Kategori: Iting

  • Iting (3 – Habis)

    Iting (3 – Habis)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Meski berkarakter keras, Eyang Iting lunak ketika bicara soal kebebasan beragama. Ia memberikan hak bebas itu pada anak dan cucu-cucunya karena ia yakin Tuhan bisa disembah dan dimuliakan melalui berbagai cara.

    Eyang Iting besar dalam kultur Nahdatul Ulama. Ibunya, Eyang Buyut Hj. R. Soekirno adalah seorang hajjah. Namun demikian, ketika alm. Papa menikahi almh. Mama, Eyang tak memaksa Mama yang Katolik sejak lahir itu untuk berpindah agama. Demikian pula ketika Papa dengan kesadarannya sendiri memilih untuk memeluk katolik, empat bulan sebelum ia meninggal dunia secara mendadak, 2011 silam, Eyang tak melarang. Ia memperbolehkan.

    September 1988

    Sejak Chitra lahir, 1985, Eyang iting hampir setiap tahun datang berkunjung ke Kebumen. Maklum, Chitra adalah cucu perempuan satu-satunya.

    Dari sekian banyak kunjungan, hal yang begitu istimewa terjadi saat aku menerima sakramen komuni untuk pertama kali, September 1988. Waktu itu Eyang secara khusus menyempatkan diri datang ke Kebumen meski ia muslim, meski ia tak tahu apa makna dari penerimaan sakramen itu bagi seorang pemeluk Katolik sepertiku.

    Sepulang Gereja, aku dan Chitra berfoto dengan Eyang seperti tampak di bawah. Foto dan kejadian tersebut pernah kutulis dalam tulisan berjudul Solusi Mujarab Perekat Persatuan Bangsa yang pada 2009 kuikutsertakan dalam lomba blog nasional dan mendapatkan penghargaan.

    Awal 1990an

    Pada salah satu libur Lebaran di awal dekade itu, saat berkunjung ke Blitar, Eyang bertanya kepadaku, ?Le, kamu udah ada pacar??

    Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, masih kecil, tapi iklim keterbukaan untuk membicarakan hal-hal ?dewasa? seperti pacaran memang sudah mengemuka di keluarga.

    ?Belum, Eyang. Tapi aku memang lagi dekat dengan seorang teman??

    Ia tersenyum. ?Muslim??

    Aku mengangguk.
    Ia tak komentar sama sekali meski salah satu saudaraku yang tak enak kusebutkan di sini menyeletuk, ?Dijadikan (pacar) , Dik Donny. Nanti siapa tahu kamu nikah dengan dia??

    Aku tersenyum dan Eyang yang duduk tak jauh dariku juga tersenyum, matanya jauh menerawang. Aku tak hendak menangkap terawangan matanya meski aku sepertinya tahu apa yang ada di dalam pikirannya…

    18 Oktober 2008

    Akhirnya aku menikahi seorang Katolik, Joyce Taufan.

    Pagi itu, kami menerima sakramen pernikahan di Gereja St. Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan. Keluarga ?Blitar? datang dan mereka awalnya duduk di bangku paling belakang di dalam Gereja.

    Sadar akan hal itu, aku yang sudah menyiapkan diri di depan untuk mengikuti jalannya perayaan, datang menghampiri Eyang di kursi belakang, mempersilakannya duduk di depan bersebelahan dengan Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) yang memang Katolik.

    Melihat mereka bersanding adalah sebuah pemandangan unik yang menyejukkan.

    Desember 2010

    Setelah tiga puluh empat tahun menikah, Papa akhirnya pindah memeluk agama Katolik, seagama dengan Mama, Chitra dan aku tentu saja.

    Waktu itu, ?PR? terbesarnya yang dielaborasikan kepadaku dan yang lain adalah, ?Bagaimana cara termudah mengabari Eyang Iting dan para budhe tentang hal ini??

    Tapi Papa begitu percaya diri. ?Harusnya mereka nggak ada masalah?? Dan apa yang dikatakan itu adalah benar. Ketika Papa menyuarakan pendapat itu ke Eyang, ia memberi restu.

    Ketika almh. Budhe Him diberitahu tentang hal itu, secara khusus Budhe menelpon Mama dan berpesan, ?Titip adikku ya, Dik Tyas! Tolong bimbing dia untuk beriman di Katolik?? Dua minggu sesudah itu, Budhe Him meninggal dunia.

