Kategori: Musik

  • Kiranya (Protonema)

    Kiranya (Protonema)

    Setelah hampir tiga puluh tahun sesudahnya, aku baru sadar bahwa Kiranya, single keren milik Protonema yang dirilis di sekitar tahun 1995-1996 itu punya kemiripan dengan Aku Milikmu-nya Dewa19 yang rilis kurang lebih dua tahun sebelumnya.

    Tentu aku tidak hendak bilang bahwa Protonema menjiplak Dewa19 karena kalau demikian lalu dengan istilah apa aku harus membahasakan Bimbim Jangan Menangis-nya Slank dengan Fool to Cry-nya Rolling Stones atau Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki-nya Sheila on 7 dengan Father and Son-nya Cat Stevens kan?

    Aku lebih menganggap Kiranya dan Aku Milikmu sebagai kesenyawaan karya yang sama dan itu sangat lumrah terjadi mengingat Protonema dan Dewa19 memulai daur hidup di masa yang berkelindan satu dengan yang lainnya.

    Perhatikan intronya.
    Bandingkan pola permainan gitar Micko (gitaris/vokalis Protonema) dengan Andra Ramadhan (gitaris Dewa19), bass line Erwin Prasetya (bassist Dewa19) dengan Lusman (bassist Protonema). Lalu ketika masuk ke verse, part bass Lusman pun seirama dengan bass line Erwin Prasetya.

    Serta bagian interlude, utamanya beberapa bar awal, pola besutan gitar Micko mirip dengan Andra dan lagi-lagi bass Lusman juga memainkan part yang tak melulu main di chord doang seperti yang dimainkan Erwin Prasetya di Aku Milikmu.

    Di luar itu semua, Kiranya adalah satu dari sekian banyak lagu-lagu Indonesia yang kuyakin bisa dijadikan konsensus; titik temu bagi orang-orang yang sepakat pada ide bahwa hidup di Indonesia di era90an adalah hal yang sangat menyenangkan jika tidak boleh dibilang sebagai yang terbaik!

    Aku jatuh cinta pada Kiranya sejak ia pertama kali muncul di Geronimo FM di pagi hari saat sedang mengantri mandi di asrama ketika hendak berangkat ke sekolah di Jogja dulu.

    Kupikir waktu drum dimainkan pada bagian intro, “Oh ini TOTO!” batinku.

    Tapi kok TOTO sepagi ini?
    Apa Geronimo nggak punya lagu yang lebih bersemangat? Tapi ternyata memang bukan Toto meski secara intro juga outro, permainan drum Didiet Nugraha sekilas mirip dengan I Will Remember-nya Toto yang waktu itu juga lagi jaya-jayanya.

    Kalau pada kenyataannya Protonema memiliki karakter yang mirip dengan Toto pun sejatinya tidak mengherankan.

    Band asal Bandung yang giat main dari kafe ke kafe itu menaruh Micko sebagai vokalis sekaligus gitaris, mirip dengan Toto dan Steve Lukather-nya kan… bahkan gempal-gempalnya pun mirip keduanya!

    Selain intro drum yang menawan, kekuatan Kiranya ada pada reff yang sangat menempel di kepala…

    “Kiranya,
    kiranya rindu semakin dalam…
    Kiranya,
    kiranya rindu semakin ada”

    Lagu bernada dasar C ini kemudian sangat diterima semua kalangan karena mudah dicerna, tidak ada kenjlimetan sama sekali dan beat-nya pun sedang-sedang mengasyikkan.

    Ingat Kiranya aku jadi ingat sebuah momen waktu SMA.
    Aku duduk di bangku kelas 3 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan berkawan dengan banyak adik kelas termasuk Shakti yang kemudian kalian kenal sebagai mantan anggota Sheila on 7 itu.

    Waktu itu Sheila belum terbentuk meski Shakti sudah sering bercerita kepadaku bahwa ia kerap nongkrong bareng Eross dan Roma yang waktu itu sudah dikenal sebagai gitaris Dizzy Band.

    Suatu ketika, Protonema mengadakan konser di Jogja. Aku dan Shakti janjian untuk nonton bareng. Dia menawari menjemput dan mengantarku pulang ke asrama. Maka jadilah sore itu aku diboncengkan Shakti menggunakan Yamaha Force 1 nya.

    Dari kawasan Papringan, kami berangkat cukup pagi menuju ke GOR Among Rogo di Kridosono supaya bisa dapat tempat yang paling depan dan harapan itupun terjadi. Tapi yang kami lupa, meski bintang utamanya adalah Protonema, tapi band pembukanya adalah Deathvomit, salah satu dedengkot musik metal di Jogja waktu itu.

    Jadi ketika GOR memenuh, kami tersadar bahwa di belakang kami adalah fans berat mereka, berpakaian hitam-hitam, rambut gondrong yang jelas bukan fans protonema.

    Ketika Deathvomit naik panggung, orang-orang di belakang kami mulai berputar-putar dan moshing, aku dan Shakti pun bingung mau ngapain.

    Mau pindah takut tempatnya diambil orang lain, mau ikutan moshing, duh kami ini gak ada tampang meski rambut kami juga gondrong memanjang!

    Di konser itu, Protonema membawakan Kiranya sampai dua kali. Agak aneh memang tapi mungkin karena waktu itu Kiranya adalah satu-satunya lagu yang dikenal khalayak dan mereka belum merilis single keren lainnya, Rinduku Adinda.

    Ada momen lucu. Karena saking dekatnya dengan panggung, aku sempat meminta topi yang dikenakan Micko. “Mas, bagi topinya buat saya…”

    Micko yang seingatku menggunakan gitar Ibanez merah itu lantas membungkuk dan bilang, “Lha kan kamu udah pake topi…” Waktu itu aku memang mengenakan topi warna biru langit bertuliskan “Reebok Pump”

    Sekian tahun kemudian waktu Sheila on 7 bekerja sama dengan kantor tempatku bekerja untuk sebuah konser, ada pertemuan antaraku dengan Shakti.

    Waktu itu Sheila on 7 datang komplit dan aku diminta untuk mewawancarai. Papa Ton (Anton Kurniawan – manager), Anton Widiastanto (drummer), Adam (bassist), Eross (gitaris) dan si vokalis pun datang.

    Ketika bertemu muka dengan Shakti, kata pertama yang kami ucapkan hampir bersamaan adalah “Protonema!” Momen itu menjadi ice breaker yang dahsyat mengingat satu dan lain hal yang tak bisa kuceritakan keadaan waktu itu sebenarnya cukup awkward buatku :)

    Aku nggak tahu dan nggak yakin apakah Shakti masih sanggup mengingat semua kejadian ini tapi bagiku itu tidaklah penting.

    Yang terpenting adalah, Kiranya berhasil merangkum begitu banyak kenangan indah di tahun 90an dan masih tersimpan rapi di dalam ingatanku hingga kini ketika bumi sudah memutari matahari lebih dari tiga puluh kali sejak masa itu…

    Mari berdoa bagi kedamaian jiwa Micko dan Didiet Nugraha yang sudah berpulang.

  • Memori Baik, Sebuah Review

    Memori Baik, Sebuah Review

    Memori Baik, single terbaru Sheila on 7 yang rilis beberapa minggu lalu itu menurutku memang benar-benar single yang baik.

    Secara tema, aku melihatnya sebagai “sambungan” dari lagu Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang mereka rilis dua puluh empat tahun silam.

