Kategori: Hikayat Tattoo

  • Maju Mapan

    Maju Mapan

    Aku dan Joyce, istriku, adalah penggemar tattoo. Joyce punya beberapa koleksi tattoo di beberapa bagian tubuhnya dan aku juga. Terakhir kali kami bikin tattoo bareng-bareng itu setelah Odilia lahir (2010) dan Elodia lahir (2012). Kedua namanya, Odilia dan Elodia, kami torehkan di leher kami, kanan dan kiri. Adil. Seimbang.

    Hingga saat sebelum liburan kemarin, sebenarnya tak terbesit satu momen pun untuk berpikir kembali ditattoo. Tapi entah angin apa, saat sedang berada di atas pesawat yang membawa kami ke Jogja dari Jakarta pada 1 Oktober 2018, Joyce tiba-tiba bilang, ?Eh, tattoo lagi yuk!? A-ha! Mari kita kemon lah!

    Sesampainya di Jogja, aku menghubungi Munir. Munir adalah tattoo artist yang mengerjakan seluruh tattoo di tubuhku. Ia pemilik Toxic Tattoo Park, sebuah studio tattoo ?legendaris? di Jogja.

    Awalnya kami janjian pada Kamis pagi, 4 Oktober 2018 tapi kemudian diubah pada Selasa malam, 2 Oktober 2018 dengan alasan memanfaatkan waktu luang yang ada mengingat singkatnya waktu liburan kami di Jogja.

    Tapi tunggu dulu?
    Janjian? sudah!
    Uang? sudah dipersiapkan tentu saja! Tapi?. tapi mau tattoo apa?

    Biasanya jauh hari menjelang tattoo aku sudah mempersiapkan satu gambar yang kutimbang-timbang terlebih dahulu. Berpikir jauh hari seperti ini adalah penting karena tattoo kan permanent, akan menemani kita sampai mati. Kalau tiba-tiba nggak suka atau menyesal kan berabe jadinya?

    Bersyukur aku bukan orang yang gampang menyesali apa yang kuputuskan seburuk dan sebaik apapun itu. Aku tipe orang yang mau menjalani apa yang sudah ?digariskan? Tuhan maka tak jadi soal dengan ide tattoo yang datang belakangan karena aku akan menjalani apapun yang nantinya sudah akan ?digambar? oleh? Tu? Tuan Munir! Hahaha?

    Aku dan Munir

    Selasa pagi saat sedang bersiap menuju ke Klaten pergi ke rumah Chitra dan keluarga, keputusanku membulat, aku akan merajah tanganku dalam aksara Jawa: Maju Mapan!

    Tak banyak orang yang mengerti serta memahami makna ?Maju Mapan?. Beberapa yang berkomentar di status Facebook saat foto tattoo kusebar, bahkan mereka menertawakan dan menganggap seperti nama toko/kios handphone saja :) Ya tak mengapa, semua orang punya pandangan yang wajib kita hormati, kan?

    Aku memilih Maju Mapan karena banyak hal.

    Yang pertama dan mula-mula aku percaya pada filosofi dibalik istilah sederhana itu, maju dan mapan.

    Hidup harus bergerak maju hingga mapan. Setelah mapan? Maju lagi hingga mapan lagi, demikian terus-menerus hingga akhirnya kita ?mapan? secara abadi alias beristirahat kekal.

    Maju mapan tak hanya terkait hal ekonomi saja. Sebagai orang yang juga mementingkan perkara spiritual, semakin hari aku semakin merasa perlu untuk memiliki kemajuan dan kematangan dalam hal spiritual. Aku harus semakin menyadari makna hidup dan kenapa aku diberi hidup hingga mapan dan diberi kebijaksanaan layaknya para tua yang lainnya.

    Lalu yang terakhir, sejak pindah ke Australia, karena ingin lebih memahami dan menghidupi makna ?Maju Mapan?, nomer handphone yang kupakai menggunakan deret ?5758? pada akhirannya. ?5758? terbaca sebagai (li) – ma – (tu) – ju – (h) – (li) – ma – (dela) pan.

    Lalu kenapa pakai aksara Jawa? Ya karena aku orang Jawa lah! Hahaha?

    Proses tattoo sendiri berjalan lancar. Tahu diri karena sudah semakin tak tahan sakit, aku minta Munir untuk mengoleskan lotion patirasa yang membuatku nyaman dan tenang saat ditattoo selama kurang lebih satu setengah jam.

    Sekitar pukul sembilan malam, proses tattoo pun selesai. Sementara itu Joyce masih ditattoo Yudha di kursi sebelahku. Sejenak aku berpikir, ?Kenapa hanya satu???

    Bukankah pulang ke Indonesia adalah kesempatan yang tak setiap setahun sekali? Bukankah menerbitkan keinginan untuk kembali ditattoo pun juga semakin langka bahkan tattoo kali inipun bukan berasal dari rencana panjang melainkan hal yang mendadak nan tiba-tiba?

    Akhirnya akupun memutuskan untuk memperpanjang malam, memberikan lengan kiriku kepada Munir seraya berkata, ?Tambah lagi, Nir! Nanggung??

    Malam itu, aku tattoo dua kali!

    Gambarnya apa? Konsepnya apa? Tunggu di tulisan Hikayat Tattoo selanjutnya!

    Oh ya, kalian bisa membaca tulisan-tulisan tentang bagaimana semua tattooku dibuat pada tagar Hikayat Tattoo. Baca juga tulisan berisi wawancaraku dengan Munir yang pernah kumuat di sini.

  • Hikayat Tattoo (14), Akhirnya…

    Hikayat Tattoo (14), Akhirnya…

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Periode waktu Januari hingga Mei 2007 adalah masa kelam yang kepekatannya tak kan pernah bisa kuceritakan secara mendetail kepada khalayak termasuk di blog ini. Bisa dibilang ‘istana pasir’ ku porak poranda! Semua hal, ketika akhirnya masa itu terlewati, harus kutata ulang baik itu urutannya, cara penyelesaiannya dan membangun semangat untuk melakukannya!

    Urusan menyelesaikan tattoo pun pada akhirnya kuletakkan pada prioritas yang tak terlalu penting. Ia berada setelah prioritas penyelesaian studiku kesarjanaanku yang terbengkalai 12 tahun lamanya serta prioritas kedua adalah keputusan apakah aku akan tetap tinggal di Jogja atau pindah ke Australia.

    Lalu seperti kata seseorang, “Time will heal, time will tell!” maka sembuh dan pulihlah semuanya seiring berjalannya waktu.?September 2008, tepatnya setahun tiga bulan setelah ‘masa tak menyenangkan itu’ terjadi dan terlewati, aku lulus kuliah! Pada waktu itu aku telah memutuskan bahwa aku hendak pindah ke Sydney dan tiket pun sudah terbeli, 31 Oktober 2008. Dengan rencana pernikahanku pada akhir Oktober 2008 sehingga aku harus stay di Jakarta sejak awal Oktober untuk mempersiapkan semuanya, praktis aku hanya punya waktu kurang dari satu bulan untuk menggarap hal yang belum tertuntaskan, apalagi kalau bukan tattoo di kaki kiriku.

    “…. sesuatu yang baru kuselesaikan sore itu, tattoo! Ya, tattoo di kedua sisi luar kakiku yang mengungkapkan kecintaanku kepada Tuhan yang kuimani dalam kerangka agama yang kuyakini.”

    Aku lantas menelpon Munir.
    Awalnya, kuundang dia untuk ikut acara makan-makan dalam rangka kelulusanku sekaligus perpisahanku dengan kantor lamaku. Acara pun digelar dan ia datang.

    “Selamat, Bung! Kapan mangkat?” Munir memelukku.
    “Kalau dari Jogja resminya ya akhir September ini, tapi dari Indonesia nanti tanggal 31 Oktober malam!”

    “Uwis mantep?”
    Aku manggut-manggut. “Tapi ada satu yang bakal bisa bikin mantep lagi, Bung!”

    “Apa kuwi?”
    “Ngrampungin tattooku!”
    “Hahahaha.. atur, Don! Atur!”

    Jadwal lalu kami atur. Namun sungguhpun demikian waktu tampak begitu tak bersahabat denganku karena dalam kurun kurang dari empat minggu, ada begitu banyak hal yang perlu kusiap dan selesaikan.

    “Kamu libur Lebaran mulai kapan, Nir?” tanyaku via pesan singkat. Hal ini perlu kutanyakan karena pada waktu itu adalah bulan puasa dan pesawatku ke Jakarta adalah tepat pada hari pertama lebaran, 1 Oktober 2008.

    “Aku tutup mulai tanggal 30 September, Don! Piye?”
    “Waduh… aku berangkat tanggal 1 Oktober 2008! Kamu nggak bisa ya kalau misalnya aku tattoo tanggal 30 September malam gitu?” tanyaku berharap.

    Butuh waktu dua hari untukku akhirnya mendapatkan jawaban dari Munir bahwa pada akhirnya ia bisa menattooku pada saat itu dan ketika ia mengirimkan jawabannya, sesungguhnya aku teramat sangat terharu dibuatnya. Kenapa? Karena aku sadar pada akhirnya hal terakhir yang boleh kulakukan ketika aku masih jadi warga Jogja sebelum kepergianku adalah menyelesaikan tattoo Bunda Maria. Kedua, aku baru sadar begitu baiknya Munir yang mengorbankan waktu libur untuk menyambut hari besar agamanya demi menattooku, seorang yang padahal baru dikenalnya lima tahun belakangan, ketika itu!

    Ketika hari yang ditentukan tiba, aksesku sebagai ‘orang Jogja’ sebenarnya sudah sangat terbatasi. Hampir semua barang-barang telah ku-packed. Kaos yang belum kumasukkan koper pun tinggal yang kupakai. Semua benar-benar telah akan berakhir dan malam itu, menggunakan motor yang kupinjam dari Chitra, aku melaju ke Toxic Studio Tattoo!

    Kira-kira jam lima sore aku telah berada di sana sambil menunggu waktu buka puasa untuk Munir dan keluarga, kami pun ngobrol ngalor-ngidul.

    “Hmmm sesudah tattoo ini, kelar semuanya, Nir!” aku menerawang.
    Ia tersenyum “Santai wae.. Persahabatan kita tak pernah kelar hanya karena kamu nggak tattoo lagi kan hehehehe”

    Ada makna yang begitu dalam dari apa yang diucapkannya tadi. Oh, betapa persahabatan yang indah yang disusun dari sesuatu yang tak dinyana dan bagi sebagian besar orang barangkali dianggap hal yang tak baik, tattoo!

    “Sama berakhirnya dengan pengalamanku tinggal di Jogja!” aku masih menerawang.

    “Hehehe, tenang Mas Bro! Nanti kamu juga bakal seneng tinggal di Sydney! Jangan terlalu dipikirkan dalam!” hibur Munir.

    Percakapan dan permenungan itu mau-tak-mau justru menambah keberanianku untuk menyelesaikan tattoo pada bagian yang paling menyakitkan! Kira-kira satu jam setelah buka puasa, ketika ramai takbir mulai diperdengarkan menyambut hari kemenangan… perlahan tapi pasti, Munir mulai menorehkan tintanya ke bagian yang sebelumnya selalu kuanggap sebagai bagian yang paling menyakitkan!

