Kategori: Tokoh Alumni De Britto

Pada tahun perayaan ulang tahun ke-tujuh puluh SMA Kolese De Britto Yogyakarta, aku menyusun tujuh puluh tokoh alumni yang lantas kuwawancarai satu per satu

  • Theo: Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat?

    Dari pandemik COVID-19 yang berkepanjangan ini kita belajar untuk berubah. Hidup ini adlah perubahan itu sendiri. Perubahan yang tidak perlahan, perubahan yang cepat. Manusia seakan tak diberi kompromi bahkan untuk sejenak rehat karena berhenti tidak lagi berarti diam melainkan mundur ke belakang.

    Belajar berubah, belajarlah pada Theodosius Dwihantoro atau yang akrab dipanggil Theo. Jauh sebelum pandemi terjadi, lulusan SMA Kolese De Britto tahun 1999 itu mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya. Bayangkan, sore hari sebelumnya pada April 2013, ia masih bisa melihat sinar matahari yang lindap di sisi barat, tapi pagi hari berikutnya, semua jadi gelap! Ia hilang penglihatan secara total setelah mengalami gagal operasi malam sebelumnya.

    Theo sadar hidupnya belum berhenti di titik itu. Dengan keterbatasannya, ia menyelaraskan hidup dan justru semakin bersemangat menyambut perubahan serta terus mencari dan menjalani misi hidupnya.

    Theo berteguh. Ia amat percaya dan memegang erat janji Tuhan. Alhasil, pria kelahiran Sleman 11 Januari 1981 yang sempat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan ISI Yogyakarta ini kini justru menjalani hidup yang kaya warna meski gelap gulita, bercahaya meski tak ada sebersit pun sinar yang mampu diterima retina kedua mata fisiknya.

    Aku menghubungi Theo beberapa waktu lalu via WhatsApp. Meski sama-sama satu almamater, aku belum pernah berbincang sama sekali dengan adik kelas beda tiga tahun ini. Mengawali obrolan, aku mengajukan pertanyaan yang selama ini kusimpan, ?Kamu bisa aktif di social media dan kini bisa ngetik lancar di WhatsApp padahal kamu mengalami kebutaan. Gimana caranya??

    Dari pertanyaan itu lantas hadir percakapan yang mengular dan berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya?

    Theo, apa pendapatmu tentang mata?

    Mata? mata adalah salah satu cara untuk kita bisa melihat. Tapi mata bukan satu-satunya cara? Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat. 

    Wah menarik! Ada mata-mata yang lain. Bagaimana penjelasannya?

    Dari pengalamanku sendiri, pada akhirnya aku bisa melihat banyak hal justru tidak menggunakan mata. Ketika aku mendengar sesuatu, aku bisa membayangkan dan mem-visualisasi-kan. Aku melihat dengan mata hati karena itu justru lebih tajam bagiku. Aku jadi bisa lebih mudah berimajinasi tanpa harus tersekat pada ukuran-ukuran tertentu dan pada akhirnya aku bisa melihat lebih jauh ke dalam?

    Butuh waktu berapa lama untukmu menyadari bahwa mata hanyalah salah satu cara untuk melihat sesuatu?

    Prosesnya cepat.?
    Barangkali karena Tuhan sudah mempersiapkan sejak 2-3 tahun sebelumnya (sebelum April 2013 saat Theo mengalami kebutaan karena operasi yang dinyatakan gagal -red) karena aku mulai belajar meditasi. Belajar meditasi membuatku tidak terikat pada sesuatu, belajar fokus pada apa yang dihadapi saat ini.

    Kalau boleh mengulas lagi kejadian di saat kamu kehilangan penglihatan, bagaimana ceritanya hal itu bisa terjadi?

    Waktu itu, April 2013. Malam harinya aku mengalami kegagalan operasi mata (mata Theo mengalami ablasio retina (retina lepas/detachment retina) -red). Pagi harinya saat perban dibuka, yang kulihat hanya gelap yang pekat. Ya udah gitu aja?

    Apa reaksimu pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya?

    Biasa aja.
    Mungkin malah ada orang yang menganggap aku ini gila karena setelah itu aku ya benar-benar biasa aja seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena aku sendiri nggak mau terjebak dalam perasaan melankolis dan menyesali keadaan. Karena basic meditasi itu tadi juga membuatku lebih mudah untuk menerima kenyataan.

    Sesampainya di rumah dari rumah sakit, yang kupikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa berjalan di rumah tanpa nabrak. Itu dulu. Secara otomatis pikiranku langsung membuat pola visualisasi. Pola visualisasi ini membuatku mudah untuk beradaptasi dengan banyak hal.

    Kamu tampak kuat dan siap menghadapi keadaan matamu. Tapi pernahkah kamu merasa down?

    Down yang banget-banget hingga berhari-hari gitu seingatku belum pernah. Karena setiap kali mentok terhadap sesuatu, aku terbiasa untuk mencari jawaban saat itu juga kenapa mentok, apa jalan keluarnya?

    Misalnya dulu pernah aku pengen pergi nonton konser. Aku minta tolong ke seorang teman dan biasanya teman tadi bisa mengantar tapi saat itu dia nggak bisa ngantar. Lalu muncul pikiran-pikiran negatif. Tapi tiba-tiba ada bantahan dari sisiku yang lain, ?Ya mungkin dia lagi sibuk. Kenapa enggak cari teman yang lain??

    Aku pernah juga merasa gagal saat paduan suara yang kulatih tak berhasil mengulang prestasi juara tahun-tahun sebelumnya. Saat itu sempat terlintas? pikiran, ?Waduh, kenapa begini? Apa karena kondisiku ya?? Tapi lagi-lagi, tak lama kemudian muncul bantahan dari dalam diri, ?Bukan gitu! Kemarin-kemarin kamu bisa juga kok bawa mereka juara padahal kamu sudah tidak ?awas? lagi. Bukan semata-mata karena kamu nggak bisa melihat!?

    Lalu apa yang membuatmu bisa sekuat ini?

    Sejak awal aku selalu mendapat penguatan dari Tuhan bahwa semua yang terjadi ini atas ijinNya. Artinya, Dia sudah menyiapkan aku untuk masuk ke tahap ini?

    Kalau kamu sudah sedemikian siap dan kuat, bagaimana kamu menerima perhatian dari sekelilingmu? Pernahkah mengalami keadaan dimana sekeliling mengasihanimu? Bagaimana caramu menguatkan mereka? Atau jangan-jangan kamu malah nggak suka dikasihani?

    Sejujurnya aku nggak suka dikasihani tapi persoalannya kita kan nggak bisa melarang orang untuk tidak melakukan hal itu kepada kita. Ketika aku berada dalam posisi mereka, barangkali ketika melihat sesuatu yang dalam konteks normal itu tidak wajar, akupun  akan merasakan rasa yang sama; iba dan kasihan.

    Pernah sih ada yang secara lugas mengatakan dia bersimpati kepada saya tapi aku lantas menjelaskan bahkan aku tidak mengalami kesulitan seperti yang dibayangkan.

    Ada juga orang yang memberiku pekerjaan yang sepertinya hanya karena merasa kasihan kepadaku. Aku nggak mau terjebak dalam konflik batin itu. Aku fokus aja pada apa yang kulakukan, memberikan kemampuan terbaik. Itu membuat penilaian mereka berubah terhadapku.

    Ok, sekarang mari bicara tentang Tuhan. Bagaimana kamu memandang dan berinteraksi denganNya?

    Aku memandang Tuhan sebagai pribadi yang dekat, hangat. Sebagai sahabat. Sebagai orang tua dan sebagai tempat meminta. 

    Kadang komunikasiku dengan Tuhan muncul melalui cara-cara yang spontan. Misalnya ada hal yang mentok, aku bilang, ?Tuhan gimana ini mbok aku diajarin..? Atau ketika butuh duit, ?Tuhan mbok aku dikasih duit sekian??

    Kedekatan dengan Tuhan kualami sejak dulu meski secara reiligus aku ini sebenarnya tidak terlalu, aku tidak rajin ke gereja.  Tapi aku yakin justru aku merasa dekat secara spiritual.

    Apakah ada perubahan secara ekonomi saat sebelum dan sesudah kamu mengalami kebutaan?

    Pernah aku membandingkan dan sejujurnya, dari sisi penghasilan, keuanganku sekarang justru lebih baik ketimbang dulu! Dulu aku gak bisa nabung sekarang bisa.

    Profesiku sejak sebelum kejadian juga sama hingga sekarang. Aku tarot reader, aku pelatih vokal dan kadang-kadang aku juga bernyanyi. Malah sejak dua bulan lalu aku diberi kesempatan membuka lapak tarot di Kabar Baik Eatery milik Mas Ison (Ison Desy Satriyo – JB91). Aku juga sedang merintis Youtube channel tentang tarot dan aku mulai merealisasikan mimpiku untuk ke depan punya sekolah musik, tempat praktek tarot dan hipnoterapi.

    Aku percaya janji Tuhan akan mencukupkan dan rejeki kan memang selalu cukup meski kadang gak bisa diprediksi. Yang kupegang janji-Nya, tidak perlu khawatir, serahkan segala sesuatu dan semua akan dipenuhkan!

    Ngomongin soal De Britto, sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam hidupmu?

    Ajaran ?bebas bertanggung jawab? tanpa kusadari telah membentuk aku jadi pribadi yang lebih bebas dalam mengarungi hidup. Tidak terpaku pada satu pandangan, bisa diajak berpikir dan diajak untuk menggunakan cara pandang yang lain.

    Aku jadi tidak mudah terjebak dalam fanatisme tertentu apapun itu, terbuka pada segala macam pandangan tanpa aku harus ikut arus ke dalamnya.

    Lalu tentang Man for others, itu selalu jadi doaku! Bagaimana aku bisa jadi berkat bagi orang lain. Bagaimana aku bisa memberi inspirasi dan warna dalam setiap kehadiranku. Kehadiranku tidak lagi sia-sia, tidak sekadar sebagai penggembira tapi bisa memberikan warna meski aku tidak terlalu banyak bicara.

    Apakah kamu masih berharap suatu waktu Tuhan memberi mukjizat untukmu dapat melihat dengan mata lagi?

    Masih! Tapi aku tak mau harapan-harapanku itu jadi hambatan untuk maju.

    Dulu awal-awal, harapan-harapan itu justru jadi semacam pergumulan seolah aku ini tidak ikhlas. Pergumulan itu sering jadi penunda pekerjaan dan aktivitas. Pernah aku berpikir ingin melakukan sesuatu tapi lantas aku berpikir, ?Ah, nanti saja nunggu aku bisa melihat lagi?? Sering aku harus ekstra keras mendorong diriku untuk melawan hal-hal seperti ini.

    Tapi setelah aku ngobrol dengan Pakdhe Bambang Sakunthala (salah satu alumni senior De Britto), aku diajarkan untuk belajar fokus pada hal yang lebih besar lagi yaitu tentang misi hidup. Aku dikasih PR oleh Pakde Bambang, ?Coba kamu berdoa pada Tuhan, bertanya apakah misi hidupmu? Jangan sampai waktu kamu meninggal nanti kamu tidak menyelesaikan misi hidupmu!?

    Jika kamu kuminta untuk memberi satu pesan pada pembaca blog ini, apa yang hendak kamu sampaikan?

    Hidup itu sangat luarbiasa, nggak perlu ditanyakan lagi!

  • Henokh: ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang

    Henokh: ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang

    Henokh Aldebaran Ngili adalah tokoh kedua puluh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Henokh, pria kelahiran Jakarta, 26 Mei 1995 ini adalah lulusan SMA Kolese De Britto tahun 2013. Aku mengamatinya sejak lama. Kiprahnya berbeda, ia penggemar wayang dan menjadi dalang sejak berusia 2.5 tahun!

    Sudah lama aku menghubunginya untuk membicarakan rencana berbincang tentang pewayangan dan seluk-beluk profesi dalang. Pernah pula bertemu tatap muka dengannya di acara Manuk Pulang Kandang, 27 Desember 2018 silam. Namun baru sempat ngobrol sejak Juni 2019 kemarin.

    Perbincangan berjalan hingga dua bulan kemudian, melewati masa-masa menegangkan, Pemilihan Presiden Paguyuban Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ngobrol dengan Henokh di masa itu kujadikan sebagai cara untuk lebih memandang ?debritto? dari sudut yang lebih kontemplatif dari sekadar seloroh-seloroh seru kampanye dan copras-capres.

    Pria yang sedang menunggu proses yudisium untuk jadi sarjana serta menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus (barista, staff management hotel dan dalang) ini berbicara panjang lebar tentang dunianya.

    Beberapa yang kujadikan intisari, kutuang dalam petikan-petikan di bawah ini?

    Henokh, kenapa kamu tertarik pada wayang?

    Yang pertama karena perwujudan wayang itu menarik. Stilasi bentuk, dalam wujud wayang apapun, langsung mudah untuk dilihat sebagai wujud makhluk: manusia, hewan, buta dll.

    Cerita dan value yang bisa diambil dari sebuah pertunjukan wayang jugamenarik. Di masa kecil cerita-cerita kewiraan membuatku tertarik. Semakin berjalannya waktu, nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan cinta semakin membuat tertarik.

    Wayang itu juga jadi gambaran hidup. Ada senang, ada susah, ada hidup dan ada mati. Semua terefleksi dalam wayang.

    Lalu kenapa kamu jadi dalang?

    Apa aku ki dalang, hahahahaha?
    Ya mungkin karena wayang itu fleksible. Ini salah satu caraku untuk berefleksi. Ketika menghadap kelir, aku tidak hanya mendongeng untuk orang lain. Aku diingatkan pada gambaran uripku.

    Di situ juga aku bisa berbagi pada orang lain, nilai-nilai luhur yang bisa kuserap. Ketika aku ngobahke wayang dan ‘menghidupkan’ wayang itu, aku bisa juga mengingat poin-poin keutamaan yang mungkin aku juga terkadang lupa akan poin-poin itu..

    Alasanmu cukup selfish ya hahaha

    Point-nya bukan pada selfish-nya, DV. Bukankah katanya Firman itu juga pedang bermata dua?

    Menjadi dalang itu juga mejang Firman. Otomatis ketika kita berbagi soal nilai-nilai keluhuran itu, kita juga sedang mengingatkan diri sendiri. Kalau mau deep down alasan yang lebih selfish sih ada: Aku cinta kok karo wayang. Jenenge wong cinta ki ya kepiye hara.. hahahhaa

    Siapa yang memperkenalkan pertama kali dengan wayang, Henokh?

    Di awal, ada beberapa orang yang mengenalkan wayang ke diriku. Mama (Wahyu mahatmaningrum), pakdhe (Nuryanto), serta guruku mendalang pertama kali (Budhi Sitepu).

    Kamu memandang pekerjaan dalang itu lebih ke spiritual atau duniawi?

    Yang pasti ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang. Aku tidak mengharapkan duit dari ?mayang?, nek ana dhuwite mangga, ora ya uwis

    Spiritual, buatku ya. Wayang itu media fleksible untuk siapa pun mendapat insight dari suatu pertunjukan.

    Itulah sebabnya kenapa aku sendiri mendisiplinkan diri ketika akan munggah panggung. Dalam hal ini menyiapkan diriku sebaik-baiknya, secara tubuh-jiwa-roh, karena aku membawakan pesan untuk siapapun yang menonton / mendengar.

    Insight-insight apa yang kamu pakai dan dapatkan dalam ndhalang?

    Insight? Banyak sekali.
    Bacaan, pengalaman setiap hari, mendengar, refleksi atas hal-hal besar dan kecil.. Aku tipe orang yang kalau mau munggah panggung selalu prepare naskah dengan sebaik mungkin.

    Walau nantinya di atas panggung ada improvisasi sesuai kehendak-Nya, tetapi ada frame supaya ora ‘ngawur’ dan bisa ‘menguji’ apakah itu benar-benar arahan-Nya apa bukan.

    Tresna.
    Buatku cinta pada wayang itu yang selalu menginspirasiku dan mem-push aku.

    Bagaimana dalang itu mendapat uang? Berapa tarip rata-rata sekali manggung?

    Jujur, aku ndak selalu menerima uang dari panggungku. Banyak juga pro bono (tanpa imbalan) Ada juga yang sifatnya diaturi (diberi) berupa hasil bumi, atau dibayar dengan hal-hal lain.

    Tarip rata-rata, ora ngarani (tidak menyebut angka -jw). Aku belajar keteladanan dalang-dalang sepuh yang ora ngarani dalam berkarya.

    Tapi dengan hitungan era kekinian. Hitungannya adalah selama aku tidak rugi..

    Kebutuhan suatu pertunjukan kan ada wayang, kothak, kelir, debog, gamelan, sound system.

    Kemudian wiyaga dan sindhen, lalu ada transport ke lokasi juga.

    Nah ini yang harus dihitung. Kalau aku diminta membawa kawan / crew, mereka harus mendapat upah juga karena bekerja.

    Kalau rata-rata cost sekali manggung sampai berapa?

    Nah, ini variatif. Beda daerah, beda cost. Tapi let say itung-itungannya kalau professional show untuk area dalam kota itu 15-20 juta. Untuk corporate, harga bisa beda.

    Henokh, bicara tentang pewayangan, apakah kamu setuju bahwa wayang itu mulai ditinggalkan?

    Tidak menolak tapi juga tidak setuju.
    Anak-anak muda seusiaku yang tahu wayang berapa banyak? Orang-orang tua seusia simbahku dan ibuku yang ngerti wayang apa juga masih banyak?

    Tapi aku tidak sepenuhnya setuju bahwa wayang itu ditinggalkan ketika melihat jumlah viewer live streaming dalang-dalang superstar yang sekarang beribu-ribu. Belum lagi jumlah like dan subscriber akun-akun pegiat wayang di Youtube. Follower dan like di Instagram, samberan twit tentang Wayang dan banyak lagi.

    Malah seharusnya pertanyaannya dibalik, wayang itu ditinggalkan, apa kita yang ketinggalan sama wayang?

    Bicara tentang De Britto, bagaimana masa pendidikanmu di sana sehingga karaktermu bisa terbentuk terkait dengan hobi wayang dan ndalang, Henokh?

    De Britto memberi penegasan warna pada karya yang kulakoni. De Britto memberi penegasan secara aplikatif soal kejujuran dan orisinalitas. Bahwa kalau mau jadi dalang ya jadilah yang orisinil. Jangan mencoba menjadi sosok dalang yang lain walau kita ngefans dan terinpsirasi olehnya.

    Begitu juga keterbukaan terhadap kritik dan mengolah kritik menjadi sarana untuk memecut diri pribadi.

    Value Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) dan Ad Maiora Natus Sum (AMNS) juga penting. Bahwa proses ‘obah‘ ku itu ada value yang lebih tinggi dari sekedar aku dan kita, tapi luwih gedh? seka kuwi (tapi lebih besar daripada itu -jw).

    Henokh, aku dengar kamu dan kawan-kawan sedang mempersiapkan wayang De Britto?

    https://www.youtube.com/watch?v=oMXzC03-hp8
    Henokh berlatih bersama wayang De Britto (01)

    Pada dasarnya kami yang nggarap wayang de Britto ini pengin menghidupkan lakon hidupnya St. Yohanes De Britto.

    Ide dasar lalu bergulir melalui diskusi dengan teman dalang-penatah-penyungging (Ki Suluh Juni Arsah & Ki Rudy Wiratama) Lalu sowan ke Bapa Guru kami Ki Dr. Antonius Bambang Suwarno (salah satu dalang wayang popular, dan juga dalang wayang Wahyu).

    Dari situ saya bawa ke diskusi dunia maya dengan Koh Christopher Dewa Wardana (penyorek wayang, alumni JB, 2003 kalau saya ndak salah) yang memunculkan saran-saran tambahan.

    Oh ya, diskusi juga terjadi dengan rekan-rekan Pametri Budaya Nusantara (Perkumpulan alumni De Britto peminat kebudayaan).

    Insight-insight apa yg ditemukan dan digarap sebelum akhirnya mengerucut pada wayang De Britto?

    Berangkat dari kita ini teriak-teriak JB, alumni JB, tapi apakah kita benar-benar sudah menggali nilai-nilai kehidupan dan warisan iman St. Yohanes de Britto?

    https://www.youtube.com/watch?v=uidqUqOlwJM
    Henokh berlatih bersama wayang De Britto (02)

    Sejauh apa kita kenal dengan patron kita itu dan bagaimana keseharian kita jika dihadapkan dengan kehidupannya?

    De Britto dikenang sebagai salah satu pewaris ajaran Roberto de Nobili, manjing-ajur-ajer dengan sebuah kebudayaan, teologia Trialektik. Lha kita sendiri bagaimana dengan kebudayaan dan nilai-nilai luhur kita? Yang Kristen maupun dari keimanan yang lain, apa juga kenal dengan nilai-nilai luhur dan kebenaran universal yang ada di masyarakat kita jauh sebelum agama-agama dari luar Nusantara masuk?

    Lalu rencana wayang debritto itu nanti mau diapain? Diserahkan ke sekolah? Atau diperbanyak? Atau piye?

    Henokh memegang wayang St Yohanes De Britto dalam puncak acara Perayaan Ulang Tahun SMA Kolese De Britto Yogyakarta ke-71 tadi siang (19/8) di SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Diserahkan ke sekolah sambil pelan-pelan nambahi jumlahnya, tidak hanya St. Yohanes De Britto wujud brahmana, tapi juga wujud masa novis sampai tahbisan, masa muda, lalu tokoh-tokoh lain yang mendukung semisal: Jo?o Restaurador, Pedro II, Alfonso VI, Don Salvador, Donna Beatrix, Sancho Manuel, Pater Emanuel Monteyro/Provinsial Portugal, Pater Jendral Gian Paul Oliva, Pater Andre Freire, dan sebagainya).

