Kategori: Vakansi canberra 2011

  • Vakansi ke Canberra: Ja…Jjja… Jakarta! (8) – TAMAT

    Vakansi ke Canberra: Ja…Jjja… Jakarta! (8) – TAMAT

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Ketika kami keluar dari Questacon, matahari telah menjingga di sisi barat sementara waktu telah menunjuk pukul 05:00 pm.
    “Waktunya untuk pulang!” gumamku seraya mengenakan coat dan topi fedora sambil berjalan bersama-sama kawan menuju mobil. Tak tunggu lama lagi, setelah masuk ke mobil, melajulah kami ke jalanan arah Sydney setelah sebelumnya mampir dulu ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Perlahan aku melewati Parliament House, jalan-jalan yang selama dua hari kemarin sering kulewati, apartemen yang kemarin kusewa… hmmm… liburan harus berakhir demi jalannya hidup yang harus mengalur di jalur yang tepat.

    “…perjalanan pulang dari liburan sungguh tak pernah semenyenangkan perjalanan keberangkatannya, kan?”

    Dan, demi apapun itu, perjalanan pulang dari liburan sungguh tak pernah semenyenangkan perjalanan keberangkatannya, kan?
    Oleh karenanya, kami berempat, Aku, istriku, Wijaya dan Irna lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Hanya, Odilia, anakku yang berusia setahun lebih itu yang banyak meningkahi keadaan dengan ‘berbicara’ dan bertingkah dari atas kursi, dan ini kadang menimbulkan gelak tawa.
    Aku lalu larut dalam lamunan. Betapa pengalaman liburan ke Canberra dua hari terakhir ini sangat berarti tak hanya relaksasi dari rutinitas harian, namun juga adanya wacana baru yang tercipta di benak tentang seperti apakah seharusnya ibu kota negara itu dikonsep dan diimplementasikan. Canberra seperti yang sudah kutulis dalam rangkaian tulisan ini adalah sebuah kota ‘buatan’ nan kecil jika dibandingkan kebesaran nama Australia sendiri. Ia tak memuat konsep kota industri, tak pula hadir dalam wajah gemerlap hedonis yang memuliakan dunia serta jauh dari konsep kota wisata (meski aku dan kawan-kawan memaksakan diri berpendapat bahwa “Ya, kami tengah berwisata ke Canberra!”). Canberra memposisikan diri sebagai kota pusat pemerintahan, maka seluruh penduduk yang tinggal di situ sebagian besar bekerja untuk mendukung pemerintahan dan sarana-sarana penyokongnya.

    Canberra… Ia tak memuat konsep kota industri, tak pula hadir dalam wajah gemerlap hedonis yang memuliakan dunia serta jauh dari konsep kota wisata.

    Ada pengaturan area-area tempat tinggal dan orang berlomba-lomba untuk tak melanggarnya. Ada tata lalu lintas yang teratur, bukan karena hebat dan kuasa pemerintah atau garangnya polisi saja, namun justru karena adanya swadaya masyarakat dalam berpartisipasi membangun lalu lintas yang ‘indah’ dan jauh dari sengkarut marut nan merugikan. Tak hanya itu, bahkan ketika Canberra butuh sesuatu nan hijau dan ‘telaga’ yang indah, dibangunkan telaga buatan serta taman-taman hijau nan asri yang melegakan.
    Langit telah semakin gelap sementara waktu terus bergerak meninggalkan pukul 6 sore ketika kami menyudahi jalur Federal Highway dan bergabung dengan jalur Hume Highway 31 yang termasuk dalam Austlink National Network yang menghubungkan banyak kota di sisi barat Australia.
     

    Tiba-tiba teleponku berdering kencang!
    Awalnya agak kesusahan untuk mengambil mobile karena terlipat saku di celana jeans tebalku. Setelah kugenggam, kulihat layarnya dan tertera nomer Indonesia tanpa nama. “Ah, siapa ini?” gumamku.
    “Hallo!”
    “Hallo, Don!” suara di seberang terdengar tak tenang, masih susah kukenal.
    “Ya, maaf ini siapa?” aku jadi ikutan tak tenang dibuatnya.
    “Aku! Dudi, Don!”
    “Dudi… Dudi…. Oh, kamu! Kenapa Dud?! Ada apa?” Dudi adalah kawan se-SMA ku dulu. Kudengar kabar terakhir darinya dua tahun silam melalui jejaring sosial di internet, ia menjabat sebagai salah satu petinggi di perusahaan multinasional berpusat di Jakarta.
    “Ja…Jjja… Jakarta! Jakarta.. Don! Jakarta gempa besar sekali!” teriaknya.
    WHATTTTT!!!!!! Dunia serasa runtuh bagiku mendengar kabar itu. Mobil segera kupelankan, melipir ke bahu jalan dan berhenti beberapa meter di depan, aku butuh konsentrasi untuk mendengarkan berita yang mengagetkan ini.
    “Trus.. trus gimana Dud? Hancur semua!?”
    “I… iya… tak berbekas, Don!”
    “Bangunan-bangunan pencakar langit itu?”
    “Lenyap!”
    “Dufan?”
    “Ambruk, Don!”
    “Kawasan Mangga Besar?”
    “Semua, Don… tak berbekas!!”
    “Waduh! Lah, kamu? Kamu bukan hantu kan, Dud? Kamu selamat?”
    “Itulah uniknya, Don!”
    “Hmmm.. maksudmu?”
    “Tak ada satupun dari warga Jakarta yang jadi korban?”
    “Loh..? Lalu yang gempa itu Jakarta yang mana?”
    “Duh, kamu! Jakarta ya Jakarta!” seru Dudi.
    “Jadi begini… Semalam sebelum gempa tiba-tiba seperti ada perasaan yang begitu kuat yang menyuruh kami meninggalkan Jakarta. Maka malam itu macetlah seluruh pintu keluar Jakarta, kami beramai-ramai pulang kampung…kembali ke tempat kami masing-masing, Don!”
    “Ke Jawa?”
    “Ya tergantung, ke daerah asal masing-masing pokoknya! Aku ke Jogja, ke tanah air kita!”
    “Hmmm… Lalu bagaimana yang asli Betawi?”
    “Kabarnya mereka juga pergi ke Depok dan sekitarnya…”
    “Trus?”
    “Ya begitulah, jadi praktis sejak kemarin siang, kira-kira tiga jam sebelum gempa dahsyat itu, Jakarta telah kosong melompong ditinggalkan warganya!”
    “Oh…Tak satupun?”
    “Tak satupun!”
    “Oh, Puji Tuhan! Lalu?”
    “Barusan Presiden muncul di televisi yang disiarkan darurat dari Bandung, katanya ini justru saat yang bagus untuk seluruh anak negeri membangun kembali Jakarta dari awal sebagai pusat pemerintahan!”
    “Oh..kok bisa?!”
    “Iya! Dia bilang bahwa kehancuran Jakarta adalah babak baru untuk membenahi ibukota itu dari awal secara ideal!”
    “Oh…!”
    “Dan yang paling bagus, Don… Dia bilang bahwa pabrik-pabrik dan perkantoran swasta akan dilarang berdiri di Jakarta kecuali yang mensupport jalannya pemerintahan pusat!”
    “Oh.. tumben bijak ya Pak Presiden?”
    “Iya, aku juga heran… Tumben… dan hebatnya nggak pake kata-kata PRIHATIN! Dia justru berpidato berapi-api!”
    “Oh hebat! Jadi… jadi kapan kamu akan kembali ke Jakarta?”
    “Aku tidak kembali, Don… aku mau tinggal di Jogja saja.. mbangun deso! Ogah ke Jakarta!”
    Lalu kubayangkan Jakarta menjadi kota yang begitu lengang, pusat pemerintahan yang semoga para pejabatnya dapat lebih berkonsentrasi membangun bangsa dan negara, mengabdi masyarakat tanpa harus ter-distraksi kepentingan duniawi yang mengganggu.
    “Don… Don!” ujar Dudi di ujung telepon.
    “Ya, Dud… lalu gimana?”
    “Don, ntar kusambung lagi pulsaku hampir habis!”
    Tut… tut… tut… Sambungan telepon terputus.
    Tiba-tiba Joyce menggoncang-goncangkan bahuku, “Hon… bangun!.. Hon, sudah sampe M5, sepuluh menit lagi udah Sydney. Kita mau dinner di mana?”
    “Hah! Jakarta, Hon… Jakarta… Kamu udah telepon Mama dan Papamu?” tanyaku padanya.
    “Kenapa Jakarta?” Joyce memandangku keheranan.
    Aku bengong, rupanya aku bermimpi.
    “Kamu mimpi ya?” tanya Joyce.
    “Hmmm iya…”
    “Mimpi apa, Don? Sore-sore kok mimpi!” tanya Wijaya dari kursi belakang.
    “Mimpi Jakarta, Jay… Mimpi Jakarta jadi serapi dan seindah Canberra, tanpa gedung-gedung milik swasta dan tanpa pabrik-pabrik yang kerap bikin langit berjelaga”
    “Oh, hebat! Tapi koruptor-koruptornya masih ada?”
    “Nah itu dia, aku lupa tanya ke temanku… boleh kulanjutkan mimpiku lagi barang sekejap untuk memastikan hal itu?”
    Lalu beramai-ramai Wijaya, Irna dan Joyce pun beradu suara “Huuuuuuu!!!” kepadaku, sementara langit malam nan hitam telah tersilap oleh gemerlap lampu merkuri kota Sydney yang berdiri mematung laksana Tuhan.
    TAMAT