    Waktu terus bergulir dan entah kenapa proses pembuatan tattoo kali itu berjalan cukup senyap. Tak terlalu banyak candaan dari kami berdua. Entah dengan Munir, tapi aku, selain menahan rasa sakit, melewatkan malam terakhir sebagai penduduk Jogja di kota yang sangat kucintai itu adalah sesuatu yang lebih menyakitkan lagi!

    Sekitar pukul sembilan malam seluruh tattoo akhirnya terselesaikan.
    “Wes! Wes rampung!” seru Munir. Aku merasakan ada sedikit rasa emosional yang kurasakan dari tekanan jarum terakhirnya ke kulitku.?Aku tersenyum. Sebagai seorang sahabat, iapun kupeluk erat. Lama. Dan dengan tergetar, aku mengungkapkan terimakasihku!

    “Suwun banget, Dab! Suwunnnnn banget!” tuturku.
    “Santai, Mas Bro! Santai.. Jaga diri baik-baik di sana!”

    Aku lantas tak memutuskan untuk berlama-lama di situ. Alasan selain ingin memberikan waktu lebih bagi Munir dan keluarganya untuk beristirahat mempersiapkan Lebaran keesokan harinya, aku tak mau larut semakin dalam ke dalam aura yang menurutku justru tak membantuku untuk tegar menghadapi kepindahanku saat itu!

    Dengan langkah pincang, aku mengendarai motor keluar dari studionya sementara ramai orang di jalan menyuarakan takbir yang menggetarkan. Usai sudah tattooku yang proses pembuatannya memakan waktu lebih dari dua tahun itu!

    Sepulang dari nongkrong terakhir dengan sahabatku Viktor di sebuah coffeeshop yang masih buka hingga menjelang pagi, dalam perjalananku mengendarai motor dari Jogja ke Klaten, ketika suara takbir semakin menggema di langit timur Jogja, perasaan campur aduk begitu kentara dalam hati lalu benak. Rekaman perjalanan hidup di Jogja sejak 1993 hingga saat itu, 2008, mengulas di kepala.

    Betapa aku bersyukur dan teramat sangat mensyukuri pernah hidup di kota yang damai dan penuh cinta itu. Teringat dulu alm. Papa mengirimku ke Jogja untuk meraih pendidikan yang lebih baik dan kini, tak hanya ijazah yang sanggup kubuktikan, tapi juga pengalaman kerja yang lebih dari cukup untuk melanjutkan perjuangan di ladang baru bernama Sydney, Australia dan…. sesuatu yang baru kuselesaikan sore itu, tattoo! Ya, tattoo di kedua sisi luar kakiku yang mengungkapkan kecintaanku kepada Tuhan yang kuimani dalam kerangka agama yang kuyakini.

    Ah, untung waktu itu aku mengenakan helm tertutup. Jika tidak, aku takut air mata yang tiba-tiba tumpah itu tersapu angin kebelakang…

    Sekian catatanku tentang Hikayat Tattoo. Ini bukan akhir, masih ada tattoo lain yang belum kuceritakan detailnya dan.. masih banyak sisa ruang di kulit yang kuyakin akan tetap indah jika kutorehkan tattoo lanjutan di atas permukaannya.

    akhirnya...
    akhirnya…

  • Hikayat Tattoo (13), Chitra

    Hikayat Tattoo (13), Chitra

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Bisa dibilang sepanjang sisa tahun 2006, aku dan kupikir kebanyakan warga Jogja lainnya mengerahkan semua energinya untuk recovery bencana gempa bumi yang terjadi pada pagi 27 Mei 2006.

    Banyak rencana baik yang sifatnya personal, komunal maupun organisasi perkantoran yang akhirnya harus dijadwal ulang karena keadaan waktu itu di Jogja memang benar-benar tidak mengijinkan. Untung aku memang telah membatalkan niatku untuk melanjutkan proses pembuatan tattoo sesaat setelah gempa terjadi, so aku tak terlalu kecewa dengan keadaan, which was great!

    Aku juga merasa sepertinya akan semakin berhasil menutup rapat-rapat keinginanku untuk melanjutkan proses tattoo salah satunya dengan jalan menyimpan koleksi celana pendekku dan kembali mengenakan celana panjang pada tiap kesempatan. Jalan ini membuatku tak punya waktu banyak untuk melihat koleksi tattoo di tubuhku, paling hanya waktu mandi saja; sesuatu yang tak bisa dihindarkan.

    Meski masih ada ganjalan terutama setiap melihat tattoo yang tak terselesaikan di sisi kiri, aku selalu menguatkan hati bahwa tak semua hal di dunia ini harus diselesaikan dan hal itu ternyata jadi obat mujarab kecewaku.

    Namun malaikat penjaga semangat tattooku rupanya tak tinggal diam.
    Ia memang tahu aku perlu berkonsentrasi pada proses recovery bencana, tapi ketika semua sudah cukup teratasi, ia seperti mengingatkan kembali bahwa ada hal yang belum terselesaikan dan kali ini caranya cukup unik dan tak dinyana!

    Pagi itu, malaikat tattoo tertawa terpingkal-pingkal dari atas sana. Ia pandai menggunakan Chitra untuk membuatku bersemangat lagi. Tattoo lagi!

    Adalah Chitra, adikku satu-satunya.
    Ketika kami sedang berkumpul di Klaten dalam liburan Natal, tiba-tiba ia yang waktu itu masih mahasiswi tingkat akhir, bertanya kepadaku, “Mas, ditattoo itu sakit nggak?”?Aku terkesiap! Sudah terlampau lama aku tak pernah ditanyai, disinggung ataupun menyinggungkan diri dengan urusan tattoo dan kali ini datang dari adikku sendiri.

    “Hmmm, ya kamu ingat kan gimana reaksiku tiap ditattoo dulu!” Aku padahal tak ingin mengingat-ingatnya.
    “Wah, sakit berarti…”
    Hmmm…

    “Aku lagi mikir pengen bikin tattoo!” tukasnya. Alisku mengkerut. Inginku melarangnya tapi hal itu tak kulakukan karena aku tahu melarangnya berarti memunculkan egoku karena aku melarang hanya supaya aku tak ingat tattoo lagi.

    “Aku pengen tattoo di pundak kanan. Sakit nggak ya?”
    Hmmmm…

    “Gambarnya kupu-kupu. Aku udah nyari di internet sih kemarin!”
    Dan aku tak kuasa lagi untuk tertarik pada topik itu. Aku duduk mendekati Chitra lalu kamipun berdiskusi mulai dari konsep, menceritakan proses, tips dan trik perawatan setelah tattoo dan akhirnya semua itu bermuara pada pertanyaanku, “Jadi, kapan kamu mau tattoo?”

    Chitra yang waktu itu sudah bekerja paruh waktu dan berpenghasilan sendiri memilih awal tahun untuk tattoo. Ia segera kuberi nomer telpon Munir untuk mengadakan janjian sendiri.

    “Tapi aku mungkin nggak bisa nemenin, Chit!”
    “Loh kenapa?”
    “Hmmm, aku takut kepingin tattoo lagi!”
    “Oh, jadi tattoo di kaki kirimu itu sengaja nggak kamu lanjutin, Mas? Kenapa?”
    Aku hanya diam.

    * * *

    Sekitar tiga minggu kemudian, pada suatu minggu pagi, aku terbangun oleh dering telepon yang kuletakkan tak jauh dari kasur.
    “Mas!” Ah, Chitra.
    “Ya, Chit?”
    “Kamu dicariin Mas Munir?”
    “Oh?”
    “Kamu nggak mau kemari? Aku lagi mau ditattoo!”

    Dan pagi itu aku merasa tak perlu menyeruput kopi untuk membuatku benar-benar ‘bangun’ karena kabar dari Chitra itu sudah membuatku tak sanggup lagi untuk tak loncat dari kasur, cuci muka dan langsung tancap gas ke Toxic studio!

    Ketika aku sampai di sana, Chitra sedang ditattoo, ia dan Munir tak kutemukan di ruang tamu studio. Aku segera bergegas masuk ke ruang praktek studio tanpa menghiraukan sekitar yang masih sepi, maklum minggu pagi.

    “Hi, Nir!” sapaku.
    Munir tertawa menatapku seolah ia tahu bahwa Chitra membuatku benar-benar terbangun dari dua hal, ‘tidurku pagi itu’ dan ‘tidurku dari hilangnya semangat untuk bertattoo’ sementara Chitra masih menutup mulutnya dengan tangan menahan sakit proses tattoo tapi dari mata yang dipicingkannya, aku tahu ia pun tertawa kepadaku.

    Aku hanya manggut-manggut, senyum dan akhirnya tak kuat menahan tawa juga.?Tapi aku tak sebegitu lama berada di ruangan itu. Meski Chitra adalah adikku, aku tak tertarik untuk mengikuti proses tattoonya.

    Segera aku pamit ke Munir untuk pergi sebentar, “Aku ke ATM dulu trus cari sarapan lalu ke sini lagi!”
    “Halah… mau ngapain? Nanti ajalah santai-santai dulu!” sergah Munir.
    “Hmmm kamu masih ada janjian tattoo sesudah Chitra, Nir?” tanyaku.

    “Enggak! Makanya santai-santai dulu jangan kesusu.. lagipula disitu ada warung rawon enak tinggal telepon mereka antar dan bayarnya pake duitku dulu!”?Aku menggeleng. Aku ke ATM karena pemandangan di studio tattoo milik Munir pagi itu telah membuatku terlecut untuk melanjutkan tattoo saat itu juga. Untuk itulah aku ambil duit untuk membayar pembuatan tattooku selanjutnya yang akhirnya kulakukan tepat setelah Chitra selesai ditattoo.

    Pagi itu, malaikat tattoo tertawa terpingkal-pingkal dari atas sana. Ia pandai menggunakan Chitra untuk membuatku bersemangat lagi. Tattoo lagi!

    Tanpa direncanakan sebelumnya, tulisan ini ternyata kurilis tepat pada hari ulang tahun Chitra, hari ini, 6 Mei 2013. Happy b’day, Chit!

  • Hikayat Tattoo (12), gempa!

    Hikayat Tattoo (12), gempa!

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Sekembalinya Joyce ke Australia kira-kira seminggu setelah tattoo Bunda Maria ditambahkan ke kulitku, tak dinyana semangatku untuk melanjutkan proses pengerjaan tattoo meredup lagi!

    Padahal, awalnya justru kupikir kedatangannya kuharapkan mampu mem-boost semangatku untuk secepat mungkin menyelesaikan proses pengerjaan tattoo secara keseluruhan yang menurut perhitunganku saat itu tinggal dua kali lagi, ranting pohon anggur di bawah Maria dan gambar awan di bawah matahari yang letaknya di bawah mata kaki.

    Saking redupnya semangat, aku bahkan sempat berpikir seandainya aku tak melanjutkan proses itu dan puas dengan hal yang ada saat itu. Tapi hal itu tentu tak mungkin. Aku sudah terlanjur mengonsep keseluruhan tattoo di kaki sebagai satu tema dan ketika ia terpenggal maka tak sempurnalah ia.