    Kalau kalian masih ingat penggalan lirik Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan,

    Bersenang-senanglah
    Karna hari ini yang kan kita rindukan
    Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan

    Maka “hari ini” yang ditunjuk di lirik tersebut mengacu pada kata “di saat muda” di penggalan lirik Memori Baik di bawah ini:

    Album foto berdebu,
    memori membawaku kembali di saat muda pula bodoh,
    indah penuh cerita

    Secara lagu, Memori Baik itu Sheila on 7 banget!

    Pilihan diksi yang ditulis itu ya Eross banget. Aku gak bisa menjelaskan dengan huruf dan kata untuk kalian . Tapi penggalan-penggalan seperti:

    “Kami di sini kirim rindu yang sama”
    “Seperti bintang tertutup awan”
    “Jadi cahaya jalan di depan”

    Itu Eross!

    Secara musik, lagu ini membawa karakter yang sama yang dimainkan Sheila sejak era 507 (2006) atau kalau mau yang lebih pas lagi ya sejak Menentukan Arah (2008).

    Sound bass Adam ya tetap kayak gitu, mambu Billy Sheehan. Sound gitar dan pilihan notasi Eross ya kayak Eross sejak dulu meski konon kudengar kali ini dia bener-bener direct ke Fractal! Ini harus dirayakan karena Eross bertobat! :)

    Sementara drum-nya agak sulit untukkku membedakan ini yang main Bounty atau jangan-jangan masih si Brian karena karakternya sama hahahaha ? ;)

    Satu-satunya pembeda, dan ini baik, adalah munculnya Aishameglio (Aisha) yang menjadi backing vocal bapaknya. Menyanyikan lirik dan notasi yang sama tapi beda oktaf selalu menjadikan lagu jadi lebih berdinamika. Hal ini membuatku teringat pada Kau Curi Lagi -nya J-Rock duet dengan Prisa yang juga pernah jadi mantan pemain gitar tamu Sheila on 7 era 2006 setelah Shakti hengkang.

    Kehadiran Memori Baik ini memberi kesan yang sangat baik untukku. Aku sukses terlempar masa lalu, masa di mana Sheila on 7 muncul, masa yang letaknya sudah sekitar dua puluh enam tahun yang lalu.

    Bukan! Bukan lantas karena aku tak mensyukuri dan menganggap hidup masa kini lebih tidak enak dibandingkan masa lalu.

    Tapi ibaratnya, Memori Baik ini seperti aku yang di Australia dan terbiasa makan burger, steak, pizza dan aneka makanan internasional lainnya tiba-tiba Sheila on 7 hadir membawakan semangkuk soto gajih (lemak) lengkap dengan kuah panas dan sesendok sambel di atasnya. Makanan yang dulu kukudap setiap pagi dengan penuh peluh dan keringat di warung emperan kota yang menghadirkan seribu cerita, Yogyakarta!

    Nuwun Dabs!

  • Untuk Adikku, Chitra

    Untuk Adikku, Chitra

    Lagu UNTUK ADIKKU, CHITRA kupublikasikan di hari ulang tahun ke-39 adikku, Chitra Verdiana, hari ini, 6 Mei 2024.

    Dalam tingkatan makna, lagu ini kuletakkan lebih dari sekadar gula-gula hubungan kakak-adik supaya aku dibilang romantis, supaya aku dibilang kakak yang baik dan ‘supaya-supaya’ lainnya. Ada yang lebih penting daripada itu. Tentang sebuah pengakuan. Tentang sebuah realisasi yang kudapatkan setelah sekian lama…

    Pengakuan bahwa memang ada perbedaan mendasar antara aku dengan Chitra. Perbedaan yang tidak diciptakan tapi muncul karena sudut pandang banyak orang ketika melihat kami berdua… Perbedaan yang muncul dalam kesimpulan yang kira-kira kalau dalam percakapan berwujud, “Ih, Chitra kok beda banget ya dari kakaknya?”

    Pengakuan bahwa perbedaan-perbedaan itu ternyata berimbas, bukan dalam hubungan antar-kami tapi antara kami dengan diri kami sendiri. Tentang “Aku lebih baik dari adikku” yang muncul dalam congkaknya diriku dan mungkin “Kenapa aku tidak lebih baik dari kakakku” yang muncul dalam mindernya adikku.

    Lagu ini kuciptakan beberapa jam sesudah aku dan Chitra terlibat pembicaraan mendalam di akhir Maret 2024 lalu. Sesuatu yang awalnya tak direncanakan tapi kami seperti terjebak dalam kata-kata yang kami tukarkan dan membuat kami harus mengkonstruksikan pelan-pelan semuanya hingga tercipta sebuah bangunan yang mengisyaratkan perbedaan itu juga bagaimana selama ini kami memandangnya…

    Larik demi larik yang kutorehkan dalam lagu ini seperti kelanjutan dari percakapan malam itu yang sepertinya jika harus kukatakan di depan Chitra tak kan bisa kusampaikan tanpa harus menghadirkan air mata di antaranya. Nah, daripada harus menangis lebih baik kusenandungkan, kulagukan, kunyanyikan dan kupublikasikan.

    Mungkin kalian berpikir, “Duh senangnya jadi adiknya Donny, dibuatin lagu!” Tapi yang sebenarnya terjadi justru aku yang merasa bersyukur karena diberi kesempatan, diberi gagasan serta kemampuan untuk menuntaskan semua ini dalam wujud yang bisa didengarkan dan dilihat!

    Semoga lagu ini jadi pengingat tak hanya untukku dan Chitra tapi juga kalian dengan saudara-saudari kalian. Bahwa tidak ada dua makhluk yang sama meski lahir dari rahim yang satu. Karena bahkan molekul air hujan yang ditumpahkan langit yang sama pun beda-beda bentuknya. Bahkan Gibran pun beda kan dibanding Kahiyang apalagi Kaesang?

    Selamat ulang tahun Chitra Verdiana!

    Meski tidak pernah terucap tapi harusnya melalui lagu ini kamu tahu betapa aku sangat menyayangimu sebagai adik sekaligus menyadari perbedaan dan menghargai luka-lukamu sebagai adikku, sebagai saudara kandungku satu-satunya.

    Dunia boleh berubah, tapi yang ditakdirkan untuk berada di rahim ibu itu ya aku dan kamu.

    Kamu adikku, aku ini.. masmu!

    UNTUK ADIKKU, CHITRA
    Ciptaan: Donny Verdian
    Vokal/Gitar/MIDI: Donny Verdian
    Mixing & mastering: Donny Verdian

    Lirik:
    Di antara bermilyar yang ingin tumbuh
    Di rahim ibu kita
    Hanya kamu dan aku
    Di antara banyak yang memanggilmu adik
    Memanggilku kakak
    Ya kamu adikku
    Cuma aku ini masmu

    Banyak yang bilang kita tidak sama
    Tapi molekul air pun beda-beda
    Banyak yang bilang aku cemerlang dan engkau buram
    Aku menganggapnya aku ini siang dan kamu malam

    Kita ini dua perahu berbeda yang mengalir
    Di sungai yang sama ya tetap berbeda
    Kita ini warna aku merah dan kamu lembayungnya
    Yang menghias lukisan di ruang makan rumah kita

    Banyak yang bilang kita tidak sama
    Tapi molekul air pun beda-beda
    Banyak yang bilang aku cemerlang dan engkau buram
    Aku menganggapnya aku ini siang dan kamu malam

    Banyak yang bilang kita ini beda
    Tapi Gibran dan kedua adiknya pun tidak sama
    Banyak yang bilang aku cemerlang dan engkau buram
    Aku menganggapnya aku ini siang dan kamu malamnya
    Aku menganggapnya aku ini gula dan kamu garamnya
    Aku menganggapnya aku ini rusa dan kamu kijangnya
    Ya gitu aja…

    UNTUK ADIKKU, CHITRA bisa dinikmati di Apple Music, Spotify dan semua platform musik digital lainnya sekarang juga.

