Denny Indrayana yang mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM di era SBY itu boleh jadi sopir di Melbourne, tapi seorang Indonesia yang lain jadi bos dua belas sopir di Sydney, Australia.
Dialah Leo Lee, adik angkatanku waktu kuliah di Unversitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dulu.
Leo yang bermigrasi sejak beberapa tahun lalu bersama istri dan dua orang anaknya adalah salah satu pemilik sekaligus General Manager dari sebuah perusahaan jasa transport di Sydney, Arena Transport.
Aku (kiri) dan Leo, beberapa tahun lalu
Aku sengaja menghubunginya dan mengajak berdiskusi bukan terkait Denny Indrayana yang jadi sopir, tapi bagaimana sih pandangan orang-orang sini terhadap profesi sopir dan seluk-beluk serta termasuk pendapatannya.
Penggalannya bisa disimak di bawah ini.
Leo, pandanganmu tentang profesi sopir bagaimana setelah kamu sekarang jadi bos-nya para sopir?
Sebenarnya aku nggak bener-bener jadi ‘bos’ nya para sopir, Bro! Supir itu kebanyakan adalah wiraswastawan jadi ikatan kerjanya denganku lebih ke subcontractor.
Maksudnya?
Mereka bekerja padaku berdasarkan proyek.
I see. Lalu untuk jadi sopir yang subcontractor begitu syaratnya apa saja?
Gampang! Kamu punya SIM, ABN (Australia Business Number, semacam nomer induk perorangan yang digunakan untuk melakukan transaksi bisnis) dan kendaraan sendiri, van misalnya.
Kalau Denny Indrayana itu berarti subcontractor juga?
Wah, kurang tahu…
Bro, banyak yang masih menganggap profesi sopir itu adalah profesi hina nan nista. Menurutmu gimana?
Salah besar itu! Setidaknya kalau di Australia sini jelas nggak kayak gitu! Sopir ya dianggap profesi yang wajar! Malah banyak sopir taksi yang punya rumah mewah dan besar di Sydney kok! Padahal kita tahu harga rumah di Sydney itu termasuk yang paling mahal di dunia!
Kalau sopir taksi itu aku nggak tahu tapi kalau sopir-sopir yang bekerja untukku, dalam seminggu sekitar 1000 – 1500 Australian Dollar diluar pajak.
Wih, lumayan dong?
Lumayan banget! Itu juga untuk supir van! Semakin besar mobilnya, semakin besar juga untungnya karena tentu kapasitas angkut lebih banyak dan lebih mahal.
Nah! Jadi siapa mau jadi sopir di sini? Daripada jadi pejabat publik malah kena OOT KPK mending nyetir, Bro!
Tulisanku tentang Denny Indrayana bisa disimak di sini. Informasi tentang Arena Transport, perusahaan transportasi yang dikelola Leo Lee dan kawan-kawannya bisa disimak di sini.?
Nah! Benar, kan! Benar apa yang dibilang Roy Suryo, blog itu hanya trend sesaat! Buktinya kemarin banyak bener yang tiba-tiba nulis blog lagi setelah sekian lama hibernated hanya karena kemarin adalah peringatan Hari Blog Nasional!
Tapi anyway, masih soal blog, sadarkah kita bahwa sebagai perilis konten, apa yang kita tulis dan bagikan itu mengandung konsekuensi yang harus bisa dipertanggungjawabkan tak hanya dari sisi moral tapi juga hukum?
Tak selamanya yang kita anggap benar itu terbaca sebagai hal yang tak salah di mata pembaca dan tak semua pembaca memiliki pandangan yang sama terhadap hal yang sama, tulisan kita.
Untuk itu aku sudah berpikir sejak lama bahwa seorang blogger itu perlu punya pendamping dalam hal hukum, penasihat hukum, yang tak hanya kita pakai jasanya saat sudah di pengadilan tapi juga dalam hal-hal keseharian terkait dengan publikasi konten. Kita perlu minta pertimbangan tentang ini dan itu terkait soal hukum dengan mereka.
Adi Sunata
Untuk itu dua hari lalu aku ngobrol dengan Adi Sunata. Seorang advocate and counsellor of law yang juga dekat dengan kalangan blogger. Aku berkawan lama dengannya, kami, bersama kawan-kawan lainnya, banyak melewatkan malam-malam penuh diskusi di Jogja dulu.
Adi membantuku dalam hanyak hal, bolehlah kusebut ia adalah?penasihat hukumku. Orang yang sehari-hari menjabat sebagai Managing Partner di Sunata, Harun, Ardianthoro, Hadisudjono (SHAHIHAQ) ini pertama kali bekerja sama denganku saat aku merilis GolonganDarah.Net, 2007 silam. Ia membantuku membuat aturan-aturan terkait hukum dalam situs web pengelola data personal berbasis golongan darah itu.
Simak petikan wawancaraku dengannya yang terjadi melalui jendela percakapan WhatsApp di bawah ini.
Di, apakah ada peraturan hukum yang menerapkan hukuman berat bagi orang yang menulis dan mempublikasikan tulisan mengenai hal-hal tertentu secara online?
Ada. Undang-Undang (UU) No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau yang biasa disebut sebagai UU ITE terutama pasal 27 ayat 3. (Bunyi pasal tersebut adalah, “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dapat di dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,000 (satu miliar rupiah)” -red).
Pembahasan mengenai rasa ketidakadilan dalam pasal 27 Jo. Pasal 45 UU ITE ini sudah banyak dilakukan dalam diskusi-diskusi terutama di kalangan penulis yang mempublikasikan karyanya secara daring/online.
Bahayanya apa sih pasal 27 itu?
Bahaya utamanya adalah penafsirannya yang luas (hukum seharusnya tegas dan jelas) dan adanya pemberian hukuman yang jauh lebih berat daripada apa yang diatur dalam KUHP dalam tindakan yang serupa/setara hanya karena pertimbangan bahwa hal itu dilakukan di dunia maya.
Menurutmu, apakah sebaiknya ditiadakan saja pasa-pasal itu?
Tidak perlu ditiadakan, tapi diubah agar memenuhi rasa keadilan di masyarakat. Mengenai masalah karetnya pasal itu yg harus diubah, hukum harus tegas dan memiliki kepastian.
Lalu untuk menghindari caranya bagaimana, Di? Kan itu katanya pasal karet?
Jawaban sederhananya adalah, pintarlah memilih diksi dan merangkai kata, agar makna tersampaikan tanpa merendahkan perorangan/badan tertentu.
Sejak tahun lalu aku berpikir bahwa seorang blogger sejatinya perlu mendapat pendampingan seorang penasihat hukum. Menurutmu?
Memiliki penasihat hukum pribadi sebetulnya adalah langkah yang baik, karena sedemikian banyak unsur dalam kehidupan kita sehari-hari yang kadang tidak kita sadari sebenarnya mempunyai akibat hukum. Tak hanya soal menulis dan mempublikasikan tulisan, ada banyak hal lain seperti jual-beli, sewa-menyewa, atau pinjam-meminjam, akan lebih baik jika memperoleh masukan dari penasihat hukum untuk memastikan pihak-pihak didalamnya paham betul risiko dan akibat hukum yang lahir.
Berapa biaya yang diperlukan untuk?menggunakan jasa seorang penasihat hukum pribadi?
Masalah biaya itu tergantung persetujuan antara pengguna dan penyedia, aku pribadi tidak terlalu berpikir mengenai biaya jika sebatas diskusi dan bertukar pikiran, tapi jika yang diminta adalah layanan tentu unsur biaya akan dipertimbangkan.
Aku mengenal Redemptus Kristiawan secara pribadi sejak November tahun lalu saat kami sama-sama duduk di sebuah badan kepanitiaan yang mengurus pemilihan presiden alumni SMA Kolese De Britto periode 2015 – 2019.
Mas Gereh, begitu aku dan kawan-kawan alumni lain menyapanya, adalah kakak kelasku di sekolah yang berdasarkan kata kunci ?de britto? memiliki 99 tulisan (sekarang jadi 100 dengan adanya tulisan ini) di blog ini.
Meski rangkaian proses pemilihan presiden alumni telah selesai, komunikasiku dengannya tetap berlanjut. Lalu terdengar kabar ia masuk dalam calon anggota KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). Sayang ia tak terpilih, diganjar suara NOL alias tak ada satupun yang memilih meski kakak kelasku yang lain, Mas Mayong Suryolaksono (Lulusan 1984, wartawan, istri artis/politisi Nurul Arifin) terpilih masuk komisi.
Tapi ketiadaan yang memilih tak selalu berarti bahwa ia buruk. Bisa jadi ia baik (bahkan terbaik) dan justru karena hal itu lantas gerombolan si buruk tidak memilihnya karena bukan berasal dari kalangan mereka sendiri, kan?
Jadi, meski tak terpilih, adalah menarik untuk mengerti isi kepala Mas Gereh ini termasuk concern-nya pada dunia konten penyiaran dan media di Indonesia.
Beberapa hari lalu aku mengajaknya ngobrol dan inilah hasil obrolan kami. Tak sedikit yang aku sendiri nggak ngerti apa yang ia omongkan, tapi nggak papa. Untuk itulah kutulis semuanya di sini, siapa tahu setelah kubaca berulang-ulang aku jadi ngerti apa yang dibicarakannya hahahaha?
Maturnuwun, Mas Reh! Tetap semangat dan berkarya bagi sesama serta dunia!
Mengamati jalannya fit and proper test di DPR tempo hari aku tertarik dengan opinimu tentang konten-konten LGBT. Konon kamu tidak menolak konten LGBT untuk masuk sebagai konten yang disiarkan. Apa benar?
Beberapa ekspresi budaya di Indonesia mengakui eksistensi orientasi seksual seperti ini, misalnya budaya Bugis dan warok di Jawa Timur. Artinya sebagai sebuah episteme, tema LGBT ada dalam sejarah tradisi Indonesia.
Senada dengan Nawacita nomor sembilan, orientasi seksual tidak seharusnya menjadi alasan bagi diskriminasi. Demikian juga berbagai kovenan HAM internasional yang sudah diratifikasi Indonesia hingga Pedoman Perilaku Penyiaran yang tidak mengijinkan diskriminasi.
Meski demikian, ada juga narasi lain misalnya narasi norma agama yang menolak LGBT, serta narasi perlunya perlindungan bagi anak. Narasi-narasi itu harus dikelola secara produktif sesuai standar kemanusiaan.
Apa itu artinya seluruh lapisan masyarakat layak dan berhak untuk mendapatkan konten LGBT?
Penayangan isu LGBT harus dilakukan dengan bijaksana agar tidak melanggar prinsip perlindungan bagi perlindungan anak dan kebebasan berekspresi sebagai bagian dari hak asasi yang diamanatkan oleh UU Penyiaran untuk dilindungi.
Caranya?
Pengelolaan tayangan harus mendasarkan pada alokasi waktu yang tepat serta tidak mempromosikan pornografi. Selain itu, tayangan yang bersifat provokatif dan campaigning harus dihindari karena narasi berpikir lain pun harus dihargai. Dalam kondisi multi narasi seperti ini, total banning tidak mungkin dilakukan karena akan menjadi preseden bagi dominasi narasi lain tanpa dasar legal dan etis yang kuat.
Memandang dari kacamata yang lebih luas cakupannya, sebenarnya apa sih masalah utama penyiaran konten di Indonesia?
Dominasi peran lembaga penyiaran swasta khususnya televisi saat ini terlalu besar.
Hal ini tampak misalnya lewat SK Menhub No. 15/2003 yang mengalokasikan frekuensi analog dengan komposisi 78,5% untuk penyiaran swasta, 20% untuk penyiaran publik, dan hanya 1,5% untuk penyiaran komunitas. Lewat komposisi alokasi yang timpang ini, menjadi bisa dipahami mengapa dominasi penyiaran swasta saat ini terasa sangat kuat oleh masyarakat.
Implikasinya?
Masyarakat terlalu banyak ditarik dalam logika produksi-konsumsi sehingga mengesampingkan logika cara hidup lain yang tidak terbeli seperti fungsi pendidikan, perlindungan kelompok marjinal, ketahanan nasional, dan lain-lain. Dalam konteks struktural seperti inilah rendahnya kualitas isi siaran berada.
Hal lain yang menurutku penting terkait isu penyiaran dan konten siaran adalah kuatnya aroma politik pada beberapa media simply karena bosnya adalah politisi. Menurutmu?
Betul. Dominasi penyiaran swasta semakin perparah oleh intervensi kekuatan politik seperti tampak selama Pemilu 2014 lalu.
Konsentrasi kepemilikan televisi swasta ditambah dengan irisan yang kuat dengan kekuatan politik menjadi corak struktur ekonomi politik penyiaran kita terutama televisi swasta saat ini yang mengancam kualitas demokrasi Indonesia.
Tapi itu kan media milik mereka sendiri. Apa tetap bisa dipersalahkan?
Ada prinsip normatif yang dilanggar yaitu frekuensi milik publik yang jumlahnya terbatas dan semestinya dikelola secara demokratis. Selain itu, persoalan dominasi opini jelas-jelas tidak sesuai dengan prinsip pluralitas opini yang menjadi ciri demokrasi berkualitas.
Kualitas isi siaran merupakan ujung dari kualitas sistem penyiaran. Isi siaran tidak berdiri sendirian namun berkaitan dengan aspek lain misalnya struktur kepemilikan, sistem rating, dan kualitas sumber daya pekerja penyiaran. Prinsip normatif bagi penyiaran adalah frekuensi sebagai ranah publik dan dampak pervasif media penyiaran terestrial.
Prinsip normatif itu yang dipegang regulator dalam melihat kualitas isi siaran. Terkait isi siaran politik, media penyiaran yang sehat akan mampu memunculkan komunikasi politik yang berkualitas bagi demokrasi yaitu sebagai sarana partisipasi politik bagi warga dan watch dog proses politik. Namun dalam situasi dimana pemilik stasiun penyiaran bisa mendikte isi siaran untuk kepentingan politiknya, maka bisa dipastikan ada masalah dalam sistem penyiaran tersebut.
Lalu baiknya bagaimana?
Sebagai media yang menggunakan ranah publik dalam proses transimisinya, tidak sepantasnya isi siaran dipakai sebagai alat kampanye politik pemilik media tersebut. Selain merugikan demokrasi, hal ini juga akan merugikan kekuatan politik yang tidak memiliki afiliasi pada kepemilikan media penyiaran. Kompetisi politik tidak berjalan secara adil.
Media penyiaran harus menjadi sarana pendidikan politik warga menuju demokrasi yang berkualitas. Dalam hal ini, KPI bertugas untuk memastikan bahwa media penyiaran tidak sekadar menjadi ajang kampanye politik belaka. Selain itu, komunikasi politik di level kota/kabupaten melalui penyiaran juga harus diperkuat agar isi siaran politik tidak didominasi oleh tema Jakarta.
Selain sisi politik, hiburan di televisi-televisi Tanah Air penuh dengan sinetron dan infotainment. Apa yang perlu dibenahi? Menyediakan tayangan hiburan merupakan salah satu fungsi media penyiaran. Tayangan hiburan juga masih diminati masyarakat. Survei Kompas tahun 2015 menunjukkan bahwa televisi merupakan sumber hiburan utama. Akan tetapi, justru hiburan itu (sinetron, variety show, infotainment) masuk dalam kategori acara kurang berkualitas menurut Indeks Kualitas Program KPI tahun 2015. Tayangan itu buruk karena menampilkan kekerasan, mistis, porno, bias gender, dan mempromosikan sikap hidup konsumtif. Dampak yang akan merugikan masyarakat adalah dampak kultivasi dimana masyarakat meniru perilaku yang ditampilkan di media massa perlahan namun pasti. Ini efek yang tidak kita inginkan.
Dari dulu marak sinetron dari luar seperti kita ingat era sinetron Maria mercedes lalu kini marak yang dari Turki. Kenapa tak terdengar yang dari lokal Indonesia dan mengangkat budaya-budaya lokal kita?
Modal kultural Indonesia lebih dari cukup untuk memproduksi tayangan berkualitas dan mampu berbicara di level regional. Modal itu yang belum digarap secara maksimal karena struktur industri penyiaran yang belum sehat. Menjaga keberagaman berarti mengapresiasi setiap ekspresi manusiawi sesuai dengan standar kemanusiaan universal.
Sayangnya kamu tak terpilih bahkan satu suara pun tak kamu dapatkan. Kok bisa begini?
Saya sadar bahwa pada tahapan seleksi akhir oleh DPR, logika yang berjalan adalah politik, bukan sekedar kompetensi dan kredibilitas. Inilah realitas politik kita saat ini yang cenderung menjaga kepentingan kelompok dengan mengorbankan aspek kepentingan publik, bila perlu. Yang saya sesalkan adalah penegasian kepentingan publik dalam proses itu yang tampak sekali selama proses pemilihan di DPR.
Simak juga tayangan video di bawah, hasil cuplikan dari Mas Lexy Rambadeta (kakak kelas alumni SMA Kolese De Britto juga) saat Mas Gereh sedang diuji di DPR.
Bagiku, hingga saat ini tak ada presiden Indonesia yang lebih baik daripada Gus Dur!
Meski hanya dua tahun berkuasa, 1999 – 2001, ia melakukan banyak perubahan!
Presiden berlatar belakang NU ini berani berwacana mencabut Tap MPRS XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan Marxisme yang dianggapnya sudah tak peka jaman lagi. Sebaliknya, melalui dekrit presiden yang dikeluarkan sesaat sebelum dijatuhkan, ia mengusulkan pembekuan Golkar.
