Kategori: Harblognas

  • Konon ngeblog sekarang itu?

    Konon ngeblog sekarang itu?

    Konon ngeblog sekarang itu? udah nggak enak dan ketinggalan jaman. Kawanku yang influencer terkemuka berkata demikian. ?Bahkan Twitter pun udah nggak asik, Bro! Follower yang diperhitungkan itu di Youtube atau Instagram! Apalagi blog? Sounds so two decades ago!? Tapi tentu aku tak bergeming karena ngeblog bagiku bukan untuk menerbitkan atau menimbulkan gelombang influence.

    Konon ngeblog sekarang itu? nggak menghasilkan duit sebanyak dulu. Kawanku yang seorang ?buzzer produk? membisikkanku begitu. Ngeblog panjang lebar duitnya lebih sedikit puluhan kali lipat ketimbang ngetweet atau? nge-vlog! Bermodal ?Hae guys!? tak peduli tampang yang penting sensasi (dan kadang memalukan dikit gak papalah) duit pun berdatangan. Tapi hal itu tak menggelitikku karena ngeblog bagiku tak kutujukan untuk hal-hal komersial.

    Konon ngeblog sekarang itu? masih relevan kalau kamu membela pemerintah. Berani sensasi, berani nulis yang bombastis dan mendekat ke ormas yang dekat ke penguasa maka kamu aman. Sebaliknya kalau kamu membela yang ?bumi datar?, kata mereka, sensasi masih dapet tapi duit zonk karena makin banyak yang mulai ditangkep atau setidaknya di-polisi-kan. Lagi-lagi, meski aku membela yang benar, aku tak tertarik untuk menjatuhkan diri pada satu sisi dari yang saling berlawanan itu karena aku lahir untuk tegak berdiri tidak untuk dirundukkan baik oleh uang maupun kekuasaan.

    Konon ngeblog sekarang itu? diluar urusan politik atau makanan atau wisata akan semakin tak terdengar. Pengunjung kalau mau ribuan atau puluhan ribu ya harus jadi seperti mereka. ?Kalau cuma nulis curhatan, keseharian apalagi nulis renungan Injil kayak loe mana bisa eksis, Bro?? Eksistensi itu tidak untuk dipertahankan. Ia dibangun dengan cara menulis bukan menulis apa dan tentang siapa ataupun pengunjungnya berapa.

    Konon ngeblog sekarang itu? ditinggalkan karena selain urusan-urusan di atas ya karena terlalu banyak urusan diluar masalah ngeblog yang harus dihadapi dan diselesaikan. ?Repot aku kalau disuruh ngeblog terus. Nggak ada ide dan energi!? Aku juga tak punya energi tak pula ide tapi keduanya selalu datang menghampiri. Jangan-jangan mereka menghampirimu pula tapi kamu tak mengenali?

    Konon hari ini, 27 Oktober 2017, adalah Hari Blogger Nasional? Oh ya? Kalau begitu Selamat Hari Blogger Nasional, Teman-teman. Aku sudah berhenti merayakannya karena aku bukan lagi seorang blogger, aku superblogger Indonesia!

  • Blog adalah trend sesaat! Selamat Hari Blog Nasional!

    Blog adalah trend sesaat! Selamat Hari Blog Nasional!

    Selamat memperingati Hari Blog Nasional, 27 Oktober 2016.

    Pertama-tama mari kita panjatkan doa semoga Mas Roy Suryo panjang usia dan diberi kebahagiaan lahir batin. Saya ngomong ini tulus apa adanya. Kenapa? Karena kepadanyalah alam pernah membisikkan kebenaran bahwa “Blog itu hanya trend sesaat!” Dan, bukankah nyatanya memang benar demikian?

    Tidak setuju? Ya buktikan! Menulis lagi, ngeblog lagi kalau masih ingat password admin page-nya! Kalau nggak terbukti, ya setujui habis perkara!

    Dan sebenarnya sabda tentang ke-trend-sesaat-an blog itu memang benar-benar sabda yang waskita. Bahkan ketika ada seorang awam blog bertanya kepadaku, pertanyaannya pun tak jauh-jauh dari trend seolah memang menyederhanakan perkara blog itu adalah trend sesaat.

    “Kamu kenapa menulis tiap hari?”

    “Kamu dapat duit berapa kok rajin banget?”

    “Pengunjung blogmu berapa sehari?”

    Hingga, “Komentar blogmu cuma dua kok udah belagu macak jadi superblogger Indonesia?”

    Biasalah! Hal-hal yang ditanyakan para trend follower memang selalu terkait hal-hal trendi, terkait ukuran-ukuran syahwat kemanusiaan mulai dari segi jumlah, nominal uang pokoknya membandingkan, men-skala-kan!

    Eh ketinggalan, soal kwalitet! Ini juga yang sering dicibirkan…

    “DV itu tulisannya sebagus apa sih kok sudah berani macak jadi Superblogger Indonesia?!”

    Nah, trendi banget kan? Emangnya aku ini siapa? Denny Siregar? Jonru? Beda kelas lah karena aku seorang Donny Verdian! Tulisanku nggak bagus makanya tak laku! Tak?seperti mereka, karena laku maka baguslah tulisannya! Eh kebalik ya?

    Menulis dan ngeblog itu bukan soal trend, bukan pula soal jiwa meski menulis dan ngeblog butuh penjiwaan. Kenapa? Kenapa menulis itu bukan soal jiwa, karena kalau demikian seorang yang sakit jiwanya ia seharusnya tak menulis lagi…

    Menulislah karena menulis itu adalah cara kita ber-ekskresi, membuang sisa-sisa metabolisme tubuh, tenaga, pikiran dan hati!

    Seperti halnya kita berkeringat, kencing hingga boker, berekskresi, menulislah seperti itu! Jadi meski makin sakit jiwamu, kamu tetap waras dalam menulis. Meski tak makin bagus tulisanmu, tak laku, tak banyak pengunjung dan tak ada yang mengomentari… menulislah! Hanya orang yang mati yang tidak perlu membuang apa-apa lagi karena tak bermetabolisme, hanya orang mati pulalah yang berhenti menorehkan kata-kata!

    Ketika kamu sudah menempatkan menulis sebagai demikian, peduli setan dengan kwalitet dan angka-angka pembanding jasmaniah di atas karena siapa peduli pada seonggok tai, air kencing, keringat dan beratus-ratus blog post di blog archive kita?

    Menulis itu justru membuat kwalitet kita sebagai manusia penulis makin bagus nan baik adanya karena hal-hal yang perlu dibuang, di-release, terbuang, terlempar.

    Jadi menulislah sebagai tanda bahwa kamu adalah makhluk yang bermetabolisme baik! Tak peduli mau jaman Pilkada, Pilpres, ada lomba atau nggak ada lomba, ada sponsor atau nggak ada sponsor, menulislah, menulislah, menulislah…

    Sekali lagi, Selamat Hari Blog Nasional! Mari ngeblog, mari nulis!

    Salam dua jari, jangan lupa pilih BASUKI! *Lhoh!

  • Selamat memperingati hari blog nasional

    Selamat memperingati hari blog nasional

    Selamat Hari Blog Nasional!
    Selamat untuk kita semua karena menurut apa yang diutarakan Ndorokakung kepadaku, hari ini layak dirayakan oleh siapapun yang peduli pada blog! Tak terkecuali, aku, kamu dan mereka.

    Hari blog nasional juga layak dirayakan untuk para mantan blogger baik mereka yang telah meninggal dunia maupun yang masih hidup tapi memutuskan untuk ?move on? dan tidak ngeblog lagi.

    Bagaimana dengan para blogger yang masih hidup dan ngeblog? Sudah barang tentu layak untuk diselamati juga.

    Adapun syarat untuk menjadi blogger itu sejatinya mudah, kian mudah.
    Tinggal bikin di wordpress, lima menit jadi. Tempel gambar makanan, postang-posting lima cerita soal makan di sana-sini lalu sebarkan ke social media dan kitapun siap menerima tawaran makan siang gratis, dinner cuma-cuma dari hotel dan resto sebagai ?. blogger kuliner!

    Eh masih gak percaya kalau bikin blog dan jadi blogger itu bener-bener gampang?
    Tinggal buka blogspot, daftar dan bikin blog hmmm lima menitan lah jadinya! Pasang foto tempat tujuan wisata dalam dan luar negeri, postang-posting cerita soal liburan ke sana-sini lalu siarkan ke pengikut-pengikutmu di social media dan siap terima ajakan piknik gratis dalam dan luar negeri sebagai?. *drum roll*…. blogger wisata!

    Syukur-syukur bikin buku. Masalah mutu dan laku-tidak-laku itu bukan hal yang perlu!

    Makanya aku semakin mengimani apa yang (lagi-lagi) dikatakan Ndorokakung kemarin bahwa terciptanya peluang usaha yang lebar adalah salah satu kontribusi blog dan blogger yang terbesar!

    Untukku pribadi, Hari Blog Nasional tak terlalu signifikan artinya selain bahwa hari ini adalah hari selasa dan ini berarti dua hari lagi aku harus merilis tulisan baru di sini. Demikian juga dengan risalah akhir pekan dan senin depannya menulis lagi, kamis lagi, sabtu/minggu lagi, kamis lagi dan seterusnya seperti yang sudah-sudah dan yang akan-akan!

    Tapi aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk bicara tentang sesuatu dan sesuatu itu adalah rencanaku.

    Jadi per 20 Desember 2015 mendatang, aku akan menghentikan penggunaan domain name ini, donnyverdian.net sebagai domain utama blog ini. Aku akan berganti ke sebuah domain name baru.

    ?Kenapa??
    ?Pengaruhnya apa??
    ?Kok??

    Nggak ada apa-apa. Ini siklus normal dan bukan kali pertama aku melakukannya.

    Sepanjang tiga belas tahun aku sudah tiga kali berganti domain name. Mulai dari Donnie.or.id lalu DonnyVerdian.com dan kini DonnyVerdian.Net yang akan segera berganti setelah delapan tahun ?bertugas?.

    Ini hanya soal peremajaan. Tiada lain!
    Sebagai blogger yang terus konsisten ngeblog, aku butuh penyegaran terus-menerus.

    Sebagian orang membaca ini sebagai caraku untuk mempertahankan ?kegelisahan?; ungkapan lama dalam dunia seni budaya dimana seorang seniman/budayawan merasa selalu perlu untuk tidak berada dalam zona nyaman supaya menghasilkan karya-karya yang terus bermutu. Tapi tentu aku belum sampai level seniman apalagi budayawan.

    Ini lebih ke soal ganti baju.
    Tak ubahnya seperti cara kalian mengganti warna cat gapura masuk gang menjelang tujuh belasan, senada dengan usaha kecil kalian mempersiapkan Natal dengan menanam pohon cemara di halaman rumah lalu memberinya lampu hiasan? Tak beda? sama!

    Lalu apa yang terjadi pada 20 Desember 2015 saat kalian mengetikkan donnyverdian.net di browser? Tidak akan terjadi apa-apa kecuali domain name ini akan di-redirect ke domain name baru lalu kamu akan tetap dihantarkan ke blog paling konsisten dan paling keren se Indonesia Raya ini!

    Lalu apa domain barunya nanti? Tunggu saja tanggal mainnya!

    Yang pasti, nikmatilah hari ini!
    Selamat menggelorakan blog! Selamat menulis blog, membaca blog, ngrasani blog, ngaku-ngaku bisa ngeblog dan segalanya pokoknya? blog!

  • Ndorokakung: …kalau nulis jangan ngarang!

    Ndorokakung: …kalau nulis jangan ngarang!

    Kali ini aku harus setuju dengan Fadjroel Rahman!
    Analis politik yang tahun lalu aktif dalam tim sukses Jokowi-JK dan kini menjabat Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk. itu mendeskripsikan Ndorokakung sebagai kakeknya (grandfather) social media Indonesia.

    Kepada Jakarta Globe ia berkata demikian, “He?s the grandfather of social media. If you don?t follow him, it means you?re nobody in social media.”

    Ndoro, Pria Jogja yang nama aslinya Wicaksono itu memang sudah ada di ranah blog dan social media sejak dekade silam.

    Tulisan-tulisannya di ndorokakung.com mengesankan meski diksi yang dihadirkan sederhana. Jumlah pengikutnya di Twitter ratusan ribu banyaknya. Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatku mau mengundangnya untuk kuinterview di sini.

    Hal yang paling bisa kupelajari darinya adalah ke-elegan-annya dalam menciptakan konten yang diterima khalayak lalu disebarkan sebegitu luas melalui kanal-kanal social media. Golden!

    Keberpihakannya pada keterbukaan informasi secara online membuatnya diterima dengan amat baik ketika terjun aktif dalam komunitas-komunitas sosial kemasyarakatan di Tanah Air.

    Pria yang kini menjabat sebagai Chief Editor Beritagar.Id ini kuhubungi Jumat pagi yang lalu. Setelah hampir menunggu seharian lamanya akhirnya ia menyaguhi interview.

    Karena tak mau kehilangan momen, aku yang sebenarnya sedang nge-gym, merelakan waktu-waktu sela di antara weight training set untuk berbincang dengannya tentang blog, blogger dan hari besok, 27 Oktober, yang merupakan Hari Blogger Nasional.

    Simak petikannya!

    Setelah sekian tahun ditetapkan, siapa yang pantas dan masih relevan untuk merayakan harblognas (Hari Blog Nasional), Ndor?

    Menurutku layak dirayakan siapapun yang peduli pada blog.

    Bahkan orang yang tak punya blog atau bukan blogger, tapi suka menikmati atau membaca blog, relevan untuk merayakannya.

    Tapi blogger yang aktif menulis semakin sedikit? Setujukah kamu dengan pendapat itu?
    Aku tak punya data yang menunjukkan peningkatan atau penurunan jumlah penulis blog yang valid. Jadi, aku kurang yakin pada pendapat ini.

    Menurutmu di tengah arus sosmed sekarang ini, apakah definisi blogger mengalami perubahan?
    Menurutku, arus yang deras tak mengubah definisi.

    Apakah orang yang nge-tweet dan membuat status di facebook bisa dianggap blogger juga?
    Orang yang punya blog dan mengisinya layak disebut blogger.?Tapi kalau orang yang ngetwit sebaiknya disebut pekicau saja, meskipun twitter itu disebut microblogging

    Kamu masih ngeblog?
    Masih, meskipun frekuensi menulis tak sesering dulu

    Masih memperhatikan blog orang-orang?
    Sesekali masih baca tulisan blog orang? terutama yang tautannya muncul atau dibagikan di media sosial.

    I see.
    Menurutmu apa kontribusi blogger dengan blog yang paling signifikan dalam perkembangan jaman?
    Blog memberi ruang yang lebar pada semua orang untuk menuangkan pikirannya dan blogger membuat pembaca memiliki alternatif informasi yang dulu didominasi oleh media tradisional.

    Blog juga membuka peluang ekonomi bagi pemiliknya, sampai ada iklan teksnya: Daripada susah buka toko, mending buka laptop ?

    Demokratisasi informasi dan terciptanya peluang usaha yang lebar adalah sumbangan terbesar blog dan blogger.

    Tapi bisakah info-info yang tidak titis (jitu – jawa) dan sifatnya malah menghasut macam banyak blog-blog politis kita anggap sebagai efek dari demokratisasi informasi itu sendiri?
    Demokrasi, suka tak suka, memang memiliki residu semacam itu. Tapi bagusnya, demokrasi juga menyediakan saluran untuk mengoreksi residu itu sendiri.

    Yang diperlukan tak lagi sekadar melek huruf, tapi juga melek media (sosial). Ini PR besar kita semua yang menginginkan tegaknya demokrasi.

    Peran pemerintah dan hukum mengatasinya lewat UU ITE? Sudah tepatkah solusi itu atau cenderung overkill (berlebihan -inggris)?
    Celakanya memang overkill! Ini kalau kita lihat dari kasus-kasus yang sudah terjadi, misalnya, ada orang yang digugat karena dianggap mencemarkan nama baik dengan menulis status di BBM.

    Lalu saranmu untuk mengatasi hal ini bagaimana?
    Pertama-tama, UU ITE harus direvisi supaya tak gampang lagi dipakai orang untuk menggugat atas nama pencemaran nama baik.

    Kedua, penegak hukumnya, polisi juga harus lebih pintar

    OK, pertanyaan terakhir, menurutmu sudah perlukah seorang blogger punya lawyer/pengacara untuk berjaga-jaga?
    Pengacara pribadi? mahal, hahaha…
    Yang penting blogger itu mawas diri saja. Kalau nulis jangan ngarang apalagi kalau isi tulisannya menyangkut seseorang.

    Be kind, be honest supaya kalau terjadi sesuatu, banyak yang membantu.

    Sip! hahaha ada hal yg mau kamu sampaikan kepada pembaca selain semua yang terpapar di atas?
    Aku cuma mau bilang, kamu niat tenanan wawancaranya, hahaha… top.
    matur nuwun ya

    Lah! kowe lagi ngerti nek aku top? hahahaha

  • Buzzer membenciku? Itu urusan mereka

    Buzzer membenciku? Itu urusan mereka

    Dan angin sepoi-sepoi yang kumaksud di tulisan sebelumnya adalah aku sendiri. Aku tidak mengguncang lagi menggelegar. Aku bukanlah siapa-siapa tapi beberapa kawan mendesakku untuk membuat interview diri sendiri sebagai penutup #harblognas.

    Mungkin.. masih mungkin, mereka menganggap aku adalah blogger keren, blogger papan atas.

    Padahal ini salah kaprah!

    Tulisanku sebenarnya biasa saja, hal ini bisa kurasakan ketika aku membaca tulisan lamaku, tak jarang aku berujar, ?Anjrit, kenapa kayak ginian kutulis?!?

    Kalau dibilang aku keren karena aku masih konsisten ngeblog, nah ini kupikir lebih salah kaprah lagi karena hal ini berarti kalian yang tak konsistenlah yang membuatku tampak keren, kan? :)

    Pertanyaan-pertanyaan yang ada di sini kukumpulkan dari email yang dikirim kawan-kawan. Beberapa kumodifikasi supaya lebih layak saja :)

    Semoga kalian bisa menikmatinya!

    ?Bu, yang mbayar kamu untuk punya anak banyak siapa, Bu??

    Siapa yang membayar kamu untuk ngeblog?
    Nggak ada. Kenapa harus dibayar?
    Tak semuanya harus ditakar dengan uang kecuali kalau kamu berpikir bahwa tanpa uang tak akan ada kehidupan. Apakah kamu akan bertanya yang sama juga ketika bertemu dengan seorang Ibu yang punya anak banyak, ?Bu, yang mbayar kamu untuk punya anak banyak siapa, Bu??

    Semuanya tentang hobi dan kesenangan saja.

    Mau ngeblog sampai kapan kok terus-terusan begitu?
    Kalau Imelda di artikel ini bilang akan ngeblog sampai mati, semoga demikian juga halnya denganku.Ketika aku mati nanti, aku ingin dikenang sebagai blogger, bukan sebagai seorang senior web developer ataupun technical lead yang garang.

    Ketika aku mati nanti, aku ingin dikenang sebagai blogger.

    Apa yang membuatmu asyik ngeblog dan malah di twitter kamu nyinyir?
    Nggak ada kaitan antara keduanya sebenarnya.

    Di Twitter aku nyinyir, di blog kalau kuperlukan pun aku juga nyinyir.
    Twitter lebih spontan mungkin iya. Aku bisa ngetweet kapanpun dimanapun. Begitu dengar satu peristiwa atau terbersit satu pikiran langsung ambil gadget dan tweet it!