  • Senjana – Tiket Band

    Senjana – Tiket Band

    Senjana adalah single terbaru yang dirilis Tiket Band tahun 2023 lalu. Setelah membuka come back dengan beberapa remake single lama sejak 2022, Senjana dihadirkan band yang kini beranggotakan Aqi Singgih, Opet Alatas, Arden Wibowo dan Brian Kresna Putro.

    Secara genre agak mengejutkan dan keterkejutan ini menurutku asik karena begitu berbeda dari rilisan-rilisan sebelumnya.

    Senjana masih mengusung musik ala 90an dan awal 2000an. Jenis-jenisnya bisa kita temui mirip dengan lagu-lagu di era itu, sebut saja Sebelum Kau Terlelap (Dewa 19) dan Berhenti Berharap (Sheila on 7). Sebuah ballad dibungkus alunan string di sekujur menit ditingkahi gitar, bass serta drum dan perkusi serba minim, seperlunya supaya Sang Vokalis, Aqi, bisa nyaman bercerita menyampaikan lirik dan nuansa kepada pemiarsa.

    Yang kusaluti adalah Brian. Kawan yang dalam karya ini menunjukkan kedewasaannya dalam bermusik. Semua orang tahu siapa Brian? Mantan drummer band besar Sheila on 7 tapi di lagu ini, ia hanya main seperlunya meski kuyakin dalam proses kreatif, dia pasti banyak terlibat.

    Ngomong-ngomong tentang hal ini, aku jadi ingat lagu Maafkan-nya Dwipa yang sempat ngetop pertengahan 90an dulu. Dwipa adalah band asal Surabaya yang bisa dibilang ‘menjual’ nama besar Wawan, eks drummer Dewa19 di album pertama dulu. Tapi uniknya, Maafkan justru hadir tanpa permainan Wawan sama sekali!

    Semoga Senjana yang konon berarti pesona dan karisma itu jadi penanda baik bagi karya Tiket selanjutnya.

    Makin laris dan segera terbit video klipnya sehingga jadi oase di tengah begitu banyak konten politik yang membosankan di tahun ini…

  • Bertemu Kembali, pertemuan dua sahabat beda alam dibantu teknologi

    Bertemu Kembali, pertemuan dua sahabat beda alam dibantu teknologi

    Melly Goeslaw dan Nike Ardilla

    Salah satu terobosan musik yang menurutku paling menarik di tahun 2023 lalu adalah terjadinya duet Nike Ardilla dan Melly Goeslaw dalam single Bertemu Kembali rilisan Musica Studio.

    Kenapa?

    Dua Sahabat, Beda Alam

    Nike Ardilla dan Melly Goeslaw sudah saling bersahabat saat keduanya masih tinggal di Bandung, Jawa Barat. Seperti yang kita tahu bersama, Nike Ardilla adalah lady rocker legendaris yang meninggal dunia di puncak karirnya, 19 Maret 1995. Sementara nama Melly Goeslaw melejit beberapa tahun sesudahnya melalui Potret, duet dengan suaminya Anto Hoed dan keterlibatan tangan dinginnya dalam banyak karya yang melegenda.

    Nah, seperti yang terjadi pada The Beatles yang tahun lalu juga merilis karya Now and Then meski dua dari empat personilnya, John Lennon dan George Harisson sudah meninggal dunia, Melly dan Nike pun merilis karya baru! Oh ya, lagu= ini jadi hadiah ulang tahun dari Melly Goeslaw untuk Nike Ardilla. Jika masih hidup, per 27 Desember 2023 kemarin, Nike Ardilla harusnya berusia 48 tahun.

    Dua lagu jadi satu

    Yang lebih menarik lagi, lagu Bertemu Kembali adalah penggabungan dua lagu jadi satu. Bagian yang dinyanyikan Nike Ardilla adalah lagu Duka Pasti Berlalu karya Dadang S. Manaf  lalu diramu dengan lagu baru milik Melly Goeslaw, jadilah satu lagu baru yang secara melodi sangat nyambung dengan imbuhan pilihan nada yang khas Melly banget! 

    Oh ya, buat yang belum tahu saja, Dadang S. Manaf adalah kakak pertama musisi Ahmad Dhani Prasetyo yang dulu bernama Dhani Manaf.

    Ide penggabungan dua lagu jadi satu ini menarik karena suara Nike Ardilla benar-benar diambil dari master rekamannya dulu ketika menyanyikan Duka Pasti Berlalu. Hal ini berbeda dengan lagu yang pernah dirilis untuk mengenang sosok seorang penyanyi besar Indonesia yang juga sudah almarhum. Waktu itu, suaranya memang benar-benar digenerate dari suara almarhum pada lagu-lagu yang pernah diproduksi, diubah jadi potongan kata dan suku kata lalu digabungkan menjadi lagu. Tapi hasil akhirnya masih tetap tidak terlalu alami. Kentara betul intervensi teknologi yang terlalu dominan. 

    Menggunakan teknologi seperlunya

    Hal yang menurutku tak kalah menariknya adalah bagaimana karya Bertemu Kembali ini dipresentasikan dalam video klip. Sudah barang tentu, karena Nike Ardilla sudah tiada, keputusan untuk memanfaatkan artificial intelegent (AI) adalah pilihan tepat. Bisa saja sih kalau produser menggunakan clip-clip lawas Nike Ardilla tapi bisa dibayangkan gap hasil shoot dari kamera era 1990-an dengan kamera sekarang? Bumi dan langit banget pasti hasilnya!

    Maka, wajah Nike pun digenerate menggunakan AI. Aku mengintepretasikan hal ini sebagai sebuah showcase bahwa teknologi itu baik untuk dilibatkan dalam sebuah karya meski tak harus terlalu dominan, seperlunya. Ai bisa diselaraskan dengan karya, bukan sebaliknya karya yang mengagung-agungkan teknologi tanpa jiwa.

    ***

    By the way, kalian sudah menyimak lagu ini? 

    Coba deh! Bagiku penggalan lirik  paling menarik adalah ini:

    Perpisahan ini tak selamanya
    Pasti kita bertemu kembali

    Well done, Musica Studios dan Melly Goeslaw. Doa terbaik bagi ketenangan arwah Nike Ardilla di alam baka.

  • Tentang Festival Jazz ber-skena-kan Dangdut itu…

    Tentang Festival Jazz ber-skena-kan Dangdut itu…

    Hmmm, dari mana mulainya? OK, gini deh…
    Kalau kamu pergi ke pertunjukan musik dangdut, adakah kamu berani bertaruh bahwa yang akan muncul di atas panggung adalah Burgerkill atau Edane? Kalau Achmad Albar masih mungkin karena vokalis GodBless itu pernah membawakan lagu dangdut Zakia. Tapi Burgerkill dan Edane rasanya tidak karena mereka adalah grup band cadas!

    Tapi kalau kamu pergi ke festival jazz, kemungkinan untuk nonton Dewa19, Slank, KLa Project bahkan Denny Caknan cukup besar! Kok bisa? Entah! Aku juga bingung karena sebagaimana aku mengharapkan Soneta dan Rhoma Irama di gelaran musik dangdut, bagiku nonton festival jazz ya akan dapetin setidaknya Indra Lesmana dan Krakatau lah! I know! I hear you! Kamu barangkali bakalan ngomong

    “Musik kan universal jangan dikotak-kotakkan!”
    “Yang penting tiketnya laku!”
    “Tau apa sih loe tentang musik, Anjirrr?”

