Kategori: 150 kata

  • Bagi mereka yang pernah satu iman

    Bagi mereka yang pernah satu iman

    Di penghujung Natal ini, aku ingat setahun silam di Facebook, aku menuliskan ini:

    Di hari Natal ini saya juga ingin mengucapkan ‘Selamat pernah merayakan Natal’ bagi mereka yang dulu pernah Kristen lalu entah karena alasan nikah, demi promosi jabatan atau mendapat ‘sinar’ lalu meninggalkan gereja.

    Percayalah bro dan sis, natal masih meriah meski tanpa kalian dan Yesus masih sayang kalian apapun agama dan keyakinan kalian…

    Seperti kata Chris Martin dalam Fix You-nya itu, “Light will guide you home…” mari kembali ke Tradisi Roma :)

    Ide tulisan di atas adalah karena begitu banyak kawan yang beralih keyakinan tapi dengan ?pede? nya aku merasa bahwa ada pula begitu banyak kerinduan yang terpendam untuk kembali bisa menjalani Natal sebagai bagian tak terpisahkan dari diri meski agama telah berganti baik dalam status sosial, KTP maupun ?hati?…

    Untuk kalian, semoga masih ada waktu dan keberanian…

    Sumber foto asli

  • Janji Allah, janji fajar pagi

    Janji Allah, janji fajar pagi

    blog_sun

    Tak semuanya yang diungkapkan dengan indah itu benar.

    Lagu berjudul ?Janji-Mu Sperti Fajar? adalah sebuah melodi yang indah bagi banyak orang kristiani dekade terakhir ini. Tapi benarkah Janji Allah itu ?hanya? seperti Fajar?

    Janji Allah itu tak berkesudahan karena Ia terdefinisikan demikian adanya oleh para nabi.

    Sedangkan matahari, menurut keilmuan terkini, akan berumur hingga 10 milyar tahun lagi. Pada saat itu, reaksi thermonuklir yang setiap hari terjadi di permukaannya akan paripurna, lalu sesudahnya padamlah ia dan tidak akan ada lagi fajar pada sebatang pagi, setidaknya dari matahari yang sama dengan pagi sebelumnya.

    Jadi, kecuali ada nabi baru yang berani menaksir usia Tuhan dan kapan Ia mati atau sebaliknya, ada ahli yang berani mengabadikan umur matahari menjadi tak terhingga, kenapa harus ada kata ?seperti? di antara ?Janji Allah? dan ?Fajar? ?

    blog_fajar_02

  • Mantra bahagia

    Mantra bahagia

     

    dv

    Ada yang bertanya begini, “Mas, sampeyan kok tampak bahagia sekali, resepnya apa?”

    ?Oh ya? Kamu menilainya darimana?” balasku singkat.
    Ternyata ia melihat fotoku di Facebook yang kuberi caption, “Matur nuwun Gusti, aku bahagia!”

    “Kalau aku nggak nulis begitu apakah kamu akan bertanya hal yang sama?” balasku.

    “Iya!”

    Aku menghargai jawabannya tapi sekaligus aku tak percaya. Aku bahagia tapi caption menyimpan kekuatan yang digdaya untuk menyangatkan arti arti.

    Caption adalah mantra dan kita harus memantrai diri kita supaya bahagia.

    Tak percaya? Mantrailah dirimu dengan keluhan-keluhan semacam ‘BBM naik tinggi, Bangsat!’ atau ‘Bahhh… ribet banget sih urusan hidup ini! Rumit bangkai!’

    Apa yang kau dapatkan dari situ? Ketidakbahagiaan.?Darimana ketidakbahagiaan itu datang? Dari mantra-mantramu yang kau tampilkan pada bingkai hidupmu sendiri.

    Jadi? Bahagialah sejak dalam mantra dan doa, dan sejak saat ini. Mulailah sadar bahwa kamu berhak dan wajib bahagia!

  • Stelan hitam, stelan putih

    Stelan hitam, stelan putih

    blog_hitamputih

    Harusnya para capres-cawapres itu mengenakan stelan hitam daripada kemeja putih seperti sekarang.

    Seorang pemimpin itu mudah kotor.
    Entah itu kotor dalam arti sesungguhnya bagi pemimpin yang mau turun ke bawah terkena kotoran pasar dan sawah, maupun kotor dalam arti kiasan, entah itu main uang, wanita, wewenang ataupun darah!

