Kategori: Gugus Sepuluh

  • Gugus Sepuluh ? Kejadian-kejadian 2017

    Gugus Sepuluh ? Kejadian-kejadian 2017

    Ada begitu banyak kejadian penting terjadi di tahun 2017 ini. Parameter ?banyak? kudapat setelah aku kesulitan untuk menggugus sepuluh kejadian paling penting di antara yang penting terjadinya lainnya.?

    Tanpa perlu banyak ber-ba-bi-bu lagi, gugus sepuluh kejadian tahun 2017 adalah sebagai berikut:

    Ahok!

    Ahok kalah Pilkada, Ahok dipenjara!

    Lebih dari tiga ribu ?anak bangsa? berkumpul di sekitar Sydney Opera House – Botanical Garden pada minggu sore 14 Mei 2017 silam. Kami menyerukan keprihatinan bukan karena kekalahan Ahok tapi karena ia dipenjara untuk kasus penodaan agama.

    Foto rally ‘Justice for Ahok’ di Sydney

    Kejadian ini kurekam dalam tulisan bertajuk Dua ribu anak bangsa mendobrak lantai surga yang disebarluaskan lebih dari lima ribu kali di social media. Tulisan itu memicu setidaknya dua media mainstream nasional memberitakan peristiwa tersebut.

    Mereka dari Liputan6 dan Detik.

    Tentang restaurant Indonesia itu?

    Kejadian ?Ahok? tak berhenti di acara kumpul-kumpul di atas. Ada implikasi ?unik? yang bergulir dari sana. Sebuah warung makan masakan Indonesia ikut masuk dalam pusaran persoalan. Pemiliknya konon melakukan ujaran kebencian lewat akun social medianya mengenai titik sensitivitas suku dan agama. Hal ini berdampak pada naiknya tensi pembicaraan baik di social media maupun di offline community orang-orang Indonesia di sini.

    Begitu banyak orang membalas dengan hujatan terhadap pemilik warung melalui apa saja yang membuat semua berlangsung begitu monoton. Hingga akhirnya aku tertarik untuk mencari angle berbeda dari kasus ini. Aku menerbitkan tulisanku tentang bagaimana seorang Hendra Ong datang berkunjung ke resturant itu, makan dan memaafkan si pemilik warung.

    Tulisan itu dibaca begitu banyak orang. Akupun jadi bahan pergunjingan. Dihujat karena dianggap membela pemilik warung meski tak sedikit pula orang yang mengerti bagaimana caraku berpikir dan beropini; mereka menganggap apa yang dilakukan Hendra dan kutulis adalah sesuatu yang wajar karena kalau kebencian dilawan dengan kebencian, apakah mampu meninggalkan cinta bagi yang saling melawan?

    Tulisan terkait:

    NKRI OZ

    Tak berhenti di persoalan di atas, kejadian ?Ahok? berimbas hingga beberapa bulan sesudah kejadian tapi kali ini positif.

    Sekelompok anak muda, aku termasuk di dalamnya, kami mendirikan sebuah organisasi nirlaba, NKRI OZ. Organisasi ini mendapat legalitas dari pemerintah Australia.

    Mengenai hal dan tujuan, bisa kalian lihat di situs web kami. Salah satu acara yang telah berhasil kami laksanakan adalah sebuah diskusi kebangsaan pada November 2017 yang membicarakan bagaimana keadaan Indonesia di tahun 2019 mendatang ditinjau dari sisi akademis dua narasumber yang kami hadirkan saat itu.

    Ke depannya, NKRI OZ akan lebih bergerak ke sosial kemasyarakatan karena kami merasa tak semuanya yang berbau keindonesiaan harus dibaca dalam kacamata politik. Indonesia terlalu sempit untuk diartikulasikan secara politik saja, kan?

    Tulisan terkait ada di sini. ?Oh ya, acara diskusi kebangsaan kami diliput oleh banyak media di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah di Tempo, JPNN dan Liputan6.

    Easydoku

    Setelah di tahun 2016 aku beserta Teddy dan Kunto mendirikan Dokudoku, situs portal informasi bidang keuangan, tahun 2017 ini kami merilis produk fintech, Easydoku namanya. Baik easydoku maupun dokudoku, keduanya bernaung di bawah payung perusahaan yang kami bentuk, PT Jalin Nusa Oceania.

    Easydoku adalah solusi keuangan digital yang arah pemasarannya unik, dijalankan dengan sistem jaringan (meski bukan MLM), diarahkan ke daerah-daerah serta luar Pulau Jawa.

    Oh ya, PT Jalin Nusa Oceania tak lagi hanya digawangi kami bertiga karena Antonius Budhi Kristiawan (Abe), kakak kelas kami di SMA Kolese De Britto kami ajak untuk berjuang bersama.

    Tulisan tentang rilis Easydoku berupa ?surat terbuka untuk Jokowi? itu bisa kalian baca di sini.

    Romo Ardi meninggal dunia

    Romo AM Ardi Handojoseno, SJ meninggal dunia pada 8 April 2017 setelah terkena serangan jantung saat berolahraga sore di Girisonta, Semarang.?Kematiannya yang begitu mendadak membuat kedukaan tertarik begitu panjang.

    Aku kenal dekat dengan beliau selama ia belajar di Sydney, Australia. Malah pada Natal tahun 2014 silam, aku diajak bernyanyi dalam pesta Natal yang diadakan di Gereja tempat ia tinggal dan berkomunitas.

    Rm Ardi
    Aku dan Romo Ardi sebelum ia pulang ke Indonesia, November 2015

    Rasa kehilangan terhadapnya begitu mendalam kurasakan dan aku tak sendirian karena keluargaku pun merasakan hal yang sama. Mereka juga dekat dengan Romo ketika beliau berstudi di sini.

    Tulisan terkait kepergiannya kurilis di sini.

    Beberapa bulan setelah kematiannya, aku berkenalan dengan Ibu Eleonora Suparlan, ibu almarhum Romo Ardi di social media. Darinya aku mendapat begitu banyak catatan-catatan yang pernah dibuat Romo sebelum ia masuk ke dalam Serikat Yesus.

    Atas ijin beliau, tulisan-tulisan tersebut kutampilkan di blog dan kuberi tagar khusus, Ardi Handojoseno.

    Kristupa meninggal dunia

    Selain Romo Ardi, kawan dekat yang meninggal dunia tahun ini adalah Kristupa Saragih. Kristupa adalah tokoh besar dalam dunia fotografi Indonesia, yang bersama Valens Riyadi mendirikan FotograferNet.

    Foto diambil dari laman Facebook Kristupa Saragih

    Aku mengenal Kristupa sejak di bangku SMA Kolese De Britto, ia kakak kelasku dua tingkat. Saat aku bersama Valens, alm. Iwan, Wicak dan Riza mendirikan Citraweb/GudegNet, Kristupa juga orang yang tak terlalu jauh yang membantu banyak pendirian dan masa-masa awal bertumbuhnya perusahaan. Fotografernet pun hadir dalam atmosfir yang sama. Katakanlah kami tak bersaudara tapi FotograferNet adalah tetangga Citraweb/GudegNet.

    Kristupa meninggal 8 Juli 2017 setelah terkena stroke lima hari sebelumnya.

    Tulisan tentang kepergiannya dan bagaimana aku mengenang perkawanan dengannya yang tak selalu mulus bisa kalian simak di sini.

    Politik dan Iman

    Satu hal yang tak pernah terpikirkan sebelum tahun ini adalah, aku memiliki brand merchandise sendiri bahkan hingga dua banyaknya!

    Brand pertamaku Politik Merchandise namanya. Kudirikan bersama seorang kawan lama yang hingga saat tulisan ini kurawi belum ingin dikenalkan. Sesuai namanya, Politik ya bicara tentang politik. Lahir karena kami memandang perlu untuk memberikan respon kreatif terhadap banyak breaking news dan isu-isu politik yang menghangat dan jadi ?trending topic? di percakapan baik online dan offline belakangan di Tanah Air.

    Design-design bernada sindiran, simbol kami munculkan dalam gimmick marketing yang menarik; harga mahal dan limited edition. Respon masyarakat pun sangat mengejutkan dan menyenangkan.

    Tapi saat ini Politik Merchandise sedang vakum karena kawanku sedang berkonsentrasi membuka usahanya yang baru.

    Mengisi kekosongan, bersama dengan adikku, Chitra Verdiana, aku mendirikan Iman merchandise.

