Kategori: Rutin-rutin kecil

  • Membaca Buku

    Membaca Buku

    Aku membaca buku bukan karena mengikuti kata kebanyakan orang bahwa membaca buku itu lebih baik ketimbang menonton video atau mendengarkan podcast. Pun aku sejatinya tidak terlalu percaya akan anggapan itu karena nyatanya Gibran bisa sukses jadi pengusaha katering lalu jadi walikota dan sekarang fotonya dipasang dimana-mana menemani Prabowo sebagai wapres! Padahal, konon dia tidak membaca buku!

    Aku bukan pula pembaca yang baik.
    Kadang suka random bacanya. Kadang suka ganti buku padahal yang sebelumnya belum tuntas. Kadang karena bosen masuk ke bab yang tidak menarik perhatian, balik lagi ke buku yang lama atau… memakai kesempatan itu untuk merayu pikiran sendiri dengan bilang, “Mungkin sudah saatnya beli buku baru lagi!”

    Tingkat akuisisiku terhadap buku barangkali sudah tak setinggi dulu tapi dua puluh tahun lalu waktu masih tinggal di Indonesia? Jangan tanya! Pokoknya setiap kangen bau kertas, langsung pergi ke Gramedia, Togamas atau ke lapak-lapak di “Shopping” maupun Terban Jogja mencari buku yang belum kupunya! Eh iya, baru liat potongan reels kemarin di Instagram yang mengabarkan kalau kios-kios buku di Terban itu dibongkar! Sedih juga rasanya mengingat banyak banget kenangan terbangun di sana!

    Mengenai buku apa yang kubaca, pokoknya bukan yang fiksi! Sekarang aku suka sastra (padahal ini kebanyakan fiksi juga sih) atau sejarah dan filosofi. 

    Dulu sukanya kiri!
    Kalau cuma Pram mah lewat! Aku sudah punya hampir semua karyanya mulai dari Tetralogi, Arus Balik, Bukan Pasar Malam hingga macam Gadis Pantai dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. 

    Selebihnya adalah buku-bukunya Leo Tolstoy, Tjamboek Berdoeri a.k.a Kwee Thiam Tjing, DN Aidit hingga favoritku, Utuy Tatang Sontani, sastrawan kiri Sunda yang hingga akhir hayatnya menetap di Rusia dan jasadnya dikebumikan di sana.

    Buku-buku yang kusebut barusan tentu gak bisa didapat di Gramedia! Pernah kukejar sampai ke Kwitang Jakarta pun nihil. Mereka kudapat dari jaringan para kolektor buku bekas melalui mailing list. Harganya? Jangan tanya! Berlipat dari gaji guru honorer meski ya jauh di bawah dana MBG lah!

    Tapi nasib buku-buku itu sama seperti buku-buku lainnya. Kukagumi covernya, kupamerkan pada kawan-kawan tongkrongan, kubaca sedikit, lalu masuk ke plastik dan kututup rapat biar selamat dari ancaman rayap!

    Sekarang aku membaca buku hanya satu dua dalam setahun. Sepuluh halaman sehari rasanya sudah ngos-ngosan karena bersaing dengan hal lain yang kukonsumsi secara digital, ngurus keluarga, main musik serta tentu bekerja. Belum lagi kalau buku berbahasa Inggris yang meski sudah hampir delapan belas tahun tinggal di sini, yang namanya momen “Duh! Ini artinya apa ya?” ya tetap saja ada dan membuatku harus membuka kamus online yang tentu makan waktu! 

    Lalu kenapa tetap memaksakan diri untuk membaca?

    Ini ritual masa kecil!
    Membaca buku adalah mengulang apa yang dulu jadi hobi dan yang menyenangkan darinya adalah pengalaman yang terbangun saat membaca. Beda dengan ketika mengakses video, membaca itu seperti mengajak otak untuk ‘slow living’, lebih bersabar menelan huruf per huruf menjadi kata menguntai kalimat hingga akhirnya terkumpul bab demi bab karena semua mesti dieja oleh mata. 

    Supaya lebih mudah dimengerti, baiknya aku membawa pengalamanku sendiri.

    Dulu waktu akil balik sekira SMP kelas 2-an, fantasi seksual yang kudapat dari membaca cerita stensilan seperti Enny Arrow dan Nick Carter itu lebih gimanaa gitu ketimbang nonton video bokep! Membaca stensilan itu temponya pelan tapi tertata dan ketika meninggi, hmmm… ‘kerasnya’ tahan lama!

    Nonton bokep? Baru juga masukin kaset ke video player tapi nafsu sudah membubung, Bung!

    Lho tapi bukannya lebih asik yang langsung membubung, utamanya dalam konteks nafsu? Hmmm tergantung! Gak semua yang cepat naik itu konteksnya dapet dan ada makna sementara yang slow itu bisa jadi tertata karena berkonteks, bermakna!

