Kategori: Tyas

  • Tyas (7 – habis)

    Tyas (7 – habis)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Ada beberapa penggalan percakapan yang akan selalu kuingat antara aku dengan Ayok, adik angkatanku saat kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana yang lantas menjadi adik iparku.

    Pertama adalah saat Papa meninggal, 7 April 2011 silam. Waktu itu, konon Ayok belum resmi berpacaran dengan Chitra tapi ia sudah begitu banyak membantu dalam prosesi pemakaman Papaku.

    Ayok adalah orang yang menggantikanku untuk membopong jasad Papa saat akan dimandikan. Aku menyatakan keberatanku waktu itu karena takut aku tak kuat menanggung pedih. Aku memilih untuk menyiram jasad Papa dengan air saja.

    Setelah usai memandikan, karena aku masih tak terlalu ?ngeh? siapa Ayok, aku memanggil Chitra dan bertanya, ?Chit, siapa yang kamu tunjuk buat ngatur prosesi perkabungan Papa ini??

    Ia menunjuk Ayok. Aku bersalaman dan ia berkata, ?Saya Ayok, Mas. Temannya Chitra!??

    Saat kedua adalah ketika aku memberikan pesan-pesan wejangan kepadanya semalam sebelum ia menikahi adikku, Juli 2012 silam. Sebagai wakil almarhum Papa, malam itu di lobby Novotel Hotel Jogja tempatku menginap, aku menyampaikan banyak pesan kepadanya yang tentu tak etis jika kusiarkan di sini.

    Ketiga terjadi tahun lalu, saat aku sedang mudik untuk bertemu Mama.?Ada banyak hal yang kuurus dengannya terkait beberapa surat administrasi baik untuk mengurus kartu BPJS maupun hilangnya KTP Mama.?Setelah keliling kesana-kemari, aku dan Ayok mampir makan siang di sebuah warung makan tak jauh dari Stasiun Kereta Api Klaten.

    Sembari makan, kami ngobrol ngalor-ngidul.

    ?Mas??
    ?Ya??

    ?Kamu kok bisa kuat banget tho??

    Aku terkesiap. ?Kuat??
    ?Yup! Aku lihat dari kemarin kamu tatag (tabah -jawa) menghadapi semua ini padahal Mama kan sedang sakit keras.?

    Aku tersenyum, mencari sela lalu menjawab. ?Aku pasrah, Yok!?
    Ia diam.

    ?Aku mau tatag atau nggak tatag, itu gak mengubah kondisi Mama, kan??

    Ia masih terdiam.

    ?Yok. Aku cuma mau pesan satu hal? Kalau Mama meninggal dan aku nggak bisa pulang, aku cuma mau dua hal. Jika ia meninggal di rumah kontrakan, segera sewa rumah perkabungan di Semangkak, Klaten.. Di kapelnya itu. Lalu rawatlah jasadnya sebaik mungkin lalu dimakamkan secepatnya.

    Jika ia meninggal saat kalian sudah kembali ke rumah Tegal Blateran, rawatlah jasadnya lalu makamkan sebaik-baiknya, secepat-cepatnya??

    ***

    Tyas
    Mama dan Papa, 1979

    Malam itu aku memutuskan untuk pulang ke Klaten bersama Joyce dan anak-anak pada hari Rabu, 9 Maret 2016. Mama mertuaku akan ikut serta, kami berencana bertemu di Jakarta pada Rabu pagi.

    Aku segera menginformasikan hal itu kepada Chitra melalui grup WA.

    Sesaat sebelum Joyce memutuskan untuk membeli tiket melalui website, aku memintanya untuk menunda sebentar. Aku berpikir aku harus bertanya pada Chitra apakah ia setuju dengan ideku untuk memakamkan Mama pada hari Kamis karena perhitungannya aku akan tiba di Klaten hari Rabu sore.

    ?Waduh, nggak bisa, Mas!?
    ?Kenapa??
    ?Repot! Siapa yang akan jagain? Kasihan Mama!?

    Lalu ada serangkaian diskusi dan perdebatan yang terjadi tak hanya antara aku dan Chitra tapi juga dengan beberapa lingkaran persaudaraan dalam memutuskan hal ini.

    Semua akhirnya dikembalikan kepadaku sebagai anak tertua Mama.

    Aku berada di persimpangan.

    Tapi akhirnya ada dua hal yang kuingat sebelum aku berkeputusan.

    Pertama adalah percakapan yang kutulis di atas antara aku dengan Ayok, dan yang kedua adalah aku mengingat pribadi Mama.

    Mama selama hidup bukanlah orang yang suka berkonfrontasi. Ia selalu mengajukan perdamaian di atas segalanya.

    Aku membayangkan, jika aku memaksakan kehendakku untuk memakamkan jenasah Mama hari kamis, bisa jadi hal itu akan terlaksana. Tapi aku tak mau di waktu ke depan hubunganku dengan Chitra, adikku dan saudara kandungku satu-satunya terdapat ganjalan yang tak seharusnya ada.

    Aku berkeputusan.
    ?Kita nggak usah pulang, Hon!? Joyce kaget.

    ?Kenapa??
    ?Aku ikhlas Mama dimakamkan besok pagi dan kalau dia dimakamkan besok, untuk apa kita pulang? Lebih baik kita kirim doa, aku pulang nanti bulan Juni atau Juli, pada peringatan 100 harinya.?

    Aku segera menginformasikan ini ke grup percakapan dan persoalan ini pun berlalu sudah?

    Chitra dan Ayok terus mengupdate situasi terkini di rumah.

    Sementara itu, ucapan belasungkawa mengalir deras dari social media hingga ke whatsapp. Banyak yang tak bisa kutanggapi saat itu.

    Kawan-kawan seangkatan di SMA Kolese De Britto sigap menjalin komunikasi untuk mengatur siapa yang akan melayat malam itu dan siapa yang akan hadir pada keesokan harinya karena Mama direncanakan akan dimakamkan pada tanggal 8 Maret 2016 pukul dua siang.

    Malam itu pikiranku begitu runyam. Aku tak sanggup untuk menangis meski batinku tunduk dalam duka. Aku tidur memeluk anak-anak dan istriku, sumber kekuatan yang diberikan Tuhan kepadaku?

    ***

    tyas
    Karangan bunga dari Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta
    tyas
    Karangan bunga dari komunitas bisnis De Britto (DBBC – De britto Business Community)
    tyas
    Karangan bunga dan teman-teman angkatan 96, SMA Kolese De Britto yang datang melayat
    tyas
    Karangan bunga dari Citraweb Nusa Infomedia
    tyas
    Karangan bunga dari kantor

    Keesokan harinya aku tak pergi bekerja. Atasan memberiku cuti untuk menuntasi minggu itu dan aku menurut saja.

    Ketika membangunkan anak-anak dan mempersiapkannya, sesaat setelah memberitahukan kepada Odi dan Elo bahwa Uti Tyas sudah tiada, aku baru merasakan resapan duka itu.

    Saat aku sedang mendudukkan Odi dan Elo bergantian di toilet, tiba-tiba aku teringat dulu waktu kecil pun Mama melakukan hal yang sama terhadapku, mendudukkanku ke atas toilet dan menungguiku.

    Aku menangis sejadi-jadinya meski tak sampai lima menit. Perasaanku sedikit melega karena duka terlampiaskan dalam wujud air mata.

    Aku menelpon Chitra.
    Suaranya masih berat, terisak.

    tyas
    Lelayu

    ?Semua OK?? Tanyaku.
    ?Iya. Cuma Geo yang rewel dari semalam…mungkin kurang tidur, mungkin kangen dengan Uti-nya?, ia mengambil nafas dalam-dalam.