    Tertarik kaos ini? Klik di sini

    Sesuai namanya, Iman menjual kaos bernafaskan iman kristiani.

    Tulisan tentang Politik dan Iman bisa dibaca di sini dan di Akhirnya akupun menjual ?iman??.

    Bapa Kami dan Salam Maria

    Hal paling ?absurd? yang muncul dalam benak kawan-kawan menjelang akhir tahun 2017 ini barangkali adalah ?Hah DV bikin lagu?!?

    Menulis dan ngeblog ini sebenarnya hanya salah satu hobiku saja karena salah lainnya adalah bermusik termasuk bikin lagu. Sudah lama aku tak bikin lagu tapi entah kena angin apa, sejak beberapa bulan lalu keinginan itu kembali muncul. Mengeksplorasi nada dan imaginasi, dalam dua bulan terakhir terciptalah lagu-lagu seperti di bawah ini:

    Bapa Kami ?Ceria?

    Bapa Kami ?Sumringah?

    Salam Maria

    Salam Maria (DV x WVLV)

    Diet

    Karena alasan kesehatan, aku diminta untuk menurunkan berat badan oleh dokter. Keputusan kuambil! Aku bercerai dengan alkohol, tak mengkonsumsi karbohidrat selama hari kerja dan makan hanya sekali selebihnya snack setiap harinya. Konsumsi daging juga kukurangi, aku lebih fokus pada buah, sayur dan kacang-kacangan.

    Aku mengurus! Ada yang bilang tampak tua tapi ada juga yang justru bilang bagus! Yang benar mana? Ora ngurus!

    Aku diet, aku kurus bukan untuk keperluan penampilan. Aku melakukan ini semua karena aku ingin hidup lebih sehat sehingga lebih lama bisa menemani istri dan anak-anakku bertumbuh dan hidup bersama.

    Mt Buller

    Tak ada momentum yang lebih mengesankan ketimbang perjalananku dan keluarga ke Mt Buller, awal september silam.

    Perjalanan ke Mt Buller adalah perjalanan yang telah kami rencanakan sejak jauh hari untuk liburan sekaligus merayakan ulang tahun istriku, Joyce Taufan-Verdian.

    Berdasarkan perkiraan, salju seharusnya sudah tak turun lagi saat kami sampai di sana karena musim dingin baru saja lewat. Tapi tak ada yang lebih tak pasti selain apapun yang ada di luar kontrol kita termasuk alam.

    Perangainya beda dari biasanya. Suhu yang harusnya meningkat, turun tajam dan beberapa hari sebelum berangkat, kami menerima kabar bahwa badai salju raksasa akan terjadi di snowy mountains termasuk Mt Buller yang akan kami kunjungi.

    Dasar anak tropikal! Diberi kabar begitu, bukannya takut malah gembira dan tak sabar!

    Maka perjalanan kami ke sana jadi perjalanan yang amat mengesankan sekaligus menegangkan. Untuk pertama kalinya kami harus berkendara di tengah badai salju di malam hari. Untuk pertama kalinya mobil harus dipasangi rantai salju dan hilang serta membuat agak panik serta kelimpungan.

    https://www.youtube.com/watch?v=sWw1_IoqugI&t=3s

    Sepanjang liburan badai salju tak berhenti menyelubungi Mt Buller membuat sekujur bidang yang kami pandang termasuk langit memutih bak kapas. Suhu udara tak pernah lebih tinggi dari 1 derajat celcius, kebanyakan minus bahkan hingga -7 dan -10.

    Rencana pulang kembali ke Sydney sempat maju mundur karena diperkirakan saat hendak pulang badai salju justru akan makin parah keadaannya.

    Tapi Tuhan Baik. Pagi saat kami pulang, langit biru menyembul dibalik salju. Perasaan hati kami ringan, pulang dengan hati riang meski pada saat yang bersamaan rasa rindu terhadap Mt Buller sudah langsung mengemuka di permukaan.

    Tulisan tentang Mt Buller ada di sini.

  • Gugus sepuluh ? lagu-lagu paling kerap kudengar 2017

    Gugus sepuluh ? lagu-lagu paling kerap kudengar 2017

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2017 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.?Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 Thunder

    Artis: Richie Kotzen
    Album: Salting Earth

    Richie Kotzen adalah salah satu musisi yang kuidolakan karena kemampuan musikalitasnya yang mumpuni. Mantan gitaris Poison dan Mr Big itu juga jago main keyboard/piano serta gape bernyanyi.

    Agustus lalu aku menonton konser solonya di Sydney, berdiri di deretan paling depan di bibir panggung. Sayang ia datang tak bersama The Winery Dogs, band kolaborasinya dengan Bill Sheehan (Mr Big/Bass) dan Mike Portnoy (x- Dream Theater dan x-Avenged Sevenfold/Drum).

    #9 Perfect

    Artis: Ed sheeran
    Album: ?

    Aku bukan penyuka Ed Sheeran sebetulnya tapi rasa cinta itu muncul karena terbiasa, kan? Di radio aku sering dengar lagu ini, di gym juga diputer bahkan pengamen di pinggir jalan kota Sydney tak jarang memainkan lagu ini. Alhasil? Suka!

    #8 Forever and Back

    Artis: Mr Big
    Album: Defying Gravity

    Lagu ini memiliki reffrein megah yang mengingatkanku pada era glamrock akhir 80an hingga awal 90an, sebelum musik alternatif yang biasa dikenal sebagai Seattle sound menjajah dunia melalui Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam dan masih banyak lagi.

    #7 Liability

    Artis: Lorde
    Album: Melodrama

    Banyak yang lebih suka lagi Greenlight dalam album terbaru kiwi milenial yang bertajuk Melodrama ini, tapi aku lebih suka Liability. Cara Lorde bernyanyi di lagu ini.. manjanya dapet, garangnya juga kena! Dua hal pembangun konstruksi keseksian. Lorde memang seksi!

    #6 Lift

    Artis: Radiohead
    Album: OK Computer

    Radiohead tak pernah mengecewakanku sejak dulu! Musik nyeleneh nan dalam adalah karakter mereka. Lagu ini lagu lama tapi dihadirkan dalam videoclip yang baru nan menarik tapi lagi-lagi nyeleneh.

    #5 Akad

    Artis: Payung Teduh
    Album: – (Single)

    Tak ada yang tak demam ?Akad? sepertinya??Pun aku juga demikian! Bukan karena soal bagaimana sang vokalis yang konon marah karena lagu ini banyak dicover, tak juga karena sang vokalis akhirnya keluar dari Payung Teduh. Alasanku suka cuma satu: enak!

    #4 American Soul

    Artis: U2
    Album: Songs of Experience

    Album keren SoE ini konon diundur perilisannya karena perubahan politik dunia yang membuat Bono (vokalis) harus berpikir ulang tentang tema album. Tentang keluarnya Inggris dari EU (Brexit) serta terpilihnya Donald Trump secara mengejutkan dalam Pilpres Amerika serikat.

    Lagu American Soul menarik karena liriknya menyalak. Bagian paling suka adalah munculnya ?kosakata? baru, Refujesus yang lahir dari ?refugee? dan ?jesus?,. Artinya? Silakan dimaknai sendiri, tak semuanya harus diseragamkan di dunia yang berbineka ini, Kawan!

    #3 You Shook Me All NIght Long

    Artis: AC/DC
    Album: Back in Black

    Selalu ada satu artis asal Australia yang menghuni library Apple Music-ku. Tahun ini adalah tahun AC/DC, mega grup rock asal Australia yang baru saja berduka karena kehilangan eks gitarisnya itu, Malcolm Young.

    #2 Life on Mars?

    https://www.youtube.com/watch?v=v–IqqusnNQ

    Artis: David bowie
    Album: Hunky Dory

    Lagu Life on Mars ini sebetulnya tidak menceritakan tentang bagaimana hidup di Planet Mars. Tapi karena tahun ini aku sering terinspirasi Elon Musk, enterpreuner yang juga adalah ilmuwan yang sedang mengusahakan sistem tranportasi antar-planet, aku jadi suka lagu itu.

    Nggak nyambung, kan?

    #1 Golden Slumbers/Carry That Weight/The End

    Artis: Beatles
    Album: Abbey Road

    Tiga lagu jadi satu, aku suka dengan mood yang timbul ketika mendengarkan ketiga lagu yang ada di album Abbey Road ini.