    Empat bulan sesudahnya, 7 April 2011, Papa meninggal dunia terkena serangan stroke mendadak. Papa dimakamkan secara Katolik dan saat Eyang iting datang, secara khusuk ia ikut mempersilakan Mama, aku dan Chitra untuk mengadakan perayaan ekaristi pelepasan jenasah sesuai yang kami dan Papa imani.

    Sementara itu di Blitar, Eyang Iting tetap mengadakan tahlilan untuk arwah Papa. Yang kubayangkan saat itu, betapa Papa berbahagia mendapatkan penghormatan dari dua sisi keyakinan yang berbeda tapi satu di dalam Tuhan.

    Rabu, 23 Mei 2018

    Sesaat setelah Eyang meninggal, dukaku luruh tiada terkira. Meski ada rasa lega karena sakitnya berakhir tapi rasa kehilangan tak semudah itu untuk diterima begitu saja.

    Turun dari kereta melalui rute jalan kaki seperti biasa menuju rumah, di depan Gereja sebuah doa kupanjatkan,

    ?Tuhan,
    Terimakasih atas perjumpaan hidup yang Engkau berikan kepadaku dengan Eyang Iting. Tugasnya telah usai dan kini berikanlah surgaMu kepadanya. Pertemukanlah ia dengan para leluhurnya, suaminya, ayah dan ibunya terutama anak-anaknya serta menantunya yang telah mendahului Eyang??

    Dalam bayanganku, Eyang berlari-lari kecil penuh bahagia di sebuah savana. Di pagi yang begitu cerah, ia bercakap dengan semua orang yang kudoakan di atas termasuk dua orang yang begitu kucintai yang telah mendahului, almarhum Papa dan almarhumah Mama.

    Mereka melepas rindu dan berbincang tentang apa saja. Tiada sekat, meski ketika di dunia, dinding keyakinan membatasi mereka.

    Di surga tak ada tembok! Bukan karena tak ada yang jual batu bata dan harga semen mungkin sebenarnya murah di sana. Di surga tak ada tembok karena semua yang ada hadir tanpa agama. Tubuh mulia mereka mengimani Tuhan yang sama?

    (SELESAI)

  • Iting (2)

    Iting (2)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Eyang iting itu karakternya keras.
    Dari sudut pandang tertentu, keras diartikan galak sementara dari sudut yang lainnya, keras adalah kokoh dan kuat. Aku bersyukur pernah berada dalam dua sudut pandang itu dalam menilainya.

    Juni 1985.
    Rumah Eyang Puh/Buyut Hj. R. Sukirno, Ibu Eyang Iting, di Blitar adalah rumah kuno yang anggun bergaya feodal. Temboknya kukuh berwarna putih cemerlang dengan pintu lipat kaca yang tinggi serta jendela-jendela yang menjulang bertonasi hijau tua. Dalam liburan itu, aku singgah di rumahnya selama kurang lebih seminggu.

    Rumah besar itu hanya dihuni dua orang. Selain Eyang Puh, tinggal juga di sana saudari sepupu jauhnya, Eyang Soeripto. Aku disambut begitu hangat.

    Lalu tibalah aku di titik pengalaman unik, bukan tentang mereka tapi tentang Eyang iting.

    Pada saat makan malam, kami duduk melingkar di depan meja makan. Eyang Iting menyodorkan piring kosong. Ketika hendak mengambil nasi, ia menyuruhku tetap duduk. ?Nanti Eyang yang ambilin, Le??

    Aku kaget, tapi menurut saja.
    Eyang lantas mengambilkanku nasi. Tapi takaran nasi yang diambilkannya itu tidaklah sebanyak yang biasa kuambil saat di rumah.

    Rupanya Eyang tahu gelagatku. ?Nanti kalau kamu kurang dan nasinya masih ada, Eyang kasih lagi??

    Aku mengangguk. Masih kaget, tapi tak ada pilihan lain selain menurut.

    Hari itu, Eyang Puh masak lele goreng dan tempe serta sambal. Tapi karena aku waktu itu belum doyan sambal, Eyang Iting menghidangkan telor ceplok. Rupanya Mama memberitahu Eyang bahwa kalau Donny tak mau makan berilah telor ceplok saja pasti lahap makannya!

    Ketika hendak mengambil telor yang hanya sebutir itu, lagi-lagi Eyang Iting mengagetkanku! Aku tak diperbolehkan mengambil.