    Yuk kita kupas satu per satu!

    “Musik kan universal jangan dikotak-kotakkan!”

    I got a short answer for that, “Woy, yang ngotak-kotakin musik itu ya justru yang bikin festival! Kalau udah tahu yang diundang bukan musisi jazz kenapa pake kotak jazz, Justo?!”

    Lagipula, apa salahnya mengkotak-kotakkan musik sesuai ragamnya? Pengklasifikasian itu tidak haram kok! Manusia aja dikotak-kotakkan sesuai agama dan kalian gak protes, kan?

    Aku malah bersyukur dengan pengklasifikasian musik karena hal itu membantuku mendapatkan musik yang kumau ketika aku browsing Apple Music ataupun Spotify misalnya!

    Ketika aku ngeklik kategori Heavy Metal yang kudapat ya band metal, ketika aku klik kategori Jazz yang nongol ya ragam musik jazz… hmm apa mungkin karena Spotify dan Apple Music itu nama app bukan festival jazz ya?

    “Yang penting tiketnya laku!”

    Tiket laku itu target realistis karena bagaimanapun pertunjukan adalah bisnis dan bisnis itu perkara cuan! Tapi menjebak penonton dengan memberikan sajian selain jazz dalam sebuah festival jazz adalah sebuah pelaksanaan bisnis yang tidak mengindahkan kaidah etis-tidak etis!

    Tapi kan penonton gak protes?
    Ya karena gak semua penonton sepintar dan seberani dan se-gabut gue! Kalau panitia mau tiket laku, undang aja Dewa19 karena meski lagu Kangen dibawaian sejuta kali, sejuta kali itu pula stadion akan penuh terisi.

    Dan ketika nonton Dewa19, ekspektasi orang sudah jelas! Kalau nggak dengerin Kangen, Separuh Nafas, Pupus atau Kirana karena itu lagu-lagu mereka! Gak mungkin kan kamu nonton Dewa lalu tiba-tiba Ahmad Dhani maju ke depan pake gitar akustik nyanyi

    “Aku mau mendampingi dirimu..
    aku mau cintai kekuranganmu!”

    Karena itu lagu Once hehehe… Eh tapi kayaknya kamu mulai bisa berekspektasi bahwa Dewa akan bawain lagu-lagu Queen juga sih…. hahaha!

    “Tau apa loe tentang musik, Anjir!”

    Nah justru itu! Karena aku gak tau tentang musik, ketika aku datang ke festival musik, secara tidak langsung aku juga mengharapkan supaya pengetahuanku terhadap khasanah musik bertambah!

    Bayangkan kalau orang sepertiku, yang menurutmu gak tahu banyak tentang musik, datang ke festival bersalutkan jazz. Lalu aku disuguhi pertunjukan yang bukan dari jalur jazz, tau kan apa yang terjadi? Aku akan menganggap semua yang tampil sebagai… musisi jazz!

    Lalu bayangkan kalau kemudian aku pacaran dengan anak seorang musisi trus pas di tanya musik kesukaan, aku akan menjawab, “Wah, saya suka jazz, Om!”

    Lalu Si Om bertanya,
    “Wow keren! Apa referensi jazz-mu?”

    Dan aku, yang nggak tahu musik hanya berbekal pengetahuan musik dari festival jazz yang kudatangi dengan sok pede menjawab,

    “Banyak, Om! Kadang saya dengerin Dewa19, Slank, KLa Project atau kalau pas menikmati senja bersama kawan-kawan skena ya saya dengerin Denny Caknan supaya vibe-nya kerasa, Om!”

    Si Om Bengong….

  • Diskon Natal

    Diskon Natal

    Tidak akan ada Hari Raya Natal kalau tidak ada kelahiran orang Nazareth di Betlehem dua ribu tahun silam, Yesus Kristus.

    Tapi pertanyaannya sekarang, masih adakah Yesus Kristus di hati ketika kita merayakan Hari Raya Natal? Ketika orang lebih sibuk mempersiapkan Natal dengan baju serta sepatu baru, tentang sinterklas dan hiasan Natal, atau tentang “Besok masak apa ya?” hingga “Duh! Aku lom punya pacar untuk dikenalkan ke orang tua saat Natalan nih!” Adakah Yesus tetap di sana atau sekonyong-konyong Ia tergantikan oleh itu semua?

    Aku tergelitik oleh premis-premis di atas dan semua ketergelitikan itu kutuangkan dalam karya lagu yang kurilis 12 Desember 2022 silam, Diskon Natal.

    Baju spatu baruku adalah doa-doanya
    Sinterklas dan hiasan Natalku adalah keringat letih di wajahnya…

    Banyak kawan mengernyitkan dahi terkait judul itu.

    “Itu lagu Natal? Dangdut?”
    “Aneh bener judulnya! Gak ada syahdu-syahdunya!”

    Nah! Justru itu!
    Justru karena aku bosan dengan lagu-lagu syahdu ketika orang bicara Natal kenapa kita tidak bikin sesuatu yang berbeda?

    Apalagi, jika syahdu itu identik dengan hening dan tenang, dalam bayanganku ketika Yesus lahir di kandang domba, Ia lahir dalam ketergesaan langkah kedua orang tuanya yang harus mudik karena sensus yang diadakan wajib oleh Kaisar Agustus padahal Maria sedang hamil besar-besarnya.

    Diskon Natal mewakili kegelisahan!

    Ide ini berasal ketika ada seorang dekat yang curhat lewat sambungan telepon bulan lalu, “Aku ki bingung udah mau Natalan. Duit kepake buat butuh, gaji masih dipotong karena pandemi trus anak-anak pengen liburan? Mau dibayar pake apa?”

    Bagiku ini menarik!
    Dia tidak gelisah terhadap persiapan hati menjelang Natal. Dia tidak curhat karena tidak bisa ikut Sakramen Tobat; sesuatu yang dianjurkan setiap menjelang Natal sebagai seorang Katolik. Dia gelisah karena takut tidak bisa memberikan apa-apa untuk dikenakan anaknya saat Natal nanti!

    Mungkin kita bisa bilang, “Tuhan melihat hati bukan melihat baju!”

    Iya! Tapi tak semudah itu juga! Kegelisahan yang sifatnya manusiawi seperti baju secara alamiah muncul karena kita masih hidup di dunia dan itu tak bisa dihindari, kan?

    Lagu Diskon Natal kuhadirkan dalam balutan nostalgia terhadap kedua almarhum orang tuaku.

    Tapi ada yang perlu kuluruskan di sini. Sesederhana dan seapa-adanya hidup mereka waktu itu, sebetulnya mereka tetap bisa membelikan baju dan sepatu baru bagiku dan adikku setiap Hari Natal.

    Aku ‘melibatkan’ kedua orang tuaku hanya supaya aku sebagai pencipta dan penyanyi bisa mendapatkan mood mellow karena pada dasarnya setiap aku ingat Papa dan Mamaku aku akan selalu mellow!

    Dari sudut pandang produksi, Diskon Natal lebih istimewa dibanding lagu-laguku sebelumnya karena aku mengerjakannya seorang diri. Mulai dari proses penciptaan notasi, lirik, bernyanyi, memainkan alat musik gitar, perkusi dan string lewat MIDI Controller hingga mixing dan mastering, publishing, pembuatan video klip dan press release, semua kukerjakan sendiri.

