

    Kangen versi Ari Lasso reuni

    https://www.youtube.com/watch?v=J02GbizuLek

    Kalaupun Wawan kecepetan masuk setelah reff pertama usai dinyanyikan, ia tak bisa dipersalahkan karena seingatku, sejak jamannya Once, Dewa memang mengaransemen ulang Kangen yang jelas tak sama dengan era ketika Wawan masih jadi drummer Dewa.

    Oh kalian tak kenal Wawan?
    Wawan Juniarso adalah drummer pertama Dewa 19 yang lantas dipecat tak lama setelah rilis album pertama.

    Wawan dan Erwin Prasetya (bassist) diundang Ari Lasso untuk berada sepanggung dengan Andra dan Dhani Manaf yang sudah menjelma menjadi Ahmad Dhani di konser tunggalnya beberapa tahun silam.

    Ini adalah momen langka yang terjadi setelah 19 tahun.
    Dan seperti sudah menjadi rahasia umum, bahwa Dhani ?berseberangan? dengan Wawan dan Erwin, peristiwa tersebut tentu amat mahal.

    Selain momen Wawan ?salah masuk?, hal lain yang paling melekat di otak adalah saat Ari Lasso memanggil keempat kawannya untuk berpelukan dan berpamitan pada penonton.

    Ini akan jadi kenangan untuk sementara waktu hingga jika Tuhan mengijinkan mereka membuat reuni lagi? entah kapan.

    Kangen versi Sammy Simorangkir

    Satu yang patut diacungi jempol dari penampilan Sammy membawakan Kangen di sini adalah, dia mengubah pola yang selama ini terpatri di benak penikmat Kangen.

    Kangen itu identik dengan teng-teng-teng-teng-teng teng-nya Andra tapi kali itu dirombak total, lebih dinamis dan baru.

    Suara Sammy yang karakternya sangat kuat juga membuat penampilan Kangen lebih apik lagi.

    Jos gandos!

    Oh ya, sebagai penutup, bagian mana yang paling kalian suka dari lagu ini?

    Kalau aku pada bagian ?Jangan katakan cinta, menambah beban rasa, sudah simpan saja sedihmu itu ku akan dataaaaang!? Lalu Andra menimpali dengan ?repertoar? gitar di bagian interlude selama beberapa detik ke depan…

  • Generation Y, sebuah album oleh Kunto Aji

    Generation Y, sebuah album oleh Kunto Aji

    Generation Y (klik di sini untuk mengakses album via iTunes) adalah jawaban atas tantangan untuk tetap eksis dari seorang Kunto Aji Wibisono atau yang biasa dikenal sebagai Kunto Aji.

    Kunto Aji yang berasal dari Jogja tapi cukup berhasil mentransformasikan lidahnya untuk fasih mengucap ?loe? dan ?gue? itu adalah penyanyi jebolan Indonesian Idol yang memang sudah sangat kugandrungi sejak pemunculan pertamanya (Kalian yang mengikuti blog ini sejak dekade lalu tentu ingat tulisanku yang berjudul ?Vote Aji di Indonesian Idol? – 2008).

    Ada balutan pop dan sedikit blues di sana-sini pada sekujur album Generation Y. Ditingkahi pula dengan lirik-lirik lugas khas ?Generasi Y? seperti…

    ?Hidup di akhir bulan dengan teman mie instant? (Akhir Bulan) dan??Memahami wanita aku selamanya amatiran? (Amatiran)

    Tapi?yang paling penting, warna vokal Aji yang tak berubah lengkap dengan ekor serak-seraknya yang unik adalah karakter yang sangat kuat yang patut menjadi modal untuk album-album selanjutnya.

    Generation Y , sebuah album oleh Kunto Aji
    Kunto Aji, foto diambil dari websitenya, kuntoaji.com

    Lagu yang paling kusuka adalah Mercusuar.
    Permainan musik terutama gitar dan tarikan vokal Aji, kalau istilahnya Agnes Monika yang mantan juri Indonesian Idol itu, ?kawin banget?. Unsur Sting sangat kuat kurasakan di lagu ini…

    Memainkan penggalan lirik yang sama pada dua lagu juga terkesan menarik. Lirik, ?Dengarlah oh dengarlah.. barisan muda bergerak menggantikan yang berserak? dibawakan pada lagu pembuka beruansa acapela, Suara dan Gema . Hal ini seolah menjadi anthem menarik terkait judul album Generation Y, sebuah segmentasi usia bagi mereka yang mengalami masa transisi tradisional ke internet.

    Hal yang juga patut disorot adalah cara distribusi album yang memanfaatkan jasa layanan transportasi yang sedang nge-hits, GoMart, bagian dari Gojek. Konon para calon pembeli tinggal memesan album lalu sopir gojek akan mengantar ke alamatmu.

    Hal lain yang tak kalah menariknya adalah cover album yang sangat khas karya Farid Stevy Asta, designer sekaligus vokalis band kawakan asal Jogja, FSTVLST.

    Secara umum, Generation Y sangat menarik. Terlepas bagaimana nanti tanggapan pasar, tapi setidaknya Kunto Aji wajib digolongkan sebagai pemberani karena tak banyak musisi dan artis Indonesia yang masih berani mengeluarkan album utuh, bukan single.

    Sukses terus, Dab!

     

    Generation Y:

    1. Suara (1:13)
    2. Akhir Bulan (3:27)
    3. Buka Buka Buka (3:19)
    4. Ekspektasi (4:32)
    5. Amatiran (4:26)
    6. Terlalu Lama Sendiri (4:04)
    7. Mercusuar (4:00)
    8. Gema (2:08)
    9. Pengingat (3:30)
  • Bis Kota

    Bis Kota

    Beberapa waktu belakangan aku mendengarkan ?Bis Kota?, sebuah lagu lawas milik alm. Franky Sahilatua yang digarap ulang oleh Cross Bottom.

    Kalian yang tumbuh di Jogja pada era 90-an, seharusnya ingat pada band yang satu ini. Army, Pagon, Aji (dan dulu ada Pierna serta Hafidz) mereka merajai panggung-panggung musik kampus hingga festival.