    ?Mama cantik??
    ?Cantik banget, Mas!? Suara Chitra berubah sedikit meriah.

    ?Sama sekali nggak kelihatan sakitnya. Padahal kan sebelum meninggal, wajah Mama kan jatuh lebih berat sebelah..?

    ?Iya??
    ?Tapi ini dia cantik sekali!?

    ?Oh.. siapa yang merias?? ?Aku bertanya demikian karena saat masih sehat dulu Mamaku adalah seorang perias wajah jenasah di kampung.

    ?Nah itu yang aku mau tanyakan ke kamu!?
    ?Oh??

    ?Aku nggak kenal. Orangnya tinggi, masih muda, cantik, rambutnya ikal.?
    ?Trus??

    ?Pakai kaos Citranet!?

    Aku kaget sejadi-jadinya. ?Kaos Citranet? Siapa ya???Ia lantas mengirimkan foto orang yang dimaksud.

    Aku semakin kaget. ?Lho, ini si Ivo, adiknya Iwan dan sebelahnya itu Tante Mi?Ing, mamanya Iwan!?

    Iwan yang kumaksud adalah Iwan Santoso.
    Sahabatku yang meninggal mendadak pada 10 Mei 2015 silam yang kepadanya aku sangat kehilangan. Iwan adalah sahabat sejak kecil, rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku dan sejak tahun 2000 hingga 2008, kami bersama-sama membangun perusahaan yang salah satunya adalah Citranet di Jogja. (Simak tulisanku di sini yang kutayangkan untuk mengenang kepergiannya, tis76)

    Waktu aku datang untuk menjenguk Mama pada Maret 2015 silam, intensitasku bertemu dengan Iwan cukup tinggi. Tak kusangka itulah saat terakhirku bertemu dengannya karena dua bulan kemudian ia terkena serangan jantung lalu meninggal.

    Aku ingat waktu kecil dulu, saat kami duduk di bangku TK Maria Assumpta Klaten, pada suatu siang aku terjatuh dan jidatku membentur sudut tembok dan robek berdarah. Tante Mi?Ing lah yang mengantarkanku pulang. Ia mendudukkan Iwan di depan dan aku diboncengkannya di belakang.

    Alangkah uniknya hidup ini!
    Setahun silam aku datang untuk menjenguk Mama, ternyata aku juga diberi kesempatan Tuhan untuk bertemu terakhir kalinya dengan sahabatku itu. Dan kini, Mamaku dipanggil Tuhan, Tante Mi?Ing dan Ivo, adiknya Iwan, yang merias wajah Mamaku untuk yang terakhir kalinya!

    Dan ini bukanlah satu-satunya.Kawan-kawan dari De Britto adalah salah lainnya.
    Komunikasi yang sangat intens yang terjalin antara aku dengan mereka setahun terakhir sejak aku dipilih menjadi panitia Pemilihan Presiden Paguyuban Alumni De Britto membuat hubungan kami hangat.

    Aku tak bisa membayangkan, jika hubunganku tak baik dengan mereka, siapa yang waktu itu mau dan sudi membuatkan dan mengantar kue tart ulang tahun untuk Mama? (Simak tulisanku di sini tentang bagaimana Kunto dan Teddy serta Made mempersiapkan ‘pesta’ ulang tahun Mama yang terakhir)

    Teman-teman Citraweb juga serta merta langsung mengulurkan tangan untuk membantu sekiranya ada yang bisa dibantu.

    Sobat-sobat dari Maria Assumpta juga demikian dan ini sejatinya lebih unik lagi.?Kalian bisa membaca keterlibatanku pada almamater yang sebenarnya hanya kudiami setahun saat pendidikan TK dulu di tulisan ini.

    Tapi keterlibatan itu seolah justru jadi simbol yang menguatkan persahabatanku dengan Iwan Santoso; orang yang semula akan kuajak untuk bersama-sama membangun situs Maria Assumpta.

    Hanya itu? Tidak!
    Bantuan Mas Markus yang mendatangkan pastor untuk memberikan sakramen minyak suci yang terakhir kepada Mama sehari sebelum Mama meninggal juga kukenal dari interaksiku dengan orang-orang Maria Assumpta.

    Semua adalah rajutan yang indah.
    Tuhan benar-benar telah mempersiapkan hari itu. Hari dimana Mama berpulang sekaligus hari dimana Tuhan sendiri menampakkan kasihNya melalui perantaraan orang-orang terdekat maupun orang-orang yang semula kupikir tak pernah mendekat.

    Sekitar pukul dua siang waktu Indonesia Barat.
    Mama dimakamkan di Pemakaman Semangkak Klaten, satu kompleks pemakaman dengan Papa dan almarhum Eyang Kakung, ayahnya.

    Aku memandang nanar foto-foto yang dikirimkan.
    Pada saat yang bersamaan, aku memimpin doa bersama Odilia, Elodia dan Joyce untuk menghantar jasad Mama ke tanah dan demi damainya jiwa yang bersemayam ke Rumah Bapa.

    tyas
    Makam Mama

    Usai sudah perhelatan hidup seorang Veronika Dyah Rahayu Wirjaningtyas atau yang biasa disapa sebagai Tyas.

    Hidupnya tak lepas dari salah dan lupa, lemah dan alpa. Tapi Tuhanlah yang lantas menggenapi semuanya itu dengan rahmat karuniaNya yang tak terhingga.

    Aku telah dipersiapkan untuk menjadi kuat menghadapi dan menuliskan ini semua. Kekuatan ini berasal dari Allah semata, tapi didaraskannya melalui Papa dan Mamaku yang merawatku dulu dan kini saatnya untukku merawat setiap kenangan yang pernah muncul terhadap dirinya, diri seorang Tyas.

    Selamat beristirahat dalam kekal, Ma.
    Pada saatnya nanti, saat semua tugasku di dunia selesai kutuntasi, kita semua akan bersatu dalam haribaan Bapa yang maha menyenangkan, maha melegakan dan maha kekal… (tamat)

  • Tyas (6)

    Tyas (6)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Senin pagi, 7 Maret 2016.
    Tidurku semalam tak nyenyak, pikiran kalut menebak-nebak apa yang akan terjadi pada Mama. Mereka-reka banyak kemungkinan dalam pikiran sendiri, ?Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu??

    Aku segera menelpon Chitra pagi itu.

    ?Mama akan kita bawa ke PMI mengikuti jalur BPJS, Mas!? tuturnya.
    ?Sip! Kabari aku update-nya ya!?

    Sekitar pukul 12 siang waktu Sydney, Chitra mengabari bahwa Mama sudah dibawa Ayok ke PMI dan oleh PMI ia dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik, Rumah Sakit Islam Klaten.

    ?Mama masuk ke ICU!? Kabar Chitra.

    Perasaanku makin tak tenang sementara aku terus bekerja dan pikiranku berpilin-pilin satu sama lainnya.

    ?Saatnya kita bilang ke saudara-saudar, Chit??
    ?Iya, tapi kamu aja ya, Mas!?

    Keluarga besar Eyang membentuk sebuah grup percakapan di Whatsapp sejak beberapa tahun silam. Saat itu juga kabar yang tak terlalu menyenangkan itu kurilis ke sana.

    Sekitar dua jam kemudian, Ayok mengabarkan tekanan darah Mama menurun, 102/60 dan saat itu sudah dibantu respirator untuk bernafas.

    Pikiranku makin kalut. Pengalaman mendengar bagaimana seorang pengidap kanker menuntasi hidupnya, salah satu tandanya adalah tekanan darah yang semakin menurun.

    Kerja makin tak fokus.
    Setiap saat ringer handphone berbunyi, setiap itu pula dadaku berdesir kencang menantikan kabar terbaru Mama.