  • Vakansi ke Canberra: Diguncang Gempa di Questacon! (7)

    Vakansi ke Canberra: Diguncang Gempa di Questacon! (7)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Salah satu pengalaman tak terlupakan sepanjang hidup adalah mengalami gempa bumi dahsyat di Jogja, akhir Mei 2006 silam. Boleh percaya boleh tidak, setelah lima tahun berlalu, trauma goncangannya hingga kini masih terasa.
    Nah, di Questacon, The National Science and Technology Centre, Canberra , aku mencoba melawan rasa trauma itu dengan masuk ke ‘Rumah Gempa’, sebuah rumah buatan yang memiliki tata atur miripnya rumah betulan lalu pengunjung yang dibagi dalam grup-grup kecil dikumpulkan dalam ‘living room‘ rumah tersebut. Pemandu ‘rumah’ lantas menjelaskan tentang ‘gempa’ yang akan terjadi dan beberapa saat kemudian ‘gempa’ pun datang menggoncang!
    Untuk lebih jelasnya, aku merekam pengalaman itu melalui gadgetku dan kalian bisa saksikan di bawah ini:
    http://www.youtube.com/watch?v=qk8-Ke6pHmc
    Kekuatan gempa yang dihadirkan di ruangan itu konon kabarnya mirip dengan gempa terbesar yang pernah tercatat sepanjang sejarah modern Australia, terjadi di Newcastle, NSW pada 28 Desember 1989 sebesar 5.3 Skala Richter.
    “Rasanya seperti apa, Don? Gedean mana sama yang di Jogja?” tanya teman-teman setelah aku keluar dari Rumah Gempa tanpa wajah pucat ketakutan.
    “Ngga perlu dijawab! Kalau menyeramkan kalian pikir aku berani ngeluarin iPhone trus ngerekam di dalam tadi?” Aku lantas ngeloyor pergi.

    * ? ? * ? ? *

    “…ajakan yang diselipkan pada hampir setiap wahana untuk kita semakin menyayangi lingkungan hidup menggunakan pendekatan teknologi…”

    Rumah gempa hanyalah satu dari sekitar 200 ‘wahana’ interaktif yang dihadirkan Questacon, The National Science and Technology Centre yang kukunjungi di penghujung liburanku ke Canberra, Minggu 12 Juni 2011 silam. Memanfaatkan gedung sumbangan dari pemerintah Jepang yang dihibahkan pada 1988, Questacon menjadi surga bagi mereka yang haus akan rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, utamanya anak-anak usia sekolah yang memang sedang getol-getolnya tertarik pada ini dan itu.
    Bagiku sendiri, mengunjungi Questacon tak ubahnya seperti sebuah reuni karena pada masa sekolah dulu, Fisika adalah ilmu yang paling kugemari di antara cabang-cabang ilmu lainnya sementara Questacon nyaris semua wahananya bicara tentang Fisika dan praktiknya meski dalam persoalan-persoalan standar. Kita tak bisa menemui wahana yang bicara soal hukum relativisme ataupun teori atom yang kompleks misalnya. Paling mentok hanya proses terjadinya petir yang dihadirkan secara nyata memanfaatkan komponen-komponen alam yang reproduksi dengan hukum fisika terkait; bukan bo’ong-bo’ongan semacam lampu kilat dan sebagainya yang kerap dipakai di pelem-pelem horror itu.
    Salah satu sisi yang tak kalah menarik dari Questacon adalah ajakan yang diselipkan pada hampir setiap wahana untuk kita semakin menyayangi lingkungan hidup menggunakan pendekatan teknologi dan bukan sebaliknya, merusak alam bersenjatakan pengetahuan dan teknologi yang kita miliki.

    “…pesanku sebelum mengunjungi ke Questacon, bekali diri kalian dengan bahasa inggris yang baik karena beberapa instruksi dan penjelasan pada setiap wahana dituliskan dalam bahasa inggris yang cukup formal…”

    Oh ya, satu pesanku sebelum mengunjungi ke Questacon, bekali diri kalian dengan bahasa inggris yang baik karena beberapa instruksi dan penjelasan pada setiap wahana dituliskan dalam bahasa inggris yang cukup formal dan memuat kosa kata yang agak sedikit ‘jauh’ dari sekadar english for conversation yang kupergunakan sehari-hari.
    Berikut ini adalah wahana-wahana yang sempat kucatat ketika berkunjung ke sana:

    H2O

    Dari judulnya kita sudah tahu bahwa wahana ini bicara tentang air, sifat-sifatnya dan upaya-upaya konservarsinya. Di sana dihadirkan banyak wahana interaksi pengetahuan tentang air mulai dari bagaimana air berasal, bagaimana alam mengolah air serta berbagai macam fenomena alamiah yang terjadi terkait dengan air.
     

    Perception Deception

    Ini perkara bagaimana kita memandang suatu kejadian alam yang kadang ternyata berbeda dengan kejadian yang sebenarnya terjadi. Ada begitu banyak hal yang coba dijelaskan secara mendetail pada kelompok wahana ini. Salah satunya adalah yang kutampilkan pada foto di bawah.

     

    Awesome earth

    Ruang gempa dan wahana petir yang kuceritakan di atas ada di kelompok wahana ini. Yang tak kalah menariknya pada Awesome Earth adalah simulasi tornado dan … tsunami. Secara detail kita bisa melihat bagaimana proses tsunami terjadi melalui maket yang dihadirkan dan bisa dimainkan di sana.
     