    Terlebih ketika lagu ini dirilis ulang jadi soundtrack film Sing, dinyanyikan di bagian awal film, megahnya keterlaluan!

    * **

    Selain kesepuluh lagu di atas, catatan harus kuimbuhkan dalam tulisan ini adalah tentang lagu-lagu yang kubuat di tahun 2017. DV membuat lagu? Sejak dulu sebenarnya, tapi berhenti dan kini kugiatkan lagi.

    Beberapa lagu yang sudah kurilis di social media adalah sebagai berikut:

    ?Salam Maria

    Salam Maria (DV x Ari Wulu)

    Bapa kami ?Ceria?

    Rama Kawula ?Sumringah? (Bapa Kami Bahasa Jawa)

    Playlist dari semua lagu-lagu yang kusebut di atas bisa dinikmati secara utuh di sini:

  • Gugus Sepuluh – Kejadian-kejadian 2016

    Gugus Sepuluh – Kejadian-kejadian 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 Server mati

    Pertengahan november lalu server tempat blog ini kurumahkan mati total. Menghidupkan kembali tentu mudah, tapi yang repot adalah databasenya rusak sehingga ada empat tulisan terbaruku yang tak bisa diselamatkan.

    Aku harus berterima kasih pada Mas Yeni ‘Sandalian’ Setiawan yang akhirnya mau untuk kumintain tolong memindahkan blog ini ke server baru dan ia mau untuk membantuku menjadi admin server menggantikan Mas Hamid Muhammad yang meninggal dunia tahun lalu.

    Tulisan terkait: HMD, Blog mati suri

    #9 DBBC Space

    DBBC

    DBBC Space adalah sebuah komunitas blogger khusus lulusan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Kudirikan pada Februari dan kututup pada Agustus tahun yang sama, 2016.

    Akhirnya di tulisan ini aku harus jujur bahwa apa yang pernah kutulis di sini tentang alasanku untuk menutup DBBC.Space adalah bukan alasan sebenarnya. Ada persoalan internal yang tak bisa kuceritakan tapi sudah menyebar luas di kalangan alumni SMA Kolese De Britto.

    Jadi, kalau penasaran?
    Silakan tanya pada mereka apa yang sebenarnya terjadi hehehe. Se-inci-pun, sehasta pun, aku tak menyesalkan keputusan untuk pernah melahirkan dan membuat mampus DBBC.Space ini.

    Tulisan terkait: DBBC Space kubikin mati, Mari Kita Sudahi Polemik DBBC Space ini ?, DBBC Space

    #8 Kabar Baik

    Keputusan untuk menerbitkan Kabar Baik setiap hari selama tahun ini berasal dari alasan yang amat egois: aku ingin melanjutkan hobi menulisku setiap hari. Nah, karena hal terberat dari menulis adalah pencarian ide, dengan menuliskan Kabar Baik yang bersumber dari Injil bacaan harian yang digunakan Gereja Katolik maka aku tak kekurangan ide. Tinggal baca bacaan hari ini lalu direnungkan dan dituliskan. Begitu terus-menerus.

    Seperti keputusan-keputusan yang pernah kubuat terkait blog, pemunculan Kabar Baik ini mendatangkan banyak pengunjung baru sekaligus juga lebih banyak lagi pembaca lama yang undur karena postinganku dipandang terlalu religius. Kenyataannya? Ya memang demikian hahaha?

    #7 Masuk DOES

    Niatku mewawancarai Erix Soekamti terkait ?Tokoh Muda Jogja? tapi naga-naganya malah aku yang diwawancara vokalis Endank Soekamti itu.

    Melalui jalur skype, aku dan Erix yang sama-sama anak Klaten itu saling berbagi ilmu, aku tentang blog dan dia tentang industri musik di Tanah Air.

    Kalian bisa lihat hasil wawancara antaraku dengannya di sini

    https://www.youtube.com/watch?v=iztx0yM0NKQ

    sementara clip tentang bagaimana Erix mewawancaraiku, bisa dilihat di videonya di bawah ini:

    Tulisan?terkait: Selamat ulang tahun DOES, Jogja kini di mata Erix Soekamti

    #6 DeBrittoNet

    Bagi Tuhan dan bangsaku

    Selain menyelesaikan pembangunan situs web sekolahku dulu, Maria Assumpta Klaten, aku juga berhasil membangun kembali situs web alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Debritto.net. Yang membanggakan, aku hanya perlu waktu tiga minggu untuk membikin jadi situs web ini bersama rekan-rekan lain yang mengelola konten situs.

    Usai sudah masa dimana salah satu paguyuban alumni sekolah besar di Indonesia ini tidak memiliki situs web sama sekali untuk beberapa tahun lamanya. Aku dan kawan-kawan merilis situs web itu tepat pada hari ulang tahun SMA Kolese De Britto Yogyakarta, 19 Agustus 2016.

    Sebagai hadiah? Lebih tepatnya mbayar utang karena aku utang pendidikan dan nilai-nilai moral begitu banyak dari sana, 20 tahun silam.

    Tulisan?terkait: Selamat ulang tahun De Britto

    #5 DokuDoku

    Jalin Nusa Oceania
    Mas Budi Untung, yang paling kiri berdasi, itupun juga lulusan De Britto 1977!

    Sebelum aku pindah ke Australia dan bekerja sebagai pegawai, di Indonesia aku sudah lebih dulu membangun perusahaan. Aku memang memilih jalur terbalik (dari pengusaha menjadi pegawai) saat orang-orang begitu ingin jadi pengusaha (kadang tanpa melalui jalur jadi pegawai dulu).

    Hingga awal tahun ini aku merasa tak ingin lagi membangun usaha. Inginku cukup fokus pada keluarga, pekerjaan, pelayanan dan menulis di blog ini.

    Tapi Teddy Wintoko, kawan di De Britto dulu mengajakku membangun sebuah usaha berbasis layanan fin-tech (financial technology) di Indonesia. Entah kenapa aku lantas meng-iya-kan padahal sebelum-sebelumnya ada banyak orang mengajakku untuk membangun ini dan itu.

    Lalu lahirlah DokuDoku, lalu aku, Teddy Wintoko dan AA Kunto A yang juga rekan alumni memformalkan usaha itu dalam bentuk perseroan terbatas, PT Jalin Nusa Oceania.

    Oceania dipilih mengacu pada lokasi geografis tempat tinggalku di Australia yang kerap disebut sebagai Oceania.

    Tulisan?terkait: ?Jalin Nusa Oceania

    #4 November Snow

    risalah akhir pekan

    Mengalami salju di saat menjelang musim panas adalah sesuatu yang ditinjau dari global warming dan climate change mungkin memprihatinkan.

    Tapi mari kita lihat dari sisi yang bisa disyukuri dan aku menemukan sisi itu! November lalu kami pergi ke Charlotte Pass, puncak tertinggi di Australia dan di sana kami menemukan areal yang dipenuhi salju begitu tebal nan dingin!

    Tulisan terkait: November Snow

    #3 Bertemu keluarga Iwan

    cinta
    Berfoto bersama, Tante, aku, Ivo dan Om. Foto Iwan ditangan Tante

    Iwan Santoso adalah sahabat sejak kami sama-sama duduk di Taman Kanak-kanak Maria Assumpta, Klaten.

    Ia meninggal mendadak, Mei 2015 silam dan aku tak bisa pulang untuk menghantarnya ke peristirahatan terakhir.

    Juni 2016 silam aku pulang ke Klaten dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Mama, aku menyempatkan diri untuk datang ke rumah orang tua Iwan. Haru dan sedih tapi sekaligus bangga punya sahabat seperti Iwan campur aduk jadi satu di sabtu sore itu.

    Tulisan?terkait: tis76,?Cinta yang lebih empat belas purnama panjangnya

    #2 Pekerjaan Baru

    Mei 2016 aku mendapatkan pekerjaan baru setelah lebih kurang enam bulan aku mencari. Aku memang punya tradisi untuk cari kerja baru setiap setidaknya dua tahun sekali.

    Tapi ada yang istimewa dalam pekerjaan ke enam yang kuterima sejak pindah ke Australia 2008 silam ini. Tak hanya soal kenaikan gaji tapi juga karena pekerjaan baru yang kudapat berasal dari perusahaan yang adalah kompetitor dari perusahaan tempatku bekerja sebelumnya, maka sesaat setelah aku mengumumkan pengunduran diri, aku tak diijinkan lagi untuk menyentuh pekerjaan, dirumahkan hingga hari terakhir kerja tapi dibayar gaji sebulan penuh ditambah dengan uang pengganti cuti tahunan yang tak kuambil.