    Tapi apapun itu, aku menghormati pilihanmu untuk tidak membaca. Meski saranku, selama bapakmu bukan presiden yang mau bagi-bagi bansos dan pamanmu bukan ketua MK yang tega membengkokkan aturan, ada baiknya mulai berinvestasi ilmu lewat buku!

    Tulisan ini adalah bagian dari kategori Rutin-rutin kecil yang berisi rangkaian tulisan terkait hal-hal kecil yang kujadikan sebagai rutinitas hidup.

  • Bermain Catur

    Bermain Catur

    Dalam tiga tahun terakhir, setiap harinya, aku bermain catur lebih sering dibanding makan dan buang air besar. 

    Pas lagi boker, catur.
    Pas nunggu makanan jadi, catur.

    Pas lagi naik kereta, catur.
    Pas istri atau anak-anak muter film yang aku gak suka, catur.

    Pas lagi nunggu antar-meeting, catur.
    Pas lagi di dalam meeting dan isinya bikin bosen, diam-diam buka telepon… lalu bermain catur lagi!

    Aku suka catur sejak SD.
    Yang memperkenalkan alm. Papa, dimatangkan oleh teman-teman sepermainan. Sekira kelas enam aku dikirim ikut lomba tingkat kabupaten, baru sekali main langsung keok. Sejak pindah ke Jogja, 1993, aku gak pernah menyentuh papan catur lagi karena jiwa remajaku menganggap hal itu membosankan dan lebih terpantik ke musik.

    Tapi sejak tiga tahun lalu, seperti kutulis di awal, aku bermain catur lagi sampai sekarang. Mungkin karena aku tak lagi remaja tapi yang lebih masuk akal karena aku bisa main secara online, tak harus kenalan dan bertemu dengan orang secara fisik untuk mengajaknya bermain.

    Aku bermain serius tapi kadang santai.
    Kalau pas fokus dan niat, setiap langkah bisa kupikir matang-matang. Tapi pernah dan sering pas niat tiba-tiba ada hal mendesak yang perlu kukerjakan ya kutinggalkan permainan begitu saja.  Atau yang paling sering pas menjelang tidur, karena susah ngantuk, buka papan catur, eh baru tiga langkah udah pules. Pas bangun dapet notifikasi bahwa aku kalah. Ya iyalah!

    Lalu apa yang aku cari dari rutinitas itu? Lebih dari sekadar hiburan!

    Yang pertama, hidup ini gak selamanya tentang kemenangan. Bermain catur adalah belajar melihat kekalahan sebagai satu hal yang lumrah asal kita mau bangkit untuk mencoba menang lagi.

    Hal seperti ini sebenarnya jamak kita pelajari di olahraga yang sifatnya kompetisi kayak badminton, tenis (i hear you, padel kan?!), sepakbola atau basket. Tapi aku malas dan gak mau capek! Makanya kupilih catur!

    Yang kedua, bermain catur itu melatih otak untuk terus bisa berpikir kritis.

    Umur menua, ketajaman otak pada akhirnya nanti akan menumpul tapi aku selalu ingat apa yang diwejangkan Papa dan Mama bahwa aku ini bukan anak orang kaya. “Anake wong prihatin!” kata mereka. Jadi, modal yang kupunya yang harus terus kupoles adalah apa yang ada dalam diriku: fisik, karakter yang dibentuk dari ethic and moral values serta ketajaman otak. 

    Melalui catur aku mengasah ketajaman otak: menganalisa apa yang sudah terjadi, menyadari persoalan yang sedang dihadapi dan merencanakan strategi berdasarkan kalkukasi yang sudah dan sedang terjadi untuk keluar dari persoalan.

    Jangan tanya akun catur chess.com ku apa… Kalian gak akan menemukan karena aku menggunakan nama samaran sekadar untuk lucu-lucuan :)

    Tulisan ini adalah bagian dari kategori Rutin-rutin kecil yang berisi rangkaian tulisan terkait hal-hal kecil yang kujadikan sebagai rutinitas hidup.

  • Berlatih Beban

    Berlatih Beban

    Selain taiso, sejak tahun lalu aku juga kembali rutin berlatih beban. Bukan! Bukan pengen jadi rambo, tapi lebih daripada itu.

    Adapun latihan beban sebenarnya bukan hal baru! 
    Aku memulainya sejak 1998! Sejak belum ada orang berselfie di gym, sejak belum ada henpon berkamera.

    Waktu itu badanku kurus kering! 
    Tinggi tubuh sudah 182cm tapi berat badanku tak pernah lebih dari 55kg. Bukannya kurang makan tapi ya entah… 

    Oleh seorang teman, aku lantas disarankan berlatih beban dan aku menuruti saran itu. Kucari informasi sebanyak mungkin tentang dimana gym terdekat, berapa ongkosnya dan lain sebagainya termasuk mencari jawaban atas mitos yang sering kudengar “Katanya kalau angkat beban, tititnya jadi kecil ya?”

