Kategori: Tunggonono

Cerita tentang tunggonono, tokoh virtual yang kuhadirkan dengan semangat Jawa nan polos namun kritis terhadap situasi zaman.

  • Catatan tahun ke-41

    Catatan tahun ke-41

    Tunggonono datang!
    Derap langkah kakinya masih seperti dulu, tenang menghanyutkan. Ia datang sendirian tak bersama tunangannya tak pula anaknya. Ketika kutanya kenapa tak bersama mereka, alasan mantan penjaga malam kantor saat di Jogja dulu itu meneduhkanku, ?Aku ingin ngobrol denganmu saja di hari indahmu ini, Bos!? Lalu terciptalah obrolan di bawah ini?

    [Tunggonono] Udah tua kamu ya, Bos! Empat puluh satu tahun!

    [DV] Hehehe? iya?.

    Apa yang kamu rasakan dengan umur yang sudah sebegitu banyak ini?

    Apa ya? ya seperti yang kamu bilang tadi, menua! Aku menua! Sebulan lalu punggungku kumat, Nggon. Kamu ingat toh sakit punggungku yang dulu? Waktu aku masih di Jogja yang mulainya gara-gara aku salah angkat beban di gym? Yang malamnya lalu kamu pijit tapi paginya badanku malah demam dan gak bisa gerak sama sekali lalu aku pergi ke Panti Rapih? Ingat?

    Oh ya? ingat aku! Tahun? 2006 akhir, kan?

    Ya! Nah bulan lalu kumat lagi! Aku lalu pergi ke chiropractor langgananku. Dia bertanya kenapa bisa kumat lagi dan kujawab karena aku berlatih angkat beban di gym dan dia melarangku.

    Kok bisa?

    Dia melarang dan larangannya itu membuatku tercenung. Dia bilang bahwa untuk orang seusiaku aku nggak seharusnya melalukan latihan angkat beban, ?Secara fisik kamu menua? sudah bukan your prime time anymore?? Dan kata-katanya itu membuatku tercenung, Nggon!

    Tercenung? atau terpukul?

    Tercenung! Alangkah cepatnya waktu hidup! Ibarat grafik parabola, secara fisik aku sudah melewati masa puncak/prime time.

    Hahahah lha kok medeni gitu?

    Ya enggak menakutkan atau setidaknya aku mencoba untuk tetap berani hahahaha! Semua orang toh mengalami tinggal kamu mau sadar atau enggak, Nggon! Coba kutanya, berapa umurmu? Kutaksir umurmu juga sudah 36-an kan? Itu juga sudah bukan prime time, Nggon!

    Lahacia, Bos! Trus apa masih banyak hal yang ingin dikejar dalam hidupmu, Bos?

    Ya masih!  Lebih tepatnya bukan dikejar tapi dijalani, Nggon. Dua hal itu berbeda. Ngejar keinginan itu melelahkan, menjalani hidup dan menjumpai kebutuhan-kebutuhan yang lantas perlu dipenuhi itu menyenangkan.

    Kok bisa?

    Iya! Lahacia hahaha!
    Tapi intinya adalah bersyukur, Nggon! Tanpa rasa syukur, hidup ini seperti makan lauk tanpa nasi tanpa karbohidrat. Kamu akan lapar terus-menerus. Hidup juga demikian, perlu asupan rasa syukur supaya tak membuatmu jadi terus lapar, tamak dan bernafsu untuk mengejar sesuatu yang tak kan pernah terkejar!

    Kok tak kan pernah terkejar?

    Karena ketika kamu mimpi ingin mendapatkan sesuatu, mobil misalnya, mobil itu hanyalah wujud fisik dari target sementara nafsuku. Ketika mobil sudah didapat, nafsuku akan kembali bergolak untuk mengejar hal lain lagi begitu terus-menerus tiada henti!

    Termasuk ngeblog yang tiada henti, Bos? Apa yang kau kejar?

    Aku bersyukur karena ngeblog ini seperti sudah jadi passion yang begitu kuat dan menjadi salah satu bagian yang membentuk karakterku hingga kini.

    Karakter sebagai superblogger?

    Kalau kamu tanya dua tahun lalu aku akan dengan keukeuh mempromosikan diri sebagai superblogger dan orang-orang setuju karena memang aku super hahahah! Tapi sekarang beda, Nggon.

    Bedanya?

    Makin tua aku makin fokus pada prinsip bukan bunga-bunga. Superblogger atau megasuper atau apapun itu hanya bunga-bunga. Prinsip ngeblog itu kan berbagi sukur-sukur dipercayai jadi ya mau dibilang apapun, supremasi ngeblog itu bagiku adalah ketika aku bisa tetap terus berbagi melalui tulisan, itu saja!

    Pemahaman prinsip lebih dari sekadar bunga-bunga ini membuatku juga mulai berani melangkah untuk berbagi dalam medium kreatif yang lain. Baru-baru ini aku ?merilis? lagu buatanku, Raja Singa. Lagu itu kupersembahkan untuk kawan-kawan di Aksi Kamisan yang melakukan protes dalam diam karena pemerintah tak kunjung menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

    https://www.youtube.com/watch?v=udyVt_d_0XM

    Melalui lagu itu aku berbagi semangat kepada sesama dan melihat tanggapan dari khalayak sepertinya pesanku diterima. Aku merasa puas bukan karena suaraku dibilang bagus atau gitaranku mantap tapi lebih karena orang lain tahu pahitnya perjalanan orang-orang Aksi Kamisan dalam menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara!

    Wahahahaha mendengar jawaban-jawabanku kamu memang sudah benar-benar menua, Bos!

    Hahahaa kan memang sudah kubilang sejak awal?aku memang menua seperti halnya kita semua?

    tunggonono
    tunggonono
  • Tentang bioskop yang ditutup gara-gara kursi diganti spring bed itu…

    Tentang bioskop yang ditutup gara-gara kursi diganti spring bed itu…

    Kabar tentang rencana penutupan sebuah bioskop karena penggunaan kasur/springbed sebagai pengganti kursi seperti di bawah ini patut kita cerna sebagai sebuah gejala menarik.

    Menariknya bukan karena kenapa mereka menggunakan kasur/springbed yang juga tak jarang dipakai sebagai penanda bioskop ‘gold class’, tapi justru kenapa pihak pemerintah kota memutuskan menutup sementara bioskop hingga mereka mengganti kasur itu dengan kursi. (Bahkan jika tak kunjung membuat perubahan, bioskop diancam ditutup ijin usahanya).

    Seharusnya pihak pemerintah kota bisa berinovasi lebih bagus ketimbang hanya menutup.

    Misalnya, selama film diputar, lampu harus dinyalakan terang-benderang supaya tak ada orang yang alih-alih nonton film tapi malah asyik cipokan atau ML. Meski sebenarnya kalau lampu dinyalakan, film jadi nggak terlalu jelas tampak di layar dan ujung-ujungnya malah beneran berbuat mesum karena nggak ada yang ditonton dan dijadikan fokus!

    Atau dibuat aturan, tempat duduk dipisah! Tak hanya berdasarkan gender, pria dan wanita tapi berdasarkan ketertarikan seksual mereka.

    Atau, demi untuk memperluas lapangan kerja, kenapa tak dibuat supaya setiap kasur disediakan seorang penjaga moral. Tugasnya seperti polisi. Setiap ada gerakan mencurigakan, si penjaga moral akan mengingatkan dengan lembut, “Mohon maaf, kakak, mohon kembali ke posisi semula.” Kalau masih ngeyel dan nggak mempan pake bacot ya dibacok!

    “Eh tapi bagaimana kalau si penjaga moralnya yang malah pegang-pegang atau mau dipegang-pegang, Bos?” Tunggonono tiba-tiba muncul di layar WA ketika aku sedang mengulas hal ini, malam tadi.

    “Ah, ya nggak mungkin, Nggon! Semua penjaga moral itu suci maka dari itu mereka selalu mengenakan pakaian putih-putih. Mereka tak mungkin berbuat amoral seperti halnya mereka tak mungkin terjun dalam dunia politik dengan melibatkan dalih moral dan agama yang mereka pegang tinggi-tinggi untuk memenangkan satu pihak dan menekan mampus pihak lainnya. Nggak mungkin pokoknya!”

    “Ah masa, Bos? Lha itu yang sedang ramai di Indonesia yang tempo hari Bos tulis tentang FH dan RS? Mereka kan penjaga moral tapi mereka berbuat mesum juga?”

    “Woh, kamu itu kudet, Nggon! Kurang update! Apa kamu nggak tahu kalau mereka sudah mengelak. Semua hal-hal buruk itu Nggon, asal terkait penjaga moral, selalu jadinya pitnah… eh fitnah!”

    Tunggonono diam saja. “Nggon? Nggon!” Tetap diam…

    Sepuluh menit tetap diam hingga akhirnya kutinggal tidur saja. Sekitar jam tiga dinihari saat pagi belum merekah dan malam kian menua, aku terbangun oleh sebuah pesan yang masuk darinya. Karena aku sibuk sekali hari ini, maafkan aku kalau nggak sempat mengedit tulisannya Tunggonono, jadi baiknya ku-paste apa adanya.

    bos… sorry tadi batre drop. ngene lho bos, persoalnnya itu knp sih tiap hal slalu dikaitkan dgn esek2? pdhl ya msh byk soalan lain yg utama lho. takutnya kan kalo dibahas dan dikaitkan trs-terusan malah hal itu bnr2 jadi masalah utama sebanding dgn korupsi dan lain-lain yg blm sepenuhnya teratasi juga?!? lagian kl bioskop itu ditutup apa jaminan ga ada lg perslingkuhan dan prostitusi? mrk bisa lho esek-esek di bioskop2 standard, di kmr2 hotel, apartment, di kamar mandi sekolah, bhkan dibalik layar monitor hp, lwt cybersek juga bisa kan? Bos! hubungan seks itu hrs diletakkan dlm krangka prsonal spt halnya orang ngising dan kencing yg diberi tempat khusus brnama toilet! kita ndak prlu tau tho apa yg dilakukan dibalik bilik toilet, bgm cara mrk boker alias ngising? ndhodhok apa duduk? bgm cr mreka mengatur peni ssaat kencing.. ihh aku malah jijik mbayangke bos hahaha… lha mbok yng diatur itu diri sendiri dulu dan ga perlu ngatur urusan liyan! knp? bayangke wae kalo toilet diatur dan ditutup krn takut cara kencing dan ngisingnya tidk relijiyesss ya jgn heran kalao nanti ada orang boker dan kencing di atas meja makan tho Bos?

    Wes, Bos gitu aja… kyknya si bos udah tidur nih. Ra sah digawe abot, Bos! Nek abot ditumpake becak! Sante wae…

    Simak berita tentang penutupan bioskop itu di sini

  • Tunggonono dan tanggung jawab sebagai ‘wong lanang’

    Tunggonono dan tanggung jawab sebagai ‘wong lanang’

    Ada satu momen menarik yang terjadi antara aku dan Tunggonono saat bertemu di Tramshed kemarin.

    Momen itu ditandai dengan satu pertanyaan ‘bisik-bisikku’ kepadanya, “Nggon, kok kamu belum menikahi Cathy padahal ia sudah hamil?”

    Cathy, pacar si Tunggonono yang dikenalnya sejak cewek bule Australia itu belajar Bahasa Indonesia di Jogja beberapa tahun lalu yang lantas memboyong Tunggonono kemari, memang sedang hamil lima bulan. Bagi ukuran Australia, hal itu wajar-wajar saja, hamil tak harus menikah, menghamili tak harus menikahi, dihamili tak harus memaksa yang menghamili untuk menikahi.

    Dan aku sejatinya bersyukur Tunggonono tak naik pitam ketika kutanyai begitu. Ia hanya tertawa nggleges sebelum menjawab singkat, “Belum. Belum terpikir, Bos!”

    Jawabannya itu sebenarnya melukiskan betapa Tunggonono telah berubah jadi jauh lebih dewasa. Seingatku dulu kalau ia dilayangi pertanyaan-pertanyaan yang cukup menohok seperti itu, harga dirinya terdesak lalu pemberontakan adalah dengan menampilkan urat lehernya yang sebesar kelingking itu…

    Ke-kepo-anku belum selesai. “Orang tuamu di Jogja tahu kalau Cathy hamil?”

    “Taulah, Bos! Tau banget! Cathy yang malah lebih akrab dengan Bapak dan Ibu kok ketimbang saya. Saya kan sibuk kerja dari pagi hingga malam!” jawabnya. Aku tak membayangkan bagaimana bapak dan ibu Tunggonono yang pernah pula kukenal dan bersahaja karena tinggal di kota yang berhati nyaman itu, pasti jadi gaul banget punya mantu, eh calon mantu, bule yang berbahasa Inggris dan membuat mereka mampu mengikutinya berbahasa Inggris pula.

    “Lalu tanggapannya?” Donny! Kepomu kebablasan!

    “Awalnya ya kaget, pertanyaan Ibu ya kayak sampeyan barusan ‘Kapan dinikahi?’ tapi lantas Bapak menenangkan dan pesannya Bapak cuma satu waktu itu.” Ia terhenti, wajahnya menerawang.

    “Apa?”
    “Dadi wong lanang, Le!” Jadilah cowok, Nak.

    Ungkapan ‘Dadi wong lanang, Le!’ itu punya kedalaman makna yang luar biasa. Dalam penjelasan yang lebih panjang, hal itu terbaca sebagai, kamu yang sudah menghamili, berani berbuat, berani bertanggung jawab! Berani menghamili, mana dulu yang harus dilakukan, tanggung jawab untuk menikahi atau untuk menghidupi?

    Jika diijinkan tentu keduanya, ya menikahi, ya menghidupi. Tapi atas nama kehidupan modern di negara maju dimana setiap pilihan hidup dari setiap warga dan penduduknya dijunjung tinggi, menikah tak semudah pria yang datang ke rumah orang tua si wanita lalu melamar dan menikah. Di sini lebih pada tanggung jawab kedua insan yang hendak menikah, bukan harus/tak harus tapi mau/tak mau?

    Aku tahu Tunggonono mengerti akan hal itu. Kalaupun ia mau, belum tentu Cathy-nya setuju untuk dinikahi. Jadi? Hidupi! Tunggonono mengambil peran sebagai wong lanang sesuai ujaran Bapaknya. Ia bekerja keras membanting tulang seperti yang kutulis di Risalah kemarin, siang hari ia menjaga gudang, di sela-sela waktu senggang sesudahnya ia menerima order untuk reparasi barang rusak dan pemeliharaan taman.

    Tapi bukan Tunggonono kalau ia tak menyengat.
    Sebuah pertanyaan menyudutkan dilontarkannya. “Bos, kalau menurutmu tindakanku ini salah enggak?” Aku gelagapan dan karena tak siap, kubalas pertanyaan itu dengan pertanyaanku yang lainnya, “Hmmm, mana? Tindakan mana yang kamu maksud?”

    “Menghamili, tak menikahi.”
    Dengan hati-hati aku menjawab, “Mana ada orang yang tak pernah berbuat salah, Nggon? Kesalahan itu kan imbas dari pilihan yang kita ambil dan perbuat. Jadi semua orang punya salah atau setidaknya pernah berbuat demikian. Tapi kalau kamu tanya tindakanmu itu salah atau tidak, sebagai kawan aku harus menjawab salah.”

    Tunggonono terdiam, aku melanjutkan.
    “Tapi tak ada kesalahan yang tak dapat ditebus jadi tebuslah dengan bertanggung jawab! Hidupi, kalau nanti bisa dan mau, nikahi!”

    Tunggonono manggut-manggut. Dari sudut mataku, ia diam menerawang, keriput di pinggiran matanya menjelas, preman ndeso yang sahabat baikku itu sama sepertiku dan seperti kalian semua, menua!

    Sementara matahari perlahan lindap ke sisi barat dan cercah sinarnya membersit ke mataku, kukenakan kembali kacamata hitam untuk tak hanya menyembunyikannya dari sinar matahari yang moncer tapi juga supaya aku bisa mendalami Tunggonono yang semakin muncul karakternya ini tanpa harus malu dan takut ketahuan, lebih dan lebih lagi…

    Simak tulisan-tulisanku lainnya terkait Tunggonono di sini.

  • Bangsa yang suka berdoa…

    Bangsa yang suka berdoa…

    blog_doa

    Intensitas pertemuanku dengan Tunggonono, meski kini kami tinggal satu kota, tidaklah setinggi di Jogja dulu.

    Dulu, tiap malam aku ketemu karena memang ia bekerja untukku, jadi petugas jaga malam di kantor yang kutempati untuk bermalam juga (makanya kuberi nama tunggonono yang dalam bahasa Indonesia berarti ?Temani/Tunggin?). Di sini, ia sibuk jadi ?petugas jaga malam? pacarnya, seorang bule yang sebutlah bernama Entenana.

    Tapi beberapa minggu sebelum Paskah, aku bertemu dengannya di perayaan ekaristi mingguan berbahasa Indonesia di Gereja St Joseph, Newtown, NSW!

    Setahuku Tunggonono memang Katolik.
    Dulu ia sering bercerita bagaimana getolnya berorganisasi dalam wadah mudika paroki desanya. Tapi setelah punya pacar beda agama, ia jadi nggak pernah ke gereja. Sama seperti trend sekarang lah, pemuda gereja dapat pacar yang non-katholik lalu Tunggonono pun sempat berpikir untuk pindah agama sesuai agama pacarnya; sesuatu yang hanya kusenyumi kecut dan kutinggalkan ia begitu saja saat ia bercerita dulu dan sejak saat itu ia tak pernah bercerita tentang agama lagi.

    Jadi, pertemuanku dengannya di gereja tempo hari benar-benar membuatku terpana.

    ?Loh Nggon? ke gereja? Masih Katholik tho kamu?!? aku berpapasan dengannya waktu kami hendak sama-sama mengambil komuni ke muka altar.

    ?Halo Bos! Kaget to sampeyan hehehehe!? ujarnya berbisik, Entenana mengikutinya di belakang.

    Setelah perayaan, aku menemui Tunggonono di halaman gereja.

    ?Kok saiki kowe kenal gereja, Nggon?? tanyaku menggoda.??Heheheheh alah si Bos? lha kemarin dikasih tahu teman katanya kalau ke gereja sini makanannya enak-enak? khas Indonesia!?

