Kategori: OKTOBZER

  • Blogger dan Digital Salah Kaprah

    Blogger dan Digital Salah Kaprah

    Oleh?Hamid Muhhamad

    Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa sejak sebulan terakhir ini blogku jadi begitu berisik dengan tulisan-tulisan menyangkut internet secara umum dan?kaitannya dengan beberapa issue seputar social media? (Daftar tulisan selengkapnya ada di tagar OKTOBZER !)

    Yang sensi sih bilang itu dalam rangka Donny nguber-uber buzzer!
    Ada lagi yang bilang “Oh, ya lumrah ngomongin internet! Donny kan anak IT!”
    Sebagian kecil mengapreasiasi secara berlebihan dengan berujar, “Waw, keren!”
    Sementara yang merasa gaptek akan berujar, “Ah, ngga menarik!” lalu tutup window begitu saja atau komen sekenanya!

    Tapi tak mengapa! Terlepas dari segala komentar, aku hanya merasa perlu untuk selalu meluluskan misiku di blog ini yaitu mengutarakan opiniku dengan sesekali?menyediakan panggung bagi kalian untuk bersuara, Para pembaca yang terhormat!

    Tapi sebenarnya, munculnya serial tulisan tersebut bukannya tanpa alasan.?Dan alasan terbesarku adalah karena hari ini, Sabtu Wage, 27 Oktober 2012 adalah hari yang sejak 2007 silam diperingati sebagai hari blogger nasional!

    …aku berpikir bahwa blog/blogger adalah perintis terpenting dalam kaitannya dengan maraknya kehidupan social media belakangan ini!

    Kenapa blog begitu penting??Pertama-tama sekali karena aku adalah seorang blogger.?Lalu yang kedua, aku berpikir bahwa blog/blogger adalah perintis terpenting dalam kaitannya dengan maraknya kehidupan social media belakangan ini!

    Jauh sebelum social media meledak, blogger menurutku telah melatih diri untuk mengekspresikan pendapatnya dalam bentuk tulisan di internet.?Sehingga ketika kanal-kanal social media mulai bertumbuh, pola pengekspresian pendapat itu telah terpatri lebih dulu dan selebihnya hanya tinggal keluwesan dalam menyesuaikan diri dengan medium tempat ia berekspresi saja.

    Di hari wage yang selalu kuistimewakan ini, aku menutup serial tulisanku dengan menampilkan tulisan yang menurutku ‘luar biasa’ dari seorang yang ngakunya ‘biasa saja’!?Ketika menerima naskah tulisannya, aku langsung merasa tulisan ini bercita-rasa tinggi dan cocok menjadi gong dari tulisan-tulisan yang waktu itu masih kukonsep.?Egoku untuk melahap semua porsi menulis kutekan dan kuberikan kesempatan yang semoga menjadi kehormatan bagi kawanku tadi untuk menyuarakan pendapatnya.

    Jadi, mari kita sambut bersama dengan tempik sorak yang gempita, Hamid Muhammad (@duajanuari)!

    * ? ? ?* ? ? ?*

    Digital? Digital itu apa dan bagaimana? Selama ini digital hanya dimengerti bahwa itu adalah non konvensional.?Dalam apa yang mereka bilang dunia bisnis, periklanan atau pemasaran digital. Definisi digital itu adalah hal yang memanfaatkan teknologi, tidak hanya sekedar papan iklan atau?numpang cetak di media massa. Makin hi-tech makin bagus, makin maya makin keren. Singkatnya, digital itu ya twitter facebook dan website.

    Salah kaprah berjamaah seperti yang saya bilang di atas tadi dimulai oleh kegagapan pengiklan atau brand. Mereka yang terbiasa beriklan pada media non-digital amat wajar untuk larut dalam kesalahkaprahan itu tadi.

    ?Kamu siapa, tau apa kamu? Saya ahli dibidang itu, sudah sering saya dapat job dan duit dari sini. Industri mempercayai saya. Lha kamu??

    Namun atas nama pemanfaatan peluang yang belum tentu besoknya datang lagi, para pengiklan yang gegar, gagap dan tidak mengerti tadi pun merasa perlu mencari di lapangan, siapa yang layak untuk dianggap ahli dalam bidang tersebut?

    Ya namanya juga sudah salah kaprah, maka yang dianggap ahli pun sebenarnya belum tentu yang benar-benar ahli. Pokoknya asal punya manuver dan ‘kapasitas’, ia pun dianggap ahli dan anggaran iklan dijatuhkan dari pihak pengiklan selanjutnya dijalankan begitu saja oleh mereka. Soal teknis periklanan dan pengetahuan marketing communication secara mendalam, itu urusan belakangan!

    Padahal sejatinya, untuk menganggap orang yang benar-benar expert/ahli dalam bidang digital ini, belum bisa dibilang ada karena begitu barunya bidang ini digulirkan. Namun justru itu, banyak orang menabalkan diri untuk mendapatkan cap ahli.

    Hal ini sebenarnya sah-sah saja, toh secara praktek mereka sudah diakui industri. Tapi kadang, hal itu malah membuat bereka menjadi bebal dan tak tahan dikritik. Mereka sudah terlanjur benar-benar menganggap dirinya ahli dari sekeliling yang tak dianggapnya ahli. Mereka sudah bisa dengan membusungkan dada bilang: ?Kamu siapa, tau apa kamu? Saya ahli dibidang itu, sudah sering saya dapat job dan duit dari sini. Industri mempercayai saya. Lha kamu??

    Padahal… tau sendirilah kalian!

    …ketepatan solusi untuk melakukan branding bukan semata ditentukan oleh ?siapa? ?buzzer?-nya…

    Bicara soal ‘digital’, tak afdol kalau tak bicara soal buzzer dan Twitter.

    Dulu, twitter di Indonesia seperti tempat nongkrong segelintir pelaku industri kreatif. Sepi, dan 4L (Loe Lagi. Loe Lagi ?red). Hingga akhirnya, sekitar tahun 2009, pada saat peristiwa teror bom di Hotel Marriot terjadi, seorang copywritter senior agensi iklan merespon kejadian itu dengan membuat kampanye #indonesiaunite. Tujuan utama dari kampanye ini adalah menaikkan awareness dan peduli pada ‘isu’ yang sama pada sesama pengguna Twitter!

    Di luar dugaan, gayung bersambut. Beberapa pegawai stasiun televisi swasta yang kala itu juga sudah mulai bermain Twitter, memberikan spot tentang kampanye itu di acara-acara berita di stasiun televisi tempat mereka bekerja. Jadilah khalayak tahu apa itu Twitter dan pengguna pun meningkat tajam!

    Kesuksesan kampanye di atas lantas diikuti dengan percobaan seorang yang bekerja di agensi untuk mengampanyekan produk kliennya. Produk es krim berharga lumayan itupun sukses diiklankan di Twitter barangkali karena memang digarap oleh orang iklan beneran, yang jeli juga menempatkan produk tersebut pada segmen yang pas dengan harganya, kaum menengah yang biasa main di Twitter!

    Pola ‘branding’ yang kurang lebih sama juga terjadi pada acara Pesta Blogger Jogja 2010 (PB Jogja 2010) silam.?Ketika itu, secara lihai, @vetamandra dan beberapa teman dari komunitas Jogtug (Jogja Twitter User Group – red) memasang Enthong (@si_enthon9) yang cukup menjadi ?ikon? di lini masa Twitter waktu itu untuk berinteraksi dan nge-buzz soal PB Jogja.

    Alhasil, –diluar segala subyektivitas saya dalam memandang, acara PB Jogja 2010 mendapat coverage yang lebih baik ketimbang acara yang sama yang diselenggarakan di Jakarta beberapa minggu sesudahnya.

    Dari kejadian-kejadian itu, dengan semena-mena saya simpulkan, ketepatan solusi untuk melakukan branding bukan semata ditentukan oleh ‘siapa’ ‘buzzer’-nya, tapi ditentukan oleh kombinasi yang apik dalam menentukan target market dan penetrasi serta tentu saja timing yang tepat.

    Kisah-kisah keberhasilan branding di Twitter ini lantas bergulir membesar dan membuat pihak pengiklan/industri kemecer…

    Kisah-kisah keberhasilan branding di Twitter ini lantas bergulir membesar dan membuat pihak pengiklan/industri kemecer (terpana -jw). Alasannya simple, impact yang ditimbulkan cukup besar, mudah, dan murah!

    Murah? Iya, murah karena buzzer paling mahal yang saya tahu, pun mau dibayar tak lebih dari lima juta sekali twit, dengan follower berjumlah ratusan ribu hingga jutaan. Sedang buzzer mediocre? Cukuplah dua ratus atau tiga ratus ribu sekali twit. Banding dan bayangkan dengan iklan tv atau koran misalnya yang tentu akan makan biaya berkali-kali lipat dengan tingkat efektivitas yang belum tentu seimbang dengan uang yang dikeluarkannya.

    Lalu apa hubungannya hingar-bingar Twitter dan digital tadi dengan blogger?

    Selain para buzzer, banyak expert-expert digital adalah mereka yang biasa disebut blogger. Bahkan kebanyakan buzzer adalah mereka yang (dulunya) blogger. Mereka dinilai bagus karena kemampuannya membuat konten. Bersama dengan para buzzer, blogger-blogger tadi ikutan nyemplung di dunia periklanan, marketing dan media-mediaan. Dunia yang sepanjang saya tahu memang sungguh glamor, duitnya melimpah ruah, disaat yang sama tak jarang harus kerja keras bagai kuda.

    Terutama bagi yang belum mempunyai klien loyal, dan belum teruji benar performa nya. Ngatur sana ngatur sini, saingan dengan kelompok ini, kelompok itu, bikin laporan sana-sini. Saya yang nonton saja capek. Apalagi yang menjalankan hehehe!