    Mereka pernah pula mengeluarkan dua album mainstream (album terakhir mereka, ‘Aku dan Kita’ pernah ku-review di tulisan ini enam tahun silam) namun sayang, lesunya industri musik di tengah maraknya maling-maling pembajak menyedot darah para pelaku industri termasuk Cross Bottom hingga lemas dan tak terdengar.

    Secara pribadi aku dulu kenal dekat dengan para personil Cross Bottom, kawan sepermainan dan nongkrong bareng-bareng di seputaran Kampung Samirono Yogyakarta. Bahkan meski sudah berada di Australia dan para personel Cross Bottom telah pula terpisah-pisah kota, hubunganku terutama dengan Army, sang vokalis, masih terjalin lewat social media.

    Hingga akhirnya sekitar sebulan lalu ia mengabarkan kepadaku bahwa ia sedang menyiapkan single terbaru untuk Cross Bottom. Sesuatu yang bagiku cukup mengejutkan mengingat setelah merilis album kedua, enam tahun lalu, hubungan antar anggotanya tidak terlalu harmonis lagi.

    Lalu setelah Army mengirim file rekamannya kepadaku lewat jalur pribadi, barulah aku percaya bahwa Cross Bottom memang telah benar-benar kembali!

    Bis Kota versi Cross Bottom sangatlah renyah di telinga. Tanpa memandang sebelah mata personil lainnya, karakter vokal Armi sangat menjadi nyawa dalam lagu ini. Eksistensi mereka dalam membawakan country-rock yang tertuang di lagu ini meruntuhkan anggapan miringku dulu karena kupikir mereka dulu mengusung jalur ini semata karena tuntutan major label saja.

    Tapi mungkin karena saking renyahnya, lagu ini jadi tak terlalu tampak ?extraordinary? meski bagiku itu sebenarnya tak penting. Kebangkitan mereka lagi di tengah industri yang masih lesu darah adalah justru menjadi sesuatu yang luar biasa; semacam zombie yang tiba-tiba bangkit saat yang lain masih terkunci di dalam peti mati suri mereka masing-masing…

    Oh ya, untuk memperkuat konten pada posting ini, beberapa silam aku ngobrol dengan Army terkait lagu Bis Kota dan Cross Bottom. Selamat menikmati!

    Kenapa kok memilih lagu Bus Kota dan bukan lagu lain?
    Karena bis kota masih menjadi sarana transportasi umum yang banyak digunakan di Indonesia, setiap kejadian yang ada di dalamnya selalu menarik. Nah tadinya kita mau bikin lagu tentang bis kota versi kita sendiri. Tapi Bis Kota dari sudut pandang Franky Sahilatua jauh lebih menggelitik dimana di situ ada ‘ketiak’ dan ‘kejepit’ hahahaha…

    Apa itu karena CB (Cross Bottom) ketika masuk dapur rekaman dulu dikategorikan sebagai band country-rock?
    bisa dibilang begitu tapi gak sepenuhnya itu… Nah lho..hahahaha.
    Pada dasarnya kita memang suka dengan lagu ini. dan ndilalahnya kok genrenya nyerempet.

    Tapi dulu waktu manggung di jogja era 90an, CB kan tidak memainkan lagu-lagu country. Apa itu tuntutan label?
    Iya memang kita dulu nge-rock cenderung grunge yah… Begitu kita buat musik sendiri, yang keluar adalah apa yang jujur kita suka dan outputnya ternyata seperti itu (country-rock).

    Jadi kamu yakin itu bukan karena syarat dari label supaya kalian bisa masuk dapur rekaman dulu ya?
    Sama sekali bukan…

    CB terakhir mengeluarkan album enam tahun silam. Kenapa lantas vakum?
    Karena bosan sepertinya, kebosanan yang berujung pada pertengkaran.

    Kenapa bertengkar?
    Perbedaan visi dan misi bermusik?Sebenarnya kalau tidak bosan ya gak mungkin berantem juga sih, kan kita kepalanya memang pada keras-keras hahahaha…

    Lalu sekarang udah baikan?
    Sekarang udah yahud, udah nggak jamannya (untuk berantem) hahaha…

    Tapi CB sekarang muncul kembali saat industri musik sudah lesu. Piye ini?
    Ya gak papa… CB yang sekarang muncul ini lebih ke mengobati kerinduan bermusik lebih tepatnya obat stres lah hahahaha

    I see! Jadi bukan sebagai mata pencaharian utama lagi ya?
    Musik untuk tempat nongkrong dan tempat melepas lelah saja karena kita masing-masing sudah bekerja dan berkeluarga.

    Semacam reuni ya?
    Ya bisa di bilang begitu

    Tapi apa memang benar-benar ngga ada cita-cita untuk eksis lagi dalam artian bikin album, adain konser tur gitu?
    Kan judulnya bermain musik bukan bekerja musik? Having fun lah bro hahaha…?Sekarang seperti kembali ke jaman awal-awal bermusik dimana kita hanyalah kumpulan orang-orang bodoh yang cuman tau kord G C D hahahaha…

    Apa ini perasaan frustrasi karena industri musik yang lesu?
    Gak frustasi koq, cuman lebih bijak menyikapi nya, berusaha lebih bijak.

    I see… Ada rencana apa setelah keluarin single Bis Kota ini?
    Semoga bisa berlanjut ke single berikutnya, sampai 10 single lah hahahahaha…
    Intinya sih CB saat ini adalah CB yang santai dan lebih menikmati proses aja

    Proses rekaman Bis Kota sendiri gimana? berapa lama? Apa semua anggota berkumpul di satu tempat, atau terpisah lalu disatukan software?
    Prosesnya sekitar tiga minggu, agak lama untuk hitungan single karena kita masing-masing sibuk. Recordingnya diadakan di tempat masing-masing lalu kusatukan pake software.