    Blarrrrrr!!!!
    Tunggonono belum berubah ternyata, Saudara-saudara!

    Gaya bicatanya masih glenyengan, diksinya sepertinya hanya guyonan biasa, tapi di akhir sebelum sampai tanda titik, ia menukik tajam, menohok dan seolah menusuk kita dengan pesannya!

    Eh tapi kalian jangan percaya apa yang diucapkan Tunggonono, atau kalau kalian percaya bahwa ada orang-orang Indonesia yang datang ke perayaan berbahasa Indonesia hanya untuk mengincar makanan yang dijual/dibagikan setelah misa, percayalah hanya ada satu orang yaitu Tunggonono sendiri!

    Nyatanya, orang-orang katolik Indonesia di sini adalah orang-orang yang saleh, agamis? suci. Semoga kalian percaya?

    Mungkin kalian jadi bertanya, ?Wow, di Australia ada perayaan ibadat berbahasa Indonesia??

    Ada! Banyak!
    Sebagai bangsa yang ber-Pancasila dan gemar beragama, orang-orang Indonesia di Australia pun tak bisa lepas dari kegiatan berkoloni dengan rekan sebangsannya pada hari-hari perayaan keagamaan untuk berdoa bersama.

    Aku adalah salah satu contohnya. Karena aku katolik dan Indonesia, CIC, Catholic Indonesia Community adalah wadah yang menyenangkan karena selain bisa berkumpul dengan sesama orang Indonesia dan berdoa? apalagi kalau makanannya yang enak-enak itu hehehe!

    CIC memiliki anggota yang lumayan banyak, susah ngitungnya. Komunitas yang embrionya sudah ada sejak akhir 70an ini mendapat restu dari keuskupan setempat.

    Selain mengadakan misa mingguan di gereja tempatku bertemu dengan Tunggonono, St Joseph?s Church Newtown, CIC juga mengadakan banyak perayaan ekaristi di gereja-gereja lainnya.

    Di kawasan timur kota Sydney, Kensington, tepatnya di gereja Our Lady of The Rosary Church, perayaan berbahasa Indonesia diadakan setiap hari minggu jam 3:30 sore juga pada setiap hari Jumat pertama tiap bulanny jam 7 malam.

    Di Campbelltown yang letaknya 58 kilometer dari Sydney, CIC juga mengadakan misa pada tiap hari minggu II jam 6 sore bertempat di Mary Mother of the Church.

    St Peter Julian Church yang berada di kawasan chinatown, kota Sydney, pada tiap sabtu pertama dan ketiga jam 2:15 sore juga diadakan perayaan berbahasa Indonesia.

    Di Our Lady of Dolours Church di Chatswood, sekitar 15 kilometer timur laut Sydney, pada setiap minggu III jam tujuh sore.

    Dan yang terakhir, di gereja tempat aku ber-pelayanan, St Agatha?s Penant Hills, perayaan berbahasa Indonesia diadakan pada hari sabtu minggu ke IV/V jam 7:30 malam.

    Wow, kan?! Nggak nyangka, kan?!
    Tunggu dulu, itu belum seberapa!?Komunitas-komunitas bina iman pendukung seperti persekutuan doa, kelompok pendalaman kitab suci dan lain sebagainya juga merebak baik yang berafiliasi dengan CIC ataupun yang berdiri sendiri dan mereka menggunakan Bahasa Indonesia juga! Rata-rata kegiatan diadakan pada hari Sabtu atau Minggu dan ada beberapa yang diadakan pada jumat malam.

    Jadi, kalau ada yang mau benar-benar niat dan minat, mengikuti acara-acara yang diadakan oleh komunitas CIC itu sudah cukup ?membawa? Indonesia di sini!

    Nah, itu baru Katholik, belum agama-agama lainnya. Bagi saudara muslim misalnya, di daerah Campbelltown kudengar juga ada pengajian khusus orang-orang Indonesia. Gereja-gereja protestan dari berbagai macam denominasi berbahasa Indonesia juga banyak betul dan bahkan jauh lebih banyak dari kegiatan serta sub-komunitas yang bernaung di bawah CIC.

    Menyenangkan, bukan?
    Jadi kalau kalian sepakat pindah ke Australia, jangan takut kehilangan kebiasaan untuk?makan makanan enak khas Indonesia dan mengikuti kegiatan beragama? Semuanya ada.

  • Hallo Bos Donny, ini saya Tunggonono…

    Hallo Bos Donny, ini saya Tunggonono…

    blog_pindah

    Whehehehehe, jebul gini tho rasanya ngeblog di blog yang kata pemiliknya bagus bianget padahal perasaanku ya biasa wae!

    Halo, aku Tunggonono!
    Kamu-kamu yang baca blognya Bos Donny sejak 2007an pasti tahulah siapa aku, sering diceritakan di sini tapi akhir-akhir ini sudah nggak pernah ditulis lagi; mungkin lupa atau gimana tapi ya ndak papa lha wong saya ini jugak cuman pekathik ndeso kok!

    Tapi meski ndeso, saya berhasil mengapusi Bos Donny untuk memberikan password blognya ini. Caranya gimana, pokoknya gampang bianget dan ngga nyangka jebul Bos Donny pake password yang itu hahahaha? ealah percumah bos, jauhjauh ke Australi kok gampang diapusi! Kekekekeke?

    Saya beberapa waktu lalu ngontak Bos Donny. Iseng aja. Jadi saya ndengerin radio lalu kok tiba-tiba saya merasa seperti mendengar suaranya Bos Donny. Eh tapi kan Bos Donny nggak sedang pulang ke Jogja, eh tapi kok suaranya sampai Jogja? Ini mimpi apa gimana?!

    Kalau mau dengerin suaranya Bos Donny, coba klik link di bawah ini…

    [soundcloud url=”https://api.soundcloud.com/tracks/175066535″ params=”auto_play=false&hide_related=false&show_comments=true&show_user=true&show_reposts=false&visual=true” width=”100%” height=”450″ iframe=”true” /]

    Akhirnya saya kirim sms saja, ?Bos, situ di Jogja pho??
    Jebul memang benar itu suaranya tapi memang Bos Donny sedang tidak di Jogja.

    Nah dari situ, njuk tiba-tiba dia nelpon!
    Batinku, ?Ini pasti gara-gara aku bilang kalau suaranya bagus lalu dia nelpon!? Bos Donny memang begitu dan ternyata nggak berubah! Dipuji sekali langsung jadi baiikk bianget sampe disempat-sempatke nelpon ke JOgja padahal nek enggak ya di-prek-i saja!

    Nah, pas nelpon itulah kumanfaatke sekalian buat interpiu dia kan Bos Donny akhir-akhir ini seneng banget nginterview orang jadi ya gantian biar dia ngerasake juga!

    Dan jebul dua hari lalu, tepatnya 1 November 2014, ternyata hari peringatan enam tahun perpindahan Bos Donny dari Indonesia ke Australia tho?

    Weleh kok ya nge-pas-i bianget dan cepat banget ya waktu itu bolehnya berlalu! Perasaan baru kemarin saya itu dengan sukarela mbikin wayang dari kertas untuk kenang-kenangan baginya. Saya yo sedih nek ingat hari itu meski suka misuh dan ngomong jorok, tapi Bos Donny itu pengertian meski nggak pernah ngasi uang juga hehehe…

    Nah kalok kalian mau baca catatan-catatan wawancara dengan si Bos, monggo dibaca di bawah?

    Bos, kok suaramu masih sama kek dulu tho? Resepnya apa?e? Kupikir sudah berubah kayak Cinta Laura!
    Hehehe, rupamu Nggon! Meski sudah enam tahun di Sydney, aku yo tetap wong Jowo dan lidah Jawa meski memang ada beberapa pelafalan huruf yang mulai berubah…

    Sampeyan itu kok kayaknya krasan banget tho di Australia, saya sampek kagum kalo baca facebooknya si Bos. Nggak kangen Jogja, Bos?
    Nggak! Aku kangen Togua hahaha?

    Woh, kok si Bos tau soal Togua segala tho? Update banget ik?!
    Loh kamu ini gimana, aku kan cuma pindah tempat di Sydney tapi ya hati dan perhatian tetap di Indonesia, Nggon!

    Kamu mau tanya soal apalagi? Anaknya Susi menteri yang ternyata seksi? Tertangkapnya admin-adminnya TrioMacan? Kuyakin kamu malah nggak lebih update dariku, Nggon!
    Wani totohan! Hahahaha?..

    Woh, si Bos ki hahahaha? Lha kalau masih perhatian dengan Indonesia kenapa tho dulu pake acara pindah segala? Mbok di sini saja ngumpul sini?
    Hmmmm? alasan terbesarku waktu itu kan sudah pernah kuberi tahu ke kamu yaitu untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi.

    Yang lebih baik itu gimana? Apa di sini kurang baik, Bos?
    Hidup itu menurutku menyoal proses dan keputusan dan semua ada dalam lingkup kuasa Tuhan.

    Wah iki mulai mbulet-mbulet.. piye itu Bos! Dijelaskannn!
    Hehehehe, jadi dulu kuputuskan pindah kemari demi kehidupan yang lebih baik. Nah, baik tidak baiknya itu kan tetap perlu usaha sendiri, di situlah proses juga berpengaruh, kita harus mengusahakan hidup ini menjadi yang terbaik!

    Lalu hasilnya?
    Hasilnya ya begini. Ya lebih baik, jauh lebih baik!

    Wah sangar, Bos! Pasti mobilmu udah banyak dan rumahmu berbiji-biji ya?
    Hahahaha, nggak lah Nggon. Paramater hidup lebih baik kan nggak selalu seperti itu makanya kamu jangan kebanyakan nonton sinetron! Ada banyak hal yang kualami dan kupelajari yang membuat hidupku jadi semakin diperkaya.

    Contohnya?
    Banyak.
    Dulu aku nggak bisa nyetrika, sekarang bisa karena belajar. Dulu nggak bisa nyapu dan ngepel, sekarang ahli. Dulu nggak bisa nyabuti rumput sekarang lumayan jago dan nggak pake gatal-gatal di kulit hahaha?

    Lha kok seperti itu?
    Loh ya memang begitu! Itu salah satu pertimbanganku dulu pindah Nggon, aku pengen ngerasain hal yang nggak pernah kurasakan sebelumnya. Kalau dulu kan nggak perlu setrika karena tinggal suruhan Mas Darman buat nganter dan ambil baju dari laundry. Kalau lantai kotor juga tinggal minta Mas Darman buat nyapu dan ngepel. Gampang…

    Termasuk pengalaman di-PHK ya Bos?
    Hahahaha, kamu kok ingat tho? Aku nggak minta pengalaman di PHK tapi itu kenyataan.

    Di Indonesia dulu aku biasa mewawancarai orang yang cari kerja dan mem-PHK orang. Di sini aku harus wawancara mencari kerja dan pernah juga di PHK pada awal-awal dulu karena memang perusahaan tempatku bekerja kecil dan nggak sanggup nggaji aku lagi.

    Pengalaman berkeluarga juga beda Nggon. Maksudku, kalau aku berkeluarga dan tetap di Indonesia, mungkin aku nggak akan mau ganti popok anak, kasih susu di malam hari dan mandiin mereka seperti sekarang karena pasti tinggal suruh pembantu.

    Tapi sekarang Indonesia sangar lho Bos! Presidennya top! Kamu ndak pengen pulang aja?
    Aku belum kepikiran untuk pulang dan pindah ke Indonesia, lagipula kalaupun aku pindah, alasanku bukan karena presidennya top atau nggak top, Nggon!

    Tempo hari aku menertawai kawanku karena dia bilang akan pindah balik ke Indonesia karena ternyata ekonomi di Indonesia maju pesat sementara di Australia cenderung statis.

    Aku pindah kemari tidak dengan alasan seperti itu jadi aku juga nggak akan pindah lagi hanya dengan alasan itu juga.

    Lalu apa yang kamu cari?
    Ya itu tadi, hidup yang lebih baik dari banyak sisi, bukan cuma ekonomi saja!

    Bos, ini gosip aku denger dari temen-temenmu di Jogja sini katanya Bos Donny mau ganti kewarganegaraan?
    Hahahaha? aku durung dadi artis wae kok uwis digosipke?!

    Lho, tenanan ini! Sebenarnya gimana tho?
    Karena aku jujur, aku jawab Nggon aku masih WNI hingga sekarang. Pemilu kemarin masih nyoblos kok dan jagoku menang, Jokowi!

    Hahahah, tapi kok ada kata ?masih? nya?
    Lho ya ndak papa tho. Kamu juga ?masih? hidup karena suatu waktu nanti kamu juga akan mati hahahha.

    Gini lho, ganti kewarganegaraan itu bagiku semudah ngurus administrasi saja. Kalau aku mau, aku tinggal ke kantor imigrasi lalu mengisi form permohonan, tunggu beberapa waktu lalu sudah!

    Kalau aku belum ganti kewarganegaraan yaitu karena aku belum sempat saja Nggon hahaha. Lagipula kenapa kamu tanya gitu?

    Loh ini pertanyaan wajar tho, Bos! Kalau kamu ganti kewarganegaraan artinya kamu nggak cinta Indonesia lagi!
    Hahahaha, ya nggak masalah tho! Lagipula itu kan cuma katamu dan katanya? Aku bisa ngasih contoh beberapa orang yang meski sudah jadi warga negara Australia tapi tingkah lakunya lebih mengharumkan nama Indonesia ketimbang pejabat-pejabat dan politikus-politikus yang ketangkap KPK itu!

    keindonesiaan itu melekat sepanjang hayat, Nggon!
    Dan jangan pernah menilai cinta karena cinta itu tak ternilai. Kecintaan pada Tanah Air tak bisa diturunkan derajatnya hanya dengan melihat lembaran paspor di tangan, Nggon!

    Memangnya kalau aku ganti kewarganegaraan, kamu sudah nggak mau berteman denganku, Nggon?

    Hahahaha ya masih lah Bos, eh tapi dengar-dengar ada komunitas orang-orang Indonesia di luar negeri yang mau mengusulkan dua kewarganegaraan untuk WNI. Si Bos ikut komunitas itu?
    Nggak, Nggon!
    Aku malah nggak setuju karena apa untungnya bagi Indonesia punya aturan seperti itu?

    Bagiku, orang-orang yang mengusulkan dua kewarganegaraan itu agak egois, Nggon!

    Kok bisa?
    Begini lho?
    Kecenderungan orang Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk bekerja itu begini?

    Mereka mengumpulkan dollar sebanyak-banyaknya lalu ketika tua mereka pengen pulang ke Indonesia sampai mati. Nah, kebanyakan mereka berpikir akan praktis kalau mereka punya kewarganegaraan di negara tempat mereka tinggal, tapi mereka tahu karena Indonesia hingga saat ini belum menerapkan aturan dua kewarganegaraan, sekali mereka mendapat kewarganegaraan dari negara lain, otomatis paspor Indonesia-nya akan dibatalkan. Nah untuk itulah mereka mengusulkan supaya Indonesia menganut sistem dua kewarganegaraan padahal untungnya untukmu dan kawan-kawan di Indonesia sendiri apa? Nggak ada!

    Oh gitu ya? Lha nek menurut Bos Donny bagusnya gimana tho?
    Bagiku, jadi orang jangan memiliki sifat oportunis. Orang harus punya ketetapan hati. Sekalinya pergi jangan berpikir untuk kembali dengan mudah! Kalau kangen dan pengen pulang ya pulang dan hadapi Indonesia! Selesai perkara.

    Jangan mau untungnya saja!

    Bos Donny memangnya mau sampai mati di situ?
    Nggak tahu, umur di tangan Tuhan, Nggon!

    Yang pasti, untuk memutuskan pindah tentu nggak semudah dulu lagi karena aku sekarang punya istri dan dua anak. Tempat terbaik tentu harus mengakomodasi kepentingan mereka juga.

    Kalaupun aku mati di Australia, emang masalah buat loe? Hahahaha?
    Jasadku akan dikuburkan di sini dan ketika microorganisme mengurai jasad, darah dan daging serta tulangku menjadi tanah, setidaknya tanah Australia ini akan diberi warna baru oleh tanah Indonesia yang berasal daripadaku karena aku ini Orang Indonesia.

    Sekalinya lahir, sampai achir, aku orang Indonesia, Nggon!
    Camkan itu!

    Katanya Bos Donny, sepatu dan celana inilah yang dipakek dia waktu pindah ke Australia dan sampe sekarang masih dipake. Diambil barusan dari fesbuknya!
    Katanya Bos Donny, sepatu dan celana inilah yang dipakek dia waktu pindah ke Australia dan sampe sekarang masih dipake. Diambil barusan dari fesbuknya!

  • Kitab suci itu terbatas, kitalah halaman-halaman selanjutnya…

    Kitab suci itu terbatas, kitalah halaman-halaman selanjutnya…

    Mungkin kita kadang terlalu membatasi pandangan tentang kemampuan dan kekuasaan Tuhan itu hanya pada apa yang tertulis di buku-buku suci dan dari apa yang disampaikan oleh para pengajarnya.

    Adalah Asnawi, tentu bukan nama aslinya.
    Ia kawan kerja di kantor lama yang baru kutinggalkan sekitar dua minggu yang lalu. Bekerja di divisi yang berbeda, persinggunganku dengannya paling hanya ketika ketemu di dapur untuk menyiapkan sarapan ataupun makan siang kami masing-masing. Itupun paling sebatas “G’day, mate!” atau “Hi, how’s thing!?” lalu basa basi sebentar bla bla bla, bli bli bli dan sudah, kami kembali ke meja kami masing-masing.

    ?Move on? you?ve decided, Mate!?

    Tapi sekitar sebulan yang lalu, kira-kira dua hari setelah aku memutuskan untuk mengundurkan diri karena mendapat pekerjaan yang baru, dalam percakapan ‘basa-basi’ di dapur dengannya, aku mengabarkan bahwa aku hendak keluar. Ia terdiam sejenak lalu berujar “Oh, that’s good!” Sorot matanya tegas, ucapannya berbeda dengan basa-basi kami sebelum-sebelumnya.