    Jadi? Sepertinya kita juga harus mulai terbiasa ketika banyak blogger terutama yang sudah nyemplung di dunia ini akan mulai berkurang tingkat ke-selo-an nya, (kelonggaran waktunya ?jw) dan akhirnya bisa disimpulkan sendiri lah akibatnya, blog sering terbengkalai, interaksi ‘sharing’ yang semula jadi semangat utama pun menguap begitu saja!

    Akhir kata, Selamat hari blogger nasional! Hmmm, Ataukah harus diganti dengan selamat hari key opinion leader nasional?

    Angel tenan!!!

    Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Hamid? Silakan baca informasi di sini

  • Merekalah para seleb-blog masa kini!

    Merekalah para seleb-blog masa kini!

    Kalau blog dibilang sudah tidak menjadi trend lagi, barangkali memang benar.?Tapi meski demikian bukan berarti bahwa blog telah benar-benar hilang. Justru, meski tak lagi jadi trend, jumlah blogger kian hari kian bertambah. Apalagi munculnya blog community semacam kompasiana dan blogdetik, pertumbuhan blog lebih gila lagi, lebih marak lagi.

    Permasalahannya sebenarnya lebih pada diri kita (eh kalian) yang terlanjur mengenal blog ketika ia tengah moncer-moncernya menjadi trend sekitar empat-lima tahun silam.

    Parahnya lagi, kita lantas menganggap blog memang telah benar-benar mati seiring ?kematian? mereka dari blogoshpere.

    Melalui tulisan-tulisan piawai para seleb-blog kita begitu menikmati blogosphere (istilah untuk blog-atmosphere -red); sehingga ketika mereka mulai jarang menulis (bahkan tak jarang ada yang menghilang sama sekali), kita seperti kehilangan pedoman.

    Parahnya lagi, kita lantas menganggap blog memang telah benar-benar mati seiring ‘kematian’ mereka dari blogoshpere.?Padahal, kalau kita mau melepas kacamata kuda kita, kalau kita mau mengecilkan volume earphone kita, dan mau tengok kanan-kiri, blog-blog yang tak kalah bagus dari para blogger yang tak kalah hebatnya bermekaran dan lebih berdaya tahan.

    Kalian mungkin tak bisa menganggap mereka adalah para seleb-blog, tapi percayalah seleb bukan seleb, kawan ataupun lawan itu hanya tergantung dari cara pandang ?yang kalian pakai.

    Lalu siapa saja mereka?

    Arman Tjandrawidjaja

    Ini blog ajaib! Kenapa kubilang begitu? Lihat jumlah komentar rata-rata per-postingannya!?Beberapa bahkan menyentuh 200an jumlahnya!

    Blog ini juga lumayan sering di-update dan biasanya dihiasi foto-foto berkualitas ciamik!?Ssstttt, kata temen, beberapa fotonya ada yang sampai dicuri untuk digunakan sebagai iklan di tanah air. Bener nggak sih, Man?

    Sebenarnya aku tak terlalu mengikuti blognya karena mungkin kebetulan kami belum saling kenal personally. Tapi itu semua tak jadi soal karena bagiku blog milik sesama imigran (aku di Australia dan dia di Amerika) ini tetap ciamik!

    Imelda Coutrier-Miyashita

    Wah kalau yang ini apalagi, jangan ditanya deh!

    Perempuan Indonesia yang sudah cukup lama tinggal di Jepang, ini selalu menceritakan berbagai macam hal di blognya. Mulai dari masakan yang sedang ia suka, aktivitas kesehariannya yang adalah dosen bahasa Indonesia hingga banyak khasanah pengetahuan tentang Jepang ditulisnya di sana.

    Secara personal aku kenal sejak sebelum aku pindah ke Australia dan pernah juga ketemuan Juli lalu di Jakarta. Nyaris setiap hari pula kami saling sapa di jendela chatting sekadar untuk ber-say hi atau untuk menanyakan kabar keluarga dan gosip-gosip lainnya!

    Aku tak berlebihan untuk menjelaskan hal berikut ini, tapi ini sungguh nyata kualami.?Ketika membayangkan anak gadis Jepang, yang kubayangkan memang Oshin! Tapi ketika membayangkan anak laki-laki Jepang, yang kubayangkan adalah Riku dan Kai, keduanya anak Imel!

    Hahahaha!

    Antyo Rentjoko

    Entah apa yang terjadi dalam bilik benak Paman Tyo, tapi aku melihat dalam setahun terakhir ini kecenderungannya mengerem posting di blogombal.org tapi penetrasi luar biasa terjadi?di blog yang kubahas ini. Kukatakan luar biasa karena frekuensi posting di blog itu, dalam sehari bisa sampai beberapa jumlahnya!

    Nama blognya pun unik, Postyorous menerous, bisa jadi adalah plesetan dari nama provider blog yang dipakainya, Posterous, digabungkan dengan namanya, “Tyo” dan sifat kontinuitinya,?”menerous” maka jadilah Postyorous menerous itu tadi!

    Mutu tulisan dan fotonya jangan diragukan. Aku pernah bilang tapi lupa pada kesempatan apa, bahwa menurutku, Paman Tyo adalah begawan blog Indonesia!

    Oh ya, kalau kalian mau cari contoh ‘seleb-blog’ yang kiprahnya berkibar pada era empat-lima tahun yang lalu dan sekarang masih moncer, ya Paman Tyo ini!

    Pakde Cholik

    Orang banyak menyebut sebagai komandan blogcamp.

    Aku baru sekali masuk ke blognya (ketika menulis tulisan ini) dan melihat postingannya begitu tertata dan kejar-kejaran dengan cepatnya pergantian hari!

    Namanya tak asing lagi kudengar dari blog kawan-kawan lain. Kebanyakan sih ketika ada ‘hajatan’ rame-rame nulis blog bertema tertentu, biasanya terselip kata, “menanggapi tantangan
    Pakde Cholik!” dan sebagainya…

    Ah barangkali dari sini juga panggilan ‘Komandan’ itu berawal mula.

    Tak heran! Kiprahnya memang luar biasa!

    Sawali

    Kalau kalian mau mencari sosok guru yang sanggup bertransformasi begitu apik menyongsong perkembangan teknologi tanpa harus meninggalkan akarnya sekaligus tak apriori terhadap kehadirannya, Pak Sawali adalah contoh terbaik!

    Guru SMP di Kendal, Jawa Tengah, ini ngeblog sudah sejak 2007. Konsistensinya dalam menulis luar biasa! Ia menulis tentang sastra dan dunia pendidikan dalam format yang sangat rapi, panjang dan bahasa yang sangat lugas!

    Topik bahasannya mungkin tak ‘masuk’ ke dalam selera kebanyakan dari kalian, tapi aku tak peduli… bagiku, blogger besar seperti dia akan menemukan ‘pasarnya’ sendiri kok.

    Applaus

    Aku menyebutnya The Rising Star!

    Teman se-asrama waktu SMA di Jogja ini begitu giat menulis di blognya. Beberapa komentarnya juga kulihat menghias blog milik blogger lain yang juga kawanku. Timbal balik seperti ini membuatku mengingat masa keemasan blog waktu itu.

    Tulisannya Applaus (believe it or not, sejak 1993 aku kenal dia, aku slalu kesulitan memanggail dia, apa itu Applaus? App?! Plaus?!) unik, kalau kubilang.

    Ia tak menceritakan keluarganya secara mendetail, tapi kerap mengangkat ide-ide maupun isu-isu ringan nan menarik yang terjadi di sekelilingnya.

    Kalau ia mampu menjaga ‘stamina’ dalam menulis, tebakanku, Applaus ini bakal ‘jadi’! Mari kita lihat dan buktikan bersama!

    Kalau tebakanku gagal ya itung-itung menyemangati mantan rekan se-asrama apa salahnya wahahahaha!

    Hardi Vizon

    Ketika aku muak dengan berita begitu kerasnya cara kaum fundamentalis menindas kaum yang berlainan daripadanya, blog milik Uda Vizon ini seolah menjadi embun penyejuk!

    Ia seorang muslim yang taat dan seorang cendekia muslim yang sedang menimba ilmu di Jogja. (Eh, udah lulus kah engkau, Uda?)

    Blognya cukup terupdate dengan baik. Dan keluasan pikirnya tampak dari bagaimana ia menguntai kata demi kata di blognya. Jaringan pertemanannya luas, melebihi batas-batas yang ada.

    Aku pernah bertemu dengannya sekali, beberapa hari setelah Papa meninggal di Klaten April 2011 silam.

    The Ordinary Trainer

    Aku tak mengikuti blognya meski pilihan untuk itu ada sejak aku belum pindah ke Australia. Aku tak kenal juga secara personal dengannya hingga akhirnya aku bertemu muka dengannya Juli silam.

    Konsistensinya dalam menulis jempolan. Tulisannya juga tenang dan tak meletup-letup sepertiku misalnya. Satu hal yang menjadi trade mark darinya adalah ungkapan The beauty of blogging; sesuatu yang sedikit banyak mengingatkanku pada kawan lamaku Momon Beyondsky yang taon 2003 lalu kuingat membuat jargon yang tak kalah hebringnya, Even in cyberworld we can find true friendship. Jargon itu lantas dipakai sebagai jargonnya Blogbugs, komunitas blogger nasional jaman ‘batu’ yang boleh dibilang terbesar yang pernah ada hingga kini.

    Karena keterbatasan waktu saja maka list blog-blog keren terhenti di atas meski sebenarnya ada lebih banyak lagi blog-blog bagus. Tapi setidaknya, baca-bacalah dulu link-link di atas, siapa tahu kamu jadi tertarik dan kembali terlecut semangatnya untuk ngeblog lagi?

