Kategori: Diek

  • Topi ?Emyu?

    Topi ?Emyu?

    Pa, apakabar?

    Aku sebenarnya tak pernah berpikir untuk mempersiapkan barang satu kata pun dalam mengenang kematianmu tujuh tahun lalu yang jatuh tujuh april kemarin.

    Bagiku, di dalam Kristus penyelamat kita, kematian menjadi hal usang yang tak perlu dirayakan terlalu lama dan kamu toh sudah berjalan begitu jauh dari titik matimu dan menoreh bahagia bersama Mama di sana.

    Tapi semuanya berubah siang kemarin.
    Saat aku sedang ikut perayaan ekaristi harian di St Mary?s Cathedral, Sydney, tepat di hadapanku duduk seorang pria tua.

    Umurnya kutaksir 5 – 10 tahun di atasmu, tapi bukan itu yang menjadi perhatianku. Pandanganku awalnya jatuh pada kesederhanaan dan kesendiriannya. Tapi ketika lebih dalam, perhatianku tak bisa berpaling dari topi hitam merk ?New Era?? dengan design logo klub sepakbola liga Inggris, Manchester United. Topi itu diletakkan di atas lipatan jaket parasit kumalnya.

    Topi itu terlihat sangat terawat bahkan sticker labelnya pun tak dilepasnya. Aku membayangkan topi itu didapat dari anaknya seperti aku dulu pernah membelikanmu seragam Emyu, begitu kamu menyebut MU, saat aku pergi berlibur ke Bandung, Jawa Barat, beberapa bulan sebelum aku pindah kemari.

    Memandangnya seolah kamu ada di situ, Pa!

    Aku jadi teringat kegilaanmu terhadap Emyu. Setiap sabtu malam, tv kau monopoli kalau ada pertandingan Emyu melawan siapapun.

    Teriakanmu saat mereka menggolkan ke gawang lawan maupun ?ke-gol?an? adalah hal yang khas yang tadi seolah menyeruak hadir dari balik gendang telinga minta didengarkan lagi, berkali-kali, bertubi-tubi.

    Aku juga jadi teringat pada dinihari dimana engkau berpulang. Waktu itu aku sedang transit semalam di hotel di Bali dan beberapa waktu setelah Emyu menang melawan Chelsea yang kusaksikan di televisi tiba-tiba Joyce, istriku, menelponku dan mengabarkan bahwa engkau telah pergi, benar-benar pergi.

    Dalam sedihku yang tak terkira waktu itu, setelah berkemas dan mematikan tivi untuk cepat-cepat ke bandara, aku bergumam sendiri, ?Pa! Emyu menang??

    Pa, begitulah hal ini kusampaikan dan harus kutuliskan karena kuanggap ini adalah pesan. Mengenangmu kini tak lagi menghadirkan kepedihan akan kematianmu. Mengenangmu adalah merindukanmu?

    Sungkem, Donny

  • Stanislaus (3) / Diek (7) – TAMAT

    Stanislaus (3) / Diek (7) – TAMAT

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya.
    Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2), Diek (3), Diek (4), Stanislaus (1) / Diek (5) dan Stanislaus (2) / Diek (6)

    Bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta, 15 April 2011, 14:00 WIB
    Setelah delapan hari berada di Klaten untuk melepas kepulangan Papa ke Rumah Bapa, kini tiba waktuku untuk kembali melanjutkan kehidupan, berkumpul kembali bersama anak dan istriku di Sydney, Australia melanjutkan tugas sebagai seorang Papa seperti yang dulu Papaku lakukan.
    Meski kami sekeluarga telah merasakan kelegaan atas berpulangnya Papa dan duka itu telah semakin ringan terangkat, namun toh tak bisa dipungkiri lagi, saat-saat perpisahan adalah saat yang tak kalah beratnya karena dengan demikian aku harus kembali meninggalkan Mama dan Citra, adikku. Jika sebelum-sebelumnya, selama ini mereka begitu terhibur dengan keberadaanku di sisi mereka kali itu, aku harus pergi.
    Mobil yang mengantarkanku masuk ke pelataran parkir bandara dan segera sesudah turun, aku menghampiri Mama yang duduk di kursi bersama Budhe dan Eyang yang turut pula mengantar. Kucium punggung tangannya sebagai tanda baktiku dan ia pun mengusap rambutku. “Sing ati-ati, Le… Cah bagus! (Hati-hati, Nak! -jw)” Dipeluknya aku erat. Pipi tirusnya ditempelkan ke pipiku, tangisnya tak terbendung lagi namun aku toh tidak menangis, mencoba untuk terus menguatkan diri.
    “Iyo Ma, Mama juga sing ngati-ati… Eling pesen-e Papa, Mama kudu sehat! (Iya Ma, Mama juga hati-hati… Ingat pesan Papa, Mama harus sehat! -jw)” Kutatap matanya yang sayu. Mata seorang Ibu, mata orang tua yang tinggal seorang bagiku.
    Pak Yuli membantuku menurunkan barang-barang dari bagasi mobil, dan sesudahnya kuminta ia untuk segera mengantar Mama pulang kembali ke Klaten. Kulambaikan tangan dan kutatap wajah Mama dalam-dalam di balik kaca seolah meyakinkan dan memantapkannya bahwa kita tetap harus melanjutkan hidup sepedih dan seduka apapun itu karena ditinggal Papa.
    Aku balik arah. Kutenteng barangku dan karena masih terlalu pagi, aku lantas duduk di kedai kopi yang ada di selasar bandara. Tak sengaja mataku menangkap sebuah tempat yang kuingat tiga bulan sebelumnya kupakai untuk berfoto bersama dengan Papa, Mama, Eyang dan istri serta anakku dan kini aku menyadari bahwa foto itu adalah foto terakhirku bersama Papa sebelum ia pergi untuk selamanya.
    * * *

    Tulisan terakhir Papa (ditulis 2/4/2011, lima hari sebelum Papa berpulang) yang ditemukan Chitra, adikku. "Rasa takut itu muncul ketika perasaan tak mampu mengendalikan"