    Senangnya berlipat ganda! Hahaha?

    Selain itu, pekerjaan baru ini memiliki karakteristik yang amat berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang kudapat di Australia tapi sebenarnya justru mengembalikanku ke posisi yang dulu pernah kulakukan saat awal karirku di dunia web development akhir 1990 silam.

    Aku menjadi seorang konsultan UX/UI (User Experience/User Interface).

    Tulisan?terkait: Gardening Leave, Masuk Kerja Hari Pertama, Wish Me Luck

    #1 Mama meninggal

    tyas
    Karangan bunga dari kantor

    Kejadian terbesar tahun ini: aku kehilangan Mama untuk selamanya. Ada lagi yang perlu diperjelas daripada itu?

    Tulisan?terkait: Serial Tyas ,?Maukah Engkau Sembuh? Mama menjawab ?Ya!?

  • Gugus Sepuluh – Tempat Terbaik 2016

    Gugus Sepuluh – Tempat Terbaik 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 TK/SD/SMP Maria Assumpta Klaten

    Maria Assumpta
    DV dan Suster Istati yang ternyata pernah berkunjung ke NSW, Australia

    Juni silam, saat peringatan 100 hari meninggalnya Mama, aku pulang ke Klaten. Salah satu agendaku, selain untuk menghadiri peringatan tersebut, adalah datang ke TK/SD/SMP Maria Assumpta Klaten memberikan pelatihan pengelolaan situs web sekolah yang kubangun sekaligus menerima masukan dan saran jika ada.

    Meski hanya bersekolah satu tahun, itupun saat TK kecil, entah kenapa aku merasa dekat erat dengan sekolah yang terkenal dengan logo ?serviam? nya itu.

    Posting terkait:?Maria Assumpta

    #9 Sydney CBD

    gugus sepuluh

    Setelah delapan?tahun lebih tinggal di Sydney, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang kantor pusatnya ada di Sydney CBD atau pusat bisnis kota Sydney.

    Sebagai catatan, tak semua kantor pusat perusahaan besar itu berpusat di Sydney CBD dan sebelum-sebelumnya, aku selalu mendapatkan kerja yang kantor pusatnya berada di suburb yang sepi dan tenang.

    Persoalannya, karena aku tinggal dan bekerja di suburb, tantangan terberatnya adalah bagaimana membiasakan diri lagi dengan bising yang riuh serta jauh dari suasana tenang.

    So far, OK lah..

    Posting terkait: Masuk kerja hari pertama

    #8 Eagle Hawk / Canberra

    Gugus Sepuluh

    Aku suka Canberra itu sudah cerita lama, tapi ada bagian dari Canberra yang aku suka dan cukup ?iconic? tahun ini dan daerah itu adalah Eagle Hawk.

    Sebenarnya Eagle Hawk belum masuk kawasan Canberrra karena masih ada di negara bagian New South Wales. Tapi Eagle Hawk jadi identik dengan Ibukota Australia itu, setidaknya menurutku, karena di sana kami biasa menginap saat berkunjung ke Canberra.

    Kami biasa menginap di hotel yang tak terlalu mewah tapi nyaman, disekelilingnya adalah hutan dengan sebuah toko tua yang khusus menjual minuman alkohol / bottle cellar yang siap menghangatkan di malam-malam yang dingin di Canbe..eh di Eagle Hawk.

    #7 Martin Place

    Gugus Sepuluh

    Martin Place terdapat di Sydney CBD. Klien pertamaku di kantor baru ada di Martin Place. Sekitar dua minggu di awal musim dingin tahun ini aku berkantor di sana.

    Selain dikenal sebagai pusat bisnis di Sydney CBD, kejadian teror terhadap sekelompok orang yang sedang ngopi pagi di Lindt Cafe yang lantas dikenal dengan sebutan Sydney Siege (Desember 2014) membuat Martin Place makin terkenal.

    Hingga kini aku terkadang kangen suasana pagi Martin Place. Derap langkah para pekerja yang berbunyi nyaring ditingkahi dengan obrolan-obrolan kecil, kicau burung dan suara lonceng jam yang menggema ditingkahi secangkir kopi susu hangat di dalam genggaman adalah pagi yang indah?

    Posting terkait: Sejauh ketela dan banana bread…

    #6 Hyde Park

    Gugus Sepuluh

    Hyde Park adalah taman di tengah kota Sydney. Karena berkantor di Sydney CBD, aku jadi sering nongkrong di sana untuk menghabiskan jam istirahat makan siang atau setidaknya sekadar lewat saat merasa perlu jalan-jalan barang sebentar.

    Tempat ini cukup memiliki nilai historis bagiku. Setelah mendapatkan pekerjaan yang pertama di Australia, Februari 2009, aku mengajak istriku, Joyce, yang waktu itu kerja di sebuah bank yang kantornya dekat dengan Hyde Park, makan siang di sana.

    Lalu di tengah-tengah makan aku mengabarkan kabar baik nan melegakan itu :)

    Posting terkait: Enam momen, enam tahun

    #5 Thredbo

    Gugus Sepuluh

    Thredbo adalah kawasan wisata salju di Australia.
    Setelah delapan tahun tinggal di Australia, baru tahun ini aku bisa menyempatkan diri datang ke sana. Uniknya, aku datang bukan saat musim dingin tapi saat musim gugur yang hangat, pada libur Paskah silam.

    Aku terkesima dengan tempatnya dan jatuh hati karena membayangkan bagaimana menariknya saat musim dingin dan bersalju, pasti menyenangkan. Aku bersyukur punya kelebihan untuk membayangkan sesuatu lalu menikmati bayangan itu hingga seolah benar-benar nyata adanya.

    Posting terkait: Risalah Akhir pekan XIV/2016

    #4 Leura

    Gugus Sepuluh

    Leura adalah suburb di sebelah Katoomba yang berada di kawasan Blue Mountains, NSW, sekitar 90km dari Sydney.

    Beberapa kali aku pergi ke Leura tapi kepergianku tahun ini amat berkesan karena bersama keluarga aku menikmati libur bulan April silam dalam rangka ?Gardening Leave? yang pernah kutulis di sini.

    Selain menyantap sarapan ala Australia berukuran besar (hashbrown, sosis, ham, telor ceplok setengah matang, roti tawar dan aneka selai) aku juga pergi ke taman bunga yang letaknya tak jauh dari pusat pertokoan Leura yang menyenangkan dan menenangkan.

    Tulisan terkait: Risalah Akhir Pekan XVII/2016

    #3 Perisher

    Risalah Akhir Pekan

    Sama halnya dengan Thredbo, Perisher (sekitar setengah jam perjalanan menggunakan mobil dari Thredbo) adalah tempat wisata salju yang terkenal di Australia. Bandingannya mungkin sama seperti Kuta dan Sanur di Bali saat pantai-pantai lain belum bermunculan dan tenar akhir-akhir ini.

    Perisher lebih ?kalem? seperti Sanur, sedangkan Thredbo lebih komersial dan modern seperti Kuta. Perisher hanya sebuah lembah luas nan sunyi dengan beberapa villa berdiri pada jarak yang tak terlalu dekat, tak berhimpit seterhimpit villa-villa di Thredbo.

    Sudah barang tentu, aku dan Joyce lebih memilih Perisher ketimbang Thredbo. Ibarat musik, kami ini lebih suka blues ketimbang techno, reggae ketimbang RnB.

    Posting terkait: Risalah Akhir Pekan XIV/2016

    #2 Jindabyne

    Gugus Sepuluh

    Menyukai Thredbo dan Perisher, tak bisa tidak kami terkesan pula dengan Jindabyne, kota penghubung keduanya yang terletak di sebelah danau Jindabyne.

    Jindabyne berjarak sekitar enam jam perjalanan dari Sydney dan sekitar 2 jam dari Canberra.

    Kota kecil berpenduduk 2000 yang konon, kata penjual bensin yang kutemui April 2016, ?Kalau winter, jumlah penduduk kami jadi sekitar 6000!? karena begitu banyak pelancong yang hendak menikmati salju baik di Thredbo maupun Perisher.

    Kami tinggal di sana selama tiga hari dan hal itu cukup membuat Jindabyne sudah seperti kota sendiri. Pergi ke gereja kecil untuk merayakan Paskah disambut layaknya keluarga sendiri oleh umat di gereja tersebut, membuat kami ingin kembali.

