Kategori: Kabar Baik

Kabar Baik adalah renungan harian berbasis Bacaan Injil versi Kalendar Liturgi Gereja Katolik Roma. Dimulai sejak 1 Januari 2016 oleh DV.

  • Batu buangan dan batu penjuru

    Batu buangan dan batu penjuru

    Ada yang bertanya kenapa di profile akun instagramku, BaikTV (@baik.tv) tertulis penggalan ayat  “Batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru”(Mazmur 118:22).

    Kalimat itu tak muncul sekali dalam Alkitab karena selain di Mazmur, Matius menuliskannya di Matius 21:42 sebagai catatan bahwa Yesus pernah mengatakannya secara langsung dan Petrus pun demikian. Setelah Yesus naik ke Surga, dalam perjalanannya iamenerakan kalimat itu dalam 1 Petrus 2:7.

    Kenapa ayat itu dan bukan ayat yang lain yang muncul di profile BaikTV? Sudah barang tentu karena aku sangat menyukainya. Ayat itu jadi peneguhku!

    Sepanjang usia, setidaknya hingga kini, aku banyak mengalami perasaan dilecehkan, dibully, diremehkan, ditolak, tidak dipercaya bahkan ‘dibuang’ dalam konteks bahwa aku tidak bisa dipakai dan dimanfaatkan.

    (Mungkin ini mengagetkan dan beda sekali ya dengan pandangan kalian yang baru mengenalku apalagi hanya lewat social media hahahaha…)

    Nah, dalam perspektif ‘batu’, perasaan-perasaan itu seolah menempatkanku sebagaimana batu-batu yang dibuang para tukang bangunan. 

    Hal yang kuimani juga dirasakan oleh Yesus ketika Ia hidup di dunia ini, 2000 tahun silam. Ia diremehkan, dilecehkan dan ditolak bangsaNya sendiri tanpa mereka sadar bahwa yang mereka perlakukan seperti itu adalah Tuhan, adalah batu penjuru itu sendiri!

    Aku bukan Tuhan meski sebenarnya mereka juga tidak berhak memperlakukanku demikian! Tapi sebagaimana aku tak bisa mengubah cara pikir mereka terhadapku, pun aku juga tidak bisa mengangkat harkat dan derajatku sendiri. Hanya dengan bersandar pada Tuhan, hingga sekarang aku bisa bertahan.

    Ini bukan kotbah hari mingguku tapi sekadar catatan bahwa aku ingin menyemangati kalian yang mungkin merasakan hal yang sama sepertiku; dilecehkan, dibully, diremehkan, ditolak, tidak dipercaya bahkan dibuang. 

    Tidak enak? Banget! Pasti!

    Tapi seperti pepatah barat bilang, It’s OK not to be OK, kan?

    Yang penting kalian teguh dan tetaplah bersandar pada iman, apapun agama dan keyakinan kalian.

    Berusaha untuk membuktikan tentu tidak dilarang tapi please, berhentilah berharap dan berangan-angan bahwa suatu hari kalian bisa memutarbalikkan pandangan orang yang sudah memandangmu dari sudut subyektif yang ia gunakan untuk memandangmu selama ini.

    Berdamailah dengan keadaan dan terus carilah hadirat Tuhan dalam hidup dan deritamu. Di situ niscaya ada bahagiamu!

    Tetaplah kuat karena kamu dan aku itu batu entah itu buangan, penjuru ataupun karang…

  • Berharap pada titik normal yang baru, akan setidak normal apakah hal itu?

    Berharap pada titik normal yang baru, akan setidak normal apakah hal itu?

    Salah satu hal yang paling kerap kudengar dari pengalaman kita bersama mengarungi badai pandemik COVID19 ini adalah tentang ?normal yang baru.?

    Berharap normal yang baru

    Sebelum pandemik kita memiliki dan menikmati ?kenormalan? kita. Tiba-tiba karena COVID19, kita harus diam di rumah, tak boleh ini, nggak boleh begitu. Banyak pekerjaan hilang, tak terhitung kerugian demi kerugian yang coba dikalkulasikan. Dan akhirnya dalam kegamangan ini kita berharap pada satu bentuk kenormalan yang baru. 

    Kenormalan yang mewujud karena pandemik dan barangkali karena kita sudah terbiasa dengan ketidaknormalan ini dan menganggapnya jadi suatu normal yang baru!

    Adakah hal itu salah? Tidak!

    Kenormalan dan kemampuan kita beradaptasi

    Menurutku ini justru menunjukkan betapa besarnya kuasa Tuhan dalam menganugerahi kita dengan kemampuan untuk beradaptasi. Ketika kita sudah bisa beradaptasi terhadap satu hal yang baru, itulah kenormalan kita selanjutnya!

    Setelah sekian lamanya aku selalu pacaran jarak dekat, untuk pertama kalinya, pada awal 2001 silam, aku dan pacar baruku waktu itu itu memutuskan menjalani hubungan jarak jauh. Aku di Jogja, dia di Australia.

    Kalau semula dengan pacar-pacar sebelumnya yang satu kota, aku sangat mudah untuk bertemu mau setiap hari, seminggu sekali tapi kali itu, karena jarak yang membentang, pertemuan hanya bisa terjadi sekali dalam setahun. Itupun kadang tak pasti! Hubungan kami isi dengan berkomunikasi lewat SMS, telepon atau chatting baik melalui mIRC (aplikasi chatting jaman dulu) atau Yahoo Messenger.

    Awalnya tentu berat.?
    Apalagi kalau rasa kangen datang tanpa undangan! Apalagi kalau pas lagi di jalan melihat kawan berboncengan dengan pacar. Malam minggu sepi, makan di warung sendirian, ke Gereja pun tak ada yang bisa digandeng.

    Kawan-kawanku waktu itu banyak yang mengusulkan aku supaya cari aja yang dekat! ?Ngapain jauh-jauh? Yang dekat pasti banyak kok yang mau denganmu!? begitu ujar mereka.

    Tapi lama-kelamaan semua jadi kebiasaan.

    Menikmati kenormalan yang baru

    Bukan karena aku sok kuat. Bukan karena aku tak percaya pada pandangan mereka bahwa ada banyak cewek yang mau denganku (uhuk!) tapi tentu selain karena mencintai pacarku, aku merasa nyaman dengan ?kenormalan? baru tersebut. Normal untuk tidak memboncengkan siapa-siapa pada malam minggu, normal untuk tidak menggandeng siapa-siapa saat ke gereja dan?normal-normal? lainnya.

    Malah aku begitu menikmati ?kenormalan baru? itu! Aku bisa punya begitu banyak waktu luang untuk mengembangkan hobiku, merawat pertemanan dengan banyak kawan dan bebas mau pergi ke mana saja! Di bagian yang akhir ini, aku justru sering mengolok-olok kawanku yang selalu tak bisa kuajak pergi main-main pada malam minggu dengan alasan ?pacaran.?

    Kawan,
    kita punya cara pandang yang berbeda tentang apa itu normal. Di mata orang yang punya persepsi berbeda, kita ini tidak normal dan demikian juga sebaliknya.?

    Di mata kehidupan sebelum pandemik, apa yang kita lakukan saat ini dengan banyak melakukan social distancing adalah satu hal yang tidak normal. Tapi andaikan social distancing dan banyak standard baru lain terkait pandemik ini jadi sesuatu yang harus kita lakukan dalam jangka waktu yang lama, bagi anak-anak yang lahir setelah pandemik, ketika mereka kita beritahu bagaimana interaksi dan kehidupan sebelum pandemik, di mata mereka, barangkali kitalah yang justru dianggap tidak normal!

    Perubahan normal yang tidak menyenangkan

    Lalu apa yang harus kita khawatirkan tentang perjalanan menuju kepada titik normal yang baru karena pandemik ini?

    Tepat dugaanmu! Titik-titik perubahan! Perubahan itu tidak menyenangkan! Kenapa? Karena kita harus mengeluarkan tenaga dan perhatian untuk berubah! Karena kita tidak tahu seperti apa dan sampai kapan kita harus berubah menyesuaikan untuk pada akhirnya menuju pada satu normal yang baru! 

    Bicara tentang hal-hal yang harus disesuaikan dan hal-hal yang tidak kita ketahui, aku tertarik mengutip apa yang jadi pesan Kabar Baik hari ini. Seperti ditulis Yohanes, Yesus berkata bahwa setiap ranting yang tidak berbuah, dipotong! Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan supaya ia lebih banyak berbuah lagi.(lih. Yoh 15:2)

    Hidup kita adalah pohon itu dan saat ini Tuhan sedang mempercantik pohon kita! Membuang bagian yang menurutnya tak membuahkan dan membersihkan yang berbuah supaya lebih lebat lagi.

    Pandemik ini menyesakkan tapi dalam kerangka iman kita kepadaNya, kita percaya pada akhirnya nanti kita bisa melihat dan hidup dalam kenormalan demi kenormalan baru yang sedang dikerjakanNya.

    Berlandaskan iman terhadap Tuhan, kita tak lagi bertanya akan sejauh apa pandemik ini mengoyak dan membahayakan hidup kita. Pertanyaan justru sebaliknya, masih kurang percaya apa kepadaNya karena Tuhan selalu ada dan menjaga dalam sejarah hidup manusia seberapapun jauh kita mengarungi kenormalan demi kenormalan yang terjadi dan berlalu di masa silam?

    Semoga tulisan ini menguatkan di saat kita begitu lelah terhadap banyak pemberitaan yang melelahkan!

    Sydney, 13 Mei 2020

  • Terang Tuhan: Membahagiakan atau memusingkan?

    Terang Tuhan: Membahagiakan atau memusingkan?

    Salah satu penggambaran Yesus yang paling menarik bagiku adalah Ia sebagai terang yang diutus Bapa untuk dunia. ?Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.? (lih. Yoh 12:46)

    Terang Tuhan: membahagiakan?

    Terang dalam kegelapan tentu membahagiakan. Demikian? Tak selamanya. Coba simak ceritaku dulu di bawah ini.

    Waktu kecil dulu, peristiwa padamnya aliran listrik adalah hal biasa.

    Listrik padam datangnya bisa mendadak.?Malam-malam, hujan deras dan angin besar lalu tiba-tiba listrik pun padam. Sekonyong-konyong, alunan suara ?Waaaaah?? penuh kecewa menggema lamat-lamat di seantero kampung yang tenang.

    Kalau sudah begitu, Papa (alm) biasanya pergi ke dapur mencari lilin di lemari lalu menyalakannya beberapa batang dan membawa kembali ke ruang keluarga.

    Gelap menyusut tergantikan terang. 

    Kami biasa duduk di meja makan di depan lilin sambil ngemil kudapan atau cerita tentang apa saja ditemani suara katak yang berdendang riang di tengah rintik hujan. Semua berakhir ketika listrik kembali menyala atau ketika kami semua sudah lelah bicara lalu mematikan lilin dan tidur, malam terselesaikan lebih cepat dari biasanya!

    Tapi dalam beberapa kali kesempatan, aku tak selalu ikut mengumpul di meja makan bersama Papa (alm), Mama (alm) dan adikku, Chitra. Aku mojok di sudut ruangan yang temaram, pura-pura tidur di sofa membelakangi meja dan cahaya untuk melakukan satu hobiku dulu (dan sekarang): ngupil!

    Pernah suatu saat Papa bertanya kok aku nggak ikut kumpul di tengah, aku. pura-pura diam tertidur lalu Mama yang nyahut, ?Sssttt! Donny tidur! Jangan dipanggil dia capek banget hari ini!? Aku meringis tertawa dan tak lama kemudian melanjutkan.. ngupil.

