Kategori: Summer in july

  • Summer in July: Tanah air, mana ada yang tak cinta padanya? (HABIS)

    Summer in July: Tanah air, mana ada yang tak cinta padanya? (HABIS)

    Malam itu, 2 Agustus 2012.
    Setelah bertemu dengan Femi, kawan yang kutemui paling akhir dalam rangkaian liburan Juli kemarin, aku masuk ke dalam gedung check-in, terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

    Waktu menunjuk pukul 20:45 WIB ketika pada akhirnya aku melewati gerbang imigrasi, menyetempelkan passport pada petugas imigrasi yang malam itu tampak seperti kebanyakan petugas lainnya; bertampang serius.

    Berakhir sudah liburan ini.

    Aku tersenyum. Stempel keluar dari satu negara yang ditorehkan imigrasi selalu kujadikan tanda bahwa meski aku masih ada di tanah negeri itu, secara formal aku telah keluar daripadanya, telah tak ada.

    Berakhir sudah liburan ini.
    Selama nyaris sebulan penuh pada akhirnya aku merasakan Indonesia secara langsung, tak imitatif, bukan ‘katanya’, tak melalui tayangan televisi, timeline di Twitter, riuh di facebook dan tulisan-tulisan di blog teman.

    Selama itu pula aku benar-benar merasakan musim panas yang multidimensi, baik itu dalam dimensi yang sebenarnya karena Indonesia lebih panas dari Australia yang saat ini sedang mengalami musim dingin, maupun musim panas dalam arti yang ‘lainnya’ bahwa kehangatan dan termasuk di dalamnya adalah keunikan yang terjadi selama masa itu adalah rupa-rupa yang menyenangkan khas musim panas.

    Di dalam ruang tunggu, karena aku pulang seorang diri sementara anak dan istriku masih memperpanjang libur hingga pertengahan Agustus, aku memilih duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan landasan pacu pesawat.

    Setiap pesawat yang tinggal landas, kepadanya aku selalu bertanya, adakah para penumpang di dalamnya mendapatkan kesan yang sama-sama indahnya dengan milikku terhadap Indonesia?

    Adakah perasaan mereka tertambat di negara kepulauan ini? Adakah niatan untuk kembali pada suatu waktu pada sebuah kesempatan walau apapun kan terjadi untuk kembali mereguk ‘musim panas’ mereka di sini, di Indonesia ini?

    Lalu tiba-tiba pengumuman yang tersiar melalui speaker dengan lantang mempersilakanku untuk masuk ke dalam lambung pesawat yang akan menerbangkanku ke Sydney.

    Aku mendapat tempat duduk tak terlampau belakang, bersebelahan denganku adalah seorang bapak-bapak, Indonesianis pula.

    Ah, mana ada anak bangsa yang tak mencintai tanah airnya selain mereka yang mengutukkan diri sendiri?

    Setelah membereskan semua isi bagasi akupun duduk, sementara mataku tetap tertuju keluar memandang pemandangan yang menggelap.

    Sesaat kemudian mesin pesawat dinyalakan, pilot memberi aba-aba untuk terbang dan dalam beberapa menit kemudian, laju pesawat kian kencang dan kurasai aku dibawanya terbang.

    Mataku tak kupalingkan sama sekali dari jendela dan di bawah kulihat ada ratusan bahkan mungkin ribuan hingga jutaan lampu Jakarta menghiasi malam. Kota yang menjengkelkan tapi sekaligus menyenangkan, karena bagaimanapun juga ia adalah bagian dari Indonesia, tanah airku yang tercinta. Ah, mana ada anak bangsa yang tak mencintai tanah airnya selain mereka yang mengutukkan diri sendiri?

    Pemandangan itu kian lama mengecil dan mengabur di sela awan-awan yang terlewati di bawah sana.

    Kututup jendela kabin dan kuarahkan pandangku pada monitor televisi dan sebelum memilih film-film yang hendak kutonton untuk membunuh waktu selama perjalanan, kulihat layar informasi mengabarkan bahwa ketika mendarat di Sydney keesokan harinya, suhu maksimum hanyalah sembilan derajat celcius dinginnya.

    Aku terkesiap, serta merta aku berdiri dan membuka bagasi kabin, kepada orang yang duduk di sebelahku kuucapkan maaf, “Maaf Pak, saya lupa ambil jaket saya…” Ya, musim dingin telah kembali tiba, suka tidak suka.

    * * *

    Keesokan harinya, pesawat tiba di Sydney sesuai jadwal dan aku sampai di rumah dengan selamat.

    Setelah berbenah sana-sini, aku lantas memutuskan untuk mandi air panas sekadar melepas lelah sekaligus membalut hawa dingin dengan kehangatan.

    Sebelum mandi, kuluangkan waktu duduk di atas toilet, mengosongkan pikiran dan bersyukur atas segala yang telah kulalui.

    Kuambil iPhoneku, kupandangi foto-foto yang kuambil selama liburan satu per satu. Ada rasa rindu yang luar biasa terhadap Indonesia meski baru semalam aku meninggalkannya.

    Rasa rindu yang khas hadir setiap usai libur tiba, yang kuyakin akan menipis lama-lama dan akhirnya menetap sebagai satu penduduk di hati…

    Tak sadar mulutku bernyanyi, lagu sederhana yang kusukai bahkan sejak aku belum pernah berpikir untuk hidup di luar Indonesia. Tentang sesuatu yang meyakinkanku untuk selalu kembali ke Indonesia, karena di sanalah tanah airku dimana kampung halamanku berada, di tempat diriku berawal mula…

    Hey, mau dengar seperti apa lagu yang kunyanyikan?
    Putar video di bawah ini!

    Merdeka!

    http://youtu.be/fhWbhGOjzL4

  • Summer in July: Bagaimana mereka menilai kemajuan sebuah negara?

    Summer in July: Bagaimana mereka menilai kemajuan sebuah negara?

    Siapa bilang negara maju itu lebih maju segala-galanya dibanding negara dunia ketiga?

    Pada suatu siang saat liburan kemarin, seorang kawan lama, sebut saja Ariana namanya, menelponku. Setelah berbasa-basi kabar lengkap dengan pertanyaan, “Kapan mampir ke tokoku?!”, berikut adalah petikan yang menurutku menarik dari percakapan itu.

    “Kamu di Jakarta kemana aja, Don?”
    “Wah, mau kemana lagi Yan, kalau ndak di rumah ya di mall!”

    “Lho?”
    “Lha kemana lagi? Macetnya edan-edanan gini? Panas! Polusi!”

    “Hehehe iya sih, tapi apa ngga bosen tho dengan mall-mall Jakarta? Kan kecil-kecil tho, gak kayak di Sydney?”

    “Wah, kamu salah, Yan! Mall di Sydney itu gak ada apa-apanya dengan yang ada di Jakarta?”

    “Ah moso?”

    Mall di Sydney itu ukurannya lebih mini dibanding dengan beberapa mall kelas atas Jakarta.

    Yup! Dia salah! Mall di Sydney itu ukurannya lebih mini dibanding dengan beberapa mall kelas atas Jakarta.

    Mall di Sydney CBD (pusat kota) misalnya, menurutku yang terbesar hanya dua, QVB (Queen Victoria Building) dan Westfield di Pitt St. Itupun tak megah dalam artian makan tempat yang sangat luas seperti mall-mall di Jakarta yang kusebutkan di atas, koleksinya pun juga bisa dibilang hampir semua merk ada dijual di mall-mall besar di Jakarta.

    Bahkan kalau mau lebih mendetail lagi membicarakan tentang perbedaan Jakarta dan Sydney sebagai sesama kota besar di dunia, kalian yang ?anak mall? pasti tahu lah betapa telah menyebarnya outlet-outlet ZARA di mall-mall besar di Jakarta sejak beberapa tahun silam. Tahu kalian kapan pertama kali ZARA buka outlet di Sydney? April 2011 silam!

    See! Terbukti kan dalam hal mall dan ?hal begini-beginian?, Jakarta jagonya!

    Tapi cerita di bawah ini semoga tidak mengurangi rasa kagumku pada Jakarta terhadap hal yang kuceritakan tadi.

    Jadi, karena istriku perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk kandungan anak kedua, kami lalu pergi ke sebuah rumah sakit terkemuka di kawasan Jakarta Utara, sebut saja XYZ namanya.

    Setelah mendaftar untuk pemeriksaan, kami diminta untuk pergi ke kasir yang letaknya sekitar 10 meter dari loket pendaftaran. Antrian tidaklah terlalu banyak, dan tak sampai beberapa menit kemudian kami telah duduk di depan kasir.

    Sebelah-menyebelah dengan kami adalah sepasang suami-istri yang dilayani kasir lainnya.?Sejak awal aku tak mengikuti apa yang diperbincangkan antara si istri yang duduk di sebelahku dengan kasir (sementara sang suami akhirnya duduk ke belakang).

    Tapi dari gelagat bahasa tubuh serta wajahnya, ada sesuatu yang menarik bagiku untuk meruncingkan telinga dan memicingkan syaraf ke-kepo-anku untuk mencari tahu, “What?s going on!??”

    Tak sampai lima menit kemudian, kuketahui demikian jalan ceritanya kira-kira:

    Si suami-istri itu sedang memeriksa (entah siapa yang sakit aku tak berhasil menangkap pasti).

    Dari proses pemeriksaan dan penebusan biaya obat, ia harus membayar 1.3 juta rupiah.

    Rupanya si suami-istri itu tak punya uang dan meminta keringanan. Tapi apalah daya seorang kasir, ia pun tak bisa meluluskan permintaan tersebut.

    Sang istri akhirnya memutuskan, setelah berdiskusi dengan suaminya, untuk meminta kopi-an resep dan akan mencari jalan lain untuk menebus obat di tempat lain.

    Dalam perjalanan pulang, di tengah kemacetan yang seakan tiada habisnya, aku tiba-tiba dihadapkan pada wajah memelas suami-istri tadi dalam lamunan.

    tubuh kedua direktur itu kian lama kian membesar setiap sepasang suami istri menyelipkan uang di sakunya.

    Aku membayangkan kedua suami istri itu sebagai entitas yang mungil dan tiba-tiba datang sosok direktur rumah sakit dan direktur salah satu mall terbesar di Jakarta. Keduanya bertubuh tambun.

    Pada setiap pasang mata para direktur itu berbinar-binar keemasan dan tanda dollar di dalamnya mirip di film-film kartun-kartun itu.

    Anehnya, tubuh kedua direktur itu kian lama kian membesar setiap sepasang suami istri menyelipkan uang di sakunya. Pada saat yang bersamaan, tubuh suami-istri semakin mengecil.

    Karena saking besarnya, mereka, para direktur yang sekarang jadi super tambun itu lantas menghimpit sang suami-istri dan akhirnya meledak.

    Ledakannya memusnahkan suami istri dan semuanya yang ada di sekitarnya lalu uang-uang yang diselipkan tadi berhamburan dan diterima oleh banyak direktur-direktur baru yang masih kecil. Dan peristiwa itupun berulang-ulang.

    Kawan, lamunanku mungkin sangat absurd, tapi itu benar-benar terjadi dalam benakku sore itu.

    Bayangan tentang direktur mall yang tambun mungkin banyak dari kalian setuju karena mall memang identik dengan keuntungan uang, uang dan uang.

    Tapi bayangan tentang direktur rumah sakit harusnya tak tampil seperti itu.

    Ia barangkali lebih cocok tampil dalam bayangan seorang yang kurus, bersahaja dan kalau perlu lengkap dengan tanda-tanda agamis, sesuatu yang kalian suka.

    Ya, karena ia seharusnya menjadi direktur para malaikat penyayang jiwa.?Tapi sayang, semakin lama, dengan semakin banyaknya alasan untuk menjadikan rumah sakit sebagai sebuah tempat usaha dan kesehatan sebagai komoditi, si kurus nan bersahaja itu lama-lama menjadi tambun dan menjabat peran sebagai direktur rumah sakit yang komersial yang alih-alih membela dan menyembuhkan yang lemah, telah menjadi penghisap yang lemah dan sakit, masalah sembuh tidaknya, nanti dulu.. atau kalau mau lebih halusnya, “Hidup mati dan sehat sakit di tangan ? Yang Di Atas” sambil menunjukkan tangan ke atas dan mata yang seolah teduh.

