Kategori: Risalah Akhir Pekan

  • Risalah Akhir Pekan VI/2018

    Risalah Akhir Pekan VI/2018

    Seperti yang kutulis di sini, sejatinya ada satu rasa kecewa yang kurasakan minggu kemarin. Untungnya rasa itu cepat tanggal dari kelopaknya.

    Sejak beberapa minggu silam, secara intens aku berdiskusi dengan sebuah perusahaan consultancy firm terkemuka di Sydney. Aku tertarik untuk bergabung di perusahaan itu dan ?cintaku? tak bertepuk sebelah tangan, merekapun tertarik kepadaku!

    Interview pertama terkait culture kumenangkan bulat-bulat! Mereka sangat suka dengan attitude dan pandangan serta rentang pengalaman yang sudah lebih dari 18 tahun di bidang ini.?Tiga hari kemudian, mereka mengundangku untuk interview kedua terkait hal teknis. Lagi-lagi aku bisa mengatasinya dengan tak banyak kesulitan dan membuat mereka terkesima!

    Hingga akhirnya, surat tawaran kerja resmi pun kuterima. Namun sayang, aku harus membatalkan aplikasi lamaranku yang sekaligus memupus harapan untuk bergabung dengan firm itu.

    Alasannya? Gaji!
    Gaji yang ditawarkan cukup jauh untuk menyamai gaji yang kuterima saat ini. Aku sejatinya bukan ?manusia angka?. Ketertarikanku pada bidang ini membuatku masih mau berkompromi dengan yang namanya gaji. Tapi bill-bill tagihan dan skala-skala pengukur lifestyle yang kuikuti selama ini tetap melibatkan angka. Aku tak mau membawa diri dan keluargaku kehilangan standard lifestyle yang sudah kuenyam beberapa tahun belakangan hanya demi status ?pekerjaan dan jabatan baru.?

    ?Dengan sangat menyesal, aku harus menarik aplikasi lamaranku. Please keep in touch, i?m here, not too far :)? demikian kalimat penutup dalam email yang kukirimkan kepada mereka.

    ?tapi Tuhan itu Maha Adil.
    Bukan! Bukan karena mereka lantas menaikkan standard gaji yang ditawarkan tapi karena Tuhan memberiku penghiburan tepat beberapa jam setelah email itu kukirim.

    Kantor pusat perusahaan tempatku bekerja menelponku dan menawari posisi baru di proyek yang baru pula! Riangku bukan kepalang karena ini berarti aku bisa meninggalkan proyek yang sudah kukerjakan selama setahun setengah belakangan dan mengerjakan hal baru yang konon menggunakan technology stacks terbaru dan yang paling penting? proyek ini adalah greenfield project dimana aku bisa menawarkan konsep lalu membidani sendiri implementasinya hingga jadi!

    Itulah hiburan dariNya!
    Aku percaya hal itu sudah diatur terlebih karena sejak awal melakukan ?PDKT? dengan consultancy firm yang kusebut di atas aku pasrah kepadaNya. Tiap hari aku mendoa bukan supaya aku dapat pekerjaan tapi supaya aku ditunjukkan mana yang terbaik tak hanya untukku tapi juga keluargaku.

    Selamat menjalani minggu yang baru dan persiapan memasuki masa Pra-Paskah, Tuhan Yesus memberkati!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa VI
    pada pesta nama Santa Perawan Maria dari Lourdes, Santo Gregorius II, Paus, Santo Saturninus, Martir

  • Risalah Akhir Pekan IV/2018

    Risalah Akhir Pekan IV/2018

    Akhirnya kacamata multifocal-ku jadi. Di Risalah Akhir Pekan Pertama tahun ini aku pernah menceritakan bagaimana mataku mengalami kondisi ?mata tua? sehingga harus mengenakan kacamata multifocal untuk rabun dekat dan rabun jauh sekaligus.

    Penggunaan contact lens jadi berkurang karena diselang-seling dengan kacamata yang bentuknya kusuka karena unik.

    Mau lihat fotonya?

    kacamata multifocal
    kacamata multifocal

    Cuti seminggu

    Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku mengambil cuti seminggu di akhir bulan Januari. Kenapa? Anak-anak masuk sekolah tahun ajaran baru ada di akhir bulan Januari.

    Mengambil cuti di saat mereka memasuki masa akhir libur serta masuk sekolah adalah sebuah bentuk perhatian ekstra yang semoga bisa dijadikan contoh baik bagi mereka kelak. Di hari pertama mereka masuk sekolah, aku selalu menyiapkan semuanya lalu kuantar mereka hingga ke gerbang sekolah dan kutitipkan langsung pada guru-gurunya.

    Sederhana, tak terlalu istimewa tapi semoga bermakna.

    Hari pertama sekolah anak-anak
    Hari pertama sekolah anak-anak

    Setelah anak-anak masuk sekolah, di sisa cuti, aku menghabiskan waktu untuk ?pacaran? dengan Joyce. Nonton film dan makan siang berdua adalah juga bentuk apresiasiku terhadap usaha kerasnya mengisi liburan anak-anak yang enam minggu lamanya itu.

    Hidup ini begitu berharga karena waktu yang berlalu tak kan bisa kembali lagi. Menghargai setiap waktu yang bergulir dan mengisinya dengan penuh cinta untuk dibagikan kepada orang-orang yang tercinta adalah tanda bahwa hanya kepada Cinta kita percaya.

    Selamat memasuki minggu yang baru, Tuhan berkati!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa IV pada pesta nama Santo Thomas dari Aquino, Imam dan Pujangga Gereja, Santo Karolus Agung, Raja dan Pengaku Imam, Santo Petrus Nolaskus, Pengaku Iman, Manfredus, Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan III/2018

    Risalah Akhir Pekan III/2018

    Sementara harga-harga cryptocurrency merangkak naik, sementara emosiku turun-naik karena ada satu klien IMAN Merchandise yang super rese?, hal yang paling menghangatkan hati minggu lalu adalah ketika aku menjumpai lagi kenangan masa lalu.

    Adalah benar apa yang dikatakan penyair Skotlandia Alexander Smith (1830 – 1867), A man?s real possesion is his memory! dan memori itu tersimpan dalam sebuah external hard disk yang kubawa saat pindah ke Australia, 2008 dulu.

    Bisa kubilang, selain beberapa lembar dollar (tak banyak), harta milik yang kubawa dari Indonesia ke tanah ini ya hard disk itu! Semua file foto, lagu, video, ijasah dan pencapaian-pencapaian dalam pekerjaan dari perusahaan tempatku bekerja sebelum pindah ke Australia ada di sana.

    Makanya saat hard disk sempat rusak dan tak bisa diakses, pertengahan 2010, agak deg-degan juga meski waktu itu tentu sudah ada hal yang kumiliki yang jauh lebih berarti daripadanya: keluarga.

    Pertengahan 2012, saat kembali untuk berlibur ke Indonesia, Angga, kawan lamaku mereparasi dan isi hard disk bisa diakses lagi.

    Salah satu memori yang tersimpan dan kubuka lagi adalah salah satu situs web pertama yang pernah kubuat, April 1998.

    Situs ini amat penting karena menandai ketertarikanku masuk ke dalam dunia web development yang hingga sekarang, 20 tahun kemudian, kutekuni dan kujadikan mata pencaharian.

    Sayangnya file halaman utama (index.html) rusak dan tak bisa di-load. Meski demikian, berbekal file-file gambar yang masih ada, aku mereka-reka dan mengingat-ingat seperti apa dulu wujud halaman utama situs webku itu.

    Ada perasaan yang menggetarkan ketika melakukannya. Membuka file html yang dulu kubuat dan kini kulihat serta sedikit kubenahi? Teringat bagaimana dulu aku membuat situs web itu di komputer milik Amen Sutawidjaya, kawan dekatku di Gang Semar dulu.

    Risalah Akhir Pekan
    Main page/halaman utama

    Ada pula perasaan geli melihat bagaimana caraku bertutur serta pilihan kata yang kugunakan. Hal yang paling membuatku tak bisa menawan tawa adalah saat aku membaca link ?Thanks You? bukannya ?Thank You?

    Kalian yang membaca blog ini sejak lama barangkali tahu bahwa Bahasa Inggrisku memang kacau-balau! Sepuluh tahun lalu aku pernah menulis di blog ini tentang beberapa kesalahan pertama yang kubuat setelah pindah, salah satunya termasuk kesalahan yang kubuat sepuluh tahun sebelumnya di atas, menulis ?Thank You? sebagai ?Thanks You?.

    Untuk kenangan masa lalu, untuk hal yang selalu kumiliki, aku mengunggah dan menyemayamkan situs yang kuberi tajuk ?Putih? itu di sini, http://oldest.dv.fyi. Selamat menikmati :)

    Selamat menjalani minggu yang baru, Tuhan berkati.

    Dipublikasikan pada? Hari Minggu Biasa III?pada pesta nama?Santa Agnes, Perawan dan martir,?Santo Fruktuosus, dkk: Augurius dan Eulogius, martir

  • Risalah Akhir Pekan II/2018

    Risalah Akhir Pekan II/2018

    Minggu kedua tahun ini kulalui dengan penuh dinamika dan sukacita.