    Aku ingin mandiri dalam mengerjakan dan rasanya makin sungkan untuk meminta tolong kawan-kawan di Indonesia yang sering kutodong tanpa biaya dan sekadar kuucapi terima kasih saja. 

    Selamat mempersiapkan Natal!

    Kalian bisa menikmati Diskon Natal di semua digital music platform terkemuka. Untuk yang versi gratis, kalian bisa mendapatkannya di sini:

  • Semua akan dangdut (koplo) pada waktunya….

    Semua akan dangdut (koplo) pada waktunya….

    Salah satu fitur yang kusuka dari Apple Music adalah munculnya rekap akhir tahun terkait jumlah serta lagu-lagu apa saja yang paling sering kudengarkan sepanjang tahun. Hasil tahun-tahun lalu biasanya bisa kutebak tapi tahun ini membuatku sendiri cukup terkejut!

    Ada empat lagu yang dibawakan Denny Caknan menempati posisi teratas sebagai lagu yang paling sering kudengar sepanjang 2022. Sugeng Ndalu (tertulis sebagai Sugeng Dalu) , Kartonyono Medhot Janji (tertulis sebagai Kartonyono Medot Janji), Aja Dibandhingke (tertulis sebagai Ojo Di bandingke) dan Sampek Tuwek. Di posisi kelima adalah laguku sendiri, Aku di dalam-Mu.

    Oh ya, Aja Dibandhingke adalah lagu milik Abah Lala, seniman musik asli Boyolali. Ada beberapa versi lagu ini selain dari yang dinyanyikan bersama Denny Caknan, termasuk yang dinyanyikan Farel Prayoga yang lantas jadi viral karena penampilannya di Istana Merdeka. 

    Yang mengejutkanku adalah kenapa ada empat… ya, empat lagu Denny Caknan ada di lima besar lagu yang kudengarkan?

    Kenapa bukan U2? Kenapa bukan Dewa19 atau Pink Floyd, Queen atau.. The Beatles yang beberapa tahun belakangan ini selalu masuk dalam lagu-lagu yang paling sering kudengar?

    Kenapa dangdut koplo? Berbahasa Jawa pula?! Dimana gengsi dan harga diri kau letakkan, Donny?

    Hahahaha!
    Harga diri kuletakkan tak jauh dari rasa rindu. Rindu yang menyeruak terhadap tanah dan air tempat kuberasal, Jawa.

    Jadi barangkali karena aku sedang kangen-kangennya pada Tanah Jawa maka aku memutar lagu-lagu itu. Dan sebenarnya bukan cuma lagu milik Denny saja yang kudengar tapi juga ada Ndarboy Genk, lagu-lagu milik Abah Lala yang lain, Lala Widy, Ilux dan sesekali masih mendengarkan lagu-lagu klasiknya Lord Didi Kempot.

    Perilakuku ini semakin terkonfirmasi mengingat bahkan di Youtube, aku banyak menonton video-video wisata kuliner dari kota-kota yang pernah kutinggali seperti Jogja, Klaten dan Kebumen.

    Aku memang sedang tidak bisa pulang ke Tanah Air sejak Desember 2018. 

    Keuangan lagi mepet barena fokus kuarahkan untuk memberesi rumah yang baru kubeli awal tahun ini. Belum lagi kenaikan suku bunga bank yang membuat harga kebutuhan pokok dan tagihan rumah benar-benar mencekik leher. 

    Nah, daripada harus beli tiket pesawat yang ribuan dollar mahalnya mending bayar membership Apple Music yang nggak sampai 20 dollar per bulan, toh yang namanya rindu meski tak bisa terobati tapi bisa dibiasakan :)

    Kembali ke chart lagu yang paling sering kudengar, kenapa ada laguku juga di situ?

    Well, Aku di DalamMu adalah salah satu lagu yang proses pembuatannya terjadi ketika aku sedang dilanda kegoyahan mental tahun 2021 lalu.

    Mendengarkan laguku itu selalu memberiku peneguhan bahwa jangankan sekarang, tahun lalu ketika aku sedang hancur-leburnya, penyertaan Tuhan selalu ada!

    Kalau kalian mau ikut dengerin, Aku di Dalam-Mu sudah ada di semua digital music platform terkemuka. Kalau mau yang gratisan juga ada di Youtube.

  • Suluh Accoustic (harusnya acoustic)

    Suluh Accoustic (harusnya acoustic)

    Seperti kutulis sebelumnya, enam bulan setelah merilis Suluh, aku merilis ulang lagu tersebut tepat di hari Natal 2020. Untuk membedakan dengan versi aslinya, kali itu aku mengusung konsep akustik. Makanya judulnya pun kuimbuhi kata accoustic menjadi Suluh Accoustic. Sialnya, beberapa saat setelah mempublikasikan, aku tersadar telah melakukan kesalahan besar. Harusnya acoustic bukan accoustic! LoL. Ya udah deh nggak papa! Namanya juga karya suka-suka, asal nggak melanggar hukum ya biarkan saja, kata Slank!

    Alasan melakukan rilis ulang lagu Suluh itu ada dua.

    Pertama, aku nggak puas sama sekali dengan mixing dan mastering versi aslinya. 

    Kedua, tema dan konteks Suluh sayangnya masih applicable hingga Natal 2020 silam!. Suluh kubikin untuk menceritakan keadaan dunia yang mengalami pandemik COVID-19 dan bagaimana kita sebaiknya bersikap. Sayangnya, hingga Natal 2020 bahkan hingga tulisan ini kurawi, dunia ya masih diselimuti pandemik.

    suluh accoustic

    Suluh Accoustic: bukan ide awal

    Oh ya, ada cerita lain tentang Suluh Accoustic ini.

    Jadi hingga sepuluh hari sebelum rilis, aku sebenarnya tak pernah berpikir untuk remake Suluh hahaha! Ide awalnya, di hari ulang tahun ke-43, 20 Desember 2020, aku sebenarnya akan merilis sebuah mini album berisi empat lagu dan semua sudah kusiapkan sejak Agustus 2020.

    Ketika demo sudah kubikin, eh aku baru sadar bahwa tabungan rupiahku nggak cukup untuk membiayai proyek tersebut hahahaha! 

    Dana yang waktu itu kuproyeksikan untuk diperlukan adalah sekitar 6 juta rupiah untuk mengongkosi arrangement, mixing dan mastering. Bisa aja sih aku mentransfer uang dari Australia uang sebanyak itu tapi ini bukan satu kebijakan yang baik karena sudah melibatkan dana operasional sehari-hari di sini. Toh  bermusik bagiku hanya untuk suka-suka, aku tak mau terlalu memaksa. Sebagai gantinya, aku menggarap Suluh Accoustic ini! 

    Musik yang terlalu sepi

    Ide awal Suluh Accoustic sangat sederhana. Aku bernyanyi sambil main ukulele dalam sekali take. Kebetulan waktu itu aku baru saja membeli ukulele dan pickup baru hahaha…

    Setelah selesai take, aku berpikir untuk mencoba mixing dan mastering sendiri. Tapi hasilnya ternyata terlalu sepi, aku merasa seperti ada sesuatu yang perlu diiumbuhkan. 

    Aku lantas mengirimkan file hasil mixing ke Bowo untuk tanya pendapatnya. Alih-alih memberi pendapat, Bowo malah mengulurkan tangan untuk membantu secara cuma-cuma!