    Otakku lantas berpikir menyiasati ide. Pasti ada jalan keluar karena ini adalah perkaraku dengan diriku sendiri bukan dengan faktor lain.

    Beberapa alternatif ide sempat terpikir tapi pada akhirnya aku memilih begini;
    Bulan Juni 2006, menurut rencana Joyce akan datang lagi ke Jogja untuk berlibur. Belajar dari apa yang terjadi pada pembuatan tattoo sebelumnya, aku berasumsi bahwa pada saat itu, semangat untuk bertatoo akan naik lagi. Nah, pada saat itu, aku akan meminta Munir mengerjakan semua proses pembuatan tattooku hingga selesai!

    “Bagaimana menurutmu, Nir?” tanyaku pada Munir ketika kuutarakan hal itu lewat telepon.
    “Bisa sih… tapi.. uhm, kamu yakin bisa? Nggak sakit? Itu berarti dua tempat dalam waktu yang bersamaan lho!”
    Aku tertawa, “Hahaha, pasti bisa lah, kan ada Joyce…”

    Hidup lantas berjalan seperti sedia kala dan semakin mendekati Juni 2006, semangat untuk bertattoo kian menjadi dan ah bertemu pacar, siapa tak senang?

    Tapi, semesta berkehendak lain. 27 Mei 2006, pagi-pagi benar gempa besar itu terjadi meluluhlantakkan Jogja dan seisinya.

    Rencana untuk menambah tattoo pun batal! Joyce tak kuijinkan untuk datang ke kota yang begitu dicintainya itu mengingat Jogja saat itu sedang tidak dalam mood yang baik untuk dijadikan tempat liburan.

    Aku merasa tak perlu membatalkan janjian dengan Munir karena kuyakin otomatis rencana itu batal pula. Aku dan dia pasti sama-sama ribetnya untuk membenahi hidup di sana-sini bersama warga Jogja lainnya.

    “Semangatnya kupakai dulu buat mberesin semua dan mbantu warga, Hon!” tukasku ke Joyce di telepon beberapa waktu sesudahnya.

    Lalu yang kuingat pada serpihan cerita di sekitar itu adalah, dalam sebuah perjalanan untuk turut membantu korban gempa di Bantul, aku yang mengenakan celana pendek disapa seorang anak kecil. “Om, kakinya.. Om, tattoo!” Ia memuji tattooku tapi dengan gusar aku menyembunyikannya. Saat itu aku mulai benar-benar berpikir untuk tak pernah berpikir tentang tattoo lagi… tak lagi!

  • Hikayat Tattoo (11), penguat yang sesungguhnya

    Hikayat Tattoo (11), penguat yang sesungguhnya

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Tahun berganti.
    Dan seperti yang dikatakan Munir, semangat baru untuk melanjutkan proses penyelesaian tattoo di kaki kiri akhirnya muncul.

    Lebih dari dua bulan setelah tattoo terakhir pada Oktober 2005 yang kuceritakan di tulisan ini, aku mencoba untuk sama sekali tak memikirkan tattoo. Celana-celana panjang yang semula kuparkirkan sejak aku bertattoo pun kukenakan lagi sekadar supaya aku ‘lupa’ untuk sementara waktu bahwa aku bertattoo dan ada tattoo yang belum jadi. Berbagai kesibukan lain yang tak berhubungan dengan tattoo pun kujalankan. Salah satunya adalah mencoba menghadiahi diri sendiri dengan berbagai macam hal karena telah lepas dari rokok yang menjerat 14 tahun terakhir, ketika itu.

    Alhasil, tepat tanggal 1 Januari 2006, ketika mencoba memasukkan ‘Selesaikan Tattoo!’ sebagai resolusi tahun itu, aku menemukan sebuah kesukaan yang baru, sebuah semangat yang menggebu-gebu untuk segera melanjutkan proses pembuatan tattoo dan menyelesaikannya. Usaha untuk menaikkan semangat menyelesaikan tattoo tak hanya berhenti di situ, aku juga memilih tattoo pertama yang akan kubuat pada awal tahun itu adalah sosok utama yang menjadi konsep penggarapan tattoo di kaki kiriku, Maria!

    Karena ini adalah penggarapan tattoo untuk sosok utama, aku lantas berpikir bahwa ada baiknya untukku bersama Munir sekali lagi duduk dan berdiskusi mempertajam konsep ke dalam draft jadi. Lalu kamipun bertemu pada awal tahun itu.

    Mengunjungi Munir di studio tattoonya setelah sekian lama mau tak mau pun ikut mengangkat kembali semangat untuk melanjutkan tattoo. Studio itu tampak semakin ramai terutama dengan semakin banyaknya janjian tattoo yang jadwalnya terbaca di ruang tunggu.

    Selama lebih kurang satu jam kami lantas berdiskusi. Aku membawa kembali konsep awal ‘Maria’ dan Munir mulai mengonsepnya di atas kertas gambar. Beberapa improvisasi yang dibuat Munir pada gambar Maria kubatalkan meski itu hanya beberapa yang menurutku bukannya lepas dari konsep tapi lebih ke faktor suka-tak suka saja. Di akhir pertemuan, kudapati nyaris tak ada perubahan dari konsep yang semula kuberikan kepadanya dengan hasil akhirnya. Satu hal yang kutekankan hanyalah, “Nanti kulit Maria-nya nggak perlu diwarna biar pakai warna kulitku yang asli!” Hal ini kulakukan supaya ia, Maria, punya tone kulit yang sama dengan Yesus yang ada di kaki kanan yang juga menggunakan warna kulitku.

    “Munir benar, ada yang membuatku jadi lebih tahan sakit… Seseorang yang sedari tadi menunggu proses pembuatan tattooku…”

    Gambar ‘jadi’ Maria kubawa pulang bukannya untuk kupelajari tapi lebih untuk kusimak beberapa kali dan ketika misalnya ada ide baru yang perlu ditambah/kurangkan aku bisa langsung menghubungi Munir. Adapun tanggal pelaksanaannya sendiri hingga sepulang dari tempat Munir, aku belum menentukan. Tapi dilongok dari kelonggaran waktu, aku mengonfirmasikan pada Munir bahwa pertengahan ataupun akhir Februari 2006 adalah waktu yang tepat terutama dari sisi keuangan, proses pembuatan tattoo gambar utama memerlukan waktu dan perhatian yang lebih panjang otomatis juga lebih mahal harganya!

    Sebulan lebih setelah gambar jadi dan kusimak beberapa kali, praktis tak ada perubahan baru yang kuusulkan.?Pada sebuah minggu tak lama sebelum bulan kedua di tahun 2006 berakhir, Perawan Suci Maria ditahtakan gambarnya di kulit kaki kiriku.?Prosesnya benar-benar ringan, beda jauh dengan tattoo-tattoo semula bahkan dibandingkan ketika ditattoo untuk gambar Yesus yang penuh perjuangan itu, kali itu tak ada apa-apanya! Aku hanya merasakan sedikit perih ketika memasuki akhir pembuatan atau sekitar 3 jam sesudah tinta pertama ditorehkan!

    “Sangar, Don!” ujar Munir ketika menutup sesi pembuatan tatttoo kali itu.
    “Apane?” tanyaku.
    “Staminamu… daya tahanmu terhadap rasa sakit! Beda kan?”
    “Hehehehe.. Lumayan! Bener katamu, tahun baru semangat baru!” jawabku.

    “Ah, tapi ada yang lebih dari itulah yang mbikin kamu jadi sangar ditattoo hari ini!” goda Munir.

    Aku hanya tersenyum. Munir benar, ada yang membuatku jadi lebih tahan sakit waktu itu. Seseorang yang sedari tadi menunggu proses pembuatan tattooku di ruang tamu studio dan asyik mengobrol bareng Ajeng, istri Munir, lah penyebabku kuat hari itu.

    Siapakah dia? Orang yang kukenal dan tak hanya menguatkanku dalam proses pembuatan tattoo seperti kuceritakan di atas tapi juga menguatkan hidupku dulu, kini dan nanti… ya siapa lagi kalau bukan Joyce! Istri dan ibu anak-anakku. Ketika itu ia masih jadi pacarku.

    ps. Don! Mana foto tattoo Maria-nya? Aha, untuk yang satu ini kusimpan dulu.. akan kupamerkan nanti ketika semua rangkaian cerita ini telah jadi!

  • Hikayat Tattoo (10), tattoo terakhir?

    Hikayat Tattoo (10), tattoo terakhir?

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Proses penyembuhan tattoo yang kuceritakan pada tulisan sebelumnya memakan waktu yang jauh lebih lama ketimbang tattoo-tattooku sebelumnya.?Pembengkakan di sekitar lokasi tatoo yang biasanya hanya terjadi pada tiga hari pertama, kali itu terjadi hingga sekitar semingguan. Semula kupikir bahwa ini bisa jadi bernanah lalu infeksi dan aku harus mengulang prosesnya karena kalau bernanah artinya tinta yang telah ditanam beberapa milimeter di bawah kulit pasti akan rusak. Tapi untunglah ketika itu aku masih tinggal di Indonesia dimana antibiotik bisa dibeli secara bebas (hehehehe -red) maka semua menjadi beres! Dalam beberapa hari, bengkak mengempis dan proses penyembuhan berlangsung normal seperti biasa.

    Tapi untunglah ketika itu aku masih tinggal di Indonesia dimana antibiotik bisa dibeli secara bebas maka semua menjadi beres!

    Setelah semuanya usai, semangat untuk tattoo yang semula ngedrop karena rasa sakit yang timbul mulai muncul kembali. Namun meski demikian aku telah memutuskan untuk mengubah konsep tattooku. Semula, kalau kalian baca tulisanku yang ini, aku berencana untuk mengimbuhkan sosok ular pada bawah mata kaki tapi setelah menyadari bahwa resistensiku terhadap rasa sakit terutama di kaki kiri sangat buruk, aku memutuskan untuk membatalkannya dan memberi ilustrasi awan saja sebagai penganti. Awan? Ya, kan masuk akal kalau atasnya ada matahari, maka di bawahnya adalah awan, lalu daratan :)

    Empat minggu pun berlalu. Awal Oktober 2005, segera setelah gajian dan melunasi kewajiban-kewajiban yang perlu dipenuhi, aku segera mem-booking tanggal untuk melanjutkan proses tattoo bersama Munir. Mengingat tattoo kali itu bukanlah sebuah obyek yang utama dari keseluruhan konsep (yaitu Matahari dan Maria), maka aku sepakat dengan Munir untuk tak terlalu tertahan pada draft gambar jadi lebih dulu tapi kubiarkan saja ia yang telah kupercaya mentattoo sejak beberapa tahun sebelumnya membubuhkan tintanya langsung ke kulitku; kupercaya di kepalanya telah ada konsep yang pasti kusetujui.

    Tapi baru sekitar lima menit Munir merajah, aku telah teriak kesakitan lagi.
    Kali ini lebih masuk akal sebenarnya karena ia men-tattoo tepat di daerah mata kaki yang menurut pengalamanku memang jadi titik paling menyakitkan ketika hendak ditattoo. Munir, seperti biasa, menawariku untuk beristirahat, tapi come on, ini baru lima menit, membayangkan proses tattoo selama dua jam, akan butuh berapa kali istirahat lagi?