    Djago Coconut Chicken

    Sebuah resto masakan Indonesia berbahan baku ayam dibuka di Sydney, Australia. Djago Coconut Chicken (website) namanya. Yang punya kawan-kawanku, rasanya nendang, pedesnya ?Indo banget? lengkap dengan singkong goreng, nasi uduk-kuning, gado-gado dan beberapa masakan lainnya.

    djago coconut chicken
    djago coconut chicken

    Saking sukanya, Joyce dan anak-anak bahkan sampai dua kali berturut-turut dalam dua hari ke sana. Pertama kali datang bersamaku, kedua kalinya datang bersama Mama mertuaku saat aku sedang bekerja?

    Tulisan review yang kuberikan secara cuma-cuma untuk Djago dibaca ribuan kali dan konon membawa banyak orang baru datang ke sana untuk mencicipi. Sejauh ini tidak ada yang kecewa pada tulisan reviewku yang berarti mereka sepakat bahwa rasa masakan di Djago memang mantap!

    Ketemu Mas Bram

    Mas Bram alias Bramantyo Prijosusilo, alumni De Britto 1983, datang ke Sydney untuk transit sebelum pulang ke Indonesia setelah hampir sebulan menjenguk kedua orang tuanya di Armidale. Ia tak sendirian, datang bersama Mbak Sari, istrinya, dan anaknya, Pring Ori.

    ki-ka: Mas Bram, Mbak Sari, DV, Mbak Sue, Mas Sawung Jabo
    ki-ka: Mas Bram, Mbak Sari, DV, Mbak Sue, Mas Sawung Jabo

    Aku bertemu di malam sebelum mereka pulang di rumah Mas Sawung Jabo dan Mbak Sue.

    Familier dengan nama ?Sawung Jabo?? Yup! Beliau adalah seniman besar Indonesia, pernah bergabung dengan Sirkus Barock dan Swami serta Kantata Takwa dan kini berdomisili di Australia bersama istrinya, Mbak Sue.

    Ada pesta meriah di rumah Mas Jabo dan yang datang adalah orang-orang Indonesia serta para pecinta Indonesia. Kami bercengkerama, makan, bertukar cerita.

    Politik Merchandise

    Masih ingat Politik Merchandise? Brand kaos dan merchandise berbau ?politik? yang kurilis tahun lalu tapi lantas berhenti berproduksi di triwulan akhir tahun 2017 silam?

    vox hoax hox dei
    vox hoax hox dei

    Sebuah panggilan telepon dari seorang kawan lama yang adalah partner berbisnisku di Politik Merchandise kuterima dan kami sepakat untuk kembali memutar mesin produksi di saat perpolitikan Tanah Air kian menghangat menjelang Pilkada serentak tahun ini.

    Akan seperti apa lajunya kita simak nanti. Yang pasti, jeda tiga bulan kemarin benar-benar kami manfaatkan untuk mencari ide dan mereka-reka sistem kerja yang lebih baik dan tata administrasi yang lebih mumpuni.

    Nggak sabar ya? Tungguin!

    Cryptocurrency

    Satu hal yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadi! Bahkan hingga seminggu sebelum apa yang terjadi malam itu, aku belum tertarik pada cryptocurrency.

    Adalah Leo, kawan lamaku di Universitas Kristen Duta Wacana yang tinggal di Sydney. Ia menelpon dan iseng ngobrol tentang cryptocurrency.

    Entah kenapa aku tertarik dan malam itu juga aku langsung membeli beberapa mata uangnya seperti bitcoin, etherium, litcoin dan bitcoin cash.

    Waktu hal itu kukabarkan pada Joyce, ia sempat heran. Hingga akhirnya akupun menemukan alasan kenapa aku tertarik. Tak lain adalah karena aku butuh kesibukan baru di tahun ini.

    Aku butuh kesibukan yang mampu menyerap energi negatif menjadi sesuatu yang barangkali bisa menguntungkan.

    Energi negatif? Yup! Aku ketar-ketir pada kesehatan jiwaku terkait Pilkada serentak yang akan bergulir tahun ini! Takutnya aku ikut arus untuk tak pernah berhenti bicara tentang politik, hoax, bela sana, bela sini dan lain sebagainya.

    Jadi kenapa tak fokus pada hobi baru? Syukur-syukur menghasilkan uang meski kalau tidak, bahkan baru seminggu terjun, aku sudah belajar banyak hal dalam bidang ini!

    Pastor Martin Situmorang pindah

    Pastor Martin Situmorang, pastor asli Nias yang dalam beberapa tahun belakangan bertugas di Sydney dan sempat ke Melbourne sebentar, pindah ke Brisbane, QLD.

    Pastor Martin adalah pastor yang begitu dekat dengan komunitas-komunitas Indonesia-Katolik di Sydney. Pembawaannya membumi, selalu membahasakan diri sebagai ?orang kampung?, kotbah yang dibawakan selalu meresap karena disampaikan dengan ?bahasa-bahasa bumi?.

    Me and Pastor Martin Situmorang
    Me and Pastor Martin Situmorang

    Aku belajar banyak darinya, tentang bagaimana bersikap sebagai orang Indonesia yang membaur dengan Australia tapi tetap tak kehilangan karakter sebagai anak bangsa.

    Hari Sabtu kemarin ia mengundang banyak orang untuk datang dalam pesta kecil perpisahannya di sebuah taman di barat kota Sydney.

    Selamat memulai minggu yang baru, Tuhan memberkati!

    Dipublikasikan pada?Hari Minggu Biasa II?pada pesta nama Santo Feliks dari Nola, Martir,?Santa Makrina Tua, Pengaku Iman,?Santo Sava, Uskup dan Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan I/2018

    Risalah Akhir Pekan I/2018

    Minggu pertama tahun ini kulalui dengan sebuah perasaan nano-nano terhadap kondisi mata dan penglihatanku.

    Aku merasa senang atau lebih tepatnya bersyukur karena mataku dinyatakan sebagai mata tua alias presbiopia. Mungkin kalian heran dimana letak senang dan syukurku? Simple! Tubuhku adalah tubuh usia 40 tahun. Jika mataku masih mata usia 20 tahun bukankah itu malah janggal? Sesuatu yang alami selalu lebih baik daripada yang tidak alami, bukan?

    Tapi sedihnya pun ada, namanya juga nano-nano, kan??Kenapa? Harga lensa kontak maupun kacamata multifocal untuk mengkoreksi kondisi mataku kini jauh lebih mahal ketimbang lensa kontak dan kacamata minus yang kupakai sebelumnya.

    Selasa, 2 Januari 2018 silam aku membeli lensa kontak menggunakan klaim asuransi tahun ini. Kalau biasanya persediaan lensa kontak selama setahun bisa kucukupi dengan klaim asuransi selama setahun pula, kali ini karena lebih mahal, aku hanya dapat setengahnya!?Hal itu berarti, aku harus membayar lagi sebanyak klaim asuransiku membeli jatah lensa kontak untuk semester kedua tahun ini.

    mata tua
    mata tua

    Tapi aku membatalkan niatan itu. Aku memilih untuk membeli sebuah kacamata multifocal. Jadi enam bulan jatah lensa kontak bisa kupakai bergantian dengan kacamata baruku nantinya. Dokter mata bilang bahwa kondisi permukaan mataku agak kering dan tak cukup oksigen karena selalu ?dibekap? dengan lensa kontak jadi ada baiknya aku juga mengkombinasikan penggunaan kacamata.

    Harga kacamata multifocal tersebut tak lebih murah dari harga lensa kontak jatah enam bulan. Tapi apa mau dikata, namanya kebutuhan ya tetap harus dipenuhi bagaimanapun cara mencari pemenuhannya.

    Jika aku boleh rangkum hal yang terjadi minggu ini selain dari rasa nano-nano yang kutulis di bagian awal tulisan ini, aku hanya ingin bersyukur betapa hidup ini kadang cukup dijalankan dengan prinsip ?pas-pasan.?

    Pas masuk usia 40 tahun, pas mataku dinyatakan mata tua. Pas butuh beli ini dan itu, pas juga diberi kemampuan untuk membeli itu dan ini!

    Selamat memasuki minggu yang baru, salam bahagia bagaimanapun keadaannya!

    Dipublikasikan pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epiphany)?pada pesta nama Santo Raymundus Penafort, Uskup dan Pengaku Iman, Santo Lusianus, Martir

  • Risalah Akhir Pekan LII/2017

    Risalah Akhir Pekan LII/2017

    Minggu yang menyenangkan karena Natal ada di dalamnya ini harus segera diakhiri! Aku menikmatinya secara khidmat dan membahagiakan. Tanggal 25 Desember aku pelayanan musik di misa Natal jam 10 pagi di gereja paroki lokal. Setelah sekian lama tak bermain bersama mereka, membawakan lagu-lagu Natal yang ceria itu menghangatkan hati dan mencerahkan hari.

    Sepulangnya dari sana, bersama keluarga, aku pergi makan. Mencari restaurant yang tetap buka pada hari Natal tidaklah mudah karena hampir sebagian besar pusat perbelanjaan dan restaurant tutup sehari penuh. Pemandangannya mungkin sama dengan pemandangan Idul Fitri di Indonesia dimana banyak toko dan restaurant memilih tutup untuk merayakan hari raya bersama keluarga.

