Kategori: Tujuh pesan terakhir

  • 7PT ? Taat sampai mati di salib (7 dari 7 tulisan – habis)

    7PT ? Taat sampai mati di salib (7 dari 7 tulisan – habis)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

     

    7. Yoh 19:30 ?Sudah selesai?

    Hari ini, sekitar dua ribu tahun silam, sesaat setelah Ia berseru, “Sudah selesai!” Yesus menundukkan kepalaNya, wafat di atas kayu salib.

    Dalam hitungan orang Israel dan Romawi waktu itu, kematianNya bisa dibilang sangat singkat, hanya tiga jam sejak digantung di tiang salib. Konon, Pilatus yang dikabari prajurit tentang wafatnya Yesus pun terkejut karena kematian orang disalib biasanya sehari-semalam bahkan ada yang tiga hari baru mati.

    Aku membayangkan suasana pasti muram betul di Golgota dan Yerusalem saat itu.?Ada gamang dan takut yang menyeruak di hati para rasul dan ibuNya, Maria. Ada kelegaan tapi sekaligus tanda tanya besar di benak Anas dan anak menantunya, Kayafas, petinggi Farisi. Mereka lega karena musuh bebuyutan mereka telah lenyap. Tapi dalam hati mereka bertanya, “Benarkah Ia bukan Anak Allah karena tabut bait Allah terbelah dua dan gempa terjadi tepat sesudah Ia mangkat. Oh, satu lagi… langit pun mati sinar sejak beberapa jam yang lalu…” Kalau soal Pilatus, ah, ia pasti sangat menyesal karena mencuci tangan saat mengambil keputusan, tiada lain!

    Tapi yang paling kecewa dan kelabakan dengan wafatnya Yesus sebenarnya adalah Si Jahat.?Skenario untuk membuat Yesus takluk dengan bujuk rayu kekuasaan duniawi mengalahkan BapaNya lenyap begitu saja dengan kerelaan Ia mati di kayu salib! Apa yang telah mereka persiapkan sejak dosa asal Adam dan Hawa, hancur berantakan dengan penebusan Yesus. Padahal sejak Yesus memulai pelayanan sekitar tiga setengah tahun sebelum hari kematianNya, Setan pun telah mencoba membujuk di padang gurun, tapi gagal. Terakhir mencoba merasuk dan meringsek lewat Yudas, hampir berhasil tapi tetap kandas!

    Hal ini membuatku teringat akan apa yang pernah diucapkan seorang sahabat di masa laluku tentang Setan dan kebiasaan kita.?Sahabatku tadi bilang, “Setan itu tahu apa yang kita pikirkan dan jadi kebiasaan kita, tapi mereka tak tahu apa isi hati kita!”

    “Maksudnya?”
    “Ia tahu apa yang akan kau lakukan kalau menghadapi sesuatu berdasarkan kebiasaanmu…”

    “Misalnya?”
    “Kamu kan sedang ingin berhenti merokok (waktu itu aku masih merokok, sekitar awal 2000-an)… Kamu sudah berusaha menahan diri untuk tak merokok!?Tapi Setan tahu bahwa semua itu akan sia-sia kalau kamu tiba-tiba stress atau ngantuk padahal sedang lembur pekerjaan…Bener nggak?”

    “Hmmmm bener sih, aku pasti akan merokok kalau seperti itu!
    “Nah, tepat sekali! Itulah yang para setan tangkap, kebiasaanmu, kelemahanmu!”

    “Lalu bagaimana baiknya?”
    “Coba buat keputusan ekstrim. Sekali waktu kamu stress, tahan diri, memang berat, tapi tahan untuk tak merokok…”

    “Hmmm…”
    “Kalau kamu ngantuk padahal sedang lembur pekerjaan… jangan buru-buru ambil rokok. Jalan-jalan ambil udara segar atau lakukan apapun yang tak buruk dan tak merokok supaya tak mengantuk!”

    “Hmmm…”
    “Di situ setan terkecoh!”
    “Ia pikir kamu akan merokok tapi ternyata tidak!”

    Demikian juga dengan Yesus.
    Ia difitnah, didera, disiksa.
    Setan mengira Ia akan memutuskan untuk menggunakan kekuatan ‘super power’-Nya seperti yang pernah Ia tunjukkan dalam mukjizat-mukjizat yang pernah Ia lakukan.