    Ia lantas memberi imbuhan string tipis-tipis, bass di beberapa section serta ornamen-ornamen kecil lainnya. Ia juga bernyanyi sebagai backing vokal.

    Oh ya ada dua hal yang menarik di sini. Simak bagian akhir lagu. Suara lonceng gereja yang diimbuhkan kusengaja sebagai penanda bahwa meski tidak ada referensi “Natal” dalam lirik, tapi setidaknya ketika mendengar suara lonceng Gereja, para pendengar tahu bahwa ini lagu yang dirilis pada sebuah Hari Natal.

    Tambahan bisikan/whispering “Merry Christmas, Happy New Year” bukanlah ide orisinal. Aku terinspirasi pada bisikan yang dilakukan John Lennon dan Yoko Ono di lagu Happy XMas (War is Over).

    Ide spontan

    suluh accoustic

    Salah satu proses yang sangat kunikmati saat merilis Suluh Accoustic adalah pengerjaan cover dan video klip karena keduanya muncul secara spontan.

    Waktu itu, menjelang Natal, seperti tahun-tahun sebelumnya, Joyce (istriku) membeli beberapa barang untuk kado Natal kawan-kawan dan sahabat dekat di Sydney. Nah, salah satu yang dibeli adalah tempat lilin indah seperti yang kalian lihat di cover lagu.

    Karena barang itu hendak diberikan ke orang lain, daripada pakai lilin yang bikin kotor, aku menggunakan bohlam kecil yang kumasukkan ke dalamnya. Ruangan kugelapkan, ISO kamera kunaikkan lalu kujepret menggunakan timer. Hasilnya seperti yang bisa kalian lihat. Not bad lah hahaha.

    Pohon Natal dan video clip Suluh Accoustic

    Beda lagi dengan video klipnya.

    Hingga malam Natal, aku nggak punya ide mau gimana padahal aku udah pasang pengumuman di social media bahwa lagu ini akan kurilis keesokan paginya!

    Sempat nyerah dan mikir, ya udah deh pakai teks aja lalu dimainin pake ornamen dikit-dikit biar nggak norak! Tapi menjelang tengah malam, saat Joyce menyiapkan kado Natal untuk anak-anak di bawah pohon Natal mungil, ide itu terpantik!

    Oh ya! Kenapa nggak pake pohon Natal?

    Aku lantas pinjam Pohon Natal dan gak sampai 15 menit kemudian jadilah video klip yang bisa kalian lihat.

    Aku sangat suka dengan pendaran cahaya lampu yang menerpa wajahku. Salah satu kawan bahkan berkomentar video klipku sangat 80an sekali, padahal gak kukonsep seperti itu hahaha!

    Oh ya, di bagian lirik, aku menghilangkan dua baris terakhir di outro/coda. Tidak ada maksud apa-apa selain karena dua baris itu membuat lirik terlalu padat.

    Lirik

    Di tengah malam 
    tak berbintang kutengadah
    Mengharap seri wajah rembulan
    Di langit nan muram

    Namun tak kunjung
    kutemukan cerianya
    Pucat pasi dalam gulita
    surutkan harapanku

    Reff:
    Hidup, hidupkanlah pelitamu
    Tak perlu ragu menunggu
    Suluh, suluhkanlah s’kitarmu
    Menjadi terang dalam kegelapan

    Tak perlu sampai kau menunggu
    pagi menjelang
    Jadilah pagi, jadilah siang 
    di tengah malam gulitamu

    Interlude.

    Back to Reff

    Ada cahaya nan abadi di hatimu
    Dia menguatkan dan mendayakan 
    cinta di sekujur hidupmu…

    Suluh bisa kalian simak di: Spotify, Apple Music, Amazon Music, Deezer, Youtube Music

    Liputan Media

  • Suluh

    Suluh

    SULUH menjadi penanda bahwa akhirnya aku berani merilis karya lagu secara profesional. Bagus-enggaknya? Urusan belakangan hahaha…

    Di awal lockdown Pandemik Covid-19

    Ceritanya dimulai pada April 2020, waktu pandemik sedang masuk fase awal dan seantero Australia di-lockdown.

    Secara ekonomi sebenarnya aku tak terpengaruh karena pekerjaan tetap ada meski harus bekerja dari rumah. Tapi secara mental aku tergoncang lebih pada pikiran Sampai kapan ini akan terjadi? Akan seperti apa wajah dunia ketika pandemik usai?

    Hal ini berlangsung beberapa lama hingga akhirnya terpantik sebuah ide, apa yang bisa dilakukan selain hanya mengeluh dan mengeluh sepertiku?

    Lalu aku teringat pepatah lama, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk gelap” dan hal itu jadi ide awal lirik lagu SULUH.

    Suluh, sebuah awalan

    Ide notasi lagunya sendiri sudah muncul sejak sebelum Pandemik dan seperti biasa, setiap menemukan ide notasi seperti itu aku selalu merekamnya di aplikasi Voice Memo. Baru setelah punya ide lirik aku membuka library dan mencari kira-kira lirik itu cocok dinyanyikan dengan notasi yang mana.

    Lagu Suluh ini kukerjakan semuanya serba sendirian dari bulan Mei hingga akhir Juni 2020 silam. Dari sisi produksi, aku mempersiapkan semuanya sendiri: aransemen, vokal, mixing hingga mastering. Seingatku aku sampai mengulang lebih dari 27 kali untuk akhirnya berani merilis pada 23 Juni 2020.

    Oh ya, tak hanya produksi, bahkan cover hingga klip berisi lirik lagu semua kukerjakan sendiri. Gambar lilin kulukis menggunakan cat aclyric di atas kertas.

    Jika mendengar lagi lagu tersebut, kualitas mixing dan mastering benar-benar kacau hahahah! Tapi aku pernah malu bahkan tak berniat untuk menghapus dari portfolio karyaku. Kuanggap Suluh sebagai awalan dan bukankah tak jarang awalan itu memang jauh dari sempurna?

    Suluh, ditolak karena dianggap belum dimixing dan dimastering

    Oh ya ada cerita lucu tentang Suluh.

    Waktu itu aku nekad mengirim demo lagu ke beberapa radio. Ada lagu yang menerima ada pula yang menolak. Salah satu penolakan yang kuterima adalah karena menurut mereka laguku belum di-mixing dan di-mastering! Padahal kalau saja dia tahu effort-ku untuk mengerjakannya hahaha….

    Enam bulan setelah rilis, aku melakukan remake atas Suluh ke dalam versi akustik dan kumasukkan ke dalam nuansa Natal dan Tahun Baru yang sayangnya juga masih ada di dalam pandemik yang berkepanjangan…

    Lirik:

    Di tengah malam 
    tak berbintang kutengadah
    Mengharap seri wajah rembulan
    Di langit nan muram

    Namun tak kunjung
    kutemukan cerianya
    Pucat pasi dalam gulita
    surutkan harapanku

    Reff:
    Hidup, hidupkanlah pelitamu
    Tak perlu ragu menunggu
    Suluh, suluhkanlah s’kitarmu
    Menjadi terang dalam kegelapan

    Tak perlu sampai kau menunggu
    pagi menjelang
    Jadilah pagi, jadilah siang 
    di tengah malam gulitamu

    Interlude.
    Back to Reff

    Ada cahaya nan abadi di hatimu
    Dia menguatkan dan mendayakan 
    cinta di sekujur hidupmu
    Bagikanlah cinta itu 
    bagi sekelilingmu

    Suluh bisa kalian simak di: Spotify, Apple Music, Itunes, Google Play, Amazon, Deezer

    Liputan Media:

  • Nelangsa di Petang, rilisan lagu terbaru

    Nelangsa di Petang, rilisan lagu terbaru

    Tanggal 6 Februari 2021 silam lagu Nelangsa di Petang dirilis melalui platform Youtube. Bukannya kebetulan, aku ikut berkontribusi di sana. Barangkali kalian kaget, sejak kapan aku main musik?

