Kategori: Khusus

  • Satu yang Tak Bisa Lepas (Reza Artamevia)

    Satu yang Tak Bisa Lepas (Reza Artamevia)

    Satu Yang Tak Bisa Lepas (SYTBL) adalah karya terbaik Ahmad Dhani yang dipopulerkan orang lain dan dieksekusi dengan sangat menawan dan berkelas. Secara musik, ada kesenyawaan antara SYTBL dengan Unbreak My Heart-nya Toni Braxton, penyanyi Amerika Serikat. Andaikan Toni yang menyanyikan SYTBL, bisa jadi benar-benar mirip.Tapi untung Toni tidak tertarik berbahasa Indonesia dan memang kita nggak perlu dia! Kita punya Reza Artamevia!

    Tanpa mengecilkan penyanyi wanita yang lain di eranya, Reza, mantan backing vocal Dewa19 itu bagiku adalah magma yang berpijar di era 90an. Tarikan suaranya mendefinisikan suara wanita yang sebaik-baiknya. Tak harus merdu tapi jujur dan bertenaga. Jujur itu tanpa pretensi apapun ketika menyampaikan, jujur adalah transparansi yang muncul nan tak kentara baik ketika ia bicara maupun bernyanyi.

    Sementara saat menyentuh nada tinggi, Reza tidak melengking tapi memarau. Aku jadi ingat komentar almarhumah Ibuk dulu bilang “Suaranya Reza itu gerok!” Gerok itu parau dalam istilah Jawa. Paraunya tak seberat Renny Jayusman, lady rocker Indonesia era dekade sebelumnya, 80an tapi tetap menjadi sebuah mutu manikam yang entah kapan terakhir kali kita melihat ada bakat baru yang seperti itu…

    SYTBL dibuka dengan seksama nan tak tergesa-gesa.

    Dibuka dengan suara brush sticks yang diseret-seret di atas snare drum yang selalu berhasil mengingatkanku pada suara sapu lidi pembantu rumah tangga di rumah Eyang dulu saat menyapu halaman belakang di pagi hari, “Srek.. srek… srek!”

    Satu bar kemudian intro nan menghanyutkan dimainkan lewat permainan gitar akustik yang aku tak tahu pasti siapa yang memainkannya tapi tebakanku sih Tohpati, tampak dari feel dan isian-isiannya.

    Dua bar cukup menyajikan intro sebelum mengantarkan Reza bersuara,

    Kusimpan masa demi masa
    Tak mudah ‘tuk terlupa
    Saat kau masih disisi
    Hingga saat kau dengannya
    Kadang ku menangis

    Reza bernarasi bagai berpuisi dan ini dilakukan hingga akhir lagu.

    Tak semua bagian dari lagu ini dibiarkan penuh dengan akrobat musik, beberapa dibiarkan mengosong hanya menyisakan sisa sustain dari bass dan keys tipis-tipis sementara dari jauh tetap terjaga tempo oleh drum yang ditabuh menggunakan brush stick seolah membiarkan pendengar benar-benar meresapi kesepian yang memang jadi tema lagu ini.

    Aku mendengarkan lagu ini tahun 1997-1998 di radio Geronimo FM Yogyakarta menjelang pukul 12 malam. Pilihan waktu yang tak bisa dipersalahkan karena Jogja lagi sendu-sendunya di jam-jam jahanam itu!

    Jogja yang menyepi menjelang peraduan, sisa hujan yang terperangkap di atas permukaan aspal dan menjadi cermin cahaya lampu merkuri pinggir jalan yang begitu temaram menyatu dengan reff lagu ini,

    Satu yang tak bisa lepas
    Percayalah hanya kau
    Yang mampu mencuri hatiku
    Akupun tak mengerti

    By the way, lagu ini merayap memuncak pada bridge setelah interlude singkat,

    Meski hatikupun mengerti
    Masih ada satu asa
    Kucoba ‘tuk melawan
    Angkuhnya hasrat hati

    Aku memaknai lagu ini ketika cinta remaja sedang begitu terbentur-benturkan ego dan nafsu. Lagu ini menjadi sarana terbaik untuk kita menglorifikasi sakit hati dan harapan bahwa cinta yang telah pergi bisa kembali meski sejatinya tak pernah muncul lagi! (Muncul-muncul cuma pas di-stalking lewat FB dan IG dan doi sudah tuwir kiwir-kiwir hahaha).

    Ah satu lagi, aku suka cara lagu ini diakhiri…

    Setelah reff yang meninggi tiba-tiba semua terhenti ketika Reza menyenandungkan,

    Dan perasaan yang lemah ini
    Menyentuh sendiriku

    Reza! Aku padamu!

  • Kiranya (Protonema)

    Kiranya (Protonema)

    Setelah hampir tiga puluh tahun sesudahnya, aku baru sadar bahwa Kiranya, single keren milik Protonema yang dirilis di sekitar tahun 1995-1996 itu punya kemiripan dengan Aku Milikmu-nya Dewa19 yang rilis kurang lebih dua tahun sebelumnya.

    Tentu aku tidak hendak bilang bahwa Protonema menjiplak Dewa19 karena kalau demikian lalu dengan istilah apa aku harus membahasakan Bimbim Jangan Menangis-nya Slank dengan Fool to Cry-nya Rolling Stones atau Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki-nya Sheila on 7 dengan Father and Son-nya Cat Stevens kan?

    Aku lebih menganggap Kiranya dan Aku Milikmu sebagai kesenyawaan karya yang sama dan itu sangat lumrah terjadi mengingat Protonema dan Dewa19 memulai daur hidup di masa yang berkelindan satu dengan yang lainnya.

    Perhatikan intronya.
    Bandingkan pola permainan gitar Micko (gitaris/vokalis Protonema) dengan Andra Ramadhan (gitaris Dewa19), bass line Erwin Prasetya (bassist Dewa19) dengan Lusman (bassist Protonema). Lalu ketika masuk ke verse, part bass Lusman pun seirama dengan bass line Erwin Prasetya.

    Serta bagian interlude, utamanya beberapa bar awal, pola besutan gitar Micko mirip dengan Andra dan lagi-lagi bass Lusman juga memainkan part yang tak melulu main di chord doang seperti yang dimainkan Erwin Prasetya di Aku Milikmu.

    Di luar itu semua, Kiranya adalah satu dari sekian banyak lagu-lagu Indonesia yang kuyakin bisa dijadikan konsensus; titik temu bagi orang-orang yang sepakat pada ide bahwa hidup di Indonesia di era90an adalah hal yang sangat menyenangkan jika tidak boleh dibilang sebagai yang terbaik!

    Aku jatuh cinta pada Kiranya sejak ia pertama kali muncul di Geronimo FM di pagi hari saat sedang mengantri mandi di asrama ketika hendak berangkat ke sekolah di Jogja dulu.

    Kupikir waktu drum dimainkan pada bagian intro, “Oh ini TOTO!” batinku.

    Tapi kok TOTO sepagi ini?
    Apa Geronimo nggak punya lagu yang lebih bersemangat? Tapi ternyata memang bukan Toto meski secara intro juga outro, permainan drum Didiet Nugraha sekilas mirip dengan I Will Remember-nya Toto yang waktu itu juga lagi jaya-jayanya.

    Kalau pada kenyataannya Protonema memiliki karakter yang mirip dengan Toto pun sejatinya tidak mengherankan.

    Band asal Bandung yang giat main dari kafe ke kafe itu menaruh Micko sebagai vokalis sekaligus gitaris, mirip dengan Toto dan Steve Lukather-nya kan… bahkan gempal-gempalnya pun mirip keduanya!

    Selain intro drum yang menawan, kekuatan Kiranya ada pada reff yang sangat menempel di kepala…

    “Kiranya,
    kiranya rindu semakin dalam…
    Kiranya,
    kiranya rindu semakin ada”

    Lagu bernada dasar C ini kemudian sangat diterima semua kalangan karena mudah dicerna, tidak ada kenjlimetan sama sekali dan beat-nya pun sedang-sedang mengasyikkan.

    Ingat Kiranya aku jadi ingat sebuah momen waktu SMA.
    Aku duduk di bangku kelas 3 SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan berkawan dengan banyak adik kelas termasuk Shakti yang kemudian kalian kenal sebagai mantan anggota Sheila on 7 itu.

    Waktu itu Sheila belum terbentuk meski Shakti sudah sering bercerita kepadaku bahwa ia kerap nongkrong bareng Eross dan Roma yang waktu itu sudah dikenal sebagai gitaris Dizzy Band.

    Suatu ketika, Protonema mengadakan konser di Jogja. Aku dan Shakti janjian untuk nonton bareng. Dia menawari menjemput dan mengantarku pulang ke asrama. Maka jadilah sore itu aku diboncengkan Shakti menggunakan Yamaha Force 1 nya.

    Dari kawasan Papringan, kami berangkat cukup pagi menuju ke GOR Among Rogo di Kridosono supaya bisa dapat tempat yang paling depan dan harapan itupun terjadi. Tapi yang kami lupa, meski bintang utamanya adalah Protonema, tapi band pembukanya adalah Deathvomit, salah satu dedengkot musik metal di Jogja waktu itu.

    Jadi ketika GOR memenuh, kami tersadar bahwa di belakang kami adalah fans berat mereka, berpakaian hitam-hitam, rambut gondrong yang jelas bukan fans protonema.

    Ketika Deathvomit naik panggung, orang-orang di belakang kami mulai berputar-putar dan moshing, aku dan Shakti pun bingung mau ngapain.

    Mau pindah takut tempatnya diambil orang lain, mau ikutan moshing, duh kami ini gak ada tampang meski rambut kami juga gondrong memanjang!

    Di konser itu, Protonema membawakan Kiranya sampai dua kali. Agak aneh memang tapi mungkin karena waktu itu Kiranya adalah satu-satunya lagu yang dikenal khalayak dan mereka belum merilis single keren lainnya, Rinduku Adinda.

    Ada momen lucu. Karena saking dekatnya dengan panggung, aku sempat meminta topi yang dikenakan Micko. “Mas, bagi topinya buat saya…”

    Micko yang seingatku menggunakan gitar Ibanez merah itu lantas membungkuk dan bilang, “Lha kan kamu udah pake topi…” Waktu itu aku memang mengenakan topi warna biru langit bertuliskan “Reebok Pump”

    Sekian tahun kemudian waktu Sheila on 7 bekerja sama dengan kantor tempatku bekerja untuk sebuah konser, ada pertemuan antaraku dengan Shakti.

    Waktu itu Sheila on 7 datang komplit dan aku diminta untuk mewawancarai. Papa Ton (Anton Kurniawan – manager), Anton Widiastanto (drummer), Adam (bassist), Eross (gitaris) dan si vokalis pun datang.

    Ketika bertemu muka dengan Shakti, kata pertama yang kami ucapkan hampir bersamaan adalah “Protonema!” Momen itu menjadi ice breaker yang dahsyat mengingat satu dan lain hal yang tak bisa kuceritakan keadaan waktu itu sebenarnya cukup awkward buatku :)

    Aku nggak tahu dan nggak yakin apakah Shakti masih sanggup mengingat semua kejadian ini tapi bagiku itu tidaklah penting.

    Yang terpenting adalah, Kiranya berhasil merangkum begitu banyak kenangan indah di tahun 90an dan masih tersimpan rapi di dalam ingatanku hingga kini ketika bumi sudah memutari matahari lebih dari tiga puluh kali sejak masa itu…

    Mari berdoa bagi kedamaian jiwa Micko dan Didiet Nugraha yang sudah berpulang.

  • Saat-Saat Bersamamu (KIN)

    Saat-Saat Bersamamu (KIN)

    Lagu Saat-Saat Bersamamu milik KIN, surprisingly enough adalah satu dari sedikit lagu yang selalu sukses men-trigger-ku untuk mengingat kembali masa indah yang terjadi di Indonesia pada era 90an silam. Mungkin karena lagu itu jarang diperdengarkan saat ini jadi sekalinya kudengar, semua kenangan masa itu meruap ke permukaan tanpa minta ijin terlebih dahulu, tanpa permisi.

    Kalau lagu-lagu lain yang lebih populer, karena masih kudengarkan cukup sering sampai sekarang maka kenangan yang tercipta tak melulu hanya yang terjadi di era 90an saja. Yogyakarta, misalnya. Benar, lagu itu sangat 90an, tapi bahkan waktu aku pindah ke Australia, 2008, Yogyakarta termasuk yang paling sering kudengar. Alhasil, memori di masa-masa yang berbeda saling berkelindan di benakku ketika ia dikumandangkan.

    Saat-Saat Bersamamu, ke depannya kusingkat sebagai SSB, adalah lagu yang sangat apik. Aransemennya rapi. Seperti halnya Yogyakarta (KLa Project), Kiranya (Protonema) dan banyak lagu lain di era itu, SSB dimulai dan ditutup dengan detak drum, tiada lain.

    Beberapa bar berselang csymbal bergemuruh sampailah kita pada intro kuat SSB, petikan gitar Lian Panggabean yang memainkan nada sol-sol fa-fa mi-mi, mi fa, mi fa, mi-fa. Simple tapi kena! Oh ya, Lian Panggabean adalah wajah yang kerap muncul dalam skena musik Indonesia kala itu bersama seorang anggota KIN yang lain, Gerry Herb, drummer KIN yang juga muncul di ALF Band-nya Nugie dan banyak lagi.

    Secara genre, SSB meski berkubang di era grunge tapi nuansa progresif rock era 80-an masih terekam jelas utamanya dari permainan keyboard Ekka Bhakti dan riff-riff minimalis yang dibangun Lian.

    Bass line menjadi hal yang paling kuperhatikan waktu lagu ini pertama kali muncul. Maklum, waktu itu aku masih nge-bass di sebuah band di Jogja. Jadi setiap ada bassist yang keren, seperti Rio Radityo dalam lagu ini, cara bermain pakai jari atau pick, strap diturunin serendah apa, merk bass, jumlah senarnya berapa hingga ampli yang dipakai pun kuperhatikan. Aku masih ingat betul bagaimana ia sustaining bass di verse yang nyaris semuanya di F (I), hal lain yang menurutku juga banyak bisa kita temukan di musik era 80-an.

    Lalu corak vokal Hery Soedajat yang manis di bagian awal tapi pas masuk reff, aduh… ada girt-girt berpasir indah dan menyalak menyanyikan,

    Oh kasih, genggam jemari lalui semua yang terjadi
    Jangan peduli hal yang merintangi kemesraan saat diriku bersamamu…

    Puncak lagu ini ada di bagian interlude yang memainkan notasi rancak meski kalau boleh memberi catatan, instead of memasrahkan semua notasinya pada Ekka Bhakti, kalau dishare dengan lead gitar dari Lian seharusnya bakalan lebih asik seperti interlude Kehidupan-nya God Bless saat Yockie Surjoprayogo (alm) berbagi dengan Ian Antono atau.. duh lagi-lagi Yogyakarta… interlude Yogyakarta begitu indah dimainkan berdua, Adi dan Lilo!

    Bagaimana aku mengingat SSB?
    Lagu ini muncul di masa ketika asrama remaja sedang berbuah ranum-ranumnya, 1997.
    Waktu itu aku duduk di bangku kuliah tahun pertama. Ada begitu banyak gadis baru muncul dalam hidup. Pada sebagian dari mereka aku berkawan, ada yang dekat, ada yang sangat dekat.

    Dalam momen-momen kedekatan itu, SSB muncul sebagai pengingat bahwa mereka bukan pacar karena aku sudah dan sedang punya pacar yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

    Setia? Iyalah! Dapetinnya susah! Kayak dapet durian runtuh! Masa cuma gara-gara cewek-cewek baru lalu hubungan jadi keruh?

    Tapi sayang lagu ini tak lama ada dalam edaran pendengaran.
    Kira-kira setahun sesudahnya, SSB buru-buru kuringkus masuk dalam gudang yang tak ingin kubuka lagi. Kenapa?
    Karena cinta yang kupertahankan akhirnya bubar jalan, ia selingkuh dan bilang “We have finished ya!”

    Asu, kan!?

  • Theo: Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat?

    Dari pandemik COVID-19 yang berkepanjangan ini kita belajar untuk berubah. Hidup ini adlah perubahan itu sendiri. Perubahan yang tidak perlahan, perubahan yang cepat. Manusia seakan tak diberi kompromi bahkan untuk sejenak rehat karena berhenti tidak lagi berarti diam melainkan mundur ke belakang.

    Belajar berubah, belajarlah pada Theodosius Dwihantoro atau yang akrab dipanggil Theo. Jauh sebelum pandemi terjadi, lulusan SMA Kolese De Britto tahun 1999 itu mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya. Bayangkan, sore hari sebelumnya pada April 2013, ia masih bisa melihat sinar matahari yang lindap di sisi barat, tapi pagi hari berikutnya, semua jadi gelap! Ia hilang penglihatan secara total setelah mengalami gagal operasi malam sebelumnya.

    Theo sadar hidupnya belum berhenti di titik itu. Dengan keterbatasannya, ia menyelaraskan hidup dan justru semakin bersemangat menyambut perubahan serta terus mencari dan menjalani misi hidupnya.

    Theo berteguh. Ia amat percaya dan memegang erat janji Tuhan. Alhasil, pria kelahiran Sleman 11 Januari 1981 yang sempat mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan ISI Yogyakarta ini kini justru menjalani hidup yang kaya warna meski gelap gulita, bercahaya meski tak ada sebersit pun sinar yang mampu diterima retina kedua mata fisiknya.

    Aku menghubungi Theo beberapa waktu lalu via WhatsApp. Meski sama-sama satu almamater, aku belum pernah berbincang sama sekali dengan adik kelas beda tiga tahun ini. Mengawali obrolan, aku mengajukan pertanyaan yang selama ini kusimpan, ?Kamu bisa aktif di social media dan kini bisa ngetik lancar di WhatsApp padahal kamu mengalami kebutaan. Gimana caranya??

    Dari pertanyaan itu lantas hadir percakapan yang mengular dan berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya?

    Theo, apa pendapatmu tentang mata?

    Mata? mata adalah salah satu cara untuk kita bisa melihat. Tapi mata bukan satu-satunya cara? Ada banyak mata-mata yang lain yang bisa kita gunakan untuk melihat. 

    Wah menarik! Ada mata-mata yang lain. Bagaimana penjelasannya?

    Dari pengalamanku sendiri, pada akhirnya aku bisa melihat banyak hal justru tidak menggunakan mata. Ketika aku mendengar sesuatu, aku bisa membayangkan dan mem-visualisasi-kan. Aku melihat dengan mata hati karena itu justru lebih tajam bagiku. Aku jadi bisa lebih mudah berimajinasi tanpa harus tersekat pada ukuran-ukuran tertentu dan pada akhirnya aku bisa melihat lebih jauh ke dalam?

    Butuh waktu berapa lama untukmu menyadari bahwa mata hanyalah salah satu cara untuk melihat sesuatu?

    Prosesnya cepat.?
    Barangkali karena Tuhan sudah mempersiapkan sejak 2-3 tahun sebelumnya (sebelum April 2013 saat Theo mengalami kebutaan karena operasi yang dinyatakan gagal -red) karena aku mulai belajar meditasi. Belajar meditasi membuatku tidak terikat pada sesuatu, belajar fokus pada apa yang dihadapi saat ini.