    Ia dikhianati muridNya dan tak diakui oleh muridNya yang satunya lagi.
    Ditimbang-timbang keberadaannya dengan penjahat besar, Barabas. Dipaku di salib, dihina dengan pakaianNya yang diundi, dicecapi anggur cuka kelas comberan dan dimahkotai duri seraya dilabeli, “Inilah Raja Orang Yahudi” layaknya sebagai ejekan. Setan mengira Ia akan menyerah lalu berteriak “Gue pass! Nyerah!” dan minta kekuatan BapaNya.

    Tapi hingga akhir… hingga Ia menundukkan kepalaNya setelah berkata “Sudah selesai!”, apa yang dimaui Setan tak kunjung terjadi. Ia tak bergeming. Ia tahu tugasNya dan Ia tahu kesetiaan Bapa kepadaNya.

    Ia taat sampai mati.
    Bahkan mati disalib.

    blog_yesus

    Sesaat setelah mati, setelah lambungNya ditusuk hingga memuncratkan darah dan air, kepala pasukan tentara yang mengeksekusinya berlutut di hadapanNya. Dengan suara tergetar dan tenggorokan yang tiba-tiba seperti kering kerontang, ia berujar, ?Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!? (Markus 15:39)

  • 7PT ? Ia tidak hadir sebagai pengecut! (6 dari 7 tulisan)

    7PT ? Ia tidak hadir sebagai pengecut! (6 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

    6. Luk 23:46 ?Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.?

    Kesan terkuat yang berhasil kutangkap dari pesan keenam Yesus itu adalah soal bagaimana kita seharusnya memanage kebebasan/free will kita.

    Secara alami, Tuhan memberikan kita kebebasan untuk berkehendak. Ia menghormati apapun keputusan kita untuk menggunakannya. Tapi lantas pertanyaannya adakah kemungkinan lain yang lebih baik yang bisa kita lakukan untuk menggunakan kehendak bebas itu selain tetap berada dalam kuasaNya hingga akhir hidup kita tiba?

    Beberapa malam lalu aku merenungi benar ungkapan penyerahan nyawa kepada Tuhan ini.?Pengalaman hidup di negara sekuler seperti Australia pada tujuh tahun terakhir ini mengajariku bahwa tak semua orang sini percaya akan adanya kehidupan kekal setelah mati. Mereka yang berpandangan seperti itu biasanya adalah dari kalangan yang tak mempercayai adanya Tuhan.

    Suatu waktu aku pernah bertanya pada salah satu dari mereka, “Kalau kamu tak percaya ada kehidupan kekal, lalu bagaimana pemahamanmu tentang kematian?”

    Dengan santai dia menjawab, “Ya seperti halnya kamu mematikan komputer.”

    “Maksudnya?”
    “Mati! Ya sudah… mati begitu saja, nggak perlu ada kelanjutannya…”

    Aku tidak bingung dengan penjelasannya karena memang secara nalar kehidupan setelah mati adalah sesuatu yang khayal. Ia tak bisa dimengerti dengan segala jenis keilmuan yang kita pelajari di dunia ini. Pengetahuan agama pun, menurutku, hanya sanggup membuat kita tenang sejenak tapi ketika kita sadari kian tua dan kematian mau-tak-mau makin dekat, kadang agama yang hanya didalamai lewat ‘pengetahuan’ pun tak kedap akan ketakutan kita!

    “Lalu kalau kamu percaya ada kehidupan setelah mati?” tanya kawanku tadi.
    “Percaya!” tegasku.

    Kawanku tadi menyeringai, “Buktinya?”
    “Ada. Mau?”

    “Yup”
    “Matilah sekarang, dan kamu akan membuktikannya hahahaha….”

    Kini giliran kawanku yang nyengir. Percakapan kami memang tak pernah nyambung kalau menyoal iman karena ia membatasi jalan pikirnya hanya pada nalar, sedangkan aku, dengan segala kelemahanku memilih untuk membuka lebar-lebar kemungkinan-kemungkinan lain yang tak bisa terfasilitasi dengan akal.

    Pernyataan penyerahan diri Yesus ke tangan BapaNya adalah petunjuk ada kehidupan lanjutan, kehidupan baru setelah mati di dunia ini, ada suatu keberlanjutan. Seperti halnya kalian meminjam buku dari seorang kawan, kemudian ketika saatnya mengembalikan tiba, buku itu kalian berikan kepada yang memiliki. Buku itu tak lalu berakhir sampai saat ia diserahkan darimu ke temanmu, tapi ia, si buku tadi, berkelanjutan bahkan lebih baik dari sebelumnya karena ia kembali pada yang empunya. Analogi dan pemahaman ini tentu tak bisa masuk ke dalam akal kawanku tadi, karena baginya, ketika buku atau nyawa sudah selesai kita pakai, ia harus dibuang dan dimusnahkan.