    Rencana promo mau seperti apa?
    Promo standar sih, masih lewat radio dan social media. Mungkin setelah Lebaran kita pengen bikin show case kecil-kecilan tapi itu masih wacana…

    OK pertanyaan terakhir, Jogja sekarang perkembangan musiknya ketoke asik-asik ya? Dibandingkan dengan jamanmu ndhisik piye?
    Mungkin yang membedakan lebih ke soal akses sih, Bro. Dulu kita mau cari musik harus sampai keluar kota kalau sekarang tinggal konek internet semua ada otomatis bank musiknya lebih luas. Akses mereka untuk memperkenalkan musik mereka pun jauh lebih mudah dan pastinya kualitasnya pun pasti naik karena standarnya jauh lebih tinggi dari jaman kita dulu. Btw kapan kamu ngebass lagi bro hahahaha…

    Hahahahah nge-bass? Lawas! Idolamu sekarang siapa? Masih Pearl Jam?
    Masih Pearl Jam, Eddie Vedder tepatnya! (Armi dengan Cross Bottom-nya dulu dikenal sebagai band yang sangat sering mengusung lagu-lagu Pearl Jam)

    Kalo musisi lokal?
    Aku suka RAN dan Tulus…

  • 10000 Reasons (Bless The Lord)

    10000 Reasons (Bless The Lord)

    Beberapa minggu terakhir telingaku berkutat pada lagu kuat milik Matt Redman, 10000 reasons (Bless the Lord). Sebuah lagu christiany kontemporer yang diproduksi beberapa tahun yang lalu.

    Kuat?
    Ya! Bagiku, sebuah lagu rohani berlirik kuat justru ketika ia berkisah tentang kelemahan manusia dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan.

    Aku mengenal lagu ini pertama kali melalui halaman facebook Brin Sukumaran, (? link) adik perempuan Myuran Sukumaran, terpidana mati kasus narkoba yang dibunuh regu tembak dini hari, 29 April 2015.

    Myu, menurut Brin, pada pertemuan terakhir mereka menyanyikan lagu ini berulang-ulang.

    Penuturan Brin ini segendang sepenarian dengan cerita Febyanti Herewila, janda Andrew Chan, terpidana mati lainnya yang juga sama-sama dibunuh pada saat yang sama. Malah menurut Feby, suami yang menikahinya hanya sehari sebelumnya itu, beserta ketujuh terpidana lainnya menyanyikan lagu ini hingga saat-saat terakhir mereka.

    Lagu ini dimulai dengan reffrein yang megah dan lirik yang sangat mudah untuk dihapal.

    Bless the Lord oh my soul, oh my soul
    worship His holy name
    Sing like never before, oh my soul
    I?ll worship Your holy name.

    Ada tiga bait/verse yang disambungkan oleh reffrein di atas.

    Verse pertama memuat lirik sebagai berikut:

    The sun comes up, it’s a new day dawning
    It’s time to sing Your song again
    Whatever may pass, and whatever lies before me
    Let me be singing when the evening comes

    Saat pelayanan musik untuk Perayaan Ekaristi berbahasa Indonesia di St Agatha?s Church Penant Hills, akhir Mei yang lalu, aku dan Ferdi, kawanku, hanya membawakan verse pertama ini plus reffrein sebagai lagu pembuka acara. Inginku menyanyikan seluruh versesnya tapi sayang, waktu yang tersedia terlalu singkat.

    Verse kedua memuat lirik demikian,

    You’re rich in love, and You’re slow to anger
    Your name is great, and Your heart is kind
    For all Your goodness I will keep on singing
    Ten thousand reasons for my heart to find

    Entahlah tapi aku kurang sreg dengan pilihan kata dari Matt terutama pada frase ?You?re slow to anger? Menurutku ada pilihan kata lain yang lebih tepat untuk disandingkan frase sebelumnya, ?You?re rich in love?

    Verse penutup atau verse ketiga dari lagu yang pernah diganjar double Grammy Award pada 2013 ini menurutku adalah yang paling ?nendang?.

    And on that day when my strength is failing
    The end draws near and my time has come
    Still my soul will sing Your praise unending
    Ten thousand years and then forevermore

    Verse ini adalah pengembangan dari baris terakhir verse pertama, ?Let me be singing when the evening comes?

    Pagi, saat matahari terbit sering dianggap sebagai awal mula kehidupan sedangkan petang/malam/evening terbaca sebagai saat akhir kehidupan.

    Pada kedua saat itu, masih di verse pertama, Matt menekankan kata kerja ?singing? sebagai sesuatu yang tak berkesudahan baik itu saat matahari terbit dan ketika petang menjelang.

    Hal ini seirama dengan yang ada di verse ketiga.

    And on that day when my strength is failing
    The end draws near and my time has come
    Still my soul will sing Your praise unending

    Lalu pada larik terakhirnya, ?Ten thousand years and then forevermore? adalah benturan yang hebat karena di situ, meski kematian ada di depan mata lalu kemudian datang, tapi sebenarnya kita masih punya waktu sepuluh ribu tahun dan selama-lamanya untuk tetap bernyanyi memuji Tuhan; sesuatu yang tak kan pernah berkesudahan (unending).

    Aku menemukan makna lebih dalam dari lagu ini, terutama verse ini, ketika aku membayangkan berada bersama Myuran dan Andrew pada dinihari 29 April 2015 di lapangan tembak Limus Buntu, Nusakambangan.

    Seperti yang diungkap Feby dalam acara funeral suaminya yang digelar secara megah dan khidmat di Hillsongs Church awal Mei silam:

    “When they were tied up on the pole, they all sang 10,000 Reasons?. He sang that song. They all managed to finish the first verse, and in the second verse, halfway, they took him.”

    Mereka mengerti kehidupan tinggal berjarak sekian menit ke depan bahkan lebih pendek dari panjang lagu yang sedang mereka nyanyikan. Akan tetapi, dengan tangan terikat di kayu, mata yang tak mau ditutup tertuju pada regu tembak yang menyiapkan laras senapan dan mengarahkan ke dada mereka, kedelapan orang itu memastikan bahwa pujian (dalam bentuk nyanyian) tak bisa dihentikan bahkan ketika kehidupan mereka harus terhenti.