    Kalau blog kan beda, mesti mikir trus kata orang diendapkan dalam pikiran, baru lalu dituliskan sebagai draft dan dipublikasikan.

    Aku punya banyak tulisan di blog yang bikin panas telinga orang kok. Tentang buzzer misalnya? :) Mungkin kalau tak terasa nyinyir ya karena aku terlalu piawai merangkai tulisannya saja :)

    Kenapa kamu benci banget kepada buzzer?
    Aku nggak benci! Aku punya banyak kawan buzzer.
    Kalaupun aku sering bersuara miring tentang buzzer itu hanya karena aku ingin memberi imbangan opini; karena terlalu banyak orang yang diam. Diam itu bagiku menjijikkan kecuali kalau memang harus benar-benar diam.

    Kalau akhirnya aku dibenci oleh buzzer itu urusan mereka; berarti mereka tak bisa dewasa dalam menerima kritik meski dalam hati aku senang karena itu berarti opiniku logis sampai ke telinga mereka dan mereka tak punya kata-kata lain untuk membalasnya! :)

    Intinya, jangan sampai aku jadi buzzer.

    Kalo kamu ditawari buat jadi buzzer mau? Kalau mau apa syaratnya?
    Mau! Aku pasang harga satu milyar.
    Kalian mungkin tertawa dan bilang, ?Ngaca, Don! Mana ada yang nawarin segitu?!?

    Nah itulah point-nya! Karena kalau sampai ada yang nawarin segitu aku siap naik lagi berkali-kali lipat sampai mereka tak mau lagi. Intinya, jangan sampai aku jadi buzzer.

    Got it?

    Bagaimana dengan monetized blog? Nggak setuju juga?
    Nggak! Kalau setuju aku sudah jadi salah satu dari mereka, kan? :)

    Tapi kamu pernah jadi blogger berbayar-nya Yahoo Indonesia?
    Benar! Sampai sekarang secara de jure juga masih, tapi faktanya aku udah lama nggak nulis di sana.

    Kalau kamu ditawari menulis di media lain lagi kamu mau?
    Nggak! Aku nggak menemukan passion menulis di media lain apalagi kalau harus lewat editorial meski dibayar lebih dari cukup. Menulis bagiku harus bebas lepas karena itu bagian dari jiwa, ketika semua harus lewat meja editor mungkin aku kuno, tapi aku tak bisa menemukan lagi passion itu..

    Sebenarnya alasan paling mendasar kamu tak mau jadi seorang blogger yang me-monetize blogmu itu kenapa?
    Begini.
    Lima belas tahun lalu aku punya hobi web design and development. Tiap hari bikin website untuk apapun saking hobinya. Tapi karena aku dulu mahasiswa yang pas-pasan kondisi keuangannya, ada pihak yang menawariku pekerjaan sebagai seorang web designer/developer langsung aku ambil. Tak lama sesudah itu malah bikin perusahaan yang bergerak di bidang web development.

    Sukses berat, kerjaanku disukai banyak orang, tapi hingga kini aku kehilangan passion dalam membuat website karena aku tak bisa bebas lagi dalam mendesain dan merancang serta membangun website, ada jerat uang yang membuatku ?harus? begini dan ?harus? begitu.

    Nah, sejak 2002 hingga kini, aku punya hobi ngeblog. Aku mungkin punya kapasitas untuk mendatangkan uang dari situ, tapi aku tak rela kehilangan hobi dengan modus dan jerat yang sama ketika aku kehilangan hobi web design/development: uang.

    Jelas?

    Kamu ngeblog senen-kemis? Kamu kejawen?
    Aku orang jawa tapi ritme menayangkan tulisanku tiap senin-kamis bukan karena ?kejawen? nya.?Ide awalku sebenarnya adalah menampilkan tulisan dua kali seminggu karena kalau sekali seminggu terlalu jarang sedangkan lebih dari dua kali untuk saat ini kubilang terlalu banyak.

    Nah, kenapa harinya senin kamis ya biar kelihatan menarik saja buktinya kamu jadi tanya ke aku soal ini kan? :)

    Pengalaman paling mengesankan selama ngeblog apa?
    Bagiku ngeblog itu sendiri sudah mengesankan. Ketika aku bisa berdiri ?di sini? dan kalian sudah banyak yang KO dengan idealisme ngeblog, apakah aku masih kurang mengesankan? :)

    Serius, ada nggak yang mengesankan?
    Hmm.. kalau boleh diminta satu coba buka tulisan ini.
    Ketika aku menuliskan hal itu, menjelang Natal, moodku tiba-tiba memburuk dan lahirlah tulisan yang kesannya menabrakkan suka cita Natal yang berarti kelahiran Yesus dengan kenyataan yang menyedihkan yaitu bahwa dalam ritual upacara Natal pun ada peringatan tentang sengsara dan kematian Yesus.

    Tak disangka, tepat hari Natal di tahun itu, salah satu sahabat terbaikku meninggal dunia. Semacam firasat tapi ini firasat yang tertulis dan tersiar dalam ranah digital.

    Babi guling!

    Kenapa kamu benci banget ke PKS?
    Astagaaaaa.. ini gosip! Aku nggak benci PKS, tapi aku benci politik terutama yang bawa-bawa agama dan korupsi. PKS kan nggak seperti itu? Kan?

    Makanan favoritmu apa?
    Babi guling!

  • Roket harblognas

    Roket harblognas

    Mengerjakan proyek iseng bertajuk #harblognas; aku membayangkan seperti meluncurkan sebuah roket.?Roket yang terluncur haruslah mengesankan, memiliki arsenal brilian yang menolakkan tubuh roket ke udara dengan luncuran kuat dan hentakan yang berdebam, membentuk lengkungan yang indah dan akhirnya menancap ke bumi dan menggelegar sebagai penutupnya.

    Arsenal roket itu adalah Enda Nasution dan ‘gelegar’ penutupnya, kupercayakan pada Paman Tyo.

    Siapa tak kenal Enda dan siapa yang melupakan Paman Tyo?
    Yang satu adalah Bapak Blogger Indonesia, dan yang terakhir adalah ‘begawan blog’, sama kuatnya, sama tandingnya meski tak perlu diadu satu dengan yang lainnya.

    Keduanya memberikan kesepakatan untuk kuwawancara dengan mudah bahkan Paman Tyo yang semula kupikirkan akan agak sedikit susah untuk ‘kudekati’ malah menawarkan metode interview lain yang lebih intim, chatting! Wah!

    Tak lama sesudahnya, draft tulisan keduanya telah jadi kubuat dan kusimpan untuk kutayangkan setelah mendapat persetujuan dari masing-masing mereka.

    Arsenal dan suara ‘gelegar’ penutup telah jadi sekarang tinggal bagaimana mencipta lengkungan indah itu??Awalnya kupikir serial #harblognas cukup memunculkan tokoh demi tokoh tak perlu mengarahkan arah pembicaraan dalam setiap interview tapi akhirnya kupikir hal itu hanya akan seperti sebuah ‘perang bintang’ saja, tanpa arah yang jelas.

    Aku mengubah strategi. Beberapa nama narasumber yang sudah kugenggam kucoret dan beberapa yang lain kupertahankan. Alih-alih menampilkan sebuah ‘perang bintang’, aku hadirkan beberapa sub-tema sebagai alur yang terarah, sebagai apa yang di atas kutulis ‘lengkungan yang indah’.

    Blogger lama
    Sub tema pertama yang kutetapkan adalah blogger lama.
    Lama di sini kuartikan sebagai hal-hal yang terjadi di dunia perbloggeran sebelum tahun 2006. Jangan tanya kenapa 2006 kujadikan patokan, iseng saja karena toh proyek #harblognas ini adalah proyek iseng juga.

    Karena sub temanya adalah blogger lama, hal pertama kali yang menurutku paling patut kutampilkan adalah menuliskan tentang blogger tersenior, bukan dari sisi usia tapi dari seberapa lama ia aktif ngeblog.

    Tentu kalau kita mencari soal yang ‘paling-palingan’ seperti ini, akan banyak orang punya opininya masing-masing. Dan benar saja! Ketika aku memunculkan tulisan tentang Sam Ardi yang kuanggap sebagai blogger tersenior karena ngeblog sejak 1999, beberapa baru menyorongkan suara kenapa bukan si A atau si B yang ngeblog sejak 1998 atau 1997 tapi ketika kutanya mana buktinya, mereka diam seribu bahasa. Bagiku kenapa Sam Ardi kupilih dan kududukkan di ‘kursi ini’ semata karena ia punya bukti otentik bahwa ia ngeblog sejak 1999, bukan ‘katanya-katanya’.

    Herman Saksono, alias Momon, menyusul setelah Sam Ardi.?Blogger yang sekarang berdomisili di Amerika untuk kepentingan studi ini kuajak bicara soal peristiwa yang cukup menghebohkan waktu itu, penahanan dirinya terkait dengan postingan yang dianggap menyinggung presiden. Tak susah untuk menghubunginya karena aku kenal cukup dekat. Tapi yang agak sedikit menyulitkan adalah, ada esensi ‘cerita’ yang atas permintaannya tak boleh diungkapkan di tulisanku. Tantanganku dalam mengedit hasil interview-nya adalah bagaimana membuat menarik tanpa harus menceritakannya.

    Awalnya susah karena kuanggap hal yang ‘ditabukan’itu adalah ‘gong’dari cerita penangkapannya. Tapi setelah berpikir akhirnya kupilih model tulisan menggantung dan membiarkan khalayak yang menilainya. Tak dinyana, tulisanku tentang Momon ditanggapi secara luar biasa di linimasa baik Twitter maupun Facebook. Lucunya, ada sebuah akun twitter yang aku tak mau sebutkan namanya yang justru menceritakan apa yang Momon katakan kepadaku sebagai sebuah rahasia.

    Mas Budi Putra kutaruh di putaran selanjutnya masih di sub tema yang sama, blogger lama.?Dari dulu aku sangat terkesan padanya karena ia pernah mendeklarasikan diri sebagai blogger profesional setelah melepaskan pekerjaan ‘tetapnya’. Tapi itu bukan yang paling menarik untuk menjadikannya sebagai narasumber sebenarnya, alasan terbesarku kenapa memilih dia adalah karena aku penasaran kenapa ia lantas memutuskan untuk masuk lagi ke korporasi setelah sekian lama menjadi blogger profesional. Apakah ia gagal?

    Menghubungi dan mengajaknya berdiskusi ternyata tak sulit. Karena kami saling follow di Twitter, tinggal kukirim DM, terbalas dengan persetujuan dan interview berjalan lancar.

    Setelah Mas Budi, pilihanku untuk mengisi sub tema blogger lama adalah Thomas Ari Setiawan.?Aku adalah pengagum tulisan-tulisan dan kiprahnya dalam dunia perbloggeran masa lalu. Dibanding Herman Saksono dan Mas Budi Putra, aku punya hubungan yang lebih dekat dengan Thomas karena bersama dengannya dulu aku sering hangout di Jogja bahkan hingga melahirkan komunitas blog Jogja, Angkringan.

    Mengajaknya interview jelas tak susah karena kami saling kenal, tapi menjaga konsistensi kirim dan balas pertanyaan serta jawaban dengannya adalah perjuangan yang tak mudah. Ia orang yang sibuk sementara aku mencoba untuk se-tak sibuk mungkin untuk mengejar #harblognas ini. Arsip interviewnya sempat lama terbengkalai hingga akhirnya ketika mendekati waktu yang telah kutentukan untuk ‘peluncuran arsenal’, aku membuka arsip lama tersebut dan mencoba menyusun dari yang sudah ada saja. Hasilnya? Ya kalau tak bagus tentu tak kumasukkan ke blog yang keren ini, kan? :)

    Sub tema blogger lama akhirnya kuakhiri dengan sosok Imelda Mayashita.?Blogger perantau di Jepang ini bagiku kuanggap sosok yang mampu menjembatani antara blogger masa lama ke masa kini karena kenyataannya ia adalah blogger yang masih bertahan dari waktu lalu hingga kini dengan motivasi yang sejauh kutahu adalah tulus karena hobinya menulis saja.

    Blog berbayar
    Sub tema selanjutnya semula kupikirkan sesudah ‘blogger lama’ adalah blogger masa kini.?Tapi kupikir hal tersebut absurd karena yang pertama dunia blog sudah tak seramai dulu dan peran social media membuat dunia blog menjadi lebih terkhususkan lagi, setidaknya menurutku.

    Maka kusepakati sub tema kedua adalah blog berbayar.?Sub tema ini kupikir menarik karena sekarang memang ada begitu banyak blogger yang tertarik ngeblog karena iming-iming duit. Secara prinsip aku tak setuju dan sepertinya tak kan pernah setuju; tapi untuk tak berhubungan baik dengan mereka adalah kesalahan terbesar dan aku tak mau sesat oleh pandangan picik seperti itu. Membuka diri untuk menempatkan orang-orang pelakunya berbicara tentang opini mereka adalah jalan keluar untuk tetap membuatku sebagai sosok yang demokratis, setidaknya supaya tampak demikian :)

    Orang pertama yang kutempatkan untuk kuinterview, tak tanggung-tanggung adalah ‘bos’ ID Blog Network, Mubarika Damayanti.?Aku belum pernah bertemu muka dengannya tapi kami sangat sering berkomunikasi di linimasa di Twitter. Ada beberapa persinggunganku dengannya yang pada akhirnya membuatku berkesimpulan, Mubarika ini orang baik benar!

    Tapi menginterviewnya ternyata tak semudah kami menjalin persahabatan.?Aku yang tak pernah mengirimkan pertanyaan dalam bentuk list sekali kirim, cukup kebingungan karena satu pertanyaan pembuka tak terjawab selama hampir sebulan selain dengan kalimat pendek, “Sebentar ya, Mas.. akan saya jawab!”

    Aku sempat kehilangan mood mengejar Mubarika hingga akhirnya ketika aku sedang berpikir mencari penggantinya, tiba-tiba ia mengirim email berisi jawaban panjang lebar yang akhirnya hanya dalam sekali email yang ia kirimkan itu, aku menyusun draft interview dan mengirimkan kepadanya untuk persetujuan.

    Kira-kira seminggu sebelum menayangkan hasil interviewku dengan Mubarika, aku bertanya kepadanya bahwa aku perlu seorang blogger berbayar yang menurut anggapannya ‘berhasil’ untuk kuinterview menemani tulisan tentangnya. Ia menyebut beberapa nama baik yang kukenal maupun tak kukenal dan di antara mereka kutemukan nama Eka Situmorang-Sir, kawan blog yang sudah kukenal cukup lama, pernah bertemu muka langsung dan kupikir menginterviewnya akan jadi hal yang menyenangkan.

    Mengajak Eka interview tentu amat mudah, tapi ternyata tema yang kusodorkan tak bisa diterima begitu saja olehnya karena menurutnya, ia sendiri bingung apakah dirinya adalah termasuk blogger berbayar atau tidak.

    Aku sempat berpikir untuk mencari narasumber lainnya karena waktu yang kian mepet, namun akhirnya aku menemukan angle yang boleh dibilang menarik untuk menampilkan Eka dengan tetap mengindahkan keberatan-keberatannya.

    Sub tema blog berbayar kusudahi hingga hadirnya Eka Situmorang.

    Blog dan komunitas
    Blog dan komunitas kuangkat sebagai sub tema sesudahnya dan kalau boleh kubilang, sub tema inilah yang paling sulit untuk kutaklukkan.?Aku memilih Blontankpoer dan Almascatie sebagai narasumbernya dan mau tahu seperti apa kerepotanku untuk ‘menaklukkan’ mereka?

    Menginterview Blontankpoer tak semudah mengobrol dengannya ketika bertemu di kopitiam Solo, setahun setengah yang lalu. Jawabannya bisa dibilang agak tak nyambung dengan pertanyaan yang kuajukan dan ini merepotkan! Tapi hal itu terjadi tentu bukan karena ia pribadi yang tak nyambung, tapi pikiran positifku berkata, konsep dalam kepalanya tak sanggup kuperangkap dengan pertanyaan-pertanyaan standardku.

    Akhirnya kubiarkan saja ia bicara apa maunya dan ketika kelar, aku hanya mnegkopi dan paste ke sebuah catatan tanpa kusentuh sekian lama. Baru setelah mendekati masa-masa penayangan, aku membuka lagi catatan itu dan kususun pertanyaan berdasarkan jawaban yang ia beri; sebuah metode yang berkebalikan. Meletihkan memang, tapi terselesaikan.

    Almascatie beda lagi. Sosok ini ‘kutemukan’ atas saran dari Blontankpoer meski sebenarnya kami telah saling follow di Twitter.?Ijin interview juga telah kudapat darinya, tapi menginterviewnya tidaklah mudah karena berbagai kendala. Proses interviewnya sendiri sebenarnya dalam status unfinished, tapi tak mengapa karena aku berhasil merangkainya dengan cukup solid menghadirkan sesuatu yang menarik terkait dengan ‘pergerakan’ yang ia sulut di Maluku sana.

    Konsep
    Sub tema terakhir, yang kuanggap menjadi ‘gelegar’ dari #Harblognas adalah soal konsep atau kalau boleh agak berbau spiritual, sub tema yang terakhir adalah semacam pengendapan tentang esensi blog itu sendiri. Aku telah punya draft interview dengan Paman Tyo sejak saat awal serial ini kurencanakan, tinggal aku mencari satu lagi tulisan untuk menemani tulisan Paman Tyo menutup #harblognas.

    Ada beberapa pilihan nama yang kupersiapkan tapi kupikir Abang Edwin SA adalah yang terbaik.?Alasanku agak unik untuk memilihnya; suatu waktu di linimasa aku sempat berdebat dengannya karena ia menganggap bahwa Twitter adalah bagian dari blog. Tak sulit untuk menginterviewnya, bahkan boleh dibilang aku hanya butuh dua hari untuk memulai interview lalu menuliskan draft jadinya dan mendapat lampu hijau darinya. Done!

    Nah yang paling unik ternyata tetap Paman Tyo :)
    Draft tulisan telah jadi jauh hari sebelum ditayangkan tapi ada satu kejadian yang sedikit mengubah alur penayangannya.?Aku harus pulang ke Indonesia mendadak per 1 Desember 2013 silam karena Papa mertuaku sakit keras (dan akhirnya meninggal dunia hari kamis lalu, 12 Desember 2013) sementara aku belum mendapat persetujuan Paman Tyo untuk penayangannya.

    Aku telah mengirimkan email kepadanya untuk permintaan persetujuan atau kalau ada hal yang perlu ditambah-kurangkan, tapi ia menjawab bahwa ia belum mendapat email dariku. “Ah, tapi nggak papa, Don… nggak perlu persetujuan. Untuk apa?” tuturnya kepadaku.

    Tapi karena aku tetap merasa perlu untuk mendapatkan approval darinya, kutelponlah ia dari coffeeshop di lobby rumah sakit tempat almarhum papa mertuaku dirawat. “Tayangkan saja, kan sudah kubilang..tak perlu pake persetujuan…” Hari itu adalah hari minggu, 8 Desember 2013, sehari sebelum tulisannya akhirnya kutayangkan.