    Penyerahan tokoh utama dilakukan tanggal 19 Agustus. Untuk wayangan singkat fragmen paralitugi. Lalu diberkati dan diserahkan bersama keris Jalak Sangu Tumpeng.

    Oh ya, adakah nama tertentu untuk wayang Yohanes De Britto?

    Ada. Wiku Arul Anandar. Arul Anandar itu nama yang dipilih De Britto ketika berkarya di area Keuskupan Sivanagai, India.

  • Zakharia: Ikut Tuhan itu gak segampang nyangkem?

    Zakharia: Ikut Tuhan itu gak segampang nyangkem?

    Zakharia Primaditya adalah tokoh kesembilan belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Zakharia kukenal secara tak sengaja dari seorang kawan alumni lainnya, Wempi. Wempi menganjurkanku untuk mewawancarai Zakharia yang ikut Tuhan ?hidup, bertumbuh dan belajar? di Tanah Papua. Tapi waktu itu tanggapannya ku-iya-in aja karena toh aku tak tahu bagaimana menghubungi Zakharia.

    Tiba-tiba, tak berselang lama, ada sebuah nomer handphone menghubungiku via WhatsApp. Ia memintaku untuk menambahkannya ke dalam Grup WhatsApp ?Kabar Baik?, grup yang kudirikan untuk diskusi tentang renungan Injil harian. Mudah ditebak berikutnya, orang itu ternyata Zakharia!

    Dari situ aku tak langsung menjadikannya sebagai tokoh alumni. Aku mengamatinya terlebih dulu untuk beberapa lama hingga akhirnya ternyata benar, dia memang brilian dan baik untuk diangkat menjadi tokoh alumni.

    Bukan karena kesuksesannya dalam hal-hal yang mainstream tapi justru pilihan hidup dan keputusan-keputusan yang dilahirkannya yang semuanya diarahkan untuk kemuliaan Tuhan.

    Zakharia dan istri, ikut Tuhan
    Zakharia dan istri, ikut Tuhan

    Bagiku, Zakharia adalah sudut pandang kecil tentang bagaimana menghidupi semangat Ad Maiorem Dei Gloriam secara nyata.

    Simak obrolanku dengan pria lulusan SMA Kolese De Britto tahun 2003 yang kubuat awal tahun ini sebelum ia pamit untuk undur diri ke pedalaman Kosarek, Yahukimo, Papua, ?Di sana nggak ada sinyal, Mas!? begitu katanya.

    [DV] Dalam penjelasan singkat, apa yang kamu dan istrimu lakukan di Papua?

    [ZP] Hidup, bertumbuh dan belajar di tempat di mana Tuhan memanggil kami dengan talenta yang Tuhan beri. Tempat yang Tuhan tunjukkan adalah Kosarek, Papua.  Dan telenta adalah anak-anak. Jadi kami berproses dan saling belajar dengan anak-anak di sana.

    Pada prakteknya, dalam keseharian, apa saja yang kalian lakukan?

    Kami berproses  tidak di dalam kelas tapi melalui pendekatan alami. Nongkrong bersama mereka. Memperlihatkan video-video permainan, belajar musik dari yang mereka mau, berkebun dan memasak.

    Fokus awal dan yang mau kami jadikan etos adalah sebanyak mungkin semua harus berasal dari kemauan mereka sendiri dulu. Dari situ kami pelan-pelan mengikuti cara berpikir mereka dan bisa melakukan pendampingan dalam bertumbuh.

    Orang seusiamu, (34 tahun -red) biasanya sedang menuju puncak karir di perusahaan atau memetik hasil dari usaha bentukan sendiri dan mulai merasakan hidup nyaman bersama keluarga. Kenapa kamu malah meninggalkan impian itu dan pergi ke Papua?

    Itu hasil pupukan Bapak yang mewanti-wanti supaya aku jangan mau terikat pada materi dan memang kami sekeluarga tidak pernah hidup berkelebihan. Kemudian di De Britto aku dipupuk untuk berani hidup susah.  Jadi ya memang Tuhan menyiapkan semuanya tanpa kusadari untuk bisa hidup seperti sekarang ini. 

    Setelah mengikuti panggilan Tuhan, walau hidup tidak di zona nyaman, tapi kami betul-betul merasa bahwa semakin berani ikuti jatuh bangun memikul salib, semakin Tuhan memberi berkat yang juga makin mencengangkan! 

    Tidak berlebih, tidak yang kita mau tapi benar-benar yang kita butuhkan. Dan ketika melihat banyaknya anak-anak yang mau belajar bersama pada akhirnya memiliki karakter yang berkenan kepada Tuhan maka ketidaknyamanan itu menjadi semakin tidak berarti. Walau prosesnya memang nggak segampang nyangkem hahaha?

    Sumber dana pelayananmu darimana?

    Sebagian besar datang dari jaringan pertemanan, sebagian lagi dari jemaat beberapa Gereja serta tabungan kami pribadi yang memang untuk pelayanan ini. Itu modal dan pada prinsipnya ada yang mau nambahin atau tidak pokoknya tetap jalan. Iman adalah modal terbesar hahahaha!

    Kamu melibatkan Tuhan dalam mengerjakan segala sesuatu. Bagaimana kamu memahami Tuhan?

    Aku memahami Tuhan justru awalnya dengan mencoba lari dariNya.

    Zakharia yang sarjana lulusan Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional, sejak kecil diperkenalkan oleh ayahnya untuk membaca buku dan bereksplorasi dengan lingkungan sekitar. Hal itu memicunya untuk mulai merasa gelisah pada social justice, ketimpangan ekonomi, moralitas dan lain-lain.?(DV)

    Sebagai remaja, aku mengambil jalur sebaliknya. Menjauh dari Gereja dan mencari jalan lain yang tetap bisa menjawab keresahanku akan persoalan-persoalan kemanusiaan. 

    Aku menjalani beberapa kegiatan kemanusiaan bersama beberapa NGO untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa Tuhan. Tapi kemudian yang kurasakan, aku kalah dan Dia menang.

    Kok bisa?

    Aku merasa kosong dan perjuangan-perjuangan serta pembuktian itu seolah tidak pernah habis. 

    Dimana hal itu terjadi?

    Di Wamena (Papua), ketika melakukan sebuah aksi kemanusiaan bersama sebuah NGO. Aku frustrasi karena merasa gagal dalam aksi itu dan di situ aku sadar ternyata tujuan akhir dari semua ini adalah untuk diri sendiri dan itu salah!

    Tapi Tuhan memanggilku melalui banyak cara. Pada saat mau pulang karena merasa gagal, di Bokondini (distrik di Kabupaten Tolikara, Papua) aku bertemu misionaris. Di situ lantas aku memutuskan bergabung dengan sekolah rintisan miliknya. Itu kujadikan pertaruhan terakhir sebelum benar-benar menyerah.

    Tak disangka, di situ aku dibentuk untuk menyadari panggilan yang sebenarnya yang sudah ada dari dulu tapi aku berusaha lari terus dariNya.

    Dekat dengan Tuhan pasti berkat doa. Menurutmu doa itu sepenting apa dan bagaimana cara berdoamu?

    Dari pengalaman, aku semakin mengamini bahwa doa itu kekuatan ampuh.  Doa bagiku adalah curhat ke Tuhan, bukan doa dalam a legalistic way? close your eyes and hands and pray before sleep and eat. Doa itu kayak ngobrol dengan Tuhan. Kadang kalau sampai nangis-nangis dan teriak-teriak sedikit kepadaNya saat bingung dan sesat tak mengapa.

    Ada pengalaman menarik terkait doamu?

    Ada. 
    Sekitar enam tahun di Bokondini, aku sudah merasa mulai nyaman dan anak-anak yang kudampingi semakin bertumbuh.  Tiba-tiba pada suatu malam aku sadar Tuhan meminta kami keluar dari situ. Ia memberi petunjuk untuk pergi ke daerah Yahukimo dan dari sana Ia akan memberi tanda.

    Rasanya tentu berat apalagi untuk itu kami harus berjalan berhari-hari melewati medan hutan dan pegunungan. Tapi tetap kami jalani. Dalam perjalanan yang memakan waktu berhari-hari itu kami bahkan sampai tersesat di hutan. Kami berdoa, mencak-mencak ke Tuhan dan Dia menjawab di dalam doa, meminta supaya kami kembali ke titik awal.

    Tapi bagaimana mau kembali ke titik awal kalau jembatan yang tadinya ada untuk menuju ke sana sudah hanyut terbawa banjir? Dua malam termasuk salah satu malamnya adalah Malam Tahun Baru, kami diam di tepi sungai yang ganas. Di situ kami mencak-mencak lagi kepada Tuhan dan akhirnya kami berjalan memutar untuk sampai ke titik awal.

    Di sana kami diberi tahu oleh beberapa penginjil bahwa pada malam tahun baru, saat kami sedang tersesat, di daerah itu ada sedikit ?drama keributan? yang terjadi. Mereka pun bilang, ?Untung kalian tidak datang kemarin!?

    Sesudahnya, sesampainya kami di Yahukimo, seorang pemimpin di sana merekomendasikan kami untuk pergi ke kampung di belakang gunung di arah seberang dari tujuan awal kami. Dan itulah Kampung Kosarek, tempat tinggal kami sekarang.

    Itulah pengalamanku terkait dengan doa, Mas? Tuhan memberitahu, Tuhan menunjukkan, Tuhan pula yang menuntun.

    Banyak orang jaman now yang semakin meninggalkan Tuhan dalam membuat keputusan-keputusan penting mereka.  Ada pendapat soal ini?

    Apakah bedanya aku sama mereka sampai bisa menghakimi mereka ketika sekarang aku sudah “selamat?, Mas?

    Toh kalau memang selamat, yang menyelamatkan dan mengubah hati panggilanku ya cuma Gusti Yesus. Untuk mereka, aku cuma bisa mendoakan saja?

    Tapi barangkali mungkin hal itu terjadi karena memang tawaran dunia sekarang adalah having.. what i want.. what I like.. what I love.. I want to own..  Padahal semakin mendapatkan, semakin kosong karena rasa puas itu nggak ada batas pencapaiannya?

    Zakharia ikut Tuhan bersama anak-anak di Papua
    Zakharia ikut Tuhan bersama anak-anak di Papua

    Ada pula banyak yang memilih untuk tak beragama meski tetap ber-Tuhan … Ada juga yang semakin terkikis nilai-nilai ketuhanannya, bersikap atheis meski tetap baik pada sesama. Bagaimana menurutmu?

    Soal keterkikisan nilai-nilai ketuhanan, yang terpenting adalah pemuridan. Itu pula yang jadi alasan keterpanggilan kami mengenai aksi pemuridan yang makin luntur. 

    Tapi kami mah level kroco, Mas.  Jadi mainnya hanya di kampung yang terisolasi seperti Kosarek ini yang cenderung lebih mudah karena kurang banyak distraksi dan godaan dunia hahaha.. 

    Kalau soal atheis yang berhati baik itu adalah hal yang paling sulit untuk kujawab. Banyak kawanku yang sedang ada dalam tahap ini dan aku masih bergumul dengan Tuhan tentang bagaimana cara terbaik untuk menghidupi iman bersama mereka. Jadi aku gak bisa jawab, Mas! Takut jawabanku agak kurang berhikmat.

    Kamu lulusan De Britto, adakah nilai-nilai khas dari sana yang kamu pakai dan ingat sampai sekarang?

    Man for others dan man with others itu salah satu pupuk intensif di De Britto yang ditanam di ?tanah? Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG – Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar -DV).

    Makin lama aku makin sadar AMDG itu benar-benar prinsip yang kalau dijalani beneran akan memberkati banyak orang dan diri sendiri. Pekerjaan apapun kalau tujuannya untuk memuliakan Tuhan (AMDG) akan josss! 

    AMDG juga yang benar-benar membuatku merasa lebih kuat dan berani dalam mengambil keputusan untuk mendengarkan panggilanNya.

    Pernah membayangkan hidupmu tanpa Tuhan?

    Pernah! Barangkali aku akan keliling dunia sesuai ambisi. Sukses memuaskan nafsu liar adrenalin ke tempat yang paling tidak diinginkan orang dengan topeng menjadi pekerja kemanusiaan berhati emas  hahaha? Tidak menikah dan kalau tidak mati muda karena savior sydnrome berarti sudah jadi an old man di mountain cabin dengan old landrover and adopted few children as single parent? Hahaha?

  • A. Tony Prasetiantono (Alm): Saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja?

    A. Tony Prasetiantono (Alm): Saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja?

    A. Tony Prasetiantono adalah tokoh kedelapan belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Mas Tony adalah presiden Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto yang terpilih pada 2015 dan meninggal dunia pada Rabu 16 Januari 2019 silam.

    Mas Tony lahir di Muntilan, 27 Oktober 1962. Ia terbilang sebagai ekonom papan atas negeri ini. Setelah menyelesaikan studi di De Britto pada tahun 1981, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (1981-1986). Gelar M.Sc, diraihnya melanjutkan studi S2 di University of Pennyslvania, Amerika Serikat (1992). Gelar doktor dicapai di Australian National University (ANU), Australia pada 2005.

    Sejak tahun 2000 hingga akhir hayatnya, Mas Tony menjabat sebagai Division Head Center for Economics and Public Policy Studies, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

    Secara fisik, aku bertemu dengannya seumur hidup hanya dua kali.?Pertama saat duduk di bangku kelas 1 SMA Kolese De Britto, 1993. Waktu itu, Mas Tony yang baru saja pulang dari Amerika memberikan pendampingan karir pada para siswa. Kedua adalah saat aku pulang ke Indonesia dalam rangka peringatan 100 hari meninggalnya Mama, Juni 2016. Pada malam terakhir sebelum kembali ke Australia, aku berdiskusi dengannya dan beberapa pengurus paguyuban lainnya di Kopitiam, Yogyakarta untuk membicarakan tentang pembangunan situs web dan sistem database alumni.

    Di luar itu, perjumpaan hanyalah melalui jalur Whatsapp dan email. Bahkan pada siang hari sebelum beliau meninggal, kami masih sempat berdiskusi di grup WA Pengurus Besar Paguyuban tentang isu keberpihakan alumni/paguyuban alumni dalam Pilpres 2019 mendatang. Diskusi itu lantas melahirkan tulisan yang bisa kalian baca di sini.

    Alasan penokohan Mas Tony bagiku karena beliau adalah presiden yang mau berpikir progresif. Tak hanya tentang bagaimana bernostalgia bersama alumni lainnya tapi juga membawa paguyuban ke arah serius dalam berkontribusi bagi almamater. Tak semua hal yang dilakukannya selalu mendapat sambutan baik dari para alumni, termasuk aku, tapi bukankah sejak di De Britto kita terbiasa dengan perbedaan pendapat?

    Lagipula hari ini adalah hari baik.
    Pertama karena hari ini adalah peringatan pesta nama Santo Yohanes De Britto, santo pelindung almamater yang begitu kita cintai. Kedua, hari ini adalah hari dimana aku menyelesaikan pengerjaan sistem database alumni yang lantas kuberi nama Topras, kependekan dari Tony Prasetiantono, sebagai wujud penghormatanku kepadanya.

    Aku memang belum sempat mewawancarai Mas Tony tapi seperti yang kulakukan saat ?menokohkan? alm. Kristupa Saragih, metode yang sama kupraktekkan di sini.?

    tony prasetiantono
    foto: FEB-UGM

    Metode ini kunamakan sebagai ?wawancara imajiner.? Aku seolah-olah bertanya tentang hal yang dijawab oleh Mas Tony. Jawaban-jawabannya tentu bukan imajiner melainkan bersumber dari pernyataan-pernyataannya yang telah terpublikasi. Ada dua video di Youtube yang kujadikan sebagai landasan. Pertama adalah ?PILPRES JB 2015 – A. Tony Prasetyantono 81? yang diunggah akun Mikrotik Indonesia. Video kedua berjudul ?JB 007 Pidato Tony Prasetiantono? yang diunggah akun Arul Anandar.

    Berikut adalah penggalannya.

    [DV] Kenapa Mas Tony mau terlibat dalam kegiatan pemilihan presiden alumni De Britto?

    [TP] Karena saya merasa inilah saat yang tepat bagi saya untuk berbuat sesuatu terhadap De Britto. Kita utang pada De Britto, Sudah diberi fasilitas dan pendidikan first class tetapi kita mbayarnya dengan harga angkringan? Debritto adalah kreditor saya terbesar dalam hidup karena itu harus dibayar. ini saat yang tepat untuk nyaur utang?

    Tapi apakah harus jadi pengurus alumni untuk bisa berbuat sesuatu terhadap De Britto, Mas?

    Tidak juga. Kontribusi bisa diberikan meski tak menjadi pengurus. Namun menjadi pengurus adalah jalan yang lebih efektif.

    Bagaimana sih prinsip dan praktek dalam berbuat sesuatu terhadap De Britto itu?

    Jaman sudah berubah dan tantangan dunia pendidikan makin berat dan semakin luar biasa kompetisinya. Adalah naif kalau kita mengatakan De britto bisa menyelesaikan persoalan dan tantangannya sendiri, mereka perlu bantuan orang lain. Orang lain yang terdekat ya alumni. Jadi tantangan saya adalah bagaimana merangkai alumni yang datang dari berbagai macam latar belakang dan keahlian itu untuk membantu De Britto. Itulah yang saya bayangkan?

    Fokus dan framework dari rencana kerja Mas Tony itu seperti apa?

    Ada tiga aspek, tiga agenda besar yang akan kita kerjakan.

    Pertama adalah agenda akademik, tentang bagaimana kita membantu meningkatkan kualitas SMA Kolese De Britto. Kedua adalah dana. Meningkatkan kualitas sekolah itu perlu dana. Ketiga, silaturahmi antar-alumni dan antar-alumni dengan sekolah.

    Tapi dengan hanya tiga tahun masa kerja, apakah Mas Tony yakin mampu untuk mengerjakan itu semua?

    Kita optimalkan saja waktu yang tersedia. Dan justru supaya kerja ini targetnya jelas saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja sehingga kalau tak tercapai saya tak punya alasan akan mengerjakan pada periode kedua. Sesudahnya, saya yakin adik-adik kelas saya bisa melanjutkan.

    tony prasetiantono

    Apa sih yang membuat Mas Tony bangga pada De Britto hingga di atas bilang bahwa De Britto adalah kreditor terbesar?

    Ada tiga hal yang sangat saya rasakan dari tiga tahun di De Britto.

    Yang pertama adalah competitiveness. Persaingan di De Britto itu luar biasa, kita harus berjuang, struggling untuk bisa berhasil.

    Kedua adalah sisi egaliter. Nggak peduli kamu berasal ndeso atau kota, cino-jowo, kita semua sama. Ketiga, man for others. Kita harus melayani, menjadi garam dunia, harus bisa jadi sesuatu di lingkungan kita.

    Selain itu De Britto juga membuat saya punya karakter tahan banting sehingga bisa lulus cum laude dari UGM dan melanjutkan studi S2 dan S3. Bagi saya hidup ini tidak mudah dan saya bersyukur mengalami golden age saat SMA ya di De Britto dimana karakter saya dibentuk.

    Di De Britto dulu Mas Tony pernah ndoglas? (Ndoglas adalah singkatan yang populer di De Britto, mindho gelas, artinya beli minuman bayar satu gelas tapi mengambil jatah dua gelas -DV)

    Tidak. Kalau saya pas nggak punya uang saya memilih puasa saja hehehe?

    Saya ini merasa sangat beruntung diterima di De Britto tahun 1978. Saya anak dari desa tapi kemudian kelas satu saya dipercaya duduk dalam tim presidium menjabat sekretaris umum lalu kelas dua jadi ketua presidium. Saya menganggapnya sebagai blessing in disguishe, mengalir begitu saja?

  • Anton Ismael: Jangan pernah lupa memberi karena kamu sudah menerima

    Anton Ismael: Jangan pernah lupa memberi karena kamu sudah menerima

    Antonius Widya Ismael adalah tokoh ketujuh belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Anton Ismael / Anton ini adalah seorang fotografer terkemuka di Tanah Air yang memulai karirnya dari kecintaan pada dunia fotografi sejak di De Britto.

    Aku mengenal pria kelahiran Jakarta, 17 September 1975 ini beberapa hari setelah aku masuk De Britto, medio 1993 silam. Anton, kakak angkatan dua tahun di atasku, adalah pendamping kelompok saat aku menjalani masa orientasi dulu.

    Setelah lulus dari studi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Anton pulang ke Tanah Air dan memulai karir sebagai fotografer profesional hingga akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama Third Eye Space.

    Mengangkat Anton sebagai tokoh sebenarnya tinggal tunggu waktu. Aku mengamati kiprahnya yang unik melalui kanal-kanal social medianya hingga akhirnya saat acara Manuk Pulang Kandang (MPK) di SMA Kolese De Britto, 27 Desember 2018 silam, aku bertemu kembali dengannya, ngobrol dan meminta nomer sambil bilang, ?Mau kutokohkan di blogku??

    DV dan Anton Ismael, Desember silam di acara MPK SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Jika dulu, di awal 2000an dulu, aku pernah bekerja sama dengan Anton, ia memotret model dan aku mewawancarai sang model untuk dijadikan artikel di sebuah media yang kugawangi, kini giliran dia yang kuwawancarai dan kutulis di blog ini.