    Nyanyian mereka adalah nyanyian pujian bagi Tuhan. Sesuatu yang abadi, melebihi dosa-dosa mereka, melebihi usia rejim yang berkuasa untuk membunuh mereka (? tulisan terkait), melebihi sepuluh ribu tahun, melebihi takaran waktu yang tak terkatakan kecuali dengan sebutan ?selama-lamanya? sekalipun…

    Ten thousand years and then forevermore?

  • 9 Lagu Terbaik FLPPN V/1977

    9 Lagu Terbaik FLPPN V/1977

    blog_flppn1977_01Selain melahirkan blogger keren nan tampan yang buah tulisannya sedang kau baca saat ini, rahim tahun 1977 juga melahirkan album yang tak kalah kerennya, Festival Lagu Populer Nasional 1977. Album ini adalah rilis kelima dari festival yang sama, oleh karenanya dalam berbagai kesempatan, album ini disingkat sebagai FLPpN V/1977!

    Sebenarnya ada sebuah album kompilasi Indonesia lainnya yang tak kalah keren di tahun yang super keren itu, LCLR judulnya, Prambors penyelenggaranya. Tapi biarlah itu kuulas nanti terpisah dari yang kali ini.

    Ada banyak lagu keren di FLPpN V/1977.?Satu yang bisa dibilang menjadi ikon adalah Damai Tapi Gersang-nya Adjie Bandi. Saking terkenalnya, meski hanya menduduki posisi nomer dua pada festival ini, lagu yang dibawakan bersama Hetty Koes Endang ini menyabet penghargaan di sebuah festival lagu internasional di Tokyo, Jepang.

    Damai Tapi Gersang memang berkarakter sekali. Lirik, musik dan irama yang ditawarkan seniman kelahiran Blitar ini sangat berkelas. Tak ayal kalau majalah Rolling Stones Indonesia menobatkan lagu tersebut pada urutan 53 dari 150 lagu terbaik sepanjang masa.

    Adjie Bandi yang memiliki referensi musik klasik ini juga membawakan Kehidupan, yang tak kalah menariknya dan terasa betul nafas Deep Purple di dalamnya.

    Soemarini Soerjosoemarno atau yang lebih dikenal sebagai Marini membawakan Pengabdian Tiada Akhir dan Semusim Lalu. Dua lagu karya Anggrian Soekamto ini kuamati sangat menarik dari sisi lirik. Untaiannya berbunga-bunga mengingatkan lagu-lagu yang lebih lawas terbit pada dekade atau dua dekade sebelumnya.

    Keenan Nasution, vokalis Gang Pegangsaan seolah menjadi pembeda dalam album ini. Di Batas Angan-angan dibawakan dengan sentuhan vokalnya yang khas; tak dibuat-buat dan sesekali memainkan falsetto. Keenan memberikan sentuhan progresif yang menurutku lantas menjadi ciri khas dalam musik bersama rekan-rekan segang-nya, Chrisye, Fariz RM dan lain-lain.

    Yang menarik, dalam lagu tersebut, ada penggalan syair bahasa Jepang yang dibawakan yang mengingatkanku pada lagu Sakura versi aslinya Fariz RM.

    Keunikan Keenan tak berhenti di situ. Pada ajang festival lainnya di tahun itu yang kusinggung di atas, ia juga masuk dalam kompilasi album LCLR bikinan Prambors.

    blog_flppn1977_03

    Rizal, Helmi dan Irwan, dalam album ini membawakan Hari Yang Indah. Lagu yang benar-benar indah ini besutan Chandra Darusman, orang yang lantas bersama-sama trio tersebut menyanyikan lagu legenda, Pemuda setelah mereka bersama tiga rekan lainnya Aswin Sastrowardoyo, Edwin Hudioro, Norman Sonisontani membentuk Chaseiro.

    Lagu yang menurutku agak ?off? dibanding lagu lainnya adalah Queen of the Rain yang dibawakan oleh Parwati Kramadibrata.

    Mungkin ini subyektif, tapi bagiku menyanyikan lagu berbahasa asing itu menuntut penguasaan terutama dalam pengucapan kata per kata secara tepat karena kalau tidak, pesan yang disampaikan oleh lagu jadi tak terlalu tersampaikan dengan baik.

    Ada pula dua trio yang menghiasi lagu itu. Pertama adalah Hutahuruk Sisters yang membawakan Sadarilah Sayang dan yang kedua adalah Lex?s Trio yang mengusung Bila Cengkeh Berbunga, lagu yang paling kusukai di album ini.

    Lagu karya Domingus Tahitu, ayah dari Ello dan suami dari almh. Diana Nasution ini berhasil menjadi juara dalam festival itu.

    Bagiku lagu Bila Cengkeh Berbunga ini memiliki konstruksi nada dan penekanan yang tersusun sangat rapi didukung oleh kualitas suara tiga putri pak Alex Tetelepta yaitu Agustina, Yuliaty, dan Estherlina.

    Yang juga tak kalah uniknya adalah penggunaan ?cengkeh? sebagai judul. Coba simak lirik berikut:

    Kau berjanji
    bila cengkeh berbunga
    saat itu
    kau akan kembali kepadanya
    untuk memetiknya

    Indah sekali bukan? Lirik yang begitu jujur dan membangkitkan rasa ?kedaerahan? atau setidaknya nasionalisme tanpa harus meminjam istilah-istilah asing khas Amerika atau Inggris, Jepang dan bukan juga Korea seperti yang ngetop belakangan.

    Penggunaan istilah khas Indonesia seperti yang dilakukan Dominggus dalam lagu ini mengingatkanku pada Kembang Pete-nya Iwan Fals, Setangkai Anggrek Bulan-nya Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora serta kalau yang lebih baru lagi dan mungkin kalian tidak sadar adalah briliannya seorang Katon Bagaskara menulis lirik ?Bulan merah jambu?? dalam Tak bisa Pindah ke lain hati.

    Kapan lagi ya kita punya lirik-lirik orisinil nan Indonesia seperti masa lalu?

    blog_flppn1977_02

  • FLP 1985, Vina versus Harvey?