    Lalu kuutarakan tentang alasan kepindahanku tentang betapa aku perlu tantangan yang lebih selain tentu juga karena aku mendapatkan tawaran yang lebih ok dari sisi finansial, dan ia, Asnawi, menepuk bahuku, ?Tiga puluh lima tahun lalu aku berada pada posisi yang sama denganmu tapi bedanya aku tak pernah berpikir tentang peluang untuk mencari pekerjaan yang baru seperti yang kamu lakukan sekarang ini.?

    Asnawi memang tak muda lagi. Kutaksir usianya sekitar 65 tahun dan barangkali pekerjaanya ini akan jadi pekerjaan terakhirnya sebelum pensiun dan menikmati masa senja hidupnya bersama istri di sisi timur Kota Sydney sementara keenam anaknya telah menyebar, melanjutkan hidupnya sendiri-sendiri.

    “What??!?!! Anakmu enam?” Tanyaku sambil melotot.
    “Yup!” Ia tersenyum. “Hmmm dan o well, back to that time, ya memang tak mudah. Aku kerja seorang diri sementara istriku mengurus anak-anak di rumah.”

    Aku semakin terpaku mendengarkan ceritanya.
    “Aku tak memiliki skill yang spesifik sepertimu jadi penghasilanku tak terlalu baik.”
    “Hmm….”
    “Dan tak seperti yang lainnya… aku tak bisa misalnya membelikan baju untuk anak-anak dan istriku di toko-toko terkenal! Aku hanya bisa membelikan mereka pakaian di Vinnies (nama organisasi yang menjual baju bekas layak pakai dengan harga yang sangat terjangkau)” Senyumnya agak getir terbentuk dari kerut wajahnya.

    “Oh, but that’s ok, Mate! At least you did very well!” hiburku.
    “Oh yeah… aku tak menyesal, sama sekali tidak… at least i did! Hahaha…”
    Ia tertawa tapi aku merasa percakapan sudah terlampau dalam untuk dilanjutkan dalam jam kerja. Saatnya untuk menyudahinya…

    Bagiku, keduanya sebenarnya adalah lembaran-lembaran baru dari kitab yang menuliskan bagaimana kuasaNya bekerja dalam hidup ini.

    “Oh ya, kapan hari terakhirmu bekerja di sini, Don?”
    “Uhmmm, masih bulan depan!”
    “Alright. Aku akan kasi kamu sesuatu di hari itu!”
    “Oww, thanks mate!”

    Lalu hari pun berlalu dan hitungan bulan terasa berjalan terlampau cepat hingga datanglah hari dimana aku harus pergi. Pagi itu, ketika rekan lainnya belum datang dan aku tengah mem-packing semua barang2 pribadiku di kantor untuk dibawa kembali ke rumah, Asnawi mendatangi mejaku.

    “Morning!” sapanya.
    “Oh, hi… morning!” Balasku.
    “So how’s your feeling?”
    “Uhmm yeah.. a bit sad. I have to leave after almost 3 years and ya… apalagi aku harus kehilangan teman semuanya termasuk kamu!”

    Ia tersenyum. “Move on… you?ve decided, Mate!? ujarnya.
    ?Hmmm, iya sih, tapi terkadang aku bertanya pada diriku sendiri apa pilihanku ini adalah pilihan terbaik??

    Ia kembali tersenyum. Alih-alih memberikan jawaban, ia malah mengangsurkan kepadaku sebundel buku, ?Ini yang kujanjikan untuk kuberikan waktu itu…?

    ?Oh, thanks.? Aku mengamatinya. Sebuah buku yang tipisnya tak lebih dari 30 halaman dan semuanya fotokopian.

    ?Ini kopi-an artikel yang kutulis tangan. Hasil akhir dari tulisan ini dulu pernah diterbitkan di beberapa surat kabar lokal di Sydney sekitar tahun 2000-an? Ia menunjukkan kepadaku fotonya yang terpapar di halaman surat kabar, ?Terlihat lebih muda dari sekarang ya, Hehehe!? ia tertawa.

    ?Kau nanti baca ya! Sampaikan kesanmu setelah membaca!? tambahnya lagi.
    ?Hmmm sure i will tapi kalau boleh tahu artikel ini tentang apa??

    ?Uhmmm, intinya soal motivasi dan aku memakai prinsip permainan cricket yang kugemari sejak kecil. Kamu tentu tak tahu cricket ya??
    Aku menggeleng. *Kalau kasti aku tau* gumamku.

    ?Ya pokoknya bacalah dulu!? Ia menjabat tanganku lalu berujar, ?Good luck!? Matanya menatap tajam ke arahku dan pagi itu adalah benar-benar menjadi perpisahanku dengannya.

    Sesampainya di rumah setelah hingar-bingar perpisahanku dengan anggota tim di sebuah pub di The Rock, Sydney, aku membuka lembar demi lembar buku yang diberikan Asnawi.

    Aku harus mengakui tulisan tangannya, dibanding dengan kawan-kawanku lainnya yang berasal dari sini, sangatlah rapi. Ia menuliskannya pun dalam bahasa Inggris yang santun dan baku, hal yang membuatku harus membuka kamus online sesekali ketika membacanya karena banyak istilah yang aku tak terlalu paham dengan pasti.

    Dan ketika sampai di halaman terakhir, barulah aku tahu kenapa ia menyerahkan buku itu kepadaku. Ia berujar tentang hidup, meletakkannya dalam bingkai aturan dan trik permainan olahraga cricket tapi lalu menariknya kembali dalam implementasi hidup. Menarik, sangat menarik.

    Pengalamanku bertemu dengan Asnawi mengingatkanku pada Pak Yadi, penjaga malam kantor Citraweb Jogja yang sebagian karakternya dulu sering kupakai untuk kutuliskan sebagai sosok Tunggonono.

    Keduanya, Pak Yadi dan Asnawi, bagiku adalah orang-orang yang terlepas dari gagal-berhasilnya ia dalam menjalankan hidup, mereka telah memberiku satu pelajaran yang besar dan nyata. Mereka juga memberi cindera mata berwujud fisik ketika aku berpamitan dari tempat kerja.

    Pak Yadi waktu itu memberiku dua buah wayang, satu wayang Semar dan satunya lagi wayang Prabu Rama, sedangkan Asnawi memberiku buku tadi.

    Bagiku, keduanya sebenarnya adalah lembaran-lembaran baru dari kitab yang menuliskan bagaimana kuasaNya bekerja dalam hidup ini.

    Daripadanya kita bisa belajar untuk hidup yang lebih baik dari yang sudah baik; dan sebenarnya mereka tak sendirian. Ada begitu banyak orang termasuk kita yang sanggup menjadi halaman baru dari kitab lama yang berguna bagi sesama menyuarakan betapa Tuhan sebenarnya tak pernah berhenti bekerja meski ribuan tahun sesudah kitab itu ditulis dan diterbitkan.

    Tapi untuk yang terakhir ini pada akhirnya memang tergantung kita, mau atau tidaknya.

    ?Aeroplanes take off against the breeze? Fred Cahill, 14 March 2013

  • Event blog mana yang paling baik? Tempe itu semuanya busuk, Jendral!

    Event blog mana yang paling baik? Tempe itu semuanya busuk, Jendral!

    Sydney. Suatu malam, tak lama sebelum sekarang, pukul satu malam. Aku masih terjaga menyelesaikan sebuah tulisan ketika tiba-tiba kudengar dehem yang dari nada dan tarikan nafas sesudahnya begitu familiar. Inginku mengingat dan mengenalinya, tapi sayang? syaraf takutku lebih dahulu bereaksi. Tapi ketika bersiap untuk berlari naik tangga dan menyusul tidur anak dan istriku, tiba-tiba sosok ber-dehem itu muncul dan bersuara “Halo, Bos… pripun kabare!”
    Aku terkesiap! Tiada angin sementara hujan telah pula reda tapi tiba-tiba Tunggonono, makhluk lawas yang dulu selalu menemaniku bercerita di blog ini muncul di depan mata! Ah, kalian yang baru kenal denganku dan blog ini pasti bertanya-tanya siapa itu Tunggonono? Nah, kalau ingin berkenalan dengannya, silakan klik di sini untuk menyimak arsip yang khusus bicara tentang/dengannya.
    ?Oalah… Munyuk edan! Kowe tho, Nggon!? sergahku segera duduk lagi di kursi yang tadi sudah hendak kutinggalkan.
    ?Hehehe.. njenengan niku… kaget apa takut?!? sapanya mengulurkan tangan. Kami pun berjabat erat layaknya sahabat yang tak bersua ribuan tahun lamanya.
    “Apa kabar, Bos? Nggak pulang Jogja tho?” tanyanya dengan gaya dan lagak yang seperti dulu.
    ?Oh, enggak…… awalnya sih kurencanakan demikian tapi lalu kutunda jadi Juli tahun depan, Nggon!… Eh… Kamu… kamu ada soalan apa jhe kok tiba-tiba nongol kemari, Nggon?? tanyaku tergagap menebak-nebak maksud kedatangannya semendadak itu.
    ?Oh.. nggak ada apa-apa kok, Bos.. Kangen aja kan udah lama nggak ngobrol sama si Bos!? tukasnya renyah tersenyum.
    ?Ah… yang bener?? tanyaku menelisik.. Aku paham betul gelagatnya.
    ?Ya, selain itu aku juga pengen tanya-tanya sesuatu, Bos…?
    ?Hmmmm, ya??
    ?Soal blog, Bos!? cetusnya lagi.
    ?Oh, kenapa? Kamu protes karena tak pernah kupakai untuk bahan cerita lagi di blogku?? tanyaku.
    ?Hahaha, enggak! Bukan itu! Nganu….aku pengen tanya soal acara-acara blog itu lho, Bos!?
    ?Acara? Acara apa? Yang mana??
    ?Ya yang banyak itu.. kan kemarin ada di beberapa tempat tho? Itu gimana menurut sampeyan?? tanya Tunggono.
    ?Wah… itu tho? Ya.. ba.. baik lah..Bagus!? kubetulkan letak kacamataku.
    ?Ah, masa cuma begitu tho komentarmu??

    “…tempe itu kan sama-sama kedelai jamuran dan busuk tho? Tapi kamu pasti milih satu tempe dari yang lain padahal semuanya sama-sama busuk tho?”

    ?Hehehehe.. kamu masih hobi ?mancing? rupanya? Ya komentar singkatku selama semuanya baik-baik saja dan berorientasi pada kelanggengan semangat untuk ngeblog ya kudukung, Nggon!?
    ?Hmmm… tapi apa masih aktual tho ngeblog itu, Bos??
    ?Hehehe…aktual atau tak aktual itu urusan mereka, Nggon sementara tugasku membuktikan bahwa aku adalah contoh bahwa konsep ngeblog itu selalu aktual.?
    ?Maksudnya??
    ?Ya, selama kamu buka donnyverdian.net dan masih ada tulisan-tulisan terbaruku di sana, berarti blogger masih ada dan blog masih hidup serta konsisten. Akulah bukti ke-aktual-an ngeblog itu!? sergahku.
    ?Hehehe… sombong tenan sampeyan, Bos!? ujarnya.
    ?Aku harus sombong, Nggon! Cara ini yang kutempuh untuk membakar semangat mereka yang telah layu untuk ngeblog dan tetap menjaga mereka yang sekarang masih ?terjaga? untuk ngeblog supaya terus nulis dan ngeblog!?
    ?Edan! Semangat sampeyan itu luar biasa untuk ngeblog ya!?
    ?Orang kan dilihat dari konsistensinya tho? Aku nyoba untuk itu aja kok.?
    ?Hehehe ya, wes… balik ke soal acara blog tadi, Bos.. Kalau disuruh milih, dari acara-acara itu kamu milih yang mana??
    ?Kan aku udah pernah bilang di salah satu tulisanku bahwa kalau diberi kesempatan pulang waktu kemarin itu aku jelas akan datang ke seluruh acara, Nggon!?
    ?Halah…. tapi itu kan tulisanmu, Bos…. Itu basa-basi tho??
    ?Husshhh! Basa-basi gimana??
    ?Nyaaakk!! Gayamu, Bos.. kayak nggak tahu aja caramu basa-basi aja… Serius dikit lah… Atau hmmm… menurutmu memang jelek acara-acara itu??
    ?Hehehehe.. aku nggak mau njawab ah tapi ilustrasinya begini. Kalau kamu harus ke pasar buat beli tempe… tempe itu kan sama-sama kedelai jamuran dan busuk tho? Tapi kamu pasti milih satu tempe dari yang lain padahal semuanya sama-sama busuk tho??
    ?He-eh…. eh.. iya ya hehehehe!?

    “Hloh.. ya dana ? duit? Itu sponsor bisa besar-besar gitu apa kamu pikir ya cuma pasang logo tanpa ngasih duit tho, Nggon!”

    ?Nah! Itu dia, Nggon! Lagipula sebenarnya tak penting aku milih acara yang mana… Pokoknya selama acara itu berpengaruh positif untuk kelangsungan orang ngeblog ya bagus… Tapi sebaliknya, kalau acara itu hanya menjual label ?blog? untuk menyenangkan sponsor, panitia dan peserta… ya acara itu bakalan jadi yang terbusuk dari yang busuk lainnya, Nggon!?
    ?Oooo.. gitu tho… jadi tetap ya kalau sampeyan diundang ke acara-acara itu sampeyan akan datang semuanya?
    ?Hehehehe… tergantung… aku akan datang ke acara yang paling besar membayarku, Nggon!?
    ?Heleh… kok gitu? Kok matre? Katanya blogger idealis!?
    ?Lho… ini lepas dari soal idealis… Aku realistis kok. Lagipula konon kabarnya, dana mereka untuk penyelenggaraan acara itu besar-besar lho!?
    ?Dana?! Dana apa Bos?? tanya Tunggonono.
    ?Hloh.. ya dana ? duit… Itu sponsor bisa besar-besar gitu apa kamu pikir ya cuma pasang logo tanpa ngasih duit tho, Nggon!?
    ?Oh, gitu tho!?
    ?Lha iya…. masa acara itu jalan tanpa duit? Ya ada duitnya!?
    ?Lah.. lalu kemana larinya duit-duit itu, Bos??
    ?Ah,sudahlah! Aku sudah hapal caramu mancing-mancing gini. Jangan banyak cingcong lagi deh hehehe! Kamu pulanglah! Lagipula aku sudah ngantuk dan besok harus kerja pagi, Nggon!? sergahku.
    ?Halah si Bos ini! Dikangenin kok malah ngusir lho! Hmmm.. ya wes! Aku mau pulang tapi syaratnya satu!?
    ?Nah, main syarat-syaratanmu itu kok ya belum ilang-ilang tho, Nggon?!?
    ?Hehehe.. ngapain harus dihilangin ini namanya bargaining position jhe…?
    ?Nyaaaaakk.. gayamu.. tau darimana istilah bargaining itu???? Sok kemajuan kowe ki! Yo wes… apa syaratmu??
    ?Nganu… si Bos kasih tau dong jumlah duit masing-masing acara itu berapa juta tho kok kayaknya besar gitu??
    ?Juta? Juta??
    ?Lhah! Terus??
    ?Hmmm… ya udah.. sini kubisikin jumlahnya ke kamu…!?
    Sesaat setelah kubisikkan angka itu ke telinganya, paras Tunggonono langsung terkesiap kehilangan darah. Matanya melotot, bibir melongo dlongop dan jantungnya seperti berhenti berdetak untuk beberapa waktu lamanya.
    ?Hah?!!! Se…se… sebesar itu, Bos? Masa sih? Bu… bu… buat apa aja?? tanyanya seolah masih tak percaya.
    ?Hlohhh.. Ya buat acara tho ya! Panitia juga… barangkali.?
    ?Ealahhhh.. kok enak ya?! Kapan lagi tho acara begituan diadain? Saya mau daftar jadi panitianya, Bos.. biar kebagian juga!?
    ?Halah…. ngimpi kamu hahahaha! Ya udah.. kamu nunggu apa lagi? Pulang sana!? tukasku. Tunggonono pun undur diri meski wajahnya masih pucat dan bibirnya bergerak-gerak menghitung angka.. angka uang yang kubisikkan tadi. Tak lama kemudian sosok Tunggonono pun menipis lalu menghilang begitu saja.
    Suasana kembali hening dan melanjutkan sunyi. Sesaat sebelum melanjutkan tulisan aku membayangkan wajah Tunggonono jadi ketua panitia acara abal-abal berlabel blog lalu berpidato berapi-api di depan peserta yang hadir,? lalu sehari berikutnya ia pun liburan ke Timbuktu sana… sekadar untuk memanjakan tubuh…
    Spa!

  • Kemana perginya INDONESIA-ku?

    Kemana perginya INDONESIA-ku?

    Kaget blogku terbit hari ini dan bukannya Senin depan?
    Tak mengapa, biar sama-sama kaget, karena sebelum kamu kaget mbaca ini, aku sudah cukup dikagetkan tentang sesuatu yang hendak kutulis ini. Jadi, mari sama-sama kaget! :)
    Beginilah cerita ini berawal mula.
    Pagi tadi, sesampainya di kantor sebelum mulai bekerja, aku menyempatkan diri untuk blogwalking ke salah satu blog favoritku, Ndorokakung.com dan membaca artikel terbarunya yang berjudul Multiply Pecas Ndahe.
    Karena tertarik, aku lantas mengingat apakah aku pernah punya akun di Multiply atau tidak. Sesaat mengingat, sesaat berikutnya kutemukan benang ingatanku.
    lalu tanganku mengetikkan http://indonesia.multiply.com pada jendela browser… and GO!
    Sedetik, dua detik berselang lalu upppsss! Kagetlah aku mendapati tampilan telah berubah seperti yang kutampilkan di bawah ini:

    Wajah baru indonesia.multiply.com

    Sejujurnya aku memang sudah lama tak ‘masuk’ ke akun Multiply-ku. Hal ini pula yang lantas membuat aku sempat ‘nanar’ dan berpikir “Eh, jangan-jangan aku memang mengigau pernah punya akun indonesia.multiply.com ya?”
    Karena penasaran, aku lalu Googling dengan keyword: “indonesia.multiply.com donny verdian” dan kudapati halaman hasil pencarian seperti di bawah ini:

    Aku lantas mencoba meng-klik ke urutan pertama hasil pencarian itu, dan ouchhh, meski berjudul DV – Donny’s Photos tapi halaman di bawah inilah hasilnya:

    Aku lalu mencoba balik ke Google dan mencoba meng-klik “Cached” dari laman hasil pencarian lalu sesaat kemudian browser mengantarkanku ke halaman berikut seperti ter-captured di bawah ini :
    Perhatikan tulisan di box abu-abu atas: t is a snapshot of the page as it appeared on 2 Apr 2011 22:03:08 GMT. Ouch, baru sebulan silam kira-kira…

    Aku lantas bertanya-tanya, kemana perginya akun “indonesia” ku di Multiply.com?
    Padahal hasratku untuk ikut lomba seperti yang di rilis di halaman ini sudah membubung tinggi. Iming-iming hadiah yang te-o-pe-be-ge-te seperti Blackberry Playbook membikin adrenalinku terpacu untuk “pulang kampung” ke Multiply dan berpartisipasi dalam lomba. Tapi apa daya, aku tak bisa mengakses ke akun Multiply-ku yang dulu.
    “Kenapa nggak bikin akun baru aja Don?” begitu Tunggonono, tokoh rekaan lawasku yang tiba-tiba muncul dan berteriak di telinga kananku tadi. “Pengen sih, Nggon! Tapi aku sedang berpikir kalau aku bikin yang baru lagi, apa ada jaminan hal seperti ini tak terjadi lagi?”
    Piye tuips!?
     