    Penyerahan diri Yesus sekaligus juga adalah penutup yang indah dan jawaban kesetiaan Yesus akan kehendak Bapa atas diriNya; bukan kehendakNya sendiri. Kalian tentu masih ingat dengan pernyataanNya di Taman Getsmani malam sebelumnya, ?Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.? (Mat 26:36). Yesus begitu percaya akan rencana BapaNya, oleh karenanya Ia tak ragu lagi untuk menyerahkan yang paling berharga dariNya, nyawa, ke dalam tanganNya.

    Padahal, kalau mau dinalar, Yesus, dengan segala kuasa yang diberikan Bapa kepadaNya, bisa saja berbuat sesuatu yang membebaskan diriNya dari kayu salib dan melenyapkan semua luka-lukaNya. Mungkin Ia bisa terbang ataupun menghilang. Tapi Yesus bukanlah sepengecut itu! Ia sadar benar garis besar tugas pelayananNya di dunia ini. Ia hadir untuk membawa satu perubahan ekstrim; menyelamatkan manusia dari dosa dengan mengorbankan nyawaNya. Untuk itu, Ia menyerahkan segalaNya termasuk kehendak dan nyawaNya kepada BapaNya.

    Bagaimana dengan kita?
    Akankah kita mau menyerahkan kebebasan kita untuk melakukan segala sesuatunya dalam kesehakekatan dengan Bapa?

    Atau sebaliknya, memanfaatkan semaksimal mungkin kebebasan itu dan tak peduli lagi bahkan meninggalkan kehendak Bapa?

    Apa sangkamu kalau bisa benar-benar demikian lantas kehendakmulah yang pasti akan terjadi dan bukan kehendakNya?

    Selamat merayakan Kamis Putih!

  • 7PT ? Kenapa hanya anggur asam? (5 dari 7 tulisan)

    7PT ? Kenapa hanya anggur asam? (5 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

    5. Yoh 19:28 “Aku haus!”

    Sisi manusia Yesus tampak ketika Ia berujar, ?Aku haus!? dan itu menjadi pesan kelimaNya.

    Secara fisik, Yesus tentu teramat sangat lelah. Sejak malam sebelumnya Ia tidak dilaporkan tidur barang sedetik pun.

    Setelah mengikuti perjamuan terakhir dengan para murid, Ia pergi ke Getsmani untuk berdoa. Tak seberapa lama kemudian Ia ditangkap. Dibawa ke rumah Hanas dan Kayafas untuk diadili hingga semalam-malaman lalu berlanjut ke kediaman Pilatus. Setelah diputus untuk disalib, Ia pun harus memanggul salib hingga ke Golgota lalu digantung tiga jam lamanya!

    Anggur asam, anggur kelas rendah pun diberikan oleh para prajurit untuk disesap Yesus. Secara alkitabiah, hal ini adalah penggenapan dari apa yang tertulis dalam Mazmur 69:21 ?? dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.?

    Tapi dari sisi lainnya, kenapa prajurit itu memberi anggur asam?
    Kenapa ia tak memberikan anggur yang lebih baik?
    Dan? kenapa pula ia tergerak untuk memberi?

    Pikiranku melayang ke masa lalu.
    Aku punya teman, sesama alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Waktu masih SMA, ia terkenal sebagai orang yang pelitnya minta ampun!

    Sepuluh tahun, kira-kira, setelah terakhir kami bertemu saat lulus SMA, aku semobil dengannya. Melewati sebuah perempatan besar di Jogja, pintunya diketok seorang pengemis.

    Aku cuek dan tak punya intensi untuk memberi sedangkan dia buru-buru merogoh saku celana, lalu memberikan uang itu ke pengemis. Tau jumlahnya? selembar seratus ribu rupiah.

    ?Hah? Gendheng kowe (Gila – jw)!?
    ?Lah kenapa??
    ?Itu duit seratus ribu, kenapa kamu kasih ke pengemis? Mending buat makan kita malam ini!?

    ?Lha aku nggak tahu! Aku cuma merogoh kantong lalu yang keluar uang yang ratusan ribu, ya itu yang kuberikan ke dia!?