    Kalau boleh mengulas lagi kejadian di saat kamu kehilangan penglihatan, bagaimana ceritanya hal itu bisa terjadi?

    Waktu itu, April 2013. Malam harinya aku mengalami kegagalan operasi mata (mata Theo mengalami ablasio retina (retina lepas/detachment retina) -red). Pagi harinya saat perban dibuka, yang kulihat hanya gelap yang pekat. Ya udah gitu aja?

    Apa reaksimu pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya?

    Biasa aja.
    Mungkin malah ada orang yang menganggap aku ini gila karena setelah itu aku ya benar-benar biasa aja seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkin karena aku sendiri nggak mau terjebak dalam perasaan melankolis dan menyesali keadaan. Karena basic meditasi itu tadi juga membuatku lebih mudah untuk menerima kenyataan.

    Sesampainya di rumah dari rumah sakit, yang kupikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa berjalan di rumah tanpa nabrak. Itu dulu. Secara otomatis pikiranku langsung membuat pola visualisasi. Pola visualisasi ini membuatku mudah untuk beradaptasi dengan banyak hal.

    Kamu tampak kuat dan siap menghadapi keadaan matamu. Tapi pernahkah kamu merasa down?

    Down yang banget-banget hingga berhari-hari gitu seingatku belum pernah. Karena setiap kali mentok terhadap sesuatu, aku terbiasa untuk mencari jawaban saat itu juga kenapa mentok, apa jalan keluarnya?

    Misalnya dulu pernah aku pengen pergi nonton konser. Aku minta tolong ke seorang teman dan biasanya teman tadi bisa mengantar tapi saat itu dia nggak bisa ngantar. Lalu muncul pikiran-pikiran negatif. Tapi tiba-tiba ada bantahan dari sisiku yang lain, ?Ya mungkin dia lagi sibuk. Kenapa enggak cari teman yang lain??

    Aku pernah juga merasa gagal saat paduan suara yang kulatih tak berhasil mengulang prestasi juara tahun-tahun sebelumnya. Saat itu sempat terlintas? pikiran, ?Waduh, kenapa begini? Apa karena kondisiku ya?? Tapi lagi-lagi, tak lama kemudian muncul bantahan dari dalam diri, ?Bukan gitu! Kemarin-kemarin kamu bisa juga kok bawa mereka juara padahal kamu sudah tidak ?awas? lagi. Bukan semata-mata karena kamu nggak bisa melihat!?

    Lalu apa yang membuatmu bisa sekuat ini?

    Sejak awal aku selalu mendapat penguatan dari Tuhan bahwa semua yang terjadi ini atas ijinNya. Artinya, Dia sudah menyiapkan aku untuk masuk ke tahap ini?

    Kalau kamu sudah sedemikian siap dan kuat, bagaimana kamu menerima perhatian dari sekelilingmu? Pernahkah mengalami keadaan dimana sekeliling mengasihanimu? Bagaimana caramu menguatkan mereka? Atau jangan-jangan kamu malah nggak suka dikasihani?

    Sejujurnya aku nggak suka dikasihani tapi persoalannya kita kan nggak bisa melarang orang untuk tidak melakukan hal itu kepada kita. Ketika aku berada dalam posisi mereka, barangkali ketika melihat sesuatu yang dalam konteks normal itu tidak wajar, akupun  akan merasakan rasa yang sama; iba dan kasihan.

    Pernah sih ada yang secara lugas mengatakan dia bersimpati kepada saya tapi aku lantas menjelaskan bahkan aku tidak mengalami kesulitan seperti yang dibayangkan.

    Ada juga orang yang memberiku pekerjaan yang sepertinya hanya karena merasa kasihan kepadaku. Aku nggak mau terjebak dalam konflik batin itu. Aku fokus aja pada apa yang kulakukan, memberikan kemampuan terbaik. Itu membuat penilaian mereka berubah terhadapku.

    Ok, sekarang mari bicara tentang Tuhan. Bagaimana kamu memandang dan berinteraksi denganNya?

    Aku memandang Tuhan sebagai pribadi yang dekat, hangat. Sebagai sahabat. Sebagai orang tua dan sebagai tempat meminta. 

    Kadang komunikasiku dengan Tuhan muncul melalui cara-cara yang spontan. Misalnya ada hal yang mentok, aku bilang, ?Tuhan gimana ini mbok aku diajarin..? Atau ketika butuh duit, ?Tuhan mbok aku dikasih duit sekian??

    Kedekatan dengan Tuhan kualami sejak dulu meski secara reiligus aku ini sebenarnya tidak terlalu, aku tidak rajin ke gereja.  Tapi aku yakin justru aku merasa dekat secara spiritual.

    Apakah ada perubahan secara ekonomi saat sebelum dan sesudah kamu mengalami kebutaan?

    Pernah aku membandingkan dan sejujurnya, dari sisi penghasilan, keuanganku sekarang justru lebih baik ketimbang dulu! Dulu aku gak bisa nabung sekarang bisa.

    Profesiku sejak sebelum kejadian juga sama hingga sekarang. Aku tarot reader, aku pelatih vokal dan kadang-kadang aku juga bernyanyi. Malah sejak dua bulan lalu aku diberi kesempatan membuka lapak tarot di Kabar Baik Eatery milik Mas Ison (Ison Desy Satriyo – JB91). Aku juga sedang merintis Youtube channel tentang tarot dan aku mulai merealisasikan mimpiku untuk ke depan punya sekolah musik, tempat praktek tarot dan hipnoterapi.

    Aku percaya janji Tuhan akan mencukupkan dan rejeki kan memang selalu cukup meski kadang gak bisa diprediksi. Yang kupegang janji-Nya, tidak perlu khawatir, serahkan segala sesuatu dan semua akan dipenuhkan!

    Ngomongin soal De Britto, sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam hidupmu?

    Ajaran ?bebas bertanggung jawab? tanpa kusadari telah membentuk aku jadi pribadi yang lebih bebas dalam mengarungi hidup. Tidak terpaku pada satu pandangan, bisa diajak berpikir dan diajak untuk menggunakan cara pandang yang lain.

    Aku jadi tidak mudah terjebak dalam fanatisme tertentu apapun itu, terbuka pada segala macam pandangan tanpa aku harus ikut arus ke dalamnya.

    Lalu tentang Man for others, itu selalu jadi doaku! Bagaimana aku bisa jadi berkat bagi orang lain. Bagaimana aku bisa memberi inspirasi dan warna dalam setiap kehadiranku. Kehadiranku tidak lagi sia-sia, tidak sekadar sebagai penggembira tapi bisa memberikan warna meski aku tidak terlalu banyak bicara.

    Apakah kamu masih berharap suatu waktu Tuhan memberi mukjizat untukmu dapat melihat dengan mata lagi?

    Masih! Tapi aku tak mau harapan-harapanku itu jadi hambatan untuk maju.

    Dulu awal-awal, harapan-harapan itu justru jadi semacam pergumulan seolah aku ini tidak ikhlas. Pergumulan itu sering jadi penunda pekerjaan dan aktivitas. Pernah aku berpikir ingin melakukan sesuatu tapi lantas aku berpikir, ?Ah, nanti saja nunggu aku bisa melihat lagi?? Sering aku harus ekstra keras mendorong diriku untuk melawan hal-hal seperti ini.

    Tapi setelah aku ngobrol dengan Pakdhe Bambang Sakunthala (salah satu alumni senior De Britto), aku diajarkan untuk belajar fokus pada hal yang lebih besar lagi yaitu tentang misi hidup. Aku dikasih PR oleh Pakde Bambang, ?Coba kamu berdoa pada Tuhan, bertanya apakah misi hidupmu? Jangan sampai waktu kamu meninggal nanti kamu tidak menyelesaikan misi hidupmu!?

    Jika kamu kuminta untuk memberi satu pesan pada pembaca blog ini, apa yang hendak kamu sampaikan?

    Hidup itu sangat luarbiasa, nggak perlu ditanyakan lagi!

  • Henokh: ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang

    Henokh: ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang

    Henokh Aldebaran Ngili adalah tokoh kedua puluh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Henokh, pria kelahiran Jakarta, 26 Mei 1995 ini adalah lulusan SMA Kolese De Britto tahun 2013. Aku mengamatinya sejak lama. Kiprahnya berbeda, ia penggemar wayang dan menjadi dalang sejak berusia 2.5 tahun!

    Sudah lama aku menghubunginya untuk membicarakan rencana berbincang tentang pewayangan dan seluk-beluk profesi dalang. Pernah pula bertemu tatap muka dengannya di acara Manuk Pulang Kandang, 27 Desember 2018 silam. Namun baru sempat ngobrol sejak Juni 2019 kemarin.

    Perbincangan berjalan hingga dua bulan kemudian, melewati masa-masa menegangkan, Pemilihan Presiden Paguyuban Ikatan Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Ngobrol dengan Henokh di masa itu kujadikan sebagai cara untuk lebih memandang ?debritto? dari sudut yang lebih kontemplatif dari sekadar seloroh-seloroh seru kampanye dan copras-capres.

    Pria yang sedang menunggu proses yudisium untuk jadi sarjana serta menjalankan beberapa pekerjaan sekaligus (barista, staff management hotel dan dalang) ini berbicara panjang lebar tentang dunianya.

    Beberapa yang kujadikan intisari, kutuang dalam petikan-petikan di bawah ini?

    Henokh, kenapa kamu tertarik pada wayang?

    Yang pertama karena perwujudan wayang itu menarik. Stilasi bentuk, dalam wujud wayang apapun, langsung mudah untuk dilihat sebagai wujud makhluk: manusia, hewan, buta dll.

    Cerita dan value yang bisa diambil dari sebuah pertunjukan wayang jugamenarik. Di masa kecil cerita-cerita kewiraan membuatku tertarik. Semakin berjalannya waktu, nilai-nilai spiritual, kemanusiaan dan cinta semakin membuat tertarik.

    Wayang itu juga jadi gambaran hidup. Ada senang, ada susah, ada hidup dan ada mati. Semua terefleksi dalam wayang.

    Lalu kenapa kamu jadi dalang?

    Apa aku ki dalang, hahahahaha?
    Ya mungkin karena wayang itu fleksible. Ini salah satu caraku untuk berefleksi. Ketika menghadap kelir, aku tidak hanya mendongeng untuk orang lain. Aku diingatkan pada gambaran uripku.

    Di situ juga aku bisa berbagi pada orang lain, nilai-nilai luhur yang bisa kuserap. Ketika aku ngobahke wayang dan ‘menghidupkan’ wayang itu, aku bisa juga mengingat poin-poin keutamaan yang mungkin aku juga terkadang lupa akan poin-poin itu..

    Alasanmu cukup selfish ya hahaha

    Point-nya bukan pada selfish-nya, DV. Bukankah katanya Firman itu juga pedang bermata dua?

    Menjadi dalang itu juga mejang Firman. Otomatis ketika kita berbagi soal nilai-nilai keluhuran itu, kita juga sedang mengingatkan diri sendiri. Kalau mau deep down alasan yang lebih selfish sih ada: Aku cinta kok karo wayang. Jenenge wong cinta ki ya kepiye hara.. hahahhaa

    Siapa yang memperkenalkan pertama kali dengan wayang, Henokh?

    Di awal, ada beberapa orang yang mengenalkan wayang ke diriku. Mama (Wahyu mahatmaningrum), pakdhe (Nuryanto), serta guruku mendalang pertama kali (Budhi Sitepu).

    Kamu memandang pekerjaan dalang itu lebih ke spiritual atau duniawi?

    Yang pasti ndalang itu bukan jalan utama untuk mencari uang. Aku tidak mengharapkan duit dari ?mayang?, nek ana dhuwite mangga, ora ya uwis

    Spiritual, buatku ya. Wayang itu media fleksible untuk siapa pun mendapat insight dari suatu pertunjukan.

    Itulah sebabnya kenapa aku sendiri mendisiplinkan diri ketika akan munggah panggung. Dalam hal ini menyiapkan diriku sebaik-baiknya, secara tubuh-jiwa-roh, karena aku membawakan pesan untuk siapapun yang menonton / mendengar.

    Insight-insight apa yang kamu pakai dan dapatkan dalam ndhalang?

    Insight? Banyak sekali.
    Bacaan, pengalaman setiap hari, mendengar, refleksi atas hal-hal besar dan kecil.. Aku tipe orang yang kalau mau munggah panggung selalu prepare naskah dengan sebaik mungkin.

    Walau nantinya di atas panggung ada improvisasi sesuai kehendak-Nya, tetapi ada frame supaya ora ‘ngawur’ dan bisa ‘menguji’ apakah itu benar-benar arahan-Nya apa bukan.

    Tresna.
    Buatku cinta pada wayang itu yang selalu menginspirasiku dan mem-push aku.

    Bagaimana dalang itu mendapat uang? Berapa tarip rata-rata sekali manggung?

    Jujur, aku ndak selalu menerima uang dari panggungku. Banyak juga pro bono (tanpa imbalan) Ada juga yang sifatnya diaturi (diberi) berupa hasil bumi, atau dibayar dengan hal-hal lain.

    Tarip rata-rata, ora ngarani (tidak menyebut angka -jw). Aku belajar keteladanan dalang-dalang sepuh yang ora ngarani dalam berkarya.

    Tapi dengan hitungan era kekinian. Hitungannya adalah selama aku tidak rugi..

    Kebutuhan suatu pertunjukan kan ada wayang, kothak, kelir, debog, gamelan, sound system.

    Kemudian wiyaga dan sindhen, lalu ada transport ke lokasi juga.

    Nah ini yang harus dihitung. Kalau aku diminta membawa kawan / crew, mereka harus mendapat upah juga karena bekerja.

    Kalau rata-rata cost sekali manggung sampai berapa?

    Nah, ini variatif. Beda daerah, beda cost. Tapi let say itung-itungannya kalau professional show untuk area dalam kota itu 15-20 juta. Untuk corporate, harga bisa beda.

    Henokh, bicara tentang pewayangan, apakah kamu setuju bahwa wayang itu mulai ditinggalkan?

    Tidak menolak tapi juga tidak setuju.
    Anak-anak muda seusiaku yang tahu wayang berapa banyak? Orang-orang tua seusia simbahku dan ibuku yang ngerti wayang apa juga masih banyak?

    Tapi aku tidak sepenuhnya setuju bahwa wayang itu ditinggalkan ketika melihat jumlah viewer live streaming dalang-dalang superstar yang sekarang beribu-ribu. Belum lagi jumlah like dan subscriber akun-akun pegiat wayang di Youtube. Follower dan like di Instagram, samberan twit tentang Wayang dan banyak lagi.

    Malah seharusnya pertanyaannya dibalik, wayang itu ditinggalkan, apa kita yang ketinggalan sama wayang?

    Bicara tentang De Britto, bagaimana masa pendidikanmu di sana sehingga karaktermu bisa terbentuk terkait dengan hobi wayang dan ndalang, Henokh?

    De Britto memberi penegasan warna pada karya yang kulakoni. De Britto memberi penegasan secara aplikatif soal kejujuran dan orisinalitas. Bahwa kalau mau jadi dalang ya jadilah yang orisinil. Jangan mencoba menjadi sosok dalang yang lain walau kita ngefans dan terinpsirasi olehnya.

    Begitu juga keterbukaan terhadap kritik dan mengolah kritik menjadi sarana untuk memecut diri pribadi.

    Value Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) dan Ad Maiora Natus Sum (AMNS) juga penting. Bahwa proses ‘obah‘ ku itu ada value yang lebih tinggi dari sekedar aku dan kita, tapi luwih gedh? seka kuwi (tapi lebih besar daripada itu -jw).

    Henokh, aku dengar kamu dan kawan-kawan sedang mempersiapkan wayang De Britto?

    https://www.youtube.com/watch?v=oMXzC03-hp8
    Henokh berlatih bersama wayang De Britto (01)

    Pada dasarnya kami yang nggarap wayang de Britto ini pengin menghidupkan lakon hidupnya St. Yohanes De Britto.

    Ide dasar lalu bergulir melalui diskusi dengan teman dalang-penatah-penyungging (Ki Suluh Juni Arsah & Ki Rudy Wiratama) Lalu sowan ke Bapa Guru kami Ki Dr. Antonius Bambang Suwarno (salah satu dalang wayang popular, dan juga dalang wayang Wahyu).

    Dari situ saya bawa ke diskusi dunia maya dengan Koh Christopher Dewa Wardana (penyorek wayang, alumni JB, 2003 kalau saya ndak salah) yang memunculkan saran-saran tambahan.

    Oh ya, diskusi juga terjadi dengan rekan-rekan Pametri Budaya Nusantara (Perkumpulan alumni De Britto peminat kebudayaan).

    Insight-insight apa yg ditemukan dan digarap sebelum akhirnya mengerucut pada wayang De Britto?

    Berangkat dari kita ini teriak-teriak JB, alumni JB, tapi apakah kita benar-benar sudah menggali nilai-nilai kehidupan dan warisan iman St. Yohanes de Britto?

    https://www.youtube.com/watch?v=uidqUqOlwJM
    Henokh berlatih bersama wayang De Britto (02)

    Sejauh apa kita kenal dengan patron kita itu dan bagaimana keseharian kita jika dihadapkan dengan kehidupannya?

    De Britto dikenang sebagai salah satu pewaris ajaran Roberto de Nobili, manjing-ajur-ajer dengan sebuah kebudayaan, teologia Trialektik. Lha kita sendiri bagaimana dengan kebudayaan dan nilai-nilai luhur kita? Yang Kristen maupun dari keimanan yang lain, apa juga kenal dengan nilai-nilai luhur dan kebenaran universal yang ada di masyarakat kita jauh sebelum agama-agama dari luar Nusantara masuk?

    Lalu rencana wayang debritto itu nanti mau diapain? Diserahkan ke sekolah? Atau diperbanyak? Atau piye?

    Henokh memegang wayang St Yohanes De Britto dalam puncak acara Perayaan Ulang Tahun SMA Kolese De Britto Yogyakarta ke-71 tadi siang (19/8) di SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Diserahkan ke sekolah sambil pelan-pelan nambahi jumlahnya, tidak hanya St. Yohanes De Britto wujud brahmana, tapi juga wujud masa novis sampai tahbisan, masa muda, lalu tokoh-tokoh lain yang mendukung semisal: Jo?o Restaurador, Pedro II, Alfonso VI, Don Salvador, Donna Beatrix, Sancho Manuel, Pater Emanuel Monteyro/Provinsial Portugal, Pater Jendral Gian Paul Oliva, Pater Andre Freire, dan sebagainya).

    Penyerahan tokoh utama dilakukan tanggal 19 Agustus. Untuk wayangan singkat fragmen paralitugi. Lalu diberkati dan diserahkan bersama keris Jalak Sangu Tumpeng.

    Oh ya, adakah nama tertentu untuk wayang Yohanes De Britto?

    Ada. Wiku Arul Anandar. Arul Anandar itu nama yang dipilih De Britto ketika berkarya di area Keuskupan Sivanagai, India.