    Update:

    @nrhapsari on Twitter:
    Hi Mas @dv77, salam kenal :) Multiply Corp sudah pernah mengirimkan email berkaitan dengan domain tersebut awal April lalu. (13:03 EST)
    @dv77 on Twitter:
    @nrhapsari ke email mana ya? (13:16 EST)

  • 26

    26


    Sebuah email kuterima dari Tunggonono, sosok ‘imajiner’ yang dulu selalu menemani malam-malamku ketika aku masih bekerja di Jogja.
    Judul yang ia terakan sebagai subyek email adalah sesuatu yang brilian, demikian bunyinya “Bos! Hati-hati dengan angka 26” dan berikut ini adalah isinya:
    Bos Donny, pripun kabare?
    Saya di sini baik-baik saja ya mung agak ketar-ketir dengan Merapi. Kok ya batuknya lama ya Bos?

    Eh Bos, pernah dengar soal rahasia ’26’? Itu lho, ternyata banyak bencana alam yang terjadi tanggal 26 ya? Trus, eh dikaitkan dengan agama kita, kok ya mathuk ya?
    Ini Bos, daftarnya:
    26 Agustus 1883: Krakatau meletus (36rb tewas)
    26 Juli 1976: Gempa China (255rb tewas)
    26 Januari 1951: Gempa Portugal (30rb tewas)
    26 Desember 1932: Gempa Kansu,China (70rb tewas)
    26 Desember 1939: Gempa Turki (41rb tewas)
    26 Desember 1996: Badai di Sabah (1000 tewas)
    26 Desember 2003: Gempa Bam,Iran (60rb tewas)
    26 Desember 2004: Gempa & Tsunami Aceh (250rb tewas)
    26 Mei 2006: Gempa & Tsunami Pangandaran (250 tewas)
    26 Mei 2006: Gempa Jogja
    26 Mei 2010: Gempa Tasikmalaya (20 tewas)
    26 Oktober 2010: Gempa & Tsunami Mentawai (115 tewas&500hilang) & Gunung Merapi meletus (28 tewas)

    Kapan wangsul? Kabar-kabar nggih!
    salam,
    ‘Nggono
    Dua hari setelah kesibukan pekerjaanku mereda, akupun membalas emailnya, demikian
    Nggon, kabarku apik-apik wae….
    Sing sabar, Simbah Merapi memang sedang ‘merapi’ kan diri….

    Nggon, Nggon…
    bareng tak woco-woco ki, emailmu ngaco tenan!
    Ngono yo ngono tur ojo ngono… ngawur yo ngawur tur ojo ngawur!!

    26 Agustus 1883: Krakatau meletus (36rb tewas)
    Salah! Tanggal tepatnya 26-27 Agustus 1883, 40 ribu tewas.
    sumber:?http://en.wikipedia.org/wiki/Krakatoa
    26 Juli 1976: Gempa China (255rb tewas)
    Salah! Tanggal tepatnya 28 Juli 1976, 255 ribu tewas. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/1976_Tangshan_earthquake

    26 Januari 1951: Gempa Portugal (30rb tewas)
    Sejauh ini kucari di internet kok nggak ada ya bencana tanggal itu?

    26 Desember 1932: Gempa Kansu,China (70rb tewas)
    Kali ini benar. Sumber: http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20080217125040AA7GJ4Y

    26 Desember 1939: Gempa Turki (41rb tewas)
    Salah! Kejadian yang benar adalah tanggal 27 desember 1939, 32 ribu tewas. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/1939_Erzincan_earthquake

    26 Desember 1996: Badai di Sabah (1000 tewas)
    Benar! Tapi hanya 200 orang yang tewas.Sumber:?http://www.mvfra.org/Tragic.htm

    26 Desember 2003: Gempa Bam,Iran (60rb tewas)
    Benar! Tapi yang tewas 26 ribu Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/2003_Bam_earthquake

    26 Desember 2004: Gempa & Tsunami Aceh (250rb tewas)
    Benar! Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Aceh

    26 Mei 2006: Gempa & Tsunami Pangandaran (250 tewas)
    Salah besar! Yang benar 20 juli 2006. Sumber: http://www.gadr.giees.uncc.edu/hzeventdetails.cfm?ID=76

    26 Mei 2006: Gempa Jogja
    Salah besar! Moso kamu lupa tho? Bukannya kamu yang ngebangunin aku waktu itu? Yang benar tanggal 27 Mei 2006.

    26 Mei 2010: Gempa Tasikmalaya (20 tewas)
    Salah! Yang benar 26 Juni 2010, tidak ada laporan tewas). Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/06/26/337/346940/337/gempa-tasikmalaya-tak-berpotensi-tsunami

    26 Oktober 2010: Gempa & Tsunami Mentawai (115 tewas&500hilang) & Gunung Merapi meletus (28 tewas)
    Benar!

    Aku bangga kamu peduli dengan bencana yang terjadi, Nggon… tapi mbok ya sebelum dikirim itu dibaca dulu benar-tidaknya…. jangan memaksa-maksakan sesuatu yang salah supaya kelihatan benar dan seragam!
    Satu lagi, belajarlah realistis!
    Aku berTuhan dan kamu juga… percayalah Tuhan yang sama yang kita sembah itu memberi kita senjata akal dan budi untuk menghasilkan logika yang baik untuk kehidupan ini, jadi berpikirlah logis!
    Selebihnya, untuk hal-hal yang tak kelihatan termasuk masa depan, pasrahkanlah pada Tuhan tanpa kamu perlu mereka-reka sampai ngawur sebegitunya!

    Tetap optimis dan semangat menjalani hidup ya…
    Sampai nanti Januari 2011, Nggon! Kita akan bertemu di Jogja kita tercinta!

    salam,
    Donny Verdian (eks Bos-mu)

  • Ibu

    Ibu

    Mom

    Suatu waktu dulu, Tunggonono pernah bertanya padaku “Bos, menurut sampeyan, bagaimana sosok ibu dimata Bos?”
    Sesaat aku terkaget dengan pertanyaan yang begitu datar namun dalam dari sosok Tunggonono yang preman ndeso itu.

    “Bos…”
    “Ya?”
    “Lho pripun tho..? Gimana sih? Kok nggak dijawab malah diem sambil merem begitu?” Ia tampak tak sabar dengan jawabanku.

    Aku tetap terdiam, memejamkan mata dan mencari jawaban yang kira-kira tepat bagi pertanyaan Tunggonono itu.
    Kucari wajah ibu dalam lamunanku itu dan menata kata-kata untuk melukiskannya dalam benak:


    Ibu bagiku adalah segalanya.
    Melebihi gunung yang matinggi,
    mengungkungi busur bumi yang menjadi alur kerja bagi matari.


    Hatinya tak sekeras kapas dan kerendahannya tak pernah lebih dari tinggi ilalang.


    Doa-doanya tak pernah lebih pendek dari panjang usianya,
    marah dan amuknya tak pernah lebih panjang dari pendeknya masa kejapan mata dan
    maafnya tak kepalang terukur lagi sampai ke samudra raya dan meluap hingga ke angkasa…


    Kebanggaan pada keberhasilan anak-anaknya sama besar dan
    digdayanya dengan usahanya tatkala menutupi kelemahan dan serta menghibur kegagalan anaknya.


    Baginya anak adalah ia, dirinya sendiri!
    Sesuatu yang pernah terjatuh dari pelepahnya, dari kelopaknya…
    Lalu tumbuh dan pada satu masa mungkin akan lebih besar daripadanya sendiri,
    bahkan mungkin menerjang tubuh mengkerutnya, menindas akar yang adalah akarnya sendiri…


    Ibu adalah gambaran perjuangan kehidupan.
    Ia ditunjuk untuk menjadi yang pertama seyogyanya yang terutama.
    Pada rahim dan melalui lubang vaginanya, kehidupan ditiupkan dan berpangkal, berawal mula.


    Andai saja agama tak begitu menyeramkan dalam menyaru sebagai laskar pembela Tuhannya masing-masing,
    barangkali sudah banyak orang yang akan menganggap ibu sebagai Tuhan.

    Kubuka mataku dan ketika hendak menyampaikan pikiranku itu dalam kata-kata, Tunggonono telah pergi ngeloyor ke depan…

    Bu, Simbok, Mama … sugeng tanggap warsa, selamat ulang tahun, happy birthday…
    Tak perlu lagi kukaitkan begitu banyak untaian doa bagimu karena Tuhan tak pernah sedetikpun meninggalkan kita dan kamu, bukan?

    Ia telah begitu menyatu!

    Foto by Kelik Broto

  • Bagaimana Cara Kalian Memaafkan?

    Bagaimana Cara Kalian Memaafkan?

    Semalam aku mendadak jadi sangat kebelet buang air besar ketika mendengar melalui telepon bahwa Tunggonono, mantan penjaga malam yang selalu me-nunggoni (menunggui) ketika ku bekerja di Indonesia dulu, bilang bahwa ia telah berhasil memaafkan orang yang pernah menghajarnya di Pasar Ndemangan dan melupakan kesalahan orang tersebut pada saat yang bersamaan.

    Well, sebagai teman sekaligus mantan bos, tentu aku hanya bisa manggut-manggut menghargai apa yang telah keluar sebagai kata-kata dari mulutnya. Tapi justru karena kemanggut-manggutanku itulah, meski mulut dan bibir bisa tetap pasif tersenyum tapi hasrat untuk boker tak tertahankan. Seperti ada yang bergejolak di perut dan minta dikeluarkan.
    Apa mau dikata :)

    Memaafkan, bagiku adalah proses yang tak jelas kapan akan berkesudahan.
    Dan hakikat dari sebuah proses tentu memerlukan usaha dan intensi, kemauan serta kontinuitas dari dalam diri.
    Ia harus memiliki iterasi, perulangan.

    Separuh tahun yang lalu, seorang yang tadinya bahkan kuanggap adik sendiri, terpaksa harus kuakhiri hubungan persahabatanku dengannya karena satu kesalahan yang menurutku amatlah fatal.

    Dalam sebuah diskusi non-formal di kedai angkringan di Jogja waktu itu, di depan teman-temannya yang baru juga ia perkenalkan padaku, secara sengaja dan sadar ia merobek-robek buku karyaku. Itu adalah buah kemarahan yang dihasilkan emosi labilnya karena tak sepakat dengan pendapatku tentang bagaimana mendapatkan bantuan bagi kaum papa dari penjualan ulang bukuku.

    Tidak! Aku tidak memukulnya, menyentuhnya pun aku tidak.
    Kali itu aku ingin membuat satu pembedaan diri antara binatang dan manusia.
    Aku hanya diam lalu pergi dan berkomitmen dalam hati bahwa ia yang tak punya kuasa sedikitpun merobek “anak rohani” ku itu, adalah orang yang sejak saat itu sangat tidak pantas lagi bahkan untuk menyebut namaku sekalipun!

    Seburuk apapun buku yang telah kubuat, ia tidak lahir dan keluar begitu saja seperti tinja yang keluar dari lubang dubur.
    Ia adalah cerminan dari apa yang kupikirkan di otak, kutulis di media penulisan lalu diakui oleh sebuah penerbit sebagai karya yang layak dijual dan diterbitkanlah olehnya. Ada sebegitu panjang alur proses yang harus dilalui untuk menjadi buku dan dalam sekejap ia merobek dan menghancurkannya?

    Sejak malam itu, kuanggap ia tak pernah ada lagi. Tidak sahabat, tidak pula sebagai teman.
    Bagiku ia hanya menyisakan sebuah nama dengan kisah-kisah persahabatan nan heroik yang indah yang tak kan mampu kuingkari, tapi untuk bermimpi mengukir satu kisah indah lainnya bersamanya di depan secuil pun tak kudekatkan pada alam tidurku.

    Tiga hari terlewati, dua bulan tergenapi hingga akhirnya ia meminta maaf padaku.
    Melalui email ia mengaku telah berbuat kekilafan meski aku tak mengakui bahwa ketika ia menyobek buku itu ia sedang kilaf karena kalau ia memandangnya demikian, bagaimana kalau kubilang sekalian bahwa ia hidup dalam kekilafan yang panjang dan tak berujung ?

    Tapi aku toh memaafkannya.
    Kuterima maafnya meski tak serta merta kuanggap ia layak menjadi sahabatku kembali.
    Bagiku menerima maaf adalah keharusan, refleks karena aku manusia tapi menjadikannya sahabat adalah pilihan dan aku memilih tidak.

    Untuk yang pertama kali ia kumaafkan dan sejak saat itu kumulai sebuah journey panjang pemaafan terhadapnya yang entah hingga kapan kutahui ujungnya. Mungkin hingga pada suatu waktu karena banyaknya kejadian lain yang menguras daya ingatku, aku akan lupa akan kejadian itu sama sekali. Tapi lupa itu bukan berarti akhir yang baik dari pemaafan, bukan?
    Melupakan kesalahan orang menurutku justru menggunakan kelemahan yang satu untuk menutup kelemahan kita yang lain sementara bukankah kelemahan itu seharusnya ditutup dengan lebih banyak kekuatan?

    Dan akhir tulisan ini adalah akhir yang tak berujung pula.
    Aku bukanlah manusia yang sangat pandai menyimpulkan apalagi mempersingkat sebuah pengertian.
    Dan kali ini, kubiarkan kata “maaf” sebagai hal yang harus kurenungi entah hingga kapan tentang bagaimana baiknya mengelola prosesnya dan mengakhiri proses pemaafan itu dengan sesuatu yang baik nan sempurna.

    Semoga aku dan barangkali kalian yang sepakat denganku dapat menemukan hilir permenungan itu.

  • Diinterview Tunggonono

    Diinterview Tunggonono

    Dan dia datang kembali!
    Sahabat lama merangkap bekas batur yang kerap menunggui malam-malam sepiku di bekas kantor dulu,
    sekaligus preman ndeso yang kalau ngomong suka ngotot sampai urat di lehernya bisa berereksi sebesar jari kelingking dengan mata memerah marah…. ladies and gentlemen please welcome, Mr Tunggonono!

    Yup, dia datang kemarin pagi, memecah keheninganku ketika tengah berkonsentrasi demi terlepasnya beberapa buah tinja di
    lubang pembuangan.

    “Halo, Bos… pripun kabarnya?”
    Akupun terperanjat, “Eh… kowe tho, Nggon… so how is.. eh piye kabarmu?”
    “Sae Bos.. wah si Bos katanya dah dapet kerjaan ya?”

    Aku semangkin kaget lagi!
    Tak menyangka bahwa dia masih juga membuka blog ini meski aku sudah bukan pula Bosnya.
    Acara membuang tinja dan proses pencapaian keheningan itupun kutinggalkan.
    Kupersilakan Tunggonono masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa lalu ia mulai bertanya layaknya wartawan meng-interview artis ternama. O well, tentu Tunggonono menjadi wartawannya dan aku artisnya.

    Tunggonono (T) : Sampeyan kerja dimana jhe, Bos ?
    Donny Verdian (DV) : Oh, nama perusahaan nggak penting lah… tapi itu perusahaan holding management yang meng-internasional. Berbasis di Australia dan memiliki kantor cabang di London, Amsterdam, Singapore dan Hongkong. Bisnis intinya adalah finance information, mulai dari majalah sampai live information seperti harga saham dan currency melalui handphone dan pager.

    T : Wuih sangar ik! Njuk sampeyan jadi apa di situ Bos?
    DV : Yang pasti ndak jadi kayak kamu! Hehehehehe…. Nganu, aku jadi web designer dan merangkap jadi web developer.

    T : Weh, nggak kreatif! Dari dulu kok jadi itu itu terus..!
    DV : Yo ben! Biarin! Lha mau gimana lagi, yang bisa kujual dariku baru itu jhe. Nek mendadak kamu dengar aku jadi keple lanang rak yo kamu sendiri yang terkaget-kaget tho hehehehehe…

    T : Trus kerjanya gimana? Brangkat kerja naik apa dan jam berapa ?
    DV : Walah pitakonmu koyo pulisi wae! Kerjaku ya gitu, mulai dari drafting, meeting, designing, cutting, scripting, hosting, maintaining! Dan aku ngerjakannya semua sendirian!

    T : Maksudnya, Bos ?
    DV : Yupe, aku belum punya team. Jadi aku ngerjain semuanya lalu kulaporkan ke Bos ku tiap deadline datang.

    T : Trus, kok pertanyaanku belum dijawab, Bos! Berangkat jam berapa dan naik apa ?
    DV : Eh iya, lupa! Aku berangkat jam setengah tujuh pagi naik bis dari rumah ke City lalu dari City ganti bis ke tempat kerja. Aku masuk jam 8.30 pagi.

    T : Weh kok risik! Lha nek gitu njuk bangunnya jam berapa ?
    DV : Hehehehe, percoyo sukur ra percoyo ra popo… aku bangun jam LIMA PAGI!!!!

    T : (tersedak.. terbatuk-batuk) Ah, tenannya! Si Bos ini ada-ada saja… Lha wong dulu jam 4 pagi aja baru mau tidur kok …
    DV : Read the below line deh! Percoyo sukur.. ra percoyo ayo tawur!!