    Setelah menemukan tempat makan dan makan kenyang, kami pulang beristirahat. Malam harinya, keluar makan malam bersama keluarga seorang kawan dekat yang datang dari Melbourne.

    Bertemu keluarga kawan dekat yang datang dari Melbourne
    Bertemu keluarga kawan dekat yang datang dari Melbourne

    Hari berikutnya, 26 Desember aku dan keluarga bergabung bersama lebih dari dua ribu orang Katolik Indonesia di Sydney ikut dalam perayaan misa Natal meriah di St Mary?s Cathedral di Sydney. Hadir pula Duta Besar Indonesia untuk Australia yang baru, Yohanes K.S Legowo beserta ibu yang juga adalah pemeluk Katolik yang taat.

    Misa Natal CIC di Cathedral
    Misa Natal CIC di Cathedral

    Misa yang sekaligus digunakan sebagai perayaan 25 tahun ulang tahun Catholic Indonesia Community (CIC) itu menghadirkan seorang uskup dan beberapa pastor termasuk pastor-pastor Indonesia yang bertugas di Australia. ?Pawai tradisi dan budaya? ala Indonesia mulai dalam bentuk lagu dan tari-tarian juga hadir memeriahkan suasana dan membuat seolah kita sedang berada di Tanah Air saja!

    Ketemu Mas Agus Tandany (JB 1986) saat misa di Katedral
    Ketemu Mas Agus Tandany (JB 1986) saat misa di Katedral

    Selesai misa yang berjalan lebih kurang dua jam itu, umat diajak untuk hadir ke pesta Natal di Hurstville, sekitar 45 menit jauhnya dari Sydney. Pesta gratisan (termasuk makan malam) yang dibatasi untuk seribu umat itu berlangsung begitu meriah, menghadirkan banyak pertunjukan musik dari komunitas-komunitas di bawah payung CIC Sydney termasuk bintang tamu seorang penyanyi asal Indonesia, Henny Purwonegoro.

    Suasana Pesta Natal CIC
    Suasana Pesta Natal CIC

    Melalui tulisan ini, aku harus menyaluti kerja panitia yang luar biasa. Usaha mereka untuk menghadirkan rangkaian acara kemarin tentu tak mudah, perlu persiapan panjang dan melelahkan. Namun melihat suksesnya acara, semoga mereka terhibur dan aku bukan satu-satunya orang yang memberikan ucapan selamat atas kerja keras dan berterima kasih untuk acara yang menyenangkan lagi mengesankan itu.

    Bagaimana acara Natalan kalian di Indonesia?

    Aku tak terlalu mengikuti jalannya pemberitaan perayaan di Indonesia tapi yang kudengar ada dua hal yang mengemuka.

    Pertama soal kedatangan Anies Baswedan ke misa Malam Natal di Katedral (baca berita di sini) . Ada beberapa pihak yang menyayangkan kenapa ia datang saat misa diadakan. Tapi surat yang dikeluarkan Keuskupan Agung Jakarta sangat melegakan. (baca beritanya di sini)

    Anies Baswedan datang ke Katedral
    Anies Baswedan datang ke Katedral

    Bagiku, selama Keuskupan Agung Jakarta tak keberatan ya tak jadi soal karena keputusan di Gereja ya datang dari uskupnya. Lagipula? come on, santai aja bro and sis? Masih beruntung kita didatangi pejabat publik daripada tidak sama sekali? Semoga keberatan dari beberapa pihak itu tidak terbaca oleh ‘pihak sebelah sana’ sebagai ketidakbisaan kita untuk move on dari pilkada DKI Jakarta yang lalu ya.

    Surat pernyataan Keuskupan Agung Jakarta
    Surat pernyataan Keuskupan Agung Jakarta

    Lalu yang kedua adalah soal adanya beberapa orang dari kaum pemeluk agama lain yang tidak memberikan ucapan Selamat Natal karena menurut mereka, ajaran agamanya tidak mengijinkan yang demikian.

    Aku dulu pernah berada di posisi yang merasakan hal yang sama, ?Kenapa mereka tak menyelamatiku padahal saat mereka merayakan hari raya kita pun mengucapkan selamat hari raya!??

    Tapi semakin kemari, harusnya kita sadari bahwa kalau memang adanya seperti itu ya sudah jangan diapa-apain lagi. Anggap saja dengan membiarkan mereka tak menyelamati kita membuat ibadah mereka lebih lancar, bukankah hal ini merupakan kebaikan untuk kita semua?

    Lagipula, apa ucapan Natal yang mereka berikan itu mampu menggantikan kehangatan kasih dan cinta yang dicurahkan Tuhan dari istimewa itu?

    Kamu sendiri yang jawab ya!

    Selamat Tahun Baru 2018! Semoga di tahun yang baru kita semua tetap memperoleh berkat dan hikmat kebijaksanaan dari Tuhan!

    Dipublikasikan pada hari Pesta Keluarga Kudus Nazareth, pada peringatan Santa Melania, Martir, Santo Silverster, Uskup.

  • Risalah Akhir Pekan LI/2017

    Risalah Akhir Pekan LI/2017

    Minggu lalu adalah minggu yang istimewa karena 20 Desember 2017 silam usiaku bertambah satu, 40 tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ratusan ucapan selamat kuterima dari berbagai macam kanal interaksi.?Mulai ucapan langsung dari orang-orang terdekat dan kawan kerja, whatsApp hingga SMS, Facebook, Instagram bahkan Twitter yang sudah jarang kubuka. Aku kebanjiran berkat, aku kepenuhan selamat. Semua ucapan kujawab satu per satu tanpa terkecuali?

    Oh ya ada kejadian unik terjadi di penghujung minggu.
    Seorang penjaga sekuriti tempatku bekerja saat masih di Jogja dulu tiba-tiba menghubungiku. Ia mengirimkan pesan, ?Bos, ada paket kiriman untukmu!? Sebuah foto disertakan dalam pesan itu terbaca namaku lengkap dengan jabatanku waktu itu.

    Aku mengernyitkan dahi. ?Apakah ini dejavu?? Aku sudah tak bekerja di perusahaan itu sejak 2008 silam dan masih ada orang yang mengirimkan sesuatu kepadaku dengan jabatan tersebut?

    Sempat berpikir macam-macam akhirnya aku memutuskan menghubungi si pengirim, kebetulan nomer teleponnya tercatat petugas sekuriti itu.

    Setelah kutelepon, barulah kutahu apa yang terjadi sebenarnya. Seorang di Makassar membaca postingan di blog ini yang kuberi tajuk Posko Mangkubumi. Posko Mangkubumi adalah sebuah inisiatif sekelompok kawan-kawan sesama alumni SMA Kolese De Britto untuk menggalang bantuan bagi para korban bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di selatan Jogja beberapa waktu silam.

    Tergerak membantu, ia mengkoordinasi kawan-kawannya untuk menyumbangkan pakaian bekas. Barang-barang itu lantas dikirimkan kepadaku. Uniknya, meski alamat Posko Mangkubumi kutulis jelas di postingan, ia mengirim ke alamat lama kantorku itu.

    risalah akhir pekan
    risalah akhir pekan

    Kok bisa?
    Ketika ia menginformasikan bahwa nama orang yang bisa menyalurkan bantuan adalah aku, seorang kawannya yang rupanya pernah mendengar namaku langsung bilang, ?Aku tahu Donny Verdian. Dia adalah manager di (ia menyebutkan sebuah brand media online Jogjakarta yang dulu kubangun).??Ia lantas mencari alamat kantor itu dan dikirimkannyalah barang-barang itu kepadaku.

    Aku akhirnya menjelaskan bahwa aku sudah tidak bekerja di sana dan bahkan sekarang aku bermukim di Australia. Ia meminta maaf karena apa yang dilakukan dianggap sebagai kelancangan. Dengan setengah bergurau aku menanggapi, ?Nggak ada yang perlu dimaafkan? Niat Mbak kan baik, membantu korban bencana? ada nggak yang lebih baik daripada itu??

    Seorang kawan dari Posko Mangkubumi kuhubungi untuk mengambil titipan barang itu dan sebuah isu kecil yang kupikir dejavu itupun bisa kuselesaikan dalam waktu cepat.

    Namun demikian, aku tak henti-hentinya berpikir bagaimana mungkin hal unik itu bisa terjadi. Aku selalu berkeyakinan tak ada yang kebetulan terjadi di dunia ini. Apa makna dan pesannya aku tak tahu tapi setidaknya aku bersyukur masih bisa dipakai Tuhan untuk menjadi perpanjangan tanganNya melalui hal-hal sederhana termasuk pencarian bantuan untuk kemanusiaan seperti itu?

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Adven IV
    pada peringatan Adam dan Hawa, Manusia Pertama

  • Risalah Akhir Pekan L/2017

    Risalah Akhir Pekan L/2017

    Minggu lalu adalah minggu yang sibuk.?Pekerjaan makin mendekati puncak karena deadline proyek berhimpit dengan liburan Natal yang akan berlangsung dua pekan lamanya.

    Di luar pekerjaan, anak-anakku terlibat dalam acara perpisahan maupun pesta Natal di sekolahnya masing-masing, kemudian di akhir pekan harus performance akhir tahun di sekolah ballet tempat mereka terdaftar menjadi siswa selama ini.