    Maka dengan pertimbangan demi terpeliharanya semangat meneruskan tattoo sekaligus menghindarinya turun sampai ke level dasar, aku memutuskan untuk menunda pekerjaan tattoo ‘awan’ di mata kaki dan menggantinya dengan tatoo ranting pohon anggur (simak konsep dan penjelasannya di tulisan ini) di atas ‘matahari’.

    Itu adalah kali pertama bagiku akhirnya menolak tattoo yang tengah dilangsungkan dan mengangsurkan ide untuk menattoo daerah yang lainnya dengan alasan tak kuasa menahan sakit.

    Dengan tingkat kesakitan yang jauh lebih berkurang, tattoo ranting pohon anggur itupun selesai dalam waktu sekitar dua jam. Ia menjulur ke atas dari balik ‘matahari’ hingga mendekati lutut bagian bawah.

    “Piye?” sapa Munir sesaat setelah tatooku jadi.
    “Hmmm… apane?”
    “Kok kamu makin nggak tahan sakit?” tanyanya lagi sambil membereskan perkakasnya.
    “Hehehe, iya nih. Bener-bener payah! Kayaknya aku mesti ambil istirahat dulu! Gimana menurutmu?” tanyaku.
    “Iya, sekalian sesudah tahun baru aja… Siapa tahu semangat baru!” balasnya.

    Dan benar saja. Itu adalah tattoo terakhir yang kubuat pada tahun 2005. Perkiraanku tentang waktu penyelesaian tattoo pun meleset. Kecewa? Iya. Sedih? Jelas karena tattoo itu adalah ketergantungan dan ketika sebuah proses yang harusnya berjalan lalu stop di tengah jalan, rasanya barangkali seperti makan telor mata sapi setengah matang tapi tak membereskan bagian kuningnya.

    'ranting pohon anggur' tattoo kedua setelah sembilan tahun... masi keren kan? :)
    ‘ranting pohon anggur’ tattoo kedua setelah sembilan tahun… masi keren kan? :)

    Namun meski demikian, sebagai hiburan, sebuah kejadian yang juga ‘meleset’ dan tak dinyana terjadi dalam hidupku beberapa hari sesudahnya.?Setelah lebih dari empat belas tahun merokok, pada 14 Oktober 2005 aku berhenti mendadak, aku sengaja tak menceritakan detailnya di sini tapi jika ingin membacanya, aku pernah menuliskannya di sini.

  • Hikayat Tattoo (9), Matahari, tattoo ‘pertama’

    Hikayat Tattoo (9), Matahari, tattoo ‘pertama’

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Lalu tibalah hari itu, september 2005.
    Tepat sebulan sebelum pada akhirnya aku berhenti merokok secara tiba-tiba, aku memulai tattoo journey baru berkonsep Maria.

    Butuh waktu tiga bulan sejak konsep diretas. Bukan hanya soal menabung karena ongkos tattoo yang membubung, tapi lebih dari itu aku harus berpikir untuk melonggarkan ikat pinggang keuanganku tak hanya untuk sekali tattoo tapi juga beberapa bulan ke depannya. Kenapa enam bulan ke depan? Belajar dari pengalaman, kuperkirakan aku butuh sekitar enam kali tattoo untuk memenuhi seluruh jengkal kulit kaki kiriku. Jadi, dengan perhitungan sebulan sekali menambah tattoo, maka kuperlukan sekitar enam bulan dengan kondisi keuangan yang tak mencekik leher. Meski gajiku waktu itu sudah bisa dibilang sangat lumayan untuk ukuran orang seusiaku di Jogja, tapi toh itu adalah hitungan untuk orang seusiaku yang tak bertattoo :)

    “…sepertinya aku harus mengubah konsep tattooku mengingat rendahnya resistensiku terhadap rasa sakit…”

    Pagi sekitar pukul 10, aku sudah berada di studio Munir untuk memulai proses tattoo.?Harus kuakui bahwa studio tattoo yang baru dipindah ini jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Mulai dari penataan ruang hingga dekorasi serta yang paling penting adalah faktor higienis yang tampak begitu terjaga memberi jaminan yang sangat bagus kepada client baru mengingat bagaimanapun juga proses pembuatan tattoo serta pirantinya adalah hal yang terkait dengan masalah kesehatan seseorang.

    Munir telah membuat gambar jadi untuk sesi tattoo-ku pagi itu.
    Sebuah matahari yang dimodifikasi untuk diletakkan pada atas pergelangan mata kakiku. Ukurannya cukup besar dan yang menarik dan memang spesifik kuminta dari Munir gambar tersebut sangat jauh dari persepsi kebanyakan orang tentang matahari itu sendiri.

    Kalian mungkin bertanya kenapa aku justru memintanya demikian, alasannya adalah karena bagiku tattoo itu soal pribadi, personal. Bayangkan, kita ini kan selalu takluk pada persepsi-persepsi yang telah beredar di masyarakat tanpa kita mampu menyanggahnya. Taruhlah langit, kita bilang warnanya biru karena mata kita dilatih untuk mengidentifikasi warna langit memang biru! Kalau demikian, apalah bedanya kita dengan banteng yang hanya mampu menyeruduk ketika mata mengidentifikasi warna merah? Atau contoh lain, minum minuman alkohol itu dilarang semata hanya karena tulisan dalam kitab menyerukan demikian. Tapi, bayangkanlah kamu minum alkohol lalu berbuat baik sesudahnya, apakah itu akan terhitung sebagai dosa juga?

    “…kita ini kan selalu takluk pada persepsi-persepsi yang telah beredar di masyarakat tanpa kita mampu menyanggahnya.”

    Ah, malah ngelantur! Ya pokoknya aku yang juga harus tunduk pada persepsi-persepsi umum selama ini mencoba keluar dengan memberikan persepsi baru terhadap matahari di lahanku pribadi, kulitku sendiri!

    Persiapan dilakukan. Jarum dibuka dari kantong sterilnya, tinta-tinta yang akan dipakai dimasukkan ke dalam palet-palet kecil, beberapa dicampurkan satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan warna baru yang belum ada dari sananya, mesin berdinamo yang hendak digunakan merajah kulitmu pun dipanasi. “Trrrreetttt…treeetttt!” Ah, suara itu begitu ngangeni! Menyeramkan dan memekakkan telinga memang kedengarannya, tapi entahlah beberapa bulan tak mendengarkannya layaknya kehilangan suara deru mobil dan motor di jalanan.

    Munir yang telah mengkopi sketsa gambar matahari itu ke kertas kalkir, segera meletakkannya di atas kulitku lalu dengan menggunakan pelumas, entah apa namanya, tinta yang semula ada di kertas kalkir telah tercetak di atas kulit yang akan digunakannya sebagai pola. Lalu ketika semuanya telah selesai, ia pun bertanya, “Siap?” Ia tersenyum. Senyumnya mengingatkanku pada rasa sakit atas semua tatttooku yang pernah ia buat, tapi namanya juga sudah niat, pantang mundur adalah keharusan!

    Aku mengangguk, dan segera sesudahnya iapun memulai proses rajah itu.

    Tapi entah kenapa, berbeda dengan proses pembuatan tattoo pertama di kaki kanan, kali ini terasa begitu menyakitkan. Resistensiku terhadap rasa sakit kurasakan sangat buruk pagi itu. Baru sekitar 10 menit, aku telah minta istirahat.

    “Kok beda ya, Nir?” tanyaku terheran-heran.
    “Hmmm.. semalam tidurmu cukup?”
    “Cukup! Berlebihan malah karena aku tahu aku mau tattoo pagi ini!”
    “Hmmm… mungkin juga karena ini kaki kiri, Don!”
    “Apa hubungannya?”
    “Orang yang tidak kidal akan lebih sakit ketika ditattoo kulit tubuh sebelah kirinya.” tukas Munir.
    “Kenapa begitu?” tanyaku lagi.

    Lalu Munir menjelaskan sesuatu yang masuk akal; orang yang tidak kidal cenderung lebih aktif menggunakan organ tubuh bagian kanan ketimbang kirinya sehingga resistensi sakit ketika ditattoo untuk kulit bagian kiri memang lebih lemah. Benar-tidaknya logika itu, entahlah tapi yang jelas pagi itu aku membuktikan kebenarannya.

    Proses yang begitu menyakitkan itu toh akhirnya selesai juga setelah sekitar 2.5 jam berlangsung. Aku lupa berapa kali butuh istirahat untuk meredam rasa sakit, tapi karena semakin sering aku butuh istirahat nyatanya semakin menyakitkan, aku lantas memilih untuk menahan sebisa dan sekuat mungkin.

    Satu hal yang kusyukuri, tak ada bagian gambar yang koyak karena ketidaktenanganku dalam menahan rasa sakit, dan tak ada pula rencana tattoo yang harus ditunda, jadi semuanya terlaksana dengan baik.

    Sekarang, sebuah gambar yang kusepakati bersama Munir sebagai sebuah matahari telah tertahtakan dengan sempurna.?Waktu telah bergulir lewat tengah hari dan suara adzan dhuhur telah pula berlalu, saatnya untuk pulang. Aku lapar dan sesegera mungkin butuh untuk tidur siang demi mengurangi perih dan lebam yang mulai tampak.

    'Matahari' ku setelah delapan tahun bertahta di kakiku
    ‘Matahari’ ku setelah delapan tahun bertahta di kakiku

    Sebuah taksi kuhentikan dan setelah berpamitan dengan Munir untuk berjumpa bulan depan, aku segera melaju.?Dalam perjalanan pulang, benakku tak berhenti memikirkan rasa sakitku itu tadi. Nyaliku tergetar, sepertinya aku harus mengubah konsep tattooku mengingat rendahnya resistensiku terhadap rasa sakit…

  • Hikayat Tattoo (8), Maria

    Hikayat Tattoo (8), Maria

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Terus terang saja aku terpikat pada pribadi Maria, perawan yang elok, perawan abadi.

    Hanya beberapa saat sebelum menikah, kalau orang jawa mengibaratkan, ia ‘ketiban sampur’, mendapatkan sesuatu yang sama sekali tidak diharapkan sebelumnya.

    Harapannya untuk menikah dengan Joseph, tunangannya, secara mulus-mulus saja harus berubah. Gabriel, malaikat Tuhan, mengabarkan kepadanya bahwa ia dibuahi Roh Kudus lalu mengandung Yesus, orang yang lantas menjadi pengubah dunia dengan penyelamatanNya.

    Empat saksi hidup Maria yaitu Matius, Lukas, Markus dan Yohanes melalui injil mereka tak mengabarkan bahwa ia memrotes keadaan ini. Malah dengan segala kerendahan hati, ia menyatakan kepasrahannya seperti dituang Lukas, murid Yesus yang seorang fisikawan di jamannya, dalam injilnya, ‘Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu’ (Ecce ancilla domini fiat mihi secundum verbum tuum – vulgata).