    Maka, tak salah kan lamunanku tentang dua direktur yang tambun tadi?

    …ketika semua hal itu terjadi, dimana ?negara? berada dan berposisi?

    Yang kadang mengusikku, adalah ketika semua hal itu terjadi, dimana ?negara? berada dan berposisi?

    Dimana negara ketika komersialisme di segala bidang telah membawa generasi ini ke arah hedonis yang merasa nyaman hadir dalam sejuknya AC di mall-mall raksasa itu?

    Dimanakah negara ketika melihat sosok suami-istri tak mampu membayar 1.3 juta untuk menebus obat dan ongkos periksa?

    Adakah mereka peduli? Maaf, kuulangi, adakah mereka telah benar meletakkan kepedulian mereka? Bukan untuk mereka yang telah kaya untuk menjadi semakin kaya, tapi untuk si miskin yang sebenarnya mereka tak butuh menjadi kaya, dalam konteks suami-istri tadi, mereka sebenarnya hanya butuh sehat saja?

    Kenapa sehat harus mahal dalam sisi pembiayaan sementara begitu banyak uang dihambur-hamburkan untuk dimaling bersama-sama?

    Ah, kemajuan suatu bangsa pada akhirnya jatuh pada pandangan relativitas sosok penguasa. Bagi sebagian penguasa, barangkali memang kesejahteraan rakyat secara merata lengkap dengan penanganan kesehatan yang ramah biaya adalah satu pencapaian kemajuan sementara di bagian dunia lain, kemajuan negara ditunjukkan pada seberapa banyak orang bisa berdecak kagum atas pembangunan-pembangunan simbol kemutakhiran layaknya mall-mall tadi diadakan.

    Skali lagi, tergantung darimana dia, yang di istana itu, melihat.

    Maaf, tulisanku mendadak jadi runyam!

  • Summer in July: Kuliner lama, kuliner baru

    Summer in July: Kuliner lama, kuliner baru

    Yang kuingat dari liburan pertamaku ke Indonesia, Desember 2010, sejak kepindahanku ke Australia empat tahun silam adalah; beberapa kawan lamaku yang tinggal di Jogja justru mengajakku makan ke restaurant yang menjual makanan internasional.

    Mereka seolah berlomba-lomba menunjukkan makanan termutakhir yang dijual di Jogja. Ada pizza, burger, spaghetti hingga risotto. Dari steak, sushi hingga ramen.

    Masuk akal sih kenapa mereka berbuat seperti itu karena aku kan wong ndesa yang asli Klaten jadi mungkin dirasa perlu olehnya untuk mengajakku makan ke tempat-tempat demikian semacam pemutakhiran diriku.

    Tapi meski ndesa aku kan , sayangnya, sudah ng-internasional! Lha tinggal di Sydney jhe! Tempat berkumpulnya makanan-makanan internasional yang kusebutkan di atas dan dimasak oleh chef-chef terbaik dunia!

    Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.

    Hehehe, kesannya sombong sekali ya pernyataanku barusan?
    Tak mengapa kalau kalian menganggap demikian, tapi semoga setelah membaca beberapa paragraf di bawah, pikiran kalian tercerahkan siapa yang lebih sombong sebenarnya.

    Menurutku yang sombong itu justru mereka, kawan-kawanku yang menunjukkan makanan-makanan internasional tadi kepadaku.

    Kenapa?
    Mereka sombong karena justru mereka sebenarnya ingin menunjukkan bahwa mereka sanggup membeli sesuatu yang menjadi ‘trend’ dan seolah-olah memantati (maaf kuistilahkan demikian) makanan-makanan tradisional yang telah lebih dulu ada dan lebih ‘asli’ ketimbang rentetan makanan di atas.

    Barangkali bagi mereka, simbol-simbol kemajuan jaman itu dianggap sebagai yang paling superior ketimbang yang tradisional.

    Tak percaya?
    Ceritanya setelah aku dipaksa menikmati pizza yang menurutku rasanya tak keruan itu, malam berikutnya aku mengajak mereka gantian untuk makan di Ayam Goreng Suharti.

    Ketika aku mengutaraka hal itu, tau kalian apa komentarnya?
    “Hah?! Suharti? Males ah, ndeso.. nggak sip!”

    Nah, sekarang siapa yang lebih sombong? Aku atau mereka? Siapa yang lebih ‘tradisional’, aku atau mereka?

    Temans,
    Setiap aku berlibur khususnya ke Indonesia, seperti bulan Juli silam misalnya, aku mengharapkan sesuatu yang bisa kudapatkan dan tak pernah kutemui di Sydney.

    Karena kita bicara soal makanan, maka yang kucari di Indonesia adalah makanan-makanan khas Indonesia yang dimasak orang-orangnya, bukannya mencari masakan-masakan internasional yang dimasak orang-orang Indonesia dengan bumbu-bumbu hasil bumi Indonesia pula!

    Jadi, jangan salah kalau aku lebih mengapresiasi ajakan makan di angkringan dengan lampu senthir (minyak) yang kalau ketiup angin bisa mati api itu ketimbang makan di gerai masakan Jepang yang rasanya malah membikin bingung perut, ini masakan Jepang atau apa ya?

    Tapi sayangnya keinginanku untuk lebih mengapresiasi masakan tradisional ini tak disambut dengan baik oleh beberapa pihak, termasuk teman-temanku di atas dan banyak yang satu ragam dengan mereka.

    Orang-orang itu tampaknya lebih senang untuk datang ke restaurant-restaurant berlabel internasional! Hal ini seolah ‘diperburuk’ dengan adanya banyak rumah makan-rumah makan yang menjual masakan internasional itu tadi.

    Namun, betapa untungnya aku.
    Di tengah gencarnya restaurant-restaurant internasional seperti itu, Juli kemarin aku toh menemukan sebuah rumah makan baru yang mengusung tema ‘masakan rumahan’ yang sebenarnya sudah cukup lama kukenal lewat Twitter yang gencar diiklankan oleh pemiliknya, Butet Kartaredjasa.

    Tepat kata kalian, Rumah Makan ‘masakan rumahan’ Bu Ageng lah namanya!

    Rumah makan yang letaknya di jalan Tirtodipuran itu menjadi semacam oase bagiku selama liburan kemarin.

    Sesuai tema, ‘masakan rumahan’, bahkan sejak masuk ke dalam areal rumah makannya, feel ‘rumahan’ begitu terasa melalui tatanan kursi-kursi sederhana, konsep open air dengan meniadakan eternit dan menyisakan atap genteng saja, pilar-pilar yang kokoh serta sebuah dinding berhiaskan foto yang ketika kudekati ternyata adalah memorabilia, semacam kumpulan foto-foto tokoh Yogyakarta yang telah berpulang ke keabadian.

    kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,”Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”

    Makanannya?
    Hohoho, jangan tanya! Dari namanya pun sudah bikin ngiler.
    Ada nasi campur baceman paru, kambing, sayur lodeh, sambal jambal ikan asin, dan tak lupa yang menjadi favoritku adalah lele njingkrung!

    Yang kusebut terakhir ini menarik karena lele yang disajikan benar-benar dalam keadaan njingkrung alias mlungker.

    Selain rumah makan Bu Ageng, yang juga sempat kukunjungi adalah SGPC Bu Wiryo di Selokan Mataram, Ayam Goreng Suharti, sate klathak, Mie mBah Mo, Soto Soleh dan tak ketinggalan sajian masakan berbahan baku babi, Rumah Makan Tapian Nauli milik alm. Bang Ucok, dan nasi goreng babi Pasar Beringharjo.

    Beberapa yang lain memang tak sempat kukunjungi karena keterbatasan waktu.

    Jadi, teman-teman… lain waktu, ketika ada kesempatan untuk kembali berlibur ke Jogja, meski ada rumah makan internasional sebagus dan semahal apapun, janganlah ajak kami ke sana.

    Kami sudah cukup bosan dengan sofa dan sajian musik jazz cozy yang terkesan mahal itu. Tak pula dengan espresso coffee maupun piranti makan yang pisau dengan garpu.

    Kami justru rindu bising deru motor yang melaju tak jauh dari meja tempat kami makan di pinggir jalan yang dilewatinya. Menikmati makanan dengan sendok dan tangan di atas daun pisang. Kami rindu suara fales pengamen jalanan yang khas Jogja itu! Kami rindu makan makanan yang disajikan oleh tangan-tangan penjual yang semenit sebelumnya baru saja digunakan digunakan untuk menghitung uang dalam kotak dan mengambilnya untuk kembalian orang yang makan sebelum kami.

    Kami bosan dengan sapaan sopan para penerima tamu semacam, “Selamat malam, Kakak! Mau dicoba makanan khas Italinya?! Kami punya bolonesse dan pizza!” Ah, persetan.. karena kami lebih rindu simbok-simbok bertanya dengan polosnya,“Nganggo endok opo nggo suwir, Le?”

    Lele njingkrung dan sajian nasi campur baceman kambing

    Sungguh, meski ini subyektif, kami rindu Jogja yang lebih istimewa tak hanya dari perspektif politik dan tata negaranya saja tapi juga seisinya termasuk makanannya.

  • Summer in July: Tentang sahabatku dan Merapi, sahabatku yang lainnya

    Summer in July: Tentang sahabatku dan Merapi, sahabatku yang lainnya

    Pak Thomas adalah seorang yang kukenal sejak sekitar enam tahun silam.

    Ketika itu, kami terhubungkan berkat kerja apik tim marketing perusahaan tempatku bekerja yang melakukan pendekatan dan akhirnya deal dengan pihak museum Ullen Sentalu Kaliurang, musem yang dikelolanya, untuk pembuatan situs webnya.

    Waktu itu Ullen Sentalu belumlah setenar sekarang, tapi keindahannya sudah mulai tersiar…

    Sebagai atasan, sebut saja demikian, aku lantas memutuskan untuk mengambil alih kelangsungan proyek dari para anak buahku dengan alasan, “Ini klien penting!”

    Maka bertemulah aku dengannya.
    Menggunakan motor butut, aku ‘naik’ ke Kaliurang bertemu dengannya di selasar restaurant Beukenhof yang masih satu kompleks dengan Ullen Sentalu.

    “Pak Thomas begitu lembut dan njawani… mriyayeni.”

    Kuingat kesan pertamaku terhadapnya; Pak Thomas begitu lembut dan njawani, kata yang paling tepat sayangnya tak kutemukan dalam bahasa Indonesia, melainkan bahasa Jawa, mriyayeni.

    Tutur katanya sopan, ditambah lagi dengan bahasa tubuh serta wawasan yang diutarakannya menunjukkan bahwa ia bukan orang ‘biasa’.

    Selanjutnya hubungan kami menjadi lebih akrab terlebih karena proses pembuatan situs web Ullen Sentalu bukan proses yang singkat. Kami, tim produksi, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengerjakan konsep, implementasi hingga finalisasi.

    Hal ini terjadi karena ada begitu banyak tantangan diberikan Pak Thomas dalam kami membangun situs tersebut. Ia tak ingin sesuatu yang ‘biasa’ dan jatuh dalam pola-pola yang sama dengan situs web kebanyakan.

    Tapi toh aku menganggap tantangan itu sebagai sesuatu yang positif; karena kupikir pada nantinya toh ketika ia terpuaskan, credit akan terberikan padaku dan tim.

    Mungkin karena kesamaan pandangan untuk tak membuat segala sesuatunya sembarangan itu yang lantas semakin mendekatkan hubunganku dengan Pak Thomas ditambah lagi frekuensi pertemuan yang tinggi.

    Kedekatan terus berlanjut meski proyek pengerjaan situs web telah selesai. Bisa dibilang, Pak Thomas juga adalah satu-satunya klien yang kupamiti ketika aku hendak pindah ke Australia; waktu itu bersama calon istriku, kami datang ke museum dan berpamitan.

    Empat tahun berlalu.
    Sekitar dua bulan sebelum liburan Juli silam, aku mengontak Pak Thomas melalui aplikasi Whatsapp. Di situ kukatakan rencanaku untuk mengunjungi Jogja sekaligus tak lupa hendak sowan ke museum Ullen Sentalu sekadar untuk mengudar rasa.

    Dan skali lagi, Tuhan mengijinkan pertemuan itu terjadi.?Pada sebuah selasa sore yang teduh, bersama anak dan istri aku pergi ke kompleks museum Ullen Sentalu.