    Simaklah potongan-potongan wawancara yang kami lakukan melalui WhatsApp beberapa waktu silam, berikut ini:

    [DV] Bagaimana kamu mengawali karir menjadi seorang fotografer, Ton?
    [AI] Jadi awalnya dari SMA saya mulai tertarik motret di DPC (Debritto Photography Club –DV). Lalu saat lulus, alm Bapak bertanya, ?Kamu mau jadi apa?? dan aku nggak ngerti mau jadi apa karena bagi saya mata pelajaran-mata pelajaran yang kupelajari di kelas itu menyusahkan dan fotografi menjadi satu-satunya media yang bisa kupakai untuk ?pelarian?.

    Lalu?
    Waktu mau daftar UMPTN seperti kawan-kawan lain, Bapak bilang, ?Gak usah! Kamu gak akan lulus, aku tahu kemampuanmu seperti apa??

    Untuk beberapa detik lamanya saya tersinggung karena seperti di-skak-mat oleh Bapak tapi kemudian mikir bener juga, ngapain menjalankan/ mendaftar sesuatu yang tak kusuka. Bapak lalu bertanya, ?Kamu suka gambar dan motret, kan? Belajar aja! Ditenani!(diseriusin -jw)?

    Bagi Bapak, dia nggak peduli saya mau jadi apa. Tapi satu hal yang harus diingat, jadilah yang terbaik. Jangan nanggung!

    Sekarang kamu jadi fotografer terkemuka di Tanah Air. Terlepas dari setuju atau nggak kamu dengan kenyataan itu, pernahkah di awal karir dulu kamu punya target untuk jadi yang terkemuka?
    Saya tidak pernah merencanakan bahwa saya harus jadi terkemuka atau tidak dan sebenarnya saya sangat benci ketika ada anak-anak bertanya, ?Pak?e, untuk jadi terkenal itu gimana??

    Kamu mau jadi fotografer atau artis? Intensinya sudah salah! Jadi terkenal gak perlu jadi fotografer! Penjahat atau pemerkosa juga terkenal!

    Kita perlu menjalankan sesuatu dengan cinta dan itu membuat kita fokus dan tahan lama. Kalau intensinya hanya untuk terkenal ya nggak akan lama. Saya tidak punya intensi untuk terkenal. Menjadi fotografer yang terbaik pun gak ada, hanya senang melakukan.

    Melihat hari-hari ini, dunia fotografi digital adalah dunia yang terjangkau oleh hampir semua orang karena tinggal pakai henpon, semua orang bisa motret. Pernahkah kamu menganggap hal ini sebagai sebuah ancaman?
    Saya tidak pernah menganggap perkembangan visual yang begitu banyak itu sebagai ancaman. Saya malah menggunakannya sebagai media untuk mempelajari informasi kebudayaan orang-orang di jaman sekarang.

    Pada saat memotret, secara tidak sadar kita menyuarakan cara pandang kita. Nah, orang yang bisa menang di jaman ini adalah orang-orang yang punya akses ke informasi dan mengolah informasi itu menjadi sebuah kekuatan. Sikap saya seperti itu.

    Tapi bagaimana komentarmu tentang hasil karya mereka?
    Karya mereka bagus-bagus dan bahkan banyak yang secara visual lebih bagus dari saya. Tapi mungkin pertanyaannya kenapa saya bisa bertahan dan terkesan bisa ?bermain-main seenaknya? dengan foto-foto saya?

    Pada saat memotret, saya tidak hanya ingin menciptakan gambar tapi juga tentang bagaimana saya berkomunikasi dengan orang-orang yang melihat gambar itu.

    Seorang fotografer yang baik itu punya dan mengerti ilmu komunikasi, ?Understand the social.? Fotografer yang baik itu adalah seorang good story teller jadi kalau kamu mau jadi fotografer yang baik kamu juga harus bisa jadi story teller yang handal juga.

    Belajarlah bercerita dan berkomunikasi.

    Anton Ismael
    Anton Ismael

    Apa yang belum kamu raih dari dunia fotografi? Apa akan tetap di dunia ini atau meluas ke dunia kreatif lain seperti video dan lain sebagainya?
    Saya berpikir tentang regenerasi. Mungkin karena sudah merasa tua, saya pengen jadi guru dan pendidik. Bukan pendidik yang berdiri dan mengajar di muka kelas tapi secara keseluruhan sikap yang akan saya tanamkan.

    Saya akan membimbing dan ngajarin orang untuk jadi penerus, membimbing orang supaya mandiri dan bisa jadi bagian dari perputaran roda dunia ini. Passion saya sekarang ke situ meski motret akan tetap jadi bahasa saya sampai kapanpun.

    Mimpi saya ingin meninggalkan dunia komersial meski sekarang belum bisa karena kebutuhan uang masih harus saya pikirkan untuk kantor dan ?Kelas Pagi?

    Kelas Pagi

    Nah, bicara soal ?Kelas Pagi? yang fenomenal itu, ide aslinya gimana sih?
    Kelas Pagi itu ide pertamanya lahir di Jakarta lalu Jogja, Papua hingga Kediri. Awalnya cuma study group terdiri dari tiga orang. Mereka datang dan belajar. Dari situ, mereka nge-post di Facebook, orang-orang jadi tertarik dan jumlahnya pun bertambah. Dari tiga ke sebelas. dari sebelas orang lalu setahun kemudian ada 250 orang datang ke studio dan bilang mereka minat ingin ikut Kelas Pagi karena menurut mereka metode yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan industri sekarang.

    Tapi kenapa ?pergerakannya? random betul! Setelah Jogja lalu ke Papua?
    Ada salah satu anak di Kelas Pagi Jakarta dan berasal dari Papua. Ia balik ke sana dan minta ijin untuk membuka Kelas Pagi Papua tepatnya di Sentani.

    Permintaan untuk membuka ?Kelas Pagi? sebenarnya juga datang dari banyak kota tapi karena kekuatan finansial yang terbatas maka kita akhirnya bikin Youtube channel untuk meratakan informasi.

    Apa yang paling menarik dari pengalaman mendirikan dan menghidupi ?Kelas Pagi??
    Yang menarik adalah saya menciptakan saingan saya sendiri. Banyak murid yang kemudian lahir sebagai pesaing bahkan melebihi saya. Meski jadi kompetitor kami tetap diskusi dan bicara karena itu adalah persaingan sehat. Bagi saya itu justru sebagai tanda keberhasilan dan pencapaian baik.

    Tentang De Britto. Melihat ke belakang, ada nggak sih nilai-nilai dan ajaran yang kamu terima selama sekolah di De Britto lalu kamu pegang sampai sekarang?
    Banyak! Hahaha? Tapi yang paling nancep adalah ?Man for Others.? Walaupun dulu saat di De Britto saya belum tahu apa arti sesungguhnya tapi semakin hari saat saya terjun ke masyarakat, hal itu jadi pegangan dan fondasi hidup saya. Kalau mau jujur, dari penjabaran semangat itulah muncul ide Kelas Pagi.

    Saya inget apa yang pernah saya percakapkan dengan almarhum Bapak. ?Le, wong urip kuwi ngopo? (Nak, orang hidup itu ngapain? -jw)”

    ?Bernafas, Pak? jawabku.
    ?Bernafas itu ngapain?? tanyanya lagi.

    ?Menarik dan mengeluarkan,? jawabku lagi dan memang itulah makna hidup, menarik, mengeluarkan. Memberi dan menerima. Jangan pernah lupa memberi karena kamu menerima dan itulah yang membuatmu tetap hidup!

    Link terkait:
    Kelas Pagi Youtube.
    Third Eye Space.

  • Iga: Berdandan wanita saat menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif

    Iga: Berdandan wanita saat menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif

    Freund des Asa Zuniga adalah tokoh keenam belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Iga demikian ia dipanggil awalnya tak pernah kurencanakan masuk dalam penokohan ini. 

    Semua bermula dari acara Manuk Pulang Kandang (MPK) 27 Desember 2018 silam. Aku yang kebetulan pulang ke Tanah Air menyempatkan diri datang ke acara reuni tahunan itu.

    Aku dan Iga pada acara MPK 27 Desember 2018 silam

    Saat sedang ngobrol dengan banyak alumni, tiba-tiba sesosok perempuan berbusana jawa lengkap dengan kebaya dan sanggul mengusik perhatianku. Ia berjalan perlahan masuk ke area reuni. Tadinya kupikir ia adalah penari atau penyinden yang diundang khusus hadir dalam reuni sekolah khusus cowok ini.

    Tapi ketika Genthong yang juga pernah kutulis di sini juga di sini menyapa lewat microphone ?Halo, Su! Ketok ayu kowe!? Aku kaget, ?Kok disapa ?asu?? Bukankah tak semua orang terbiasa disapa begitu apalagi perempuan??

    Seorang lantas memberitahuku, ?Kuwi cah angkatan 2017!? 

    Hah? Lulusan De Britto? 2017?
    Aku mendekat dan memberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata Iga itu pria! Ia seorang penari yang sedang meniti karir profesionalnya sembari studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Sendratasik.

    Tak lama ngobrol aku lantas berkeputusan bahwa Iga pantas ?ditokohkan? di blog ini. Kenapa? Sejauh yang kutahu sangat jarang ada alumni yang berani berterus-terang karena dirinya berbeda dan berkeputusan untuk menjalani hidup dalam ?beda? tersebut meski hal itu masih sangat ditabukan dalam masyarakat kita.

    Berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya melalui WhatsApp beberapa hari kemudian.

    [DV] Kamu unik sekali dan berani tampil beda, Ga! Bagaimana bisa?

    [Iga] Hehehe? Soalnya jarang ada yang peduli bahkan memandang orang kayak aku ini sebelah mata, Mas. Mungkin mereka belum terbiasa tapi aku tetap berusaha menjadi diri sendiri aja?

    Kamu nari sejak kapan?

    Aku belajar nari dari kecil, sekitar umur 4-5 tahun, Mas. Emang dari kecil suka nari karena ibuku dulunya penari.

    Nari sebagai tokoh pria atau wanita, Ga?

    Kalo dulu kan belum tahu, jadi ya asal menari. Baru pas SD aku mulai belajar Tari Bali, privat pertama kali adalah Tari Pendet yang merupakan tari putri Bali yang paling dasar. Barulah aku menyukai tarian-tarian Bali lainnya (tari putra dan putri). Terus setelah lulus, aku jadi banyak menerima tawaran menari Bali yang kebetulan selalu tari Putri.

    Di De Britto dulu apakah bakat tarimu tersalurkan juga?

    Awalnya sempet berhenti sewaktu awal masuk De Britto karena rambutku jadi botak untuk acara inisiasi. Makanya sempet gak nari sampai rambutku tumbuh lagi. Aku pertama kali nari di De Britto jadi cucuk lampah di acara wisuda angkatan 2015, narinya berpasangan sama kakak kelasku. Terus dari situ, guru-guru mulai mengajak aku berpartisipasi di acara hari St. Ignasius, Ulang Tahun Debritto, bahkan di acara besar seperti Lustrum tahun lalu.

    Kalau di luar De Britto?

    Kalo di luar De Britto memang banyak banget yang nawarin aku untuk menari, makanya aku lebih mengembangkan di luar.

    Bagaimana caramu mengembangkan ?di luar de britto? itu?

    Aku mencari banyak link dari temen-temenku, Mas. Untungnya memang dari SMP aku udah mulai ikut beberapa sanggar. Jadilah aku lebih banyak diajak nari termasuk di Ramayana Ballet Prambanan.

    Kamu sekarang kuliah di ISI katanya? Kamu serius pengen menari seumur hidup?

    Iya mas bener banget. Aku masuk ISI tahun 2017, di jurusan Seni Drama Tari Musik (SENDRATASIK). Kebetulan jurusanku ini di bidang pendidikan yang lulusannya bisa menjadi seorang guru atau pendidik. Karena aku memang pengen banget jadi guru privat dan buka sanggar tari dirumah. 

    Di Jurusan SENDRATASIK aku bisa belajar teater, musik, tari, ilmu-ilmu pendidikan, cara mengajar, dan lain-lain. Jadi lebih komplit kan, Mas dan bisa dibilang sekarang dengan aku kuliah di ISI dapat memiliki wawasan tentang berkesenian sekaligus dunia pendidikan.

    Menjadi penari, apalagi jadi guru bukan pilihan profesi yang ?bikin sugih? di Indonesia. Apa yang membuatmu terpanggil untuk memilih itu dan bukan kerja kantoran atau jadi pengusaha ?

    Memang benar demikian tapi karena menari sudah jadi passion sejak kecil, Aku percaya kalau semua dijalani dengan senang hati, otomatis keuangan juga bisa lancar. Yang terpenting semuanya ikhlas dan sepenuh hati. Lagipula sejujurnya aku gak terlalu memikirkan bayaran setelah menari. Kalo aku senang, ya dikasih berapa pun mau kok , hehehe.

    Kalau pandanganmu tentang seni tari sendiri gimana, Ga? Apakah semakin terpinggirkan seiring maraknya jaman?

    Sebenernya kalo sudah masuk ke dunia seni tari, aku justru melihat mereka semakin berkembang. Mungkin yang berpikiran bahwa seni tari itu terpinggirkan hanya beberapa orang yang tidak mengenal seni itu sendiri. 

    Seni tari menurutku juga sangat bebas bagi siapa saja untuk mendalami dan tidak mengenal batasan usia. Jadi semua kalangan dapat mempelajari tarian tanpa harus minder. Justru dengan menari kita berekspresi dan mengeksplor tubuh kita untuk bergerak menciptakan keindahan. Menari itu harus dilakukan dari hati, sehingga tarian yang akan dibawakan lebih memiliki jiwa dan hidup serta menarik penonton terhibur.

    Ga, akhir-akhir ini pengaruh agama makin kentara dalam hidup sehari-hari. Adakah hal itu berpengaruh pada dunia seni tari seperti misalnya cara berpakaian yang semula boleh sedikit terbuka lalu sekarang jadi harus tertutup? Bagaimana tanggapanmu mengenai fenomena ini?

    Wah kalo udah masalah pengaruh agama memang agak sensitif ya, Mas.  Untuk seni tari sendiri, ya memang betul dulu pakaian yang digunakan lebih terbuka dibanding sekarang. Tapi kalau aku lebih suka mengikuti pakem yang ada. Berkreasi dan mengembangkan itu boleh. Tapi harus sesuai dengan pakem itu, agar kesenian tetap memiliki makna dan tujuan yang sama. Kayanya segini aja deh mas, aku juga masih perlu banyak belajar tentang hal ini. Hehehe?

    Ketika melihatmu di MPK yang baru lalu, aku sama sekali ngga? percaya kamu itu cowok karena gak hanya dandananmu tapi juga gesture tubuhmu yang sangat ?cewek?. Bagaimana kamu bisa ?belajar? begitu?

    Hahaha, kalo ini udah dari dalem mas. Ada sesuatu yang berbeda dari dalam diriku dan aku cuma menjalani aja. Aku bersyukur dikasih Tuhan penampilan seperti ini yang bisa mendukung kehidupan dan karir tariku selama ini. Penampilanku memang dari kecil seperti ini, Mas. Mau diubah seperti apapun pasti selalu jadi seperti begini.

    Kamu mendapat perlakuan berbeda dari lingkunganmu karena penampilanmu itu? Misalnya dibully?

    Jelas, Mas! Kebanyakan dari mereka belum bisa menerima Iga apa adanya. Tapi walaupun ada yang bully, aku gak merasa terbully. Aku selalu anggep mereka bercanda dan sayang sama aku. Aku senyumin aja, Mas. Kalo aku ngelawan, justru mereka makin sering membully. Mereka lama-lama capek kok hahahaha. Jadi aku biasa aja nanggepin mereka, gak aku masukin ke hati. Tapi gak semua orang membully Iga, tetap ada banyak yang sayang dan support Iga, hehehe.

    Kamu dandan wanita saat menari apakah itu mempengaruhi dirimu atau sebaliknya kamu memang punya sisi feminim yang nampak ketika menari sehingga tampak lebih baik dan hidup saat menari?

    Sebenernya memang aku dari kecil sudah seperti ini. Berdandan wanita seperti menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif. Tentu aku berusaha menjadi diriku saat tidak menari, tapi ketika menari aku akan menghidupi tokoh yang ?ku-tari-kan?. Kebetulan saja karena aku lebih sering mendapat job menari sebagai wanita maka aku menghidupkan karakternya ya karakter wanita.

    Aku tertarik jawabanmu ?berusaha menjadi diriku saat tidak menari? bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu yg sebenernya?

    Aku memang sudah menyadari bahwa aku berbeda, Mas. Tapi sebenernya aku juga masih sama kok dengan orang-orang lain. Jadi diri sendiri itu maksudnya ya jadi apa adanya gitu bukan melulu soal penampilan tapi lebih ke pribadi dari dalam hati. 

  • Gandung Bondowoso: gosip dan sensasi itu harus berdasarkan fakta!

    Gandung Bondowoso: gosip dan sensasi itu harus berdasarkan fakta!

    Th.A. Hurip Winarno adalah tokoh kelima belas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan.

    Pria yang akrab dipanggil sebagai Gandung Bondowoso ini awalnya tak kurencanakan untuk masuk dalam ?penokohan? ini. Tapi pertemuanku dengannya di selasar Rumah Betawi (rumah kediaman Mas Handoko Wignjowargo yang juga pernah kutulis di sini sebagai tokoh, pada 30 September 2018 silam mencelikkan mataku bahwa mengangkatnya di blog ini dalam serial tokoh ini akan sangat bermakna.

    ki-ka: Mas Priyanto (JB 1973) – Aku – Mas Gandung Bondowoso (JB 1973)

    Apa sebab?

    Mas Gandung adalah sosok dibalik lahirnya salah satu infotainment pertama di Tanah Air, Kabarkabari. Apa peduliku terhadap infotaintment? Nah, ini baru menarik! Malam setelah pertemuan itu, aku tak bisa berhenti berpikir adakah korelasi antara maraknya hoax akhir-akhir ini dengan kenyataan sebagian masyarakat kita yang cukup konsumtif terhadap berita-berita gosip infotaintment yang menggelontori televisi-televisi swasta sejak lebih dari dua puluh tahun lalu?

    Maka segera setelah kembali ke Sydney, Australia, aku menghubungi alumni SMA Kolese De Britto tahun 1973 tersebut melalui WhatsApp. Berikut adalah petikannya.

    [DV] Mas, jadi benar atau salahkah pikiranku yang mengemukakan bahwa ada relasi antara hoax yang begitu marak dengan kenyataan bahwa ada kalangan dalam masyarakat kita yang sudah begitu lama terlatih dalam menikmati acara-acara gosip di televisi?

    [GB] Tidak tepat karena kau memandang hoax sebagai sesuatu yang baru.

    Hoax dalam konteks berita sama dengan berita bohong. Kebohongan ini dalam sejarah pers sudah ada sejak zaman Romawi / Yunani. Ketika itu para pengelana menyampaikan kabar secara tertulis melalui kertas papirus yg kemudian disebarkan ke publik. 

    Di kemudian waktu media pemberitaan macam ini disebut jurnal yang lantas menjadi akar kata jurnalisme. Di dalam jurnalisme kuno ini hoax juga bermunculan. Kisah perjalanan para pengelana banyak yang bohong ketika mereka memberitakan penemuan-penemuan yang mereka jumpai di tempat yang jauh. 

    Lalu kalau hoax itu barang lama, kenapa sekarang kembali mengemuka?

    Karena alat penyampaiannya beragam dan muncul melalui teknologi yang hebat maka hoax tampak masif belakangan ini.

    Menurutmu adakah formula untuk mengatasi hoax?

    Satu-satunya cara adalah represif melalui undang-undang. 

    Tapi kenapa represif? Kita negara demokrasi dan orang menggunakan payung ?kebebasan berpendapat? untuk melindungi diri?

    Dalam undang-undang ada pemaksaan hukum. Pembuat hoax akan berurusan dengan pengadilan dan bisa berujung penjara. Di Indonesia juga sudah ada undang-undang yang bisa menjerat pembuat hoax, fitnah, pencemaran nama baik, dan sejenis itu. Pada ranah undang-undang, masalah hoax adalah urusan penegak hukum. Pada ranah sosial, hoax hanya akan ditelan oleh anggota masyarakat yang cetek pengetahuannya dan tak ada daya kritis padanya. Ini ranah pendidikan bermutu yang membekali manusia dengan rasionalitas dan disiplin berpikir panjang yang sama dengan perenungan. 

    Apakah ini utopia?

    Bisa jadi ini utopia karena di negara-negara yangg pendidikannya maju pun hoax mampu menyusup. Bedanya hanya menelan korban yang pada skala kuantitas tidak sebesar negara yang kualitas  pendidikannya masih rendah. Hoax merajalela. Perisai rasionalita belum mumpuni. Karena itu ranah hukum yang harus berada di garda depan untuk menghadapi hoax betapapun sulit utk membuktikan hoax.

    Tapi hoax berkelindan dengan gosip?

    Secara leksikon gosip adalah menyemprotkan kabar masalah pribadi seseorang. Bagiku, berdasarkan pengalaman profesionalku yang panjang sebagai wartawan (pemberi kabar), gosip adalah menebar-nebarkan kabar secara terus menerus yang ditambah-tambahi dengan sisipan hoaks semau-maunya. Inilah yang memunculkan persepsi negatif dari pembaca atau pendengar terhadap orang yang digosipkan itu. 

    Jadi itu buruk dan negatif. Lalu bagaimana baiknya?

    Secara prinsip, bagiku pemberitaan gosip jangan seganas itu. Etika jurnalisme telah mendarah daging dalam prinsipku bahwa pemberitaan apa pun termasuk gosip harus bertolak dari fakta. Tidak boleh ada kebohongan dan tidak boleh memelintir data demi maksud tertentu.

    Gosip bertolak dari fakta? ?Sesuci? itukah gosip?

    Suci adalah pilihan kata yang keliru. Bukan suci tapi apa adanya.

