
Setelah hampir tiga puluh tahun sesudahnya, aku baru sadar bahwa Kiranya, single keren milik Protonema yang dirilis di sekitar tahun 1995-1996 itu punya kemiripan dengan Aku Milikmu-nya Dewa19 yang rilis kurang lebih dua tahun sebelumnya.
Tentu aku tidak hendak bilang bahwa Protonema menjiplak Dewa19 karena kalau demikian lalu dengan istilah apa aku harus membahasakan Bimbim Jangan Menangis-nya Slank dengan Fool to Cry-nya Rolling Stones atau Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki-nya Sheila on 7 dengan Father and Son-nya Cat Stevens kan?
Aku lebih menganggap Kiranya dan Aku Milikmu sebagai kesenyawaan karya yang sama dan itu sangat lumrah terjadi mengingat Protonema dan Dewa19 memulai daur hidup di masa yang berkelindan satu dengan yang lainnya.
Perhatikan intronya.
Bandingkan pola permainan gitar Micko (gitaris/vokalis Protonema) dengan Andra Ramadhan (gitaris Dewa19), bass line Erwin Prasetya (bassist Dewa19) dengan Lusman (bassist Protonema). Lalu ketika masuk ke verse, part bass Lusman pun seirama dengan bass line Erwin Prasetya.
Serta bagian interlude, utamanya beberapa bar awal, pola besutan gitar Micko mirip dengan Andra dan lagi-lagi bass Lusman juga memainkan part yang tak melulu main di chord doang seperti yang dimainkan Erwin Prasetya di Aku Milikmu.
Di luar itu semua, Kiranya adalah satu dari sekian banyak lagu-lagu Indonesia yang kuyakin bisa dijadikan konsensus; titik temu bagi orang-orang yang sepakat pada ide bahwa hidup di Indonesia di era90an adalah hal yang sangat menyenangkan jika tidak boleh dibilang sebagai yang terbaik!
Aku jatuh cinta pada Kiranya sejak ia pertama kali muncul di Geronimo FM di pagi hari saat sedang mengantri mandi di asrama ketika hendak berangkat ke sekolah di Jogja dulu.
Kupikir waktu drum dimainkan pada bagian intro, “Oh ini TOTO!” batinku.
Tapi kok TOTO sepagi ini?
Apa Geronimo nggak punya lagu yang lebih bersemangat? Tapi ternyata memang bukan Toto meski secara intro juga outro, permainan drum Didiet Nugraha sekilas mirip dengan I Will Remember-nya Toto yang waktu itu juga lagi jaya-jayanya.
Kalau pada kenyataannya Protonema memiliki karakter yang mirip dengan Toto pun sejatinya tidak mengherankan.
Band asal Bandung yang giat main dari kafe ke kafe itu menaruh Micko sebagai vokalis sekaligus gitaris, mirip dengan Toto dan Steve Lukather-nya kan… bahkan gempal-gempalnya pun mirip keduanya!
Selain intro drum yang menawan, kekuatan Kiranya ada pada reff yang sangat menempel di kepala…
“Kiranya,
kiranya rindu semakin dalam…
Kiranya,
kiranya rindu semakin ada”
Lagu bernada dasar C ini kemudian sangat diterima semua kalangan karena mudah dicerna, tidak ada kenjlimetan sama sekali dan beat-nya pun sedang-sedang mengasyikkan.
Ingat Kiranya aku jadi ingat sebuah momen waktu SMA.
Aku duduk di bangku kelas 3 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan berkawan dengan banyak adik kelas termasuk Shakti yang kemudian kalian kenal sebagai mantan anggota Sheila on 7 itu.
Waktu itu Sheila belum terbentuk meski Shakti sudah sering bercerita kepadaku bahwa ia kerap nongkrong bareng Eross dan Roma yang waktu itu sudah dikenal sebagai gitaris Dizzy Band.
Suatu ketika, Protonema mengadakan konser di Jogja. Aku dan Shakti janjian untuk nonton bareng. Dia menawari menjemput dan mengantarku pulang ke asrama. Maka jadilah sore itu aku diboncengkan Shakti menggunakan Yamaha Force 1 nya.
Dari kawasan Papringan, kami berangkat cukup pagi menuju ke GOR Among Rogo di Kridosono supaya bisa dapat tempat yang paling depan dan harapan itupun terjadi. Tapi yang kami lupa, meski bintang utamanya adalah Protonema, tapi band pembukanya adalah Deathvomit, salah satu dedengkot musik metal di Jogja waktu itu.
Jadi ketika GOR memenuh, kami tersadar bahwa di belakang kami adalah fans berat mereka, berpakaian hitam-hitam, rambut gondrong yang jelas bukan fans protonema.
Ketika Deathvomit naik panggung, orang-orang di belakang kami mulai berputar-putar dan moshing, aku dan Shakti pun bingung mau ngapain.
Mau pindah takut tempatnya diambil orang lain, mau ikutan moshing, duh kami ini gak ada tampang meski rambut kami juga gondrong memanjang!
Di konser itu, Protonema membawakan Kiranya sampai dua kali. Agak aneh memang tapi mungkin karena waktu itu Kiranya adalah satu-satunya lagu yang dikenal khalayak dan mereka belum merilis single keren lainnya, Rinduku Adinda.
Ada momen lucu. Karena saking dekatnya dengan panggung, aku sempat meminta topi yang dikenakan Micko. “Mas, bagi topinya buat saya…”
Micko yang seingatku menggunakan gitar Ibanez merah itu lantas membungkuk dan bilang, “Lha kan kamu udah pake topi…” Waktu itu aku memang mengenakan topi warna biru langit bertuliskan “Reebok Pump”
Sekian tahun kemudian waktu Sheila on 7 bekerja sama dengan kantor tempatku bekerja untuk sebuah konser, ada pertemuan antaraku dengan Shakti.
Waktu itu Sheila on 7 datang komplit dan aku diminta untuk mewawancarai. Papa Ton (Anton Kurniawan – manager), Anton Widiastanto (drummer), Adam (bassist), Eross (gitaris) dan si vokalis pun datang.
Ketika bertemu muka dengan Shakti, kata pertama yang kami ucapkan hampir bersamaan adalah “Protonema!” Momen itu menjadi ice breaker yang dahsyat mengingat satu dan lain hal yang tak bisa kuceritakan keadaan waktu itu sebenarnya cukup awkward buatku :)
Aku nggak tahu dan nggak yakin apakah Shakti masih sanggup mengingat semua kejadian ini tapi bagiku itu tidaklah penting.
Yang terpenting adalah, Kiranya berhasil merangkum begitu banyak kenangan indah di tahun 90an dan masih tersimpan rapi di dalam ingatanku hingga kini ketika bumi sudah memutari matahari lebih dari tiga puluh kali sejak masa itu…
Mari berdoa bagi kedamaian jiwa Micko dan Didiet Nugraha yang sudah berpulang.