    FLP 1985, Vina versus Harvey?

    blog_flp85

    Terlepas dari tampangku yang ‘bermutu (bermuka tua)’ atau tidak, aku pernah ditebak usia sebagai orang yang lahir pada era akhir 60an dan awal 70an hanya gara-gara musik yang kudengar.?Kebetulan oleh kedua orang tuaku dulu, terutama alm. Papaku, aku dikenalkan musik ‘dewasa’ sejak aku belum lebih dari delapan tahun.

    Pada saat anak-anak sebaya masih sibuk berkutat menghapal lirik Bintang Kecil dan Pelangi, aku sudah mengenal Galih dan Ratna atau Puspa Indah Taman Hati-nya Chrisye, Kehidupan-nya God Bless hingga Sirkuit-nya trio SAS. Mungkin karena ini juga maka referensiku terhadap musik anak-anak sangatlah minim hingga kini. Bahkan aku ingat ketika dulu ikut lomba nyanyi menyambut hari Natal di SD, kawan-kawan lain menyanyikan ‘Malam Kudus’, ‘Pohon Terang’ atau paling banter ‘Maria’ nya Julius Sitanggang, aku dengan pedenya bernyanyi Hening dan Kidung-nya Chrisye!

    Oleh karena itulah ketika trend 80an kembali menyeruak sejak dekade lalu, aku begitu menikmati fenomena itu dan tak jarang berakhir dengan pertanyaan ‘kepo’, “Mas Don kelahiran tahun enam puluh berapa kok bisa tahu banyak banget lagu 80an?” #rasanya_pengen_gua_gampar!

    Tapi anyway, minggu lalu ketika sedang bongkar-bongkar hard disk lawas, tak sengaja aku menemukan koleksi lagu-lagu lama yang dulu kudapat dari Viktor, sahabatku. Lagu-lagu itu kukumpulkan darinya sejak aku masih tinggal di Jogja dan range periode lagu-lagu tersebut berkisar sejak awal 60an (Gendjer-gendjer dan Oentoek Padoeka Jang Moelia Presiden Soekarno-nya Lilis Suryani), 70an (Soerabaja – Adarapta, Nuansa Bening – Gang Pegangsaan), 80an hingga 90an berjumlah total sekitar 700an lagu!

    Karena begitu excited, beberapa musisi yang kudengar akhir-akhir inipun kuhapus untuk sementara waktu kuhapus dan kugantikan dengan lagu-lagu tersebut. Aku berencana ingin membuat semacam serial resensi lagu/album di era-era lalu di tagar ini tapi kita lihat nanti. Yang pasti, saat ini, sebagai yang pertama, aku hendak mengulas salah satu yang menurutku adalah album terbaik di era 80an, 12 Lagu Terbaik Festival Lagu Populer (FLP) Tingkat Nasional 1985.

    blog_flp85_3Adapun Festival Lagu Populer sendiri sempat menjadi tradisi menahun sejak awal 70an hingga akhir 80an. Banyak pencipta lagu, penyanyi dan lagu-lagu legendaris yang masih sering kita dengar hingga sekarang ini lahir dari ajang ini. Bandingkan dengan ajang pemilihan idola penyanyi hari-hari ini. Selain tak ada juntrungannya, sering kita lihat mereka yang seharusnya menjadi idola malah tenggelam sama sekali. Kalaupun muncul sekali dua kali lebih di pertunjukan musik televisi yang diadakan di pinggir jalan bermodal CD minus one atau malah lip synch sama sekali! Kalaupun ada satu-dua nama yang pada akhirnya muncul, yang ada justru mereka yang menjadi MC, pemain sinetron ataupun bintang iklan. Sayang memang…

    Anyway, dalam album 12 Lagu Terbaik FLP 1985 ini, sebagai pecinta berat Vina Panduwinata (aku mengaguminya secara wajah dan musiknya!), aku tak bisa tidak menempatkan dua lagunya, Satu Dalam Nada Cinta dan Burung Camar sebagai lagu terbaik di album ini.

    Album ini adalah perulangan kesuksesan bagi Vina setelah tahun sebelumnya, namanya begitu tenar lewat album bertajuk sama tapi berangka tahun 1984. Di album kali ini, ia seolah dinobatkan sebagai salah satu magma musik Indonesia tahun 1985 lewat Burung Camar yang adalah karya Aryono Uboyo Djati dan Iwan Abdurrachman (beliau adalah pecinta alam unggulan dari Bandung yang juga menciptakan lagu Melati dari Jayagiri-nya BIMBO).

    Bagiku, Burung Camar adalah salah satu lagu terbaik Indonesia sepanjang masa. Unsur orkestra yang waktu itu belum terlalu dikenal digunakan dalam ranah pop di Tanah Air, diboyong serta dalam lagu ini. Hal itu dipadukan dengan lirik lagu yang sebenarnya tak mudah dicerna namun dibawakan dengan begitu baik oleh Vina. Pengakuan Internasional juga diraih melalui penghargaan KAWAMI Awards di Budokan Jepang.

    Selain Vina, album ini juga menjadi ajang pertemuan Elfa Secoria, seorang komposer unggul dari Bandung, dengan Wieke Gur, penulis lagu, dalam Selamat Datang Cinta yang dibawakan Harvey Malaiholo. Wieke Gur yang kini lebih sering bermukim di Perth Australia sebagai seorang cross-cultural business strategist menurutku menorehkan lirik dahsyat pada lagu ini. Bagaimana ia ‘mengawinkan’ syair lugas dengan komposisi nada unik Elfa bisa disimak pada reffren lagu ini:

    Aku tak kuasa
    dan tiada mungkin kuhindari
    Getar-getar rasa
    nada-nada asmara
    Di dalam hati ini ooh
    Aku tak kuasa
    dan tiada mungkin kuhindari
    Suara dari sanubari
    Menyapa “S’lamat datang cinta!”