    Kalau dunia blog makin ramai dan para seleb-seleb itu jadi ikutan ngeblog lagi, siapa tahu taon depan ada pesta-pestaan lagi kan lumayan ada banyak anggaran sponsor yang bisa dibagi-bagikan untuk ngupi-ngupi cantik atau plesiran misalnya! Eh….

  • Banyak komunitas publisher di Indonesia yang menghalalkan segala cara…

    Banyak komunitas publisher di Indonesia yang menghalalkan segala cara…

    Aku mengenal dan bertemu muka pertama kali, kuingat betul adalah awal tahun 2001. Pada sebuah konser musik di sebuah kafe di Jogja, aku dikenalkan padanya lewat kawan lain yang adalah bosnya, “Sesama Donny, sesama tukang web!” tukas temanku tadi memperkenalkan.?Lalu sesudahnya, meski tak dekat-dekat amat, tapi ada fragmen-fragmen hidup yang terus menautkanku dengannya.

    Dialah Donny Kurniawan atau yang biasa dikenal dan disebut sebagai?Donneh. Terus terang saja prestasi orang yang satu ini membuatku tak mudah berhenti untuk berdecak kagum.

    Dulunya ia terkenal sebagai web designer/developer yang handal. Karya-karyanya brilian terkenal hingga ke negeri kincir angin sana. Pernah pula ia meraih penghargaan utama pada sebuah festival lomba website kelas wahid di Indonesia.

    Ia juga akan selalu hidup dalam kenangan blogger-blogger lawas era 2002 – 2006 sebagai penyedia jasa shoutbox gratisan yang memiliki customer cukup banyak!

    Tapi sesudah itu tiba-tiba ia seperti hilang ditelan bumi. Bermigrasi ke Bekasi beberapa tahun.?Namun, ‘hilang’ nya tak benar-benar hilang. Diam-diam ia terus berkarya dan ketika publik baru sadar, ia sudah populer menjadi publisher kelas wahid.

    Kini ia kembali ke Jogja.
    Tinggal bersama istri tercintanya (yang kebetulan aku juga berkawan baik kepadanya), dengan dua anak di sebuah rumah yang ia bangun nyaris semuanya secara?d-i-y (do-it-yourself) dan katanya sekarang sibuk mengelola ‘startup community’ bersama kawan-kawan lain yang kebetulan akupun kenal beberapa di antaranya.

    Ideku untuk mewawancarainya terkait dengan publisher tak semata-mata karena ia adalah pelaku bisnisnya, tapi lebih dari itu, ia memiliki pandangan ke depan yang lebih baik bagi publisher.

    Tak percaya? Simak obrolan kami di bawah ini.

    Hi sesama Donny, piye kabarmu?
    Hehehe, baik Don… baik-baik.

    ‘Yang jelas tidak semua yang paham SEO bermain Ad-sense, dan demikian juga sebaliknya…’

    Hehehe, lagi sibuk ngapain sekarang?
    Aku sekarang lagi konsen develop web-web lokal bareng teman-teman di Jogja. Ya, hitung-hitung untuk bikin semarak startup lokal. (Ia menyebut dua contoh situs web terbaru buatannya, pctren.com, residena.com ).

    Masih mainan ad-sense?
    Beberapa webku masih ada sih yang pake, tapi beberapa yang lain udah ganti model dengan network yang lain sih…

    Situs-situs itu kamu manage dari sisi search engine opmitization(SEO) nya juga?
    SEO? Hmm… Dulu sih iya, sempet ngikutin buat SEO off-pagenya (SEO yang dihandle dari luar website/halaman kita -red), tapi lama-lama udah males, soalnya SEO itu selalu berubah, jadi mesti slalu up-to-date juga.

    Kalo SEO on-page (SEO yang dihandle secara teknis dari sisi dalam website/halaman kita -red) ini sih wajib lah buat web developer sepeti kita ini, bukan sekedar supaya mudah dicari melalui search engin, tapi juga untuk “kerapian” dalam coding.

    Hmmm, waduh larinya ke teknis hahahhaa, keren-keren! Tapi seperti ada keterkaitan banget antara SEO dan ad-sense ya?
    Yang jelas tidak semua yang paham SEO bermain Ad-sense, dan demikian juga sebaliknya hehehe.

    Lagipula kalo mau bener-bener ngaku masternya SEO, lebih gede duitnya buka kursus/pelatihan. Yang jelas tanpa authority, bermain ad-sense dengan target pasar luar akan semakin susah!

    Search engine sendiri semakin pintar, sudah bisa memilih situs mana yang benar-benar “Branding”. Branding itu sekarang lebih powerfull dalam SEO menurutku. Orang yang ngakunya master SEO tapi tidak menguasai viral marketing atau branding itu master palsu namanya.

    Yang jelas semua ujungnya ke traffic banyaknya kunjungan ke situs web kita, tapi darimana kita mendapatkannya, ini yang susah.

    Wow! Mencerahkan, Don! Btw, sejak kapan sih kamu sebenarnya menggeluti itu?
    Pertama kali bermain ad-sense tahun 2004 kayaknya, pas waktu itu ada Doneeh.com, terus ketagihan tuh gara-gara itu, baru sebulan pasang langsung gajian kekekeke.

    Ic.. Trus sebenarnya tantangan terberat untuk jadi ‘player’ seperti itu apa sih?
    Tantangannya… hmm…. tipe apa dulu kita? Publisher ad-sense dengan pasar luar? Atau pasar lokal? Memiliki ketergantungan dengan search engine? Atau ketergantungan dengan sosial (media -red)?

    Yang jelas semua ujungnya ke traffic banyaknya kunjungan ke situs web kita, tapi darimana kita mendapatkannya, ini yang susah.

    Mengandalkan search engine, otomatis kita harus mengikuti perkembangannya baik SEO, algoritma, dll. Di sosial media tantangannya branding. Kalo aku sih mending konsen ke branding dan authority aja, ngandalin search engine gak ada abisnya, belum lagi saingan yang selalu bertambah, kalau ada saingan baru muncul dengan brand yang sudah jelas, lewat kita. Kalau dipikir sendirian bisa capek sendiri, makanya sekarang lebih enak teamwork, bisar lebih santai kerjanya.

    Hmmm, orang banyak menganggap profesi seperti ini sebagai ‘publisher’. Kenapa demikian?
    Publisher itu sendiri kan sebenarnya ya semua yang mem-publish sesuatu di internet. Ya bisa blogger, marketer dll. Dalam dunia Internet Marketing (IM), publisher mungkin lebih dekat ke “publish iklan”, iklan atau campaign yang dibuat advertiser. Kalau aku sendiri nggak punya blog, dari dulu gak bisa nulis, jadi yang ku publish ya yang ringan-ringan saja berbentuk database, misal resep, lirik…

    Lalu skill teknis yang dibutuhkan untuk jadi publisher sendiri ada? Apa aja?
    Publisher dalam IM itu banyak banget jenisnya, tergantung kita konsentrasi ke network iklan mana, karena di iklan ada yang per-click, per-impresi, per-action dan lain-lain. Tapi tetap skill design dan programming mesti ada sedikit, kalau sudah banyak perbendaharaan iklan ‘kan nggak enak juga kalau satu halaman isinya iklan semua, mesti bisa “pinter” webnya, bisa dengan geo-targeting, demografi, dll.

    Trus ada SEO, ini yang orang bilang paling mujarab, tapi menurutku sih gak juga, masih ada viral, sosial dll.

    Yang halal ya biasa aja, prioritas user dulu baru iklannya, konten gak sembarangan copy-paste atau publish yang tak melanggar hak cipta

    Perkembangannya sendiri di Indonesia bagaimana?
    Banyak! Tapi banyak komunitas publisher di Indonesia yang sekarang makin parah, banyak menghalalkan segala cara, ini yang bikin nama publisher kita jadi jelek, yang ujung-ujungnya “blokir massal”. Jadi ingat dulu Indonesia di blok PayPal, ya gak jauh-jauh beda lah kasusnya.

    Maksudnya menghalalkan segala cara itu bagaimana? Ada contohnya?
    Wah ini banyak banget contoh kasusnya.?Salah satunya tukeran klik-klik atau arisan klik, ngerjain situs saingan supaya yang disaingi diblokir/banned dari adv. network yang sama, bikin web sampah yang isinya cuma buat iklan, dll banyak sekali lah!.

    Nah, kalo gitu trus yang ‘halal’ itu yang kayak apa?
    Yang halal ya biasa aja, prioritas user dulu baru iklannya, konten gak sembarangan copy-paste atau publish yang tak melanggar hak cipta misalnya, detik.com, yahoo.com mereka juga publisher kan.

    Kalo bole tau penghasilan publisher itu rata-rata sampai yang tertinggi berapa yang kamu tau?
    Kalau corporate macam detik.com ya gede banget!?Kalau perorangan yang kutau terbesar itu kisaran $3000 usd/day. Kalau mau gede ya mesti siap keluar gede juga, buat advertising, bayar karyawan, dll.

    I see! Lalu menurutmu masa depan publisher sendiri gimana, Don?
    Mobile publishing! Itu yang paling akan booming!

    Tapi secara umum pun, publisher ke depan mah semakin terang alias cerah, tergantung kitanya sendiri, professional atau cuma kejar duit.?Kejar duit tanpa professionalisme ya sama ajah, downhill, kejar-kejaran sama yang berwajib hehehehe.?Ke depan akan makin banyak media, makin banyak user, apalagi lokal (Indonesia -red)nih yang terus naik pengguna internetnya, kalo bisa pintar targeting pasarnya, pintar ambil medianya, yakin sukses.

    Selain itu juga untuk pasar lokal, ad sense bakalan bisa jadi besar di Indonesia, sekarang rata-rata situs-situs besar lokal sudah pake ad-sense, apalagi Google sudah masuk Indonesia. Yang jelas, tinggal siapa yang duluan merajai pasar lokal hehehe.