Pada peringatan hari HAM 10 Desember 1999, sembilan puluh satu tahanan politik yang kebanyakan adalah musuh besar rezim Soeharto dibebaskan begitu saja.
Dan ini yang paling signifikan. Gus Dur membuka kesempatan seluas-luasnya bagi kaum keturunan Tionghoa untuk beraktivitas secara bebas termasuk berpolitik dan berkebudayaan!
Ini tentu sesuatu yang menarik mengingat pada rejim sebelumnya, Soeharto, kaum ?keturunan? dibuat hampir tak berkutik. Suara mereka dibungkam. Nama mereka dianjurkan diganti menjadi sesuatu yang ?lebih Indonesia?. Sekolah-sekolah berbahasa pengantar Bahasa Mandarin ditutup dan dibubarkan. Keberadaan mereka diasosiasikan dekat dengan komunisme dan PKI; cap yang di era Orde Baru membuat siapapun bergidik ngeri!
Salah satu yang menyambut hangat kebebasan itu adalah Icun Lin. Pemuda Jambi yang sejak awal 90an menetap di Jogja. Aku kenal dengannya sejak sekitar akhir 90an; pada beberapa fragmen hidup, kami berteman bersama.
Icun merasa bersyukur atas Gus Dur karena hingga kini ia betah berprofesi sebagai penyanyi profesional specialis lagu-lagu berbahasa Mandarin.
Bersama grup musik besutannya yang dibentuk pada tahun ?naga emas? 2000, Golden Dragon, prestasi yang ditorehnya bahkan tidak main-main; sebuah gelar juara kompetisi band tingkat Asean dimenanginya pada 2010 silam.
Bicara tentang Icun Lin adalah bicara tentang kesetiaan pada jalur yang dipilih. Meski sempat booming, tapi pada akhirnya tak sedikit dari generasi muda keturunan Tionghoa di Indonesia justru tak tertarik lagi pada lagu-lagu berbahasa Mandarin. Mereka banyak yang berkiblat pada lagu-lagu Indonesia, lagu-lagu barat dan apalagi kalau bukan pop Korea yang membanjiri kanal-kanal hiburan di Tanah Air (dan sebetulnya nyaris di seluruh dunia!)
Di sinilah Icun Lin digdaya! Ia tak bergeming dan tetap bertahan di jalur lagu berbahasa Mandarin.
Jadi tak salah kalau aku akhirnya berpikir bahwa ia layak untuk ditulis di blog ini. Tak banyak kesulitan untukkku menghubunginya. Melalui messenger, kami berbincang-bincang beberapa saat minggu lalu memanfaatkan waktu luangnya dalam perjalanan pulang dari show-nya di Semarang.
Berikut petikannya.
Cun, awalnya kamu tertarik mendalami bidang ini bagaimana? Sebenarnya pengaruh keluarga.?Dari kecil saya dididik dalam lingkungan Tionghoa yang tentu saja berbahasa mandarin.?Kebetulan juga orang tua dari dulu hobi menyanyi lagu-lagu Mandarin.?Lalu Gus Dur memberikan kebebasan berbahasa Mandarin lalu dan kloplah semuanya!
Lalu seperti apa yang terjadi saat Gus Dur belum naik jadi presiden dan memberikan kebebasan? Bagaimana perkembangan budaya lagu-lagu mandarin di Indonesia saat itu? Sebelumnya ya sangat terbatas! Paling cuma kumpul-kumpul di rumah sendiri berkaraoke!?Atau? karena saya berasal dari Jambi, di sana dari dulu banyak acara wedding party bertema Mandarin dan ini sering dimanfaatkan untuk eksis bernyanyi lagu mandarin hahahah!
Imbas dari pelarangan kebebasan yang marak di era Soeharto itu masih ada sampai sekarang, Cun? Masih!?Masih banyak yang kalau undang saya menitip pesan, ?Kalau bisa lagunya dicampurlah jangan Mandarin semua! Bahaya dan riskan!?
Lalu kamu nurut? Nggak lah! Saya selalu menentang hal itu lha wong saya hidup dari musik mandarin, yang mengundang saya juga pengen dengar lagu-lagu mandarin masa saya nyanyi lagu berbahasa lain?
Aku termasuk yang mengikuti karirmu sejak awal dan bicara soal karirmu sepertinya tak afdol kalau tak bicara soal Golden Dragon. Masih jalankah grup itu dan seberapa besar perannya dalam karirmu kini? Band Golden Dragon masih jalan dan kontribusinya terhadap hidup saya tentu sangat besar. Hampir 90 persen hidup dan rejeki saya ya dari band itu.
Kalau tak salah kan Golden Dragon pernah juara di tingkat regional ASEAN dan masuk MTV ya? Benar banget! Waktu itu ada sebuah kompetisi band se-ASEAN versi MTV dan redtix yang diselenggarakan oleh sebuah maskapai penerbangan.
Awalnya temen-temen pesimis karena kan kami membawakan lagu mandarin tapi saya tetap ngotot karena dalam ketentuan lomba itu ditulis ?lagu menggunakan bahasa ibu?.. Nah, bahasa ibuku Bahasa Mandarin jadi kenapa tidak?
Kami lantas menggarap lagu ciptaan yang kami buat lima tahun sebelumnya dan kami menjadi juara pertama mengalahkan 2535 band di 10 negara dan menjadi satu-satunya band dari Indonesia yang membawakan lagu mandarin (Waktu itu, pada kompetisi tersebut ada sekitar 1300an band dari Indonesia)
Ada prestasi lain selain kejuaraan itu, Cun? Ada! Kami pernah mengikuti LA Indifest dan kami masuk 40 besar regional. Tetap menggunakan lagu-lagu berbahasa mandarin sementara yang lain berbahasa Indonesia!
Sekarang kamu berkeluarga dan punya anak. Kamu tetap yakin bisa menghidupi mereka dari musik atau ada usaha lain? Saya total di musik. Musik mandarin. Pernah sih coba buka usaha CCTV dan berjalan baik hingga setahun tapi ya apa mau dikata, jiwa tak bisa bohong. Duduk di kursi dan bekerja menghadap kertas serta angka itu terlalu rumit buat saya hahaha…
Sebulan rata-rata berapa kali show? Dulu Golden Dragon bisa 6-7 show, setahun rata-rata 70-80 show. Tapi karena pasar lagi lesu dan tarif show band memang lebih mahal, aku sekarang nyanyi solo juga dan sebulan biasanya sampai 5 – 6 kali show…
Kamu yakin dan optimis bisa terus berkarir di dunia musik mandarin, Cun? Optimis! Masih banyak cita-citaku yang belum tersampaikan di bidang ini.. Masih banyak yang bisa digarap!
Kamu udah keluarkan album? Untuk Golden Dragon, sudah beberapa album yang kami distribusikan secara indie. Untuk solo sedang dalam proses pembuatan sekaligus juga aku sedang mencoba membuka studio dan ph (production house -red) musik jadi nanti albumku akan kugarap sendiri dalam production house-ku itu!
Menurutmu, bagaimana sih bikin orang Indonesia mau belajar bahasa dan budaya asli Tiong Hoa? Mengenal bahasa menurut saya ada beberapa cara dan salah satunya adalah dengan mencintai budayanya lebih dulu dan salah satu pintu masuknya ya musik dan lagu. Jadi belajar bahasa sambil bernyanyi. Tentu lebih mudah!
Menurutmu kenapa orang-orang sekarang nggak mau belajar budaya dan bahasa mandarin? Siapa bilang? Menurutku malah sebaliknya! Banyak yang butuh untuk bisa berbahasa mandarin setelah Bahasa Inggris apalagi di dunia profesional, bekal bahasa mandarin akan membuat orang mendapat banyak kesempatan untuk bekerja!
Cun, kamu sendiri memposisikan dirimu bagaimana? Apakah kamu orang Indonesia atau orang Tiong Hoa atau gimana? Wo shi yin ni hua qiao!
Wah, apaan tuh artinya? Kami orang Indonesia keturunan Tiong hoa!
Icun Lin menyapa kalian semua para pembaca blog ini. Pesannya: Selamat kepada seluruh temen temen “donnyverdian.net” selalu sukses dan gembira. Semangat trus!!! (Icun Lin)
Giras Basuwondo adalah kawan lama. Aku mengenalnya sejak sekitar tiga belas tahun silam. Saat itu aku mengelola situs gudang kota Jogja, GudegNet dan Giras menelponku meminta untuk bisa diterima bekerja sebagai wartawan.
?Mas Donny ya?? ?Iya, ini siapa?? ?Nama saya Giras, Mas…Saya temennya Kelik (Kelik Broto, kawanku lainnya yang sekarang jadi fotografer sukses di Jakarta) Saya pengen jadi wartawan GudegNet bisa?? ?Hmmm??
?Boleh datang ke kantor, Mas?? ?Sebentar? kamu punya kenalan seniman nggak? Kalau nggak punya mending nggak aja!? jawabku ketus. Waktu itu aku memang sangat angkuh, ketus dan sombong, beda jauh dengan aku sekarang meski kadang masih tampak sisa-sisanya.
?Mas Djaduk? Mas Butet? Kenal???? ?Kenal, Mas!? ?Ya sudah, kamu kemari sore ini??
Lalu sore itu datanglah ia. Ternyata Giras adalah adik kelasku di De Britto dan ini yang paling ?ternyata?, ia adalah anak pertama dari Mas Butet Kartaredjasa, seorang budayawan, seniman dan wirausahawan terkenal itu.
Bekerja dengan Giras itu menyenangkan. Mendengarkannya berpendapat tentang seni dan budaya beserta seluk-beluknya itu selain menginspirasi juga memotivasiku dulu untuk terus mengembangkan GudegNet terutama bagian desk pemberitaan seni dan budaya.
Meski banyak juga omongan miring dari luaran tentang dia yang kalau boleh dirangkum, kesemuanya tentang ?Giras? Anak-e Butet? Iso ngapa?? (Giras? Anaknya Butet? Bisa apa dia? -jw)
Tapi ia membuktikan (setidaknya bagiku) bahwa ia bisa menjadi sesuatu yang berbeda.?Ibaratnya wartawan lain itu adalah lampu neon yang terang, putih tapi ?gitu-gitu aja?, Giras adalah lampu disko yang byar-pet yang tak bisa diprediksi dan membuatku selalu haus untuk terjebak dalam ke-byar-pet-an tulisan-tulisannya di GudegNet dulu.
Sayang, ia tak lama berada di sana. Kurang dari setahun orang yang kini telah menjadi bapak seorang anak itu pamit baik-baik untuk menjajaki dunia yang baru, per-film-an.
Tapi meski sudah tak satu atap, hubunganku dengannya baik-baik saja. Kami berkomunikasi melalui Facebook meskipun komunikasinya adalah komunikasi pasif. Artinya, aku mengamati timeline-nya, mengikuti status-statusnya, tapi untuk menyapa rasanya belum waktunya.
Hingga sampailah beberapa hari kemarin, aku tiba-tiba berpikir tentangnya. Aku begitu tertarik untuk melihat sudah sampai pada tahap mana dalam ia berproses dan berkarya.
Dari situ pikiranku mengembang dan tertuju pada kawanku lainnya yang sama-sama anak seniman besar, tapi lebih tak terdengar juntrungannya dalam berkarya. Hal-hal itu menggejolak dan akhirnya bermuara pada satu pertanyaan sinis, ?Apakah memang anak seniman besar akan selalu kecil dan tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang orang tuanya??
Aku lalu memberanikan diri untuk menghubunginya lagi melalui jendela messenger dan terjadilah wawancara di bawah ini.
Sama seperti yang pernah kukatakan pada editor GudegNet dulu, ?Tulisane Giras rasah diedit, biarkan muncul apa adanya!? demikian juga dengan wawancara ini. Aku membiarkannya bersuara sekencang-kencangnya. Lebih dari se-dekade aku rindu menikmati byar-pet serta lekak-lekuk pikiran Giras yang lugas..
Selamat menikmati!
Giras (digendong) bersama orang tua dan kakek-neneknya…
QGimana rasanya jadi anak seniman besar dan cucu budayawan kesohor dan apa tantangan terberatnya, Bro?
AHmm… Pertama-tama ya bersyukur dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Padepokan Seni Bagong. Kakek saya koreografer tari dan sutradara, sedangkan ayah saya aktor yang nyambi jadi pengusaha, sejak kecil sampai sekarang saya merasa beruntung. Lahir mbrojol di lingkungan yang menyenangkan. Mereka punya cita-cita, karya, dan nama baik yang harus saya jaga.
Dulu sewaktu SMP, SMA dan awal kuliah saya sempet punya ambisi…saya harus lebih besar dari ayah dan kakek saya… Kalau mau jadi aktor harus lebih bagus dari bapak saya… Tapi yang terjadi setiap latihan atau pentas teater, orang-orang akan selalu bilang “Ih mainnya ‘mbutet’ banget yah!” dan peristiwa itu terjadi sering sekali.
Ada yang sekedar bercanda tapi ada juga yang mengintimidasi. Ha ha ha ha… Saya malah jadi stress sendiri karena di dunia keaktoran teater akan selalu dibandingkan (dengan Butet, ayahnya) Tapi itu dulu…. Akhirnya aku berpikir ya sudahlah saya toh pada akhirnya tinggal menjalani petualangan hidup di depan mata.
Sejak usia 20 tahunan saya memutuskan untuk memilih dunia film dan audio visual sebagai media berkespresi. Saya punya production house, namanya Running Pictures. Ayah saya yang memilihkan nama itu. Biasanya saya jadi sutradara, produser, atau penulis skenario. Tapi diluar itu saya juga bisa freelance nge-crew bekerja untuk PH lain yg lebih besar atau PH dari luar negeri saya jadi fixer atau local producer. Lumayan dapat pengalaman dan digaji dollar. Sementara PH saya saat ini masih tumbuh berkembang dan merintis usahanya perlahan tapi pasti.
Kebetulan sekarang, saya akhir-akhir ini dapat tawaran main jadi aktor di beberapa film pendek bikinan filmmaker Jogja. Dan di usia saya yang 30-an ini beberapa sutradara film yang mengarahkan saya bilang bahwa saya punya gaya main yang tidak lah copy-paste bapak saya. Hal ini sudah bikin saya puas. Ya semoga yang akan datang, akan ada tawaran keaktoran di level yang lebih besar, main film layar lebar misalnya. Karena bagi saya prestasi itu bertahap dan berjenjang… Ya ibarat atlet pertama terjun berkompetisi dan juara di tingkat Porda (Pekan Olahraga Daerah –red), lalu PON (Pekan Olahraga Nasional –red), lalu Sea Games, lalu Asian Games… baru Olimpiade.
Dulu saat remaja saya pernah bercita-cita menjadi pemain sepak bola. Saya ikut bergabung di sebuah klub lokal jogja, PSHW namanya yang ikut kompetisi se-Jogja dan Jawa Tengah. Saya bertanding sampai Semarang, Purbalingga, Magelang, dan kota di Jawa Tengah yang lain. Pelatih saya waktu itu menunjuk saya sebagai striker, Karena lari saya kenceng dan tembakan saya keras. Orang tua saya tentu saja juga memberi saya support. Jangan-jangan ini adalah jalan hidup seorang Giras. Sempat bapak akan mencarikan saya sekolah sepak bola yang lebih serius. Kalau perlu sekolah sepakbola ke Italia atau Spanyol. Tapi kemudian saya tersadar setelah berdiskusi dengan orang tua, bahwa masa edar dan jaya pesepakbola hanya sampai saat usia seseorang 30 tahun, habis itu harus pensiun. Belum lagi ada resiko patah kaki dan cedera yg lain.
Akhirnya saya memutuskan sepak bola nanya akan menjadi hobi saja, bukanlah profesi. Andai saya dulu jadi pemain bola beneran di negeri ini, hari-hari ini saya pasti pusing karena nganggur. Sepak bola adalah The Road Not Taken saya…
QTapi dari proses selama ini, pernah ngga kamu merasa ‘Wah aku pasti bisa begini karena ada darah seni yg gede banget di dalamku!” atau “Wah aku pasti bisa begini karena meski karyaku mungkin ngga’ bagus tapi label-ku kan udah bagus banget… orang-orang pasti tau siapa bapakku dan siapa kakekku”
AKembali ke dunia film. Beberapa orang di Jogja pernah menyebut saya ini seniman balungan gede, seniman darah biru, seniman bersendok emas, film maker priyayi dan sinisme lain yang cukup menohok. Amin kata saya. Dulu saya risih, tapi saya sih sekarang menanggapinya dengan santai, ya kalau mau berkarya ya tinggal bikin aja selama tidak melanggar hukum dan menabrak aturan.
Sementara itu tentang bagus atau tidaknya sebuah karya itu sangat relatif, kalau di film tergantung selera penontonnya. Dalam sebuah acara pemutaran film, ada kritikus yang bilang bahwa film karya saya gayanya old fashioned – “mbangun ndesonan” (mBangun Desa adalah sebuah program acara di TVRI Jogja, ngetop di era 80an -red), kurang dramatis dan tidak menawarkan sesuatu yang baru.
Film karya saya bahkan diramal tidak akan diminati festival film. Saya sih senyum- senyum aja. Jangan-jangan film saya lebih cocok ditonton sama tukang becak, mbok-mbok jamu, pak tani, nelayan, atau masyarakat pada umumnya dibandingkan dengan kritikus film. Lha wong itu cara berekspresi saya dalam bikin film…mosok saya harus berpura-pura menjadi orang lain.