    Hari dimana kupublikasikan tulisan ini adalah hari Paskah, hari dimana kehidupan orang Katholik mendapati puncaknya ketika Yesus bangkit dari kematian. Sebelumnya tak kurencanakan untuk menutup rangkaian tulisan duka tepat pada hari ini, semua seperti mengalir begitu saja.
    Ada begitu banyak orang yang terkesan dengan rangkaian tulisan ini, meski tak jarang yang bertanya, “Mengapa kamu begitu kuat menuliskan dukamu?” ada pula yang bertanya, “Tak khawatirkah kamu bila Mamamu membaca tulisan ini, bagaimana pedih hatinya?”
    Motivasiku untuk menuliskan ini semua tak lain adalah untuk mengabarkan sebuah kabar baik, sebuah kabar penuh sukacita karena sebagai seorang Katholik yang diharapkan taat dan baik, aku wajib untuk bersyukur atas apapun yang kuhadapi dalam hidup ini termasuk saat kehilangan Papa untuk selamanya.
    Aku ingat, ketika misa arwah untuk almarhum Papaku sedang diselenggarakan, 7 April 2011, bersama Chitra yang duduk diantara ratusan pelayat yang hadir saat itu, aku membuka iPhone dan menuliskan beberapa poin yang kupikir bisa kuanggap sebagai ungkapan syukur ketimbang ungkapan duka. Beberapa menit lamanya aku berdoa memohon supaya Tuhan membukakan pintu hatiku untuk sejenak mengesampingkan duka itu lalu bersyukur dan bermadah bagiNya. Setelah menuliskan beberapa poin, aku lalu memberanikan diri untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di depan para pelayat yang hadir.
    Ini sesuatu diluar kebiasaan masyarakat sekitar karena biasanya, keluarga yang ditinggalkan dibiarkan larut dalam duka dan untuk urusan ‘pidato’, para pemuka masyarakat lah yang akan menyampaikannya mewakili keluarga.
    Bukan perkara ‘supaya tampil beda’ sebenarnya, lagipula aku toh tak sedang berniat untuk melakukan politik pencitraan di tengah perkabungan seperti itu :) Aku hanya berpikir bahwa kalau aku bisa, kenapa harus bersandar pada orang lain?
    Lalu apa isi pidato yang kusampaikan sesaat setelah Misa Arwah usai diselenggarakan itu?
    Inilah petikannya,
    “Kami sekeluarga bersyukur memiliki Papa yang meski sederhana namun justru karena kesederhanaannya itu, ia menjadi sosok yang begitu luar biasa bagi kami”
    “Kami sekeluarga bersyukur betapa Allah telah memberi waktu untuk Papa di sisa sempit waktu hidupnya untuk mengenal Yesus sebagai juru selamat dan ia pun wafat sebagai seorang Katholik”
    “Kami sekeluarga bersyukur memiliki seorang malaikat baru di surga yang siap setiap saat mendoakan kami, orang-orang yang dicintainya… Malaikat itu adalah Stanislaus Didiek Hardiono”
    “Kami sekeluarga bersyukur betapa kami, atas didikan Papa, mendapatkan dan memiliki kawan-kawan yang begitu baik dan setia membantu kami dalam kedukaan ini”
    Berat kah mengucapkan semua itu?
    Jelas! Bayangkan aku harus bersyukur sementara tak sampai jarak 25 meter dariku terbaring Papa yang kaku dan Mama yang duduk di sebelahnya menungguinya dengan uraian air mata kepedihan sepanjang hari itu. Namun tiada lain yang harus kulakukan selain itu.. Harus dan wajib!
    Oleh karenanya, meski menyisakan linangan duka, besar harapanku bagi kalian semua pembaca tulisan demi tulisan yang kupublikasikan ini supaya kalian menyadari betapa Tuhan tak pernah berhenti bekerja dalam hidup ini. Ia yang tak kelihatan namun kita imani ada, adalah sebuah Kekuatan Maha Sempurna yang mampu menguatkan kita ketika kita lunglai sekalipun. Ia adalah pelita bagi dunia, penawar kesementaraan dengan keabadian yang ada di genggamanNya dan dimana rasa syukur kita panjatkan padaNya, disitulah Ia dimenangkan dan dipermuliakan.
    Usai sudah tulisan duka yang kurangkai dalam 7 bagian terpisah ini. Kedukaan akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kehidupan Papa pun telah pula usai menyisakan ketiadaan dalam kebersamaan kami sebelumnya sebagai sebuah keluarga. Namun sesuatu yang kekal adalah ketika aku selalu membawa semangat; nyala api yang tak pernah padam yang dulu selalu kulihat di sorot teduh mata Papaku, Stanislaus Didiek Hardiono.? (Tamat)
    Credit? ‘sampul’ photo from here

  • Stanislaus (2) / Diek (6)

    Stanislaus (2) / Diek (6)

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya.
    Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2), Diek (3), Diek (4) dan Stanislaus (1) / Diek (5)

    Rencana pemakaman Papaku, Stanislaus, yang semula pukul 14.00 WIB terpaksa dimajukan karena pertimbangan cuaca. Langit menggelap dan mendung hitam pekat mengancam di langit utara.
    “Piye, kita ajukan saja ya?” tanya Mas Sardjoko, pranata acara (MC) bertanya padaku.
    “Sip!” ujarku padanya.
    Maka setelah misa arwah usai diselenggarakan dan waktu sekitar 30 menit dilonggarkan untuk sanak saudara memberi penghormatan terakhir pada jasad papa, peti pun ditutup lalu dirapikan. Enam orang pemuda yang kebanyakan adalah teman sepermainanku dulu, mengangkat peti keluar ruangan dan untuk beberapa saat didiamkan di depan pintu gerbang.
    Selanjutnya adalah upacara Brobosan. Sebuah tradisi Jawa yang meminta kita untuk berjalan di bawah peti tiga kali putaran sebagai tanda bhakti kepada yang telah pergi.
    Saat mereka mengangkat peti dan membawanya ke ambulans, pada waktu itulah runtuh semua ketegaranku. Semua kesombonganku akan kekukuhan dan kekuatanku sirna begitu saja menyisakan puing-puing rapuh yang terbengkalai di pelataran gerbang rumah, tempat yang sama dengan tempat dimana aku dulu bersama Mama selalu melepas kepergian Papa untuk berangkat bekerja ke Kebumen setiap Minggu petang.
    Tubuhku melunglai meski tetap kujaga langkahku yang gontai. Adhit Omphonk, sahabatku yang sejatinya adalah sahabat sejati itu menuntunku berjalan dibelakang peti Papaku, Stanislaus. “Sabar, Dab! Sabar! Papa wes tenang.. dikhlaske… direlake! (Sabar, Mas! Sabar! Papa sudah tenang.. diikhlaskan.. direlakan -jw)” Aku dipeluknya erat.
    Bersama Citra, aku lalu duduk di kursi depan ambulan yang membawa jasad Papa. Tangan kananku membawa salib, sementara Citra memeluk foto Papa erat-erat.
    “Cit…” aku memeluknya. Betapa aku mencintai adik sekaligus saudara semata wayangku itu. “Sabar ya Cit! Kita harus tabah!” Ia hanya mengangguk, nanar matanya menatap jalan di depan sementara sirene ambulans mulai dibunyikan membesut keramaian jalan… jalan terakhir bagi Papaku sebelum sampai di peristirahatan.
    “Cit..”
    “Ya, Mas!”
    “Pernahkah kamu memikirkan tentang kejadian hari ini?”
    “Hmmm..pernah….”
    “…”
    “Tapi aku nggak nyangka datangnya secepat ini, Mas! Inginku nanti, paling nanti.. entah kapan pokoknya nanti…”
    Sementara seantero jalan yang kami lewati, mereka orang-orang yang mengenal Papa selagi hidup memberi penghormatan terakhir padanya. Jarak rumah ke pemakaman tempat Papa akan disemayamkan sesungguhnya tak terlalu jauh hanya sekitar enam kilometer jaraknya. Namanya, Pemakaman Semangkak, Klaten, areal pemakaman yang dikhususkan untuk warga Katholik yang berdomisili di Klaten.
    Sesampainya di Semangkak, peti yang berisi jasad Papa lalu diturunkan dan dipersiapkan untuk dikuburkan. Beberapa tenaga yang telah berjaga di tanah kubur sejak pagi secara hati-hati menurunkan peti ke liang lahat. Prosesi selanjutnya adalah doa yang dipimpin langsung oleh Mas Yus, orang yang pertama kali diberitahu Papa tentang rencananya pindah agama, beberapa bulan sebelum ini.
    Sementara Mama yang berkeras untuk ikut hadir di pemakaman meski sebelumnya kusarankan untuk tidak ikut mengingat keletihannya, berdiri dibopong oleh Mbak Yohanna (tanteku) dan Om Agus (adik ipar Mama yang istrinya – adik Mamaku- juga baru berpulang Desember 2010 silam).
    Aku dan Citra berdiri bersebelahan tak jauh dari Mama mengikuti jalannya prosesi doa dengan khusyuk. Sekitar lima belas menit, prosesi doa selesai diadakan. Aku, sebagai anak tertua, ditunjuk untuk mencangkulkan tanah ke atas peti Papa yang telah dimasukkan. Selanjutnya Citra ikut melempar segenggam tanah ke atasnya. Tak sampai sepuluh menit kemudian, liang itu telah terisi tanah lempung berwarna merah dan di atasnya lalu ditancapkan nisan atas nama Papa.
    Setelah prosesi pemakaman usai, kami lantas berdoa dan berfoto bersama, saling bersalaman dan berpelukan. Kami tak berlama-lama di sana karena meski mendung yang semula mengancam telah hilang entah kemana, toh kami harus segera pulang untuk membereskan hal-hal yang perlu diselesaikan hari itu.
    Sebelum pulang, pandangku kuarahkan ke utara. Pada puncak Merapi yang tersibak sedikit ujungnya, ia menawarkan harapan cerah bahwa Papa telah berada di suatu tempat yang indah dan kehidupan memang harus terus dijalankan.
    Kami lalu pergi. Perasaan duka memang masih menggunung, mengerudung, tapi celah cerah telah kulihat dan aku mensyukurinya… (Bersambung…)
    Credit photo from here