    Pada pesta Natal di sekolah Odilia, anak-anak dan orang tua duduk bersama di kelas untuk menikmati makan siang sederhana yang disediakan pihak sekolah dan sumbangan orang tua.?Selesai acara makan, anak-anak berdansa sedangkan orang tua keluar dari ruangan kelas, ngobrol, kongkow sambil menunggu bel usai sekolah dibunyikan.

    Pesta Natal di sekolah Odilia - risalah akhir pekan
    Pesta Natal di sekolah Odilia – risalah akhir pekan

    Selang tiga hari kemudian, tepat di hari ulang tahun Elodia yang kelima, 12 Desember 2017, aku diundang ke acara tutup tahun pre-school-nya.?Tak ada acara makan di situ, hanya performance selama kurang lebih 45 menit dilanjutkan dengan acara pemberian ijasah bagi mereka yang dinyatakan lulus termasuk Elodia.

    Yang istimewa dari acara itu adalah karena bertepatan dengan hari ulang tahun Elodia. Kami membagikan goodie bag ulang tahun untuk kawan-kawan sekelas lalu mereka bersama para orang tua serta guru yang hadir pun menyanyikan Happy Birthday untuk anak bungsuku itu.

    Odilia dan Elodia di muka pre-school - risalah akhir pekan
    Odilia dan Elodia di muka pre-school – risalah akhir pekan

    Yang lebih istimewa lagi, siang itu menjadi tanda usainya interaksi kami dengan pre-school. Lima tahun sudah aku dan Joyce mengirim Odilia selama tiga tahun kemudian disambung Elodia untuk belajar di situ pada dua tahun terakhir dan seiring selesainya masa pendidikan Elodia, selesai sudah semuanya?

    Kujabati tangan para guru satu per satu, kuminta mereka berfoto dengan Elodia dan Odilia yang kami jemput lebih awal untuk pulang dari sekolah demi acara ?pamitan? ini.

    Odilia dan Elodia di muka kelas pre-school - risalah akhir pekan
    Odilia dan Elodia di muka kelas pre-school – risalah akhir pekan

    Ada rasa haru menyeruak tentu saja tapi bukankah semua harus seperti itu? Ketika kita harus berkemas untuk meninggalkan sebuah masa menuju masa yang lebih baru, kenangan demi kenangan itu seolah menarik diri kita ke belakang meski Tuhan terus memberi daya supaya kita tetap maju ke depan.

    Di dalam mobil sambil menarik nafas dalam-dalam, aku bilang pada Joyce, ?Udah kelar ya.. kita udah ?naik kelas? jadi orang tua karena anak-anak kita udah gak ada yang kemari lagi tahun depan?.?

    Lalu hari berjalan seperti biasa, panas nan lengas?

    (Seharusnya) Dipublikasikan pada Hari Minggu Adven III?pada peringatan Lazarus, Sahabat Yesus, Santa Olympias, Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan XLIX/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIX/2017

    Sejak akhir November hingga kini, sakit flu disertai batuk belum juga reda sepenuhnya.?Rasa nyeri di tulang, kepala berat hingga hidung tersumbat dan demam memang sudah menurun, tapi batuk masih agak menyiksa.

    Sementara untuk minum sembarang obat pereda batuk, dokter tidak memperbolehkannya lagi, harus disesuaikan dengan kondisi tubuhku. Nah, persoalannya, kebanyakan obat yang diperbolehkan itu membawa efek kantuk ketika dikonsumsi.?Jalan keluarnya, sepanjang hari aku tak minum obat, baru ketika hendak tidur meminumnya. Lumrah kan kalau agak lebih lama untuk sembuh ya? :)

    Anyway, meski badan belum fit, tapi minggu kemarin aku bersyukur bisa menyelesaikan persoalan perusahaan di Indonesia.?Tentu aku tak bisa menyebutkan apa permasalahannya tapi sebenarnya persoalan ini berakar dari hal yang sifatnya pribadi.

    Jangan tanya besar-kecilnya persoalan karena dalam hal ini aku cukup saklek untuk bilang bahwa tak ada masalah yang lebih besar daripada kita untuk ditaklukkan. Yang terkadang membuat besar adalah karena kita tidak tepat memilih solusinya.

    Nah, bicara soal solusi, aku mau sharing satu hal. Beberapa tahun belakangan ini, sejak mengenal dan mengagumi nama Elon Musk, aku cenderung nyaman menerapkan caranya dalam menyelesaikan permasalahan.

    Metode dari orang yang berada dibalik sukses Tesla, Space X serta Solar City itu dikenal sebagai teori First Principle Thinking.

    Aku tak hendak menjelaskan secara lebih dalam karena kalian bisa lihat di video bawah tapi yang jelas Elon yang juga menciptakan PayPal pada 1999 itu menyelesaikan satu permasalahan dengan cara melihat hingga akar persoalan dan merekonstruksi cara yang lebih benar.

    Dari yang dikatakan Elon, terkait First Principle Thinking adalah, ?boil things down to their fundamental truths and reason up from there?

    Hal tersebut berlawanan dengan penyelesaian masalah berbasis analogi. Menurut Elon, Through most of our life, we get through life by reasoning by analogy, which essentially means copying what other people do with slight variations.

    Jadi minggu aku mencoba menerapkannya. Aku tidak terpancing untuk membandingkan persoalan yang ada dengan permasalahan orang lain yang mirip. Aku berusaha mencari tahu kenapa dan bagaimana persoalan itu terjadi.

    Untuk itu aku melakukan riset. Tanya kanan-kiri ke orang-orang yang tidak terkait masalah tapi ada di sekitar permasalahan. Penemuan dari riset itu lantas kupelajari hingga ke akar-akarnya.

    Setelah inti permasalahan kutemukan, aku lantas mencoba mensimulasikan apa yang seharusnya dilakukan di masa lampau supaya kejadian itu tak terjadi dari situ timbul solusi.

    Puji Tuhan, tawaran solusiku didengar pihak yang bersangkutan, meski hanya sebagian. Tapi aku tak kecewa meski hanya sebagian yang dilakukan karena bukankah itu menandakan betapa bagus solusi yang kutemukan karena dijalankan setengah saja sudah berhasil menyelesaikan permasalahan?

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Adven II,
    pada peringatan Santo Miltiades, Paus dan Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan XLVIII/2017

    Risalah Akhir Pekan XLVIII/2017

    Desember!
    Tak terasa kita sudah berada di bulan terakhit tahun ini. Padahal rasanya baru kemarin kita meniup terompet tahun baru, mengemas kembali hiasan Natal ke kotak penyimpan serta mengganti kalendar ya?

    Tapi baiklah. Waktu memang tak pernah bisa kita pegang, ia bengis, ia berlalu tinggal bagaimana kita mengisinya dengan hal yang membuat kita bahagia bukan?

    Sampul album U2

    Awal bulan ini ditandai dengan sesuatu yang menyenangkan yang sudah lama kutunggu-tunggu, U2 merilis album terbarunya bertajuk Songs of Experience. Album ini luar biasa dan tak salah kalau majalah Rolling Stone Magazine menyemati album ini sebagai album terbaik U2 di abad baru ini.

    sampul album the rolling stonesTak hanya U2 sebenarnya karena The Rolling Stones juga merilis On Air, Noel Gallagher?s High Flying Band menelurkan Who Built the moon? dan.. hey, Endank Soekamti, seperti yang bisa kamu baca di sini, berkibar dengan album baru mereka, Salam Indonesia.

    Jadilah musik-musik asik mereka menghiasi telingaku hari-hari ini, berputar-putar dan berganti-ganti tiada henti.

    sampul album Noel GallagherSementara minggu kemarin berjalan berbeda dari minggu sebelumnya. Minggu yang amat teduh dan tenang meski sisa-sisa kelelahan dari empat minggu sebelumnya diterjemahkan oleh tubuhku sebagai flu berat yang menimpa.

    salam indonesia
    salam indonesia

    Seluruh badan rasanya pegal-pegal, kepala cenut-cenut, demam dan bersin serta batuk membentuk ritme tiada henti. Mencari celah untuk istirahat dari kerja rutin tak semudah dulu karena proyek berjalan lebih kencang mengejar tenggat harus selesai akhir tahun.

    Tak nyaman? Mau gimana? Hidup terkadang memang harus demikian untuk mengejar atau setidaknya menentukan definisi baru terhadap arti kenyamanan itu sendiri di masa mendatang, bukan?

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Adven I, pada peringatan Santo Fransiskus Xaverius, Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan XLVII/2017

    Risalah Akhir Pekan XLVII/2017

    Akhir minggu lalu amat melelahkan. Jumat malam aku diundang nyanyi dan bermain gitar bersama seorang kawan lain di sebuah acara ulang tahun arisan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di sini. Sejak jumat sore aku sudah ikut bantu angkat-angkat sound system dan setup alat, setelah main pun harus membereskannya. Aku ?menyentuh? rumah baru sekitar jam 12:30 dinihari, hari berikutnya.