Saya kemudian berfikir ibarat tukang mbangun rumah jangan-jangan saya ini tukang arsitek rumah joglo atau limasan tradisional. Jadi saya tidak sedang bikin rumah gaya eropa, gaya minimalis, atau gaya mediterinia, atau kontemporer. Bukankah rumah joglo dan limasan masih diminati orang banyak. Biarkan saja toh saya bahagia dengan bikin film bertema budaya. Untungnya di forum itu ada juga penonton yang bilang suka sekali dengan film yang saya buat. Penonton lain ada yang bilang film saya karakternya jelas. Saya lega mendengarnya.
Saya sadar pengaruh orang tua itu besar sekali pada anaknya. Bohong besar jika saya bilang saya tidak pernah dibantu oleh keluarga besar. Dimana-mana karakter seorang anak pasti dipengaruhi orang terdekatnya, dan orang tua adalah simpul tali utama. Pola pikir, gaya bicara, selera berpakaian, selera makanan, gaya bercanda, dan cara memandang Tuhan, agama, pranata sosial dan yang lain pasti ada pengaruh kuat dari orang tuanya. Agama saya Islam, tapi sejak SD sampai SMA belajar di sekolah Katolik. Saya terlatih untuk menerima perbedaan. Saya tidak mau merasa agama saya satu-satunya yang paling benar… Semua punya logika dan kebenarannya masing-masing. Saya percaya Tuhan, dan seperti kata Gus Dur…. Tuhan Tidak Perlu Dibela.
QKamu sekarang tampak bisa me-luweh-kan (membiarkan -red) anggapan mereka yang sinis kepadamu tapi tentu ini butuh proses. Mari kita bicara dalam scoope yang lebih luas, bagaimana dengan anak-anak seniman lainnya yang mungkin belum bisa melewati masa yang telah kamu lewati (dalam menghadapi sinisme itu). Apa tips darimu untuk anak-anak seniman yang sedang berproses? bagaimana supaya jangan sampai sinisme itu menghancurkan proses berkarya sehingga hasilnya malah mawut dan malah mbikin orang berpikiran “Nah, bener tho… pancen mawut kok ora luwih apik lan ora iso luwih apik ketimbang bapak/ibuk-e” (Nah bener, kan? memang berantakan kok, nggak lebih baik dan memang nggak bisa lebih baik ketimbang bapak/ibunya)
AWaduh, terus terang kalau ngasih tips buat orang lain saya kurang PD ya, lha wong saya sendiri masih berjuang untuk sukses jhe.
Secara gojek, dulu kawan saya, seorang stage manajer di teater, pernah mengusulkan pada saya untuk membentuk Paguyuban Anak Kabotan Jeneng Bapak (maaf saya nggak bisa menemukan padanan kata yang enak dalam Bahasa Indonesia -red)…. Anggotanya adalah anak yang selalu dibandingkan sama bapak nya. Hahahaha…lucu sekali.
Sebetulnya tidak sulit kok, asal bisa menjaga nama baik dan memanfaatkan fasilitas serta akses yang ada. Saya rasa malah jauh lebih sulit jika punya orang tua yang yang diciduk KPK karena korupsi, atau kesandung kriminal sampai masuk penjara, atau berbuat asusila dan dipermalukan secara masif di media sosial. Justru itu jauh lebih berat menghadapinya. Saya salut buat kawan-kawan yang mampu menghadapinya. Tetap tegar di saat badai datang.
Kita tidak bisa memilih siapa orang tua yang melahirkan kita, namun kita sangat bisa untuk memilih kita mau mengikuti jejaknya, menjaga kehormatannya, atau sama sekali tidak mau ikut campur urusan orang tua. Sesungguhnya saya dan orang tua tidak selalu seiya sekata dalam segala hal. Wajar saja jika kami sering berbeda pendapat, namun semua bisa didiskusikan secara egaliter. Saya bersyukur punya orang tua yang bukan type diktator atau main kasar kalau sama anaknya yang salah. Kalau dalam keluarga kami, bila ada masalah kami cari solusinya bersama. Saling memaafkan dan menguatkan.
Tentang pencapaian sukses bisa melebihi orang tua atau tidak, kini sudah bukan prioritas pikiran saya lagi. Seseorang menjadi besar atau berada di posisi puncak pastilah banyak tangan-tangan yang menyokongnya. Mungkin saya sedang melakukan fungsi itu, saya menjadi asisten orang tua dalam banyak hal dan saya bahagia melakukannya. Toh hidup ini tidak melulu ngomongin mengejar ambisi cita-cita eksistensi dan tetek bengeknya namun ya tidak boleh lupa harus mensyukuri apa yang ada.
Giras di depan Warung Bu Ageng, Jogja.
Saat ini selama 4 tahun terakhir saya menjadi manajer restoran Warung Bu Ageng. Restoran ini milik keluarga dan terletak di Tirtodipuran, daerah wisata Jogja Selatan yg strategis. Banyak sekali turis asing dan turis domestik yang mampir. Orang tua saya melibatkan anak-anaknya untuk mengelola bisnis ini.
Saya sekarang kecemplung di dunia restoran. Saya pernah bercanda dalam hati membuka restoran itu seperti shooting serial tv. Setiap pagi saat warung buka, itulah dimulainya episode baru. Orang tiap hari butuh makan, tapi tidak tiap hari orang butuh nonton film. Industri film bioskop kita harus bertarung dengan pembajakan secara masif, dan ancaman sepi lesunya penonton dan berpotensi ndak balik modal atau rugi. Tapi saya yakin suatu saat saya akan menyusul filmmaker muda Jogja kawan-kawan lama saya yang sekarang sudah pada pada bikin film panjang di bioskop. Cita-cita ibarat nyala api itu senantiasa saya jaga tetap terus menyala. Jangan sampai padam. Saya akan bikin film lagi.
Dian Paramita atau yang lebih akrab dipanggil sebagai Mimit ketimbang Dian, menurutku adalah salah satu dari sedikit ‘anak muda’ yang jadi seleb-twit bukan karena sensasi-sensasi dangkal demi mendongkrak popularitas. Jalur pikirannya yang unik dan berbeda itulah yang membuatnya tak tergoyahkan di social media!
Aku sangat terkesan dengan eksistensi dirinya. Meski tak semua pikirannya kusetujui, tapi setidaknya kemauannya untuk mau mengemukakan pendapat meski itu melawan arus adalah hal yang patut diacungi jempol.
Terus terang sejak dulu aku sudah berkeinginan untuk membawanya ke forum ‘dkk‘ ini, tapi ide apa yang patut kupertarungkan dengannya tak kunjung kutemukan karena aku tak mau sembarang asal menyeret diri adik kandung dan semata wayang dari blogger senior, Herman Saksono itu kemari.
Lalu semesta seperti membentuk kurva yang mempertemukanku dengannya. Kiprahnya dalam perjuangan menyuarakan ‘kesejahteraan’ binatang seolah bertemu dengan isu penyiksaan hingga pembunuhan kucing yang ditengarai dilakukan oleh Danang beberapa waktu lalu dan di situ aku berkeputusan untuk segera mengiriminya email penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sudah tercipta di dalam otakku jauh sebelum peristiwa Danang itu terjadi, jauh sebelum kurva itu terbentuk dan berujung di sini.
Mau tahu seperti apa wawancara seruku dengannya? Silakan menyimak penggalan-penggalannya karena ada beberapa konten yang aku tak bisa siarkan di sini terkait kesepatakanku dengannya.
Hey, Mit apakabar? Baik! Btw, makasih ya Mas atas kepedulianmu membuat posting tentang hewan. I appreciate it a lot. :)
You’re welcome, Mit! Kalau kutanya soal peristiwa Danang, apa pendapatmu yang paling singkat dan komprehensif? Hmmm.. aku rasanya seperti meringsek ke dalam bumi, Mas :(
Ah, lebay! OK, kuubah niatku. Jelaskan secara gamblang maksudmu barusan. Tapi bener, setiap ada penyiksaan hewan oleh manusia, rasanya seperti kesedot ke dalam tanah.
Kalau soal Danang, jelas orang itu gila.
Kalau soal Danang, jelas orang itu gila. Orang waras bagaimanapun tidak akan tega untuk hanya menonton sebuah penyiksaan atau pembunuhan. Coba bayangkan jika ada sebuah penyiksaan di depan mata kita, karena kita waras akan selalu otomatis menutup mata dan merasa iba, kan? Apalagi untuk melakukan penyiksaan itu sendiri.
Saya yakin latar belakang orang waras adalah mereka yang lahir dengan jiwa yang normal, dari keluarga penyayang, dengan masa kecil yang bahagia, dan tidak pernah mengalami peristiwa yang menyebabkan trauma. Orang yang suka menyiksa adalah sebaliknya, orang sial. Pasti ada latar belakang buruk yang menyebabkan mereka memiliki kejiwaan yang salah. Justru harus kita kasihani.
Tapi soal penyiksaan seperti ini kan sebenarnya masalah lama. Ekspos media baru terasa setelah adanya social media seperti sekarang jadi menurutmu masalah intinya sebenarnya ada di mana, kegilaan orang itu dalam menyiksa dan membunuh binatang atau kegilaan mereka untuk memamerkan foto di social media karena aku tak ingin dengar kamu menjawab ‘kedua-duanya’? :)
Dipamerkan maupun tidak dipamerkan, menikmati kegiatan menyiksa itu adalah gangguan kejiwaan.
Tentu masalah utamanya adalah kegilaan orang itu dalam menyiksa. Dipamerkan maupun tidak dipamerkan, menikmati kegiatan menyiksa itu adalah gangguan kejiwaan. Tapi menyiksa plus memamerkan itu akut. Seharusnya pelaku dimasukkan ke rumah sakit gila karena kegilaannya tidak pantas dibiarkan di tengah masyarakat.
Di satu sisi, aku berpendapat bahwa kalau mau total membela hewan janganlah makan hewan karena makan hewan itu berarti membunuh mereka. Terlepas dari disiksa lebih dulu atau tidak. kalau kita belum vegetarian harusnya kita terlalu ambil pusing karena toh hewan itu sama-sama matinya. Gimana menurutmu dengan hal ini? Iya, akupun selalu mendapat kritikan serupa karena aku masih makan daging meski sekarang sedang berupaya menguranginya.
Memang seharusnya aku menjadi vegetarian atau bahkan vegan saat membela hewan. Bahkan idealnya memang manusia itu tidak lagi memakan hewan. Tapi itu mimpi yang terlalu jauh. Mungkin akan tercapai tapi tidak bisa sekarang.
Sebenarnya yang menjadi fokus utamaku adalah kesejahteraan hewan. Aku ingin manusia memiliki hubungan saling menguntungkan dan harmonis dengan hewan maupun alamnya. Sebuah simbiosis mutualisme.
Idolaku, seorang penyandang autism bernama Temple Grandin yang memperjuangkan kesejahteraan hewan ternak, mengatakan, “Nature is cruel, but we don’t have to be. I wouldn’t want to have my guts ripped out by lion. I’d much rather die in a slaughter house if it were done right.”
Intinya, seekor sapi akan lebih memilih hidup baik di peternakan lalu dibunuh dengan cepat daripada diburu dan perutnya disobek-sobek oleh singa.
Bagiku, ini bukan soal membunuh, tetapi bagaimana hewan itu diperlakukan saat masih hidup.
Bagiku, ini bukan soal membunuh, tetapi bagaimana hewan itu diperlakukan saat masih hidup. Seharusnya semua hewan akan lebih sejahtera hidupnya jika dipelihara manusia, daripada menjadi liar di jalanan. Mereka mendapat tempat untuk hidup yang baik, makanan yang cukup, dan bahkan diperhatikan kesehatannya. Pada akhirnya mereka dibunuh untuk kepentingan hidup manusia, namun dibunuh dengan cepat tanpa merasakan sakit. So far, bagiku ini adalah kehidupan paling masuk akal antara manusia dan hewan.
It’s a very cool answer! Bagaimana sih meningkatkan awarness orang-orang untuk memperhatikan kesejahteraan hewan di Indonesia yang meski memiliki alam nan megah tapi begitu banyak kepentingan yang membuat alam serta ekosistemnya makin terhimpit? Contoh seperti di Sumatera… kini banyak macan menyerang kampung karena habitatnya makin sempit sementara manusia juga perlu berkembang?
Thanks! Hehe.
Kalo ini jawabannya sederhana sekali sebenarnya, yaitu dengan hukum yang tepat dan pelaksanaan hukum yang kuat. Nah penjelasannya yang rumit. Semua manusia itu memiliki kecenderungan rakus dan jahat. Dari seenaknya menggunakan jalanan untuk jualan, korupsi duit negara, hingga seenaknya mengeksploitasi alam tanpa batas. Jalan keluarnya adalah memiliki pemerintah yang concern dan hukum yang kuat dalam menghukum mereka yang rakus dan merugikan ini.
Manusia memang perlu berkembang dengan mengambil hasil alam dan sebagainya, namun tidak dengan rakus mengambilnya tanpa memikirkan jangka panjang. Kita perlu menebang pohon, namun kan tidak perlu menebang semua pohon hanya karena ingin menjadi kaya tanpa batas kan? Pelaku seperti ini seharusnya dihukum dengan berat. Hukuman berat secara tidak langsung akan meningkatkan awareness masyarakat.
Aha.. ngomongin soal pemerintah, bagaimana pemerintah sekarang ini khususnya Departemen Kehutanan RI? Apakah mereka cukup memberikan support pada dukungan pemberian kesejahteraan hewan ini? Atau mungkin mereka malah lebih cenderung untuk memberi kesejahteraan untuk pengusaha yang mengokuptasi hutan?
Untuk itu, khusus pada Menteri Kehutanan, aku angkat tangan. Dia tidak akan pernah membantu usaha rakyat memperbaiki hubungan manusia dan hewan Indonesia.
Pemerintah belum banyak membantu. Seperti beberapa bulan lalu aku bertemu Menteri Kehutanan dan aku sangat kecewa.
Aku datang memberi solusi adanya badan yang mengurusi kesejahteraan hewan, tapi ia tanggapi seakan aku sedang demo protes. Tidak nyambung, tidak membantu apapun.
Untuk itu, khusus pada Menteri Kehutanan, aku angkat tangan. Dia tidak akan pernah membantu usaha rakyat memperbaiki hubungan manusia dan hewan Indonesia. Aku mending cari jalan lain dari orang lain.
Tapi meski demikian, overall, pemerintah jaman sekarang memang jauh lebih baik dalam urusan ini. Walau belum membantu banyak. Namun paling tidak ada perbaikan sedikit demi sedikit.
Mari kita agak bergeser sedikit soal issue KBS karena aku lihat kamu kan juga ikut bersuara di sana.. Menurutmu, dalam bahasa yg komprehensif lagi, apa masalah utama dari KBS itu dan bagaimana penyelesaian seharusnya? Soal KBS masalah utamanya tidak ada UU tentang standar kebun binatang di Indonesia, tidak ada penangkapan maupun hukuman untuk pelaku, dan terakhir yang mengurusi itu semua adalah politikus maupun pengusaha. Perlu diketahui, KBS ini hanya satu di antara kebun binatang Indonesia yang bernasib sama. :(
Ok, next kamu kan bilang sedang akan membentuk/terlibat dalam lembaga yang ngurusi kesejahteraan hewan, kira-kira garis besar kerjanya akan seperti apa, targetnya apa dan ini barangkali yang semoga jadi pertanyaan yang menarik, apa kamu yakin lembaga itu nanti mampu bekerja untuk mengangkat kesejahteraan hewan? Harapanku, Komisi Nasional Perlindungan Hewan ini akan fokus terhadap kesejahteraan hewan liar, hewan peliharaan, maupun hewan ternak di Indonesia. Seluruh kalangan (kecuali pemerintah dan pengusaha) yang memiliki kepedulian terhadap hewan memiliki kesempatan untuk terlibat di dalamnya.
Komnas ini diyakini akan membantu pemerintah dalam proses merancang kebijakan, mengedukasi masyarakat, mengawasi kegiatan yang menggunakan hewan, menuntut para pelaku yang melanggar kebijakan, dan mendampingi segala proses hukumnya. Selain itu, komnas ini akan menjadi pihak yang dapat dipercaya masyarakat dalam segala prosesnya.
Karena biasanya pelaku diproses hukum namun bagaimana kelanjutan beritanya selalu simpang siur antara pelaku, pengusaha, maupun media. Komnas ini akan menjadi pihak yang dapat dipercaya masyarakat dalam segala update sebuah kasus.
Aku yakin mampu bekerja dengan baik karena orang yang terlibat di dalamnya bukan politikus atau pengusaha, namun dari kalangan yang peduli hewan.
Oh iya Mas, aku juga sudah membuat petisi tentang ini, di sini. Semakin banyak yang tanda tangan, semakin ada kesempatan ide ini didengarkan oleh pemerintah dan usaha kesejahteraan hewan di Indonesia semakin terwujud. Jika ide ini terwujud, kita akan menjadi negara berkembang pertama yang memiliki badan kesejahteraan hewan. Tak hanya itu, kita akan menjadi lebih tenang karena ada badan yang kita percaya mampu melindungi makhluk-makhluk lucu yang sangat membantu kehidupan kita itu dan menghukum para penyiksa binatang seperti Danang.