    Waktu telah merangkak ke sekitar dua puluh menit menjelang pukul empat sore.?Matahari yang hangat menembus halaman belakang Ullen Sentalu yang dibiarkan rungkut oleh pohon-pohon besar yang seolah merengkuh siapapun yang ada di bawahnya. Beberapa area juga dibiarkan berlumut, menampakkan keasrian yang terjaga.

    Sebagai orang yang bisa dibilang telah ‘puluhan kali’ datang dan masuk museum Ullen Sentalu, sore itu aku tak tertarik untuk mengunjunginya. Aku memilih untuk njujug ke restaurant Beukenhof yang letaknya masih satu kompleks dengan museum Ullen Sentalu namun berada di sisi belakangnya.

    Beukenhof masihlah sama seperti dulu, tak kalah uniknya dengan museum.?Aku dulu sempat menyebutnya sebagai restaurant pipih karena bentuknya yang memanjang tapi tak menyisakan lebar yang berlebihan.

    Properti yang kebanyakan terbuat dari kayu tampak terjaga seperti dulu.?Kami lantas memilih meja tengah yang menjadi poros; terhubung dengan pintu yang membuat kami begitu mudah melongok taman tengah Ullen Sentalu melalui terasnya.

    Siang itu sembari memesan makanan (aku memesan steak, demikian juga istri dan anakku) aku menceritakan bagaimana kesanku pertama kali kepada istriku dulu.

    “Ketika datang ke Beukenhof… kamu akan merasa singgah di sebuah restaurant yang berada di antah berantah dengan sajian lezat yang mendukung ?keantahberantahan? itu “

    Kukatakan demikian,

    Ketika datang ke Beukenhof, letakkanlah otakmu barang sejenak untuk tak mengingat dimana kamu berada. Maka kamu akan merasa singgah di sebuah restaurant yang berada di antah berantah dengan sajian lezat yang mendukung ‘keantahberantahan’ itu sendiri.?Kalian yang pernah ke Eropa, barangkali ketika merasakan semua itu akan merasakan de-ja-vu seolah kamu sedang berada di daratannya.

    “Benar tidaknya gimana? Aku sih belum pernah ke Eropa!” tukasku pada istriku.

    Ketika pelayan mengantarkan pesanan, aku lantas mengutarakan niatku kepadanya, “Mbak, Pak Thomas-nya ada?”

    “Oh, sepertinya ada di belakang. Bapak? Temannya?”

    “Bilang saja saya Donny… Donny Verdian dari Australia yang dulu pernah bekerja di Citraweb.”

    Tak sampai lima menit kemudian, Pak Thomas menyembul datang dari ruang belakang.

    Kehangatannya sebagai seorang kawan menyeruak, belum lagi hilang! Kami pun terlibat dalam percakapan yang hangat dengan sesekali menjadikan Odilia, anakku, sebagai perhatian utama. Aku membahasakan dia kepada anakku sebagai Opa.. Opa Thomas.

    “Semua baik, Pak?” tanyaku agak lebih serius.
    “Baik, Mas Donny!” Ah, ia tak pernah melepas sandang ‘Mas’ dari namaku, cara bicaranya pun masih dengan membungkuk-bungkukkan punggung, tanda perendahan diri yang tak dibuat-buat karena berlaku tetap sejak dulu.

    Lalu setelah hidangan usai, kami duduk di teras.
    Aku membiarkan Odilia bermain dengan ibunya, dan aku meluangkan waktu sejenak dengan Pak Thomas.

    “Hmmm, waktu Merapi meletus dulu, semua baik kan Pak?”
    “Oh… 2010 dulu?”
    “Iya… letusan besar itu..”

    “Wah, ya gimana ya… pokoknya saya bersyukur saja bahwa kami bisa melewatinya, Mas” Nada bicaranya menjadi pelan, bibirnya menyunggingkan senyum tapi matanya menerawang memandang jendela dan pemandangan hijau yang ada di sekitar.

    Ia melanjutkan “Waktu itu kami tutup tiga bulan. Tapi sebelumnya, hingga hari-hari akhir sebelum erupsi kami tetap bertahan. Dan Mas Donny tahu, ketika erupsi terjadi, saya malah sedang ada di China untuk sebuah konferensi.”

    Aku hanya termenung membiarkan suasana mengalir sembari membayangkan suasana yang mencekam dua tahun silam itu.

    “Yang saya ingat pada hari terakhir kami buka sebelum erupsi, langit ini sudah gelap. Gemuruh dan kilat campur aduk.”

    “Hmmm..”

    Aku dan Pak Thomas

    “Lalu sekitar setengah bulan setelah erupsi, ketika kami naik kembali ke atas, bangunan museum dan semua ini praktis tertutup abu. Ada yang sampai 25 senti tebalnya!” Tuturnya sembari menggambarkan ketebalan abu menggunakan kedua telapak tangannya.

    Aku tetap mendengarkannya. Secangkir teh panas manis kuseruput…

    “Tapi justru dari situ kami belajar, Mas…”
    “Oh… belajar?”

    ?Kami belajar untuk hidup bersama Merapi.?

    “Kami belajar untuk hidup bersama Merapi.”
    “Kami memilih untuk bersahabat dengan Merapi dan menganggap erupsi atau apapun aktivitasnya sebagai sesuatu yang harus dihormati karena itu pilihan dan titi wanci nya. Ya, semacam Mas Donny dulu yang memutuskan pindah ke Australia lah hehehe…”

    Aku hanya tersenyum.
    “Dan sebagai seorang sahabat, kami ingin mengenal perilaku Merapi, lebih jauh lagi.”

    “Jadi, misalnya Merapi memang perlu ‘berbenah’ seperti dua tahun lalu, kami belajar untuk tanggap terhadap tanda-tandanya, tidak mengeluh dan justru mempersilakannya untuk melakukannya hingga tuntas tanpa kami ganggu dan kami juga yakin tak kan terganggu karena kami mengerti…”

    Aku hanya bisa merenungkan kata-kata itu.
    Aku percaya, Pak Thomas bukan orang pertama yang mengemukakan konsep tersebut. Bagi sebagian besar warga Jogja, mereka tak pernah komplain dengan ‘kesibukan’ Merapi yang memang adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di dunia itu.

    Tapi melalui Pak Thomas aku terbukakan bahwa sejatinya memang demikian, Merapi sebagaimana halnya komponen alam lainnya, bukanlah hal yang perlu ditakuti meski jangan pula disepelekan. Ia adalah sahabat, sahabat manusia yang juga adalah penikmat alam.

    “Coba dipikirkan, Mas…” ungkapnya memecah permenunganku.
    “Nggih, Pak Thomas?”

    “Njenengan kemarin-kemarin lewat jalan Jogja – Solo tho?”
    “Nggih..”

    “Macet tho?”
    “Wah… jangan tanya, Pak!”

    “Tau penyebab macetnya?”
    “Hmm..”

    “Truk pasir!”
    “Hehehe, iya.. leres, Pak!”

    “Nah, bayangkan! Dulu mereka, para pengusaha pasir itu banyak memaksakan truk-truknya untuk terus mengeruk pasir padahal keadaan Merapi sudah ‘siaga’ siap njeblug. Itu kan murka manusia!”

    “Padahal, kalau mereka mau sabar tentu mereka tak perlu celaka!”
    Nada suara Pak Thomas meninggi. Aku bisa merasakan ada gereget yang kuat mengingat kemurkaan manusia itu.

    “Justru sekarang coba lihat, ada ratusan juta kubik pasir Merapi yang bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma… yang ambil? Ya para pengusaha pasir itu!”

    Merapi itu tak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud yang baik bagi yang tinggal di lerengnya…

    “Hmmm..”
    “Nah, dari itu semualah kami belajar, Mas… Merapi itu tak pernah melakukan sesuatu tanpa maksud yang baik bagi yang tinggal di lerengnya, Jogja, Klaten, Magelang, Muntilan hingga di Solo sana.”

    Dan aku terjebak dalam permenungan lagi.
    Apa yang dikatakan Pak Thomas memang benar. Dalam konsep yang lebih luas lagi, alam yang diatur oleh Penciptanya adalah komponen yang bergerak dinamis untuk satu tujuan yang kita percaya untuk kebaikan alam semesta termasuk manusia itu sendiri.

    “Jadi hal itu yang membuat Pak Thomas tak takut melanjutkan usahanya meski di Kaliurang sini ya Pak?”

    Ia hanya tersenyum sambil menggeleng. Tangannya menggamit tangan Odilia yang sibuk bermain di sebelahnya bersama istriku.

    Aku merasa begitu tertampar dengan ketenangan manusia yang satu ini. Daripadanya siang itu aku belajar banyak hal yang jika disatukan bermuara pada kesimpulan bahwa kuasa Tuhan terlalu sempit untuk sekadar diterjemahkan sebagai berkat dan murka.

    Ia berjalan dalam range yang tak terkatakan oleh apapun. Agama hanyalah tuntunan. Dalam beberapa segi yang kutangkap, bahkan alam adalah pihak yang lebih tampak nyata ketimbang agama untuk melukiskan sebesar apa kuasaNya.

    Tak terasa matahari semakin condong ke barat. Sinarnya tak sampai lagi ke permukaan, ia hanya tinggal di ujung-ujung genting museum yang menjingga.

    Saatnya untuk berpisah. Kami lalu berpamitan. Untaian doa terucap dalam salam yang dibalut dengan jabat tangan yang erat nan tak sebentar.

    “Sampai ketemu lagi, Pak Thomas.. Sehat-sehat ya!” Aku lantas memunggunginya, meninggalkannya.

    Setelah berpamitan, mobil mengantarkanku keluar kompleks Ullen Sentalu.?Aku mencari-cari sosok Merapi yang tadi seolah tuntas terceritakan di belakang Bukit Turgo yang mengungkungi Kaliurang. Sayang, kabut yang tebal menyembunyikan parasnya.

    Sore itu, batinku terpuaskan. Selain bertemu sahabat lamaku, Pak Thomas, aku diperkenalkannya pula pada sahabatnya yang sore itu tampak jadi pemalu, Merapi.

    How great Thou art! – Carl Gustav Boberg

  • Summer in July: Kopdar!

    Summer in July: Kopdar!

    Ada banyak hal yang membangun kerinduanku terhadap Indonesia, tapi kalau disuruh memilih tiga hal terbesar, maka ketiganya adalah pemandangannya, makanannya, dan orang-orangnya. Orang-orangnya bisa diurai lagi menjadi keluarga besar, saudara dekat dan jauh lalu kawan.

    Salah satu ‘variabel’ yang hendak kuceritakan di sini adalah yang terakhir kusebutkan yaitu kawan.

    Aku punya begitu banyak kawan di Indonesia; baik itu yang kukenal sejak lama maupun mereka yang baru kenal justru ketika aku sudah pindah kemari melalui blog ini maupun sederet social media channel yang kuikuti dari sini.

    Maka jadilah, acara liburan kemarin menjadi ajang untuk bertatap muka melampiaskan rindu persahabatan di antara kami. Beberapa memang telah direncanakan sejak sebelum libur tiba; meski ada beberapa pula yang harus kubatalkan karena keterbatasan manusia untuk merealisasikan rencana itu menjadi kenyataan.

    Dalam bahasa ‘halus’ nya, aku patut menilik ulang ide untuk selalu ber-kopdar dengan semua kalangan yang kukenal ketika libur tiba karena aku toh tak berlibur seorang diri. Ada seorang anak dan seorang istri (dan segera akan ada seorang anak lagi) yang akan ikut berlibur juga.

    Anyway, inilah list kopdarku!

    Kopdar Citraweb

    Ada seruan ‘Wow!’ yang tak berkesudahan karena ketiga mantan kolega bisnisku, Iwan, Riza dan Valens hadir ke pesta pernikahan adikku. Sesuatu yang mengejutkan dalam artian positif mengingat di tengah kesibukan mereka dalam menjalankan usaha yang dulu juga kujalankan bersama mereka, kok ya sempat-sempatnya datang! Sesuatu banget…

    Temu kangen pun terjadi! Kami banyak saling bertukar cerita dan bercengkrama tak lagi hanya dengan masing-masing dari kami tapi juga dengan anak dan istri karena selain Iwan, kami semua telah berkeluarga.