    Maka jadilah gelegar #harblognas itu benar-benar menggelegar karena aku tayangkan tanpa supervisi yang seksama daripadanya. Beberapa hari setelah aku menayangkan tulisan tentangnya yang banyak ditanggapi kawan di linimasa, pria bernama asli Antyo Rentjoko itu mengirimkan email kepadaku, begini isinya,

    halo don!
    suwun, aku sdh baca hasil wawancaramu.

    bener kan, aku gak perlu approve sebelumnya. bahkan terima naskanya
    juga untungnya belum.

    sejak wawancara aku yakin hasilnya bagus. yang lbh mendasar: hanya
    dengan kebebasan orang bisa diajak bertanggung jawab.

    itu tadi prinsip umum. prinsip khususnya ya simpel: lha kalo ada yang
    “salah” atau kurang jelas, aku bisa mengoreksi maupun menambahkan info
    (japri maupun publik). it’s so simple :D

    Dan lengkapnya sudah semuanya. Tapi karena ada beberapa permintaan dari kawan untuk menginterview satu orang lagi, hari kamis ini aku akan menghadirkannya di sini. Ia bukan arsenal, tak ada dalam lengkungan yang indah, dan kalah menggelegar ketimbang gelegarnya Paman Tyo.

    Aku menyebutnya sebagai angin sepoi-sepoi yang hadir sesaat setelah gelegar roket yang kuluncurkan kehilangan gaungnya.

    Siapa lagi dia ini? Ssstttt.. tunggu saja, jangan kemana-mana!

  • Paman Tyo: … aku bangkrut

    Paman Tyo: … aku bangkrut

    Paman Tyo adalah ikon blogosphere Indonesia.
    Kehadirannya tidak memaksakan timbulnya efek bombastis seperti halnya beberapa ?seleb-blog? yang baik disengaja atau tidak mengesan kebombastisan. Ia hanya seorang pejalan biasa, tapi langkahnya orisinal, mudah dikenali pejalan lain tapi sangat tak mudah untuk diikuti apalagi ditiru.

    Ia hanya seorang pejalan biasa, tapi langkahnya orisinal…

    Tulisannya jarang bahkan mungkin tak pernah mengangkat tema yang sifatnya ?headline?, tapi dikemas dan disajikan secara apik sehingga ketika kita selesai membacanya, ada sensasi semacam ?Gotcha!?, ?Ah, bener juga kata Paman!? atau kalau kata alm Umar Kayam dalam bukunya, ?Touche!?

    Sayang, ia memutuskan untuk tak memperpanjang domain name tempat blognya bernaung, blogombal.org. Sosoknya menghilang begitu saja setelah pun di linimasa akun twitternya dibiarkan senyap sejak medio 2011 silam.

    Lalu banyak orang mencari-cari kemana dan kenapa Paman, tapi tak banyak yang tahu apa yang ia kerjakan saat ini dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi karena memang beliau benar-benar menghilang.

    Di titik inilah aku tertantang untuk menyingkapnya.
    Sebagai salah satu penggemar catatan-catatannya, aku memberanikan diri menulis email pertengahan Juli lalu.

    Gayung bersambut, ia menyetujui bahkan menyarankan untuk tak mengirim list pertanyaan, ?Kalau bisa chatting sekalian biar ada dinamika pertanyaannya!? ujarnya.

    Respon yang sangat semanak itu sebenarnya juga sudah kutebak karena meski belum pernah bertemu muka, tapi beberapa kali kami berkomunikasi via telpon ataupun via pihak ketiga, Pak Didinu, ketika aku mengunggah artikel yang berisi interview dengannya, konon naskahku dibaca dan dilengkapi juga oleh Paman Tyo yang adalah rekan sejawatnya.

    Lalu sekali tempo sesudah itu, kami pun berinteraksi via chat box, sesuatu yang konon tak pernah ia lakukan terhadap ?media lain? sebelumnya. ?Khusus untukmu!? katanya.

    Kok dulu bisa ngeblog?
    Karena kecelakaan!

    Kok bisa?
    Gini…
    Awal 2000-an aku bikin blog buat alumni angkatan jurusan di kampus sebagai kepanjangan milis supaya mereka nggak nulis panjang di milis.?Tapi karena blog itu nggak berkelanjutan, maka aku teruskan sendiri, Catatan Gombal namanya dan jadilah Blogombal di Blogdrive: gombal.blogdrive.com. Dari sana muncul blog label, kartu remi, dan seterusnya.

    Man, latar belakangmu kan cetak sementara blog ini digital. Aku tahu banyak orang bilang ‘Ah, cuma beda medianya!’ tapi aku yakin Paman punya jawaban lain apa yang membedakan blog dari diari cetak selain ‘Ah, cuma beda medianya!’ saja?
    Memang beda.
    Sejauh aku tahu jarang orang menjadikan media cetak sebagai penerbitan personal karena ongkos produksi dan distribusi yang mahal. Pernah ada sih di Jogja, zaman prablog, orang yang bikin newsletter dikirim via post.

    Nah, media digital memberi keleluasan untuk penerbitan personal karena ongkos produksinya praktis murah bahkan kalau blog gratisan ya bisa benar-benar gratis.

    Itu saja atau ada yang lain lagi?
    Soal isi… kalau ngeblog, isi menjadi tanggung jawab blogger.?Dulu aku di media cetak kan gak mungkin nulis semaunya karena aku “institusionalized person” sementara blog memberikan kemerdekaan karena memang aku tak berdiri di atas satu institusi manapun kecuali diri sendiri. Memang ada sejumlah rambu yang aku bikin sendiri untuk blogku dalam hubungannya dengan pekerjaanku.

    Apa saja rambumu itu?
    Pertama. ?Blog itu personal, tanggung jawabnya pribadi si blogger. Makanya dulu aku bikin “disklamer” dlm footer.

    Kedua, etika kekaryawanan berlaku di blog, misalnya jangan ngobral masalah kantor (hubungan dengan kolega, juragan, dan soal dinas internal) di blog…

    Ketiga, jangan ada konfllik konten dengan majalah yang aku urus. Maksudku bukan cuma beda isi, tapi aku menjaga diri membahas konten yang bersinggungan apalagi merugikan majalahku.

    ?karena aku bangkrut, gak bisa membiayai semua domain dan hosting, sampai akhirnya semua kedaluwarsa dan domain lepas.

    Tempo hari RSS feeder-ku memberikan notifikasi bahwa blogombal, blogmu itu, update lagi! Tapi yang mengagetkan, tak ada lagi namamu di sana, tergantikan seorang yang mengaku sebagai Korean Geek Girl, Omara Baljin! Domainmu hilang? Kamu memutuskan untuk berhenti ngeblog?
    Nah ini!
    Gini…karena aku bangkrut, gak bisa membiayai semua domain dan hosting, sampai akhirnya semua kedaluwarsa dan domain lepas.

    Simpel kan? Maksudku simpel dari sisi urusan sewa domain dan hosting. Dari sisiku pribadi ya gak simpel. Aku kehilangan kontenku. Kalo aku sudah mati sih biar saja, karena gak nyari arsip pribadi lagi

    Kenapa kamu bangkrut?
    Bangkrut karena sumber pendapatan kian menipis, lalu habis, dan tabungan terkuras. Simpel to? Lha ngeblog kan gak menghasilkan uang. Buat jalan-jalan perlu duit. Minimal bayar angkot dan jajan Selain uang ya energi. Lebih penting energinya buat kerja daripada ngeblog.
    Masuk akal semua kan?

    Aku sebenernya masih tergelitik dengan alasan bangkrut, Man. Kalaupun memang tak ada uang, kenapa tak coba mengalihkan hobi ngeblog ini ke yg gratisan?
    Tadi aku bilang masalahnya bukan “cuma uang”, tapi energi dan kesempatan. Dulu rasanya berlebih sehingga feed antyo.rentjoko.net seperti kebanjiran, dan gara-gara itu Facebook sempat curiga karena ada aktivitas ngeblog setinggi aku sehingga kena banned. Alasan FB masuk akal, aku simpulkan mereka gak mau kebanjiran sampah.

    Dari sisiku, importing feed dari FB aku hentikan karena nggak sopan: aku banjiri konten tapi nggak berinteraksi, padahal FB buat berinteraksi. Kasihan orang yang nge-Like dan komentar padahal aku nggak ada di sana. Bagi FB, mereka kan butuh trafik, bukan penyampah. Di Twitter aku nggak ngetwit otomatis, karena bisa mengganggu linimasa. Lain halnya kalo akun yang aku pake memang buat searah, bukan buat interaksi, cuma jadi pengganti RSS feed, sehingga orang baca karena mem-follow atau nge-list, bukan aku paksa membaca (emang sih mereka bisa nge-mute). Ini soal kepatutan saja, bukan soal teknologi.

    Tapi meski blogombal sudah tak kau miliki lagi, banyak rekan menyodorkan Beritagar sebagai referensi, “Kalau-kalau kamu kangen tulisannya Paman Tyo!”?Bagaimana menurutmu?
    Beritagar bukan penerbitan pribadiku. Bahwa ada warnaku di sana, terutama topik tertentu dan belakangan infografis serta ilustrasi, ya apa boleh buat. Itu karena awak kami sedikit. Tapi itu wajar, semua media sebagai wadah kolaboratif terbentuk dan tumbuh karena kontribusi awak redaksinya. Makin banyak awak makin bagus sehingga adukan kimiawi konten lebih kaya.

    Emang sih ada kritik via japri, bahwa beberapa isi Beritagar bergaya Antyo. Nanti lama-lama kan tidak.

    Kamu tidak aktif di Twitter padahal dulu iya. Kenapa?
    Tweet terakhirku Mei 2011, perkawinan si @tikabanget. Setelah itu berhenti, sebetulnya tidak mendadak. Ada prosesnya… Mau tau?

    Twitter untuk konversasi kadang juga bikin sejumlah orang gak sabaran.

    Mauuuu
    Pangkalnya adalah interaksi yang melelahkan. Follow banyak akun (bukan pakai list) membuatku keteteran. Semuanya begitu cepat, sehingga kayak dipaksa mantengin gadget nonstop. Sampai-sampai dalam perjalanan, kalo gak nyetir, gak bisa liat kanan-kiri buat mengenali kota :D.

    Twitter untuk konversasi kadang juga bikin sejumlah orang gak sabaran. Dia tanya hari ini, aku jawab besok, dia sudah lupa nanya apa bahkan marah merasa nggak diperhatikan.?Maka salah satu cara hemat waktu aku mulai hanya baca yang mention aku lalu akhirnya hanya baca DM (Direct message -red).

    Setelah mention dan DM berkurang, aku rehat dari Twitter. Fade away… meski nanti bisa saja kembali ngetwit kalau sudah bisa mengelola waktu lebih bijak.

    Di FB hampir sama, bikin kewalahan karena salahku sendiri terlalu ramah, mengiyakan semua ajakan berteman sehingga rasanya jadi tidak sopan kalo tidak membalas respon dan reaksi orang. Lebih gak sopan lagi kalau di dunia nyata gak berteman beneran. Maka sebelum menemukan kiat bijak mengelola waktu, aku kurangi aktivitas di FB. Mungkin nanti aktif lagi

    Ngga tertarik jadi buzzer? Kamu punya kapabilitas untuk itu lho?
    Bukan gak tertarik tapi karena nggak paham caranya.

    Apa kamu pikir buzzer yang sekarang banyak betertebaran itu awalnya paham caranya?
    Oh terima kasih atas pencerahan ini!

    Hahahaha!

  • Abang Edwin: Twitter tidak akan pernah bisa menggantikan blog

    Abang Edwin: Twitter tidak akan pernah bisa menggantikan blog

    Tadinya kupikir nama aslinya adalah Edwin Syarif Agustin saja dan ‘Abang’ adalah panggilannya seperti kalian memanggil ‘Abang’, ‘Mas’, ‘Pak’ dan kata sandang lainnya.

    Tapi nyatanya ketika aku iseng mencari data dirinya di Google, kutemukan profile Linkedin (yang kuanggap sebagai social media yang paling serius jadi sangat jarang orang menggunakan data ‘tak akurat’ di sana -red) atas nama Abang Edwin Syarif Agustin. Jadilah, Abang Edwin Syarif Agustin, orang banyak memanggilnya sebagai BangWin, atau ‘Abang’ saja.

    Tapi ia memang berhak menyandang kata sandang ‘Abang’ karena bisa jadi ia adalah ‘Abang’ social media di Indonesia! Bahkan saat Mark Zuckerberg, salah satu pendiri Facebook, masih duduk di bangku SMA, Abang Edwin telah mulai memperkenalkan konsep social media tentu dengan bahasa yang berbeda di kalangan yang waktu itu sangat terbatas karena keterbatasan koneksi internet di Indonesia waktu itu.

    Aku sendiri belum pernah bertemu secara muka langsung dengannya.
    Namanya sendiri sudah kukenal sejak awal dekade lalu ketika seorang kawan lama bekerja di KomunitasMusik, portal musik online yang dipimpin Abang Edwin.

    Lalu kami bersinggungan di Twitter.
    Cuitannya berkualitas nan bernas membawa topik tentang social media. Dan hal itulah yang akhirnya membuatku berpikir untuk mengajaknya ‘berdiskusi’ di sini meski ia sebenarnya, lagi-lagi menurutku, lebih terkenal dalam konteks social media dan bukan blog secara khusus.

    Jadi, mau tau seperti apa isi benak orang yang kerap menyebutku sebagai ‘Dinosaurus’ (dan sebaliknya demikian karena kami sama-sama ‘makhluk senior internet Indonesia’), simak di bawah ini cuplikannya!

    Jadi anda ini blogger?
    Bisa dibilang begitu…:-)

    Kenapa bisa dibilang, sepertinya anda ragu? Coba jelaskan kalo ragu :)
    Begini… Menurutku pengertian blog itu sendiri masih mengandung pengertian yang membatasi para blogger saat ini. Terutama konteksnya dalam jenis konten yang digunakan. Saat ini secara praktis yang namanya blog itu bisa digunakan untuk macam-macam jenis konten. Contohnya ngeblog dengan konten foto dan video sudah masuk dalam keluarga blog juga sebenarnya. Hanya saja pengertian secara umum blog masih dianggap sebagai medium untuk konten-konten berbasis teks yang serius.

    Kalau begitu, bagaimana dengan Twitter dan Facebook? Apa termasuk ngeblog juga karena kan sama-sama menyangkut konten yang bareneka rupa jenisnya?
    Buat saya Facebook itu bukan blog tapi lebih pada jejaring sosialnya meski punya fungsi blogging didalamnya. Kenapa? Karena Notes yang punya fungsi blogging di Facebook kalah populer dibanding Timeline status.

    Nah kalau Twitter buat saya bisa dibilang blog tapi cuma 140 karakter. Makanya Twitter itu disebut dengan microblog. Kalau boleh saya memberikan nama sih mungkin ketimbang disebut blog (web log) mending disebut Web Status atau Web Notification kali ya….hehehe :-)

    Wah aku jadi bingung, Bang. Jadi gini aja, menurutmu apa definisi blog itu sendiri karena facebook, dengan berstatus juga berkonten, dengan bertweet juga ber konten?
    Bagiku blog itu adalah wadah kumpulan konten berbasis web yang jauh lebih representatif bagi pemiliknya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, pengertian Facebook fokusnya bukan di bloggingnya tapi lebih pada jejaring sosialnya, namun mereka memiliki fungsi blog juga. Demikian juga Twitter dengan 140 karakternya membuatnya juga berbeda dengan blog pada umumnya.

    Cool :) Next, Bang! Anda kan bisa dibilang sudah lama sekali berada di dunia internet ini. Dan kalau nggak salah Anda bahkan memulai praktek konsep social media sejak ’99? Bisa diceritakan?

    Dahulu itu belum ada yang kenal dengan social media, bahkan term tersebut saja belum ada.

    Mungkin kamu pernah dengar apa yang disebut dengan konsep dunia terhubung? atau mungkin jauh lebih familiar dengan sebutan Connected World Concept. Saya sangat terobsesi dengan konsep ini, dan pada sekitar tahun 1993-1994 saya mengeksplorasi konsep ini melalui perangkat-perangkat yang memungkinkan saya untuk bisa mendapatkan pengalaman terhadap connected world concept ini. MiRC adalah perangkat pertama yang saya gunakan untuk bisa terkoneksi dan “ngobrol” dengan teman-teman dari seluruh dunia. Lalu setelah itu masuk eranya instant messenger diawali dengan AIM dan ICQ. Dan pada sekitar tahun 1998-an dimana mailing-list sedang booming saya bereksperimen lebih jauh ke konsep online community dimana menurut saya konsep ini adalah pengembangan dari konsep connected World tadi. Saat itu istilah Web 2.0 belum dilahirkan oleh Tim O’Reilly, sehingga konsep web yang dikenal masih konsep Web 1.0 atau bisa disebut konsep satu-arah.

    Buat saya apa yang kita kenal dengan social media ataupun social network (jejaring sosial) adalah praktik online community dengan medium baru. Jadi hanya mediumnya yang berubah.

    Anda mengenal konsep itu sudah lama, apa terimplementasikan pada hal yang anda kerjakan sehari-hari?
    Yep…saya selalu mencoba mengimplementasikannya pada setiap pekerjaan sehari-hari, walaupun untuk mencapai hal tersebut saya harus secara terus menerus “mengenalkan” konsep tersebut.

    Ok, lalu konsep connected world tadi dengan blog, jika dimasukkan, kira-kira bagaimana keterkaitannya? Maksudku, apa yang bisa disumbangkan oleh konten yang diproduksi seorang blogger?
    Sebetulnya konsep connected world tersebut pada blog sudah terwakili dengan adanya fungsi-fungsi sosial didalamnya. Salah satu yang terpenting adalah commenting system dimana setiap pengunjung bisa berinteraksi dengan pembuat konten dan pengunjung lainnya lewat konten itu sendiri. Fungsi sosial lainnya yang memperkuat konsep connected world adalah social sharing, dimana setiap orang yang mengonsumsi konten di blog tersebut bisa membagikannya ke siapa saja lewat tombol-tombol social sharing tersebut. Sehingga si konten bisa menyebar tanpa batas kemana-mana untuk dikonsumsi lagi. Begitu seterusnya…:-)

    Menyoal konten berbayar yang dikenal dengan sebutan monetizing blog, bagaimana pendapatmu?
    Menurutku munculnya konten-konten berbayar itu menandakan si medium (baca: blog) sudah mulai dieksplor penggunaannya. Seperti halnya media-media lainnya, itu adalah proses.

    Tapi meski begitu tetap perlu ada regulasi kan karena aku ngebayangin content stream itu seperti aliran sungai, kalo semua dicampur jadi satu bisa tersumbat karena kotoran yang dibawanya lalu banjir? Begitu nggak menurutmu?
    Aturan main bisa saja diberlakukan, namun saya pikir para pembaca konten lah yang akan sedikit demi sedikit menentukan konten mana yang ingin mereka konsumsi. Intinya blogger bisa saja mendistribusikan konten sesuka mereka, urusan dibaca atau tidak itu pembaca yang menentukan. Media-media mainstream yang terjun ke social media banyak yang tidak memahami ini, mereka masih banyak yang suka membombardir follower dengan rentetan konten regardless pembaca mau baca atau tidak. Alhasil pembaca banyak yang overwhelmed dan mulai berlangganan penyedia dengan topik-topik spesifik. Intinya seleksi alam sangat-sangat berlaku dalam ekosistem social media ini

    Ok, sekarang kan jaman dimana konvergensi media ke gadget yang sifatnya handheld dengan dukungan microblog tools seperti Twitter seolah ‘menggusur’ blog dengan konten-konten teks berbobot berat. Menurutmu peluang ke depan, blog-blog dengan konten teks seperti itu akan tetap dilirik atau ditinggalkan?
    Not a chance…..Twitter tidak akan pernah bisa menggantikan blog. Blog pun sekarang sebenarnya berevolusi cukup jauh sehingga sebenarnya sudah tidak bisa diartikan sebagai media berbasis teks lagi, tapi jauh lebih luas dari itu. Ini ditandai dengan munculnya istilah-istilah audio blog, video blog (vlog), dan lain sebagainya.