    Dua hal terkait Jindabyne yang mau kuceritakan di sini.

    Pertama. Sepulang dari sana, April silam, aku dan Joyce berpikir benar-benar serius untuk membeli rumah di Jindabyne. Ide itu kemudian menghablur begitu saja setelah kami berkonsultasi dengan seorang kawan ahli properti yang menyarankan kalau mau investasi mending cari yang lebih punya nilai ketika dijual kembali.

    Kedua, saat kami berlibur ke Canberra November 2016 silam awalnya kami tak berencana pergi ke Jindabyne. Tapi tiba-tiba Joyce memberitahu bahwa harga pampers (popok anak-anak) sedang sale di seluruh supermarket di Australia, ia memang selalu mengikuti pergerakan harga barang-barang kebutuhan dasar kami sehari-hari.

    Lalu aku nyeletuk, ?Yuk pergi ke Jindabyne aja, toh cuma dua jam dari sini!?

    Joyce bertanya, ?Ngapain??
    ?Beli pampers? hahahaha!?

    Lalu kami benar-benar pergi ke Jindabyne dan benar-benar beli pampers di supermarket di sana padahal di Sydney atau Canberra pun banyak terjual!

    Posting terkait: Risalah Akhir Pekan XIV/2016

    #1 Charlotte Pass

    Gugus Sepuluh

    Setelah mendapatkan pampers di Jindabyne seperti kutulis di poin sebelumnya, kami berpikir kenapa kita tak sekalian ke Perisher?

    Lagi-lagi kami merasa perlu punya alasan kenapa harus pergi ke sana. ?Siapa tahu? siapa tahu masih ada salju!? cetusku di dalam mobil.

    Rupanya kata ?salju? ditangkap oleh kedua anakku dan mereka merengek-rengek untuk bermain-main salju.

    Dorrrr! Nah loh! Gimana kalau sampai di Perisher tidak ada salju? Bagaimana membuat mereka tak merengek lagi?

    Kami nekat berangkat. Suhu di Jindabyne waktu itu sekitar 22 derajat celcius. Hangat.

    Beberapa kelokan menanjak ke arah Perisher, kami melihat sejumput salju yang membuat kami terkaget-kaget. Tapi karena letaknya di atas, aku berkata pada anak-anak, ?Kita mungkin nggak bisa main salju, tapi look? di atas ada salju. Can you see that??

    Mereka diam dari rengekan lalu senang.

    Mobil berkelok-kelok mendekat ke arah Perisher, suhu udara mendingin, turun ke 15 derajat dan abrakadabra, ternyata sebagian besar lahan masih tertutup salju saudara-saudara!

    Lalu begitu sampai di Perisher, aku kembali manas-manasin Joyce, ?Kenapa kita nggak ke Charlotte Pass aja??

    ?Di sana ada apa??
    Aku menggeleng. ?Tapi yang pasti ada lebih banyak salju tebal!?

    Charlotte Pass adalah puncak tertinggi di Australia yang masih bisa didiami manusia.
    Kami lalu pergi ke atas, sekitar 20 menit dari Perisher dan benar saja, meski itu adalah bulan November, beberapa hari menjelang musim panas, kami masih diberi kesempatan untuk menikmati salju layaknya musim dingin di puncak tertinggi Australia.

    Nikmat apalagi yang bisa kau dustakan? Bahkan ketika begitu banyak orang mengumpat tentang global warming dan climate change yang tak hanya menyedihkan tapi mengkhawatirkan untuk kehidupan umat manusia masa datang, kami diperbolehkan untuk ?menikmati? sekelumit ?berkatNya? dari prahara itu dengan salju yang turun di Charlotte Pass siang itu!

    Posting terkait:?November Snow

  • Gugus Sepuluh – Postingan terbaik 2016

    Gugus Sepuluh – Postingan terbaik 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 Surat terbuka untuk Agus yang bukan tetanggaku?

    Aku suka tulisan ini karena seperti menemukan sudut pandang yang berbeda ketimbang yang lain. Ketika banyak media dan orang lain menyorot soal kaitannya dengan Sang Bapak, aku menyorot soal biaya yang dikeluarkan negara/TNI untuk pendidikannya selama ini lalu ia keluar begitu saja…

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #9 Presiden, pilih menteri yang memahami anak!

    Bukik itu kawan lama. Meski belum pernah bertemu, interaksi kami di dunia cyber sudah terjalin sejak awal dekade ini. Ia adalah seorang cendekia dan pemerhati khususnya bidang pendidikan. Aku mewawancarainya terkait dengan isu full day school yang dihembuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru kala itu, Muhadjir Effendy yang menggantikan Anies Baswedan beberapa hari sebelumnya.

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #8 DBBC Space, De Britto Bloggers Club

    Situs dbbc.space memang hanya berumur setengah tahun tapi aku belajar banyak dari sini. Tentang motivasi, tentang pengkhianatan dan tentang bagaimana tulisan-tulisanku mampu meresonansi keadaan. Ada beberapa tulisan tentang DBBC.Space tapi aku memilih yang ini. Kalau kalian ada waktu juga boleh melanjutkan yang ini serta ini.

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #7 Sasmita dibalik kuda nan mesianis itu?

    Sebagai orang Jawa, aku merasa ada ‘sasmita’ yang hendak disampaikan Alam Semesta terkait kematian kuda nahas yang kaget mendengar klakson lalu lari nabrak-nabrak sebelum akhirnya mati bersimbah darah, di Yogyakarta awal Desember lalu. Bagiku, kuda itu telah melakukan hal yang mesianis, mengorbankan diri seperti Seseorang pernah mengorbankan nyawaNya sendiri, dua ribu tahun silam.

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #6 101: Pekerjaan yang mudah dicari di Australia. Emangnya ada?

    Ini adalah titik balik ketika aku untuk pertama kalinya mengunggah vlog, video blog! Setelah ini ada beberapa vlog yang kuunggah tapi kini tidak lagi; mungkin berhenti, mungkin mengambil jeda rehat saja. Kenapa? Membuat vlog itu tak hanya memeras ide tapi juga waktu dan usaha terutama saat mengedit. Jadi kelanjutannya? Nanti-nanti saja kalau sempet dan suka hehehe…

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #5 Datuk: Isu SARA amat gampang untuk memobilisasi massa

    Mas Datuk, kakak kelas angkatan di SMA Kolese De Britto Yogyakarta adalah figur besar sekaligus simbol kebhinekaan setidaknya di kalangan alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan kumpulan alumni sekolah-sekolah yesuit di Indonesia. Ia seorang muslim taat, berstudi di sekolah Katolik lalu kini aktif di paguyuban alumni. Aku menyukai dinamika wawancara yang terjadi melalui jalur WhatsApp ini. Satu hal yang kuingat, saat wawancara dengannya adalah saat Ahok ditetapkan menjadi tersangka kasus penistaan agama yang ramai itu…

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #4 Akhirnya saya milih Anies?

    Sebenarnya aku tak benar-benar memilih Anies, karena aku juga tak memilih Ahok maupun Agus. Aku toh bukan warga Jakarta? Tulisan ini sejatinya sindiran bagi segelintir pendukung salah satu calon gubernur yang menurutku terlalu bising dan stereotipikal, membosankan. Jadi? Ya milih Anies saja…

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #3 Surat tertutup tapi bersampul transparan nan teduh untuk Kristiani

    Tulisan ini adalah tanggapan dari peristiwa dihentikannya acara KKR di Bandung awal Desember lalu. Aku mencoba menulis surat terbuka untuk sosok imajiner, Kristiani, yang kujadikan representasi orang-orang kristen di Indonesia. Aku tak berusaha mengompori supaya mereka bertindak melawan, tapi lebih pada hal apa yang bisa dilakukan untuk mengubah segalanya menjadi lebih baik lagi dengan semangat kristiani yang kita miliki. Aku kan Donny Verdian, bukan Denn…ah sudahlah :)

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #2 Perayaan unik ulang tahun Mama ke-60

    Seperti yang kutulis di kalimat pertama postingan ini, “Seharusnya aku pulang ke Klaten…”

    Ya, awal tahun ini aku sebenarnya sudah berencana untuk pulang ke Klaten untuk merayakan ulang tahun Mama ke-60. Idenya memang muncul mendadak sekitar tiga minggu sebelum ulang tahun Mama yang jatuh pada 25 Februari. Dan justru karena mendadak itulah keuangan kami tidak siap dan aku batal pulang.