    Kegelapan: saat yang ditunggu-tunggu?

    Tapi suatu kali nahas pun tiba!
    Ketika sedang asik-asiknya ngupil di sofa dan Mama sedang duduk di depan tak jauh dari tempatku berada, tiba-tiba listrik menyala dan lampu berpijar seterang-terangnya! Mama membelalak ketika tahu aku ngupil dengan asyiknya. ?Wooo.. ternyata selama ini kalau kamu gak ikut ngobrol di tengah meja itu karena kamu ndhelik (ngumpet -jw) untuk ngupil ya?!?

    Mamaku paling benci dengan orang yang ngupil di muka publik. Ngupil boleh tapi di kamar mandi dan segera cuci tangan lalu keluar, begitu aturannya. Marahnya pun muncul malam itu. Aku disuruh cepat-cepat ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Tak berhenti di situ, aku disuruh mengambil kain lap, membasahainya lalu membersihkan upil yang selalu kutempelkan di bawah sofa sekian lama :)))

    Sebagai seorang pengupil, kesempatan mati lampu adalah kesempatan yang kutunggu-tunggu. Ini membuktikan bahwa tak semua orang suka pada terang. Karena terang itu merepotkan dan membuatnya harus buru-buru menyembunyikan hal yang biasa dilakukan di tempat gelap.

    Terang Tuhan: tidak menghakimi

    Tuhan hadir sebagai cahaya dunia adalah Tuhan yang menawarkan terang tapi sekaligus Tuhan yang menantang kita untuk berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa dan biasa kita lakukan dalam kegelapan.

    Tuhan dengan terang yang dibawanya tidak menghakimi kelakuan buruk kita tapi membawa paradigma bahwa sudah saatnya kita meninggalkan yang buruk karena era baru telah tiba.

    Kalau mau ngumpet-ngumpet kayak aku dan ngupilku ya bisa saja tapi kalau tiba-tiba listrik menyala, waktu habis dan kita masih asyik dengan hal-hal buruk kita ya sudah terima hukuman saja di tungku api abadi yang katanya penuh tangis sesal dan kertak gigi. Di sana kamu gak akan bisa ngupil lagi :)

    Sydney, 7 Mei 2020

  • Makanan yang membinasakan, makanan yang menyelamatkan

    Makanan yang membinasakan, makanan yang menyelamatkan

    Masih terus mencari (dan pencarian itu tak kan pernah berhenti) kenapa Tuhan mengijinkan pandemik COVID-19 ini terjadi dan hari ini aku menemukan simpul baru. Simpul itu kutemukan dalam Kabar Baik yang ditulis Yohanes hari ini. Yesus mengisyaratkan hal demikian, ?Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” (Yoh 6:27) Apa hubungannya pandemik COVID-19 dengan sabda Tuhan di atas?

    Makanan yang membinasakan

    Hubungannya, dalam masa pandemik ini Tuhan mengajak kita untuk lebih memperhatikan makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal dan bukan cuma makanan yang akan dapat binasa saja.

    Waduh apa pula ini?
    Dalam pengertian yang ?sok ngerti?, makanan yang akan dapat binasa itu bisa kita maknai secara luas sebagai sesuatu (tak hanya makanan) yang penuh kesia-siaan. Misalnya kita sibuk bekerja mengejar harta. Itu adalah kesia-siaan karena harta tak dibawa mati. Misalnya kita sibuk main judi, itu adalah kesia-siaan. Misalnya lagi kita asyik-masyuk ber-WA dengan mantan pacar padahal dia sudah menikah. Itu adalah kesia-siaan karena ya sia-sia toh dia udah nikah ngapain diasyik-masyukin kan!? hehehe?

    Makanan yang menyelamatkan

    Sementara makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal? Makanan atau hal yang akan menyelamatkan kita hingga di hidup yang kekal. Amal ibadah kita yang nantinya akan menentukan adakah kita masuk surga atau neraka. Misalnya? Mengasihi keluarga karena keluarga adalah anugerah Tuhan yang harus kita jaga.

    Kalau begitu bagaimana dengan kegiatan kita bekerja membanting tulang, bukankah itu untuk keluarga juga? Adakah itu termasuk dalam makanan yang membinasakan atau makanan yang menyelamatkan? Ya kalau bekerja membanting tulang untuk keluarga tentu bisa jadi makanan yang menyelamatkan. Tapi bisa juga tidak?

    Kok bisa?
    Aku punya kawan, dulu pernah cukup dekat. Ia dulu tinggal di Sydney bersamaku hingga akhirnya suatu waktu memutuskan pindah ke Hong Kong.?

    Waktu kutanya kenapa dia pindah ke sana, jawabnya begini, ?Donny, Australia memang enak, nyaman. Tapi kerjaannya gitu-gitu melulu. Kamu bisa nyaman tapi kamu nggak bisa kaya di sini, Bro! Aku pindah ke Hong Kong karena di sana aku bisa digaji besar dan karirku pun terjamin naik kalau aku bekerja keras!? Maka pindahlah ia bersama keluarganya yang juga adalah kawan dekat istri dan anak-anakku.

    Meski jauh kami masih saling berhubungan. Kalau dia ada waktu mampir ke Sydney, pasti dia ngabarin dan kita nge-beer bersama.

    Sekitar tiga minggu lalu, kami saling berkontak gara-gara saling mengucapkan Selamat Paskah.

    Aku iseng bertanya, ?Pakabar, Bro? Hong Kong kayaknya udah membaik ya dari pandemik??


    Kawanku tadi menjawab, ?Iya. Makin baik tapi aku udah hampir 1.5 bulan ada di Dubai!?

    Ia memang sering travelling karena tuntutan pekerjaannya. Sedikit banyak ia suka dengan kegiatan tersebut karena bisa punya waktu ?sendiri? tanpa gangguan keluarga. ?Wah, asyik dong!? jawabku sekenanya.

    ?Asyik gimana?!?
    Aku sendirian di sini. Anak-anak dan istri ada di Hong Kong dan gue gak bisa balik karena dilarang masuk ke Hong Kong!?

    Aku bingung mau menjawab, maka kuulangi lagi jawaban itu, ?Wah, asyik dong!?

    Kerja keras dan keluarga

    Rupanya dia agak gemas campur emosi, diapun lantas menelponku!

    ?Asyik gimana sih maksud loe??
    Waduh rupanya dia agak keki ku-gitu-in. ?Ya asyik kan selama ini kamu emang gak terlalu mau deket sama istri dan anak-anak karena alasan kamu nggak mau ribet! Karena alasanmu sibuk cari duit untuk keluarga! Jadi kan asyik? Kamu di Dubai bisa terus-menerus kerja tanpa ada gangguan dari mereka dan mereka pun aman karena Hong Kong udah membaik pandemik-nya??

    Ia sempat terdiam tapi akhirnya menjawab dengan intonasi melembut, ?Aku belajar banyak, Bro! Karena aku gak bisa kemana-mana di tengah pandemik ini, kangenku menjadi-jadi ke anak bini, Bro! Tiap malam aku nangis kalau pas video call dengan mereka? Nyesel aku selama ini sibuk kerja melulu!?

    Mari belajar lebih dalam lagi di masa ini

    Nah!
    Contoh kejadian di atas adalah sudut pandang paling sederhana dalam menjelaskan ?makanan yang membinasakan dan makanan yang menyelamatkan.??

    Bagaimana kawanku yang tadinya sibuk bekerja keras membanting tulang yang katanya ?demi keluarga? di masa Pandemik COVID-19 ini ia belajar banyak dengan cara yang tak menyenangkan. Terkurung di Dubai, ribuan kilometer dari anak-anak dan istrinya, Ia menyadari bahwa selama ini bekerja keras yang ia lakukan, ?demi keluarga? yang ia jadikan sebagai motivasi adalah topeng belaka. Topeng untuk dianggap peduli keluarga padahal sejatinya tidak demikian? Sejatinya adalah demi  dari ego dan keangkuhannya untuk mengejar materi, kekuasaan dan pengakuan bahwa ia telah berhasil dalam karir dan keluarga. 

    Kita diajak belajar lebih dalam lagi di masa yang memprihatinkan ini. Lihat sekelilingmu dan belajar untuk mensyukuri hal-hal yang selama ini lupa kita syukuri…

    Sydney, 27 April 2020

  • Tak dipercaya orang? Bagaimana menyikapinya?

    Tak dipercaya orang? Bagaimana menyikapinya?

    Gimana perasaanmu ketika kamu tidak dipercaya seseorang? Padahal kamu merasa sudah melakukan segala sesuatu dengan benar tapi tetap saja diragukan, 

    ?Ah, masa?
    Yang bener?
    Jaminannya apa supaya aku bisa percaya kamu??

    Tenang! Tarik nafas dalam-dalam dan jangan lupa dikeluarkan hahaha? Kamu bukan yang pertama dan tak pernah jadi yang terakhir untuk tidak dipercaya. Yesus, Tuhan dan Juru Selamat kita pun ?dibegitukan? dulu.

    Di hadapan Nikodemus, guru agama Yahudi yang mendatangi, Yesus menyampaikan pentingnya seseorang untuk ?dilahirkan kembali? supaya bisa selamat. Karena waktu itu Nikodemus belum percaya, iapun menyampaikan ketidakpercayaannya itu, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Bagaimana reaksi Yesus? Ia menjawab keraguan Nikodemus itu dengan tenang.

    ?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?? (lih. Yohanes 3:11-12)

    Yesus tidak marah. Ia justru menerima ketidakpercayaan itu sebagai sesuatu yang wajar karena Nikodemus belum melihat apa yang Yesus lihat, belum mengetahui apa yang Yesus sudah ketahui.

    Tak dijelaskan bagaimana akhir dari pertemuan itu. Tapi apakah  pertemuan itu mempengaruhi Nikodemus? Iya! Meski tak dijelaskan secara langsung tapi Yohanes mencatat setidaknya ada dua peristiwa yang melibatkan Nikodemus dan bagaimana ia menjadi percaya.

    Pertama adalah bagaimana Nikodemus mencoba membela Yesus di hadapan kawan-kawan sekelompoknya, Farisi yang hendak menangkap Yesus (lih Yohanes 7:51) Kedua saat ia hadir pada pemakaman Yesus. Pada waktu itu Nikodemus membawa sekitar lima puluh kati campuran minyak mur dengan minyak gaharu (lih Yohanes 19:39)

    Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

    Tidak dipercaya orang itu wajar

    Kalian tidak dipercaya orang itu wajar. Kadang hal itu terjadi bukan karena kekurangan dan kesalahan kita tapi karena kelemahan manusia dalam menggunakan insting percayanya. Misalnya kamu dianggap tak setia oleh pasanganmu karena dulu pernah ketahuan selingkuh? Ya wajar karena ia menggunakan sudut pandang ?dulu?, bukan?

    Bersikap dan berlaku benar

    Lalu bagaimana supaya bisa dipercaya? 

    A-ha, pertanyaannya kubalik, sepenting apakah dipercaya kalau untuk itu hanya dibangun dari kata-kata?  Membangun kepercayaan adalah dengan cara bersikap dan berlaku benar. Dulu pernah tidak setia dan sekarang mencoba setia? Buktikan! Dipercaya dari bukti yang bisa dilihat dan dirasakan sendiri itu lebih menyenangkan daripada dipercaya karena kata-kata kita yang mencoba meyakinkan dia, kan?

    Berikan waktu untuk percaya

    Sudah bersikap dan berlaku benar tapi ia tetap tak percaya? Berikan waktu untuknya percaya. Berikan ruang untuknya mengartikulasikan pemahaman baru bahwa kamu memang sudah berubah, kamu sekarang layak dipercaya. Sebagai orang yang benar, doakanlah ia juga supaya segera percaya.