    SideShow

    Kesan pertama masuk SideShow ini mirip sirkus pasar malam karena memang konsep kelompok wahana ini adalah mengulik kenyataan teknis dibalik fun show.
    Dua hal menarik yang bisa kuceritakan adalah Free Fall, sebuah papan peluncur berlapis logam mirip perosotan tapi sudut deviasinya nyaris 90 derajat dengan permukaan lantai. Tingginya juga lumayan ekstrim, ada kali kalau cuma 5 meter. Lalu mereka, utamanya anak-anak, yang berani meluncur mengantri di atas sedetik kemudian… sssssrrrrrrr… ajaib! Meski 90 derajat namun tubuhnya tetap selaras dan menempel di lapisan itu dan mendarat dengan selamat. (Daripada saya lebih detail menjelaskan dan kalian lebih pusing mencerna, lebih baik lihat gambar di sini.
    Lalu yang kedua adalah Guillotine.
    Kalian nggak perlu kerja dulu jadi TKW dan ngga perlu membunuh majikan untuk merasakan bagaimana sensasi kepala yang nyaris ditebas pisau. Di wahana Guillotine ini kita bisa berperan seolah -olah menjadi terhukum yang akan dipancung kepalanya menggunakan pisau guillotine. Setelah tangan dan kepala kita masuk ke dalam cangkang, pisau pelan-pelan akan naik ke atas lalu sesaat setelah di puncak, sekonyong-konyong pisau dijatuhkan dan kata si Wijaya, temanku yang mencobanya, sensasi rasa takutnya memang mengerikan karena ketika pisau dijatuhkan ada kibasan angin mengenai tengkuknya dan suara pisau yang dijatuhkan itu benar-benar menggetarkan telinga. Argghhhh… Untung aku nggak mencobanya :) Gambar jelasnya, klik di sini.

    Aku difoto dibalik kaca dengan tekstur tertentu yang menghasilkan image yang berbeda satu sama lain. (Taken by Wijaya Trio)

    Selain kelompok-kelompok wahana di atas, di beberapa bagian di luar kelompok-kelompok itu dihadirkan pula robot yang bisa merespon setiap masukan dari kita, sebuah pendulum raksasa yang terus bergerak secara alami dan yang paling menyenangkan tentu… merchandise store yang menjual barang-barang terkait wahana-wahana yang disajikan.
    Pengennya sih beli, tapi lantas mengingat pertanyaan “Untuk apa?” niat pun kuurungkan sambil menunggu Odilia, anakku, besar… di saat itu aku pasti punya alasan untuk membeli merchandise-merchandise itu :)
    Bersambung…

  • Vakansi ke Canberra: Menjadi Gulliver di Cockington Gardens (6)

    Vakansi ke Canberra: Menjadi Gulliver di Cockington Gardens (6)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Kalian pernah membaca cerita Gulliver’s Travels atau barangkali beberapa sudah menonton filmnya, karena cerita lawas ini telah diangkat ke layar lebar tahun lalu dengan adaptasi setting serta cerita yang habis-habisan bedanya dibanding cerita asal yang dirilis tahun 1726, alias 285 tahun silam (OMAIGAT! bahkan Pangeran Diponegoro pun belum lahir!)
    Membayangkan menjadi seorang Lemuel Gulliver adalah sesuatu yang bagiku sungguh menyenangkan. Ia seorang manusia biasa yang pada akhirnya dianggap raksasa karena terdampar di sebuah negeri mungil dengan penduduk dan infrastruktur yang kerdil.

    * ?? * ?? *

    Gerbang Cockington Green Gardens

    Minggu, 12 Juni 2011.
    Meski udara tak secerah hari sebelumnya, tapi hari itu adalah hari terakhir acara liburan kami ke Canberra. Oleh karena itu, sejak pukul 09.00 pagi kami telah checkout dari hotel untuk menuntaskan hari itu dengan tujuan supaya sebanyak mungkin obyek wisata yang bisa kami nikmati di ibukota Australia ini.
    Awalnya kami ingin mengunjungi The Australian War Memorial yang batal kami kunjungi sore sebelumnya. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya kami sepakat untuk tidak mengunjungi museum perang itu pada liburan kali ini. Sebagai gantinya, kami langsung menuju ke Cockington Green Gardens, sebuah taman yang memuat miniatur banyak tempat menarik dari berbagai negara di dunia.
    Letak Cockington sendiri agak jauh, sekitar 15 menit perjalanan dari pusat kota Canberra, tepatnya berada di daerah Nicholls, ACT. Namun meski demikian, jarak ternyata tak membuat antusias pengunjung untuk datang terbukti dari ramainya areal parkir yang disediakan dan kami membutuhkan waktu beberapa lama untuk pada akhirnya mendapatkan tempat parkir.
    Cockington dibangun oleh Doug dan Brenda Sarah pada 1979 dan hingga kini dioperasikan oleh empat generasi keturunan dari sebuah keluarga, jadi ia dimiliki oleh perseorangan bukannya milik pemerintah. Namun meski demikian (atau justru ‘oleh karena itu‘) Cockington tak lantas menjadi museum yang tak berkembang. Sebaliknya keseriusan pemeliharaan Cockington tampak menonjol dilihat dari terjaganya kualitas miniatur, kebersihan dan perawatan tanaman-tanaman pendukung di sekitarnya.
    Secara garis besar, museum Cockington terbagi atas dua bagian besar. Original Area dan International Area.
    Pada bagian Original Area, kita bisa menyaksikan banyak miniatur tempat-tempat menarik di Great Britain, yang konon ada karena terinspirasi bentuk-bentuk bangunan selama kunjungan Doug dan Brenda ke UK pada awal dekade 70-an. Atas alasan itu pulalah maka Cockington dibangun.
    Sementara itu, pada bagian International Area yang diisi sejak tahun 1998, kita bisa menyaksikan 31 bangunan dari 31 negara di dunia yang terpilih. Uniknya, meski telah dieskpose sedemikian banyak di Original Area, Great Britain mendapat jatah pula pada International Area ini dengan menampilkan Lynton and Lynmouth Cliff Railway, sebuah rel kereta api kuno yang dioperasikan sejak 1890 antara Lynton dengan Lynmouth.
    DV di depan miniatur Borobudur

    Bagian yang menarik dari tulisan ini kupikir adalah terkait dengan fakta yang akan kuceritakan berikut ini.
    Dari 31 negara yang ada, Indonesia dengan Candi Borobudurnya berada tepat di baris pertama dari arah pintu masuk International Area!
    Kabar yang menarik bukan?
    Penampilan Candi Borobudur di Cockington memiliki ratio ukuran 1 – 100 dari bentuk aslinya, dibangun oleh Wahyu Indrasan dan Lukito disponsori oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia serta mendapat dukungan penuh dari maskapai nasional kita, Garuda Indonesia.

    “Dari 31 negara yang ada, Indonesia dengan Candi Borobudurnya berada tepat di baris pertama dari arah pintu masuk International Area!”

    Namun sayangnya, dibandingkan dengan beberapa miniatur lainnya, keberadaan miniatur Candi Borobudur kurang menonjol dari sisi optimalisasi lahan. Harusnya, modal posisi yang ada di baris pertama bisa didukung dengan menghadirkan Candi Borobudur komplit dengan miniatur lingkungan sekitarnya ketimbang hanya menghadirkan bangunan candinya saja beserta selembar bendera merah putih mini yang ditancapkan tak jauh dari plakat keterangan miniatur.
    Andai aku adalah orang yang memiliki kuasa untuk mengubah miniatur itu, aku tak kan lupa untuk menghadirkan pemandangan sekeliling Borobudur yaitu Gunung Merapi serta Merbabu, Sindoro juga Sumbing. Hal ini penting menurutku, untuk memberi gambaran lebih lengkap tentang Candi Borobudur yang tak hanya indah karena bangunannya saja namun juga lingkungan sekitar yang melingkupinya.
    Nah, kalian penasaran seperti apa pemandangan di sisi International Area-nya Cockington Green Garden? Silakan klik foto-foto di bawah ini untuk ukuran lebih besar.

    Selain Original Area dan International Area, Cockington Green Gardens juga menyediakan areal permainan bagi anak-anak, kereta dengan track mini yang bisa mengantar kita mengitari Cockington secara keseluruhan serta sebuah kafe bernuansa Eropa dua abad silam yang pada akhirnya menjadi tempat singgah terakhir bagi kami siang itu.
    Ditemani secangkir kopi dan sepotong Chocolate Croissant kesukaanku, pagi itu berlalu dengan indahnya. Usai sudah keterdamparanku menjadi seorang Gulliver di taman miniatur nan indah berlabel Cockington Green Gardens ini.

    Yang depan miniatur, yang belakang aslinya!