  • Zakharia: Ikut Tuhan itu gak segampang nyangkem?

    Zakharia: Ikut Tuhan itu gak segampang nyangkem?

    Zakharia Primaditya adalah tokoh kesembilan belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Zakharia kukenal secara tak sengaja dari seorang kawan alumni lainnya, Wempi. Wempi menganjurkanku untuk mewawancarai Zakharia yang ikut Tuhan ?hidup, bertumbuh dan belajar? di Tanah Papua. Tapi waktu itu tanggapannya ku-iya-in aja karena toh aku tak tahu bagaimana menghubungi Zakharia.

    Tiba-tiba, tak berselang lama, ada sebuah nomer handphone menghubungiku via WhatsApp. Ia memintaku untuk menambahkannya ke dalam Grup WhatsApp ?Kabar Baik?, grup yang kudirikan untuk diskusi tentang renungan Injil harian. Mudah ditebak berikutnya, orang itu ternyata Zakharia!

    Dari situ aku tak langsung menjadikannya sebagai tokoh alumni. Aku mengamatinya terlebih dulu untuk beberapa lama hingga akhirnya ternyata benar, dia memang brilian dan baik untuk diangkat menjadi tokoh alumni.

    Bukan karena kesuksesannya dalam hal-hal yang mainstream tapi justru pilihan hidup dan keputusan-keputusan yang dilahirkannya yang semuanya diarahkan untuk kemuliaan Tuhan.

    Zakharia dan istri, ikut Tuhan
    Zakharia dan istri, ikut Tuhan

    Bagiku, Zakharia adalah sudut pandang kecil tentang bagaimana menghidupi semangat Ad Maiorem Dei Gloriam secara nyata.

    Simak obrolanku dengan pria lulusan SMA Kolese De Britto tahun 2003 yang kubuat awal tahun ini sebelum ia pamit untuk undur diri ke pedalaman Kosarek, Yahukimo, Papua, ?Di sana nggak ada sinyal, Mas!? begitu katanya.

    [DV] Dalam penjelasan singkat, apa yang kamu dan istrimu lakukan di Papua?

    [ZP] Hidup, bertumbuh dan belajar di tempat di mana Tuhan memanggil kami dengan talenta yang Tuhan beri. Tempat yang Tuhan tunjukkan adalah Kosarek, Papua.  Dan telenta adalah anak-anak. Jadi kami berproses dan saling belajar dengan anak-anak di sana.

    Pada prakteknya, dalam keseharian, apa saja yang kalian lakukan?

    Kami berproses  tidak di dalam kelas tapi melalui pendekatan alami. Nongkrong bersama mereka. Memperlihatkan video-video permainan, belajar musik dari yang mereka mau, berkebun dan memasak.

    Fokus awal dan yang mau kami jadikan etos adalah sebanyak mungkin semua harus berasal dari kemauan mereka sendiri dulu. Dari situ kami pelan-pelan mengikuti cara berpikir mereka dan bisa melakukan pendampingan dalam bertumbuh.

    Orang seusiamu, (34 tahun -red) biasanya sedang menuju puncak karir di perusahaan atau memetik hasil dari usaha bentukan sendiri dan mulai merasakan hidup nyaman bersama keluarga. Kenapa kamu malah meninggalkan impian itu dan pergi ke Papua?

    Itu hasil pupukan Bapak yang mewanti-wanti supaya aku jangan mau terikat pada materi dan memang kami sekeluarga tidak pernah hidup berkelebihan. Kemudian di De Britto aku dipupuk untuk berani hidup susah.  Jadi ya memang Tuhan menyiapkan semuanya tanpa kusadari untuk bisa hidup seperti sekarang ini. 

    Setelah mengikuti panggilan Tuhan, walau hidup tidak di zona nyaman, tapi kami betul-betul merasa bahwa semakin berani ikuti jatuh bangun memikul salib, semakin Tuhan memberi berkat yang juga makin mencengangkan! 

    Tidak berlebih, tidak yang kita mau tapi benar-benar yang kita butuhkan. Dan ketika melihat banyaknya anak-anak yang mau belajar bersama pada akhirnya memiliki karakter yang berkenan kepada Tuhan maka ketidaknyamanan itu menjadi semakin tidak berarti. Walau prosesnya memang nggak segampang nyangkem hahaha?

    Sumber dana pelayananmu darimana?

    Sebagian besar datang dari jaringan pertemanan, sebagian lagi dari jemaat beberapa Gereja serta tabungan kami pribadi yang memang untuk pelayanan ini. Itu modal dan pada prinsipnya ada yang mau nambahin atau tidak pokoknya tetap jalan. Iman adalah modal terbesar hahahaha!

    Kamu melibatkan Tuhan dalam mengerjakan segala sesuatu. Bagaimana kamu memahami Tuhan?

    Aku memahami Tuhan justru awalnya dengan mencoba lari dariNya.

    Zakharia yang sarjana lulusan Universitas Parahyangan Bandung jurusan Hubungan Internasional, sejak kecil diperkenalkan oleh ayahnya untuk membaca buku dan bereksplorasi dengan lingkungan sekitar. Hal itu memicunya untuk mulai merasa gelisah pada social justice, ketimpangan ekonomi, moralitas dan lain-lain.?(DV)

    Sebagai remaja, aku mengambil jalur sebaliknya. Menjauh dari Gereja dan mencari jalan lain yang tetap bisa menjawab keresahanku akan persoalan-persoalan kemanusiaan. 

    Aku menjalani beberapa kegiatan kemanusiaan bersama beberapa NGO untuk membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa Tuhan. Tapi kemudian yang kurasakan, aku kalah dan Dia menang.

    Kok bisa?

    Aku merasa kosong dan perjuangan-perjuangan serta pembuktian itu seolah tidak pernah habis. 

    Dimana hal itu terjadi?

    Di Wamena (Papua), ketika melakukan sebuah aksi kemanusiaan bersama sebuah NGO. Aku frustrasi karena merasa gagal dalam aksi itu dan di situ aku sadar ternyata tujuan akhir dari semua ini adalah untuk diri sendiri dan itu salah!

    Tapi Tuhan memanggilku melalui banyak cara. Pada saat mau pulang karena merasa gagal, di Bokondini (distrik di Kabupaten Tolikara, Papua) aku bertemu misionaris. Di situ lantas aku memutuskan bergabung dengan sekolah rintisan miliknya. Itu kujadikan pertaruhan terakhir sebelum benar-benar menyerah.

    Tak disangka, di situ aku dibentuk untuk menyadari panggilan yang sebenarnya yang sudah ada dari dulu tapi aku berusaha lari terus dariNya.

    Dekat dengan Tuhan pasti berkat doa. Menurutmu doa itu sepenting apa dan bagaimana cara berdoamu?

    Dari pengalaman, aku semakin mengamini bahwa doa itu kekuatan ampuh.  Doa bagiku adalah curhat ke Tuhan, bukan doa dalam a legalistic way? close your eyes and hands and pray before sleep and eat. Doa itu kayak ngobrol dengan Tuhan. Kadang kalau sampai nangis-nangis dan teriak-teriak sedikit kepadaNya saat bingung dan sesat tak mengapa.

    Ada pengalaman menarik terkait doamu?

    Ada. 
    Sekitar enam tahun di Bokondini, aku sudah merasa mulai nyaman dan anak-anak yang kudampingi semakin bertumbuh.  Tiba-tiba pada suatu malam aku sadar Tuhan meminta kami keluar dari situ. Ia memberi petunjuk untuk pergi ke daerah Yahukimo dan dari sana Ia akan memberi tanda.

    Rasanya tentu berat apalagi untuk itu kami harus berjalan berhari-hari melewati medan hutan dan pegunungan. Tapi tetap kami jalani. Dalam perjalanan yang memakan waktu berhari-hari itu kami bahkan sampai tersesat di hutan. Kami berdoa, mencak-mencak ke Tuhan dan Dia menjawab di dalam doa, meminta supaya kami kembali ke titik awal.

    Tapi bagaimana mau kembali ke titik awal kalau jembatan yang tadinya ada untuk menuju ke sana sudah hanyut terbawa banjir? Dua malam termasuk salah satu malamnya adalah Malam Tahun Baru, kami diam di tepi sungai yang ganas. Di situ kami mencak-mencak lagi kepada Tuhan dan akhirnya kami berjalan memutar untuk sampai ke titik awal.

    Di sana kami diberi tahu oleh beberapa penginjil bahwa pada malam tahun baru, saat kami sedang tersesat, di daerah itu ada sedikit ?drama keributan? yang terjadi. Mereka pun bilang, ?Untung kalian tidak datang kemarin!?

    Sesudahnya, sesampainya kami di Yahukimo, seorang pemimpin di sana merekomendasikan kami untuk pergi ke kampung di belakang gunung di arah seberang dari tujuan awal kami. Dan itulah Kampung Kosarek, tempat tinggal kami sekarang.

    Itulah pengalamanku terkait dengan doa, Mas? Tuhan memberitahu, Tuhan menunjukkan, Tuhan pula yang menuntun.

    Banyak orang jaman now yang semakin meninggalkan Tuhan dalam membuat keputusan-keputusan penting mereka.  Ada pendapat soal ini?

    Apakah bedanya aku sama mereka sampai bisa menghakimi mereka ketika sekarang aku sudah “selamat?, Mas?

    Toh kalau memang selamat, yang menyelamatkan dan mengubah hati panggilanku ya cuma Gusti Yesus. Untuk mereka, aku cuma bisa mendoakan saja?

    Tapi barangkali mungkin hal itu terjadi karena memang tawaran dunia sekarang adalah having.. what i want.. what I like.. what I love.. I want to own..  Padahal semakin mendapatkan, semakin kosong karena rasa puas itu nggak ada batas pencapaiannya?

    Zakharia ikut Tuhan bersama anak-anak di Papua
    Zakharia ikut Tuhan bersama anak-anak di Papua

    Ada pula banyak yang memilih untuk tak beragama meski tetap ber-Tuhan … Ada juga yang semakin terkikis nilai-nilai ketuhanannya, bersikap atheis meski tetap baik pada sesama. Bagaimana menurutmu?

    Soal keterkikisan nilai-nilai ketuhanan, yang terpenting adalah pemuridan. Itu pula yang jadi alasan keterpanggilan kami mengenai aksi pemuridan yang makin luntur. 

    Tapi kami mah level kroco, Mas.  Jadi mainnya hanya di kampung yang terisolasi seperti Kosarek ini yang cenderung lebih mudah karena kurang banyak distraksi dan godaan dunia hahaha.. 

    Kalau soal atheis yang berhati baik itu adalah hal yang paling sulit untuk kujawab. Banyak kawanku yang sedang ada dalam tahap ini dan aku masih bergumul dengan Tuhan tentang bagaimana cara terbaik untuk menghidupi iman bersama mereka. Jadi aku gak bisa jawab, Mas! Takut jawabanku agak kurang berhikmat.

    Kamu lulusan De Britto, adakah nilai-nilai khas dari sana yang kamu pakai dan ingat sampai sekarang?

    Man for others dan man with others itu salah satu pupuk intensif di De Britto yang ditanam di ?tanah? Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG – Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar -DV).

    Makin lama aku makin sadar AMDG itu benar-benar prinsip yang kalau dijalani beneran akan memberkati banyak orang dan diri sendiri. Pekerjaan apapun kalau tujuannya untuk memuliakan Tuhan (AMDG) akan josss! 

    AMDG juga yang benar-benar membuatku merasa lebih kuat dan berani dalam mengambil keputusan untuk mendengarkan panggilanNya.

    Pernah membayangkan hidupmu tanpa Tuhan?

    Pernah! Barangkali aku akan keliling dunia sesuai ambisi. Sukses memuaskan nafsu liar adrenalin ke tempat yang paling tidak diinginkan orang dengan topeng menjadi pekerja kemanusiaan berhati emas  hahaha? Tidak menikah dan kalau tidak mati muda karena savior sydnrome berarti sudah jadi an old man di mountain cabin dengan old landrover and adopted few children as single parent? Hahaha?

  • A. Tony Prasetiantono (Alm): Saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja?

    A. Tony Prasetiantono (Alm): Saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja?

    A. Tony Prasetiantono adalah tokoh kedelapan belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Mas Tony adalah presiden Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto yang terpilih pada 2015 dan meninggal dunia pada Rabu 16 Januari 2019 silam.

    Mas Tony lahir di Muntilan, 27 Oktober 1962. Ia terbilang sebagai ekonom papan atas negeri ini. Setelah menyelesaikan studi di De Britto pada tahun 1981, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta (1981-1986). Gelar M.Sc, diraihnya melanjutkan studi S2 di University of Pennyslvania, Amerika Serikat (1992). Gelar doktor dicapai di Australian National University (ANU), Australia pada 2005.

    Sejak tahun 2000 hingga akhir hayatnya, Mas Tony menjabat sebagai Division Head Center for Economics and Public Policy Studies, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

    Secara fisik, aku bertemu dengannya seumur hidup hanya dua kali.?Pertama saat duduk di bangku kelas 1 SMA Kolese De Britto, 1993. Waktu itu, Mas Tony yang baru saja pulang dari Amerika memberikan pendampingan karir pada para siswa. Kedua adalah saat aku pulang ke Indonesia dalam rangka peringatan 100 hari meninggalnya Mama, Juni 2016. Pada malam terakhir sebelum kembali ke Australia, aku berdiskusi dengannya dan beberapa pengurus paguyuban lainnya di Kopitiam, Yogyakarta untuk membicarakan tentang pembangunan situs web dan sistem database alumni.

    Di luar itu, perjumpaan hanyalah melalui jalur Whatsapp dan email. Bahkan pada siang hari sebelum beliau meninggal, kami masih sempat berdiskusi di grup WA Pengurus Besar Paguyuban tentang isu keberpihakan alumni/paguyuban alumni dalam Pilpres 2019 mendatang. Diskusi itu lantas melahirkan tulisan yang bisa kalian baca di sini.

    Alasan penokohan Mas Tony bagiku karena beliau adalah presiden yang mau berpikir progresif. Tak hanya tentang bagaimana bernostalgia bersama alumni lainnya tapi juga membawa paguyuban ke arah serius dalam berkontribusi bagi almamater. Tak semua hal yang dilakukannya selalu mendapat sambutan baik dari para alumni, termasuk aku, tapi bukankah sejak di De Britto kita terbiasa dengan perbedaan pendapat?

    Lagipula hari ini adalah hari baik.
    Pertama karena hari ini adalah peringatan pesta nama Santo Yohanes De Britto, santo pelindung almamater yang begitu kita cintai. Kedua, hari ini adalah hari dimana aku menyelesaikan pengerjaan sistem database alumni yang lantas kuberi nama Topras, kependekan dari Tony Prasetiantono, sebagai wujud penghormatanku kepadanya.

    Aku memang belum sempat mewawancarai Mas Tony tapi seperti yang kulakukan saat ?menokohkan? alm. Kristupa Saragih, metode yang sama kupraktekkan di sini.?

    tony prasetiantono
    foto: FEB-UGM

    Metode ini kunamakan sebagai ?wawancara imajiner.? Aku seolah-olah bertanya tentang hal yang dijawab oleh Mas Tony. Jawaban-jawabannya tentu bukan imajiner melainkan bersumber dari pernyataan-pernyataannya yang telah terpublikasi. Ada dua video di Youtube yang kujadikan sebagai landasan. Pertama adalah ?PILPRES JB 2015 – A. Tony Prasetyantono 81? yang diunggah akun Mikrotik Indonesia. Video kedua berjudul ?JB 007 Pidato Tony Prasetiantono? yang diunggah akun Arul Anandar.

    Berikut adalah penggalannya.

    [DV] Kenapa Mas Tony mau terlibat dalam kegiatan pemilihan presiden alumni De Britto?

    [TP] Karena saya merasa inilah saat yang tepat bagi saya untuk berbuat sesuatu terhadap De Britto. Kita utang pada De Britto, Sudah diberi fasilitas dan pendidikan first class tetapi kita mbayarnya dengan harga angkringan? Debritto adalah kreditor saya terbesar dalam hidup karena itu harus dibayar. ini saat yang tepat untuk nyaur utang?

    Tapi apakah harus jadi pengurus alumni untuk bisa berbuat sesuatu terhadap De Britto, Mas?

    Tidak juga. Kontribusi bisa diberikan meski tak menjadi pengurus. Namun menjadi pengurus adalah jalan yang lebih efektif.

    Bagaimana sih prinsip dan praktek dalam berbuat sesuatu terhadap De Britto itu?

    Jaman sudah berubah dan tantangan dunia pendidikan makin berat dan semakin luar biasa kompetisinya. Adalah naif kalau kita mengatakan De britto bisa menyelesaikan persoalan dan tantangannya sendiri, mereka perlu bantuan orang lain. Orang lain yang terdekat ya alumni. Jadi tantangan saya adalah bagaimana merangkai alumni yang datang dari berbagai macam latar belakang dan keahlian itu untuk membantu De Britto. Itulah yang saya bayangkan?

    Fokus dan framework dari rencana kerja Mas Tony itu seperti apa?

    Ada tiga aspek, tiga agenda besar yang akan kita kerjakan.

    Pertama adalah agenda akademik, tentang bagaimana kita membantu meningkatkan kualitas SMA Kolese De Britto. Kedua adalah dana. Meningkatkan kualitas sekolah itu perlu dana. Ketiga, silaturahmi antar-alumni dan antar-alumni dengan sekolah.

    Tapi dengan hanya tiga tahun masa kerja, apakah Mas Tony yakin mampu untuk mengerjakan itu semua?

    Kita optimalkan saja waktu yang tersedia. Dan justru supaya kerja ini targetnya jelas saya putuskan untuk menjadi presiden satu periode saja sehingga kalau tak tercapai saya tak punya alasan akan mengerjakan pada periode kedua. Sesudahnya, saya yakin adik-adik kelas saya bisa melanjutkan.

    tony prasetiantono

    Apa sih yang membuat Mas Tony bangga pada De Britto hingga di atas bilang bahwa De Britto adalah kreditor terbesar?

    Ada tiga hal yang sangat saya rasakan dari tiga tahun di De Britto.

    Yang pertama adalah competitiveness. Persaingan di De Britto itu luar biasa, kita harus berjuang, struggling untuk bisa berhasil.

    Kedua adalah sisi egaliter. Nggak peduli kamu berasal ndeso atau kota, cino-jowo, kita semua sama. Ketiga, man for others. Kita harus melayani, menjadi garam dunia, harus bisa jadi sesuatu di lingkungan kita.

    Selain itu De Britto juga membuat saya punya karakter tahan banting sehingga bisa lulus cum laude dari UGM dan melanjutkan studi S2 dan S3. Bagi saya hidup ini tidak mudah dan saya bersyukur mengalami golden age saat SMA ya di De Britto dimana karakter saya dibentuk.

    Di De Britto dulu Mas Tony pernah ndoglas? (Ndoglas adalah singkatan yang populer di De Britto, mindho gelas, artinya beli minuman bayar satu gelas tapi mengambil jatah dua gelas -DV)

    Tidak. Kalau saya pas nggak punya uang saya memilih puasa saja hehehe?