    Berkah Pandemik

    Begini.
    Salah satu ‘berkah pandemik’ yang kuterima sejak tahun lalu adalah keberanianku untuk mempublikasikan lagu-lagu karya sendiri. Nggak tanggung-tanggung, aku mempublikasikannya mulai dari grup-grup WA, Youtube, Instagram dan… gerai distribusi musik digital profesional terkemuka.

    Aku memang bukan barusan membuat karya musik dan bukan orang yang tidak pernah bernyanyi maupun main gitar di depan khalayak. Hanya saja aku tidak menampilkannya di sini karena tak ingin berebut ruang dengan hobiku yang lain yang kalian kenal sejak 19 tahun yang lalu, ngeblog.

    Tentang detail bagaimana aku berproses termasuk lagu-lagu apa saja yang sudah kutelurkan, nanti baiknya kubikinkan tulisan sendiri. Hari ini aku ingin membagikan lagu terbaru yang barusan dirilis 6 Februari 2021 yang lalu berjudul Nelangsa di Petang.

    Nelangsa di Petang

    Nelangsa di Petang

    Nelangsa di Petang ini bukan laguku. Adalah Ignasius Bowo Sarjito, adik kelasku di SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang menciptakan lagu ini. Pria yang akrab kusapa sebagai Bowo ini nggak terlalu asing bagiku. Meski kami belum pernah bertemu muka, ia di Jambi dan aku di Sydney, tapi dalam beberapa tahun terakhir kami saling melibatkan diri dalam karya-karya sebelumnya. 

    Suatu malam di pertengahan Januari 2021 silam ia mengirimiku demo lagunya beserta lirik. Begitu kuputer langsung suka. Prosesnya begitu lancar sesudahnya. Beberapa hari kemudian Bowo mengirim guide berupa rangkaian musik dasar tanpa vokal untuk kujadikan pedoman dalam take vocal. Nggak sampai satu jam aku take vocal lagu ini, file lantas kukirimkan ke Bowo untuk diproses secara digital.

    Lagu ini bagiku tidak memiliki tantangan yang berarti. Bukan karena kehebatanku tapi kepiawaian Bowo dalam memilah mana bagian yang pantas dan bagus untuk kunyanyikan dan mana yang layak untuk Adel dan mana yang untuk dia.

    Suaraku pada dasarnya sangat mellow, tidak tegas, tidak tinggi dan jauh dari unsur rock. Keputusan Bowo untuk menaruhku di bridge 1, verse 2 dan bridge 2 adalah keputusan terbaik. Didukung oleh hadirnya Adel yang berkarakter tegas meski tidak melengking, ia seolah jadi jembatan antara aku dengan Bowo.

    Nelangsa di Petang, slow rock 90an

    Mengenai lagunya, Nelangsa di Petang ini slow rock 90an banget. Kalau kalian pernah akrab dengan lagu-lagu karya Voodoo, Sahara, UCamp, Sket, Powerslave dan Stinky, lagu ini gak jauh-jauh amat coraknya. Bisa dimaklumi karena selain diciptakan anak 90an, lagu ini konon sudah dibikin Bowo sejak 2002-2003!

    Sisi lirik menurutku yang paling seru untuk dibahas. Kalau anak-anak milenial berkomentar barangkali lirik Nelangsa di Petang ini belibet banget! Sepanjang reff, maksud lagu hanya ingin menyampaikan bahwa ada seorang yang kangen dengan pacarnya di sebuah sore. Tapi yang lantas dilukis sebagai sebuah rangkaian syair adalah sebagai berikut:

    Berarakan … yang buat senja ini lebih bermakna
    Udara dingin mengusir kuduk gerah
    Nelangsa atma kurung segala rasa
    Isyaratkan makna rindu kekasih tercinta

    Tapi ya itulah sensasi musik 90an. Era dimana karya musik dihargai bukan perklik, bukan per lagu bukan sebanyak apa jumlah view. Era dimana karya musik dihargai dari jerih payah sang pencipta dan pembawa karya dalam besaran album per albumnya.

    Oh ya, kehadiran Alvon, sahabatku waktu sama-sama studi di SMA Kolese De Britto Yogyakarta di bagian biola membuat lagu ini punya nilai tambah lagi. Selain itu sekalian reuni karena Alvon yang kini adalah seorang musisi dan produser profesional di Jogja dulu adalah kawan main musik satu band dulu.

    Selamat menikmati!

    Liputan media terkait Nelangsa di Petang bisa diakses di sini.

  • Cerita di balik ?SULUH?

    Cerita di balik ?SULUH?

    Kemarin adalah hari yang cukup bersejarah bagiku.? Untuk pertama kalinya, aku merilis single laguku, SULUH, ke kanal-kanal musik digital berbayar.

    Tak lama sesudah aku mendapat kabar dari label/agregator, hal pertama yang kulakukan lantas mengabarkan kepada banyak rekan tentang berita menggembirakan tersebut. Di antara komentar yang kuterima, banyak yang nadanya begini, ?Kok tiba-tiba rekaman? Kok tiba-tiba jadi musisi???

    Kok tiba-tiba jadi musisi?

    Dan jawabanku adalah, ?Kenapa tidak??

    Rekaman adalah obsesi lamaku, Bos!?
    Waktu masih suka nge-band saat SMA dan kuliah (serta awal-awal kerja) di Jogja dulu, rekaman ke Jakarta adalah cita-cita. Mungkin karena terlalu banyak membaca kisah sejarah band di Majalah HAI pada era 90-an, aku waktu itu kerap membayangkan diri ini dan kawan-kawan se-band naik kereta diundang major label di Jakarta untuk rekaman, rilis album, jadi artis, punya banyak fans, terkenal :)

    Sebagian dari hal itu barangkali tetap akan jadi mimpi. Tapi teknologi, dengan kemajuan dan kemudahannya serta mudahnya membangun relasi lewat social media, bayangan rekaman dan merilis rekaman itu ke publik jadi sangat mudah untuk dilakukan. Bahkan band pun tak perlu ada karena semua bisa dikerjakan secara mandiri, tidak dengan alat musik asli melainkan dengan bantuan teknologi bernama musical instrument digital interface alias MIDI.

    Hakikat karya dan berkarya

    Tapi bagaimana kalau hasilnya jelek?
    Salah seorang kawanku semalam juga sudah bilang begitu :) Tapi aku menjawab pertanyaan itu menggunakan pernyataan kawanku lainnya, ?Sing penting wani! (Yang penting berani -jw)!?

    Baik-buruk tak melulu jadi takaran dalam berkarya. Keberanian untuk men-ceprot-kan karyalah yang mutlak harus dimiliki orang yang bergerak dalam dunia kreatif.

    Sebagai blogger yang ngeblog sejak 2002 (media dan publik kerap menyapaku sebagai superblogger Indonesia) aku sudah paham betul tentang prinsip ini. Aku menulis hampir setiap hari dan setiap hari aku sebelum memencet tombol rilis, pertanyaan besar yang keluar adalah, ?Berani??