    Aku amat sedih tapi harus menghadapi semuanya dengan baik. Beruntung dan bersyukur punya kawan-kawan yang baik. Teddy dan Kunto, sesama lulusan De Britto 1996 yang akhirnya juga jadi partner bisnis di dokudoku.id, ‘menggantikanku’ untuk datang ke rumah di hari ulang tahun Mama. Mereka membawa cake yang kupesankan dari kawanku yang lain, sesama lulusan De Britto 1996, Made.

    Dua minggu setelah ulang tahun, Mama meninggal…

    Klik di sini menuju ke tulisan.

    #1 Kabar Baik Vol. 68/2016 – “Maukah Engkau Sembuh?” Mama Menjawab “Ya!”

    Ini adalah tulisan yang kususun sambil terbata-bata karena kurawi tepat di hari kepulangan Mama ke Rumah Bapa, 7 Maret 2016. Tak hanya kehilangan Mama tapi aku juga kehilangan kesempatan untuk pulang ke Klaten untuk hadir di acara pemakamannya. Jangan bayangkan bagaimana rasanya.

    Lantas apa yang membuatku kuat, apa yang membuatku sanggup menulis hingga kalimat terakhir dalam postingan ini? Semata karena aku malu pada judul yang kuterakan, ‘Kabar Baik’ jadi bagaimana merangkai kabar duka yang amat amat amat dalam ini dalam kerangka Kabar Baik hari itu.

    Klik di sini menuju ke tulisan.

  • Gugus Sepuluh – Makanan Ter-h?och? 2016

    Gugus Sepuluh – Makanan Ter-h?och? 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

     

    #10 Saladnya Nensi

    gugus sepuluh

    Nensi, aku nggak tahu bagaimana nama sebenarnya dituliskan, seorang calon ibu, migran dari Pulau Cyprus nun jauh di sana. Ia berjualan salad di coffeeshop kantor dan ada satu masa di tahun ini dimana hampir tiap hari aku makan salad buatannya. Segar, mengenyangkan tapi tak menggendutkan. Yang paling menyenangkan darinya adalah keramahannya. Setiap kali lewat selalu menyapa, “Morning, Donny…” sementara kawan timku yang lain tak dihapal nama olehnya. Mau tak mau aku harus mampir untuk membeli barang dagangannya hahaha….

    #9 Salmon kalengan

    gugus sepuluh

    Katanya makanan kalengan itu tak baik, tapi katanya salmon itu baik. So? Kuhajar aja! Semoga yang baik menang dan yang tak baik dikalahkan seperti di film-film hollywood.
    Aku menyantap salmon kalengan siap saji bersama dengan tiga lempar wholemeal bread (roti gandum) sesudah berolahraga di gym tiap hari.

    #8 Sate Klathak

    gugus sepuluh
    Credit photo: Jogjaguides.com

    Saat pulang ke Indonesia, Juni 2016 silam aku diajak Teddy dan Kuntho makan sate klathak yang kesohor itu.

    Rasanya? Terus terang aku tak suka. Bukan karena lidah ‘luar negeri’ tapi karena lidahku adalah lidah ‘samirono’. Artinya? Sate kambing, menurutku ya nggak ada yang bisa ngalahin sate kambing samirono atau sate kambing Pasar Lempuyangan yang kaya rasa dan bukannya tawar seperti ini.

    Dari rasa aku tak suka tapi dari sensasi, ya itung-itung pernah ngerasain sate yang dimakan Rangga dan Cinta lah :)))

    #7 Kebab dekat Event Cinema, George St

    gugus sepuluh

    Kebab yang ini sebenarnya bukan yang terenak tapi cukup enak dan letaknya dekat dengan kantor. Porsinya berani dan dressingnya juga ngasihnya gak tanggung-tanggung, crot.. crot.. crot! Penjualnya orang Turki yang ramah yang pertama kali aku ke sana saja dia udah berani tanya “Aku baru sekali liat orang bisa bayar kebab pakai handphone (tap – Apple Pay). Gimana caranya?” Aku tak keberatan ngajarin dan dia seneng banget!

    Sama halnya dengan Si Nensi, si penjual tiap aku lewat selalu menyapa, “Hi, mate? How are you?” Mau tak mau harus membalas sapa dan kadang beli kebabnya deh!

    #6 Pho depan World Tower

    gugus sepuluh

    Salah satu kawan kerja mengajakku makan siang di sini. Kesan pertama ngeliat daftar harga, “Busyet! Mahal bener!” Bayangkan, satu porsi ukuran sedang pho dengan beef combination adalah $16 padahal di tempat lain biasanya di bawah $14 saja.

    “Ini memang mahal tapi rasanya boleh dibandingkan!” Sekali makan aku lantas nggak mau ngebandingin dengan pho yang lainnya lagi karena meski mahal, kelezatannya memang tak ada bandingannya!

    #5 English Wrap Breakfast McD

    gugus sepuluh

    Makan pagi itu tricky. Terlalu lapar jadi pengen makan terus sesudahnya, terlalu kenyang jadi nggak makan hingga sore hari. Setelah bertahun-tahun setia dengan burger babi dan telor-nya McDonalds, tahun ini aku mengubah ke english wrap breakfast. Wrap di dalamnya ‘hanya’ ada bacon dan telor saja. Enak dan yang paling mengenakkan adalah, selain kesannya ringan, perut juga siap menerima makanan lain dalam dua jam berikutnya hahaha…

    #4 Gado-gado Wilis

    gugus sepuluh

    Gado-gado di Sydney biasanya dijual tidak menggunakan bumbu asli tapi pakai bumbu kacang yang diblender bahkan tak jarang dicampuri Nutella! Rasanya? Yurk! Nggak banget!

    Tapi Gado-gado Willis Canteen di Ultimo enaknya bukan kepalang karena dimasak menggunakan bumbu kacang asli dan… diuleg!

    Kalau mau pesan mending beberapa jam sebelumnya karena ulegan bumbunya cuma ada satu jadi harus antri!

    #3 Nasi Goreng plus ayam kalasan

    Nasi Goreng My New Delight ini sebenarnya gak special-special amat. Standard! Tapi karena aku biasa memesan dengan sepotong ayam kalasan dengan sambel yang nendang lalu disantap bersama-sama jadinya istimewa!

    Yang paling menyenangkan dari My New Delight selain sambalnya yang benar-benar nendang adalah banyak makanan lain yang bisa dibeli jadi side dish. So, kalau belum kenyang kita bisa pesan yang lain sampai lupa kapan harus kenyang hahaha!

    #2 El Jannah

    gugus sepuluh

    Ayam bakar ala Lebanon yang dijual di El Jannah itu memang juarakkk!
    Rasanya gurih, dagingnya padat dan… saus bawang/garlic- nya nggak hanya nendang baunya tapi juga rasanya. Meski pertahanan dijaga kuat untuk tidak makan garlic karena takut bau badan dan bau mulut, begitu menyebut nama El Jannah, langsung lumer deh pertahanan dan menyerah kalah.

    Setiap kali menyantap potongan ayam setelah dicocol di saus garlic, mulut langsung berujar, ‘El Shaddai!’ yang dalam bahasa Yahudi berarti Allah Maha Kuasa! Hahaha…

    #1 Nasi goreng Lestari

    gugus sepuluh

    Setelah hampir delapan tahun selalu menyebut ‘Fajar’ sebagai nasi goreng terenak di Sydney yang membuatku bahkan ketika pulang ke Tanah Air pun kangen ‘Nasi Goreng Fajar’, posisinya kini diambil alih oleh Nasi Goreng Lestari, setidaknya menurut lidahku.

    Nasi Goreng buatan Rumah Makan Lestari yang letaknya di sekitar Central Station ini istimewa karena teknik masaknya menggunakan terasi dan kecap lalu ada pilihan daging-dagingan yang dicampurkan. Yang istimewa adalah nasi goreng babi crispy. Renyahnya kulit babi terasa bener… kriuk… kriuk!

  • Gugus Sepuluh – Film-film terbaik 2016

    Gugus Sepuluh – Film-film terbaik 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 Jobs

    Sebagai apple fan boy, aku merasa bersyukur menonton film ini. Secara cerita banyak yang dilompat-lompati karena aku membandingkan dengan buku biografi yang kubaca dan beberapa film dokumentasi tentang Steve yang kutonton. Tapi secara sinematografi, film ini seolah menjadi bungkus indah terhadap pribadi seorang yang menurutku sudah berada di level ‘nabi’ teknologi, Steve Jobs!