  • Stanislaus (1) / Diek (5)

    Stanislaus (1) / Diek (5)

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya.?
    Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2), Diek (3) dan Diek (4)

    Kowloon, Hongkong, 29 Desember 2010.
    Pagi itu adalah hari ketiga aku berlibur bersama keluarga dan keluarga mertua beserta keluarga kakak iparku ke Maccau lalu Hongkong. Seperti biasa, aku mengakses facebook menggunakan fasilitas WiFi gratis dari kamar hotel.
    Tertera satu pesan (inbox) belum terbaca, aku lalu bergegas membukanya. Rupanya Citra mengirimkan pesan yang sangat mengejutkanku, begini detailnya:
    Mas, kak…
    Tgl 25 kemarin tiba2 papa minta aku ma mama yg sdg nonton tivi di kmr mama wktu itu utk memperhatikan apa yang hendak papa bicarakan. Krn aku blm pernah liat papa seserius itu, aku deg2an (takut kl aku disuruh kawin segera) hehehehe
    Ternyata, lewat obrolan singkat itu, papa menyatakan bahwa papa mau masuk ke Katolik. Papa sudah memikirkan itu sejak lama, dan papa tidak melakukan itu krn paksaan dr keluarga, atau krn permintaan dr mama, atau permintaan dr syapapun itu. Papa menekankan sekali bahwa papa ingin masuk katolik karena memang papa berkeinginan seperti itu. Papa ingin bs bersyukur atas apa yang papa punyai selama ini dgn cara yg tepat, yaitu dgn cara katolik.
    Tak pernah kami (a.k.a mama n aku) duga sebelumnya bahwa papa bahkan telah menyusun sendiri rencana papa utk masuk katolik mulai dr belajar agama dan minta bimbingan om Yus.
    Aku senang dgn hal ini. Dan krn td pgi aku tanya ke papa ttg siapa yg akan sampaikan ini ke kalian bdua, papa blg “kalau kamu mau sampaikan, sampaikanlah”
    Maka aku sampaikan ini.
    Bye…
    (December 28, 2010 at 3:15pm)
    “Hon!” ujarku pada istriku setelah membaca pesan itu di kamar hotel.
    “Apa?”
    “Papa… Papaku mau masuk Katolik!”
    “Hah?! Oh ya? Kok bisa?”
    “Entahlah…. aku ngga tau!” tukasku.
    Jika kalian adalah pembaca setia blog ini, kalian tentu tahu betapa ber-Bhinneka nya keluargaku. Papa terlahir sebagai muslim yang datang dari keluarga muslim yang taat sementara Mama adalah seorang Katholik dan berdasarkan kesepakatan antar mereka, aku dan adikku lantas memeluk Katholik. Oleh karenanya hormat-menghormati antar keyakinan dalam keluargaku adalah mutlak karena jika tidak tentu rumah tangga orangtuaku tak kan langgeng hingga maut yang menjemput Papaku menceraikan pernikahan mereka per 7 April 2011 itu.

    “Agama adalah agama, iman tetap di atas segalanya!”

    Sehingga, awalnya adalah sesuatu yang kuanggap ‘aneh’ ketika Papa yang tak pernah kami paksa bahkan kami minta untuk pindah agama tiba-tiba memutuskan untuk belajar agama Katholik. Memang sebelum memutuskan pindah agama pun, sejak beberapa lama ia bukan seorang yang melakukan praktek agama dalam arti ritual dan tradisi. Bisa dibilang Papa adalah seorang ‘Pancasilais’.
    Sejak pagi itu, sebuah tanda tanya besar pun menggantung di kepala tentang apa alasan Papa sebenarnya untuk berpindah agama. “Minggu depan kan kita ke Jogja, Hon… Nah, di sana akan kutanya langsung ke Papa apa alasannya!” sergahku.
    Istriku mengangguk.
    * * *
    Rumah Makan Ny Suharti, Jogja, 4 Januari 2011
    Setelah mendarat di bandara, kami, aku, istri dan anakku yang dijemput Papa serta Mama langsung bergegas menuju ke rumah makan Ny Suharti. Ya, setelah dua tahun lebih tak pernah pulang kampung, ayam goreng dan kremesan Ny Suharti adalah sesuatu yang kuimpi-impikan untuk menjadi makanan pertama yang kumakan ketika mendarat di Jogja.
    Awalnya semua terasa kaku karena meski sering berkomunikasi, itupun toh hanya lewat telepon dan facebook lagipula itu adalah kali pertama kami kembali bertemu antara aku dengan kedua orang tuaku, istriku dengan mertuanya dan Odilia, anakku dengan Uti dan Akungnya, Mama dan Papaku.
    “Mari berdoa… sebelum makan!” ajakku dan mereka mengangguk. Aku mengamati Papa, dan dia ikut menunduk khidmat.
    Aku membuat tanda salib, dan sudut mataku melirik ke Papa, “Ah ia belum membuatnya, barangkali belum terbiasa…” batinku.
    Usai makan, apa yang menjadi pertanyaanku sejak di Hongkong pun kulontarkan.
    “Hmmm, Pa, knapa tho kok mau pindah Katholik?” tanyaku.
    “Hehehhe…” Papaku hanya tertawa.
    “Hmmm… padahal nggak ada yang maksa dan ngajak tho?” tanyaku melirik ke Mama seolah meminta persetujuan.
    “Nggak… ngga ada sama sekali….” Papaku berkata ringan.
    “Hmmm…”
    “Lha wong Mamamu aja taunya baru setelah Natal kok… padahal rencanaku pindah agama itu sudah sejak lama.”
    “Oh ya?” Aku pura-pura tak tahu…
    “Iya! Aku cerita duluan ke Mas Yus kalau aku mau wulangan* baru setelah semua beres aku cerita ke Mama dan Citra.” ujarnya. “Eh Don.. kok… kok kamu tahu? Dibilangin Citra ya?” tanyanya.
    Aku mengangguk. “Ya, aku bersyukur Papa pindah ke Katholik…” kutatap wajahnya dan ia tertunduk. “Tapi…. ya tetap bertanya-tanya.. kenapaaa…”
    “Hmmmm… Papa sebenarnya udah mikir sejak lama langkah ini. Lha wong semua juga, kamu, Joyce, Odi, Mama dan Citra ya sudah katholik semua sedangkan aku ya nggak pernah beribadah kemana-mana…” ia menghisap rokok dalam-dalam.
    Aku membiarkannya mengalir bercerita.
    “Selain itu…” ia tersenyum menatapku…
    “Ya?”
    “Selain itu ya biar kalau aku mati, mamamu mau ngurusi aku hehehe…”
    Aku melongo tapi lalu tertawa. Papaku memang ahli bercanda dan kupikir ucapan terakhirnya itu tadi adalah candaan semata, seperti biasa.
    * * *
    Tegal Blateran Klaten, 7 April 2011
    Tubuh Papa telah selesai dimandikan. Aku menyatakan tak tega untuk memangku jasadnya ketika dimandikan, sehingga aku memilih menyiraminya saja dengan air bunga sesuai adat ritual Jawa.
    Ia lantas dibawa kembali ke ruang tamu dan didandani. Kemeja putih berbalut jas hitam dan dasi merah dikenakan kepadanya. Jasadnya belum terlalu kaku ketika dimasukkan ke dalam peti yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ia benar-benar tampak seperti sedang tidur pulas. Tak ditemukan lebam-lebam pada permukaan wajahnya, mulus seperti ketika ia masih hidup meski tak semulus jalan hidupnya yang bergelombang.
    “Cit!” sapaku pada adikku yang telah tuntas tangisnya, di sampingku.
    “Ya?”
    “Apa yang akan ditulis di nisan Papa nanti?”
    “Maksudmu?”
    “Papa sudah dibaptis darurat kan kemarin?”
    “Yup…”
    “Lalu?”
    Citra terdiam. “Oh, nanti akan ditulis nama lengkap papa plus nama baptisnya, Stanislaus!”
    “Heh? Stanislaus?” tanyaku.
    “Iya! Papa sendiri yang milih, Mas!”
    “Oh!”
    “Sejak hari pertama wulangan, Papa sudah memilih nama baptisnya sendiri.. Stanislaus!”
    Aku berdiri sebentar, berjalan pelan ke arah sudut rumah dan ketika kuyakin tak ada orang yang menyaksikan, kutumpahkan air mataku. Aku begitu terharu!
    Ini bukan perkara agama mana atau agama siapa yang lebih baik dan dimenangkan! Agama adalah agama, iman tetap di atas segalanya!
    Dan lebih daripada pergunjingan tentang agama, aku begitu terharu setelah tahu betapa Papa telah mempersiapkan semuanya seorang diri! Ia bahkan tak ingin istrinya, orang terdekatnya, dan kami, anak-anaknya, tahu sebelum semuanya matang dipersiapkan!
    Bagaimana ia telah rela dan ikhlas untuk belajar agama Katholik yang meski bukan hal yang baru karena anak istri dan cucu serta menantunya adalah Katholik, juga bukan hal yang terbesar yang memukul keharuanku. Tapi lebih pada bagaimana ia memandang perjalanan hidup sebagai sesuatu yang tak abadi dan ia butuh jembatan, butuh jalan yang menurutnya terbaik untuk mencapai keabadian yang ada pada tahap selanjutnya, sesuatu yang kini ia tempati dan diami.
    “Mas!” tegur adikku mengagetkan lamunanku.
    “Ya, Cit?” aku tak menatapnya takut ketahuan olehnya kalau aku menangis.
    “Kamu mau lihat nisannya Papa? Itu udah datang.. tolong sekalian check kalau-kalau ada yang salah tulis bisa secepatnya kita benahi!”
    “OK”
    Aku lalu jalan ke halaman depan rumah.
    Kupegang nisan kayu berbentuk palang salib itu, kubaca pelan-pelan atas tulisan yang tertera di palangnya.
    STANISLAUS DIDIEK HARDIONO
    Lahir: 9-09-1954
    Wafat: 7-04-2011
    Dan sejak saat itu untuk seterusnya, aku memanggilnya sebagai Stanis… Stanislaus.
    Tak lagi Diek atau Didiek karena Tuhan telah menyelamatkan dan menyematkan nama baru kepadanya di kehidupannya yang baru pula. (Bersambung…)
    wulangan : istilah Jawa untuk pelajaran agama Katholik. Setiap orang yang hendak memeluk agama Katholik harus melalui sebuah periode pelajaran yang lamanya lebih kurang satu tahun sebelum pada akhirnya dibaptis.
    Credit foto dari sampul halaman Buku Acara Jumat Agung 2011, Gereja Katholik Paroki Epping, NSW, Australia (N.N)