    Setelah semakin teryakinkan bahwa tititku tidak akan mengecil hanya gara-gara berlatih beban dan ongkosnya bisa dijangkau meski perlu diperjuangkan, aku memulainya!

    Hasilnya menakjubkan! Gak pake lama badanku mengembang! Aku jadi semakin rutin berlatih beban. Mendatangi banyak gym mulai dari gym kelas tarkam nir-AC dan bau keringat hingga gym-gym besar nan mewah di Jogja. Pun setelah pindah ke Sydney, kebiasaan itu berlanjut bahkan pernah satu kali aku pindah pekerjaan hanya karena tawaran yang baru datang dari perusahaan yang punya fasilitas gym dan membebaskan pegawai untuk memakainya secara cuma-cuma!

    Rutin itu lalu terhenti atas nama pandemi pada 2020 yang lalu!

    Dua tahun kemudian, ketika pandemi meringan dan berpikir untuk kembali nge-gym… eh gantian krisis ekonomi yang hadir tanpa permisi! Ongkos hidup makin naik sementara penghasilan tidak. Daripada bayar iuran bulanan lebih baik duitnya dipakai buat keperluan yang lain. Aku memutuskan berhenti berlatih beban dan fokus pada cardio saja; jalan kaki, bersepeda dan melanjutkan intermittent fasting yang sudah kulakukan sejak sebelum pandemik.

    Tiga tahun membiarkan otot-ototku kendor sampai berpikir kayaknya kalau aku pake bra ukuran 32A atau B masuk deh! Tapi sejak pertengahan tahun lalu aku memutuskan untuk kembali berlatih beban.

    Alasannya?
    Gara-gara nonton podcastnya Ade Rai. Ada satu pernyataannya yang sangat mengena. Dia bilang bahwa latihan beban untuk orang tua itu perlu karena aktivitas fisik membutuhkan otot! Aku lantas berkaca, bener juga! Aku mungkin belum terlalu tua tapi tentang kaitan penggunaan otot dan aktivitas itu ada benarnya! Pantesan selama ini kalau mengangkat sepeda lipatku dari platform ke kereta yang berjarak hanya sekian meter saja sudah ngos-ngosan dan rasanya berat sekali. 

    Mulai mencari lagi referensi gym, dimana yang terdekat dan berapa ongkosnya.

    Ongkosnya ternyata tak mahal bahkan kantor tempatku bekerja memberikan potongan bagi yang mau join ke salah satu franchise gym ternama. Tapi aku tak memilih opsi itu. Pertimbanganku masih sama; daripada bayar sekian dollar, meski mungkin bakal disetujui oleh istri, lebih baik kalau uang itu dipakai untuk keperluan yang lain!

    Karena kebetulan gak harus kerja dari kantor, aku memutuskan untuk membeli alat gym sendiri dan kupakai berlatih di halaman belakang rumah.

    Cari yang murah tentu saja! 
    Sepasang dumbells bekas kudapat dengan harga miring di online marketplace. Kubeli dari seorang bapak muda yang dalam iklannya tertulis, “Masih gres! Gak kepake karena repot setelah anak pertamaku lahir!”

    Kubeli juga sebuah bench (kursi panjang gym) lagi-lagi dari online marketplace dengan harga yang juga miring. Dari seorang ibu setengah baya yang dalam iklannya bilang “Udah gak kepake lagi karena waktu itu beli pas covid dan sekarang suamiku harus balik ke kantor!”

    Total ongkos yang kukeluarkan untuk membeli alat-alat itu kira-kira sama mahalnya dengan ongkos satu setengah bulan berlangganan gym. Murah banget kan? Meski secara kualitas tentu beda dengan yang ada di gym ya ada harga ada rupa! Gak masalah yang penting bisa dipakai. Dipakai berlatih… dipakai untuk bikin selfie lalu dipasang di social media!

    Sekarang aku berlatih beban hampir setiap hari. 
    Fokusku hanya pada otot-otot inti saja seperti dada, bahu lengan, perut dan kaki. Kulakukan selama 30 menitan di halaman belakang sambil menunggu kedua anjingku, Trudy dan Tilly, boker atau sambil menunggu panggilan online meeting pekerjaan berikutnya.

    Gak ada lagi target untuk jadi Rambo.
    Peduli setan dengan badan kekar atau otot yang kencang menantang!

    Aku punya target yang lebih besar daripada itu. Inginku, kalau diberi umur panjang, aku ingin tetap bisa mandiri selama mungkin dalam beraktivitas menggunakan otot tubuh tanpa melibatkan banyak bantuan dari orang lain…

    Itu saja!