    Sekitar pukul tiga sore Waktu Sydney, Ayok kembali melaporkan tekanan darah Mama semakin menurun, 100/70.

    Aku belingsatan. Kuraih rosario dari saku tas, aku beringsut dari meja kerja, menyepi dan menepi mendasarkan doa.

    Di titik hening dalam doa, aku berusaha untuk sadar dan memahami bahwa barangkali ini adalah saat-saat terakhir Mama dan aku ingin untaian doa itu menyertainya berjuang sebisanya, semampunya.

    Sepulangku ke rumah, matahari nyaris lindap di ufuk barat, aku segera bicara dengan Joyce.

    ?Sepertinya aku harus pulang!?
    Joyce meng-iya-kan. Tapi justru ijin yang diberikannya itu membuatku berpikir, jika aku pulang, Joyce hanya berdua dengan anak-anak. Apakah aku tega untuk meninggalkannya?

    ?It?s OK. Kamu pulang sendiri. Aku bisa handle anak-anak?.?

    Aku tak memutuskan.
    Sekitar pukul sembilan malam waktu Sydney, di tengah rasa kalutku aku mengajak anak-anak tidur.

    Sebelum tidur, Odilia dan Elodia merengek minta telepon Mama, Eyang putri mereka. ?We pray for her!? Aku tak punya jawaban yang lebih panjang daripada itu.

    Selepas berdoa. Aku dan Joyce segera turun ke bawah untuk mendiskusikan rencana lebih detail lagi.

    ?Apa tak mungkin kita pulang bareng-bareng? Aku pengen kamu dan anak-anak bertemu Mama??

    Kami berdiskusi. Berpikir. Berdiskusi.

    Sekitar jam setengah sepuluh waktu Sydney, Mas Momok (Om Hendratmo, adik Mama) mengirim video yang menggambarkan kondisi Mama di grup percakapan WA.

    Aku bergetar melihatnya.
    Ia berbaring dengan posisi baring sekitar 30 derajat. Mulut terpasang selang, hidung pun demikian lengkap dengan peralatan medis di sisinya. Matanya terkatup setengah dan nafasnya tampak sangat tersengal, nafas yang untuk keluar masuk perlu diperjuangkan betul-betul.

    She?s dying? pikirku.
    ?Kita semua pulang minggu depan! Aku dan anak-anak ikut!? Joyce memutuskan.

    ?Nggak bisa besok?? tanyaku.

    Joyce menggeleng?
    ?Kita perlu ke sekolahnya Odilia untuk meminta ijin dan ngurus ini itu selama kita pergi. Kayaknya nggak mungkin kalau besok!? Jawabnya.

    ?Bagaimana kalau aku saja yang pulang besok?… Aku takut kalau nggak sampai minggu depan Mama sudah ngga ada…?

    Sesaat setelah Joyce meng-iya-kan rencanaku.

    Setelahnya kami menerima kabar besar itu.?Adalah Joyce yang pertama membaca kabar itu terlebih dahulu.

    Ia berteriak keras, ?Oh my God!?

    Sementara aku hanya bisa diam.
    Aku merasa tak perlu membaca pesan karena teriakannya telah mengisyaratkan bahwa hal yang kutakutkan telah terjadi saat itu juga: Mama meninggal dunia.

    Tyas
    Pesan yang dikirimkan Mas Momok (Om Hendratmo), adik Mama di grup percakapan WA…

    Rasaku bagai layang-layang tanpa benang. Angin yang sepoi perlahan membuatku melayang tanpa arah, tanpa tujuan tapi terjatuh…

    Pelukan Joyce lah yang menguatkan dan menghindarkanku dari kejatuhan.?Ucapan belasungkawa yang berdatangan melalui social media dan whatsapp meneguhkanku.

    Sejak saat itu. Aku menjadi seorang anak yatim piatu.

    Aku tak bisa menangis meski suaraku melirih.?Aku tak gontai, meski ketika mencoba berdiri, persendianku rasanya seperti mesin tak pernah diminyaki.

    …bersambung

  • Tyas (5)

    Tyas (5)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Salah satu keuntungan menjadi penduduk di negara bagian New South Wales, Australia adalah, setiap akhir pekan, kami hanya perlu membayar $2.5 sekali saja untuk bisa mengakses semua moda transportasi publik yang disediakan pemerintah.

    Jadi misalnya kita nggak ada kerjaan dan ingin menghabiskan waktu sehari-harian di jalan entah itu di atas kereta, bis maupun ferry, kita hanya perlu bayar $2.5 saja!

    Meski jarang, tapi pagi itu, Minggu, 6 Maret 2016, aku, Joyce dan anak-anak memutuskan untuk jalan-jalan ke kota menggunakan publik transport, kereta.

    Joyce ingin mengajakku makan ke sebuah restaurant masakan Indonesia yang konon katanya rasanya seperti warteg-warteg di Jakarta sekalian juga karena anak-anak sangat senang naik kereta mungkin karena mereka bosan duduk di dalam mobil setiap harinya.

    Usai makan, kami berpikir untuk pergi ke gereja yang letaknya juga tak jauh dari restaurant.

    Kami ikut perayaan ekaristi jam 3 sore dengan harapan satu jam kemudian sudah selesai, kami buru-buru bisa langsung pulang untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang anak-anak keesokan harinya lalu mengajak mereka beristirahat malam cepat-cepat karena hari itu hari minggu dan mereka pasti ingin menelpon Mama, Uti Tyas.

    Ketika sedang berjalan menuju ke pemberhentian light rail train di dekat Paddy?s Market, gawaiku bergetar dan ketika kuangkat, aku mendapatkan pesan dari Ayok seperti ku-captured di bawah ini:

    Tyas (5)
    Isi pesan Ayok

    ?Mama nge-drop!? Ujarku pada Joyce.

    ?Oh??
    ?Dahaknya berdarah, batuknya lebih sering dari biasanya?.?

    Aku menerawang.
    Sudah cukup lama tak menerima kabar seburuk itu, sudah mulai terlatih untuk berharap pada harapan, dan sore itu aku harus menerima kenyataan; seperti memeluk dan bersandar pada sebatang nyiur tapi kemudian ia rubuh dan aku terjerembab jatuh!

    Semenjak memutuskan untuk tidak merawat mama menggunakan cara medis formal/ ?western?, aku dan Chitra memilih untuk membebaskan Mama memilih caranya sendiri untuk merawat sakitnya.

    ?Mama wes mantep karo Koh **** (maaf aku tak bisa sebut namanya), Le!? Demikian ujarnya suatu waktu saat kutanya kepada siapa ia ingin berobat. Nama yang disebut adalah seorang ahli obat China yang tinggal di Klaten sana dan Mama sudah sering berobat kepadanya bahkan semenjak almarhum Papa masih ada.

    Suatu waktu tak jauh dari sekarang, ahli obat itu memberi Mama bubuk kunir yang harus diminum dengan takaran yang sudah ditentukan. Katanya supaya dahak Mama bisa dikeluarkan dan ia bernafas dengan lega.

    Tapi alih-alih membaik, Mama justru mendapatkan dampak buruk dari bubuk kunir itu, batuk kian menjadi dan seperti yang kutulis di atas, dahaknya berdarah.

    ?Sejak Jumat Mama batuknya memang sudah parah!? Papar Chitra ketika kuhubungi Minggu sore?itu.

    ?Mungkin karena capek batuk, nafasnya sekarang jadi pendek-pendek dan ada darah di dahaknya.?

    Dari jauh kudengar lewat sambungan telepon sore itu, suara mama yang terbatuk-batuk.??Aku bisa bicara dengan Mama?? Tanyaku.

    ?Jangan, dia masih belum terlalu stabil nafasnya takutnya malah bikin dia tambah capek. Coba nanti malam, ini dia mau tidur dulu!?