    Ada momentum besar yang terjadi pada keseluruhan hidup dirinya dan seluruh umat manusia di dunia pada saat Maria mengatakan hal itu. Suka tak suka, disadari maupun tidak…

    Hal itulah yang lantas membuatku memutuskan untuk mengusung ‘Maria’ sebagai konsep tattooku selanjutnya. Sebagai sebuah penghormatan yang semoga diterima, aku menyiapkan tungkai kaki sebelah kiriku untuk menjadi kanvas gambar dirinya setelah yang sebelah kanan terlukiskan Yesus, anaknya.

    ‘Ngga nyesel kemarin habis tattoo di kaki kanan sekarang di sebelah kiri?’ tanya Mamaku saat aku mengabarkan bahwa aku akan segera menambah tattoo di kaki kiriku. Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Aku tahu, ketika tattooku jadi nanti, penyesalan adalah kepingan yang telah jauh berada di belakang.

    Di hari yang telah ditentukan, pada akhirnya aku bertemu dengan Munir dan pe-er pertamaku adalah membawa konsep Maria ini lebih dulu ke otaknya supaya ia tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana jiwanya harus dibawa ketika mengerjakan gambar tattooku.

    “…Munir dan aku sepakat bahwa meski konsep yang berbau agama diletakkan untuk tattoo, kami memandang bahwa sejatinya tattoo adalah tattoo yang harus dipahami dalam kacamata karya seni”

    Seharusnya itu adalah hal yang susah mengingat bahkan sekalipun Munir itu Katholik, tak semua orang Katholik punya konsep yang sama tentang Maria di kepala. Tapi hal yang patut kusyukuri adalah, tanpa harus menerima bulat-bulat kebenaran konsep, Munir adalah sosok yang begitu terbuka terhadap perbedaan pemahaman sehingga baginya tak sulit untuk mencoba ‘masuk’ ke dalam bingkai pemahamanku terhadap Maria. Dan lebih daripada itu, Munir dan aku sepakat bahwa meski konsep yang berbau agama diletakkan untuk tattoo, kami memandang bahwa sejatinya tattoo adalah tattoo yang harus dipahami dalam kacamata karya seni dan bagaimana kita mengapresiasinya bukan dalam perspektif agama dan bagaimana kita harus menghujat perbedaannya.

    Beralih ke penuangan visual dari konsep Maria tersebut, aku mengambil gambar tema Maria terangkat ke surga.?Sosok Maria mengenakan gaun panjang berwarna putih bermantel biru muncul dari surga di tengah gelungan awan. Kedua tangannya dijulurkan ke bawah seolah mendoakan dunia.?Lalu, karena aku ingin ada kesinambungan antara tattoo di kaki kiri dengan yang sebelumnya, aku memilih menggunakan ranting-ranting pohon anggur yang khas Israel untuk memenuhi kakiku lalu di bagian bawah, dekat mata kaki, kutampilkan gambar ular supaya sesuai dengan apa yang tertulis pada kitab Kejadian (Perjanjian Lama) yang bunyinya “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya (ia) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya”

    (Pada akhirnya konsep ini harus sedikit berubah. Bagaimana perubahannya? Nanti pada saatnya akan kuceritakan dan tampilkan di sini)

    konsep awal tattoo maria
    konsep awal tattoo maria

    Konsep pun telah terdetail dengan matang.?Pada akhir pertemuan yang kalau tak salah ingat memakan waktu sekitar dua jam itu, Munir bertanya, “Sip! Trus kapan mulai digarap iki?”

    Aku terdiam. Pertanyaan yang bagus, gumamku.
    Kenaikan harga pembuatan tattoo yang diadakan oleh Munir sangatlah masuk akal karena seiring naiknya harga tinta dan jarum; ia yang semakin dikenal orang dan belum lagi tentu karena ia memiliki keluarga yang harus dinafkahi, tapi justru karena itu aku harus banyak berhitung supaya jatah uang yang kualokasikan ke tattoo pun masuk akal bila dibandingkan dengan berapa yang harus kukeluarkan untuk memenuhi kebutuhanku yang lainnya.

    Waktu itu, bulan Juli 2005.

    Credit photo.

  • Hikayat Tattoo (7), Tattoo memainkan persepsi

    Hikayat Tattoo (7), Tattoo memainkan persepsi

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

     

    Tattoo yang kubuat dan telah kuceritakan sejak Hikayat Tattoo pertama hingga ke-6, banyak mengundang decak kagum dari kawan-kawanku dulu.?Meski decak kagum dari mereka bisa berarti dua hal. Pertama, kagum dalam arti mengagumi hasil karya Munir pada tattoo yang dibuatnya. Kedua, kagum dengan kenekatanku. ‘Kok berani-beraninya kamu tattooan sebanyak ini!?‘ Meski demikian dalam candaanku dengan beberapa orang kawan, justru sebenarnya aku yang lebih sering mengutarakan kekagumanku “Aku kagum kenapa kalian mengagumi tattoo-tattooku!”

    “Hidup ini lebih banyak dan lebih cepat berubah terutama ketika kita secara proaktif melakukan perubahannya.”

    Hidup ini lebih banyak dan lebih cepat berubah terutama ketika kita secara proaktif melakukan perubahannya.?Dan bagiku memiliki tattoo adalah salah satu contohnya, sehingga mau-tak-mau hidupku terasa lebih kentara berubah.

    Paling terlihat ya soal pakaian yang kukenakan.
    Sebelum ber-tattoo, sehari-hari aku selalu mengenakan celana panjang jeans atau katun kalau harus bertemu klien. Tapi sesudah bertattoo, kecuali bertemu klien aku memilih mengenakan celana pendek selutut yang menampakkan tattooku. Tujuannya? O well, aku tak munafik, tapi diperhatikan orang lain untuk sesuatu yang indah dan unik itu menyenangkan, kan?

    Di saat antri di bank, menunggu pesanan makanan datang di restaurant ataupun saat berkendara (dulu aku naik motor), mata orang terpaku ke tattooku dan aku asyik memainkan dugaan kira-kira apa yang ada dalam pikiran mereka…

    Pergaulanku di komunitas juga sedikit lebih berwarna. Semakin banyak orang mengenalku sebagai orang yang memiliki identifikasi yang unik, ya tattoo itu!?Beberapa kawan menyorongkan kawan lainnya yang hendak bertanya soal tattoo kepadaku, semisal, “Tattoo begini mahal?” atau “Bikinnya dimana?” dan banyak lagi seolah aku adalah orang yang ahli dalam bidang per-tattoo-an saja.

    Tak hanya soal tattoo, orang yang banyak bermain dengan stereotipikal dalam pikirannya akan menganggap orang ber-tattoo adalah seorang yang paham art. Jadi pernah suatu saat aku ditanya orang soal design, tentang bagus tidaknya, tentang bagaimana pandanganku terhadapnya. Aku hanya cengar-cengir karena aku yang berlatar belakang IT, mana tahu soal begituan? Dan kilahnya, “Loh, kupikir kamu anak ISI (Institut Seni Indonesia) karena kamu tattooan!?!”

    Atau yang seru lagi begini; seorang kawan baru menawariku rokok ketika sedang nongkrong di kafe padahal waktu itu aku telah berhenti mereokok. Ia pun terkejut ketika kutolak tawarannya, “Hah? Tattooan kok nggak rokokan?”

    Hidup memang jadi lebih bergemuruh setelah aku tattooan! Anyaman tinta yang ditanam beberapa milimeter di bawah kulit ini telah mengubah image seorang Donny Verdian dan selamat bagi kalian yang bahagia dengan persepsi dengan stereotipikal.

    Gemuruh itulah yang lantas mengantarkanku berpikir untuk menambah koleksi tattoo lagi. Akan seperti apa lagi persepsi orang ketika tattooku tambah banyak? Apa yang ada dalam benak mereka terhadapku? Baikkah? Burukkah?

    Hingga suatu waktu di bulan Juni 2005, sekitar empat bulan setengah setelah jarum tattoo terakhir dicucukkan Munir ke paha sebelah kanan, aku berpikir untuk menambah lagi, memulai perjalanan baru tentang sebuah tattoo yang tak bisa tidak harus bagus dan berkonsep, meski saat itu konsep masih jauh di bawah ufuk bawah sadarku.

    Pada suatu akhir pekan, di sebuah coffeeshop tempat kubiasa menghabiskan sore, sembari mencecap teh gula batu, aku mengirim pesan singkat pada Munir, demikian, “Dab! Aku tak dolan maneh yo… pengen nambah! (Bung, aku main ke tempatmu lagi ya… pengen nambah tattoo – jawa)”

  • “Elodia” di leher kiriku

    “Elodia” di leher kiriku

    Tiga tahun silam, di tulisan yang berjudul Tattoo, Dosa dan Surga aku mengawalinya dengan paragraf sebagai berikut:

    Selasa lalu, 9 Maret 2010, aku menghadiahkan kulit leherku untuk ulang bulan Odi yang pertama.

    Kini, di tulisan ini, biarlah aku mengawalinya dengan paragraf senada berikut:

    Kamis lalu, 21 Maret 2013, aku menghadiahkan kulit leherku untuk ulang bulan Elo yang ketiga.

    Yup! Genap sudah semuanya…
    Dua anak telah menghabiskan jatah dua sisi leher yang kudapat dari Tuhan untuk kupersembahkan kepada mereka dengan hiasan nan kekal bertuliskan nama keduanya. Dan aku tak sendirian. Joyce, istriku, juga melakukan hal yang sama.

    Aku tahu sebagian besar dari kalian akan bertanya bagaimana kalau aku nanti dikaruniai anak ketiga, keempat, ketujuh, kelima belas? Simplenya akan kujawab demikian: Tuhan tak kan pernah tinggal diam! Saat ia mengaruniai anak-anak selanjutnya, rejeki aja disediain, jadi tentu Ia juga akan mencemerlangkan pikirku untuk ditaruh mana tattoo nama-nama anakku selanjutnya, jadi santai saja :)

    Tattoo kemarin dibuat oleh Munir Kusranto. Sosok ini bagiku memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah hidupku. Ia adalah satu-satunya tattoo artist yang kuperkenankan menghias tubuhku sejak awal mula, 2003 silam sejak aku masih tinggal di Jogja.

    Yang menarik dari interaksiku dengan Munir, ketika aku pindah ke Australia, 2008 silam, kalau hendak tattoo pilihannya hanya dua. either aku yang pulang ke Jogja untuk liburan lalu singgah ke Toxic Tattoo Park (studio tattoo milik Munir) untuk ditattoo atau mencari tattoo artist lain di Australia.

    Tapi, semenjak 2010 hingga kemarin, setiap tahunnya, Munir beserta istrinya, Ajeng, selalu menyempatkan diri ke Australia selain untuk mengikuti sebuah tattoo exhibition, bekerja sambilan di salah satu studio tattoo di sini selama beberapa pekan dan tentu saja menemuiku dan beberapa orang kawan sesama Indonesians yang sama-sama mengoleksi tattoo bikinannya.