  • Diek (4)

    Diek (4)

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya. Simak kisah sebelumnya di Diek (1), Diek (2) dan Diek (3)

    Aku luluh. Lantak.
    Perasaanku acak-acakan. Sepanjang perjalanan dari Denpasar ke Jogja, aku merasa otak dan hatiku tak menyelaras dengan tubuhku. Berkali-kali kukatakan pada diriku sendiri bahwa sejak pagi itu aku telah berubah status menjadi anak yatim… anak yatim… anak yatim… Tapi berulang-ulang kali pula sisi hatiku yang lain menolak kenyataan dengan berkata, “Tidak! Papa masih ada… Papa masih ada.. Papa masih ada!” Namun, ketika kusematkan logika dan mengingat secara runut bagaimana tadi istriku menelpon mengabarkan duka tentang kepergian Papa, menyerahlah aku pada kenyataan bahwa Papa memang benar-benar sudah tiada.
    Air mata tak terbendung, terus-menerus mengalir…
    Hingga kira-kira seperempat jam sebelum aku mendarat di Jogja, tiba-tiba aku teringat ucapan istriku sesaat sebelum berangkat kemarin sore. “Apapun yang terjadi, kamu jangan nangis di Klaten! Kasihan Mama dan Citra… mereka sudah sangat sedih dan letih.. mereka butuh sandaran! Dan kamulah… (sandarannya)!”
    Aku lantas berusaha tegar. Stimulasi pikiran-pikiran yang menetralisir kepedihan kuhadirkan. Mulai dari mencari puncak Merapi dari ketinggian pesawat, membayangkan Jogja yang hendak juga kusambangi segera setelah Papa dimakamkan.. dan.. ohhh.. kenapa sampai ke pikiran tentang Papa lagi… Pikiranku benar-benar runyam, bagai sebuah loyang air yang terguncang-guncang, airnya terpercik ke segala arah membasahi hari yang masih pagi itu.
    Pesawat mendarat sesuai jadwal. Tanah Jogja kuinjak lagi setelah tiga bulan sebelumnya juga kuinjak.
    Menuju ruang pengambilan bagasi, mataku nanar menatap ke arah pintu keluar. Tiga bulan lalu, Papa menjemputku. Ketika itu aku sibuk mencari wajah dan mereka-rekanya akan sudah setua apa mereka setelah dua tahun tak bersua… namun kini, aku tak menemukan wajah Papa di sana. Tak ada senyumnya dibalik kaca dan lambaian tangan yang berbicara “Hey, ini aku Papamu!” dan aku membalas dengan lambaian tangan hangat bernada “Oh, itu Papa! Ini aku, anakmu!” Semua benar-benar sudah tak ada lagi.
    Setelah mengambil barang bawaan aku keluar dan berjumpa dengan Pak Karyuli, sopir langganan dari perusahaan persewaan mobil langganan yang kerap kupakai kalau aku pulang, dan telah beberapa lama menungguiku.
    “Pripun Bapak, Mas Donny?” (Bagaimana Bapak, Mas Donny – jw) Aku bersalaman dengannya.
    “…Mpun mboten wonten, Pak! (Sudah tiada, Pak! -jw)” ujarku tenang… mencoba tenang lebih tepatnya… sementara ia terkejut, terkesiap.
    Mobil segera melesat ke Klaten.
    Sepanjang perjalanan aku berusaha mengalihkan pembicaraan dari seputar kepergian Papa ke soal apa saja yang menarik untuk dibicarakan bersama Pak Yuli, demikian aku memanggilnya. Namun, jalannya roda tak dapat lebih diperlambat seperti detik yang terus maju mengantarkanku hingga ke gerbang gang rumah di Klaten.
    Di sana, di portal yang dipasang di gerbang gang rumahku, kulihat bendera merah tanda duka dikibarkan, “Ya, itu pasti untuk Papaku!” batinku. Aku memutuskan untuk tak membawa mobil hingga ke depan rumah karena selain sempitnya jalan aku toh tak mau menganggu kesibukan keluarga dan tetangga mempersiapkan upacara perkabungan.
    Namun meski demikian, toh perhatian orang tetap tertuju padaku segera sesudah aku turun dari mobil. Mereka menatapku dalam-dalam seolah ingin merengkuhku dalam kedukaan ini. Tapi aku lelaki dan kini menjadi satu-satunya lelaki di keluarga orang tuaku! Pantang untuk direngkuhi karena aku harus kokoh, harus kuat dan tegar.
    Aku memilih untuk tak larut dalam kepedihan di depan mereka. Sebaliknya, satu per satu kusalami dan kepadanya kutawarkan senyuman dan ucapan terimakasih atas perhatian dan bantuannya dalam perkabungan ini. Tak satupun terlewati dari mereka hingga kaki semakin dekat menuju gerbang rumah, gerbang yang dulu selalu aku dan Mama pakai untuk mengantar Papa kembali berangkat bekerja ke Kebumen pada setiap minggu sore itu.
    Lalu menyembulah Citra dari dalam rumah yang telah dipasangi tenda-tenda. Ia memelukku erat dan menangis sejadi-jadinya ke arahku sambil berkata, “Mas, Papa sudah nggak ada!”
    Kuusap rambutnya dan kuelus punggungnya. “Ya.. yang sabar… sabar!” ujarku tanpa airmata dan suara yang tegar.
    Hampir berbarengan dengannya, Omku, adik mamaku memelukku juga dengan haru, tapi aku tetap tak menangis. Kusunggingkan senyum dan kukatakan padanya, “Makasih, Mas. Papa sudah di surga!”
    “Ayoh.. masuklah, Mamamu menunggu di kamar…” ujarnya.
    Aku lalu masuk ke dalam rumah sementara di ruang tamu yang kursi-kursinya telah dikeluarkan, jasad Papa terbaring di sana tertutup selubung kain batik. Kaku. Salah satu tanteku, adik Mama, mendaraskan rosario di sampingnya seolah mendupai jasad yang selama 56 tahun belakangan dipakai oleh seorang bernama Didiek Hardiono, Papaku.
    Aku masuk menuju ke dalam kamar.
    Mama kudapati lunglai tapi tetap dapat duduk, tertunduk, terdiam. Duka yang menyayatnya tampak dari tirus wajah dan kantong mata yang berlipat. Kuraih punggung tangannya dan kucium dalam-dalam, ia memegang rambutku dan sekejap kemudian histeris memelukku.
    Tak lama Citra pun ikut masuk ke dalam dan memelukku pula. Mereka berdua menangis tak tertahankan sementara aku tetap teguh dan tegar. Tiada air mata yang kukeluarkan dan memang sebagai lelaki aku tak memerlukan itu. Kepada langit yang kupandangi melalui jendela kamar itu, aku berujar pada keduanya, “Kita pasti kuat! Pasti kuat! Tuhan Yesus bersama kita! Kita pasti kuat!”
    Semakin kueratkan, kedua tanganku memeluk dua wanita yang kini menganggapku sebagai sandaran terkokoh dan terkuat sejak ayahku membeku tadi pagi dan tak kan pernah bisa bangun lagi. (Bersambung…)