    Tapi bagaimana kalau tetap tak dipercaya?

    Tak semua orang harus percaya bahkan mantan murid yang pernah dekat denganNya pun, Yudas Iskariyot, hingga mati tak pernah bisa percaya kepadaNya, kan? Jadi kalau kita sudah melakukan segalanya dengan benar dan seseorang tetap tak percaya? Ya sudah, itu bukan tanggung jawab dan urusanmu.

    Tetaplah bangga setidaknya kamu telah berusaha keras supaya dipercaya. Tetaplah tegak muka karena setidaknya Allahmu yang maha benar telah memberimu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang sama yang dilakukanNya: hal-hal yang benar.

    Benar gitu, kan?

    Sydney, 21 April 2020

  • Adakah kita sejatinya paham apa yang Tuhan mau?

    Adakah kita sejatinya paham apa yang Tuhan mau?

    Hari ini Kabar Baik Tuhan membawa kita dalam satu permenungan mendalam, adakah kita sejatinya paham terhadap apa yang dikehendakiNya? Kalau tidak paham, bagaimana seharusnya kita bersikap? Kalau paham, yakinkah bahwa pemahanmu itu sudah benar?

    Nikodemus, Sang Pemimpin Agama Yahudi

    Adalah Nikodemus.
    Ia seorang pemimpin agama Yahudi. Agama yang diturunkan langsung oleh Tuhan lewat Nabi Musa selama berpuluh-puluh abad sebelum Yesus datang. Namanya juga pemimpin, ia tentu paham tentang segala macam, bukan?

    Malam itu, ia diam-diam datang kepada Yesus untuk mengajak berdiskusi tentang keselamatan.

    Yesus berkata kepadanya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”  (lih. Yohanes 3:3)

    Nikodemus pun bingung.
    Pemahamannya tentang kelahiran ya proses lahiriah secara duniawi bahwa seseorang lahir dari perut ibu, kan? Jadi menurutnya tak mungkin seorang yang sudah besar akan dilahirkan lagi, hal ini seperti yang dikatakannya kepada Tuhan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”  (lih Yohanes 3:4) Tapi Yesus memandang dari sudut pandang lain bahwa seorang yang diselamatkan harus lahir kembali sebagai manusia baru yang bebas dari cara hidup lama.

    Apakah kamu paham?

    Barangkali sama dengan kebanyakan dari kalian, aku lahir dan bertumbuh dalam keluarga yang sangat menunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Meski saat SMP aku sekolah ke sekolah negeri tapi sejak TK hingga SD dilanjut saat SMA, aku duduk di bangku sekolah Katolik yang tentu mengedepankan dan memperhatikan pola hidup Katolik.

    Saat dewasa akupun mencoba bertekun dalamNya. Ikut pelayanan, ribuan homili dan pengajaran kudengarkan dan kuikuti. Banyak buku kubaca bahkan kini akupun menulis begitu banyak renungan harian di blog ini tentang Tuhan. Tapi, sore ini aku diajak Gereja untuk bertanya, ?Adakah kamu sejatinya paham terhadap apa yang Tuhan mau??

    Kalau Nikodemus yang pemimpin agama pun tidak tahu, bagaimana denganku?

    Terkait dengan Pandemik COVID-19 yang mendera, ada begitu banyak orang bicara tentang ?Apa kehendak Tuhan melalui masa yang tidak terlalu menyenangkan ini.

    Ada yang bilang bahwa Tuhan hendak memurnikan cara kita hidup dan beragama. 

    Ada yang bilang bahwa Tuhan hendak mengajar kita cara berharap hanya kepadaNya saja.

    Bahkan ada yang bilang bahwa Tuhan sedang menghukum melalui pandemik ini  karena kelalaian kita.

    Waduh! Mana yang benar? Hanya Tuhan yang tahu.

    Maka mari kita semakin mencari tahu dan mohon pengertian agar supaya kita bisa setidaknya lebih baik dari Nikodemus. Syaratnya? Ya setidaknya harus seperti Nikodemus juga. Karena ia yang petinggi agama pun mau datang kepada Yesus untuk bertanya dan belajar maka akankah kita juga mau datang kepadaNya untuk bertanya dan belajar juga?

    Ataukah kita tidak mau datang kepadaNya? 

    Cukup membuka situs berita online, cukup mantengin Twitter dan Facebook, membaca forward-an dari WA grup di sana-sini lalu sudah mampu berkata, ?Oh, Tuhan mau kita bersikap ini dan itu dan begini dan begitu dan endebrai-endebroi dan panjang kali dan lebar?? 

    Stop!
    Ambil tissue dan lap dulu buih-buih ludah yang ada di sudut bibirmu sebelum kering dan bikin bau!

    Sydney, 20 April 2020

  • ?Aku telah melihat Tuhan!? Percaya? Tak percaya?

    ?Aku telah melihat Tuhan!? Percaya? Tak percaya?

    Keputusan manusia untuk percaya ataupun tidak percaya pada apapun, menurutku akan tetap menjadi sebuah pergumulan yang tiada akhir hingga nanti.?Dalam Kabar Baik yang ditulis Yohanes hari ini, Maria Magdalena adalah orang pertama yang ditemui Yesus di makam tempat Ia sebelumnya disemayamkan. Yesus lantas menugasinya untuk memberi kesaksian tentang pertemuan itu kepada para saudara dan murid Tuhan. Di depan para murid, Maria lantas menyampaikan pesan itu, ?Aku telah melihat Tuhan!? (lih. Yoh 20:18) katanya.

    Pernahkah kalian berpikir, bagaimana reaksi para murid saat itu? Berapa yang langsung percaya? Berapa yang tidak percaya? Berapa yang ingin percaya tapi tak sanggup dan berapa yang berpikir, ?Ah, sebenernya aku tak percaya tapi baiklah aku pura-pura percaya saja!?

    Percaya-tidak percaya

    Menjadi percaya, sebagaimana menjadi tidak percaya itu adalah hal yang paling mudah sekaligus hal yang paling sulit untuk dilakukan manusia. Jangan panik membaca hal ini. Bersyukurlah karena setidaknya hal itu menandakan kita ini masih manusia. Bukan hantu, bukan pula robot. Manusia yang lemah yang hanya bisa menggunakan bantuan akal dan budi untuk mengenali sesuatu dan memutuskan untuk percaya/tidak percaya.

    Contohnya adalah hal yang akan kuceritakan ini.

    Di tengah pandemik yang memprihatinkan, beberapa kalangan asyik meributkan tentang berita miring bahwa COVID19 itu adalah virus yang dibuat dan ditularkan secara sengaja oleh manusia sebagai sebuah senjata biologis.

    Ada begitu banyak orang percaya akan hal tersebut meski di sisi lain tentu menyisakan tempat bagi mereka yang tidak percaya juga. Perdebatan yang dibumbui panas dan seru pun terjadi di mana-mana. Mereka yang tidak percaya menganggap bahwa yang percaya sebagai orang yang mudah termakan hoaks dan tidak ilmiah karena tak ada bukti fakta. Sebaliknya, mereka yang percaya, menuding yang tidak percaya sebagai orang yang.. naif.

    Padahal sebenarnya perdebatan semacam ini tak diperlukan sama sekali. Mau virus itu buatan manusia atau bukan, virus itu ada dan membahayakan! Mau virus itu buatan manusia atau negara tertentu, pada kenyataannya virus ini tak pandang bulu, menyerang hampir seluruh warga negara di dunia!

    Kembali ke soal Maria Magdalena tadi?

    hingga sekarang pun, dua ribu tahun sesudah kejadian dimana ia melihat Tuhan yang bangkit,? masih ada begitu banyak orang yang tidak percaya bahwa Yesus telah benar-benar bangkit dari maut, tiga hari sesudah Ia disalibkan. Masih ada kalangan yang percaya bahwa jenasah Yesus sebenarnya disembunyikan. Masih ada kalangan yang percaya bahwa Yesus sebenarnya tak disalib melainkan diselamatkan. Bahkan ada yang percaya bahwa kisah Yesus adalah dongeng semata dan nan tak pernah ada!

    Aku telah melihat Tuhan biarlah mereka melihat Tuhan di dalam karya kita

    Mana yang benar? 

    Iman kita menyatakan bahwa kesaksian Maria Magdalena itu benar. Ia melihat Tuhan karena Tuhan sudah bangkit dari alam maut. Tapi kalaupun ada yang tidak percaya ya biarin saja tho! Tak perlu ambil pusing, tak perlu adu tegang untuk membuktikan dimana Tuhan?

    Lebih baik dan lebih penting adalah membuktikan dalam hidup sehari-hari bagaimana kebangkitan Yesus itu menginspirasi kita. Bahwa meski keadaan sedang tidak menyenangkan seperti sekarang ini, kita diajak untuk tetap bertekun dalam mencintai dan mengasihi sesama lewat perhatian dan aksi nyata. Hanya dengan begitu, kita menjadi pelaku iman bahwa kita telah melihat Tuhan dalam hidup dan biarlah mereka melihat Tuhan di dalam kita melalui karya dan aksi nyata tersebut.

    Gitu, kan?

    Sydney, 14 April 2020

  • Catatan Paskah 2020: Pandemik yang diperlukan, pandemik yang menguntungkan?

    Catatan Paskah 2020: Pandemik yang diperlukan, pandemik yang menguntungkan?

    Sejak minggu lalu saat merayakan Hari Minggu Palma, salah satu doaku kepada Tuhan adalah supaya Ia menunjukkan kepadaku bagaimana aku harus mengambil makna misteri Paskah dalam kaitannya dengan Pandemik COVID19 yang berlarut-larut ini.

    Dosa yang menguntungkan, dosa yang diperlukan

    Lalu semalam, saat ikut perayaan ekaristi Malam Paskah melalui siaran online, Tuhan memberiku petunjuk tersebut. Saat Exultet (Pujian Paskah) dinyanyikan imam, ada penggalan ?menohok? yang membuatku bertemu dengan ?kaitan? tersebut. Penggalannya adalah sebagai berikut:

    ?Sungguh perlu dosa Adam,?
    yang telah dilebur oleh wafat Kristus.?
    O dosa yang menguntungkan?
    sebab mendatangkan Penebus semulia ini.?

    Hah? Dosa yang diperlukan? Dosa yang menguntungkan?

    Bukankah dosa itu menjauhkan kita denganNya? Apalagi dosa Adam (dan Hawa). Dosa yang membuat manusia diusir Allah dari Firdaus. Dosa yang membuat kita harus mengalami hidup penuh derita di dunia, hidup yang membuat kita nanti pada akhirnya sakit lalu mati secara jasmani? Dimana letak keuntungan dan keperluan atas dosa tersebut?

    Gereja memandang dari sudut pandang lain.?Bahwa dengan adanya dosa Adam maka Allah mengutus PutraNya yang tunggal, Yesus Kristus. Ia yang lantas menebus dosa kita melalui kematianNya di kayu salib!

    Pandemik COVID19 dan tantangan jadi ‘Anak Terang’

    Pandemik COVID19 adalah keadaan yang, maaf, sebangsat-bangsatnya bangsat! Virus ini begitu mudah menyebar. Meski tingkat kematian yang diakibatkan rendah, tapi tetap saja ada banyak jiwa yang harus jadi korban. Saking mudahnya menyebar, banyak pemerintahan bangsa-bangsa menetapkan darurat nasional di setiap negara. Social distancing pun diterapkan untuk mengurangi penyebaran. Alhasil? Keadaan ekonomi dan sosial memburuk. Hingga kapan semua ini terjadi? Hingga vaksinasi ditemukan. Kapan? Entah! Paling cepat, jika para peneliti berhasil menemukan ya 12-18 bulan dari sekarang.