    Bersambung…

  • Vakansi ke Canberra: Nganbira, lembah di sela payudara wanita (5)

    Vakansi ke Canberra: Nganbira, lembah di sela payudara wanita (5)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Sebelumnya, ada baiknya kuinformasikan pada kalian bahwa ketika menerakan judul postingan ini aku tidak sedang mengantuk dan tak juga sedang mabuk. Aku sedang berada dalam kondisi sadar sepenuhnya. Jadi kalau tertulis “Ngabira, lembah di sela payudara wanita” pada kolom judul, memang demikianlah adanya :)

    “Nganbira atau Nganbra adalah nama adat untuk Canberra yang berarti ?hollow between a woman?s breasts”

    Nganbira atau Nganbra adalah nama adat untuk Canberra yang berarti “hollow between a woman’s breasts (lembah/rongga di antara payudara wanita -eng)”. Adalah John Gale, pemilik koran Queanbeyan yang pada sekitar tahun 1860 menemukan istilah itu sekaligus menggambarkan letak geografis Canberra sesungguhnya yang merupakan lembah/daerah aliran sungai Sullivan Creek yang berada di antara Mount Ainslie dan Black Mountain.

    * ? ?* ? ?*

    Sekeluarnya aku dari Parliament House, matahari telah kehilangan tiga perempat bagiannya, tenggelam di peraduan padahal waktu masih menunjuk pukul 5 sore lewat sedikit. Musim dingin di daerah selatan Khatulistiwa yang jatuh pada Juni – September memang selalu ditandai dengan masa edar matahari yang memendek seperti ini.

    Karena nggak ada stock foto Nara Park, baiklah kupasang fotoku:) Diambil oleh Wijaya Trio di Parliament House. Kalian belum bosan melihat wajahku kan? :)

    Adapun rencana semula kami sore itu sebenarnya adalah berkunjung ke The Australian War Memorial yang ada di sekitar dua kilometer dari Parliement House. Namun karena kami tak yakin apakah museum perang Australia itu masih buka atau sudah tutup, kami lalu membatalkan rencana dan memilih untuk menghabiskan sore itu di Nara Park, sebuah taman yang berada di tepi Lake Burley Griffin, tak jauh dari Parliament House.
    Nara Park adalah sebuah taman yang letaknya memanjang di tepi Lake Burley Griffin, berseberangan sudut dengan kedutaan besar Republik Rakyat China. Nama ‘Nara’ sendiri mengacu pada simbol persahabatan antara kota Canberra dengan kota Nara di Jepang. Ia diresmikan pada 9 Oktober 1999. Pada saat itu, pemerintah Jepang bahkan mengirimkan delegasi beranggotakan penduduk kota Nara untuk datang ke Canberra. Sebagai kenang-kenangan, anggota delegasi ‘Nara’ lantas menorehkan tulisan “The Canberra Nara Friendship Gate” pada pintu masuk Nara Park dalam tulisan kanji Jepang.

    “Canberra adalah sebuah contoh bahwa kota adalah sesuatu yang tak serta merta ada lalu kita tinggali.”

    Kalau kalian berkunjung ke Nara Park, aroma ‘Jepang’ memang sangat kental terasa. Bayangkan, selain dua lentera raksasa Kasuga dan Yukimi dipajang, nyaris semua tanaman yang tumbuh di sana adalah tanaman yang berasal dari Jepang seperti Japanese Mapel, Japanese Red Pine, Japanese Lily of the Valley dan masih banyak lagi. (Sumber, klik di sini)?Tak hanya itu, pada saat-saat peringatan kerjasama Canberra – Nara beberapa tahun belakangan juga selalu diadakan keriaan khas yaitu Canberra Nara Candle Festival yang diikuti dengan festival makanan Jepang, pertunjukan seni budaya, dan masih banyak lagi.
    Berbatasan dengan Nara Park adalah Lake Burley Griffin, sebuah danau buatan yang diprakarsai pembangunannya oleh Robert Menzies, perdana menteri Australia pada tahun 1960. Nama danau itu diambil dari nama arsitek Amerika yang memenangkan lomba desain kota Canberra, Walter Burley Griffin.
    Danau seluas 6.64 km2 itu membendung sungai Molongo River sekaligus menggenangi Jerramboberra Creek dan Sullivan Creek, areal yang di paragraf awal kusebut sebagai daerah lembah di antara dua ‘payudara’ itu tadi.
    Kombinasi Nara Park dan Lake Burley Griffin adalah paket yang indah untuk selalu dinikmati pada sore dan pagi hari. Selain pemandangan yang lapang ke arah barat yang sangat cocok untuk menanti matahari tenggelam, banyaknya angsa hitam (black swan) yang hilir mudik berenang di Lake Burley Griffin adalah paket komplit ditambah dengan indahnya pemandangan sisi kota yang dibatasi sebuah jembatan layang yang tampak seperti lintasan mungil dengan lampu-lampu mobil berpendar dari sana.
    Anganku terus bermain-main mengagumi betapa Canberra adalah sebuah paparan yang indah.
    Terpujilah Tuhan yang menciptakan manusia yang oleh karenaNya maka ia dimampukan untuk mendesain kota yang sedemikian indah. Canberra adalah sebuah contoh bahwa kota adalah sesuatu yang tak serta merta ada lalu kita tinggali. Ia ada karena warganya berproses setahap demi setahap untuk membangun dan mewujudkan tempat tinggal yang baik dan nyaman tak hanya untuk mereka tapi juga anak-cucunya.

    * ? ?* ? ?*

    Sementara itu waktu telah semakin larut, jarum jam menunjuk angka 06.30 petang. Matahari telah lenyap di peraduan meski bersit sinarnya masih tersisa sedikit menjingga di ufuk barat bagai semburat, tepat di atas puncak Black Mountain. Suhu udara terus mendingin ditingkahi angin gunung yang desirnya menggigilkan tulang. Bayang-bayang angsa hitam semakin tak tampak, menyatu dengan permukaan air yang kelam… Ini adalah waktu yang tepat untuk segera beranjak dari kawasan lembah/rongga di antara payudara wanita ini. Saatnya bersantap malam!
    Bersambung…

  • Vakansi ke Canberra: Parliament House dan boomerang (4)

    Vakansi ke Canberra: Parliament House dan boomerang (4)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Waktu masuk ke Parliament House hari Sabtu (11 Juni 2011) silam, sembari menatap langit-langit “The Great Hall”, aku berharap semoga ide untuk membangun gedung DPR – RI yang konon katanya membutuhkan anggaran dana yang bombastis itu bukan datang setelah tahu berapa anggaran yang dikeluarkan pemerintah Australia untuk membangun Parliament House. Bayangkan saja, gedung yang didesain oleh Mitchell/Giurgola Architects dan dibuka pada 1988 ini pernah jadi gedung termahal di belahan selatan khatulistiwa karena memakan biaya lebih dari 1.1 milyar AUD.

    Parliament house, bentuknya seperti bilah boomerang (Credit photo: Wikipedia)

    Setelah santap siang di Pork Barrel seperti yang kuceritakan di tulisan sebelumnya, kami lantas pergi ke Parliament House pada sabtu lepas tengah hari. Letak Parliement House dari Pork Barrel tidaklah jauh karena keduanya masih berada di satu kompleks.
    Beberapa teman yang kuceritakan bahwa aku mengunjungi Parliament House banyak berkomentar sinis dan menganggap aku sudah kekurangan referensi tempat wisata yang lebih asik. Satu dari sekian temanku malah dengan lugas berkata “Salah satu tempat paling membosankan di muka bumi”! Tapi kan beda orang beda persepsi terhadap apapun! Bagiku Parliament House bukanlah sesuatu yang membosankan, meski barangkali karena kali itu adalah kali pertama aku ke sana.

    “Ini gedung rakyat. Jadi kenapa rakyat tak boleh masuk ke gedung (rumah) nya sendiri?”