    Saya ini merasa sangat beruntung diterima di De Britto tahun 1978. Saya anak dari desa tapi kemudian kelas satu saya dipercaya duduk dalam tim presidium menjabat sekretaris umum lalu kelas dua jadi ketua presidium. Saya menganggapnya sebagai blessing in disguishe, mengalir begitu saja?

  • Anton Ismael: Jangan pernah lupa memberi karena kamu sudah menerima

    Anton Ismael: Jangan pernah lupa memberi karena kamu sudah menerima

    Antonius Widya Ismael adalah tokoh ketujuh belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Anton Ismael / Anton ini adalah seorang fotografer terkemuka di Tanah Air yang memulai karirnya dari kecintaan pada dunia fotografi sejak di De Britto.

    Aku mengenal pria kelahiran Jakarta, 17 September 1975 ini beberapa hari setelah aku masuk De Britto, medio 1993 silam. Anton, kakak angkatan dua tahun di atasku, adalah pendamping kelompok saat aku menjalani masa orientasi dulu.

    Setelah lulus dari studi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Anton pulang ke Tanah Air dan memulai karir sebagai fotografer profesional hingga akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama Third Eye Space.

    Mengangkat Anton sebagai tokoh sebenarnya tinggal tunggu waktu. Aku mengamati kiprahnya yang unik melalui kanal-kanal social medianya hingga akhirnya saat acara Manuk Pulang Kandang (MPK) di SMA Kolese De Britto, 27 Desember 2018 silam, aku bertemu kembali dengannya, ngobrol dan meminta nomer sambil bilang, ?Mau kutokohkan di blogku??

    DV dan Anton Ismael, Desember silam di acara MPK SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Jika dulu, di awal 2000an dulu, aku pernah bekerja sama dengan Anton, ia memotret model dan aku mewawancarai sang model untuk dijadikan artikel di sebuah media yang kugawangi, kini giliran dia yang kuwawancarai dan kutulis di blog ini.

    Simaklah potongan-potongan wawancara yang kami lakukan melalui WhatsApp beberapa waktu silam, berikut ini:

    [DV] Bagaimana kamu mengawali karir menjadi seorang fotografer, Ton?
    [AI] Jadi awalnya dari SMA saya mulai tertarik motret di DPC (Debritto Photography Club –DV). Lalu saat lulus, alm Bapak bertanya, ?Kamu mau jadi apa?? dan aku nggak ngerti mau jadi apa karena bagi saya mata pelajaran-mata pelajaran yang kupelajari di kelas itu menyusahkan dan fotografi menjadi satu-satunya media yang bisa kupakai untuk ?pelarian?.

    Lalu?
    Waktu mau daftar UMPTN seperti kawan-kawan lain, Bapak bilang, ?Gak usah! Kamu gak akan lulus, aku tahu kemampuanmu seperti apa??

    Untuk beberapa detik lamanya saya tersinggung karena seperti di-skak-mat oleh Bapak tapi kemudian mikir bener juga, ngapain menjalankan/ mendaftar sesuatu yang tak kusuka. Bapak lalu bertanya, ?Kamu suka gambar dan motret, kan? Belajar aja! Ditenani!(diseriusin -jw)?

    Bagi Bapak, dia nggak peduli saya mau jadi apa. Tapi satu hal yang harus diingat, jadilah yang terbaik. Jangan nanggung!

    Sekarang kamu jadi fotografer terkemuka di Tanah Air. Terlepas dari setuju atau nggak kamu dengan kenyataan itu, pernahkah di awal karir dulu kamu punya target untuk jadi yang terkemuka?
    Saya tidak pernah merencanakan bahwa saya harus jadi terkemuka atau tidak dan sebenarnya saya sangat benci ketika ada anak-anak bertanya, ?Pak?e, untuk jadi terkenal itu gimana??

    Kamu mau jadi fotografer atau artis? Intensinya sudah salah! Jadi terkenal gak perlu jadi fotografer! Penjahat atau pemerkosa juga terkenal!

    Kita perlu menjalankan sesuatu dengan cinta dan itu membuat kita fokus dan tahan lama. Kalau intensinya hanya untuk terkenal ya nggak akan lama. Saya tidak punya intensi untuk terkenal. Menjadi fotografer yang terbaik pun gak ada, hanya senang melakukan.

    Melihat hari-hari ini, dunia fotografi digital adalah dunia yang terjangkau oleh hampir semua orang karena tinggal pakai henpon, semua orang bisa motret. Pernahkah kamu menganggap hal ini sebagai sebuah ancaman?
    Saya tidak pernah menganggap perkembangan visual yang begitu banyak itu sebagai ancaman. Saya malah menggunakannya sebagai media untuk mempelajari informasi kebudayaan orang-orang di jaman sekarang.

    Pada saat memotret, secara tidak sadar kita menyuarakan cara pandang kita. Nah, orang yang bisa menang di jaman ini adalah orang-orang yang punya akses ke informasi dan mengolah informasi itu menjadi sebuah kekuatan. Sikap saya seperti itu.

    Tapi bagaimana komentarmu tentang hasil karya mereka?
    Karya mereka bagus-bagus dan bahkan banyak yang secara visual lebih bagus dari saya. Tapi mungkin pertanyaannya kenapa saya bisa bertahan dan terkesan bisa ?bermain-main seenaknya? dengan foto-foto saya?

    Pada saat memotret, saya tidak hanya ingin menciptakan gambar tapi juga tentang bagaimana saya berkomunikasi dengan orang-orang yang melihat gambar itu.

    Seorang fotografer yang baik itu punya dan mengerti ilmu komunikasi, ?Understand the social.? Fotografer yang baik itu adalah seorang good story teller jadi kalau kamu mau jadi fotografer yang baik kamu juga harus bisa jadi story teller yang handal juga.

    Belajarlah bercerita dan berkomunikasi.

    Anton Ismael
    Anton Ismael

    Apa yang belum kamu raih dari dunia fotografi? Apa akan tetap di dunia ini atau meluas ke dunia kreatif lain seperti video dan lain sebagainya?
    Saya berpikir tentang regenerasi. Mungkin karena sudah merasa tua, saya pengen jadi guru dan pendidik. Bukan pendidik yang berdiri dan mengajar di muka kelas tapi secara keseluruhan sikap yang akan saya tanamkan.

    Saya akan membimbing dan ngajarin orang untuk jadi penerus, membimbing orang supaya mandiri dan bisa jadi bagian dari perputaran roda dunia ini. Passion saya sekarang ke situ meski motret akan tetap jadi bahasa saya sampai kapanpun.

    Mimpi saya ingin meninggalkan dunia komersial meski sekarang belum bisa karena kebutuhan uang masih harus saya pikirkan untuk kantor dan ?Kelas Pagi?

    Kelas Pagi

    Nah, bicara soal ?Kelas Pagi? yang fenomenal itu, ide aslinya gimana sih?
    Kelas Pagi itu ide pertamanya lahir di Jakarta lalu Jogja, Papua hingga Kediri. Awalnya cuma study group terdiri dari tiga orang. Mereka datang dan belajar. Dari situ, mereka nge-post di Facebook, orang-orang jadi tertarik dan jumlahnya pun bertambah. Dari tiga ke sebelas. dari sebelas orang lalu setahun kemudian ada 250 orang datang ke studio dan bilang mereka minat ingin ikut Kelas Pagi karena menurut mereka metode yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan industri sekarang.

    Tapi kenapa ?pergerakannya? random betul! Setelah Jogja lalu ke Papua?
    Ada salah satu anak di Kelas Pagi Jakarta dan berasal dari Papua. Ia balik ke sana dan minta ijin untuk membuka Kelas Pagi Papua tepatnya di Sentani.

    Permintaan untuk membuka ?Kelas Pagi? sebenarnya juga datang dari banyak kota tapi karena kekuatan finansial yang terbatas maka kita akhirnya bikin Youtube channel untuk meratakan informasi.

    Apa yang paling menarik dari pengalaman mendirikan dan menghidupi ?Kelas Pagi??
    Yang menarik adalah saya menciptakan saingan saya sendiri. Banyak murid yang kemudian lahir sebagai pesaing bahkan melebihi saya. Meski jadi kompetitor kami tetap diskusi dan bicara karena itu adalah persaingan sehat. Bagi saya itu justru sebagai tanda keberhasilan dan pencapaian baik.

    Tentang De Britto. Melihat ke belakang, ada nggak sih nilai-nilai dan ajaran yang kamu terima selama sekolah di De Britto lalu kamu pegang sampai sekarang?
    Banyak! Hahaha? Tapi yang paling nancep adalah ?Man for Others.? Walaupun dulu saat di De Britto saya belum tahu apa arti sesungguhnya tapi semakin hari saat saya terjun ke masyarakat, hal itu jadi pegangan dan fondasi hidup saya. Kalau mau jujur, dari penjabaran semangat itulah muncul ide Kelas Pagi.

    Saya inget apa yang pernah saya percakapkan dengan almarhum Bapak. ?Le, wong urip kuwi ngopo? (Nak, orang hidup itu ngapain? -jw)”

    ?Bernafas, Pak? jawabku.
    ?Bernafas itu ngapain?? tanyanya lagi.

    ?Menarik dan mengeluarkan,? jawabku lagi dan memang itulah makna hidup, menarik, mengeluarkan. Memberi dan menerima. Jangan pernah lupa memberi karena kamu menerima dan itulah yang membuatmu tetap hidup!

    Link terkait:
    Kelas Pagi Youtube.
    Third Eye Space.

  • Iga: Berdandan wanita saat menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif

    Iga: Berdandan wanita saat menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif

    Freund des Asa Zuniga adalah tokoh keenam belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Iga demikian ia dipanggil awalnya tak pernah kurencanakan masuk dalam penokohan ini. 

    Semua bermula dari acara Manuk Pulang Kandang (MPK) 27 Desember 2018 silam. Aku yang kebetulan pulang ke Tanah Air menyempatkan diri datang ke acara reuni tahunan itu.

    Aku dan Iga pada acara MPK 27 Desember 2018 silam

    Saat sedang ngobrol dengan banyak alumni, tiba-tiba sesosok perempuan berbusana jawa lengkap dengan kebaya dan sanggul mengusik perhatianku. Ia berjalan perlahan masuk ke area reuni. Tadinya kupikir ia adalah penari atau penyinden yang diundang khusus hadir dalam reuni sekolah khusus cowok ini.

    Tapi ketika Genthong yang juga pernah kutulis di sini juga di sini menyapa lewat microphone ?Halo, Su! Ketok ayu kowe!? Aku kaget, ?Kok disapa ?asu?? Bukankah tak semua orang terbiasa disapa begitu apalagi perempuan??

    Seorang lantas memberitahuku, ?Kuwi cah angkatan 2017!? 

    Hah? Lulusan De Britto? 2017?
    Aku mendekat dan memberanikan diri untuk berkenalan. Ternyata Iga itu pria! Ia seorang penari yang sedang meniti karir profesionalnya sembari studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Sendratasik.

    Tak lama ngobrol aku lantas berkeputusan bahwa Iga pantas ?ditokohkan? di blog ini. Kenapa? Sejauh yang kutahu sangat jarang ada alumni yang berani berterus-terang karena dirinya berbeda dan berkeputusan untuk menjalani hidup dalam ?beda? tersebut meski hal itu masih sangat ditabukan dalam masyarakat kita.

    Berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya melalui WhatsApp beberapa hari kemudian.

    [DV] Kamu unik sekali dan berani tampil beda, Ga! Bagaimana bisa?

    [Iga] Hehehe? Soalnya jarang ada yang peduli bahkan memandang orang kayak aku ini sebelah mata, Mas. Mungkin mereka belum terbiasa tapi aku tetap berusaha menjadi diri sendiri aja?

    Kamu nari sejak kapan?

    Aku belajar nari dari kecil, sekitar umur 4-5 tahun, Mas. Emang dari kecil suka nari karena ibuku dulunya penari.

    Nari sebagai tokoh pria atau wanita, Ga?

    Kalo dulu kan belum tahu, jadi ya asal menari. Baru pas SD aku mulai belajar Tari Bali, privat pertama kali adalah Tari Pendet yang merupakan tari putri Bali yang paling dasar. Barulah aku menyukai tarian-tarian Bali lainnya (tari putra dan putri). Terus setelah lulus, aku jadi banyak menerima tawaran menari Bali yang kebetulan selalu tari Putri.

    Di De Britto dulu apakah bakat tarimu tersalurkan juga?

    Awalnya sempet berhenti sewaktu awal masuk De Britto karena rambutku jadi botak untuk acara inisiasi. Makanya sempet gak nari sampai rambutku tumbuh lagi. Aku pertama kali nari di De Britto jadi cucuk lampah di acara wisuda angkatan 2015, narinya berpasangan sama kakak kelasku. Terus dari situ, guru-guru mulai mengajak aku berpartisipasi di acara hari St. Ignasius, Ulang Tahun Debritto, bahkan di acara besar seperti Lustrum tahun lalu.

    Kalau di luar De Britto?

    Kalo di luar De Britto memang banyak banget yang nawarin aku untuk menari, makanya aku lebih mengembangkan di luar.

    Bagaimana caramu mengembangkan ?di luar de britto? itu?

    Aku mencari banyak link dari temen-temenku, Mas. Untungnya memang dari SMP aku udah mulai ikut beberapa sanggar. Jadilah aku lebih banyak diajak nari termasuk di Ramayana Ballet Prambanan.

    Kamu sekarang kuliah di ISI katanya? Kamu serius pengen menari seumur hidup?

    Iya mas bener banget. Aku masuk ISI tahun 2017, di jurusan Seni Drama Tari Musik (SENDRATASIK). Kebetulan jurusanku ini di bidang pendidikan yang lulusannya bisa menjadi seorang guru atau pendidik. Karena aku memang pengen banget jadi guru privat dan buka sanggar tari dirumah. 

    Di Jurusan SENDRATASIK aku bisa belajar teater, musik, tari, ilmu-ilmu pendidikan, cara mengajar, dan lain-lain. Jadi lebih komplit kan, Mas dan bisa dibilang sekarang dengan aku kuliah di ISI dapat memiliki wawasan tentang berkesenian sekaligus dunia pendidikan.

    Menjadi penari, apalagi jadi guru bukan pilihan profesi yang ?bikin sugih? di Indonesia. Apa yang membuatmu terpanggil untuk memilih itu dan bukan kerja kantoran atau jadi pengusaha ?

    Memang benar demikian tapi karena menari sudah jadi passion sejak kecil, Aku percaya kalau semua dijalani dengan senang hati, otomatis keuangan juga bisa lancar. Yang terpenting semuanya ikhlas dan sepenuh hati. Lagipula sejujurnya aku gak terlalu memikirkan bayaran setelah menari. Kalo aku senang, ya dikasih berapa pun mau kok , hehehe.

    Kalau pandanganmu tentang seni tari sendiri gimana, Ga? Apakah semakin terpinggirkan seiring maraknya jaman?

    Sebenernya kalo sudah masuk ke dunia seni tari, aku justru melihat mereka semakin berkembang. Mungkin yang berpikiran bahwa seni tari itu terpinggirkan hanya beberapa orang yang tidak mengenal seni itu sendiri. 

    Seni tari menurutku juga sangat bebas bagi siapa saja untuk mendalami dan tidak mengenal batasan usia. Jadi semua kalangan dapat mempelajari tarian tanpa harus minder. Justru dengan menari kita berekspresi dan mengeksplor tubuh kita untuk bergerak menciptakan keindahan. Menari itu harus dilakukan dari hati, sehingga tarian yang akan dibawakan lebih memiliki jiwa dan hidup serta menarik penonton terhibur.

    Ga, akhir-akhir ini pengaruh agama makin kentara dalam hidup sehari-hari. Adakah hal itu berpengaruh pada dunia seni tari seperti misalnya cara berpakaian yang semula boleh sedikit terbuka lalu sekarang jadi harus tertutup? Bagaimana tanggapanmu mengenai fenomena ini?

    Wah kalo udah masalah pengaruh agama memang agak sensitif ya, Mas.  Untuk seni tari sendiri, ya memang betul dulu pakaian yang digunakan lebih terbuka dibanding sekarang. Tapi kalau aku lebih suka mengikuti pakem yang ada. Berkreasi dan mengembangkan itu boleh. Tapi harus sesuai dengan pakem itu, agar kesenian tetap memiliki makna dan tujuan yang sama. Kayanya segini aja deh mas, aku juga masih perlu banyak belajar tentang hal ini. Hehehe?

    Ketika melihatmu di MPK yang baru lalu, aku sama sekali ngga? percaya kamu itu cowok karena gak hanya dandananmu tapi juga gesture tubuhmu yang sangat ?cewek?. Bagaimana kamu bisa ?belajar? begitu?

    Hahaha, kalo ini udah dari dalem mas. Ada sesuatu yang berbeda dari dalam diriku dan aku cuma menjalani aja. Aku bersyukur dikasih Tuhan penampilan seperti ini yang bisa mendukung kehidupan dan karir tariku selama ini. Penampilanku memang dari kecil seperti ini, Mas. Mau diubah seperti apapun pasti selalu jadi seperti begini.

    Kamu mendapat perlakuan berbeda dari lingkunganmu karena penampilanmu itu? Misalnya dibully?

    Jelas, Mas! Kebanyakan dari mereka belum bisa menerima Iga apa adanya. Tapi walaupun ada yang bully, aku gak merasa terbully. Aku selalu anggep mereka bercanda dan sayang sama aku. Aku senyumin aja, Mas. Kalo aku ngelawan, justru mereka makin sering membully. Mereka lama-lama capek kok hahahaha. Jadi aku biasa aja nanggepin mereka, gak aku masukin ke hati. Tapi gak semua orang membully Iga, tetap ada banyak yang sayang dan support Iga, hehehe.

    Kamu dandan wanita saat menari apakah itu mempengaruhi dirimu atau sebaliknya kamu memang punya sisi feminim yang nampak ketika menari sehingga tampak lebih baik dan hidup saat menari?

    Sebenernya memang aku dari kecil sudah seperti ini. Berdandan wanita seperti menari adalah caraku berekspresi agar lebih positif. Tentu aku berusaha menjadi diriku saat tidak menari, tapi ketika menari aku akan menghidupi tokoh yang ?ku-tari-kan?. Kebetulan saja karena aku lebih sering mendapat job menari sebagai wanita maka aku menghidupkan karakternya ya karakter wanita.

    Aku tertarik jawabanmu ?berusaha menjadi diriku saat tidak menari? bagaimana kamu mendeskripsikan dirimu yg sebenernya?

    Aku memang sudah menyadari bahwa aku berbeda, Mas. Tapi sebenernya aku juga masih sama kok dengan orang-orang lain. Jadi diri sendiri itu maksudnya ya jadi apa adanya gitu bukan melulu soal penampilan tapi lebih ke pribadi dari dalam hati. 

  • Catatan tahun ke-41

    Catatan tahun ke-41

    Tunggonono datang!
    Derap langkah kakinya masih seperti dulu, tenang menghanyutkan. Ia datang sendirian tak bersama tunangannya tak pula anaknya. Ketika kutanya kenapa tak bersama mereka, alasan mantan penjaga malam kantor saat di Jogja dulu itu meneduhkanku, ?Aku ingin ngobrol denganmu saja di hari indahmu ini, Bos!? Lalu terciptalah obrolan di bawah ini?