    Perasaanku galau.
    Meski Chitra meyakinkan kalau kondisi Mama pasti membaik, tapi karena aku tak pernah percaya lagi pada orang yang mencoba bicara masa depan apapun, aku hanya bisa meng-amin-i saja kata-katanya.

    ?Kamu mau pulang??
    Tanya Joyce memecah lamunanku saat itu kereta sudah mendekat ke arah stasiun dekat rumah. Ia membaca pikiranku, kebimbanganku.

    ?Uhmmmm, mungkin belum..? Jawabku singkat.

    Tiba-tiba aku berpikir untuk mengundang pastor ke rumah memberikan sakramen minyak suci bagi Mama.

    Dalam Tradisi Katolik, Sakramen Minyak Suci diperlukan untuk orang-orang yang sakit. Bukan sakramen yang dimaksudkan sebagai tanda bahwa seseorang sudah akan meninggal, tapi lebih pada tanda yang diperlukan untuk membebaskan seseorang dari dosa dan memberikan penguatan sehingga apapun yang terjadi, si sakit telah kuat dan bebas dari dosa.

    Tapi siapa yang akan kuundang?
    Hari itu hari Minggu. Para pastor pasti sibuk dengan perayaan-perayaan di gereja masing-masing. Meminta tolong Chitra tentu juga tidak tepat karena ia sibuk dengan anak dan mengawasi Mama juga.

    Aku langsung ingat kawan yang sebenarnya baru kukenal sejak setahun lalu. Dia seorang pengurus alumni Maria Assumpta Klaten. Bersamanya aku bekerja untuk membangun situs web yang kurilis beberapa bulan silam. Mas Ari Markus namanya.

    Ia berdomisili di Semarang tapi setiap akhir pekan pulang ke Klaten karena keluarganya ada di sana. Jarak rumahnya juga tak terlalu jauh dari rumahku.

    Segera kukirim pesan kepadanya meminta bantuan untuk memanggilkan pastor atau prodiakon untuk mendoakan Mama dan kalau bisa memberikan Sakramen Minyak Suci.

    Ia menanggapi permintaanku dan menjanjikan, ?Secepatnya!?

    Aku segera menghubungi Chitra.??Enaknya kapan sakramen diadakan, Mas?? Tanya Chitra kepadaku.

    ?Secepetnya!? Aku mengulang pesan yang juga kusampaikan ke Mas Ari Markus.

    Akhirnya penerimaan sakramen Minyak Suci pun berhasil dilakukan terhadap Mama malam itu. Mas Markus beserta adiknya datang pula dengan orang-orang di sekitar rumahku. Pastor paroki Maria Assumpta lah yang memberikan sakramen itu.

    Tyas (5)
    Suasana penerimaan Sakramen Minyak Suci. Mama terbaring. Foto oleh Mas Ari Markus

    Malam setelah penerimaan sakramen itu, aku menelpon Chitra.

    ?Gimana tadi??
    ?Baik, Mas! Tapi aku serem sendiri..?

    ?Kenapa??
    ?Waktu kita sedang berdoa, aku merasa ada bayangan putih terang sekali masuk ke kamar trus masuk ke kasurnya Mama?Semoga tidak terjadi apa-apa ya…?

    Aku diam.
    Aku bukan orang yang tak bisa tak percaya terhadap hal-hal seperti itu. Mendengar cerita Chitra, aku hanya bisa pasrah, karena selain itu apalagi yang bisa kulakukan?

    ?Tapi Mama sudah tenang sekarang? nafasnya sudah membaik..? (Di saat yang hampir bersamaan, Mas Markus juga menyampaikan hal yang sama.)

    ?Aku boleh bicara dengannya?? Tanyaku pada Chitra.??Hmmm mendingan jangan dulu. Takutnya kalau ngomong sama kamu malah nafasnya tersengal-sengal lagi??

    Aku menurut meski untuk menuruti hal itu, aku telah kehilangan satu kesempatan terakhir sepanjang hidupku untuk berbicara dengan Mama.

    Ya sudah. Aku melanjutkan ?tugas?, menyiapkan Odilia dan Elodia tidur seperti biasa meski ada yang tak biasa karena aku kehabisan kata-kata ketika mereka minta untuk menelpon Uti Tyas, Mamaku, Eyang Putri mereka.??Uti Tyas udah bobo.. Besok pagi ya…Yuk kita doa saja buat Uti Tyas??

    Malam itu kulalui dengan penuh rasa was-was. Setiap saat aku tatap gawai menanti kabar yang sesungguhnya tak kunantikan. Sementara waktu bergulir terasa lama sekali, lambat benar.

    …bersambung

  • Tyas (4)

    Tyas (4)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Meski telah berencana untuk pulang pada akhir tahun bersama keluarga, awal Januari 2016 silam aku sempat mengajukan rencana kepada istriku untukku pulang sendiri akhir Februari untuk merayakan ulang tahun Mama yang ke-60.

    ?Kenapa??
    ?Nggak tahu, aku merasa harus pulang. Mama ulang tahun??

    Tidak ada penolakan dari Joyce dan aku sangat mensyukuri hal itu.

    Aku lantas mengabarkan hal itu kepada Chitra, adikku, dan kami malah berencana untuk sekalian memanfaatkan liburku itu pergi bersama-sama ke Blitar mengunjungi Eyang Slamet (Ibu dari alm. Papa) yang kabarnya sudah semakin menua dan menurun.

    Aku merasa perlu pulang karena aku melewatkan kesempatan hari ulang tahun Mama yang ke-59 tahun lalu.

    Aku juga mencoba realistis.
    Meski keadaan Mama membaik hari-demi-hari, aku selalu berpikir tak ada salahnya untuk datang ke hari ulang tahunnya tahun ini karena siapa tahu itu akan jadi kesempatan terakhirnya berulang tahun?

    Apalagi pengalaman banyak mendengar dari orang-orang yang kerabatnya menderita kanker, penurunan kesehatan bisa terjadi seperti orang membalikkan telapak tangan pada kalangan tersebut.

    Tapi rupanya aku tetap tak bisa pulang.
    Kondisi keuangan yang cukup ketat membuatku berpikir untuk meringkus balik rencana yang ada untuk digunakan saat akhir tahun ini saat aku dan keluargaku mengunjungi Mama.

    Menyesal?
    Hmmm, sedikit? tidak terlalu, lebih tepatnya. Semenjak tahun lalu saat aku akhirnya bisa bertemu Mama, aku selalu berpikir realistis dan tak berpengharapan yang terlalu bombastis tentang apapun, tentang siapapun.

    Aku segera bangkit dan justru berbalik ingin memberikan pengalaman yang unik kepada Mamaku yang akan berulang tahun ke-60 meski aku tak datang di sisinya.

    Lalu munculah ide spontan itu.
    Seperti kutulis di tulisan ini, aku meminta tolong kawan-kawan se-angkatan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta untuk merealisasikan mimpiku, mengirimkan kue ulang tahun kepada Mama lalu mengajaknya berdoa untuk bersyukur atas tambahan usia yang diberikan.

    Adalah Made Arya atau yang biasa dulu kupanggil ?Mamad?, kawan tak sekelas, tapi cukup akrab. Ia mengajukan tangan untuk membantu merealisasikan mimpiku.

    ?Bojoku iso nggawe tart. Rego mengko diskon! (Istriku bisa bikin tart. Harga nanti kudiskon -jawa)? Tuturnya, Ia orang Bali tapi sudah sangat lama tinggal di Jogja jadi fasih berbahasa Jawa.

    Aku bersemangat.
    ?Tapi iso ngeterke tekan Klaten, Mad? (Tapi bisa diantar ke Klaten, Mad -jawa)? Jawabku.