    Beberapa kawan (termasuk saya) menggunakan blog sebagai tumpahan opini pemikiran dan menggunakan twitter sebagai sarana membangun wave yg menguatkan opini itu. Apakah ini praktek terbaik untuk mensiasati banyaknya channel di social media?
    Menurut saya akan lebih mudah diatur dulu strateginya, jadi begini, tentukan dahulu dimana “kantor pusat” mu…..lalu yang mana “kantor cabang” mu lalu gunakan tools-tools distribusi yang efektif menurutmu. Kalau saya selalu memperlakukan blog saya sebagai “kantor pusat” dimana semua konten, hasil pemikiran dan lain sebagainya saya pusatkan disini. Lalu kantor cabang saya adalah di jejaring-jejaring social yang punya massa besar alias populer. Dalam hal ini saya menggunakan Facebook sebagai lokasi kantor cabang saya. Dengan meletakkan kantor cabang di FB maka konten saya bisa menjangkau penduduk FB juga. Nah lalu yang terakhir, saya menggunakan Twitter sebagai messenger saya yang reliable. Sehingga orang-orang yang lebih suka mengintili saya di Twitter juga bisa mendapatkan konten-konten tersebut. Kebetulan saya pernah membuat blogpost tentang bagaimana saya mengelola social media, bisa dilihat di sini.

  • Almascatie: Suatu saat blogger akan menjadi motor penggerak kekuatan

    Almascatie: Suatu saat blogger akan menjadi motor penggerak kekuatan

    Penggunaan social media sebagai ?alat bantu pengorganisasian? massa dalam revolusi sipil(dan akhirnya militer turun tangan) di jazirah Arab atau yang dikenal dengan ‘Arab Spring’ tentu tak perlu terjadi di bumi Indonesia.

    Negara kita kan demokratis, ya nggak?
    Jadi cukuplah sejarah pendongkelan kekuasaan sekali-dua saja di masa lampau dan tak perlu diulangi apalagi dengan cara-acara anarkis kecuali memang pemerintahnya sudah sangat kebangetan.

    Tapi anyway, peristiwa Arab Spring bagiku menjadi satu penyadaran bahwa kekuatan rakyat itu bisa dihimpun dengan cara apa saja termasuk cara-cara baru seperti social media melalui jaringan internet. “Alat baru” itu bergerak begitu massive karena lepas dari keterbatasan waktu dan tempat serta justru menawarkan keleluasaan penyebaran informasi yang belum pernah ada sebelumnya dipandang dari sisi jenis yang bisa berupa tulisan, audio maupun video.

    Adalah ‘Almascatie’ (hingga tulisan ini kususun aku belum tahu siapa nama aslinya tapi eh, apalah arti sebuah nama, kan?).

    Ia bukan penggagas gerakan besar-besaran seperti Arab Spring atau dalam skala lebih kecil sekalipun. Suaranya pun barangkali tak bergaung di ‘gempita’ Jakarta, tapi nun jauh di timur Indonesia, tepatnya Maluku, suaranya cukup lantang menyuarakan hal-hal yang menurutnya perlu disuarakan.

    Almascatie adalah blogger yang pada akhirnya mensinergikan pergerakannya dengan social media lainnya meski memiliki keterbatasan infrastruktur media penyebarannya, internet. Saat kita yang ada di belahan lain dengan mudah memutar video Youtube dan mengamati timeline di Facebook maupun Twitter, ia bisa dibilang tak semudah kita dalam mengaksesnya.

    Namun hal itu tak menyurutkannya untuk bersuara, karena suara memang pantang disurutkan oleh hal-hal ‘remeh-temeh’ seperti itu.

    Nikmati tuturannya kepadaku berikut ini!

    Apa yang kau tulis di blogmu pada awalnya?
    Apa yang dilihat dan dirasa saja, Bang! Kebetulan punya banyak waktu luang dan ada koneksi internet karena bekerja sebagai penjaga warnet di ambon.

    Secara garis besar?
    Aku menulis tentang keindahan Ambon, pemandangan-pemandangan dan hal-hal yangg indah tentang negeri ini.

    Hahahaha ‘keindahan negeri ini’ itu termasuk kelambatan pembangunan yang dirasakan di Indonesia timur termasuk Maluku dan sekitarnya, Bung? Apa anda menulis juga tentang hal ini?
    Awalnya benar-benar murni tulisan travelling kok meski sudah mulai merasa resah dengan kondisi yang agak “terlambat” di Maluku.

    Apalagi seiring semakin mengenal kawan-kawan blogger di daerah lain, maka perbedaan-perbedaan tentang kondisi keterlambatan pembangunan di sini sudah semakin kentara.

    Tapi itu bukan puncaknya. Kejadian-kejadian yang terjadi di Ambon lah yang membuat saya akhirnya benar-benar merasa bahwa ini semua harus dituliskan!

    Oh, apa itu puncaknya?
    Pertama saat 2007 lalu ada beberapa buah bom yang meledak di kota Ambon. Warga sudah mulai jenuh dengan kondisi rusuh. Beberapa bom yang meledak meski tidak diketahui siapa yang meledakkannya namun membuat kondisi kota menjadi kurang kondusif.

    Kedua, dan kupikir inilah puncaknya adalah saat Perayaan Harganas 2007 yang dihadiri oleh SBY dan kemudian terjadi peristiwa Tarian Cakalele disertai pembentangan bendera RMS (Republik Maluku Selatan) di hadapan SBY.

    Saat itu saya sebenarnya malas untuk mencari tau apa sih permasalahan, namun yang lantas sangat menyakitkan adalah ketika tiba-tiba ada “permintaan maaf dari pemerintah Maluku terhadap Pemerintah Indonesia (SBY)”

    Bagi saya rakyat Maluku tidak bersalah, jadi kenapa harus minta maaf?

    Bagi saya rakyat Maluku tidak bersalah, jadi kenapa harus minta maaf? (baca link tentang ini di sini)

    Sejak saat itulah saya mulai membuka pikiran untuk lebih melihat apa sih yang terjadi di kota saya ini, ketimpangan yang paling nyata adalah ketimpangan koneksi internet yang berhubungan langsung dengan aktifitas online. Juga pendidikan serta keterlambatan pembangunan dll. Perbedaan besar antara tahun sebelum tahun 1999 dan 2007 sampai sekarang begitu terasa di semua lini masyarakat.

    Tulisan-tulisanmu itu membuahkan hasil? Maksudku, apakah ‘teriakan-teriakan’ mu didengar?
    Hahaha.. :)) ga ada. ga didengar. tapi bagi saya tidak penting untuk didengar atau tidak, karena blog untuk wilayah ambon atau taruhlah di indonesia pada jaman itu belum menjadi sebuah kekuatan untuk didengar kan?

    …ga ada. ga didengar tapi bagi saya tidak penting untuk didengar atau tidak…

    Dan saya juga tidak menganggap tulisan saya harus langsung membawa perubahan karena untuk mengubah itu tidak cukup dengan satu tulisan kecil di blog lalu selesai, butuh waktu panjang, butuh kawan seperjuangan yang sama-sama peduli, butuh kerja keras, butuh implementasi juga di dunia nyata untuk mewujudkan itu semua. Blog hanya menjadi alat untuk menuangkan ide-ide saya saja.

    Anda punya cita cita gak suatu waktu suara blogger benar-benar didengarkan penguasa atau setidaknya mampu membuat movement yang kuat seperti peristiwa Arab Spring di Mesir beberapa tahun silam itu?
    Cita-cita sih ga, tapi mungkin saya berharap suatu saat blogger akan menjadi motor penggerak kekuatan bagi perubahan yang baik di negara ini. Karena bagi saya, blogger adalah salah satu bagian penting dalam masyarakat sama seperti mahasiswa saat 98. Dan karena blogger adalah bagian masyarakat maka blogger tidak bisa bergerak sendiri. Saya mungkin banyak belajar dari gerakan #SaveAru yang teman2 di ambon lakukan sekarang. Pada satu titik saya menyadari bahwa kekuatan terbesar perubahan adalah pada warga (termasuk blogger), bergabungnya kekuatan2 besar ini bisa membuat sesuatu perubahan yang semoga menjadi lebih baik.

    Memangnya apa yang dilakukan di #SaveAru?
    Jadi begini, ada sebuah perusahaan yang berencana membangun perkebunan tebu seluas 500 ribu hektar lebih di pulau yang luasnya hanya 600 ribu hektar, di kepulauan Aru.

    Masyarakat sekitar sudah menolak dan penolakan ini sudah dilakukan sejak setahun belakangan, namun suara warga seolah hilang dari hingar bingar masalah yang ada di negara ini. Jangankan media nasional, media lokalpun bahkan tidak memberitakan sehingga tidak banyak orang yang tau ancaman di kepulauan Aru tersebut.

    Beberapa teman blogger yang kebetulan mengetahui itu kemudian membantu dengan melakukan campaign #SaveAru di sosial media melalui facebook, twitter, maupun membuat web bagi kampanye ini. Kampanye ini akhirnya mampu memberitahu banyak orang sekaligus menggerakan berbagai elemen masyarakat untuk terus peduli terhadap Aru.

    Informasi yang ke tersebar makin membesar sampai Glenn Fredly pun turut melakukan campaign #saveAru, disini saya melihat sebuah solidaritas kerjasama yang unik dimana masyarakat biasa, blogger, seniman, politikus, artis, ahli hukum, pecinta alam dan siapa saja mau peduli sekaligus bersatu dalam solidaritas #SaveAru yang tidak hanya dikuasai oleh orang2 berkepentingan.

    Lalu akhirnya apakah #savearu itu berhasil menolak rencana PT Menara Group?
    Perlawanan itu masih terus dilakukan. solidaritas-solidaritas masih kami berusaha bangun terus karena perlawanan dari pihak perusahaan pun makin banyak.

    Pernah merasa takut diringkus karena suara anda terdengar keras di blog? Membayangkan seperti yang terjadi di Vietnam misalnya?
    Pernahlah. tapi tidak terlalu dihiraukan, yg penting nulis dulu lah. :)

    Apa karena itu pula maka anda lebih memilih datang ke acara ABFI di Solo kemarin ketimbang pergi bersama kawan lain yang juga blogger di Gunung Kelir?
    Hahahaha.. kalo Asean blogger (ABFI), saya datang atas undangan saja begitupun acara2 blogger lain.Semua acara kumpul blogger saya pikir semua bisa jadi wadah kok, tidak harus nasional atau regional, kumpul komunitas antar daerah pun bisa menjadi ajang berbagi dan sharing. Bagi saya itu keren sekali karena bisa terjadi sharing maupun transformasi apapun yang baik.

  • Blontankpoer: Jangan memaksa blogger untuk menulis

    Blontankpoer: Jangan memaksa blogger untuk menulis

    Sejak awal ngeblog, satu hal yang selalu kuyakini dan kuamini hingga kini dan mungkin untuk selamanya adalah, untuk jadi seorang blogger keren, kamu nggak perlu berorganisasi.

    Benar, aku memang pernah nyemplung di organisasi blog macam Angkringan (2002, bahkan membidaninya bersama Thomas dan kawan-kawan lain di Jogja -red) atau bahkan pernah juga jadi ‘what-so-called’ penanggung jawab nasional Blogbugs (2003-2004), komunitas blogger nasional yang dulu sempat kesohor sebelum akhirnya era social media datang melindas. Tapi aku tak lama berada di sana karena alasan tadi, ngeblog adalah ngeblog tak perlu berorganisasi beserta tetek bengeknya.

    Tapi meski demikian, pendapatku toh tak berlaku bagi semua orang. Nyatanya, komunitas/organisasi yang berkaitan dengan dunia ngeblog di Indonesia tumbuh begitu marak dan hal ini tentu menarik untuk ditulis di sini dengan menghadirkan orang yang kuanggap memang aktif nyemplung di dalamnya.

    Adalah Blontankpoer… errrr entahlah nama aslinya. Seorang berlatar belakang jurnalistik yang kini menetap di kota Solo, seorang blogger dan penggiat di komunitas blog Bengawan yang ‘kududukkan’ di sini untuk bicara soal blog dan organisasi.

    Dari yang kuamati, ia tampak menyeruak di tengah geliat pelaku net citizen (sebutan untuk mereka yang giat berkomunikasi dan berkonten di jejaring internet -red) Indonesia. Pada saat yang lain mulai surut dan kukut ngeblog, Paklik Blonty, demikian kumenyebutnya, seperti tak pernah habis energi untuk terus ngeblog dan berkomunitas.

    Ia juga bukan tipe organisatoris ‘hore-hore’ yang menghabiskan waktu berorganisasinya di coffeeshop mall untuk sekadar ‘ngopi cantik’. Otaknya penuh konsep yang terkadang aku sendiri sampai capek untuk mendengarkannya, dan satu lagi, karya nyata yang ia torehkan bersama komunitasnya juga ada, banyak malah!

    Maka tak heran kalau ketika menginterview Paklik Blonty, aku butuh tenaga dan perhatian ekstra. Ia bukan orang yang mudah diperangkap dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kupersiapkan; sementara di sisi lain ia malah tak jarang mengejutkan memberi pernyataan yang membuatku berpikir, “Lah, ini pertanyaaannya tadi apa ya?”

    Proses pengeditan tulisan ini pun tak semulus proses pengeditan tulisan yang lainnya.

    “Ngisin-isini Klaten nek kowe ora iso ngedit interviewku! (Malu-maluin Klaten kalau kamu nggak mampu mengedit interviewku! -jawa)” ujarnya! Ya, aku dan dia memang sama-sama putra Klaten dan kami bangga untuk itu.

    Jadi, silakan disimak, Kisanak! Tak perlu mengernyitkan dahi kalau tak mampu menangkap loncatan-loncatan pemikirannya. Cukup sruput teh yang ada di cangkir di sebelahmu sambil membayangkan itu adalah teh merk Blontea, teh racikan Paklik Blonty yang memang sudah dijual di beberapa gerai makanan yang ditunjuknya di kota-kota di Indonesia.

    Kenapa blogger harus berorganisasi?
    Gini. Seiring menguatnya kebebasan bersuara/berpendapat sebagai bagian dari HAM, maka blog dan social media sebenarnya hanyalah medium, seperti halnya tv, koran,radio dan media mainstream lainnya. Dalam konteks ini, setiap orang hakikatnya juga pewarta. Nah, berorganisasi memungkinkan orang saling bertukar pengalaman untuk meningkatkan kapasitas individu dalam memproduksi dan mengelola konten.

    Itukah yang terpenting atau ada hal lain yang juga kamu anggap penting kenapa blogger harus berorganisasi?
    Pola komunikasi juga penting!
    Harus ada dialog dalam pola komunikasi antar anggota organisasi! Dialog mensyaratkan kemauan saling mengenali antar-pihak. Di dalamnya, ada tenggang rasa dan kesetaraan.

    Menurutmu, apa yang akan kamu wanti-wanti untuk dijadikan garis batas aturan dalam membina komunitas blog?
    Ada beberapa.
    Pertama, karakter blogger.
    Blogger kita itu mayoritas anak muda yang belum begitu kenal dunia tulis-menulis tapi mereka punya banyak keinginan, gagasan dan hal-hal lain yang ingin dibaginya. Dalam situasi demikian, maka komunitas bisa menjadi jembatan dan fasilitator untuk ‘perkembangan’ mereka. Makanya jangan memaksa mereka untuk menulis sehari sekian tulisan seminggu harus terbit sekian tulisan (wah kena nih gue! -red)

    Ada lagi?
    komunitas blogger jangan diformalkan lewat perkumpulan, yayasan dan sebagainya. Pengorganisasian secara formil akan memunculkan persepsi ‘ribet’, sebab dalam bentuk formal, dituntut ada AD/ART, program kerja dan seterusnya. Sebagai organisasi yang dibangun karena dasar kecocokan dan sukarela, maka komunitas pasti harus cair. Orang bisa keluar-masuk sesuai penilaian kemanfaatan subyektifnya. Dan itu harus disikapi sebagai kewajaran. Jangan kelewat tegang, kaku dan rigid.

    Dan satu hal lagi, dalam komunitas blogger yang kebanyakan anak-anak muda yang berjiwa bebas, jangan sekali-kali memaksa mereka masuk tema-tema berat seperti activism, politik dll. Biarkan mengalir sesuai naluri dan kemauan anggota saja. Mau melakukan monetizing lewat review atau buzzing, pun tak jadi soal. Biarkan saja berjalan alamiah…. Diskusi yang digelar sesekali hanya upaya bersama-sama untuk mengenali ‘dunia lain’, sesuatu di luar dirinya. Dan, lewat diskusi, kopdar, dll itu, disadari atau tidak, pasti terjadi proses pembelajaran

    Itu pandangan idealmu apa kenyataan di lapangan yang memang demikian?
    Aku menyimak situasi. Bukan pandangan ideal.

    Apa hal itu sudah kamu implementasikan di Komunitas Bengawan yang kamu gawangi?
    Dalam konteks Bengawan, kesadaran untuk mengarah ke arah komunitas blog yang ideal memang ada. Makanya, dulu kami sering lakukan internal workshop, bikin focus group discussion (FGD), hingga bikin strategic planning.

    Kelihatannya memang serius, padahal tidak. Kami di Bengawan menyadari, ngeblog itu kerelaan, semaunya. Maka, tak pernah dalam FGD, workshop dll itu lantas mengharuskan kami harus begini atau begitu. Mengalir saja….

    Harus disadari, tidak semua blogger pernah mengalami workshop, FGD dan sejenisnya itu. Anggap saja yang demikian sebagai pengalaman baru, yang bisa jadi bekal mereka. Jangan berharap dari workshop dll itu, mereka mampu begini-begitu. Selalu ada proses, dan komunitas bisa mengambil peran, meski inisiatif dari anggota juga.

    Seberapa jauh komunitas blog itu berguna bagi publik?
    Komunitas blogger di Indonesia belum bisa dikatakan seperti itu (berguna bagi publik -red) meskipun memang dibangun untuk didedikasikan ke arah itu.?Meski demikian, pada prakteknya, komunitas blogger kuyakin selalu memberi dampak positif kepada lingkungan terdekatnya.

    Ada contoh nyata untuk itu?
    21 November kemarin, pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (kemenkominfo) menyumbang mobile community access point (M-CAP) berupa sepeda motor roda tiga dengan enam unit laptop, lcd dan screen, printer, silent genset, headset untuk difabel dan rakyat miskin di Solo dan sekitarnya.

    Rencana ke depan, Bengawan akan mengelolanya dengan cara mendatangi basis-basis difabel dan kawasan miskin untuk edukasi ICT, bisa internet, bisa komputer dasar sesuai permintaan publik.

    M-CAP ini adalah yang pertama di Indonesia dan aku ikut mendesain keperluan dan menyusun spesifikasi perangkat yang nilainya hampir 200 juta itu.