    Aku masih belum terlalu mengerti bahwa gosip itu tidak melulu hoax. Secara teknis lantas bagaimana gosip yang tidak hoax namun tetap menarik?

    Penyampaian gosip adalah fakta yang digelontorkan sedemikian rupa dengan kekuatan pada bahasa yg metaforik, hiperbolik, dan diksi yang efektif serta ritme penyampaiannya. Di televisi sebagai media pandang-dengar, adonan yang aku sebutkan itu mempunyai efek dramatik yang luar biasa bila diucapkan oleh presenter (diperkuat dengan bahasa tubuh) atau narator yang memahami ritme dan stressing pengucapan. 

    Di sini tidak ada kebohongan data. Yang ada adalah persepsi subyektif pembaca / pendengar setelah gosip itu disampaikan dengan formula yang aku nyatakan tadi. Persepsi tersebut bisa berbeda-beda, tergantung pada kualitas pengetahuan  pembaca atau pendengar sebagai receiver informasi.

    Gandung mempunyai latar belakang yang sangat kualitatif di media cetak. Tahun 1987 ia mulai bekerja di Gramedia khususnya pada Majalah Jakarta-Jakarta mula-mulasebagai data researcher. Setengah tahun kemudian pria kelahiran Jogja 15 Januari 1954 ini diangkat sebagai wartawan desk kebudayaan. Tidak sampai setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai redaktur desk luar negeri. Di sinilah Gandung mendapat kesempatan untuk melakukan liputan ke luar negeri utamanya ke Eropa Barat dan Amerika Utara.

    Di sana, di sela-sela waktu kosong, Gandung banyak menonton acara televisi program hiburan, sesuatu yang nantinya menjadi ?contekan inspirasi? untuk membuat program Kabarkabari di RCTI.

    Mas, Kabarkabari itu fenomenal sekali! Boleh tahu konsep awalnya dulu?

    Aku banyak mendapat influence dari mengikuti etika jurnalisme Gramedia. Waktu itu Arswendo (Arswendo Atmowiloto -DV) mengangkatku sebagai pemimpin redaksi Tabloid Citra. Darinya aku mendapat formula jurnalisme yang berisi gosip dan sensasi. Seperti kusebut di atas, gosip dan sensasi tetap harus bersandar pada fakta dan harus selalu ada cek dan ricek. Boleh ada opini tapi minimalis dan yang paling dilarang adalah kebohongan serta fitnah!

    Kamu dari Gramedia lalu memilih berdiri sendiri dengan ?Kabarkabari?. Apa titik yang paling menentukan sehingga keputusan itu terjadi?

    Kehilangan rasa gelisah!

    Maksudnya?

    Mungkin aku terlalu nyaman karena setelah memimpin Citra aku dipercaya memimpin Tabloid Nova. Di Tabloid Nova boleh dibilang aku tak banyak bepikir. Mekanisme jurnalistik Nova sudah berjalan dalam rutinitas. Aku tak berani neko-neko untuk mengusik jurnalismenya. Aku takut justru akan menurunkan pencapaian Nova yang sudah hebat itu.

    Nah, hilang gelisah itu berbahaya karena akan meredupkan daya kreativitas. Aku lantas memutuskan untuk membuat sesuatu dan kegelisahan itu tumbuh. Ide membuat Kabarkabari muncul begitu saja!

    Tayangan perdana Kabarkabari muncul pada juni 1996 dan meraup sukses besar. RCTI meneken kontrak jangka panjang karena memang waktu itu belum ada program seperti itu belum pernah ada di televisi Indonesia. Ratingnya bahkan mengalahkan beberapa sinetron. Iklan pun langsung penuh dan antre.

    Gandung saat muda

    Karena kolom tulisanku ini adalah menyangkut soal ke-debritto-an maka mari bicara tentang De Britto, Mas. Menjalani pendidikan di De Britto itu membawa pengaruh besar dalam hidupmu?

    De Britto luar biasa. 

    Pengertian kebebasan aku cerna dengan kesadaran bahwa kebebasan adalah rasional. Kesadaran itu aku peroleh dari Romo G. Koelman, SJ yang waktu aku di De Britto beliau jadi romo pamong.

    Ketika aku masuk kelas bercelana pendek, dia bilang aku menjalankan kebebasanku bercelana pendek pada waktu yang keliru. Tak ada celana pendek di kelas kecuali sehabis olahraga. Ini adalah kebiasaan. Konvensi tak tertulis. Di luar itu celana pendek bukan kebiasaan. Inilah rasionalitas yang melelahkan kalau diperdebatkan. 

    Ngekkkk …. Aku tersadarkan di usia SMA. Kebebasan adalah kedalaman berpikir sebelum melakukan sesuatu. Tentu saja siswa-siswa de Britto lainnya memahami kebebasan yang tidak sama denganku. Yang jelas aku memperoleh enlightment awal dalam memaknai kebebasan dari de Britto.

    De Britto yang dulu tentu beda dengan De Britto yang sekarang. Kamu mengamati de britto yang sekarang? Kalau iya bagaimana? Kalau tidak, apa yang kamu harapkan tetap akan ada dari de britto sekarang dan ke depannya?

    Aku gak tahu de Britto yg sekarang. Dalam pemikiranku, de Britto harus mengusung fondasi pemikiran bebas. Rangsanglah siswa utk berpikir dgn basis rasionalitas. Ini lebih gampang dibanding basis kemanusiaan yang abstrak. Dengan rasionalitas yang bermutu, siswa de Britto akan terbiasa mengucap apa pun dengan tidak sembarangan. Aku percaya rasionalitas. Dengan rasionalitas output-nya adalah action yang terukur.

    Selepas De Britto, Gandung melanjutkan studi S1 di FKIP Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga lalu menempuh S2 Seni Urban, Pasca Sarjana, Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

    Nama aslimu bukan Gandung tapi kok sekarang orang lebih mengenal Gandung Bondowoso daripada Th. A. Hurip Winarno?

    Sejak kecil simbah dan bapak-ibuku memanggilku Gandung. Itu nama yang banyak dipakai di Jogja-Solo untuk panggilan anak kecil. Nama panggilan itulah yang melekat pada diriku dari kecil, remaja, dewasa, hingga tua sekarang ini. 

    Tambahan Bondowoso berasal dari sutradara Wahyu Sihombing, dosenku dalam kelas penyutradaraan di IKJ. Tahun 1977 aku main di filmnya yang berjudul Pembunuh di Tengah Kita sebagai pemeran pembantu. Ketika menuliskan credit title di film tersebut, yang tercantum hanya Gandung saja. Sihombing menilainya namaku terlalu pendek. Tanpa seizinku dia menambahkan Bondowoso. Mungkin itu asosiatif dengan Bandung Bondowoso. Mulai saat itulah orang-orang di Taman Ismail Marzuki dan IKJ menuliskan namaku Gandung Bondowoso. Aku diam saja karena dalam hati aku menyetujui nama tersebut.

    Terakhir, Mas. Kabarkabari sampai sekarang masih ada tapi kenapa kamu pensiun?

    Ya, aku pensiun sejak dua tahun lalu.

    Di usiaku yang kini 64 tahun aku merasa sulit mengendus selera gosip dan sensasi penonton masa kini. Kabarkabari harus ditangani anak-anak muda yang mampu mengendus selera penonton yang sudah berubah. Kalau tidak, Kabarkabari akan tamat. Karena aku tahu diri, makanya aku minta pensiun.

  • Heri Istiyanto: Lustrum dan gelora kebhinekaan

    Heri Istiyanto: Lustrum dan gelora kebhinekaan

    H. Heri Istiyanto adalah tokoh keempat belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sama halnya dengan Gregorius Sukadi dan Widi Noegroho, Heri Istiyanto adalah alumni SMA Kolese De Britto yang kemudian setelah menyelesaikan studi S1-nya kembali ke kampus, mengabdi sebagai guru.

    Pria kelahiran Sleman, 11 September 1982 ini mengampu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ia mengemuka di keluarga besar De Britto salah satunya karena ditunjuk sebagai Ketua Umum Lustrum ke-14/Ulang Tahun ke-70 SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang puncaknya dihelat pada 19 Agustus 2018 yang lalu.

    Secara pribadi, aku mengenal Heri sejak 2005 silam. Saat itu aku dilibatkan dalam pembangunan situs web SMA Kolese De Britto Yogyakarta bersamanya yang mewakili pihak sekolah.

    Tahun lalu ia diutus pergi belajar ke Sydney selama beberapa hari dan aku menyempatkan diri bertemu dengannya.

    Tepat sehari setelah rangkaian lustrum usai diadakan, aku menghubunginya melalui WhatsApp. Kami bicara tentang banyak hal tapi utamanya tentang lustrum yang sebagaimana acara-acara lain yang melibatkan banyak pihak selalu saja membawa pro dan kontra.

    Diskusi berlangsung seru dan mengingat aspek kepatutan, aku memutuskan untuk tak menayangkannya di sini. Berikut petikannya.

    [DV] Capeknya masih terasa dari mengurus lustrum kemarin, Mas?
    [Heri] Lumayan he he he. Tiga hari nggak pulang, nggak ketemu keluarga (Heri menikah dengan Margareta Erna Mayasari dikaruniai seorang puteri -DV) tapi rasanya puas karena bisa maksimal pelaksanaan kemarin.

    Lustrum kemarin itu sebenarnya konsumsi siapa sih, Mas? Sekolah atau alumni?
    Keluarga besar De Britto.

    Siapa saja itu?
    Ya semua. Ya sekolah, yayasan, siswa dan alumni tentunya.

    Jadi alumni dilibatkan dalam kepanitiaan?
    Iya. Banyak alumni yang terlibat dalam kepanitiaan.

    Tapi alumni kan banyak banget. Yang mana yang kemudian kamu pilih?
    Yang kami pilih adalah alumni yang mau membantu dan punya waktu.

    Tentang visi dan misi acara sendiri, apa sih yang sebenarnya ingin disampaikan De Britto melalui acara lustrum ini?
    Sesuai dengan tema, Harmoni dalam keberagaman. Keberagaman yang menjadi hal biasa di De Britto ingin kita gelorakan kembali ke tengah-tengah masyarakat yang seperti kita tahu di sana-sini tampaknya mengalami penurunan nilai-nilai toleransi karena perbedaan.

    Dalam prakteknya bagaimana?
    Kita mengadakan kenduri bersama warga sekitar kampus tanpa memandang perbedaan yang ada. Kita mengadakan kegiatan bakti sosial kesehatan, pengobatan gratis, bedah rumah, pasar murah. Sebagai wujud peduli pada alam, kami juga mengadakan penanaman bibit tanaman. Ada pula pagelaran wayang kulit yang juga sukses karena banyak masyarakat awam hadir dan bisa menghibur mereka.

    Bagaimana dengan peran siswa dalam acara ini?
    Siswa kami libatkan secara aktif dalam acara-acara tersebut, menyatu dengan alumni, guru dan masyarakat. Napak tilas yang kami adakan juga memberikan dampak positif pada para siswa untuk menghargai jasa para pendahulu dan supaya tidak melupakan sejarah.

    Di acara puncak semalam (19 Agustus 2018 -DV) ada juga kolaborasi beberapa ekstrakurikuler mulai dari musik, sinematografi, karawitan dan tari. Itu kesuksesan yang luar biasa bagi kami.

    Total jendral, berapa rupiah yang diperlukan untuk mengongkosi acara besar ini?
    Belum ada update karena belum evaluasi secara total tapi kisaran saya sih sekitar 900 (900 juta rupiah -DV)?

    Sekarang mari bicara tentang dirimu sendiri, Mas. Kenapa sih dulu memutuskan jadi guru?
    Mungkin panggilan jiwa saya ya he he he. Bapak saya dulunya juga guru. Saya sangat senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan berbagi, termasuk berbagi ilmu. Apa yang saya miliki bisa digunakan atau bermanfaat untuk orang. Itu poinnya.

    Tapi kenapa De Britto?
    Siswa-siswa De Britto itu unik, kreatif dan menantang saya untuk memberikan yang terbaik.

    Kapan pertama kali ngajar di De Britto?
    2004.

    Wow. Jadi Anda lulus dari De Britto tahun 2000 dan tahun 2004 sudah kembali ke kampus sebagai guru? Pernah nggak sih merasa canggung bekerja dengan mereka yang dulunya juga jadi gurumu?
    Awal-awal sih iya, tapi lama-kelamaan biasa saja dan mulai memahami mereka sebagai rekan kerja.

    Mas, kembali ke soal lustrum, aku dengar dari beberapa rekan alumni yang hadir maupun yang tidak hadir, mereka kecewa kenapa setelah acara lomba lari yang disuguhkan adalah pagelaran musik dangdut?He?he?he? Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya Mas. Tidak semua orang suka musik dangdut tapi ya ada yang suka.

    Tapi Anda tahu tentang hal ini?
    Tahu. Tapi bagi saya yang penting jangan sampai hal-hal yang bukan utama (perbedaan pendapat tentang hal ini -DV) seperti ini mengaburkan hal-hal lain yang sebenarnya justru jadi tujuan utama?

    Simak video resmi Lustrum yang keren di bawah ini.

    https://youtu.be/MOZHreSIcRA
  • Rudy ?Banoli?: Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Rudy ?Banoli?: Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Gregorius Rudyanto adalah tokoh ketiga belas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sebenarnya ?jadwal tayang? Rudy bukan sekarang. Tapi apa yang terjadi padanya beberapa hari silam membuatku berkeputusan untuk mendahulukannya mumpung masih sangat relevan dan aktuil!

    21 Mei 2018 silam tempat usaha miliknya, Bengkel dan Toko Spare Part Banoli Jaya Motor di Kebumen, Jawa Tengah, mengalami kebakaran hebat. Barang dan stok yang hendak dijual dan peralatan-perlatan adalah hal-hal material yang jadi kerugian disamping tentu kerugian non-material yang susah untuk dicari hitungan jelasnya.

    Tapi bukan lulusan De Britto namanya kalau hal itu membuatnya menyerah. Dua hari sesudahnya, 23 Mei 2018, pria alumni angkatan 1997 yang juga adalah putra pemilik tempat usaha ban terkenal di Jogja dulu, Bah Petruk itu membuat kejutan yang menggetarkan.

    Melalui dinding Facebooknya, Rudi mem-post tulisan dengan judul menghentak, ?MAAF TAK ADA KATA MENYERAH DALAM KAMUS KAMI?

    Ya! Ia buka kembali bahkan di saat bau bakaran api kubayangkan masih lekat di dinding-dinding tokonya!

    Buru-buru aku menghubunginya via WhatsApp, berharap ia punya keluangan waktu untuk membalas dan bercakap-cakap denganku.

    Dan benar saja! Di tengah kesibukannya untuk bangkit kembali ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan. Selebihnya biarlah kalian baca sendiri catatan indah di bawah ini!

    Apa yang dialami Rudy adalah hal yang wajar karena kita tak pernah bisa lepas dari musibah. Namun apa yang dilakukannya untuk kembali bangkit menjadi pembeda antara tipe manusia yang masih bisa bersyukur dan bangkit dari keterpurukan dengan mereka yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa akhir meski mati masih segan tapi hidup juga tak hendak!

    [DV] Rud, apakah hal yang paling besar yang kamu dapatkan sebagai hikmah dari musibah kemarin?

    [GR] Hal yang paling besar yang saya dapatkan dari kejadian kemarin bahwa semua harta itu benar-benar milik-Nya. Semua ini cuma titipan!

    Dulu saya ini anak orang yang cukup berada tapi 2003 Tuhan mengambil semuanya. Tahun 2005 aku mulai buka usaha sendiri, tahun 2009 jatuh lagi. 2013 bisa buka toko kedua, eh tahun 2018 (kejadian 21 Mei 2018 kemarin -DV) ?dihabiskan? lagi!

    Tapi dua hari kemudian kamu bangkit dan buka toko lagi. Ini langkah yang luar biasa! Gimana ceritanya?

    Ada hal yang unik, Bro DV!
    Aku seperti mendapatkan tanda untuk bangkit lagi. Dari sisa-sisa kebakaran kemarin ada satu spot yang aman . Spot itu adalah logo Banoli kreasi Damben (Damar Benni (angkatan 1996), kawan seangkatanku – DV) yang tetap utuh dan tak terbakar sama sekali!

    banoli
    Spot lambang ‘Banoli Motor’ yang tak terbakar itu…

    Wow, jadi itu yang membuat kamu bangkit untuk buka toko lagi?

    Ya! Tapi bukan cuma itu!
    Aku buka toko lagi karena dukungan yang luar biasa dari kawan-kawan alumni De Britto! Temen-temen mendukung dengan cara unik yang bisa membuatku tertawa di tengah musibah ini. Bahkan teman-teman seangkatan, JB 1997, mereka datang mengunjungi langsung dan memberi support.

    banoli
    Kunjungan kawan-kawan alumni De Britto 1997 ke Banoli

    Sebenarnya aku belum berpikir untuk buka toko lagi tapi semangat dari kawan-kawan alumni itulah yang membuatku lebih cepat pulih dan bertekad untuk bangun! Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Rencana ke depan?

    Ke depannya ya aku akan buka lagi, membuat lebih bagus walaupun modal untuk itu ya harus dikumpulkan lagi sedikit demi sedikit!

  • Widi Nugroho: Di De Britto, guru bisa belajar juga dari muridnya

    Widi Nugroho: Di De Britto, guru bisa belajar juga dari muridnya

    B. Widi Nugroho adalah tokoh kedua belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sama seperti Pak Kadi yang kuulas sebelum ini, pria kelahiran Ponorogo, 23 Agustus 1968 ini adalah alumni De Britto (1987) yang kemudian mengajar di almamater sejak 1993 hingga sekarang. Pak Widi mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan aku pernah diajarnya selama tiga tahun, 1993-1996. Kini Pak Widi juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

    Beberapa hari silam aku berbincang banyak dengannya. Sebuah perbincangan yang elok nan unik karena tak hanya antara seorang kakak kepada adik angkatannya tapi juga seorang guru kepada muridnya.

    Petikannya bisa kalian baca berikut ini.

    [DV] Belum apa-apa saya mulai dengan pertanyaan yang berat, Pak. Pernahkah kamu merasa khawatir terhadap De Britto?

    [WN] Ada, tapi kekhawatiran saya ini tidak pada lembaganya. Kekhawatiran saya atau lebih tepatnya tantangan itu ada pada konteks di mana De Britto berada.

    Konteks Yogya saat ini, apapun bisa didapat di Yogya. Dari hal baik sampai hal buruk bisa ditemukan di Yogya yang tentu harus diwaspadai.

    Juga konteks zaman sekarang: era media sosial membuat anak-anak zaman ini menjadi lebih reaktif, bukan reflektif.

    Dalam pola mendidik yang dilakukan di JB, apa ada perubahan atau adakah semacam pendekatan yang ?khas? terkait maraknya penggunaan media social? Misalnya ada nggak sangsi yang diberikan ketika misalnya seorang murid menulis/menyebarkan hoax?

    Sebagai sebuah kolese Jesuit, De Britto mendasarkan proses pendidikannya pada Spiritualitas Ignatian. Hal yang sangat mendasar dalam tradisi Ignatian itu adalah apa yang disebut sebagai discernment, proses menimbang-nimbang dan memilah-milah yang baik dari yang buruk, yang lebih baik dari yang baik, dan dalam situasi tertentu, yang terbaik di antara yang buruk. Jadi, inti pendidikan Jesuit adalah mendidik murid untuk mampu membuat keputusan yang baik.

    Ini yang paling mendasar dan berlaku dalam segala situasi, tidak hanya dalam konteks media sosial.

    Jadi sebenarnya semangat kebebasan yang kita anut itu, tujuan akhirnya membuat murid mampu membuat keputusan yang baik dan kemudian bertanggung jawab terhadap keputusan itu.

    Maka, anak-anak JB selalu melakukan examen setiap hari, untuk melihat pengalaman dalm satu hari, mensyukuri hal-hal baik yang telah terjadi, dan kalau ada hal-hal kurang baik bisa belajar dari hal-hal itu dan berniat untuk tidak mengulanginya, dan melakukan lebih baik dari hari ini.

    Dan examen itu mengajari mereka untuk reflektif. Tidak reaktif.

    Meskipun belum pernah terjadi, seandainya ada murid menyebarkan hoax di media sosial, tentu ada proses pendampingan kepada pelaku, dan pasti didampingi dalam proses refleksi, dan pasti ada konsekuensi.

    Baru-baru ini saya dengar ada sebuah sekolah homogen di Jogja yang akan berubah jadi heterogen. Apakah hal ini mungkin juga bisa terjadi di De Britto bahwa suatu waktu akan menerima murid cewek?

    Kalau bicara kemungkinan (possibility), ya mungkin saja. Tetapi, probabilitasnya kecil, karena sampai hari ini De Britto belum berpikir ke arah sana, dan mungkin tidak akan pernah. Menerima murid cewek berarti harus mengubah model atau pendekatan dalam proses pendidikannya. Dan, itu bukan pekerjaan mudah.

    Sebagai alumni kadang saya dan banyak rekan lain selalu berusaha membanding-bandingkan, misalnya ?Anak JB jaman sekarang ga? garang kayak dulu, mainannya handphone melulu!? Sebagai alumni yang juga guru, pernahkah muncul pemikiran yang sama, Pak?

    Dulu sewaktu masih jadi guru muda dan belum punya pengalaman, pernah sih berpikiran seperti itu.

    Tetapi makin ke sini, makin sadar bahwa itu bukan hal yang baik. Entah kenapa, menurut pengamatan saya, suatu angkatan selalu memandang angkatannya paling baik. Orang selalu bilang, “Dulu zaman saya ..bla bla bla ..” yang intinya memuji-muji generasi atau angkatannya dan memandang angkatan sekarang tidak sebaik angkatannya.