    T : Alaaaah si Bos, emosinya masih teteuppp! Njuk itu teman kerja si Bos orang mana aja ?
    DV : Kan kubilang di atas aku kerja sendirian, tapi bosku dan partner di divisi lain semua orang bule.. Bule pendatang dari Eropa dan bule Australia. Orang asia nya cuman dua orang, aku dan seorang lagi akuntan, dia orang China Mainland.

    T : Weh ampuhhh.. berarti si Bos ngomongnya pake Bahasa Enggres dong!
    DV : Yupe.. arep piye meneh! Lha mereka kuajak omong Bahasa Indonesia yo ora nyahut opo meneh nganggo boso walikan Jogja khas mBeji, yo tambah mumet!

    T : Wah si Bos jauh-jauh ke Australia kok ya masih inget mBeji tho?
    DV : Hehehehe, yo masih lah Nggon… walau gajiku dollar, tinggalku di Sydney tapi aku orang Indonesia, orang Jogja!

    T : Jogja po Klaten ? Hahahaha ngaku-ngaku lho sampeyan ini…
    DV : Ra sah cangkeman, Nggon! Hahahahhaa….. Klaten Jogja mung berjarak 30 kilo wae lho…

    T : Nahhh, ngomong-omong soal gaji, pasti gede ya tho… hayo mbok ngaku Bos, berapa gajimu!
    DV : Hushhh! Ra patut, ra elok… ra usah…!

    T : Hahahahaha, si Bos jaga jarak sekarang! Lha trus dibandingkan dengan kerjaan yang dulu, enakan mana Bos ?
    DV : Iki ra nyangkut gaji tho ?

    T : Ora …
    DV: Ok! Pada prinsipnya nggak ada yang lebih enak dan lebih nggak enak. Semuanya saling melengkapi. Ilmu dan pengalaman yang aku dapatkan di kantor tempatmu sekarang kerja itu migunani banget tumraping prakaryanku sing saiki!

    T : Alahh si Bos ini njawabnya sok diplomatis banget! Mbok sing jujur!
    DV : Lhoo itu udah jujur jhe! Kowe ki piye tho! Ini sudah jujur… Semua bagus. Kamu itu harusnya membayangkan bahwa sepanjang hidup ini seperti layaknya membangun jembatan. Kamu mulai dari ujung yang satu lalu pelan-pelan ke ujung lain sehingga setiap inchi dari apa yang sudah kamu bangun di belakang itu, semua sungguh saling mendukung dengan apa yang sedang dan akan kamu rampungkan, Nggon…

    T : (manggut-manggut) Hmmm. gitu tho… lha njuk sampeyan tapi yang pasti udah nggak jadi Bos ya? Berarti sibuk banget?
    DV : So far sih nggak… Aku pulang selalu sesuai kontrak, jam lima sore teett aku wes budhal bali. Ya paling di kerjaanku yang baru ini aku nggak bisa chatting dan browsing dan blogging sebebas dulu, katakanlah itu sebagai ketidakenakan, bolehlah… hehehe…

    T : Halah.. tapi gajinya kan gede tho Bos…
    DV : (tersenyum manis) … We lah, kowe kok nyangkutke soal gaji lagi tho ?

    T : Ah si Bos ini kok cuma ditanyain gaji wae lho hehehehe…
    DV : Ealah lha pentingmu ki opo jhe ?!? Ngaku gede gajiku ke kamu itu untuk apaaaa…? Opo yo nek ngaku ke kamu njuk aku bisa berubah jadi Spiderman ? (rodo ra nyambung)

    T : Halah… si Bos kok malah mau jadi Spiderman juga.. Opo tumon!
    DV : Yo ben!

    T : Ayolah.. Bos.. Bos.. (mengembik) mbok ngaku…
    DV : (melembut) Ah, udah lah…. ra penak Nggon… apalagi ini kan media blog.. media umum.. semua orang jadi tahu nanti… njuk ngira aku sombong dan nggak membumi lagi..

    T : Ealahhh lha wong blog ya blog sampeyan sendiri lho… Ya wes, dibisiki saja, biar ndak ada yang denger!
    DV : (terdiam… tercenung cukup lama lalu pelan-pelan memberi isyarat angka dengan menggunakan jari-jemari tangannya.) Segini Nggon kelipatannya…. Wes jelas ?

    Tak ada jawaban dari Tunggonono. Pandang matanya nanar dan mulutnya plonga-plongo melihat jari tanganku yang masih kuacungkan itu.

    “Nggon, are you ok?”
    “Oh… ok. okkk… Yes.. ok, Bos!”

    “Lha kenapa kamu kok tiba-tiba terdiam gitu?”
    “Nganu, saya kok tiba-tiba jadi ngitung berapa jumlah gajimu sekarang, Bos!”
    “Halah…. kamu ngga usah gitu, lha wong gajiku dulu aja kamu juga ngga tau tho..?!”

    Akupun tertawa nggleges ….

    Lalu tak lama kemudian, Tunggonono pamit pulang.
    “Ya wes Bos! Saya tak pamit! Nanti malam saya mangsuk jaga malam jhe!”
    “We lha, ini juga baru mau kubikinkan kopi jhe.. kamu itu kok tergesa-gesa….”
    “Lha besok-besok maen lagi kalau ada kabar gembira…. hehehehe”
    “Oh ya wes nek gitu, salam buat para bosmu dan teman-teman semua di sana ya… Salam dariku sebagai saudara jauh ya!” balasku.

    Tunggonono mengangguk dan sekejap kemudian ia telah kuantar hingga ke ujung depan halaman rumah.

    “Bos…”
    “Ya, apalagi, Nggon?”
    “Nganu… nek gitu sesuk saya juga nitip CV ke sampeyan, Bos!”
    “CV? Curriculum Vitae maksudmu? Buat apa?” tanyaku.
    “Hehehe iseng-iseng ngelamar sapa tahu bisa dapat yang lebih bagus di sini dan berlipat-lipat gajinya seperti si Bos tho…hehehehe”

    Sekarang giliran aku yang plonga-plongo mendengar omongan Tunggonono sementara ia mulai melangkah pergi sambil tak juga menghabiskan tawanya.

    Yang tersisa sekarang tinggal gelak tawa dan bayangannya yang semakin pupus ditelan jarak dan akhirnya lenyap ditelan kabut malam yang hingga sepagi itu belum juga dilibaskan oleh hari.

  • Wang Sinawang

    Wang Sinawang

    Aku ingat betul, beberapa saat sebelum kutinggalkan, Tunggonono, penjaga malam kantor dulu, pada suatu malam berujar begini “Wah, enak ya Bos mau pindah ke Australia! Yang pasti banyak ketemu londho, orangnya kaya-kaya dan… ngga ada gempa lagi!”

    Aku yang terkadang harus berhati-hati menghadapi pertanyaan maupun pernyataan Tunggonono yang terkadang terkesan tulus tapi tiba-tiba bisa menjadi ranjau berduri itu hanya tersenyum. Kurasai saat itu pernyataannya benar-benar tulus tidak menyisakan ruang sedikitpun untuk jebak-menjebak.

    Melalui posting ini, aku tidak hanya ingin menjawab pernyataan Tunggonono saja namun juga banyak pertanyaan senada dari teman-teman tentang bagaimana enaknya Australia yang terkadang mau tak mau menyertakan pernyataan “betapa tidak enaknya Indonesia dibandingkannya!”

    Waktu awal-awal datang dua bulan lalu, bayangan bahwa Australia adalah surga sesungguhnya itu begitu kasat di benak dan kesannya membuat neraca perbandingan antara Indonesia dengan Australia menjadi berat sebelah.

    Tapi semakin ke sini semakin pula kurasai bahwa pendapat awalku dan pendapat banyak teman termasuk Tunggonono itu tak sepenuhnya benar. Australia adalah tetap Australia yang tak bisa melepaskan diri dari takdirnya sebagai tempat tinggal makhluk hidup; tempat dimana hitam tak bisa dilepaskan dari putih dan buruk akan selalu menyertai sela-sela kebaikan yang ada.

    Pendek kata, ada banyak hal yang tak terlalu menyenangkan terdapat di sini bahkan dalam beberapa sisi mungkin, sekali lagi mungkin, lebih buruk ketimbang Indonesia.

    Yang pertama soal cuaca.
    Betul kalau cuaca di sini tidak terlalu lembab dan aku sangat benci kelembaban karena membuat wajah menjadi berminyak, badan gampang berkeringat dan koleksi gitar akustikku jadi cenderung mudah rusak kayunya.

    Tapi siapa yang sanggup berkompromi dengan cuaca Australia akhir-akhir ini yang gampang berubah seperti mood para politisi di tanah air yang sebentar membela A lalu besoknya memberati B itu?

    Pernah dan terlampau sering di sini mengalami perubahan cuaca yang ekstrim.
    Dua jam pertama sesudah jam 6 pagi langit begitu cerah lalu tiba-tiba suara kilat terdengar dan langit menggelap begitu cepat disertai angin yang kuencengnya ampun-ampunan.
    Air hujan pun berderai-derai jatuh dari langit untuk beberapa saat. Menjelang tengah hari pukul 12 siang, eh tiba-tiba gumpalan awan menyingkir digantikan langit yang kembali membiru disertai suhu udara yang merayap hingga di angka 40 derajat celcius.
    Menjelang sore masih di tengah suhu yang panas tiba-tiba angin selatan yang kata teman saya adalah angin dari Antartika, Kutub Selatan itu membelai permukaan dengan tiupan yang sangat dingin!

    Apa mau kalian bilang?
    Global warming?
    Gundulmu peang!
    Sejak sebelum para pandai itu latah mengatai gejala alam ini dan itu sebagai global warming, keadaan seperti ini konon sudah lazim terjadi di sini!

    Yang kedua, lalu lintas.
    Tepat sekali, dari sisi kemacetan, Jakarta adalah tempat “terkumuh” yang pernah kutemui :)
    Kalau ingat bagaimana selama satu bulan (Oktober 2008) aku tinggal di Jakarta lengkap dengan macetnya lalu lintas serta tabiat orang dalam berkendara yang ngawurnya sudah sampai tingkat akut, rasanya aku tak kan sanggup untuk tinggal di ibukota jaya itu lebih lama lagi!

    Tapi kalau mau dilihat secara jujur, lalu lintas di sini pun tak sepenuhnya cerminan surga :)
    Aku merasainya betul-betul! Mungkin karena semua orang di sini sudah sangat tergantung dengan yang namanya aturan yang ketat dengan denda yang tinggi jika melanggar maka ketika satu kesalahan terjadi semua bisa jadi runyam serunyam-runyamnya. Sering kutemui di highway-highway, kecelakaan kronis terjadi karena tabrakan beruntun.

    Penyebabnya?
    Ketika kita saling beradu kecepatan di jalurnya masing-masing lalu tiba-tiba ada orang gila melanggar jalur sedikit saja yang harusnya ia ikuti dan “Blarrr!” mobil-mobil di belakangnya yang tak siap dan tak biasa main “cerdik” seperti kita yang di Jakarta pun terkaget-kaget, tak sempat menginjak rem dan tabrakan tak terelakkan!

    Apalagi di city, yang namanya orang menyeberang itu tak jarang ya menyeberang begitu saja!
    Tanpa melihat traffic light, tanpa melihat dia meletakkan kakinya di atas zebra cross atau tidak pokoknya “Werrrr”..

    Beberapa waktu yang lalu ketika aku sedang nyetir kebat-kebatnya dan tiba-tiba ada orang nyebrang ngawur gitu ya aku cuman bisa misuh “Asu! Munyuk!”

    Ya habisnya, mau dipigimanakan lagi tho ?

    Yang ketiga adalah soal tabiat orang secara umum.
    Entah ini karena terlalu terbukanya Australia terhadap segala suku bangsa maka persoalan yang kerap terjadi adalah adanya gegar budaya antara satu golongan dengan golongan yang lain. Aku belum pernah melihat sesuatu perkara yang besar terjadi di sini, tapi yang jelas sebagai orang Indonesia aku pernah merasai gegar itu terhadap bangsa lain.

    Pernah suatu waktu di Parramatta aku tersenggol dengan cukup keras oleh anak-anak ABG. Karena hal itu aku hampir saja terjatuh ke belakang. Kalau mau menuruti emosi, barangkali anak-anak ABG itu sudah saya lawan dengan kekerasan, akan tetapi karena takut bonyok karena jumlah mereka banyak, dan lebih lagi karena aku tahu di sini sangat susah menghadapi tuntutan pengadilan kalau kita main pukul, maka aku hanya bisa diam sambil memasang tampang seburuk mungkin ke arah mereka.
    Namun dasar wong edan, mereka malah meledek ke arahku dengan mengata-ngatai segala macam. Ah untung aku belum terlalu canggih dalam berbahasa Inggris sehingga tak terlalu tahu mereka itu ngomong apa dan memang tak berharap untuk tahu.

    Pernah pula, masih menyoal tabiat umum, di dalam kereta dari Parramatta ke kota, aku duduk di kursi yang kebetulan masih terpasang berhadap-hadapan. Ketika kunaik, kursi di depanku masihlah kosong hingga di Granville sepasang bapak-ibu bersuku bangsa X duduk di hadapanku. Lima menit kereta pun berjalan dan tiba-tiba teleponnya berdering.
    Sejatinya orang yang tau unggah-ungguh, kalau menerima telepon di tempat umum seharusnyalah tidak berbicara dengan volume yang keras tapi … astaga si Bapak yang berkumis lebat itu mulai berbicara dalam bahasanya dengan volume yang dahsyat, mencengangkan. Tak hanya aku, dari sudut mata kulihat beberapa orang yang duduk di bangku sebelah mulai melihat dengan sorot mata tak senang terhadap si bapak itu.

    Tak kurang dari lima menit hingga si Bapak menutup telepon sementara kereta masih merayap menjelang Stratfield. Tiba-tiba istrinya mengeluarkan sebuah bungkusan makanan dari dalam tasnya, well mereka mulai makan.

    Ngiler kepengen makan? Oh tidak dalam seribu satu cara sekalipun!
    Aku justru mulai semakin tak nyaman dan waspada terhadap serbuan remah-remah makanan yang mungkin mereka seberangkan ke tubuhku dari mulutnya.

    Masa mungkin?
    Siapa bilang tidak kalau melihat cara makan mereka yang serampangan dengan sedikit-sedikit tetap berbicara sementara mulutnya masih penuh muatan itu. Aku hanya mampu berdoa supaya kereta ini bisa terbang hingga tiba-tiba sampai di Town Hall, tempat aku akan mengakhiri perjalanan kereta kali itu.
    Dan Tuhan rupanya cukup mendengar doaku. Bukan kereta yang terbang tapi mereka yang sepertinya sepakat untuk berhenti makan. Bungkusan pun dimasukkan ke dalam tas, aku sedikit melega.

    Tapi, baru sehirupan nafas kulakukan pertanda lega, tiba-tiba tabiat buruk khas ndeso mereka lakukan.
    Dengan menggunakan tangan dan kuku mereka mulai mengorek-korek gigi untuk mencungkil ataupun mengambil sisa makanan yang tertinggal. Tak puas dengan itu, ketika merasa ujung kuku mereka telah menyentuh sisa makanan yang dicari, segera ia keluarkan jari itu dan dipandangi dengan penuh ketakjuban lalu “sreeetttt” dilapnya makanan itu di permukaan baju mereka.

    Aku mendadak limbung, pusing karena jijik dan hanya bisa bergumam pelan dalam bahasa yang aku yakin mereka tak tahu “MunyukkkKKKK!”

    Itulah. Itu baru tiga belum yang lain yang tak layak dituliskan di sini.

    Tulisan ini tidak kumaksudkan untuk menjelek-jelekkan apa yang ada di sekitarku karena bagaimanapun semua ada untuk aku syukuri :) Tapi lebih sebagai imbangan, sebagai upaya untuk membuat imbang neraca antara apa yang kutulis-tuliskan sebelumnya tentang Australia dan Indonesia. Aku percaya bahwa baik buruk, unggul-jatuhnya satu jenjang kehidupan itu bukan ditentukan sepenuhnya oleh negara dan bangsa tapi oleh pribadi kita masing-masing.

    Kalau sudah begini, mendadak aku jadi ingat ungkapan lama Jawa yang kedengarannya sederhana tapi bermakna dahsyat “Wang sinawang.”

    Ya, ketika perkara kehidupan ini diperbandingkan, bukanlah perkara mutlak yang kita temui di sana, karena tak ada sesuatu yang absolut dan mutlak di muka bumi. Hidup harus dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kelebihan dan kekurangannya dimanapun dan sampai kapanpun.

    Grafitti

    Eits, ini bukan pemandangan di KRL Jakarta atau di suatu tempat di Indonesia sana.
    Ini adalah foto pemandangan kereta di sini, di Australia. Grafitti buruk nan menjengkelkan semacam inipun dikenal di sini.

    Muntah

    Ini juga bukan pemandangan lift di Pasarbaru atau dimanapun di Indonesia.
    Ini adalah pemandangan sebuah lift di Paddys Market di sini.

  • Mantan Buaya dan Kulit Buaya

    Mantan Buaya dan Kulit Buaya

    Aku ingat ketika masih tinggal di Indonesia, salah satu permasalahan yang kian hari kian tampak adalah modernisasi di kota-kota kecil dalam wujud pembangunan pusat-pusat pertokoan modern.
    Keberadaannya, di mata sekian orang dipercaya menjadi awalan bagi matinya industri lokal, pedagang-pedagang kecil serta yang paling tampak adalah menyurutnya nasib baik para pedagang di pasar-pasar tradisional.

    Pada waktu di Jogja, yang sekarang sudah tidak bisa disebut sebagai kota kecil, dibangun beberapa pusat pertokoan modern secara nyaris bersamaan, sedikit banyak akupun juga bisa membayangkan betapa akan semakin beratnya hidup para mbok-mbok kuli angkut yang dulu sering kulihat geliat kerjanya di Pasar Beringharjo menjelang fajar tiba. Ketika penduduk perkotaan sudah tidak terlalu memiliki hasrat untuk pergi ke pasar tradisional, berarti akan mengurangi komoditi yang harus digendong oleh simbok-simbok kuli tadi dan alhasil rupiah yang sejak dulu sudah tidak terlalu banyak dimilikinya pun harus semakin berkurang didapatnya.