    Jelaslah hal itu membuatku tepar keesokan paginya. Bangun jam 10, sejam kemudian harus bersiap pergi berlatih musik dan nyanyi untuk acara perayaan ekaristi penutupan retret hari minggunya. Berlatih hingga jam 4 sore, kami pergi ke sebuah toko musik untuk membeli stock senar lalu pergi untuk makan malam dan balik ke rumah.

    risalah akhir pekan

    Tidur jam 11 malam, keesokan paginya, Minggu, jam 7 pagi aku sudah harus bangun. Acara perayaan ekaristi di jadwal mula-mula adalah pukul 11 siang. Dengan perhitungan perjalanan dari rumah ke tempat acara sekitar 45 menit, kami berencana berangkat jam 9 pagi. Dalam bayangan, jam 9:45 sudah sampai venue, say hi sana-sini lalu setup alat dan sound check?Menjelang pukul 8 pagi, tiba-tiba panitia menelpon menjelaskan bahwa acara diajukan jadi jam 10. Namanya juga pelayanan, kita sih ?OK? aja meski agak sedikit terburu-buru jadinya?

    Acara berjalan lancar, pukul 1 siang kami sudah sampai di rumah makan untuk makan siang. Selepas makan jalan-jalan dengan istri dan anak-anak di sisa-sisa tenaga yang masih ada.

    Matahari tenggelam di peraduan, kami pulang?

    Capek? Banget! Tapi aku bahagia? Bukan karena pujian yang datang bertebaran tapi karena aku melakukan apa yang bisa kulakukan sesuai kesukaanku. Dan perjalanan pulang itupun jadi samudra permenungan. Betapa kebahagiaan itu makin lama makin jadi target pencarian dalam hidup ini. Bahagia tak identik dengan uang bukan karena aku sudah kaya tapi karena aku merasa bisa melihat esensi kebahagiaan itu sendiri jauh di atas takaran uang.

    Delapan belas tahun sudah aku berprofesi sebagai seorang praktisi IT. Asam-garam, pahit-manis kulalui dan sore itu terbersit pikir, adakah ini saatnya untukku meninggalkan profesi ini dan beralih ke hal yang lebih menyenangkan, menantang dan membahagiakan?

    ?Mungkin musik? Atau apapun terkait creative content lah?? celetukku pada istri.

    risalah akhir pekanIa tersenyum tanda tahu kedalaman hati dan pikiranku tapi belum mau mengutarakan jawaban. Sejenak hening hingga akhirnya ia berkata, ?Tapi anak-anak masih kecil. Apa kerjaan di bidang yang baru nanti bisa menggajimu sebesar sekarang??

    Aku merenung? Kutolehkan muka ke kursi tengah, kedua anakku, Odilia dan Elodia riang gembira duduk sambil bermain iPad.

    Arggghh, benar juga!
    Kebahagiaan memang tak identik dengan uang tapi membesarkan anak-anak jelas membutuhkan dollar!

    Permenungan itu rasanya ingin cepat-cepat kuakhiri saja dan tiba-tiba aku teringat apa yang dikatakan kawanku belum lama ini dan pernah kutuliskan di sini, ?Uang bukanlah kebahagiaan tapi uang adalah pemampu/enabler kebahagiaan??

    ?Hmmm? Besok udah senin lagi ya. Aku harus siapkan pekerjaan malam ini?? celetukku mengakhiri permenungan itu pada istri menjelang tikungan terakhir menuju rumah. Di kaca mobil kutangkap pantulan wajahku yang letih tapi sesungging senyuman kutempatkan di sana? Aku bahagia.

    Selamat menjalani minggu yang baru, Tuhan berkati.

    Dipublikasikan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

  • Risalah Akhir Pekan XLVI/2017

    Risalah Akhir Pekan XLVI/2017

    Minggu lalu adalah minggu yang padat tapi menyenangkan sangat. Ada beberapa hal yang terjadi dan berikut adalah rangkumannya.

     

    iPhone X!

    iPhone X
    iPhone X

    Akhirnya orderan iPhone X ku sampai! Waktu pesan dibilang harus menunggu hingga enam hinggu tapi nyatanya baru dua minggu orderan sudah datang.

    Aku tak sempat membuat unboxing video seperti yang sudah–sudah karena aku harus memindahkan sim card dari iPhone7-ku ke iPhoneX saat itu juga.

    Kok bisa? Biar penasaran nanti, semoga minggu depan aku jadi rilis vlog tentang kesan-kesanku menggunakan iPhone X dan alasan kenapa aku harus memindahkan sim card pun kubahas di sana!

    Acara ?Diskusi Kebangsaan? sukses!

    Jokowi 2019
    Jokowi 2019

    Setelah menyiapkan sejak lama, NKRI OZ Community seperti kukupas tuntas dalam tulisan sebelumnya terselenggara dengan amat baik. Dua pembicara yang hadir, Nur Arief dan Bhatara, bagai duo maut mengupas tuntas prakiraan ?cuaca? di Indonesia tahun 2019 serta prediksi presiden-wakil presiden dengan amat baik.

    Lebihnya lagi, media-media Indonesia pun bergegas menayangkan liputan acara dan membuat acara yang kami adakan lokal itu teramplifikasi hingga semoga ke seluruh pelosok Tanah Air dan penjuru dunia.

    Bertemu Happy!

    Bertemu Happy. Aku dan Happy.
    Bertemu Happy. Aku dan Happy.

    Acara sukses, secara personal akupun mendapatkan ?kesuksesan? lainnya.

    Adalah Happy Indriyono.
    Dia cowok, meski namanya ?Happy?. Kakak kelasku beda setahun saat aku duduk di bangku SD dan SMP di Kebumen. Ia dulu kujadikan role model dalam memeluk dan berinteraksi dengan agama karena Happy kerap tugas sebagai putra altar pada misa harian maupun mingguan di Gereja Katolik Gembala Yang Baik di Kebumen.

    Dari dialah akhirnya aku tertarik jadi putra altar yang bukannya tak mungkin hal itu membentuk senarai sebab hingga akhirnya memicuku mau jadi penulis renungan Kabar Baik setiap hari dalam beberapa tahun belakangan.

    Selepas SMP, Happy melanjutkan studi ke Seminari Mertoyudan, sekolah romo meski akhirnya ia tak jadi pastor.

    Nah, hari sabtu, saat acara diskusi kebangsaan digelar, Happy muncul bersama rombongan guru-guru kolese di Indonesia yang kami undang hadir. Rupanya ia sekarang jadi guru di SMK Kolese St Mikael Surakarta dan termasuk satu dari yang dikirim kemari untuk belajar.

    Wajahnya tak berubah, tetap klasikal dan sesuai namanya, happy, bahagia!

    Aku memanggil namanya saat bersalaman, ?Happy! Kebumen, kan??

    Ia kaget.
    Mungkin dalam hati ia berpikir bagaimana mungkin seorang Indonesia yang tinggal di Sydney tahu kota Kebumen yang ada di selatan Jawa Tengah itu? dan kenal ia pula!

    ?Aku adik kelasmu di SD Pius dan SMP Satu! Donny!? ujarku lagi.

    Ia diam.

    Mungkin kali itu ia lagi-lagi berpikir bagaimana mungkin seorang adik kelas di SD dan SMP-nya dulu sampai di Sydney? Ia lupa padaku dan hingga akhir pertemuan kami dan bahkan sekarang, ia mengaku tidak ingat siapa aku dan seperti apa tampangku dulu. Tapi tak masalah. Yang lupa kan dia, bukan aku hahaha?

    Kami ngobrol banyak hal tentang Kebumen, kota yang kutinggali sejak 1984 – 1993 sebelum akhirnya pindah ke Jogja untuk studi di SMA Kolese De Britto.

    Selepas acara, Happy harus kembali ke Indonesia karena keesokan paginya, Hendy Irawan, adiknya yang juga adalah adik kelasku di SD dan SMP hendak menikah.

    ?Pesawatku jam 10 malam. Aku harus sampai di bandara jam berapa?? tanyanya.

    ?Jam delapan.? jawabku.

    ?Dari sini naik apa baiknya sampai ke bandara??

    ?Ambil kereta sampai ke Central lalu ganti ke platform yang menuju bandara??

    Tapi setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk mengantarkannya ke stasiun Central. Kapan lagi aku bisa ketemu dia di Sydney, kan? ?Udahlah jangan khawatir, kamu nanti kuantar sampai ke Central.?

    Adapun jarak dari Ashfield ke Central tidaklah terlalu jauh mungkin sekitar 15km meski lalu-lintas macet dan tempat parkir minim karena saat itu menjelang malam minggu.

    Sepanjang perjalanan kumanfaatkan untuk terus berbincang tentang masa lalu, tentang Kebumen, tentang kehidupan kami saat ini dan mungkin nanti.

    Tempat parkir di sekitar Central Station tak kami temukan, aku memutuskan untuk menyusuri jalan balik menuju ke Newtown Station karena di sana tempat parkir pasti lebih lapang.

    Matahari sudah condong ke barat saat akhirnya aku melepaskannya di gerbang stasiun.

    Bertemu Happy yang berwajah happy!
    Bertemu Happy yang berwajah happy!