    ?Beres! Beritahu saja alamatnya!?
    Tapi tak seberapa lama kemudian, teman akrabku, AA Kunto A yang biasa dipanggil ?coach writer? karena memang ia adalah seorang pelatih penulisan profesional menghubungiku,

    ?Kalau belum ada yang mau ngantar, aku bersedia ngantar ke rumahmu, Don! Sekalian sowan Mama!?

    Syukurku bukan kepalang!
    Tak berhenti di sini, kawanku lainnya yang sekarang jadi partner bisnisku di DOKUDOKU.ID, Teddy Wintoko bergerak menyambar tawaran, ?Aku melu! (Aku ikut! -jawa)?

    Teddy (kiri) dan Kunto, on the way ke Klaten....
    Teddy (kiri) dan Kunto, on the way ke Klaten….

     

    Di depan rumah
    Di depan rumah

     

    Benar-benar di depan rumah, tepatnya depan pintu rumah...
    Benar-benar di depan rumah, tepatnya depan pintu rumah…

     

    Ngobrol... Kunto, Teddy, Mama dan Eyang
    Ngobrol… Kunto, Teddy, Mama dan Eyang

     

    Ngobrol. Teddy - Mama - Eyang
    Ngobrol. Teddy – Mama – Eyang

     

    Selamat ulang tahun, Ma. Sing kuat, sing sabar, tapi sing paling penting... berbahagialah!
    Selamat ulang tahun, Ma. Sing kuat, sing sabar, tapi sing paling penting… berbahagialah!

    Jadilah Kunto dan Teddy, pada 25 Februari 2016 pagi menjemput kue tart di rumah Mamad lalu mengantarkannya ke Klaten.

    Mereka berdua berbincang tak hanya dengan Mama tapi juga bersama Eyang. Ngobrol banyak hal tentu tentang diriku, anaknya, cucunya, dan kawan baik mereka berdua, sahabat-sahabatku.

    Konon kata Kunto dan Teddy, banyak hal yang mereka tak tahu tentangku yang akhirnya diceritakan oleh Mamaku yang saat itu tampak segar dan bersemangat bercerita tentangku, anak lelakinya.

    Teddy juga sempat memberikan kartu nama DOKUDOKU.ID, sebuah usaha baru yang akan kurilis 1 April 2016 nanti kepada Mama.

    ?Bu, usaha ini nanti yang semoga bisa membantu Donny untuk sering pulang ke Tanah Air!? Tukas Teddy sambil mengalungkan kartu nama itu ke Mama.

    Di akhir perbincangan, sesuai yang kutitipkan pesan, Kunto memimpin doa.

    Kue yang dibawa Kuntho dan Teddy dipotong saat Chitra pulang dari kantor sore harinya. Chitra bercerita, Mama maunya potong kue setelah aku pulang kantor.
    Kue yang dibawa Kuntho dan Teddy dipotong saat Chitra pulang dari kantor sore harinya. Chitra bercerita, Mama maunya potong kue setelah aku pulang kantor.

    Malam harinya aku menelpon Mama bersama anak-anak yang siap untuk tidur dan Joyce, istriku.

    ?Selamat ulang tahun, Ma! Panjang umur dan yang penting bersyukur dan sehat!? Ujarku dengan latar belakang Odi serta Elo berteriak-teriak, ?Happy birthday, Uti Tyas!? Tak keruan.

    ?Nuwun, Le? Nuwun? Sampaikan terimakasihku ke Joyce, ke Mamamu (mama mertua) dan anak-anak? nuwun??

    Kami hanya mengobrol sekitar sepuluh menit saja karena Odilia dan Elodia sudah sangat mengantuk. Segera kusudahi percakapan itu.

    ?Ma, anak-anak wes ngantuk. Aku ngeloni mereka sik yo. Sesuk kutelpon meneh!?

    ?Iyo Le, ora popo. Pokokmen nuwun? nuwun banget untuk semuanya. Sampaikan terimakasihku ke Joyce, Mama dan anak-anak.. Nuwun??

    Aku segera menutup telepon malam itu. Tak ada yang aneh selain begitu banyak kata ?nuwun? yang ia sampaikan kepadaku dan dimintanya untuk disampaikan ke istri, mama mertua dan anak-anakku.

    Lama aku merenungkan hal ini hingga akhirnya 7 Maret 2016 silam, aku sadar ucapan terimakasih yang dibombardirkan Mama kepadaku waktu itu adalah ucapan pamit dan terimakasihnya kepadaku dan anak-anak, istri serta Mama mertuaku.

    25 Februari 2016 adalah hari ulang tahun Mamaku yang ke-60 sekaligus hari terakhirku mendengarkan suaranya dan berbincang dengannya.

    Pada hari Minggu, 6 Maret 2016, aku sempat berusaha menelponnya tapi oleh Chitra, adikku, aku tidak diperkenankan berbicara karena kondisi nafas Mama yang tersengal-sengal.

    Hingga kini, sekitar dua minggu setelah Mama pergi, Odilia serta Elodia masih sering memintaku untuk menelpon Mama. ?Telpon Uti Tyas, Papa!?

    Aku tersenyum dan berujar pada mereka, ?No, we don?t need to call her anymore. She is in heaven now and I dont think God allow her to have an iPhone up there! But we can pray, we can talk to her at anytime, from anywhere?.?

    ? bersambung

  • Tyas (3)

    Tyas (3)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Dulu aku suka minum alkohol dan yang paling tidak kusukai dari kebiasaan itu adalah rasa pening di kepala yang muncul keesokan harinya. Ngganjel/nggandhul istilah Jawanya, hangover, ?cara? Inggrisnya.

    Aku kembali ke Sydney setelah seminggu berada di Klaten, dan kepulanganku itu menyisakan rasa ngganjel/nggandhul alias hangover.

    Aku lega karena sudah bertemu Mama. Kelegaan yang mengalahkan kesedihan. Tapi sekaligus aku meninggalkan akhir cerita yang menggantung karena Mama sakit keras, dan aku menantikan dengan penuh cemas soal bagaimana kelanjutan sakitnya atau bagaimana ia akan menemui akhir hidupnya.

    Di dalam pesawat aku berhitung.
    Jika Mama meninggal dalam hitungan hari/minggu sejak kepulanganku, jelas aku tak bisa pulang.

    Jika ia meninggal dalam hitungan bulan sejak saat itu, aku sudah bisa menabung meski sedikit. Tapi jika ia bisa bertahan bertahun-tahun sesudahnya, aku bisa menabung lebih banyak lagi untuk pulang berlibur bersama anak-anak dan istri menengoknya!

    Tapi aku tak mau berharap terlalu banyak pada harapan dan mencoba menjalani hidup kembali seperti biasa.

    Lalu, sekitar dua hari sesudah kembali ke Sydney, Ayok mengirim kabar, ?Mas, ada kabar baik! Mama udah nggak mau pakai oksigen lagi katanya sudah enakan badannya!?

    Aku membalas datar, ?Puji Tuhan!?

    Aku mencoba menyikapinya dengan biasa karena tak terlalu ingin bersandar pada harapan yang belum jelas juntrungannya.

    Tapi hari demi hari, kondisi Mama memang benar-benar semakin membaik. Ia sudah bisa duduk, makannya banyak. Lain hari Chitra mengabarkan ia sudah bisa pakai kursi roda dan mulai bermain-main dengan keponakanku, Geo.

    Kekhawatirannya tentang dana pensiunan Papa pun menemui solusinya.?Tuhan mengirimkan salah satu kawan lamaku, Erika dengan cara yang sangat unik.