    Bantuan ini sebenarnya dari kementerian langsung ke Pemerintah Kota Surakarta lalu kami yang kelola. Prosedurnya demikian. Itu pertama di Indonesia, kalau kami bisa optimalkan, mungkin akan dibuat lebih banyak untuk daerah-daerah lain.

    Twitter dan berbagai kanal social media lainnya banyak dipilih mereka yang meninggalkan blog. Gimana menurutmu dalam kaitannya juga peran komunitas blog?
    Kalau kini Twitter banyak dipilih orang, itu pun tak mematikan semangat orang ngeblog. Kompasiana, blogdetik, dll adalah contoh nyata gairah blogging. Mereka merasa individu bebas, bukan anggota komunitas blogger kota tertentu. Tapi,prakteknya, baik Kompasiana maupun Blogdetik juga diorganisir pengelola, dan muncul komunitas kompasianer di berbagai kota. Apapun sebutan atau sifatnya, keinginan blogger ‘berorganisasi’ nyata adanya.

    Kamu terlibat aktif di acara ASEAN Blogger di Solo tempo hari. Kamu jadi apa di sana?
    Aku diposisikan sebagai deputi/wakil ketua umum.
    Tapi secara de facto, aku yang bikin argumentasi awal, kenapa kegiatan dilangsungkan di Solo. Tentu, selain karena aku bisa menggandengkan dengan Pemkot Surakarta, untuk berbagi beban pembiayaan acara, dalam arti, Pemkot Solo menyediakan beberapa fasilitas gratis untuk mendukung acara tersebut. Sebab, Pemkot, publik Solo dan Bengawan juga sama-sama dapat manfaat. Apalagi acara ini kan untuk Kementerian Luar Negeri dan ASEAN.

    Menurutmu goal dari ABFI kemarin tercapai ngga?
    Secara misi dari Kementerian Luar Negeri terhadap adanya ASEAN Blogger untuk persiapan Komunitas ASEAN 2015, sudah tercapai. Juga, dalam rangka mengisi kekosongan gathering blogger berskala nasional, yang melibatkan banyak orang, yang sudah jarang diadakan.

    Menurutmu, ASEAN Blogger itu sendiri sudah berfungsi secara nyata belum tho? Kamu kan di atas bilang bahwa komunitas harus memberi dampak positif ke lingkungannya… lalu bagaimana dengan isu beberapa blogger yang dibui di Vietnam? Kan Vietnam itu ASEAN juga? Lantas apa peran Asean Blogger dalam melawan tirani seperti itu?
    Kalau langsung menukik ke advokasi blogger Vietnam dll yang teraniaya, memang belum. Aku juga tak terlalu setuju ASEAN Blogger mengarah ke freedom of expression, dan isu-isu berat lainnya. Seumpama di event itu muncul semacam pernyataan bersama mengecam Pemerintah Vietnam, lalu peserta dari negeri itu dijemput aparat sepulang dari Solo, siapa yang bertanggung jawab? Siapa pula yang terpaksa jadi korban?

    Kupikir, kita harus bijak menyikapi situasi. Toh, dengan bertemu blogger dari berbagai negara, mereka sudah bisa diskusi panjang lebar soal kebebasan dan strategi menghadapi rezim otoriter, meski secara informal.

    Jangan terlalu semangat jadi aktivis. Lebih baik diberdayakan pelan-pelan, supaya matangnya beneran, sehingga lahir generasi dengan militansi tinggi pada saatnya nanti.

    Aku lebih nyaman ASEAN Blogger jadi organisasi hore-hore dulu. Lha wong di level pengurus dan penggiatnya juga belum banyak yang menguasai soal-soal hukum, politik, tatakrama pergaulan diplomatik kok. Biarkan ia konsentrasi di wilayah kultural, wisata, ekonomi, dll. Toh, dalam setiap interaksi blogger antar-bangsa pasti akan muncul diskusi terbatas soal itu. Biarkan itu bergerak alamiah.

    Untuk advokasi blogger dll itu, bisa diwakili lembaga-lembaga advokasi kasus HAM, juga pegiat kebebasan berekspresi. ASEAN Blogger dan lembaga sejenis bisa berinteraksi, saling bertukar gagasan dan informasi, dan seterusnya. ASEAN Blogger tidak dirancang untuk yang demikian.

    Wah brarti ASEAN Blogger dirancang untuk apa?
    ASEAN Blogger dirancang sebagai wadah blogger Indonesia yang concern terhadap banyak hal mengenai ASEAN. Ia menjadi mitra Kemenlu, dalam hal ini Ditjen Kerjasama ASEAN untuk mensosialisasikan kesepakatan regional membentuk Komunitas ASEAN 2015. Itu jangka pendeknya. Tapi untuk jangka panjang, Asean Blogger diharapkan jadi jembatan pergaulan antar-bangsa yang diperankan oleh publik.

  • Eka: ?I will blog with or without sponsors

    Eka: ?I will blog with or without sponsors

    Sama halnya dengan Imelda, Eka Situmorang (atau yang akrab kupanggil ‘Eka’ atau bahkan ‘CeritaEka’ karena blognya memang demikian titlenya -red) adalah sedikit dari kawan online yang pernah kutemui.

    Awal kedekatanku dengan Eka sendiri berjalan cukup unik.
    Pada sebuah lomba menulis blog akhir dekade silam aku menang! Tapi karena aku baru saja pindah ke Sydney, tentu tak mungkin untukku datang ke Jakarta menerima hadiah dari lomba itu. Lalu aku minta Eka untuk mewakilinya dan ia mau!

    Tapi tentu bukan karena ‘hutang budi’ itu maka aku menuliskan Eka di sini.?Ada satu sisi yang hendak kusampaikan melalui interview di bawah ini yaitu bagaimana Eka memposisikan diri sebagai blogger yang meski oleh banyak orang (bahkan diriku sendiri, awalnya -red) dianggap sebagai contoh keberhasilan seorang blogger yang memonetize blognya, tapi nyatanya tak selalu apa yang ia sebutkan di blog itu sebenarnya mendatangkan bayaran.

    Nah? Kaget kan!
    Lalu untuk apa Eka tetap merview kalau tak semuanya mendatangkan bayaran??Simak penggalan interview di bawah ini…

    Kapan kamu mulai ngeblog?
    Aku mulai ngeblog Maret 2009 di blog gratisan ceritaeka.wordpress.com, kemudian mulai Agustus 2009 migrasi ke self-hosted blog ceritaeka.com.

    Apa sejak awal sudah tercetus ide untuk membuat blogmu itu monetized?
    Soal monetized, sebenarnya aku masih kurang terlalu ngerti maksudnya. Apakah blog yang menghasilkan uang dengan cara apapun termasuk monetized blog?

    Tapi blogku memang menerima review jika ada permintaan serta mendapatkan kompensasi dalam bentuk atau jumlah yang sesuai kesepakatan. Kalau hal tersebut termasuk monetized blog, maka yes artinya blogku di-monetized.

    Iya. Kupikir begitu definisinya. Menurutmu bukan?
    Dibayanganku monetized blog itu adalah blog yang terima banner ads yang pay per-click atau membuat tulisan dengan keyword-keyword tertentu untuk bisa tampil di halaman pertama Google. Aku nggak lakukan itu. Tapi blogku memang menerima review jika ada permintaan serta mendapatkan kompensasi dalam bentuk atau jumlah yang sesuai kesepakatan. Kalau hal tersebut termasuk monetized blog, maka yes artinya blogku di-monetized.

    Jadi, kembali ke pertanyaan awal tadi, apakah memang sejak awal sudah tercetus ide untuk membuat blogmu monetized, Ka?
    Nggak, tapi memang misalnya aku sedang jalan-jalan ke mana, aku tulis dengan gamblang nginep di mana, pakai maskapai apa, yang gitu-gitulah. Aku sebut brand dengan senang hati for free karena aku suka. Kemudian dari situ malah ada brand lain yang mendekati. Dan kalau apa yang ditawarkan sejalan dengan hatiku maka aku terima.

    OK, kamu setuju nggak kalau berarti kusebut kamu adalah seorang blogger yang memonetize dengan senang hati? Begitu?
    Aku ndak setuju, Don.?Karena kalau disebut monetize blog dengan senang hati maka itu bisa jadi misleading seolah tujuanku ngeblog hanya untuk monetize or making money from that.

    The fact is, I will blog with or without sponsors. Tawaran dari brand itu aku anggap bonus, bukan tujuan.

    Lalu?
    Aku blogger, for I know aku suka nulis. Kalau blognya terus dilirik brands, itu ekses yang menguntungkan. Tapi sekali lagi, monetize bukan tujuanku utamaku ngeblog.

    …untuk pelaku yang memonetize blognya, mesti hati-hati juga pada saat memonetize blog. Ada kode etik sendiri yang mesti dipatuhi.

    Bagaimana tanggapanmu tentang monetizing blog itu sendiri?
    Monetizing blog is nice. Some readers will get new insight or information from that. Tapi untuk pelaku yang memonetize blognya, mesti hati-hati juga pada saat memonetize blog. Ada kode etik sendiri yang mesti dipatuhi.

    Masalahnya Don, kode etik ini bisa berbeda-beda tiap orang. I am fine with those who monetize their blogs as long as they still have some etiquette. Misalnya, tidak semata-mata review membabi buta bilang bagus semua hingga menafikan kenyataan produk tersebut.

    Wah menarik ini! Kalau begitu bagaimana kode etik yang kamu terapkan ketika kamu menerima permintaan review sebuah produk?
    Aku terima permintaan review dengan salah satu atau beberapa kondisi seperti: kalau produknya aku cocok, aku suka atau menurutku hal itu akan menjadi informasi yang berguna buat pembaca. Kalau nggak cocok atau nggak berguna buat pembaca, nggak aku ambil karena mubazir.

    Contoh, tahun lalu aku menolak tawaran kampanye seorang cagub, dan tahun ini aku menolak tawaran kampanye dua orang capres. Walau kompensasinya menggiurkan tapi aku nggak bisa melakukan itu karena nggak sreg di hati.

    Pernah juga pada saat proses review aku menemukan cacat atau hal kurang baik dari produk tersebut, aku informasikan keluhanku ke pihak yang menawarkan supaya jadi input tambahan buat mereka. Bukankah itu juga tugasku sebagai pereview? Jadi selain memberitahukan produk tersebut di blog juga memberikan masukan baik atau buruknya produk tersebut.

    Bukan berarti aku ndak jujur, aku telah melakukan bagianku dengan menyampaikan temuanku ke mereka secara langsung dengan harapan hal tersebut diperbaiki oleh mereka.

    Jika mereka mengijinkan, aku tuliskan soal kekurangan tersebut di blog dengan bahasa yang solutif dan tidak memojokkan. Contoh, “amenities di kamar mandi hotel A kurang komplit, andai saja diberikan amenities yang lebih lengkap, nginep di sini jadi lebih asyik.” Komplen soft tapi solutif gitulah, Don. Nggak cuma caci maki.

    Tapi, kalau pihak brand tidak setuju hal tersebut dituliskan di blog ya aku nggak tuliskan keluhan itu tapi juga nggak memuji soal amenities. Bukan berarti aku ndak jujur, aku telah melakukan bagianku dengan menyampaikan temuanku ke mereka secara langsung dengan harapan hal tersebut diperbaiki oleh mereka.

    Kan ada monetized blog dan ada juga buzzer yg beredar di twitter timeline. Menurutmu apakah buzzer di timeline itu merupakan kelanjutan dari monetizing blog atau keduanya merupakan dua hal yang berbeda?
    Menurut pendapatku pribadi, hal tersebut sama aja. Yang berbeda adalah platform atau channel komunikasinya. Tapi pada dasarnya sama.?Hanya saja, ya karena beda channel, ya beda juga bagaimana cara penyampaian ‘message-nya.’

    Bagimu sendiri, Ka ketika harus menulis review, lebih nyaman di blog atau Twitter?
    Aku merasa jauh lebih nyaman di blog, karena ketersediaan ruang yang lebih luas dalam menuliskan opini. Jadi bisa mengemukakan alasan, latar belakang atau memberikan informasi tambahan secara lebih leluasa.?Lagi pula kalau di blog, tektok pada saat komentar juga enak karena ya itu tadi, ruangnya luas.

    Ada blogger yang hantam kromo terima semua tawaran review, nggak sesuai sama passion-nya ya terima aja

    Ada banyak pihak yang menganggap monetized blog itu kurang lazim karena dianggap ‘mata duitan’ dan tetek bengeknya. menurutmu gimana?
    Kurang lazim itu masuk kategori relatif sih, Don. Tiap orang punya ukurannya sendiri.

    Blog kan berkembang, tidak lagi hanya menjadi media bertukar pikiran tapi bisa juga jadi media curhat, diary atau malah media iklan sekalian.

    Di mataku yang merasa bahwa hidup itu nggak bisa lepas dari merk apapun, menyebut nama brand di dalam blog (or some people called it monetizing) itu sah-sah saja asal dilakukan dengan beberapa poin pegangan yang sudah aku sebutkan di email sebelumnya. Tapi ya itu kan poin peganganku secara pribadi, yang tentunya tidak sama dengan orang lain. Walau aku mengenal beberapa blogger yang memiliki pandangan yang sama denganku juga.

    Hence, aku juga ndak bisa menyalahkan kubu yang bilang blogger yang me-monetizing blog itu matre bla bla, karena memang ada juga blogger yang mereview produk tanpa memberikan informasi yang seimbang atau yang sejujurnya ia rasakan. Ada blogger yang hantam kromo terima semua tawaran review, nggak sesuai sama passion-nya ya terima aja. Tapi kan ndak semua blogger begitu. Pada intinya hal itu kembali lagi ke orangnya ?.

    Trus ada pandangan dari para blogger yg bilang bahwa blogger yg mau ngereview produk itu sah-sah saja asal ada pemberitahuan bahwa itu adalah advertorial seperti halnya di televisi atau di majalah ada label ‘ADV’ nya, menurutmu sebagai orang yang pernah mereview, gimana pandanganmu tentang hal ini? Maksudku mudah dilakukan atau ada tuntutan dari brand untuk tidak melakukan itu misalnya?

    Pemberitahuan bahwa itu ADV sah-sah aja. Tapi buatku sendiri nggak harus. Hal itu balik lagi ke persona masing-masing. Dari brand sendiri ada yang membolehkan, ada yang tidak. Nggak semua brand ketat kok.

    Aku pribadi kadang aku tulis, kadang enggak. Aku memang tidak menulis hal itu ADV tapi seringnya aku bilang “thank you Garuda”, “terima kasih hotel Sheraton for inviting me to this trip” atau yang begitulah. Menurutku itu sama juga dengan memberitahukan bahwa trip ini disponsori oleh pihak-pihak tersebut.

    Untuk aku pribadi, pilihan tidak menulis kata ADV ada beberapa alasan: selain karena ada permintaan dari Brand tapi kadang aku nggak tulis karena aku punya experience dengan produk tersebut.

    Misalnya, suatu produk minyak goreng, aku memang konsumen minyak itu, aku tahu keunggulannya dan kenapa aku memilih minyak itu. Menurutku ndak perlu aku tulis ADV (walau misalnya diijinkan brand) karena kalau pun aku lagi tidak diminta endorse brand minyak itu, suatu kali kalau aku lagi inget aku pasti ngetwit bilang juga pake itu minyak karena memang bagus.

    Ok, next. Kan taon 2014 itu taon politik di Indonesia. Market buzzer dan blogger untuk menerima tawaran membantu strategi baik caleg, capres maupun cawapres mulai rame? Kalau bole tahu, gambaran kasar saja, harga tawar untuk itu berapa rupiah dan hitungannya per apa gitu?
    Soal harga tawar itu akan berbeda tiap blogger atau buzzer, Don. Parameternya apa, aku juga kurang tau. Ada blogger atau buzzer yang punya rate sendiri, ada juga yang menunggu tawaran rate dari agency atau brand.

    Untuk harga tawar kasarnya berapa, aku tidak tahu, Don.

  • Mubarika: kami paham taste ?ala? Indonesia

    Mubarika: kami paham taste ?ala? Indonesia

    Uang, bagaimanapun juga adalah daya tarik yang tak pernah berkesudahan.?Ia merasuk dalam hampir setiap sendi kehidupan dan entitas-entitas yang ada di dalamnya baik dalam artian positif maupun negatif.

    Demikian juga dengan blog!
    Monetizing blog adalah sebuah trend yang menarik; terlebih ketika menulis tanpa motivasi uang jadi terlalu membosankan. Bayangkan, menjalankan hobi nulis, dibayar!

    …termasuk aku yang dari dulu selalu mengobarkan semangat untuk ngeblog tanpa mengharapkan bayaran karena bagiku biasanya blog yang sudah termonetized akan tak terlalu menyenangkan untuk dibaca…

    Tapi sungguhpun demikian, tak semua orang sebenarnya suka terhadap trend tersebut, termasuk aku yang dari dulu selalu mengobarkan semangat untuk ngeblog tanpa mengharapkan bayaran karena bagiku biasanya blog yang sudah termonetized akan tak terlalu menyenangkan untuk dibaca lagi karena kontennya biasanya akan banyak mengacu ke produk yang sedang ia ‘tawarkan’.

    Tapi itu toh hanya sekadar prinsip, pandangan. Hal itu tak lantas membutakan mataku untuk hadirnya banyak kawan baru di media online meski mungkin mereka tak ‘sealiran’ denganku. Justru, bagiku keberagaman konsep berpikir dan pola hidup, selama tak saling menganggu adalah sesuatu yang memperkaya hidup dan salah satu dari mereka adalah Mubarika Darmayanti.

    Punggawa IDBlognetwork sebuah jaringan iklan online bagi blog berbahasa Indonesia yang cara kerjanya mengintegrasikan iklan dengan blog milik anggota jaringan itu, adalah seorang kawan baik.

    Meski belum pernah bertemu, ada interaksi inter-personal antaraku dengannya yang membuatku memiliki kesan, Mubarika ini orang yang baik!

    Tapi tentu bukan karena kebaikannya saja maka ia ‘kuseret’ untuk kuinterview di sini, tapi justru karena keberhasilannya mengusung ID Blognetwork adalah yang menarik untuk dikulik meski sekalipun aku tak pernah berniat untuk ikut masuk ke dalamnya, tentu saja :)

    Sebenarnya bagaimana awal cerita terbentuknya IBN itu, Mbak?
    Awalnya saya dan Kukuh (Kukuh TW – red) bertemu karena berada dalam sebuah project milik klien saya. Saat itu saya sebagai sales manager sebuah adnetwork, sementara Kukuh di-hire sebagai Project-developernya . Pada sebuah diskusi mengenai trend digital di Indonesia, kami sepakat untuk membuat platform iklan berbasis konten yang berkualitas dan memiliki targeting behaviour dan mencerminkan minat konsumen.

    …blogger dengan postingan mereka itu kan terkenal dengan unique content, citizen journalism dan ?mouth to mouth? recommendation dan ini ?nilai lebih? sebuah blog dari konten-konten website ?perusahaan?.

    Lalu kenapa konten itu diterjemahkan sebagai posting blog?
    Karena blogger dengan postingan mereka itu kan terkenal dengan unique content, citizen journalism dan ‘mouth to mouth’ recommendation dan ini ?nilai lebih? sebuah blog dari konten-konten website ‘perusahaan’.