    Kalau pakaian putih, kena kotoran sikit pasti terlihat bahkan itu kalau diamati dari seberang lautan oleh orang yang berada di belakang gajah. Tapi hitam? Tentu lain soal karena kotoran bisa terlindungi pekatnya pada warna hitam.

    Pakaian hitam identik dengan peracik kopi alias barista.
    Tugasnya mulia, memberikan suntikan energi pada para buruh pekerja tiap pagi yang mengantri membeli kopi sehingga hawa ngantuk sisa tidur semalam menguap bersama ruapan aroma kopi terkena mentari pagi.

    Seorang pemimpin haruslah seperti barista mampu menyuntikkan semangat giat bekerja bagi warga negaranya.

  • Barry…

    Barry…

    Premier NSW, Barry o Farrell, mengundurkan diri dari jabatannya hanya karena sebotol anggur produksi tahun 1959.

    Selasa lalu ia membantah pernah menerima pemberian sebotol anggur.

    Sehari kemudian, komisi korupsi independen Australia menemukan bukti berupa kartu ucapan terimakasih yang dikirimkannya kepada sang pemberi anggur.

    Seorang ksatria tak pernah membiarkan orang lain menusuk pisau ke jantungnya. Ia memilih merebut pisau itu lalu menghunjamkannya sendiri hingga mati.

    Barry segera menggelar konfrensi pers dan menyatakan pengunduran dirinya sebagai premier.

    Bagiku Barry bukan orang biasa, karena politisi-politisi busuk akan memilih untuk menyemprotkan minyak wangi dan meyakinkan ke dunia sekitarnya bahwa semua baik-baik saja padahal bau busuk dari akhlak yang bernanah telah meruap.

    Orang lain boleh bilang ia kalah, tapi bagiku Ia kesatria.
    Seorang ksatria tak pernah membiarkan orang lain menusuk pisau ke jantungnya. Ia memilih merebut pisau itu lalu menghunjamkannya sendiri hingga mati.

  • Enam

    Enam

    Hari ini enam tahun silam, blog ini kubuka dan sejak saat itu aku menandainya sebagai hari yang layak kurayakan setiap tahunnya.

    Aku sendiri bingung akan kutulisi apa hari ini karena hampir setiap tahun pada tanggal ini aku menuliskan banyak hal tentang blog.

    Tapi tadi pagi, waktu sedang di atas toilet, tiba-tiba aku teringat apa yang dituliskan Ableh, kawan lamaku di linimasa twittter tentangku. Begini katanya,

    Simak blognya @dv77, tulisannya jujur dan tulus.

    Aku tahu Ableh, ia sohib kentalku. Ketika bicara demikian ia benar-benar mengatakannya dari lubuk hati yang paling dalam. Masalahnya, apakah aku telah benar-benar jujur dan tulus dalam menulis seperti yang ditulisnya? Atau aku baru benar-benar tampak seperti orang jujur yang tulus dalam merangkai kata?

    Ah, biarlah dua hal itu kujadikan permenungan selama setahun ke depan.

  • Kamu bodoh, pintar atau munafik?

    Kamu bodoh, pintar atau munafik?

    Foto-foto di tulisan ini membuatku semakin tersadar bahwa dunia ini sebenarnya terbagi atas dua himpunan besar, orang pintar dan orang bodoh.

    Bukan orang benar dan orang salah karena ketika kalian mencari kebenaran, agama adalah satu-satunya yang kalian jadikan pedoman pencarinya; karena agama tak hanya satu dan isi kepala kalian berbeda yang ada justru cenderung saling serang; tampak bodoh.

    masuk ke jalur busway lalu.. uppss ada polisi, lari ah!
    masuk ke jalur busway lalu.. uppss ada polisi, lari ah!

    Bukan pula orang beruntung dan malang karena kalau kita hanya percaya pada peruntungan pun kita agak terlalu jauh dari pintar.

    Adapun irisan himpunan dari kelompok orang pintar dan orang bodoh itu tadi adalah orang-orang munafik, yaitu mereka yang bodoh tapi merasa pintar, dan orang pintar yang berlagak bodoh.

    Pertanyaanku sekarang, di kalangan manakah kamu berada? Pintar atau bodoh?