    Oh ya, tak lupa kamipun berfoto bersama. Hal ini menjadi semacam ?tradisi? karena kuingat dulu, hampir dalam setiap momen kebersamaan (aku bersama mereka selama 8 tahun sejak 2000 – 2008) kami selalu berfoto berempat.

    Dan inilah kami, Citraweb reunion! :)

    kiri ke kanan: Riza, Iwan, Donny dan Valens

     

    Kopdar Solo

    Mas Blontank Poer dan Dony Alfan adalah dua blogger Solo yang kukenal justru ketika aku telah berada di Australia. Kami saling kenal melalui media Twitter dan blog ini.

    Pada Senin, 16 Juli 2012, sehari sesudah pernikahan Chitra, aku pergi ke Solo untuk bertemu mereka. Pertemuan diadakan di Kopi Tiam Oey dan sengaja kami memilih sana karena di gerai milik Pak Bondan ‘Mak Nyus’ yang tenar itu menjual teh yang tak kalah tenar nama dan rasanya, ?Blontea? yang merupakan komoditi buatan Mas Blontank.

    Apa saja yang kami obrolkan? Ya sebatas dunia perblog-an dan social media serta sedikit dibumbui ‘Jokowi‘ di sana sini :)

    kiri ke kanan: Bloentank, Donny, Dony Alfan

    Kopdar 3M

    Salah satu blogger yang kukagumi adalah Herman Saksono a.k.a Momon.

    Tulisannya begitu kugemari karena mencerminkan pemikiran yang ?tak biasa?. Bersama dengannya, aku juga bertemu dengan Dian Paramita (Mimit) adiknya yang juga blogger serta penggiat twitter terkemuka, serta Medina Wulandari (Memet), blogger dan penggiat twitter yang tak kalah trengginasnya terutama saat bicara soal psikologi dan perlindungan terhadap binatang.

    Jadi bolehlah kusebut kopdar malam itu di Kedai Kopi Selokan Mataram sebagai Kopdar Memeth – Mimit – Momon!

    Obrolannya? Tak lepas dari dunia perbloggeran dan Twitter juga dunia per-bigot-an; tentang bagaimana bigot-bigot agamis itu ?hidup? dan ?berkembang biak?.

    Sayang, obrolan yang berdurasi sekitar 1 jam itu tak meninggalkan jejak dokumentasi. Aku terlalu tergesa-gesa untuk pulang.

    Kopdar Ata – Bu Tuti

    Ini kopdar tersingkat, kurang dari sepuluh menit, hanya sepanjang perjalanan lift dari lantai basement ke lantai ground di Novotel hotel.

    Hehehe, kopdar ini tak terencanakan. Semula, karena keterbatasan waktu, aku hendak menitipkan barang titipan untuk Bu Tuti dan Uda Vizon di recepsionist hotel lalu Ata, chef yang bekerja di guest house milik Bu Tuti, akan mengambilnya karena kebetulan ia berencana pergi ke kota.

    Tapi tak dinyana, ketika keluar kamar dan hendak ke loby, lift yang kami tumpangi memaksa kami menuju ke Basement baru kemudian ke Loby. “Pasti ada yang mencet lebih dulu dan mereka dari ruang parkir!” gumamku.

    Dan benar saja, ketika pintu lift terbuka di basement, sosok Bu Tuti dan Ata muncul begitu saja. Jadilah acara kopdar di dalam lift itu terjadi dalam kondisi yang terburu-buru. Bertanya kabar, menyapa lebih hangat, menyerahkan barang lalu pergi…

    Ngapunten Bu Tuti dan Ata, lain waktu bakal lebih proper lagi hehehe…

    Kopdar Sahabat Sejati (I should say?)

    Aku punya banyak kawan, tapi sahabat sejati sejauh ini bagiku adalah Ronal Rivandy dan Adhit Omphonk.

    Kesejatiannya entahlah, tapi kalau kalian mau tau kenapa kunamakan mereka sahabat sejati adalah karena dulu waktu kami bekerja bersama (mereka dulu adalah anak buah-anak buah kepercayaanku) kami sering mendengarkan lagu ‘Sahabat Sejati’ nya Sheila On 7, dan ketika itu tercetus pikir, “Mungkin ngga suatu waktu kita nyanyi lagu ini dan ingat kalian bahwa kalianlah sahabat sejati?!”

    Ronal dan Adhit adalah sosok yang begitu baik bagiku. Kebaikannya teruji bahkan ketika aku ada di sini. Ketika Papa jatuh sakit lalu meninggal sehari sesudahnya, April 2011, silam, praktis kedua orang ini adalah orang-orang setia yang menemani Mama dan adikku ketika aku belum sampai di Jogja.

    Lalu ketika Chitra menyiapkan pernikahan, mereka berdua juga berperan cukup banyak dalam persiapan-persiapan serta pelaksanaannya, tanpa diminta dan tentu saja tanpa bayaran!

    Aku selalu membahasakan mereka berdua sebagai ‘saudara’ kepada adikku, Chitra. Suatu waktu pernah aku bilang padanya, “Chit, kamu harus peduli ke Adit dan Ronal. Mereka saudaramu juga karena ketika berduka, mereka pun mencium tangan Mamaku yang mamamu juga!”

    Maka tak berlebihan kalau aku beserta keluarga lantas berpikir untuk mengundang mereka makan bersama berikut keluarga mereka.

    Bertempat di Bumbu Desa Restaurant di kawasan Sagan, Yogyakarta, kami bercengkrama mengudar rasa rindu persahabatan sekitar dua jam lamanya.

    Inilah fotonya!

    kiri ke kanan: Adhit, Donny, Ronal

    Kopdar Rhema

    Rhema adalah komunitas persekutuan doa katholik yang kugeluti waktu aku di Jogja dulu. Beberapa personel lamanya sudah kuanggap sahabat dekat dan sama seperti Ronal dan Adhit, mereka juga begitu banyak membantuku dan keluargaku utamanya ketika aku sudah pindah ke Australia.

    Pada dua malam terakhir serta sore terakhir sebelum aku kembali dari Jogja, kami bertemu dan bercengkrama baik itu di lobi hotel maupun di Parsley, restaurant terkemuka di Jogja.

    Sayang tak ada foto di sana.

    Kopdar Buzzer #eh

    Bertemu dengan para buzzer (hmm apa ya terjemahan enaknya?) Jakarta adalah hal yang menjadi mimpiku. Kenapa? Ah, kalian tak perlu tahu hehehe.

    Aku bertemu dengan mereka pada sebuah acara buka bersaka di FX di pusat kota Jakarta yang macetnya audzubillah itu!

    Aku lupa berapa orang yang datang tapi seingatku aku bertemu dengan banyak muka… muka-muka yang kutemui di ranah maya.

    Ada Simbok Venus, deFikri, Chichi Utami, Umenumen (nama yang unik ya!), Gie Wahyudi, Isnuansa, Eka dan suaminya, Adit, anak-anak Yahoo seperti Fami dan Arya, serta dua teman lama di Jogja yang sekarang berdomisili di Jakarta, Adi Sunata dan Wahyu Martho!

    Oh ya, dari beberapa nama di atas yang kusebutkan, ada empat orang yang sepulang dari sana lantas mencret-mencret seperti yang kutuliskan di sini dan aku adalah salah satunya :)

    kiri ke kanan: Isnuansa, Gie, Donny, Umenumen, De Fikri, Venus, Eka, Adit (Credit photo Adi Sunata)

    Kopdar EM

    Entah kenapa Imelda Coutrier dipanggil ?Mbak EM?, tapi aku menyapanya sebagai ?Imel?.?Ia adalah blogger Indonesia yang menetap di Jepang dan kukenal beberapa bulan sebelum aku pindah ke Australia, 2008 silam!

    Jadi untuk takaran ?teman online? ia bisa dibilang sudah cukup lama kukenal baik itu melalui tulisan-tulisannya maupun dalam obrolan-obrolan kami melalui kotak messenger.

    Jauh sebelum kami mudik yang kebetulan pada waktu yang bersamaan, kami telah merencanakan untuk bertemu di sebuah restaurant di Jakarta.

    Dan permohonan kami didengar Tuhan.

    Siang itu, 30 Juli 2012, tiga hari sebelum aku pulang ke Sydney, kami bertemu di Sop Buntut Bogor, Pacific Place.

    kiri ke kanan: Onny, Odilia dipangku Krismariana, Imelda, Donny (Credit photo Joyce Taufan pake kameranya Imelda)

    Meski Daniel Mahendra, sobatku lainnya, semula ikut dijadwalkan datang tapi lantas tak jadi karena sesuatu dan lain hal, Krismariana, kawan sejak di Jogja datang siang itu bersama Onny suaminya.

    Krismariana ini telah begitu baik. Ketika aku bahkan tak bisa keluar kamar hotel sekalipun karena menjagai anak sakit, ia yang memberiku bingkisan buku rela menitipkannya di receptionist hotel.

    Tak berhenti di situ. Selepas ngobrol dan menghabiskan hidangan sekitar satu jam lamanya, ketika turun ke lantai bawah, kami bertemu pula dengan Om NH yang juga telah lama kudengar meski baru itu kukenal hehehe.

    kiri ke kanan: NH, Donny, Imelda, Krismariana (Credit photo Onny pake kameranya Imelda)

    Jadilah kopdar singkat lagi di bawah, setelah jepret-jepret dan ngobrol sembari menunggu istri dan Imel yang ke toilet, kami lantas berpamitan dan pulang menerabas macetnya Jakarta yang gila-gilaan itu.

    Kopdar Chibi dan Momon!

    Hari terakhir di Jakarta, 2 Agustus 2012, aku tak mati gaya!

    Setelah mengantarkan anak, istri dan Ibu mertua yang hendak terbang ke Kuala Lumpur, aku pergi ke Taman Anggrek Mall untuk bertemu dengan Ratri Chibi, kawan yang dulu jadi dekat gara-gara dia mewawancaraiku dalam kasus Multiply dulu itu.

    Ia lantas kukenal sebagai kawan dekat kawanku yang lainnya, Monika Suryadi (Momon), mantan blogger yang sudah kukenal sejak 2003 silam dan.. hey! aku dan Chibi sama-sama penyuka KOIL, grup musik cadas dari Bandung itu!

    Kami lalu bersantap siang di Thai Express.

    Selepas di sana, menjelang sore kami pergi ke kantor Momon yang ternyata jaraknya tak seberapa jauh untuk ukuran Jakarta (meski untuk ukuran Sydney maupun Jogja itu udah jauh, Chib hehehe).

    Di halaman kantor Momon yang mungil tapi menyenangkan itu, aku kembali makan makanan yang dibawakan khusus oleh Chibi dari Bandung. Orang menyebutnya sebagai Bacuk, masakan hasil racikan Om Leon, drummer KOIL yang kerap saling sapa denganku di Twitter.
    Apakah bacuk itu? Hmm.. kaci tau gak ya..?????

    Sekitar pukul 6 sore, aku lantas berpamitan karena pesawat yang hendak mengantarkanku ke Sydney akan berangkat sekitar tengah malam dan waktu sesaat setelah buka puasa itu katanya adalah waktu yang paling tidak macet? untuk kembali ke bandara.

    kiri ke kanan: Ratri, Donny, Momon

    Kopdar Femi!

    Bahkan hingga beberapa jam sebelum terbang pun, Donny lagi-lagi belum mati gaya hahahahaha!

    Di selasar bandara, di sebuah gerai kopi aku janjian bertemu dengan Femi Khirana, kawan ?online? yang juga sudah cukup lama kukenal dan bersamanya dan Vonny Jodikin?, aku membuat buku terbaruku, Biji Sesawi di Rerumputan (Ayo buruan pada beli di sini!).

    Isi acaranya tentulah ngobrol-ngobrol seputar buku dan juga ada acara penandatanganan beberapa buku yang dipesan oleh kawan-kawannya. Kawan-kawannya itu tentu beruntung karena mendapat dua dari tiga tanda tangan penulisnya (Vonny tinggal di Singapore jadi sulit untuk bertemu) pada sekali waktu.

    Hingga sekitar pukul 20:30 WIB, kopdar itu berlangsung dan selanjutnya kuakhiri karena beberapa saat sesudahnya jam untuk check-in penerbangan dibuka. Aku lantas berpamitan dengannya.