    Aku geleng-geleng kepala. Bagiku dia tak lebih dari seorang yang gila! Beberapa saat sesudahnya aku baru tahu kebiasaannya itu. Dalam memberi, prinsipnya mudah, ia mengambil uang dari saku atau dompet, uang pertama yang disentuhnya, itulah yang ia berikan tak peduli berapa angka nominalnya!

    Tapi peristiwa itu lantas kurenungi sekian lama sesudahnya. Aku mencoba membandingkan diriku dengan temanku tadi.

    Setahuku, aku tak pernah dikenal sebagai orang yang pelit tapi aku menganggap diriku sebagai orang yang perhitungan! Aku royal kepada kawan-kawanku. Ke restoran, aku yang bayar, ke kafe, aku yang ongkosi, tapi perhitunganku waktu itu, setiap ?keroyalan? yang kuberi, harus berbalik menjadi ?loyalitas? mereka kepadaku.

    Ketika harus memberikan sedekah untuk pengemis? Aku memang akan merogoh uang dari kantong celanaku, tapi sebelumnya sudah kupastikan bahwa hanya ada recehan di saku itu!

    Saudara-saudara, meski tak kan pernah bisa diperbandingkan, tapi kira-kira Tuhan dalam konteks memberi, lebih ada di sisiku atau sisi kawanku tadi?

    Menurutku, Ia lebih seperti kawanku.
    Ia memberikan kita segalanya, kehidupan, keindahan dunia, keluarga, rejeki, umur, posisi dan jabatan tanpa melihat siapa kita. Tapi kemudian, saat Ia merintih dan minta air untuk diminum, apa yang kita beri dan kembalikan kepadaNya?

    Anggur asam, tak lebih!
    Anggur kelas teri yang kita cucukkan dengan bunga karang ke mulutNya yang kering, berdebu dan berdarah karena siksaan dan deraan.

    Prajurit yang memberi Yesus anggur asam itu bisa jadi telah memberikan yang baik karena minuman yang mungkin tersedia di situ hanyalah anggur asam, tak lebih.

    Tapi bisa jadi pula prajurit itu tak melakukan yang benar-benar terbaik! Barangkali Ia seharusnya bisa meminta sedikit anggur yang lebih baik dari botol yang dibawa kepala prajuritnya, atau sekadar lari sebentar ke pemukiman (konon jarak Golgota dengan gerbang rumah Pilatus hanyalah 1,.5 km saja) lalu kembali untuk memberikannya ke Yesus atau gimanalah, pokoknya harus bisa dan sebisa-bisanya daripara sekadar memberikan anggur asam!

    Ketika Tuhan meminta, berikanlah yang terbaik.?Menakar yang terbaik itu seperti apa? Entah bagi kalian, tapi bagiku pokoknya yang belum pernah kuberikan sebelumnya, sesuatu yang tidak seadanya, tidak dalam batas-batas kapasitas yang kita tahu dan kita pernah lampaui. Sesuatu yang ekstrim yang berprinsip ?Pokoknya harus bisa dan sebisa-bisanyanya!?

  • 7PT ? Tuhan yang berbela rasa (4 dari 7 tulisan)

    7PT ? Tuhan yang berbela rasa (4 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

    4. Mrk 15:34 ?Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku??

    Ketika aku mencoba membayangkan berada dalam lingkup Golgota saat penyaliban Yesus, yang seharusnya merasa paling ngeri setelah mendengar Yesus berseru demikian di atas, barangkali adalah Dimas, penjahat yang berada di sisi kanan Yesus.

    Ia yang semula sudah senang karena dijanjikan akan berada di Firdaus, Taman Surga, hari itu juga oleh Yesus, mungkin akan terkaget-kaget dan sontak berpikir, ?Gila! Yang benar aja! Tadi udah janjiin untuk berada di surga hari ini juga tapi kok sekarang Dia berkata demikian? Kalau dia merasa ditinggalkan Allah, lalu aku dikemanain??

    Sebaliknya, penjahat di sisi kiri Yesus yang tak dilaporkan namanya, mungkin akan bersorak-sorak gembira atau setidaknya nyukurin si Dimas! ?Nah, gue bilang juga apa, Mas! Dia bukan Tuhan! Kebukti kan, Dia malah teriak-teriak memanggil Allahnya? Udahlah, kita pasti masuk neraka!? (simak tulisanku tentang Dimas dan ‘temannya’ itu di sini)

    Saudara-saudara,
    tak pernah ada yang benar-benar tahu apa maksud Yesus berseru seperti itu selain dua kenyataan berikut,

    pertama, seruan itu adalah kutipan dari surat Mazmur ayat 22, doa yang sering dipanjatkan umat Yahudi kala itu.