  • Publisher, ratusan juta per bulan dari internet. Mau?

    Publisher, ratusan juta per bulan dari internet. Mau?

    Terus terang ada jeda waktu yang cukup lama untukku hingga akhirnya mengetahui apa nama yang pas untuk sebutan profesi yang hendak kubahas ini.

    Awalnya kukita SEO expert, tapi dari yang kubaca di beberapa artikel menyangkut soal SEO (Search Engine Optimization), aku sedikit meragukan apakah mereka layak disebut expert (ahli) karena luasnya cakupan pembahasan SEO tersebut.

    Lantas kupikir yang tepat adalah Ad-senser, tapi nyatanya jangkauan kerjanya tak terbatas hanya pada Ad-sense milik Google saja tapi juga network-network lainnya.

    Baru kemarin kutahu dari orang yang hasil interviewnya akan kupublikasikan senin depan bahwa profesi yang tepat untuk mereka adalah publisher.

    Meski sebenarnya akupun masih bingung karena bukankah publisher itu berarti semua yang mempublikasikan konten di internet? Kalau demikian, dalam era web 2.0 ini, bukankah semua berhak mempublikasikan kontent melalui social media, misalnya, jadi semua bisa disebut sebagai publisher? Semoga bukan pengertiannya yang terlalu luas.

    Tapi anyway, lupakan soal penyebutan nama yang tepat dan siap-siap membaca penjelasanku tentang uang yang mereka dapat dari karir mereka sebagai publisher ini.

    nah… kalau publisher ini penghasilannya sudah sampai tahap ratusan juta per bulan

    Sebagai perbandingan, seorang buzzer bisa panen ratusan ribu hingga jutaan rupiah per tweetnya, blogger bisa panen jutaan rupiah per postingnya, web designer/web developer panen puluhan juta untuk sebuah website besar, nah… kalau publisher ini penghasilannya sudah sampai tahap ratusan juta per bulan untuk mereka yang telah sukses tentu saja.

    ‘Wow’ banget kan?

    Jadi tak heran kalau para pelaku bisnis ini memiliki taraf hidup yang lebih baik dari sisi ekonominya. Rata-rata mereka memiliki rumah sendiri dengan tanah yang luas, mobil berkelas, bahkan ada dari mereka yang memiliki motor besar keluaran terbaru!

    Bagaimana detail pekerjaannya? Tak ada yang tahu sedasar-dasarnya, sebenarnya.?Seperti halnya bagaimana seorang koki yang bekerja di Mie Gang Kelinci bisa bikin mie seenak itu? Mereka hanya akan menjelaskan, masukin mie, masukin bumbu, dimasak sekian lama, done!

    Iya, tapi bumbunya? Jenis mienya? Rahasia dapur namanya!

    Tapi dari apa yang kutahu, seorang publisher haruslah memiliki website.?Rata-rata konten yang diupdate di website itu memiliki kekhasan tersendiri. Misal, website yang ngomongin soal otomotif, soal design, soal tanaman dan masih banyak lagi.

    Setelah itu, mereka lantas mendaftarkan diri ke advertorial network, seperti Google Ad-sense misalnya.

    Seiring naiknya rate kunjungan ke website tersebut yang sebagian besar melalui hasil pencarian di Google ditambah dengan kompleksitas perhitungan yang sifatnya ‘rahasia dapur’ tadi, hal itu akan berimbas pada makin banyaknya iklan yang muncul dan para visitor pun banyak meng-klik atau bahkan ada yang perhitungannya berdasarkan impresi iklan tersebut.

    Setiap klik/impresi iklan, dikonversikan ke dalam dollar. Makin banyak orang meng-klik-nya atau melihatnya (impresi) makin banyak pula uang yang di dapat si pemilik website.

    Setiap klik/impresi iklan, dikonversikan ke dalam dollar. Makin banyak orang meng-klik-nya atau melihatnya makin banyak pula uang yang di dapat si pemilik website.

    Jelas?

    Kontennya?

    Yang jadi masalah, menurut kacamataku adalah kontennya. Mempublikasikan konten tentu bukan persoalan yang mudah. Karena kalau mudah, belasan atau puluhan blogger itu tidak akan ‘murtad’ dan terus ngeblog hehehe.

    Belum lagi membuat konten yang mengundang orang untuk meng-klik apalagi meng-klik iklannya, tentu amat susah. Blogku ini pun, aku tak bermaksud merendahkan diri, jauh dari predikat tersebut.

    Tak hanya itu, kebanyakan konten tersebut berbahasa Inggris! Hebat kan?

    Mereka juga bukanlah seorang wartawan atau pengamat sungguhan dalam bidang-bidang tersebut.

    Mereka adalah orang-orang seperti kebanyakan kita. Ada yang mahasiswa, penjaga warnet, web developer dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana mereka mendapatkannya? Nah! Inilah persoalannya. Orang yang hendak kutampilkan hasil interviewnya nanti itu mengatakan isu terbesar adalah soal copyright konten.

    …tak bisa dipungkiri, banyak dari konten itu hanyalah kopi-paste dari situs web lainnya

    Ya, tak bisa dipungkiri, banyak dari konten itu hanyalah kopi-paste dari situs web lainnya.?Namun tentu ini tak semuanya. Beberapa kawan yang ‘lurus’ memilih untuk membuat sistem user-generated content. Jadi, situs yang dikelolanya memiliki sistem keanggotaan dan konten yang ada di situs itu adalah hasil kontribusi para anggota itu sendiri.

    “Kalau udah gitu enak, nggak usah capek-capek dan uang masuk sendiri!” tukas kawanku yang satunya lagi.

    Siapa yang ngeklik?

    Pada network iklan yang menghendaki impresi untuk meningkatkan revenue sebenarnya tak jadi soal.

    Yang jadi masalah adalah siapa yang ngeklik iklan??Hal ini sangat penting karena besar-kecilnya uang yang mereka dapat berdasarkan seberapa banyak iklan-iklan yang ada di websitenya di-klik pengunjungnya.

    Persoalannya, nyaris semua orang yang terbiasa browsing akan tahu mana yang iklan dan mana yang konten. Lalu bagaimana dan kenapa orang masih tetap mau mengklik iklan?

    Bisa jadi disengaja.
    Karena orang memang ingin mencari informasi lebih. Tak ada masalah dengan yang satu ini.

    Bisa jadi karena kecelakaan!
    Orang tak sengaja mengklik karena menganggap hal itu adalah bagian dari konten. Banyak para publisher tadi menyamarkan konten memiliki kemiripan tipografi dan warna latar belakang yang mirip dengan iklan atau sebaliknya.

    Link

    Salah satu syarat untuk dapat memiliki pagerank yang bagus sehingga memungkinkan untuk dapat sering diakses orang adalah sebuah situs/halaman harus memiliki banyak link dari situs lain (back link).

    Kawanku bilang di sinilah tantangan untuk menjadi publisher white hat, istilah untuk mereka yang lurus-lurus saja, atau menjadi publisher yang black hat, sebutan untuk mereka yang menghalalkan segala cara.

    Seorang publisher white hat akan menggunakan cara-cara ‘halus’ untuk mendapatkan link balik ke situs mereka. Salah satu caranya adalah menyebarkan link, dan membuat semaksimal mungkin situsnya terkenal sehingga banyak dicantumkan linknya oleh pemilik situs lainnya.

    Sementara yang blackhat? Entahlah! Selain aku tak tahu pasti, aku juga tak terlalu mau menuduh seperti apa cara kerja mereka itu.

    Hukum? Ke depannya?

    Secara general, kita tak perlu mempersalahkan publisher; sama seperti sikapku yang tak pernah menyalahkan buzzer.

    Tapi yang patut disayangkan adalah beberapa oknum saja yang menghalalkan segala cara untuk meraih uang di bisnis ini.

    Untuk itu kita sebenarnya punya payung hukum untuk membasmi oknum tadi.?Misalnya, atas nama copyright/hak cipta atas konten, apapun itu, publisher-publisher nakal bisa dijerat pasal pelanggaran hak cipta.

    Tapi sungguhpun demikian kita tahu itu tak mudah.?Untuk yang real-real semisal karya seni saja perlindungan hak ciptanya baru berada di taraf ‘tai kucing’, apalagi dengan hal-hal yang ‘cyber’ seperti perlindungan konten website misalnya?

    Harapan terbesar untuk itu sebenarnya justru bisa kita letakkan pada situs penyedia iklan itu sendiri. Harusnya mereka sekarang sedang berlomba-lomba untuk mengatasi ‘kebocoran’ ini.

    Mereka dibayar oleh klien mereka untuk menayangkan iklan di media-media yang tepat, bukan situs-situs milik oknum publisher yang kacangan dan kopi-paste-an.

    Tapi diluar pro dan kontra masalah publisher ini, harus kita akui bahwa keberadaan profesi ini begitu memberi warna sebagai ladang emas untuk peluang bisnis di internet.

    Tak ada salahnya kalau kalian tertarik untuk mencobanya, asalkan tetap mengikuti tata-hukum yang berlaku. Beberapa teman menganggap menjadi publisher adalah solusi cerdas di tengah himpitan jaman yang tak mudah ini.

    Dan aku 100% setuju! Angka ratusan juta rupiah per bulan adalah alasannya.

    Eh, kalian mau tau bagaimana seorang kawanku yang boleh dibilang ‘master’ di bidang ini menyingkap ‘bumbu dapur’ nya? Simak interviewnya senin depan di sini!

  • “Persaingan di bidang ini berdarah-darah!”

    “Persaingan di bidang ini berdarah-darah!”

    Mengenal namanya sejak lama tapi kenal ‘personally’ barusan via social media tentu saja.