    Banyak ya? Ember!
    Kalau mau dituruti pun bisa lebih banyak, tapi sekali lagi, keterbatasan adalah kata kunci untuk mengeremnya.

    Oh ya, secara khusus melalui tulisan ini aku meminta maaf kepada segenap panitia Roti Fresh di Semarang atas ketidakhadiranku pada hari pelaksanaan. Seperti kata Didut, seorang panitia yang selalu rajin menghubungiku, ?Mungkin belum jodoh, Kang!?

    Tapi maaf terbesarku kutujukan kepada istri dan anak-anakku.?Percayalah, lain waktu, aku pasti bisa mengatur waktu lebih baik lagi! Luv yous! All of you!

    Kamu bisa disebut tua ketika kamu mulai merasa geilsah
    karena tak bisa melakukan semua hal dalam waktu yang terbatas – Donny Verdian

  • Summer in July: Kenapa kita memilih jalan ini?

    Summer in July: Kenapa kita memilih jalan ini?

    Hari itu adalah hari keempat dari sepuluh hari kunjunganku ke Jogja.?Usai rangkaian perhelatan acara pernikahan Chitra, pada sebuah waktu yang luang, ketika anak dan istriku sedang terlelap dalam tidur siangnya, aku duduk di depan jendela kamar yang menghadap ke utara langit Jogja.

    Mendung menggelanyut tapi tak pekat. Bersit jingga ada di sana-sini tanda sore telah mengendap datang. Pada beberapa kali kesempatan ketika angin menggerakkan awan dari satu tempat ke tempat yang lainnya, Gunung Merapi yang berjarak tak sampai 30 kilometer dari Jogja itu menyembul kebiruan.

    Sesaat aku bisa menyaksikan punggungnya yang kian tampak tandus, bukan karena penebangan hutan tentunya, tapi karena begitulah cara Merapi merapikan diri melalui guguran lava dan awan panas yang dikeluarkannya, dua tahun silam.

    Sementara itu di bawah sana, kampung Sagan yang kutuliskan di tulisanku sebelum ini sebagai playground-ku dulu, empat belas tahun lalu, tampak begitu jelas.

    “…jangankan orang tuaku, aku sendiri pun tak tahu kenapa aku pada akhirnya memilih untuk menempuh ?jalan ini?, bukan yang ?itu? atau yang ?sebelahnya itu?”

    Sejak beberapa hari kuperhatikan, bahkan aku masih ingat nama orang-orang yang berlalu lalang di sana. Mereka menua, tampak dari gurat-gurat di wajahnya dan renta di tubuhnya. Kutahu, ada beberapa fragmen hidup mereka yang menggurat di wajah yang di antaranya adalah bersamaku, sahabatnya, sama sepertiku terhadap mereka di gurat-guratku di wajahku.

    Kenapa demikian? Karena ketika aku tinggal di kost di Resonegaran, aku pun banyak punya teman yang berasal dari kampung Sagan.

    Kampung Sagan sendiri seingatku adalah kampung yang begitu guyub. Barangkali karena kebanyakan yang hidup sebelah-menyebelah adalah keluarga sendiri atau setidaknya saudara jauh.

    Dalam berinteraksi dulu, aku tak pernah berpacaran ataupun naksir dengan salah satu gadis yang ada di sana dulu. Semua kuanggap teman, semua adalah kawan. Tapi sore itu tiba-tiba sebuah pertanyaan ‘nakal’ membesitku, “Apa yang akan terjadi kalau aku waktu itu akhirnya aku berpacaran dengan seorang ? entah itu keponakan ataupun adik teman yang tinggal di Sagan lalu menikah dan berkeluarga?”

    Akankah hidupku sebahagia sekarang? Lebih bahagia? Atau justru lebih tak berbahagia?

    Ah, barangkali aku saat ini akan berada di kampung yang sekarang kupandang itu. Sebuah rumah kecil, pada sebuah sore yang lembab, aku baru pulang dari kantor entah apalah itu namanya menggunakan sepeda motor cicilan. Masuk ke rumah disambut istri dan anak yang barusan mandi lalu berganti baju dan keluar duduk di lincak (kursi bambu) halaman bercelana pendek dan berkaus kutang ditemani teh panas kental manis dan kudapan gorengan; ngobrol dengan tetangga yang notabene adalah saudara-saudara ipar menghabiskan sore menyambut malam.

    Begitukah? Mungkin!

    ?Ah, Tuhan itu pribadi yang tak pernah nanggung! Ia tak punya pilihan yang baik terhadapku. Ia hanya punya satu pilihan yaitu yang terbaik terhadapku!?

    Atau mungkin lagi, aku tak tinggal di situ. Barangkali di Jakarta bergabung dengan jutaan kaum urban lainnya! Lalu aku pulang setahun sekali ketika Natal tiba. Tapi… kalau aku bekerja di Jakarta, akankah aku tetap bisa menginap di hotel ini ketika libur tiba dan memandang playground-ku ; tempat mertuaku dan saudara-saudara iparku tinggal?

    Hmmm.. entahlah… Tapi mungkin juga!

    Lalu tiba-tiba pikiranku loncat ke sekitar pertengahan tahun 2008 ketika aku dengan penuh percaya diri memutuskan pindah ke Australia dari sebuah zona nyaman yang teramat sangat!

    Orangtuaku waktu itu hanya melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan orang tua, pasrah!
    Ia begitu percaya pada keputusanku atas hidupku sendiri. “Ya, yang terpenting kamu harus ingat kamu harus tanggung jawab pada dirimu sendiri dan… keluargamu, Le!” Demikian ujar almarhum Papa menasihatiku.

    Ketika itu, jangankan orang tuaku, aku sendiri pun tak tahu kenapa aku pada akhirnya memilih untuk menempuh ‘jalan ini’, bukan yang ‘itu’ atau yang ‘sebelahnya itu’. Aku hanya melangkah berdasarkan keputusan bahwa aku saat itu memang berpikir ingin melangkah saja, tiada lain. Yang terpenting waktu itu, aku memutuskannya dalam keadaan sadar, tak berada di bawah pengaruh satu hal pun yang memengaruhiku.

    Dalam tulisan terakhir sebelum pindah, aku menulis di blog ini, “Aku melihat sinar, aku menuju ke sana!”? Empat tahun sesudah itu, kukatakan saat ini kepada kalian kenapa waktu itu kulukiskan masa depanku sebagai ‘sinar’ adalah karena aku sendiri tak tahu apa yang ada di depan tapi kuyakin hal itu akan cemerlang, jadi kunamai saja ia sebagai sinar!

    Ada kalanya kita perlu mengijinkan semuanya berlalu begitu saja dan kita hanya bisa mengandalkan kesan untuk mengingatnya.

    Aku ‘tenggelam’ semakin dalam di dalam permenungan ini.
    Sekian menit lamanya aku bermain-main dengan lamunanku. Menghadirkan sosokku yang kubayangkan ada dalam jalur hidup ‘yang bukan ini’ bukan untuk menyesalkan apa yang telah terjadi sekarang tapi sebaliknya, bersyukur dengan cara yang unik: mengadu dan memperdebatkan dua konsep hidup yang pernah suatu waktu menjadi pilihan, mana yang sebaiknya dipilih.

    Di ujung lamunan itu, aku tinggalkan sejenak pandangan dari kaca jendela, memandang anak istriku yang tertidur pulas. menarik nafas dalam-dalam dan berpikir, “Ah, Tuhan itu pribadi yang tak pernah nanggung! Ia tak punya pilihan yang baik terhadapku. Ia hanya punya satu pilihan yaitu yang terbaik terhadapku!”

    Aku berbalik kembali ke arah jendela. Hendak kutuntasi pengalaman batin yang mendebarkan ini. Sesaat lamanya kupandang Merapi yang kian menggelap ditinggalkan mentari lalu suara muadzin dari masjid terdekat hadir mengumandangkan adzan Maghrib.

    Sebuah kolase yang begitu indah, sangat Indonesia dan begitu mahal karena tak pernah kutemui dalam keseharianku di Australia. Untuk kedua kalinya dalam beberapa hari sebelumnya, aku menitikkan air mata, tanda syukur yang tak tertahankan.

    Ketika hal ini semua kuceritakan pada istriku , ia bertanya, “Tak kamu rekam? Tak kamu foto?” Aku menggeleng. Pengalaman batin sore itu terlalu mahal untuk sekadar diabadikan dengan media-media mutakhir tersebut. Ada kalanya kita perlu mengijinkan semuanya berlalu begitu saja dan kita hanya bisa mengandalkan kesan untuk mengingatnya.

    Lagipula aku toh punya media yang lebih dahsyat daripada semua media yang sudah dan pernah akan ada. Bukan kamera, bukan pena. Bukan kertas film dan bukan pula blog ini. Tapi, nurani.

  • Summer in July: Resonegaran

    Summer in July: Resonegaran

    Sekitar tahun 1998, ketika kuliah sudah berlangsung empat semester, untuk sesuatu hal yang tak bisa kuceritakan di sini, aku berada pada satu keadaan dimana aku perlu mencari kerja sambilan untuk mencukupi hidup!

    Berbekal ilmu yang sudah kudapat serta rasa nekad, waktu itu aku memulai segala sesuatunya dengan bekerja sebagai asisten laboratorium komputer yang bertugas membimbing kawan-kawan (yang kebanyakan malah seangkatan denganku!) dalam kuliah praktek pemrograman.

    Berbekal ilmu yang sudah kudapat serta rasa nekad, waktu itu aku memulai segala sesuatunya dengan bekerja sebagai asisten laboratorium komputer…

    Selain itu, aku juga membantu teman-teman yang ‘butuh dibantu’ dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah terkait dengan pemrograman maupun skripsi. Ketika orang ramai-ramai mulai berpikir tentang website, akupun ikut ‘terjun’ ke dalam dunia pengembangannya; sesuatu yang pada akhirnya kutekuni hingga kini.

    Entah, mungkin ini bisa dibilang maruk, tapi pada malam-malam tertentu termasuk akhir pekan, aku juga bekerja sebagai penjaga warnet serta ketika ada teman yang butuh membeli/menjual hardware, aku siap untuk membantu apapun yang mereka butuhkan, asalkan aku mendapatkan uang.

    Dalam jangka waktu yang tak terlalu lama, aku yang sebelumnya bisa dibilang ‘pas-pasan’ bahkan cenderung kurang dalam hal ekonomi, berubah menjadi seorang mahasiswa bertaraf ekonomi yang lumayan.

    Perubahan itu membuatku berpikir untuk kembali menyewa kamar kost. Sebelumnya aku pernah menyewa kamar kost, tapi demi pengiritan biaya, selama kurang lebih setahun aku menumpang ke rumah kontrakan kawan yang kebetulan tak keberatan dan mau mengerti keadaanku.

    Agak sedikit emosional waktu itu, kalau tak mau kubilang ‘balas dendam’, tapi ketika kesempatan ‘punya duit’ itu akhirnya datang, aku langsung berniat mencari kamar kost yang ‘elit’! Letaknya di tengah kota Jogja dan tak harus tak jauh dari kampus.

    Pilihan jatuh pada sebuah rumah yang letaknya di Gang Resonegaran Gk V/1299. Letaknya di kawasan Sagan, kawasan yang saat ini sangat terkenal dengan wisata kuliner ‘tingkat atas’ karena di sana banyak berdiri restoran-restoran ‘mahal’.

    Istimewanya kamar kost di rumah tersebut kalau boleh dibilang sebenarnya justru bukan dari sisi bangunan maupun fasilitas yang diberikan. Ia hanyalah kompleks kamar berstruktur bangunan tua yang melekat pada rumah pemiliknya.

    Kamarnya pun biasa. Hanya berisi lemari, meja belajar dan sebuah ranjang dengan kasur kapuk. Tapi lebih dari itu, dari sisi lokasi, boleh dibilang ia juara!

    Jarak kostku dengan mall terbesar di Jogja waktu itu, Galeria Mall, hanya sekitar 150 meter.
    Jika ada gangguan kesehatan yang mendesak (untungnya tidak), ke arah Rumah Sakit Bethesda hanya sekitar 250 meter jauhnya. Nah, karena kampusku letaknya berhimpitan dengan RS Bethesda, maka jarak antara kostku dengan kampus paling jauh kira-kira hanya 500 meter saja!