    Tapi sebagai orang beriman, kita diajak untuk tak hanya merutuk dan mem-bangsat-i pandemik in, kani. Kita percaya dua hal. Pertama, tak ada satupun yang tak diijinkan terjadi oleh Tuhan termasuk pandemik ini. Kedua, Allah tak akan mencelakai kita oleh karena cintaNya. Lantas?

    Tuhan pasti mau sesuatu terjadi dalam pandemik ini! Barangkali Tuhan mau kita, umat manusia, belajar untuk berharap hanya kepadaNya saja! Tuhan mau kita memandangNya sebagai juru selamat; bahwa bagaimanapun akhir dari pandemik ini, adakah kita kembali jaya atau jadi miskin, hidup kembali sehat ataupun mati, Tuhan pasti menyelamatkan. PenyelamatanNya kita rayakan dalam misteri Paskah dimana Ia yang disalib hingga mati, tadi malam beralih menuju kebangkitan yang hidup!

    Tak hanya itu! Kita juga diajak untuk jadi harapan tersebut bagi sesama. Kita diutus untuk menjadi ?Anak Terang? karena Yesus adalah Terang Dunia! Dalam kegelapan yang belum kita lihat ujungnya ini kita diajak untuk tetap bergerak bagi sesama. Ada banyak kawan yang bergotong-royong membantu pemerintah menyediakan berbagai macam peralatan medis, menyumbang untuk mereka yang kehilangan pekerjaan hingga menyemprot fasilitas-fasilitas umum dengan desinfektan. Padahal kawan-kawanku itu juga tak semuanya dari golongan yang mampu dan tak satupun yang tak punya resiko tertular COVID19.?

    Pandemik yang diperlukan, pandemik yang menguntungkan…

    Lalu apa hubungannya semua itu dengan dosa Adam yang menguntungkan? Dosa yang diperlukan?

    Seperti halnya dosa Adam, kelak kita akan tersadar bahwa sebangsat-bangsatnya pandemik ini, kita akan mensyukuri betapa semua ini diperlukan dan menguntungkan karena dalam kegelapan ini, Yesus dan kasihNya kita nyatakan dalam doa dan aksi sosial di kehidupan sehari-hari.

    Selamat Paskah 2020.
    Terus bergerak, Tuhan memberkati!

    Sydney, 12 April 2020

  • Belajar berpengharapan yang benar dari kisah memilukan orang-orang Yerusalem

    Belajar berpengharapan yang benar dari kisah memilukan orang-orang Yerusalem

    Tadi pagi aku terbangun gara-gara Joyce, istriku, memutar lagu ?Yerusalem, lihatlah Rajamu!? keras-keras dari mobile phone-nya!

    ?Hon, mau ikut misa online jam berapa? Minggu ini Minggu Palma!? begitu tanyanya. Dan lantunan lagu yang biasanya membawa derap semangat di dalam hati, pagi tadi berlaku sebaliknya, ia jadi seperti mesin pemeras, memeras-meras perasaan ibaku! Iba karena tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini karena pandemik COVID-19, aku dan kebanyakan dari kalian harus terkurung di rumah tak bisa ikut perayaan di Gereja.

    Minggu Palma

    Apa yang menarik dari Minggu Palma? Yesus masuk ke Yerusalem dari gerbang layaknya seorang raja. Membayangkan diri sebagai orang Yerusalem waktu itu, aku barangkali juga akan turun ke jalan, membawa palma di tangan dan merelakan jubahku untuk dilalui Yesus masuk ke kota dengan naik keledai sambil berseru, ?Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!” (lih. Mat 21:9)

    Tiga tahun setengah lamanya, sebagai penduduk, aku sudah mendengar kiprah Yesus! Orang sakit disembuhkan! Orang lumpuh dibuatNya bisa berjalan! Orang buta dicelikkan! Bahkan orang mati pun dibangkitkan kembali! Harapanku tentu besar, Yesus, Anak Daud itu, adalah raja! Ia akan menggulingkan penjajahan Romawi yang kejam! Ia akan berkuasa atas negeri Israel dan rakyat akan adil, sentosa dan sejahtera!

    Tapi?. apa yang terjadi kemudian?
    Lima hari sesudah dielu-elukan, Yesus malah ditangkap! Ia disakiti dan disalib hingga mati! Dimana letak kesaktianNya? Dimana kekuatan ilahiNya? Kenapa tidak melawan? Kenapa bisa mati? Katanya Raja?

    Harapan yang salah dari orang-orang Yerusalem

    Minggu Palma adalah perayaan sukacita Yesus masuk ke Yerusalem. Tapi di sisi lain, aku menangkapnya sebagai peristiwa yang memilukan karena harapan penduduk Yerusalem tak sesuai dengan kehendakNya! Yang ada di benak orang-orang Yerusalem adalah Yesus menjadi Raja Israel tapi di benak Tuhan, Ia tak mau berpikir sesempit itu! Ia bukan hanya Raja Israel! Ia Raja Semesta! Raja Surgawi yang kekuasaanNya melebihi dunia orang mati! Raja yang menaklukkan penderitaan, siksaan, hinaan dan kematian bukan dengan menghindarinya melainkan mengalaminya untuk kemudian mengalahkan!

    Dalam masa pandemik COVID19 ini, selain banyak orang yang makin mendekatkan diri kepada Tuhan, tak sedikit pula yang bersikap sebaliknya, mempertanyakan dimanakah Tuhan di saat-saat seperti ini? Kenapa Ia seolah membiarkan semua ini terjadi? Korban jiwa berjatuhan, ekonomi gulung tikar, interaksi sosial pun dibatasi? menyesakkan! Bukankah Ia adalah juru selamat? Tapi kenapa ada begitu banyak orang yang bahkan percaya kepadaNya tak diselamatkan?

    Ajakan untuk berpengharapan yang benar

    Belajar dari orang-orang Yerusalem dua ribu tahun silam hari ini kita diajak untuk menaruh pengharapan yang benar! Keinginan dan harapan pribadi tentu boleh disematkan dalam doa tapi bagaimana mengerti, memahami dan mengikhlaskan kehendakNya yang terjadi sepahit apapun itu adalah yang terbaik!

    Bahwa kalau saja mau, dulu Ia bisa saja jadi Raja Israel dan menghindari penyaliban! Sama seperti sekarang, bahwa kalau saja mau, Ia bisa menghilangkan COVID19 dari muka bumi dalam sekejap mata! 

    Tapi ketika semua ini diijinkan terjadi, yang perlu kita lakukan adalah merenung dan mencoba mengerti kehendakNya dengan kemampuan kita yang terbatas ini, ?Apa yang Tuhan mau? Apa yang Tuhan kehendaki??

    Selamat memasuki Pekan Suci Paskah 2020! Sebagaimana Ia dulu berani menghadapi penderitaan, kita pun kini ditantang untuk tidak takut pada apapun yang membentang di hadapan.

    Yerusalem, lihat rajaMu!

    Sydney, 5 April 2020

  • Masih bisakah kita memperingati hari ini sebagai Hari Raya Kabar Sukacita?

    Masih bisakah kita memperingati hari ini sebagai Hari Raya Kabar Sukacita?

    Hari ini Gereja Katolik memperingati Hari Raya Kabar Sukacita. Hari dimana Bunda Maria, 2000 tahun silam, untuk pertama kalinya menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung Yesus, Juru Selamat Dunia. Mendengar itu, Maria pun menjawab, ?Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.? (lih. Lukas 1:38)

    Adakah Maria waktu itu benar-benar merasakan sukacita?

    Pernahkah kalian berpikir, dimana letak kesukacitaan Maria dari ungkapan sikapnya itu? Adakah waktu itu ia benar-benar bersukacita? Atau pasrah? Atau malah bingung karena belum mampu menelaah pesan yang diungkapkan Gabriel?

    Kita renungi Maria!
    Waktu itu ia udah bertunangan dengan Yusuf. Kabar bahwa Ia mengandung tentu akan membuat hancur lebur impian-impian yang disiapkannya. Tak ada lagi pesta pernikahan yang besar nan megah karena kehamilannya bisa menjadi aib tak hanya bagi dirinya tapi juga bagi Yusuf dan keluarga besarnya menurut tradisi waktu itu!

    Tak ada lagi mimpi indah berbulan madu.?Tak ada lagi mimpi indah untuk mengalami masa kehamilan yang wajar dan normal lalu melahirkan dengan bahagia. Membesarkan anak yang jelas-jelas anak biologis ia dan suaminya. Lalu ketika anak sudah besar, menikah menghasilkan cucu dan menjadi keluarga bahagia hingga tua dan ajal tiba.

    Dimana letak sukacitanya Maria kalau lantas Yesus, anak semata wayangnya, memilih jalur sunyi untuk menebus umat manusia? Sesuatu yang lantas mendatangkan konsekuensi dahsyat: Ia dikucilkan, difitnah, ditangkap, disiksa lalu dihukum salib hingga mati? Padahal tak satupun mulut bisa membuktikan letak kesalahanNya hingga Ia harus menanggung semua itu?

    Masih sanggupkah bersukacita di tengah Corona?

    Kita renungi hidup kita saat ini terkait Virus Corona!

    Ada begitu banyak impian yang sedang hangat-hangatnya dan mulai hendak diwujudkan di tahun yang masih baru ini tapi lantas pupus karena pandemik hebat?

    Kemarin siang aku masih sempat mendatangi tempat olahraga dimana aku biasa berlatih setiap hari. Bertemu dengan trainer yang dengan semangat menyambutku dan mengajakku terus olahraga. Bahkan saat sesi berakhir ia masih berkata, ?Besok jangan bolos ya! Kita latihan jam 1 siang!?

    Tapi apa yang terjadi kemudian?

    Sejak semalam pemerintah memutuskan untuk memperketat aturan lockdown supaya virus korona tak berkeliaran kesana-kemari. Untuk itu, tempat olahraga termasuk yang harus ditutup dan tidak diperkenankan.

    Lalu bagaimana dengan kawanku yang trainer itu?

    Bagaimana pula nasib istri dan anak-anaknya? Dengan apa ia harus menanggung biaya hidup meski pemerintah membantu tapi akan sebesar apa bantuannya?

    Masih bisakah kita memperingati hari ini sebagai Hari Raya Kabar Sukacita?

    Kawanku berseloroh melalui kanal social medianya bahwa ia bahagia bisa kerja di rumah. Ia pun memamerkan selfienya di ruang home office nya dengan senyum nan menawan. Kawanku yang lainnya beda pendapatnya. Ia juga harus bekerja dari rumah, tapi ada satu kekhawatiran bagaimana kalau setelah ini ia benar-benar harus dirumahkan, tak boleh ke kantor karena perusahaan tak sanggup lagi menggajinya karena pandemik ini membawa imbas ekonomi yang begitu besar?

    Masih bisakah kita memperingati hari ini sebagai Hari Raya Kabar Sukacita?

    Beberapa hari lalu di sebuah pemberitaan dikabarkan negara akan membeli obat yang katanya bisa menyembuhkan Corona Virus. Berita itu lantas disebarluaskan oleh banyak kawan yang datang membawa positivisme. Tapi tak lama kemudian ternyata dikabarkan bahwa obat itu belum secara klinis terbukti mampu menyembuhkan Coronavirus. Malah di beberapa tempat, orang-orang yang nekat mengonsumsinya menemui ajal!

    Masih bisakah kita memperingati hari ini sebagai Hari Raya Kabar Sukacita?