    Padahal di tiap angkatan, selalu ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang garang, ada yang cengeng. Itu berlaku di semua angkatan. Jadi tidak fair sih menurut saya.

    Kalo soal handphone, ya pastilah, kita gak mainan handphone, kan waktu itu belum ada! Kalo handphone ditemukan di zaman saya SMA, pasti saya juga mainan handphone hehehe?

    Bicara soal kesejahteraan guru, apakah gaji guru cukup untuk hidup sehari-hari?

    Untuk de Britto cukup Don ..tinggal bagaimana mengaturnya …

    Ada beberapa guru yang mengundurkan diri lalu memutuskan berkarir di tempat lain, Pak. Apa yang membuatmu setia pada profesi guru itu?

    Bagiku, De Britto itu bukan sekadar sekolah, dalam pengertian tempat belajar untuk murid. Tetapi juga tempat belajar untuk guru. JB itu tempat perjalananan pemanusiaan saya. Saya berkembang banyak di situ sebagai pribadi.

    Artinya bahwa meski materi yang diajarkan tiap tahun sama tapi ada insight yang kamu dapat saat mengajar. Begitu ya, Pak?

    Iya betul ..karena gini Don, Di De Britto itu kan model pembelajarannya dua arah, diskusif. Dan itu memungkinkan guru untuk mendapatkan insight dari muridnya. Murid belajar dari guru, guru juga belajar dari muridnya.

    Soal belajar, saya juga banyak belajar dari figur-figur guru di JB, dari para Jesuit yang berkarya di JB, dari perjumpaan dgn teman-teman guru dari Kolese lain, baik di Indonesia maupun Kolese lain di Asia Pasifik.

    Konteks ‘guru belajar dari muridnya’ itu dalam praktek kira-kira contohnya gimana?

    Murid-murid itu – dalam diskusi di kelas – sering kali mempunyai pemikiran-pemikiran yang tidak terduga, pemikiran-pemikiran yang di luar perkiraan kita. Danbagi saya itu mengagumkan. Di situlah saya belajar.

    Masa depan pendidikan ‘katolik’ di Indonesia dengan gesekan-gesekan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini menurutmu gimana?

    Saya kira masa depan sekolah katolik tergantung tiga hal: mutu (kualitas), dukungan umat katolik sendiri, dan kerjasama solid antar-sekolah katolik.

  • Pak Kadi: Banyak masyarakat belum merdeka sebagai pribadi

    Pak Kadi: Banyak masyarakat belum merdeka sebagai pribadi

    Drs Gregorius Sukadi adalah tokoh kesebelas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan. Pak Kadi lulus dari SMA Kolese De Britto tahun 1964. Empat tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP/Universitas Sanata Dharma, ia kembali ke kolese bekerja sebagai guru.

    Ada banyak hal yang menarik yang bisa diulas dari Pak Kadi. Kakek empat cucu yang lahir tepat pada hari lahir Indonesia, 17 Agustus 1945 ini kukagumi salah satunya karena ketajaman beliau dalam berpikir serta berkarya.

    Ia begitu aktif dalam grup WhatsApp alumni. Kadang terlibat aktif dalam diskusi di grup dan apa yang dibagikan selalu tentang hal-hal yang positif dan spiritual, sesuatu yang boleh dibilang tak terlalu mainstream saat arus utama melulu bicara politik praktis dan pilpres dan pilkada dan lain sebagainya?

    Tahun 2015 silam, Pak Kadi menggunakan nama lain Ki Jalu Suwangsa bahkan merilis buku berjudul, ?Bangau pun Ingin Memuliakan Penciptanya -Sangkan Paraning Dumadi?dan?Mereka pun Ingin Memuliakan Penciptanya – Sejatine Urip Iku Apa??

    Usia benar-benar tak menghalanginya untuk berpikir, berolah rasa menuangkannya dalam karya.

    Beberapa waktu silam aku mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal dan berikut adalah petikannya.

    [DV] Apakah ada hal yang paling Pak Kadi ingat saat sekolah di De Britto?

    [GS] Kala itu menjelang dan sesudah G30S (Gerakan 30 September yang konon didalangi Partai Komunis Indonesia – PKI -DV), De Britto mengajarkan agar siswanya menjadi pribadi yang mandiri! Menjadi ?subyek? yang ?bebas? sebagaimana Allah menganugerahi ?kebebasan? kepada manusia. Pendidikan ini lantas dikenal dengan sebutan ?Pendidikan Bebas?!

    Apakah ?Pendidikan Bebas? merupakan hal baru saat itu?

    Iya! Dan hal itu tidak mudah dipahami bahkan tidak semua guru De Britto apalagi masyarakat umum bisa menghayati konsep ini.

    Kenapa, Pak?

    Tampaknya karena kebanyakan waktu itu masyarakat masih berpola pikir ?mistis? (Cornelis Anthonie Van Peursen dalam “Strategi Kebudayaan” terjemahan Dick Hartoko) Kesadaran individu sebagai ?subyek? lemah! Identitas pribadi banyak ditentukan oleh kelompok/pendapat umum/alam yang kuat. Di sisi lain ?komunis? pinter membuat dan memanfaatkan slogan-slogan yang membius rakyat sehingga ?Pendidikan Bebas? hadir melawan arus itu semua!

    Pak Kadi
    Pak Kadi

    Pendidikan Bebas lantas menjadi begitu lekat dengan image De Britto ya, Pak?

    Iya! Inilah ciri khas dan berkarakternya De Britto. Pendidikan yang saya ?cecap? di sekolah?! Menjadi ?subyek? yang ?bersama sesama? memuji dan memuliakan Allah! AMDG!

    Jika boleh dilukiskan, bagaimanakah suasana dunia pendidikan kala itu, Pak?

    Saat itu masyarakat umum, termasuk dunia pendidikan mudah terpengaruh oleh slogan-slogan! Seragam diutamakan! Yel-yel dikumandangkan dimana-mana. De Britto berani ?melawan arus?! De Britto berani membedakan mana yang pokok dan mana yang tidak pokok! Mana yang prinsip, mana yang tidak prinsip! Rambut gondrong atau plontos bukan prinsip!

    Apakah suasana politik waktu itu mempengaruhi suasana belajar?

    Kesadaran dan wawasan politik sudah mulai terbuka tapi belum/tidak berpolitik praktis.

    Bagaimana pandangan imam-imam Yesuit terutama yang bertgas di De Britto terhadap komunis, PKI dan g30s?

    Tidak eksplisit,? karena tidak berpolitik! Tapi,? jelas tidak sependapat dengan? slogan-slogan ?tujuan menghalalkan cara”, “politik adalah panglima”

    Empat tahun meninggalkan kolese, Pak Kadi kembali ke De Britto pada 1968 sebagai guru. Bagaimana rasanya, Pak?

    Senang!
    Bisa ikut “mem-bebas-kan” anak didik bersama Rm Oei Tik Djun dan kawan-kawan lainnya!? Saya mendukung “pendidikan bebas”!

    Prinsip ?membebaskan? itu bagaimana Pak jika boleh dijlentrehkan?

    Sebagai orang katolik – sudah dipermandikan – secara rohani sudah dibebaskan,? tetapi sebagai pribadi tidak semua sungguh “mandiri”! Berani berpikir, berkata,? dan bertindak,? sebagai pribadi? yang merdeka! (Sudah baca artikel Rm Oei tentang Pendidikan Bebas? – artikel bisa dibaca di sini).

    Banyak masyarakat kita yg masih? berpola-pikir “mistis”! Ber” identitas kelompok”! Mudah dihasut! Mudah ditipu!

    Tantangan apa yang Pak Kadi lihat saat awal-awal mengajar di De Britto?

    Membebaskan anak didik! Bantulah jadi subyek yang mandiri! Sekarang pun tantangan itu masih ada! Mosok ada korupsi berjamaah!? Mosok jelas orang lancung dipilih jadi pemimpin!? Mosok begitu mudah orang ditipu!?

    Berpikir! Berpikir!
    Pahami makna tiap kata!
    Jangan? hanya “ela-elu”!
    Berani salah!
    Berani mengakui kesalahan!
    Mau memperbaiki kesalahan!

    Kreatif! Untuk sesama demi kemuliaan Tuhan! Coba kalau ada waktu baca? “Katak pun Tertawa”! Ditulis oleh Jalu Suwongso katak pun mentertawakan aneka perilaku pemilihan Gubernur di Jakarta bbrp waktu lalu! (Link di sini)

    Banyak masyarakat? belum ” merdeka ” !

    Melihat masa kini, apakah tantangannya masih sama?

    Sama! Kalau arusnya tidak dilawan,? kebenaran akan terus diinjak-injak! Agama menjadi panglima! Agama menghalalkan segala cara!

    Kalau sama, apakah berarti telah terjai stagnasi dalam dunia pendidikan di Indonesia sejak 50 tahun terakhir?

    Tentu ada kemajuan! Tapi problem me-merdeka-kan anak muda tetap harus diperjuangkan! “Agama yang menghalalkan cara” kok bisa diterima? Pemimpin yg korupsi kok? bisa diterima?

    Apa pesan Pak Kadi untuk ?De Britto??

    Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada SMA de BRITTO (Romo-romo, Bapak-bapak guru,? Karyawan,? para rekan siswa,? dll)? Salam hangat untuk semua sobat alumni! Minta maaf atas semua kesalahan! Bravo SMA de Britto! AMDG!

  • Laksamana Mustika: Doa itu ?much stronger than any capital?

    Laksamana Mustika: Doa itu ?much stronger than any capital?

    Laksamana Mustika adalah tokoh kesepuluh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Laks, begitu ia dipanggil adalah sosok yang masih muda, baru lulus dari De Britto pada 2012 silam.

    Tapi kiprahnya tak terhalang usia. Laks adalah CEO dari perusahaan yang dibangun bersama kawan-kawannya sejak kuliah, PT Elven Digital Holding.

    Menurut catatan situs web SWA.co.id pada 2016 silam, perusahaan yang digawangi Laks ini sudah memiliki kantor tiga lantai di Alam Sutera, Serpong dengan jumlah karyawan lebih dari tiga puluh orang dan omset 200-400 juta per bulan.

    Di sela kesibukannya, aku berhasil mewawancarai Laks melalui WhatsApp. Berikut petikannya.

    [DV] Laks, awal mula kamu mulai usaha itu bagaimana?

    [Laks] Mulai usaha dulu sebenarnya dari kelas tiga SMA, Mas. Jualan peralatan gaming dengan cara dropshipper.

    Dropshipper itu apa dan bagaimana?

    Kita nggak perlu stock barang cuma kontek supplier ketika ada pesanan nanti supplier akan mengirim ke pembeli atas nama toko/usaha kita.

    Lalu gimana ngatur waktu dengan sekolah? Nggak kerepotan?

    Enggak. Gampang kok, Mas cuma model BBM (Blackberry Messenger –DV)

    Saat kuliah lanjut bisnis juga? (Setelah lulus De Britto, Laks melanjutkan studi di Universitas Bina Nusantara Jakarta -DV)

    Yup! Usaha saya yang sekarang, Elven Digital Holding itu kami mulai sejak saya ada di semester tiga lalu saat semester lima berbentuk badan hukum PT.

    Modal awalnya berapa kalau boleh tahu?

    Modal awal laptop, koneksi internet, dan motor vario saya, Mas hahaha…

    Wow! Nggak ada modal dari orang tua sama sekali?

    Ada, Doa. Doa itu much stronger than any capital!

    Bagaimana sih kamu memaknai doa yang much stronger than any capital itu?

    Secara emosional, kalau tahu kita benar-benar didoakan oleh orang apalagi orang tua sendiri kita setidaknya jadi merasa benar-benar disayang. Saya jadi bersemangat dalam menghadapi segala rintangan dalam usaha maupun hidup yang cukup berat. Doa adalah pengharapan.

    Usaha yang kamu rintis sejak dulu hingga sekarang itu pernahkah mencapai titik buruk dan membuatmu berpikir untuk bubar?

    Titik terendah pernah, tapi berpikir bubar tidak pernah.

    Core usahamu di bidang apa?

    Awalnya web developer tapi sekarang berkembang jadi digital strategist.

    Digital Strategist? Cakupannya bagaimana?

    Jadi kami membantu client-client kami dalam proses digitalisasi mereka. Kami buatkan strategi sampai eksekusinya. Contohnya, kami membangun apps, web, content, dan media buying untuk pemasarannya.

    Bagaimana tanggapan pasar sejauh ini??Apakah mereka tertarik atau masih ada yang berpikir bahwa sekarang belum saatnya berpikir serius tentang digitalisasi?

    Bagus mas. Apalagi kita banyak recurring juga. Tahun ini, yang konvesional pada panik mau rame-rame mengarah ke digital.

    Oh ya? Kenapa panik?

    Panik karena telat pindah. Mungkin dikomporin oleh media yang membahas online terus-menerus.

    Menurutmu sepenting apa sih sebuah perusahaan di Indonesia berpikir ke arah digital?

    Sangat penting. Karena internet user dan mobile subcriber di Indonesia tinggi.

    Bicara soal digital, baru-baru ini ramai dibicarakan tentang Facebook yang dituduh membocorkan privasi member-nya. Apa pandanganmu tentang ini?

    Kalau membocorkan secara sengaja sih saya rasa tidak. Bahwa Facebook ada celah, iya dan itulah yang dimanfaatkan oleh oknum di Cambridge Analytic untuk keperluan kampanye bahkan big data sampai behavior user juga berhasil di-scrape.

    Lalu muncul isu bahwa Facebook hendak ditutup di Indonesia. Menurutmu gimana?

    Dari sudut pandang brand, Facebook beserta anaknya, Instagram adalah salah satu media promosi digital terbesar. Tentu akan sangat menyulitkan bagi dunia usaha karena kehilangan satu channel promosi yang lumayan efektif.

    Kamu masuk ke ranah politik juga? Pilkada dan pilpres serta pileg tentu perlu strategi digital yang mumpuni?

    Di tawarin jadi kader partai sering. Cuma saat ini belum berpikir ke arah sana karena mau fokus kembangin bisnis dulu.

    Untuk klien sih belum pernah pegang ‘politik’ karena fokus kami memang ke corporate meski bagiku politik ya tetap butuh strategi digital. Bisa dilihat kan di pilkada dan pilpres lalu, digital sangat mempengaruhi hasil.

    Menurutmu strategi digital yang terbaik untuk politik seperti apa?

    Wah, saya ngga bisa jawab karena bukan kapasitas saya, Mas. Takut salah omong hehehe…

    Tapi kalau kamu ditanya strategi digital untuk politik saat ini yang terbaik apakah tetap dengan mengusung isu SARA?

    Kalau yang sehat sih harusnya enggak. Strategi dan prestasi adalah intinya. Segmentasi pasar politik kan luas sekali jadi justru seharusnya merangkul semua pihak.

    Hoax jadi susah dikendalikan, sebagai praktisi bidang digital kamu ada ide apa untuk mengurangi atau menghambat penyebaran hoax?

    Ini salah satu negatifnya media sosial. Jika ada di tangan orang yang salah bisa dijadikan sebagai sarana untuk penyebaran berita hoax berupa link ke media hoax, gambar hoax, dan lain-lain. Menguranginya tentu perlu peran aktif pemerintah juga untuk ngeblok situs-situs hoax.

    Oh ya, beberapa tahun lalu kalau tak salah dengar kamu mendirikan restaurant ? Masih jalan?

    Yang ‘mie instan’ sudah tutup yang di Jakarta tapi masih ada cabang di Medan dan Bogor. Tapi satu restoran satu lagi, HolyChick juga masih jalan.

    Konsep rumah makan ‘mie instan’ itu menurutku menarik sekali. Ide awalnya gimana?

    Waktu itu idenya lihat kenyataan bahwa orang-orang suka sekali dengan mie instan dan banyak warung-warung yang menjual di pinggiran, Mas. Kami ingin membawa ‘mie instan’ to the next level.

    Kalau Holychick itu konsepnya bagaimana?

    Ayam geprek di-fusion hehehe…

    Ketika kamu hendak membuat bisnis baru, pertimbangannya apa saja?

    Market share, competitor analysis, waktu untuk menjalankan, orang yang menjalankan, modal keuangan dan channel-channel untuk membantu bisnis.

    Bicara soal De Britto, apa yang paling mengesankan dari tiga tahun bersekolah di sana?

    Paling mengesankan adalah dinamika di sana yang unik. Semangat ‘man for others’ yang diajarkan juga sangat menarik.

    Sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam karirmu?

    Cukup besar. Semangat saya sampai sekarang untuk berwirausaha juga saya peroleh dari pendidikan di De Britto. Saya ingin hidup lebih bermakna bagi orang-orang di sekitar saya.

    Ngomong-omong, saat di De Britto dulu model bercandaan ‘cina-jawa’ masih ada?

    Masih, Mas Hahaha…

    Kamu nyaman enggak?

    Kalau saya sih nyaman-nyaman aja karena konteksnya kan bercanda dan untuk lebih mengakrabkan. Semacam dark humor gitu hahaha…

    Ke depannya kamu punya rencana apa thdp bisnismu? Ekspansi? Menguatkan yg sudah ada atau… menjual ke investor?

    Rencana bisnis ke depan adalah menguatkan yang sudah ada. Ekspansi dengan menambah kapasitas produksi dan lirik-lirik ke bisnis digital lain.

  • Gunawan Wibisono: Kita ini dianggap sebagai alien?

    Gunawan Wibisono: Kita ini dianggap sebagai alien?

    Bonifasius Gunawan Wibisono adalah tokoh kesembilan dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Lulusan tahun 1986 yang juga adalah Presiden Direktur PT Sumber Inti Pangan ini dikenal dengan nama Mas GW atau Mas Nano.

    Namanya sempat mengemuka dalam ajang Pemilihan Presiden Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto, 2015 lalu. Di tengah ramainya kampanye dan namanya begitu diidolakan, tiba-tiba Mas GW mengundurkan diri. Peta persaingan pun berubah total!

    Setelah menghilang tak seberapa lama, Juni 2016, namanya kembali menyeruak, Mas GW membeli sepeda motor milik Pak Harjo, mantan guru mata pelajaran Kimia di SMA Kolese De Britto, yang beritanya memviral ke seantero Tanah Air.

    Melalui WhatsApp, seminggu belakangan aku bercengkrama dengannya. Kami membicarakan banyak hal, tentang pandangannya terhadap karir dan keberhasilan, Tuhan serta apalagi kalau bukan alasan kenapa ia dulu mundur dari ajang pemilihan presiden.

    Selengkapnya di sini.

    [DV] Mas, bagaimana melukiskan hidupmu saat ini? Kamu puas dengan semua yang sudah didapat?

    [GW] Di usia menjelang setengah abad ini (Mas GW akan berulang tahun pada 26 April -DV), kalau bicara dalam ukuran materi dan duniawi pasti tidak akan ada puasnya. Saya memaknai puas karena sudah bisa membawa manfaat bagi karyawan-karwayan saya; sekitar 250-an warga Kabupaten Kuningan dan 50-an di Tangerang.

    Saya puas karena sudah mempunyai usaha sendiri, yang merupakan impian saya sejak menjadi profesional, puas karena diberi kesehatan yang prima, puas karena diberi berkat yang luber-luber.

    Mas GW kan dulu pegawai biasa. Menurutmu, apa kunci mengubah jalan hidup dari pegawai jadi pengusaha?

    Kuncinya ada empat. Nyali, teteg (tegar/mantap -jw), persistence dan kemampuan untuk menerima serta bertahan dalam kondisi susah.

    Mas, banyak kawan memilih menjadi pengusaha bukan karena punya mimpi tapi justru karena malas diperintah. Menurutmu apakah mentalitas seperti ini bisa dijadikan pegangan untuk jadi pengusaha yang sukses?

    Kalo mimpinya cuma malas diperintah, itu hanya capital yang terlalu kecil untuk jadi pengusaha yang ?nendang? dan sukses…

    Seseorang harus punya mimpi yang besar untuk menjadi pengusaha sukses. Harus punya mimpi setinggi mungkin, kalau toh nggak sampai masih bisa nyangkut di awan Cumulonimbus hahaha?

    Terakhir jadi pegawai kapan, Mas?

    Desember 2002.

    Keputusan apa yang dulu membuatmu mantap untuk keluar dari pekerjaan?

    Berangkat ke tempat kerja lama sudah nggak ada gairah dan nggak ada semangat lagi, usaha yang mulai dirintis sudah mulai kelihatan hasilnya dan pengin memacu adrenalin rush lagi Mas!

    Adakah titik terberat yang pernah kamu alami setelah memutuskan jadi pengusaha?

    Titik terberat adalah pada saat sadar kalo posisi balance sheet minus dan posisi decline terus. Seluruh badan gringgingen (kesemutan -jw) membayangkan bayar gaji karyawan pakai apa, bayar ke vendor pakai uang yang mana, besok bisa makan atau tidak. Itulah titik nadir itu, Mas. Posisi secara teknis bangkrut, terjadi pada Juni 2005.

    Waduh! Lalu bagaimana titik baliknya? Apakah yang diusahakan Mas GW waktu itu?

    Titik baliknya ya kita menghentikan bleeding itu.

    Caranya?

    Pertama, kami melakukan efisiensi besar-besaran, mengencangkan ikat pinggang dan potong biaya yang tak diperlukan. Kedua, kami mengadakan review semua penjualan, memilah dan memilih produk yang margin tinggi dan mudah jualannya. Itu yang didorong dan di gas polll! Ketiga ,kami lari sekencang-kencangnya untuk menciptakan produk baru dan cari kostumer sebanyak-banyaknya. Keempat, roadshow ke para vendor untuk restrukturisasi term of payment.