    Kapan IBN mulai berdiri?
    Kukuh menyelesaikan platform IBN dan 50 member (para blogger) terkumpul pada 01 Agustus 2010 dan hari itu kami resmikan sebagai hari lahir sekaligus dimulainya campaign pertama dua hari kemudian.

    Siapa klien pertamamu waktu itu?
    Telkom Flexi.

    Total nilai kampanyenya?
    250 juta.

    Wow! Lalu dari 50 member awal mula itu hingga sekarang mekar jadi berapa?
    Saat ini jumlah blogger member yang terdaftar adalah 12.067 blog (per 2 oktober 2013 -red)

    Wah, berarti sudah lebih dari 200 kali lipat ya! Tapi dengan adanya ads network seperti IBN, apa kamu nggak takut dilindas mereka yang sudah besar dari luar negeri seperti Adsense misalnya? Strateginya?seperti apa?
    Kalau dari segi teknologi, platform dan bentuk iklan, IBN sebenarnya sama saja dengan Adsense, dan lainnya. Keunikan kami barangkali karena kami paham ‘taste’ ala Indonesia. Kami tahu apa yang klien mau dari ‘pasar’ Indonesia. Ibarat kata, IBN ingin jadi ‘teh botol’ bagi minuman soda merk ternama.

    Mungkin juga karena kami lebih memanusiakan ‘engine’ IBN sehingga kawan-kawan blogger member menjadikan IBN sebagai salah satu platform yang mereka pilih. Dan karena kemanusiawiaannya itu, para brand dapat percaya kampanye digital yang mereka punya pasti akan berjalan sesuai harapan menggunakan platform kami. Hasil yang mereka raih otomatis akan menjadi gambaran kuat dan akurat dari konsumen dan calon konsumen mereka, bukan hanya berdasarkan estimasi CTR dan effective CPA seperti yang network-network lain punyai.

    Sekarang mari kita bicara ‘engine’ IBN yaitu para bloggernya. Sebesar apa sih peran IBN terhadap mereka?
    Dari apa yang kami dengar dan memang selalu kami canangkan, IBN memberi alternatif platform lokal dengan iklan korporasi. Selain itu, kami juga secara tidak langsung mengajarkan member untuk memproduksi konten positif, jauh dari SARA juga pornografi karena itu adalah syarat-syarat konten yang dimaui klien.

    Tapi secara otentik, ada nggak bukti bahwa IBN mampu mengangkat harkat ekonomi membernya?
    Ada! Salah satu member IBN yang menurutku berhasil adalah Sanjaya Yasin. Ia berasal dari pelosok NTB, melanjutkan kuliah dengan menjadi care-taker di sebuah madrasah. Keadaan ekonominya waktu itu belum mapan. Ia lalu belajar internet secara otodidak lalu masuk ke facebook groupnya IBN. Dari situ banyak kenal blogger-blogger yang mengajarinya membuat blog dan memproduksi tulisan. Dan sekarang, incomenya dari IBN sekitar 3-10 juta rupiah per bulan! Dari situ ia bisa melanjutkan kuliah, membiayai adik-adiknya sekolah dan memberi modal usaha kepada ibunya di kampungnya sana.

    Kalau profesi blogger yg monetizing telah ada saat seluruh infrastruktur IT belum familiar, barangkali mereka dianggap punya pesugihan…

    OK, Mbak. Terlepas dari begitu banyak manfaat terutama finansial ketika sebuah blog di-monetize-kan, ada pihak yang tak setuju dengan adanya monetizing blog dengan berbagai macam alasan. Menurut Mbak, bagaimana?
    Saya melihatnya sebagai sebuah new job opportunities yang timbul berdasarkan kemajuan jaman, perkembangan teknologi serta trend generasi sekarang. Kalau profesi blogger yg monetizing telah ada saat seluruh infrastruktur IT belum familiar, barangkali mereka dianggap punya pesugihan karena seseorang tanpa tampak bekerja secara ‘fisik’ tiba-tiba jadi jutawan. Hahahaha…

    Tapi jaman sekarang gained income dari online sudah bisa dijelaskan secara rasional, walaupun tetap saja beberapa dari generasi sebelumnya, seperti orangtua saya contohnya, masih belum bisa menerima “kenyataan” anaknya memiliki bisnis dari hal yang tidak memiliki wujud fisik.

    Bila pekerjaan/profesi dikerjakan secara profesional, fokus dan tekun, sumber dana halal ya berarti orang tersebut bekerja dengan melihat kesempatan untuk kehidupannya yang lebih baik. Sah-sah saja kan, Mas? :)

    Semakin unik dan segmented isi konten, akan semakin mudah mendapatkan advertiser.

    Ic, pertanyaan terakhir, setelah begitu lama berada di IBN, apa tips dari Mbak Mubarika tentang blog yang bisa berpotensi mendatangkan uang yang banyak?
    Blogger sebagai publisher semakin dihargai dan diakui kepiawaiannya dalam membuat konten. Semakin unik dan segmented isi konten, akan semakin mudah mendapatkan advertiser.Terbukti sekarang ini, iklan (baik melalui adsense dan ads network spt IBN) menyasar audiences yang mencari konten tertentu. Semakin bagus konten, semakin tinggi trafik, semakin banyak peluang mendapat penghasilan. Sesederhana itu kok mas…

  • Imelda, Blogger Sampai Mati

    Imelda, Blogger Sampai Mati

    Dari sekian banyak kawan ‘online’ yang akhirnya kutemui setidaknya hingga tulisan ini kuterbitkan, November 2013, Imelda Coutrier Miyashita adalah salah sedikit diantaranya.

    Aku mengenal Imelda sejak beberapa saat sebelum aku pindah ke Australia, 2008 silam, namun baru bertemu pada akhir bulan Juli 2012 silam di Jakarta ketika kami sama-sama sedang berlibur ke Tanah Air.

    Sama-sama? Ya, sama-sama karena aku berdomisili di Sydney sedangkan Imelda adalah perantau yang sudah lebih dari dua puluh tahun menetap di Jepang.

    Lalu apa yang menarik dari Imelda sehingga masuk ke dalam jajaran narasumber dalam rangkaian interview hari blog nasional di sini?
    Ah, sebentar mungkin bahkan ada yang tidak mengenalnya?

    Imelda memang bukan sosok seleb-blog apalagi seleb-tweet kalau definisi ‘seleb’ didasarkan pada sering disebut-tidak namanya dalam linimasa maupun percakapan yang terjadi. Tapi kalau ‘seleb’ diterjemahkan sebagai orang yang konsisten menulis blog, Imelda ini salah satu juaranya!

    Imelda memang bukan sosok seleb-blog apalagi seleb-tweet kalau definisi ‘seleb’ didasarkan pada sering disebut-tidak namanya dalam linimasa maupun percakapan yang terjadi. Tapi kalau ‘seleb’ diterjemahkan sebagai orang yang konsisten menulis blog, Imelda ini salah satu juaranya!

    Coba simak blognya, kalian pasti akan setuju denganku bahwa konsistensinya telah merentang begitu lama dan bisa dibilang ia menulis hampir tanpa pretensi apapun kecuali menjalankan hobinya yaitu ngeblog.

    Itulah yang membuat Imelda menarik!
    Kalau kalian masih kurang percaya dan belum pula tersihir syaraf ketertarikanmu kepadanya, mari kubantu dengan menghadirkan penggalan interview di bawah ini:

    Kamu banyak menulis tentang pengalaman pribadi sehari-hari dan tentang budaya Jepang, apa memang kamu mengkhususkan blogmu jadi demikian atau secara nggak sengaja bahwa yang ditulis ya itu-itu aja?
    Sebenarnya semua mengalir begitu saja karena aku memulai blog sebagai jurnal/diary jadi aku lebih berfokus pada kegiatan dan pengalaman sehari-hari. Tapi biasanya aku juga selipkan beberapa info akademis mengenai budaya/sejarah Jepang, itupun karena aku ingin memberikan pengetahuan kepada pembaca tanpa bermaksud menggurui.

    …kita harus bisa menyampaikan suatu topik sulit semudah mungkin sehingga anak SD pun bisa mengerti.

    Kamu tak ingin menulis sesuatu yang lebih ‘serius’ seperti misalnya bagaimana cara mendapat pekerjaan dan visa tinggal di Jepang?
    Aku tak terlalu suka tulisan yang sifatnya ‘how to’ ataupun postingan-postingan bersifat motivasional meski sebetulnya banyak yang ingin kutulis tentang topik-topik serius yang pernah kupelajari, tapi aku selalu berpatokan bahwa aku harus menyampaikan dengan menarik.

    Aku juga berpegang pada perkataan papaku bahwa kita harus bisa menyampaikan suatu topik sulit semudah mungkin sehingga anak SD pun bisa mengerti. Tapi itu tidak mudah untuk ditulis dan makan waktu. Seandainya waktuku banyak, mungkin aku akan lebih banyak menulis yang serius, tentang sosial, budaya, sejarah dan bahasa.

    Tulisanmu itu kan khas sekali dan sepertinya kamu punya reader yang cukup banyak dan solid dalam artian seperti returning reader tiap ada posting baru ke tempatmu. Rata-rata mereka siapa saja? tinggal dimana?
    Kebanyakan sih penyuka tulisan perjalanan dan pemerhati budaya Jepang. Tapi ada juga yang datang karena blogwalking lalu merasa cocok dengan gaya tulisanku. Jarang sekali pembaca blogku dari orang yang sudah lama kukenal, baru setelah aku menyinkronkan blog dengan Facebook sehingga setiap postingan di blog muncul di sana, teman-teman lama dan saudara kemudian ikut membaca blogku. Kebanyakan mereka tinggal di Indonesia.

    Pengalaman paling menarik terkait dengan blog apa, Mel?
    Wah, banyak hahahaha…
    Pernah suatu waktu aku pergi ke Sekolah RI di sini. Aku disapa seorang pembaca blog karena dia mengenali Riku dan Kai (anak-anak Imelda, –red). Juga ada beberapa tawaran membuat buku dan wawancara mengenai pendidikan atau ternyata tulisanku di blog dijadikan bahan skripsi mahasiswa jurusan Sastra Jepang.

    Kalau mau dikatakan yang paling mengesankan itu mungkin waktu kenal seorang blogger, menjadi akrab dan setelah ditelusuri ternyata kami bersaudara atau minimal sekampung di Makassar pada 4-5 generasi di atas kami.

    Tapi Mel… dengan kamu cerita banyak lewat blog tentang keluarga kamu, pernah nggak kamu merasa takut hal itu jadi pintu untuk orang-orang yang punya niat buruk ‘masuk’ ke keluargamu? Apalagi di Australia sini, misalnya, banyak orang mulai menghapus foto anak-anaknya di internet karena alasan keamanan dan itu memang dianjurkan! Bagaimana pendapatmu?

    Hmmm untuk blog aku tidak terlalu khawatir. Aku toh tak pernah mencantumkan alamat tempat tinggalku di postingan-postingan yang kurilis dan rumahku dekat dengan kantor polisi hahaha…

    Tapi untuk Facebook, terutama untuk foto anak-anak memang perlu pemikiran lebih dalam sebelum diunggah. Foto yang menceritakan kegiatan keluarga biasanya aku setting untuk dapat dilihat oleh mereka yang ada di friendlist-ku saja.

    Selain ngeblog, kamu aktif juga di channel lain?
    Hampir semua media aku punya akunnya meski banyak juga yang lantas kuanggurkan karena kurasa kurang cocok untuk berbagi di sana. Twitter butuh waktu lebih banyak dari blog karena namanya saja “tsubuyaku” (bahasa Jepang: ngedumel). Untuk orang yang cerewet yang setiap jamnya harus mengeluarkan uneg-uneg atau bisa mengalokasikan waktu sekian menit dalam sejam untuk menulis, twitter barangkali bagus. Sayangnya aku tidak punya waktu sebanyak itu.

    Path barangkali lebih cocok untuk mereka yang punya geng dalam jumlah kecil sehingga bisa berbagi saat itu dia sedang di wc, di kamar, di jalan dsb. Tapi sayang aku tak punya geng akrab seperti itu.

    So, aku lebih memilih blog dan Facebook atau kadang instagram sebagai “alat” curhatku :) Well, sekali lagi itu pendapatku saja.

    Dengan konsistensimu dalam mengelola blog dan reader yang solid dan loyal, kamu tak tertarik untuk melirik ke arah monetizing blogmu?Karena menurutku dengan keunikan blogmu dan konsistensimu harusnya kamu ‘laku’ untuk jadi brand ambassador dgn mengutip brand name di postinganmu?

    Aku pelit pujian, hanya memuji jika memang patut dipuji dan tidak suka ?make-up? tebal yang menor

    Nggak.
    Alasanku simple, aku malas menulis sesuatu yang bukan minatku. Apalagi kalau harus memuji-muji, memoles-moles. Aku pelit pujian, hanya memuji jika memang patut dipuji dan tidak suka “make-up” tebal yang menor. Alami saja deh.

    Tapi mungkin kelak kalau aku butuh uang dan terpaksa aku akan melakukannya juga (monetizing blog), tapi untuk sekarang dan semoga seterusnya tidak berminat.

    Kamu kan ngeblog sudah lama.. banyak kawan blogger lain yang sudah tumbang meski masih ada yang bertahan. Pandanganmu tentang dunia blog itu sendiri gimana sekarang?
    Blog sudah dikatakan mengalami anti klimaks, karena sekarang blog cederung dipakai untuk promosi produk atau tempat, atau untuk mengadakan giveaway-giveaway. Mungkin juga bahan tulisan sudah habis? Tapi aku merasa blog itu sebagai tempat untuk berbagi ilmu dan pemikiran/pengalaman yang sulit didapat dimedia lain. Semoga saja aku dan kamu dan teman-teman blogger yang masih konsisten menulis bisa terus bertahan dan mempertahankan kehadiran blog dalam arus media sekarang ini.

    Punya rencana ngeblog mau sampai kapan?
    Sampai mati….. Kan tagline blogku dari fajar sampai senja. Menaiki kereta twilight express melihat, mengamati, mencermati kehidupan yang terlihat di luar dan dalam gerbong.

  • Thomas: Dulu personal branding muncul secara organik dan tidak dibuat-buat

    Thomas: Dulu personal branding muncul secara organik dan tidak dibuat-buat

    Di antara banyak blogger yang muncul pada paruh pertama dekade silam, Thomas Arie Setiawan adalah salah satu dari sedikit nama yang kukagumi karena kiprahnya, menurutku, sangat menonjol. Aku menyebutnya sebagai raja konten karena ia membombardir blogosphere (aha… istilah yang sudah lama tak kudengar!) dengan tulisan-tulisannya yang renyah baik dalam bahasa Inggris dan Indonesia terkait apa saja, teknologi, pengalaman pribadi ataupun hal-hal yang sedang trendy waktu itu.

    Yang membuatku lebih kagum lagi adalah Thomas sebenarnya tak memiliki latar belakang IT tapi pada akhirnya ber-metamorfosa menjadi lebih tahu IT dan sekarang terjun ke industri tersebut melalui ‘jembatan’ yang salah satunya adalah blog. Thomas berproses dan proses itulah yang ku-capture dalam ingatanku sebagai sesuatu yang sangat mengesankan.

    Secara pribadi aku mengenalnya dengan baik. Bersama-sama dengannya dan kawan-kawan lain di Jogja dulu, kami lantas melahirkan Angkringan, komunitas blogger Jogja pada 2002 yang lalu.

    Untuk semua itu, meski kini ia tak lagi aktif ngeblog, aku menganggapnya penting untuk kuhadirkan di sini sebagai nara sumber yang semoga bisa memberi manfaat atau setidaknya kalian bisa tahu kenapa aku dulu sangat mengidolakannya.

    Berikut petikannya,

    Sejarahmu ngeblog bagaimana, Thom?
    Awalnya karena mulai bosan dengan rutinitas online waktu itu yang hanya browsing dan chatting via mIRC. Lalu setelah tahu istilah blog, aku menjadikannya sebagai sarana menulis pribadi sekaligus sarana belajar tentang web karena waktu itu web design belum terlalu booming.

    Bagaimana kamu belajar web design melalui blog?
    Ya dari belajar menginstall dan mengoprek blog. Itu kan sama saja belajar aspek-aspek teknologi yang waktu itu cukup mutakhir.

    Inspirasi kamu ngeblog sendiri datang darimana?
    Inspirasiku berasal ketika berinteraksi dengan blogger jaman itu. Beberapa diantaranya yang cukup banyak menginspirasi adalah Avianto, Agus Leonardi dan kamu, Donny Verdian.

    Hahaha! Btw, aku menjadi saksi bagaimana kamu yang sebenarnya tak berlatar belakang IT lalu begitu masuk ke industri ini sekarang. Apakah blog memberi andil dalam pencapaianmu?
    Sangat! Sangat memberi andil! Waktu itu, blog adalah hal yang sangat riil di tengah peran internet sebagai media baru yang belum se-social sekarang. Melalui blog kita bisa mempromosikan diri sendiri melalui tulisan terkait teknologi yang sedang ‘dikupas’.

    Karena dulu ngeblog ya ngeblog saja tak tahu akan ada efeknya sebesar apa… Belum akrab dengan monetasi dengan iklan misalnya

    Tapi kalau begitu apakah blog bisa mewakili kapabilitas pemiliknya karena kan menulis tentang sesuatu hal bukan berarti memahami hal itu sendiri, Thom?
    Benar! Tapi waktu itu istilah ‘personal branding’ muncul sebagai sesuatu yang organik dan tidak dibuat-buat. Ia muncul sebagai efek dari kejujuran kita dalam menulis.

    Kenapa jujur?
    Karena dulu ngeblog ya ngeblog saja tak tahu akan ada efeknya sebesar apa… Belum akrab dengan monetasi dengan iklan misalnya. Jadi, kalau dulu blog ?disamakan? dengan seperti online diary, mungkin saat itulah definisi blog adalah online diary menjadi sangat pas. Diary itu (setahuku) akan selalu jujur kan?

    Tapi kulihat kamu sekarang jarang ngeblog, Thom?
    Iya. Tapi tidak jarang-jarang banget juga sih. Masih ada dua blog yang diurus yaitu di orangescale.net dan thomas.my.id

    Kenapa?
    Hmmm.. mungkin salah satu alasannya karena perkembangan publishing tool yang semakin beragam. Sekarang kan ada Twitter, Facebook, Instagram, Path, Flickr dll semua menjadi lebih mudah dan cepat dan di saat yang bersamaan orientasi/prioritas juga berubah termasuk pekerjaan yang cukup menyibukkan hehehe…

    … yang terpenting dari blog adalah semangat untuk memproduksi konten

    Dulu kamu juga sempat ngeblog menggunakan medium lain selain menulis?
    Iya. Sejak dulu aku memandang yang terpenting dari blog adalah semangat untuk memproduksi konten. Jadi, meski mediumnya berubah serta kemasan dan bentuk yang berbeda, semangat ngeblog tetap harus ada.

    Dulu pernah bahkan selama setahun saya banyak memproduksi konten audio visual bersama seorang kawan melalui YouTube.

    OK.. sekarang ramai orang bicara soal blog berbayar, kamu pernah melakukan itu?
    Sedikit-sedikit dulu ada tapi karena sejak awal aku tak berniat untuk membuat blogku menghasilkan uang, jadi ya nggak mati-matian berjuang untuk mendatangkan uang dari blog.