    Sama seperti tulisan lawasku yang akhirnya memantik pikiran dan niatku untuk menulis kisahku tentang tattoo-tattooku sejak 2003, maka setelah tulisan ini, aku akan menampilkan tulisan-tulisan lanjutan tentang tattooku yang lainnya lagi yang belum pernah tertulis di tagar “Hikayat Tattoo” mulai hari kamis ini!

    Oh ya, lupa, ini tattoonya! Simak foto di bawah ini…

    blog_tattooElodia
    “Elodia” di leher kiri

  • Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir

    Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Semula, aku ingin mewujudkan tattoo El Shaddai yang telah sedemikian lama kurencanakan tepat pada hari pertama di tahun 2005. Tapi apa daya, karena kesibukan baik aku maupun Munir, semua baru terealisasi sehari sesudahnya.
    Perlu persiapan fisik yang khusus mengingat area tattoo yang akan cukup besar bahkan terbesar ketimbang yang sebelum-sebelumnya. Belum lagi area tattoo yang berada tepat di pangkal paha yang menurut Munir akan sedikit lebih menyakitkan ketimbang yang sudah-sudah mengingat area tersebut ada di sekitar persendian dan permukaan kulitnya bukan merupakan kulit yang biasa digunakan untuk beraktivitas; sebuah kenyataan baru yang kupelajari justru ketika aku sedang ditattoo.
    Kami memulainya tepat jam 10 pagi di hari minggu itu, 2 Januari 2005.
    Proses sketsa yang biasanya dilakukan secara spontan oleh Munir, kali ini dikerjakan secara lebih hati-hati mengingat detail gambar yang memang cukup realistis. Setengah jam sesudah sketsa selesai, Munir mulai menorehkan tinta dengan menggarap outline tubuh Yesus.
    Istirahat yang cukup pada malam sebelumnya dan makan sayur-sayuran serta menghindari daging terbukti cukup membantu menyangga staminaku. Hingga proses pembuatan outline untuk Yesus, pita bertuliskan El Shaddai hingga burung merpati, aku praktis tak merasakan deraan sakit yang luar biasa.
    Dua jam tak terasa terlewati.
    Munir menawariku untuk break sejenak makan siang tapi aku menolaknya.
    Bagiku, makan siang lebih bisa ditahan tapi rasa sakit yang kemungkinan bisa timbul karena proses penghentian bakalan lebih tak bisa dielakkan.
    Memasuki pukul satu siang, hujan mulai turun membasahi seputaran barat kota Jogja, dan Munir telah menyelesaikan pita bertuliskan El Shaddai dengan sangat menakjubkan juga beberapa gurat wajah Yesus telah pula diselesaikan dengan sempurna.
    Satu hal yang sangat kunikmati dalam proses pembuatan tattoo adalah perasaan berdebar-debar menanti seperti apa hasil tattoo yang sedang dikerjakan, dan kali itu, untuk kesekian kalinya aku tetap bisa merasakan sensasi itu. Ini bukan sesuatu yang berlebihan tapi nikmatnya lebih tak terperikan.. Jauh dibandingkan kalau kita mengamati seorang pelukis melukis di atas kanvasnya. Kanvas bisa dilempar dan dibuang lalu digantikan dengan yang baru kalau pelukis merasa gagal untuk melampiaskan hasrat berkeseniannya. Tapi tattoo? Bagaimana mungkin seorang tattoo artist membuang kulit kliennya lalu meminta kulit yang baru. Kepada siapa? Seberapa lama? :)
    Sekitar pukul dua kurang sepuluh menit, ketika Munir sedang mengerjakan gambar Burung Merpati, satu hal yang tak kuinginkan terjadi, listrik padam!
    Damn! Aku mengumpat sejadi-jadinya! Proses pembuatan tattoo tidak bisa tidak sangat bergantung pada asupan daya listrik karena mesin yang digunakan untuk menggerakkan jarum penoreh tinta adalah dinamo kumparan yang hanya bisa digerakkan oleh listrik.
    Rasanya hampir hilang akal!
    Untuk pulang dalam keadaan ‘setengah jadi’ barangkali adalah pilihan yang terbaik, tapi bermain-main dengan perasaan tak puas untuk sebulan berikutnya ketika kulit sudah siap untuk melanjutkan ditattoo adalah satu hal yang sangat kuhindari.
    Kami berpikir keras.
    Munir menyarankan untukku pulang tapi aku tetap berkeras untuk berpikir lebih beras lagi.
    Hingga akhirnya, satu keputusan yang tak disangka pun terjadi.
    “Aku tunggu sampai listrik hidup!” ujarku pada Munir.
    “Tapi mau seberapa lama? Kamu kuat?”
    “Itu yang akan jadi batasannya!” jawabku.
    “Maksudmu?”
    “Ya, ketika listrik hidup, tattoolah aku.. kalau aku sudah tak kuat aku pulang… tapi aku tak mau pulang sekarang…” ujarku.
    Maka kamipun menunggu hingga listrik hidup kembali.
    Setengah jam berlalu dan sekitar sepuluh menit sesudahnya, listrik pun hidup lagi.
    Ada perasaan lega karena sebuah penungguan yang menjemukan terlewati tapi perasaan khawatir lantas meraja.. Khawatir apakah aku akan tetap sanggup untuk ditattoo atau…
    Munir kembali melanjutkan menorehkan tinta ke pahaku.
    Sesaat setelah menyelesaikan gambar Burung Merpati dengan baik, ia beralih ke gambar sinar.
    Seperti yang kuceritakan di Hikayat Tattoo sebelumnya, sinar kupilih untuk menggambarkan ‘adanya ruang’ dan ruang kuanggap sebagai representasi dari Bapa yang tak terlepas dari Putra (Yesus) dan Roh Kudus (Burung Merpati).
    Pukul tiga lebih sedikit.
    Dan aku tak bisa memungkiri lagi bahwa staminaku untuk menahan sakit telah mulai tandas hingga ke permukaan.
    Tapi kali ini aku tak mau menyerah dengan keadaan ini, bagiku, membayangkan sebuah gambar utuh bisa terselesaikan sore itu adalah sebuah obat ampuh untuk memompa kembali staminaku beberapa level ke atasnya.
    Tapi tak disangka, sebuah kejutan yang berulang terjadi!
    Ketika Munir sedang mencampur warna di palet untuk menghias tubuh Yesus, sebagai bagian akhir dari tattoo El Shaddai-ku, listrik kembali padam!
    Dan sebelum Munir bertanya kepadaku, aku telah lebih dulu menjawab “Tenang wae! Aku masih kuat… kutunggu dan kamu lanjutkan!”
    Waktu penungguan nan menjemukan pun kembali kami alami.
    Karena ketika saat itu aku masih perokok aktif, beberapa batang rokok kuhabiskan sebagai pengganti makan siang yang hingga saat itu belum juga kusantap. Kami berusaha untuk saling menghibur diri dengan banyak bercakap dan bercerita tentang apapun yang bisa dibicarakan untuk menyilapkan kebosanan.
    Sementara staminaku kembali menurun dan tak bisa ditutupi lagi, separuh permukaan pahaku telah melepuh bengkak.
    Menjelang pukul lima, listrik pun menyala kembali.
    Kali ini aku tak menyambutnya dengan gembira karena kegembiraan yang barangkali ada pun bukanlah satu kenyataan melainkan hanya sugesti yang menutupi keadaan yang sesungguhnya.
    “Don, kayaknya nggak bisa!” tukas Munir menatapku.
    “Maksudmu?”
    “Kulitmu sudah bengkak, pori-porimu sudah membesar.. aku nggak yakin bisa memasukkan tinta kalau keadaannya sudah demikian..”
    Aku terdiam.
    Kecewa? Iya!
    Menggerutu? Aku tak tahu kepada siapa harus kulemparkan gerutuanku itu.
    “Tapi bagaimanapun juga tattoomu sudah jadi!”
    Aku diam.
    “Kita lihat saja nanti, tapi instingku bilang, tubuh Yesus tampaknya tak perlu diwarnai.. biarkan Dia menggunakan warna kulitmu saja…”
    Aku tetap terdiam meski beberapa saat sesudahnya ketika hasil tattooku telah jadi semuanya aku sangat menyesali keterdiamanku ini. Kenapa? Karena apa yang dikatakan Munir adalah benar. Tubuh Yesus tanpa torehan warna kulit adalah keputusan terbaik karena jika tidak, maka justru Dia tak tampak alami dengan campuran warna sebagus apapun itu.
    Munir segera membungkus luka tattooku dengan plastik seperti biasa.
    Aku menyalami dan merangkul dia.
    “Nuwun! Akhire kabeh rampung!” ujarku pada Munir.
    Matahari telah menjingga sementara hujan yang sejak siang tadi membasahi telah reda menyisakan genangan air, bau tanah serta suhu dingin yang menerbitkan romansa yang entah bertitle apa.
    Aku memanggil taksi dan setelah berpamitan dengan Munir, akupun masuk ke kabinnya.
    “Kemana, Mas?”
    “Papringan, Pak!”
    Dan taksi pun melaju. Pikiranku melamun hingga ke langit.
    Berbagai hal meluncur di bayangan dan salah satunya adalah mimpi Marto yang pernah ‘menubuatkan’ aku bahwa suatu waktu aku akan memiliki tattoo yang memenuhi panjang kakiku.
    Sesaat kupandangi sekujur kaki kananku, dan kini aku telah tak memiliki lagi setungkai kaki mulus nan alami.
    Sepanjang hidupku jika tak diamputasi, maka seluruh gambar itu akan menjadi teman paling setiaku hingga mati.
    Menjelang perempatan Pingit aku mengurungkan niatku untuk pulang.
    Kulirik jam tanganku, pukul enam kurang lima belas menit.
    “Pak, nggak jadi ke Papringan.. antar saya ke Gereja Kotabaru…”
    Lima menit kemudian akupun telah berada di bibir pintu Gereja St Antonius Kotabaru.
    Madah nyanyian pembukaan sedang dipersiapkan riuh ramai orang bersiap mengikuti perayaan ekaristi.
    Dengan langkah terpincang-pincang dan diperhatikan begitu banyak orang, aku melangkah tenang masuk ke dalam gereja.
    Tattoo itupun sore itu kupersembahkan sebagai sebuah pujian bagi Dia yang kupuja.
    Bukan sesuatu yang sempurna indahnya tapi justru disitulah, kemanusiaanku kuletakkan.
    Memberikan yang terbaik dari keterbatasan yang ada bagi Tuhan.
    Ah, semoga…

  • Hikayat Tattoo (5), El Shaddai

    Hikayat Tattoo (5), El Shaddai

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    El Shaddai dalam bahasa Israel adalah salah satu gelar untuk Tuhan, Allah Maha Besar.
    Aku jatuh cinta pada ungkapan “El Shaddai” sejak aku mengenal lagu dengan judul yang sama yang pertama kali kudengar pada awal dekade 2000 an silam.
    Demikian liriknya,
    Tak usah kutakut, Allah menjagaku
    Tak usah kubimbang, Yesus pliharaku
    Tak usah kususah, Roh Kudus hiburku
    Tak usah kucemas, Dia memberkatiku

    El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa
    Dia besar, Dia besar, El Shaddai Mulia
    El Shaddai, El Shaddai, Allah Maha Kuasa
    BerkatNya berlimpah, El Shaddai

    Aku tak berani bilang bahwa lagu itu menguatkan hidupku karena bagaimanapun juga Tuhanlah yang melakukannya, namun aku harus berani menyatakan betapa lagu dan lirik lagu itu adalah salah satu penyulut yang menyadarkanku kembali bahwa ada Something yang menjaga, memelihara dan menghibur hingga akhirnya memberkati sepanjang hidupku.
    Maka jadilah! El Shaddai dalam konteks ‘kata’ kuletakkan pada urutan paling puncak konsep tattooku selanjutnya.
    Namun semua tentu tak selesai hanya dengan menorehkan kata ‘El Shaddai’, itu jauh dari rasa puasku!