    Berapa lama hal itu dilakukan?

    Setahun! Setahun berikutnya kegembiraan mulai membuncah karena grafiknya mulai naik menanjak.

    Saat ada di titik nadir tadi, pernahkah berpikir untuk jadi pegawai lagi?

    Sama sekali tidak!
    Prinsip saya bakar perahu jadi yang ada di pikiran saya waktu itu adalah bagaimana mengatasi kebocoran secepat mungkin, simultan dan downsizing spending kita. Pokoknya pantang buat kita untuk jadi pegawai lagi?

    Bagaimana Mas Nano memandang Tuhan dan Iman dalam karir dan usaha?

    Hmmm?Providentia Dei (penyelenggaraan ilahi –Latin). Semua berkat dan karir yang moncer ini adalah karena Penyelenggaraan Allah. Ikhtiar kita adalah bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas. Sisanya biarlah Allah yang menyelenggarakan.

    Saat Mas GW mulai usaha kan sudah berkeluarga. Bagaimana mempertimbangkan untuk tetap maju berusaha sementara di satu sisi Mas Nano pasti juga gak mau lifestyle yang sudah ada terancam bergeser JIKA usaha gagal?

    Mas, keluarga buat saya adalah segala-galanya?
    Waktu krisis, anak saya baru umur 2 tahun. Untung saja sejak kami menikah tahun 1997, kami biasa hidup sederhana dan apa adanya. Jadi kami menikmati lifestyle dari yang kami punya.

    Pada waktu krisis pun saya tidak cerita detil ke istri, karena kalo cerita detil pasti hanya akan menambah kepanikan saja. Saya hanya ngomong, kita lagi prihatin, kita lagi suffer, yuk kita kencangkan ikat pinggang.

    Dari situlah saya bergerak.
    Cicilan mobil saya ?cut? dan mobil saya jual. Kemana-mana saya naik motor dan kalau ke kantor naik Bus Damri. Untunglah istri dan anak saya mengerti dan mendukung kondisi seperti saat itu.

    Bicara soal De Britto, Mas. Seberapa besar pengaruh pendidikan De Britto dalam kehidupanmu?

    Pembentukan Karakter di De Britto saat jaman saya dulu sangat kental sekali. Kita diberi kebebasan tapi yang bertanggung jawab.

    Kita bebas mengekspresikan diri kita sendiri, tidak takut menyampaikan pendapat, tidak takut salah, ngeyelan….dan hal ini terbawa terus sampai kuliah, kerja profesional dan bahkan hingga saat ini…

    Kalau tak salah, Mas GW waktu itu yang beli motor Pak Harjo yang beritanya lantas memviral itu?

    Iya hahaha?

    Pak Harjo dan motornya
    Pak Harjo dan motornya

    Ceritanya bagaimana kok bisa beli?

    Lha waktu itu khan ada niatan dari Pak Harjo untuk menjual motor karena butuh beli pompa air di rumahnya. Waktu itu saya rasan-rasan (diskusi) dengan anak-anak DBBC (De Britto Business Community) dan akhirnya DBBC berinisiatif untuk meng-organize acara pelelangan motornya.

    Singkat cerita, dalam lelang itu akhirnya saya dan Mas Wawan Dalbo (angkatan 1986) memenangkan lelang dengan harga 15 juta padahal kita sudah budget-in sampai 50 juta.

    Sekarang diapakan motornya, Mas?

    Masih saya simpan di rumah saya di Serpong. Ini mau saya ?retro-fit? dan mau saya taruh di rumah saya di Jogja.

    Mas, ini barangkali akan jadi pertanyaan terpenting? Tiga tahun silam, Mas GW sempat mencalonkan diri menjadi capres Paguyuban tapi lantas mundur. Ada apa sebenarnya?

    Jujur, Mas? semua terjadi karena saya menganggap resistensi terhadap angkatan kami (1986) sangat tinggi.

    Buat sebagian alumni yang sudah malang-melintang di paguyuban, kita ini dianggap sebagai alien karena mungkin gaya kami yang tidak pernah muncul (di paguyuban –DV), tapi tiba-tiba muncul dan langsung bikin gempar dunia persilatan..
    Mungkin gaya kami yang dianggap nyeleneh oleh para senior. Maka untuk kebaikan bersama saya mundur?

    Nggak sayang? Waktu itu kan Mas GW seingat saya sangat diunggulkan?

    Nggak. Saya nggak punya ambisi apa-apa selain berbuat kebaikan untuk paguyuban.

    Mas GW tadi bilang gaya angkatan 86 bikin gempar ?dunia persilatan?? Bagaimana sejatinya?

    Kami terbiasa ngomong sak enak udele dewe (seenak sendiri -jw), kesannya sok dan high profile… But honestly esprit de corps kita tinggi? Bocahe apikan kabeh.

    Kira-kira dengan gaya 86, kontribusi apa yang seharusnya bisa diberikan ke paguyuban dan sekolah, Mas?

    Satu hal yang menjadi ciri khas lulusan JB dan itu juga ada dalam angkatan kita adalah Sense of Togetherness yang tinggi.

    Itu adalah modal besar kita!
    Dengan semangat kebersamaan yang besar ini dan disertai dengan pengalaman dengan jam terbang tinggi dari berbagai latar belakang profesi, apabila disinergikan akan menjadi kekuatan yang besar baik untuk paguyuban dan sekolah.

    Kita identifikasi apa sich kebutuhan paguyuban dan sekolah saat ini setelah ter-diagnosa, kita bisa bisa cari solusi bersama-sama dari kebutuhan paguyuban dan sekolah dalam bingkai semangat kebersamaan dan perasaan memiliki yang tinggi.

    Menurutmu apa kebutuhan paguyuban dan sekolah saat ini?

    In My Humble Opinion, Paguyuban harus menjadi rumah yang nyaman buat seluruh alumni. Rasa kebersamaan dan semangat egaliter harus tetap dijaga, paguyuban menjadi wadah dan saluran berkat untuk alumni yang kurang beruntung, buat program yang berdampak langsung ke alumni.

    Sedangkan Sekolah harus menjadi tempat yang homey juga buat siswa, dimana anak-anak kita bisa mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya.

    Di era disruption ini, sekolah harus bisa me re-engineer dirinya sendiri, mengikuti perkembangan jaman tapi tidak kehilangan identitas sebagai lembaga pendidikan ignasian dimana pembentukan karakter siswa yang bebas dan bertanggung jawab selalu ada.

    Lalu apakah yang dilakukan paguyuban saat ini sudah cukup meng-cover hal itu?

    Jujur aku gak tahu ya Mas dan belum merasakan ya…Aktifitas lebih banyak dilakukan oleh para individu alumni.

    Tahun depan pilpres paguyuban, Mas GW mau coba lagi?

    Dengan penuh kerendahan hati, saya sama sekali tidak berhasrat, Mas Donny. Lebih seneng di luar sistem tapi selalu siap cancut tali wondo kalau JB membutuhkanku.

  • Mas Jojon: Aku merasa ?luber berkate? oleh Tuhan?

    Mas Jojon: Aku merasa ?luber berkate? oleh Tuhan?

    Petrus Pujiraharjo, SH adalah tokoh kedelapan dari tujuh puluh?Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan.

    Lahir di Klaten, 5 April 1973, Mas Jojon, demikian ia biasa dipanggil, adalah seorang anggota Satpol PP di Kabupaten Klaten. Jabatan resminya Pelaksana Pengolah Data Kepegawaian Satpol PP Kabupaten Klaten. Aku belum pernah bertemu dengannya, kenal pun baru beberapa waktu yang lalu karena kebetulan kami sama-sama menghuni sebuah grup WA yang berisi alumni-alumni De Britto yang berasal dari Klaten.

    Barangkali ada yang bertanya kenapa Mas Jojon kujadikan tokoh alumni? Bukankah banyak alumni lain yang ?lebih layak? dijadikan tokoh?

    Dimana istimewanya?
    Dimana uniknya?
    Dimana suksesnya?

    Jangankan kalian!
    Mas Jojon pun awalnya juga heran dan tak yakin ketika kuajak ngobrol via WhatsApp dan kutanya, ?Njenengan purun kula tulis, Mas? (Kamu mau kutulis, Mas? –jw)?

    Tapi menjawab ketidakyakinannya dan keheranan kalian itu sejatinya sangat mudah! Setiap manusia dilahirkan unik maka yang kulakukan dengan menuliskannya hanyalah menyelaraskan kodrat alami itu!

    Nggak percaya? Baca saja wawancaraku dengan alumni SMA Kolese De Britto tahun 1992 itu!

    [DV] Mas, kapan pertama kali bertugas jadi Satpol PP?

    [Jojon] Tahun 2006! Dua hari sesudah gempa aku masuk kerja hari pertama setelah itu saya jatuh cinta pada profesi ini hehehe?

    Kamu lulus De Britto tahun 92 tapi baru jadi pegawai negeri tahun 2006? Sebelumnya ngapain aja?

    Lulus De Britto tahun 1992 aku lanjut ke Fakultas Ekonomi UAJY (Universitas Atma Jaya Yogyakarta –DV) tapi nggak tamat. Tahun 1993 aku diterima di Fakultas Hukum UGM dan lulus sembilan tahun kemudian.

    Hah? Sembilan tahun? Kok bisa selama itu? (Padahal aku lulus kuliah sepuluh tahun hahahha -DV)

    Periode buruk, Mas! Aku dulu jatuh pada pil koplo dari tahun 1994 – 1998.

    Woh, njenengan ?ngoplo juga?

    Iya hahaha?

    Lalu kok bisa berhenti kenapa?

    Gilo karo resikone, Mas hahaha.. (Ngeri memikirkan resikonya, Mas –jw)

    Butuh waktu bertahun-tahun untuk menetralisir hingga akhirnya bisa bangun dan seperti terlahir kembali mensyukuri kejadian itu. Nggak gampang menjalani episode itu?

    Jadi Satpol PP itu enaknya apa?

    Stel kendo kenceng. Stel kenceng untuk peraturan, stel kendo untuk kamanungsan (kemanusiaan).

    Maksudnya?

    Setia pada peraturan tapi juga melihat sisi kemanusiaan, Mas.

    Oh ya? Kalau memang begitu, lantas bagaimana perasaanmu saat misalnya mengusir para pengemis di lampu merah? Apakah kamu juga berpikir tentang kamanungsan?

    Begini, Mas?
    Tugas penertiban terhadap pengemis itu tujuannya bukan untuk menyengsarakan mereka malah untuk mereka sendiri banyak sisi baiknya. Petama, mereka akan dibina oleh tim di rumah singgah. Kedua, juga untuk keselamatan mereka! Di bangjo itu kan rawan eksploitasi dan kecelakaan lalu-lintas?

    Nggak enaknya jadi Satpol PP apa?

    Enak semua pokoke, hahahaha!

    Satpol PP kan dianggap karir rendahan oleh segelintir orang?

    Cibiran seperti itu biar jadi penyemangat saja.

    Saya bahagia menjalaninya.
    Meski saya ini staf, meski volume pekerjaan luar biasa tapi saya pribadi bisa bekerja mengukur volume pekerjaan saya, dan setidaknya hingga saat ini saya sangat nyaman. Asyik aja.

    Banyak yang bilang jadi Satpol PP itu jadi alat politik dan senjata pemerintah daerah?

    Pemahaman itu keliru! Kami malah ada di pihak yang jelas yaitu membela rakyat. Contoh ada penjual duren di jalan satu arah Sidowayah. Kita berjibaku menertibkan. Tampaknya memang seperti semena-mena karena tak melihat proses dan dampaknya.

    Tujuannya padahal bagus. Jalan itu cukup sempit, kalau ada mobil parkir di situ pasti akan makan 40% badan jalan kemudian akan rawan kecelakaan. Kalau sudah terjadi kecelakaan baru mereka sadar. Kan telat hehehe?

    Hidup sebagai Satpol PP apa cukup untuk hidup, Mas?

    Mas Jojon menyebut nominal tapi aku memutuskan untuk tak menampilkannya di sini karena tak ingin menimbulkan berbagai macam penafsiran.

    Kadang singunen, Mas (ketar-ketir -jw) tapi selama aku berusaha pasti rejeki tak akan kemana?

    Kamu nggak merasa iri dengan teman-teman lulusan De Britto yang secara duniawi mungkin jauh lebih sukses darimu?

    Nggak pernah!
    Saya sangat mensyukuri diri, keluarga dan ndeso saya. Bahagia saya sudah luar biasa. Di desa diberi kesempatan untuk beraktualisasi sangat nyaman dan menyenangkan. Apalagi konco-konco JB itu kan joss-joss! Aku yakin mereka pun tidak serta-merta menonjolkan hal-hal duniawi, mewadahi siapapun dan apapun, dan ra nggagas status ekonomi dan pekerjaan, menurutku?

    Caramu mensyukuri piye, Mas?

    Sederhana saja!
    Berbagi dan menjadi pelaksana sepenuhnya kalau ada hajatan di kampung, sripahan (acara dukacita), hari raya Gereja, entengan (ringan tangan) dengan banyak orang yang membutuhkan.

    Masa laluku kan cukup buruk, Mas. Belajar dari situ saya sangat mensyukuri apapun saya saat ini dan semoga caraku ini memberi manfaat bagi sesama.

    De Britto banget ya?

    Iya! Man for other bukan slogan kosongan? benar-benar hadir dan ada dan penuh sukacita ketika menjalaninya!

    Kamu beribadah?

    Iya! Jelek-jelek gini saya ketua wilayah Santo Lukas Granting, jabatan yang unik, ?Pujek kok ketua wilayah hahahaha..?

    Tapi tentang iman ini sebenarnya aku nol besar, Mas! Ke Gereja ya seperti formalitas saja tapi pokokmen aku waton teko (asal datang -DV) dalam setiap kegiatan selama masih sehat. Ikut latihan koor meski suaraku nggak bagus. Entah, aku enjoy aja ketika ikut dan hadir. Ketika ada kegiatan perayaan aku dengan suka cita sebagai tim kamtib (keamanan dan ketertiban) dan itu dengan sungguh-sungguh kuanggap sebagai ibadah, penghiburan atau apapun hahaha?

    Sebagai golongan minoritas, kamu tetap merasa nyaman bekerja?

    Katolik bagiku bukan tentang ritual, bukan tentang pakaian dan konjuk (membuat tanda salib). Katolik bagiku tentang bagaimana membawakan diriku berbeda, bekerja, menilai dan menyikapi pekerjaan.

    Aku merasa luber berkate oleh Tuhan, Mas DV. Teman-teman banyak yang memproyeksikan aku untuk mendapatkan jabatan karena mereka nggak melihat agamaku tapi pekerjaan yang dipercayakan kepadaku.

    Trus kamu mau?

    Aku nggak pernah mencari? Aku slalu bilang pada mereka bahwa aku sudah sangat bahagia dengan posisiku saat ini sebagai staf sub bagian umum dan kepegawaian.

    Aku selalu berpikir orang-orang itu bekerja nggak harus menjadi pejabat. Aku sejak awal slalu mensyukuri status dan pekerjaanku begini saja. Untuk apa jadi pejabat? Malah mengikat!

    Sudahkah kamu menemukan keunikan Mas Jojon? Aku sudah?

  • Kolonel Thomas: Kebebasan bukan berarti sebebas-bebasnya?tetap ada aturan yang harus ditaati

    Kolonel Thomas: Kebebasan bukan berarti sebebas-bebasnya?tetap ada aturan yang harus ditaati

    Kol Inf Thomas Heru Rinawan, S.IP.,M.H adalah tokoh ketujuh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Mas Thomas satu dari sedikit alumni SMA Kolese De Britto yang melanjutkan karir di bidang militer. Padahal sebenarnya De Britto itu ?tak jauh-jauh? amat dari militer. De Britto diasuh oleh para pastor Serikat Yesus sementara itu St Ignatius, pendiri Serikat Yesus, dulunya adalah mantan tentara Spanyol? berpangkat sama dengan Mas Thomas, kolonel.

    Namun tetap saja!
    Barangkali karena orang memandang De Britto dari kegondrongan rambut para siswanya, kebebasan para siswa dalam berbusana membuat orang mengernyitkan dahi ketika ada seorang lulusan yang memutuskan menjadi seorang militer.

    Simak keseruan wawancaraku dengan orang yang dalam waktu lima hingga enam tahun mendatang semoga kita bisa panggil sebagai Mas Jenderal Thomas ini!

    [DV] Mas, kamu lulusan De Britto tapi kenapa lalu memilih berkarir di dunia militer?

    [Thomas] Pilihan hati, Mas.
    Aku dulu tinggal di kompleks Lanud Adisucipto Yogyakarta karena bapak dulu berdinas di TNI AU berpangkat bintara. Sering melihat para taruna AAU (Akademi Angkatan Udara -DV) dengan berbagai atribut yang dikenakan dan bagiku hal itu membuat mereka semakin tampak gagah perkasa hahaha?

    Dari situ ketertarikan untuk terjun ke militer mulai muncul. Setelah membulat aku memutuskan menggondrongkan rambut.

    Lho kenapa? Apa hubungannya?

    Karena aku berpikir sekolah di De Britto akan menjadi satu-satunya kesempatan menggondrongkan rambut karena setelah SMA masuk Akmil kan nggak bisa gondrong lagi.

    Njenengan masih menyimpan foto saat gondrong di De Britto?

    Ada? (Simak foto di bawah, ini adalah foto Mas Thomas saat gondrong – DV).

    Thomas
    Thomas

    De Britto terkenal dengan konsep kebebasannya sementara di militer setahuku kebebasan itu seolah dibatasi. Bagaimana kamu menyikapi ini?

    Kebebasan kan bukan berarti sebebas-bebasnya. Tetap ada aturan yang harus ditaati.?Bagi saya pribadi ndak ada masalah tentang kebebasan toh saya masih enjoy menjalani kebebasan yang bertanggung jawab. Justru disinilah pentingnya memaknai sebuah kedewasaan dalam menyikapi tanggung jawab itu, Mas.

    Adakah nilai-nilai yang didapat di De Britto dan masih bisa diaplikasikan di TNI, Mas?

    AMDG! (AMDG adalah singkatan dari Ad Maiorem Dei Gloriam, semboyan yang berarti Semua demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar –DV).

    Lalu semboyan ?tidak malu, tidak malas? juga dibutuhkan dalam menjalani sikap disiplin sebagai prajurit.

    Bisa diceritakan perjalanan karir militermu?

    Saya masuk Akmil tahun 1992, lulus 1995 berpangkat Letnan Dua bertugas di Korps Infanteri (Pasukan tempur dengan persenjataan ringan).

    Kemudian mengikuti pendidikan dasar kecabangan infanteri di Bandung selama sembilan bulan (didalamnya termasuk pendidikan intelejen dasar dan terjun payung dasar).

    Dari situ saya ditugasi sebagai Komandan Pleton (satuan beranggotakan 30-an orang) di Batalyon 126/KC di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Menjadi Komandan Kompi (satuan beranggotakan 120-an orang) di Batalyon 121/MK di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara berpangkat Kapten.

    Setelah mengikuti sekolah lanjutan perwira tahun 2004 di Pusdikif Bandung, saya mendapat tugas sebagai perwira seksi operasi Korem 131/Santiago di Manado, Sulawesi Utara.

    Tahun 2006 menjabat Wakil Komandan Batalyon 721/Mks di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan, berpangkat Mayor./

    Tahun 2009 menjabat Kepala Staf Kodim 1401/Majene di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

    Tahun 2011 mendapat kesempatan mengikuti pendidikan Seskoad di Bandung. Lulus dari sana menjadi perwira pembantu madya biro latihan staf operasi Kodam IV/Diponegoro di Watugong, Semarang, Jawa Tengah.

    Tahun 2012 diberikan amanah menjabat sebagai Komandan Batalyon 406/CK di Kabupaten Purbalingga dengan pangkat letnan kolonel.

    Tahun 2013 sempat menjabat Komandan Secata (Sekolah Calon Tamtama) di Gombong, Kebumen.

    Tahun 2014 menjabat Komandan Kodim 0723/Klaten dan pada 2015 akhir mendapat surat perintah sebagai Kepala Staf Brigade Infanteri 22/Oms di Gorontalo. Seiring pengembangan satuan kodam XIII/Merdeka di wilayah Suluttenggo (Sulawesi Utara Tengah Gorontalo), saya dipercaya menjadi? Kepala Pembinaan Mental dengan pangkat Kolonel.

    Mantappp!!!!
    By the way, pernah nggak kamu merasa dibedakan dalam karir karena keyakinanmu yang berbeda dari mayoritas?

    Yang saya rasakan sampai saat ini nggak ada yang mempermasalahkan, Mas. Kita (TNI -DV) punya prinsip berdiri di atas semua golongan.

    Mas Thomas bersama istri
    Mas Thomas bersama istri

    Kembali ke soal ?De Britto?. Kamu akrab dengan rekan-rekan alumni?

    Akrab, Mas!
    Saya patut bersyukur kepada Tuhan dengan kemajuan media social, menemukan teman SD, SMP, SMA satu-persatu….

    Seingat saya, ikut reunian yang pertama saat masih taruna tahun 1994 lalu ikut lagi baru 2014 saat berdinas sebagai Dandim di Klaten. Bersyukur tahun lalu (2017) bisa menghadiri pesta perak alumni angkatan 1992 di MPK (Manuk Pulang Kandang, acara reuni tahunan yang digelar setiap akhir tahun –DV).

    Ngomong-omong, waktu SMA dulu kamu nakal nggak?

    Hahaha.. saya tergolong menengah, pendiam. Kurang tahu juga pendapat dan penilaian teman lain tapi kalau takaran nakal sampai miras (minuman keras) tidak, merokok tidak, berantem juga tidak hahaha?