    [Tunggonono] Udah tua kamu ya, Bos! Empat puluh satu tahun!

    [DV] Hehehe? iya?.

    Apa yang kamu rasakan dengan umur yang sudah sebegitu banyak ini?

    Apa ya? ya seperti yang kamu bilang tadi, menua! Aku menua! Sebulan lalu punggungku kumat, Nggon. Kamu ingat toh sakit punggungku yang dulu? Waktu aku masih di Jogja yang mulainya gara-gara aku salah angkat beban di gym? Yang malamnya lalu kamu pijit tapi paginya badanku malah demam dan gak bisa gerak sama sekali lalu aku pergi ke Panti Rapih? Ingat?

    Oh ya? ingat aku! Tahun? 2006 akhir, kan?

    Ya! Nah bulan lalu kumat lagi! Aku lalu pergi ke chiropractor langgananku. Dia bertanya kenapa bisa kumat lagi dan kujawab karena aku berlatih angkat beban di gym dan dia melarangku.

    Kok bisa?

    Dia melarang dan larangannya itu membuatku tercenung. Dia bilang bahwa untuk orang seusiaku aku nggak seharusnya melalukan latihan angkat beban, ?Secara fisik kamu menua? sudah bukan your prime time anymore?? Dan kata-katanya itu membuatku tercenung, Nggon!

    Tercenung? atau terpukul?

    Tercenung! Alangkah cepatnya waktu hidup! Ibarat grafik parabola, secara fisik aku sudah melewati masa puncak/prime time.

    Hahahah lha kok medeni gitu?

    Ya enggak menakutkan atau setidaknya aku mencoba untuk tetap berani hahahaha! Semua orang toh mengalami tinggal kamu mau sadar atau enggak, Nggon! Coba kutanya, berapa umurmu? Kutaksir umurmu juga sudah 36-an kan? Itu juga sudah bukan prime time, Nggon!

    Lahacia, Bos! Trus apa masih banyak hal yang ingin dikejar dalam hidupmu, Bos?

    Ya masih!  Lebih tepatnya bukan dikejar tapi dijalani, Nggon. Dua hal itu berbeda. Ngejar keinginan itu melelahkan, menjalani hidup dan menjumpai kebutuhan-kebutuhan yang lantas perlu dipenuhi itu menyenangkan.

    Kok bisa?

    Iya! Lahacia hahaha!
    Tapi intinya adalah bersyukur, Nggon! Tanpa rasa syukur, hidup ini seperti makan lauk tanpa nasi tanpa karbohidrat. Kamu akan lapar terus-menerus. Hidup juga demikian, perlu asupan rasa syukur supaya tak membuatmu jadi terus lapar, tamak dan bernafsu untuk mengejar sesuatu yang tak kan pernah terkejar!

    Kok tak kan pernah terkejar?

    Karena ketika kamu mimpi ingin mendapatkan sesuatu, mobil misalnya, mobil itu hanyalah wujud fisik dari target sementara nafsuku. Ketika mobil sudah didapat, nafsuku akan kembali bergolak untuk mengejar hal lain lagi begitu terus-menerus tiada henti!

    Termasuk ngeblog yang tiada henti, Bos? Apa yang kau kejar?

    Aku bersyukur karena ngeblog ini seperti sudah jadi passion yang begitu kuat dan menjadi salah satu bagian yang membentuk karakterku hingga kini.

    Karakter sebagai superblogger?

    Kalau kamu tanya dua tahun lalu aku akan dengan keukeuh mempromosikan diri sebagai superblogger dan orang-orang setuju karena memang aku super hahahah! Tapi sekarang beda, Nggon.

    Bedanya?

    Makin tua aku makin fokus pada prinsip bukan bunga-bunga. Superblogger atau megasuper atau apapun itu hanya bunga-bunga. Prinsip ngeblog itu kan berbagi sukur-sukur dipercayai jadi ya mau dibilang apapun, supremasi ngeblog itu bagiku adalah ketika aku bisa tetap terus berbagi melalui tulisan, itu saja!

    Pemahaman prinsip lebih dari sekadar bunga-bunga ini membuatku juga mulai berani melangkah untuk berbagi dalam medium kreatif yang lain. Baru-baru ini aku ?merilis? lagu buatanku, Raja Singa. Lagu itu kupersembahkan untuk kawan-kawan di Aksi Kamisan yang melakukan protes dalam diam karena pemerintah tak kunjung menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu.

    https://www.youtube.com/watch?v=udyVt_d_0XM

    Melalui lagu itu aku berbagi semangat kepada sesama dan melihat tanggapan dari khalayak sepertinya pesanku diterima. Aku merasa puas bukan karena suaraku dibilang bagus atau gitaranku mantap tapi lebih karena orang lain tahu pahitnya perjalanan orang-orang Aksi Kamisan dalam menuntut hak-hak mereka sebagai warga negara!

    Wahahahaha mendengar jawaban-jawabanku kamu memang sudah benar-benar menua, Bos!

    Hahahaa kan memang sudah kubilang sejak awal?aku memang menua seperti halnya kita semua?

    tunggonono
    tunggonono
  • Gandung Bondowoso: gosip dan sensasi itu harus berdasarkan fakta!

    Gandung Bondowoso: gosip dan sensasi itu harus berdasarkan fakta!

    Th.A. Hurip Winarno adalah tokoh kelima belas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan.

    Pria yang akrab dipanggil sebagai Gandung Bondowoso ini awalnya tak kurencanakan untuk masuk dalam ?penokohan? ini. Tapi pertemuanku dengannya di selasar Rumah Betawi (rumah kediaman Mas Handoko Wignjowargo yang juga pernah kutulis di sini sebagai tokoh, pada 30 September 2018 silam mencelikkan mataku bahwa mengangkatnya di blog ini dalam serial tokoh ini akan sangat bermakna.

    ki-ka: Mas Priyanto (JB 1973) – Aku – Mas Gandung Bondowoso (JB 1973)

    Apa sebab?

    Mas Gandung adalah sosok dibalik lahirnya salah satu infotainment pertama di Tanah Air, Kabarkabari. Apa peduliku terhadap infotaintment? Nah, ini baru menarik! Malam setelah pertemuan itu, aku tak bisa berhenti berpikir adakah korelasi antara maraknya hoax akhir-akhir ini dengan kenyataan sebagian masyarakat kita yang cukup konsumtif terhadap berita-berita gosip infotaintment yang menggelontori televisi-televisi swasta sejak lebih dari dua puluh tahun lalu?

    Maka segera setelah kembali ke Sydney, Australia, aku menghubungi alumni SMA Kolese De Britto tahun 1973 tersebut melalui WhatsApp. Berikut adalah petikannya.

    [DV] Mas, jadi benar atau salahkah pikiranku yang mengemukakan bahwa ada relasi antara hoax yang begitu marak dengan kenyataan bahwa ada kalangan dalam masyarakat kita yang sudah begitu lama terlatih dalam menikmati acara-acara gosip di televisi?

    [GB] Tidak tepat karena kau memandang hoax sebagai sesuatu yang baru.

    Hoax dalam konteks berita sama dengan berita bohong. Kebohongan ini dalam sejarah pers sudah ada sejak zaman Romawi / Yunani. Ketika itu para pengelana menyampaikan kabar secara tertulis melalui kertas papirus yg kemudian disebarkan ke publik. 

    Di kemudian waktu media pemberitaan macam ini disebut jurnal yang lantas menjadi akar kata jurnalisme. Di dalam jurnalisme kuno ini hoax juga bermunculan. Kisah perjalanan para pengelana banyak yang bohong ketika mereka memberitakan penemuan-penemuan yang mereka jumpai di tempat yang jauh. 

    Lalu kalau hoax itu barang lama, kenapa sekarang kembali mengemuka?

    Karena alat penyampaiannya beragam dan muncul melalui teknologi yang hebat maka hoax tampak masif belakangan ini.

    Menurutmu adakah formula untuk mengatasi hoax?

    Satu-satunya cara adalah represif melalui undang-undang. 

    Tapi kenapa represif? Kita negara demokrasi dan orang menggunakan payung ?kebebasan berpendapat? untuk melindungi diri?

    Dalam undang-undang ada pemaksaan hukum. Pembuat hoax akan berurusan dengan pengadilan dan bisa berujung penjara. Di Indonesia juga sudah ada undang-undang yang bisa menjerat pembuat hoax, fitnah, pencemaran nama baik, dan sejenis itu. Pada ranah undang-undang, masalah hoax adalah urusan penegak hukum. Pada ranah sosial, hoax hanya akan ditelan oleh anggota masyarakat yang cetek pengetahuannya dan tak ada daya kritis padanya. Ini ranah pendidikan bermutu yang membekali manusia dengan rasionalitas dan disiplin berpikir panjang yang sama dengan perenungan. 

    Apakah ini utopia?

    Bisa jadi ini utopia karena di negara-negara yangg pendidikannya maju pun hoax mampu menyusup. Bedanya hanya menelan korban yang pada skala kuantitas tidak sebesar negara yang kualitas  pendidikannya masih rendah. Hoax merajalela. Perisai rasionalita belum mumpuni. Karena itu ranah hukum yang harus berada di garda depan untuk menghadapi hoax betapapun sulit utk membuktikan hoax.

    Tapi hoax berkelindan dengan gosip?

    Secara leksikon gosip adalah menyemprotkan kabar masalah pribadi seseorang. Bagiku, berdasarkan pengalaman profesionalku yang panjang sebagai wartawan (pemberi kabar), gosip adalah menebar-nebarkan kabar secara terus menerus yang ditambah-tambahi dengan sisipan hoaks semau-maunya. Inilah yang memunculkan persepsi negatif dari pembaca atau pendengar terhadap orang yang digosipkan itu. 

    Jadi itu buruk dan negatif. Lalu bagaimana baiknya?

    Secara prinsip, bagiku pemberitaan gosip jangan seganas itu. Etika jurnalisme telah mendarah daging dalam prinsipku bahwa pemberitaan apa pun termasuk gosip harus bertolak dari fakta. Tidak boleh ada kebohongan dan tidak boleh memelintir data demi maksud tertentu.

    Gosip bertolak dari fakta? ?Sesuci? itukah gosip?

    Suci adalah pilihan kata yang keliru. Bukan suci tapi apa adanya.

    Aku masih belum terlalu mengerti bahwa gosip itu tidak melulu hoax. Secara teknis lantas bagaimana gosip yang tidak hoax namun tetap menarik?

    Penyampaian gosip adalah fakta yang digelontorkan sedemikian rupa dengan kekuatan pada bahasa yg metaforik, hiperbolik, dan diksi yang efektif serta ritme penyampaiannya. Di televisi sebagai media pandang-dengar, adonan yang aku sebutkan itu mempunyai efek dramatik yang luar biasa bila diucapkan oleh presenter (diperkuat dengan bahasa tubuh) atau narator yang memahami ritme dan stressing pengucapan. 

    Di sini tidak ada kebohongan data. Yang ada adalah persepsi subyektif pembaca / pendengar setelah gosip itu disampaikan dengan formula yang aku nyatakan tadi. Persepsi tersebut bisa berbeda-beda, tergantung pada kualitas pengetahuan  pembaca atau pendengar sebagai receiver informasi.

    Gandung mempunyai latar belakang yang sangat kualitatif di media cetak. Tahun 1987 ia mulai bekerja di Gramedia khususnya pada Majalah Jakarta-Jakarta mula-mulasebagai data researcher. Setengah tahun kemudian pria kelahiran Jogja 15 Januari 1954 ini diangkat sebagai wartawan desk kebudayaan. Tidak sampai setahun kemudian, ia dipromosikan sebagai redaktur desk luar negeri. Di sinilah Gandung mendapat kesempatan untuk melakukan liputan ke luar negeri utamanya ke Eropa Barat dan Amerika Utara.

    Di sana, di sela-sela waktu kosong, Gandung banyak menonton acara televisi program hiburan, sesuatu yang nantinya menjadi ?contekan inspirasi? untuk membuat program Kabarkabari di RCTI.

    Mas, Kabarkabari itu fenomenal sekali! Boleh tahu konsep awalnya dulu?

    Aku banyak mendapat influence dari mengikuti etika jurnalisme Gramedia. Waktu itu Arswendo (Arswendo Atmowiloto -DV) mengangkatku sebagai pemimpin redaksi Tabloid Citra. Darinya aku mendapat formula jurnalisme yang berisi gosip dan sensasi. Seperti kusebut di atas, gosip dan sensasi tetap harus bersandar pada fakta dan harus selalu ada cek dan ricek. Boleh ada opini tapi minimalis dan yang paling dilarang adalah kebohongan serta fitnah!

    Kamu dari Gramedia lalu memilih berdiri sendiri dengan ?Kabarkabari?. Apa titik yang paling menentukan sehingga keputusan itu terjadi?

    Kehilangan rasa gelisah!

    Maksudnya?

    Mungkin aku terlalu nyaman karena setelah memimpin Citra aku dipercaya memimpin Tabloid Nova. Di Tabloid Nova boleh dibilang aku tak banyak bepikir. Mekanisme jurnalistik Nova sudah berjalan dalam rutinitas. Aku tak berani neko-neko untuk mengusik jurnalismenya. Aku takut justru akan menurunkan pencapaian Nova yang sudah hebat itu.

    Nah, hilang gelisah itu berbahaya karena akan meredupkan daya kreativitas. Aku lantas memutuskan untuk membuat sesuatu dan kegelisahan itu tumbuh. Ide membuat Kabarkabari muncul begitu saja!

    Tayangan perdana Kabarkabari muncul pada juni 1996 dan meraup sukses besar. RCTI meneken kontrak jangka panjang karena memang waktu itu belum ada program seperti itu belum pernah ada di televisi Indonesia. Ratingnya bahkan mengalahkan beberapa sinetron. Iklan pun langsung penuh dan antre.

    Gandung saat muda

    Karena kolom tulisanku ini adalah menyangkut soal ke-debritto-an maka mari bicara tentang De Britto, Mas. Menjalani pendidikan di De Britto itu membawa pengaruh besar dalam hidupmu?

    De Britto luar biasa. 

    Pengertian kebebasan aku cerna dengan kesadaran bahwa kebebasan adalah rasional. Kesadaran itu aku peroleh dari Romo G. Koelman, SJ yang waktu aku di De Britto beliau jadi romo pamong.

    Ketika aku masuk kelas bercelana pendek, dia bilang aku menjalankan kebebasanku bercelana pendek pada waktu yang keliru. Tak ada celana pendek di kelas kecuali sehabis olahraga. Ini adalah kebiasaan. Konvensi tak tertulis. Di luar itu celana pendek bukan kebiasaan. Inilah rasionalitas yang melelahkan kalau diperdebatkan. 

    Ngekkkk …. Aku tersadarkan di usia SMA. Kebebasan adalah kedalaman berpikir sebelum melakukan sesuatu. Tentu saja siswa-siswa de Britto lainnya memahami kebebasan yang tidak sama denganku. Yang jelas aku memperoleh enlightment awal dalam memaknai kebebasan dari de Britto.

    De Britto yang dulu tentu beda dengan De Britto yang sekarang. Kamu mengamati de britto yang sekarang? Kalau iya bagaimana? Kalau tidak, apa yang kamu harapkan tetap akan ada dari de britto sekarang dan ke depannya?

    Aku gak tahu de Britto yg sekarang. Dalam pemikiranku, de Britto harus mengusung fondasi pemikiran bebas. Rangsanglah siswa utk berpikir dgn basis rasionalitas. Ini lebih gampang dibanding basis kemanusiaan yang abstrak. Dengan rasionalitas yang bermutu, siswa de Britto akan terbiasa mengucap apa pun dengan tidak sembarangan. Aku percaya rasionalitas. Dengan rasionalitas output-nya adalah action yang terukur.

    Selepas De Britto, Gandung melanjutkan studi S1 di FKIP Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga lalu menempuh S2 Seni Urban, Pasca Sarjana, Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

    Nama aslimu bukan Gandung tapi kok sekarang orang lebih mengenal Gandung Bondowoso daripada Th. A. Hurip Winarno?

    Sejak kecil simbah dan bapak-ibuku memanggilku Gandung. Itu nama yang banyak dipakai di Jogja-Solo untuk panggilan anak kecil. Nama panggilan itulah yang melekat pada diriku dari kecil, remaja, dewasa, hingga tua sekarang ini. 

    Tambahan Bondowoso berasal dari sutradara Wahyu Sihombing, dosenku dalam kelas penyutradaraan di IKJ. Tahun 1977 aku main di filmnya yang berjudul Pembunuh di Tengah Kita sebagai pemeran pembantu. Ketika menuliskan credit title di film tersebut, yang tercantum hanya Gandung saja. Sihombing menilainya namaku terlalu pendek. Tanpa seizinku dia menambahkan Bondowoso. Mungkin itu asosiatif dengan Bandung Bondowoso. Mulai saat itulah orang-orang di Taman Ismail Marzuki dan IKJ menuliskan namaku Gandung Bondowoso. Aku diam saja karena dalam hati aku menyetujui nama tersebut.

    Terakhir, Mas. Kabarkabari sampai sekarang masih ada tapi kenapa kamu pensiun?

    Ya, aku pensiun sejak dua tahun lalu.

    Di usiaku yang kini 64 tahun aku merasa sulit mengendus selera gosip dan sensasi penonton masa kini. Kabarkabari harus ditangani anak-anak muda yang mampu mengendus selera penonton yang sudah berubah. Kalau tidak, Kabarkabari akan tamat. Karena aku tahu diri, makanya aku minta pensiun.

  • Maju Mapan

    Maju Mapan

    Aku dan Joyce, istriku, adalah penggemar tattoo. Joyce punya beberapa koleksi tattoo di beberapa bagian tubuhnya dan aku juga. Terakhir kali kami bikin tattoo bareng-bareng itu setelah Odilia lahir (2010) dan Elodia lahir (2012). Kedua namanya, Odilia dan Elodia, kami torehkan di leher kami, kanan dan kiri. Adil. Seimbang.

    Hingga saat sebelum liburan kemarin, sebenarnya tak terbesit satu momen pun untuk berpikir kembali ditattoo. Tapi entah angin apa, saat sedang berada di atas pesawat yang membawa kami ke Jogja dari Jakarta pada 1 Oktober 2018, Joyce tiba-tiba bilang, ?Eh, tattoo lagi yuk!? A-ha! Mari kita kemon lah!

    Sesampainya di Jogja, aku menghubungi Munir. Munir adalah tattoo artist yang mengerjakan seluruh tattoo di tubuhku. Ia pemilik Toxic Tattoo Park, sebuah studio tattoo ?legendaris? di Jogja.

    Awalnya kami janjian pada Kamis pagi, 4 Oktober 2018 tapi kemudian diubah pada Selasa malam, 2 Oktober 2018 dengan alasan memanfaatkan waktu luang yang ada mengingat singkatnya waktu liburan kami di Jogja.

    Tapi tunggu dulu?
    Janjian? sudah!
    Uang? sudah dipersiapkan tentu saja! Tapi?. tapi mau tattoo apa?