Harapanku terhadap SalingSilang untuk menjadi semacam ‘landasan’ bagi pergerakan social media di Indonesia besar sebenarnya. Diawaki oleh orang-orang yang menurutku punya kompetensi besar, aku berpikir bahwa sepertinya semua akan baik-baik saja sejak dirilis 2011 silam.
Namun seperti layaknya angin yang tak dapat diduga arah dan kuatnya, SalingSilang dan beberapa ‘situs keluarga’ nya harus kandas di awal tahun ini dan keterkejutanku tertuang dalam posting yang bisa kamu simak di link ini.
“Ah, usang atau tak usang rasanya akan ada yang bisa memetik manfaat!”
Berbagai macam isu pun mengikuti (dan beberapa mengawali karena aku sudah dengar desas-desusnya sejak akhir tahun lalu sebenarnya). Ada yang bilang SalingSilang ambruk karena beberapa punggawanya tak setia lalu meninggalkannya ketika mendapatkan tawaran lain yang lebih menggiurkan. Ada juga isu bahwa mereka tak berhasil menemukan sesuatu yang layak jual sehingga dilihat dari sisi investasi, SalingSilang tak sebesar gagasan awalnya.
Beruntunglah aku lantas mengenal sosok Didi Nugrahadi. Ia adalah mantan CEO SalingSilang.Com yang juga menjadi salah satu yang membidani lahirnya situs berita legendaris Indonesia, DetikCom. Melalui Twitter, kami beberapa kali bertegur sapa tapi sepertinya baru beberapa hari yang lalu akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirim sepotong direct message kepadanya perihal permintaan untuk wawancara.
“Tapi soal SalingSilang, Pak! Berani nggak buka-bukaan di blog saya?” tanyaku padanya.
Iapun meng-iya-kan dan selanjutnya komunikasi kami adakan lewat email. Dalam waktu beberapa menit diselingi time-out beberapa jam karena beliau ada meeting, materi interview ini kudapat. Di tengah-tengah wawancara sempat juga berpikir lalu gamang apa topik ini tak terlalu usang untuk diutarakan, tapi Pak Didi meyakinkan, “Ah, usang atau tak usang rasanya akan ada yang bisa memetik manfaat!” dan di titik itu, aku memutuskan untuk melanjutkan dan menayangkannya di sini karena setidaknya bagiku, apa yang diungkapkan pria yang kini jadi CEO Beritagar ini memang bermanfaat dan semoga demikian juga bagi kalian!
Pak, sebenarnya SalingSilang itu tutup karena apa? Kami tidak berhasil membukukan penjualan sebesar yang kami rencanakan sehingga tidak bisa menutup biaya operasi.
Ada yang bilang SalingSilang itu tutup karena para pemimpinnya sudah benar-benar ‘saling-silang’ alias punya kepentingan sendiri-sendiri? Benarkah? Hehehe…. Banyak yg bilang begitu tapi tidak seperti itu walau pada kenyataannya memang ada empat atau lima orang yang benar-benar pindah ke lembaga lain di luar tiga perusahaan baru paska SalingSilang.
Oh, tiga perusahaan lanjutan? Jadi SalingSilang masih berlanjut, Pak? Sama sekali tidak bubar sebenarnya!
Secara umum di salingsilang ada tiga kegiatan utama;, pengembangan teknologi, pengolahan data dan konten dan offline. Ketiganya lalu kita pisahkan menjadi tiga badan usaha supaya lebih mudah dikelola. Tim Konten kemudian menjadi perusahaan media, Beritagar. Tim data menjadi Provetic dan tim IT menjadi Sebangsa. Nah, SDM yang ada di ketiga badan usaha itu sebagian besar masih SDM yang dulu ada di Salingsilang.
Pembubaran salingsilang.com ini konon juga membubarkan beberapa situs lainnya ya Pak? Apa saja? Situs kami banyak, di antaranya adalah Politikana, ngerumpi, curipandang, bicarafilm, langsungenak, opojal dan lain-lain. Bukan pembubaran sebenarnya. Beberapa hiatus, namun database masih tersimpan. Beberapa yang lan (lain -red) pengelolaannya diserahkan kepada komunitas.
SalingSilang tutup tapi tidak bubar hanya berganti kulit namun semua pembelajaran yang sudah kami mulai, sekarang kami lanjutkan meskipun beda warung, hehehe….
Sebenarnya kembali ke masa awal pembentukan SalingSilang, konsep awalnya apa sih Pak? Begini,
Di Tahun 2008, kami membayangkan skalabilitas dan untuk itu kami harus menggali ?insight? tentang Indonesia. Insight 1, Partisipatif. Mulainya gelombang baru web 2.0 yang partisipatif. Dimulai dari blog, kami kemudian mencoba implementasikan dengan membangun dagdigdug.com, Politikana.com dll. Ternyata konsep itu berjalan.
Insight 2, Platform. Setelah jalan kami sadar ternyata tidak scalable, sehingga kami siapkan platform yang bisa berkembang cepat dan besar. Platform Salingsilang merupakan platform media sosial yang kami inginkan bisa berdampingan dengan platform media sosial lain seperti facebook, twitter, blog dan lain-lain.
Insight 3, Data. Agar kita mengerti apa yang terjadi di platform media sosial ini, kami mengumpulkan data (percakapan) dan statistik pada platform-platform ini. Di sini kami mengembangkan Sx Indeks (layanan data monitoring, analisa dan rekomendasi di media sosial untuk agensi dan brand).
Insight 4, Ekosistem. Perkembangan dilanjutkan dengan menghubungkan komunitas, brand, agency, media, PR agency dan user yang ternyata saling mendukung satu sama lain. Mereka ini berhubungan erat satu sama lain, dan harus maju bersama-sama.
Insight 5, mobile. Nah, disini kami hadir dengan Beritagar, sebuah platform media yang baru.
Selain itu, ada dua kegiatan utama yang kami lakukan sepanjang 2010 – 2012, yaitu on-line dan off-line. Berhentinya SalingSilang tidak membuat relasi off-line kami berhenti tapi malah tumbuh dan makin menarik.
SalingSilang tutup tapi tidak bubar hanya berganti kulit namun semua pembelajaran yang sudah kami mulai, sekarang kami lanjutkan meskipun beda warung, hehehe….
Relasi offline itu kalau bisa dijelaskan apa dan bagaimana interaksinya Pak? Kegiatan offline kami banyak sekali.
Ada Obrolan langsat (Obsat), forum diskusi santai tentang apa saja yang asyik. Lalu Socmedfest atau Social Media Festival, yaitu reriungan komunitas yang kami lakukan sejak 2011. Sharing Keliling, kami keliling ke 14 kota di indonesia untuk sharing menulis kreatif, memotret dan bikin video menggunakan mobile phone dan kami juga aktif berjejaring dan menjalin relasi dengan teman-teman komunitas seperti Bike2Work, Gusdurian, Akber, IDberkebun dan lain-lain yang hingga sekarang masih berlanjut.
Sebenarnya, pelajaran terbesar dari ‘berhentinya’ SalingSilang itu apa Pak? Pembelajaran yg menarik adalah berjejaring dan kolaborasi, on-line dan off-line. Ini jadi penting sekali untuk sekarang dan ke depan nanti. :)
namun masih ada brand yang KPI-nya jumlah fans di FB atau jumlah followers buzzer yang jutaan atau menjadi trending topic, padahal menurut saya, esensinya bukan itu.
Pertanyaan terakhir, beberapa orang memandang berhentinya SalingSilang kemarin itu tanda belum siapnya kaum industri social media Indonesia dalam berkompetisi. Benarkah? Hahaha…..
Bukan berkompetisi antar penyedia layanan tapi industri secara keseluruhan belum siap. Contoh, meskipun sudah banyak yang memanfaatkan media sosial dengan baik dan benar namun masih ada brand yang KPI (Key Performance Indicators -red)-nya jumlah fans di FB atau jumlah followers buzzer yang jutaan atau menjadi trending topic, padahal menurut saya, esensinya bukan itu.
Perlu waktu satu atau dua tahun lagi untuk edukasi, hehehe :)
Suatu waktu pernah aku kehabisan akal untuk membuat materi presentasi ketika diundang bicara ke sebuah acara kepemudaan katholik di Sydney sini.
Masalahnya satu. Konsep yang diberikan panitia terlalu mengarah ke sisi psikologis dan takutnya ketika aku salah ?menerjemahkannya? alih-alih membawa penyegaran, yang ada justru aku menyesatkan orang.
Aku lantas ?menyambangi? Bukik yang meski bukan seorang penganut Katholik, tapi karena berpandangan modern, tentu ia tak segan membantuku karena hal itu terkait dengan disiplin ilmu yang ia bidangi, psikologi.
Dan benar saja! Baru sekitar beberapa jam email kukirimkan, ia telah kembali dengan jawaban yang lengkap nan terstruktur. Dan meski tak mendetail, tapi point-point yang dibuatnya justru sangat mudah untuk dikembangkan.
Sejak saat itu aku menaruh respek yang begitu besar kepadanya. Kepalanya punya isi, tak seperti kebanyakan sekarang yang lebih mengutamakan isi pada rongga mulut maupun pada ujung-ujung jari yang siap dimuntahkan ke mesin ketik QWERTY.
Ketika orang ramai mencari duit dan tiket liburan gratis dengan cara menjadi buzzer, Bukik yang juga adalah buzzer memaknainya secara berbeda.
Bagiku, di antara sekian banyak netizen Indonesia, Bukik itu punya karakter yang berbeda! Langkahnya langkah kuda! Tak mudah ditebak lagi dicerna, tapi kita tahu mutu dan kualitasnya dari setiap tapak-tapaknya.
Ketika orang ramai mencari duit dan tiket liburan gratis dengan cara menjadi buzzer, Bukik yang juga adalah buzzer memaknainya secara berbeda. Ia tak melulu mengikuti apa kemauan brand yang membayarnya. Ia punya tinjauan yang tidak unyu, berwawasan dan hei… tahu nggak kalian bahwa buzzer yang satu ini punya brand sendiri, Indonesia Bercerita namanya.
Dan tulisan ini bukan pula sebagai balasan atas apa yang pernah ia tulis tentang diriku di blognya, tapi lebih karena.. ya karena itu tadi, isi kepala orang yang juga eks aktivis 98 ini berbobot dan sayang kalau tak diburu dan dibuka selebar-lebarnya di sini!
Bukik dan putrinya
Halo, Bung! Nama kamu sebenarnya siapa, kok bisa dipanggil Bukik? Nama asli? Mungkin sudah terkubur sejarah haha… Dulu pernah diceritain kalau aku lahir diberi nama sesuatu. Tapi karena sakit-sakitan, seperti kebiasaan orang Jawa lainnya, orang tua mengganti nama menjadi Budi Setiawan. Waktu kecil, keluarga memanggilku Wawan, mungkin dari Setiawan.
Nah, kalau Bukik itu sebenarnya nama panggilan dari tim majalah sekolah SMA yang kupimpin dulu. Asal katanya “mbukik”, singkong tua yg sudah mengeras. Entah apa hubungannya mengeras sama aku, mungkin sikapku, ide-ideku atau sesuatu yang lain, hahaha…
Tapi sesudahnya sebenarnya tak pernah berpikir untuk menggunakan nama Bukik lagi. Sampai ketika ospek di ITS (Institut Teknologi Surabaya -red), aku harus menulis keplek (tag nama -red) sesuai beragam syarat yg ditetapkan panitia. Ketika memakai nama Budi, ada saja kesalahan yg ditemukan panitia. Iseng-iseng pakai nama Bukik, eh langsung lolos.
Begitulah dan seterusnya aku menggunakan nama Bukik. Keren juga ternyata…
Dimana titiknya? Tidak ada titip yang tepat. Titiknya adalah ketika energi dan keimanan kita pada sebuah ide telah habis. Pada titik itu, ide mengalami kegagalan
Latar belakangmu psikologi kan ya? Kamu sendiri sebenarnya ingin dikenal orang sebagai apa? Aku lulusan psikologi. Mungkin karena itu, pandangan yang khas psikologi muncul dalam ulasan atau komentarku. Secara keahlian, aku adalah psikolog organisasi, bagaimana organisasi lahir, tumbuh, berkembang dan mati. Secara profesi, aku adalah fasilitator, orang yang memfasilitasi / mempermudah sekelompok orang mencapai tujuan seperti pengambilan keputusan atau menghasilkan ide inovatif. Secara hobi, aku adalah blogger, orang yang menulis sesuka hatinya.
Aku ingin dikenal sebagai orang yang terus mencari, menjelajah ke sudut-sudut ruang gagasan, dipandu keingintahuan dan intuisi. Hidup adalah tentang pencarian ide yg lebih baik untuk kebaikan bersama. Seorang petualang ide.
Anda kan pernah jadi dosen yang statusnya pegawai negeri tapi lalu mengundurkan diri dan ‘bekerja sendiri’. Bener? Bener
Butuh waktu berapa lama untuk mempertimbangkan hal itu dan apa yang akhirnya jadi trigger mu untuk memutuskan? Setelah lulus S1, sebenarnya aku terjun jadi aktivis NGO lebih dulu. Berikutnya baru melirik profesi dosen. Menurutku, dosen punya kesempatan buat berjumpa dengan orang-orang muda yang rindu pada perubahan yang lebih baik. Aku betah bekerja sama dalam tim yang waktu itu guyup, komunikasi terbuka, satu misi.
Interaksi dengan orang muda tidak hanya di kelas, tapi aktivitas luar kelas seperti di riset maupun pengabdian masyarakat. Masa-masa yang menyenangkan. Saat ini pun berjumpa dengan mereka yg telah lulus tetap menjadi momen yg menyenangkan.
Tahun-tahun selama menjadi dosen adalah totalitasku pada kampus. Bukan hanya kontribusi ide, tapi juga meningkatkan omzet lembaga hampir 2 kali lipat hanya dalam waktu setahun. Aku juga menginisiasi pendirian S2 magister perubahan dan pengembangan organisasi.
Menurutku sebuah perubahan hanya akan terjadi bila kita mengimani sebuah ide, tanpa ada keraguan.
Sayangnya, organisasi terus berkembang, begitu pula orang-orangnya. Keguyuban yang dulu kental pun lama-lama mencair. Terjadi perbedaan-perbedaan yang kian terbentang. Aku pikir perubahan ini wajar. Hanya saja, aku merasa jadi asing, dan merasa berada pada tempat yang bukan untukku.
Aku pun mulai terpikir untuk mencari tempat pengabdian baru. Aku lontarkan ide pada keluarga. Ada kesepakatan mengenai keadaan minimal yang harus kupenuhi agar ide itu terealisasi. Lebih dari setahun, keadaan minimal itu tidak tercapai. Hampir putus asa.
Tapi kemudian, kegigihan selama bertahun-tahun mempromosikan appreciative inquiry berbuah hasil. Aku diminta oleh seorang rekan yg pernah menjadi salah satu peserta workshop-ku untuk membantunya.
Tawaran tersebut pun tidak langsung jadi sebuah kerja sama. Butuh waktu. Diantara waktu itu, aku mendengar pidato dari Onte, seorang social entreprenuer dari Kendari, yg bercerita kondisi ketika mendapat sms dari isterinya “susu buat anak habis. Tidak ada uang”.
Cerita yang melecutku. Aku belum mendapat tantangan seberat itu, aku masih kurang nyali untuk melompat meninggalkan zona nyaman.
Sebulan setelah mendengar pidato Onte itu, aku ditawari kontrak setahun sebagai fasilitator freelance. Dan kupikir inilah saatnya untuk melakukan lompatan.
Kontrak ini yang kuajukan ke keluarga. Meski sebenarnya tidak memenuhi keadaan minimal yang dituntut, keluarga akhirnya mengijinkanku untuk mundur sebagai PNS.
Aku ajukan surat pengunduran diri sbg PNS langsung ke rektor. Suratku pun diproses sesuai prosedur. Dan per 31 Maret 2012, aku bukan lagi dosen PNS di Unair (Universitas Airlangga Surabaya -red).
Pengunduran diriku secara administratif mulus. Tapi meninggalkan banyak kekecewaan dari beberapa rekan seperjuangan. Kekecewaan yang sejujurnya kadang juga melahirkan sesal buatku
Sekarang, aku tetap menjadi fasilitator freelance, blogger, sesekali jadi social media strategist dan mengembangkan social entrepenuer Indonesia Bercerita. Proyek terbarunya adalah Boneka Takita, sebuah media interaksi antara anak dengan orang tua. Wajib ikut kamu Don :D
Indonesia Bercerita sendiri pada titik seret tapi belum gagal. Sebagai platform bagi para pendongeng, Indonesia Bercerita berada pada ujung tanduk.
Awesome! Bung, kamu gak takut gagal? Maksudku, misalnya kamu nyoba di Indonesia Bercerita, trus gagal, lalu bagaimana? Adakah satu titik dimana akhirnya kamu memutuskan bahwa “Yak, ini gagal!” atau “Yak, ini sepertinya agak seret tapi belum gagal!”
Gagal? Bolak-balik dari dulu. Ada yang gagal di ide, ada yg gagal di promosi, ada yg gagal di eksekusi. Dulu waktu masih di kampus, ngemis utang ke klien biar bisa membayar gaji anak buah sudah pernah kulakuin kok. Meski begitu, ya tetaplah takut gagal. Itu bisa bikin gak tidur semalaman.