    Setelah mencari parkir di basement, kami naik ke atas menggunakan lift. Sesampainya di pintu, kami melewati screening gate seperti layaknya di bandara-bandara. Petugas men-check semua tas dan peralatan yang terdeteksi mengandung logam. Setelah semuanya lolos kamipun dipersilakan masuk secara cuma-cuma.
    Secara struktur bangunan, selain karena penasaran dengan bentuk flagpole (ujung atap berbentuk piramid di diatasnya ditancapi bendera Australia), Parliament House sebenarnya cenderung biasa saja. Hanya sebuah gedung yang sangat luas dan tak seberapa tinggi dengan ribuan ruangan (konon kabarnya ada lebih dari 4000 ruang di gedung itu) dan foto-foto tokoh yang pernah dan sedang berperan membangun Australia.

    Perkenalkan, calon prime minister :))) (Credit photo: Wijaya Trio)

    Namun lebih daripada itu, yang menurutku paling mengesankan adalah konsep Parliament House sebagai gedung terbuka bagi siapa saja yang datang. Tentu ini bukan harga mati jadi meski tak kuharapkan terjadi, bisa saja dengan pertimbangan keamanan lalu Parliament House diubah konsep menjadi gedung tertutup… Ya, siapa tahu.
    Saking terbukanya, bahkan pada hari-hari kerja, kita boleh masuk mengikuti sidang-sidang parlemen secara langsung dengan satu syarat, tidak boleh membawa barang bawaan apapun termasuk mobile phone dan alat perekam serta, kita dilarang bersuara. Sayang, aku datang hari Sabtu, hari libur nasional dan tentu saja para anggota dewan sedang ikut libur juga.
    Aku sempat bertanya pada seorang petugas kenapa Parliament House dibuat sedemikian terbukanya terhadap pengunjung, “Ini gedung rakyat. Jadi kenapa rakyat tak boleh masuk ke gedung (rumah) nya sendiri?” demikian jawabnya seraya mengangkat bahu; bahasa tubuh yang berbicara ‘hal seperti itu seharusnya tak perlu ditanyakan lagi!’
    * * *
    The Great Hall (Credit photo: Wijaya Trio)

    Ruang pertama yang kami masuki adalah The Great Hall, sebuah hall lapang berlantai kayu dan beratap tinggi. Aku tak tahu berapa ukuran pastinya tapi kalau boleh kukira-kira, besarnya bisa memuat sekitar tiga hingga empat lapangan bola basket. Ruang ini, kata temanku, kerap dipakai untuk menerima tamu-tamu dari luar negeri secara resmi.
    Dari situ kami lantas naik ke lantai satu dan untuk beberapa lamanya berleha-leha di The Queen’s Terrace Caf? sebuah kafe penyedia makanan dan minuman layaknya food court di kantor-kantor Indonesia. Kafe ini adalah satu-satunya kafe yang ada di kompleks Parliement House dan kerap pula dikunjungi oleh para anggota dewan serta para menteri yang duduk di kabinet pemerintah yang berkuasa.
    Sembari memberi makan siang pada Odilia, aku jadi berpikir betapa dekat dan ‘mudah diakses’ nya para petinggi di negara ini oleh rakyatnya ya?
    Beranjak dari situ, aku lantas berkeliling gedung dan tenggelam menikmati lukisan-lukisan yang menggambarkan para tokoh pemerintahan dan parlemen Australia sejak dulu yang terdokumentasi dengan baik. Setiap tokoh dibuatkan lukisan berukuran sekitar 1 x 1.5 meter sementara di sisi bawahnya termaktub keterangan kecil menyangkut kiprah tokoh ketika berkuasa.
    Yang menarik lagi, porsi untuk menampilkan profil pemerintahan yang tengah berkuasa saat ini justru sangat kecil. Pada sebuah sudut ruangan yang aku lupa namanya, foto Julia Gillard dan anggota kabinetnya tertera dalam ukuran kecil sementara tak jauh dari mereka, dipasang pula foto Tony Abbot, pemimpin tokoh oposisi yang di televisi dan surat kabar, suaranya sangat frontal terhadap Julia.
    Sisi yang tak kalah menariknya adalah pada Magna Carta Place.
    Kalian yang suka sejarah pasti tahu apa itu Magna Carta; sebuah dokumen penting yang dikeluarkan King John of England pada 1215 tentang persetujuan pembatasan kekuasaan raja Inggris yang lantas menjadi dasar bagi pola hidup berdemokrasi di seluruh dunia tanpa terkecuali. Nah, satu dari empat kopi asli yang berhasil diselamatkan, saat ini berada di Magna Carta Place di Parliament House.
    Penempatan Magna Carta di Parliament House ini tentu menjadi menarik karena secara cerdas, pihak pengelola Parliament House membubuhkan keterangan di bawah naskah asli yang dilindungi kaca bersensor keamanan itu. Di situ dituliskan bahwa bagaimanapun, Magna Carta adalah peletak dasar hidup berdemokrasi sekaligus konsep parlemen, jadi keberadaannya, selain untuk melestarikan dokumen penting peradaban dunia sekaligus mengukuhkan betapa apa yang dilakukan saat ini oleh siapapun yang berkuasa di situ, harus memiliki semangat yang sama dengan apa yang tertoreh di Magna Carta.
    Setelah terkagum-kagum dengan dokumen Magna Carta beberapa waktu lamanya (dan ini membuat salah satu temanku terkagum padaku kenapa aku bisa sekian lama terkagum-kagum pada Magna Carta!?!) aku lalu mengunjungi The House of Representatives, sebuah gedung yang selalu digunakan pemerintah dan anggota dewan untuk berunding, berdebat sekaligus memutuskan keputusan-keputusan penting pemerintahan yang kerap ditayangkan di televisi Australia. Di sini aku kembali terkagum-kagum bukan oleh karena bentuk ruangnya yang menurutku biasa, tapi pada keterbukaan pihak pengelola gedung untuk mengijinkan masuk para wisatawan hingga ke ruang ini.
    DV di The House of Representative (Credit photo: Wijaya Trio)

    Hari telah beranjak hampir ke ujungnya dan kami menuntasi kunjungan ke Parliament House itu dengan naik ke atapnya. Adapun atap Parliament House cukup unik karena di sana selain ada Flagpole yang terkenal itu, juga dibangun pula taman rumput yang memungkinkan untuk dijadikan tempat berfoto bagi wisatawan.
    Pemandangan kota Canberra bisa dilihat sepenuhnya dari taman di atap Parliament House termasuk Lake Burley Griffin (danau buatan) yang akan kuceritakan di tulisan selanjutnya dan the Australian War Memorial yang terpampang di depan Parliament House.
    Ketika matahari redup di peraduan sementara waktu masih menunjuk pukul 05.00 pm, kamipun beranjak pergi dari kompleks Parliament House. Dari brosur yang kubaca ketika masuk ke mobil, aku mendapatkan informasi bahwa bentuk bangunan Parliament House secara utuh sebenarnya terinspirasi oleh bentuk boomerang, senjata khas suku Aborigin, suku asli Australia.
    Setengah tak percaya, ketika sudah agak jauh dari Parliament House, aku minta istriku menghentikan mobil. Aku lantas keluar dari mobil sejenak untuk melihat gedung parliament house keseluruhan dan ternyata benar, secara utuh, Parliement House tampak seperti boomerang yang diletakkan di sebuah tanah lapang.
    Boomerang adalah senjata suku Aborigin, suku asli benua Australia. Senjata ini memiliki karkater unik, ia dilempar untuk memukul lawan dan sesudahnya ia akan kembali ke pemiliknya dengan syarat dilempar menggunakan teknik yang benar.
    Barangkali hakikat mandat dan pemerintahan suatu negara yang menganut sistem demokrasi harusnya memang seperti bilah boomerang itu. Anggaplah boomerang sebagai mandat. Ia milik rakyat yang lantas dipercayakan kepada pemerintah terpilih untuk menggunakannya semaksimal mungkin guna memberantas segala persoalan dan mendatangkan kesejahteraan bagi rakyat.
    Lalu ketika tugas telah selesai, boomerang harus kembali ke tangan pemiliknya yaitu rakyat, bukannya terus menerus dikuasai pemerintah lalu hilang entah kemana…
    Bersambung ?