    Petunjuk: Kalau kamu menunjuk ada di kalangan selain yang munafik, barangkali sebenarnya kamu adalah orang yang termunafik. Susah ya? :)

    credit photo: @kelakuan

  • Tak bisakah kalian diam barang sejenak?

    Tak bisakah kalian diam barang sejenak?

    Ketiadaan diam adalah tanda komunikasi yang dipenuhi kata-kata; tak seimbang. Diam tidak mengartikan kita meninggalkan pembicaraan, justru sebaliknya memberikan ruang untuk masuk lebih dalam; mencerna kata-kata dalam keheningan.

    Coba perhatikan talk show di televisi akhir-akhir ini.?Acara-acara itu kehilangan diam karena kebanyakan ketika seorang bicara, lawan langsung meluncurinya dengan kata-kata pula sehingga alih-alih mendengar apa isi pesan dari keduanya, penonton disuguhi suara ?blekuthuk blekuthuk? seperti kaset kusut hasil dari riuhnya kata-kata mereka yang tumpang tindih!

    Sementara sang pembawa acara seolah ada di sana bukan untuk melerai dan menciptakan diam melainkan menggaduhkan acara lewat gemuruh bunyi itu tadi.?Untunglah kita diberi kuasa untuk membuat mereka diam. Bukan dengan membungkam mulut ataupun menyiram teh, tapi dengan mematikan saluran televisi.

    Terpujilah Tuhan Teknologi mengalahkan congor politisi dan bangsat media!

    learning to communicate is learning to listen and contemplate as well as speak.
    (Benedict XVI)

  • Yes, size does matter!

    Yes, size does matter!

    Banyak orang menanti-nanti dengan segala upaya untuk mendapatkan keturunan. Ada yang berhasil ada yang belum nampak membuah hasilnya meski sudah tahunan. Tapi, saranku, pada setiap upaya yang dilakukan, hendaklah tetap teguh pada pendirian bahwa ukuran itu sebenarnya sangat menentukan.

    Orang boleh berujar, ukuran itu tak penting atau katakanlah penting, ada yang lebih penting yaitu mutu sperma dan kualitas hubungan seksual, tapi maaf bagiku itu tetap tak terlampau benar.

    Skali lagi perbesarlah ukuranmu kalau menurutmu belum terlalu besar.
    Eits, tapi jangan salah sangka dulu! Ini bukan perkara ukuran penis, tapi ukuran kesabaranmu!

    Kamu butuh kesabaran yang kekar dan panjang karena semua itu waktunya Tuhan. Kesabaran yang letoy nan kecil tak kan sanggup menantinya karena satuan waktuNya kadang berbeda jauh dengan satuan waktu kita.

    Jadi, camkan… kalau ada yang bilang size doesn’t matter itu salah.. yang benar, size DOES matter!

  • Remah

    Remah

    Sebelum menyaring caleg (calon anggota legislatif), parpol harusnya berpikir menguji mereka makan di resto yang menyediakan aturan semacam yang bisa kalian baca di foto berikut ini:

    tidy yours for others
    tidy yours for others

    Sederhana. Bersihkan meja, kursi dan sekelilingmu sehabis pakai demi kenyamanan orang lain yang akan menggunakanya sesudahmu.

    Caleg yang kurang baik, tak?kan hirau pada kenyamanan yang lain dengan meninggalkan remah-remah makanan dan kursi yang berantakan.

    Caleg yang baik akan mengindahkan aturan dan kenyamanan orang lain; merapikan letak kursi, membuang sampah dan remah makanan, mengelap meja dan mengembalikan piring pada pemiliknya.

    Yang begini ini yang perlu dijaring! Mereka akan peduli pada sekitar! Mengabdi pada konstituen di daerah pilih, loyal terhadap otoritas partai dan eh… seandainya gawal terkena kasus korupsi, misalnya, ia akan membersihkan remah jejaknya sendiri dan tidak berusaha menyeret kolega politiknya untuk masuk ke putaran kasus yang menimpanya.

    Setidaknya demikian…

  • Bisakah logika membuktikan Tuhan itu tak ada?

    Bisakah logika membuktikan Tuhan itu tak ada?

    Tuhan selalu kita hampiri menggunakan emosi padahal seharusnya nggak selalu.?Seolah kalau berdoa, kalau nggak pake nangis-nangis tak bisa dibaca dan bernyanyi lagu rohani, kalau nggak sampe serak-serak suaranya, dibilang kurang menjiwai.