  • Diek (3)

    Diek (3)

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya. Simak kisah sebelumnya di Diek (1) dan Diek (2)

    Satu hal yang bisa kukenang tentang Papaku adalah kegilaannya pada bola, pada sepakbola. Selagi muda, seminggu sekali, Papa selalu meluangkan waktu untuk bermain sepakbola bersama kawan-kawan dekatnya di lapangan sepakbola dekat rumah. Membawa sepatu ‘bola’, berseragam ‘bola’, mengendarai mobil kesayangannya dengan keringat yang masih ‘kotos-kotos’, ia berapi-api menceritakan bagaimana tadi menggolkan bola ke gawang lawan.
    “Koyo Lothar Matheus kae, Pa?” (Kayak Lothar Matheus itu, Pa? – jw) gurauku..
    “Hehehe… yo ora…bedo. Papa kan striker nek Lothar kae libero…!” (Hehe, ya nggak.. beda! Papa kan striker, kalo Lothar itu libero – jw) ujarnya ringan sambil menyeruput teh panas manis buatan Mama sebelum pergi ke kamar mandi.
    Aku sendiri, tak seperti Papa, kurang suka sepakbola. Sebenarnya sih dulu pernah suka, tapi itupun hanya karena euforia setiap piala dunia yang penyelenggaraannya setiap empat tahun sekali. Selainnya itu, aku lebih gemar menonton pertandingan bola basket, barangkali karena tinggi badanku yang jangkung ini lebih membuatku tertarik untuk bermain basket bersama kawan-kawan di sekolah.
    Selain bermain bola, Papa juga ‘gila’ mengikuti perkembangan sepakbola dunia termasuk menonton pertandingan sepakbola. Salah satu contoh ‘kegilaan’ Papa terhadap ‘bola’ dulu yang kuingat betul adalah bagaimana ia menikmati tayangan ‘pandangan mata’ final Piala Presiden 1989 antara kesebelasan Persebaya Surabaya melawan PSIS Semarang melalui siaran radio. Padahal kan kalian tahu sendiri namanya juga siaran radio, yang ada hanya komentator yang berteriak-teriak berusaha melukiskan pemandangan pertandingan senyata mungkin.

    “Aku percaya Tuhan telah menyiapkanku dengan segala daya dan upayaNya supaya aku tetap tegar dan kuat menghadapi hari itu. Oleh karenanya, tak ada alasan bagiku untuk tidak berusaha berjalan tegap menghadapi kenyataan”