    Perfecto? Indeed!

    Oh ya, ada satu hal yang lupa kuceritakan di atas. Letak kostku berhimpitan pula dengan Novotel, sebuah hotel berbintang yang berdiri menjulang di tengah Kota Yogyakarta.

    Ada satu keuntungan unik yang hendak kuceritakan terkait dengan bangunan Novotel hotel tersebut.

    Ketika hujan tiba, sementara aku tak sedang ada di kost padahal pagi harinya meninggalkan jemuran di depan kamar, aku tak perlu khawatir bahwa jemuranku akan basah kuyup karena bangunan kokoh Novotel itu berdiri seperti sebuah tameng atas air hujan. Paling hanya agak sedikit tak terlalu kering saja karena tampias air yang tertiup angin dan tak terhindarkan.

    Hal lain yang juga patut kucatat di sini, saat senggang, bersama kawan-kawan kost lainnya aku sering bermain gitar di loteng kamar kost. Sesekali ketika tamu hotel tampak di jendela kamar maupun di jendela selasar kamar, kami tak jarang berusaha mencuri perhatian mereka entah itu dengan melambai-lambaikan tangan, tersenyum atau apalah namanya.

    “…tapi lebih karena ada begitu banyak mimpi lain yang telah mengantri untuk diimpikan lalu direalisasikan…”

    Tak sekalipun aku pernah bermimpi waktu itu untuk suatu waktu dapat menginap di sana. Bukan karena faktor biaya, tapi lebih karena ada begitu banyak mimpi lain yang telah mengantri untuk diimpikan lalu direalisasikan selain sekadar mimpi menginap di hotel tersebut.

    Tapi lantas hidup ini berjalan sebagaimana ia memang harus dijalankan. Empat belas tahun sesudah masa itu, Tuhan menyodorkan kesempatan untuk bisa menginap di Novotel hotel, Yogyakarta.

    Pada liburan Juli lalu, ketika mengunjungi Jogja selama 10 hari (12 – 22 Juli) aku menginap di sana.

    Mendapatkan kamar di lantai lima, aku tak pernah menyangka bahwa ternyata kamarku berada tepat bersebelahan dengan jendela kaca yang dulu selalu kulihat dari kamar kost bersama kawan-kawanku!

    Tak hanya itu, pada sisi kamar yang lainnya, aku bisa memandang dengan jelas kampung Sagan, dimana teman-teman lamaku hidup dan menjadi ‘playground’ ku ketika aku kost di sana, 14 tahun sebelum sekarang.

    Selalu ada waktu setiap hari selama kunjunganku di Jogja, aku kerap melongok ke arah kedua jendela itu, sekadar mengenang dan membayangkan apa yang dulu kulakukan di sana dan apa yang sekarang kulakukan di sini.

    Dalam salah satu bayanganku itu, aku kerap menapak tilas apa yang dulu pernah kulakukan di sana. Kubayangkan diriku berjalan dari gang masuk Galeria Mall lalu berbelok ke arah kiri, masuk ke Gang Resonegaran lalu ke kamar kost, berganti baju, keluar kamar, mengambil jemuran lantas mengambil gitar dan bernyanyi bersama kawan di loteng atas sambil memandang ke arahku sekarang memandang…

    Kawan,
    banyak orang jaman sekarang bilang kita perlu bermimpi untuk mewujudkan segala sesuatunya menjadi nyata.

    Tidak salah! Motivatif malah!
    Tapi, tak semua hal yang menjadi nyata itu datang dari mimpi. Ia bisa datang tiba-tiba, menyergap! Bisa pula tidak pernah akan datang meski sejuta kali dan sejuta malam engkau mengimpikannya.

    Seperti kubilang di atas, empat belas tahun lalu, aku barangkali tak sempat memasukkan keinginan untuk menginap di Novotel Yogyakarta dalam mimpiku. Tapi, Tuhan barangkali juga sudah terlebih dahulu tahu betapa aku saat itu sibuk bekerja sambilan sehingga, kalaupun harus bermimpi, Ia tahu betapa panjang antrian hal-hal yang harus kuimpikan sebagai sebuah proses untuk menuju tahap realisasi mimpi-mimpi itu sendiri.

    Lalu, ketika saatnya tiba, Ia menyodorkan begitu saja kesempatan itu, semudah itu…

     

    Update:

    Tulisanku mendapat sambutan hangat dari kawan-kawan sesama alumni (dan bahkan ada yang masih kost di sana) yang berkumpul di grup Resonegaran di Facebook

    Bahkan salah satu residen Resonegaran, Maik Kinton, berbaik hati menjepretkan gambar sudut-sudut kost-kostan yang semakin membuatku terhanyut dalam kenangan. Berikut adalah gambar-gambarnya.

    Pintu dan jendela yang paling depan itu adalah kamar pertamaku. Sangat sempit dan panas karena kena terik matahari langsung, makanya murah :)
    Kamar yang di sudut itu adalah kamarku selanjutnya dan akhirnya jadi kamar terakhir sebelum aku pindah, awal 2000. Perhatikan sticker ‘DALLAS’ yang menempel, aku pemasangnya! Hahaha…
    Dan inilah bangunan Novotel yang dijepret dari atap kost, tempat dimana aku dulu sering main gitar dan memperhatikan para penghuni hotel mewah itu tanpa pernah bermimpi bahwa suatu waktu aku bisa menginap di dalamnya.

    Oh ya, info terakhir yang beredar, kost-kostan segera akan dijual dengan alasan keluarga. Sayang memang, tapi kehidupan toh memang harus dijalankan menghadap ke depan, masa lalu hanyalah bumbu untuk memperkuat langkah, selebihnya (dan jika berlebihan keberadaannya) adalah penghambat kehidupan itu sendiri…

     

    Update terbaru, 16 Januari 2015

    Dari laman facebook kawan satu kost di Resonegaran dulu, Mas Nico Harjadi, kudapat kabar bahwa bangunan kost dulu di Resonegaran telah diambrukkan sejak akhir tahun 2014 silam. Berikut ini fotonya…

    Kotak merah menunjukkan lokasi kost dulu. Gedung tinggi di sebelahnya adalah Novotel Hotel. Mas Nico Harjadi memotretnya dari gedung Galeria Mall, sekitar 100 meter jauhnya dari lokasi kost. (credit foto: Nico Harjadi)
    Kotak merah menunjukkan lokasi kost dulu. Gedung tinggi di sebelahnya adalah Novotel Hotel.
    Mas Nico Harjadi memotretnya dari gedung Galeria Mall, sekitar 100 meter jauhnya dari lokasi kost.
    (credit foto: Nico Harjadi)
  • Summer in July: Chit…

    Summer in July: Chit…

    6 Mei 1985
    Sepulang sekolah, ketika itu aku kelas 1 SD, Papa menjemputku di depan gerbang, sesuatu yang tak biasa.

    “Le, adikmu wes lahir!” serunya di atas sepeda motor.?Aku hanya terdiam karena tak bisa langsung bereaksi atas kata-katanya barusan.

    “Le!” seru Papaku lagi kali ini sambil menyorongkan tubuhnya ke arahku yang mendekat kepadanya.

    “Oh… Oh ya? Adikku lahir? Wah, adik baru ya, Pa!” jawabku agak sedikit tergagap!

    Dan cerita kejadian ini selalu diutarakan Papa sebagai lelucon hingga meninggalnya, April 2011 silam sebagai satu jawaban yang cukup ‘aneh’ dari seorang Kakak yang telah menantikan lebih dari 7?tahun untuk mendapatkan seorang adik.

    Itulah hari kelahiran adikku satu-satunya, saudara kandung yang tidak akan pernah ada lagi duanya karena Papaku telah meninggal.. kecuali kalau Mamaku yang telah menjanda setahun?lebih itu lantas memutuskan menikah lagi dan beranak.. sesuatu yang agak tak masuk akal sepertinya hehehe…

    * ?* ?*

    Pagi itu, di atas mobil nikahnya, aku menemani adikku mewakili almarhum Papa sebagai wali nikah.?Tak banyak yang kami bicarakan selain detail teknis sana-sini seputar pernikahannya; lagipula sepertinya memang bukan saatnya lagi untuk bicara ‘konsep’ semisal,

    “Kamu yakin akan nikah dengan Ayok?” atau
    “Kamu ga terpaksa kan?” atau yang lebih seram lagi
    “Kenapa kamu gak balik ke rumah untuk menunda pernikahanmu ini?”

    bukan saja karena aku telah yakin pada calon suaminya yang aku telah kenal cukup lama, bukan pula karena “Yah Don, kenapa gak dari kemarin-kemarin tanyanya?!!!” tapi lebih karena?aku percaya pada apa yang direncanakan adikku yang telah pula kupercaya mendapatkan restu dari Sang Kuasa seiring berjalannya waktu dan bagaimana mereka mempertahankan mimpi itu?hingga pagi itu jadi nyata.

    Tapi satu hal yang kuingat kuutarakan padanya sebelum sampai di pintu gereja adalah, “Make-up kamu pas, Chit!”

    Chitra hanya tersenyum. Ia tahu aku tak mudah untuk memuji kecantikannya, sebuah pilihan sikap yang ketika disudutkan olehnya aku hanya akan menjawab, “Butuh pengakuan?”.

    Lalu selebihnya, ketika ia lantas diterima pastor dan disandingkan dengan (waktu itu) calon suaminya, aku tak punya kuasa lagi untuk menahannya terlalu lama.?Kulepaskan genggaman tangannya dan kusorongkan ia begitu saja untuk maju ke depan karena demikianlah makna hidup, tak pernah mengenal kata surut ataupun mundur apalagi berbalik arah!

    Dan ketika ia lantas mengucapkan janji untuk hidup bersatu dengan suaminya hingga salah satu dari mereka mati,?bukannya aku lantas merasa ‘kehilangan’ adik dan saudara kandung semata wayangku itu tadi, tapi lebih pada?perasaan syukur bagaimana ia telah ‘naik kelas’ menuju sesuatu yang baru dalam hidup yang semoga dan kuyakin membahagiakannya karena mereka berdua memperjuangkan kebahagiaan itu sendiri.

    Selebihnya hanyalah pemberian restu ketika ia dan suaminya berlutut dihadapanku tanda bakti yang seharusnya diberikan kepada almarhum Papaku.

    Sesaat setelah mereka berjingkat berdiri dan kembali ke altar, aku menatap langit-langit gereja dan untuk sementara waktu enggan menundukkan kepalaku ke bawah.?Aku takut kaca-kaca yang ada di permukaan mataku jatuh dan basah…

    Hari itu, Minggu, 15 Juli 2012… kutandai sebagai hari dimana Tuhan semakin dipermuliakan melalui keluarga baru adikku, Benedicta Chitra Betsy Verdiana.

    Demikian juga dengan menikah.?Kamu harus membantai masa lalu kamu.
    Pernikahan akan memaksamu menutup rapat gerbang masa lalu
    dan kamu takkan bisa lagi balik ke sana – Donny Verdian

  • Summer in July: TRJBKMCT!

    Summer in July: TRJBKMCT!

    Jangan sekali-kali kamu mencoba bertanya kepadaku, “Apa kesanmu tentang Jogja?” karena jawabanku kepadamu bisa jadi lebih radikal dari bagaimana para bigot-bigot itu membela agama mereka! Aku akan menjadi sangat subyektif membela Jogja terlebih kalau pembandingnya hanyalah sebuah Jakarta :)

    Maklum, lebih dari 15 tahun waktu hidupku (1993 – 2008) kuhabiskan di kota yang istimewa ini dan hal itu cukup membuatku ‘ahli’ dalam mempromosikan Jogja dengan berbagai cara.

    “…sejujurnya aku sempat merasa kesulitan untuk kembali merasakan ?keistimewaan? Jogja pada liburan kemarin”

    Tapi meski demikian, sejujurnya aku sempat merasa kesulitan untuk kembali merasakan ‘keistimewaan’ Jogja pada liburan kemarin.

    Bayangan tentang Jogja yang nyaman sempat terusik dengan berbagai macam hal, mulai dari banyaknya hotel yang dibangun di sana sini, tempat-tempat usaha yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan, orang-orang mudanya yang kebanyakan lebih bergaya ‘metropolitan’ ketimbang mengemukakan keunikannya yang khas, hingga apalagi kalau bukan kemacetan lalu lintas yang sangat mudah kutemui di sana-sini!