    Sukacita yang hakiki

    Kukatakan kepada kalian, sukacita yang hakiki tak bisa diharapkan dari bangunan harapan-harapan duniawi yang? palsu! Sukacita yang paling benar adalah sukacita yang abadi yang datang dari Tuhan yang juga abadi! Sukacita yang meski di permukaannya sangat tidak ?sukacita? tapi di kedalamanNya dan pada akhirnya, Ialah harapan kita semua. Sukacita yang tak hanya dirasakan Maria tapi dilalui dan dihayati olehnya!

    Di tengah kelelahan kita, di antara keping-keping impian yang hancur lebur.. Gereja yang suci masih tetap tegak berdiri menyatakan bahwa hari ini adalah Hari Raya Kabar Sukacita.

    Semoga kita masih diberi kekuatan bahkan untuk sekadar meng-iya-kan dan meng-amin-in-Nya?

    Sydney, 24 Maret 2020

  • Pandemik Coronavirus: Sederhanakan bahagiamu meski dunia sedang rumit-rumitnya!

    Pandemik Coronavirus: Sederhanakan bahagiamu meski dunia sedang rumit-rumitnya!

    Ingatanku kembali ke masa SMA dulu.?Suatu siang, seorang guru sepuh matematika, Pak Narto (alm) namanya, masuk ke kelas tanpa banyak bicara. Ia datang dengan tergesa lalu sekonyong-konyong menuliskan sebuah persamaan matematika nan rumit di papan tulis muka kelas. Kami sudah was-was karena kalau begini biasanya beliau suka memberi tugas yang ?aneh-aneh?. Dan benar saja! Setelah menulis, ia membalikkan badan dan berkata kepada kami semua, ?Anak-anak? siang ini saya akan ada rapat selama lebih kurang satu jam. Kalian saya beri tugas, sederhanakan persamaan matematika ini!?

    Ia lalu keluar dari kelas tanpa berkata-kata dengan langkah yang tergesa?

    Pandemik Coronavirus

    Hingga tulisan ini kuterbitkan, dunia masih dibuat prihatin dengan pandemik coronaivirus atau yang lebih dikenal sebagai COVID-19. Obat dan vaksinasi belum berhasil ditemukan sementara tingkat penyebaran semakin tinggi dan seolah tak terbendung lagi. Berbagai macam upaya dilakukan pemerintah negara-negara untuk menjaga supaya warganya tetap selamat dari virus yang membahayakan ini.

    Kebanyakan mengusahakan untuk social distancing, menjaga jarak antar tubuh manusia. Dalam kondisi tertentu, beberapa negara bahkan sudah menerapkan total lockdown; warga dilarang keluar rumah kecuali hal-hal yang memang sangat-sangat memaksa.

    Imbas dari pandemik ini pun tak melulu soal kesehatan. Ada begitu banyak orang kehilangan pekerjaan di negara-negara yang menerapkan total lockdown karena praktis tak ada yang bisa, perlu dan boleh dikerjakan selain hal-hal yang esensial. Pasar saham rontok, bisnis retail hancur lebur, perdagangan antar bisnis nggak keruan dan resesi global pun kian mendekati kenyataan.

    Sederhanakan bahagiamu

    Menakutkan?
    Kalian takut?

    Kalau selama ini kita sering mendengungkan atau mendengar istilah ?Bahagia itu sederhana? saat-saat ini kita ditantang untuk membuktikannya. 

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan ketika vaksinasi dan obat untuk Corona Virus tak juga kunjung ditemukan?

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan meski pekerjaan terhenti dan mata pencaharian tersendat?

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan meski harga-harga kebutuhan pokok kian tak terbendung?

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan meski untuk sementara waktu (yang entah sampai kapan) tak bisa menemui kawan dan kerabat secara langsung?

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan meski ditinggal orang-orang yang dikasihi karena terjangkit virus tersebut?

    Sanggupkah kamu berbahagia dalam kesederhanaan meski tak bisa dan tak diperbolehkan ikut perayaan ekaristi di Gereja?

    Bahagia dibangun di atas dasar iman

    Bahagia harus dibangun di atas iman! Tak ada jalan lain selain itu! Iman bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan menyelamatkan! Bahwa andaipun kita termasuk golongan yang tak akan terselamatkan dari virus ini, di alam kematian nanti Tuhan menanti dalam kebahagiaan yang abadi.

    Bahwa andaipun hidup kita jadi berubah total karena keadaan ekonomi dan sosial yang mengenaskan, tapi dalam iman, kita percaya Tuhan tetap akan memberikan penghiburan entah bagaimanapun caraNya!

    Maka kebahagiaan, mula-mula haruslah diterbitkan karena kita masih punya iman!

    ***

    Sekitar satu jam kemudian, Pak Narto kembali datang ke kelas. Dengan senyum terhias di wajahnya, ia berkata, ?Bagaimana anak-anak? Adakah yang bisa memberikan jawaban untuk menyederhanakan persamaan ini??

    Kami menggeleng, ?Tidak, Pak!?

    Ia tertawa? ?Memang tak ada yang bisa disederhanakan? Tapi saya senang karena kalian jadi punya kesibukan selama saya ada rapat tadi. Makasih ya!?

    Jadi, kalian takut? Kalian frustrasi? Kalian merasa tak bahagia? Sederhanakan bahagiamu meski dunia sedang rumit-rumitnya?

  • Bersyukurlah untuk tujuh hal ini di masa pandemik Corona Virus

    Bersyukurlah untuk tujuh hal ini di masa pandemik Corona Virus

    Sebagai umat Tuhan, kita diajak untuk bersyukur selalu dalam setiap kesempatan. Tapi bagaimana mensyukuri hari-hari ini? Dunia sedang terinfeksi Corona Virus dan begitu banyak imbas yang sedang dan akan kita alami tak hanya soal kesehatan tapi juga ekonomi, stabilitas politik dan nasional serta masih banyak lagi. Lantas apa yang harus disyukuri kalau begitu? Haruskah kita berhenti bersyukur? Itulah tantangannya.? Bersyukur pun penuh tantangan dan ini adalah daftar tujuh hal yang menurutku masih bisa kita jadikan bahan untuk disyukuri di tengah kondisi dunia yang tidak menentu ini.

    Tujuh hal yang layak disyukuri

    Memperhatikan kesehatan
    Merebaknya Corona Virus membuatku lebih memperhatikan kesehatan ketimbang sebelum-sebelumnya. Ajakan untuk menjaga kebersihan kusambut dengan begitu sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air maupun hand sanitizer berbasis alkohol. Awalnya susah tapi lama-kelamaan jadi kebiasaan. Syukurilah!

    Memperhatikan orang lain
    Terutama terhadap rekan kerja, kalau sebelumnya aku hanya asal ucap, ?Hi, how are you?? lalu tak terlalu memperhatikan apapun jawabannya, akhir-akhir ini aku lebih memperhatikan jawaban dari mereka ketika kutanya demikian. Terhadap anak buah, aku jadi lebih sering bertanya apakah mereka baik-baik saja dan memperhatikan jawaban secara detail.?

    Berpikir tentang kematian
    Corona Virus membuatku berpikir lebih tentang kematian. Bukannya aku tak pernah berpikir, tapi dengan adanya pandemik ini aku jadi lebih memikirkan lagi tentang hal yang pasti akan kita alami terlepas karena Corona Virus atau karena hal-hal lain. Tapi apa yang perlu disyukuri dari berpikir tentang kematian? Tentu ini adalah hal yang perlu kita syukuri karena kita jadi sadar akan takdir kita sebagai manusia dan tentu sebagai orang beriman, kita tahu setelah mati kita akan berjumpa dengan sosok yang kita idam-idamkan untuk bertemu, Yesus Kristus!

    Berpikir untuk berharap
    Saat kita terjatuh, kita dilatih untuk berharap. Meski sedang tidak menentu, ada begitu banyak orang menawarkan harapan melalui berbagai macam cara. Para pemimpin bicara tentang strategi jalan keluar dari masalah, para ahli kesehatan saling berlomba-lomba untuk mencari obat ampuh pembasmi virus. Itulah harapan, kita bersyukur bisa berharap.

    Waktu bersama keluarga lebih banyak
    Ada banyak perusahaan menerapkan aturan bekerja dari rumah untuk mengurangi penyebaran virus. Bersyukurlah karena kamu bisa bekerja di rumah bersama anak-anak dan pasangan hidup. Kalau selama ini kamu selalu makan di luar selama makan siang, selama bekerja di rumah kamu bisa makan bersama keluarga. Kalau jam perjumpaanmu dengan anak-anak selama ini cuma malam menjelang tidur dan pagi sebelum berangkat kerja, kini banyak waktu terluangkan. Syukurilah!

    Berlatih teknologi baru, teknologi komunikasi jarak jauh
    Salah satu hal yang paling disyukuri terkait penyebaran Corona Virus ini, utamanya bagi dunia kerja adalah bahwa teknologi komunikasi jarak jauh yang melibatkan audio visual sudah cukup matang baik piranti lunak maupun jaringan yang menghubungkannya. Hal ini membuat keputusan untuk meminta karyawan bekerja dari rumah di banyak sektor bisa dilakukan dengan baik. Meeting bahkan presentasi design bisa kulakukan lewat aplikasi.

    Bersyukurlah untuk waktu-waktu indah yang sudah diberi
    Pandemik Corona Virus dan bayangan yang buruk tentang masa depan membuat kita justru mampu bersyukur untuk waktu-waktu indah yang sudah Tuhan beri. Mari mulai menghitung berkatNya yang sudah diberikan sejauh ini. Membuka foto album di social media, mengingat masa-masa indah yang sudah pernah ada. Dan? bersyukurlah!

  • Di manakah Tuhan berada di saat Corona Virus merebak?

    Di manakah Tuhan berada di saat Corona Virus merebak?

    Dunia benar-benar sedang dilanda kepanikan luar biasa akibat Novel Corona Virus atau yang lebih dikenal sebagai COVID-19. Tak pandang bulu! Tokoh maupun rakyat jelata. Orang kaya orang miskin. Kulit putih, kuning langsat maupun hitam semua rentan terkena virus yang berasal dari Wuhan, RRC tersebut. Pemerintah berbagai negara berusaha keras menanggulangi penyebaran virus yang sayangnya masih belum ditemukan vaksinasinya itu. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi jika semua ini tak tertanggulangi dalam kurun waktu yang panjang? Ekonomi babak belur berujung resesi, stabilitas masyarakat sipil bisa terbentur-bentur dan masih banyak lagi.?Di saat-saat seperti ini, terkadang terbit pertanyaan di dalam benak, ?Di manakah Tuhan berada di saat kita sangat membutuhkanNya?? Adakah Ia peduli? Adakah Ia mengerti beban ini??

    Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?

    Aku tertarik mengingat kembali kisah yang ditulis Lukas tentang Yesus yang meredakan badai.

    Ketika itu, Yesus mengajak para murid pergi menyeberangi Danau Galilea. Namun ketika sedang berlayar, Yesus tertidur. Tak lama kemudian, turunlah taufan (badai) ke danau sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya.

    Para murid panik lalu membangunkanNya, ?Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?? (lih. Markus 4:38) Yesus lantas bangun dan menghardik angin serta air itu hingga reda. Setelah itu Yesus pun menegur mereka, ?Di manakah kepercayaanmu??

    Adakah Yesus pun sedang tidur saat ini sementara kita ketakutan menghalau badai COVID-19? Aku memilih tak ingin mempersoalkan hal yang aku tak tahu sama sekali. Yang kupegang adalah apa yang diucapkanNya, ?Di manakah kepercayaanmu??