    Pada salah satu hari kunjunganku, aku pergi ke Jogja untuk sekadar ngopi dan bertemu kawan-kawan lama. Jarak Jogja ke Klaten tidaklah terlalu lama untuk ditempuh, sekitar 30 – 45 menit jalur darat.

    Tyas (3)
    Aku secara tak sengaja ketemu Erika, kawan lama yang akhirnya jadi salah satu kunci mulusnya persoalan dana pensiunan Papa yang diresahkan Mama.

    Tak kusangka saat sedang menunggu kawan datang, Erika muncul di pintu kedai kopi dan kamipun saling bertukar cerita.

    Ternyata ia bekerja di Bank BNI, tempat Papa dulu bekerja dan saat itu juga aku langsung bertanya apakah ia bisa membantu mengurus uang pensiunan Papa?

    Tentu masalahnya tak bisa langsung selesai di sana. Sepulangku ke Sydney, kami melanjutkan percakapan dan hanya beberapa hari berselang, urusan dana pensiun itupun tunai diselesaikan. Selain Erika, aku juga melibatkan kawan baikku waktu masih duduk di bangku SMP dulu, Ida yang sekarang bekerja di Bank BNI Kebumen, tempat Papa bekerja dulu. Juga Pak Riyadi, mantan anak buah Papa.

    Aku dan Chitra senang. Mama apalagi, bahagianya tiada kepalang!?Dari nada bicaranya setelah kukabarkan hal itu, aku bisa merasai bahwa memang hal itulah yang selama ini ia nanti-nantikan; menikmati uang pensiun peninggalan almarhum suaminya meski tak seberapa besarnya.

    Kehidupan seperti menemui hal-hal terbaik lainnya.?Rumah Tegal Blateran telah selesai direnovasi dan Mama serta Chitra sekeluarga kembali ke sana.

    Tyas (3)
    Rumah Tegal Blateran yang waktu aku datang Maret 2015 sedang dalam renovasi

    Jadwal menelpon dan video conference dengan Mama juga kuperbanyak.

    Odi dan Elo kujadwalkan setidaknya setiap minggu malam menelpon dan bercengkrama dengan Mama. Setiap aku mulai mengurus anak-anak untuk kupersiapkan waktu tidur, Elodia biasa memberi kode, ?Call Uti Tyas please!?

    Mama sangat menikmati masa-masa itu meski melalui media karena setidaknya medium itu seolah menghilangkan batas jarak yang lebih dari 5000km jauhnya.

    Meski beberapa kali aku sering mendapatkan feeling ?nggak enak? tentang Mama, tapi setiap kali itu pula, aku langsung menghubungi Chitra menanyakan apakah semuanya baik-baik saja.

    ?Mama ok-ok saja. Dia lagi enjoy rumah baru, nonton tv, main-main dengan Geo malah sekarang baru mau kuberi handphone lagi!?

    ?Oh ya??
    ?Yup! Malah Mama sekarang kalau ke kamar mandi sudah nggak mau diantar Mbak Tini (perawatnya). Maunya jalan meski rambatan (pegangan tembok)?

    Semuanya memang baik-baik saja. Seolah Tuhan memberikan keluangan waktu untukku dan keluargaku, Chitra dan keluarganya serta Eyangku untuk menemani Mama.

    Lalu pada suatu malam, aku mengajak rundingan istriku.??Apakah memungkinkan kalau akhir tahun ini kita pulang ke Indonesia? Aku ingin kamu dan anak-anak bertemu Mama, mumpung ia masih sehat?

    Joyce meng-iya-kan meski untuk itu kami harus menabung sejak sekarang.

    Aku lega. Harapanku untuk mempertemukan Mama dengan menantu dan cucu-cucunya akan kesampaian. Di titik itu, aku sekarang tahu aku terlalu bersandar pada harapan?karena sejatinya hal itu tidak pernah datang dan kesampaian…

    …bersambung

  • Tyas (2)

    Tyas (2)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Kepulanganku ke Klaten, 15 Maret 2015 membawa misi yang tak ringan. Aku akan bertemu Mama dan mungkin pertemuan itu akan menjadi yang terakhir kali.

    Adapun konsep ?akhir? menurutku adalah konsep yang sangat menyesakkan.?Sesuatu hal ketika sedang mengalami ?awal? pun sejatinya telah memiliki pasangan ?akhir? yang tertulis dalam suratan takdir.

    Hal itu membawaku ke dalam permenungan-permenungan terhadap segala hal yang pernah terjadi dalam hubunganku dengan Mama sejak aku dikandung hingga sekarang selama penerbangan yang membosankan dari Sydney ke Denpasar, Denpasar ke Jogja lalu dari Jogja melalui jalan darat ke Klaten hingga aku memeluk Mama, hingga aku mencium punggung tangannya.

    Wajah ayunya tampak sangat tirus. Tubuhnya pipih, tangan dan kakinya begitu keriput tapi sorot matanya adalah sorot mata tajam yang kata orang-orang menurun identik kepadaku, pada dua pasang mataku.

    Ia kaget ketika aku menyembul di pintu kamarnya. Kepulanganku memang tak dikabarkan kepadanya, takut ia malah jadi kepikiran.

    Wajahnya berubah menjadi emosional khas Mama, “Le…. mulih tho kowe? Kok gundul? Kok lemu?”

    Aku lantas meledeknya, “Tapi tambah ganteng, kan?”

    Ia mengusap kepalaku dan buru-buru kukeluarkan handphone lalu kami ber-wefie bersama seperti yang cukup sering kalian lihat di social media channel maupun di blog ini seperti tampak di bawah ini.

    Tyas (02)

    Kami sama-sama mengulas rindu meski dengan komunikasinya yang patah-patah karena gelombang batuk yang nyaris tak berkesudahan; menderu tak tertahankan berebut keluar dari tenggorokannya.

    Mendengarnya merintih membuatku teriris-iris.

    ?Piye, Ma rasane??
    ?Lemes wae, Le??

    Kami hanya saling tatap. Aku tak sampai hati untuk mengajaknya bicara terlalu lama. Jadilah aku lebih sering diam di sisinya. Tak banyak kata dan tak ingin memancingnya berkata-kata.

    Suatu sore, aku mengajak Chitra dan Ayok, suaminya, serta Geo, keponakanku yang baru berusia empat bulan waktu itu pergi keluar makan.

    Aku merasa perlu untuk berdiskusi tentang apa saja yang harus diantisipasi melihat kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di depan.

    ?Jadi kita nggak usah bawa Mama ke rumah sakit?? Tanya Chitra.??Uhmmm? kupikir lebih baik tidak usah. Kita rawat saja di rumah semampu kita yang penting dia tidak kesakitan? jawabku.

    Chitra dan Ayok setuju. Selain dari biaya yang tak ringan, kemungkinan Mama ?pergi? justru karena tak kuat menanggung sakit selama terapi adalah sesuatu yang besar.

    ?Pokoknya kamu buru-buru urus BPJS dan pensiunan, Chit!?
    Chitra mengangguk.

    ?Meski kita memilih untuk merawat di rumah, tapi kalau sampai keadaan memburuk, kita tinggal pake BPJS..? sambungku.

    ?Dan soal pensiunan, aku tahu itu tak mudah untuk diurus apalagi KTP Mama hilang. Tapi tolong diusahakan yang terbaik.. Jangan sampai Mama meninggal ketika pensiunan Papa belum terurus!?

    Ia mengangguk lagi.

    Suasana berubah jadi hening sementara ramai senja kota Klaten meruap ke permukaan. Aku tak pernah benar-benar bisa dekat dengan kota ini karena meski lahir di Klaten tapi sejak SD hingga aku pindah ke Australia, aku hanya mampir sekali seminggu ke Klaten. Tapi meski demikian, karena aku dikaruniai ingatan yang cukup tajam, tentang hal-hal yang kualami saat masih kecil hingga sekitar umur 7 tahunan, aku mengingatnya dengan jelas dan terang, termasuk yang kualami di Klaten ini.