    Tulisan ini adalah bagian dari kategori Rutin-rutin kecil yang berisi rangkaian tulisan terkait hal-hal kecil yang kujadikan sebagai rutinitas hidup.

  • Taiso

    Taiso

    Waktu pertama kali pindah ke Sydney dari Indonesia tahun 2008, setiap pagi aku berjalan kaki dari rumah ke halte bus untuk berangkat kerja.  Dalam perjalanan sekira 10 menit lamanya itu, aku melewati sebuah taman rumput terbuka yang tak terlampau besar. Biasanya, pada saat aku melewati taman itu, ada seorang kakek kurus beruban. Seorang berdarah asia timur yang umurnya kutaksir sekitar 75 tahunan.

    Ia mengenakan celana training olahraga dan kaos oblong. Dengan wajah serius menatap awang-awang, si bapak itu melakukan senam dengan gerakan-gerakan ringan. Meski seorang diri sejatinya Ia ‘tak sendirian’. Sebuah alunan musik tradisional yang dilantangkan keras-keras melalui speaker telepon genggam yang ada di saku celana menemaninya.

    Aku mengamati semua itu dari sudut mata dengan alis mengernyit sinis, “Konyol banget ini orang! Senam? Di taman? Sendirian? Dengan musik keras-keras?”

    Ketika itu rasanya bakal masih jauh bagiku untuk seperti dia. Secara umur pun sekarang juga… Tapi sejak membaca buku Ikigai, awal tahun lalu, aku jadi termotivasi untuk melakukan senam ringan ala orang Jepang yang mungkin beda dengan si bapak yang dulu kulihat, tapi sepertinya selaras. Taiso namanya.

    Senamnya super sederhana.
    Hanya gerakan-gerakan dasar memutar lengan, bahu, kepala, punggung pokoknya berpusat pada mengolah bagian-bagian inti (core) tubuh kita. Senam itu mengingatkanku pada Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) yang dulu waktu SD dan SMP di Indonesia adalah senam wajib untuk para murid dan guru pada setiap Jumat pagi sebelum masuk kelas. Entah kenapa SKJ kemudian ditiadakan. Mungkin alasan kebijakan atau yang lain? Kalau ada yang tahu tolong informasikan kepadaku ya!

    Padahal, dari yang kubaca di Ikigai, senam seperti ini jadi salah satu faktor penentu yang konon mempengaruhi usia panjang banyak orang Jepang.

    Aku lantas mencari referensi via Youtube dan menemukan ada banyak versi taiso. Ada yang sederhana, ada yang dibikin lebih kompleks digabung dengan ini dan itulah. Ada yang super pendek, ada yang sampai 20 menit!

    Aku memilih yang tidak terlalu sederhana tapi tidak kompleks.
    Tidak terlalu panjang tapi juga tidak pendek.

    Dan yang pasti.. yang views-nya banyak karena pikirku semakin banyak viewsnya berarti semakin banyak yang mempraktekkan!

    Lalu sejak saat itu, setiap pagi akhirnya jadi rutin.
    Karena aku kebanyakan work from home, bangun tidur langsung membawa kedua anjingku, Trudy dan Tilly, keluar ke taman belakang untuk buang air.

    Sambil menunggu, aku berdoa sebentar di depan patung Bunda Maria lalu latihan beban menggunakan dumbells (ini kuceritakan di tulisan berikutnya ya…) dan kuakhiri dengan membuka mobile phone, memutar video taiso di Youtube lalu meletakkan mobile phone itu di sandaran meja untuk kujadikan referensi gerakan. Oh kurang satu hal, volume speaker kubuka sekeras-kerasnya supaya aku bisa mendengar dan mengikuti aba-aba dari instruktur dalam video itu ”Ich, ni, san, shi,  go…”

    Kadang… kadang waktu aku sedang bertaiso tiba-tiba bersitan bayangan yang terjadi delapan belas tahun lalu muncul di benak. Bapak-bapak asia, bersenam di taman rumput terbuka dengan alunan musik lantang-lantang!

    Damn! 
    Dulu aku mencibir dia dan sekarang…”Look at you, Donny!”

    Aku memang baru empat puluh delapan tahun tapi bapak-bapak yang dulu kulihat di taman dan sering kucibir itu kini adalah aku! Atau setidaknya, aku memulai semuanya jauh lebih dini supaya bisa punya umur sepanjang atau bahkan lebih panjang dari bapak itu…  

    Semua kuikhtiarkan dengan taiso dan beberapa rutin kecil lainnya sejak tahun lalu!

    Tulisan ini adalah bagian dari kategori Rutin-rutin kecil yang berisi rangkaian tulisan terkait hal-hal kecil yang kujadikan sebagai rutinitas hidup.