    Sedikit mengenang kejadian itu, aku yang turut duduk di sebelah Papa mendengarkan siaran radio itu mendadak bingung,
    “Loh kok ngerti-ngerti Mustaqiem (Persebaya) wes tekan ngarep tho Pa? Mau rak bal-e isih dicekel Ribut Waidi (PSIS) bar adep-adepan karo Putu Yasa (kiper Persebaya)?” (Loh kok tau-tau Mustaqiem sudah di depan Pa? Bukannya tadi bola masih dipegang Ribut Waidi dan ia berhadap-hadapan dengan Putu Yasa? – jw)
    Papa yang kutanyai demikian, bukannya memberikan lampu cerah, ia pun turut bingung dibuat komentator pertandingan yang tak berhenti berteriak-teriak itu. “Hehehe… lha mbuh, aku yo bingung kok ngerti-ngerti ngono.. sing penting Persebaya moga-moga menang, Le!” (Wah nggak tahu, aku juga bingung kok tiba-tiba begitu… yang penting Persebaya semoga menang, Nak! – jw) Kami lantas tertawa berdua meski pada akhirnya Persebaya harus mengakui kemenangan Laskar Mahesa Djenar itu, 1 – 0.
    Beda dulu beda dengan hari-hari lalu sebelum sekarang. Ketika siaran langsung sepakbola melalui televisi bukan lagi menjadi sesuatu yang mahal, Papa semakin termanjakan dengan pertandingan demi pertandingan yang kerap digelar dinihari. “Papamu ki nek bobo jam 4 esuk.. sok-sok jam 5, Le… mengko jam 7 wes wungu!” (Papamu sekarang kalau tidur jam 4 pagi, kadang malah jam 5 lalu jam 7 sudah bangun -jw) tukas Mama menjelaskan tabiat Papa ketika aku pulang berlibur Januari 2011 kemarin.
    Ya, Papa memang praktis selalu ‘lek-lekan’ kalau ada sepakbola. Ditemani rokok Wismilak ‘Diplomat’ kesukaannya serta didampingi Pluto dan Ellen, dua anjing kesayangannya, Papa melewati malam demi malam dengan teriakan “Golll!” ketika tim jagoannya menjaringkan bola ke gawang lawan, atau mengeluh susah ketika tim kesayangannya terkalahkan.
    Lalu siapa tim kesayangan Papa sebenarnya?
    Untuk tingkat Indonesia, tentu Persebaya adalah pegangannya. Tapi untuk kelas dunia, Papa menjagokan Manchester United yang kerap disebutnya sebagai “emYu”. Pernah waktu aku main ke Bandung dan berbelanja di factory outlet, mencarikan oleh-oleh untuk Papa adalah hal yang paling mudah karena aku tinggal pergi ke kounter Nike, menggamit sebuah polo shirt bertuliskan Manchester United dan kujamin, sukalah ia :)
    Hingga malam sebelum malam yang kuceritakan di babak-babak berikutnya di tulisan ini, Papa pun masih menikmati pertandingan antara Inter Milan melawan Schalke 04 di televisi. Saat itu, hari masih terlalu muda, 6 April 2011 sekitar pukul 02:15 WIB, ketika Chitra, adikku, mendapati Papa kejang dan kaku terserang stroke sementara pertandingan antar keduanya masih digulirkan di televisi dihadapannya.
    Ia lantas membangunkan Mama juga Eyang untuk menolong Papa, sementara Pluto terus meringik dan melolong seakan tahu bahwa maut sedang mengintai begitu dekat dengan tuannya. Dengan bantuan tetangga serta teman dekat Chitra, Papa lalu dilarikan ke rumah sakit lokal di Klaten, namun tak sampai beberapa lama kemudian ia dirujuk pindah ke RS Bethesda Jogja untuk penanganan lebih lanjut karena Papa sudah terlanjur koma. Saat itulah, Chitra untuk pertama kalinya mengabarkan kondisi Papa kepadaku melalui SMS.
    * * *
    Febris Hotel, Kawasan Pantai Kuta Bali,? Kamar 604, 7 April 2011 pukul 04.00 WITA
    Telepon berdering kencang!
    Aku yang baru tertidur dua jam sebelumnya terbangun olehnya. Awalnya kudiamkan karena kupikir itu adalah morning call yang memang kupesan pada petugas hotel untuk membangunkanku untuk mengejar penerbangan paling pagi ke Jogja, 06.15 WITA. Tapi kan aku minta untuk dibangunkan jam 4.30 WITA, bukannya jam 4.00 WITA seperti sekarang ini! batinku.
    Dering telepon pun terhenti. Beberapa menit kemudian, telepon berdering lagi. Kencang.
    “Pagi, Bapak!” suara diseberang.
    “Pagi!”
    “Ada telepon dari keluarga…”
    “Oh, baik…” Aku mengucek mata, kantuk masih mengungkungiku.
    “Halo, Hon…” suara istriku di sana.
    “Ya, Hon…”
    “Udah bangun..?”
    “Hmmm belum… bangun karena telpon ini.. aku baru bobo dua jam lalu, Hon…”
    “Hmmm…”
    “Kamu ngebangunin aku biar nggak telat ke bandara ya?”? aku menebak demikian karena demikianlah biasanya istriku mempersiapkanku kalau aku perlu mengerjakan sesuatu di pagi hari.
    “Bukan… hmmm..”
    “Oh… lalu?” Alisku mengernyit.
    “Hmmmm… jangan kaget… kamu siap?”
    “… yyy…ya?” Telapak tanganku mendadak basah oleh keringat dingin, tanganku gemetar.
    “Papa udah nggak ada!”
    “??? — ???”
    “Papa meninggal 10 menit yang lalu.. Citra barusan menghubungiku…”
    Aku terdiam. Tercekat. Tiada linangan air mata saat itu, aku hanya merasa seperti sesuatu yang besar tercerabut begitu saja dariku.
    Sementara di layar televisi, kulihat Rio Ferdinand memeluk Wayne Rooney usai peluit panjang pertandingan antara Chelsea melawan “emYu”. Rooney yang kerap dieja sebagai “Runi” oleh almarhum Papa adalah pencetak gol satu-satunya pada pertandingan itu.
    Waktu lalu beranjak menunjuk pukul 4.30 WITA. Aku segera berkemas lalu bergegas. Tubuhku gemetar ketika berjalan, bukan karena kantuk atau letih yang kurasa tapi karena satu hal yang lain yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata kepedihannya namun berkelindan di kepala.
    Sebelum beranjak dari kamar, sambil mematikan pesawat televisi, aku menggumam lirih, “Pa, emYu-mu menang!”
    Aku pergi meninggalkan hotel menuju ke bandara menatap Yogyakarta sementara matahari masih bersembunyi jauh di bawah ufuk. Aku percaya Tuhan telah menyiapkanku dengan segala daya dan upayaNya supaya aku tetap tegar dan kuat menghadapi hari itu. Oleh karenanya, tak ada alasan bagiku untuk tidak berusaha berjalan tegap menghadapi kenyataan yang ada meski sebenarnya, aku teramat sangat berduka.
    Ayahku. …Diek. Didiek Hardiono, pagi itu telah berpulang… (Bersambung…)
    Gambar diambil dari sini.

  • Diek (2)

    Diek (2)

    Aku menuliskan rangkaian kisah tentang ayahku dan kepergiannya. Simak kisah sebelumnya di Diek (1)

    A m i n? S u t a w i d j a j a. Temanku, tapi dia lebih senang dipanggil sebagai “Amen”, entah kenapa.
    Sosoknya bagiku begitu berarti.
    Mulanya, Ia hadir ketika kami sama-sama mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta pada pertengahan dekade 90-an. Dan sebenarnya tak hanya bagiku, bagi rombongan orang-orang yang pernah tinggal di rumah kontrakannya di Gang Semar, bawah jembatan layang Lempuyangan, Yogyakarta, Amen adalah seorang yang begitu berarti karena ia rela menyediakan waktu dan rumah kontrakan serta komputer bututnya untuk ramai-ramai dipakai dan dinikmati secara gratis, tanpa bayar.

    “Hidup ini memang terkadang menjengkelkan. Di banyak sisi kita diminta untuk tidak mengkhawatirkan hal yang kita takutkan terjadi padahal logika kita menyadari bahwa hal itu ada tak jauh dari perhentian saat itu.”