    Tapi yang kusuka dari sekian banyak persamaan dan perbedaan antaraku dengannya adalah kenyataan bahwa aku dan dia adalah sesama dinosaurus internet, sosok lama internet Indonesia atau katakanlah lebih lama daripada mereka yang baru kenal dan tergila-gila dengan internet saat blog, facebook dan bahkan twitter diperkenalkan barusan.

    Nah, beberapa hari yang lalu ketika aku ‘gelisah’ ingin menulis tentang web developer/designer, aku kebingungan mencari-cari siapa yang patut kuwawancarai hingga akhirnya dari beberapa nama yang masuk list, kupikir dia adalah orang yang tepat.

    Bukan saja karena ia masih berprofesi sebagai web designer/developer, tapi lebih dari itu, dari yang kuamati di timeline-nya, pergerakan orang yang satu ini sungguh dinamis!

    sebagai bonusnya, semangat pun ikut terciprat kepada diriku untuk tetap setia pada bidang ini.

    Ia begitu mencintai profesinya sekaligus memiliki visi pengembangan ke depan yang mantap!

    So, ladies and gentlemen, entah kalian mau memanggilnya Viking, or King, tapi aku lebih suka menuliskan nama lengkapnya, Viking Karwur!

    Suami seorang istri dan ayah dari seorang anak ini kuinterview melalui email.?Namun meski demikian, terasa betul letupan semangat serta optimismenya akan bidang yang ia kerjakan.

    Walhasil, tulisan kudapat, sebagai bonusnya, semangat pun ikut terciprat kepada diriku untuk tetap setia pada bidang ini.

    Dan semoga kalian… yang mungkin sudah mulai redup melihat harga web semakin murah sementara tagihan rekening listrik, KPR, mobile, kredit kendaraan hingga aneka kebutuhan rumah tangga makin tinggi, jadi bersemangat kembali karena dunia belum berakhir dan seperti orang bijak bilang, ?Apapun yang tak membunuh kita itu sejatinya menguatkan!?

    Halo, Vik.. eh Viking.. eh apa sih panggilanmu sebenarnya?
    Hahaha, halo juga Om Donny (Lah… dia malah manggil aku Om!!! -red) .. apa sajalah..

    Baik, kalau demikian kupanggil engkau, Bung!
    Sip!

    Kalau tak salah aku mengenalmu sejak jaman ToekangWeb lalu IWWF (toekangweb dan IWWF adalah dua ?wadah? non-formal para pekerja web Indonesia tahun 1999-2000an awal dulu). Sekarang masih jadi web developer/designer?
    Yup, masih tapi seiring perkembangan jaman, title yang tepat adalah cross-device web designer.

    Sebenarnya bagaimana awalnya dulu bisa jadi web designer/developer?
    Awalnya sejak September 1996 mulai belajar bikin website tapi saat itu profesiku masih jadi programmer Visual Basic. Tak lama kemudian aku pindah jadi programmer C++/Java hingga akhirnya memutuskan untuk kerja kantoran pada Februari 2000 sebagai web designer!

    Lalu pada November 2005, aku memutuskan untuk kerja freelance, full time, Om!

    Wow! Kalau begitu udah banyak dong web yang pernah dibikin. Berapa kira-kira jumlahnya?
    Lumayan Om… Coba aja tengok portfolioku di sini.

    Karena sekarang semua serba ?instant?.

    Nah, kita kan tahu kehidupan online sekarang ini sudah begitu banyak berubah sejak kita (kuanggap kita seangkatan hehehe) memulai dari web designer/web developer. Bagaimana menurutmu?
    Iya… “Berubah” terlihat nya. Karena sekarang semua serba “instant”.

    Ada banyak profesi sekarang bermunculan di sekitar web itu sendiri mulai dari SEO expert, social media strategist termasuk di dalamnya buzzer, dan masih banyak lagi. Sementara aku melihat orang juga semakin tampak mudah untuk bikin web tanpa harus pake jasa web developer/designer kayak dulu. Entah yang kamu rasakan, tapi dari apa yang kudengar bahkan harga web company profil sekarang dibawah 2 juta rupiah dengan menggunakan CMS (Content management system -red) apapun itu yang simple. Benarkah?
    Wah kujawab satu per satu dulu ya…

    Bener banyak “profesi samping” yang muncul dan hal itu sah-sah saja. Baik Web Designer dan Web Developer saja juga berbeda.

    Kalau dibilang bikin web semakin tampak mudah, itu relatif Om. Takutnya mereka yang bilang demikian adalah mereka yang melibatkan diri dalam persaingan buta.

    Maksudnya?
    Ya semua orang kan berhak mengaku jadi jagoan web designer/developer dengan mengklaim bahwa bikin web itu mudah! Padahal hal ini kadang-kadang ditempuh supaya proyeknya lari ke dia dan tak lari ke pesaing-pesaing lainnya.

    Persaingan di bidang ini memang “berdarah-darah”, Om. Tapi untuk seorang web designer/developer “sejati” (baca : punya pengalaman dan sudah banyak portfolio dan banyak relasi) tetap bisa “santai” aja kok.

    Kalau ada calon klien kontak saya; untuk buat website ada?beberapa pertanyaan yang saya tanyakan sebelum saya mau kerja bareng dengan mereka. Kalau konsiderasinya mau cari web designer yang “murah” pastinya saya langsung bilang lebih baik tidak dengan saya.

    Kalau konsiderasinya mau cari web designer yang ?murah? pastinya saya langsung bilang lebih baik tidak dengan saya.

    Sip! OK, next! Masuk ke sekitar tahun 2004-an konsep social media mulai terimplementasi melalui Friendster. LAlu kemudian kerlanjut ke facebook dan orang ‘seolah’ mulai mikir apa masih perlu punya website? Terutama setelah facebook memiliki feature page untuk bisnis ditambah lagi nongolnya eBay dan makin kuatnya Amazon dalam berjualan apapun tak hanya buku, yang bikin orang pikir, ‘Ah kalau mau jualan tinggal pake eBay atau Amazon, ga ribet urus ini dan itu, kalau mau pamer profile tinggal di Facebook dan smua orang akan lihat!’ ketimbang punya website sendiri masih perlu diiklankan biar banyak yang klik dan urus ecommercenya ga gampang.

    Gimana pendapatmu? :)
    Menarik!

    In my opinion, ‘ketergantungan’ memiliki online presence kepada pihak ke-3 (dalam hal ini punya akun di facebook, punya blog di tumblr, punya photo di flickr dan sebagainya) dirasakan tidak nyaman.

    Bagaimana kalau provider nya *down*? Bagaimana kalau begini dan bagaimana kalau begitu? Ingat tentang Geocities (Geocities adalah jasa layanan online untuk menampilkan halaman web kita secara cuma-cuma yang ngetop sejak paruh akhir medio 90-an dan lantas dibeli Yahoo! -red) yang luar biasa di era nya ? Dan kemudian ditutup oleh Yahoo! Kan kasian para penggunanya sedangkan memindah (migrasi) semua konten ke web hosting sendiri itu sepenuhnya itu pasti beresiko.

    Jadi, jawabanku masih perlu!

    Kalau kita ngomong di level corporate, yang punya Facebook page itu pasti punya website. Sebuah perusahaan besar (Ia menyebut sebuah nama airlines company -red) punya Facebook Page tapi juga punya websitenya sendiri. Malah, mereka juga punya microsite-microsite yang ditujukan untuk promo, misalnya.

    Jadi kupikir, statementmu diatas itu cocok kalau dikhususkan pada level “perorangan” yang mau buat “online-presence” yang mudah / murah (gratis lebih baik) / cepat

    Kalau mau berbisnis tapi hanya menggunakan kanal-kanal social media gratisan seperti itu sih ketahuan bahwa sang pebisnis cuma “modal dengkul” saja!

    Next! Menurutmu Bro, kenapa kok harga web di kalangan web development company (katakanlah kacangan) semakin murah. Mungkin hargamu tak pernah murah, tapi bisa ngga kamu memberi opini mungkin dari sisi teman-teman lain yang mengalami fenomena tak menyenangkan ini, bahwa kecenderungan harga web semakin lama semakin murah?
    Kalau saya mengacu ke buku “Blue Ocean Strategy” : persaingan yang ‘berdarah-darah’ yang membuat mereka menurunkan harga karena supaya bisa “makan atau dapur ngebul” aja.

    Hasilnya juga bisa ditebak! Coba aja googling “Web Designer Jakarta” seberapa banyak yang professional & seberapa yang “kacangan” ? :) You know what I mean… :)

    lebih tepatnya sih ?Semakin banyak yang perlu uang cepat dan tidak memikirkan kualitas!??

    Sebenarnya bukan harga web yang semakin murah; lebih tepatnya sih ‘Semakin banyak yang perlu uang cepat dan tidak memikirkan kualitas!’…

    Sama aja analoginya dengan naik angkutan umum, Om. Mau murah banyak kok tapi jangan komplain kalau layanannya amburadul.

    So klien yang keren pasti pilih web designer/developer yang keren juga om. Bagiku, proyek berhasil dimulai dari 1 keputusan yang tepat om.

    Selanjutnya, sekarang makin banyak orang ngaku jadi web designer/developer. Menurutmu, apa sih kriteria orang untuk dikatakan sebagai web designer/developer itu seharusnya? Apa setiap orang yang bisa wordpress bisa dianggap demikian atau mereka yang bisa handle plain PHP tanpa framework sehingga bisa bebas
    tweaking/hacking gitu?
    Pada intinya sih sebenarnya bebas-bebas aja kalau orang mau mengaku sebagai web designer/developer karena toh publik akan membuktikan dari hasil kerja yang ia punya.