    Dan, yang kusebutkan terakhir yang tampaknya menjadi ‘sesuatu’ yang paling mengusik.

    Sumber kemacetan utama di Jogja menurutku adalah segala keriuhan yang terjadi di sepanjang jalan-jalan utamanya, Jalan Solo, Jalan Malioboro dan Jalan Sultan Agung!?Kemacetan di tiga ruas utama itu lantas membuat jalan-jalan penghubung di antaranya pun tak nyaman lagi dilintasi.

    Yang lebih mengagetkan lagi adalah jalan keluar dari Jogja ke Klaten, kota kelahiranku.

    Tiga hari pertama di Jogja (12 – 15 Juli) jadwal acaraku berantakan karena kemacetan tersebut. Padahal, tiga hari pertama itu amatlah ‘critical’ karena aku harus hadir dalam rangkaian acara pernikahan adikku, Chitra yang diselenggarakan pada hari-hari itu.

    Berbekal pengalaman bahwa jarak Jogja – Klaten yang 23-an kilometer itu, tahun lalu bisa ditempuh dalam waktu paling lama 45 menit, aku berangkat dari hotel satu jam sebelum acara dimulai.

    Tapi apa daya!
    Ketika mobil yang kami tumpangi sampai di daerah Janti, ‘gerbang’ kota Jogja di sisi timur, mobil sudah tak bergerak selancar sebelumnya! Lebih ke timur lagi hingga ke arah bandara, trafik lebih runyam lagi karena ketambahan mereka yang merging dari akses jalan arteri utara Jogja!

    Kendaraan menyemut dan bergerak sangat perlahan dan akupun terjebak macet!

    Emosi tak tertahankan, meski kutahu hal itu tak kan memperbaiki suasana. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengumpat segala macam hal yang bisa dijadikan umpatan.

    Tak ada penjelasan yang pasti kenapa kemacetan terjadi selain dari apa yang diucapkan Pak Karyuli, supir kepercayaanku sejak beberapa tahun lalu.

    “Sabar, Mas Donny! Ini karena ngepas-i liburan anak-anak saja!” tukasnya.
    “Nggak mungkin, Pak! Nggak mungkin kalau cuma pas liburan karena jalan ini toh sudah dibelah jadi dua dengan masing-masing satu arah!” sambutku.

    Ia terdiam.
    Setelah nyaris 45 menit, kendaraan baru sampai di Prambanan, 10 km dari Klaten dan kemacetan terurai meski itu hanya sekitar 2 kilometer saja. Sesudahnya, menjelang Dusun Taji yang sudah masuk Kabupaten Klaten, kemacetan kembali menumpuk dan teronggok tak tertahankan, skali lagi aku terjebak macet.

    “Saya tahu, Pak! Saya tahu sekarang…” sergahku mengagetkan Pak Karyuli.
    “Punopo, Mas?”
    “Macetnya ini gara-gara kebanyakan lampu lalu lintas!”

    “Loh kok bisa?”

    Aku lantas menjelaskan berapa jumlah lampu merah dari Jogja menuju Klaten?

    Ada 14 lampu lalu lintas untuk mengatur kendaraan di ruas jalan sepanjang 23 kilometer

    Seingatku, inilah mereka!
    Hitunglah dari Janti, maka di Janti pun sudah ada dua lampu lalu lintas.
    Lalu di pertigaan ring road, bandara, di muka kantor Kedaulatan Rakyat, Kalasan, Bogem, Prambanan (ada dua!), Tegal Mas/Taji, Kraguman, Gondang, Bendogantungan, RS Tegalyoso.

    Ada 14 lampu lalu lintas untuk mengatur kendaraan di ruas jalan sepanjang 23 kilometer atau kalau dirata-rata, mereka ada setiap kurang dari dua kilometer!

    Persoalannya sekarang berapa panjang antrian kendaraan-kendaraan tersebut? Katakanlah panjang antrian hanya 2 kilometer, maka setiap mereka berjalan secara berbarengan, ‘rombongan’ itu akan menemui kemacetan di lampu lalu lintas sesudahnya sementara ‘ekor’ kemacetan masih ada di lampu lalu lintas sebelumnya!

    Tak hanya itu! Lama lampu hijau menyala yang hanya sekitar 25 detik tak sebanding dengan lama lampu merah yang sekitar 65 detik!

    Jadi bisa dibayangkan, selama 65 detik, berapa kendaraan ‘dikumpulkan’ pada sebuah traffic light dan selama 25 detik, hanya akan ada beberapa kendaraan yang maju ke lampu lalu lintas berikutnya! Tentu jumlah yang tak kan pernah seimbang, bukan?

    Perkara lampu lalu lintas ini diperburuk lagi dengan kegiatan pengangkutan pasir dengan menggunakan truk yang seolah tiada henti memenuhi ruas jalan Jogja – Klaten.

    Mereka adalah truk-truk butut yang perjalan seperti siput!
    Dikuasai oleh pemodal-pemodal yang tamak nan badung, mengisi bak dengan kuota melebihi kualitas, minim pemeliharaan kendaraan, membuat mereka sebenarnya tak layak lagi ada di jalanan.

    Mereka ini membuat lalu lintas di belakangnya mau tak mau harus mengikuti kecepatannya yang kutaksir hanya sekitar 20-30 km per jam saja lajunya!

    “Percuma nyalip, Mas.. nanti di depannya ketemu juga yang lain!” ujar Pak Karyuli ketika kuminta untuk menyalip saja rombongan siput itu.

    Sesaat aku mengumpat lagi, kali ini untuk negara yang ‘tak hadir’ dalam masalah seperti ini. Aku yakin regulasi yang mengatur tata transportasi seperti ini sudah ada, tapi mana pelaksanaannya?

    Rakyat perlu bayar pajak berapa banyak lagi supaya aparat berkenan datang dan menggunakan otaknya untuk membenahi hal-hal semacam ini?

    Tapi anyway, liburan adalah liburan, sesuatu yang harus kita rayakan dan jauhkan sejauh-jauhnya dari ke-bete-an seperti di atas.

    Aku lantas harus berterima kasih kepada datangnya bulan Ramadhan!
    Apa pasal? Datangnya bulan puasa bagi kaum muslim itu entah kenapa membuat lalu lintas cukup lengang. Jadi, mulai hari Jumat, 20 Juli 2012, atau dua hari sebelum aku kembali ke Jakarta, perjalananku ke Klaten jadi lebih lancar.

    Ketika sedang menunggu pesawat ke Jakarta di ruang tunggu Bandar Udara Internasional Adisucipto, Yogyakarta, seorang kawan, sesama Indonesianis yang tinggal di Sydney bertanya lewat WhatsApp, “Gimana Jogja sekarang?”
    Lalu jawabku singkat, “Macet! Sumpek!”

    “Tapi tetep asik kan?” tanyanya tak lama kemudian.

    Aku hanya tersenyum menatap nanar barisan pegunungan yang ada di sisi selatan kota yang bagiku selalu ‘bersalutkan gula’ itu…

    Ah, Jogja memang terlalu istimewa meski itu harus dibandingkan dengankota sekelas Jakarta sekalipun!

    Eh iya, kalian tahu apa kepanjangan dari singkatan ‘TRJBKMCT’?
    Kalau kalian tahu, tuliskan di kolom komentar. Satu orang yang beruntung akan mendapatkan kiriman gratis buku terbaruku, Biji Sesawi di Rerumputan!

    Buruan!

  • Summer in July: Urusan perut

    Summer in July: Urusan perut

    Apa yang kau cintai dari Indonesia?
    Makanannya.

    Manusia-manusianya, Don?
    Hmmm…

    Jadi?!!!!
    Ssstttt! Dengarkan dulu penjelasanku.

    Aku mencintai makanan-makanan khas Indonesia karena cara mereka memanjakan lidah luar biasa dahsyatnya.

    Sementara itu, satu-satunya cara untuk mendapatkan makanan yang benar-benar ‘khas’ Indonesia, dibutuhkan orang-orang asli Indonesia untuk mengolah dan memasaknya. So, tanpa keberadaan mereka, mana mungkin aku bisa menyantap masakan khas Indonesia?

    Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa tak mungkinlah aku makan makanan hasil karya musuh-musuhku, jadi kesimpulannya, aku tak bisa untuk tak mencintai manusia-manusia Indonesia!?Pokoknya, selain pemerintahnya, aku mencintai seluruh elemen yang ada di Indonesia!

    Pokoknya, selain pemerintahnya, aku mencintai seluruh elemen yang ada di Indonesia!

    Lah, pemerintahnya apa bukan manusia?
    Entahlah! Tergantung!

    Tergantung apa?
    Ya tergantung apakah mereka mampu membuktikan bahwa mereka itu manusia atau bukan…

    * ?* ?*

    Jadi kali ini, mari kita bahas makanan Indonesia saja!

    Meski cinta makanan-makanan khas Indonesia, nyatanya dalam liburan kemarin, daya cinta itu tak diimbangi oleh kemampuan perutku dalam mencernanya.

    Layaknya kebanyakan mereka yang tinggal di negara maju (meski catatan ini bukan perkara negara maju atau tak majunya), perutku bergejolak begitu menyantap makanan Indonesia. Hal ini berlangsung sejak hari kedua hingga hari-hari pada minggu ketiga (atau bisa dibilang hari-hari terakhir berlibur) di Indonesia.

    Serangan demi serangan ditandai dengan perut ‘melilit’ dan diakhiri dengan pembuangan ‘hajat’ di toilet.

    Orang bilang aku tak tahan dengan pedasnya cabe yang digunakan entah itu dalam adonan masakan ataupun sambal penyandingnya, tapi aku tak sependapat karena kalau mau cari cabe super pedas di sini pun mudah ditemukan, tak harus pulang ke Indonesia.

    Lalu?
    Barangkali bumbunya!

    “Hosyitt! Ini kan bukan di Australia dimana air krannya boleh diminum secara langsung?!” gumamku.

    Bumbu-bumbu yang dipakai untuk mengolah makanan tersebut! Bukannya buruk, tapi karena ‘berbeda’ dengan bumbu-bumbu yang kutemukan dalam makanan di sini, di Indonesia, bumbu ‘panas’ seperti lada dan teman-temannya kerap dijumpai dalam masakan Indonesia.

    Meski demikian, di antara sekian banyak peristiwa ‘perut melilit’ saat itu, kucatat dua kali yang saking seringnya ‘serangan’ itu datang, jadi sangat berkesan bagiku.

    Pertama terjadi setelah aku menyantap nasi pecel di sebuah warung ternama di Yogyakarta. Padahal dulu, ketika aku masih tinggal di sana, nasi pecel ini nyaris jadi santapan keseharian karena aku memang sangat suka jenis makanan tersebut.

    Sajian pecelnya tak terlalu pedas, tapi seperti kubilang tadi, entah bumbunya barangkali yang membuat perutku bergejolak hebat dan akhirnya tak tertahankan untuk buru-buru mencari ke toilet beberapa jam sesudahnya. Atau, selain bumbu, jangan-jangan air yang digunakan untuk campuran sambal adalah air mentah? Siapa tahu!

    Ah, bicara tentang air mentah, pagi hari kedua kedatanganku ke Indonesia pun diwarnai dengan mencret-mencret nggak jelas. Penyebabnya? Entahlah.. Tapi seingatku, sekitar pukul satu dinihari, aku terbangun lalu pergi ke kamar mandi dan mengambil gelas, menuang air kran dan meminumnya. Setengah gelas kuhabiskan hingga akhirnya kutersadar, “Hosyitt! Ini kan bukan di Australia dimana air krannya boleh diminum secara langsung?!” gumamku.

    Tapi apa lacur, air telah tertelan. ‘Untung’ keesokan paginya, air itu pula yang kukeluarkan meski dengan cara yang tak terlalu lazim, mencret-mencret diawali dengan perut mulas.

    Kejadian kedua adalah beberapa saat setelah aku makan sate di sebuah mall di bilangan Senayan, beberapa hari sebelum aku pulang kembali ke Australia.

    Waktu itu aku sedang mengadakan acara kopdar dengan para blogger dan penggiat social media Jakarta, dan kami memutuskan bertemu di tempat itu sembari buka puasa bersama.