    ?Maturnuwun!? ujarnya.
    Kusalami dia, ?Aku juga maturnuwun! Aku seneng banget ketemu kamu meski kamu tetap nggak ingat denganku, Hap! Salam untuk keluargamu dan sampaikan salam bahagiaku untuk Hendy, adikmu dan istrinya!? Jabat tangan kami erat, lalu ia berlalu begitu saja?

    Selamat memasuki minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXXIII

  • Risalah Akhir Pekan XLV/2017

    Risalah Akhir Pekan XLV/2017

    Hari minggu kemarin aku, Joyce dan anak-anak mengantar seorang kawan yang pindah dari Sydney ke Exeter.

    Exeter adalah sebuah kawasan kecil, 150km sisi selatan Sydney, bisa ditempuh dalam waktu 1.5 jam melalui jalur darat.

    Tak banyak barang yang diangkut kawanku tadi. Hanya beberapa buah koper dan tiga tumpuk kardus yang semuanya muat ditaruh di bagian belakang mobil yang kukendarai sendirian sementara Joyce dan anak-anak menemani kawan tadi di mobilnya.

    Dan memang bukan soal berat-ringannya barang bawaan yang kami pakai sebagai pertimbangan kenapa harus repot mengantar kawan tadi pindah kota melainkan karena kami mengerti perasaan yang dialaminya seperti yang dulu kualami saat pindah dari Jogja kemari.

    Pindah bukanlah keputusan yang mudah. Tak pernah.
    Layaknya tanaman yang sudah berakar di satu lahan, pindah itu adalah mencabut tanaman itu untuk ditanam ulang di lahan baru siap dengan akar-akar baru yang semuanya tentu butuh pengorbanan termasuk waktu.

    Bergaul dengan lingkungan, tempat dan orang baru, meski menantang dan menyenangkan, tapi pada awalnya selalu bikin deg-degan. Apalagi kawanku itu tadi menghadapinya sendirian. Beda denganku, sembilan tahun lalu datang ke tanah ini bersama istri.

    Exeter sendiri seperti kutulis di atas adalah sebuah kawasan kecil. Anggaplah kita harus merepresentasikannya sebagai kota, ia adalah kota yang hanya terdiri dari sekitar tiga buah toko, sebuah lapangan tempat warga berkumpul, stasiun kereta, sekolah, gereja kecil nan tua dan toilet publik sebelah-menyebelah dengan halte bus untuk mengangkut penduduk ke Moss Vale, kota terdekat dengannya.

    Kawanku itu mendapat pekerjaan jadi manajer dari salah satu toko tersebut. Kepindahannya kemari adalah salah satu prasyarat yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijin kependudukan tetap di Australia.

    Namun Tuhan memang seperti tak pernah membiarkan ?anak-anakNya? berjuang seorang diri. Kawanku tadi mendapat rumah inap yang lebih dari sekadar layak. Rumah asri ber-attic cantik milik seorang ibu sepuh yang juga adalah ketua komunitas di area itu. Kalau dalam istilah Indonesianya barangkali kawanku tadi tinggal di kost-kostan yang disewakan Bu RT, jadi aman lah!

    Tiga jam setelah membantunya angkat-angkat barang dan membiasakan diri dengan lingkungan, kamipun pamit pulang.

    Ada haru meski tak terlalu kental tapi bukankah semuanya harus terus berjalan tanpa terlalu banyak rasa perlu kita tinggalkan?

    Selamat menjalani minggu yang baru, Tuhan memberkati!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXXII
    pada peringatan Santo Yosafat Kunzewich, Uskup dan Martir, Santo Nilus dari Sinai, Rahib dan Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan XLIV/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIV/2017

    Satu November dua ribu tujuh belas kemarin, aku genap sembilan tahun tinggal di Australia.

    Aku mengambil cuti sehari meski aku tak mengkhususkannya untuk perayaan itu. Bagiku setiap hari adalah pengalaman baru yang tak perlu dipisahkan tahun-per-tahun.

    Namun tetap saja, sore harinya aku dan Joyce serta anak-anak merayakannya dengan pergi makan ke Pho An, sebuah restaurant penyaji mie khas Vietnam di bilangan Bankstown. Sembilan tahun lalu, sore itu, semangkuk pho yang disajikan di Pho An adalah makan malam pertamaku bersama Joyce di negara-benua ini.

    Rasa syukur menyeruak dari lubuk hati yang paling dalam tak hanya karena kesempatan kesembilan yang kurayakan tapi lebih daripada itu adalah penyertaan Tuhan yang sempurna dalam hidupku.

    Padahal kalau diingat-ingat ada beberapa ketidakpastian yang terjadi di sekitar kepindahanku dulu utamanya soal pekerjaan; aku pindah dalam keadaan nganggur, tanpa pengalaman kerja di Australia sebelumnya, pun aku bukan lulusan universitas di sana, eh? pengantin baru pula!

    Tak hanya itu, alasan kuat tentang kenapa aku harus pindah dan tidak diam di Jogja pun tak kutemukan seutuhnya meski yang kutahu hanya satu: aku melangkah dalam iman!

    Hari berikutnya kembali masuk kerja.
    Seorang kawan menitip buah tangan untuk diberikan kepada Joyce. Karena kupikir jaraknya tak terlalu jauh dari tempat kerja, aku memutuskan jalan kaki. Berbekal GPS aku melangkah di tengah panasnya musim semi kota Sydney.

    Lima belas menit berjalan aku mulai hilang arah. GPS ternyata tak menunjukkan arah seperti yang kuperkirakan saat di kantor. Aku sampai harus mereset ulang GPS karena tak yakin bahwa arah yang telah ditunjukkan akan mengantarkanku ke tempat kawanku itu berada.

    Ternyata oleh GPS aku dibawa balik, lalu diputar ke sisi tenggara kota melewati jalan yang biasa kulewati dengan berkendara. Kira-kira setengah jam barulah aku sampai di tempat janjian tentu dengan keringat dan sedikit kehabisan tenaga meski lebay banget kalau harus pakai airmata!

    Hingga akhirnya aku kembali ke kantor, kubutuhkan sekitar satu jam berjalan kaki dan menurut informasi yang kudapat dari jam yang kukenakan, hari itu aku menempuh jarak 6.5 km. Tak terlalu luar biasa sebenarnya karena hampir setiap hari, di atas treadmill aku toh jalan kaki hampir dua kali lipat jauhnya dari siang itu. Hanya bedanya, di gym tempatku berolah raga ada di dalam ruangan dan selalu terguyur AC sedangkan siang itu cuaca sedang panas-panasnya di Sydney.

    Tapi toh ada saja pelajaran yang kuambil. Sejauh-jauhnya aku berjalan akhirnya toh sampai pula di tujuan. Sehilang-hilangnya arah selama berjalan, akhirnya kudapatkan juga arah yang benar.

    Barangkali begitu pula apa yang kurasakan dulu. Pindah ke Sydney, kota nan jauh dari kampung halaman, belum mendapatkan tujuan yang jelas selain berkeluarga dan melanjutkan hidup hingga akhirnya arah pun kudapat yaitu tak lain karena aku harus memuliakan Allah di tempat ini melalui cara dan talenta yang sudah Tuhan bri.

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXXI pada peringatan Santa dan Santo Elisabeth dan Zakarias

  • Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Risalah Akhir Pekan XLIII/2017

    Ada dua seseruan yang terjadi minggu lalu.

    Pertama, apalagi kalau bukan Harblognas atau peringatan Hari Blogger Nasional ke-10 yang jatuh pada 27 Oktober 2017.

    Sejatinya, ada atau tak ada peringatan harblognas tak berpengaruh banyak bagiku. Ada perayaan atau tidak, aku tetaplah seorang blogger yang ngeblog. Hal menarik dari harblognas kemarin (dan tahun-tahun sebelumnya) sebenarnya justru linimasa social media mereka yang dulu juga ngeblog.

    Aku membagi ?arus? mereka dalam tiga aras.

    Aras pertama adalah orang-orang yang dulunya ngeblog tapi kini lebih aktif nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya pokoknya tetap memproduksi konten. Orang-orang dalam aras ini tetap merayakan harblognas tapi dengan embel-embel bahwa ngeblog itu nggak harus blogging tapi bisa nge-vlog, nge-buzz, nge-tweet ataupun ?nge-? dan ?nge-? lainnya. Salah? Tidak sama sekali!

    Aras kedua, orang yang dulunya ngeblog tapi sekarang berhenti lalu mendadak ngeblog lagi khusus memperingati harblognas.
    Nggak salah juga justru aku membayangkan sensasi yang mereka dapat barangkali malah luar biasa. Ibaratnya seperti seseorang yang tinggal di Jakarta lalu pulang ke desa saat hari raya tiba. Rasanya pasti sangat menyenangkan untuk mendatangi rumah tempat ia dibesarkan, bertemu tetangga yang sudah setahun tak bertemu dan menikmati makanan-makanan yang dulu setiap hari dinikmati.

    Hanya saja analogi ini tak lagi pas ketika aku mendapati seorang blogger, hendak ngeblog di harblognas tapi lupa password admin :) Kalau dipaksa dalam pengibaratan orang mudik, masa seorang mudik lupa alamat rumah di desa? Kan tidak mungkin? Kan ada GPS? :)

    Aras ketiga adalah orang yang baru-baru ini mulai ngeblog? Romantikanya tentu berbeda dengan mereka yang ada di dua aras sebelumnya. Ada semangat membara dan melihat yang seperti ini menyenangkan meski sekaligus menegangkan untuk membayangkan apakah semangat mereka masih tetap menyala di harblognas-harblognas berikutnya atau mereka sudah lantas masuk ke dua aras sebelumnya?