    Kedua, sesaat setelah itu Yesus mati, turun ke tempat penantian, tapi tiga hari kemudian, Ia bangkit dari alam maut dan hidup!

    Yesus melalui seruan itu, mengajari kita untuk tetap berteguh dalam doa namun sekaligus merendahkan diri dan berserah dihadapan Allah terutama saat kita tersudut dan seolah tanpa harapan.

    Penyerahan ini berkesinambungan dengan apa yang Ia tuturkan dalam doa di Getsmani sesaat sebelum ditangkap pada malam sebelumnya. ?Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.? (Mat 26:36).

    Dalam doa itu, tampak jelas Yesus menihilkan kehendakNya dan memilih setia pada kehendak BapaNya, bagaimanapun itu, sesuram apapun bentuknya.?Padahal jika mau, mungkin Ia bisa saja lantas melempar handuk dan menyerah kalah. BapaNya yang amat mencintaiNya pasti tak segan menolong.

    Banyak yang lantas meragukan ketuhanan Yesus terutama setelah mereka membaca pesan keempat?ini lalu berkomentar, ?Kalau Yesus itu Tuhan, kenapa ia berteriak-teriak memanggil Allah yang meninggalkan diriNya??

    Tapi percaya?atau tidak percaya?itu adalah pilihan mereka. Bagiku sendiri dan semoga bagi kalian juga, ?apapun motivasi Yesus berseru seperti itu, hal tersebut tidak mengurangi kadar ketuhanannya sendiri.?Hal itu justru malah menjadikanNya sebagai Tuhan yang berbela rasa terhadap umatNya. Bukan tuhan yang arogan dan berjarak, Ia mendekatkan diriNya kepada kita semua, memberi contoh apa yang mesti kita perbuat saat kita menghadapi perasaan seolah ditinggalkan oleh semuanya termasuk Yang Kuasa?

  • 7PT – Ibu Kita Maria (3 dari 7 tulisan)

    7PT – Ibu Kita Maria (3 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

    3. Yoh 19:26-27 ?Ibu, inilah, anakmu!? dan ?Inilah ibumu!?

    Tentu aku tak sendirian ketika bercerita bahwa ada beberapa orang dari gereja lain sering bertanya, ?Kenapa dalam Katholik, Maria itu sangat dihormati keberadaannya??

    Dalam tataran yang lebih lugas, tak jarang ada juga yang bertanya, ?Kenapa kalian (gereja Katholik) menyembah Maria??

    Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang biasa menjadi jawaban kita biasanya adalah, ?Kami tak menyembah Maria. Kami berdoa lewat perantaraan Bunda Maria?

    Lalu mereka biasanya juga sudah siap dengan timpalan berikut ?Kenapa harus lewat perantara? Kenapa tak langsung ke Yesus saja??

    Tak kalah gesitnya, kita berkelit, ?Lho, kalian tahu kan waktu peristiwa pengubahan anggur di pernikahan Kana, Maria yang meminta ke Yesus supaya diadakan mukjizat!?

    Sampai di situ biasanya sudah tak terlalu menarik lagi karena mereka akan loncat ke soal kitab Wahyu 12, tentang perempuan bersayap burung nasar dan berujung pada debat kusir yang tak mengenal ujung. Membosankan? Iya!

    Nah, jadi ketimbang mengulang-ulang pola debat seperti itu, mari kita tenang sejenak mencermati pesan ketiga Yesus di atas kayu salib; sesuatu yang semoga membawa pencerahan dalam perspektif yang lebih menenangkan tentang bagaimana kita sebaiknya dan seharusnya menempatkan Bunda Maria dalam kesatuannya dengan iman kita terhadap anak tunggalnya, Yesus.

    Pesan ketiga Yesus ini sebenarnya terdiri dari dua pesan yang disampaikan secara berurutan dan saling berkaitan.

    ?Ibu, inilah anakmu!? dan ?(Anak), inilah ibumu!?

    Pesan pertama disampaikan kepada Maria, dan pesan kedua disampaikan kepada Yohanes, murid yang dikasihiNya. Kedua orang itu setia menemani Yesus di bawah kayu salib, menyaksikan dengan seksama dan tabah penderitaan, siksaan serta deraan yang diterima Yesus.