    #9 Stairway to Heaven

    Sebenarnya aku suka bukan saja karena keindahan Hearts menyanyikan lagu ini. Yang paling kusuka ada pada komposisi emosi yang terjadi pada diri para personil Led Zeppelin yang berkumpul di situ untuk menerima penghargaan di Kennedy Center Honors di depan Presiden Obama. Bagaimana mata mereka berkaca-kaca menyaksikan karyanya diinterpretasikan secara apik. Belum lagi bagaimana si Jason Bonham yang adalah anak drummer Led Zeppelin yang meninggal, John Bonham (Bonzo) memainkan drum di lagu itu.

    Suasana campur-aduk.

    #8 Vlog pertama

    https://www.youtube.com/watch?v=WBnCW_IPx5M&t=2s

    Tahun ini aku mencoba membuat vlog series dan ini adalah vlog pertama. Sesudahnya ada beberapa lagi tapi karena untuk mengedit dan mempublikasikan sebuah vlog itu perlu waktu dan tenaga, aku tak tahu apakah aku masih berminat untuk melanjutkan proyek ini atau tidak.

    #7 PPAP

    https://www.youtube.com/watch?v=RY7vcYvb69k

    Ini semacam “Opa Gangnam Style” kedua tapi nggak berhasil menyaingi popularitasnya. Idenya cukup orisinil, mendobrak trend dengan sesuatu yang janggal baik dari penampilan, melodi, hingga lirik lagu. Berulang-ulang seperti doa, seperti litani menempel di ingatan tak mau pergi…

    #6 DBBC Space

    https://www.youtube.com/watch?v=G__7UnLAEAU&t=2s

    Hehehe, clip ini bersejarah. Seharusnya clip ini dimunculkan pada sebuah acara awal tahun ini tapi ternyata batal dengan alasan yang aku tak pernah tahu (dan pada akhirnya tak mau tahu). Niatku padahal baik, mengumpulkan kawan-kawan blogger yang juga alumni SMA Kolese De Britto untuk berkumpul dalam De Britto Blogger Club. Gayung bersambut setelah beberapa rekan bergabung bahkan sempat bikin lomba menulis dan menghasilkan pemenang… sayang, ada yang tiba-tiba nendang gayung yang sudah disambut itu hingga airnya nyiprat kemana-mana. Konon efek dari ketidakmunculan video ini di acara tersebut pun juga bener-bener nyiprat kemana-mana. Sorry, i can’t handle it. It wasn’t my fault :)

    #5 World War II In HD Colour (Netflix)

    https://www.youtube.com/watch?v=-Vn8fmKj9p0

    Ini film yang ‘gila’ beneran. Bayangpun…eh bayangkan, dokumentasi perang dunia kedua berusia lebih dari separuh abad yang hitam putih jadi berwarna dengan kualitas high definition pula! Nonton episode demi episode di film ini seperti tak terasa bahwa yang kita tonton itu bukan film fiksi melainkan kejadian yang sesungguhnya.

    #4 Abbey Road Side 2 Medley

    https://www.youtube.com/watch?v=Z-0IW57a2gs

    Kalau Beatles tak bubar, mungkin penghargaan di Kennedy Center Honors itu bukan milik Paul McCartney seorang melainkan milik rekan-rekan lainnya. Aku suka dengan cara Steve Tyler (Aerosmith) mengintepretasi lagu-lagu yang ada di side B (dulu kan kaset) album Abbey Road dibawakan secara medley lalu di bagian terakhir ‘The End’, Paul ikut bernyanyi

    “And in the end
    The love you take
    Is equal to the love you make.”

    #3 DOES

    Hampir semua clip di kanal DOES, Diary of Erix Soekamti, di Youtube kutonton tapi tak ada yang lebih menyenangkan dari yang ini. Kenapa? Namaku disebut, tayanganku diunggah dan aku hadir bukan hanya sebagai seorang fans dari Endank Soekamti, tapi lebih sebagai narasumber yang memberi opini terhadap Erix dengan DOES-nya. Yang lebih spesial lagi, tayangan ini adalah tayangan ulang tahun DOES yang pertama.

    Suwun, Rix! Sesama coklat (cowok klaten) memang harus saling dukung dan bantu-membantu hahahaha!

    #2 Black Mirror (Netflix)

    Film ini benar-benar jadi cermin gelap. Semua episode di film ini bicara tentang bagaimana kita ini gagap, canggung, grogi lalu akhirnya banyak yang gagal menghadapi modernisasi teknologi, social media dan lain-lain yang kita sembah-sembah selama ini. Aku banyak sekali bercermin dari film ini dan saat tulisan ini kutulis, aku sedang menyelesaikan keseluruhan episodenya. Aku sudah berniat untuk menjadikan film ini sebagai sebuah ‘retret’ tempatku berefleksi di akhir tahun ini. Semoga segera kutulis hasil permenunganku.

    #1 Narcos (Netflix)

    https://www.youtube.com/watch?v=U7elNhHwgBU

    Film ini sebenarnya bukan tentang Pablo Escobar saja meski dua seasons pertamanya memang tentang orang yang mendirikan kartel Medellin di Kolombia itu. Narcos bicara pada level yang lebih luas lagi yaitu bagaimana narkotika/narcos dijadikan sebagai bahan komoditi ekspor yang membuat para pelaku bisnisnya menjadi orang-orang kaya bahkan Pablo sempat tercatat sebagai orang terkaya nomer enam di dunia karena bisnis haram itu.

    Hal yang membuat aku jadi amat intens dan sangat suka pada film ini karena saat aku nonton di episode-episode awal, mantan kawan kerjaku dulu, Fernando, yang berasal dari Kolombia dan dari kota yang sama juga dengan Pablo, Medellin, meninggal dunia dan sempat jadi bahan ‘pergunjingan’ di mainstream media di Australia sini.

  • Gugus Sepuluh – Foto-foto terbaik 2016

    Gugus Sepuluh – Foto-foto terbaik 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ?top sepuluh? atau ?top ten?. Selamat menikmati!

    #10 Sekolah

    Gugus Sepuluh

    Akhir Januari 2016 aku menandai diriku bahwa kedua anakku, Odilia dan Elodia, sudah masuk sekolah. Kakak Odilia masuk TK sedangkan Elodia masuk pre-school.

    #9 Centil

    Gugus Sepuluh

    Ini salah satu foto keluarga terbaik sejauh ini! Pose Elodia dan Odilia tampak santai kecentilan. Diambil di Blue Mountains, NSW, Australia, musim gugur 2016.

    #8 Niat!

    Gugus Sepuluh

    Awal tahun, motivasi kerjaku turun drastis karena perubahan manajemen yang amat tak mengenakkan di kantor lama. Awal Mei aku mendapatkan pekerjaan baru yang sama sekali baru dengan environment yang baru pula; harus mengenakan pakaian resmi. Maka jadilah ini!

    #7 Pusara Papa dan Mama

    Gugus Sepuluh

    Setelah Mama meninggal, Maret 2016, kali pertama aku pulang ke Klaten untuk menjenguk makam adalah pada awal Juni 2016 silam. Dalam kunjungan singkat memperingati 100 hari wafatnya Mama, pagi sebelum aku pulang kembali ke Sydney, aku mampir ke makam untuk berdoa bagi arwah mereka. Difoto oleh Ayok, adik iparku.

    #6 Berdua

    Gugus Sepuluh

    Setelah punya anak, aku dan istri jarang foto berdua. Sekalinya foto biasanya diambil dengan tergesa-gesa karena anak-anak sudah pada ribut minta diperhatikan. Ini adalah salah satu foto tersantai aku dan Joyce, diambil di kawasan Blue Mountains, NSW, Australia, musim gugur 2016.

    #5 Terlentang

    Gugus Sepuluh

    Foto ini diambil di sebuah taman di Leura, Blue Mountains, NSW, Australia. Sebuah kawasan dataran tinggi tak jauh dari kota Sydney, musim gugur 2016.

    #4 Aku dan Eyang

    Gugus Sepuluh

    Aku suka sekali mood foto ini. Aku sengaja pasang pose seperti itu sementara pose Eyang adalah pose natural karena ia tak tahu ketika aku memasang timer di kamera handphone lalu menaruh di depan kami sekitar 1.5 meter jaraknya.