    ?Ada yang mau diomongin lagi, Mas?? Chitra memecah heningku.??Ada. Tapi aku nggak tahu apakah kamu mau membicarakannya sekarang atau tidak??

    Chitra menunduk.
    Aku tahu ia mengerti arah pembicaraanku. Aku sempat pula tercekat untuk menghentikan bicara, tapi waktu terus berjalan dan ia tak pernah mau menawar-nawar dengan kita untuk sedikitpun mengurangi laju cepatnya.

    ?Ok, bagaimana kalau Mama nggak ada?? Aku memberanikan diri.?Ia diam, tertunduk. Menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.

    ?Kita harus berpikir tentang hal itu, Chit!? Ia diam seolah memberiku ruang untuk bicara.

    ?Jika Mama nggak ada saat kalian berada di rumah kontrakan ini, saranku kontaklah umat Katolik dan pengurus dari Tegal Blateran saja karena kita berasal dari sana bukan dari lingkungan ini.? Waktu itu, seperti kutulis kemarin, Chitra sekeluarga dan Mama diboyong ke rumah kontrakan menunggu rumah kami selesai direnovasi.

    Lalu makamkanlah secepatnya dan rawatnya jenasahnya sebaik mungkin.

    ?Mas, kalau Mama nggak ada, kamu nggak bisa datang??
    Gantian aku yang diam. Dari awal, sejak mendengar berita Mama sakit keras dan sejak memaklumi jarak dan terutama keadaan keuangan yang sedang ketat, aku memang sudah memikirkan hal yang terburuk yaitu apabila aku tak bisa kembali pulang ketika Mama berpulang untuk mengantar jenasahnya ke pemakaman.

    ?Hmmmm? mungkin nggak, tapi ya nggak tahu??

    ?Kamu kok bisa kuat begitu tho, Mas?? Kali ini giliran Ayok, suaminya yang bertanya.

    ?Hehehe? kuat bagaimana maksudmu??
    ?Kamu bisa menyampaikan ini semua dengan tegar? aku gak bisa bayangin kalau ada di posisimu??

    Giliran aku yang mengambil nafas dan membuangnya jauh-jauh. Seketika aku menyesal kenapa aku bisa tampak sedemikian tegar padahal sejatinya tidak.

    ?Yo piye yo? Ya inilah hidup! Aku belajar banyak dari kepergian Papa dan Papa mertuaku, ya kalau sudah waktunya tak ada satupun yang bisa menghentikan, toh??

    Malam itu kami lalui dengan gamang. Sepulang dari sana, aku mengendap-endap masuk kembali ke kamar Mama. Ia tertidur dan aku hanya bisa menatapnya dalam-dalam?.

    Aku mempersiapkan hari akhir kunjunganku ke Klaten dengan sangat serius. Aku membayangkan seorang narapidana mati yang hendak dieksekusi, barangkali demikian juga rasanya harus bertemu dengan orang yang secara nalar manusiawi sudah tak memungkinkan lagi untuk ditemui lagi pada kesempatan berikutnya.

    Sabtu, 21 Maret 2015. (Penggalan ini hingga kutipan dari Facebook di bawah adalah copy-paste dari tulisan lamaku, RISALAH AKHIR PEKAN XIII/2015)

    Setelah paginya pergi ke makam leluhur, Eyang buyut kakung dan putri, eyang kakung dan Papa, aku dan Ayok mampir sarapan makan soto. Dalam percakapan di situ, aku bilang ke adik iparku itu, ?Aku pengen pamitannya dengan Mama setelah ini intens tapi nggak lama.?

    ?Kenapa, Mas??
    ?Hmmm.. kalau kemarin kamu selalu tanya apa resepku bisa tegar menghadapi semua ini, nah kali ini? pagi ini, aku nggak tegar lagi!?

    ?Maksudmu??
    ?Aku sedih? Sedih banget karena secara manusiawi, aku tahu ini bisa jadi pertemuanku yang terakhir dengan Mama, meski aku tahu Tuhan punya rencana yang mungkin bisa tak sama dengan perkiraan dan pemikiranku!?

    ?Hmmm??
    ?Jadi nanti dibikin cepet aja. Siapkan mobilmu dan tungguin aku di situ. Aku akan masuk kamar sebentar, pamitan ke Mama lalu pergi??

    Lalu perpisahan itupun terjadi.
    Seperti yang pernah kutulis di Facebook, hal berikut di bawah ini sungguh-sungguh terjadi?

    ***

    Dua hari yang lalu aku kembali bertemu Dokter Pribadiku yang kuceritakan dalam Tyas (1) untuk memeriksakan anakku yang sedang kurang enak badan.

    Ia menepuk punggungku, ?Sorry to hear that, Don!?

    Aku mengangguk. ?Thanks, Dok. Tapi justru aku yang berterima kasih padamu!?

    ?Oh, kenapa??
    ?Karena saranmu waktu itu, aku pulang dan bertemu Mama untuk yang terakhir kalinya. Bayangkan kalau aku terus berkeras untuk tidak pulang, penyesalanku barangkali akan berlangsung panjang hingga masa tuaku, hingga seumur hidupku!?

    Ia manggut-manggut? ?Mamamu sekarang sudah tenang..??Aku terdiam? Saat itu yang kubayangkan adalah tatapan mata Mama yang kutinggalkan pagi itu, 21 Maret 2015. Tatapan mata yang pasrah yang hanya berharap pada Tuhan…

    Tyas (02)
    Gelas blirik yang kubeli saat aku pulang tahun lalu…

    ? bersambung

  • Tyas (1)

    Tyas (1)

    Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

    Aku memerlukan energi untuk bisa larut ke dalam duka ketika Joyce, istriku, mengabari bahwa Mama telah tiada.

    Ia menghampiriku di sofa dan memelukku erat.
    Aku tak menangis, hanya beku. Pikiranku kosong dan lidahku kelu meski dalam hitungan beberapa kejap aku telah meyakinkan diriku bahwa ini bukan mimpi, bahwa Mama memang telah pergi dipanggil Tuhan, Senin, 7 Maret 2016 jam 18:10 WIB.

    Aku sempat merasa betapa kurang ajarnya aku karena tak bisa larut dalam sedih dan duka saat itu. Padahal itu adalah Mamaku, Ibuku. Pada kandungannya dulu aku dititipkan berada sembilan bulan lebih di dalamnya!

    Inginku menangis sejadi-jadinya. Kubuat sebisa-bisanya, tapi tetap tak bisa! Mama telah pergi dan kepergiannya juga tidak dibuat-buat. Ia pergi untuk selamanya.

    Aku memang telah mempersiapkan hari itu, hari kepergian Mamaku, sejak setahun yang lalu. Tapi aku tetap tak yakin bagaimana mungkin aku bisa setegar itu…

    ***

    Akhir Februari 2015, kondisi Mama memburuk.
    Ia memang sudah sakit-sakitan semenjak Papa berpulang mendadak, 7 April 2011. Tapi seburuk-buruknya kondisi yang pernah didapatkannya dan dikabarkan Chitra kepadaku, saat itu adalah yang paling buruk.

    ?Mama itu kebanyakan mikir, Mas!? Ujar Chitra, adikku lewat sambungan telepon.

    ?Mikir apa?? tanyaku.
    ?Pensiunan-nya Papa??
    ?Oh kenapa??

    ?KTP-nya hilang jadi nggak bisa ambil uang??