    Biasanya jauh hari menjelang tattoo aku sudah mempersiapkan satu gambar yang kutimbang-timbang terlebih dahulu. Berpikir jauh hari seperti ini adalah penting karena tattoo kan permanent, akan menemani kita sampai mati. Kalau tiba-tiba nggak suka atau menyesal kan berabe jadinya?

    Bersyukur aku bukan orang yang gampang menyesali apa yang kuputuskan seburuk dan sebaik apapun itu. Aku tipe orang yang mau menjalani apa yang sudah ?digariskan? Tuhan maka tak jadi soal dengan ide tattoo yang datang belakangan karena aku akan menjalani apapun yang nantinya sudah akan ?digambar? oleh? Tu? Tuan Munir! Hahaha?

    Aku dan Munir

    Selasa pagi saat sedang bersiap menuju ke Klaten pergi ke rumah Chitra dan keluarga, keputusanku membulat, aku akan merajah tanganku dalam aksara Jawa: Maju Mapan!

    Tak banyak orang yang mengerti serta memahami makna ?Maju Mapan?. Beberapa yang berkomentar di status Facebook saat foto tattoo kusebar, bahkan mereka menertawakan dan menganggap seperti nama toko/kios handphone saja :) Ya tak mengapa, semua orang punya pandangan yang wajib kita hormati, kan?

    Aku memilih Maju Mapan karena banyak hal.

    Yang pertama dan mula-mula aku percaya pada filosofi dibalik istilah sederhana itu, maju dan mapan.

    Hidup harus bergerak maju hingga mapan. Setelah mapan? Maju lagi hingga mapan lagi, demikian terus-menerus hingga akhirnya kita ?mapan? secara abadi alias beristirahat kekal.

    Maju mapan tak hanya terkait hal ekonomi saja. Sebagai orang yang juga mementingkan perkara spiritual, semakin hari aku semakin merasa perlu untuk memiliki kemajuan dan kematangan dalam hal spiritual. Aku harus semakin menyadari makna hidup dan kenapa aku diberi hidup hingga mapan dan diberi kebijaksanaan layaknya para tua yang lainnya.

    Lalu yang terakhir, sejak pindah ke Australia, karena ingin lebih memahami dan menghidupi makna ?Maju Mapan?, nomer handphone yang kupakai menggunakan deret ?5758? pada akhirannya. ?5758? terbaca sebagai (li) – ma – (tu) – ju – (h) – (li) – ma – (dela) pan.

    Lalu kenapa pakai aksara Jawa? Ya karena aku orang Jawa lah! Hahaha?

    Proses tattoo sendiri berjalan lancar. Tahu diri karena sudah semakin tak tahan sakit, aku minta Munir untuk mengoleskan lotion patirasa yang membuatku nyaman dan tenang saat ditattoo selama kurang lebih satu setengah jam.

    Sekitar pukul sembilan malam, proses tattoo pun selesai. Sementara itu Joyce masih ditattoo Yudha di kursi sebelahku. Sejenak aku berpikir, ?Kenapa hanya satu???

    Bukankah pulang ke Indonesia adalah kesempatan yang tak setiap setahun sekali? Bukankah menerbitkan keinginan untuk kembali ditattoo pun juga semakin langka bahkan tattoo kali inipun bukan berasal dari rencana panjang melainkan hal yang mendadak nan tiba-tiba?

    Akhirnya akupun memutuskan untuk memperpanjang malam, memberikan lengan kiriku kepada Munir seraya berkata, ?Tambah lagi, Nir! Nanggung??

    Malam itu, aku tattoo dua kali!

    Gambarnya apa? Konsepnya apa? Tunggu di tulisan Hikayat Tattoo selanjutnya!

    Oh ya, kalian bisa membaca tulisan-tulisan tentang bagaimana semua tattooku dibuat pada tagar Hikayat Tattoo. Baca juga tulisan berisi wawancaraku dengan Munir yang pernah kumuat di sini.

  • Heri Istiyanto: Lustrum dan gelora kebhinekaan

    Heri Istiyanto: Lustrum dan gelora kebhinekaan

    H. Heri Istiyanto adalah tokoh keempat belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sama halnya dengan Gregorius Sukadi dan Widi Noegroho, Heri Istiyanto adalah alumni SMA Kolese De Britto yang kemudian setelah menyelesaikan studi S1-nya kembali ke kampus, mengabdi sebagai guru.

    Pria kelahiran Sleman, 11 September 1982 ini mengampu mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ia mengemuka di keluarga besar De Britto salah satunya karena ditunjuk sebagai Ketua Umum Lustrum ke-14/Ulang Tahun ke-70 SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang puncaknya dihelat pada 19 Agustus 2018 yang lalu.

    Secara pribadi, aku mengenal Heri sejak 2005 silam. Saat itu aku dilibatkan dalam pembangunan situs web SMA Kolese De Britto Yogyakarta bersamanya yang mewakili pihak sekolah.

    Tahun lalu ia diutus pergi belajar ke Sydney selama beberapa hari dan aku menyempatkan diri bertemu dengannya.

    Tepat sehari setelah rangkaian lustrum usai diadakan, aku menghubunginya melalui WhatsApp. Kami bicara tentang banyak hal tapi utamanya tentang lustrum yang sebagaimana acara-acara lain yang melibatkan banyak pihak selalu saja membawa pro dan kontra.

    Diskusi berlangsung seru dan mengingat aspek kepatutan, aku memutuskan untuk tak menayangkannya di sini. Berikut petikannya.

    [DV] Capeknya masih terasa dari mengurus lustrum kemarin, Mas?
    [Heri] Lumayan he he he. Tiga hari nggak pulang, nggak ketemu keluarga (Heri menikah dengan Margareta Erna Mayasari dikaruniai seorang puteri -DV) tapi rasanya puas karena bisa maksimal pelaksanaan kemarin.

    Lustrum kemarin itu sebenarnya konsumsi siapa sih, Mas? Sekolah atau alumni?
    Keluarga besar De Britto.

    Siapa saja itu?
    Ya semua. Ya sekolah, yayasan, siswa dan alumni tentunya.

    Jadi alumni dilibatkan dalam kepanitiaan?
    Iya. Banyak alumni yang terlibat dalam kepanitiaan.

    Tapi alumni kan banyak banget. Yang mana yang kemudian kamu pilih?
    Yang kami pilih adalah alumni yang mau membantu dan punya waktu.

    Tentang visi dan misi acara sendiri, apa sih yang sebenarnya ingin disampaikan De Britto melalui acara lustrum ini?
    Sesuai dengan tema, Harmoni dalam keberagaman. Keberagaman yang menjadi hal biasa di De Britto ingin kita gelorakan kembali ke tengah-tengah masyarakat yang seperti kita tahu di sana-sini tampaknya mengalami penurunan nilai-nilai toleransi karena perbedaan.

    Dalam prakteknya bagaimana?
    Kita mengadakan kenduri bersama warga sekitar kampus tanpa memandang perbedaan yang ada. Kita mengadakan kegiatan bakti sosial kesehatan, pengobatan gratis, bedah rumah, pasar murah. Sebagai wujud peduli pada alam, kami juga mengadakan penanaman bibit tanaman. Ada pula pagelaran wayang kulit yang juga sukses karena banyak masyarakat awam hadir dan bisa menghibur mereka.

    Bagaimana dengan peran siswa dalam acara ini?
    Siswa kami libatkan secara aktif dalam acara-acara tersebut, menyatu dengan alumni, guru dan masyarakat. Napak tilas yang kami adakan juga memberikan dampak positif pada para siswa untuk menghargai jasa para pendahulu dan supaya tidak melupakan sejarah.

    Di acara puncak semalam (19 Agustus 2018 -DV) ada juga kolaborasi beberapa ekstrakurikuler mulai dari musik, sinematografi, karawitan dan tari. Itu kesuksesan yang luar biasa bagi kami.

    Total jendral, berapa rupiah yang diperlukan untuk mengongkosi acara besar ini?
    Belum ada update karena belum evaluasi secara total tapi kisaran saya sih sekitar 900 (900 juta rupiah -DV)?

    Sekarang mari bicara tentang dirimu sendiri, Mas. Kenapa sih dulu memutuskan jadi guru?
    Mungkin panggilan jiwa saya ya he he he. Bapak saya dulunya juga guru. Saya sangat senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan berbagi, termasuk berbagi ilmu. Apa yang saya miliki bisa digunakan atau bermanfaat untuk orang. Itu poinnya.

    Tapi kenapa De Britto?
    Siswa-siswa De Britto itu unik, kreatif dan menantang saya untuk memberikan yang terbaik.

    Kapan pertama kali ngajar di De Britto?
    2004.

    Wow. Jadi Anda lulus dari De Britto tahun 2000 dan tahun 2004 sudah kembali ke kampus sebagai guru? Pernah nggak sih merasa canggung bekerja dengan mereka yang dulunya juga jadi gurumu?
    Awal-awal sih iya, tapi lama-kelamaan biasa saja dan mulai memahami mereka sebagai rekan kerja.

    Mas, kembali ke soal lustrum, aku dengar dari beberapa rekan alumni yang hadir maupun yang tidak hadir, mereka kecewa kenapa setelah acara lomba lari yang disuguhkan adalah pagelaran musik dangdut?He?he?he? Tergantung dari sudut pandang mana melihatnya Mas. Tidak semua orang suka musik dangdut tapi ya ada yang suka.

    Tapi Anda tahu tentang hal ini?
    Tahu. Tapi bagi saya yang penting jangan sampai hal-hal yang bukan utama (perbedaan pendapat tentang hal ini -DV) seperti ini mengaburkan hal-hal lain yang sebenarnya justru jadi tujuan utama?

    Simak video resmi Lustrum yang keren di bawah ini.

    https://youtu.be/MOZHreSIcRA
  • Iting (3 – Habis)

    Iting (3 – Habis)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Meski berkarakter keras, Eyang Iting lunak ketika bicara soal kebebasan beragama. Ia memberikan hak bebas itu pada anak dan cucu-cucunya karena ia yakin Tuhan bisa disembah dan dimuliakan melalui berbagai cara.

    Eyang Iting besar dalam kultur Nahdatul Ulama. Ibunya, Eyang Buyut Hj. R. Soekirno adalah seorang hajjah. Namun demikian, ketika alm. Papa menikahi almh. Mama, Eyang tak memaksa Mama yang Katolik sejak lahir itu untuk berpindah agama. Demikian pula ketika Papa dengan kesadarannya sendiri memilih untuk memeluk katolik, empat bulan sebelum ia meninggal dunia secara mendadak, 2011 silam, Eyang tak melarang. Ia memperbolehkan.

    September 1988

    Sejak Chitra lahir, 1985, Eyang iting hampir setiap tahun datang berkunjung ke Kebumen. Maklum, Chitra adalah cucu perempuan satu-satunya.

    Dari sekian banyak kunjungan, hal yang begitu istimewa terjadi saat aku menerima sakramen komuni untuk pertama kali, September 1988. Waktu itu Eyang secara khusus menyempatkan diri datang ke Kebumen meski ia muslim, meski ia tak tahu apa makna dari penerimaan sakramen itu bagi seorang pemeluk Katolik sepertiku.

    Sepulang Gereja, aku dan Chitra berfoto dengan Eyang seperti tampak di bawah. Foto dan kejadian tersebut pernah kutulis dalam tulisan berjudul Solusi Mujarab Perekat Persatuan Bangsa yang pada 2009 kuikutsertakan dalam lomba blog nasional dan mendapatkan penghargaan.

    Awal 1990an

    Pada salah satu libur Lebaran di awal dekade itu, saat berkunjung ke Blitar, Eyang bertanya kepadaku, ?Le, kamu udah ada pacar??

    Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, masih kecil, tapi iklim keterbukaan untuk membicarakan hal-hal ?dewasa? seperti pacaran memang sudah mengemuka di keluarga.

    ?Belum, Eyang. Tapi aku memang lagi dekat dengan seorang teman??

    Ia tersenyum. ?Muslim??

    Aku mengangguk.
    Ia tak komentar sama sekali meski salah satu saudaraku yang tak enak kusebutkan di sini menyeletuk, ?Dijadikan (pacar) , Dik Donny. Nanti siapa tahu kamu nikah dengan dia??

    Aku tersenyum dan Eyang yang duduk tak jauh dariku juga tersenyum, matanya jauh menerawang. Aku tak hendak menangkap terawangan matanya meski aku sepertinya tahu apa yang ada di dalam pikirannya…

    18 Oktober 2008

    Akhirnya aku menikahi seorang Katolik, Joyce Taufan.

    Pagi itu, kami menerima sakramen pernikahan di Gereja St. Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan. Keluarga ?Blitar? datang dan mereka awalnya duduk di bangku paling belakang di dalam Gereja.

    Sadar akan hal itu, aku yang sudah menyiapkan diri di depan untuk mengikuti jalannya perayaan, datang menghampiri Eyang di kursi belakang, mempersilakannya duduk di depan bersebelahan dengan Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) yang memang Katolik.

    Melihat mereka bersanding adalah sebuah pemandangan unik yang menyejukkan.

    Desember 2010

    Setelah tiga puluh empat tahun menikah, Papa akhirnya pindah memeluk agama Katolik, seagama dengan Mama, Chitra dan aku tentu saja.

    Waktu itu, ?PR? terbesarnya yang dielaborasikan kepadaku dan yang lain adalah, ?Bagaimana cara termudah mengabari Eyang Iting dan para budhe tentang hal ini??

    Tapi Papa begitu percaya diri. ?Harusnya mereka nggak ada masalah?? Dan apa yang dikatakan itu adalah benar. Ketika Papa menyuarakan pendapat itu ke Eyang, ia memberi restu.

    Ketika almh. Budhe Him diberitahu tentang hal itu, secara khusus Budhe menelpon Mama dan berpesan, ?Titip adikku ya, Dik Tyas! Tolong bimbing dia untuk beriman di Katolik?? Dua minggu sesudah itu, Budhe Him meninggal dunia.

    Empat bulan sesudahnya, 7 April 2011, Papa meninggal dunia terkena serangan stroke mendadak. Papa dimakamkan secara Katolik dan saat Eyang iting datang, secara khusuk ia ikut mempersilakan Mama, aku dan Chitra untuk mengadakan perayaan ekaristi pelepasan jenasah sesuai yang kami dan Papa imani.

    Sementara itu di Blitar, Eyang Iting tetap mengadakan tahlilan untuk arwah Papa. Yang kubayangkan saat itu, betapa Papa berbahagia mendapatkan penghormatan dari dua sisi keyakinan yang berbeda tapi satu di dalam Tuhan.

    Rabu, 23 Mei 2018

    Sesaat setelah Eyang meninggal, dukaku luruh tiada terkira. Meski ada rasa lega karena sakitnya berakhir tapi rasa kehilangan tak semudah itu untuk diterima begitu saja.

    Turun dari kereta melalui rute jalan kaki seperti biasa menuju rumah, di depan Gereja sebuah doa kupanjatkan,

    ?Tuhan,
    Terimakasih atas perjumpaan hidup yang Engkau berikan kepadaku dengan Eyang Iting. Tugasnya telah usai dan kini berikanlah surgaMu kepadanya. Pertemukanlah ia dengan para leluhurnya, suaminya, ayah dan ibunya terutama anak-anaknya serta menantunya yang telah mendahului Eyang??

    Dalam bayanganku, Eyang berlari-lari kecil penuh bahagia di sebuah savana. Di pagi yang begitu cerah, ia bercakap dengan semua orang yang kudoakan di atas termasuk dua orang yang begitu kucintai yang telah mendahului, almarhum Papa dan almarhumah Mama.

    Mereka melepas rindu dan berbincang tentang apa saja. Tiada sekat, meski ketika di dunia, dinding keyakinan membatasi mereka.

    Di surga tak ada tembok! Bukan karena tak ada yang jual batu bata dan harga semen mungkin sebenarnya murah di sana. Di surga tak ada tembok karena semua yang ada hadir tanpa agama. Tubuh mulia mereka mengimani Tuhan yang sama?

    (SELESAI)

  • Iting (2)

    Iting (2)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Eyang iting itu karakternya keras.
    Dari sudut pandang tertentu, keras diartikan galak sementara dari sudut yang lainnya, keras adalah kokoh dan kuat. Aku bersyukur pernah berada dalam dua sudut pandang itu dalam menilainya.

    Juni 1985.
    Rumah Eyang Puh/Buyut Hj. R. Sukirno, Ibu Eyang Iting, di Blitar adalah rumah kuno yang anggun bergaya feodal. Temboknya kukuh berwarna putih cemerlang dengan pintu lipat kaca yang tinggi serta jendela-jendela yang menjulang bertonasi hijau tua. Dalam liburan itu, aku singgah di rumahnya selama kurang lebih seminggu.

    Rumah besar itu hanya dihuni dua orang. Selain Eyang Puh, tinggal juga di sana saudari sepupu jauhnya, Eyang Soeripto. Aku disambut begitu hangat.

    Lalu tibalah aku di titik pengalaman unik, bukan tentang mereka tapi tentang Eyang iting.

    Pada saat makan malam, kami duduk melingkar di depan meja makan. Eyang Iting menyodorkan piring kosong. Ketika hendak mengambil nasi, ia menyuruhku tetap duduk. ?Nanti Eyang yang ambilin, Le??

    Aku kaget, tapi menurut saja.
    Eyang lantas mengambilkanku nasi. Tapi takaran nasi yang diambilkannya itu tidaklah sebanyak yang biasa kuambil saat di rumah.

    Rupanya Eyang tahu gelagatku. ?Nanti kalau kamu kurang dan nasinya masih ada, Eyang kasih lagi??

    Aku mengangguk. Masih kaget, tapi tak ada pilihan lain selain menurut.

    Hari itu, Eyang Puh masak lele goreng dan tempe serta sambal. Tapi karena aku waktu itu belum doyan sambal, Eyang Iting menghidangkan telor ceplok. Rupanya Mama memberitahu Eyang bahwa kalau Donny tak mau makan berilah telor ceplok saja pasti lahap makannya!

    Ketika hendak mengambil telor yang hanya sebutir itu, lagi-lagi Eyang Iting mengagetkanku! Aku tak diperbolehkan mengambil.

    ?Loh?? aku mencoba protes.
    Eyang mengambil pisau lalu memotong telur rebus itu menjadi empat bagian.

    ?Kamu ambil satu per satu bagiannya, jadi kalau nggak habis, nggak terbuang!? matanya tajam, ucapannya datar. Ia seperti tahu betul bahwa aku memang ?hobi? membuang-buang makanan.

    Apa yang kualami hari itu meninggalkan kepingan kesan bahwa kerasnya Eyang adalah tanda bahwa ia galak. Tapi, ada baiknya kalian melanjutkan bacaan karena ini baru sebagian?

    April 1997.
    Dua bulan sesudah Papa kehilangan pekerjaan dan berimbas pada badai ekonomi yang menghujam keluarga, aku ditelpon Papa. Saat itu aku baru duduk di bangku kuliah semester ketiga.