    Konsep tattoo El Shaddai (Gambar asli)

    Aku lantas memanfaatkan waktu sekitar sebulan lamanya untuk menerjemahkan El Shaddai dalam bentuk gambar sehingga bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna implisit ketimbang hanya tulisan saja.
    Bersumber pada lirik lagu itu tadi, aku lantas berpikir tentang konsep yang sangat teknis dalam lingkungan Gereja Katolik Roma, Tritunggal Maha Kudus. Aku tak kan menjelaskan di sini seperti apa itu karena aku sendiri pun sejatinya tak mengetahui barang secuil kukupun dari konsep suci ini.
    Tapi yang jelas, sebagai penjabaran konsep tattoo ‘El Shaddai’ itu, aku lantas memilih figur Yesus dan burung merpati sebagai Roh Kudus. Lalu, figur apa yang menjadi Bapa?
    Dan, ini adalah pertanyaan yang paling susah untuk kujawab!
    Semula aku berpikir Bapa sebagai matahari.
    Tapi kupikir ini juga kurang tepat karena matahari adalah barang ciptaan seperti halnya manusia.
    Lantas setelah mencari referensi, Bapa dalam sastra lama sering dilukis sebagai orang tua berjenggot yang bijaksana.
    Tapi instingku menolak karena ia akan lebih tercitrakan sebagai Abraham, Nuh ataupun Musa atau kalau tidak, hey apakah Bapa itu adalah manusia?
    Dan akhirnya, pikiranku menuju ke sebuah pemikiran bahwa Bapa kulukiskan sebagai sebuah ruang.
    Sebagai sesuatu yang memberi ruang kepada Yesus dan Roh Kudus untuk berkarya.
    Dan karena ruang itu tak bisa dilukiskan dalam gambar, maka kuimbuhi cahaya di dalamnya.
    Bagiku, cahaya bisa tampak jika ada ruang dan oleh karenanya aku tak mewakilkan Bapa sebagai cahaya, tapi ruang dengan cahaya menunjukkan bahwa Bapa itu ada.
    Malam itu juga sketsa kasar kurampungkan dengan terus memperdengarkan lagu El Shaddai dari pemutar mp3 ku.
    Sekitar pukul satu malam semuanya terselesaikan dan segera kukirim sms ke Munir
    “Gambarku wes dadi.. Secara filosofi rodo abot tur kowe ra sah mbahas sing penting nattoo hehehe”
    Tak lama kemudian Munir pun menjawab “Yes! Tentukan tanggal Mas Bro!”
    Dan kurasakan Tuhan semakin berada di pihakku!

  • Hikayat Tattoo (4), Aku duwe konsep!

    Hikayat Tattoo (4), Aku duwe konsep!

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Kerumitan dan betapa menyiksanya proses pembuatan dan penyembuhan tattoo yang keempat yang kuceritakan di Hikayat Tatto (3) ternyata membuatku harus berhenti sejenak untuk melanjutkan tattooku setahun lamanya. Bukannya jera atau tak bisa ditattoo dengan pertimbangan kesehatan, tapi lebih karena kupikir aku butuh jeda untuk mengembalikan syaraf keberanianku yang mengkerutnya tak sebanding dengan meluap-luapnya nafsu untuk ditattoo.
    Ah, jangan ditanya bagaimana rasanya menahan rindu setahun itu…
    Ditattoo memang menyakitkan, tapi setahun tidak ditattoo dan selama itu sakitnya lebih benar-benar terasa ketimbang ditattoo sekalipun! Maka, sesudah semuanya berlalu, dengan penuh kegembiraan, sebuah pertanyaan terbit di dalam hatiku, “What’s next? Apa dan bagaimana tattooku selanjutnya?”
    Aku merasa berada di persimpangan waktu itu…
    Kenyataan yang tersedia adalah setungkai mata kaki hingga betis kaki kananku telah terisi penuh dengan tattoo non-konsep sementara masih ada sebidang kulit di paha yang bisa dirajah tinta. Di satu sisi persimpangan, aku ingin dan bisa saja meneruskan tattooku tanpa konsep, membiarkan Munir, tattoo artistku bermain semaunya dia.
    Tapi di sisi lain, aku merasa perlu untuk membuat sebuah ‘gong’, sebuah ending yang menyengat dari rangkaian tattooku sebelum-sebelumnya, tapi aku tetap tak tahu apa!
    Tiga bulan pun berjalan dan aku masih terus didera pikiran yang terbalut pertanyaan sederhana “What’s next? Apa dan bagaimana tattooku selanjutnya?”
    Hingga suatu sore, aku tercerahkan!
    “Aku duwe konsep!” lantangku kepada Munir lewat sambungan telepon sore itu.?Munir hanya tergelak entah apa maksudnya namun barangkali ia berpikir betapa akhirnya aku terikat juga dengan satu hal yang dinamakan konsep.
    Kami sepakat bertemu pada suatu hari di bulan September 2004.
    Lalu kepada Munir, kusampaikan bahwa konsep besar dari tattooku selanjutnya adalah agama/religi.
    Kenapa aku memilih itu?
    Simply karena aku berpikir bahwa ‘issue’ agama adalah yang bisa dibilang paling ‘selamanya’ untuk mengimbangi sifat tattoo yang permanen itu. Aku memerlukan sebuah konsep yang tak bisa menjemukan pikiranku hingga kapanpun dan kupikir itu adalah agama, tiada lain! Satu-satunya penyesalan yang melebihi kejemuan akan terjadi jika saja aku berpindah agama atau mendadak jadi tak ingin kenal Tuhan. Namun bagiku, meski aku tak terlalu religius, kedua hal pengecualian itu adalah hal yang paling akan kusesali jika harus terjadi, dan aku benci penyesalan dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyesal.
    Malam itu kami sepakat untuk terus meruncingkan konsep, menajamkan arah hingga pada akhirnya muncul beberapa ide gambar yang bisa diaplikasikan, disesuaikan dengan tattoo yang sudah ada. Hingga menjelang seperempat malam, gambar tak kunjung ditetapkan dan aku memilih untuk meringkus kertas yang ada dihadapanku untuk kubawa pulang dan kuendapkan terlebih dahulu sebelum menetapkan gambar akhirnya.
    Sebagai pengobat rindu, malam itu aku menambah tattooku dari lutut hingga beberapa senti ke atasnya.
    Anehnya kali ini tanpa rasa sakit yang menyengat padahal setahun sebelumnya, daerah lutut, seperti halnya daerah mata kaki adalah daerah yang paling menyakitkan untuk ditattoo karena minimnya topangan tulang belulang dan banyaknya urat syaraf yang membebat.
    Semula kupikir keanehan itu karena sejuta malaikat mendadak berada dipihakku sejak kutetapkan bahwa tema religi akan menjadi konsep tattooku selanjutnya. Tapi kupikir aku yang terlalu banyak berandai-andai…

  • Hikayat Tattoo (3), sakit yang tak terperikan

    Hikayat Tattoo (3), sakit yang tak terperikan

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Juni 2003. Pembuatan tattoo yang ketiga adalah pengalaman yang sangat berharga. Letaknya di bawah betis, mata kaki hingga sedikit menutupi punggung telapak kaki kanan. Kukatakan berharga karena pada fase ini aku menemui kenyataan bahwa sakitnya ditattoo di daerah itu adalah sesuatu yang nyaris tak terperikan.
    Semula aku berpikir bahwa proses pembuatan tattoo yang paling menyakitkan adalah di daerah-daerah yang memiliki kulit tipis dan bertulang keras seperti betis bagian depan misalnya. Tapi aku salah besar, justru bagian yang berupa engsel, berkulit tebal dan tak memiliki tulang adalah bagian yang paling menyakitkan untuk disusupi tinta ke dalamnya.
    Besar tattoo yang kubuat tak terlalu besar, lebih kecil ketimbang yang kedua malah, namun proses pembuatannya memakan waktu sampai lebih dari dua jam. Selama itu, aku lebih banyak meminta Munir untuk berhenti menattoo, beristirahat sebentar dan melanjutkannya lagi. Begitu terus, berulang-ulang…
    Tak hanya itu, bila pada pembuatan tattoo sebelumnya aku masih bisa berpikir untuk ‘ngelayap’ terlebih dahulu ketimbang langsung pulang, tapi kali itu, aku tak memiliki pemikiran lain selain langsung pulang dan beristirahat untuk memberikan tubuh terutama bagian yang ditattoo untuk melakukan pemulihan.
    Nyaris seminggu setelah ditattoo aku juga tak melakukan kegiatan apapun.?Untung aku dulu bisa memilih tidur di kantor sehingga tak memerlukan banyak jalan untuk beraktivitas.
    Tak hanya itu, pada hari kelima , hari dimana seharusnya tattoo mulai sembuh, yang terjadi justru sebaliknya.?Engsel mata kaki, betis bagian bawah hingga punggung telapak kakiku mengalami pembengkakan yang cukup jelas akibat pembuatan tattoo. Suhu tubuh pun kurasakan naik meski tak terlalu banyak dan seluruh badan sangat tak nyaman untuk digerakkan.
    Pada titik ini aku hampir menyerah. Tak henti-hentinya aku merutuki diri sendiri kenapa harus terus menerus ditattoo kalau akibatnya seperti itu.?Kuputuskan untuk pergi ke dokter meminta obat penyembuh dan diberikannya aku antibiotik serta obat penurun demam.
    Tiga hari aku bedrest dan pada hari keempat ketika aku mulai beraktivitas, tattoo yang paling menyakitkan pembuatannya itupun mengering serta mengelupas indah. Aku begitu membanggakan tattoo di mata kakiku itu karena tingkat pembuatan serta lama dan beratnya pemulihan yang harus kulakukan untuk mendapatkannya.
    Akupun kembali mengutuki diri sendiri kenapa empat hari sebelumnya aku sempat mengutuki diri karena terus menerus ditattoo…