    Ah, Tunggonono!
    Ya! Tiba-tiba aku ingat sosok satpam kantor yang selalu setia padaku dulu itu. Pernah pada satu saat, Tunggonono dengan gayanya yang khas itu berkata padaku bahwa ia dan keluarganya sekarang lebih senang untuk pergi belanja ke supermarket superbesar yang letaknya tak jauh dari kantorku dulu.

    “Lha abis pripun, Bos! Kalau belanja di pasar itu ya kotor, apalagi pas musim hujan gini pasti becek. Tapi nek saya belanja di supermarket situ kan beda. Lantainya keramik, yang belanja ayu-ayu dan harganya itu lho.. bolehnya mahal ya nggak semahal yang dibayangkan, malah kadang lebih murah dari harga pasar tradisional lho…”
    We lha…

    Jumat malam sesudah pelayanan di komunitas sel, istriku bertanya padaku “Kamu besok mau ke Parklea Market?”

    “Heh? Tempat apa pula itu, Hon?” tanyaku.
    “Parklea Market kayak pasar tradisionalnya di sini. Itu tempat jualan barang-barang murah meriah. Ada buah-buahan, sayur-sayuran dan banyak lagi. Barang-barangnya kayak di supermarket tapi murah-murah!”

    Akupun manggut-manggut tanda mengerti sekaligus setuju untuk besoknya pergi ke sana.

    Maka jadilah! Sabtu, 15 November 2008, sekitar pukul 10.00 am ditengah cuaca yang tak menentu, bersama istri aku menuju ke Parklea Market, pasar tradisional Australia, yang letaknya tak sebegitu jauh dari tempat tinggalku.

    Dari sisi bangunannya, Parklea Market menyerupai gudang besar dengan atap yang tinggi dengan rangka baja yang terlihat kokoh dan dibiarkan telanjang tanpa plafon yang menutupinya. Nah, tepat! Tepat seperti kalau kalian membayangkan bangunan Alfa Store di seberang jalan Hotel Jayakarta, Yogyakarta. Lalu di dalamnya, hamparan penjual beserta jualannya tampak di sana.

    Apa yang dijual? Macem-macem!
    Mulai dari buah-buahan, sayur mayuran segar hingga produk-produk kosmetika, perlengkapan binatang peliharaan serta wow, aku menemukan tukang jualan laptop-laptop bekas di sana! Apa yang dijual di sini rata-rata memiliki kisaran harga yang lebih murah ketimbang harga toko. Sebagai contoh deodorant Rexona semprot yang di toko dijual 6.40 di situ cukup ditebus dengan uang lima dollar!
    Belum lagi buah-buahan yang kata istriku bisa irit hingga 5 dollar, sungguh menyenangkan!

    Makanya, ide paragraf pertama itu tadi muncul ketika aku sedang berada di Parklea Market.
    Bukan dalam rangka membandingkan, tapi barangkali kalau antusiasme warga dan sekaligus kegigihan para penjual di pasar tradisional dalam menjaga kualitas barang dan layanan itu sama dengan apa yang kulihat di Parklea Market pagi ini, kekawatiran banyak orang seiring dengan dibangunnnya mall-mall akan redup begitu saja. Atau barangkali mall-mallnya yang tidak akan jadi masuk ke kota-kota kecil? Wah bagus sekali kalo itu!

    So, anyway, siang itu, aku dan istriku di Parklea Market membeli mangga, sayur untuk dimasak olehnya, beberapa deodorant dan sabun mandi serta dua potong kaos untuk Simba yang kita dapat dengan harga masing-masing 20 dollar atau separuh harga ketimbang pet shop yang berada di shopping center-shopping center terkemuka di sini.

    Satu jam lebih kami berdua berkeliling ke sana kemari dan setelah puas berbelanja di Parklea Market kami lantas pergi ke Windsor untuk makan siang.

    Windsor adalah sebuah kota yang terletak sekitar 70 kilometer ke arah barat laut dari Sydney. Dengan mobil pribadi, dari Castle Hill aku dan istri menempuhnya dalam waktu 30 menit berkecepatan sedang.

    Dari sumber yang kudapat, Windsor adalah tempat tertua ketiga yang didiami pada awal-awalnya di benua Australia ini oleh kaum kolonial. Awalnya bernama Green Hills hingga akhirnya diganti menjadi Windsor oleh Governor Lachlan Macquarie pada 15 Desember 1810. Oh ya, sudah barang tentu nama Windsor diilhami oleh nama tempat yang sama di Inggris sana.
    Australia gitu lochh, hampir semuanya serba ke-Inggris-inggrisan lah!

    Di Windsor, aku dan Joyce menyantap fish and chip, makanan yang rasanya menggemaskan dan dihidangkan dengan porsi Australia yang sejumbo besarnya. Dalam tradisi Katolik kuno, makan ikan memang dianjurkan pada tiap hari Jumat, dan mungkin oleh karenanya maka di Australia sini ada begitu banyak orang berjualan fish and chip dan salah satu yang terlezat ya yang kumakan di Windsor itu.
    Hidangan utamanya sudah barang tentu sesuai namanya yaitu ikan dan kentang. Kentangnya kami pilih digoreng kering ditemani dressing mayonnaise dicampur dengan saos yang asam-asam gitu, entah apa namanya aku lupa serta sepotong fillet ikan yang rasanya… hmmmmmh… sedapnya bukan main. Untuk menghilangkan kerinduanku pada sosok sambel, akupun meminta ditambahkan tabasco pada bubuhan dressingnya.
    Usai bersantap kami lantas berjalan menyusuri kota Windsor.

    Kota ini sungguh menyenangkan.
    Ada begitu banyak bangunan tua yang masih dipertahankan keasliannya serta dipergunakan sebagai pertokoan, perkantoran dan rumah-rumah biasa. Dan yang lebih menarik lagi adalah pada bagian yang tampaknya menjadi pusat pertokoannya, disitu keseluruhan badan jalan diplester dan dikhususkan bagi kaum pejalan kaki saja.

    Aku dan Joyce sempat masuk ke beberapa buah toko-toko antik. Joyce begitu tertarik ketika masuk ke sebuah toko yang menyediakan beraneka macam beads, bahan baku pembuat perhiasan-perhiasan imitasi. Sementara aku begitu tertarik ketika kami masuk ke leather shop. Wow! Aku benar-benar terbuai dengan hasil kerajinan dari kulit yang begitu menarik itu. Lalu pada salah satu sudut toko itu kutemukan kulit yang sangat antik dan cantik yaitu kulit buaya.

    “Hon, ini bagus ya?” ujarku ke Joyce yang tak jauh daripadaku sambil menunjukkan kulit buaya itu kepadanya.

    “Ih cakep ini, Hon!” matanya berbinar.
    “Aku mau beli ah dibuat gelang keren yah?”
    “Emang kamu bisa bikinnya?” tanya Joyce.
    “Bisa dong!”
    akupun ngeloyor pergi ke kasir untuk menanyakan berapa harga kulit buaya yang sebenarnya dipajang untuk dijadikan ikat leher itu.

    Setelah mengeluarkan beberapa dollar (beberapa puluh dollar tepatnya hihihi) kulit buaya itupun kubawa pergi. Lalu ditengah jalan ketika kami hendak kembali ke areal parkir tiba-tiba Joyce dengan nakalnya bertanya “Hayoooo! Kamu kok tadi keliatan antusias banget sama kulit buaya?”

    Aku hanya senyam-senyum saja, “Ah, enggak kok…”

    “Halah.. hidungmu aja kembang kempis gitu pasti lagi nahan boong ya!”

    Aku pura-pura bingung dan tidak bergeming menjawab pertanyaannya.
    “Hayo ngaku… pasti kamu pengen pake gelang kulit buaya karena kamu dulu buaya ya..?”

    Lalu tak bisa kutahan lagi tertawaku, dan kamipun terbahak-bahak berdua mengenang masa-masa yang telah lalu hihihihi …

    Sesampainya di areal parkir kami tak jadi langsung pulang.
    Kota ini terlalu nyaman untuk dilewatkan begitu saja, maka aku dan Joyce sepakat untuk mampir dulu ke warung kopi membeli segelas espresso sambil meminumnya di taman, ah pasti membahagiakan!

    Tak terasa waktu telah berlari hingga ke pukul 2 siang, kamipun bersicepat kembali ke mobil dan melarikannya ke rumah. Sepanjang perjalanan dari Windsor hingga ke rumah, di kiri-kanannya dipenuhi dengan pemandangan yang indah. Langit yang mulai membiru setelah nyaris setengah hari dihiasi mendung akibat cuaca yang tak menentu, ladang-ladang rumput yang hijau serta sapi-sapi peliharaan yang dibiarkan merumput begitu saja oleh pemiliknya, pepohonan besar-besar yang angkuh berdiri sendiri-sendiri serta rumah-rumah yang memiliki jarak cukup jauh di antaranya… Dan membayangkan para penduduknya yang berdiam disitu dalam damai dan jauh dari riuh rendah aroma kota adalah hal yang menyenangkan….

    Setengah jam kemudian kami telah sampai di rumah. Kami segera bergegas bersih-bersih diri lalu beristirahat di kamar sejenak. Jadwal kami masih cukup padat sore nanti karena ini adalah minggu kedua dan pada setiap minggu kedua, kami bersama Jaya, Irna, Paul, Rinda dan beberapa teman lainnya harus berlatih koor untuk misa hari minggu keesokan harinya di Gereja St. Joseph Newtown.

    Dunia terhenti ketika kami terlelap hingga tiba-tiba kami terbangun ketika alarm kamar kami nyaris ngambek minta berhenti berdering saking capeknya membangunkan kami dan tak bisa-bisa. Pukul setengah lima dan kamipun jadi terburu-buru untuk secepatnya mandi dan mengejar sampai ke tempat latihan sebelum pukul 6.

    Sementara ini adalah malam minggu, sudah barang tentu kami akan berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa di jalan-jalan di kota sana. Aku dan Joyce lantas memilih untuk menempuh jalan yang agak sedikit memutar menggunakan mobil untuk mencapai apartment Jaya dan Irna yang digunakan sebagai tempat latihan.

    Kami tiba di tempat latihan nyaris-nyaris pukul 6. Ketika matahari telah semakin condong ke arah barat, ketika jalan-jalan di kota mulai ditumpah-ruahi oleh kaum muda yang mengenakan baju sekenanya asal menutupi aurat tapi tetap tidak menghilangkan lekuk-lekuknya dan ketika para anggota koor lain sudah mulai datang berkumpul.

    Dan.. oh tidak, ini adalah kali pertama aku berlatih koor bersama dengan mereka, teman-teman Joyce yang lebih baru lagi ketimbang Irna, Jaya, Paul dan Rinda yang sudah kukenal baik pada minggu-minggu sebelumnya.

    “Hoi kenalin… ini suami gw!”
    tukas Joyce keras-keras ke arah teman-teman yang sudah berkumpul di dalam.
    Lalu akupun mengedarkan tangan ke … hmm nyaris sebelas orang, dan semuanya orang Indonesia, yang datang kepadaku dengan senyum terkembang, mereka adalah manusia-manusia yang menyenangkan!

    Latihan koor berlangsung dengan serunya!
    Dua jam lebih sedikit kami berlatih beberapa lagu untuk misa esok harinya. Sesudahnya, kami yaitu aku, Joyce, Jaya, Irna, Rinda dan Paul pergi untuk makan malam bersama sementara yang lain memilih untuk pulang.

    Malam itu kami membeli nasi goreng, cap cay, kwee tiaw dan bihun babi dari Fajar Restaurant. Kami memilih untuk membungkus semua makanan itu dan dibawa pergi ke unit milik Paul dan Rinda untuk menyantapnya di sana.

    Wah, suasana seperti itu sungguh suasana yang sangat menyenangkan!
    Aku merasa seperti tak terlalu jauh berada dari Indonesia karena semua serba Indonesia.
    Dua jam lebih kami bercengkrama di sana mengobrolkan tentang banyak hal mulai dari makanan, karaoke, gosip-gosip artis Indonesia hingga Amrozi dkk yang hingga saat itu kami herankan kok ya belum ditembak mati.

    Malam semakin pekat sementara angin kota telah berdesir kencang ke sana kemari di luaran.
    Kami lantas beranjak pulang setelah pamit karena besok pagi kami harus bangun pagi untuk pergi ke gereja.

    Kami mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menyusur jalan-jalan yang semakin malam tampak semakin ramai saja. Berderet-deret orang-orang pada sibuk mengantri masuk ke diskotik dan pub, sementara banyak lagi pasangan yang asyik masyuk berpelukan hingga berciuman di tepian jalan. Tangan si pria ditangkupkan ke pinggung pasangannya sementara wajahnya seolah dilengketkan ke wajah pasangannya dengan bibir saling berpagutan.

    Aku mengintip mereka dari sudut mata sementara perhatian utama tetap kufokuskan di jalan.
    Meski tak berjalan terlalu cepat seperti ini namun kami tak boleh lengah sedikitpun karena para remaja yang sedang asyik menghabiskan malam itu bisa saja menghabiskan kedamaian hati kami malam itu dengan tingkahnya yang tak menyenangkan misalnya dengan menyeberang seenak jidat mereka.

    Dan benar saja!
    Tak lama sesudah aku berpikir demikian tiba-tiba seorang remaja wanita berpakaian minim masuk ke badan jalan hendak menyeberang yang membuat kami harus mengerem kendaraan dengan sangat mendadak lengkap dengan rem yang berdecit dan kata-kata mutiaraku!

    “Munyuk!”
    teriakku emosi dari dalam mobil sambil memelototkan mata kepadanya.. emosi kepadanya bukan karena pakaiannya tapi karena kegeblekannya!

    Gelang Buaya
    Buaya!
    Gelang kulit (dan gigi) buaya di tangan seorang mantan buaya? Walah boong banget, orang kok mantan buaya, mana bisa?!?

  • Antara Anjing, Gitar dan Tunggonono

    Antara Anjing, Gitar dan Tunggonono

    Diantara banyak hal yang ada di dunia ini, banyak diantaranya bisa membuatku sangat-sangat tertarik.
    Dan dua diantaranya adalah anjing dan musik.

    Semenjak memelihara Pluto dan Ellen di Klaten serta di sini aku bertemu Simba, boleh dibilang aku sangat dekat dengan anjing peliharaan. Sungguh sebenarnya kalau dipikir-pikir hal ini lucu juga karena jauh sebelum itu semua terjadi, aku adalah pembenci anjing , phobia anjing sekaligus penikmat daging anjing dalam rupa-rupa masakan mulai dari rw khas manado, sangsang khas batak hingga sengsu, daging anjing yang dibuat tongseng manis, asem dan pedas khas Jawa.

    Sementara musik khususnya gitar, waduh… sudah sejak SD aku sangat hobi bermain gitar dan ketika Tuhan mengijinkanku untuk memiliki rejeki lebih, tak jarang kelebihannya kusimpan untuk kukumpulkan dan hasilnya kupakai membeli gitar.

    Tidak dulu tidak pula sekarang. Tidak di Indonesia maupun di Australia, tidak bisa tidak ketika sedang berada di pusat perbelanjaan, mataku selalu mencari dalam List Directory apakah tempat tersebut memiliki gerai penjual dua hal tersebut, anjing dan gitar. Kalau ternyata ada, wah sudah barang tentu aku segera menuju ke sana dan waktu terbanyak yang kuhabiskan di dalam pusat perbelanjaan tersebut adalah dengan berdiam di kedua gerai tersebut.
    Aku akan sibuk kalau nggak memperhatikan lucunya para anjing yang biasanya dipamerkan di balik kotak besar kandangnya ya mengelus-elus dan menimang-nimang gitar yang pada beberapa toko bahkan mengijinkan kita untuk memainkan sesuka hati kita tanpa harus membeli!

    * * *

    Kamis,13 November 2008.
    Sejak pagi hingga sore hari aku nggak pergi kemana-mana. Tinggal di rumah, tepatnya di depan laptopku untuk bekerja, blogging, chatting dan browsing.
    Hingga sekitar pukul 3.00 pm aku berangkat pergi ke Parramatta untuk bertemu dengan istriku karena ini adalah kamis, hari dimana late night shopping diberlakukan di Sydney dan kami biasa menghabiskan malam bersama di Westfield, pusat pertokoan di Parramatta. Kebetulan pula aku memang sedang hendak membeli sebuah buku yang telah kuincar beberapa hari sebelumnya.

    Kesetiaan bus 601 dalam mengantarkanku ke Parramatta?
    Ah tak perlu diuji! Pukul 4.12 pm mendapatkannya sesuai jadwal dan 45 menit sesudahnya bis berwarna kuning itu telah sukses membawaku hingga ke Westfield, Parramatta yang sore itu tampak ramai.
    Anak-anak sekolah yang pulang masih terlihat ramai menunggu bus.
    Dan.. tunggu, sebelum bercerita lebih jauh aku ingin menceritakan tentang bagaimana cara mereka berseragam itu yang sebenarnya aduhh sungguh aduhai :)

    Coba bayangkan, ya tentu saja aku memberikan bayangan yang cewek saja tidak yang cowok ya!
    Para murid cewek itu kebanyakan mengenakan kemeja warna putih yang lumayan tipisssss lengkap dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka serta lengan yang ditekuk beberapa gulungan ke atas.
    Dan mereka adalah murid yang cerdik cendekia dalam mengelola warna :) Mereka tahu betul bahwa warna hitam itu kontras dengan putih, bukan ? Maka, sebagai bra, mereka banyak yang mengenakan bra berwarna hitam.
    Paduan yang menarik!

    Nah, sebagai bawahan, mereka mengenakan rok yang pendeknya hanya beberapa senti di atas lutut berwarna hijau kotak-kotak serta … o gosh, stockinggg! Ya, stocking warna hitam yang membalut kaki yang pada alasnya digunakan sepatu berhak medium. Oh ada yang nyaris kelupaan, yah namanya juga ABG, mereka banyak pula yang menyemir rambut, menindik hidung ataupun kalau tidak, rata-rata mereka memiliki tindikan telinga lebih dari satu!
    So, kalau kalian ingat pada video klip tahun kuda milik Birtney Spears yang bertajuk Baby One More Time, nah seperti para penari latar yang berjoged disitulah wujud mereka kurang lebihnya.