  • Vakansi ke Canberra: Pork Barrel, Restaurant Pork tanpa Pork (3)

    Vakansi ke Canberra: Pork Barrel, Restaurant Pork tanpa Pork (3)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    “There is no new thing under the sun. [Ecclesiastes 1:9]”

    Sesampainya di Canberra malam itu, tak ada yang tak bisa kulakukan selain mandi lalu beristirahat!
    What! Winter dan tengah malam mandi? Tenang, tentu mandiku pake air hangat dan sekalipun demikian, tak kan kuberani mandi kalau saja tidak ada penghangat ruangan di kamar apartemen.
    Air hangat dan heater. Sayangnya hanya dua hal itu pula yang mampu membuat kami puas atas layanan yang diberikan apartemen yang kami sewa karena selebihnya kami lebih banyak kecewanya. Kecewa dengan apartemen yang telah kami booking beberapa lama sebelum liburan karena ternyata kenyataan yang ada tak sesuai dengan foto kondisi kamar dan ruangan yang ditawarkan di website.
    Kalian tahulah seperti apa kecewanya. Semacam kecewa seorang gadis yang merangkai kasih asmara dengan seorang pria lewat internet lalu berpacaran tanpa pernah bertemu sebelumnya dan setelah enam bulan kemudian bertemu ….and… OMAIGAT ternyata parasnya tak setampan bentuknya di foto yang selama ini dikirimkannya hahaha!

    “Selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya?”

    OK, balik ke soal apartemen.
    Kekecewaan yang utama sebenarnya adalah kasur. Seusai mandi malam, hal yang kubayangkan pertama adalah nikmatnya melemparkan diri ke atas spring bed dan kenyalnya per yang menyangga kasur akan membuat beberapa kali lenturan seperti mengibaskan semua lelahku keluar dari tubuh.. namun yang kudapat ternyata, ketika kulemparkan diri ke atasnya, per itu sudah tak membal lagi karena barangkali sudah terlalu lentur, ia membawaku meringsek, terbenam dan tak melentingkan tubuhku sama sekali ke atas.
    Yang lebih kasihan adalah Odilia, anakku. Ia yang tidur denganku harus berusaha keras untuk bisa terlelap karena gadis kecil berusia 1.5 tahun itu memang sudah terbiasa untuk guling-gulingan terlebih dulu hingga benar-benar bisa terlelap. Nah, dengan kasur yang sudah tak membal itu, tentu susah baginya untuk berguling-gulingan seperti biasa ia lakukan di rumah.
    Sofa bed yang dipakai Joyce setali tiga uang kondisinya. Ia yang sejak dari perjalanan sudah ingin merasakan tidur nyaman, oleh karenanya kupersilakan tidur di sofa bed sendirian dan kubiarkan Odi tidur bersamaku, harus kecewa dengan kondisi kasur yang justru terlalu keras!
    Tapi… “Ya sudahlah!” kata Bondan Prakoso bernyanyi.
    Disyukuri saja lah meski tak sesuai dengan foto dan kondisi kasur yang memprihatinkan, toh hal-hal seperti itu tak boleh menjadi kendala yang menghilangkan semarak liburan yang sedang kami jalani… tak lama setelah Odilia terlelap (yang membutuhkan waktu lama untuk itu) akupun terlelap.

    * ? * ? *

    Odilia di Pork Barrel Cafe/Restaurant

    Sabtu pagi 11 Juni 2011, kami terbangun disambut dengan suhu dingin yang tetap saja bisa menyelinap di tengah pusaran pemanas ruangan yang kami pasang pada settingan suhu tertinggi. Setelah bermalas-malasan sejenak dan cuci muka serta gosok gigi kami segera beranjak keluar!
    Sesampainya di luar, udara dingin benar-benar menampar!
    Untung kami telah menyiapkan yang terbaik untuk menghadapi hawa Canberra. Coba bayangkan, ujung kepalaku telah terlindung topi fedora yang hangat. Empat lapis baju kukenakan mulai dari kaos thermal, kaos oblong, sweater tebal dan jacket. Lalu, selain celana dalam, aku telah melapisi kakiku dengan celana thermal dan jeans serta kaos kaki wool nan tebal. Praktis aku hanya harus melindungi wajah dan tangan yang sengaja tak kulapisi glove supaya mudah menggendong dan beraktivitas untuk Odilia.
    Di tengah perjalanan kami masih tak bisa berhenti dari gerutu kenapa apartemen yang kami booked bisa sebeda itu dari foto yang ditawarkan di internet. Namun pada akhirnya kami mampu mengambil titik simpul dan menutup kekecewaan dengan anggapan bahwa Hey, ini Canberra, bukan Bali, Hawaii bukan pula Sydney! Canberra toh bukan kota yang merepresentasikan dirinya sebagai kota tujuan wisata! Ia adalah ibukota, pusat pemerintahan yang lebih banyak dihuni dan dikunjungi oleh para pekerja yang datang untuk urusan bisnis daripada wisatawan. Jadi, ketika kami menemui betapa ‘standard’ harapan kami berbeda dengan kenyataan, ya wajar-wajar saja!
    Tujuan kami siang itu adalah ke Canberra Convention Center karena Joyce ingin melihat pameran karya seni ‘handmade‘, ada beberapa barang yang sudah diincarnya sejak dari Sydney. Menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana, Joyce berbelanja dan aku bercengkrama dengan Odilia serta teman-teman lainnya, sudah saatnya untuk mencari makan karena lapar!
    Sejatinya urusan makan di Australia bagi perut ‘Asia’ konon tak sesulit di Eropa. Posisi geografis yang cukup dekat dan terjangkau dari Asia, membuat Australia adalah surga bagi makanan asia. Kalian tak perlu susah-susah masak nasi goreng atau membawa bumbu asli dari Indonesia dengan cara mengelabui petugas custom di bandara karena semua dengan mudah bisa didapat dalam sajian siap santap! Rasanya pun tak sembarangan. Salah besar kalau kalian menganggap kami yang di Australia ini adalah penikmat masakan Asia imitasi karena jangankan bumbunya, chef pemasaknya pun banyak yang didatangkan khusus dari negara asal dengan visa kerja sebagai pemasak.
    Jadi, soal makanan bukanlah sebuah kendala juga saat kami berlibur ke Canberra karena kami tahu, somewhere di dalam kota Canberra, pasti kami dapat menemukan chinna town dan di sana pasti melimpah makanan Asia yang sesuai dengan ‘karakter’ perut kami.
    Tapi siang itu kami ingin mencoba sesuatu yang agak sedikit berbeda, ‘makanan bule’ kalau kata orang Indonesia.
    Maka pergilah kami ke Pork Barrel, sebuah kafe-restaurant yang terletak di National Parliamentary Rose Garden, sebuah taman yang berada sangat dekat dengan Parliement House. Kafe itu terletak agak ke tepian taman namun meski demikian keasrian dan keaslian alam dijaga benar-benar. Pork Barrel tidaklah terlalu luas namun estetika bangunannya sangat dijaga sesuai dengan naluri seni yang tentu tak murahan (klik di sini untuk melihat bentuk bangunan dan info lebih lengkap tentangnya).