    Tuhan memang telah menggariskan betapa komunitas Gang Semar termasuk Amen sebagai tuan rumahnya sebagai entitas yang begitu berarti.
    Hingga kini jika hasrat untuk bernostalgia sedang menyeruak ke permukaan, sering aku memikirkan bagaimana laku hidupku jika tak bertemu komunitas itu! Belum tentu aku bisa berkarier di bidang web development seperti sekarang ini kalau aku dulu tak mengenal Gang Semar karena di sanalah untuk pertama kalinya aku mengenal bagaimana membangun sebuah situs web hingga akhirnya terhanyut untuk mencintai dunia itu hingga kini. Namun yang lebih daripada itu, yang paling berarti sebenarnya adalah pertemanan itu sendiri.
    Pertemanan antaraku dengan Amen dan aku dengan yang lainnya, ibarat mobil tumpangan, mereka datang tepat pada waktu di saat aku memang membutuhkan sokongan hidup, dalam arti yang sebenar-benarnya.
    Awal tahun 1997, Papaku, mengalami ‘pukulan’ di karirnya dan hal itu mengubah segalanya.
    Aku tak sanggup menceritakan detail ‘pukulan’ itu selain hanya mampu mengatakan bahwa Papa mengalami penderitaan akibat kesalahan yang tak ia perbuat dan hukum pun setuju untuk membuktikannya demikian. Adapun pelaku-pelaku kesalahan yang sebenarnya masih bisa berenang-renang dalam kebahagiaan, Papa dan keluarganya harus mengalami gejolak kemunduran ekonomi yang sangat menyesakkan untuk sekian lama.
    Hidupku pun mau tak mau ikut tergoncang. Kuliahku berantakan dan aku harus berjuang keras untuk mengongkosi hidupku. Sesuatu yang tak mudah karena sebelumnya, ketika keadaan masih ‘menyenangkan’ aku terlanjur mematok terlalu tinggi gaya hidupku sehingga ketika jatuh, aku terantuk begitu keras, benturannya terasa hingga ke sekujur hidupku waktu itu.
    Untunglah ada Amin.. eh Amen!
    Pernah suatu kejadian, aku benar-benar tak punya uang dan tak sanggup lagi untuk meminjam ke teman lainnya karena sudah terlalu banyak pinjaman uang yang kumintakan pada mereka. Amen, meski ia bukan pula orang kaya lantas menjadi pihak yang membopongku (dalam arti yang sebenar-benarnya) ke warung angkringan dekat Gang Semar untukku dibayarinya makan sambil marah-marah, “Kowe ki cen asu, Don! (Kamu memang anjing, Don! – jw) Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sudah tak makan dua hari dan dua malam?!”
    Aku hanya tersenyum… kecut, sekecut bau mulutku karena dua hari tak tersentuh makanan, kecut pula senyumku karena perih menanggung lapar…
    Hidup lalu membawa kami menjauh dari kenangan manis itu. Sepatah demi sepatah Tuhan memahat kami untuk semakin tegak berdiri melawan hari-hari, mengarungi hidup. Amen memilih berkarir di bidang videografi sementara aku tetap setia pada web development.
    Tahun 2006, ia menikah di Bali setelah beberapa waktu sebelumnya menetap di sana hingga kini, sementara aku, seperti yang kalian ketahui, setelah 15 tahun ‘mendekam’ di Jogja, per 2008 silam aku memilih untuk bermigrasi ke Australia, berkeluarga dan menetap di sini.
    * * *
    Setelah sekian lama, bola nasib kami yang bergulir saling bertautan, bersinggungan lagi. Di tengah rasa galau yang mengeriyap karena sakit Papaku yang begitu mendadak (6/4/2011), aku menghubunginya untuk permintaan bantuan karena aku berencana untuk singgah dulu di Bali semalam sebelum melanjutkan penerbangan ke Jogja.
    “Aku butuh kamar hotel…” ujarku lewat jendela social media.
    “Oh, yang berapaan semalam?”
    “Berapapun! Nanti kubayar sesampainya di Bali!” tandasku.
    “Trus?” tanyanya.
    “Aku butuh kamu beliin tiket pesawat ke Jogja!”
    “Hmmm… untuk kapan?”
    “Sepagi mungkin hari berikutnya, 7 April 2011!”
    “OK!”
    “Lainnya?” tanyanya lagi.
    “Aku butuh nomer telepon Indonesia plus pulsanya…”
    “Pulsa berapa?”
    “Sebanyak mungkin!”
    “Hmmm…udah? Ada lagi?”
    “Ada! Aku butuh kamu temani, Su! Seperti dulu!”
    “Oks!”
    Setibaku di hotel, meletakkan barang ke kamar, aku berjalan kembali ke lobi hotel menanti kedatangan Amen. Tak sampai lima menit ia datang dan kamipun larut menuntaskan rasa rindu persahabatan.
    “Ayo, makan!” ujarku.
    Seporsi ayam betutu pedas dan sepiring nasi panas mengepul tersaji ditemani beberapa botol bir. Ditemani ramainya lalu-lalang kendaraan di sekitar pantai Kuta dan diselimuti lembabnya udara yang menyiksa, kami saling menukar berita.
    “Men, bagaimana dulu rasanya ketika kamu ditinggal ‘pergi’ Ibumu?”
    Ia menunduk, duka itu ternyata masih tampak nyata meski ibunya telah berpulang beberapa waktu silam lamanya. “Hmmm, ya berat… ia pergi begitu mendadak tapi kuikhlaskan, Don!”
    Aku nanar, termenung.
    Papaku koma dan aku tak bisa membohongi diriku sendiri, aku begitu takut kehilangannya tapi mau tak mau aku harus mempersiapkannya. Hidup ini memang terkadang menjengkelkan. Di banyak sisi kita diminta untuk tidak mengkhawatirkan hal yang kita takutkan terjadi padahal logika kita menyadari bahwa hal itu ada tak jauh dari perhentian saat itu.
    “Rasanya? Men?”
    Ia tersenyum, “Seperti sembilu….”
    “Lalu, bagaimana kau mampu bangkit dan mendapat penghiburan?”
    Ia tak menjawab. Telunjuk kirinya dipalangkan dengan telunjuk kanannya membentuk salib, mengarahkannya padaku.
    “Yesus?” tanyaku.
    Ia mengangguk….
    Waktu dengan lincah bergerak maju dan tak terasa hari yang berat itu terlewati. “Sudah hampir jam 1 malam dan kita tak muda lagi, Bung! Aku perlu istirahat lagipula besok jam lima pagi aku sudah harus sampai di Ngurah Rai!” Kami lalu berjalan di trotoar menuntaskan sisa canda tawa, mengulang apa yang pernah kami alami dulu di malam-malam seperti itu di Yogyakarta.
    Setelah membayar lunas segala sesuatu yang ia bayarkan sebelumnya, aku pamit beristirahat. Kami saling berpelukan. Lama.
    “Ati-ati, Don… serahkan Papamu pada Yesus!”
    “Amin, Men!”
    Sepi. Aku masuk ke kamar mandi. Membasahi tubuh dan membersihkannya, berharap duka ini cepat berlalu meski sebenarnya ia belum lagi datang saat itu. Sebelum terlelap, aku menelpon istriku dan mengabarkan bahwa semua baik-baik saja kecuali nomer telepon yang belum lagi aktif entah kenapa.
    “Aku tidur dulu, Hon… udah hampir jam 2 di Bali.”
    “He eh… kamu nanti ke bandara jam berapa?”
    “Jam 5”
    “OK… nite-nite.”
    “Nite… eh Hon?”
    “Hmmm..?”
    “Aku tadi udah pesen ke Citra sebelum berangkat ke Bali… hmmm.. kalau ada apa-apa dengan Papa, dia akan mengabarimu terlebih dulu” tukasku.
    “Hmmm..”
    “Jadi, kalau memang ada apa-apa, please telepon ke hotel ini dan minta sambungkan ke kamarku ya…”
    “OK… no worries!”
    Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, pukul setengah dua. Kunyalakan pesawat televisi dan ada pertandingan siaran langsung sepakbola di sana, Chelsea melawan kesebelasan yang begitu dicintai Papa, Manchester United. Hmmm… papaku saat ini sedang terbaring sakit di rumah sakit, koma.. ia pasti ingin menonton pertandingan ini tapi tak kuat.. tak mampu.. tak sanggup, batinku.
    Tak seperti malam-malam sebelumnya, entah kenapa kali itu aku begitu malas menutup hari dengan doa. Aku terlelap, tertidur meski hatiku terjaga. Terjaga untuk Papa. Papaku. (Bersambung…)
    Gambar diambil dari sini

  • Diek (1)

    Diek (1)

    Kingford Smith (Sydney) International Airport, T1 International, 6 April 2011, 05.00 pm



    Aku telah berada di lambung pesawat Jet Star JQ37, duduk di kursi bernomer 27K yang berbatasan dengan jendela pesawat bersama dengan lebih dari sekitar seratus penumpang lainnya menuju ke Bali, Indonesia.
    Sore itu, untuk pertama kalinya pula aku kembali bepergian seorang diri setelah menikah karena selama dua setengah tahun belakangan, semenjak menikah, aku selalu pergi kemanapun bersama-sama dengan istri dan sejak setahun belakangan kemarin bahkan menjadi bertiga dengan anakku, Odilia.
    Dibandingkan dengan ratusan yang lain, aku pergi ke Indonesia barangkali dengan alasan yang paling berbeda. Kebanyakan dari mereka pergi untuk sebuah liburan ke pulau dewata. Bercelana pendek, kaos oblong, senyum lebar mengulas di bibirnya ditingkahi yel-yel khas ‘aussie’ sementara tangan mendekap erat kekasih hati dan sesekali bibir mereka pun bertautan, bercumbu; seperti keluar dari sebuah rutinitas yang mengekang dan setelah sekian lama direncanakan. Sementara aku, aku pergi dengan segala yang serba mendadak. Tiada ulasan senyum yang kusuguhkan kali ini kepada siapapun di dalam pesawat. Tiada semangat untuk pulang yang menggebu-gebu karena semua tergantikan oleh sebuah keharusan yang tanpa semangat pun keharusan adalah harus!
    Kondisi kesehatan Papaku lah pemicunya.
    Bermula dari SMS yang kuterima pagi hari dari Chitra, adik semata wayangku yang berbunyi demikian:

    Mas, papa msk Bethesda. Serangan stroke td pagi jam 2. (06/04/2011 6:38am)