    Kesampingkanlah emosi, kemukakan logika dan etika lalu dekati Dia!

    “Loh, tapi kalau dilogika, Tuhan itu tak ada, Don!”
    Kata siapa!? Justru sebaliknya, bisakah kamu menggunakan logikamu untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tak ada? Bisa?

    Kalau kamu hidup di Jogja dan selamanya belum pernah ke Jakarta, apakah berarti Jakarta itu tak ada?
    “Wah kalau kamu menggunakan analogi semacam itu, berarti bisa kita bilang bahwa orang-orang yang ke Jakarta dan tinggal di sana itu tak ada, pembohong semua, Don!?”

    Loh, kenapa begitu?
    “Karena kan kamu belum pernah ke Jakarta dan tak percaya ada?”

    Nah! Disitulah kamu perlu etika.
    “Maksudmu, Don?”

    Karena tak etis kalau kamu menghakimi orang yang sejatinya sama-sama sedang menghampiri penciptaNya…
    *…lalu disiram teh*

  • Pete

    Pete

    Baginda Raja diraja pernah berkata bahwa apa yang masuk ke dalam tubuhmu adalah tidak lebih penting dari apa yang keluar dari mulut dan sikap hidupmu.

    Lalu banyak dari kalangan kita menggunakan itu sebagai tameng pelindung bahwa sejatinya makan daging apapun termasuk babi tak mengapa meski leluhur Israel sebenarnya justru sangat mengharamkannya.?Tapi mari menyelami apa yang ?menghampiriku? kemarin pagi saat aku menggosok gigi.

    Pete.
    Suka pete tapi tak suka ketika sesama kita yang sama-sama suka pete bernafas sebau dengan aroma pete adalah hal yang lumrah, biasa.

    Pada kenyataan itulah perkataan Sang Baginda tadi kusandarkan. Pete yang masuk ke mulutmu tak kan menjadi masalah tapi ketika abab yang kau keluarkan daripadanya membuat sesamamu merintih dan menyumpahimu… ya jangan makan pete lagi.

    Simple, eh?

  • Incey Wincey, sang laba-laba

    Incey Wincey, sang laba-laba

    Aku sangat suka lagu kesukaan anakku, Incey Wincey. Begini liriknya,

    The Incy Wincy Spider climbed up the water spout.
    Down came the rain, and washed poor incy out.
    Out came the sun, and dried up all the rain
    And then Incy Wincy Spider climbed up the spout again.

    Lirik sederhana tapi sarat makna!
    Sejatinya hidup adalah perjuangan seperti si Incey Wincey, laba-laba yang menaiki pipa air, tapi tiba-tiba hujan turun memaksanya jatuh karena daya air yang melewati pipanya terlalu kuat untuknya.

    Tapi untuk apa patah semangat? Ketika hujan reda dan terik mentari mengeringkan permukaan pipa, saatnya incey wincey naik lagi meski kalau hujan turun ya dia bisa jatuh lagi.

    Hidup memuat pola perulangan. Hanya orang malas yang tak mau belajar polanya dan orang bodoh yang tak percaya bahwa suatu waktu dia bisa jatuh lagi.

    Kita adalah Incey Wincey, sang laba-laba.

  • Berapa banyak hal yang kau bisa kendalikan dalam hidupmu?

    Berapa banyak hal yang kau bisa kendalikan dalam hidupmu?

    Suatu waktu di pantry, aku berdiskusi dengan bosku,
    “Pernah nggak kamu merasa depresi karena ada begitu banyak hal di dunia ini yang terjadi diluar kendali kita?”

    Ia mengangguk.
    “Tapi, tak semuanyalah! Let say 10% ada yang masih bisa, sisanya memang tak bisa!”

    “Yup! nyebelin ya?!” jawabku memperhatikan.
    “O well tapi kita bisa merespon yang 90% itu tadi dengan 100% kesiapan kita!”

    “Maksudmu?”
    “Misalnya, kamu sedang di jalan, harus sampai di kantor 5 menit lagi, tapi tiba-tiba di traffic light ada ambulance yang harus diberi jalan.?Ketika ambulan sudah lewat, dan kamu siap untuk jalan lagi, mendadak lampu merah kembali menyala!”