    Bagiku, lagu ini juga salah satu tiang yang menancap begitu dalam dan monumental yang bisa kita lihat pada karir Harvey Malaiholo pada masa-masa selanjutnya. Harvey tak hanya membawakan satu lagu dalam album ini. Ia juga mengusung Semoga Lestari yang juga diciptakan Elfa Secoria kali ini bersama Hentriesa dan Erianti Erningpraja.

    Lagu Jingga-nya Christine Panjaitan dan Hiroshima dan Nagasaki yang dibawakan secara heroik oleh Melky Goeslaw, ayah pentolan grup Potret yang berkibar di era 90an, Melly Goeslaw, juga menarik perhatianku.

    Namun demikian, lagu yang sebenarnya tak terlalu menarik secara materi, menurutku, namun sangat menyita perhatianku adalah ‘Untuk NamaMu‘ yang dinyanyikan Grace Simon dan Masnait VG. Meski tak secara eksplisit, pemilihan penggunaan kata-kata dalam lirik lagu ini sangatlah kristiani.

    Bukan sesuatu yang buruk tentu saja, tapi hal ini cukup membuatku merenung bagaimana jika lagu seperti ini dituang dalam album komersial yang dijual bebas di pasaran pada era kini saat kaum-kaum tertentu tampak tak terlalu santai lagi dalam beragama?

    Akankah muncul gelombang protes dan sentimen dari gerombolan orang itu lalu mendesak produser untuk menghapus lagu tersebut dari album karena dianggap kristenisasi? Entahlah, aku tak melihat bahwa perkiraanku dan permenunganku ini berlebihan berkaca dari apa yang terjadi belakangan ini.

    Album ini juga memuat lagu ‘Hanya Misteri‘ karya Dodo Zakaria dibawakan Euis Darliah yang identik dengan lagu Apanya Dong. Ada juga Broery Pesolima yang membawakan Bawalah Daku Dalam Bahagia karya suami-istri Minggoes Tahitoe dan Diana Nasution. Kalau kalian jeli, mereka berdua adalah orang tua Marcello Tahitoe atau yang lebih dikenal sebagai Ello yang lantas mendaur ulang lagu milik ayahnya, Pergi Untuk Kembali, akhir dekade silam.

    Ada juga Ny Idris Sardi, Marini Sardi membawakan karya Anton Issoedibjo, Rayu Lelaki, serta yang tak boleh dilewatkan adalah kemunculan remaja usia 19 tahun, Titi Dwi Jayati yang membawakan Hadirmu (Toni P. Sianipar) dan Merah Hitam Cinta Kita (Donny & Prass). Di lagu terakhir, perempuan yang lantas kita kenal akrab sebagai Titi DJ itu berduet dengan Sandro Tobing.

    Menikmati album ini membuatku teringat pada ungkapan yang sempat ngetrend di social media, “Luwih penak jamanku?” lalu di sebelahnya ada gambar The Smiling General, Soeharto. Ungkapan ini kerap digunakan untuk menyindir keadaan pemerintah sekarang (dan sebelumnya) dibandingkan dengan kestabilan nasional a la Pak Harto. Aku tentu tak menyetujuinya, bukan karena SBY atau Jokowi lebih baik dari Soeharto tapi karena Tony Abbott lebih bagus dari Soeharto hehehe…

    Tapi dalam hal musik, aku tak bisa tidak setuju pada ungkapan itu! Bagiku, musik Indonesia mengalami jaman puncak kejayaan pada era 80an dan 90an. Ini bukan saja karena kebetulan aku tumbuh di masa itu, tapi mari kita mencoba jujur dan membandingkan dengan musik masa kini.

    Mungkin kalian bisa bertahan dan bilang, “Ah, kamu yang menua Don! Nggak bisa dengerin musik jaman sekarang!”?O well, katakanlah demikian.. katakanlah musik jaman sekarang pun juga baik sebaik masa keemasan 80an dan 90an, tapi bagiku setidaknya musik masa kini juga memerlukan penikmat-penikmat musik yang tak kalah terbaiknya yang mampu mengapresiasi dan mengkritik musik dan menuliskan resensi terbaik seperti tulisan yang sedang kalian baca ini, kan?

     

    Eh, by the way, masih ada yang ingat foto orang-orang di bawah ini? Mereka adalah para penyanyi di album ini! Ayo, coba tebak!

    blog_flp85_2

  • You Make Feel Like Dancing

    You Make Feel Like Dancing

    blog_wiggles

    Australia Day biasa diperingati dengan hal-hal khas sebagai berikut:
    Pesta barbeque di tepi pantai atau di taman dengan menu hotdog sosis babi dan sapi serta sate seafood. Berbotol-botol bir dan?limun segar, singlet dan celana pendek bermotifkan bendera Australia, topi penghalau sinar matahari musim panas tak ketinggalan?sendal jepit, dan mendengarkan musik karya anak negeri Australia lewat piranti seadanya!

    Tapi karena cuaca senin lalu sangat buruk, orang memilih untuk tinggal di rumah, tidak melakukan pesta barbeque dan tidak pula perlu berpakaian motif bendera Australia tapi tetap mendengarkan musik Australia!

    Musik Australia meski tak sebanyak ragam musik-musik dari Inggris maupun Amerika, tetaplah menarik.

    Beberapa bahkan menjadi legenda dunia seperti AC/DC, INXS, Air Supply dan Kylie Minogue. Selain ada juga yang tak kalah seru seperti JET, Wolfmother, Indicent Obsession, Jason Donovan, Silverchair, Natalie Imbruglia, hingga Temper Trap, band asal Melbourne yang vokalisnya berdarah Indonesia (Manado) Doughy Mandagi.

    Namun senin kemarin aku melewatkan semua itu dan memilih memutar The Wiggles di pemutar DVD player lalu menikmatinya bersama anak-anakku Odilia, Elodia dan istriku Joyce.

    blog_wiggles_1

    The Wiggles adalah grup Australia yang mengusung musik untuk anak-anak. Sebagian anggotanya dulu adalah anggota grup musik Australia, The Cockroaches.

    Anggota asli The Wiggles yang dibentuk tahun 1991 adalah Anthony Field, Jeff Fatt, Greg Page dan Muray Cook (serta seorang lagi yang hanya aktif di album pertama tapi aku lupa siapa namanya).