    Hehehe! OK, sekarang kita ngomongin profesi-profesi lainnya seperti social media specialist, SEO specialist, dan teman-temannya. Aku menyebutnya sebagai profesi ‘above the layer’ karena kitalah layer mereka, kitalah pengreasi tempat mereka mencari uang sekarang! Menurutmu bagaimana?
    Profesi “above the layer” ? Ah, menarik…

    Sebenarnya Web Designer atau Web Developer lebih ke sisi desain dan technical berikut strateginya saja. Kalau SEO Specialist, Social Media Specialist, Buzzer dan teman-temannya itu adalah pendongkrak brand dari sisi marketingnya.

    Tak ada yang salah, menurutku dan tak pula berarti mereka itu pesaing kita. Cara kerjanya lumayan jauh berbeda meski lahannya sama.

    Menurutmu lagi, masa depan web designer/developer TANPA harus pindah profesi bagaimana?
    Masa depan lebih baik pastinya!

    Untuk web designer atau web developer; bisa lebih “tersenyum” lagi nih karena skill-skill semacam HTML5 / CSS3 / JQuery (JavaScript) + UI/UX / Responsive Web Design akan terus dibutuhkan karena perkembangan dan kebutuhan pasar akan pangsa mobile development akan lebih dahsyat!

    Pengguna mobile akan lebih banyak ketimbang desktop terlebih nanti akan hadir OS Mobile FirefoxOS dari Mozzila Foundation; dimana kalau kita mahir di skill diatas, profesi web designer/developer tetap ok bahkan semakin ok.

    Tapi untuk yang mau pindah profesi, tentu tidak ada yang melarang hehehe.

  • Web designer/developer bintang yang terus bersinar di tengah bintang baru yang lebih terang

    Web designer/developer bintang yang terus bersinar di tengah bintang baru yang lebih terang

    Aku memulainya karena iseng semata.
    Waktu awal-awal mengenal internet pertengahan tahun 1996, aku membuat website pertamaku dengan alasan untuk membagikan foto dan info diri kepada teman-teman chatting (waktu itu melalui mIRC) yang menanyakannya.

    Lalu teman-teman lain yang sudah menengok website (dulu sebenarnya lebih dikenal sebagai istilah homepage) minta dibuatkan dan hal itu lama-lama menjadi kesenangan tersendiri, merangkai konten dalam bentuk tulisan dan gambar, memberi hiasan pada tahap layouting, dan akhirnya?orang-orang sekelilingku tahu bahwa kalau mau bikin homepage, hubungi Donny!

    Sekitar dua tahun kemudian, sebuah ajang lomba mendesain web di kampus kuikuti bersama Amien Sutawidjaya, sahabat yang pernah kuceritakan di sini. Hasilnya? Kami juara pertama!?Selain hadiah uang, desain situs yang kami buat diimplementasikan sebagai desain situs kampus. Ah, bangganya!

    Tapi ternyata tak berhenti di situ, berkat kemenangan itu, aku dan Amien lantas di-hired oleh sebuah perusahaan di Jogjakarta untuk dijadikan web developer/designer di sana. Itulah titik awal untukku bekerja secara profesional di bidang yang kugeluti hingga kini?dan entah hingga kapan, web development.

    …waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan ?Wow? karena masih sangat langka!

    Sebuah profesi yang mungkin sekarang terdengar jamak sejamak kalian dengar istilah ‘satpam’ atau ‘supir’ tapi percayalah, waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan “Wow” karena masih sangat langka!

    Dotcom bubble – dot bomb

    Lalu tibalah masa dimana perusahaan ‘dotcom’ menghentak bursa efek dunia.?Segala sesuatu berbau ‘internet’, berawalan ‘e-‘ (termasuk di dalamnya email yang dulu dikenal sebaga e-mail, eCard yang dulu dikenal sebagai e-card) bermunculan di sini. Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.

    Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.

    Itulah masa dotcom bubble. Para investor dan kapitalis besar mempertaruhkan uangnya ke bisnis ini.

    Sayang hal ini tak berlangsung lama. Dunia memasuki resesi pada 2001, setahun setelah aku bersama keempat kawanku membangun perusahaan web development di Jogja. Keterpurukan resesi itu seperti di-gong-i dengan kejadian 11 september 2001 yang seolah?memberi ‘jeda’ yang cukup lama untuk pengembangan bisnis dotcom. Maklum, suka tak suka, mau tak mau, kiblat bisnis dotcom tetaplah di Amerika, tempat ‘kejadian perkara’ peristiwa yang sangat mengubah wajah dunia sesudahnya itu.

    Masa dotcom bubble pun berakhir, dikenal dengan masa dotcom bubble burst atau yang lebih sarkasm lagi, dot bomb, entah itu terelasi dengan kegiatan teroris sekitar 9/11 atau tidak.

    Masa keemasan web development

    Namun dot bomb nyatanya hanyalah masa kegelapan bagi perusahaan-perusahaan dotcom besar saja.

    “…orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya.”

    Di tingkat ‘akar rumput’, internet dan website telah terlanjur dikenalkan dan orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya. Berdasarkan pengalamanku dulu, masa-masa 2001-2004 justru adalah masa terindah memimpin sebuah unit usaha web development. Perusahaan-perusahaan kelas UKM yang memang butuh website untuk representasi hingga ke para konsumen di luar negeri, berlomba-lomba ingin dibuatkan website sebagus mungkin. Malah, tak hanya UKM, perusahaan-perusahaan kelas kakap pun semakin ingin meremajakan websitenya.

    Namun seperti layaknya segumpal gula di lantai, semut pun datang merubung dan berebutan menikmatinya.Perusahaan-perusahaan web development bertumbuhan bagai cendawan di musim hujan.

    Ada perusahaan yang memang betul-betul memiliki akar web development. Tapi banyak pula perusahaan yang dulunya adalah pendesain kartu nama dan spanduk pun mulai berani membubuhkan ‘Web Design’ pada jenis layanannya.

    Warnet-warnet yang juga banyak tumbuh saat itu juga entah iseng atau beneran, mulai berani menambahkan label hal yang sama di kaca depan atau di baleho namanya.

    Perusahan-perusahaan operator telco besar juga tak mau ketinggalan, mengimbuhkan ‘web development’ sebagai salah satu unit usahanya meski entah siapa yang sebenarnya mengerjakan pekerjaannya. Outsourcing? Tentu saja!

    Jadi web designer? Semudah ABCD!

    Gayung pun bersambut.
    Lembaga-lembaga kursus pengetikan mengubah nama jadi lembaga kursus pencetak web designer/developer handal.

    Mahasiswa pun tak urung turut meramaikan pasar persaingan dan akibatnya mudah ditebak, harga website perlahan makin turun dengan tuntutan kualitas yang sama baiknya atau malah justru meninggi!

    Perang harga tak terhindarkan lagi! Seorang web designer yang mengaku handal meski bermodal copy-paste sekalipun, bisa menawarkan proposal pembuatan website dengan harga fantastis: 10 kali lipat lebih murah dari harga yang dulu kubandrol.

    “Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”

    Suatu waktu seorang pengusaha yang kepadanya kutawari proposal pembuatan website bertanya kepadaku, “Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”

    Aku hanya diam, tak menjawab. Setahun kemudian ia balik kepadaku dan bertanya apakah harga proposal yang dulu kutawarkan masih berlaku, kutanya kenapa lalu jawabnya, “Hasilnya mengecewakan! Sekali jadi langsung ditinggal! Sekarang malah webku mati!”

    Aku hanya tertawa dalam hati, seraya kubilang bahwa proposal itu sudah tak berlaku lagi dan kutawari ia dengan bandrol harga yang jauh lebih tinggi dan setelah itu tak kudengar lagi keluhnya selain tanda tangan bergulir di atas kertas perjanjian
    pemberian kerja kepadaku.

    Masalah profesionalitas, etos kerja dan skill tampaknya menjadi masalah sampingan bagi para web designer/developer abal-abal itu karena yang penting uang dari klien diembat, ditukar dengan website yang.. maaf.. abal-abal juga!

    Social media era dan SEO era

    Lalu tiba-tiba O’Reilly mengenalkan kata Web 2.0 sebagai kata kunci untuk menggambarkan internet sebagai ranah interaksi dan bukan hanya galeri pamer semata.

    Friendster memulai segalanya! Orang-orang terpana dengan keluwesannya dalam memberikan ruang komunikasi dan interaksi antar membernya.

    “Semacam biro jodoh ya?” Tanya temanku lugu tentang Friendster kala itu, 2004 awal.
    “Hmmm bukan… eh.. tapi ya bisa juga sih!” ujarku.

    Lalu berangsur-angsur Facebook dan kini Twitter setelah sebelumnya Plurk dan segala macamnya terlewati dalam label ‘trend sesaat’.

    Blogger? Ughhh, jangan dibahas dulu di sini, ada waktunya sendiri :)

    Di sisi lain, SEO pun berevolusi.
    Google menjadi parameter yang sangat penting yang bicara soal kemudahaan sebuah website dicari orang. Orang berlomba-lomba menjadikan websitenya sebagai yang keluar di halaman pertama halaman pencarian Google.?Tak hanya itu, iklan-iklan yang dipasang di Google pun menjadi hal yang menarik untuk mencari uang. Uang yang bener-bener uang, berjumlah besar, sangat besar malahan!

    Maka munculah profesi-profesi baru di dunia web. Social media strategist, digital media marketer atau apapun itu namanya pokoknya terkait dengan kampanye di channel-channel social media (dan salah satunya adalah buzzer) serta SEO consultant
    bahkan hingga Ad-sense expert menyeruak tiba-tiba.

    Lalu dimana web designer dan web developer??Masih bersinar dan sama sekali tak meredup, tapi sinar bintang-bintang di sekitarnya sedang moncer-moncernya, jadi mana yang lebih terlihat silaunya, kalian tentu tahu jawabnya.

    Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.

    Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.

    Semula sebelum social media didefinisikan serta diimplementasikan, website adalah hal terpenting, “Tinggal dicantumkan di kartu nama, Pak!” ujarku dulu selalu memberikan advise pada orang untuk memperkenalkan website mereka ke orang lain.

    Tapi setelah social media dan SEO menjadi satu bola baru, orang mulai berpikir untuk apa punya website kalau bisa membuat halaman di Facebook dan meletakkan barang jualannya di sana? Atau tinggal daftar di eBay dan berdagang di sana??Atau Kaskus misalnya?

    Lalu sebagian lain ada pula yang terus berkutat pada websitenya sendiri tapi dengan harga beli website yang kian murah karena makin maraknya persaingan antara designer/developer.

    Sementara SEO dijadikan kanal untuk memperkenalkan websitenya itu, dan dari sini muncul pernyataan-pernyataan, “Mending bikin web yang biasa aja asal SEO nya mantap dan bisa masuk halaman pertama Google, tak jadi masalah!”

    Dan hal ini kian menghimpit para web designer/web developer dalam menjaring rejekinya.

    Ke depan? Selalu ada celah karena Tuhan belum lagi mengantuk!

    Aku berpikir tentang satu hal.
    Kalau semua tempat di dunia ini sudah ada jembatan, masih perlukah kita pada insiyur spesialis ahli jembatan??Jawabannya bisa, “Tidak perlu!” dan hal itu sahih selama memang semua jembatan yang dibangun itu super sempurna sehingga tak butuh bangun ulang maupun perbaikan (meski ini bukan pula jadi alasan kenapa banyak jembatan mudah rusak tentu juga karena
    disengaja supaya biaya pembuatan murah dan untung besar!).

    Kalau semua penyakit di dunia ini bisa disembuhkan, adakah dokter tetap diperlukan??Jawaban singkatku, “Berapa persen dokter yang sesungguh menyembuhkan penyakit kalian dan berapa persen yang sebenarnya membiarkan atau malah membuat segalanya tambah buruk?”

    Demikian pula dengan masa depan web designer/developer.?Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.

    Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.

    Orang China selalu bilang, “Pasti ada celah!” sementara orang agamis berkomentar, ?Tuhan tak pernah tertidur!? dan aku memilih membela kedua pendapat itu. Tuhan tak pernah kehabisan akal untuk memberi makan umatnya terutama dalam hal ini mereka yang bekerja sebagai web designer/developer.

    Namun bergantung pada nasib adalah pilihan orang pemalas. Seorang profesional harus sanggup move-on (sesuatu yang aku tak sanggup saat orang bilang move on untuk beralih dari blog ke dunia lain karena aku bukan blogger berbayar, bukan blogger profesional!)?demikian pula dengan seorang web designer/developer!

    Mengulang masa lalu yang penuh emas dengan tetap menjadi web designer/developer barangkali akan jadi cerita kenangan, tapi dengan melakukan update terhadap kemampuan diri sendiri dalam bidang web development yang terus berkembang, niscaya kita tak kan?pernah hanyut ditelan jaman!

    Oh ya, bagaimana dengan para developer/designer yang alih profesi jadi social media strategist dan SEO expert misalnya? Ya tak mengapa, itu kan pilihan hidup.

    Simak diskusiku dengan kawan lamaku yang sampai sekarang, sama denganku, masih bertahan dan bangga dengan title web designer/web developer untuk menafkahi diri dan keluarga.

    Siapa dia? Seseru apa? Nantikan senin depan!

  • Nge-buzz untuk kemaslahatan orang banyak, boleh kan?

    Nge-buzz untuk kemaslahatan orang banyak, boleh kan?

    Aku mengenal sosok ini justru setelah aku pindah ke Australia.?Padahal kalau sejak di Jogja aku sudah kenal, barangkali akan ada banyak sekali sesi tatap muka dengannya.

    Menurutku, ia bukan tipe orang yang ‘mudah disukai’ pada komunikasi pertama. Pada tahap komunikasi kedua? Barangkali kalian memutuskan untuk tak usah mengenalnya lagi! Apalagi kalau kalian hanya mengenalnya lewat tulisan dan linimasanya.

    Padahal, orangnya menurutku sih biasa-biasa saja.
    Ia cenderung kritis karena keadaan lingkungan sekitar, kota dan negaranya memang butuh untuk dikritisi. Orang seperti dia kupikir cocok untuk dijadikan sebagai parameter sejauh mana pemerintah mampu bekerja. Kok bisa? Ya, selama ia masih kritis, berarti ketidakbecusan ada di satu sisi dalam roda kerja pemerintah. Simple kan?

    Tapi percaya saja, sifat inilah yang membuatku merasa ?cocok? meski kecocokan di sini bukan berarti tanpa argumentasi.?Beberapa kali aku konfrontasi dengannya di timeline maupun tulisan-tulisannya; tapi aku jadi ingat kata salah satu sahabatku dulu, persoalan-persoalan yang ada di antara dua orang teman itu justru yang membuktikan seberapa kuat mutu pertemanan itu sendiri.

    So, ladies and gentlemen, tak perlu kebanyakan cocot lagi, inilah Blontank Poer!

    Aku memanggilnya sebagai Lik, Paklik, bahasa Jawanya Om.?Seorang peracik kata dan juga teh beraroma melati, Blontea yang pernah kutemui secara nyata dalam liburan di Indonesia, Juli kemarin.

    Berbincang dengannya selalu membuatku berpikir topik apa yang harus kudiskusikan padanya selanjutnya?

    Interview inipun sebenarnya juga berawal dari sekadar ?haha-hihi? belaka antara aku dengannya di jendela chatting.?Lalu terbesit untuk kujadikan tulisan, maka santun kutuliskan email padanya, mohon ijin untuk ‘mewawancarai’nya. Tak seberapa lama kemudian, tiba-tiba di jendela chat, ia pun muncul sembari menawarkan diri, “Hahaha! Apa yang nggak buat kamu, Don! Ayo, kita mulai.. mau ngobrol apa?”

    Sementara masih bingung menjawab mau ngobrol apa, mataku tiba-tiba menoleh ke timeline Twitter yang lagi penuh dengan aneka brand dijajakan oleh buzzer.. maka jadilah aku teriak padanya, “Ayoh! Kita ngobrol soal buzzer!”

    Dan terangkumlah interview tersebut seperti di bawah ini:

    Halo, Lik!
    Halo!

    “aku buzzer sebab aku suka nge-buzz sesuatu yang kuanggap penting untuk orang kemaslahatan orang banyak, dan masa depan bangsa Indonesia yang beragam ini”

    To the point dulu, Lik! Karena kita ngomong soal buzzer, aku mau tanya, kamu buzzer apa bukan? Hayo!
    Dalam pengertian umum, YA, aku buzzer sebab aku suka nge-buzz sesuatu yang kuanggap penting untuk orang kemaslahatan orang banyak, dan masa depan bangsa Indonesia yang beragam ini. Boleh, kan kalau kujawab demikian?

    Hahaha, ok Lik! Jaman sekarang banyak orang ngga suka buzzer! Menurutmu kenapa hal itu bisa terjadi? Apa karena mereka iri dan dengki dengan penghasilannya saja atau?
    Tanyakanlah pada dirimu sendiri, Don! Kamu benci mereka?

    Nggak.. aku membenci perbuatan oknum-oknumnya. Sebentar, ini kok malah kamu yang mewawancarai aku, to? Ok lanjut, Lik!
    Persisnya aku gak tahu… Kalau aku sih kurang sreg dengan ‘tidak jujur’-nya sebagian dari?mereka dalam menyebut apa yang ditulisnya itu, sebagai iklan atau bukan iklan. Itu dulu.

    “…para buzzer itu seharusnya memberi tanda pada setiap tweet/postingnya bahwa ini adalah iklan dan yang lain bukan!”

    Maksudmu?
    Maksudku, para buzzer itu seharusnya memberi tanda pada setiap tweet/postingnya bahwa ini adalah iklan dan yang lain bukan!

    Tapi apa itu bisa ?jalan?? Kawanku, seorang buzzer juga, dia bilang cara seperti itu dibenci sponsor!
    Terserah kalau begitu. Soal itu ya urusan pribadi antara buzzer dengan sponsor!

    Lho, sik tha. Gimana kalau ada juga yang bilang, “Mau ngomongin yang baik2nya aja ya ngga papa.. itu kan bagian dari kontrak!” Piye, jal?
    Lho, begini… Penyimak (lebih suka menyebut demikian dibanding sebutan follower/pengikut) juga punya hak diperlakukan dengan baik, setidaknya dianggap setara sebagai teman diskusi

    Tapi nek mereka bilang, “Lho, ya kalau ga suka tinggal unfollow!” piye, Lik?
    Kalau asumsiku begini, orang mau menyimak linimasa kita itu punya harapan dapat teman diskusi atau dapat informasi yang mereka minati.?Mereka sudah meluangkan waktu untuk membaca dan keluar duit untuk bayar bandwidth. Jadi ya harus kita apresiasi, dong!?Kalau berkilah bisa unfollow atau mute, menurutku itu kecongkakan.

    “Kalau berkilah bisa unfollow atau mute, menurutku itu kecongkakan.”

    Jadi, buzzer yang begitu itu bisa dikatakan congkak?
    Iya! Berteman di linimasa itu seperti membuka ruang silaturahmi. Dalam konsep Islam, memutus tali silaturahmi itu dilarang. Ketika seseorang buka akun twitter, maka sejatinya ia membuka diri untuk bersilaturahmi. Andai akunnya gembokan, dia akan punya alasan untuk menerima/menolak permintaan pertemanan. Jadi, konsekuensi dari silaturahmi, ya mesti saling menghargai, setara, sanggup menerima perbedaan (pendapat).