    #3 Aku, Mama, Chitra

    Gugus Sepuluh

    Beberapa bulan setelah Mama meninggal, Chitra menemukan foto ini di dalam dompet Mama. Ini adalah foto lama yang aku tak tahu kapan tepatnya dibuat. Tapi yang pasti setelah tahun 1991 karena aku mengenakan kaos Shorinji Kempo, beladiri yang dulu kuikuti. Lokasinya ada di makam Presiden I RI, Soekarno, di Blitar. Yang motret Papa.

    #2 Selfie Mabuk

    Gugus Sepuluh

    Kebiasaan minum red wine se-sloki semalam harusnya membuat aku kebal tapi dalam acara pesta kantor aku tepar karena minum bir ramuan kawan sendiri. Foto ini sangat kusuka karena kujepret hanya beberapa detik sebelum gelas yang ada di tangan itu tumpah mengenai kaos yang kukenakan!

    #1 Di Puncak Australia

    Gugus Sepuluh

    Mendapati salju di bulan November adalah sesuatu yang tak terduga! Aku dan keluarga melancong ke puncak pemukiman tertinggi di Australia di Charlotte Pass, Kosciuzko, NSW, 1760m di atas permukaan laut.

    Upsss… selain sepuluh foto di atas, ada dua klip singkat yang aku ingin masukkan ke sini juga. Enjoy!

     

    moment :)))

    A video posted by DV (@dv77) on Apr 17, 2016 at 11:25pm PDT

    Hi! I am Clark!

    A video posted by DV (@dv77) on Sep 6, 2016 at 2:55am PDT

  • Gugus sepuluh – lagu-lagu paling kerap kudengar 2016

    Gugus sepuluh – lagu-lagu paling kerap kudengar 2016

    Ini adalah salah satu dari rangkaian catatan akhir tahun 2016 yang kuberi nama Gugus Sepuluh.
    Semacam kaleidoskop kalau jaman TVRI dulu. Aku menyusunnya berdasarkan hal-hal yang menurutku menarik (untuk diriku sendiri) dengan menguguskannya per-sepuluh atau yang di media lain biasa dikenal sebagai ‘top sepuluh’ atau ‘top ten’. Selamat menikmati!

     

    #10 Yang Terlewatkan

    Artis : Sheila on 7
    Album : Menentukan Arah

    Sebagai seorang SheilaGank, sebutan untuk penggemar musik yang dibawakan oleh band pop asal Yogyakarta, Sheila on 7, menyematkan setidaknya satu album dalam playlist adalah keharusan. Tahun ini aku banyak mendengarkan lagu ini yang tak hanya bagus dari sisi musik?(karakter gitar Erros yang akustik nan garing pada bagian interlude) serta tema lagu yang unik tapi juga karakter bermusik yang tampak amat dewasa?dari Duta, Eross, Brian dan Adam. Kadang tak terbayang para pemain musik yang memainkan lagu ini adalah juga yang menyanyikan hits-hits ABG macam Kita, JAP dan Pede 16 tahun silam. Well done!

    #9 Unknown Caller

    Artis: U2
    Album: No Line on the Horizon

    Selain Sheila on 7, U2 juga selalu ada di list. Tahun ini aku banyak memutar lagu Unkown Caller yang menurutku amat megah. Ada unsur etniknya di bagian depan (aku selalu membayangkan kalau unsur etnik lagu ini diganti gamelan jawa atau bali pasti bakal lebih kaya lagi ya!), French Horn yang dimainkan oleh Richard Watkins lalu diimbuhi melodi gitar The Edge yang panjang di bagian akhir lagu dan menurutku adalah isian gitar terbaik dari semua lagu U2 yang pernah ada.

    #8 Soekamti Day

    Artis: Endank Soekamti
    Album: Soekamti Day

    Ide untuk memasukkan suara para kru yang turut bernyanyi bisa diwujudkan secara brilian di lagu ini memberikan aksen yang tak murah bagi lagu milik rombongan band punk asal Jogja. Lagu yang juga dijadikan judul tur dan pertunjukan Endank Soekamti ini menawarkan semaraknya semangat. Aku paling suka bagian ini, “Ayo ngoompool kelooarga di sokamti dhae” ya… bener-bener pake “ooo” bukannya “u” dan pakai ‘dhae‘ bukannya ‘day‘. Jogja banget!

    #7 Another Saturday Night

    https://www.youtube.com/watch?v=fvTVnX5PiVQ

    ?Artis: Cat Stevens/Jusuf Islam
    Album: ???

    Dari sekian banyak lagu Cat Stevens (kini Jusuf Islam) yang kudengar tahun ini, lagu ini adalah yang paling sering kudengar. Semua lagu dari Cat/Jusuf kusuka tapi khusus lagu ini, aku suka bagaimana ia menanyikan penggalan “Now how I wish I had someone to talk to”. Oh ya, aslinya lagu ini adalah milik Sam Cooke diambil dari album Ain’t That Good News (1963).

    #6 Riverina

    https://www.youtube.com/watch?v=2EMKX6KZRt8

    Artis: The Temper Trap
    Album: Thick as Thieves

    Dari dulu aku suka pada nama ‘Rina‘ meski aku tak pernah berpacaran dengan orang yang bernama sama. Lagu Riverina yang dinyanyikan Doughy Mandagi (vokalis band The Temper Trap yang berdarah Manado) bertekstur energik, dibumbui distorsi gitar dan synth serta beat yang dibangun kuat. Aku suka pada rima yang dibangun pada bagian chorus: Oh, Riverina, I was calling to ya.

    #5 Miracle Drug

    https://www.youtube.com/watch?v=AQedOz_Hsv8

    Artis: U2
    Album: How to dismantle an atomic bomb

    Salah satu lagu U2 yang kusuka setelah era ‘Pop‘ di dekade 90an adalah Miracle Drug. Lirik yang kuat, emosi gitar The Edge yang kentara meski sederhana dan suara falsetto-nya yang seolah berkata bahwa U2 tanpa Bono sebagai vokalis (bukan pencipta lagu) adalah U2 yang akan tetap baik-baik saja.

    #4 Ebony and Ivory

    Artis: Paul McCartney dan Stevie Wonder
    Album: Tug of War

    Ini lagu lama yang kusuka kembali setelah menonton video klip di atas, saat Paul McCartney diminta bernyanyi di depan Presiden Obama di Gedung Putih, 2010. Secara tema, lagu ini juga masih amat relevan, tentang perbedaan antar manusia yang terjadi dimana-mana. Dalam bahasa yang lebih santai mungkin pesannya lebih pada, “Apa gak malu sama piano dimana tuts putih (ivory) bisa berdampingan dengan tuts hitam (ebony) dan bekerja sama membentuk satu melodi nan harmoni.” Kamu? Malu?

    #3 Golden Slumbers

    Artis: The Beatles
    Album: Abbey Road

    Sebenarnya susah untuk memention lagu mana yang terbaik dari ‘side B’ album Abbey Road yang ngetop dengan cover foto dimana keempat anggota Beatles menyebrang di zebra cross di Abbey Road.?Semua lagu di side B seperti putus tiada henti menyuarakan pesan yang terkait. Tapi Golden Slumber (in your eyes) kupilih jadi intinya. Lagu ini amat melodius. Saranku, jangan didengarkan lagu ini saja tapi dalam rangkaian medley Carry That Weight dan The End, niscaya kamu akan tahu kenapa aku memilih lagu ini berada dalam gugusan ini!

    #2 So Much Sky

    Artis: The Temper Trap
    Album: Thick as Thieves

    Yang pertama aku suka pilihan judulnya, “So much sky“. Lagu ini bercerita tentang keindahan alam dan seolah jadi sindiran bagi kehidupan urban yang tak memiliki ‘banyak’ langit karena terhalang bangunan tinggi yang menjulang. Lagu ini konon dibuat saat Doughy Mandagi sedang melancong ke Gunung Kilimanjaro di Afrika bersama sang bassist, Jonathon Aherne. Oh ya, sound bass Jonathon di lagu ini nendang banget!

    #1 Blackbird

    https://www.youtube.com/watch?v=Mo_DMGc2v5o

    Artis: The Beatles
    Album: The Beatles

    Tahun ini aku banyak mendengarkan The Beatles tapi Blackbird adalah yang paling sering kudengar. Lagunya sederhana, bertema lirik yang juga sederhana, seperti lulabi yang sambil lalu tapi melodi yang muncul di tengah kesederhanaan itu justru yang membuat lagu ini kuat.