    Karena sakit, Greg Page sempat digantikan oleh Sam Moran beberapa tahun di akhir dekade silam. Awal 2013, Greg pulih dan kembali menggantikan Sam namun hanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya mereka, Jeff, Murray dan Greg memutuskan untuk pensiun namun tetap menyisakan Anthony yang ditemani tiga wiggles members baru, Simon, Lachy dan Emma.

    The Wiggles formasi awal. Greg Page (Yellow Wiggle), Anthony (Blue Wiggle), Murray (Red Wiggle) and Jeff (Purple Wiggle)
    The Wiggles formasi awal. Greg Page (Yellow Wiggle), Anthony (Blue Wiggle), Murray (Red Wiggle) and Jeff (Purple Wiggle)
    The Wiggles formasi kedua saat Greg sakit. Posisi Greg digantikan Sam Moran (Yellow Wiggle)
    The Wiggles formasi kedua saat Greg sakit. Posisi Greg digantikan Sam Moran (Yellow Wiggle)
    The Wiggles formasi terkini.  Anthony (Blue Wiggle),  Emma Watkins (Yellow Wiggle), Simon Pryce (Red Wiggle) and Lachlan Gillespie (Purple Wiggle)
    The Wiggles formasi terkini. Anthony (Blue Wiggle),
    Emma Watkins (Yellow Wiggle), Simon Pryce (Red Wiggle) and Lachlan Gillespie (Purple Wiggle)

    Wait.. wait.. wait? kenapa aku jadi ngebahas Wiggles? Ada yang salah dengan telingaku? Kemana U2, Foo Fighters, Queen, Led Zeppellin dan Beatles yang selalu kudengar?

    Tidak!
    Aku memang menyukai The Wiggles sejak anak-anakku menyukainya. Lagipula aku memang tidak pernah membatasi pada musik apapun selama ia asyik untuk didengar termasuk The Wiggles.

    Dari beberapa keping CD/DVD yang kupunya, Senin kemarin aku mendengar (tepatnya melihat karena bentuknya DVD berisi video clip lagu-lagu mereka) You Make Me Feel Like Dancing yang dirilis oleh ABC pada 2013 silam.

    https://www.youtube.com/watch?v=Bwy1x0-cZaI

    Album ini menarik karena banyak me-recycle lagu-lagu lama. Bahkan single pertama album ini yang lalu dijadikan judul album, You Make Me Feel Like Dancing, adalah lagu lawas milik Leo Sayer (1976) yang juga hadir duet bersama Wiggles.

    Ada juga lagu Old Dan Tucker yang adalah lagu Amerika abad ke-19. Secara apik, The Wiggles membawakannya bersama penyanyi country ternama Australia, Troy Cassar-Daley.

    The Wiggles juga mengintepretasi ulang jazz lawas milik Duke Ellington, The Mooche. Secara mengejutkan, mereka meniru suara kucing, ?miauw miauw? sebagai pengganti melodi lagu yang pada versi aslinya dibawakan oleh trompet. Lagu ini didukung setting yang juga tak kalah menariknya secara visual yang menurutku berbau moon walker-nya Michael Jackson. Apik!

    Ada juga lagu reggae lama milik Fatback Band, (Are you ready) Do the bus stop, Day-O (The Bannana Boat Song) nya Harry Belafonte yang dikreasi tahun 1956, La Bamba-nya Los Lobos & Gipsy Kings, English Country Garden nya Jimmie Rodgers (1957) dan ditutup dengan Swedish Rhapsody milik Chet Atkins.

    https://www.youtube.com/watch?v=6mmc8PE14oU

    Sudah semua? Belum!
    Diluar lagu-lagu lawas milik artis-artis ternama beberapa dekade silam, ada juga lagu yang lebih ?silam? lagi yang tergolong dalam nursery rhymes seperti A Sailor Went To Sea/Hornpipe, Two Little Dickie Birds, The Turkey In The Straw, dan The Fairy Dance!

    Ada pula lagu-lagu milik Wiggles sendiri seperti Dr Knickerbocker, I Drive The Big Red Car dan perhatian paling besar kuberikan pada lagu favoritku di album ini, The Shimmie Shake!

    Lagu bergenre 60-70an ini dibawakan dalam versi cameo seolah-olah Jeff, Murray, Sam dan Anthony layaknya anggota Beatles lengkap dengan model baju yang ala Beatles era Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band yang warna-warni. Mereka juga menyandang gitar, bass serta menabuh drum yang secara bentuk sangat mirip dengan apa yang dipakai oleh John/George, Paul serta Ringo dulu.

    Satu lagi yang tak ketinggalan dari sesi cameo itu adalah cara mereka menggeleng-gelengkan kepala(shaking) ala Beatles. Jawara sekali!

    https://www.youtube.com/watch?v=XPnRxjrU8G0

    By the way sebelum kelupaan? ini adalah sebuah pengakuan tentang kecintaanku pada The Wiggles.

    Sejauh aku enam tahun tinggal di Australia, aku telah nonton konser U2 dua kali, Coldplay dua kali dan beberapa grup lain yang kutonton sekali… tapi The Wiggles adalah grup musik yang telah kudatangi konsernya sebanyak tiga kali dan Maret ini bakalan sekali lagi!

    Aku dan Odilia berfoto dengan Jeff Fatt (ex-Purple Wiggle) saat konser The Wiggles, desember 2014 silam. Meski tak lagi aktif di atas panggung, Jeff masih aktif di belakang panggung
    Aku dan Odilia berfoto dengan Jeff Fatt (ex-Purple Wiggle) saat konser The Wiggles, desember 2014 silam.
    Meski tak lagi aktif di atas panggung, Jeff masih aktif di belakang panggung

    Musik memang lintas batas. Ketika mendengarkan lagu-lagu lawas, aku bisa masuk ke era apa yang dulu disukai alm. Papaku. Mendengarkan dan menyaksikan The Wiggles, aku masuk ke era yang disukai Odilia, Elodia dan hampir sebagian besar anak-anak Australia yang tumbuh dan besar sejak dua dekade silam lamanya!