    Anyway…
    Lalu tiba-tiba “Kringgggg!” tertera nama I S T R I di layar Blackberryku, yup! Istri menelponku.
    Tampaknya ia sudah tiba dari city di Parramatta, dan benar saja.

    “Kamu dimana ?”
    “Oh.. eh.. hmm aku baru sampai Hon di Westfield, ini mau turun ke bawah. Kamu ?”
    “Aku juga udah turun dari kereta, kita ketemuan di bawah situ ya, aku mau beli deodorant bentar.”
    “OK!” Jawabkku sambil bergegas cepat di antara para murid yang entah kenapa sore itu dimataku lebih banyak wanitanya ketimbang pria itu :)

    Setelah bertemu, kami segera berjalan ke Westfield Shopping Center dengan bergandengan tangan, tentu saja.
    Aku suka dengan baju yang dikenakan Joyce sore itu. Ia tampak menawan dengan kemeja batik warna merah dipadukan dengan ornamen berhiaskan emas pradha serta blus bawahan hitam.

    Tujuan pertama kami sebenarnya adalah ke Dymocks tapi karena waktu yang masih sore dan istriku ingin jalan-jalan terlebih dahulu maka kamipun pergi ke petshop yang terletak di tempat itu juga hanya berbeda lantai saja dengan Dymocks.

    Petshop yang kami datangi sore itu lumayan ramai.
    Banyak anak-anak kecil dan para ibu yang menyambanginya. Mereka boleh dibilang berjubelan untuk melihat anak-anak anjing lucu yang dijual. Melihat anak-anak anjing nan menggemaskan begitu terkadang terbit rasa kasihanku. Mungkin karena aku merasa sangat dekat dengan anjing-anjing maka aku kadang suka berpikir “Kasihan, masih anak-anak sudah dijual dan sudah harus berpisah dengan orang tuanya…”
    Tapi apa mau dikata, untunglah mereka, semanis dan selucu apapun tetaplah binatang yang tak bisa berbicara mengeluh, bergembira maupun bersedih. Tak lama kemudian aku beserta istri telah turut dalam jubelan itu melihat dan bermain dengan anak-anak anjing itu diantara anak-anak manusia yang menyayanginya.

    Setelah melihat anak anjing yang dipamerkan kami lalu pergi ke bagian belakang dari petshop itu untuk melihat-lihat pernak-pernik hiasan dan alat-alat untuk anjing. Kami pergi ke bagian penjual baju anjing. Wah di sini, dan sebenarnya di Indonesia pun aku beberapa kali melihatnya, yang namanya anjing cukup awam untuk dikenai baju. Seperti si Simba misalnya, kalau sedang dingin, si Joyce tak ragu untuk mengenakan sweater padanya, atau seperti saat aku tulis sekarang ini, Simba yang kerap dipanggil Boboy itu sedang kukenai kaos kutang warna ungu dan emas, serupa mirip dengan seragam klub basket LA Lakers.

    Setelah puas melihat-lihat barang dan anak anjing di petshop kamipun keluar.
    Sebenarnya kaki sudah hendak kami arahkan ke toko buku tapi apa mau dikata, ketika sedang menuju ke sana mataku menangkap pemandangan toko gitar yang ternyata letaknya tak jauh dari petshop.
    Aku segera mengajak istriku untuk masuk ke toko tersebut dan jadilah aku berada dalam lautan kesenanganku di antara gitar-gitar yang terpampang menyenangkan!

    Nyaris semua merk-merk terkenal yang sulit kutemui di Indonesia, di sini dipasang begitu saja.
    Gibson, Ephiphone, Jackson, hingga yang cukup merakyat seperti Fender dan Ibanez semuanya lengkap ada di sini. Bahkan, gitar seri langka Ibanez George Benson yang kuidam-idamkan sejak lama pun ada di sini.
    Tak kuasa akupun menyentuhnya dan cukup demikian saja karena Tuhan belum memberiku kuasa untuk menebus barang yang dilabel 3500 AUD atau sekitar 25 juta rupiah itu!

    “Apa sih bagusnya gitar itu? Kan sama aja, Hon?”
    tanya istriku yang tersenyum-senyum menyaksikan aku memainkan gitar itu dengan berbinar-binar.

    “Wah beda, Hon! Di sini lho.. bedanya” ujarku sambil menepuk-nepuk dada.
    “Kok bisa?”
    “Iya, kalau kamu memainkan gitar akustik atau maksimal elektrik-akustik, setiap gitar itu memberikan efek getar yang berbeda-beda. Makanya kalau aku main dan mencoba gitar, aku selalu menempelkannya ke perut hingga bodinya memenuhi dada lalu menggenjrengnya. Kalau getaran yang ditimbulkan bodinya itu membuat dadaku nyaman, itu baru gitar bagusss!”

    Istriku hanya senyum-senyum saja mendengar penjelasanku itu.

    Hampir setengah jam kuhabiskan waktu di toko gitar itu.
    Setelah puas melihat, mengelus dan mencoba gitar satu per satu, akupun beranjak pergi.
    Sungguh aku jadi membayangkan betapa akan menyenangkannya kalau aku bisa tinggal di rumah beserta istri, ditemani para anjing yang kita maui untuk kita miliki dan para gitar yang bergelantungan di sebuah ruang menanti kumainkan…

    Akhirnya sampai juga kami ke Dymocks.
    Sementara bis 601 yang akan mengantarkan pulang kira-kira akan datang pukul 8.10 pm, maka kami masih memiliki waktu sekitar 45 menit berada di Dymocks sana.

    Aku segera menuju ke bagian IT dimana buku yang telah kuincar diletakkan.
    Aku, dan mungkin banyak dari kalian, memiliki kebiasaan yang unik.
    Ketika bertandang ke toko buku dan mengincar untuk membelinya tapi belum memutuskan untuk mengambilnya saat itu entah karena alasan apa, aku sering lantas menyembunyikan buku tersebut ke tempat yang dapat kita ingat dan jauh dari jangkauan orang lain sehingga ketika kita datang untuk menebus atau membaca lagi buku itu, kita masih dapat menemukannya dengan mudah :)

    Demikian juga yang kulakukan beberapa hari sebelum itu meski ternyata petugas toko buku di sini cukup rajin untuk melihat “kejanggalan” itu lantas mengembalikannya ke tempat semula :)
    Aku sempat panik karena tak mendapati buku yang kusimpan di tempat tertentu itu.
    Tapi untunglah rasa panik itu tak lama karena aku tinggal bicara dengan petugas untuk membantuku mencari buku yang kumaksud.
    Dengan dingin orang itupun menjawab dalam bahasa Inggris “Ngapain kamu nyari buku IT di tempat sastra ? Coba cari di tempatnya dan kalau nggak ada baru nanti aku carikan di komputer dan gudang!”

    Akupun tersenyum dibuatnya. Sambil manggut-manggut kali ini aku berjalan betulan ke bagian dimana buku-buku IT disimpan. Ajaib! Buku yang masih kutandai pada halaman terakhir yang kubaca itu telah berada di tempat semula :)

    Tak pikir panjang lagi aku langsung membawa buku itu dan mencari istriku.
    Ternyata istriku sedang asyik pula berendam di tengah buku-buku.
    Alisnya mengkerut mengamati buku-buku yang ia sukai, fiksi novel.
    Karena aku tak ingin menganggunya dan waktu masih pula tersisa beberapa puluh menit, akupun lantas berkeliling lagi melihat-lihat koleksi buku yang dijual di sana.

    Deret demi deret kulalui hingga akhirnya sampailah aku di bagian buku Travelling.
    Maksud hati ingin melihat-lihat informasi travelling di Australia sini tapi mata justru tertambat pada buku travelling Indonesia.

    Tak ragu akupun mengambil bukunya lalu membolak-balikkan halamannya.
    Sementara buku yang tadi sudah kuambil kugamit di ketiak, aku tak kuasa larut dalam rasa rindu yang menggenang melalui foto-foto dan tulisan tentang Indonesia.

    Di sana ada gambar Borobudur, Prambanan, Tugu Yogyakarta, Ubud, Monas, Manado dan tak lupa gambar orang-orang Indonesia yang dipotret dengan senyum-senyum ceria khas mereka masing-masing.

    Aku hanya manggut-manggut.
    Setiap gambar yang dihadirkan membawa jiwaku seperti berada pula di sana.
    Ketika aku memandang Tugu, ah aku jadi inget gudeg tugu yang sangat sering kusambangi untuk kunikmati menjelang tengah malam sambil menikmati pemandangan Tugu dalam kanvas pekatnya malam serta jingganya lampu-lampu merkuri di sekitarnya.

    Ketika aku melihat gambar Prambanan, aku jadi ingat perjalanan setiap akhir pekan selama 15 tahun terakhir ketika aku selalu pulang dari Jogja menuju Klaten dan memandang gugusan candi Hindu itu di sisi kiriku.

    Dan ketika aku melihat gambar orang-orangnya.. senyum-senyum itu…
    eitsss lha kok aku tiba-tiba, mak bedhundhuk malah jadi ingat senyum pringas-pringisnya Tunggonono!
    Satpam kantor yang sering kuceritakan di blog ini yang ndagel, nggaya tapi sangat setia itu.
    Dalam bayanganku ia pun berujar “Katanya sudah kerasan… kok masih kangen, hayooo! Pripun tho ?”
    Lalu sekonyong-konyong, semua wajah Indonesia yang kutemui di toko itu penuh dengan wajahnya yang legam, dengan jambang dan kumis yang tak terurus, bibir menghitam dan gigi kuning nikotin tapi tetap dengan mata yang tulus nan melenakan….
    Segera saja kututup buku itu dan kumelangkah pergi.

    Asu! Gumamku….

    Simba 1
    Yuk! Simba dalam mode sleeping beauty-nya anggun mengenakan sweater winter yang terpaksa dipakai saat summer karena dingin.

    Simba 2
    Simba tampil elegan dalam balutan kaos kutang khas LA Lakers dengan warna ungu dan kuningnya.
    Oh ya yang di ujung sana adalah Joyce :)

  • Setengah Telanjang atau Setengah Berpakaian ?

    Setengah Telanjang atau Setengah Berpakaian ?

    Porno?
    Kenapa aku tidak setuju dengan RUU Pornografi yang kabar-kabarnya akan segera disahkan menjadi undang-undang itu adalah semata-mata karena aku membenci pornografi!

    “Weh, si Bos lucu… Ngakunya benci pornografi kok malah nggak setuju dengan UU Pornografi. Piye tho?” demikian tanya
    Tunggonono, preman ndeso yang gemblengan itu.
    Tapi pertanyaannya tak kujawab langsung karena selain aku belum siap menjawab pertanyaan todongan itu,
    dia juga sedang sibuk membantuku packing barang-barang, jadi ya sudah ketimbang nantinya pekerjaannya malah terbengkalai atau terlibat debat kusir dengannya
    mending aku mendehem pelan lalu pergi dari hadapannya…

    Siapa sih yang nggak benci pornografi, meski mungkin dalam konteks yang lebih “bisik-bisik” bisa pula aku bertanya
    “Memangnya kamu nggak suka dan tidak tertarik dengan sesuatu yang porno?”

    Aku benci pornografi karena hal itu menjijikkan, aku terkadang risih melihat seorang penyanyi dangdut yang malah lebih banyak meliuk-liukkan tubuh
    ketimbang berkonsentrasi memainkan cengkok suaranya. Tapi sebagai ekspresi berkesenian mereka, tentu aku tak boleh mengecap itu sebagai pornografi apalagi
    sebagai sesuatu yang menjijikkan karena atas nama seni dan berkesenian, jangankan bicara jijik, menilai baik ataupun buruk pun sebenarnya kita tak berhak, bukan ?

    Jadi ketidaksetujuanku terhadap UU Pornografi, dengan kata lain adalah karena aku tak mau terjebak dalam definisi yang salah kaprah dari pornografi itu sendiri.
    Pada contoh seorang penyanyi dangdut di atas misalnya, kita setidaknya bisa melihat dua sisi persepsi yaitu porno atau seni?
    Dan masalah persepsi itu menurutku adalah masalah konsep yang ada di balik batok kepala masing-masing.
    Persepsi adalah masalah rasa yang tidak bisa dianalogikan sebagai akibat dari penjumlahan angka satu dan satu adalah angka dua.
    Persepsi itu menurutku lebih ke soalan “Wah, orang ini menangis, rasa-rasanya sedang bersedih…” padahal, apa ya pasti ia bersedih,
    barangkali ia sedang menang lotere dan saking gembiranya sampai menangis?

    Nah, ketika ranah “persepsi” sudah dijadikan aturan seperti itu maka pertanyaannya “persepsi” siapa yang akan dijadikan patokan?
    Persepsi yang “besar” menggilas “yang lebih kecil” kah ?
    Atau persepsi yang seimbang yang mengakomodasi baik yang besar maupun yang kecil ?
    Entahlah…

    Ah, tiba-tiba aku jadi teringat pada pertanyaan usang yang kerap kali muncul di benak kita,
    Gelas dengan separuh air ini setengah kosong atau setengah penuh?
    Orang yang menari di panggung itu setengah telanjang atau setengah berpakaian?

  • Apa yang Bisa Kuberikan Untuk Orang Lain ?

    Apa yang Bisa Kuberikan Untuk Orang Lain ?

    packing

    Haih!
    Nggak terasa sudah tinggal seminggu lagi dan aku harus meninggalkan kantor ini, sementara masih ada buanyak sekali barang yang mesti diberes-bereskan, ditempatkan pada boks-boks
    yang telah kusediakan untuk kemudian kubawa sebagian ke rumah orang tua di Klaten dan sebagian lagi ke Sydney.

    Masalah terbesar adalah pada soal pakaian.
    Aku tak pernah merasa memiliki pakaian yang maha banyak hingga akhirnya tadi, ketika membuka almari pakaianku dan gubrakkk! Apa yang harus kulakukan menghadapi pakaian sebanyak ini?
    Bahkan ada yang baru sekali dipakai? Kenapa bisa sebanyak ini?

    Lalu akupun jadi ingat bahwa aku bisa menimbun pakaian itu pertama-tama adalah buah dari rasa malasku untuk mengantarkan pakaian kotor ke laundry langgananku.
    Aku biasa melempar begitu saja pakaian kotor ke boks khusus pakaian kotor tapi lupa untuk selalu membawanya ke laundry, lalu ketika pakaian di lemari habis aku akan berujar

    “Oh, kenapa bajuku pada habis? Ah ya sudahlah aku beli lagi saja”
    Lalu belilah aku pakaian baru padahal kalau dulu sudah sarjana barangkali aku akan lebih pintar dan bijak lalu berpikir “Oh jelas pakaian di lemariku habis lha wong pakaian kotorku
    masih menumpuk di boks…”

    Ah untunglah aku sekarang sudah sarjana.

    Lalu bagaimana ini? Kemana harus kubawa pakaian-pakaianku?
    “Berikan pada orang lain yang membutuhkan!”
    Demikian bisik suara bijak di telinga hatiku (emang ada telinga hati?!?)

    OK, kulakukan.. mulailah kukeluarkan semua koleksi pakaianku lalu kupilah-pilahkan mana yang masih kusukai dan mana yang bisa kuberikan pada orang lain.
    Sepotong demi sepotong pakaian sudah kupikirkan dan ternyata… cuma ada tiga potong yang menurutku bisa kuberikan pada orang lain dan selainnya itu …
    tak terlalu kurelakan untuk kuberikan pada orang lain.

    “Semua masih terlihat bagus-bagus, kenapa harus diberikan ke orang lain?” gumamku yang seorang sarjana baru.
    Andai saja aku sudah sarjana sejak lama barangkali aku akan memberi jawab atas pertanyaanku sendiri itu dengan “Oh ya jelas masih bagus-bagus lha wong rata-rata cuma dipakai sekali
    lalu teronggokkan begitu saja di lemari!”

    Yah maafkanlah, namanya juga sarjana baru, baru saja jadi sarjana.

    Persoalan kedua yang sama persis dengan soal pakaian adalah apalagi kalau bukan koleksi buku.
    Oh, jelas, koleksi Pramoedya Ananta Toer-ku tak kan kuberikan ke orang lain sampai kapanpun, maka kusisihkan terlebih dahulu sekitar 40-an bukunya ke dalam boks tersendiri.

    Lalu sisanya?
    Mulai kupilah-pilah satu per satu dan ini lebih parah ketimbang pakaian karena tak satupun yang sanggup kujadikan buku yang “bisa” kuberikan ke orang lain.
    Rasa-rasanya aku tak pernah membeli buku yang aku tak suka untuk membacanya dan mengulang-ulang lagi membacanya, maka itulah alasanku untuk tidak memberikannya!

    Lalu CD? Nah ini masalah pula karena sama dengan buku, aku tak pernah membeli CD yang tak kusuka maka dari itu jelas tidak ada yang kuberikan ke orang lain pula.

    So apa yang bisa kuberikan pada orang lain?
    Entahlah… barangkali nanti saja dekat-dekat Lebaran seperti biasa aku akan memberikan bingkisan bagi para Tunggonono yang telah setia menemani, bukan barang bekas tapi barang baru.
    Untuk orang lainnya lagi? Wah, entahlah belum terpikirkan tapi barangkali doa adalah hadiah terbaik bagi mereka (sekaligus alasan betapa pelitnya aku untuk memberikan apa yang telah
    menjadi milikku selama ini!)

    Ya Bapa, ampunilah aku!

    Sumber foto.

  • Hadiah Dari Orang Baik Untuk Orang yang Belum Terlalu Baik

    Hadiah Dari Orang Baik Untuk Orang yang Belum Terlalu Baik

    Membaca komentar Mbak Yoga di postingan Hadiah dari Pak Yadi yang berbunyi

    “….Nah, berarti mas DV (Donny Verdian -red) ini termasuk orang yang baik…”

    Aku jadi berpikir dimana letak korelasi komentar tersebut dengan tulisanku?
    Apakah baginya aku ini orang baik karena aku menuliskan bagaimana senangnya perasaanku menerima hadiah dari Pak Yadi ?
    Aku orang baik karena aku mau menerima hadiah dari Pak Yadi, orang yang sepersekian wataknya kulekatkan pada sosok Tunggonono itu?
    Atau aku orang baik karena Pak Yadi mau memberikan hadiah itu kepadaku karena beliau merasa aku adalah mantan bos yang baik?