    Maka kita dituntut percaya pada penyertaanNya meski di mata dan pikiran kita berpikir Ia sedang tidur sekalipun. Jadi yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita menerima penyertaanNya dan bagaimana pula orang-orang melihat sikap kita sebagai orang yang mengimaniNya.

    Kita dituntut percaya menghadapi peristiwa ini. Percaya bahwa penyertaanNya sempurna dan tidak ada satu rencana pun dariNya yang membuat kita celaka dan tak ada satupun hal yang bisa mencelakai kita asal kita percaya kepadaNya! Kalaupun kita harus mati entah karena corona atau apapun yang lain (memang semua akan mati, bukan?) kematian bukan akhir yang mencelakakan. Ia adalah gerbang untuk sampai pada hidup nan abadi di surga.

    Ciri orang percaya pada penyertaanNya

    Tapi bagaimana menjadi orang yang percaya pada penyertaanNya?

    Waspada
    Orang yang percaya pada penyertaanNya justru adalah orang yang waspada dan mengikuti aturan-aturan yang diterbitkan pemerintah dan otoritas terkait lainnya untuk kepentingan bersama. Memang benar hidup dan mati di tangan Tuhan, tapi apakah menurutmu Tuhan juga tak menyertai niatan baik pemerintah dalam menerbitkan aturan?

    Tidak takut
    Siang ini aku membaca tweet dari seorang tokoh yang kukagumi, Elon Musk. Begini isi tweetnya, ?Fear is mind-killer!? Benar! Ketakutan itu membunuh akal padahal sebagai orang beriman, kita percaya bahwa akal adalah pemberian Tuhan sebagai wujud penyertaanNya! Khawatir ?dikit-dikit? boleh lah, tapi kalau sampai takut dan ketakutan itu membunuh akal kan kebangeten namanya?

    Berjaga
    Tapi sebagai orang percaya kita juga dituntut untuk berjaga. Mempersiapkan segala hal untuk masuk ke periode yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Ingat cerita sahabat pengantin yang membawa minyak? Mereka membawa minyak secukupnya untuk berjaga-jaga. Maka sama dengan itu, kita perlu berjaga-jaga dengan memiliki persediaan secukupnya, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan.

    Berbahagia
    Beriman itu berbahagia dalam situasi apapun. Maka, meski fisik barangkali bisa terenggut tapi jangan sampai kebahagiaan pun jadi alpa dibuatnya! Berbahagia dibangun atas hal-hal kecil. Bisa mendapatkan tissue paper ketika yang lain harus bertarung mendapatkannya? Berbahagialah! Bisa punya waktu lebih di rumah karena bos meminta kita bekerja dari rumah, syukurilah!

    Di manakah Tuhan berada? Dalam hati dan sikap hidup orang percaya!

    Beberapa hari yang lalu saat chaos mencari tissue toilet. Aku menyerbu toko berlarian bersama puluhan yang lain ke bagian tissue toilet lalu tiba-tiba ada seorang pria setengah baya. Dibawanya empat bungkus sesuai batasan yang diijinkan untuk dibeli saat itu. Tapi ketika ia melihat ada seorang ibu renta yang tak mendapat apapun, pria tadi lantas memberikan satu bagian kepadanya.

    Pria tadi manusia biasa. Aku tak kenal dan tak tahu pula apakah ia beragama apa. Tapi satu hal, Tuhan menyertainya. Hal itu tampak dari kebaikan yang dilakukannya.

    Jadi kalau ada yang bertanya di manakah Tuhan berada di saat krisis seperti ini? Ia menyertai kita semua termasuk pria itu, aku, kamu dan kita semua.

    Tetap semangat!

    Sydney, 16 Maret 2020

  • Mengampuni atau pura-pura mengampuni

    Mengampuni atau pura-pura mengampuni

    Hari ini Yesus bicara tentang bagaimana kita seharusnya mengampuni. PerintahNya jelas, ampunilah (orang lain yang bersalah) jika ingin kesalahan kita pun diampuniNya.

    Tapi sesulit apa sih sikap hati untuk tidak menghukum orang lain ketika kita tahu bahwa orang itu memang benar-benar bersalah? 

    Misalnya ada seorang ketahuan nyopet di terminal bus. Ramai orang lantas memukulinya dan sekiranya kamu tersadar bahwa dompetmu termasuk yang juga dicopetnya, adakah kamu tak tertarik untuk ikutan memukuli?

    Begitu juga tentang perselingkuhan. Ada sepasang suami-istri menikah lalu tiba-tiba sang suami selingkuh dengan wanita lain dan ketika sang suami terang-terangan mengakui perbuatannya, seringan apa sang istri bisa langsung mengampuninya saat itu juga dan bilang, ?Nggak papa.. Aku sudah memaafkanmu??

    Mengampuni? Tak mudah!

    Tak semua orang bisa mengampuni dengan mudah dan kita tak perlu menganggap rendah orang seperti itu. Kita tidak pernah tahu ada apa dibalik ketidakmudahan itu. Bisa jadi memang hatinya keras bagai pualam. Tapi barangkali justru karena ia memandang pengampunan itu bukan perkara remeh-temeh  yang mudah diberikan.

    Sebaliknya, tak semua yang mudah mengampuni sejatinya sudah benar-benar mengampuni kesalahan orang lain lho. Siapa tahu alasannya karena ia ingin cepat-cepat diampuni kesalahannya juga oleh Tuhan maka ia pura-pura mengampuni. Siapa tahu ia tak pernah mengampuni tapi melupakan? Dua hal yang sangat berbeda secara hakikat, bukan?

    Pengampunan itu perkara serius

    Pengampunan memang perkara serius bahkan Tuhan sendiri juga sangat serius ketika membuka jalan pengampunan bagi manusia. Ia harus turun ke bumi, merendahkan diri serendah-rendahNya, mengalami sengsara bahkan akhirnya harus menyerahkan nyawa di atas kayu salib.

    Pengampunan juga bukan hal yang sekali jadi. Ia adalah sebuah proses panjang. Maka kalau ada yang merasa sudah mengampuni tapi tak lama kemudian tiba-tiba perasaan dendam muncul kembali di dalam benak hal itu lumrah saja terjadi karena memang proses pengampunan belum selesai.

    Tiga tahap mengampuni

    Memulai untuk mengampuni adalah dengan mulai menyelesaikan persoalan di dalam diri terlebih dulu. Dalam konteks nyata, membuka pintu maaf dimulai dengan menyadari apa yang telah terjadi, apa yang telah melukai dan kenapa kita bisa sampai terluka olehnya.

    Seorang bisa mengampuni harusnya tahu secara sadar apa yang harus diampunkan. Kan nggak lucu kalau ada orang bilang, ?Aku udah mengampunimu? tapi ketika ditanya apa yang harus diampuni ia menggeleng tidak tahu.

    Tahap kedua adalah dengan menyadari bahwa meski sakit, hidup ini berjalan terus maka kita harus move on!  Menganggap hal yang terjadi sebagai pelajaran dan menemukan solusi untuk ke depan supaya hal seperti itu tak terjadi lagi.

    Barulah di tahap selanjutnya kita memaafkan meski barangkali orang tadi belum meminta maaf. Memaafkan adalah wujud kedewasaan hati dan pilihan sikap hidup yang menghadap ke masa depan yang tak mau dibebani dengan hal-hal yang belum terselesaikan di masa lalu.

    Berakhir sampai sini? Tidak! Kan Yesus sendiri bilang memaafkan itu tujuh puluh kali tujuh banyaknya, maka lakukanlah demikian adanya, berulang-ulang, tertatih-tatih, terhuyung-huyung hingga akhirnya di ujung sana nanti, semua bersih cemerlang tanpa jelaga.

    Sydney, 10 Maret 2020

  • MengikutiNya dan tantangan meninggalkan cara hidup lama

    MengikutiNya dan tantangan meninggalkan cara hidup lama

    Adalah seorang pemungut cukai bernama Lewi. Ketika sedang duduk-duduk, ia didatangi Yesus yang berkata, ?Ikutlah Aku!?. Lewi menanggapi. Ia berdiri dan meninggalkan segala sesuatunya lalu mengikut Yesus.

    Seperti halnya kita, Lewi adalah pendosa. Yesus mendatangi Lewi dan begitulah juga Ia datang dalam hidup kita untuk keselamatan abadi. Sebagaimana Lewi, kita diharapkan menanggapi ajakanNya dengan cara meninggalkan segala sesuatu untuk menerimaNya dalam pembaptisan dan hidup sebagai orang kristiani. 

    Meninggalkan segala sesuatu??

    Yang jadi permenunganku adalah, bagaimana memahami konsep ?meninggalkan segala sesuatu? tersebut?

    Mari kita kembali dulu ke cerita Si Lewi.

    Apa yang dilakukan setelah ia mengikuti Yesus? Uniknya, Lewi justru mengajak Yesus datang ke rumahnya. Di sana Lewi mengadakan pesta besar dan mengundang kawan-kawan seprofesinya, sesama pemungut cukai.

    Bukankah Lewi bilang ia meninggalkan segala sesuatunya? Bukankah rumah, pesta-pesta dan kawan-kawan sesama pemungut cukai adalah ?sesuatu? yang harus ditinggalkan untuk mengikutiNya? Kenapa ia malah kembali ke rumah dan mengadakan perjamuan di sana meski itu diadakan untuk Yesus? 

    Sebagai orang beriman, meninggalkan segala sesuatu itu bukan berarti lantas menutup pintu terhadap siapapun dan segala apapun demiNya. 

    Lewi kembali ke rumah karena hendak mengadakan pesta bagi Tuhan. Kalau ia tak ke rumah, ke mana ia bisa menghelat acara itu? Lewi mengundang kawan-kawannya sesama pemungut cukai supaya mereka pun punya kesempatan yang sama dengan dirinya, bertemu dan mengalami proses ?diajak?  Tuhan untuk mengikutiNya.

    Yang ditinggalkan Lewi adalah cara hidup lamanya. Jika sebelumnya ia memungut cukai, sejak bertemu Yesus ia setuju untuk tidak lagi menjalankan profesi itu. 

    Hidup baru, tinggalkan cara lama

    Maka meninggalkan segala sesuatu karena mengikuti Yesus bukan berarti bahwa kita lantas menarik diri dari pergaulan dan tak mau lagi menggunakan segala sesuatu yang semula kita pergunakan.

    Tentu yang tidak membawa manfaat harus kita tinggalkan, tapi selainnya itu kita justru harus terus berada dalam pergaulan bukan untuk mengikuti cara-cara lama saat kita belum mengikutiNya tapi untuk menjadi saksi bahwa meski kita pernah jadi ?makhluk dengan cara lama? tapi Yesus mengubah kita menjadi baru!

    Tapi, DV, mana bisa sih kita tetap berada di pergaulan itu tapi tak lagi melakukan hal-hal yang sebelumnya kita lakukan? Misalnya aku terbiasa bergaul dengan kawan-kawan yang suka nonton bokep dan minum-minuman beralkohol sampai berlebihan. Apa mungkin aku tetap bisa bergaul tanpa melakukan itu semua?

    Disitulah salibnya, disitulah tantangannya. Berani?

    Tapi kalau begitu nanti malah kita ditinggalkan dan dianggap sok suci, Don?

    Disitulah salibnya, disitulah tantangannya. Berani?

    Sydney, 6 Maret 2020

  • Surat Keuskupan Agung Semarang tentang Pencegahan Penularan dan Penyebaran Virus Corona

    Surat Keuskupan Agung Semarang tentang Pencegahan Penularan dan Penyebaran Virus Corona

    Setelah kemarin aku merilis tentang himbauan Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) terkait ?virus corona?, hari ini aku mendapatkan edaran serupa dari Keuskupan Agung Semarang (KAS). Yuk kita membandingkan dan menguliti poin-per-poin.