    Tapi pernah dan sering malah dulu aku mendapat ‘revenue’ yang tidak hanya uang bukan karena blog saya tapi karena saya ngeblog. Filosofis ya? Hehehe…

    Maksudnya?
    Gara-gara ngeblog dulu saya pernah dapat tawaran menghadiri acara peluncuran produk di Singapore, jalan-jalan ke Hong Kong. atau diundang untuk berpartisipasi di kegiatan lain. Kalau dari nominal mungkin tak seberapa tapi kalau dikonversi ke pengalaman ya cukup memuaskan.

    Kamu nggak mau mendalami blog berbayar?
    Nggak! Cari duit lewat kerja saja. Blog tetap biarkan jadi medium dan dalam bentuk yang sederhana saja…

    Toh semua kembali pada pilihan. Realistis saja bahwa ketika bekerja, kita tidak cuma mendapatkan uang, tapi butuh sesuatu yang membuat diri kita menjadi lebih memiliki value (skill, pemahaman bisnis proses, team work, adopsi informasi yang setiap hari berubah). Saya lebih tertarik kepada hal ini daripada sibuk bagaimana memikirkan cara-cara (yang maaf, kadang tidak lagi terpikirkan soal etika, benar/salah) supaya saya bisa dapat duit (melalui blog/web).

  • Budi Putra: blogging memang passion bagi saya

    Budi Putra: blogging memang passion bagi saya

    Aku memandang Budi Putra sebagai ‘sesuatu’ yang lain dibandingkan dengan banyak aktivis online tanah air lainnya.?Bukan hanya karena ia smart dan senior, tapi lebih dari itu, langkahnya layaknya langkah kuda, sulit ditebak tapi tahu-tahu nongol di tempat lain dan cemerlang!?Budi Putra adalah jurnalis dan ia mempertahankan hal itu hingga kini setidaknya dalam kaitannya dengan penciptaan konten di media.

    Hingga tulisan ini kubuat, Oktober 2013, belum pernah sekalipun aku bertatap muka dengannya meski nama dan kiprahnya lumayan lama kuikuti sejak pertengahan dekade lalu. Boleh dibilang, ia adalah ‘sang pemula’ yang berani mendekalarasikan diri sebagai blogger profesional ketika yang lain masih sibuk bermain blog theme dan mengutak-utik platform.

    Namun demikian, aku sempat skeptis ketika ia akhirnya masuk Yahoo sebagai pucuk pimpinan editorial Indonesia (2009). Ketika itu kupikir ia menyerah dan lelah. Tapi ketika ia akhirnya keluar dan kembali ‘melanglang buana’ dan kini menjadi tampuk pimpinan The Jakarta Post Digital, aku tahu, ia bukan jiwa yang gampang lelah, justru sebaliknya, jangan-jangan kita yang terlampau cepat lelah menyimak kiprah energisnya?

    Untuk itu, ketika ia menyanggupi untuk kuwawancarai untuk media ini, aku begitu bersemangat untuk mengulasnya melalui pertanyaan-pertanyaan dan menyajikannya di sini sebagai ‘sesuatu’ yang lain tadi. Budi Putra, lengkap dengan manuver-manuver langkah kudanya adalah hal yang patut diingat sebagai sejarah manis pergerakan dunia digital dan khususnya online Indonesia. Semoga kalian sependapat!

    Kalau tidak salah ingat, Anda adalah salah satu orang pertama di Indonesia yang dengan berani mendeklarasikan diri sebagai profesional blogger?
    Saya tidak tahu persis apakah saya adalah blogger professional pertama waktu itu. Saya yakin sudah ada orang lain yang melakukan hal serupa, tetapi memang belum banyak jumlahnya.

    Lalu, kenapa berani memutuskan demikian?
    Berawal dari keingintahuan saya soal dunia blogging yang mulai ramai di Amerika dan Eropa waktu itu. Sebetulnya saya sudah mulai ngeblog sejak awal 2000-an di Blogspot (waktu saya masih bekerja sebagai wartawan di Padang, Sumatra Barat), tetapi contentnya asal diisi dan tidak rutin. Lebih parah lagi, blognya sering gonta-ganti topik dan lebih dari satu blog.

    Barulah sejak awal 2006, saya mulai seriusi ngeblog. Saya memutuskan hanya fokus di satu topik saja: soal gadget dan menulisnya dalam Bahasa Inggris. Nama blognya 3GWeek.

    Dengan pekerjaan sehari-hari sebagai wartawan dan redaktur waktu itu, saya berusaha menemukan waktu untuk menulis. Paling tidak sekali seminggu harus ada posting baru.

    …saya mulai merasa pekerjaan sudah mulai mengganggu kegiatan ngeblog saya…

    Dan ketika ada tawaran menulis blogpost di salah satu portal teknologi terkemuka, CNET Asia, dan tawaran jadi guest editor di SlashPhone, saya mulai merasa pekerjaan sudah mulai mengganggu kegiatan ngeblog saya hehehe, maka mulailah saya berpikir untuk berhenti jadi wartawan dan hanya fokus jadi blogger dengan menulis di beberapa situs tersebut.

    Bulan Maret 2007, saya mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai wartawan Tempo…

    Lalu Anda membuat Asia Blogging Network (ABN) yang waktu itu juga sempat ramai. Ide awalnya bagaimana?
    Idenya adalah di mana para blogger bisa ngeblog sesuai passion-nya, saya menyediakan platformnya . Saya bikin sejumlah channel dan topik. Dari sisi pembaca, mereka bisa menikmati blog ABN dengan memilih topik dari channel yang ada.

    Tapi tak lama kemudian berhenti?
    Pada awalnya, pendekatan ini lumayan jalan, paling tidak terlihat dari jumlah pageviews yang terus berkembang walaupun tidak spektakuler. Sejumlah brand besar seperti Microsoft, Cisco Systems, Garuda Indonesia, tertarik melakukan campaign untuk audience ABN. Saya inginnya melakukan sindikasi content ABN ke mereka. Jadi idenya, saya tidak ingin ABN hanya sekadar jual iklan, tapi juga content.

    Tapi sayang, waktu itu belum banyak layanan, distribution channel, yang butuh content seperti sekarang. Sementara saya mendapat tawaran lain yang cukup menantang waktu itu, saya memutuskan untuk mengambilnya. Jadi ABN hiatus sampai sekarang. Apa boleh buat, yang namanya kesempatan tidak bisa dipertukarkan, jadi harus memilih.

    …saat saya berhenti jadi wartawan, tak berarti saya merasa gagal jadi wartawan. Begitu pula saat berhenti jadi blogger full-time, tak berarti saya merasa gagal. Tapi semua itu adalah bagian dari strategi untuk karir saya ke depan

    Lalu setelah itu Anda berkiprah di beberapa perusahaan seperti Yahoo, Viki, dan sekarang di The Jakarta Post ya? Apa anda merasa gagal menjadi blogger sehingga kembali bekerja ‘ikut orang’, Mas?
    Begini, saat saya berhenti jadi wartawan, tak berarti saya merasa gagal jadi wartawan. Begitu pula saat berhenti jadi blogger full-time, tak berarti saya merasa gagal. Tapi semua itu adalah bagian dari strategi untuk karir saya ke depan. Setelah dua tahun jadi blogger full-time, sempat menjalankan bisnis jaringan blog, mulai mengerti operasional perusahaan, dan mulai memahami komunitas online, mendorong saya untuk menambah skill yang lainnya –khususnya editorial dan product management– dengan menerima tantangan berikutnya.

    Jadi dari portofolio, Alhamdulillah pengalaman saya cukup beragam alias “paket lengkap”: pernah belajar jurnalistik (Tempo), blogger, enterpreneur (ABN), multinasional / giant company (Yahoo), startup (Viki) dan sekarang punya kesempatan untuk mempraktikkan semua itu ketika mendirikan dan memimpin The Jakarta Post Digital (perusahaan baru yang didirikan the Jakarta Post untuk menjalankan bisnis yang terkait digital, online dan mobile).

    Wah, jadi anda nggak cuma jadi CEO tapi juga ikut mendirikan The Jakarta Post Digital?
    Iya, benar. Salah satu pendiri.

    Ngomong-ngomong, apakah Anda masih ngeblog?
    Masih dong. Blogging memang passion bagi saya. Di tengah kesibukan pekerjaan yang sekarang, saya tetap ngeblog reguler di blog saya: budiputra.com. Untungnya cukup banyak guest blogger, terutama dari luar, yang ikut meramaikan content budiputra.com saat ini. Seru aja.

    Dalam pandanganmu, dunia online tanah air lima tahun ke depan itu kira-kira akan seperti apa dan peran blogger yang mas harapkan dalam perkembangan itu seperti apa?
    Presiden MPAA (Motion Picture Association of America), Chris Dodd pernah bilang: “Simply put, it doesn’t matter how great a piece of technology you have invented, or how innovative a distribution platform you have created. You must have content.”?Jadi tetaplah menciptakan content. Itulah sebabnya saya sering bilang, kegiatan blogging — yang intinya menciptakan content — akan tetap relevan. Sampai kapan pun…Trust me.

  • Herman Saksono: Kemerdekaan berpendapat di Indonesia masih rapuh?

    Herman Saksono: Kemerdekaan berpendapat di Indonesia masih rapuh?

    Jauh sebelum kebebasan berpendapat dan bersuara di internet menjadi pergunjingan di linimasa dan dirilis besar-besaran di mainstream media seperti sekarang ini, blogger Jogja, Herman Saksono telah menjadi ‘studi kasus’ yang cukup mengundang gempita pada 2005 silam.

    Semuanya berawal dari postingannya yang mengunggah foto pria mirip Susilo Bambang Yudhoyono yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia berpelukan dengan orang mirip Bambang Triatmodjo, anak penguasa Orde Baru, Soeharto. Hal itu lantas berbuntut pada peringkusan dirinya oleh pihak yang berwajib, ditahan di kantor Kepolisian Daerah Yogyakarta lalu dipindah ke kantor Kepolisian Resort Kota Yogyakarta meski sekian waktu kemudian ia dikeluarkan dan ‘kasusnya’ menguap begitu saja.

    Ketika kasusnya beredar, nama Herman Saksono marak dibicarakan di banyak forum diskusi dan postingan blog. Aku tak bisa membayangkan kalau saja waktu itu riuh social media sudah seramai sekarang, kasus-kasus seperti Prita dan yang terbaru Benhan (Benny Handoko) mungkin kalah seru karena ‘yang dimainkan’ Herman adalah sosok yang duduk di tahta tertinggi negeri ini, presiden.

    Aku menganggap penting moment tersebut dalam kaitannya dengan ‘sejarah’ dunia blog Indonesia oleh karenanya ketika menyiapkan serangkaian interview dalam rangka Hari Blog Nasional ini aku mengejar Herman Saksono yang saat ini sedang menyelesaikan studi S2 nya di Amerika Serikat.

    Bagaimana kamu bisa bikin postingan bersejarah yang akhirnya membuat kamu ditangkap polisi waktu itu?
    Awalnya ada kehebohan beredarnya foto mirip Mayangsari berpakaian dalam dan berciuman dengan pria mirip Bambang Triatmodjo. Kemudian saya mikir, bagaimana ya merespon kejadian ini dengan beda dan lucu.. maka lahirlah postingan “itu”.

    Berapa lama kamu bikin postingan berikut dengan foto-foto yang diedit itu?
    Bikinnya cuma satu jam. Proses edit dengan photoshopnya juga kasar, karena intinya memang bukan membuat berita palsu, tapi membuat bercandaan dari kehebohan massa atas foto ‘Mayangsari’ tersebut.

    Di negara-negara demokratis, bercanda dengan mem-photoshop kepala negara adalah sesuatu yang lazim.

    Tapi kenapa topiknya SBY?
    Topiknya bukan SBY tapi foto Mayangsari. SBY hanya satu dari tokoh-tokoh nasional yang muncul di postingan itu seperti Surya Paloh, Yusril Ihza Mahendra, Rhoma Irama, dan Armand Maulana. SBY adalah selebriti yang secara alamiah layak muncul karena dia presiden. Di negara-negara demokratis, bercanda dengan mem-photoshop kepala negara adalah sesuatu yang lazim.

    Kalo begitu kenapa anda ditangkap? Bagaimana kronologinya?
    Pada malam sebelum hari ‘H’, bos saya menelpon. Dia bilang Roy Suryo (sekarang Menpora –red) memberi tahu kalau saya diincar polisi terkait postingan blog. Saya kaget dan bingung. Belakangan saya tahu kalau mencemarkan presiden itu delik biasa di KUHP. Untunglah pasal itu sudah dicabut Mahkamah Konstitusi.

    Lalu?
    Sekitar jam 12 siang hari berikutnya, polisi berpakaian preman datang ‘mengambil’ saya. Saya langsung bisik-bisik ke Tika (pemilik blog tikabanget.com, rekan kerja Herman Saksono –red) yang mejanya sebelahan dengan saya supaya mengabari ibu saya.

    Setelah itu saya dibawa ke Polda DIY. Orang tua saya lantas dipanggil oleh Kapolda. Dia minta orang tua saya untuk membimbing saya dan membujuk supaya tulisan di blog dihapus. Jawaban orang tua saya, “Lha justru bimbingan kami itu hasilnya seperti itu.” Pokoknya pada saat itu saya bersikeras bahwa menerbitkan tulisan itu adalah bagian dari hak warganegara untuk berekspresi. Lagipula SBY juga tidak menuntut saya.

    Kemudian saya dibawa ke Poltabes Yogyakarta di Ngampilan. Di sana saya ditunjukkan pasal KUHP bahwa mencemarkan lambang negara, termasuk presiden, adalah tindakan pidana tanpa presiden harus menuntut. Saya terkejut. Ternyata setelah reformasi 98, Indonesia tidak seperti yang saya kira, kemerdekaan berpendapat itu masih rapuh di sini.

    Ini menggambarkan betapa mudahnya pasal karet KUHP (pasal pencemaran nama baik) dipakai untuk memberangus orang, terutama mereka yang kritis.

    Lalu proses hukumnya gimana? Sampai ke pengadilan?
    Kasusnya tidak dilanjutkan mungkin karena banyak pihak merasa kasus ini tidak penting. Tidak layak dilanjutkan.

    Saya juga merasa kasus ini gak penting. Bagi saya yang lebih penting adalah: mengapa kasus gak penting bisa membuat orang biasa seperti saya saya diciduk, diinterogasi di kepolisian, kemudian di-BAP berjam-jam. Ini menggambarkan betapa mudahnya pasal karet KUHP (pasal pencemaran nama baik) dipakai untuk memberangus orang, terutama mereka yang kritis. Ini parah. Pasal karet itu memindahkan beban pembuktian ke tersangka.

    Di penjelasan sebelum ini kamu bilang bahwa kamu diminta untuk menghapus postingan tapi kamu bersikeras bahwa menerbitkan tulisan itu adalah bagian dari hak warganegara untuk berekspresi tapi ketika kucoba untuk browse ke postingan itu, tampaknya sudah tak ada. Kenapa akhirnya postingan itu kamu hapus?
    Untuk kali ini aku tak bisa menjawabnya tapi yang pasti pada akhirnya memang postingan itu saya hapus.

  • Sam Ardi: Berita di TV saja, kalau mau iklan bilang-bilang kok!

    Sam Ardi: Berita di TV saja, kalau mau iklan bilang-bilang kok!

    Masalah yang paling mendasar ketika kita mencoba mengingat dan menuliskan sejarah adalah ketika kita harus melakukan penelitian dan memutuskan menurut kita, siapa yang menjadi pertama melakukan ini dan itu ketimbang lainnya.

    Lalu, biasanya, orang buru-buru mengklaim dirinya yang lebih dulu melakukan. Di saat yang bersamaan, pihak lain akan bilang bahwa dialah yang jadi pemula bukan yang satunya bukan yang lainnya. Akhirnya sejarah punya banyak cabang tergantung siapa yang menuliskan dan siapa pula yang mempercayainya.

    Suatu waktu pernah aku bertanya di lini masa, siapa blogger termula-mula di Indonesia? Yang menjawab waktu itu ada beberapa. Mulai dengan menunjuk dirinya sendiri dan ada pula yang merefer ke orang lainnya.?Lalu munculah nama Sam Ardi, demikian aku memanggilnya. Ia, ditunjuk kawan lain sebagai blogger termula-mula di negeri ini, sekitar akhir 1999.

    Tentu ini bukan data yang sahih karena dengan mudah orang lain bisa menyanggah ngeblog sejak sebelum itu meski definisi blog itu sendiri seperti apa, entahlah.?Tapi bagiku, ya Sam Ardilah orangnya! Terlebih ketika melihat situs webnya, http://samardi.wordpress.com/, kutemui arsip tertua memang benar-benar dari tahun 1999 meski tentu itu adalah hasil migrasi dari blog sebelumnya karena WordPress belumlah muncul waktu itu.

    Pria asal kota Malang yang sehari-harinya bergelut dengan banyak persoalan di ranah cybercrime ini menyaguhi wawancara yang telah kusetup sejak lama sebenarnya dan berikut petikannya.

    Kapan kamu ngeblog pertama kali?
    Seingatku sekitar akhir 1999.

    Bagaimana awalnya kamu tertarik ngeblog?
    Aku dulu sering nulis diary. Lalu teman bilang ada diary, tapi ‘memakai’ internet. Setelah diberi tahu, aku jadi tertarik tapi karena dulu aku gaptek, aku minta dibuatkan.

    Sampai sekarang kamu masih ngeblog?
    Masih. Ini alamat blogku, http://samardi.wordpress.com/

    Sam, kamu menyangka nggak kalau blog dan blogger akhirnya ‘pernah’ ngetop dan begitu berarti dalam sejarah sosial media di Tanah Air?
    Kalau menyangka bahwa blog pernah ngetop sih enggak. Dulu yang bikin blog masih sangat sedikit itupun tergantung koneksi internet yang tak sebagus sekarang.

    ‘…ngiklan yang ngiklan tapi tampilkanlah secara beretika, jangan menyusupkan iklan di sela-sela informasi lainnya’

    Tanggapanmu tentang ‘perjalanan’ blog di Indonesia sendiri bagaimana?
    Awalnya dulu kan orang ngeblog karena ingin menuliskan sesuatu baik yang bersifat pribadi (seperti diary) maupun informasi yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti hasil ngoprek kompi, resep masakan, sampai resensi buku. Dengan kata lain, niatnya adalah memang karena ingin berbagi tanpa diselubungi kepentingan sponsor.

    Lalu?
    Tapi akhir-akhir ini kok aku melihatnya ada perubahan orientasi dalam hal itu. Tapi entah juga, aku yang salah tangkap terhadap fenomena-akhir-akhir ini disbanding awal-awal booming blog dulu. Sebagai contoh, ada yang ingin mencari duit dari blog dan dengan motivasi itu tanpa menyadari bagaimana cara yang apik dan elegan kadang tindakannya menimbulkan ketidaknyamanan, menurutku, secara niat mungkin ngga bisa disalahkan ya namanya juga nyari rejeki, karena niat awalnya emang sudah nyari duit jadinya money oriented. Cara-cara yang ditempuh juga-walaupun ini kasuistis-menurutku nggak begitu “apik”, seperti misalnya dengan jalan membanjiri search engine dengan berbagai keyword gak jelas…atau bahkan mengirimkan spam di kolom komentar blog orang lain.