Indonesia Bercerita sendiri pada titik seret tapi belum gagal. Sebagai platform bagi para pendongeng, Indonesia Bercerita berada pada ujung tanduk. Ekosistem penikmat audio di Indonesia tidak cukup berkembang. Tapi sebagai misi mendidik melalui cerita, Indonesia Bercerita masih punya banyak kemungkinan menarik.
Dimana titiknya? Tidak ada titip yang tepat. Titiknya adalah ketika energi dan keimanan kita pada sebuah ide telah habis. Pada titik itu, ide mengalami kegagalan
Kalau gagal dalam Indonesia Bercerita mungkin anda bukan yang pertama karena ada begitu banyak suatu bentuk usaha online yang mati di Indonesia. Menurutmu, hal yang paling ideal untuk sebuah bentuk usaha online itu hidup di Indonesia yang seperti apa?
Haha pertanyaan hiburan! Aku juga tidak tahu bagaimana idealnya. Meski pernah membantu bisnis online kecil, tapi aku belum pernah berhasil bikin usaha online sendiri. Apapun usahanya, online atau offline, harus menemukan jalan mendapatkan pemasukan untuk menghidupi usaha tersebut. Atau istilah yang lagi ngetrend sekarang, punya model bisnis yang jelas. Aku sendiri sekarang mencoba membuat usaha yang mengombinasikan usaha online dan offline. Semoga kali ini aku berhasil hehe
Kembali ke soal ‘langkah besar’ mu keluar dari PNS dan mencoba sesuatu yang baru, kamu pernah nggak berpikir bahwa kamu itu terlalu idealis?
Idealis sebagai kengototan mewujudkan sebuah ide? Iya.
Kalau sudah beriman pada sebuah ide, maka semua energi harus dikerahkan untuk mewujudkan ide tersebut. Menurutku sebuah perubahan hanya akan terjadi bila kita mengimani sebuah ide, tanpa ada keraguan.
Idealis sebagai egoisme terhadap pendapat pribadi? Tidak. Aku membutuhkan waktu yang cukup untuk mendengar masukan, meragukan ide, memikirkan berulang kali, sebelum meyakini sebuah ide. Aku bukan orang yang mudah mengiyakan suatu ide, baik dari aku sendiri maupun dari orang lain.
Namanya Lex De Praxis. Waktu pertama kali kudengar sekitar lima tahun silam, yang terbayang olehku pertama kali adalah musuh Superman nan legendaris, Lex Luthor. Kalau kamu tak percaya bahwa itu bukan nama lahirnya, kamu tak sendiriandan itu memang benar adanya!
Aku mengenalnya sejak ia belum menggunakan nama baru itu. Tak penting untuk kusebut siapa namanya sebelum ini, tapi yang terpenting adalah kami dulu sangat akrab dalam berdebat soal iman dan agama di salah satu forum online yang ia buat sendiri, pertengahan dekade silam. Saking akrabnya dalam debat dan diskusi, pernah suatu waktu kami memutuskan bertemu di sebuah coffee shop di bilangan Jakarta Barat; sebuah tempat yang pernah kami sebut sebagai gereja karena di sana pun kami memuliakan Tuhan melalui perdebatan, melalui kata-kata.
Tapi waktu lalu berlalu. Beberapa tahun sesudah tak berhubungan karena satu dan lain hal, tiba-tiba dia nongol sebagai Lex De Praxis itu tadi. Seorang pakar cinta yang bersama kawan-kawannya yang juga tak lain adalah kawan-kawan debatku dulu di forum yang sama, yang mendirikan Hitman System, sesuatu yang olehku sendiri kuartikan sebagai balai konsultasi dan penunjuk arah mereka yang ‘lost’ dalam dunia percintaan!
Hingga januari silam, dalam sebuah ‘percakapan’ di timeline Twitter dengannya muncul hasrat untuk meng-interview Si Lex ini. “Soal cinta!” jawabku ketika ia bertanya mau ngomongin soal apa. Lalu jadilah tulisan ini.
Nah, bagaimana pendapat Si Pakar Cinta, Lex De Praxis soal cinta dan utamanya terkait dengan Hari Valentine yang perasaan tiap tahun makin dihormati sebagai hari yang kontroversial ketimbang hari cinta kasih ini, simak penjelasannya! Demi keutuhan pesan yang dibawakan Lex, aku sengaja tak memotong terlalu banyak ulasannya, jadi kalau terlalu panjang lebih baik ditinggalkan saja tulisan ini.. dengan penuh cinta :)
Lex, banyak orang meributkan Hari Valentine? Ada yang bilang itu budaya kafir, ada yang bilang itu nggak sesuai dengan budaya bangsa kita. Pendapatmu?
Saya merasa keributan tentang ‘kepemilikan’ budaya Hari Valentine bisa dianggap berlebihan, kalau tidak menggelikan. Sebagian orang sedemikian insecure-nya hingga menyatakan bahwa Hari Valentine adalah budaya (milik orang) barat, atau bahwa Hari Valentine adalah budaya (milik komunitas) kristiani, atau bahwa Hari Valentine adalah budaya (milik tradisi) pagan Romawi, dsb.
“Indonesia adalah bangsa yang (sudah) cemar dan perlu terus dicemari oleh budaya-budaya (bangsa) lain agar kode genetik Indonesia tetap terus terbawa hingga ribuan tahun mendatang, bukannya tercatat sebagai bangsa yang pernah ada.”
Saat ini kita tinggal di era perkampungan digital di mana mindset ‘Us vs Them’ sudah selayaknya jadi susu cair yang dibuang karena amis kental kadaluarsa. Persepsi sempit ala puritanisme demikian tidak lebih dari ekspresi ketakutan bahwa sebuah entitas akan mati lenyap jika bersentuhan dengan entitas asing. Padahal justru sebaliknya, kita harus cukup tercemari dengan organisme lain untuk memastikan kelangsungan generasi berikutnya yang sudah teradaptasi dengan lebih sempurna. Indonesia adalah bangsa yang (sudah) cemar dan perlu terus dicemari oleh budaya-budaya (bangsa) lain agar kode genetik Indonesia tetap terus terbawa hingga ribuan tahun mendatang, bukannya tercatat sebagai bangsa yang pernah ada.
Nah, dalam prespektif modern, sebenarnya ‘sah’ nggak Hari Valentine itu dirayakan, terlepas dari mana ia berasal?
Sebagai sebuah hari perayaan, saya merasa Hari Valentine sah-sah saja. Manusia selalu menciptakan ritual simbolisme demi membuat hidup lebih bermakna, indah, ataupun sekedar memecah rutinitas keseharian yang begitu-begitu saja. Seperti penulis buku MoonWalking With Einstein, Joshua Foer, bilang, “Our lives are the sum of our memories,” simbolisme adalah mekanisme otak kita untuk merekam memori kehidupan tersebut. Jadi jika untuk keperluan itu kita jadi menciptakan festival Hari Valentine, sekali lagi saya pikir itu bisa dimaklumi, bahkan sangat berguna sebagai (salah satu) momen katarsis dalam membina hubungan. Bagi saya Hari Valentine itu sama bergunanya (sekaligus juga sama konyolnya) dengan perayaan tanggal jadian, tanggal pernikahan, dan segudang penanggalan arbitrer lainnya. Hari Valentine adalah hari yang disepakati bersama untuk menghiperbolakan arti cinta; sepanjang kesepakatan itu terjadi tanpa paksaan ataupun dijadikan standar kewajiban, saya mendukung berbagai kenorakan dan kegilaan yang dilakukan secara sadar pada hari tersebut. Kata kuncinya adalah kesadaran dari para pihak-pihak yang terlibat, yaitu bahwa aktivitas Hari Valentine itu hanyalah bentuk perayaan hubungan bukannya persyaratan hubungan.
Hmmmm *manggut-manggut* Lalu?
Having said that, saya harus akui juga masih sedikit sekali pribadi/pasangan yang mampu merayakan Hari Valentine sebagaimana kriteria yang baru saya sebutkan di atas. Seperti sudah saya tulis di sini, Hari Valentine seringkali jadi hari pembantaian cinta besar-besaran. Itu terjadi karena kebanyakan orang menjalani Hari Valentine sebagai sebuah program / aplikasi otomatis yang dijalani tanpa disadari maknanya. Berikut adalah deskripsi Hari Valentine yang saya tulis tahun 2006 dulu dengan sok gaya ucapan ala The Architect dalam film The Matrix: “So what is Valentine Day? Valentine Day is the matrix, a systemic mind program built to simulate a perfect 24 human hours time for transfigurating the consequence of the grotesqueries imperfection of love inherent in every human actions throughout the whole 364 days. While this program functioned, it is fundamentally flawed, thus creating the otherwise contradictory systemic abuse to the free-will of every human couple. Those that refuse the VD program would constitute an escalating probability of feeling unworthiness and incompleteness in their love life. Ergo, failure to comply with this program will result in a cataclysmic decline of intimacy, coupled with the extermination of belongness, that will result in the extinction of the whole ongoing relationship.”
Kesimpulanmu? Salah atau benar perayaan Valentine Day itu?
Jadi menutup dengan klise seklise-klisenya, perayaan Hari Valentine sih tidak salah.. hanya kebanyakan para pelakunya saja yang salah. :D
OK, tapi yang menarik soal Hari Valentine ini, mereka yang biasa merayakan Hari Valentine juga kerap mengacungkan telunjuk ke mereka yang tidak setuju sebagai pihak yang mengenal kasih sayang, hiperbola juga ya?
Orang-yang-merayakan-hari-Valentine tapi menyebut orang-yang-tidakmerayakan-hari-Valentine sebagai orang-yang-tidak-mengenal-kasih-sayang adalah orang-yang-merendahkan-dan-menodai-perayaan-hari-Valentine. Itu adalah respon hiperbola saya untuk kehiperbolaan orang-orang yang demikian. Pro dan kontra akan selalu ada, dan biarlah pria dan wanita yang miskin cinta sibuk meributkan tentang kelayakan perayaan hari Valentine.
“…biarlah pria dan wanita yang miskin cinta sibuk meributkan tentang kelayakan perayaan hari Valentine.”
Sekarang ke hal yang lebih dalam lagi, sebenarnya dalam kaitan antara cowok dan cewek, cinta itu apa?
Bagi saya cinta bisa dibedah lewat berbagai kacamata. Religi memandang cinta sebagai bentuk ekspresi kekuatan agung yang indah suci antar manusia, sesamanya, dan figur sembahannya. Politik dan ekonomi memandang cinta sebagai bentuk negosiasi kapital demi keperluan tertentu. Kesusasteraan populer memandang cinta sebagai bentuk fantasi yang berbunga-bunga demi memberikan harapan bagi realita yang tidak sebegitu indahnya. Masih ada banyak kacamata lainnya. Salah satunya adalah apa sudah saya lakukan selama sepuluh terakhir ini lewat HitmanSystem.com, yaitu menawarkan cinta yang ditelisik secara keilmuan dan pemahaman yang sistematis. Salah satu definisi cinta yang selalu saya ajarkan? adalah rasa kelekatan yang timbul akibat dari pengaliran sumber daya pribadi pada satu individu tertentu. Dalam bahasa sehari-hari, semakin kita menghabiskan banyak investasi waktu, tenaga, uang, dan hal-hal lainnya terhadap seseorang, semakin kita akan merasa tertarik/suka/cinta/sayang pada orang tersebut. Sekalipun mungkin awalnya tidak ada ketertarikan apa-apa, jika Anda terus menghabiskan banyak hal dengannya, cepat atau lambat hati Anda akan memiliki perasaan khusus padanya.
“Hubungan cinta antara pria-wanita merupakan siklus aksi-reaksi yang harus berputar agar kedua pihaknya terus bisa merasakan kenikmatan/keindahannya.”
Ditelaah dari sudut lain, cinta adalah sebuah aksi alias pekerjaan dan RASA cinta adalah REAKSI dari pekerjaan yang dilakukan itu. Hubungan cinta antara pria-wanita merupakan siklus aksi-reaksi yang harus berputar agar kedua pihaknya terus bisa merasakan kenikmatan/keindahannya. Itu berarti dalam sebuah hubungan cinta yang baik sewajarnya berisi banyak repetisi, banyak eskalasi, dan banyak juga gelombang naik-turun hingga akhirnya hubungan itu sendiri jadi seolah ada kesadarannya sendiri. Seperti entitas yang hidup, bernafas, dan memiliki dinamik emosinya sendiri. Pria dan wanita ketika berhubungan cinta tidak menghasilkan satu pribadi yang menyatu, melainkan tetap dua pribadi dan malah bertambah satu lagi: yaitu pribadi si pria, si wanita, dan si siklus hubungan itu sendiri.
Makanya orang-orang sering menyebut bahwa hubungan itu perlu dijaga. Untuk semakin memperlengkapi kedua pemahaman di atas, saya juga selalu mendefinisikan cinta sebagai sebuah koktil biokimia . Jantung yang berdebar-debar, panik dan rileks datang silih berganti, telapak tangan basah, energik, sulit tidur, hilang nafsu makan, dsb adalah sebagian yang terjadi saat jatuh cinta akibat banjirnya dopamine, norepinephrine dan phenylethylamine dalam tubuh. Lalu rasa sayang yang lebih intens, mengikat, bahkan mencandu timbul berkat unsur oxytocin, vasopressin, dan endorphin yang terpicu oleh sentuhan fisik dan aktivitas seks. Itu hanya sebagian kecil saja, masih ada banyak elemen kimia lainnya. Jadi ketika orang bilang cinta itu buta, sungguh itu adalah metafor yang sangat tepat karena kesadaran kita sedang dikabutkan oleh kemabukan kimia tubuh.
Hanya karena saya sudah membedah cinta hingga sedetil demikian, bukan berarti cinta kehilangan makna maupun keindahannya. Saat saya jatuh cinta ataupun mencintai seseorang, saya menikmati keagungan keilahian rasanya, terhanyut dalam kenikmatan geloranya sama persis seperti orang-orang lain. Tapi tidak berhenti di situ saja. Semua keilmuan cinta yang saya jelaskan tadi itu membuat saya memahami secara persis apa yang sebenarnya terjadi dalam hubungan cinta di tananan psikososial dan biopsikologi diri. Memahami cinta membuat saya jadi lebih mengagumi dan menghargai manusia.
Wow sekali penjelasanmu, Lex! Pantas orang banyak bilang kamu itu Pakar Cinta?!
Ah, Pakar Cinta itu sekedar label yang tidak berarti, sama seperti Dokter Cinta, Profesor Cinta, Provokator Cinta, Nabi Cinta, Pengendali Cinta, dsb yang datang silih berganti diucapkan oleh teman-teman terkait tema yang sedang saya bicarakan di Twitter. Saya sih lebih suka dengan istilah Edukator Cinta, karena itu jauh lebih cocok dengan visi dan misi saya dalam Hitman System. Terlepas dari label-label tersebut, kepakaran saya dalam hal cinta bukan berarti saya mengetahui segala sesuatu tentang cinta. Label tersebut hanya berarti saya lebih fokus, lebih serius, dan tentunya meluangkan waktu yang sangat lebih banyak untuk mempelajari seluk-beluk dinamika hubungan cinta.
Menurut Dr. K. Anders Ericsson, seorang profesor psikologi di Florida State University, seseorang perlu mempelajari sesuatu setidaknya 10,000 jam untuk memiliki kualitas ‘jagoan’, ‘luar biasa’, dan ‘jenius’ di bidangnya masing-masing. Walau Hitman System berdiri di 13 Februari 2006, semua pengamatan, riset dan eksperimennya sudah saya mulai dari empat tahun sebelumnya. Anggap saja secara kasar saya menghabiskan waktu 5 jam per hari untuk ‘membedah cinta’ (padahal realitanya saya hampir menghabiskan seharian penuh untuk ‘ngulik’ cinta-cintaan) semenjak tahun 2002, maka kira-kira di bulan Juni 2007 saya sudah menembus angka 10,000 jam tersebut.
Berarti loe jagoan dong?!
Rasanya tidak. Sebut saja saya sebagai orang yang bisa memahami cinta jauh lebih banyak daripada orang pada umumnya. Dan jelas semua ‘jam terbang’ itu membuat saya semakin percaya diri dalam menangani kasus-kasus cinta yang makin ke sini makin ‘miris, ngeri dan ada-ada aja’ kejadiannya. Sudah belasan ribu jam memahami cinta seperti itu pun bukan berarti saya bisa terbebas terlindungi dari hubungan yang ‘miris, ngeri, dan ada-ada aja’ itu. Saya tetap kadang tergelincir dan terjebak dalam percintaan yang demikian, bahkan pernah menjadi korban kekerasan fisik dan mental dari seorang wanita yang pada saat itu adalah kekasih saya. Justru berbagai pengalaman jatuh-bangun (dalam arti sebenarnya!) itulah yang membuat saya semakin PD se-PD-PD-nya menekuni profesi sebagai edukator cinta ini.
Hahaha, ok dua terakhir yang agak pribadi! Pertama, nama asli kamu itu sebenarnya siapa?
Sesuai standard operating procedure saya ajarkan di Hitman System, identitas nama asli adalah sesuatu yang dianugerahkan pada wanita yang berhasil lolos hingga kencan ketiga dengan saya.. tapi itu pun jika dan hanya jika dia mencetak skor rata-rata 8 dalam fit & proper tests. Jadi demi konsistensi & integritas terhadap kurikulum yang saya ciptakan itu, saya mohon maaf belum bisa memenuhi permintaan. Lagipula, apalah arti sebuah nama.. hanya sebuah label yang tidak membuat orang lain jadi (lebih) jatuh cinta. :p
Booooo?.*failed! Kedua, kamu kan pakar cinta, kamu sendiri sudah berhasil dalam cinta belum? Punya pacar gitu? Atau jangan-jangan sudah beranak-istri?