    SARS-COV-2 vs “Virus Corona”

    Pada bagian judul, KAS menggunakan pilihan kata yang lebih awam. Jika KAJ memilih menggunakan istilah ?teknis? SARS-COV-2, surat dari KAS dikepalai dengan judul Pencegahan Penularan dan Penyebaran Virus Corona. Aku pribadi lebih suka menggunakan istilah ?Virus Corona? karena lebih umum dibandingkan dengan SARS-COV-2.

    Pada bagian pembuka, surat dari KAS lebih panjang ketimbang surat KAJ yang ringkas nan padat. Monsinyur Rubi, panggilan akrab Mgr. Robertus Rubianto, Uskup Agung Semarang yang menandatangani surat tersebut, pada bagian pembukaan menyampaikan banyak hal terkait fenomena virus korona ini. Tidak ada yang lebih baik maupun yang lebih buruk. Kedua surat dari dua keuskupan agung ini menurutku adalah cara Gereja menyesuaikan diri dengan audiens masing-masing. Orang-orang Jawa Tengah barangkali lebih suka penjelasan panjang lebar sementara orang-orang Jakarta lebih suka yang singkat dan padat.

    Boleh tidak ke gereja vs Boleh ke Gereja tapi sebaiknya ber-masker

    Berbeda dengan KAJ yang menyarankan bagi mereka yang sakit untuk tidak perlu ke Gereja, surat dari KAS tidak menyebut pasal tersebut. Kenapa? Barangkali karena pada pasal sebelumnya, KAS sudah menganjurkan supaya yang merasa sakit flu/pilek, batuk dan sakit tenggorokan menggunakan masker. Jadi, bisa diartikan, meski sakit, asal pakai master silakan datang ke Gereja untuk ikut perayaan ekaristi seperti biasa.

    Tanpa Air Suci selama ‘masa genting virus corona’

    Jika KAJ masih menyediakan air suci, KAS membuka peluang untuk meniadakan air suci selama keadaan genting terkait Virus Corona. 

    Salam Damai

    KAJ memperbolehkan umat berjabat tangan saat ?Salam Damai? dengan catatan supaya umat memperhatikan kebersihan tangan masing-masing, di KAS, umat diminta untuk tidak berjabat tangan. Sebagai gantinya adalah saling menganggukkan kepala atau membungkukkan badan tanpa berjabat tangan.

    Penerimaan komuni ke tangan dan ajakan supaya para pastor dan prodiakon mencuci tangan dulu sebelum membagikan komuni

    Jika KAJ menganjurkan komuni pada tangan, namun tetap memperbolehkan penerimaan komuni langsung ke lidah/mulut, KAS dengan tegas menulis komuni diterimakan pada tangan saja. Yang menarik adalah, KAS meminta para pastor dan prodiakon untuk menyuci tangan terlebih dahulu sebelum membagikan komuni. Hal ini menarik dan sangat baik baik secara fisik maupun spiritual. Secara fisik jelas untuk mencegah penyebaran Virus Corona, secara spiritual adalah makin menampakkan penghormatan kita terhadap Tubuh Kristus sendiri. Tubuh Kristus yang diterimakan tidak terkontaminasi Virus Corona yang mungkin saja bisa hinggap di tangan petugas, bukan?

    Bawa salib? Tak perlu!

    Terkait upacara penghormatan salib di hari Jumat Agung, baik KAJ maupun KAS, keduanya sama-sama menganjurkan untuk tidak menjalankan ritual seperti tahun-tahun sebelumnya dimana umat diperbolehkan mencium salib yang sudah disediakan.

    Bedanya, KAJ meminta umat untuk membawa salib masing-masing sedangkan KAS tidak. KAS memperbolehkan umat untuk tetap maju menghormati salib tapi cukup membungkuk tanpa memegang apalagi menciumnya.

    Mana yang lebih baik?
    Ya sama-sama baiknya karena Gereja Katolik itu dimanapun kan tetap sama :)?

    Sydney, 4 Maret 2020

  • Tanda apa yang bisa kita berikan kepadaNya supaya Tuhan percaya bahwa kita percaya?

    Tanda apa yang bisa kita berikan kepadaNya supaya Tuhan percaya bahwa kita percaya?

    Banyak orang Yahudi yang hidup di jaman Yesus sebenarnya ingin percaya kepadaNya. Sayangnya keinginan itu bersyarat. Mereka butuh tanda dari langit untuk percaya bahwa Yesus adalah Almasih yang dijanjikan Allah. Padahal Yesus tidak tinggal diam. Ia sudah membuat begitu banyak mukjizat dan melakukan pengajaran di sinagoga-sinagoga tapi tetap saja, semua itu belum membuat mereka percaya. Saking geramnya, Yesus pun menyatakan betapa angkatan tersebut (orang-orang Yahudi di jamanNya) adalah angkatan yang jahat.

    Dua ribu tahun sesudah Ia naik ke surga, masih ada begitu banyak orang yang membutuhkan tanda seperti orang-orang Yahudi tadi demi untuk percaya kepadaNya. Tanda tentang diriNya bukannya tak pernah diberikan. 

    Mencari penanda dariNya

    Ada orang yang konon berpindah agama menjadi kristiani karena dalam doa dan mimpi, ia beberapa kali didatangi sosok mirip Yesus atau Bunda Maria. Hal itu lantas membuatnya mencari tahu dan mempelajari keyakinan akan Yesus dan memutuskan diri untuk dibaptis.

    Ada juga yang sakit dan karena sudah hilang harapan, ia yang awalnya bukan kristiani secara iseng minta disembuhkan oleh Yesus. Lalu penyakit itu sembuh dan orang tadi jadi percaya dan memeluk Katolik.

    Tapi itu kan mereka yang ?beruntung? diberi tanda, bagaimana dengan kita yang merasa tidak diberi penanda? Lantas dengan apakah kita bisa percaya?

    ?Aku sih tak perlu tanda. Aku jadi Katolik karena tak punya pilihan, Don! Orang tuaku katolik dan sejak lahir aku dibaptis! Kalau aku pindah agama, tak terbayang mereka pasti akan marah dan kecewa!? Ada yang beralasan seperti itu.

    Tanda itu penting, tetap perlu dicari tapi yang lebih penting adalah pikiran dan hati yang terbuka sehingga ketika sudah ketemu kita pun peka dan sadar akan keberadaanNya.

    Bicara tentang penanda, selain penting untuk mencari tanda, hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kita untuk memberi tanda.

    Memberi tanda kepadaNya

    Hah? Kita? Dalam bentuk apa dan untuk siapa?

    Ya! Kita sering mengklaim sebagai orang yang mengaku sudah percaya kepadaNya. Pertanyaannya adalah, hal apakah yang bisa menandakan bahwa kita ini adalah salah satu bagian dari kaumNya?

    Barangkali kalian bisa bilang, ?Ah, tak perlu memberi tanda bahwa kita ini adalah orang yang sudah mengimaninya. Yang penting Tuhan tahu!?

    Maaf, tapi bagiku, komentar seperti ini termasuk komentar yang sok tahu. Sok tahu terhadap Tuhan bahwa Ia pasti tahu bahwa kita sudah percaya kepadaNya. 

    Iman itu butuh pembuktian dan untuk meyakinkan Tuhan, kita perlu memberi tanda-tanda itu. Hal ini penting supaya kelak ketika masuk ke alam keabadian, kitapun diselamatkanNya.

    Lalu tanda-tanda apa yang Tuhan perlukan?

    Mari kita ingat apa yang diajarkan Yesus tentang Hukum Kasih.?

    ?Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. ? Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri? (Mat 22:37-40)

    Maka, menjadi penanda bahwa kita ini adalah orang yang percaya ya dengan setidaknya menjalankan hukum kasih tersebut. Bagaimana kita menunjukkan kesetiaan kepada Allah melalui gerejaNya. Bagaimana kita menjalankan hidup yang benar dan tak melanggar aturan-aturanNya. Bagaimana kita mengasihi sesama kita termasuk mereka yang memusuhi dan melawan kita.

    Sanggup untuk seperti itu?
    Jangan cuma menuntut tanda dariNya tapi juga seberapa jauh kita sudah berusaha menandai diri sebagai insan yang nantinya akan diselamatkan?

    Sydney, 4 Maret 2020

  • Upaya pencegahan penularan dan penyebaran SARS-COV-2 di Gereja Keuskupan Agung Jakarta

    Upaya pencegahan penularan dan penyebaran SARS-COV-2 di Gereja Keuskupan Agung Jakarta

    Terkait merebaknya penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19), Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengeluarkan surat ?himbauan teknis? dengan tajuk UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN DAN PENYEBARAN SARS-COV-2 DI GEREJA KAJ. Hal ini membuatku bangga karena menunjukkan kepekaan Gereja terhadap lingkungan sekitar. Gereja sadar bahwa meski Ia adalah entitas suci tapi manusia-manusianya tetap saja lemah dan rentan terhadap penyakit termasuk penyebaran virus COVID-19 ini.

    Surat yang dikeluarkan pada 2 Maret 2020 dan ditandatangani oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Samuel Pangestu, Pr ini dibuka dengan anjuran untuk tidak panik namun tetap waspada. Adapun poin-poin mendetailnya adalah sebagai berikut:

    Umat dapat tetap beribadah di Gereja namun bagi mereka yang sedang menderita sakit pernapasan (batuk, pilek, sakit tenggorokan) disarankan untuk tinggal di rumah dan berobat ke dokter.

    Hore! Kita boleh tidak ke Gereja?
    Hahaha, sebenarnya siapa juga yang memaksa? :) Kalau memang malas ke Gereja tak usah menggunakan momentum ini sebagai alasan, bukan??

    Dalam situasi sekarang, seseorang yang sedang sakit pernapasan disarankan untuk tidak ke Gereja, tinggal di rumah dan berobat ke dokter. Kenapa? Karena media penularan virus ini adalah melalui ludah yang menyembur entah melalui bersin maupun batuk. Nah, daripada nebar virus di Gereja mending istirahat dulu di rumah dan berobat jika perlu!

    Diharapkan umat merawat kebersihan tangannya masing-masing dengan membawa hand sanitizer sendiri

    Sudah jelas dong?
    Hand sanitizer (yang berbasis alkohol) itu perlu untuk membunuh kuman/bakteri/virus yang mungkin menempel di tangan. Jadi misalnya orang sebelah ngajak salaman pas Salam Damai atau bergandeng tangan saat menyanyikan Bapa Kami, kalau nggak enak menolak ya tetaplah bersalaman. Tapi sesudahnya, pakai hand sanitizer! Gampang, kan?

    Air suci di pintu masuk Gereja tetap disediakan. Umat dapat menggunakan atau tidak.

    Bagi pembaca non-Katolik, dekat pintu masuk Gereja biasanya terpasang sebuah mangkuk kecil berisi air suci yang sudah diberkati. Umat yang masuk, mencelupkan jari ke air itu lalu membuat tanda salib.

    Aku ingat saat virus H1N1 sedang menyebar di tahun 2009 lampau, Gereja-gereja di Australia bahkan mengeringkan mangkuk air suci sehingga umat tak mengambilnya.

    Penerimaan komuni dianjurkan sebaiknya menggunakan tangan saja

    Karena sebagian orang biasanya memilih menerima komuni langsung ke lidah, pihak KAJ sadar bahwa ludah yang jadi media penghantar virus punya potensi lebih mudah terpercik ketika tangan pastor/pro-diakon yang memberi komuni menaruhNya ke lidah penerima.