    Tapi kan itu menurutku ‘resiko peradaban’ artinya blog dilahirkan juga awalnya bukan untuk diary semua orang tapi untuk programmer saja, bukankah itu hal yang wajar? Dimana masalahnya?
    Wajar, karena seiring dengan perkembangan peradaban, karena perkembangan peradaban bisa saja orientasi konten beralih ke orientasi uang melulu. Peradaban itu kan berkembang dari pola pikir, jadi masalah pergeseran pola piker sebenarnya.

    Tapi yang pasti semua ada sopan-santunnya. Dalam hal blog ‘berduit’ (blog berbayar) misalnya, ngiklan yang ngiklan tapi tampilkanlah secara beretika, jangan menyusupkan iklan di sela-sela informasi lainnya. Berita di TV aja kalau mau iklan, presenternya bilang “Kami akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini!” Termasuk pada microblogging juga lho ya! Gitu lho!

    OK, sabar… sabar… lalu menurutmu blog yang ideal itu seperti apa dan bagaimana?
    Blog yang ideal itu ya blog yang sesuai dengan idealisme pemiliknya dan konsisten dengan tujuan awal dia ngeblog.

    kapan blog-blog yang lama dianggurkan itu diupdate lagi! Jadi ngeblog itu bukan sekedar booking dan majang link saja tanpa mengupdatenya…

    Lalu apa yang kamu harapkan dari blog dan blogger dalam gerakan social media ke depan di tanah air?
    Banyak sebenarnya. Misalnya produksi konten yang positif untuk “menutup” atau “menimbun” konten yang jelas-jelas negatif bahkan melanggar perundang-undangan. Memberikan informasi dan pencerahan kepada masyarakat pengguna internet di Indonesia, ketika media mainstream terlalu lelah untuk memberitakannya. Karena terlalu penting untuk memasrahkan informasi kepada media mainstream ?. Tetapi yang sangat-sangat aku harapkan adalah…. kapan blog-blog yang lama dianggurkan itu diupdate lagi! Jadi ngeblog itu bukan sekedar booking dan majang link saja tanpa mengupdatenya,

    Sekarang yang menyangkut hukum kan kamu berasal dari ranah itu ya? bagaimana pendapatmu tentang UU ITE terutama pasal 27 terkait dengan kebebasan berpendapat termasuk ngeblog?
    Pasal 27 ayat 3 UU ITE maksudnya?

    Yup!
    Menurutku Pasal 27 ayat 3 UU ITE, terutama sanksinya pidananya , sangat berlebihan dan tidak harmonis dengan KUHP. Aku jadi bertanya-tanya ini yang menyusun pasal 27 ayat 3 UU ITE mengerti hukum pidana atau tidak atau jangan-jangan orang dengan background hukum perdata malah membuat ketentuan yang seharusnya menjadi wilayah orang yang berlatar belakang hukum pidana. Pasal ini jelas mengandung masalah yuridis, karena di KUHP kalibernya berbeda soal ketentuan pidananya.

    Dalam praktik beberapa waktu yang lalu ada masalah penerapan pasal ini, seperti kasus Prita Mulyasari misalnya Bagaimana mungkin orang yang curhat malah dipidana? Curhat itukan termasuk kebebasan seseorang untuk mengeluarkan uneg-unegnya, apalagi prita curhat ke teman-teman pribadinya melalui email yang sifatnya privat! Mungkin muncul perntanyaan bagaimana dengan email yang tersebar atau disebarkan orang lain? Ya yang digrebek yang nyebarin dong!

    Tapi dari sisi yang lain, kan ga fair kalau kebebasan berpendapat itu tak dibatasi, Sam?
    Kita punya UUD 1945, dan aku rasa disana sudah ada pembatasan Tidak ada yang tidak terbatas, pasti ada batasannya Lalu bagaimana rujukannya? Ya kita merujuk apa yang telah disepakati bersama, yaitu UUD 1945.

    Jadi menurutmu orang2 kayak prita, herman saksono yang dulu pernah nampilin foto mirip SBY itu bisa dibenarkan?
    Prita jelas bisa dibenarkan, dan soal Herman Saksono dulu kan setahuku, SBY sendiri tidak mempermasalahkan.

    Kamu punya blog favorit?
    Dulu ada. Paman Tyo dengan blogombal-nya?

  • Enda: RS tak tahu sama sekali tentang apa yang ia katakan?

    Enda: RS tak tahu sama sekali tentang apa yang ia katakan?

    Bicara soal perjalanan sejarah blog Indonesia, sepertinya susah kalau tak ikut melibatkan sosok Enda Nasution ke dalamnya.?Pria lulusan ITB ini adalah Bapak Blog Indonesia. Meski mungkin agak rancu kenapa dan sejak kapan blog dikelompokkan per negara dan kenapa bapak dan bukan Ibu Blog Indonesia?

    Tapi bagiku itu semua tak penting (termasuk berbagai friksi yang beredar tentang dirinya di kancah dunia maya Indonesia) karena perjalanan sejarah dan kesepakatan awam membuktikan bahwa Enda memang Bapak Blog Indonesia.?Sepulang dari merantau, 2007, lagi-lagi ia menggebrak dengan Pesta Blogger I dan di situ pula akhirnya istilah Hari Blog Nasional diperkenalkan.

    Untuk itulah, ketika aku memikirkan untuk membuat serial interview ini, Enda adalah orang yang paling kuincar untuk kuwawancarai pertama-tama. Pertaruhanku waktu itu, tanpa mengecilkan arti nara sumber yang lain, ?Kalau Enda nggak dapet, mending batal nulis serial ini!’

    Dan, here we go, aku mendapatkan apa yang kuinginkan dan sekarang saatnya membagikannya kepada kalian. Selamat menikmati, semoga nikmat!

    Kamu ngeblog mulai kapan trus motivasi awalnya gimana?
    Tahun 2001. Awalnya karena aku gemar nulis sejak kecil dan sejak pertengahan 90an mulai tertarik internet. Kedua minat itu digabung dengan klop dalam blog.

    Pada beberapa online presence yang kutemui tentangmu, selalu ada istilah extraordinaire blogger melekat di sana?
    Sebenarnya niat awalnya nggak serius, but it sounds good jadi kupakai sebagai deskripsi jenis blogger seperti apa aku ini.

    Kalau tentang predikat Bapak Blogger Indonesia?
    Hahahaha itu bencandaan juga.
    Ada beberapa teman blogger menuliskan demikian karena awal 2000an dulu aku pernah menuliskan “Panduan Memiliki Blog Untuk Orang Biasa” (sayang, linknya sudah tak bisa ditemukan lagi -red), karena saat itu blog jauh berbeda dari sekarang. Image dan aset lain belum di-host, bahkan commenting system belum menyatu dengan platform dan harus didatangkan dari 3rd party service dan ini membuat teman-teman yang bukan dari sisi teknis agak kesulitan.

    Julukan itu juga muncul karena tulisanku yang lainnya yang mencoba menjelaskan “Apa itu blog” sering dikutip dan dijadikan referensi bagi media. Dari situ mereka mulai menganggapku sebagai Bapak Blogger Indonesia.

    Ada banyak pihak yang mencoba menggunakan julukan itu untuk mencoba mengaturku mana yang boleh dan gak boleh dilakukan. ?Masa bapak blogger begini, begitu dll!?

    Dan tanggapanmu soal itu gimana??Berlebihan? Pas? Menguntungkan atau merugikan?
    Julukan kan sebenarnya muncul untuk menyingkat penjelasan panjang, jadi dari sisi itu bermanfaat, karena aku ngga perlu menjelaskan panjang lebar tentang diri sendiri di berbagai kesempatan.?Tapi kadang merugikan juga! Ada banyak pihak yang mencoba menggunakan julukan itu untuk mencoba mengaturku mana yang boleh dan gak boleh dilakukan.?“Masa bapak blogger begini, begitu dll!” Aku sendiri tidak terlalu mempedulikan julukan dan tidak mau terperangkap dalam julukan juga.

    Enda, kamu seolah juga tak bisa lepas dari ‘seteru’ dengan RS, sebut saja demikian. Kalau tak salah ingat dulu pernah kamu dituduh olehnya sebagai hacker tapi kamu tampak tak bergeming. Sebenernya apa yang kamu pikirkan saat itu dan bagaimana pendapatmu tentang dia?
    Hueheuehe secara pribadi aku ga ada masalah dengan RS.
    Waktu itu pernah memang aku dituduh sebagai dalang aksi hacking ke beberapa situs pemerintah. Nah, hal ini menarik karena sebenarnya tuduhan itu berasal dari kesembronoan RS yang mengelompokkan blogger dan hacker dalam satu kantong.?Aku sempat kaget juga dan pernah berpikir untuk membawanya ke pengadilan sebagai kasus pencemaran nama baik. Tapi sayang, ketika kucoba kukonfirmasikan ke media, mereka malah nggak bisa mendapatkan bukti konfirmasi dari RS dan masalah berhenti ketika permintaanku terhadap media untuk meralat beritanya dipenuhi.

    Sekembalinya kamu dari Thailand sekitar 2007, kamu membuat gebrakan Pesta Blogger. Ide awalnya bagaimana?
    Ide awal Pesta Blogger itu bukan dariku tapi dari kawan-kawan di Maverick PR.?Mereka lantas mengundang beberapa blogger yang cukup dikenal dan berkenan menjadi bagian dari steering committe dan aku didaulat sebagai chairman-nya.

    Nah, kupikir ide itu bagus sekali dan memberi ruang untuk kemajuan dunia maya Indonesia, karena bayangkan, tahun 2007 itu kita belum kenal facebook, twitter dan social media bukan sebuah istilah yang mengemuka, maka aku terima tanggung jawab itu.

    Tapi ada yang mau kutambahkan di sini, ada banyak kesalahpahaman seolah-olah ada semacam asosiasi blogger Indonesia yg mengadakan Pesta Blogger, padahal pada dasarnya ya Pesta Blogger itu hanyalah event yang mengajak komunitas-komunitas blogger yang ada, dan waktu itu memang lagi rame-ramenya untuk turut partisipasi.

    Lalu mengenai ide hari blogger nasional itu sendiri bagaimana awal mulanya kok bisa dicanangkan tepat pada Pesta Blogger I, 2007 silam?
    Untuk hari blogger nasional, aku secara khusus pernah menuliskan juga sejarahnya di sini.

    Singkatnya, waktu itu memang kita tidak merencanakan tapi diumumkan oleh Pak Nuh dalam kapasitasnya sebagai Menkominfo waktu itu dan hadir dalam Pesta Blogger I. Pada sambutannya, beliau mengutarakan tentang Hari Blog Nasional jadi ya di deklarasikan saja…

    Teknologi kan sekali digunakan tidak bisa ditarik kembali.

    Sekarang dengan semakin riuhnya dunia social media, blogger dan blognya seolah tenggelam. Aku jadi teringat apa yang dikatakan RS tentang ‘Blog adalah trend sesaat’ dan waktu itu banyak kawan (aku tak tau kamu ikutan juga atau nggak) menentang pendapatnya. Tapi sekarang dengan semakin surutnya dinamika blog, apakah menurutmu pendapat RS itu benar?
    Waktu itu RS menganalogikan trend sesaat itu seolah menyamakan blog sama seperti radio amatir, pernah ngetrend tapi kemudian hilang. Menurutku ini lucu sekali dan menunjukkan bahwa RS tak tahu sama sekali tentang apa yang dia katakan.

    Menurutku, blog sebagai bagian dari teknologi yang memungkinkan orang dengan mudah mempublish apapun ke internet justru lagi ramai-ramainya, dengan orang memposting berita cepat, foto, video via microblogging platform, twitter, facebook status update dan lain sebagainya.

    Analogi yg tepat untuk menggambarkan kelahiran blog adalah seperti kelahiran medium publishing lainnya, buku (print), radio, film, tv, sekali dipublish maka menjadi bagian dari kekayaan peradaban manusia dan punya impact besar serta mengubah jalannya sejarah.

    Teknologi kan sekali digunakan tidak bisa ditarik kembali.

    Tapi kan kenyataannya memang banyak blogger lama tumbang?
    Benar! Banyak blogger-blogger yang di tahun 2007 ikut Pesta Blogger yang sudah tidak aktif lagi atau bahkan meninggalkan blognya.?Tapi sebenarnya person-person itu tidak kemudian hilang sama sekali. Mereka bisa ditemukan di twitter atau facebook.

    Memang ada prediksiku yang salah di tahun 2007.
    Saat itu aku bilang suatu waktu semua orang akan punya blognya sendiri-sendiri, tapi ini tak terjadi meski muncul dalam bentuk lain karena pengguna internet indonesia saat ini hampir rata-rata memiliki akun facebook maupun twitter.?Di sisi lain, aku juga melihat dan temukan banyak anak muda baik itu SMA dan kuliahan yang baru memiliki blog dan keep a blog, dan bagus-bagus! Ini kan satu indikator lagi bahwa bahkan kalau kita artikan dalam makna yang paling sederhana sekalipun, blog sebagai blog, tetap aja, ia bukan tren sesaat.

  • Bodoh? Ngeblog!

    Bodoh? Ngeblog!

    Orang bodoh yang lamban sebaiknya ngeblog! Tunggu.. jangan emosi dulu.. sebelum kita masuk ke bahasan itu, mari kita amati hal-hal berikut ini…

    Salah satu hal yang paling menjengkelkan ketika membaca berita online adalah menemui sebuah berita yang judulnya bombastis tapi isinya hanya mengutip dari isi tweet sana-sini. Aku membayangkan seorang reporter yang malas beranjak dari kursi, membuka twitter lalu mengobrak-abrik lini masa, mengkopi tweet-tweet yang menurutnya mampu membangun berita dan… voila.. jadilah satu berita!

    Sama menggelikannya ketika melihat tayangan berita di televisi, presenter membacakan pembukaan berita dengan sangat serius lalu ketika tiba pada tayangan detail isi berita, yang muncul adalah video kiriman orang lain yang diambil dari Youtube.

    Yang juga menjengkelkan meski level kejengkelannya barangkali lebih enteng ketimbang yang di atas adalah ketika melihat seorang what-so-called budayawan yang sebenarnya tak terlalu ngetop lagi tapi karena sering ngetweet dan menurut followernya menarik nan nyleneh lalu diundang jadi nara sumber di sebuah acara talk show televisi.

    Barangkali satu-satunya hal yang tidak menjengkelkan dan malah kusyukuri adalah ketika ada begitu banyak kawan buzzer yang kian makmur nan jaya, pertanda rejeki atau biar agamis kusebut sebagai rizki dari Yang Di Atas memancar luar biasa…Amin!

    Lalu dimana para blogger berada?
    Entah barangkali terlewat, tapi aku merasa tak pernah melihat atau membaca berita yang kutipannya mengambil dari blog seseorang meski aku sering mendengar kabar ada beberapa buku yang konon isinya disadur dari blog seseorang tanpa ijin.

    Tak juga datang waktu dimana ada seorang kawan blogger datang ke studio televisi menjadi nara sumber sebuah talk show meski hal yang masih melegakan adalah ketika ada sebuah acara milik korporasi besar mengundang beberapa blogger untuk dimintai pendapatnya tentang satu dan beberapa hal. Terlepas dari mereka itu sebenarnya blogger aktif atau mantan blogger ya aku bangga saja…

    Atau ketika ada acara kumpul-kumpul blogger… ya menyenangkanlah pokoknya karena mereka seolah benar-benar berkumpul untuk membahas sesuatu yang besar dan berguna bagi umat manusia soalnya…

    Hey Donny, lalu dimana para blogger berada???!??
    Wait-wait… aku jadi teringat lebih dari setahun lalu ketika seorang kawan wanita di jendela chat mengemukakan, “Harus kuakui blog sekarang bukan lagi trend maka kita harus move on, Mas!” Aku membayangkan dia adalah seorang fast runner yang berada di lintasan lari, berkeringat dan bahkan untuk minum pun tak sempat berhenti melainkan mengeyot sedotan sambil terus berlari, matanya menatap ke depan penuh optimisme dan percaya diri.

    Dan kita kebanyakan memang seperti itu.
    Hidup adalah sesuatu yang dimeniti, seolah kita berlari di lintasan dengan sosok pelatih yang mengawasi di pinggir sambil memegang stop watch dan pada saat seperti itu blog memang sudah tak relevan lagi untuk dibaca apalagi diisi. Orang pintar bisa bilang, “Loh tapi twitter kan blog juga.. micro-blog!” Benar sih, seperti halnya mie instant juga bisa dibilang mie itu sendiri, kan? :)

    Blog tak nyaman dinikmati di dalam kemacetan lalu lintas yang kita hadapi setiap pagi dan sore melalui gesture gerakan jari menggerakkan layar sentuh gadget kita karena terlalu panjang untuk dibaca apalagi ditelaah sementara ketika kita sampai di kantor dengan akses melalui laptop/komputer, kita langsung bekerja dan tak sempat lagi untuk sekadar blogwalking apalagi meng-update blog.

    “Loh tapi twitter kan blog juga.. micro-blog!” Benar sih, seperti halnya mie instant juga bisa dibilang mie itu sendiri, kan? :)

    Berbeda dengan twitter.
    Istilah kata, mau membaca ‘isi’ dunia, semudah menscroll ke atas ke bawah, membaca sekilas, kalau perlu mengklik link penjelasan, kalau tak perlu ya sudah tinggal teruskan skroll men-skroll selanjutnya. Mau berkontribusi juga tak perlu menyendiri mencari wangsit seperti halnya kita memposting di blog. Tinggal merangkum apa yang sedang ada di benak, ketikkan dengan ujung ibu jari melalui layar sentuh, pastikan semuanya tercakup di bawah 140 karakter lalu send.. selesai.

    Apes-apesnya paling masuk penjara karena tweet kita menyakiti hati orang tapi tak mengapa, paling semalam begitu keluar langsung jadi maskot korban yang tertindas, diundang sana sini, mendapatkan honor syukur-syukur ditawari partai politik untuk menjadi caleg karena peran ke-terkorbanan-nya itu tadi…

    Di satu sisi, beberapa suara menyepakati bahwa blog adalah pintu masuk orang ketika tertarik dalam industri social media. Dan layaknya pintu masuk, ia kita cari ketika kita masih di luar, kita ketuk ketika kita minta masuk, dan ketika berhasil masuk (entah dibukakan pintu atau mendobrak) ia kita pantati dan tak perlu lagi kita menatapnya karena kenyamanan kita mereguk untung di industri ini.

    Orang dulu beramai-ramai ngeblog. Melalui postingan-postingan yang cerdas mereka dipuji dan ditinggikan. Ketika sudah ‘semakin tinggi’, mereka menggapai hal-hal lain di luar blog dan akhirnya pada kesempatan-kesempatan yang langka seperti misalnya pada peringatan hari blog nasional seperti kemarin, mereka tersadar sudah semakin jauhnya mereka terhadap masa lalu yang bernama blog yang membuat mereka mengenal dan mengenyam semua ini?

    “Makanya, Mas.. Move on!” Tetiba bayangan kawan wanita tadi muncul lagi mengucapkan kata itu. Ia masih berlari dan berkeringat di lintasan sementara aku duduk tercenung mengamatinya seperti orang bodoh sambil mengharapkan dan berdoa listrik mati mendadak dan mesin threadmill yang ia pakai sebagai lintasan lari ikutan mati dan ia tersadar bahwa sejatinya, ia yang merasa sok lari cepat dan move on sebenarnya hanyalah lari di tempat dan tak pernah beranjak dari kekerdilannya sendiri.

    Anyway, selamat hari blog nasional yang ke-enam! Semoga Tuhan semakin membuat kita pintar!