    ?Aku perlu kamu temenin ke Blitar, Le. Sowan Eyang untuk memberitahukan semua ini.? katanya. Papa memang belum memberitahukan perihal musibah itu kepada Eyang Iting maupun Eyang Pranyoto (Ibu Mama) dengan alasan ?belum sampai hati?.

    Maka pergilah kami berdua ke Blitar mengendarai mobil pribadi sebagai salah satu dari sedikit sisa kepunyaan yang belum dijual untuk keperluan membiayai hidup.

    Waktu itu Eyang Puh dan Eyang Ripto sudah meninggal. Eyang Iting tinggal di sana bersama seorang keponakan jauh, Mbak Agung namanya.

    Dalam sebuah diskusi di meja makan di malam hari, Papa memberitakan dengan sangat hati-hati kejadian yang menimpanya itu.

    Eyang kaget, tapi tak luruh.
    Sempat tertunduk tapi tak lama kemudian sorot matanya menatap tajam ke arah Papa. Dengan suara yang tak rapuh sedikitpun, ia berkata, ?Aku iso bantu opo, Dik?? Papaku, Didiek namanya.

    Papa meminta Eyang untuk membantu mencarikan pekerjaan dari seorang saudara yang waktu itu adalah pemilik salah satu perusahaan minuman ternama di Indonesia yang tentu tak ingin kusebut namanya di sini.

    Dua minggu berselang, Eyang datang ke Kebumen. Sayangnya ia tak membawa kabar baik atas permintaan Papa di atas.

    ?Aku sudah menghadap sedulurmu kae, Dik!? Nadanya mengeras.

    ?Ealah?dulu waktu kecil aku yang nyawiki (cebokin – jw) dia. Aku temenin dia, menjemput dari sekolah dan tidur pun kupeluk semalam-malaman. Tapi kemarin? tapi kemarin aku datang ke rumahnya, kubela-belani sampai berlutut di depannya, memohon-mohon supaya dia nolong kamu? tapi dia nggak mau kasih, Le! Oalah Gusti? Gusti!? Nadanya makin keras, kata-katanya adalah mata bor yang menatah hati kami yang rapuh.

    Papa tertunduk lesu, aku termangu.
    Sama sekali bukan kabar baik yang dibawanya tapi Eyang Iting adalah kabar baik bagiku karena sejak saat itu ia menjadi panutanku dalam mengelola ?keras? bukan hanya sebagai satu bentuk galak tapi juga sikap untuk berani berdiri dan kokoh serta kuat.

    Rabu, 23 Mei 2018.
    Budhe Her mengirim foto terakhir Eyang Iting.

    ?Eyang sejak pagi sudah kritis, mohon doa-doanya ya anak2x, keponakan serta cucu2ku semoga yang terbaik bagi Eyang!?

    Eyang tampak lemah di foto itu. Matanya terpejam. Wajahnya kuyu, sebuah alat bantu pernafasan menempel di hidung dan mulutnya. Sekitar jam 6 sore waktu Sydney, sebuah update terbaru dilayangkan kembali oleh Budhe di grup WA keluarga besar.

    ?Anak2 dan ponakan2ku, tolong bantu putuskan ya. Dokter akan mengambil tindakan mendis terhadap Eyang. Sebaiknya gimana?? Budhe menjelaskan langkah tersebut yang tak elok untuk kuceritakan secara detail di sini.

    Pada awalnya, beberapa kakak sepupu hendak menyetujui tindakan itu tapi aku buru-buru memberikan opiniku.

    ?Budhe, kalau tindakan itu tidak menyakitkan dan resiko prosesnya bisa kita ketahui secara terukur, aku setuju! Tapi kalau hal itu hanya akan menyakitkan, tidak menyembuhkan dan berpeluang untuk membuat Eyang meninggal dalam proses itu, aku jelas menolaknya! Lebih baik Eyang meninggal dalam damai bukan dalam kesakitan!?

    Kami berembug panjang dan akhirnya semua setuju dengan apa yang kukatakan. Sebuah surat tanda penolakan tindakan medis ditandatangani.

    Keputusan itu tentu tak mudah.
    Aku dihadapkan pada hal yang sebagian kuketahui menggunakan nalar sementara sebagian lain tak ada satupun manusia yang tahu karena itu terkait dengan nyawa dan kapan ia direnggut Sang Pemilik.

    Tapi ketegasanlah yang kujadikan landasan. Ketegasan yang mengajarku untuk kukuh dan kuat yang kupelajari dari dia, Eyang Iting yang tegolek lemah tak berdaya.

    Lima belas menit sesudahnya, sesudah pergumulan itu, Eyang Iting meninggal dunia.

    Semua terjadi saat aku berada di atas kereta dalam perjalanan pulang ke kantor. Dukaku memuncak, kerasku lebur, tegasku pudar sementara di luar jendela sana matari lindap perlahan di ufuk barat menyisakan jingga yang membersit indah?

    Bersambung…

  • Rudy ?Banoli?: Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Rudy ?Banoli?: Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Gregorius Rudyanto adalah tokoh ketiga belas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sebenarnya ?jadwal tayang? Rudy bukan sekarang. Tapi apa yang terjadi padanya beberapa hari silam membuatku berkeputusan untuk mendahulukannya mumpung masih sangat relevan dan aktuil!

    21 Mei 2018 silam tempat usaha miliknya, Bengkel dan Toko Spare Part Banoli Jaya Motor di Kebumen, Jawa Tengah, mengalami kebakaran hebat. Barang dan stok yang hendak dijual dan peralatan-perlatan adalah hal-hal material yang jadi kerugian disamping tentu kerugian non-material yang susah untuk dicari hitungan jelasnya.

    Tapi bukan lulusan De Britto namanya kalau hal itu membuatnya menyerah. Dua hari sesudahnya, 23 Mei 2018, pria alumni angkatan 1997 yang juga adalah putra pemilik tempat usaha ban terkenal di Jogja dulu, Bah Petruk itu membuat kejutan yang menggetarkan.

    Melalui dinding Facebooknya, Rudi mem-post tulisan dengan judul menghentak, ?MAAF TAK ADA KATA MENYERAH DALAM KAMUS KAMI?

    Ya! Ia buka kembali bahkan di saat bau bakaran api kubayangkan masih lekat di dinding-dinding tokonya!

    Buru-buru aku menghubunginya via WhatsApp, berharap ia punya keluangan waktu untuk membalas dan bercakap-cakap denganku.

    Dan benar saja! Di tengah kesibukannya untuk bangkit kembali ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan. Selebihnya biarlah kalian baca sendiri catatan indah di bawah ini!

    Apa yang dialami Rudy adalah hal yang wajar karena kita tak pernah bisa lepas dari musibah. Namun apa yang dilakukannya untuk kembali bangkit menjadi pembeda antara tipe manusia yang masih bisa bersyukur dan bangkit dari keterpurukan dengan mereka yang hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa akhir meski mati masih segan tapi hidup juga tak hendak!

    [DV] Rud, apakah hal yang paling besar yang kamu dapatkan sebagai hikmah dari musibah kemarin?

    [GR] Hal yang paling besar yang saya dapatkan dari kejadian kemarin bahwa semua harta itu benar-benar milik-Nya. Semua ini cuma titipan!

    Dulu saya ini anak orang yang cukup berada tapi 2003 Tuhan mengambil semuanya. Tahun 2005 aku mulai buka usaha sendiri, tahun 2009 jatuh lagi. 2013 bisa buka toko kedua, eh tahun 2018 (kejadian 21 Mei 2018 kemarin -DV) ?dihabiskan? lagi!

    Tapi dua hari kemudian kamu bangkit dan buka toko lagi. Ini langkah yang luar biasa! Gimana ceritanya?

    Ada hal yang unik, Bro DV!
    Aku seperti mendapatkan tanda untuk bangkit lagi. Dari sisa-sisa kebakaran kemarin ada satu spot yang aman . Spot itu adalah logo Banoli kreasi Damben (Damar Benni (angkatan 1996), kawan seangkatanku – DV) yang tetap utuh dan tak terbakar sama sekali!

    banoli
    Spot lambang ‘Banoli Motor’ yang tak terbakar itu…

    Wow, jadi itu yang membuat kamu bangkit untuk buka toko lagi?

    Ya! Tapi bukan cuma itu!
    Aku buka toko lagi karena dukungan yang luar biasa dari kawan-kawan alumni De Britto! Temen-temen mendukung dengan cara unik yang bisa membuatku tertawa di tengah musibah ini. Bahkan teman-teman seangkatan, JB 1997, mereka datang mengunjungi langsung dan memberi support.

    banoli
    Kunjungan kawan-kawan alumni De Britto 1997 ke Banoli

    Sebenarnya aku belum berpikir untuk buka toko lagi tapi semangat dari kawan-kawan alumni itulah yang membuatku lebih cepat pulih dan bertekad untuk bangun! Dalam nama Yesus aku buka lagi tokoku yang kebakar kemarin!

    Rencana ke depan?

    Ke depannya ya aku akan buka lagi, membuat lebih bagus walaupun modal untuk itu ya harus dikumpulkan lagi sedikit demi sedikit!

  • Iting (1)

    Iting (1)

    Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

    Juni 1985.
    Kami duduk berhadap-hadapan di gerbong ekonomi kereta api Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya. Selepas petugas Stasiun Kebumen membunyikan peluit tanda kereta diberangkatkan, suara roda berdecit, kereta bergerak perlahan sementara Papa melambaikan tangan di bawah, tampak menjauh dan semakin jauh?

    Aku nervous.
    Itu adalah kali pertama aku pergi ke sebuah tempat sebulan lamanya tanpa Papa dan Mama. Umurku, 7 tahun waktu itu.

    Orang yang ada dihadapanku adalah Eyangku. Raden Roro Suci Hadiyati atau yang akrab kupanggil Eyang Iting. Entah darimana nama itu berasal mula, aku tak tahu. Papaku, yang adalah anak bungsunya dari tiga bersaudara menjelaskan mungkin karena nama adiknya adalah Otong, maka ia dipanggil Iting. Sesingkat itu penjelasannya, sejarah namanya.

    Pagi itu aku ikut Eyang berlibur ke Jawa Timur.

    Ke Jombang beberapa hari bertemu dengan keluarga Budhe Himawati, kakak kedua Papa. Ke Blitar sowan ke rumah Eyang Puh/Buyut Hj. Rr Sukirno barangkali sepekan lalu ke Sidoarjo, ke rumah keluarga Budhe Hermiasih, kakak sulung Papa di sisa liburan untuk selanjutnya pulang ke Kebumen diantar Eyang.

    ?Kok diem aja kamu, Le?? celetuk Eyang memecah heningku.

    Aku terdiam. Tanganku mendingin, berkeringat. Aku agak menyesali keputusanku untuk berlibur. Kenapa aku tak di rumah saja lagipula kan Chitra baru lahir, bisa main-main selama libur sekolah?! Ngapain ke Blitar? Atau, kenapa tak ke Klaten? Ke rumah Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) toh di sana masih banyak kawan-kawan masa kecilku karena aku tinggal di Klaten sejak lahir hingga 1983.

    Eyang tahu aku masih belum ?in.?
    Masuk ke Stasiun Kutoarjo, ia punya ide cemerlang. Seorang penjual nasi pecel lewat dan Eyang membelikan satu untukku. ?Kamu udah sarapan tadi, Le? Mau makan lagi? Paroan ambek (makan separuh-separuh porsi – jw) Eyang ya??

    Aku terpancing, mengangguk.

    ?Enak??
    Aku mengangguk lagi.

    ?Papamu waktu kecil suka banget makan pecel, Le. Nanti sampai di Blitar andhok (makan di luar rumah -jw) pecel ya sama Eyang??

    Aku terdiam lagi.
    Pada akhirnya akulah yang sebenarnya makan hampir seluruh nasi pecel karena rasanya enaknya bukan kepalang.

    ?Yang?? itu adalah kali pertama pagi itu aku menyapanya.

    ?Ya. Apa, Le??
    ?Boleh minta minum?? tanyaku lagi.

    Eyang mengeluarkan termos air dari tasnya lalu memberiku secangkir menggunakan tutup termos itu.

    Lepas dari Stasiun Jenar, Purworejo, ada beberapa tanah tinggi, bukit yang dibelah untuk jalan kereta. Waktu kecil, aku memang punya banyak hal yang kutakuti termasuk salah satunya adalah ketika kereta atau mobil melewati bukit/tanah tinggi. Ketakutanku sebenarnya beralasan meski mungkin kalian mengatakan ?lebay?. Aku takut kalau tanah tinggi itu longsor lalu menimpa gerbong kereta yang kunaiki.

    Ketika kereta melewati tanah tinggi dan jarak gerbong dengan tanah tinggi itu begitu dekat, serta merta aku memeluk Eyang. ?Yang, aku takut, Yang!?

    Eyang tertawa.
    ?Ojo wedi, Le!? ujarnya dengan logat Jawa Timur yang khas. ?Kamu itu anak lanang, jangan gocik nemen!? Pelan-pelan aku disorongnya supaya bisa melihat wajahnya. Kali itu tawanya hilang, wajahnya berubah serius, sorot matanya tajam.

    Eyang memang tak suka pada penakut.
    Jalan hidupnya memang tak pernah mudah dan tak pernah mengijinkannya untuk takut! Ia ?ngenger? (merantau –jw) ikut saudara sejak kecil. Menikah dengan seorang bernama Raden Slamet, beranak tiga lalu tak sampai sepuluh tahun kemudian sang suami terkena stroke hingga sekitar sembilan tahun sesudahnya dan Eyang R. Slamet, ayah dari Papaku itu, meninggal di awal 70-an.

    Membesarkan tiga anak dengan keadaan ekonomi pas-pasan membuatnya tak takut terhadap apapun juga. Maka ketika cucunya yang adalah aku tiba-tiba takut hanya pada ?tanah tinggi?, rasa ?tak gentar? nya pun menyeruak lagi ke permukaan.

    Perjalanan kereta siang itu begitu lancar. Masuk Jogja, lalu Solo, Madiun serta Nganjuk, satu stasiun sebelum Jombang. Sudah ada beberapa tanah tinggi yang kulewati dan aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk tak menampakkan ketakutanku di hadapan Eyang Iting meski terus-menerus gagal.

    ?Don?
    Papamu itu dulu ya penakut kayak kamu! Trus Eyang kirim dia ke pencak silat supaya berani. Kamu nanti kalau sudah sunat juga gitu ya, Le??

    Aku manggut-manggut untuk melegakan Eyang meski aku sendiri tak yakin bahwa beladiri bisa membuatku lebih berani.

    Menjelang sore, kami sampai di Jombang. Pakdhe Tarto, Budhe Himawati dan anaknya yang masih kecil waktu, Amanda Desmanta melambaikan tangan dan menyambut kami dengan hangat.

    Sydney, 20 Mei 2018
    Chitra mengabariku via WA bahwa Eyang Iting masuk ke rumah sakit.

    Usianya sudah 88 tahun.
    Sejak beberapa hari sebelumnya ia mengeluh kakinya sakit lalu Budhe Hermiasih yang menjadi anak satu-satunya yang masih hidup setelah Budhe Himawati meninggal tahun 2010 dan Papa meninggal di tahun 2011, membawa Eyang ke rumah sakit.

    Dalam sebuah grup WhatsApp bersama Chitra, adikku, dan para sepupu, aku mengirim foto keluarga. Aku tak bisa pulang jadi biarlah foto ini kujadikan pengganti ketidakhadiranku.

    Oleh Mbak Sessy, istri Mas Rudi, menantu Budhe Her, foto itu ditunjukkan kepada Eyang.

    ?Dik, Eyang sudah lihat foto keluargamu. Dia bilang, ?Don, semoga keretanya cepat berangkat? Makasih doanya ya Donny. Salam untuk keluargamu.? begitu jelas Mbak Sessy.

    Aku tercenung lama membaca berulang-ulang pesan itu.

    Kesadarannya sudah tak penuh. Ingatannya tak terlalu nyambung. Tapi ketika Eyang ngendhika ?keretanya cepat berangkat? aku tahu pasti apa yang ada dalam pikirannya! Ia teringat peristiwa pagi itu. Di atas gerbong kereta api ekonomi Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya, di tengah derit suara roda besi kereta beradu rel yang memekakkan telinga sementara kami saling berhadap-hadapan tanpa kata untuk sekian lama?

  • Widi Nugroho: Di De Britto, guru bisa belajar juga dari muridnya

    Widi Nugroho: Di De Britto, guru bisa belajar juga dari muridnya

    B. Widi Nugroho adalah tokoh kedua belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

    Sama seperti Pak Kadi yang kuulas sebelum ini, pria kelahiran Ponorogo, 23 Agustus 1968 ini adalah alumni De Britto (1987) yang kemudian mengajar di almamater sejak 1993 hingga sekarang. Pak Widi mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan aku pernah diajarnya selama tiga tahun, 1993-1996. Kini Pak Widi juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

    Beberapa hari silam aku berbincang banyak dengannya. Sebuah perbincangan yang elok nan unik karena tak hanya antara seorang kakak kepada adik angkatannya tapi juga seorang guru kepada muridnya.

    Petikannya bisa kalian baca berikut ini.

    [DV] Belum apa-apa saya mulai dengan pertanyaan yang berat, Pak. Pernahkah kamu merasa khawatir terhadap De Britto?

    [WN] Ada, tapi kekhawatiran saya ini tidak pada lembaganya. Kekhawatiran saya atau lebih tepatnya tantangan itu ada pada konteks di mana De Britto berada.

    Konteks Yogya saat ini, apapun bisa didapat di Yogya. Dari hal baik sampai hal buruk bisa ditemukan di Yogya yang tentu harus diwaspadai.

    Juga konteks zaman sekarang: era media sosial membuat anak-anak zaman ini menjadi lebih reaktif, bukan reflektif.

    Dalam pola mendidik yang dilakukan di JB, apa ada perubahan atau adakah semacam pendekatan yang ?khas? terkait maraknya penggunaan media social? Misalnya ada nggak sangsi yang diberikan ketika misalnya seorang murid menulis/menyebarkan hoax?

    Sebagai sebuah kolese Jesuit, De Britto mendasarkan proses pendidikannya pada Spiritualitas Ignatian. Hal yang sangat mendasar dalam tradisi Ignatian itu adalah apa yang disebut sebagai discernment, proses menimbang-nimbang dan memilah-milah yang baik dari yang buruk, yang lebih baik dari yang baik, dan dalam situasi tertentu, yang terbaik di antara yang buruk. Jadi, inti pendidikan Jesuit adalah mendidik murid untuk mampu membuat keputusan yang baik.

    Ini yang paling mendasar dan berlaku dalam segala situasi, tidak hanya dalam konteks media sosial.

    Jadi sebenarnya semangat kebebasan yang kita anut itu, tujuan akhirnya membuat murid mampu membuat keputusan yang baik dan kemudian bertanggung jawab terhadap keputusan itu.

    Maka, anak-anak JB selalu melakukan examen setiap hari, untuk melihat pengalaman dalm satu hari, mensyukuri hal-hal baik yang telah terjadi, dan kalau ada hal-hal kurang baik bisa belajar dari hal-hal itu dan berniat untuk tidak mengulanginya, dan melakukan lebih baik dari hari ini.