    ?Loh?? aku mencoba protes.
    Eyang mengambil pisau lalu memotong telur rebus itu menjadi empat bagian.

    ?Kamu ambil satu per satu bagiannya, jadi kalau nggak habis, nggak terbuang!? matanya tajam, ucapannya datar. Ia seperti tahu betul bahwa aku memang ?hobi? membuang-buang makanan.

    Apa yang kualami hari itu meninggalkan kepingan kesan bahwa kerasnya Eyang adalah tanda bahwa ia galak. Tapi, ada baiknya kalian melanjutkan bacaan karena ini baru sebagian?

    April 1997.
    Dua bulan sesudah Papa kehilangan pekerjaan dan berimbas pada badai ekonomi yang menghujam keluarga, aku ditelpon Papa. Saat itu aku baru duduk di bangku kuliah semester ketiga.

    ?Aku perlu kamu temenin ke Blitar, Le. Sowan Eyang untuk memberitahukan semua ini.? katanya. Papa memang belum memberitahukan perihal musibah itu kepada Eyang Iting maupun Eyang Pranyoto (Ibu Mama) dengan alasan ?belum sampai hati?.

    Maka pergilah kami berdua ke Blitar mengendarai mobil pribadi sebagai salah satu dari sedikit sisa kepunyaan yang belum dijual untuk keperluan membiayai hidup.

    Waktu itu Eyang Puh dan Eyang Ripto sudah meninggal. Eyang Iting tinggal di sana bersama seorang keponakan jauh, Mbak Agung namanya.

    Dalam sebuah diskusi di meja makan di malam hari, Papa memberitakan dengan sangat hati-hati kejadian yang menimpanya itu.

    Eyang kaget, tapi tak luruh.
    Sempat tertunduk tapi tak lama kemudian sorot matanya menatap tajam ke arah Papa. Dengan suara yang tak rapuh sedikitpun, ia berkata, ?Aku iso bantu opo, Dik?? Papaku, Didiek namanya.

    Papa meminta Eyang untuk membantu mencarikan pekerjaan dari seorang saudara yang waktu itu adalah pemilik salah satu perusahaan minuman ternama di Indonesia yang tentu tak ingin kusebut namanya di sini.

    Dua minggu berselang, Eyang datang ke Kebumen. Sayangnya ia tak membawa kabar baik atas permintaan Papa di atas.

    ?Aku sudah menghadap sedulurmu kae, Dik!? Nadanya mengeras.

    ?Ealah?dulu waktu kecil aku yang nyawiki (cebokin – jw) dia. Aku temenin dia, menjemput dari sekolah dan tidur pun kupeluk semalam-malaman. Tapi kemarin? tapi kemarin aku datang ke rumahnya, kubela-belani sampai berlutut di depannya, memohon-mohon supaya dia nolong kamu? tapi dia nggak mau kasih, Le! Oalah Gusti? Gusti!? Nadanya makin keras, kata-katanya adalah mata bor yang menatah hati kami yang rapuh.

    Papa tertunduk lesu, aku termangu.
    Sama sekali bukan kabar baik yang dibawanya tapi Eyang Iting adalah kabar baik bagiku karena sejak saat itu ia menjadi panutanku dalam mengelola ?keras? bukan hanya sebagai satu bentuk galak tapi juga sikap untuk berani berdiri dan kokoh serta kuat.

    Rabu, 23 Mei 2018.
    Budhe Her mengirim foto terakhir Eyang Iting.

    ?Eyang sejak pagi sudah kritis, mohon doa-doanya ya anak2x, keponakan serta cucu2ku semoga yang terbaik bagi Eyang!?

    Eyang tampak lemah di foto itu. Matanya terpejam. Wajahnya kuyu, sebuah alat bantu pernafasan menempel di hidung dan mulutnya. Sekitar jam 6 sore waktu Sydney, sebuah update terbaru dilayangkan kembali oleh Budhe di grup WA keluarga besar.

    ?Anak2 dan ponakan2ku, tolong bantu putuskan ya. Dokter akan mengambil tindakan mendis terhadap Eyang. Sebaiknya gimana?? Budhe menjelaskan langkah tersebut yang tak elok untuk kuceritakan secara detail di sini.

    Pada awalnya, beberapa kakak sepupu hendak menyetujui tindakan itu tapi aku buru-buru memberikan opiniku.