    Alhasil, beberapa jam setelahnya aku yang sebenarnya telah berada dalam taksi harus memaksa pak sopir untuk menepikan mobilnya di sebuah mall ‘yang lain’ hanya sekadar untuk mencari toilet dan membuang hajat di sana.

    Kejadian tersebut berulang beberapa kali malam itu bahkan hingga keesokan harinya dan sore hari berikutnya.

    ‘Untung’ nya lagi, aku tak sendirian!
    Tercatat empat teman lain melaporkan hal yang sama bahkan satu di antara kami ada yang harus melewatkan malam itu di sebuah rumah sakit untuk perawatan intensif lebih lanjut!

    Namun toh demikian, rentetan kejadian demi kejadian itu tak menyurutkan niatku sama sekali untuk terus melahap masakan Indonesia.

    Aku berprinsip bahwa makan makanan ini toh tidak bisa kunikmati sebulan sekali! Jadi, selagi masih ada waktu untuk menyantapnya, kenapa harus menghiraukan teriakan perut? Toh bisa tertahankan dan aku percaya betul pada daya adaptasi tubuh kita dan terbukti pada hari-hari terakhir di Indonesia, perutku telah terbiasa.

    Hitung-hitung bukti betapa aku mencintai masakan Indonesia sama halnya aku mencintai manusia-manusianya.

    Kenapa? Karena cinta perlu pengorbanan! Aku mencintai masakan Indonesia, maka aku akan terus melahapnya meski perutku telah berubah jadi perut ‘bule’, yang tak lagi mudah menerima makanan-makanan dan air mentah di Indonesia.

    I love Indonesia, therefore i love Indonesian food!
    Eh, semoga ga kebalik ya!

  • Summer in July: Seperti yang kita tonton di tipi

    Summer in July: Seperti yang kita tonton di tipi

    Bukan agenda terpenting sebenarnya, tapi acara liburanku ke Indonesia Juli 2012 lalu juga sekaligus untuk menyaksikan secara langsung segala hal yang selama ini hanya bisa kutonton melalui beberapa stasiun televisi tanah air yang kuakses lewat saluran parabola di Australia.

    Misalnya soal kampanye pilkada yang ketika ku datang, 8 Juli 2012 silam sedang terasa benar gebyar-gebyarnya di seantero Jakarta.

    Baru saja keluar dari bandara, tak hanya baliho-baliho segede gaban yang muncul di sana-sini, bahkan hingga lubang kakus umum pun tak luput dimanfaatkan para tim sakses peserta pilkada untuk sounding jagoannya.

    …sebuah aksi pengotoran fasilitas-fasilitas publik kota.

    Mengagumkan? Iya, sekaligus menjijikkan!
    Menjijikkan, karena nyatanya apa yang kulihat dan saksikan sendiri kala itu adalah sebuah aksi pengotoran fasilitas-fasilitas publik kota.

    Menghabiskan bermilyar-milyar rupiah dana untuk sesuatu yang tak tahan lama karena bukankah paling lama 5 tahun seorang gubernur akan bertahan? Atau setidaknya dua kali lima tahun? Dengan tambahan biaya yang minimal dua kali lipat dari yang sekarang pada kampanye sesudahnya? Itupun kalau terpilih, kan?!

    Tapi, semuanya toh tak menghilangkan kebahagiaanku dalam berlibur. Aku berujar pada istriku, “Wah, kampanyenya benar-benar mirip dengan yang kita tonton di tipi ya, Hon!”

    * ?* ?*

    Kemacetan yang terjadi di Jakarta sebenarnya juga adalah sesuatu yang semula hanya kubayangkan ada di televisi tapi pada akhirnya ‘terbukti’ setelah aku merasakannya sendiri.

    Untung saja, aku datang tepat pada hari minggu, hari yang cukup lengang dan tak macet jika definisi macet adalah benar-benar berhenti di tempat.

    Untung saja, aku datang tepat pada hari minggu, hari yang cukup lengang dan tak macet jika definisi macet adalah benar-benar berhenti di tempat.

    “Ya, kalau minggu sore memang begini ini… coba kalau hari biasa!?” tukas seorang kawan yang kutelpon untuk mengabarkan bahwa aku telah berada di Jakarta.

    “Oh ya? Akan semacet apa kalau hari biasa?”
    “Yah, besok kan kamu akan merasakannya, Don! Eniwei.. welcome back to Jakarta!”

    Back? Kembali? Hey! Tak sekalipun aku pernah tinggal di Jakarta, jadi perlukah kawanku tadi menambahkan kata ‘back’ di sana?

    Tapi sudahlah yang lebih penting dari perdebatan di atas adalah bahwa apa yang dikatakan temanku tadi terbukti benar karena keesokan paginya, Senin, ketika hendak pergi ke Kelapa Gading, baru berjalan beberapa kilometer dari rumah, kemacetan adalah sesuatu yang tak tertahankan.

    Sebuah truk terbakar mengakibatkan lalu lintas mengular dan terdiam beberapa saat lamanya.

    Sebagai ‘turis manca’, bolehlah aku sesekali menari di atas penderitaan kemacetan Jakarta, toh tak setiap hari juga bukan dalam bilangan bulan sekali aku kemari!

    Dengan sigap aku keluar dari mobil, mengambil iPhone kesayangan, menyalakan aplikasi camera, pasang aksi dan ? jepret… jadilah foto ‘lejen’ seperti di bawah ini!

    Semoga tak ada satupun kawanku di sini bertanya, “Ini parkir mobil beramai-ramai di jalan?” Jakarta oh Jakarta…

    * ?* ?*

    Hal lain yang sebenarnya jarang muncul di televisi tapi kusaksikan sendiri di Jakarta adalah tentang betapa jauhnya jarak strata ekonomi penduduknya meski jarak rumahnya tak lebih jauh dari jauhnya mata mampu melepaskan pandangan.

    Pada suatu siang yang lengas aku pergi ke sebuah gedung yang tinggi yang megah. Ketika sedang menghadap ke jendela dan menyaksikan ‘hamparan’ Jakarta di bawah sana, betapa terkejutnya aku karena ternyata di balik kokohnya gedung-gedung yang tak hanya mencakar tapi menancap di langit itu, tampaklah rumah-rumah yang terlampau sederhana untuk dikatakan layak huni lengkap dengan kekumuhannya.

    Rumah saling tempel dengan bahan baku tak solid, bentuk bangunan seperti rumah burung dara, pagupon kata orang Jawa.

    Tali jemuran di depan dan belakang penuh dengan pakaian yang entah setelah dicuci apa ya masih tetap bersih di tengah udara Jakarta yang sudah jauh dari bersih?

    …adalah deretan berdirinya kemewahan dari sebuah ‘anomali’ Jakarta, kawasan kumuh…

    Rombongan anak-anak kecil yang mandi di sungai depan rumah sementara tak jauh dari sana para ibunya sibuk mencuci pakaian di sungai dan air yang sama pula…

    “Ah, biasa!” demikian gumamku berusaha menetralkan perasaanku.
    Biasa gimana? Ketimpangan itu nyata, Don! Hanya berbatas tembok dan kaca! Seberapa tebal kaca yang dipasang di jendelamu dan sejauh itulah kemiskinan mencoba hidup damai dengan kemewahan!

    “Ah, biasa! Mana ada pemerintah yang mampu mengangkat harkat hidup semua warganya? Kata Iwan Fals sih butuh manusia setengah dewa!” sekali lagi gumam sebagianku yang lain melawan yang lainnya.

    Sepulang dari sana, masih dalam suasana macet yang luar biasa sepanjang jalan, aku melewati areal pinggir sungai, water front istilah ‘Australia’ nya.

    Tapi beda dengan Australia, di sini water front adalah kawasan mahal yang biasanya dihuni orang-orang kaya membangun rumah-rumah mewahnya tapi di Jakarta ini, ‘river bank’ adalah deretan berdirinya kemewahan dari sebuah ‘anomali’ Jakarta, kawasan kumuh berbatas tembok tinggi dan barulah dibaliknya, sebuah kawasan real estate ekslusif berdiri dengan sombongnya seolah-olah mengolok-olok perbedaan yang ada.

    “Hon, yang beginian ada di tivi mana?” tanya istriku gamang.
    “Hmmm? Tivi? Tak eloklah ditampilkan yang beginian!” jawabku.

    Mobil tiba-tiba melaju kencang dan kemacetan itupun terurai, sesuai iklan yang kubaca barusan di pembatas jalan.

    Selamat malam!

  • Summer in July: Awalan

    Summer in July: Awalan

    Juli dan Agustus adalah puncak dari rangkaian musim dingin yang dimulai Juni dan berakhir September di belahan selatan dunia, termasuk di sini, di Australia.

    Pada saat itu, matahari beredar lebih ke sisi utara bumi memanggang Eropa, Amerika, Jepang dan sekitarnya, menyisakan waktu edar yang jauh lebih singkat dan suhu yang menurun drastis di sini.

    Pukul tujuh pagi layaknya subuh dengan matahari masih membenam di ufuk timur, lalu sore harinya, sekitar pukul empat, ia kembali ke peraduan, tenggelam menyisakan gelap dan dingin yang menggigilkan tulang.

    Orang-orang lalu membungkus tubuhnya dengan baju super tebal untuk mendapatkan kehangatan.?Memilih untuk tidak bepergian dan berdiam di rumah di depan tungku perapian atau bagi sebagian besar yang mulai tersentuh ‘modernisasi’ memilih menyalakan pemanas elektrik (heater) sambil membaca buku, menonton televisi ataupun bercengkrama dengan keluarga membayangkan musim panas yang segera datang tiga bulan kemudian dengan segepok rencana yang menyenangkan.

    “Dan demi segala keterkejutan-keterkejutan yang hendak kuceritakan di sini, kunamakan saja serial ini sebagai Summer in July…”

    Tapi, aku adalah sedikit dari yang pantas begitu bersyukur bisa merasakan musim panas ketika banyak kawan di sini masih membayangkan kedatangannya.

    Selama kurang lebih sebulan, aku bersama keluarga diberi kesempatan untuk bisa merasakan langsung hangatnya matahari tropis yang hadir secara konsisten di tanah air tercinta, Indonesia.

    Bertemu sanak saudara, berjabat erat dan memeluk kawan lama seperjuangan, merasakan indahnya wisata kuliner dan memandang geliat hidup di Indonesia lengkap dengan plus-minusnya dari dekat pada akhirnya kami terjemahkan pula sebagai ‘musim panas’ yang kami rasakan.

    Dan, pengalaman-pengalaman yang kami rasakan selama ‘musim panas’ itu amatlah sayang untuk dilewatkan begitu saja.?Menggunakan iPhone yang selalu kugenggam selama itu, aku memotret dan mencatat buih-buih ide, opini, keluh, atau apapun itu namanya yang mencuat dari dalam otak ketika hari demi hari kunikmati di Indonesia.

    Memasuki hari-hari akhir liburan di Indonesia, aku lantas berpikir untuk merangkum semuanya ke dalam bentuk serial tulisan di blog ini; hitung-hitung ‘obat rindu’ kalian setelah sebulan tak?membaca tulisanku lagi.

    Maka jadilah hari ini kuawali catatan-catatan itu yang rencana akan terus kugelontorkan di sini setiap hari hingga 17 Agustus 2012 mendatang bertepatan dengan hari kemerdekaan kita, ya kita.. ‘masih’ kita, belum ‘kalian’ .

    Tapi maaf sebelumnya jika bagi kalian, yang tinggal di Indonesia, barangkali tulisan-tulisan dalam serial ini akan terasa membosankan karena tak ada hal yang baru karena semuanya terlanjur menjadi ‘makanan sehari-hari’. Akan tetapi bagiku hal itu tentu adalah sesuatu yang mengejutkan entah itu dalam arti yang baik ataupun sebaliknya.

    Dan demi segala keterkejutan-keterkejutan yang hendak kuceritakan di sini, kunamakan saja serial ini sebagai Summer in July, karena memang kalau biasanya Juli adalah bulan dengan edaran matahari terpendek dan jarum penunjuk termometer turun hingga titik terendah, tahun ini, kami dikejutkan musim panas yang datang begitu menyenangkan di tanah air, Indonesia.

    Silakan mencari tempat duduk yang nyaman, ambil kudapan dan jangan lupa secangkir kopi atau teh di genggaman, selamat membaca!