    Dan examen itu mengajari mereka untuk reflektif. Tidak reaktif.

    Meskipun belum pernah terjadi, seandainya ada murid menyebarkan hoax di media sosial, tentu ada proses pendampingan kepada pelaku, dan pasti didampingi dalam proses refleksi, dan pasti ada konsekuensi.

    Baru-baru ini saya dengar ada sebuah sekolah homogen di Jogja yang akan berubah jadi heterogen. Apakah hal ini mungkin juga bisa terjadi di De Britto bahwa suatu waktu akan menerima murid cewek?

    Kalau bicara kemungkinan (possibility), ya mungkin saja. Tetapi, probabilitasnya kecil, karena sampai hari ini De Britto belum berpikir ke arah sana, dan mungkin tidak akan pernah. Menerima murid cewek berarti harus mengubah model atau pendekatan dalam proses pendidikannya. Dan, itu bukan pekerjaan mudah.

    Sebagai alumni kadang saya dan banyak rekan lain selalu berusaha membanding-bandingkan, misalnya ?Anak JB jaman sekarang ga? garang kayak dulu, mainannya handphone melulu!? Sebagai alumni yang juga guru, pernahkah muncul pemikiran yang sama, Pak?

    Dulu sewaktu masih jadi guru muda dan belum punya pengalaman, pernah sih berpikiran seperti itu.

    Tetapi makin ke sini, makin sadar bahwa itu bukan hal yang baik. Entah kenapa, menurut pengamatan saya, suatu angkatan selalu memandang angkatannya paling baik. Orang selalu bilang, “Dulu zaman saya ..bla bla bla ..” yang intinya memuji-muji generasi atau angkatannya dan memandang angkatan sekarang tidak sebaik angkatannya.

    Padahal di tiap angkatan, selalu ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang garang, ada yang cengeng. Itu berlaku di semua angkatan. Jadi tidak fair sih menurut saya.

    Kalo soal handphone, ya pastilah, kita gak mainan handphone, kan waktu itu belum ada! Kalo handphone ditemukan di zaman saya SMA, pasti saya juga mainan handphone hehehe?

    Bicara soal kesejahteraan guru, apakah gaji guru cukup untuk hidup sehari-hari?

    Untuk de Britto cukup Don ..tinggal bagaimana mengaturnya …

    Ada beberapa guru yang mengundurkan diri lalu memutuskan berkarir di tempat lain, Pak. Apa yang membuatmu setia pada profesi guru itu?

    Bagiku, De Britto itu bukan sekadar sekolah, dalam pengertian tempat belajar untuk murid. Tetapi juga tempat belajar untuk guru. JB itu tempat perjalananan pemanusiaan saya. Saya berkembang banyak di situ sebagai pribadi.

    Artinya bahwa meski materi yang diajarkan tiap tahun sama tapi ada insight yang kamu dapat saat mengajar. Begitu ya, Pak?

    Iya betul ..karena gini Don, Di De Britto itu kan model pembelajarannya dua arah, diskusif. Dan itu memungkinkan guru untuk mendapatkan insight dari muridnya. Murid belajar dari guru, guru juga belajar dari muridnya.

    Soal belajar, saya juga banyak belajar dari figur-figur guru di JB, dari para Jesuit yang berkarya di JB, dari perjumpaan dgn teman-teman guru dari Kolese lain, baik di Indonesia maupun Kolese lain di Asia Pasifik.

    Konteks ‘guru belajar dari muridnya’ itu dalam praktek kira-kira contohnya gimana?

    Murid-murid itu – dalam diskusi di kelas – sering kali mempunyai pemikiran-pemikiran yang tidak terduga, pemikiran-pemikiran yang di luar perkiraan kita. Danbagi saya itu mengagumkan. Di situlah saya belajar.

    Masa depan pendidikan ‘katolik’ di Indonesia dengan gesekan-gesekan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini menurutmu gimana?

    Saya kira masa depan sekolah katolik tergantung tiga hal: mutu (kualitas), dukungan umat katolik sendiri, dan kerjasama solid antar-sekolah katolik.

  • Pak Kadi: Banyak masyarakat belum merdeka sebagai pribadi

    Pak Kadi: Banyak masyarakat belum merdeka sebagai pribadi

    Drs Gregorius Sukadi adalah tokoh kesebelas dari?tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto?yang kurencanakan. Pak Kadi lulus dari SMA Kolese De Britto tahun 1964. Empat tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP/Universitas Sanata Dharma, ia kembali ke kolese bekerja sebagai guru.

    Ada banyak hal yang menarik yang bisa diulas dari Pak Kadi. Kakek empat cucu yang lahir tepat pada hari lahir Indonesia, 17 Agustus 1945 ini kukagumi salah satunya karena ketajaman beliau dalam berpikir serta berkarya.

    Ia begitu aktif dalam grup WhatsApp alumni. Kadang terlibat aktif dalam diskusi di grup dan apa yang dibagikan selalu tentang hal-hal yang positif dan spiritual, sesuatu yang boleh dibilang tak terlalu mainstream saat arus utama melulu bicara politik praktis dan pilpres dan pilkada dan lain sebagainya?

    Tahun 2015 silam, Pak Kadi menggunakan nama lain Ki Jalu Suwangsa bahkan merilis buku berjudul, ?Bangau pun Ingin Memuliakan Penciptanya -Sangkan Paraning Dumadi?dan?Mereka pun Ingin Memuliakan Penciptanya – Sejatine Urip Iku Apa??

    Usia benar-benar tak menghalanginya untuk berpikir, berolah rasa menuangkannya dalam karya.

    Beberapa waktu silam aku mengajaknya berdiskusi tentang banyak hal dan berikut adalah petikannya.

    [DV] Apakah ada hal yang paling Pak Kadi ingat saat sekolah di De Britto?

    [GS] Kala itu menjelang dan sesudah G30S (Gerakan 30 September yang konon didalangi Partai Komunis Indonesia – PKI -DV), De Britto mengajarkan agar siswanya menjadi pribadi yang mandiri! Menjadi ?subyek? yang ?bebas? sebagaimana Allah menganugerahi ?kebebasan? kepada manusia. Pendidikan ini lantas dikenal dengan sebutan ?Pendidikan Bebas?!

    Apakah ?Pendidikan Bebas? merupakan hal baru saat itu?

    Iya! Dan hal itu tidak mudah dipahami bahkan tidak semua guru De Britto apalagi masyarakat umum bisa menghayati konsep ini.

    Kenapa, Pak?

    Tampaknya karena kebanyakan waktu itu masyarakat masih berpola pikir ?mistis? (Cornelis Anthonie Van Peursen dalam “Strategi Kebudayaan” terjemahan Dick Hartoko) Kesadaran individu sebagai ?subyek? lemah! Identitas pribadi banyak ditentukan oleh kelompok/pendapat umum/alam yang kuat. Di sisi lain ?komunis? pinter membuat dan memanfaatkan slogan-slogan yang membius rakyat sehingga ?Pendidikan Bebas? hadir melawan arus itu semua!

    Pak Kadi
    Pak Kadi

    Pendidikan Bebas lantas menjadi begitu lekat dengan image De Britto ya, Pak?

    Iya! Inilah ciri khas dan berkarakternya De Britto. Pendidikan yang saya ?cecap? di sekolah?! Menjadi ?subyek? yang ?bersama sesama? memuji dan memuliakan Allah! AMDG!

    Jika boleh dilukiskan, bagaimanakah suasana dunia pendidikan kala itu, Pak?

    Saat itu masyarakat umum, termasuk dunia pendidikan mudah terpengaruh oleh slogan-slogan! Seragam diutamakan! Yel-yel dikumandangkan dimana-mana. De Britto berani ?melawan arus?! De Britto berani membedakan mana yang pokok dan mana yang tidak pokok! Mana yang prinsip, mana yang tidak prinsip! Rambut gondrong atau plontos bukan prinsip!

    Apakah suasana politik waktu itu mempengaruhi suasana belajar?

    Kesadaran dan wawasan politik sudah mulai terbuka tapi belum/tidak berpolitik praktis.

    Bagaimana pandangan imam-imam Yesuit terutama yang bertgas di De Britto terhadap komunis, PKI dan g30s?

    Tidak eksplisit,? karena tidak berpolitik! Tapi,? jelas tidak sependapat dengan? slogan-slogan ?tujuan menghalalkan cara”, “politik adalah panglima”

    Empat tahun meninggalkan kolese, Pak Kadi kembali ke De Britto pada 1968 sebagai guru. Bagaimana rasanya, Pak?

    Senang!
    Bisa ikut “mem-bebas-kan” anak didik bersama Rm Oei Tik Djun dan kawan-kawan lainnya!? Saya mendukung “pendidikan bebas”!

    Prinsip ?membebaskan? itu bagaimana Pak jika boleh dijlentrehkan?

    Sebagai orang katolik – sudah dipermandikan – secara rohani sudah dibebaskan,? tetapi sebagai pribadi tidak semua sungguh “mandiri”! Berani berpikir, berkata,? dan bertindak,? sebagai pribadi? yang merdeka! (Sudah baca artikel Rm Oei tentang Pendidikan Bebas? – artikel bisa dibaca di sini).

    Banyak masyarakat kita yg masih? berpola-pikir “mistis”! Ber” identitas kelompok”! Mudah dihasut! Mudah ditipu!

    Tantangan apa yang Pak Kadi lihat saat awal-awal mengajar di De Britto?

    Membebaskan anak didik! Bantulah jadi subyek yang mandiri! Sekarang pun tantangan itu masih ada! Mosok ada korupsi berjamaah!? Mosok jelas orang lancung dipilih jadi pemimpin!? Mosok begitu mudah orang ditipu!?

    Berpikir! Berpikir!
    Pahami makna tiap kata!
    Jangan? hanya “ela-elu”!
    Berani salah!
    Berani mengakui kesalahan!
    Mau memperbaiki kesalahan!

    Kreatif! Untuk sesama demi kemuliaan Tuhan! Coba kalau ada waktu baca? “Katak pun Tertawa”! Ditulis oleh Jalu Suwongso katak pun mentertawakan aneka perilaku pemilihan Gubernur di Jakarta bbrp waktu lalu! (Link di sini)

    Banyak masyarakat? belum ” merdeka ” !

    Melihat masa kini, apakah tantangannya masih sama?

    Sama! Kalau arusnya tidak dilawan,? kebenaran akan terus diinjak-injak! Agama menjadi panglima! Agama menghalalkan segala cara!

    Kalau sama, apakah berarti telah terjai stagnasi dalam dunia pendidikan di Indonesia sejak 50 tahun terakhir?

    Tentu ada kemajuan! Tapi problem me-merdeka-kan anak muda tetap harus diperjuangkan! “Agama yang menghalalkan cara” kok bisa diterima? Pemimpin yg korupsi kok? bisa diterima?

    Apa pesan Pak Kadi untuk ?De Britto??

    Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada SMA de BRITTO (Romo-romo, Bapak-bapak guru,? Karyawan,? para rekan siswa,? dll)? Salam hangat untuk semua sobat alumni! Minta maaf atas semua kesalahan! Bravo SMA de Britto! AMDG!

  • Laksamana Mustika: Doa itu ?much stronger than any capital?

    Laksamana Mustika: Doa itu ?much stronger than any capital?

    Laksamana Mustika adalah tokoh kesepuluh dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan. Laks, begitu ia dipanggil adalah sosok yang masih muda, baru lulus dari De Britto pada 2012 silam.

    Tapi kiprahnya tak terhalang usia. Laks adalah CEO dari perusahaan yang dibangun bersama kawan-kawannya sejak kuliah, PT Elven Digital Holding.

    Menurut catatan situs web SWA.co.id pada 2016 silam, perusahaan yang digawangi Laks ini sudah memiliki kantor tiga lantai di Alam Sutera, Serpong dengan jumlah karyawan lebih dari tiga puluh orang dan omset 200-400 juta per bulan.

    Di sela kesibukannya, aku berhasil mewawancarai Laks melalui WhatsApp. Berikut petikannya.

    [DV] Laks, awal mula kamu mulai usaha itu bagaimana?

    [Laks] Mulai usaha dulu sebenarnya dari kelas tiga SMA, Mas. Jualan peralatan gaming dengan cara dropshipper.

    Dropshipper itu apa dan bagaimana?

    Kita nggak perlu stock barang cuma kontek supplier ketika ada pesanan nanti supplier akan mengirim ke pembeli atas nama toko/usaha kita.

    Lalu gimana ngatur waktu dengan sekolah? Nggak kerepotan?

    Enggak. Gampang kok, Mas cuma model BBM (Blackberry Messenger –DV)

    Saat kuliah lanjut bisnis juga? (Setelah lulus De Britto, Laks melanjutkan studi di Universitas Bina Nusantara Jakarta -DV)

    Yup! Usaha saya yang sekarang, Elven Digital Holding itu kami mulai sejak saya ada di semester tiga lalu saat semester lima berbentuk badan hukum PT.

    Modal awalnya berapa kalau boleh tahu?

    Modal awal laptop, koneksi internet, dan motor vario saya, Mas hahaha…

    Wow! Nggak ada modal dari orang tua sama sekali?

    Ada, Doa. Doa itu much stronger than any capital!

    Bagaimana sih kamu memaknai doa yang much stronger than any capital itu?

    Secara emosional, kalau tahu kita benar-benar didoakan oleh orang apalagi orang tua sendiri kita setidaknya jadi merasa benar-benar disayang. Saya jadi bersemangat dalam menghadapi segala rintangan dalam usaha maupun hidup yang cukup berat. Doa adalah pengharapan.

    Usaha yang kamu rintis sejak dulu hingga sekarang itu pernahkah mencapai titik buruk dan membuatmu berpikir untuk bubar?

    Titik terendah pernah, tapi berpikir bubar tidak pernah.

    Core usahamu di bidang apa?

    Awalnya web developer tapi sekarang berkembang jadi digital strategist.

    Digital Strategist? Cakupannya bagaimana?

    Jadi kami membantu client-client kami dalam proses digitalisasi mereka. Kami buatkan strategi sampai eksekusinya. Contohnya, kami membangun apps, web, content, dan media buying untuk pemasarannya.

    Bagaimana tanggapan pasar sejauh ini??Apakah mereka tertarik atau masih ada yang berpikir bahwa sekarang belum saatnya berpikir serius tentang digitalisasi?

    Bagus mas. Apalagi kita banyak recurring juga. Tahun ini, yang konvesional pada panik mau rame-rame mengarah ke digital.

    Oh ya? Kenapa panik?

    Panik karena telat pindah. Mungkin dikomporin oleh media yang membahas online terus-menerus.

    Menurutmu sepenting apa sih sebuah perusahaan di Indonesia berpikir ke arah digital?

    Sangat penting. Karena internet user dan mobile subcriber di Indonesia tinggi.

    Bicara soal digital, baru-baru ini ramai dibicarakan tentang Facebook yang dituduh membocorkan privasi member-nya. Apa pandanganmu tentang ini?

    Kalau membocorkan secara sengaja sih saya rasa tidak. Bahwa Facebook ada celah, iya dan itulah yang dimanfaatkan oleh oknum di Cambridge Analytic untuk keperluan kampanye bahkan big data sampai behavior user juga berhasil di-scrape.

    Lalu muncul isu bahwa Facebook hendak ditutup di Indonesia. Menurutmu gimana?

    Dari sudut pandang brand, Facebook beserta anaknya, Instagram adalah salah satu media promosi digital terbesar. Tentu akan sangat menyulitkan bagi dunia usaha karena kehilangan satu channel promosi yang lumayan efektif.

    Kamu masuk ke ranah politik juga? Pilkada dan pilpres serta pileg tentu perlu strategi digital yang mumpuni?

    Di tawarin jadi kader partai sering. Cuma saat ini belum berpikir ke arah sana karena mau fokus kembangin bisnis dulu.

    Untuk klien sih belum pernah pegang ‘politik’ karena fokus kami memang ke corporate meski bagiku politik ya tetap butuh strategi digital. Bisa dilihat kan di pilkada dan pilpres lalu, digital sangat mempengaruhi hasil.

    Menurutmu strategi digital yang terbaik untuk politik seperti apa?

    Wah, saya ngga bisa jawab karena bukan kapasitas saya, Mas. Takut salah omong hehehe…

    Tapi kalau kamu ditanya strategi digital untuk politik saat ini yang terbaik apakah tetap dengan mengusung isu SARA?

    Kalau yang sehat sih harusnya enggak. Strategi dan prestasi adalah intinya. Segmentasi pasar politik kan luas sekali jadi justru seharusnya merangkul semua pihak.

    Hoax jadi susah dikendalikan, sebagai praktisi bidang digital kamu ada ide apa untuk mengurangi atau menghambat penyebaran hoax?

    Ini salah satu negatifnya media sosial. Jika ada di tangan orang yang salah bisa dijadikan sebagai sarana untuk penyebaran berita hoax berupa link ke media hoax, gambar hoax, dan lain-lain. Menguranginya tentu perlu peran aktif pemerintah juga untuk ngeblok situs-situs hoax.

    Oh ya, beberapa tahun lalu kalau tak salah dengar kamu mendirikan restaurant ? Masih jalan?

    Yang ‘mie instan’ sudah tutup yang di Jakarta tapi masih ada cabang di Medan dan Bogor. Tapi satu restoran satu lagi, HolyChick juga masih jalan.

    Konsep rumah makan ‘mie instan’ itu menurutku menarik sekali. Ide awalnya gimana?

    Waktu itu idenya lihat kenyataan bahwa orang-orang suka sekali dengan mie instan dan banyak warung-warung yang menjual di pinggiran, Mas. Kami ingin membawa ‘mie instan’ to the next level.

    Kalau Holychick itu konsepnya bagaimana?

    Ayam geprek di-fusion hehehe…

    Ketika kamu hendak membuat bisnis baru, pertimbangannya apa saja?

    Market share, competitor analysis, waktu untuk menjalankan, orang yang menjalankan, modal keuangan dan channel-channel untuk membantu bisnis.

    Bicara soal De Britto, apa yang paling mengesankan dari tiga tahun bersekolah di sana?

    Paling mengesankan adalah dinamika di sana yang unik. Semangat ‘man for others’ yang diajarkan juga sangat menarik.

    Sebesar apa pengaruh pendidikan De Britto dalam karirmu?

    Cukup besar. Semangat saya sampai sekarang untuk berwirausaha juga saya peroleh dari pendidikan di De Britto. Saya ingin hidup lebih bermakna bagi orang-orang di sekitar saya.

    Ngomong-omong, saat di De Britto dulu model bercandaan ‘cina-jawa’ masih ada?

    Masih, Mas Hahaha…

    Kamu nyaman enggak?

    Kalau saya sih nyaman-nyaman aja karena konteksnya kan bercanda dan untuk lebih mengakrabkan. Semacam dark humor gitu hahaha…

    Ke depannya kamu punya rencana apa thdp bisnismu? Ekspansi? Menguatkan yg sudah ada atau… menjual ke investor?

    Rencana bisnis ke depan adalah menguatkan yang sudah ada. Ekspansi dengan menambah kapasitas produksi dan lirik-lirik ke bisnis digital lain.