Hahahaha.. begini, kita semua tahu bahwa orang yang paling banyak bacot tentang cinta biasanya cuma jago ngomong saja. Tulisan George Bernard Shaw dalam bukunya Maxim for Revolutionists – Man & Superman, “He who can, does. He who cannot, teaches,” itu sungguh ada benarnya. Jadi.. menjawab pertanyaan itu.. hmmm, ya silakan nilai sendiri deh. :)
Apakah iman itu? Aku membayangkannya demikian: seorang Ibu pergi ke pasar. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, anaknya bilang kalau ia bakalan lapar banget malam nanti karena ia akan bekerja keras hari ini. Naluri seorang Ibu lantas membuatnya berpikir untuk mempersiapkan makanan terlezat malam ini.
Sang Ibu lantas bertanya dalam hati, “Enaknya dimasakin apa ya?” sementara itu ia tahu ia tak bisa menelpon karena anaknya sedang bekerja… bekerja keras dan tak bisa diganggu.
Sekian lama bingung, akhirnya si Ibu mendapatkan ‘hidayah’.?“Ah, anakku pasti senang kumasakin sayur lodeh karena kemarin ia doyan banget waktu kumasakin itu!”
Maka jadilah ia berbelanja sayur-mayur tujuh rupa, kelapa terbaik untuk diambil santannya tak lupa ia pun belanja tempe dan beberapa paha ayam untuk digoreng. “Siapa tahu ia tambah suka, dan aku dapat pahala!” tuturnya bersemangat.
Demikian pulalah adanya iman. Masing-masing dari kita punya iman setelah datangnya ‘hidayah’ bahwa kita yakin Tuhan yang kita imani akan senang kalau kita memberikan/ berbuat sesuatu yang kita imani kebenarannya.
Padahal apa dan bagaimana serta dimanakah kebenaran dan kesalahan itu sendiri adalah sesuatu yang bersifat ‘tebak-tebakan’. Kita hanya bisa menebak dan terus menebak.
Tapi ya tak mengapa, itulah asiknya beriman membuat hidup menjadi lebih seperti roller caster ketika fakta kehidupan melawan keteguhan iman kita dan sebaliknya, hati kita akan berubah jadi berbunga- bunga ketika kita SEOLAH mendapat pembenaran dari iman kita.
Hingga akhirnya nanti ketika kita bertemu dengan yang kita imani, sama halnya dengan yang terjadi pada Sang Ibu sore hari itu.
Si anak pulang, lantas mandi karena keletihan dan segera duduk dan menghadap meja makan.?Sang Ibu dengan ‘pede’ nya lantas menuang sayur lodeh kental nan hangat ke dalam mangkuk besar beserta tempe dan ayam goreng di atas piring kecil.
Namun apakah reaksi sang anak? Entahlah… Bisa jadi ia lahap menyantap, tunailah kebahagiaannya. Bisa jadi ia menolak karena bosan.. atau paling parah, tiba-tiba ia mengeluarkan bungkusan dan bilang, “Mama ngapain repot-repot masak, aku beli masakan dari luar tadi!”
Tricky, huh? Tebak-tebakan, kan jadinya?
Tapi, untuk ‘mendatangkan’ seorang kawan bernama Pitoresmi yang biasa disapa Pito aku tak perlu main tebak-tebakan! Sejak dari dulu aku mengimani bahwa ia punya landasan pikir yang unik, maka ketika kutawari dia ‘bicara’ soal keunikannya, ia tetaplah unik!
Kali ini aku mengajak dia bicara soal Tuhan dan sindirannya tentang kaum radikal yang sekarang cenderung lebih punya suara ketimbang dulu waktu jamannya ditekan habis-habisan oleh Soeharto dengan Orde Barunya.
Eits tapi tunggu dulu! Sebelum kalian membaca, aku mau tekankan bahwa tak banyak dari tulisannya yang kuedit dan biarkan polos apa adanya seperti yang ia ketikkan padaku via email. Tekanan yang kedua, please bacalah tulisan dan opini Pito ini sebagai sebuah ‘pandangan lain’ untuk dihormati, bukan sesuatu yang layak kita hujat, karena sekali lagi seperti kuutarakan di atas, hidup dan iman itu hanya perkara main tebak-tebakan!
Menurutmu Tuhan itu apa sih, Pit? Ia tinggal dimana dan pekerjaannya apa? Tuhan itu… nggak tau ha3x!
Dia adalah ?sesuatu? yg mendasari semua keputusan penting (dan nggak penting) gw.
Kalo lo nanyanya tuhan dalam term formal seperti orang2 pada umumnya, gw beneran nggak tau. Kalo di term gw, tuhan itu skala prioritas. Dia adalah “sesuatu” yg mendasari semua keputusan penting (dan nggak penting) gw. Dia tinggal di pikiran semua orang dan pekerjaannya nge-pukpuk (menina-bobo -red) kita supaya tenang atau nggak khawatir.
Jadi kamu nggak punya pandangan tentang Tuhan dalam tataran ‘yang dimengerti manusia’? Oh, ada. humanity. kemanusiaan.
Orang selalu mengaitkan agama dengan tuhan dan tuhan dengan hidup sesudah mati. kamu punya pandangan yang pragmatis ngga tentang hidup sesudah mati? Pragmatis gimana kalo keberadaannya aja ga gw percaya? Kehidupan setelah mati itu semacam pelarian bagi para fatalis2 yg percaya semua tindakannya, hidup-matinya adalah takdir tersurat. Termasuk reward-nya di the so-called hidup setelah mati itu.
“Surga itu ketika kita bahagia…”
Buat gw, hidup itu sekarang, saat ini, di sini. Surga itu ketika kita bahagia sama apa yang kita punya, karena kita sendiri yang bikin, sekarang, di sini, saat ini.
In another light, orang mati itu nggak benar2 mati. Secara biologis, iya. dia mati. Tapi secara filosofis, dia akan tetap hidup dalam kenangan orang2 yg pernah dia sentuh inti hidupnya. Entah dikenang dalam bentuk orang jahat maupun orang baik, tergantung amal- ibadahnya pada sesama manusia. Yang mati nggak pernah tau hal ini, karena beberapa tahun setelah mati dia benar2 terurai jadi tanah. Nggak penting juga untuk dia tau karena kebaikan terbaik adalah seperti lo lagi eek: lo keluarin tokai lo tanpa lo inget dan lo ungkit2 lagi.
Dengan kata lain, menurutmu ramai orang bunuh2an hanya gara-gara pelem, orang teriak2 karena rumah ibadahnya diblokir itu ga guna? Nope. Definitely. Tapi gw support kepercayaan orang lain, apapun yang mau dia percaya, even kalo dia percaya dirinya penyembah kuda bercula satu warna ungu dan suka nangis airmata biru yg bisa terbang. Dan ngelarang2 orang percaya itu sama dengan melanggar hak azasi. That’s unfair. The same unfairness dengan memaksa orang untuk percaya kuda bercula satu warna ungu dan suka nangis airmata biru yg bisa terbang dan marah-marah?kalau yang dipaksa ngga mau percaya.
Tapi kesannya loe malah apatis ke apapun yang terjadi dalam benak dan kehidupan mereka dong? Bener? Gw yakin mereka juga apatis sih sama apa yg terjadi di hidup gw. so, jadinya impas lah. satu sama Ha3x
Sampai berapa lama kamu akan berpijak di ranah freethinking? Maksudku pernah nggak berpikir suatu waktu akan menikah dengan seorang yang ‘benar’ menurut tatanan moral awam lalu berkeluarga, beranak dan mendidik anak dalam agama yang kalian sepakati untuk dianut? I’m sort of present tense person. I don’t think about future nor the past. so, i never know for how long i’d be in this state of mind. Berpikir tentang menikah juga nggak, wong pacar aja nggak punya =P
But i find educating human kids is challenging. but no, not into any sort of religion, thanks.
Aku mengenal sosok ini justru setelah aku pindah ke Australia.?Padahal kalau sejak di Jogja aku sudah kenal, barangkali akan ada banyak sekali sesi tatap muka dengannya.
Menurutku, ia bukan tipe orang yang ‘mudah disukai’ pada komunikasi pertama. Pada tahap komunikasi kedua? Barangkali kalian memutuskan untuk tak usah mengenalnya lagi! Apalagi kalau kalian hanya mengenalnya lewat tulisan dan linimasanya.
Padahal, orangnya menurutku sih biasa-biasa saja. Ia cenderung kritis karena keadaan lingkungan sekitar, kota dan negaranya memang butuh untuk dikritisi. Orang seperti dia kupikir cocok untuk dijadikan sebagai parameter sejauh mana pemerintah mampu bekerja. Kok bisa? Ya, selama ia masih kritis, berarti ketidakbecusan ada di satu sisi dalam roda kerja pemerintah. Simple kan?
Tapi percaya saja, sifat inilah yang membuatku merasa ?cocok? meski kecocokan di sini bukan berarti tanpa argumentasi.?Beberapa kali aku konfrontasi dengannya di timeline maupun tulisan-tulisannya; tapi aku jadi ingat kata salah satu sahabatku dulu, persoalan-persoalan yang ada di antara dua orang teman itu justru yang membuktikan seberapa kuat mutu pertemanan itu sendiri.
So, ladies and gentlemen, tak perlu kebanyakan cocot lagi, inilah Blontank Poer!
Aku memanggilnya sebagai Lik, Paklik, bahasa Jawanya Om.?Seorang peracik kata dan juga teh beraroma melati, Blontea yang pernah kutemui secara nyata dalam liburan di Indonesia, Juli kemarin.
Berbincang dengannya selalu membuatku berpikir topik apa yang harus kudiskusikan padanya selanjutnya?
Interview inipun sebenarnya juga berawal dari sekadar ?haha-hihi? belaka antara aku dengannya di jendela chatting.?Lalu terbesit untuk kujadikan tulisan, maka santun kutuliskan email padanya, mohon ijin untuk ‘mewawancarai’nya. Tak seberapa lama kemudian, tiba-tiba di jendela chat, ia pun muncul sembari menawarkan diri, “Hahaha! Apa yang nggak buat kamu, Don! Ayo, kita mulai.. mau ngobrol apa?”
Sementara masih bingung menjawab mau ngobrol apa, mataku tiba-tiba menoleh ke timeline Twitter yang lagi penuh dengan aneka brand dijajakan oleh buzzer.. maka jadilah aku teriak padanya, “Ayoh! Kita ngobrol soal buzzer!”
Dan terangkumlah interview tersebut seperti di bawah ini:
Halo, Lik! Halo!
“aku buzzer sebab aku suka nge-buzz sesuatu yang kuanggap penting untuk orang kemaslahatan orang banyak, dan masa depan bangsa Indonesia yang beragam ini”
To the point dulu, Lik! Karena kita ngomong soal buzzer, aku mau tanya, kamu buzzer apa bukan? Hayo! Dalam pengertian umum, YA, aku buzzer sebab aku suka nge-buzz sesuatu yang kuanggap penting untuk orang kemaslahatan orang banyak, dan masa depan bangsa Indonesia yang beragam ini. Boleh, kan kalau kujawab demikian?
Hahaha, ok Lik! Jaman sekarang banyak orang ngga suka buzzer! Menurutmu kenapa hal itu bisa terjadi? Apa karena mereka iri dan dengki dengan penghasilannya saja atau? Tanyakanlah pada dirimu sendiri, Don! Kamu benci mereka?
Nggak.. aku membenci perbuatan oknum-oknumnya. Sebentar, ini kok malah kamu yang mewawancarai aku, to? Ok lanjut, Lik! Persisnya aku gak tahu… Kalau aku sih kurang sreg dengan ‘tidak jujur’-nya sebagian dari?mereka dalam menyebut apa yang ditulisnya itu, sebagai iklan atau bukan iklan. Itu dulu.
“…para buzzer itu seharusnya memberi tanda pada setiap tweet/postingnya bahwa ini adalah iklan dan yang lain bukan!”
Maksudmu? Maksudku, para buzzer itu seharusnya memberi tanda pada setiap tweet/postingnya bahwa ini adalah iklan dan yang lain bukan!
Tapi apa itu bisa ?jalan?? Kawanku, seorang buzzer juga, dia bilang cara seperti itu dibenci sponsor! Terserah kalau begitu. Soal itu ya urusan pribadi antara buzzer dengan sponsor!
Lho, sik tha. Gimana kalau ada juga yang bilang, “Mau ngomongin yang baik2nya aja ya ngga papa.. itu kan bagian dari kontrak!” Piye, jal? Lho, begini… Penyimak (lebih suka menyebut demikian dibanding sebutan follower/pengikut) juga punya hak diperlakukan dengan baik, setidaknya dianggap setara sebagai teman diskusi
Tapi nek mereka bilang, “Lho, ya kalau ga suka tinggal unfollow!” piye, Lik? Kalau asumsiku begini, orang mau menyimak linimasa kita itu punya harapan dapat teman diskusi atau dapat informasi yang mereka minati.?Mereka sudah meluangkan waktu untuk membaca dan keluar duit untuk bayar bandwidth. Jadi ya harus kita apresiasi, dong!?Kalau berkilah bisa unfollow atau mute, menurutku itu kecongkakan.
“Kalau berkilah bisa unfollow atau mute, menurutku itu kecongkakan.”
Jadi, buzzer yang begitu itu bisa dikatakan congkak? Iya! Berteman di linimasa itu seperti membuka ruang silaturahmi. Dalam konsep Islam, memutus tali silaturahmi itu dilarang. Ketika seseorang buka akun twitter, maka sejatinya ia membuka diri untuk bersilaturahmi. Andai akunnya gembokan, dia akan punya alasan untuk menerima/menolak permintaan pertemanan. Jadi, konsekuensi dari silaturahmi, ya mesti saling menghargai, setara, sanggup menerima perbedaan (pendapat).
Wah begitu ya?! Hmmm, baiklah kalau demikian sih sepertinya akan jadi perdebatan yang tak ada habisnya. Jadi, gimana kalau kita ngomongin jalan tengah saja? Piye menurutmu solusi ?sama enaknya?? Solusinya bukan enak nggak enak kok, Don.. Tapi fair dan nggak fair.
Kalau aku lebih suka yang fair. Dalam artian begini, aku pernah dapat tawaran jadi buzzer dengan tarif sekian ratus ribu per twit. Aku mau dengan catatan, yakni boleh pakai tagar #promo atau #adv atau #iklan. Kebetulan, agensinya mau, ya sudah, aku menerimanya.?Yang penting, dengan ada tagar itu, aku berharap penyimak linimasaku tahu kalau itu pesan berbayar. Kalau ada link di twit tersebut, orang lain diasumsikan sudah punya kesadaran dalam mengambil keputusan untuk membuka atau mengabaikannya.
Di blog-ku juga ada beberapa postingan berbayar. Tapi prinsipnya sama, asal tidak didikte harus begini-begitu, gak ada masalah buatku. Artinya, aku tetap merdeka dalam membuat review, walaupun aku tahu dalam batas mana berkompromi. Sebab sebuah produk atau brand memerlukan penyebarluasan sisi-sisi positifnya.
Tapi, dengan kemerdekaan me-review, kita bisa menunjukkan di mana sisi kekurangan/kelemahan. Itu penting sebab konsumen cerdas butuh informasi memadai berupa product knowledge. Pada sisi ini, brand sejatinya juga dapat keuntungan berupa masukan untuk perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang ada.
Tapi kemerdekaan itu kan nisbi? Mereka, para sponsor itu, toh maunya tetap diunggulkan, to? Omzet kita turun nanti! Omzet? Aku gak mengenal kosakata itu dalam beraktivitas online. Bahkan, ketika tehku mulai digemari orang karena social media, aku pun tak menggunakan akunku untuk nge-buzzer-i produkku.
Begitu juga, ada banyak testimoni positif soal tehku, di blog atau Twitter. Aku pun tidak serta-merta me-RT. Selain gak suka narsis, aku juga ingin menjaga linimasaku tidak kotor, mengganggu. Kan, tidak semua orang suka teh?
“Akan tiba suatu masa, ‘buzzer’ harus cari cara yang lebih smart dan fair karena tuntutan netizen yang cerdas.”
Aku berpikir pemerintah sudah saatnya mengatur dan memberi tata regulasi tentang bagaimana baiknya jadi seorang buzzer ditinjau dari sisi tata kramanya. Gimana menurutmu? Menurutku gak usah! Negara/pemerintah tak perlu campur tangan dalam hal beginian. Terlalu remeh.
Lagian, aku yakin, kian cerdas netizen, mereka akan tahu juga, kok, mana yang perlu dipercaya dan mana yang tidak.
Akan tiba suatu masa, ‘buzzer’ harus cari cara yang lebih smart dan fair karena tuntutan netizen yang cerdas. Tidak jarang kita lihat, orang justru merespon negatif kampanye sebuah produk dari twit yang hendak menampilkan sisi positifnya.?Itu alamiah kok. Social media memberi ruang terbuka, demokratis. Yang kelewat lebay akan disanggah, begitu pun yang nyinyir seperti kita, Don, juga akan ada yang memberi pencerahan? :p
Hahahaha! #Okesip Tapi aku masih ngotot, masa nggak perlu regulasi sih, Lik? Iklan di tivi dan mainstream media lainnya aja bisa disaring dan disekap kalau nggak baik, masa Buzzer hanya ?diserahkan? pada ruang terbuka nan demokratis? Ya biar netizen saja yang membuat konsensus tak tertulis!