    “Hmmm..”
    “Dan itu sesuatu yang terjadi diluar kendalimu, kan?”

    “Yup!”
    “Tapi, you know what, kamu bisa menepi lalu menelpon kawanmu di kantor, memberitahu bahwa sesuatu telah terjadi dan kamu akan telat sekian menit dari sekarang!”

    “Ah! Gotcha!”
    Ia tersenyum lalu pergi…

    Untuk mereka yang tergagap-gagap menemui kejutan-kejutan kehidupan…

  • Nyumbang?

    Nyumbang?

    Kenapa orang menyumbang??Kebanyakan karena ingin didengar dan diperhatikan, baik oleh manusia maupun Tuhan!

    Menyumbang, supaya mendapatkan amal dari Tuhan. Barangkali bagi mereka Tuhan itu layaknya pihak yang butuh dipamerin sesuatu dulu baru kemudian Ia memperhatikan balik.

    Menyumbang supaya mendapatkan nama besar dari orang lain.

    Tapi, salahkah kalau memang demikian??Tidak! Karena kebenaran pun terkadang juga hanya seperti gugusan awan yang bentuknya berubah-ubah tergantung angin dan cuaca.

    Jadi mumpung semuanya serba relatif, biar kuikut sumbang-saran yaitu bahwa menyumbang itu lebih ke hubungan antara kita dengan orang yang kita sumbang.

    Ketulusan! Tuluslah!
    Bahkan ketika kamu terdampar di padang pasir yang sepi yang bahkan tuhan pun kau ragukan tertarik untuk menjengukmu; tak pula seseorang kecuali ia yang hendak kamu tolong; pamrih adalah unsur yang tak lagi eksis dari usaha kita untuk menolongnya.

    Dengan demikian kita mampu memberi makna baru pada menyumbang sekaligus me-redesain gambaran tuhan dengan sesuatu yang baru pula.

  • Syak wasangka

    Syak wasangka

    Kian hari aku kian percaya, tercapainya sebuah masyarakat madani itu bergantung pada bagaimana kita dan sesama saling percaya.

    Pagi berkebut di jalan raya. Para pengendara harus percaya bahwa tak satupun berintensi mencelakai sesamanya dengan menyodorkan kendaraannya ke jalur sebelahnya, misalnya.

    Sesampainya di gedung tempat kerja, kita yakin tak satupun yang berniat meledakkan gedung atau membajak dan menyandera penduduknya.

    Ketika menyeruput secangkir kopi buatan office boy, “Ah, tak mungkin ia menaruh racun arsenik di cangkir ini! Saya kan tidak sedang pergi ke Belanda!”

    Ketika melaporkan hasil pekerjaan kepada bos, kita harus percaya bahwa ia akan meneruskan laporan itu ke bosnya tanpa prasangka ia akan mengakukan hasil kerja kita sebagai kerja kerasnya.

    Demikian pula ketika sampai di rumah. Kita harus membuang prasangka bahwa pasangan kita tidak habis berkencan dengan selingkuhannya sewaktu kita bekerja.

    Itulah hidup saling percaya. Hidup tanpa syak wasangka.

    Berbahagialah mereka yang percaya meski tidak melihat – Y.K

  • Identitasmu? Agama atau negara?

    Identitasmu? Agama atau negara?

    Pernah kutanya, “Kamu orang katholik atau orang Indonesia?”
    Lantang ia, seorang garis keras, menjawab, “Katholik!”

    “Kenapa bukan orang Indonesia?” tanyaku.
    “Ya, kebetulan saja tinggal di Indonesia!” jawabnya.

    “Kenapa kebetulan Indonesia? Tak kebetulan Katolik?” lalu terdiam.

    Orang begitu bangga berdiri di balik identitas agama sementara nasionalisme adalah keusangan.

    Lain cerita. Orang menindas umat agama lain karena dendam yang salah jurusan, “Di belahan dunia lain, orang-orangmu menindas orang-orangku, Sob!”

    Padahal, bukankah kamu adalah orangku juga karena kita sama-sama Indonesia dan mereka, apapun agamanya bukanlah orang kita karena mereka bukan sebangsa?!

    Yang lain lagi.
    Seorang silent majority berkomentar, ?Ngapain bantu gereja yang terusir kalau orang-orang Kristen sendiri diam tak mau bantu?”