    Yesus sangat mencintai Maria, ibuNya, di sisi lain Ia juga sangat mengasihi murid-muridNya. Kedua pesan tadi disatukan oleh Yesus untuk menautkan cinta antar keduanya, Maria dan murid sebagai sebuah hubungan yang baru.

    Hubungan yang bukan lagi ?Maria adalah ibu guruku, Yesus? dari sisi murid dan ?Mereka adalah murid-murid anakku, Yesus? dari sisi Maria, melainkan ?Maria adalah ibuku? dan ?Mereka adalah anakku!?

    Lalu bagaimana dengan kita?
    Sebagai orang yang dibaptis dalam Gereja Katolik, kita sadar bahwa kita bukan lagi bagian terpisah dari Yesus, kita adalah murid-murid yang dikasihiNya. Sebagaimana layaknya Yohanes yang dikasihiNya, kitapun diinginkan Yesus untuk menerima Maria sebagai ibu kita seperti Ia juga telah meminta Maria untuk menjadikan kita sebagai anaknya.

    Tapi kenyataannya, apakah kita menerima Maria di dalam rumah kita? Di dalam batin kita atau justru sebaliknya, menganggapnya tak penting dan justru kadang kita anggap sebagai penghalang romantisme kita dengan anaknya, Yesus?

    Dalam pekan suci ini, mari sejenak membayangkan diri menjadi sosok Maria yang resah melihat anak tunggalnya mengalami penderitaan hingga kematian. Ia pasti ingin membela ketika di muka umum Yesus ditampar dan diolok-olok, difitnah dan dicampakkan.

    Ia pasti ingin menolong sekuat tenaga ketika Yesus terjatuh-jatuh dalam memanggul salibNya ke Golgota dan Ia barangkali sudah tak punya daya apa-apa lagi dan tak tahu harus berbuat apa melihat Anak yang dilahirkan, diasuh dan dibesarkannya digantung di kayu salib di hadapannya hingga wafat.

    Tapi dalam ketidakberdayaannya menyaksikan semuanya itu, adakah kita mampu melihat betapa Tuhan memiliki rencana terhadap diri Maria? Dengan kerelaan dan keikhlasannya, bisakah kita melihat sifat keibuannya yang mengemuka?

    Aku ingin menutup permenungan ini dengan quote yang pernah disampaikan oleh Santo Pius X (Paus) dalam ensikliknya yang terkenal Ad diem illum Laetissimum dan disampaikan pada 2 Februari 1904.

    Demikian ia berkata,

    Bukankah Maria adalah Bunda Yesus? Oleh karena itu ia adalah bunda kita juga?.

    Maria yang mengandung Sang Juruselamat dalam rahimnya, dapat dikatakan juga mengandung mereka yang hidupnya terkandung di dalam hidup Sang Juruselamat.

    Karenanya, kita semua ? telah dilahirkan dari rahim Maria sebagai tubuh yang bersatu dengan kepalanya. Oleh karena itu, dalam pengertian rohani dan mistik, kita disebut sebagai anak-anak Maria, dan ia adalah Bunda kita semua.

  • 7PT – Setiakah kita pada derita? (2 dari 7 tulisan)

    7PT – Setiakah kita pada derita? (2 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

    2. Luk 23:43 ?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.?

    Pada dua pencuri yang dihukum mati dengan cara disalib bersama Yesus, kita belajar banyak hal.
    Pada seorang pencuri yang ada di sisi kiri Yesus, kita belajar tentang sebuah kelumrahan yang ‘manusiawi’ ketika ia berujar, ?Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!? (Luk 23:39) Kukatakan lumrah dan manusiawi karena dalam keadaan terdesak menjelang mati karena disalib, ia hilang akal lalu berpikir seolah menantang ketuhanan Yesus untuk menyelamatkan mereka semua. Bukankah itu manusiawi sekali?

    Hal ini mengingatkanku pada sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika salah satu sahabatku sedang dalam keadaan kritis karena kondisi kesehatan yang menurun. Mungkin maksudnya baik, beberapa anggota keluarganya mengundang beberapa pendoa dari gereja ‘entah dari mana’ untuk datang ke rumah sakit dan berdoa bersama-sama. Awalnya aku tak keberatan untuk ikut dalam lingkaran doa itu, tapi kemudian si pemimpin acara berujar, “Ya Tuhan, kami menagih janjiMu! Selamatkanlah anakMu ini! Sembuhkanlah ia! Berilah ia ginjal yang baru (ia mengidap sakit ginjal) karena ia telah begitu setia kepadaMu!” dan sesudahnya aku kehilangan mood untuk berdoa. Aku tak kemana-mana, menuntaskan acara doa itu sebaik-baiknya, tapi aku sama sekali tak setuju dengan apa yang pemimpin itu utarakan.