Negara biar ngurus dirinya sendiri yang belum beres-beres sampai sekarang. Kementerian Kominfo, misalnya, perlu lebih fokus dulu ngurus pemerataan akses internet hingga pedalaman Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku, Papua, Aceh dan di mana saja, supaya kesenjangan digital tidak memperparah masa depan ke-Indonesia-an.
Itu lebih mendesak menurutku.
Mendesak? Mendesak supaya putaran rejeki buzzer makin tinggi karena makin banyak pemirsanya ya, Lik? Hehe, lambemu! Aku ra ngomong ngono, lho! :)
Berkawan, bagiku tak selalu memandang baik tidaknya seseorang untuk dijadikan kawan. Seburuk apapun perangai dan tabiatnya, kalau pada akhirnya ia bisa berkawan denganku, kusebutlah ia kawan. Sebaliknya, sebaik apapun orang menilainya, tapi kalau memang tak jadi kawanku, maka tak bisa pulalah kita berkawan meski itu bukan pula berarti bermusuhan.
Nah, edisi ‘dkk‘ kali ini, aku menghadirkan kawan lama, seorang Jogjanis. Beberapa orang menyebutnya tak bertabiat terlalu baik (Setidaknya ia mengaku bukan sosok suami yang baik meski ia rela mati demi menjadi ayah yang baik) meski bagiku ia tetap adalah orang baik.
Aku mengenalnya sejak barangkali awal dekade 2000-an ketika hampir setiap malam, area pergaulanku adalah coffeeshop-coffeeshop yang ketika itu mulai menjamur di Jogja.
Ia kerap diasosiasikan oleh kawan-kawan ‘seperjamuan’ sebagai orang yang tak jauh dari ‘lembah hitam’, dunia prostitusi. Barangkali inilah yang mengawali kiprah ‘tak baik’ nya.
Istilah kata, kalau kita sedang kumpul trus tiba-tiba topik bahasan meruncing ke soal ‘esek-esek berbayar’ seperti itu, kita langsung menyodorkan perhatian dan waktu untuk berbicara kepadanya seolah kami semua ingin berkata, “Kalau soal gituan, kamu kan jagonya?!!!”
Namun masalah jago beneran apa tidak, aku toh tak tahu lagipula itu tak penting karena seperti kukatakan di atas, kawan adalah kawan.
Nah, ketika berpikir untuk memuat tulisan tentangnya di ‘dkk’, entah kenapa topik yang ingin kusodorkan juga tak jauh dari geliat bisnis prostitusi di Jogja, tentu dari sudut pandangnya.
Agak berbeda dengan edisi ‘dkk’ lainnya, kali ini aku berpikir harus mengedit beberapa bagian interview demi menghindari hal-hal yang tak kuinginkan.
Pemikiranku itu termasuk untuk menyembunyikan identitasnya.
Meski sebenarnya ia tak keberatan dengan hal itu,(dalam salah satu email ia bilang, “Sebarno wae! Kabeh yo wes ngerti bosok’e aku!” (Sebarkan saja! Semua juga sudah tahu kebusukanku! -jawa)) tapi bagiku justru sebagai kawan yang baik, aku tak ingin mengungkapnya di sini.
Selain menjalankan filsafat jawa, ‘Mikul dhuwur mendhem jero’ (mengangkat tinggi-tinggi kebaikannya dan mengubur dalam-dalam keburukannya), siapa tahu, niatku ini dijawab oleh semesta untuk memperbaiki ‘tak baiknya’ nya dia itu tadi.
So, bagaimana dunia hitam di Jogja dan perjalanan sejarahnya menurutnya? Simak!
Pelacur di Jogja itu disebut sebagai keple ya?
Iya, keple… Tapi ada istilah lain seperti othoel, kithoel, nggenggek, thoklo dan sebagainya.
Kenapa dinamai keple? Tau sejarahnya?
Nggak…
Tapi kamu tau sejarah per-keple-an di Jogja?
Tau, tapi versiku.
OK, gimana?
Menurutku, sejarah per-keple-an di Jogja sudah dimulai sejak abad XVIII.
“…yang konon justru disuguhkan oleh orangtua mereka dengan harapan kelak mendapatkan kamulyan…”
Waktu itu banyak kaum priyayi pergi berburu ke Alas Bunder (daerah Wonosari, Gunung Kidul -red). Tapi selain berburu, nyatanya mereka pergi ke sana juga untuk mencari wanita yang konon justru disuguhkan oleh orangtua mereka dengan harapan kelak mendapatkan kamulyan (kemuliaan -jw) atau bisa menurunkan anak-anak priyayi walau tidak melalui jenjang pernikahan.
Oh, disuguhkan itu gimana maksudmu?
Ya, disuguhkan. Disediakan untuk ditiduri.
Wow! Begitu ya?! Tapi waktu itu apa sudah kenal sistem tarif? Kalau ada kira-kira berapaan?
Wah, embuh… aku nggak tahu. Tapi mungkin mereka dibayar dengan emas picir raja brana (emas-emasan -jw) atau mungkin juga hanya dengan janji kemuliaan itu tadi…
Lalu masuk ke era 1900? Ada info?
Ada! Di era itu para keple mulai mengenal istilah lokalisasi.?Sejak jaman pakdheku yang tukang gerobag sapi, lokalisasi mula-mula di Jogja itu konon katanya adalah Balokan (sekarang kawasan utara Pasar Kembang -red).
Tarifnya waktu itu, sekitar tahun 1952, sepuluh gelo (Rp.10) = sepuluh rupiah.
Itu short time?
Yup! Short time!
Lanjut!
Nah, hingga sekitar tahun 1987 kala aku sudah berani ‘nakal’, di jogja sudah ada dua lokalisasi lain yaitu Sanggrahan (SG), dan Pasar Kembang (Sarkem).?(SG berada di sekitar kawasan perbatasan antara Kota Jogja dan Bantul – di sisi selatan Jogja sedang Sarkem berada di sisi utara kawasan belanja, Malioboro –red).
Kala itu tarif keple di SG Rp. 10,000 dan Sarkem Rp 5,000 short time. Tapi lalu sekitar awal dekade 90-an, Sanggarahan ditutup dan dijadikan Terminal Besar Yogyakarta.
Menurut info yang bisa di percaya, seorang germo SG, banyak anggotanya bermigrasi ke sarkem, sebagian lain ke Blongkeng (Muntilan) dan sisanya, yang STW (Setengah Tuwo; setengah tua –red) ke Parang Kusumo. (Parang Kusumo adalah kawasan pantai di selatan Kabupaten Bantul. Di sana terdapat banyak gubug-gubug yang konon memang kerap digunakan untuk kegiatan prostitusi -red).
Bubarnya SG juga membuat pertumbuhan ‘salon plus’ marak. Banyak ‘konsumen’ memilih pergi ke ‘salon plus’ ketimbang ke lokalisasi seperti Sarkem karena selain lebih elit, ia juga tersembunyi. Meski demikian, tarif short time di tempat seperti itu tiga kali lipat lebih mahal ketimbang SG, Rp 30.000,00.
OK. Lalu bagaimana kondisinya dengan saat ini?
Saat ini Sarkem bisa dibilang adalah lokalisasi terbesar. Tapi yang menarik dicermati, bisnis prostitusi kini selain salon plus juga mengenal istilah ‘tempat penampungan’.
Maksudnya?
Banyak mucikari membuat tempat penampungan, semacam asrama para keple. Mereka tak menyediakan tempat untuk ‘main’ tapi sistemnya antar jemput saja. Begitu ada order, ada sopir mengantar ‘pesanan’ ke tempat yang telah ditentukan.
Jadi lebih rapi dan tentu biaya operasionalnya lebih murah. Ia lalu menyebut beberapa tempat penampungan yang tentu tak elok untuk ditampilkan di sini.
Selain itu, ada pengembangan lain?
Ada! Sama dengan kota-kota besar lainnya, prostitusi terselubung juga mulai menyentuh tempat seperti spa house. Pola pengembangan dan operasionalnya mirip dengan pola pengembangan di salon plus waktu pertama kali mereka tumbuh.
Ic…
Nah, yang juga tak kalah menarik adalah, para keple ada juga yang ‘berbisnis mandiri’ Mereka tak perlu mucikari, tak perlu tempat penampungan. Yang mereka perlukan adalah telepon genggam dan pasang iklan di koran lokal.
Maksudnya?
Ya, pasang iklan di koran, menyediakan jasa berkedok pijat maupun kerik (kerok) lalu menunggu panggilan.
My oh my… Lalu menurutmu.. dalam penerawanganmu, bagaimana nasib dunia per-keple-an di masa mendatang di Jogja?
Menurutku, bisnis prostitusi akan tetap ada sepanjang sejarah peradaban manusia, Don. Baik itu yang terang-terangan seperti lokalisasi di Sarkem maupun yang terselubung, kuyakin akan selalu ada.
Aku yakin populasi keple tetap selalu bertambah.
OK, mungkin aku sepakat. Tapi mereka akan berkembang atau akan statis saja?
Aku yakin populasi keple tetap selalu bertambah.
Menurut data statistik yang kudengar saja, (Ia menyebut nama orang dan pangkat tapi skali lagi, harus kusembunyikan) sekarang penghuni Sarkem yang aktif bekerja sebagai wanita penghibur sekitar 400 orang. Bertambah 70 – 100 orang dari 2 tahun sebelumnya.
Oh begitu. Mereka kebanyakan pendatang?
Iya. Pendatang. Rata-rata berasal dari Wonosari, Kudus, Rembang, Kediri, Madura dan Tasikmalaya. Ironisnya, alasan untuk menjadi keple selalu kalau nggak latar belakang ekonomi lemah,perceraian atau diputus pacar.
Oh, kalau begitu mereka ada yang mahasiswi juga dong? Kan kebanyakan pendatang ke Jogja untuk kuliah??Ah, sekarang nggak selalu seperti itu, tapi memang banyak mahasiswi yang melakukan praktek prostitusi terselubung.
Terselubung?
Yup! Mereka malu-malu mengakui dan anehnya mereka hanya mau ‘praktek’ ketika tanggal tua. Coba saja telpon ke handphone mereka waktu tanggal muda, jawabannya pasti kalau nggak, “Saya sudah tak bisa diajak jalan-jalan lagi!” atau “Saya sudah punya pacar!” tapi nanti waktu tanggal tua, giliran mereka yang sms lalu bilang, “Mas? Jadi ngajak saya jalan?” Hahahahaha!
Hahaha! Balik ke soal masa depan keple di Jogja. Kamu tadi bilang kalau populasi bertambah dan bisnis prostitusi akan selalu ada. Tapi sekarang kan ormas-ormas bernafaskan agama yang kerap merazia apapun yang melanggar moralitas lagi ramai-ramainya?! Adakah hal ini mempengaruhi populasi keple di Jogja?
Ora! Ora ngaruh, Bro!
Percayalah, ormas fanatik itu ujung-ujungnya ya premanisme kok.
Kok bisa?
Percayalah, ormas fanatik itu ujung-ujungnya ya premanisme kok.Mereka hanya berani mengusik kafe-kafe di Prawirotaman yang menjual alkohol! Mereka tak terlalu kuat di Jogja, beda dengan kota lain yang kerap masuk tv itu.
Mereka mana berani mengusik Sarkem!
Lho kenapa?
Ya karena Sarkem juga dilindungi oleh preman-preman yang lainnya. Nah kalau sudah begini kan urusannya tinggal adu kuat antar preman. Kecuali kalau sampai suatu saat preman-preman berkedok ormas itu makin kuat dan mengungguli kedigdayaan preman yang menjaga sarkem ya akan jadi lain cerita, meski kapan hal itu terjadi ya tak tahu juga…
Pengadaan ‘program’ di blog menurutku berfungsi untuk memberikan semacam hentakan-hentakan baik itu bagiku sebagai pemilik maupun (kuharap) kalian sebagai pembacanya. Sebagai sebuah blog yang selalu update, aku memerlukannya untuk mendinamisasikan keadaan.
Uuupss… pembahasan dalam paragraf di atas tentu ada di beberapa level di atas para blogger pemalas yang justru menjadikan postingan sebagai hentakan karena sudah lama mereka tak update? Ya beda level sih *sisiran.
Anyway, setelah sukses menggelar program KpdYth dan Wagen, aku memulai program baru yang kunamai sebagai ‘dkk’ .
Dkk adalah kependekan dari ‘dan kawan-kawan’, ‘and friends’ bahasa Inggrisnya.?Isinya tulisan tentang kawan dan jika kuanggap perlu, kutulis juga opininya tentang sesuatu hal di blog ini.
Ide awal program ini sebenarnya karena kuingat dulu, di blog lama dengan domain ‘donnie.or.id’ yang telah wafat, aku pernah mengadakan program tulisan bernama, “Serial Sahabat” yang isinya menuliskan ‘pertemuan-pertemuanku’ dengan para sahabat sejak kecil hingga ketika saat itu, sekitar pertengahan dekade silam.
Mengingat basis program ini adalah ‘kawan’, tentu aku akan menulis tentang mereka yang memang kuanggap kawan dan inilah tantangannya.
Tantangan untuk mengulas kembali masa lalu tentang siapa sajakah kawan-kawanku yang bisa kuhubungi kembali dan kuajak ‘bicara’.
Tantangan untuk tak langsung menodong si A atau si B yang bukan kawanku tapi kuanggap populer dan sanggup untuk lebih mempopulerkan blog ini. Karena apalah arti popularitas jika konsistensi dan eksistensi blog ini adalah sesuatu yang lebih kuperjuangkan?
So, jangan berharap, “Kapan ya aku diinterview dan ditulis Donny!” tapi mari kita berkawan terlebih dahulu! Setelah berkawan, mari berdiskusi bersama dan saripatinya akan kusiarkan di sini. di blog yang kian hari kian menawan ini! :)
Oh ya, tulisan-tulisan dalam program ini akan tertandai dengan penggunakan gambar yang sama dan kutempatkan di tag ‘dkk‘.
Berikut adalah tulisan yang sudah ku-tag sebagai ‘dkk’:
Kalian yang pernah tinggal di Jogja mungkin sangat mengenal keberadaan angkringan dan warung burjo khas akang-akang yang kebanyakan berasal dari Kuningan, Jawa Barat?
Kedua tipe warung ini seolah menjadi lifelines mahasiwa berkantong pas-pasan sepertiku dulu karena pilihan makanan dengan range harga ?rendah? berserakan di atas meja jualnya. Tapi sebenarnya tak hanya terkait kantong, soal keakraban dan aksesibilitas waktu (biasanya buka sampai larut bahkan pagi!) yang ditawarkan adalah ?sesuatu? dan tak bisa ditemukan di tempat lain.
Tapi, sejak beberapa waktu silam, coffeeshop adalah pilihan lain selain angkringan dan warung burjo-an meski entah dari sisi kantong, apakah kita bisa menyamakan ketiganya atau tidak, itu lain perkara?
Nah, terkait dengan tempat nongkrong di Jogja, kali ini aku menginterview seorang kawan lama yang kukenal di Jogja. Seorang kawan nongkrong dan berdiskusi, pernah bekerja dalam satu perusahaan yang sama pula dan hingga kini masih setia menjadi penduduk Jogja.
So, ladies and gentlemen… please welcome, Bung Iwan Pribadi a.k.a Temukonco!
Bung, kehadiran coffeeshop di Jogja itu awal mulanya seperti apa sih?
Sebenarnya coffeeshop sudah ada sejak lama di Jogja. Mereka menyebar di hotel-hotel dan beberapa pusat perbelanjaan, akan tetapi karena lokasi dan situasinya, maka seolah mereka tak terjangkau orang awam, khususnya mahasiswa.
Akan tetapi sekitar pertengahan 2002, ditandai dengan berdirinya Jazz Coffee, coffeeshop yang lebih terjangkau lahir dan tumbuh. JazzCoffee inilah coffee shop pertama yang mendekatkan diri kepada kawan-kawan mahasiswa sehingga bisa diterima dan dinikmati sebagai sebuah “tempat nongkrong”.
(Catatan: Jazz Coffee adalah sebuah coffeeshop yang eksis pada era 2000an berlokasi di kawasan Kotabaru tapi lantas pindah ke Jl Gejayan (Sekarang Jl Affandi))
Aku memandang hadirnya coffeeshop ini sebagai penambahan opsi ‘nongkrong’ di Jogja dari yang semula hanya kenal ‘angkringan’ dan ‘warung burjo’ . Menurutmu?
Sejak hadirnya Jazz Coffee dan diikuti coffeeshop-coffeeshop lainnya, coffeeshop seperti itu lantas memang benar jadi tambahan opsi tempat nongkrong. Uniknya, mereka hadir bukan sebagai penggusur tempat-tempat nongkrong lainnya yang sudah ada dan lebih dahulu memasyarakat di Yogyakarta seperti angkringan dan warung burjo.
“…kenikmatan dan sensasi yang muncul ketika nongkrong…berbeda-beda dan tak dapat dipertukarkan satu dengan yang lain.”
Hal ini terjadi karena walaupun sama-sama tempat nongkrong namun kenikmatan dan sensasi yang muncul ketika nongkrong di ketiga tempat tersebut berbeda-beda dan tak dapat dipertukarkan satu dengan yang lain.