    “penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… “

    Lalu bagaimana dengan menu makanan yang disediakan?
    Kalian pasti pikir bahwa ditilik dari namanya pasti kafe itu menjual daging babi?
    Kalau benar maka kalian tak sendirian. Ketika pertama kali mendengar namanya disebut oleh Darell, teman kami yang beberapa kali sudah pernah datang ke sana, terbit air liurku membayangkan daging babi yang lezat apalagi ditambah dengan bersulang anggur di saat hawa dingin begini pasti menyenangkan.
    Namun dugaanku ternyata salah karena tak ada satupun menu yang menyajikan pork (daging babi) melainkan menu-menu lainnya (barangkali hanya saat itu, entah saat-saat lain karena kebanyakan restaurant/bar/kafe di sini menyajikan beda menu untuk breakfast, lunch dan dinner serta weekend dan weekdays). Aku sempat hendak bertanya kepada pelayan kafe itu kemana mereka menyembunyikan menu masakan babi kegemaranku, namun niat itu kuurungkan setelah aku membaca penjelasan yang dipasang di tembok kafe itu:

    The term pork barrel referes to spending that is intended to benefit constituents of a politician in return for their political support, in the form of campaign contributions or votes

    Ternyata kafe itu menggunakan nama Pork Barrel lebih karena ingin ‘menjangkau’ soalan yang tak jauh-jauh dari apa yang kita perjuangkan di era Reformasi ’98 dulu, Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Bagaimanapun juga kecewaku karena tak ada hidangan babi di sana, aku cukup terhibur dengan kenyataan ini dan tak henti berdecak kagum mencoba mengerti pola pikir pemilik Pork Barrel yang brilian dalam menamai restaurantnya itu!
    Pikiranku melayang tiba-tiba…. Adakah tempat di muka bumi ini yang benar-benar telah bebas dari korupsi dan sebangsanya? Entahlah tapi bagiku dan kuyakin kalian mengamininya, selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya? Sementara penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… sedangkan sifat itu sendiri sejatinya hingga kiamat pun akan tetap ada!
    Tak ada yang baru di bawah matahari yang sama, Cyinnnn! Cemungudhhh!
    Bersambung ?

  • Vakansi ke Canberra: Perjalanan nan membosankan (2)

    Vakansi ke Canberra: Perjalanan nan membosankan (2)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Perjalanan liburan dari Sydney ke Canberra kemarin kami mulai pada Jumat 10 Juni 2011 pukul 8:30 pm.
    Dari pusat kota Sydney, kami, mobil disetir oleh istri, menyusuri M2 Motorway (tol berbayar) ke arah barat lalu lanjut ke M5 Freeway yang terhubung ke jalur utama Hume Highway 31 yang termasuk dalam Austlink National Network dan tiba di Canberra tepat tengah malam.
    Perjalanan itu sendiri sebenarnya amatlah membosankan kalau saja kita nyetir sendirian. Untung, selain bersama keluarga, seperti yang kutulis di cerita sebelumnya, ada beberapa kawan dekat yang ikut berlibur ke sana. Maka jadilah sepanjang perjalanan, kami banyak berbincang untuk membunuh waktu, mengusir bosan dan kantuk sekaligus.
    Perlu kalian tahu, perjalanan luar kota di sini sangat berbeda dengan di Indonesia.

    Suasana jalanan di Canberra. Foto ini diambil siang sekitar pukul 13.00 di depan Parliement House. Sepi sekali, kan?

    Kalau di Indonesia, taruhlah sepanjang perjalanan Jakarta ke Semarang, boleh dibilang nyaris sepanjang perjalanan, sisi kiri dan kanan jalan dipenuhi kawasan pemukiman warga beserta riuhnya kehidupan di sana yang seakan tak pernah berhenti 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Belum lagi kendaraan-kendaraan lain yang ramai berlalu lalang seolah bisa menjadi teman bagi kita selama berkendara dan lampu… ah hampir kelupaan, Indonesia adalah negeri yang sangat murah hati karena hampir setiap jengkal di jalanan luar kota selalu diterangi lampu jalan yang moncer-moncer kecuali kalau pas sedang mati lampu, tentu saja :)
    Sementara di sini, perjalanan ke luar kota identik dengan jalan-jalan yang besar nan sunyi, hamparan padang rumput di kanan-kiri, sedikit kendaraan berlalu lalang dan… kecuali di persimpangan jalan, boleh dibilang tak ada satupun lampu jalan yang menyala!
    Sangat membosankan, bukan?
    Oh ya, hampir kelupaan, selain alasan yang kukemukakan di atas, ada satu lagi alasan yang membuat rasa bosan muncul yaitu batas kecepatan.?Kecepatan dalam berkendara di negara ini adalah concern utama dalam tata atur lalu lintas. Untuk rute luar kota, pada umumnya batas kecepatan maksimum hanyalah 110 km per jam sementara untuk beberapa tikungan tajam, tanjakan, turunan dan perlintasan untuk keluar ke daerah pemukiman dari highway, batasnya diturunkan hingga 80 km per jam saja.
    Jadi bayangkan, kamu harus menjaga kecepatan tak boleh di atas limit sedangkan kamu tahu bahwa sebenarnya kendaraan yang kamu tumpangi mampu untuk melaju di atas itu.
    Aku tiba-tiba jadi ingat cerita lama dari supir yang dulu kerap digunakan jasanya oleh keluarga orangtuaku waktu masih tinggal di Indonesia.
    Suatu waktu aku bertanya padanya, “Pak, sering nyetir malam?”
    “Iya”
    “Trus cara menghindari kantuk bagaimana?”
    “Hmmm, kejar bis malam, Mas! Kejar mereka trus ‘goda’ saja?”
    “Maksudnya?”
    “Ya, goda supirnya dengan cara menyalip busnya trus langsung turunkan kecepatan begitu kita ada di depannya.”
    “Trus?”
    “Nah, mereka kan nanti jadi ingin menyalip kita.. lalu saat mereka ancang-ancang, kita tambahkan laju kendaraan kita sehingga mau-tak-mau dia butuh ekstra tenaga untuk menyalip kita… demikian seterusnya..!”
    Aku bayangkan, kalau saja si supir itu tinggal di sini dan menggunakan ilmu penahan kantuknya, bisa-bisa tak sampai sebulan surat ijin mengemudinya di-suspend dan dia tak boleh mengemudikan kendaraan lagi untuk beberapa waktu lamanya atau barangkali sebaliknya, ia akan terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan karena trik semacam itu tentu tak dianjurkan apalagi diperbolehkan di sini.
    Tapi pemerintah Australia dalam hal ini RTA (Road and Traffic Authority) bukannya tinggal diam.?Menyadari bahwa rasa bosan yang disusul dengan rasa kantuk yang timbul selama perjalanan, mereka menyediakan banyak rest area sepanjang jalan.
    Begitu juga dengan rute jalur Sydney ke Canberra, hampir setiap lima kilometer kita bisa menemukan rest area. Tapi kalian sekali lagi jangan membayangkan bahwa setiap rest area di sini seperti di Indonesia yang biasanya di sekitarnya berdiri warung-warung penjaja makanan. Rest area di sini hanyalah sepenggal bahu jalan yang menjorok ke keluar sehingga mobil bisa parkir dan pengemudi bisa benar-benar beristirahat dalam tenang dan gelap, rileks atau bahkan untuk tidur.