    Ritus salam damai dengan bersalaman masih dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kebersihan tangan masing-masing atau umat boleh tidak melakukan Salam Damai

    Aku bisa membayangkan barangkali ini adalah yang paling susah untuk dipraktekkan di Indonesia. Dalam perayaan ekaristi, Salam Damai yang intinya adalah untuk mengucap ?Damai Kristus? di samping kanan-kiri, dilakukan dengan berjabat tangan. Bayangkan kalau ada yang memilih untuk tidak mau bersalaman karena mencegah penyebaran virus, ia bisa jadi sumber ketersinggungan ketika ada orang lain hendak menyalami tapi ditolak, bukan?

    Kalau di Australia sini, Salam Damai memang tidak identik dengan jabat tangan. Banyak orang tidak mengulurkan tangan tapi hanya mengangguk dan tersenyum dan menyampaikan pesan, ?Peace be with you!? 

    Pada upacara penghormatan salib dalam ibadat Jumat Agung, untuk tahun 2020 ini, umat dipersilakan membawa dan menggunakan salibnya masing-masing.

    Corona virus menyebar tepat menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, umat Katolik memperingati wafat Kristus. Ibadat sore (biasanya jam 3 sore bertepatan dengan jam perkiraan Yesus wafat, 2000 tahun silam) ditandai dengan ibadat cium salib. Umat maju satu per satu ke depan altar lalu mencium salib yang dibawa petugas liturgi.

    Untuk menanggulangi penyebaran virus Corona yang bisa saja terjadi melalui ciuman di salib yang sama, Gereja mengambil langkah brilian ini. Tapi bawa salib ke Gereja? Apa harus copot salib yang tergantung di dinding kamar? Ya kalau bisa nggak papa, tapi kalau repot, bukankah salib Tuhan juga ada di rosario? Kenapa tak bawa saja rosario kalian?

    Sydney, 3 Maret 2020

  • Tentang S3 Vatikan dan cara pandang kita terhadap agama

    Tentang S3 Vatikan dan cara pandang kita terhadap agama

    Beberapa hari belakangan beredar berita tentang sebuah papan iklan pinggir jalan yang menginformasikan seorang yang sepertinya pemuka agama hendak mengadakan acara. Uniknya di bagian bawah iklan tersebut ada keterangan yang menyebut bahwa yang bersangkutan adalah seorang yang tadinya beragama kristiani, mantan pastor/romo dan meraih gelar S3 Vatikan. Lucunya lagi, di iklan sebelumnya dia ditulis sebagai peraih gelar S2 Vatican. Jadi yang benar yang mana?

    S3 Vatikan, menggelikan?

    Menggelikan? Iya!
    Banyak orang merespon hal tersebut di socmed. Wajar? Ya wajar namanya juga menggelikan kok :) Ada yang bahkan sampai mencari rekam jejak ybs dan ditengarai bahwa semua itu hanya ?tipu-tipu? belaka.

    Kalau memang benar yang bersangkutan hanya tipu-tipu saja tentu hal ini memprihatinkan karena seolah agama yang menyuarakan Tuhan kok dibuat main-main? Apa dalih dan niatnya? Ketenaran? Uang? Atau jangan-jangan politik? Tak tahu!

    Tapi sebenarnya kalau mau jujur, yang menggelikan itu bukan cuma kejadian ‘S3 Vatikan’ tersebut! Lebih dari satu dekade lalu, saat masih tinggal di Indonesia aku pernah diajak nonton VCD yang berisi rekaman kesaksian seorang dukun santet kenamaan di Tanah Air yang katanya berpindah keyakinan.

    Waktu itu, di kalangan sendiri, cukup ramai sih VCD itu. Bagi sebagian orang, yang bikin ramai tentu karena embel-embel ?dukun santet terkenal?. Coba kalau ia adalah seorang penjual rokok di warung kaki lima tak jauh dari rumahmu, tentu tak seheboh itu. Bagi sebagian orang, barangkali dengan menonton tayangan tersebut, mereka jadi makin lega memeluk iman karena ?Dukun santet aja bertobat! Kamu kapan??

    Tapi yang menggelikan, beberapa tahun kemudian si dukun buka suara bahwa dia sebenarnya tidak pernah pindah agama. Dia memang pernah dekat dengan beberapa pemuka agama tertentu karena waktu itu anggota keluarganya ada yang hilang entah ke mana dan mereka, para pemuka itu, sanggup mencarikan entah dengan cara apa. Tapi adakah ia pindah agama? Katanya tidak.

    Kenapa semua hal-hal yang menggelikan ini terjadi? Kenapa kita gampang dibuat takjub dengan hal-hal yang tampak wah padahal penuh muslihat itu? 

    Cara pandang kita terhadap agama

    Menurutku yang salah adalah pola pikir dan cara pandang orang tentang agama.

    Bagi sebagian orang, agama mungkin dianggap seperti kesebelasan sepakbola dimana kita adalah para pendukungnya. Ketika ada pemain yang ditransfer dari kesebelasan A ke kesebelasan B, pendukung B bersorak-sorak sementara tim A bersedih kehilangan. Apalagi kalau ternyata acara kepindahan pemain itu disertai embel-embel, ?Mantan striker top kesebelasan A? Wah, pendukung bakal memenuhi stadion saat B bertanding. Mereka menantikan kiprahnya. Padahal mereka tidak tahu ternyata si pemain pindahan itu memang striker kesebelasan A tapi untuk tim divisi 3 alias divisi bontot.

    Kita bisa memandang agama ibarat gerbong kereta saja. Gerbong boleh bermacam-macam tapi tujuannya tetap sama karena kan lokomotifnya tak berbeda?

    Maka ketika ada penumpang yang pindah dari gerbong lain ke gerbong kita ya kita terima dengan baik. Kalau ternyata kita tidak nyaman karena gerbong bau kentut, bau telur busuk atau bau abab yang tak menyenangkan, tutup hidung. Kalau tak tahan ya pindahlah ke gerbong yang lebih harum dengan tanpa beban. Tanpa merasa harus sungkan dengan teman segerbong sebelumnya tanpa merasa harus merunduk-runduk terhadap teman gerbong baru. Tak perlu juga jumawa hanya gara-gara kamu mantan anak gerbong A karena ya mau sejumawa apapun tujuannya tetap sama. 

    Lebih baik berlaku biasa dan kalem-kalem saja sambil jangan lupa memastikan tiket kereta ada di saku kemeja sehingga ketika ada pemeriksaan kamu bisa menunjukkan dan tak ditendang keluar karena kalau sudah begitu, kamu tak bisa masuk ke gerbong manapun dan harus keluar tanpa tujuan?

    Sydney, 21 Februari 2020

  • Jamahan Tuhan dan tantangan kita untuk bersaksi atasNya

    Jamahan Tuhan dan tantangan kita untuk bersaksi atasNya

    Seorang buta yang ingin mendapat jamahan supaya sembuh mendapat jawaban tunai dari Yesus: ia bisa melihat! Yang menarik, Yesus tidak melakukannya di depan orang banyak. Ketika itu Ia dan murid-murid sampai di Betsaida. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawanya ke luar kampung. Yang kubayangkan saat itu hanya ada Yesus dan Si Buta lalu Ia pun menyembuhkan. Ketika sudah bisa melihat, Yesus melarangnya untuk masuk kembali ke kampung. Ia justru disuruh pulang ke rumah.?

    Kenapa Yesus tidak melakukannya di depan orang-orang?

    Kenapa Yesus tidak melakukan di depan orang banyak? Kenapa Si Buta dilarang masuk kampung lagi? Menurut perkiraanku adalah karena Ia tak ingin orang-orang jadi ramai karena mukjizat tersebut. Keramaian itu bisa memancing perhatian orang-orang Farisi dan ahli Taurat padahal tugas pelayananNya untuk menyebarkan Injil ke kota-kota dan desa-desa lain belum tuntas.

    Jamahan Tuhan entah dalam kesembuhan, berkat rejeki dan yang lain-lain itu sifatnya pribadi. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang, kalau jamahan itu sifatnya pribadi dan si buta dilarang masuk ke kampung lagi, adakah itu berarti Yesus melarangnya untuk mengabarkan Kabar Baik tersebut? Bukankah jika si buta yang sudah bisa melihat tadi mengumumkan kesembuhannya atas mukjizat yang dilakukan, itu akan membuat orang percaya kepadaNya?

    Jamahan Tuhan dan kesaksian kita dalam wujud tingkah dan perbuatan

    Aku melihatnya tidak demikian. Yesus menghendakinya untuk bersaksi tapi lebih dari sekadar kata-kata belaka ia harus berupa perbuatan baik dalam hidup sehari-hari.

    Setiap kali aku datang ke acara-acara rohani, utamanya persekutuan doa, hal yang paling menyenangkan adalah mendengarkan kesaksian iman dari umat yang hadir. Meski tak semuanya, tapi kadang kesaksian itu amat menguatkan iman. Misalnya tentang orang yang sembuh dari sakit punggung dan lutut bertahun-tahun. Ia percaya disembuhkan karena jamahan Allah. Atau orang yang berjuang melawan hipertensinya, ia merasa disembuhkan Tuhan karena setelah berdoa khusuk, dokter memperbolehkannya untuk tidak perlu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah lagi. Orang jadi punya harapan akan kesembuhan dan itu adalah hal yang baik.

    Tapi dalam konteks Kabar Baik hari ini, kesaksian tak berhenti di situ. Seperti kutulis di atas, Yesus mengajak orang yang dijamah untuk memberi kesaksian melalui perilaku hidup kita sehari-hari di masyarakat.

    Apa yang bisa dilakukan ketika kita sudah sembuh? Adakah hal itu lebih baik dari saat kita belum sembuh? Apa yang bisa diubah dari hidup seseorang yang mengaku dijamah Tuhan dari sakit punggung dan lututnya? Adakah supaya ia bisa lebih leluasa jalan-jalan berwisata saja? Adakah supaya ia tak mengeluh sakit punggung dan jadi kurang tidur  setiap malam saja? Atau adakah ia berpikir bahwa dengan sembuh dari sakit punggung dan lutut, ia bisa bekerja lebih giat, menemani istri dan anak-anaknya lebih nyaman dan jadi lebih aktif dalam pelayanan iman di lingkungannya?

    Sembuh-tidak sembuh tetap memuliakanNya

    Kesembuhan adalah hal yang tak bisa diragukan lagi datang dari Tuhan tapi apa yang bisa kita lakukan dari kesembuhan itu tak lain adalah untuk memuliakan namaNya. Jika dengan sembuh kita malah menjauh dariNya, lantas dengan cara apa kita bersyukur dan berterima kasih atas kesembuhan itu?

    Di titik ini, aku mengajak kalian untuk berpikir sebaliknya, bahwa kesembuhan dalam artian bisa kembali hidup baik tanpa rasa sakit itu bukan segalanya! Seseorang yang diberi kesembuhan adalah seseorang yang diharapkan bisa melakukan lebih banyak kebaikan dalam hidup. Tapi bagi mereka yang belum diberi kesembuhan, hal ini menguatkan bahwa bagaimana usaha untuk tetap memuliakanNya melalui kebaikan-kebaikan yang kita perbuat tetap bisa dilakukan dan Tuhan memandangnya sebagai hal-hal yang baik. 

    Tuhan Allah, semoga tak sesuatu pun menjauhkan aku dari cinta-Mu,
    baik itu kesehatan maupun penyakit?
    (St. Ignasius, Asas dan Dasar dalam Latihan Rohani)

    Sydney, 19 Februari 2020