    Masih tentang harblognas. Yang menghangatkan hati dalam harblognas tahun ini adalah ketika seorang yang sudah kuanggap seleblog, Agus Mulyadi, menulis di wallnya terkait dengan eksistensiku dalam ngeblog.

    Kenapa hatiku hangat sebenarnya bukan karena semata-mata ?Agus?-nya. Tapi karena ia jadi salah satu seleblog terbaru dari beberapa yang lain yang lalu-lalu, yang ngepost tentang aku. Hal ini kuanggap sebagai sebuah penghargaan bahwa aku diterima sejak jaman dulu hingga kini.

    Aku sendiri bukan seleblog. Dalam tulisan lamaku di sini, aku menyebut diri sebagai angin sepoi-sepoi. Aku tidak mengguncang, tak pula menggelegar. Biasa saja?

    Hal kedua yang tak kalah serunya adalah peluncuran rencana acara diskusi kebangsaan di Sydney.

    Setelah mengalami beberapa kali penundaan, secara resmi NKRI OZ Community Inc., sebuah asosiasi nirlaba di Australia yang kudirikan bersama beberapa kawan pemerhati Indonesia akan mengadakan diskusi kebangsaan pada 18 November 2017 mendatang dengan tema Jokowi, dua periode?

    Acara ini akan mengetengahkan dua nara sumber, Bhatara Ibnu Rheza (Senior researcher IMPARSIAL) dan Dr. Nur Arif Makful, MSc (staff pengajar di beberapa universitas dan penggiat Kebhinnekaan dan Kebangsaan). Aku sendiri kebagian tugas menjadi pembawa acara.

    Kalian yang tinggal atau kebetulan sedang ada di Sydney hari itu, atau punya kenalan dan saudara bahkan pacar yang sedang ada di sini, boleh loh join ke acara itu. Silakan mendaftarkan diri di sini.

    Kami juga menjual kaos untuk keperluan fund raising yang bisa kalian dapatkan dengan mengisi form di sini. Oh ya, kaos hanya dijual di Australia saja.

    Selamat menjalani minggu yang baru.

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXX

  • Risalah Akhir Pekan XLI/2017

    Risalah Akhir Pekan XLI/2017

    Minggu lalu begitu berwarna.

    Setelah sekian lama tak pernah membuat lagu, aku menggubah lagu Bapa Kami versiku yang kuberi nama Bapa Kami Ceria seperti yang bisa kalian dengar di youtube link di bawah ini.

    Ada beberapa yang bertanya kenapa aku malah bikin lagu segala macam? Lha aku memang bermain musik sejak lama dan kebetulan aku sedang ingin berkreasi lagi melalui musik kenapa tidak?

    Bagiku, entah itu musik ataupun tulisan (dan barangkali nanti lukisan??!?) hanyalah cara menyampaikan dan hal itu sejatinya tak lebih penting dari pesan yang dibawakan. Jadi, selama pesan yang dibawakan adalah hal-hal positif, bukankah itu berarti talenta yang diberikan Tuhan ini tak kusia-siakan?

    Anyway, respon yang diberikan terkait lagu Bapa Kami Ceria amatlah membahagiakan meski ada satu-dua (termasuk seorang pastor) yang komentarnya agak negatif. Kawan SMA-ku, Aradea Sarosa, di percakapan WhatsApp menghibur, ?Yo rapapa. Yesus yo ditolak dipateni kok.Hehehe? (Ya ngga papa. Yesus aja dulu ditolak dan dibunuh kok! Hehehe?-jw)?

    Tapi meski demikian aku mau curcol nih. Sebenarnya, rilis lagu tersebut agak mengganggu.

    Lho kok?
    Yup! Karena hari minggunya aku sudah dijadwalkan untuk memberikan pengajaran kepada Mudika CIC Newtown tapi karena rilis lagu itu, fokusku untuk mempersiapkan materi pengajaran sempat agak sedikit terganggu.

    Mungkin kalian berpikir aku aneh toh kedua-duanya untuk Tuhan? Tapi bagiku tidak demikian. Konsep hidupku kian hari adalah kian mencari apa yang terbaik untuk diberikan kepada Tuhan, bukan mencari yang ?baik?baik? saja. Sedangkan hal ?terbaik? itu berarti yang paling baik.

    Nah, apakah aku bisa memastikan bahwa merilis lagu Bapa Kami Ceria kemarin adalah hal terbaik sementara ada yang lebih penting yaitu menyiapkan materi pengajaran?

    Adakah juga aku benar-benar mengutamakan Tuhan dalam perilisan lagu Bapa Kami tersebut? Khawatirku, yang kumenangkan justru adalah egoku sendiri yang terlalu bangga menjadi pencipta lagu dan disukai lebih dari pesan lagu tersebut.

    Tapi biarlah itu semua jadi pergumulanku. Yang kalian bisa lakukan adalah mendoakan semoga Tuhan semakin memberiku jalan terang.

    Dan lebih daripada itu, Tuhan telah membuat segalanya baik, ya perilisan lagu, ya jalannya acara pengajaran minggu kemarin. Materi yang kupersiapkan dalam tajuk pengajaran Finding God in All Things bisa diserap baik oleh hadirin dan ada beberapa diskusi menarik yang terjadi kemarin.

    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin
    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin
    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin
    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin
    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin
    Jalannya acara bersama Mudika minggu kemarin

    Oh ya, bagi kawan-kawan yang dari kemarin memerlukan notasi lagu Bapa Kami Ceria, kalian bisa mendapatkannya di bawah ini.

    Bukan aku yang menuliskan karena seperti kubilang di tulisan sebelumnya aku tak mengerti sama sekali tentang membaca apalagi menulis not. Lembar di bawah ini adalah sumbangan dari Agus Sandjaja. Pemuda Katolik yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah dan kini bermukim di Sydney sebagai seorang guru piano kawakan dan mendapat pengakuan.

    Selamat memasuki minggu yang baru, Tuhan memberkati selalu!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXVIII?pada peringatan?Santa Teresia dari Avilla, Perawan

  • Risalah Akhir Pekan XL/2017

    Risalah Akhir Pekan XL/2017

    Eh, kalian sadar nggak sih, nggak sampai tiga bulan lagi kita sudah menghadapi Natal dan seminggu kemudian tahun pun berganti!

    Kayaknya baru kemarin kita mengawali angka tahun 2017 dan kini sudah masuk ke bulan yang berakhiran ?-ber? lagi.

    Btw apakabar nih?
    Aku sibuk di pekerjaan karena jatah waktu yang dialokasikan di proyek ini tinggal enam minggu sementara masih banyak pekerjaan yang belum selesai bahkan ada yang belum tersentuh sama sekali hingga kini.

    Namun meski begitu ada dua bintang imbuhan yang kurasakan minggu lalu yang membuatku, yang sudah cukup bersemangat jadi lebih giat lagi untuk menjalani hari.

    Kacamata baru

    Yesss, seperti yang kalian lihat di gambar feature, kacamataku baru! Merk-nya Valley Eyewear, brand Australia yang bentuknya sangat beda dari biasanya, gothic, hitam legam (matte – tidak mengkilap) dan oversize. Aku sudah pengen punya kacamata ini sejak lebih dari dua tahun lalu dan Jumat kemarin box-nya kuterima di pagi hari.

    Yang paling menarik dari kacamata ini adalah, aku mendapatkannya secara gratis!

    Buku-buku

    Minggu siang lalu, Chitra, adikku, mengirim foto koleksi bukuku seperti di bawah ini:

    Aku yang waktu itu sedang dalam perjalanan ke Leura (Blue Mountains) untuk jalan-jalan kagetnya luar biasa!

    Waktu masih tinggal di Indonesia dulu aku mengkoleksi banyak buku mulai dari buku sastra baru dan lawas, politik-politik lama tahun 50-an hingga? playboy. Hah, playboy?

    Yup! Hanya tiga majalah Playboy yang kupunya itupun kukoleksi bukan karena gambar-gambar seronoknya tapi karena ?cerita? yang ada di baliknya. Koleksi Playboyku yang hanya tiga itu adalah tiga edisi perdana majalah Playboy Indonesia yang kontroversial itu.

    Nah, saat pindah ke Australia, 2008 dulu, buku-buku itu kumasukkan ke dalam peti plastik dan kusimpan di gudang belakang rumah. Sejak saat itu hingga akhirnya minggu lalu, peti itu tak pernah dibuka. Kupikir buku-bukuku akan hancur semua termakan ngengat tapi Chitra bilang bahwa semua bukuku utuh dan senangku bukan kepalang! Itu berarti ketika pulang nanti, aku bisa memilah-milah buku mana yang bisa kubawa ke Sydney?

    Selamat menjalani minggu yang baru?