    Bagiku, apa yang diucapkan kedua orang, pemimpin acara dan pencuri di sebelah kiri Yesus itu setali tiga uang.?Ia mencobai Tuhan! Seolah kebesaran dan kemuliaan Tuhan akan hilang ketika Ia tak menyelamatkan kita. Padahal bukankah kita tahu bahwa Tuhan pun mengijinkan dan mengajari kita untuk mengalami dan setia pada penderitaan?

    Untuk menguatkan hal ini mari kita belajar pada pencuri yang ada di sebelah kanan Yesus, Dimas namanya, menurut tradisi gereja.

    Berbeda dengan rekan pencuri yang lain, Dimas merendahkan dirinya, mengakui kesalahan dan kelayakannya untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Berikut katanya, “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” (Luk 23:41) Tak berhenti di situ, ia dengan segala kerendahan hatinya memohon kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42)

    Yesus yang Anak Allah dan juru selamat, jatuh iba dan membalas ?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.? (Luk 23:43)

    Ia tak bicara tentang kesembuhan atau bagaimana cara meloloskan diri dari hukuman salib yang sedang Ia dan para pencuri hadapi. Tapi lebih daripada itu, Yesus bicara tentang peneguhan atas iman yang otentik yang diucapkan Dimas barusan.

    Teman, akankah kita setia pada penderitaan kita? Pada cobaan kita? Ataukah justru sebaliknya, kita melabrak dan menagih Allah justru karena kita seolah sudah sangat setia kepadaNya sehingga kita tak layak menderita dan mengalami cobaan?

    Mari kita semakin memberanikan diri untuk menyelipkan doa supaya ketika beban hidup kian berat atau katakanlah nanti ketika ajal tiba, kita masih sanggup berikthiar seperti Dimas. Supaya ketika sakit datang dan meradang, kita tetap setia dan tak memberontak terhadap keadaan yang kita hadapi. Semata karena kita tahu bahwa kita memang diijinkan untuk menderita terlepas dari segala kesetiaan kita kepadaNya karena segera setelah semuanya selesai, kita akan bersama-sama dengan Yesus di FirdausNya yang abadi.

  • 7PT – Tak tahu yang diperbuat? (1 dari 7 tulisan)

    7PT – Tak tahu yang diperbuat? (1 dari 7 tulisan)

    blog_7pt

    Mulai hari ini hingga Jumat Agung, 3 April 2015 mendatang, setiap hari aku akan memuat materi permenungan yang pernah kusampaikan pada acara Persekutuan Doa Katolik Karismatik Epiphany Sydney, 14 Maret 2015 yang lalu.

    Di atas mimbar waktu itu aku terlanjur janji untuk mengunggah seluruh materi secara online sementara keesokan paginya aku harus pulang ke Indonesia mendadak untuk berjumpa dengan Mama yang sakit keras.

    Materi kubagi dalam tujuh tulisan sesuai judul pengajaranku saat itu ?Toedjoeh Pesan Terachir? (7PT).

     

    Pendahuluan

    Yesus adalah contoh kesetiaan yang paling tinggi dan hakiki yang bisa kita temukan dalam hidup ini.

    Hingga saat tergantung di kayu salib, Ia yang merasakan penderitaan sebagai manusia, pun masih ?sempat? meninggalkan tujuh pesan terakhir yang ia sampaikan dan dicatat oleh Markus, Lukas dan Yohanes melalui Injil sucinya.

    Tujuh pesan itu bisa jadi adalah wasiat, tapi tetap merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan satu terhadap yang lainnya dengan keseluruhan Kabar Keselamatan yang diamanatkan Kristus sejak awal hingga akhir kehidupan, alfa dan omega.

     

    1. ?Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.? (Luk 23:34)

    Kalimat ini mungkin menjadi salah satu kalimat doa favorit yang sering kita ucapkan setiap kita merasa diperlakukan tidak adil dan semena-mena.

    Misalnya ketika ada berita gereja dibakar atau diruntuhkan. Ketika kita atau kaum kita didera dan dicampakkan oleh karena satu persoalan yang menurut kita seharusnya kita tidak dibegitukan. Pada saat-saat seperti itu, kita biasanya entah spontan atau tulus berdoa ?Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat?