    * ?* ?*

    'Peserta' liburan minus Wijaya yang motret. Ki-ka: Darrell menggendong Ben, Cucu, Irna, Joyce menggendong Odi, DV

    Sepanjang perjalanan Sydney ke Canberra sendiri sebenarnya tak benar-benar bikin kita ‘mati gaya’ karena ada beberapa obyek menarik yang bisa dikunjungi meski untuk mengaksesnya tetap butuh waktu mengingat jarak tempuh antara jalur utama Sydney – Canberra hingga lokasi obyek berada.
    Sebut saja Penrose Park, tempat wisata rohani Katholik yang pernah beberapa kali kukunjungi dan kalian bisa temukan artikelnya di sini.
    Ada pula Berrima – perumahan kuno Australia yang tetap terjaga utuh sejak abad ke 19, beberapa perkebunan anggur serta Goulburn, suburb yang jaraknya sekitar 85 kilometer sebelum Canberra dari arah Sydney.
    Goulburn ini adalah suburb lumayan besar dan menjadi ‘pintu’ selatan negara bagian New South Wales yang berbatasan dengan Canberra (ACT) dan Victoria serta South Australia. Goulburn terkenal dengan penjara yang memiliki sistem keamanan terketat di Australia dan akademi kepolisian (police academy). Kalian yang gemar mencuri-curi kesempatan untuk ngebut/speeding harus berhati-hati ketika melewati Goulburn karena konon banyak calon anggota polisi memanfaatkan traffic di sekitar Goulburn sebagai eksperimen ’tilang-menilang’ menggunakan teknologi canggih terkini.
    Selepas Goulburn, arus lalu lintas ke Canberra diarahkan ke Federal Highway 23 karena Hume Highway selepas Goulburn mengarah ke Melbourne (Victoria).?Federal Highway adalah bagian dari rangkaian Sydney – Canberra National Highway yang dibangun pada 1932 – 1934 dan mengular sepanjang 70 kilometer saja jauhnya.?Memiliki karakter jalan yang lebih lebar dengan pembatas jalur yang bahkan lebih besar dari lebar jalan yang dibatasinya, membuat Federal Highway nyaman untuk dilalui.
    Kira-kira setengah perjalanan sepanjang Federal Highway menuju arah Canberra, kita melewati Lake George, sebuah danau purba yang memiliki nama asli Weerewa yang konon memiliki pemandangan nan indah. Kukatakan ‘konon’ karena baik pergi dan pulangnya, kami sepakat untuk melakukan perjalanan malam hari, jadi semua hanya tampak gelap saja.
    Hingga di sekitar Lake George, suhu udara telah turun drastis dibandingkan dengan Sydney. Angka di termometer mobil yang mengukur suhu luar bahkan ketika itu sempat menunjuk angka -2 derajat di bawah nol. Tiga puluh menit sesudahnya, kamipun merapat ke Canberra disambut dengan beberapa speed camera yang siap menjalankan tugasnya begitu kami melaju di atas limit kecepatan yang ditentukan untuk dalam kota, 80 km per jam.
    Tak terlalu sulit untuk mencari hotel yang telah kami booking beberapa hari sebelumnya via internet. Kami segera memarkirkan mobil di garasi, pintu kubuka dan kurasai desir angin dan suhu dingin yang selama ini begitu identik dengan Canberra menampar pipi dan leher serta anggota tubuhku lainnya yang tak tertutup pakaian tebalku.
    Selamat datang di Canberra, ibukota negara yang sejatinya belum pernah benar-benar merdeka ini…
    Bersambung …
    (Credit photo by Wijaya Trio, kecuali yang atas, taken by me)

  • Vakansi ke Canberra: Why Canberra? (1)

    Vakansi ke Canberra: Why Canberra? (1)

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Kalau Amerika Serikat memilih Washington DC sebagai ibukota dan bukannya New York, maka demikian pula dengan Australia yang pada akhirnya menetapkan Canberra sebagai ibukota negara sejak 1908 dan melupakan Sydney yang konon pernah bertikai dengan Melbourne tentang sebuah ambisi untuk menjadikan diri mereka sebagai ibukota.
    Jumat-Sabtu dan Minggu (10 – 12 Juni 2011) lalu, aku, istri dan anak beserta sejumlah sahabat pergi berwisata keluar kota Sydney, ke Canberra tepatnya. ‘Orang-orang sini’, ketika kuberitahu bahwa aku hendak berlibur ke Canberra banyak yang mengerutkan jidat dan bertanya, “Canberra? For holiday? Why?”
    Canberra bagi sebagian orang memang bukan tujuan wisata yang menarik terlebih untuk saat-saat musim dingin seperti ini.? Benar, ia memang ibukota Australia, tapi jangan pandang konsep ibukota di sini seperti di Indonesia. Canberra hanyalah sebuah kota kecil seluas 814 km2 yang terletak di lembah perbukitan yang suhu udaranya saat musim dingin begitu terkenal seantero Australia mampu menggigilkan tulang, siang hari rata-rata di bawah 10 derajat celcius dan malam hari rata-rata suhu antara 5 – 2 derajat di bawah nol menurut skala Celcius.

    DV, Joyce dan Odilia di depan National Convention Center

    Penduduk yang mendiaminya (biasa disebut sebagai “Canberran“) juga tak terlampau banyak hanya sekitar 358 ribu jiwa (hitungan per Maret 2011), bandingkan dengan Sydney yang per tahun 2010 telah dijejali 4.5 juta jiwa namun please jangan bandingkan dengan Jakarta yang telah digenangi lebih dari dua kali lipat penduduk Sydney.

    Dari kiri ke kanan: Ben (anak kecil yang lari di belakang itu) – DV menggendong Odilia – Joyce (istriku) – Irna – Darrell – Cucu di depan Pork Barrel Restaurant, Canberra

    Jadi jangan bayangkan di Canberra ada komplek pertokoan seukuran mall ataupun trafik kemacetan lalu lintas hingga ke taraf ‘Pamer Dada’ (Padat merayap tersenDat senDat!) atau ‘Pamer Paha’ (Padat merayap Tanpa Harapan!) seperti di Jakarta sana. Boro-boro macet, melihat jalanan lengang tanpa kendaraan dalam hitungan menit adalah satu hal yang biasa ditemui di sana. (Suatu saat waktu berada di jalan raya-nya, aku berujar pada istriku, “Wah Hon, kita nyebrang sambil merem barangkali nggak ketabrak juga ya di sini!”)
    Kalian yang mau tau Wijaya, temanku yang foto-fotonya kerap kupakai di blog ini? Pria di sebelah kiri itu adalah orangnya! Difoto dengan background landmark kota Canberra, Parlement House, beserta Irna (istrinya), Joyce, aku dan Odilia.

    Namun meski demikian toh tak ada satu hal pun yang kulakukan tanpa didatangkan oleh alasan kuat. Jadi, ketika teman-temanku mulai bertanya “Why Canberra”, sebenarnya aku telah menyiapkan banyak alasan tentang kenapa Canberra jadi tujuan berliburku bersama keluarga dan teman dekat kali ini.
    Seperti kebanyakan dari kalian, sebagai manusia normal, akupun memiliki sifat eksploratif, suka datang ke tempat yang belum pernah dikunjungi dan ingin melihat dan ‘mendapatkan’ sesuatu dari sana. Nah, sepanjang perjalanan hidupku di Australia, hingga sebelum akhir pekan lalu, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Canberra padahal jarak kota ini dari Sydney hanya sekitar 270km atau sekitar 3 jam perjalanan darat. Sebenarnya dulu, sebelum istriku hamil Odilia, aku pernah berencana untuk pergi ke sana pada Oktober 2009, namun kenyataan berbicara lain… istriku hamil muda dan tak memungkinkan bagiku untuk membawanya berlibur ke sana.
    Alasan keduaku, barangkali ini agak klise, tapi aku ingin merasakan bagaimana situasi dan kondisi kota dengan hawa terdingin di Australia itu adanya. Barangkali naluri orang tropis, setiap suhu turun derajatnya, perasaan malah makin girang karena ingin tahu ‘bakal sedingin apa…’
    Ketiga, aku juga ingin melihat bagaimana pemerintah Australia mengimplementasikan pemisahan tata kota antara ibukota (capital city) dengan kota industri seperti Sydney dan Melbourne. Tentu akan sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia dimana konsep ibukota dan kota industri pada akhirnya bersentuhan di Jakarta.
    Keempat, meski kota kecil, namun sejatinya Canberra menyimpan begitu banyak obyek wisata museum dan tempat-tempat bersejarah yang menarik untuk dicermati.
    Kelima… Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Hehehe…
    So, nyamankan posisi duduk kalian dan persiapkan kudapan lezat sembari membaca tulisan-tulisanku tentang Canberra dalam beberapa hari ke depan…
    Bersambung…
    (Credit photo by Wijaya Trio, kecuali yang paling bawah, taken by Cucu)