    Awalnya aku tak langsung memutuskan untuk pulang saat itu. Pikirku, serangan stroke adalah sesuatu yang menjadi awal dari sebuah ‘derita’ yang berkepanjangan lalu selain itu, perkara pulang kampung dari Australia ke Indonesia adalah perkara yang melibatkan begitu banyak perhitungan mulai dari perhitungan waktu cuti, berapa lama aku harus meninggalkan anak-istri yang jelas membutuhkan kehadiranku serta tentu saja biaya yang tak bisa dibilang sedikit.
    Maka ketika Joyce, istriku, menawarkanku untuk pulang, awalnya aku menggeleng. “Mungkin nggak sekarang… ” balasku singkat. Aku lantas bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasa, masuk ke kamar mandi, cuci muka, buang air besar dan mencuci botol susu anakku, rutinitas yang selalu kulakukan setiap pagi.
    Di tengah asyik mencuci botol susu di kamar mandi, tiba-tiba Joyce masuk dan mengabarkan sesuatu yang menggelegar, “Hon, Chitra barusan sms.. dia bilang Papa kritis! Kemungkinan untuk sembuh kecil sekali dan sekarang sudah dipasangi alat pemacu buatan untuk tetap bisa bertahan hidup!” Maka hilanglah semua perhitungan yang harus kuperhitungkan untukku pulang ke Klaten. Sesegera mungkin aku harus bergabung dengan Mama dan Citra untuk mengusung duka yang sama.
    Adapun sakit yang diderita ayahku memang sangat mendadak dan mengejutkan.
    Ia tak pernah mengeluhkan sakit serius apapun sebelumnya kecuali (kalaupun ini dianggap serius) gusi bengkak dan gigi berlubang yang lubangnya memang telah berumur kira-kira seumuran denganku lalu sinus yang tumbuh di pangkal hidungnya yang selalu membuatnya bersin setiap pagi yang juga telah menahun umurnya. Sangat jarang, bahkan bisa dibilang hampir tak pernah ia mengeluhkan pusing ataupun demam apalagi yang lebih daripada itu.
    Namun meski demikian, kenyataan bahwa ayahku perokok berat ditambah lagi kebiasaannya yang kerap menunda makan serta semakin berkurangnya jam tidurnya seiring semakin bertambahnya jadwal nonton sepakbola yang menjadi acara kegemarannya, semuanya memang sering membawaku berpikir tentang betapa rentannya kesehatannya akan penyakit-penyakit yang bisa saja mengancam karena perilakunya itu. Dan, hari itu datang seperti pembuktian pikiran-pikiranku itu.
    Sesuatu yang sebenarnya bisa kukomentari dengan, “Nah, bener kan!” namun tak juga kunjung keluar ungkapan itu; tergantikan dengan suatu kepedihan, suatu ancaman bahwa mungkin saja hidup Papa telah berada di pinggiran usianya.
    Lalu tiba-tiba sapaan hangat flight attendant untuk menegakkan sandaran kursi yang sedari tadi memang kupasang agak sedikit ke bawah, membangunkanku dari lamunan.
    Kesibukan pramugari mempersiapkan keberangkatan pesawat bagiku adalah sesuatu yang menarik oleh karenanya meski mudah bagiku untuk menambal kembali lamunan yang dipecahkannya tadi, tapi ketika suara deru pesawat mulai membising dan terasa roda-roda kecilnya mulai mendorong pesawat menuju landas pacu, dan jantung pun kian berdegup kencang.
    Ah, adakah kalian yang merasakan hal yang sama denganku?
    Perasaan yang tak keruan ketika pesawat hendak lepas landas meski kita telah sekian puluh bahkan ratus kali menggunakan layanan jasa pesawat terbang?
    Barangkali degupnya, kencangnya sama seperti degup yang masih sanggup kuingat setiap Papaku dulu pulang ke Kebumen untuk kembali bekerja. Mama dan aku, hingga sekitar pertengahan 1984, aku berusia 6.5 tahun, hidup terpisah dari Papa. Kami tinggal di Klaten, di rumah yang sekarang ditinggali Eyang, Citra dan Mama sementara Papa tinggal di Kebumen, merajut karir di sebuah instansi keuangan yang dulu milik negara. Jadi, setiap sabtu sore, Papa selalu menyempatkan diri pulang ke Klaten untuk berlibur lalu pada minggu sorenya, seperti yang kubilang di atas, ia pulang ke Kebumen untuk keesokan harinya kembali bekerja. Citra? Citra, adikku, waktu itu belum lagi lahir…
    Ritual kepulangan Papa ke Kebumen waktu itu biasa dimulai setiap Minggu pukul 2 siang. Setelah kami bertiga puas berjalan-jalan ke kawasan pertokoan di kota Klaten sekalian santap siang di sana, tak lama setelah sampai rumah, Papa langsung bersiap untuk kembali ke Kebumen. Ia mengemas barang-barangnya dibantu Mama sementara aku bersama Eyang dan Eyang Buyut melanjutkan nonton televisi.
    Ketika Papa selesai berkemas, ia lantas mandi, berganti baju lalu duduk di sebelahku dan biasanya tak lama aku langsung minta dipangkunya.
    Saat-saat seperti itu, ia lantas mengusap-usap rambutku dan berkata-kata bijak semacam, “Sing ati-ati… maem-e sing akeh…” (Hati-hati, makan yang banyak – jw)
    Waktu lain, ia sering pula menghardik meski lembut, “Ojo nakal! Manut karo Mama, nek pit-pitan ojo adoh-adoh yo!” (Jangan nakal! Nurut Mama, kalau sepedaan jangan jauh-jauh ya! – jw)
    Meski.. ya meski aku hanya mendengar sambil lalu dan terus berkonsentrasi pada siaran televisi.
    Sekitar pukul setengah empat, Papa berpamitan pada Eyang dan Eyang Buyut lalu ia keluar menggandeng Mama dan aku menuju ke gerbang rumah. Ia lantas mengecup kening Mama dan tak lupa mencium pipiku, sesuatu yang kuingat dulu tak terlalu kusuka karena bau rokok yang mengaroma di bibir Papa :) “Yo wes, tak mangkat sik yo…” (Ya sudah, aku berangkat dulu ya – jw)
    Lalu Mama menggendongku di bibir gerbang dan Papa berlalu sementara langit menjingga di ufuk barat menutup hari itu.
    Kepergiannya biasa kubarengi dengan celoteh celoteh semisal,
    “Pa, ati-ati..”
    Papa menjawab meski tak menoleh “Yo, Le…” (Ya, nak – jw)
    Lalu kusambung dengan, “Pa, suk setu pundhutke dolanan yo…” (Pa, besok sabtu belikan mainan ya – jw)
    Tetap tak menoleh, Papa menjawab lagi “Yo, Le…”
    Dan terus-menerus demikian hingga ia benar-benar tak terlihat lagi, membelok ke arah lain di perempatan jalan lalu kami masuk ke rumah. Mama menutup gerbang sementara aku lari ke pelukan Eyang yang siap menghiburku karena keberangkatan Papa itu. Barulah setelah itu, berangsur-angsur, desiran degup jantung kembali normal dan kami pun melanjutkan hidup di minggu yang baru keesokan harinya…
    * * *
    Kali ini pesawat benar-benar siap lepas landas. Ia telah berada tepat di tengah garis landas pacu. Derunya semakin menggeletar dan dalam hitungan detik, daya kuatnya menggerakkan pesawat ke depan makin lama makin laju hingga akhirnya iapun terbang mengangkasa.
    Pesawat melakukan beberapa kali manuver di udara untuk mendapat posisi yang stabil dan dalam setiap lekukannya, aku begitu menikmati pemandangan ufuk barat yang menjingga tersisa setelah matahari berparipurna untuk tugas hari itu…. Kepadanya, kepada ufuk yang sama dengan apa yang selalu aku dan Mamaku lihat saat melepas kepergian Papa di minggu sore di masa kecilku, aku menyampaikan sesakku. “Pa, aku ra butuh dipundhutke dolanan meneh.. aku mung nyuwun siji, Papa gek ndhang mari!” (Pa, aku nggak butuh dibelikan mainan lagi.. aku cuma minta satu, Papa lekas sembuh! – jw)
    Telingaku semakin pekak oleh derunya mesin pesawat yang menerbangkan… satu-satunya suara yang mampu kudengar tinggal suaraku sendiri. (Bersambung…)