    Harapanmu terhadap De Britto bagaimana, utamanya dalam tatanan masyarakat yang kian majemuk dan tantangan berat menghadapi isu gerakan yang mengikis kebhinekaan?

    Perlu ditumbuhkan rasa nasionalisme, Mas.

    Kalau mau direnungkan, sejatinya manusia diciptakan Tuhan adalah sepadan, setara, dan untuk saling melengkapi namun dalam kenyataannya ada yang merasa “lebih istimewa??

    Patut disayangkan ideologi negara Pancasila yang telah dirumuskan para pendahulu dan pendiri negara menjadi bias dan dianggap usang sekalangan oknum.

    Manusia menjadi berbeda karena pandangan hidupnya, pendidikan dan materi-materi yang diterimanya.

    Kamu nggak tertarik terjun ke politik?

    Saat ini mengamati saja.. Masih jauhlah. Paling tidak dalam waktu dekat, jika ada kesempatan saya pengen nyambi jadi dosen untuk pengembangan diri saja hehehe?

    Mas Thomas tepat berulang tahun ke-44 hari ini. Selamat merayakan, Mas Kolonel! Semoga rawian tulisan ini menjadi salah satu kado terbaik. Suatu hari nanti, kalau sudah jadi jenderal, tiliklah kembali laman ini.

    Tuhan memberkati!

  • Alvon: Saya tidak pernah kecewa dengan Tuhan

    Alvon: Saya tidak pernah kecewa dengan Tuhan

     

     

    Silvester Alvon Ditya Arudiskara adalah tokoh keenam dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Alvon salah satu kawan dekatku. Meski ia setahun lebih dulu masuk De Britto, kami lulus bersama-sama pada 1996.

    Pria jangkung kelahiran Yogyakarta, 16 Oktober 1977 ini adalah teman main band dan teman nongkrong yang mujarab. Mujarab? Ya! Nongkrong dengannya membuat hidup terasa lebih bergairah dari sudut pandang yang berbeda :)

    Aku tak hendak membahas terlalu tuntas tentang ?perbedaan? itu, intinya justru aku banyak belajar bahwa hidup dan penyelesaian persoalan-persoalan di dalamnya itu tak harus letter lux, sesuai aturan buku nan formal. Hidup harus dihadapi dan diselesaikan dengan memperhatikan laras, iramanya.

    Hingga kini Alvon dan istri serta kedua anaknya tetap tinggal di Jogja dan berprofesi sebagai seniman. Namanya baru-baru ini mengemuka di media-media lokal dan nasional karena gagasan emasnya nan mulia. Di rumah yang dulu adalah rumah masa kecilnya sekaligus rumah yang kerap kujadikan ?markas? untuk menghabiskan akhir pekan bersama kawan-kawan dan keluarganya, Alvon mendirikan Sanggar Seni Notoyudan.

    Alvons
    Alvons

    Sanggar ini memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk belajar musik secara cuma-cuma alias tak dipungut biaya. Ide yang brilian, bukan? Di saat gerai-gerai sekolah musik menggeber price list yang tak murah untuk peserta didik menikmati nada dan irama, Alvon justru tak mengisyaratkan satu rupiah pun pada anak-anak didiknya?

    Melalui WhatsApp, aku ngobrol dengannya beberapa waktu silam. Awalnya sangat sulit untuk bicara dengan menempatkan diri sebagai pewawancara dan ia narasumbernya karena percakapan yang begitu mengalir sejak dulu itu seolah harus terkonstruksikan sedemikian ketat.

    Hasilnya? Nilai sendirilah rawian di bawah ini yang penting? mabus bebak!

    [DV] Sebagai musisi, pernahkah kamu khawatir bahwa penghasilanmu nggak akan mencukupi keluarga?

    [Alvons] Asline yo khawatir! Mung nrimo wae? (Sebenarnya khawatir tapi ya ?diterima? saja? -DV)

    Kalau kamu masih khawatir kenapa nekat membuka Sanggar Seni Notoyudan? Kan waktumu lebih baik digunakan untuk mengerjakan hal-hal lain yang menghasilkan uang?

    Saya selalu percaya, ketika memberikan sesuatu kepada orang lain secara cuma-cuma, Tuhan akan memberi kita kembali dengan berlipat!

    Kalau ternyata Tuhan tidak memberi apa kamu akan kecewa?

    Saya tidak pernah kecewa dengan Tuhan. Disaat-saat yang genting saya selalu dilindungi. Itu yang saya percayai.

    Mantep! :) Waktu SMA dulu kamu kan cukup nakal? Titik apa yang membuat kamu berpikir untuk berhenti atau setidaknya mengurangi?

    Saya masih nakal kok hahaha??Setelah berkeluarga saya berusaha untuk tidak nakal lagi.. hahaha. Berbuat baik itu nggak harus dilakukan oleh orang yang tidak nakal, kan?

    Alvons di Sanggar Seni Notoyudan
    Alvon di Sanggar Seni Notoyudan

    Hahahaha… tempo hari kamu pernah pergi ke East Timor. Apa yang dikerjakan di sana?

    Membuat kursusan musik gratis juga bersama teman saya, Kiera Zen… Kursusan itu mendapat dukungan dari pemerintah. Awalnya semi volunteer?

    Di sana berapa lama? Apa sekarang masih berjalan?

    Dalam satu tahun saya ada di Dili selama 4-6 bulan. Team awal ada delapan orang. Terakhir kali desember tahun lalu, 2017, team pulang ke Indonesia. Entah ke depannya seperti apa belum tahu karena tergantung kondisi politik di sana.

    Bicara soal De Britto, apa yang paling kamu syukuri pernah sekolah di sana?

    Yang paling saya syukuri ada dua. Pertama, punya kepribadian yang unik hasil tempaan De Britto. Kedua, punya teman-teman alumni yang selalu mendukung ketika saya membuat sesuatu.

    Pribadi yang unik itu pribadi yang bagaimana?

    Nakal tapi bertanggung jawab, inovatif dan berbeda dengan yang lain, man for others!

    Kenapa nakal? Apa De Britto harus nakal?

    Yoben sak karepku hahaha?
    Nakal itu menurut saya lebih bebas dan indah.. seperti di dalam musik kalau nadanya nakal pasti lebih enak?

    Sanggar Seni Notoyudan
    Sanggar Seni Notoyudan

    Mimpi besarmu tentang Sanggar Notoyudan apa?

    Sanggar bisa menjadi lebih besar, punya fasilitas yang cukup untuk menampung lebih banyak siswa dan tetap gratis?

    Pemberitaan yang luar biasa tentang sanggar belakangan ini membawa efek positif?

    Iya. Banyak yang mendaftar. Selama kami masih mampu, kami kerjakan. Ada juga beberapa teman De Britto yang juga membantu memberikan donasi dan kebanyakan tidak mau disebut. Donasi tersebut kami pakai untuk membeli alat, spare part, service alat, dan membenahi tempat belajar yang rusak?

    Kenangan yang paling mengesankan antara diriku dengan Alvon adalah ketika di penghujung masa belajar kami di De Britto, bersama rekan lain, Kelik, Wicak dan Tlethong, kami nekat pergi ke Kolese Gonzaga, Jakarta. Kami diundang manggung di acara Natalan di sana. Dengan dana dan persiapan yang sangat minim serta ketiadaan ijin dari pihak sekolah, kami berangkat Jumat malam naik kereta ekonomi, Matarmaja jurusan Gambir. Duduk di bordes (pintu kereta ekonomi) yang pesing dan jorok, berbagi hisapan rokok, minuman es dalam plastik yang digenggam dan suapan nasi bungkusan yang kita bagi, sama-sama lapar, sama-sama kenyang?

    Aku secara khusus meminta Alvon membawakan Mars De Britto menggunakan biola dan berikut adalah hasilnya.

    Credit featured photo: Yohanes Maria Radianto Asmoroo

  • Handoko: Ini kerugian yang besar buat guru, murid, dan untuk Kolese de Britto

    Handoko: Ini kerugian yang besar buat guru, murid, dan untuk Kolese de Britto

    Nama Handoko Wignjowargo muncul sebagai Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kelima dari tujuh puluh yang kurencanakan. Mas Han, begitu aku memanggil, adalah alumni tahun 1983.

    Lahir di Purworejo, 8 Oktober 1964, Mas Han menuntaskan sembilan tahun pendidikan pertamanya di kota kelahiran. Lulus dari De Britto, ia pergi ke Jakarta. Kuliah di Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Tarumanegara Jakarta dan FISIP Komunikasi, Universitas Indonesia. Lepas dari sana, Mas Han menuntut ilmu hingga ke Negeri Paman Sam, mengambil gelar MBA di Wichita State University, Wichita, Kansas, USA.

    Berhenti?
    Belum!
    Tak lelah belajar, Mas Han melanjutkan studi ke Doktoral Program Strategic Management di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Aku mengenal Mas Han melalui WhatsApp grup. Sejauh yang kukenal, sosoknya supel, mulai dari mantan supir, mantan pegawai hingga walikota dan presiden pun dikawaninya. Status dan foto yang dipajang di Facebook dan Instagram selalu ramai. Ratusan orang menghujani ‘Like’ dan puluhan lainnya berkomentar yang uniknya, dibalasnya satu-per-satu.

    Tahun lalu aku berkesempatan bertemu langsung dengannya di Sydney. Perjumpaan itu membuatku berasumsi bahwa Mas Han memang layak berkibar dengan MAESTRO Consulting-Coaching-Communicating.

    Aku dan Mas Han. Kami bertemu di Sydney, tahun lalu
    Aku dan Mas Han. Kami bertemu di Sydney, tahun lalu

    Kenapa?
    Ia jago betul meneliti karakter orang. Mata dan gerak tubuhnya berobservasi, kata-kata yang dilontarkan kita rasakan benar-benar ‘tailor made’, bagai puyer yang diramu, bukan obat generik nan basa-basi.

    Beberapa hari lalu, melalui jalur Whatsapp, aku mengajak Mas Han berbincang tentang banyak hal dan berikut ini adalah petikannya?

    [DV] Apa yang paling paling menarik dalam kontribusi yang diberikan De Britto terhadapmu, Mas?

    [HW] Kolese de Britto memberikan kontribusi besar terkait dengan pembentukan kepribadian karena pada saat di Kolese de Britto adalah masa dimana sedang “mencari kepribadian”.

    Nilai-nilai seperti “a man for and with others” dan “bebas, bertanggung jawab, dan memasyarakat” memberikan warna yang signifikan dikombinasikan dengan nilai-nilai yang ditanam di keluarga dan masyarakat.

    Saya tidak bisa membandingkan dengan institusi pendidikan yang lain karena saya hanya sekolah di Kolese de Britto pada masa itu dan karena untuk setiap masa ada kontribusi masing-masing.

    Apakah itu berarti kamu merasakan kesinambungan dari SMA lalu ke kuliah? Kenapa aku tanya begini karena kadang ada yang merasa ‘kecewa’ dengan kuliahnya yang tak ‘semeriah’ masa SMA-nya di Debritto.

    Saya bersyukur selalu bisa mengambil yang terbaik dari apapun yang saya hadapi. Mungkin karena saya percaya bahwa “happiness is a decision not a situation”. Saya senang selama di Kolese de Britto, tapi saya senang juga di SMP saya (sebelumnya) dan di perguruan tinggi saya (sesudahnya).

    Kebetulan setelah lulus Kolese de Britto saya kuliah di dua tempat: di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara dan di Jurusan Ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kebetulan pula di kedua fakultas dan universitas itu jarang bertemu alumni Kolese de Britto.

    Punya guru kesayangan?

    Beberapa misalnya: Pak Kasiyo, Pak Mantri Supit, Pak Kristanto (Wakepsek), Pak Tan, Pak Pratolo, dan sejumlah yang lain.

    Saya tidak punya satu guru favorit. Dari setiap guru saya belajar dua sisi dalam kehidupan yang ada dalam setiap pribadi guru: baik dan buruk. Saya juga belajar dari sejumlah non guru seperti: Om Tong Djiet, Pak Darmo, bahkan Bob dan Man.

    Nah ini menarik. Secara umum, apa sisi buruk dari para guru itu?

    Kolese de Britto lahir dan besar bersama nilai-nilai luhur yang sengaja ditanamkan. Nilai-nilai tadi baik dan benar dan merupakan syarat yang perlu. Tetapi jaman berubah dan terus berubah, nilai-nilai itu tidak memenuhi syarat cukup.

    Ada sisi dimana guru-guru mengandalkan semata-mata nilai-nilai yang ada. Padahal perubahan yang berlangsung cepat (dan makin cepat) menuntut para guru untuk terus maju mengubah kompetensi dan cara berpikir secara terus-menerus.

    Ada guru yang puluhan tahun mengajar mata pelajaran yang sama, mengajarkan materi yang sama, dan mengajar dengan cara yang sama. Ini kerugian yang besar buat guru, murid, dan untuk Kolese de Britto.

    Kenangan unik saat sekolah di De Britto apa?

    Saya sempat mau pindah dari Kolese de Britto di semester awal. Ada “cultural shock”, biasa sekolah di bawah suster-suster yang sangat disiplin menjadi di bawah pastor-pastor Yesuit yang longgar.

    Tapi semua saya lewati dengan baik. Orang tua menganjurkan untuk melalui dulu tahun pertama. Saya lewati semester kedua, saya tetap di Kolese de Britto dan saya mencintainya sampai sekarang.

    Pendidikan De Britto bagus bukan hanya karena guru tapi juga elemen-elemen lain seperti staff-staff non guru, kawan-kawan, lingkungan. Setujukah kamu? Kalau setuju, value apa yang paling besar dibandingkan yang lainnya?

    Sebuah institusi pendidikan bagus bila stakeholder-nya semua memberikan kontribusi bukan hanya jangka pendek melainkan jangka panjang. Mereka yang terutama adalah: manajemen sekolah, guru, murid, alumni, orang tua murid, dan masyarakat. Dan itu saling kait-mengait.

    Ada titik dalam hidupmu saat kamu keluar dari ‘kerja untuk orang’ ke kerja sendiri bikin perusahaan. Pertimbangan yang paling kuat apa Mas?

    (Mas Handoko saat ini mengelola beberapa badan usaha. Selain menjadi Managing Partner di MAESTRO Consulting-Coaching-Communicating dan Senior Associate di MATE (Mitra Andalan Training Eksekutif, PT), ia juga menjadi president director di Amara Primatama (Hotel Amaris Yogyakarta), Amara Primadua (Hotel Artotel Jogja) dan Amara Primatiga (Amaris Semarang) – DV)

    Begini, selesai kuliah, saya membagi hidup saya ke dalam tiga tahapan.

    Sepuluh tahun pertama, bekerja untuk orang, menjadi eksekutif puncak, dan ternama. Sepuluh tahun kedua, bekerja sesuai hobi dan mendapatkan berkat komersial sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, tetap menjalani hobi sambil terus berbagi di bidang edukasi, sosial, dan spiritual yang bukan agama.

    Pada saat saya keluar memang pas memasuki sepuluh tahun kedua. Semua sesuai rencana bahkan setahun lebih cepat dari yang direncanakan. Itu semua karena Tuhan baik …

    Dalam sepuluh tahun ketiga yang kamu rencanakan kamu bilang mau menjalani hobi dan terus berbagi termasuk bidang spiritual yang bukan agama. Apa pembeda terkuat antara spiritual dan agama? Kenapa harus ditekankan ‘bukan agama’? Agama salah apa?

    Agama tidak salah, makanya dipeluk. Yang suka salah pemeluk agama.

    “…. aspek spiritual menghilangkan sekat-sekat formal agama …” demikian yang pemikiran Romo Mangun …

    OK. Kembali ke dunia pendidikan. Dunia memasuki transformasi teknologi dan industri 4.0. Salah satu penandanya adalah akan banyak terjadi disrupsi dalam di dunia pekerjaan. Kalau kamu jadi orang yang bisa memberikan saran pada De Britto, apa saran terbaikmu supaya De Britto bisa menyiapkan manusia-manusia yang siap menghadapi era itu?

    Menyadarkan bahwa disrupsi pasti terjadi dan pendisrupsinya tidak pasti. Untuk itu butuh yang namanya agility (kemampuan untuk mengubah cara pikir dan cara untuk mengerti secara cepat dan mudah -DV) menghadapi semuanya itu. Untuk menjadi agile harus banyak pengetahuan, skill dan attitudes dibutuhkan.

    Sepenting apa pembangunan karakter dalam pendidikan kita? Adakah itu akan mengambil peran dalam menentukan agility yang terbentuk saat peserta didik siap kerja nantinya?

    Bayangkan sebuah sepeda roda dua. Sumber kekuatan sepeda ada di roda belakangnya. Dia tersambung dengan pedal oleh rantai. Terus apa gunanya roda depan? Dia memberikan arah dan menjaga keseimbangan.

    Roda belakang yang memberi kekuatan adalah knowledge dan skill. Roda depan adalah attitudes atau sering dikatakan sebagai characters.

    Seorang yang memiliki knowledges dan skills yang tinggi tidak akan pernah sukses bila attitudes-nya salah atau bermasalah.

    Ngomong-omong, Maestro itu tentang pendidikan karakter juga?

    Leres sanget!!!
    Knowledge Skill Attitude dimixture dengan komposisi yang pas ibarat dokter memberikan obat berupa puyer. A tailor
    made solution …

    Klien-klienmu ada dari bank-bank serta brand ternama di Tanah Air. Kalau boleh tahu tarip per hari yang diterima untuk memberi sesi berapa? Konon tembus angka ratusan juta, Mas?

    Hahaha, jangan bicara angka! Angka itu relatif?Sejauh manfaat yang didapatkan dirasa lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan, maka orang akan terus menggunakan jasa kami.

    Demikian, DV!

  • Genthong: Bukan saatnya nggambleh, tapi beraksi

    Genthong: Bukan saatnya nggambleh, tapi beraksi

    Orang keempat yang kuangkat sebagai Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta adalah Carolus Borromeus Triyanto Hapsoro. Pria yang akrab dipanggil Genthong ini putra asli Jogja yang lahir pada 12 Juni 1974. Bukan kali pertama aku mewawancarai dan menayangkannya di blog ini. September 2014 silam, Genthong kuhadirkan sebagai salah satu Tokoh Muda Jogja.

    Rekomendasi dari kawan-kawan untuk memasukkan Genthong ke dalam daftar tokoh ini sebagian besar karena perannya yang dominan dalam kepanitiaan acara MPK (Manuk Pulang Kandang) 2017 silam. Acara MPK tahun lalu itu berbeda dari biasanya. Tematik dan cocok dengan keadaan kebhinekaan Indonesia terkini. Dalam acara itu Genthong didapuk menjadi dalang dan memandu acara yang salah satunya menghadirkan putri almarhum Gus Dur, Presiden IV Republik Indonesia, Alissa Wahid.

    Genthong dan Alisa Wahid dalam MPK 2017 silam
    Genthong dan Alisa Wahid dalam MPK 2017 silam. Foto dari laman pribadi facebooknya.

    Genthong adalah pribadi yang unik. Ia sutradara, ahli dalam ilmu peran tapi akhir-akhir ini sibuk juga jadi dalang wayang kulit. Ia hidup bersahaja (Thong, aku butuh waktu lama untuk memilih kata ini hahaha?) di Jogja bersama keluarganya, menggeluti seni dan budaya, tinggal di rumah yang sejak kecil ia tumbuh dan berada.

    Dalam sebuah alur wawancara yang menyenangkan nan hangat di WhatsApp, berikut di bawah ini adalah petikannya:

    [DV] Thong, kamu lebih sreg disebut sebagai sutradara atau dalang?
    [Genthong] Sutradhalang hahahaha!?Sutradara itu profesi utama sedangkan men-dalang adalah penyeimbang hidup, ben ra kenthir!

    Apa pengaruh De Britto di darah senimu?

    Kebalik! Darah seniku yang mempengaruhi De Britto waktu itu dan di MPK 2017 kemarin!

    Hahahaha! Pede banget!

    Aku tiga kali menyabet penata musik terbaik Festival Teater antar-SMA se-DIY. Dan sepertinya itu pertama kali penataan musik teater De Britto-Santa Maria (SMA Santa Maria –DV) menggunakan gamelan. Minimal mempengaruhi jumlah piala di sekolahan.

    Sekarang pialanya masih ada di De Britto?

    Ada, walaupun ditaruh di paling bawah hahaha?

    Tapi masa sih nggak ada pengaruh De Britto ke kamu?

    Ada. De Britto membuatku lebih berani berekspresi dan eksperimen. Sampai sekarang.

    Apakah pola pendidikan di De Britto saat itu sudah memfasilitasi siswa yang memiliki talenta seni sepertimu?

    Sudah. Lha wong dulu itu siswa boleh nginep di sekolahan walaupun dho micek neng aula hahaha? Biasanya hal ini dilakukan ketika mau persiapan festival teater. Membangun setting dan lain sebagainya?

    Genthong saat menjadi dalang 'Wayang Guru' pada acara MPK 2017 silam
    Genthong saat menjadi dalang ‘Wayang Guru’ pada acara MPK 2017 silam.?Foto dari laman pribadi facebooknya.

    MPK 2017 yang lalu sukses berat. Peranmu di sana jadi apa?

    Kreator.
    Penggagas ide wayang guru.
    Membuat naskah dibantu Clink (rekan seangkatannya, De Britto 1992 -DV) dan urun rembug dari kawan-kawan lainnya.

    MPK 2017 kemarin berbeda dari MPK-MPK sebelumnya. Ada ?rundingan? apa di kawan-kawan panitia dari angkatan 1992 hingga jadi acara yang ciamik?