    Salahkah? Tentu tidak karena Yesus sendiri pernah berdoa demikian. Tapi apakah kita lantas selalu menjadi pihak yang benar dengan berdoa demikian?

    Tampaknya tidak! Tidak selalu demikian!
    Contohlah seorang dari kaum kita terbukti melakukan korupsi. Ia diadili dan dihukum berat. Dalam sebuah wawancara dengan media setelah vonis, ia berseloroh, ?Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!?

    Tentu doa itu jadi tidak tepat sama sekali, terutama kalau secara hukum dan meyakinkan ia terbukti bersalah. Doa itu seolah jadi kehilangan esensinya dengan meletakkan para pengadil sebagai sosok yang seolah bersalah telah menghukumnya sehingga harus diampuni sementara diri sang koruptor sendiri, berbekal pesan Yesus tadi jadi tampak seolah benar. Bukankah ini sebuah kesalahan?

    Lalu apakah yang ingin disampaikan Yesus ketika berujar demikian?

    Peristiwa penyaliban Yesus bagi kita barangkali berarti drama penyaliban satu babak berdurasi sekitar tiga jam hingga akhirnya Ia wafat.

    Tapi dari diri Yesus sendiri yang memiliki kodrat sebagai Anak Allah sekaligus manusia, Ia-lah yang justru menyaksikan drama kehidupan dari atas salibNya.

    Ia, dengan kemampuan pengetahuan yang ditanamkan dari Allah (infused knowledge); dan pandangan kesempurnaan surgawi (beatific vision) melihat drama kehidupan sejak manusia awal-mula, Adam dan Hawa, tokoh-tokoh sebelumnya, kehidupan masa kini dan bahkan kehidupan hingga nanti saat akhir jaman tiba.

    Secara langsung, Yesus memang mendoakan para prajurit yang menyalibkanNya. Ketidaktahuan para prajurit tentang apa yang ia perbuat terhadap Siapa, membuat Yesus prihatin dan mendoakan pengampunan bagi diri mereka.

    Tetapi, akankah doa itu terbatas hanya pada diri para prajurit itu?
    Bagaimana dengan kita?

    Di rumah kalian tentu ada salib atau setidaknya di gereja.?Di muka salib, tentu salib yang ber-tubuh Kristus, diamlah barang sejenak.

    Pandanglah Tubuh Kristus yang tergantung di atas salib itu. Pejamkanlah matamu dan bayangkanlah Yesus mengucapkan doa yang sama kepadamu, ?Ya Bapa, ampunilah (sebut namamu) karena (namamu) tak tahu apa yang (namamu) perbuat!?

    Nyatakah itu? Ya! Karena Ia adalah Tuhan maka apa yang dilihatNya pada saat disalibkan adalah apa yang telah Ia ketahui tentang segala sesuatu yang terjadi kini hingga nanti. Yesus tak hanya berdoa bagi para prajurit saja tapi juga bagi kita yang masih akrab dengan dosa dan kelemahan duniawi!

    Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, banggakah kita selalu didoakan demikian olehNya?

    ?Oh kalau aku sih bangga, Don! Dan memang seharusnya demikian karena Ia kan juru selamat! Ia kan Tuhan?!?

    OK! Aku juga bangga sih didoakan demikian.. tapi dengan satu catatan!?Catatannya adalah kalau aku termasuk orang yang ?tidak tahu apa yang kita perbuat!? Kalau aku berasal dari kalangan yang tidak mengenal Yesus, atau hidup pada saat Yesus disalibkan, seperti halnya prajurit itu, yang belum tahu tentang Yesus, aku akan bangga.

    Tapi aku lahir, ketika berita Kabar Baik tentang Yesus telah disebarluaskan hampir dua ribu tahun sesudahnya hampir di seluruh penjuru dunia!

    Aku disekolahkan di sekolah Katholik, ditumbuhkembangkan dalam keluarga Katholik, membangun sebuah rumah tangga berbasis Katholik dan kini pun hidup dalam negara yang memiliki akar budaya kristiani yang cukup dalam meski sekulerisme telah merajai dimana-mana.

    Jadi? apakah aku layak untuk dianggap sebagai orang yang tak tahu tentang apa yang kuperbuat?

    Tentu tidak!
    Nah kalau tidak, pantaskah aku diampuni?

    Bagaimana dengan kalian?