    Wah begitu ya?! Hmmm, baiklah kalau demikian sih sepertinya akan jadi perdebatan yang tak ada habisnya. Jadi, gimana kalau kita ngomongin jalan tengah saja? Piye menurutmu solusi ?sama enaknya??
    Solusinya bukan enak nggak enak kok, Don.. Tapi fair dan nggak fair.

    Kalau aku lebih suka yang fair. Dalam artian begini, aku pernah dapat tawaran jadi buzzer dengan tarif sekian ratus ribu per twit. Aku mau dengan catatan, yakni boleh pakai tagar #promo atau #adv atau #iklan. Kebetulan, agensinya mau, ya sudah, aku menerimanya.?Yang penting, dengan ada tagar itu, aku berharap penyimak linimasaku tahu kalau itu pesan berbayar. Kalau ada link di twit tersebut, orang lain diasumsikan sudah punya kesadaran dalam mengambil keputusan untuk membuka atau mengabaikannya.

    Di blog-ku juga ada beberapa postingan berbayar. Tapi prinsipnya sama, asal tidak didikte harus begini-begitu, gak ada masalah buatku. Artinya, aku tetap merdeka dalam membuat review, walaupun aku tahu dalam batas mana berkompromi. Sebab sebuah produk atau brand memerlukan penyebarluasan sisi-sisi positifnya.

    Tapi, dengan kemerdekaan me-review, kita bisa menunjukkan di mana sisi kekurangan/kelemahan. Itu penting sebab konsumen cerdas butuh informasi memadai berupa product knowledge. Pada sisi ini, brand sejatinya juga dapat keuntungan berupa masukan untuk perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang ada.

    Tapi kemerdekaan itu kan nisbi? Mereka, para sponsor itu, toh maunya tetap diunggulkan, to? Omzet kita turun nanti!
    Omzet? Aku gak mengenal kosakata itu dalam beraktivitas online. Bahkan, ketika tehku mulai digemari orang karena social media, aku pun tak menggunakan akunku untuk nge-buzzer-i produkku.

    Begitu juga, ada banyak testimoni positif soal tehku, di blog atau Twitter. Aku pun tidak serta-merta me-RT. Selain gak suka narsis, aku juga ingin menjaga linimasaku tidak kotor, mengganggu. Kan, tidak semua orang suka teh?

    “Akan tiba suatu masa, ‘buzzer’ harus cari cara yang lebih smart dan fair karena tuntutan netizen yang cerdas.”

    Aku berpikir pemerintah sudah saatnya mengatur dan memberi tata regulasi tentang bagaimana baiknya jadi seorang buzzer ditinjau dari sisi tata kramanya. Gimana menurutmu?
    Menurutku gak usah! Negara/pemerintah tak perlu campur tangan dalam hal beginian. Terlalu remeh.

    Lagian, aku yakin, kian cerdas netizen, mereka akan tahu juga, kok, mana yang perlu dipercaya dan mana yang tidak.

    Akan tiba suatu masa, ‘buzzer’ harus cari cara yang lebih smart dan fair karena tuntutan netizen yang cerdas. Tidak jarang kita lihat, orang justru merespon negatif kampanye sebuah produk dari twit yang hendak menampilkan sisi positifnya.?Itu alamiah kok. Social media memberi ruang terbuka, demokratis. Yang kelewat lebay akan disanggah, begitu pun yang nyinyir seperti kita, Don, juga akan ada yang memberi pencerahan? :p

    Hahahaha! #Okesip Tapi aku masih ngotot, masa nggak perlu regulasi sih, Lik? Iklan di tivi dan mainstream media lainnya aja bisa disaring dan disekap kalau nggak baik, masa Buzzer hanya ?diserahkan? pada ruang terbuka nan demokratis?
    Ya biar netizen saja yang membuat konsensus tak tertulis!

    Negara biar ngurus dirinya sendiri yang belum beres-beres sampai sekarang. Kementerian Kominfo, misalnya, perlu lebih fokus dulu ngurus pemerataan akses internet hingga pedalaman Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, Aceh dan di mana saja, supaya kesenjangan digital tidak memperparah masa depan ke-Indonesia-an.

    Itu lebih mendesak menurutku.

    Mendesak? Mendesak supaya putaran rejeki buzzer makin tinggi karena makin banyak pemirsanya ya, Lik?
    Hehe, lambemu! Aku ra ngomong ngono, lho! :)

  • Dan inilah tanggapan tentang tulisan menyoal buzzer tempo hari itu…

    Dan inilah tanggapan tentang tulisan menyoal buzzer tempo hari itu…

    Masih ingat tulisanku tentang buzzer yang ini?

    Sebuah conversation panjang lewat Direct Message (DM) di Twitter dan sebuah email indah masuk sebagai tanggapannya.

    Yang pertama mari kita bahas yang masuk lewat DM dulu.?Ia barangkali tak keberatan untuk disebutkan namanya, tapi kupikir tak perlulah.?Ia seorang kawan lama yang berkeras mengatakan, “Pasti tulisan itu ditujuan untukku! Ayoh, mengakulah, Don!”?Semula tak kutanggapi, tapi setelah bangun tidur di pagi hari dan kudapati ada rentetan pesan tambahan darinya, aku gatal menjawabnya, “Tulisan itu kutujukan untuk semua yang melakukan hal yang kutuduhkan!”

    Kami bergelut dalam kata-kata beberapa saat hingga akhirnya ia mengajukan solusi, “Sudahlah! Tak perlu kita berteman, Do unfollow me, please!”

    Ya sudah, sebagai seorang kawan yang baik, aku toh harus mengikuti apa yang kawanku pinta termasuk menyudahi pertemanan.?So, yudadababai!

    Lalu yang kedua, eh beneran emailnya sangat indah!

    Dirangkai menggunakan bahasa yang mudah dicerna dari seorang yang memang jago nulis sekaligus pribadi yang menyenangkan, Simbok Venus namanya.

    Kalian yang malang-melintang di dunia online Indonesia pasti tahulah beliau. Kiprahnya memang tak terbantahkan sebagai sosok netizen yang cukup senior! Juli kemarin, dalam suasana yang hangat, aku berkesempatan bertemu dengannya.

    Aku menganggap email tanggapannya sebagai sebuah sharing ilmu ketimbang bantahan dan terbukti benar dari emailnya itu memang Simbok Venus bukan sasaran dari postingku tadi.

    Lihatlah kesantunannya merangkai analogi untuk memberiku penjelasan yang lebih dari cukup,

    Bayangin misalnya aku hobi njait. Aku seneng banget njait. Seneng mamerin hasil jahitanku ke teman-teman. Trus pada satu?waktu, ada orang yang pengen dijahitin baju, buat dia sendiri, … hadiah buat anaknya dan dia bersedia bayar jasa yang dia terima.?Apa aku salah kalau lantas menerima bayaran untuk hal yang aku sukai?

    Mewakili kalian, para pembaca blog ini, tentu aku bisa menjawab pertanyaan retoris itu dengan, “Tidak, Mbok!.. Tidak salah!”

    Ia juga menjelaskan betapa para buzzer tak jarang melakukan kegiatan amal ketika mereka diminta untuk membantu sounding sebuah gerakan kemanusiaan, misalnya, “Aku bersedia gak dibayar, bahkan menolak dibayar biarpun mereka bilang budgetnya ada dan udah disiapin!”?demikian tukasnya. Ah, mulia kan? Kemuliaan memang selalu dan harusnya tampak dalam tiap sisi hidup dan pilihan hidup manusia!

    Meski, ada satu hal yang terus terang ketika membaca pernyataan berikutnya, membuatku cukup lama mengerutkan alis,

    Kalau kadang terkesan para buzzer ini ngetwitnya gila-gilaan dan gak obyektif, hanya ngetwit yang bagus-bagus tentang si produk, ya itu bagian dari kontrak, Don.

    Jadi demikianlah.?Kuanggap tulisan ini sebagai salah satu usaha untuk memfasilitasi prinsip yang selama ini kuanut, yaitu bahwa kalian boleh berbeda pendapat denganku dan aku akan menjaga mati-matian supaya kalian boleh berpendapat di sini meski itu?berbeda dengan pendapatku sekalipun.

    So, siapa yang tertarik untuk menjadi Buzzer??Tak ada salahnya dicoba selama semuanya dilakukan demi dan melalui jalan kebaikan. Apalagi, masih menurut Simbok Venus, hasil yang didapat amat sangat lumayan, lho!

    Eh iya, seorang follower di Twitter bertanya juga kepadaku, “Don, kamu sendiri nggak mau coba jadi Buzzer?”

    Aku tak menjawabnya kala itu, tapi baiklah ini jawabanku sesungguhnya bahwa aku memilih tidak menjadi buzzer itu pilihan! Pepatah bilang, banyak jalan menuju ke Sarkem (Pasar Kembang – tempat lokalisasi di Jogja -red)!?Kalau semua antri menyemut lewat Jl Haji Abu Bakar Ali lalu nyebrang Malioboro untuk ngapeli Yu Darmi, takutnya jalan tembus lewat Pasar Sentul yang sebenarnya lebih lebar itu akan terlalu sepi, jadi aku lewat sana saja! :)

    In Social Media, No One Cares Unless YOU Care – Danny Brown

    Updates:
    Bola terus bergulir, proses pengayaan khazanah tentang buzzer terus berlanjut. Di hari yang sama, dua orang teman menuliskan opini mereka tentang buzzer dan ‘blogger berbayar’. Kalau dibanding tulisan mereka, apa yang kutuliskan di sini sih tak ada apa-apanya, maka silakan simak:

    List tulisan tautan akan terus kutambahkan setiap ada pembicaraan dengan tema yang sama di blog siapapun dan dimanapun. Tolong infokan ya!