    ?Budhe, kalau tindakan itu tidak menyakitkan dan resiko prosesnya bisa kita ketahui secara terukur, aku setuju! Tapi kalau hal itu hanya akan menyakitkan, tidak menyembuhkan dan berpeluang untuk membuat Eyang meninggal dalam proses itu, aku jelas menolaknya! Lebih baik Eyang meninggal dalam damai bukan dalam kesakitan!?

    Kami berembug panjang dan akhirnya semua setuju dengan apa yang kukatakan. Sebuah surat tanda penolakan tindakan medis ditandatangani.

    Keputusan itu tentu tak mudah.
    Aku dihadapkan pada hal yang sebagian kuketahui menggunakan nalar sementara sebagian lain tak ada satupun manusia yang tahu karena itu terkait dengan nyawa dan kapan ia direnggut Sang Pemilik.

    Tapi ketegasanlah yang kujadikan landasan. Ketegasan yang mengajarku untuk kukuh dan kuat yang kupelajari dari dia, Eyang Iting yang tegolek lemah tak berdaya.

    Lima belas menit sesudahnya, sesudah pergumulan itu, Eyang Iting meninggal dunia.

    Semua terjadi saat aku berada di atas kereta dalam perjalanan pulang ke kantor. Dukaku memuncak, kerasku lebur, tegasku pudar sementara di luar jendela sana matari lindap perlahan di ufuk barat menyisakan jingga yang membersit indah?

    Bersambung…

  • Iting (1)

    Iting (1)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Juni 1985.
    Kami duduk berhadap-hadapan di gerbong ekonomi kereta api Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya. Selepas petugas Stasiun Kebumen membunyikan peluit tanda kereta diberangkatkan, suara roda berdecit, kereta bergerak perlahan sementara Papa melambaikan tangan di bawah, tampak menjauh dan semakin jauh?

    Aku nervous.
    Itu adalah kali pertama aku pergi ke sebuah tempat sebulan lamanya tanpa Papa dan Mama. Umurku, 7 tahun waktu itu.

    Orang yang ada dihadapanku adalah Eyangku. Raden Roro Suci Hadiyati atau yang akrab kupanggil Eyang Iting. Entah darimana nama itu berasal mula, aku tak tahu. Papaku, yang adalah anak bungsunya dari tiga bersaudara menjelaskan mungkin karena nama adiknya adalah Otong, maka ia dipanggil Iting. Sesingkat itu penjelasannya, sejarah namanya.

    Pagi itu aku ikut Eyang berlibur ke Jawa Timur.

    Ke Jombang beberapa hari bertemu dengan keluarga Budhe Himawati, kakak kedua Papa. Ke Blitar sowan ke rumah Eyang Puh/Buyut Hj. Rr Sukirno barangkali sepekan lalu ke Sidoarjo, ke rumah keluarga Budhe Hermiasih, kakak sulung Papa di sisa liburan untuk selanjutnya pulang ke Kebumen diantar Eyang.

    ?Kok diem aja kamu, Le?? celetuk Eyang memecah heningku.

    Aku terdiam. Tanganku mendingin, berkeringat. Aku agak menyesali keputusanku untuk berlibur. Kenapa aku tak di rumah saja lagipula kan Chitra baru lahir, bisa main-main selama libur sekolah?! Ngapain ke Blitar? Atau, kenapa tak ke Klaten? Ke rumah Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) toh di sana masih banyak kawan-kawan masa kecilku karena aku tinggal di Klaten sejak lahir hingga 1983.

    Eyang tahu aku masih belum ?in.?
    Masuk ke Stasiun Kutoarjo, ia punya ide cemerlang. Seorang penjual nasi pecel lewat dan Eyang membelikan satu untukku. ?Kamu udah sarapan tadi, Le? Mau makan lagi? Paroan ambek (makan separuh-separuh porsi – jw) Eyang ya??

    Aku terpancing, mengangguk.

    ?Enak??
    Aku mengangguk lagi.

    ?Papamu waktu kecil suka banget makan pecel, Le. Nanti sampai di Blitar andhok (makan di luar rumah -jw) pecel ya sama Eyang??

    Aku terdiam lagi.
    Pada akhirnya akulah yang sebenarnya makan hampir seluruh nasi pecel karena rasanya enaknya bukan kepalang.

    ?Yang?? itu adalah kali pertama pagi itu aku menyapanya.

    ?Ya. Apa, Le??
    ?Boleh minta minum?? tanyaku lagi.

    Eyang mengeluarkan termos air dari tasnya lalu memberiku secangkir menggunakan tutup termos itu.