  • Hikayat Tattoo (2), sejarah yang berkelanjutan

    Hikayat Tattoo (2), sejarah yang berkelanjutan

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Suatu malam, setelah tattooku yang pertama mulai mengering, sembuh dari luka pembuatannya, Martho, teman baikku berujar padaku, demikian. “Don, smalam aku mimpi kakimu dua-duanya bertattoo dari bawah sampai atas!”
    “Hah? Atas gimana maksudmu?”
    “Ya, atas, sampai segini!” ujarnya sambil mengangkat celana pendeknya hingga ke pangkal paha.?Akupun tergelak dibuatnya. Bagiku, apa yang diimpikannya adalah hal yang mustahil ketika itu.
    “Segila-gilanya aku, nggak mungkin lah sampe sepanjang itu…” tukasku menutup pembicaraan.
    Namun pada kenyataannya, tak sampai sebulan sesudah tattoo pertamaku jadi, aku sudah ingin ditattoo lagi! Ada semacam kerinduan untuk merasakan proses pembuatan dan kepuasan ketika melihat hasilnya. Ketagihan? Barangkali, tapi yang pasti, pada titik itu aku belum bisa menyebutkan perasaan itu demikian.
    Segera saja kukontak Munir untuk bertanya apakah kira-kira ia punya ide untuk melanjutkan tattooku karena, seperti pada tattoo yang pertama, aku tidak memiliki secuil konsep pun mau dibuat seperti apa tattooku selanjutnya.
    Jawaban yang ditunggu pun datang dari mulut Munir.?Ia menyuruhku datang untuk berdiskusi tentang tattoo selanjutnya. Diskusi berlangsung menyenangkan. Munir tampak senang dengan hasil tattoo pertamaku. Ia bilang bahwa karakter kulitku yang tak terlalu hitam membuat tinta-tinta yang ditorehkannya terkesan menyala.
    “Jadi, gimana Nir?”
    “Gimana apanya?”
    “Ya gambarnya… kamu sudah ada?”
    “Oh, belum! Eh tapi kan tinggal melanjutkan aja dari yang sudah ada ke atas sampai ke lutut!”
    Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat apa yang diimpikan Marto tadi namun ah… itu hanya ilusi.?Pada kenyataannya saat ini aku sedang direncanakan untuk ditattoo hingga lutut dan bukan paha!
    Hari pelaksanaan dan harga pun disepakati!?Aku pergi ke ToxicTattooPark pada hari yang telah ditentukan.?Deg-degannya kurang lebih masih sama dengan apa yang kurasakan pada saat tattoo untuk yang pertama kalinya.?Namun kali ini lebih ke soal sakit tidaknya ketimbang tentang bagaimana nantinya menghadapi orang-orang yang masih alergi terhadap tattoo maupun mereka yang ingin memberikan penilaian baik dan buruknya desain tattooku nanti.
    Ketika tinta-tinta dimasukkan ke lapisan bawah kulit lewat jarum-jarum yang tergerak oleh dinamo, aku juga tak merasa sedang mengukir sejarah yang baru. Bagiku, tattoo kedua adalah lanjutan dari tattoo pertama, dimana sejarah untuk pertama kali digulirkan.
    Dan tak seperti sesudah pembuatan tattoo pertama, aku tak memutuskan untuk pergi ke Jazz Coffee atau ke rumah teman sekadar memamerkan tattoo keduaku itu.?Aku memilih untuk langsung pulang dan melanjutkan hidup seperti biasa.?Mauku memang demikian, menganggap tattoo sudah lagi bukan barang asing maupun mewah. Ia harus kuanggap sebagai sesuatu yang tak lebih dari sekadar bagaimana layaknya kita harus menghirup nafas agar tetap hidup dan makan supaya tetap kenyang…

  • Hikayat Tattoo (1), Pelajaran untuk mencintai, pelajaran untuk tidak menyesal

    Hikayat Tattoo (1), Pelajaran untuk mencintai, pelajaran untuk tidak menyesal

    Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Hikayat Tattoo'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

    Orang-orang yang memutuskan untuk bertattoo, biasanya sudah memiliki konsep sejak awal sebelum tinta ditorehkan ke kulitnya, akan tetapi tujuh tahun silam, ketika pertama kali aku ditattoo, tidaklah demikian.?Bisa dibilang aku tak punya konsep apalagi hal-hal berbau filosofis yang biasanya terdengar “waw!”. Niatku, konsepku dan apapun itu yang melatarbelakangiku untuk ditattoo pada awal mulanya hanyalah satu, “Aku ingin ditattoo!” .Titik!
    Keinginan itu sangat kuat bahkan sebenarnya sudah ada sejak masih duduk di bangku SMP meski waktu itu masih kecil baranya.?Aku ingat betul ketika itu aku masih tinggal di Kebumen (Jawa Tengah), di sebuah iklan koran lokal kutemukan iklan jasa pembuatan tattoo dengan gambar-gambar yang waktu itu sudah tampak menarik. Namun, apalah daya, usia yang masih terlampau kecil menghalangiku untuk mewujudkannya. Aku merasa jika aku nekat ditattoo waktu itu, aku tak kan sanggup untuk melawan lingkungan lengkap dengan tata aturan norma yang sudah pasti akan menghajarku.?Akupun hanya bisa berandai-andai, suatu mimpi yang tak tahu kapan kesampaian.
    Pada waktu kuliah, keinginan bertattoo ku nyaris menjadi kenyataan setelah salah satu teman dekatku, seorang wanita, mentattoo kakinya dengan gambar ikan lumba-lumba.?Aku betul-betul tersemangati kala itu terlebih rayuan mautnya menggelitik di telingaku “Nggak sakit kok, Don! Kamu pasti cocok karena kulit kamu nggak hitam sehingga warnanya bisa tampak indah betul!” Tapi sayang seribu sayang, ketika tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu, aku berpikir harus lebih berkompromi dengan perut dan bayar sewa kamar kost bulanan terlebih dahulu ketimbang tattoo.?Atas nama skala prioritas kebutuhan, akupun mengubur kembali keinginan itu, dan tak berharap banyak kepada angin yang mampu menyingkapkannya.
    Ssssstttt.. you know what?!? Dua tahun sesudahnya aku bahkan sudah bersiap pergi ke studio tattoo membawa segepok uang dan secarik gambar rancangan tattoo tapi apa daya, halangan sekarang muncul dari orang yang waktu itu jadi pacarku… tapi syukurlah tak lama sesudahnya kami bubaran hahaha!
    Tahun 2003 pun datang tanpa firasat bahwa itu adalah tahun dimana aku akan menorehkan sejarah ditattoo untuk pertama kalinya.?Semesta seperti telah sepakat dengan seluruh komponennya untuk menjerumuskan aku ke dalam sebuah kenyataan baru bahwa aku bertattoo. Dalam sebuah pertemuan yang tak kusengaja, bersama dengan seorang kawan lama yang baru berlibur ke Jogja dari Jerman, dan seorang kawan lama lagi yang tiba dari Jakarta untuk juga berlibur ke Jogja, kami bertiga seperti diarahkan untuk bertattoo bersama-sama.
    Uniknya lagi, ketiga dari kami sama-sama mengantungi satu nama tattoo studio dan satu nama tattoo artist pula.?Maka jadilah kami berangkat ke ToxicTattooPark, sebuah studio tattoo yang dimiliki oleh seorang tattoo artist, Munir Kusrianto.?Aku tak langsung ditattoo waktu itu. Ferry, temanku yang dari Jakarta yang ditattoo duluan. Alex, sobat dari Jerman tadi hanya merancang tattoo untuk liburan selanjutnya, sedangkan aku hanya diam memendam nafsu.
    Seminggu sesudahnya, aku masih tak berkeputusan untuk ditattoo meski keinginan sudah mencapai ubun-ubun. Bukannya ragu, tapi lebih karena aku bingung harus memilih gambar yang seperti apa untuk tempat yang terbaik di sebelah mana dari tubuhku.
    Satu hal yang menarik dari apa yang kualami waktu itu adalah, boleh dibilang aku tak perlu ragu sama sekali dengan yang namanya ijin.?Papa dan Mamaku hanya bisa pasrah ketika kukabari betapa aku sedang menggebu-gebu utuk ditattoo, mantan kekasihku yang sekarang sudah menjadi istriku saat ini, pun waktu itu tak ragu memberikan ijin… malah, ia telah bertattoo sekitar sebulan sebelum pada akhirnya aku ditorehi tattoo untuk yang pertama kalinya.
    Maka jadilah! Tanggal telah kurancang, hati telah kusiapkan dan uang telah pula kusisihkan. Aku berangkat pada suatu sore ditemani Marto, teman dekatku, ke ToxicTattooPark. Kuserahkan sekitar 15 x 5 cm bagian betis kanan untuk dirajah dengan pola tribal. Prosesnya memakan waktu tak lebih dari 45 menit dengan rasa sakit yang lumayan bisa ditahan namun tetap saja perih.
    Mengalami proses ditattoo ternyata tak lebih dari seperti mengalami proses pembuatan sebuah karya seni lainnya, membuat jantung berdebar-debar akan seperti apa hasilnya, dan ketika selesai dengan baik, hati pun berbunga-bunga.?Tak sampai sejam setelah ditattoo, aku dan Marto tak langsung pulang. Kami berdua mampir ke Jazz Coffee, sebuah coffee shop langgananku dulu dengan ujub, mau pamer critanya.
    “Woh sangar, Donny tattooan!” ujar seorang teman yang mendadak berdiri dari kursinya untuk melihat hasil tattooku.
    Aku hanya mesam-mesem dibuatnya…
    Lalu yang lain bertanya, “Tattoo opo? Artine opo? Kenapa kamu milih gambar itu?”
    Akupun terdiam. Aku tak punya jawaban. Satu-satunya cara untuk tetap bertahan adalah menyadari bahwa apapun kata orang, apa yang telah dirajah tak bisa lagi dihilangkan. Mulai saat itu akupun belajar satu hal, mencintai dan menyukai apa yang telah dibubuhkan secara permanen tanpa harus berpikir ke belakang apalagi sampai menyesal. Ah, jangan sampai, jangan pernah!

  • Tattoo, Dosa dan Surga

    Tattoo, Dosa dan Surga


    Selasa lalu, 9 Maret 2010, aku menghadiahkan kulit leherku untuk ulang bulan Odi yang pertama.
    Sebuah tattoo bertuliskan “Odilia” sejak hari itu bertengger di sana. Ini bukan kali pertama aku ditattoo dan bukan pula sebuah kebetulan kenapa aku memilih hari selasa silam selain karena Munir, tattoo artist langgananku di Jogja dulu sedang berkunjung ke Sydney untuk sebuah pameran.
    Bagiku tattoo adalah sesuatu yang tak terlalu harus dihebohkan apalagi kalau harus disangkutpautkan dengan tata nilai moral dan tingkah laku. Semua (semoga aku tak bohong) tahu aku orang baik, meski aku bertattoo. Kalaupun ada yang menganggap tak demikian, keburukanku bukan karena tattooku :)
    Soal dosa? Kamu tak takut tak masuk surga? Aku takut dosa tapi bukan yang berasal dari tattoo karena Tuhan, kuyakin tak melihat baik dan buruk orang dari satu hal saja, dari tattoo saja.
    Soal surga, bagiku ia adalah milik semua orang baik tak peduli ia bertattoo ataupun tidak. Namun kalaupun surga ternyata memang benar-benar bukan untuk orang bertattoo, apa boleh buat, aku akan buka franchise surga tepat di sebelah surga yang asli dan kubiarkan mereka yang bertattoo, selama dia pernah hidup dengan baik, untuk masuk ke dalamnya.
    Fair enough? Happy weekend!