Lalu kenapa banyak yang nongkrong di coffeeshop? Apakah mereka meninggalkan angkringan dan burjo-an?
Hmmm, bisa jadi ada yang nongkrong di sini karena alasan gengsi dan lebih “berkelas” ketimbang di angkringan, Namun sepengetahuan saya, kawan-kawan yang nongkrong di coffeeshop juga tidak keberatan dan bahkan tetap sering juga nongkrong di angkringan ataupun warung burjo.
Kebanyakan mereka, dan kebetulan juga saya, memilih coffeeshop dalam rangka mencari suasana yang selama ini tidak bisa ditawarkan oleh angkringan biasa atau warung burjo, misalnya untuk presentasi kerjaan, diskusi kelompok, menemani klien, nembak gebetan, atau sekedar menyendiri di pojok sambil membaca buku dan hanya berteman segelas kopi, dengan harga tidak semahal di hotel-hotel atau tempat minum lainnya.
Lagipula masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Misalnya di angkringan, kenikmatan ngeteh sambil kaki satu diangkat di bangku ala angkringan akan sukar ditemukan di coffeeshop, kehangatan mie instant goreng telur atau burjo ketika perut lapar di pukul 3 dini hari seperti yang biasa diberikan warung burjo, akan sukar dilayani oleh coffeeshop.
“untuk masyarakat Jogja, perbedaan tempat nongkrong itu semata-mata masalah keperluan dan kepatutan sesuai apa yang dibutuhkan..”
Jadi ya gitu deh, untuk masyarakat Jogja, perbedaan tempat nongkrong itu semata-mata masalah keperluan dan kepatutan sesuai apa yang dibutuhkan, bukan karena pertimbangan gengsi dan peng-kasta-an tempat nongkrong.
Tapi aku tetap tak percaya bahwa kehadiran coffeeshop pada akhirnya tak membuat pembeda kelas antara mereka yang biasa nongkrong di sana dengan mereka yang masih suka ke angkringan dan burjo kuningan itu. Nah pertanyaanku sekarang, katakanlah kamu tak setuju dengan pendapatku barusan, bisakah kamu jelaskan bagaimana coffeeshop yang ada di Jogja itu bisa membawa ‘nyawa’ jogja ke dalamnya?
Ah iya, saya lupa kalo gambaran yang saya ceritakan itu adalah pada tahun 2002-an ketika Jazz Coffee awal-awal berdiri. Jadi waktu itu gambaran yang ada di kebanyakan pengunjungnya adalah “Ini sebagai sebuah tempat nongkrong alternatif”. Jadi belum ada pikiran untuk sok njakarta2an, yang ada adalah “tempat nongkrong yang asyik, bisa bertemu dan mendapat kawan baru di sana, hampir pasti bertemu seseorang untuk ngobrol, dan atau bahkan bisa juga untuk berkontemplasi sendiri di situ.”
?Ini sebagai sebuah tempat nongkrong alternatif?. Jadi belum ada pikiran untuk sok njakarta2an…
Namun ketika itu berkembang menjadi sesuatu yang membawa “nyawa” Jakarta, sebenarnya tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena memang kok ndilalah yang sering nongkrong di sana adalah mereka yang dari Ibukota atau luar Jogja yang secara kultural lebih berkiblat ke Jakarta.
Selain itu, sebenarnya pun Angkringan juga tidak bisa dikatakan sepenuhnya membawa nyawa Jogja karena yang dibawa adalah nyawa Bayat – Klaten atau Wonosari – Gunung Kidul (konon bisa ditebak dari bentuk ceretnya), sementara kalau Warung Burjo/Indome membawa nyawa “Kuningan – Jawa Barat”.
Namun demikian, “nyawa” Jogja sebenarnya masih bisa ditemukan di dalamnya selama yang ditawarkan di sana adalah persahabatan, saling menghargai, obrolan-obrolan “bodoh” yang sebenarnya cerdas, dan tidak membeda-bedakan para pengunjungnya hanya berdasarkan SARA, status ekonomi, dan latar belakang keluarga.
Nah, brarti secara tak langsung, coffeeshop pun telah berubah?
Iya…
Sayangnya kalo ditanya saat ini di mana di Jogja ada Coffee Shop seperti itu, nampaknya juga sukar dicari (atau saya belum pernah tahu dan mengunjunginya), karena coffee shop – coffee shop yang baru muncul setelah Jazz Coffee, benar-benar men-Jakarta, ?Nyetarbak?, atau nge-FRIENDS, tanpa sadar bahwa komunitas dan kebersamaan adalah hal yang dicari orang ketika di Jogja, bukan semangat snob-snoban gitu :D
Semoga kelak ada yang bikin Coffeeshop dengan semangat seperti Jazz Coffee ya…
Ok. Tapi sik, sebentar… Aku mau tanya, ciri budaya nJakarta itu piye dan nJogja itu yang gimana tho? Apa ada yang salah dengan budaya jakarta sehingga seolah-olah ingin kita singkirkan dari muka bumi Jogjakarta? Apa ini terkait isu politik yang menghangat akhir-akhir antara pemerintahan pusat dengan Kraton Kasultanan Jogja?
Kalo menjelaskan ciri budaya nJakarta dan nJogja itu sebenarnya sangat subyektif dan sangat terbuka peluang untuk didebat karena pengalaman kultural saya pastinya sangat berbeda dengan mereka yang biasa dan sudah lama di Jakarta.
Tapi sejauh yang saya alami selama ini, ciri budaya Jogja yang bisa sangat membedakan dengan Jakarta adalah gaya hidup yang cenderung lebih santai, masyarakat yang ramah, guyub rukun, dan tidak se-individualistis seperti di Jakarta.
Jadi bukan karena budaya Jakarta ?salah?, tapi lebih karena masyarakat Jogja kurang merasa nyaman jika harus menerima dan menerapkan…
Warga Jogjakarta yang selama hidupnya telah merasakan nikmatnya dan nyamannya hidup dalam kondisi seperti itu, tentu saja merasa terganggu dengan masuknya budaya-budaya yang bertolak belakang dengan apa yang telah ada tersebut, dan berusaha mencegahnya sebisa mungkin.
Jadi bukan karena budaya Jakarta “salah”, tapi lebih karena masyarakat Jogja kurang merasa nyaman jika harus menerima dan menerapkan budaya Jakarta di dalam kehidupan individu dan bermasyarakat di Jogja.
Kalau kaitannya dengan isu politik, keliatannya tidak sampai sejauh itu sih. Mungkin memang ada beberapa simbol-simbol budaya yang diusung untuk memperkuat argumentasi dan kekuatan tawar-menawar politik baik oleh pusat maupun Keraton. Namun yang jelas, pada kenyataannya, bagi masyarakat Jogja, budaya Jogja itu jauh lebih luas dan bermakna dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari mereka terkait dengan hubungan antar manusia, antara manusia dengan lingkungan, dan antara manusia dengan Tuhan.
Nah sekarang kan kamu bekerja di salah satu coffeeshop Bung? Menurutmu gimana prospek coffeeshop di Jogja? adakah ia sudah mencapai titik maksimal dan sedang turun trendnya? Atau ia akan abadi selayaknya angkringan dan burjonan itu?
Hihihi… Mungkin istilah terjun ke bisnis coffeeshop bisa disalah artikan bahwa saya memiliki sebuah coffeeshop.
Walaupun saya ingin sekali memiliki sebuah coffeeshop (bayangan saya coffeeshop-nya seperti yg dimiliki Jude Law di film My Blueberry Night hahaha ), namun sampai saat ini status saya adalah Marketing Communication di sebuah Kopitiam di Jogja. Jadi belum sampai di level memiliki :)
Jika memosisikan diri sebagai sebuah tempat nongkrong, mungkin bisa dibilang sudah mendekati titik jenuh dengan kian menjamurnya coffeeshop di mana-mana di Jogja.
Jenuh di sini bukan maksudnya orang jadi males ke coffeeshop, akan tetapi lebih karena pangsa pasarnya coffeeshop di Jogja tumbuh berkembang tidak secepat menjamurnya coffeeshop tadi.
…akan tetapi lebih karena pangsa pasarnya coffeeshop di Jogja tumbuh berkembang tidak secepat menjamurnya coffeeshop tadi.
Ditambah lagi, coffeeshop yang ada tidak memberikan nilai tambah lain pada diri mereka selain sekedar tempat nongkrong.
Untuk keluar dari masalah itu, maka beberapa coffeeshop melakukan pendekatan yang berbeda. Hal yang paling mencolok akhir-akhir ini adalah usaha untuk mengangkat semangat “back to local”.
Maksudnya?
Pada perwujudan paling nyatanya adalah alih-alih menjual kopi-kopi ala landha (machiato, cappuccino, dan sejenisnya) tanpa menjelaskan berasal dari mana asal biji kopinya, warung kopi-warung kopi yang ada sekarang lebih percaya diri dan bahkan bangga memiliki dan menawarkan kopi-kopi lokal seperti Kopi Gayo, Kopi Toraja, Kopi Lampung, dan sebagainya.
Tidak berhenti di produk saja, kemasan warung kopi itupun sekarang banyak yang lebih menggunakan gimmick-gimmick lokal ketimbang menggunakan gimmick ala luar negeri macam setarbak itu.
Sebagai contoh dibandingkan coffeeshop baru, akhir-akhir ini bermunculan Kopitiam-kopitiam di Jogja, yang walaupun kata Kopitiam berasal dari bahasa slank Hokkian, namun keberadaannya secara historis dan kultural cukup erat dengan Indonesia.
Selain itu masih terdapat pula beberapa warung kopi baru yang alih-alih menggunakan kata “cafe” atau “coffeeshop”, mereka lebih memilih kata “warung” atau “kedai”.
Sehingga dengan demikian, coffeeshop bukan sekedar tempat nongkrong saja tapi sekaligus tempat memperkaya pengetahuan khususnya tentang kopi dan mempertebal kebanggan sebagai bangsa Indonesia karena sebenarnya kopi kita cukup punya nama di dunia.
Melihat dari perkembangan tersebut, saya kira coffeeshop atau kedai kopi tetap akan ada dan terus akan ber-evolusi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Mungkin kurang lebih sama seperti Angkringan yang akhirnya juga melayani menu burjo rebus/goreng, atau warung burjo/burjo yang akhirnya juga menjual nasi sarden telur, atau bahkan menjual ayam atau lele penyet lengkap dengan sambel dan lalapannya. :)
Hal yang paling menarik dari sebuah sajian komedi menurutku adalah bagaimana sang komedian berusaha membuat penontonnya tertawa dan ini tentu tidak mudah.
Percaya atau tidak, sosok sang komedian sendiri ikut mempengaruhi. Waktu Tukul belum setenar sekarang, ketika ia muncul dalam serial Srimulat yang dulu ditayangkan salah satu televisi swasta Indonesia, bagiku ia sungguh tak lucu. Tapi setelah ia ngetop, melihat sosoknya saja orang sudah senyam-senyum memperhatikannya dan sekalinya ia bertingkah, belum bicara, pun kita bisa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Nah, belakangan ada begitu banyak komedian ‘baru’ berlabel ‘comic’, pelaku seni stand up comedy yang akhir-akhir ini mulai ‘naik’ di Indonesia.
Mulai dari ranah social media hingga televisi, dari kampus hingga ke kafe-kafe… orang demam stand up comedy dan uniknya orang pun demam untuk berperan aktif dalam hal tersebut, menjadi seorang komedian.
Tapi pertanyaannya sekarang, lucukah mereka? Sambil memikirkan jawabannya, simak wawancaraku dengan seorang kawan lama yang kuanggap sudah cukup senior dalam dunia stand-up comedy di Jogja bahkan Indonesia. Bahkan, istilah ‘stand-up comedy’ itu sendiri kudapat darinya.?Ia baru saja mask ke jajaran sembilan bear acara reality show berbasis Stand up Comedy yang diadakan di sebuah stasiun televisi baru-baru ini.
Mot, sejak kapan kamu mengenal stand up comedy dan bagaimana ide awalnya?
Mulainya tahun 2006, tapi mulai berani tampil tahun 2008 dan… gagal total karena pengetahuannya masih kurang.
Ide awal dari menonton vcd stand up, youtube stand up comedy luar negeri serta blog milik Bambang Haryanto – komedikus erektus?, yang selalu menulis harapannya tentang stand up comedy dan pertumbuhannya di indonesia.
Dari situ saya mikir, saya harus nyoba! Beruntung, saya punya dasar dunia mc jadi ada sedikit nyali untuk public speaking. Saya mikir dengan stand up comedy saya bisa menunjukkan saya sebenarnya dibanding hanya dengan mc
Ngomong-omong, pekerjaan utamamu sekarang apa?
Ini susah dijawab! Tapi sekarang sebutlah aku sebagai pekerja seni.. seni bertahan hidup, hahahaha!
Seriusnya, aku sekarang kerap jadi mc, konsultan kreatif, konsultan sdm dan pekerja di lsm. Tapi ke depannya, aku pengen jadi stand up comedian profesional, atau paling tidak penulis stand up comedy.
Lalu, ke depannya kamu melihat masa depan stand up comedy itu seperti apa?
Hingga saat ini sebenarnya keberadaan stand up comedy belum teruji. Lihat saja tiga tahun ke depan bakal seperti apa.
Yang jelas, semua tergantung pada pejuang-pejuang stand up comedy yang passionnya memang di situ,bukan sekedar oportunis.Tapi saya optimis sih bahwa tetap ada celah pasar (niche) buat stand up. Penggemarnya sudah ada kok. Mungkin nggak sebesar lawak konvesional tapi tetap punya pasar sendiri.
OK. Kamu mulai ber-standup comedy sejak 2006. Tapi kenapa sepertinya baru sekarang trend stand up comedy ini muncul di Indonesia?
Sebenarnya sebelum booming di 2011 sudah ada orang seperti Iwel Wel?atau Ramon Papana, Reggy Hasibuan juga Pandji yg sudah nyoba, tapi dampaknya memang tidak sebesar 2011.
Jadi bola salju seperti sekarang gak bisa lepas dengan keajaiban social media,terutama twitter yg berfungsi sebagai akselerator sebuah ide. Dan kebetulan pendiri-pendiri @standupindo (twitter.com/standupindo) banyak yg sudah terkenal seperti Raditya Dika?atau Pandji?yang jelas punya star power,atau minimal yg lain juga selebtwit. Jangan lupa juga peran youtube yah! Kalau teorinya tipping point Malcolm Gladwell, akhirnya semua bersenyawa dan dapat momentum sehingga stand up comedy jadi booming
Stand up comedy apa bisa dibandingkan dengan comedy tradisional seperti Srimulat, Warkop?
Tergantung! Kalau warkop sebenarnya format jokenya juga standup (set up punch line) cuma dilakukan bertiga dan Warkop itu peletak fondasi lawakan verbal yang main-main logika juga asosiasi sebelum standup com indonesia ada. Jadi pembuka jalannya sebenarnya Warkop. Kalau Srimulat, memang sulit ngebandinginnya.tapi beda sih…Totally different.
Apa yang bisa dijadikan masukan bagi para comic saat ini? Adakah yang salah atau semua sudah ideal sesuai benakmu tentang seperti apa stand up comedy itu?
Masukan, jangan merasa lucu dan jadi comic kalau baru satu – dua kali sudah berhasil,semua itu adalah proses panjang.
…televisi sebagai industri akhirnya rada kebablasan, mengeksploitasi habis-habisan. Padahal di barat, stand up itu comedy itu besar di panggung, bukan di televisi.
Dalam konteks Indonesia sih sebenarnya gak ada yang salah hingga saat ini. Cuma televisi sebagai industri akhirnya rada kebablasan, mengeksploitasi habis-habisan. Padahal di barat, stand up itu comedy itu besar di panggung, bukan di televisi. Ketika dia (comic -red) udah jadi, baru masuk televisi. Di indonesia, comic yang baru muncul dan kelihatan lucu sudah terburu-buru ingin masuk tv.
Comic juga harus mementingkan edukasi pasar. Jangan sampai hanya karena uang, comic mau tampil di acara yang sebenarnya justru akan mematikan stand up comedy sendiri.
Banyak orang mengaku tak bisa menikmati stand up comedy karena ‘tak lucu’, bagaimana menurutmu?
Pertama, harap disadari stand up comedy indonesia baru berumur satu tahun jadi kalau kita berharap akan selucu stand up comedy barat jelas tidak fair.
Soal komentar ‘tak lucu’ itu, jangan-jangan mereka hanya pernah lihat di televisi lalu menggeneralisir keadaan. Sebenarnya stand up comedy itu memang lebih enak dilihat langsung di panggung, bukan di televisi. Aura lucunya beda… beda banget!
Atau, bisa jadi mereka bilang ‘nggak lucu’ karena mereka hanya melihat acara ‘open mic.’ Open mic itu kan hanya tradisi untuk latihan comic pemula dan untuk yang sudah berpengalaman, mereka menjadikan acara ‘open mic’ sebagai uji materi yang memang belum matang. Ada banyak kok:orang yang awalnya antipati ama standup tapi begitu liat pandji atau mongol stress secara langsung malah ketagihan
Bagi saya nggak masalah kalau ada para ‘haters’ yang berkomentar seperti itu. Lebih baik fokus ke orang yang mencintai. Bukankah kesalahan terbesar dari kita adalah ingin berusaha memuaskan semua orang?
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish.AcceptRejectRead More
Privacy & Cookies Policy
Privacy Overview
This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.