    Lepas dari Stasiun Jenar, Purworejo, ada beberapa tanah tinggi, bukit yang dibelah untuk jalan kereta. Waktu kecil, aku memang punya banyak hal yang kutakuti termasuk salah satunya adalah ketika kereta atau mobil melewati bukit/tanah tinggi. Ketakutanku sebenarnya beralasan meski mungkin kalian mengatakan ?lebay?. Aku takut kalau tanah tinggi itu longsor lalu menimpa gerbong kereta yang kunaiki.

    Ketika kereta melewati tanah tinggi dan jarak gerbong dengan tanah tinggi itu begitu dekat, serta merta aku memeluk Eyang. ?Yang, aku takut, Yang!?

    Eyang tertawa.
    ?Ojo wedi, Le!? ujarnya dengan logat Jawa Timur yang khas. ?Kamu itu anak lanang, jangan gocik nemen!? Pelan-pelan aku disorongnya supaya bisa melihat wajahnya. Kali itu tawanya hilang, wajahnya berubah serius, sorot matanya tajam.

    Eyang memang tak suka pada penakut.
    Jalan hidupnya memang tak pernah mudah dan tak pernah mengijinkannya untuk takut! Ia ?ngenger? (merantau –jw) ikut saudara sejak kecil. Menikah dengan seorang bernama Raden Slamet, beranak tiga lalu tak sampai sepuluh tahun kemudian sang suami terkena stroke hingga sekitar sembilan tahun sesudahnya dan Eyang R. Slamet, ayah dari Papaku itu, meninggal di awal 70-an.

    Membesarkan tiga anak dengan keadaan ekonomi pas-pasan membuatnya tak takut terhadap apapun juga. Maka ketika cucunya yang adalah aku tiba-tiba takut hanya pada ?tanah tinggi?, rasa ?tak gentar? nya pun menyeruak lagi ke permukaan.

    Perjalanan kereta siang itu begitu lancar. Masuk Jogja, lalu Solo, Madiun serta Nganjuk, satu stasiun sebelum Jombang. Sudah ada beberapa tanah tinggi yang kulewati dan aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk tak menampakkan ketakutanku di hadapan Eyang Iting meski terus-menerus gagal.

    ?Don?
    Papamu itu dulu ya penakut kayak kamu! Trus Eyang kirim dia ke pencak silat supaya berani. Kamu nanti kalau sudah sunat juga gitu ya, Le??

    Aku manggut-manggut untuk melegakan Eyang meski aku sendiri tak yakin bahwa beladiri bisa membuatku lebih berani.

    Menjelang sore, kami sampai di Jombang. Pakdhe Tarto, Budhe Himawati dan anaknya yang masih kecil waktu, Amanda Desmanta melambaikan tangan dan menyambut kami dengan hangat.

    Sydney, 20 Mei 2018
    Chitra mengabariku via WA bahwa Eyang Iting masuk ke rumah sakit.

    Usianya sudah 88 tahun.
    Sejak beberapa hari sebelumnya ia mengeluh kakinya sakit lalu Budhe Hermiasih yang menjadi anak satu-satunya yang masih hidup setelah Budhe Himawati meninggal tahun 2010 dan Papa meninggal di tahun 2011, membawa Eyang ke rumah sakit.

    Dalam sebuah grup WhatsApp bersama Chitra, adikku, dan para sepupu, aku mengirim foto keluarga. Aku tak bisa pulang jadi biarlah foto ini kujadikan pengganti ketidakhadiranku.

    Oleh Mbak Sessy, istri Mas Rudi, menantu Budhe Her, foto itu ditunjukkan kepada Eyang.

    ?Dik, Eyang sudah lihat foto keluargamu. Dia bilang, ?Don, semoga keretanya cepat berangkat? Makasih doanya ya Donny. Salam untuk keluargamu.? begitu jelas Mbak Sessy.

    Aku tercenung lama membaca berulang-ulang pesan itu.

    Kesadarannya sudah tak penuh. Ingatannya tak terlalu nyambung. Tapi ketika Eyang ngendhika ?keretanya cepat berangkat? aku tahu pasti apa yang ada dalam pikirannya! Ia teringat peristiwa pagi itu. Di atas gerbong kereta api ekonomi Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya, di tengah derit suara roda besi kereta beradu rel yang memekakkan telinga sementara kami saling berhadap-hadapan tanpa kata untuk sekian lama?