    Terlepas dari kristen atau tidaknya, bukankah kita harus bantu sesama untuk beribadah karena undang-undang tak mengkhususkan hanya orang beragama tertentu yang boleh membantu pemeluk agama tertentu saja?

    So, selamat hari Kebangkitan Nasional meski tak tau apa lagi yang mesti dibangkitkan?

  • Seberapa cepat waktu berlalu?

    Seberapa cepat waktu berlalu?

    Ya, seberapa cepat waktu berlalu?
    Kalau kau tak sanggup menghitungnya dari jumlah kerut di wajahmu karena pulasan produk kosmetik kesayanganmu, berhitunglah melalui hal lainnya.

    Dalam 12 tahun terakhir aku telah mengganti lebih dari 14 gadget yang kugunakan.

    Ada satu gadget yang kupakai selama lebih dari empat tahun, tapi pernah pula dalam setahun kuganti gadget hingga empat kali banyaknya.

    Hingga beberapa waktu lalu, aku menemukan artikel tentang ?vintage mobile phone? dan betapa kagetnya aku ketika tahu bahwa Nokia 8210 adalah salah satu di antaranya.

    Di titik itu aku tercekat; betapa cepat waktu berlalu. Padahal gadget yang pernah sangat ngetrend karena ukurannya yang mungil itu ?baru? 12 tahun berlalu.

    Teman, maukah kalian membantuku menjawab pertanyaan yang kini menggantung di kepalaku. Seandainya aku tak mengganti Nokia 8210 itu dulu dan tetap menggunakannya hingga kini, akankah waktu berlalu sama cepatnya dengan apa yang kurasakan sekarang?

  • Pemenang yang sesungguhnya…

    Pemenang yang sesungguhnya…

    Sejatinya, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan maraknya penutupan gereja serta apapun yang semakin menunjukkan betapa pemerintah tak mampu menjaga hak kebebasan beribadah warganya.

    Kalau memang terpaksa sekali, tak bisa beribadah di gereja yang satu toh masih bisa ke gereja yang lainnya. Kalaupun semua gereja pada akhirnya dibakari dan kita semakin sesak untuk bergerak, itu bukan pertanda semakin sempitnya iman kita kepadaNya, kan?

    Be strong! karena itulah penunjuk betapa kita berbeda dari mereka.
    Mereka berlomba-lomba tampak baik di hadapan tuhannya. Kita? Justru oleh Tuhan, diminta untuk berlomba-lomba berbuat baik bagi sesama. Tebarkan cinta, ciptakan inovasi-inovasi baru bagi kemajuan kehidupan tak terkecuali mereka.

    Kenapa kita? Simply, karena mereka sudah terlalu letih dan sibuk memerangi kita sehingga meski menjadi korbannya, kalau bukan kita, siapa lagi?

    Dan sang waktu sendiri yang pada akhirnya nanti akan membuktikan, siapa pecundang yang sesungguhnya…

  • Olga dan Jessica

    Olga dan Jessica

    Tayangan televisi, bagiku kalau tak bisa dipercaya ya bisa memperdaya penontonnya.

    Siaran berita nasional. Orang yang ngakunya berpikir positif menganggap siaran seperti itu memperdaya orang untuk tunduk pada mitos bahwa Indonesia adalah negara rusuh dengan sejuta problematika.

    Sebaliknya, orang yang apriori terhadap ‘kebangsaan’ berkata, “Nah, liat sendiri kan betapa busuknya bangsa kita!”

    Orang yang terlampau malas mencelikkan mata, memilih membenamkan diri pada fantasi yang ditawarkan sinetron. Mereka menyebutnya sebagai “Bagaimana hidup dan cinta yang ideal!”?Sementara orang yang sok realistis akan bilang sebaliknya, sinetron bak perusak generasi muda karena melenakan dan tak rasional.

    Orang yang sangat mudah percaya tentu akan menganggap bahwa Olga Syahputra dan Jessica Iskandar itu sama-sama sedang dimabuk asmara.
    Meski tak sedikit pula yang beranggapan itu adalah gimmick marketing semata.
    Sayangnya, aku memilih berbaris di yang ‘tak sedikit’ itu :) Kalian?

    “Siapa yang membutuhkan imajinasi, jika kita sudah punya televisi.”
    (Melancholic Bitch)