    Haia, itu semua nggak penting sepertinya, karena diluar sana masih ada dan buanyak orang yang jauh lebih baik terutama karena aku toh masih jauh dari sosok orang yang
    benar dan jujur, dua kriteria baik tidaknya orang menurutku. Yang lebih penting untuk kuceritakan di sini adalah bahwa dalam beberapa hari terakhir ini, selain mendapatkan
    hadiah dari Pak Yadi, aku juga mendapatkan beberapa bingkisan dari teman-teman dekatku lainnya.

    Menulis dengan Gembira
    Menulis dengan Gembira
    Beberapa waktu lalu aku mendapatkan kiriman buku berjudul Menulis dengan Gembira karya Pak Ersis Warmansyah Abbas, dosen FKIP Unlam
    Banjarmasin sekaligus blogger ternama itu.
    Kiriman buku cuma-cuma itu diberikan atas undangan pembagian buku gratis pada tulisan beliau, dan karena tertarik,
    akupun merespons undangan tersebut. Lalu tak sampai seminggu kemudian, sebuah buku (dan sebuah lagi titipan kawanku, DM) tiba dengan selamat.
    Terus terang, dengan mengatasnamakan kesibukan, buku tersebut belumlah sempat kubaca utuh, hanya baru beberapa artikel kutelaah sambil lalu.
    Nanti, ketika kesibukan sudah mulai lengang, pasti akan kulahap habis buku yang konon sangat memotivasi kita untuk menulis itu.

    Mike Tyson dan Led Zeppelin
    Kaos Mike Tyson dan Led Zeppelin
    Windy Utari Pattimahu, kawan baikku yang istri Saudara Jivan itu,
    pada sebuah sore beberapa waktu yang lalu pernah menelponku.
    Ia berkata sedang berada pada sebuah factory outlet di selatan Jakarta sana dan keperluannya menelponku adalah karena ia ingin membelikan kaos untukku.
    Tampaknya ia memang tahu benar bahwa salah satu kegemaranku adalah mengkoleksi kaos oblong (tshirt) dengan berbagai macam design dan warna untuk kukenakan pada saat-saat senggangku.
    Kemarin sore kiriman dari Windy pun tiba, dua buah kaos yang satu berwarna off-white bergambarkan Mike Tyson vs Michael Spinks, dan satu lagi berwarna cokelat
    bergambarkan Led Zeppelin, one of my fav band… hmm after U2, of course :)

    Kumcer Perempuan Bergaun Putih
    Kumpulan Cerpen Perempuan Bergaun Putih
    Sehari berselang setelah saya happy-happy memakai kaos baru dari Windy, eh lha kok tadi pas sampai kantor diberitahu oleh front officer kalau aku dapet kiriman lagi.
    Pas kubaca pada amplop berwarna cokelat, tertera nama Sawali. Aih, aih, aih… Pak Guru!
    Ya, beberapa waktu yang lalu aku berhasil menarik hati Pak Sawali Tuhusetya, pak guru yang blogger itu, dengan membuat satu paragraf sebagai balasan tantangan beliau untuk melanjutkan
    cerpen yang dibuatnya
    . Hadiah untuk 10 pembuat paragraf terakhir terbaik versi beliau akan mendapatkan buku kumcer (kumpulan cerpen) karya beliau yang bertajuk Perempuan Bergaun Putih.
    Segera saja buku kumcer itu, sesudah kufoto, kuletakkan pada baris kedua di bawah “Menulis dengan Gembira”-nya Pak Ersis yang datang lebih dulu
    sebagai tanda bahwa aku harus melahap dua buah buku karya sahabat mayaku itu.

    So, terimakasih untuk Pak Ersis, Windy dan Pak Sawali yang telah dengan tulus serta ikhlas mau bersusah payah untuk memberikan hadiah terbaik bagiku.
    Sungguh, sebenarnya apa yang diungkapkan Mbak Yoga di atas tak terlalu pantas untuk dilayangkan padaku melainkan untuk panjenengan semuanya!

    Tuhan memberkati Anda semua!

  • Hadiah dari Pak Yadi

    Hadiah dari Pak Yadi

    Me and Pak Yadi

    Bagiku, hadiah terindah adalah apapun wujud dan rupanya asalkan diberikan dengan hati yang tulus dan ikhlas oleh pemberinya.
    Bentuk dan wujud nyata sebaik dan seburuk apapun hadiah itu menjadi tak begitu penting lagi sejauh syarat di atas terpenuhi.

    Beberapa saat setelah menyatakan pengunduran diri dari perusahaan, awal Juli 2008 yang lalu, aku segera memberitahukan hal tersebut kepada dua orang sahabat setiaku, Rahmat
    dan Pak Yadi.
    Mereka berdua adalah petugas jaga malam yang setahun setengah belakangan adalah orang-orang yang menjaga tidurku dan menemani malam-malam sepiku di kantor lama dulu.
    Dari bergaul dan ngobrol dengan mereka berdualah aku bisa menemukan sosok Tunggonono yang kerap kujadikan teman bercerita dalam
    tulisan-tulisanku di sini.

    Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, pengunduran diriku itu mengagetkan mereka berdua.
    Si Rahmat, yang usianya sekita tiga tahun di bawahku hanya bisa tersenyum kosong ketika kuberitahukan rencanaku itu.
    Sementara Pak Yadi yang lebih sepuh menunjukkan reaksi yang lebih sentimentil, jika boleh dibilang demikian.

    “Moso tho?
    Wah njenengan ampung gojek tho Mas..

    (Masa sih? Anda jangan becanda Mas)” demikian tutur Pak Yadi pada malam itu dengan wajah penuh tanda tak percaya.

    Aku hanya mengangguk dan tersenyum, kontan pria berusia setengah abad itu memelukku haru meski kubilang
    “Hey Pak, mboten sakniki kok. Taksih oktober mangkih (Hey Pak,
    bukan sekarang kok, tapi masih bulan Oktober nanti).”

    Ia lantas mengendorkan pelukannya lalu menjabat tanganku dengan erat.
    Matanya berkaca-kaca, sementara rahangnya berdenyut-denyut seperti menahan sesuatu.

    Satu malam sesudahnya, kebetulan yang sedang bertugas jaga adalah Rahmat.
    Ketika aku baru hendak pulang, ia berujar padaku “Bos, kamu mau dibuatin wayang lho sama Pak Yadi..”

    “Oh ya? Waduh.. moso tho, Mat sampai repot-repot begitu itu..” tukasku tak percaya.

    Tapi benar saja, pada kesempatan berikutnya pada saat Pak Yadi giliran jaga,
    ia mengatakan bahwa ia memang sedang mempersiapkan buah tangan yang berupa wayang untuk kenang-kenangan bagiku.

    Pak Yadi memang terkenal handal membuat wayang.
    Pria yang jika waktu senggang berprofesi sebagai penarik becak ini meski tidak menggeluti secara profesional, akan tetapi pada kesempatan-kesempatan tertentu jika ada orderan
    ia membuat pesanan tokoh wayang berbahan baku kertas, bukan kulit seperti kebanyakan.

    Dan waktu bergulir maju.
    Tak sampai sebulan setelah saat dimana Pak Yadi bilang bahwa ia akan menghadiahiku wayang buatannya, beberapa malam yang lalu, Pak Yadi mengetok pintu ruanganku.

    “Pak Donny..”
    “Eh, Pak Yadi. Mari masuk Pak, monggo!”
    Pak Yadi pun masuk ke ruanganku dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya.

    “Ini, saya mau menyerahkan wayang yang saya janjikan dulu.” Ia pun membuka bungkusan itu dan menunjukkannya kepadaku.

    Dua buah wayang berukuran sedang. Sesosok Prabu Rama (suami Sintha) dan satu lagi Bapa Semar (Punokawan).
    “Prabu Rama ini tokoh yang mencintai istrinya, Pak Donny. Nah kalau Bapa Semar ini tokoh yang andhap asor, berwibawa sekaligus lambang tanah Jawa.
    Jadi semoga Pak Donny nanti meski sudah di Australia tetap ingat tanah Jawa ini dan sekaligus menjadi suami yang mencintai istri dengan baik.”
    ujarnya sambil mempraktekkan bagaimana sebaiknya cara memegang dan menggerakkan wayang-wayang itu.

    Aku tak bergeming untuk beberapa saat.
    Bukan karena petuah bijaknya, bukan pula karena sibuk mengamati cara “memainkan” wayang tersebut.
    Ada rasa haru yang menyeruak melihat ketulusan seorang Pak Yadi ketika memberikan karya seninya itu untukku, orang yang baru dikenalnya tak lebih dari dua tahun belakangan ini.

    “Pak Yadi. Saya terima semuanya. Terimakasih banyak.
    Saya nanti akan bilang ke istri untuk memasang ini di dinding kamar kami di rumah Australia nanti.”

    “Inggih, saya juga terima kasih karena Mas Donny mau menerimanya.
    Tapi kalau boleh saya minta Pak Donny… hmmmm kalau boleh lho ini..” Pak Yadi mesam-mesem saja sembari menantiku bertanya tentang keinginannya.

    “Oh, monggo.. ada apa Pak?”
    “Nganu, nanti kalau sudah sampai sana tolong Pak Donny sekalian istri foto dengan wayang ini lalu kirimkan fotonya ke saya..”

    “Oh pasti, Pak!
    Jangan khawatir hal ini pasti saya ingat dan saya lakukan nanti sesampainya di sana.
    Malah.. gimana kalau sekarang, saya dan pak Yadi foto bersama dulu jadi nanti yang
    saya kirimkan ndak cuma satu tapi ada dua foto sekaligus..”

    “Oh monggo..” Pak Yadi tampak kegirangan dengan tawaranku tersebut.

    Lalu kukeluarkan kamera beserta tripodnya, mengatur setting dan berpose berdua dengan Pak Yadi bersama dua wayang buatannya
    seperti yang tampak dalam postingan ini. Tak lama kemudian Pak Yadi pun pamit untuk kembali bertugas di pos keamanannya di bawah.

    “Nggih, begitu saja Pak Donny, saya tak kebawah dulu mau melanjutkan tugas.”
    “Oh, monggo Pak. Sekali lagi terimakasih nggih..” Kami saling bersalam-salaman lalu ia pun beringsut pergi.

    Sesaat setelah menyimpan lagi wayang itu ke dalam tempatnya dan menaruhnya di koper besar yang hendak kubawa ke Sydney nanti,
    aku lepas kacamataku sejenak, memejamkan mata dan menyekanya perlahan.
    Kurasakan betapa bulu mataku membasah dan sudut-sudut mataku berair meski tak terlampau banyak.

    Ah untung Pak Yadi tak melihatnya tadi…

  • iPod U2-ku Rusak!

    iPod U2-ku Rusak!

    iPod U2
    Untuk ketiga kalinya aku membuktikan bahwa Apple Inc dari sisi layanan aftersale-nya boleh jadi adalah perusahaan terbaik yang tidak pernah
    main-main dengan kepuasan konsumen. Dulu, dua tahun yang lalu, ketika isu baterai laptop yang bisa meledak karena overheated,
    aku mendapatkan replacement baterai iBook G4 lawasku secara cuma-cuma. Lalu nyaris bersamaan dengan itu, ketika isu earphone iPod bisa menyebabkan tuli pemakainya menyeruak,
    aku kembali mendapatkan replacement earphone baru, kembali secara cuma-cuma.

    Lalu yang ketiga, kualami tadi siang.
    Awal ceritanya adalah semalam. Sekitar pukul 01.00 WIB menjelang tidur, aku ingat bahwa besok aku berencana pergi ke gym.
    Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk berolahraga sembari mendengarkan alunan musik dari pemutar musik digital yang kupunya.
    Maka kukeluarkan iPod U2 Special Edition-ku dari tas olahraga lalu
    kuhubungkan ke iMac Desktop untuk keperluan recharge baterai.
    Tapi tak seperti biasanya, tanda-tanda bahwa iPod telah terkoneksi dan tersinkronisasi belum muncul juga meski setelah sekian lama kabel USB telah tertancap.

    Duh, aku jadi panik bukan kepalang.
    Permasalahannya bukan soal isi iPod maupun merk iPodnya, tapi… ini soal U2-nya!
    Kalian tahu betapa aku tergila-gila pada grup musik asal Irlandia yang digawangi Bono,
    The Edge
    , Adam Clayton dan Larry Mullen Jr ini.
    Bahkan sekian persen dari waktuku pada akhir pekan kudedikasikan untuk menuliskan artikel tentang lagu dan album mereka satu demi satu di blog ini.
    Lebih dari itu, aku tahu betul bahwa iPod seri U2 ini dari awal mulanya sudah dibandrol “Special Edition”.
    Jadi, Oh My God, bagaimana kalau benar-benar rusak dan tak dapat diapa-apakan lagi ?
    Dimana aku harus mencari yang baru lagi ?
    Harganya berapa ?
    Terjangkaukah ?

    iPod U2
    Aku tak tinggal diam.
    Tak sampai seberapa lama kemudian, informasi pun kudapatkan mengenai apa yang dialami iPodku dari internet.
    Setelah membaca beberapa artikel, akhirnya kutahu bahwa ada yang salah dengan hardware-ku, hardware issue istilahnya.
    Aku pun langsung mengikuti solusi yang ditawarkan pada situs web itu, namun hingga beberapa kali kuulang, semuanya gagal.
    “Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan apabila cara di atas tidak berhasil adalah pergi ke Apple Service Provider!” demikian ungkap situs web yang saya baca.

    “Mampus!” pikirku.
    Aku semula berpikir bahwa ini berarti aku harus kembali ke Sydney Australia karena iPod-ku ini dibeli di sana.
    Padahal ketika melakukan checking pada akhir masa garansi-nya, jatuh temponya adalah 1 November 2008!
    Pada tanggal itu aku baru akan turun tangga dari pesawat yang membawaku dari Denpasar ke Sydney bersama istri!
    Sementara aku harus ngelayap ke Chatswood atau ke city dengan tenaga yang sudah pasti terkuras karena kurang tidur malam sebelumnya di pesawat?
    Dan lagipula, ketika mengintip kalendar, oh God! Itu adalah hari minggu, sangat kecil kemungkinan EStore buka di sana pada hari minggu!

    Aku mulai putus asa… lalu kuputuskan untuk tidur.
    Kadang ketika aku menemui masalah yang cul-de-sac seperti itu aku memilih untuk tidur karena biasanya setelah bangun dengan otak yang lebih segar aku menemukan solusi baru.

    Kurang lebih pukul 10.00 WIB keesokan harinya aku terbangun.
    Ketika mata terbuka, hal yang pertama langsung kupikirkan jelas nasib iPod U2-ku.
    Aku pun segera bergegas menuju ke kantor dan mencoba mengulangi beberapa trik dan tips yang ditawarkan internet semalam. Beberapa kali mencoba dengan cara yang berbeda dan gagal
    hingga akhirnya aku menyadari sepertinya memang sudah bukan kapasitasku lagi untuk mereparasinya.

    Ketika harapan sudah semakin mengecil, tiba-tiba ilham datang.
    Kali ini bukan dari Tunggonono, si preman ndeso itu tapi dari Yono, sahabatku yang juga Mac zealot sejati :)

    “Bawa aja ke EStore Sagan, Don nanti kamu dapat replace di sana…” ujarnya lewat jendela YM.

    “Lho, tapi ini kan barang Australia, Yon. Lagipula apa EStore itu Apple Registered Dealer?”

    “Hehehe, nggak ngaruh mau barang dari manapun kan sama-sama Applenya. Iya, EStore itu ASP kok, Apple Service Provider.”

    PRAISE TO THE LORD, Sodara-sodara!
    Tak tunggu waktu lama, aku langsung bergegas ngeblas ke EStore dengan menggenggam jasad iPodku.
    Dan benar saja, sesampainya di sana, tak butuh waktu dan omong-omong lama, mbak-mbak dan mas-mas pegawai EStore dengan ramahnya sudah mengatur dan menjelaskan proses replacement iPodku.
    Akupun dibuatkan tanda terima bukti penyerahan jasad iPod untuk direplace kan dengan iPod yang baru.

    iPod U2
    “Pak Donny, sekitar 1 – 2 minggu iPod baru Bapak akan sampai di Jogja,” tukas mbak pegawai di sana menjelaskan dengan ramah.

    “Oh, baik Mbak, saya berterimakasih sekali…”

    “Sama-sama Pak Donny..” Akupun bergegas melangkah keluar dari toko.
    Tapi tak sampai lima langkah, kuurungkan niatku untuk pergi dan berputar arah kembali ke meja kasir.

    “Eh, tapi Mbak.. hmmm seandainya iPod dengan tipe yang sama dengan yang saya punya itu nggak ada stock di Jakarta, bagaimana?”

    “Oh, kami belum pernah menemukan kasus seperti itu, Pak. Bahkan untuk iPod Classic yang model paling lama pun, mereka tetap ada stock.” Senyum simpul kembali menghias bibir mbak-nya.

    “Hmm, tapi iPod saya itu kan special edition yang takutnya sangat limited, Mbak, Nanti kalau barangnya benar-benar sudah out of stock, piye?”

    “Ya mungkin saja nanti Pak Donny akan dapat iPod seri lainnya. Tapi tak tahu juga, nanti saya kabari saja Pak begitu kami mendapatkan kabar dari Jakarta.” jawabnya sambil tetap tersenyum.

    Ya sudah, aku yang sudah sedemikian terforsirnya pikiran memikirkan iPodku sejak semalam, hanya bisa menyerah pasrah.
    Pasrah andai saja aku harus mendapatkan iPod yang bukan seri U2, aku akan tetap menerimanya sebagai satu kebaikan yang luar biasa dari Apple Inc.
    Itung-itung jadi pemompa semangatku untuk sesegera mungkin menjemput konser U2 di Sydney nanti karena siapa tahu malah nantinya pada saat yang bersejarah itu aku
    mendapatkan tanda tangan Bono dan ketiga kawannya di iPodku yang baru itu nanti?
    Meski khayalan akan tetapi kalau itu benar-benar terjadi tampaknya iPodku bakalan jadi iPod yang benar-benar limited edition.

    Ya, nothing impossible, kan ?