    Isi ‘SULUH’

    Carik kertas konsep lagu SULUH

    SULUH sendiri sebenarnya adalah laguku yang kesekian yang sudah kurilis keluar. Beberapa sebelumnya adalah Raja Singa (lagu tentang Aksi Kamisan) dan Saat Kunanti Pulang yang kupersembahkan untuk almh. Mama. Juga dua lagu religi, Bapa Kami dan Salam Maria (kukerjakan bersama Ari Wulu, seniman Jogja).

    Ide musik SULUH terlontar secara spontan beberapa bulan yang lalu. Main gitar, memainkan chord-chord dasar dengan ketukan 3/4 lalu muncullah melodi bagian reff menyusul baitnya.

    Ide kemudian kurekam dengan handphone dan sempat kudiamkan cukup lama sebagai referensi dan arsip saja. Hingga akhirnya ketika Pandemik COVID-19 melanda, aku terpikir untuk membuat lagu, kubuka kembali referensi-referensi dan yang cocok untuk menyuarakan pesan ya irama yang kini bisa kalian dengarkan sebagai SULUH itu.

    Secara isi, SULUH menyuarakan bagaimana sejatinya kita bersikap dalam masa ini. 

    Pandemik kuibaratkan sebagai satu masa yang gelap nan menyesakkan. Sesak karena hidup tiba-tiba berubah kepada satu keadaan yang lebih morat-marit, ekonomi tiarap, pekerjaan dan uang banyak hilang, ketahanan pangan jadi momok nan menakutkan. Ketiadaan vaksinasi dan obat yang benar-benar manjur untuk mengusir COVID-19 membuat kita tak tahu kapan semua ini akan berakhir? Ibarat malam, kita tak tahu kapan pagi menjelang!

    Lantas apa yang bisa kita lakukan?

    Mengutuk kegelapan?
    Sudah biasa dan terlampau banyak!

    Mendiamkan keadaan?
    Lantas ngapain?

    Melawan gelap, pendarkan pelita!

    Melawan adalah satu-satunya jawaban! Ya lawan! Melawan kegelapan meski dengan pelita-pelita kita. Pendarnya menyuluhkan sekitar, membuat orang lain ikutan berani menyalakan pelitanya masing-masing sehingga terciptalah terang yang lebih besar dan makin besar lagi!

    Aku percaya bahwa masing-masing dari kita memiliki pelita itu. Pelita itu adalah kasih. Kasih yang hidup di dalam diri, kasih yang memampukan kita hidup maka kenapa tak kita bagikan kepada sesama supaya mereka pun jadi lebih hidup?!

    Di masa yang gelap ini, aku melihat pendar pelita tampak dari paramedis yang bertugas di banyak fasilitas kesehatan di dunia. Mereka manusia biasa seperti kita tapi mereka berani untuk merelakan tak hanya waktu tapi juga kenyamanan dan hidup mereka sendiri. 

    Aku juga melihat pendar pelita tampak dari para relawan yang mau-maunya mengorbankan diri untuk mengurus penguburan jenasah dengan standard tertentu yang telah ditentukan pemerintah. Tak mudah, tak menyenangkan tapi ketika hal itu adalah menjadi jalan untuk menyuluhkan terang bagi sekitar, mereka melakukannya!

    Aku juga melihat pendar pelita dari orang-orang yang menggalakkan bekerja dan beraktivitas dari rumah saja dan mereka yang meski keluar dari rumah tapi tetap memperhatikan betul rambu-rambu kesehatan yang telah ditentukan pemerintah.

    Lagu ini kupersembahkan bagi mereka dan kita semua!

    Proses produksi

    Proses produksi SULUH mulai dari recording, tracking, mixing hingga mastering kubikin dengan sangat sederhana kalau tak mau kukatakan seadanya. Vokal kurekam beberapa kali pada menjelang tengah malam dengan lampu ruangan benar-benar kupadamkan. Hal ini kulakukan supaya aku bisa mendapat nuansa ketika aku bernyanyi, ?Di tengah malam tak berbintang??

    Hampir semua instrumen kupercayakan pada MIDI kecuali gitar baik iringan, petikan maupun melodi. Bass sempat kuambil dengan instrumen asli tapi karena tak terlalu sreg dengan hasilnya, track itu lantas kuhapus begitu saja :)

    Secara khusus aku menggunakan Abbey Road plugin set untuk mixing dan mastering. Plugin set itu kupilih karena aku suka nuansa vintage dan ?roomy? yang bisa kalian temukan di SULUH. Beberapa kawan menganggap hasil rekaman tidak bersih dan penuh noise? Hmm, tapi itu memang kusengaja adanya hahaha?

    Aku butuh waktu hampir satu bulan dengan 27 versi yang kubuat karena merasa tak pernah puas dengan hasil akhir. Jadi kalau kamu anggap hasil rekaman ini tidak terlalu bagus, percayalah itu adalah yang terbaik dari 26 lainnya hahaha!

    Setelah jadi, aku lantas mencari tahu bagaimana cara mendaftarkan lagu ke kanal-kanal musik tersebut. Setelah mendaftar, aku segera membuat cover art yang lagi-lagi kubuat sendiri. Kulukis malam hari menggunakan cat acrylic di atas kertas gambar milik anakku.?

    Ada yang bertanya kenapa gambarnya lilin dan bukan senthir/teplok yang lebih cocok ke pelita dan suluh? Aku menjawab, ?Susah ngegambarnya! Ini aja yang gampang hahaha??

    Emang laku?

    Maka sampailah pada pertanyaan, ?Apa yakin laku??

    Hahaha… Menjawab pertanyaan itu, kubalas dengan bertanya, apa sih yang membuat khawatir ketika lagu ini tak laku?

    Ide lagu kudapat secara cuma-cuma. Proses produksi kulakukan dengan sukarela dan penuh rasa gembira. Apa yang perlu dibayar balik supaya mampu mengganti perasaan-perasaan itu?

    Dari sisi perhitungan uang, laku atau nggak laku, dapatnya juga dikit, Bos!

    Bayangin aja,  setiap kali kalian putar laguku, aku hanya mendapat 0.006 dollar. Jadi kalau ada 1000 orang memutar, aku baru dapat enam dollar. Hal itu setara dengan harga secangkir kopi pagiku ahahaha?

    Tapi kalau ada yang putar sampai sejuta kali? Yaelah! Jangankan sejuta, seratus juga aku udah hepi Bro!

    Jadi ya begitulah! 

    Kalau kalian tertarik, silakan mendownload/streaming di sini:

    Spotify: https://open.spotify.com/album/7m5wBkkbeBvfi5yhQnEooz

    Apple Music: https://music.apple.com/us/album/suluh-single/1519673202?uo=4&app=music&at=1001lry3&ct=dashboard

    iTunes: https://music.apple.com/us/album/suluh-single/1519673202?uo=4&app=itunes&at=1001lry3&ct=dashboard

    GooglePlay/Youtube: https://play.google.com/store/music/album/Donny_Verdian_Suluh?id=B2ajvuishrdkkxci3fvgqhqp2xu

    Amazon: http://www.amazon.com/gp/product/B08BKTL426/?tag=distrokid06-20

    Deezer: https://www.deezer.com/album/156051952

    IHeartRadio: https://www.iheart.com/artist/id-34658082/albums/id-105073940

    Atau kalau ingin mengakses yang ?gratisan? bisa juga membuka video di bawah ini:

    Mari menjadi pelita bagi sesama!

    Sydney,
    di hari pesta kelahiran Santo Yohanes Pembaptis, 24 Juni 2020.

    DV, Superblogger Indonesia