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXVII
    pada peringatan?Simeon, Tokoh Israel Sejati dan Santo Sergius dan Bakhus, Martir

  • Risalah Akhir Pekan XXXIX/2017

    Risalah Akhir Pekan XXXIX/2017

    Minggu lalu, sobat lamaku, Donum Theo yang akrab kupanggil Ableh, di linimasa Twitternya berkata,

    Bagi yang tidak paham Bahasa Jawa, apa yang dikatakan Mas Donum yang sempat mengeyam pendidikan calon pastor di Seminari Menengah Mertoyudan itu adalah, ?Risalah Akhir Pekan kok keluarnya hari Rabu??

    Ya, risalah akhir pekan akhir-akhir ini kuterbitkan setiap rabu karena setiap akhir pekan aku seperti tak punya tenaga tambahan untuk menulis risalah karena akhir pekan adalah waktunya bersenang-senang untuk kemudian ditulis dalam risalah akhir pekan.

    Tapi aku bersyukur, setidaknya Mas Donum yang sekarang jadi abdi negeri itu masih perhatian kepadaku, mantan atasannya yang baik hati ini :)

    Ok! Cukup ngebahas Ableh, mari kita bahas apa saja yang terjadi minggu lalu?

    Anak-anak libur sekolah

    Anak-anak libur sekolah dua minggu?Sejak minggu lalu hingga akhir minggu ini (7/10) anak-anakku libur sekolah. Kalau di Indonesia barangkali setara dengan libur catur wulan. Setiap libur tiba, orang tua seperti aku dan Joyce jadi sibuk membuat jadwal kegiatan anak-anak sehari-hari. Mulai dari jalan-jalan ke taman, pergi ke mall, dan tetek bengek lainnya pokoknya yang membuat energi mereka habis, mereka bahagia dan malam bisa tertidur pulas.

    Mengasuh dua anak tentu tak mudah, oleh karenanya dalam dua minggu ini aku mengambil ?kerja dari rumah? alias work from home dua hari sehingga sambil bekerja aku bisa membantu mengawasi dan mengurusi anak-anak selama di rumah.

    Makin kurus tapi makin menemukan ritme makan yang baik

    Seperti yang kuceritakan di tulisan ini, aku sedang dalam program diet dan minggu lalu aku semakin terbiasa untuk mengikuti pola yang kubuat. Makanan adalah buah, sayur dan kacang-kacangan dengan sedikit karbohidrat yang low GI. Di akhir pekan, barulah aku memakan daging-dagingan serta ikan. Pakaian yang kukenakan melonggar, celana skinny pun jadi agak kedodoran.

    Raffa membaik

    Kalian masih ingat Raffael Vincent atau yang akrab dipanggil Raffa? Anak kawan seangkatan di SMA Kolese De Britto dulu yang kutulis di sini? Akhirnya Raffa sukses dioperasi di Penang, Malaysia.

    Saat ini Raffa sedang menjalani masa recovery. Mewakili Nano dan Devi, aku menyampaikan terima kasih kepada kalian para pembaca blog ini. Meski demikian, sumbangan kalian tetap diharapkan.

    Oh ya, social entrepreneurship start-up, Kitabisa.com membuat campaign video menarik terkait Raffael. Semoga kita semakin terketuk untuk membantunya.

    Videonya bisa dilihat di sini:

    https://www.instagram.com/p/BZyMY2UhQgY/

    Selamat memasuki minggu yang baru. Oh iya, ada ?oleh-oleh? dari acara perayaan ekaristi di St Agatha?s Church. Dengerin aku nyanyi lagu lawas yang tetap asik, ?Karena Cinta? di sini:

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXVI pada peringatan Santo Remigius, uskup dan pengaku iman, Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Perawan dan pelindung Karya Misi, Santo Romanus dari Italia, Pertapa

  • Risalah Akhir Pekan XXXVIII/2017

    Risalah Akhir Pekan XXXVIII/2017

    Setelah mengunggah foto di bawah ini di social media banyak yang bertanya kenapa aku tampak makin kurus?

    Aku memang sedang dalam program diet. Program dietku bukan tentang bagaimana membentuk tubuh yang ideal nan atletis. Diet ini kulakukan atas saran dokter pribadiku. Dalam tes darah yang dilakukan tiga minggu silam sepulang dari jalan-jalan di Mt Buller, ia memintaku untuk melakukan diet karbohidrat, kafein dan alkohol untuk setidaknya empat bulan hingga akhirnya aku menjalani tes darah rutin lagi. Please jangan kepo apa hasil tes darah dua minggu lalu karena kesehatan adalah urusan pribadi :)

    Aku menuruti apa yang dimintanya. Aku langsung stop mengkonsumsi alkohol. Dua minggu lalu aku berhasil mematahkan kebiasaan ngopi yang sudah kujalani tahunan lamanya dan minggu lalu aku mulai diet karbohidrat. Tak benar-benar berhenti mengkonsumsinya tapi mengurangi secara drastis hingga sehari, asupan karbohidrat hanya kudapatkan dari maksimal dua lembar roti gandum.

    Ketika lapar melanda, yang kumakan banyak-banyak adalah makanan asli yang terdiri dari kacang-kacangan, buah serta sayuran. Semua tanpa diolah dan dimasak. Hasilnya? ?Ya seperti tampak di foto. Itupun masih perlu sekitar lima kilogram lagi untuk masuk ke zona yang diharapkan oleh dokter.

    Tapi kamu tampak lebih segar dan ganteng saat gemukan, Don!

    Hehehe, bukan kesan dan ?tampak? yang kuperlukan dalam hidup ini melainkan usaha untuk mengontrol diri yang makin kucari.

    Beberapa hari lalu aku berbincang dengan kawan kerja. Ia datang dari Belanda dan cukup concern pada kebiasaan hidup sehat. Ada satu pesan yang amat menyentuhku darinya. Ia mengatakan bahwa hidup ini makin lama makin banyak yang tak bisa kita kendalikan terutama kesehatan. Nah, kalau hal-hal yang masih bisa dikendalikan adalah memulai hidup sehat, berolahraga dan mengontrol pola makanan kenapa tidak mulai dilakukan?

    Selamat memasuki minggu yang baru, tetap sehat dan semangat!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXV, pada peringatan Santo Gerardus dari Hungaria, Uskup dan Martir, Santo Vinsensius Maria Strambi, Uskup,?Santo Pasifikus, Pengaku Iman

  • Risalah Akhir Pekan XXXVII/2017

    Risalah Akhir Pekan XXXVII/2017

    Salah satu kabar terbaik minggu lalu adalah aku berhasil melepaskan diri dari jerat minum kopi!

    Di blog ini, pada 8 Maret 2012 silam dengan penuh keyakinan aku menulis begini:

    Bagiku, kopi laksana mentari, karena sebuah pagi akan sama murungnya ketika kita tak berhasil menemui keduanya atau salah satunya.

    Tapi hari ini, karena kuat kuasa Tuhan, aku berhasil menaklukannya! Pagi tanpa kopi ternyata tetaplah pagi yang harus dinikmati sembari dilewati.

    Semua berawal dari diskusi dengan dokter terkait hasil tes darah rutin yang kulakukan. Dokter menyarankan supaya aku mengurangi konsumsi kopi untuk menjaga kondisiku supaya tetap prima.

    “Satu cangkir boleh lah sehari!” katanya meringankan. Tapi aku bukanlah orang yang mau menurut begitu saja. Kalau bisa A+ kenapa harus A? Kalau bisa berhenti tergantung dari kopi sama sekali kenapa harus mengurangi saja?

    Hari Senin, ketika kembali ke rutinitas kerja setelah seminggu berlibur, sesampainya di kantor aku langsung pergi ke supermarket untuk membeli kopi decaf. Kopi decaf adalah kopi yang dihilangkan kadar kafeinnya. Jadi secara materi tetaplah kopi, tapi kehilangan esensi.

    Hari pertama minum, rasanya tak tertahankan karena amat tidak menyenangkan rasanya ingin muntah.

    Hari kedua minum, rasanya tetap tak tertahankan.

    Hari ketiga? Aku tak minum lagi hingga kini!

    Aku tak berencana untuk berhenti minum kopi sama sekali tapi setidaknya ini adalah awalan yang bagus untuk tidak tergantung kepadanya!

    Lalu apa kuncinya?
    Yang pertama tentu tekad. Tanpa bermaksud membanggakan diri sendiri tapi aku amat bersyukur karena merasa makin hari makin memiliki tekad dan motivasi yang cukup kuat ketika aku sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu.

    Selain tekad, kunci keberhasilanku yang ingin kubagikan ke kalian justru pada coffee decaf yang kubeli. Intinya bagaimana membujuk otak supaya menurut pada kehendak hati. Sejak membeli, aku tahu bahwa coffee decaf rasanya amat tidak menyenangkan namun toh aku tetap membeli untuk membujuk otakku bahwa percuma minum kopi kalau rasanya seburuk itu. Otak menuruti sugestiku dan aku tak tertarik lagi atau setidaknya tak mengharuskanku untuk minum kopi setiap pagi.

    Selamat menyambut minggu yang baru! Ada atau tak ada kopi, ada atau tak ada mentari, pagi tetaplah pagi selama Tuhan masih menghendaki!

    Dipublikasikan pada Hari Minggu Biasa XXIV
    pada peringatan Santo Robertus Bellarminus, Uskup dan Pujangga Gereja