    Shimmie, shimmie, shimmie, shimmie, shimmie, shimmie.
    Hear the drumbeat, hear the guitar.
    When you dance this way, you do the Shimmie Shake.

  • Sonic Highways, pembaharuan yang tak baru?

    Sonic Highways, pembaharuan yang tak baru?

    Foo_Fighters_8LP_Sonic_HighwaysFoo Fighters mengeluarkan album rekaman kedelapan, Sonic Highways, akhir tahun lalu dan aku mendengarkannya secara seksama sejak sebelum Natal, sejak aku memutuskan untuk menyaksikan konsernya di Sydney, 26 Februari 2015 mendatang.

    Dave Grohl (vokalis/guitar) dalam sebuah wawancara dengan media sebelum album Sonic Highways dirilis berujar bahwa apa yang ada dalam album itu adalah sesuatu yang baru yang belum pernah sekalipun mereka bawakan dan pikirkan? Tapi pertanyaannya sekarang, benarkah yang dikatakan eks drummer grup legendaris Nirvana itu demikian adanya?

    Menurutku, kenyataan itu masih jauh panggang dari api.?Sonic Highways tak beda jauh dengan album-album mereka terdahulu meski dari bagaimana mereka memproduksi album ini sangatlah unik karena dikerjakan di delapan kota berbeda dan melibatkan musisi-musisi tamu pada setiap lagunya.

    Tapi ketidakbedaan bukanlah melulu bicara tentang sesuatu yang buruk karena bagi sebagian besar pendengar fanatik, perubahan itu malah belum tentu bisa diterima dengan mulus.

    Contohnya U2! (Gue komentar gini siap dirajam orang-orang U2 lovers sih hahaha!)?Mereka pernah terjerumus ke alur techno pop era 90an sebelum akhirnya mendapat ?hidayah? lalu menepi pada awal 2000an.

    Atau Metallica yang galau setelah Black Album meledak di pasaran 1991 meski sebenarnya yang paling menarik untuk dicermati adalah Coldplay. Akan seberapa lamakah Chris Martin dan kawan-kawan menghilang dalam rimba pop-techno yang mereka buat sendiri sejak Viva La Vida dan makin kental dengan Mylo Xyloto serta Ghost Story?!

    Sonic Highways punya single-single khas Foo Fighters lengkap dengan progresi tensi lagu yang tertata rapi dan berakhir dengan meledak-ledak (entah kenapa aku sangat suka dengan cara Dave Grohl berteriak, sepertinya hanya James Hetfield – Metallica yang mampu menandinginya), riff-riff asyik dari Pat Smear dan Chris Shiflett serta syncope – snycope unik dari Taylor Hawkins (drum) dan Nate Mendel (bass).

    Simak saja single pertama mereka Something From Nothing atau The Feast and the Famine.

    Ada juga track-track dengan beat sedang seperti What Did I Do?/God as My Witness, Congregation, Outside, In The Clear atau yang ballad seperti Subterranean dan I am River yang mengakhiri album dengan manis.

    Secara umum, semua lagu sangat kusuka di album ini namun kalau boleh memberikan sorot lampu lebih terang pada lagu-lagu terbaik, mereka adalah What Did I Do/God as my Witness, Something From Nothing dan I am River.

     

    What Did I Do?/God as My Witness

    Dalam pandangan sangat subyektifku, mendengar intro dan verse awal What Did I Do/God as my witness seolah mengingatkanku pada lagu-lagu Bruce Springsteen yang khas dengan arpeggio piano dan vokal yang dibiarkan sendirian pada beberapa bait lagu. (aku mencoba untuk tidak lebih terinterferensi dengan kenyataan lagu What Did I Do?/God as My Witness yang menurutku cukup spritiual ditabrakkan dengan lagu-lagu Bruce Springsteen yang juga sangat religius/spiritual itu).

    What Did I Do/God as my Witness seperti dua lagu yang digabungkan menjadi satu. Bagian lagu yang paling melekat di memori, mudah dinyanyikan dan seolah bisa dijadikan koor penonton saat sesi cooling down konser mereka adalah berikut:

    God as my witness,
    yeah it’s gonna heal my soul tonight.

    Jawara banget!

     

    Something From Nothing

    Something From Nothing lain lagi!

    Sihir lagu ini tak hanya kuat karena ia diletakkan sebagai single pertama dari album ini tapi juga kaya warna suara (loop/sampling) dan kelihaian mereka dalam menata emosi lagu yang benar-benar dimulai dari sesuatu yang syahdu lalu memanjat naik hingga berakhir ke sesuatu yang Foo Fighters banget, garang, ramai, emosional tapi tetap nyaman untuk didengar!

    Aku paling suka bagian ini:

    But you can’t make me change my name
    You’ll never make me change my name
    Pay no mind now ain’t that something
    Fuck it all! I came from nothing

    Ada keluwesan tapi penuh penetrasi dan penghayatan ketika eks drummer Nirvana, Dave Grohl, itu meneriakkan kata ?Fuck it all!?

     

    I am a River

    Kekuatan lagu terakhir di album ini ada pada liriknya.

    Ada pesan yang sangat kuat dalam potongan lirik berikut:

    Can we recover
    love for each other?
    The measure of your life

    Juga di sini:

    Is that what you want?
    Is that what you really want?

    Dan semuanya memuncak sekaligus terlampiaskan pada chorus apik yang kupikir tak mudah ditirukan oleh penyanyi manapun kecuali si James Hetfield – Metallica seperti yang kubilang di atas,

    I? I? I? I am a river!

    Sebagai album ?comeback? dari break yang kusyukuri tak terlalu lama, Sonic Highways bukan sesuatu yang berbeda dari album-album sebelumnya. Tapi bisa jadi anggapanku ini salah! Bisa jadi mereka terlalu jagoan untuk meletakkan sisi-sisi pembeda itu tetapi tetap dalam karakter mereka.

    Duh, semakin nggak sabar buat nonton konser mereka bulan depan di ANZ Stadium!

    blog_sonichighways