    MPK 2017 dibuat berbeda karena angkatan kami ingin membuat statemen menyangkut kebangsaan dan supaya ada variasi bentuk acara MPK nggak hanya 3M: Misa, Mangan (makan), Misuh-misuh.

    Tapi secara tak langsung, kesuksesan kemarin membuat ?standard? pelaksanaan MPK di tahun-tahun berikutnya lebih tinggi lagi lho?

    Hehehe, kami tidak berpikir ke situ. Kalau angkatan-angkatan berikutnya yang akan jadi panitia MPK mendatang mau kembali ke format 3M ya tak masalah. Bebas!

    Bicara soal tema yang diangkat di MPK lalu, kebangsaan dan kebhinekaan, menurutmu apa yang bisa dilakukan De Britto sebagai institusi pendidikan dalam iklim sosial masyarakat yang bergolak seperti sekarang ini?

    Terjun langsung!
    Jangan kebanyakan sarasehan atau diskusi. Bukan saatnya nggambleh, tapi beraksi. Bukan saatnya menebar wacana tapi ajur-ajer dengan masyarakat!

    Orangtua dan leluhurmu orang-orang seni juga?

    Iya.
    Alm. Bapak alumni De Britto, menguasai hampir seluruh alat musik, dan bisa nyanyi. Ibuku, lulusan Stece (Stella Duce 1 -DV) juara dua bintang radio tahun 60-an. Waktu itu juara satunya Pranawengrum Katamsi. (Pranawengrum Katamsi sering disebut sebagai ?Ibu Seriosa Indonesia?, istri Amoroso Katamsi yang seorang bintang film, ibu kandung Aning Katamsi -DV).

    Kalau anakmu punya talenta seni apa kamu tetap akan menyekolahkannya ke De Britto dan memiliki harapan sama bahwa di sana juga masih memfasilitasi pendidikan seni?

    Bagiku, talenta seni bisa berkembang di manapun. Nek masalah disekolahke JB (De Britto -DV) atau nggak, murni pertimbangan finansial. Larang soale hahahaha?

    Foto dari laman pribadi facebooknya.
    Foto dari laman pribadi facebooknya.

    Bicara soal larang/mahal, apa hal itu karena kamu kerja di bidang seni sementara kalau kerja di bidang lain kamu tak akan mengalami masalah finansial?

    Lebih baik aku Aku mengeluh soal finansial daripada kejiwaan. Banyak orang stress gara-gara pilihannya. Kalau masalah finansial itu relatif karena orang nggak mengenal kata cukup.

    Aku nggak memilih seni tapi memang kuyakini inilah jalan hidupku. Kalau memang aku diberi jalan di bidang non-seni, dulu kuliahku pasti sudah selesai. (Genthong sempat kuliah di Institut Manajemen dan Bisnis Indonesia serta D3 Broadcasting UGM, keduanya tak tuntas -DV).

    Kawan-kawan seangkatanmu banyak yang sudah meraup sukses kalau takaran sukses itu adalah harta kekayaan dan jabatan. Kamu pernah mikir menyesal memilih jalur seni?

    Ndak menyesal. Untuk apa disesali? Lha wong saya dan keluarga happy-happy saja menjalani ini semua.

    Simak pesan Genthong nan lucu dan unik tentang ke-debritto-an dan hidup serta cara menjalaninya di bawah ini:

    https://www.youtube.com/watch?v=IiS1B7N3BTg

    Foto utama disediakan oleh Genthong

     

     

  • AA Kunto A: Dikiranya aku bisa tahu yang akan mati siapa lalu kudatangi. Hahaha?

    AA Kunto A: Dikiranya aku bisa tahu yang akan mati siapa lalu kudatangi. Hahaha?

    Aku mengenal Albertus Agung Kunto Anggoro sejak aku mengenal SMA Kolese De Britto, pertengahan 1993 di Yogyakarta. Ia kawan seangkatan dan sama-sama duduk di kelas yang sama di tahun pertama di kampus yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto 161 Yogyakarta itu.

    Perkawananku dengan Kunto berlangsung hingga kini, 25 tahun sesudahnya. Usang? Lawas tepatnya! Tapi persinggungan demi persinggungan hidup meremajakannya sehingga layaklah aku menyebut orang yang tenar sebagai penulis, trainer hingga ?juru layat? di kalangan alumni SMA Kolese De Britto itu sebagai teman dekat.

    Ialah orang yang bersama Teddy Wintoko, sesama alumni seangkatan juga, yang mewakiliku hadir dalam ulang tahun Mama yang terakhir, 25 Februari 2016, dua minggu sebelum Mama akhirnya berpulang ke Rumah Bapa. Ia pula yang bersamaku dan Teddy Wintoko serta ?seorang lain yang akan kuceritakan nanti? yang juga alumni De Britto menjadi dewan komisaris perusahaan kami,?PT Jalin Nusa Oceania.

    Jalin Nusa Oceania
    Sendang sono…ki-ka: Kunto, Aku, Teddy

    Tapi bukan karena kelekatan-kelekatan itu yang membuat pria kelahiran Sleman, 15 November 1977 itu hadir dalam bacaan ini. Ada puluhan yang menginginkannya muncul dalam deretan serial Tujuh Puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kugeber sejak beberapa minggu silam.

    Kunto memang layak ditokohkan. Alumni lintas generasi mengenalnya dengan baik dan untuk itulah aku mewawancarainya melalui jendela WhatsApp beberapa waktu yang lalu.Simak wawancaraku dengannya di sini?

    [DV] Kenapa kamu dikenal jadi ?Juru Layat? di kalangan para alumni De Britto, Kun?

    [Kunto] Ndilalah, beberapa manuk (sebutan untuk alumni) yang aktif di grup-grup ke-debritto-an kerap menjumpaiku saat layat (perkabungan). Ndilalah lagi, layatku ?jauh?. Saat di Bali ada yang meninggal di sana (Kristupa Saragih. Kunto adalah salah satu alumni yang ikut sibuk mengurusi perkabungan Kristupa yang meninggal di Pulau Dewata pertengahan tahun 2017 silam -DV) Pas di Cikarang ada yang meninggal juga (Deddy Indracahya – kawan alumni seangkatan kami juga -DV). Dikiranya aku bisa tahu yang akan mati siapa lalu kudatangi. Hahaha?

    Nilai apa yang paling kuat kamu dapatkan selama studi di De Britto?

    Secara pribadi: ukur bajumu sendiri! Aku tidak kuat dan minat di bidang akademik. Lebih ke menulis. Ya aku kuatkan dan fokusi di situ saja. Niscaya berhasil. Dan itu kulakukan sehingga tidak perluminder pada mereka yang ?mletik uteke? di bidang akademis.

    Secara sosial: paseduluran (persaudaran -DV). Dimana-mana ada teman, siapa saja akrab.

    Kamu menulis sejak di De Britto atau sebelumnya?

    Sejak SD sudah senang mengarang. Pernah ikut lomba di tingkat kabupaten meski nggak menang.

    SMP juga sudah suka menulis dan korespondensi. Waktu itu tiap penulis di majalah anak/remaja yg mencantumkan alamat kukirimi surat. Kuajak kenalan. Sebagian membalas dan jadi sahabat pena.

    Bahkan iseng-iseng dulu aku kirim surat perkenalan ke “Ketua Kelas 1A SMP 1” di beberapa kota/kabupaten secara acak. Keyakinanku: setiap kabupaten pasti ada minimal 1 SMP. Di setiap SMP pasti minimal ada 1 kelas. Dan kenapa ketua kelas? Ya karena aku belum kenal namanya.

    Saat di De Britto aku mendapat penguatan. Kuingat dipanggil Bu Detty (Guru BP/BK) di ruang BP. Kami diskusi. Aku diajak melihat passionku sampai Bu Detty bilang, “Tekuni menulismu.” Dan itu kulakukan.

    Satu hal yang kuingat dari Kunto. Suatu saat di kelas satu SMA, ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Akibatnya tak masuk sekolah hingga kira-kira dua bulan. Tapi justru di saat ia beristirahat untuk memulihkan kondisi, ia menang lomba resensi kalau tak salah di tingkat kabupaten -DV

    Jalin Nusa Oceania
    Rapat Umum Pemegang Saham PT Jalin Nusa Oceania yang pertama…

    Apa pengaruh terbesar De Britto dalam karir menulismu?

    De Britto mempengaruhi “keseimbangan” dalam menulis.?Diajar oleh Pak Parto alm. dan Pak Hengki (keduanya guru Bahasa Indonesia) melandasi dasar-dasar berpikir logis dan runtut. Bahwa berbahasa dan berkomunikasi itu kompleks. Jika tak benar-benar menguasai bisa njempalik atau bikin penerima pesan njempalik.

    Diajar Pak Kartono (guru Bahasa Indonesia) membakar keberanian menulis, sesederhana apa pun. Sepele ora popo. Tulis wae.

    Jadi, kalau dalam Spiritualitas Ignatian ada lingkaran aksi-refleksi, di dalam tulis-menulis adalah ekspresif-reflektif. Barang sepele itu bisa bermacam-macam jika diurai. Sebaliknya, serumit-rumitnya apa pun itu sebenarnya sederhana. Nah, kapan membuat yang rumit kapan yang simple itulah “senam otak” yang kurasa kudapat sebagai bekal di De Britto.

    Sebagai alumni, menurutmu apa sih kunci kekuatan De Britto sehingga amat berkesan bagi sebagian besar alumni-alumninya?

    Dalam ?bahasa kita? ya paseduluran, persaudaraan. Dalam ?bahasa zaman now?, konektivitas. Secara manusiawi ini modal yang bagus sekali. Yang perlu ditambahi adalah ?kontennya?. Bagaimana terhubung secara profesional dengan prestasi yang fenomenal.

    Fenomenal?

    Fenomenal tidak berarti harus terkenal tapi yang penting pantas dicatat sejarah karena berguna bagi sesama.

    Bicara soal julukan, banyak yang menjuluki kamu penulis, coach, juru layat? Mana yang benar?

    Dijuluki apa aja aku nurut lha bener semua hahaha?Tapi kalaupun keliru ya nggak papa?

    Bicara soal kumpul-kumpul alumni, Kun. Ekspektasimu apa? Adakah kamu setuju denganku bahwa inti dari kumpulan alumni sudah tak lagi hanya ?guyub? tapi sudah sesuatu yang terlampau serius?

    Inti utamanya mungkin benar dan aku setuju: guyup. Tapi bahwa kemudian muncul kebutuhan dan kesepakatan lebih, itu baik. Artinya, tiap komunitas bisa mengembangkan sesuatu sesuai dinamika masing-masing.

    Superb! Wah, kayaknya kamu cocok jadi presiden alumni selanjutnya, Kun! Gimana?

    Mohhh! Hahahaha!
    Ukur baju: aku bukan organisatoris. Aku pelebur/organis. Senang guyubnya tak senang organisasi dan administrasinya. Hahaha?

    Menurutmu sosok presiden mendatang yang bagus itu yang seperti apa?

    Sesuai pesan Paus: “Orang katolik jangan takut berpolitik” maka kita butuh presiden alumni yang politisi atau sekurang-kurangnya orang politik.

    Simak tulisan-tulisan pendukung di sini:

  • Kristupa Saragih (alm): Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan

    Kristupa Saragih (alm): Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan

    Setelah alm. Krisbiantoro, tokoh kedua yang kuangkat dalam serial Tujuh Puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto adalah alm. Kristupa Wicaksono Saragih. Lahir di Jambi, 18 Desember 1976, Kristupa, begitu ia akrab disapa meninggal dunia di Bali, 8 Juli 2017, setelah beberapa hari sebelumnya terserang stroke.

    Krisbiantoro, almarhum.
    Kristupa, almarhum.
    Tahukah kalian bahwa keduanya ternyata masih kerabat jauh?

    Meminjam ‘kuas’

    Adapun ?menulis? Kristupa, alumni angkatan tahun 1994 itu bukanlah perkara mudah. Awalnya aku kesulitan menemukan angle tulisan yang berbeda dari sosok yang sama setelah tahun lalu, sesaat setelah ia meninggal, aku menuliskan obituari tentangnya di sini.

    Tapi setelah berpikir, ide pun kudapat.

    Aku ?meminjam kuas? untuk melukis. ?Kuas? pertama ?kupinjam? dari Pittor Saragih, adik kandung Kristupa. Pittor adalah kawanku seangkatan di SMA Kolese De Britto. Aku menanyainya tentang bagaimana Kristupa ?mengenal? De Britto dan bagaimana ia mengenalkan De Britto kepada Pittor sehingga kakak-beradik itu masuk De Britto berselisih dua tahun.

    ?Kuas? kedua adalah melakukan wawancara imajiner. Metode ini biasanya dipakai para penulis ketika mewawancarai tokoh yang sudah meninggal dunia. Biasanya, mereka membayangkan bagaimana tokoh akan menjawab saat diberi pertanyaan.

    Tapi metode wawancara imajinerku berbeda.?Alih-alih membayangkan, aku membiarkan Kristupa ?menjawab? sendiri pertanyaan-pertanyaanku. Caranya? Aku mencari statement-statement yang pernah dilontarkan Kristupa terkait De Britto. Dari situ aku lantas membuat pertanyaan-pertanyaan dan menempatkan statement-statement tersebut sebagai jawaban.

    ?Kuas? ketiga adalah video wawancara yang pernah dilakukan Haryo Bimo Utomo, adik kelasku di De Britto, dengan Kristupa hanya beberapa hari sebelum Kristupa terserang stroke lalu meninggal dunia di Bali.

    Tanpa panjang lebar lagi, mari kita cermati ?lukisan? Kristupa, sosok besar dalam dunia fotografi Indonesia, orang yang bersama Valens Riyadi mendirikan FotograferNet pada 2003 yang lalu.

    Kris, kalau kamu selalu bilang ?Biar Foto yang bicara? sekarang ijinkan aku bilang ?Biar tulisan dan video ini yang bicara.? Rest well and peacefully up there, Bro!

    Wawancara Pittor Saragih

    Kristupa saat SMA. Foto: koleksi keluarga
    Kristupa saat SMA. Foto: koleksi keluarga

    [DV] Kenapa Kristupa dulu memutuskan masuk ke De Britto? Siapa yang memperkenalkan sekolah itu kepadanya?

    [Pittor]?Alasan persisnya apa, aku tidak ingat betul. Tapi barangkali awal perkenalannya karena kedua orang tua kami lulusan UGM dan tahu tentang de Britto.

    Almarhumah mama kandung kami berkerabat (jauh) dengan Om Kris Biantoro. Mama pernah bercerita sedikit tentang Om Kris dan sekolahnya. Tidak banyak yang diceritakan dan tidak banyak juga yang bisa saya ingat. Mama dipanggil Tuhan di awal tahun 1989.

    Apa ada ‘pengaruh Kristupa’ sehingga kamu juga masuk De Britto?

    Pasti! Tapi bukan karena perkataannya (interaksi kami tidak banyak dalam bentuk kata-kata), tetapi lebih kepada perubahan sikap, kedewasaan, dan pola pikirnya. Kemandirian dan rasa tanggung jawab terhadap pilihan-pilihan (hidup) yang diambilnya semasa sekolah di De Britto – meskipun seringkali itu berbeda dengan keinginan orang tua – mendorongku untuk berkata, ?Saya sendiri harus menikmati pendidikan de Britto”.

    Apa pengaruh terkuat pendidikan De Britto terhadap perjalanan hidup Kristupa?

    Pendidikan de Britto telah menjadikan dia sebagai pribadi yang disiplin dan penuh tanggung jawab. Semalam apapun dia tidur, jam bangun pagi harinya selalu konsisten. Apa yang sudah menjadi komitmen dan dijanjikan kepada orang lain, sedapat mungkin pasti ditepati. Pendidikan de Britto menjadikan dia tumbuh menjadi orang dengan determinasi dan persisten. Mudah berempati, berbela rasa, dan berbagi, tanpa melihat latar belakang orang lain. Itu terbukti dengan begitu banyak dan beranekaragamnya latar belakang teman yang ia miliki.

    Pittor dan Kristupa. Foto: Koleksi pribadi Pittor Saragih
    Pittor dan Kristupa. Foto: Koleksi pribadi Pittor Saragih

    Kristupa bahkan sejak di De Britto adalah seorang yang ?besar?. Pernahkah kamu merasa canggung ada di dalam bayang-bayang kebesaran namanya itu?

    Ada satu pertanyaan yang tidak akan pernah terlupakan pada saat aku diwawancara tes masuk de Britto: “Apakah kamu nanti disini mau jadi seperti Kristupa?”. Pertanyaan yang memiliki ramifikasi cukup ‘kompleks’ pikirku saat itu.

    Mencoba untuk “bijak”, aku menjawab, “Tidak. Dia adalah dia. Saya adalah saya.” Jawaban yang kemudian dari perjalanan selama satu tahun bersama dia di de Britto (dia kelas 3, saya kelas 1), terbukti. Dia adalah dia, saya adalah saya. Bisa dibilang tidak ada irisan kegiatan apapun selama kami berdua di de Britto, baik di sekolah maupun luar sekolah. Dia juga seolah ‘membiarkan’ saya untuk menikmati dan belajar langsung kehidupan di Yogya dan de Britto, sendiri.

    Tapi dia tetap peduli denganmu?

    Ya! Saya tetap bisa merasakan dia ‘menjaga, mengamati, dan memperhatikan’ dengan caranya. Itu cara dia, mendidik saya untuk hidup gigih dan bertanggung jawab. Tidak bergantung pada orang lain (atau bahkan menyusahkan), meskipun orang itu adalah saudara/keluarga sendiri. Sama seperti nilai yang dia dapatkan selama di de Britto.

    Wawancara Imajiner DV

    Kristupa Saragih
    Kristupa Saragih

    [DV] Kamu motret sejak di De Britto, Kris?

    [Kristupa Saragih] Menjadi serius saat sekolah di SMA Kolese De Britto di Yogyakarta dan bergabung di kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik.

    Masih duduk di bangku SMA pada 1992, Majalah Hai memanggil saya bergabung sebagai koresponden di Yogyakarta. Karena majalah remaja terbesar di Indonesia itu menuntut reporter piawai memotret, maka saya pun serius menggeluti fotografi. Waktu itu, memotret masih memakai kamera pinjaman dan lensa pinjaman.?Sumber: Exploring The Dynamics of?Photography

    Bagaimana ceritanya kamu bisa ?masuk? ke HAI?

    Saya masuk ke Hai menggantikan koresponden Dino Martin, kakak kelas di SMA Kolese De Britto.

    Tugas pertama dari Hai untuk saya adalah menulis features Akademi Teknologi Kulit di Yogyakarta untuk rubrik Ke Mana Setelah SMA. Tulisan pertama itu dimuat bulan Juli 1992.?Tugas selanjutnya adalah menulis profil Sekolah Menengah Musik Yogyakarta.?Sumber: Sumber: Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000?#hai35?

    Salah satu hal yang paling kamu syukuri dari bersekolah di De Britto apa?

    Saya juga beruntung bersekolah di SMA Kolese De Britto yang menganut paham pendidikan bebas. Menunaikan tugas jurnalistik tak gampang bagi siswa SMA, lantaran kadang-kadang harus keluar di jam sekolah. Untunglah pamong-pamong di SMA Kolese De Britto amat mendukung dan mengerti. Waktu saya SMA, ijin saya mintakan ke Rm T Krispurwana Cahyadi SJ, yang dulu masih Frater. Dukungan ini ada juga karena Romo Pamong Rm E Baskoro Pudji Nugroho SJ.

    Waktu bersama Hai adalah salah satu periode penting dalam hidup saya. Jika ada dana dan personil, serta waktu memungkinkan, ingin rasanya menghidupkan kembali Pesta Pelajar yang pernah harum oleh Hai. Saya juga menyimpan kerinduan untuk ikut serta dalam kegiatan pers abu-abu, yang pernah mendidik saya dahulu dan membentuk saya hingga seperti saat ini.?Sumber: Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000?#hai35?

    Ada pengalaman unik saat motret dan kamu sekolah di De Britto?

    Tahun 1992 saya dapat tugas menulis profil SMA Van Lith di Muntilan, sekitar 45 menit arah utara Yogyakarta, saya pergi sendiri menunggang GL 100. Pulang dari Muntilan, hujan mengguyur di jalan, dan sepatu saya satu-satunya jadi tabung air hujan. Untung SMA Kolese De Britto membebaskan siswa untuk memakai sepatu sandal ke sekolah.?Sumber: Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000?#hai35?

    Apa peran De Britto dalam karir fotografimu?

    Sejak SMA saya terdidik secara alami untuk tak terkendala dengan keterbatasan. Tak punya lensa tele atau lebar, saya cari pinjaman teman. Butuh liputan dengan mobil, saya pun cari pinjaman, karena untuk sewa pun tak cukup uang. Keterbatasan waktu sejak SMA berlanjut hingga kuliah di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, yang bahkan lebih amat sangat terbatas. Keadaan membuat saya terbiasa tak punya waktu luang.?Sumber: Kisah Koresponden Majalah Hai 1992-2000?#hai35?

    Wawancara Haryo Bimo Utomo

    Beberapa waktu setelah Kristupa meninggal dunia, keluarganya memutuskan untuk memberikan koleksi buku-bukunya kepada perpustakaan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Aku bertanya pada Pittor apakah Kristupa memang memberikan wasiat seperti itu?

    Kawan yang kini bermukim di Singapore bersama keluarganya itu menjawab, ?Gak juga. Tapi karena kami “tahu” Kristupa lebih senang jika barang-barang yang dia punya memberikan manfaat buat sesama (maka kami menghibahkan buku-bukunya untuk De Britto –dv)?.

    Bagi Tuhan dan bangsaku,

    DV,
    Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta 1996