
Satu Yang Tak Bisa Lepas (SYTBL) adalah karya terbaik Ahmad Dhani yang dipopulerkan orang lain dan dieksekusi dengan sangat menawan dan berkelas. Secara musik, ada kesenyawaan antara SYTBL dengan Unbreak My Heart-nya Toni Braxton, penyanyi Amerika Serikat. Andaikan Toni yang menyanyikan SYTBL, bisa jadi benar-benar mirip.Tapi untung Toni tidak tertarik berbahasa Indonesia dan memang kita nggak perlu dia! Kita punya Reza Artamevia!
Tanpa mengecilkan penyanyi wanita yang lain di eranya, Reza, mantan backing vocal Dewa19 itu bagiku adalah magma yang berpijar di era 90an. Tarikan suaranya mendefinisikan suara wanita yang sebaik-baiknya. Tak harus merdu tapi jujur dan bertenaga. Jujur itu tanpa pretensi apapun ketika menyampaikan, jujur adalah transparansi yang muncul nan tak kentara baik ketika ia bicara maupun bernyanyi.
Sementara saat menyentuh nada tinggi, Reza tidak melengking tapi memarau. Aku jadi ingat komentar almarhumah Ibuk dulu bilang “Suaranya Reza itu gerok!” Gerok itu parau dalam istilah Jawa. Paraunya tak seberat Renny Jayusman, lady rocker Indonesia era dekade sebelumnya, 80an tapi tetap menjadi sebuah mutu manikam yang entah kapan terakhir kali kita melihat ada bakat baru yang seperti itu…
SYTBL dibuka dengan seksama nan tak tergesa-gesa.
Dibuka dengan suara brush sticks yang diseret-seret di atas snare drum yang selalu berhasil mengingatkanku pada suara sapu lidi pembantu rumah tangga di rumah Eyang dulu saat menyapu halaman belakang di pagi hari, “Srek.. srek… srek!”
Satu bar kemudian intro nan menghanyutkan dimainkan lewat permainan gitar akustik yang aku tak tahu pasti siapa yang memainkannya tapi tebakanku sih Tohpati, tampak dari feel dan isian-isiannya.
Dua bar cukup menyajikan intro sebelum mengantarkan Reza bersuara,
Kusimpan masa demi masa
Tak mudah ‘tuk terlupa
Saat kau masih disisi
Hingga saat kau dengannya
Kadang ku menangis
Reza bernarasi bagai berpuisi dan ini dilakukan hingga akhir lagu.
Tak semua bagian dari lagu ini dibiarkan penuh dengan akrobat musik, beberapa dibiarkan mengosong hanya menyisakan sisa sustain dari bass dan keys tipis-tipis sementara dari jauh tetap terjaga tempo oleh drum yang ditabuh menggunakan brush stick seolah membiarkan pendengar benar-benar meresapi kesepian yang memang jadi tema lagu ini.
Aku mendengarkan lagu ini tahun 1997-1998 di radio Geronimo FM Yogyakarta menjelang pukul 12 malam. Pilihan waktu yang tak bisa dipersalahkan karena Jogja lagi sendu-sendunya di jam-jam jahanam itu!
Jogja yang menyepi menjelang peraduan, sisa hujan yang terperangkap di atas permukaan aspal dan menjadi cermin cahaya lampu merkuri pinggir jalan yang begitu temaram menyatu dengan reff lagu ini,
Satu yang tak bisa lepas
Percayalah hanya kau
Yang mampu mencuri hatiku
Akupun tak mengerti
By the way, lagu ini merayap memuncak pada bridge setelah interlude singkat,
Meski hatikupun mengerti
Masih ada satu asa
Kucoba ‘tuk melawan
Angkuhnya hasrat hati
Aku memaknai lagu ini ketika cinta remaja sedang begitu terbentur-benturkan ego dan nafsu. Lagu ini menjadi sarana terbaik untuk kita menglorifikasi sakit hati dan harapan bahwa cinta yang telah pergi bisa kembali meski sejatinya tak pernah muncul lagi! (Muncul-muncul cuma pas di-stalking lewat FB dan IG dan doi sudah tuwir kiwir-kiwir hahaha).
Ah satu lagi, aku suka cara lagu ini diakhiri…
Setelah reff yang meninggi tiba-tiba semua terhenti ketika Reza menyenandungkan,
Dan perasaan yang lemah ini
Menyentuh sendiriku
Reza! Aku padamu!