    Keadaan waktu itu memang sedang ribet seribet-ribetnya.?Kondisi rumah Klaten yang tua membuat adikku berkeputusan untuk merenovasi. Untuk itu, Chitra dan keluarga serta Mama harus boyongan ke rumah kontrakan sekian bulan lamanya dan rupanya dari proses pindah-pindahan itu, KTP Mama lenyap entah kemana.

    ?Padahal harusnya Mama nggak perlu khawatir, toh aku dan kamu mencukupinya!? ujar Chitra.

    Tapi aku tahu Mama seperti halnya aku tahu diriku sendiri. Aku dan Mama bukan orang yang nyaman dan dengan mudah meletakkan tangan di bawah meminta pertolongan dari orang lain.?Bukan sombong, tapi mungkin gengsi. Jadi, ketika Mama tak punya pegangan utamanya, uang pensiunan Papa yang tak seberapa, aku bisa membayangkan bagaimana galau rasanya.

    ?Udah nggak doyan makan beberapa hari belakangan, padahal sudah ku tari (tawari –jawa) mau masak apa. Cuma geleng-geleng kepala…? tambah Chitra lagi.

    Adapun saat itu adalah saat yang sangat tak terlalu menguntungkan bagiku.?Pekerjaan sedang morat-marit, aku baru saja ditunjuk menjadi team leader untuk membenahi pekerjaan yang ditinggalkan begitu saja oleh pekerja-pekerja sebelumnya.

    Aku juga didapuk menjadi project leader untuk sebuah acara seminar keagamaan yang diadakan bulan Mei 2015.

    Dari sisi keuangan juga sedang ketat. Sangat ketat.

    Pada sebuah minggu siang sekitar satu pekan sebelum ulang tahun Mama yang ke-59, Ayok, suami Chitra mengabarkan kepadaku Mama harus dibawa ke rumah sakit.

    Pagi itu Ia tersedak makanan dan membuatnya tak bisa bernafas. Sesampainya di rumah sakit, Mama langsung ditempatkan di ICU dan diberi bantuan nafas dari respirator karena kadar oksigen ke otaknya sudah sangat jauh berkurang.

    Mama kritis. Aku panik. Chitra pun panik.
    Kepanikan kami adalah gabungan antara prihatin melihat kondisi Mama dan was-was menebak berapa biaya yang harus kami keluarkan untuk bayar.

    ?Tapi Mama sudah pake BPJS kan, Chit?? Tanyaku pada Chitra.

    ?Uhmmm? belum? belum sempat dibikinkan, Mas? Setelah aku melahirkan Geo akhir November kemarin aku lanjut sibuk pindahan rumah!? Jawab Chitra.

    Duh!
    Aku tak bisa memberikan jawaban sama sekali.
    ?Ya udah, pokoknya kita jalani dan Mama harus di CT Scan biar ketahuan penyebab sakitnya selama ini. Masalah duit, nanti kita cari utangan!? Aku juga menyarankan Chitra untuk memanggil pastor guna memberikan Sakramen Perminyakan bagi orang sakit. Chitra mengiyakan dan menjalankannya.

    Sehari kemudian, Chitra kembali mengirim kabar yang lebih pekat kadarnya ketimbang kabar-kabar sebelumnya.

    Ada tumor di otak Mama, juga ada massa yang ditengarai adalah tumor di paru-parunya!

    Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa.?Bayangan biaya dan kematian Mama yang mendekat berkelindan, berpilin-pilin…

    Aku memutuskan untuk tak berkeputusan siang itu. ?Jangan beritahukan hasil scan itu ke Mama biar dia nggak kepikiran!? Sesuatu yang lantas kami lakukan untuk tak memberitahukan penyakitnya hingga ia meninggal dunia.

    Kami mengadakan rapat keluarga melalui grup WA.?Sebelum akhirnya Ayok bertemu dengan tim dokter, aku mengajaknya bicara apakah tidak sebaiknya Mama dirawat di rumah saja?

    Mama pernah terserang stroke ringan pada 2012 awal, sekitar enam bulan setelah Papa meninggal. Bisa jadi, jika kita teruskan dengan terapi, Mama bisa sangat kesakitan dalam menjalani tahapan-tahapannya dan ini tentu tak akan menyenangkan.

    ?Supaya Mama bisa menjalani hari-hari akhir hidupnya di tengah keluarga, Yok!? Jawabku.

    Tim dokter pun ternyata menyarankan hal yang sama. Probabilitas kesembuhan kecil tapi effort yang dilakukan jika kami memaksa Mama untuk ikut terapi akan sangat besar. Setelah Mama membaik, Ayok dan Chitra memboyongnya pulang.

    Sekitar tiga hari sebelum Mama berulang tahun, aku menghadapi satu dilema besar.?Aku ingin pulang terutama untuk bersama-sama merayakan ulang tahun Mama ke-59 yang berdasarkan pemikiranku waktu itu bisa jadi akan jadi perayaan ulang tahunnya yang terakhir.

    Tapi seperti kutulis di atas, kondisi keuanganku tak memungkinkan.

    Sekali lagi, aku memutuskan untuk tak berkeputusan. Memendam rasa ingin dan mencoba menawarkan getirnya melalui tulisan yang kuunggah di blog ini saat itu yang kuberi judul,Selamat ulang tahun, Ma!

    Kondisi Mama terus memburuk. Tutur katanya banyak meracau; bentuk wajah serta parasnya berubah. Kata orang Jawa, dalam kondisi demikian, Mama benar-benar tinggal menunggu waktu.

    Tuhan tak tinggal diam. Ia membuka bersitan cahayaNya untuk memberiku harapan pulang.

    Adalah kawan-kawan di komunitas Persekutuan Doa Karismatik Katolik Epiphany. Mereka tak kusangka mengumpulkan donasi untuk membantu meringankan bebanku.

    Tapi aku tak langsung memutuskan untuk pulang meskipun donasi yang dikumpulkan lebih dari cukup.

    Aku justru dibawa ke dalam sebuah kebingungan, hendak mengirimkan seluruh uang itu ke Indonesia untuk menanggung biaya perawatan Mama atau menggunakannya untuk mengongkosiku pulang?

    Tuhan lagi-lagi memberiku petunjuk.
    Melalui dokter pribadi, aku mendapatkan jawaban terbaiknya.?Saat aku berkunjung ke tempat prakteknya karena waktu itu aku sedang tak enak badan, ia memberiku petunjuk.

    Saat memperlihatkan foto Mama kepadanya, ia berkata, ?Kayaknya kamu harus pulang meski sebentar!?

    ?Kenapa, Dok??
    ?Dari apa yang bisa kulihat sih dia kayaknya udah siap buat ?pergi? tapi dia pengen banget ketemu kamu!? Dokterku ini orang Indonesia berasal dari Jawa pula.

    Siang itu juga aku lantas mengabari Chitra. Aku berpikir untuk membagi dua uang sumbangan kawan-kawan dari PDKK Epiphany waktu itu. Separuh akan kuberikan ke Chitra untuk menutup biaya pengobatan dan pasca menginap di rumah sakit, separuhnya lagi, kucukup-cukupkan untuk pulang ke Klaten ditambah dengan bantuan dari Ibu mertuaku yang begitu memperhatikanku.

    Anak-anak dan istri kutinggalkan. Aku mengambil cuti pekerjaan seminggu lamanya…

    Setelah setahun peristiwa itu dan seminggu setelah kepergian Mama, aku memandang perjalanan waktu itu sebagai ziarah batin, sebagai satu bentuk ?tamasya? bagi jiwaku dan jiwa Mama serta Chitra sebagai satu kesatuan keluarga.

    15 Maret 2015 pagi-pagi buta, diantar Joyce ke stasiun Kereta Epping saat anak-anak masih lelap tertidur, aku memulai peziarahan singkat yang begitu bermakna itu?

    Tyas - 01

    … bersambung