Kategori: Digital

  • Catatan Enam Windu

    Catatan Enam Windu

    Pa, Ma…
    Aku selalu ingat yang kalian ceritakan tentang apa yang terjadi tepat di hari ini, enam windu silam.

    “Kamu lahir di Sriasih, Klaten. Eyangmu dan Papa menunggu di luar waktu Mama melahirkanmu dibantu bidan. Sekitar jam tiga sore, tiba-tiba ’mak cenger’ suara tangismu banter banget sampai anjing-anjing yang dipelihara para romo di Sangkal Putung njegog kabeh!”

    Kehadiranku mengubah hidup kalian seratus delapan puluh derajat sejak sore itu hingga selamanya! Tidak mudah karena secara usia mungkin kalian terlalu muda. Tapi itulah kehendak Tuhan yang penuh misteri, Ia tak hanya mengijinkan, Ia menghendaki aku ada.

    Pa, Ma… Terima kasih!
    Terima kasih atas cinta dan pengorbanan yang telah kalian berikan kepadaku di sekujur umur. Aku berharap dan selalu berdoa semoga Tuhan saat ini juga sudah menuntasi masa penantian kalian di api pencucian dan kalian pun boleh masuk ke dalam SurgaNya yang asri lestari.

    Doakanlah aku selalu dari sana…
    Hidup memang sejatinya tak pernah mudah tapi apalah arti beban kesulitan ketika aku sudah pasrah berserah di dalamNya?

  • Kenangan dan ketergopohan kita untuk merawatnya

    Kenangan dan ketergopohan kita untuk merawatnya

    Beberapa bulan lalu, melalui kiriman foto seorang kawan yang tinggal di Jogja, aku baru sadar ternyata gerai restaurant asal Amerika, Kentucky Fried Chicken (KFC) yang terletak di Jl Solo di pertigaan IAIN (UIN) sudah tutup.

    Sebagai orang yang tumbuh di era 90an, KFC Jl Solo menyimpan begitu banyak kenangan.

    KFC pertama di Jogja yang sempat membuatku heran kenapa buka di sana dan bukan di Malioboro? Atau kalaupun di Jl Solo kenapa tidak di area Gardena yang bakal lebih ramai? Baru beberapa tahun kemudian aku sadar KFC ada di sana karena melekat di gedung toserba Gelael yang ada di bawahnya. Gelael milik pengusaha Ricardo Gelael, orang yang sama yang membawa lisensi KFC ke Indonesia.

    Sebagian besar waktu yang kuhabiskan di Jogja juga berada di sekitar KFC itu. Saat duduk di bangku SMA, aku indekost di belakang gedung KFC dari tahun 1993 – 1996. Saat membuka kantor tempat usaha, aku dan kawan-kawan juga menyewa gedung (kemudian membangun sendiri) di sekitaran situ dari tahun 2001 – 2008 sebelum akhirnya aku pindah menetap ke Australia hingga sekarang.

    Jumlah berapa kali makan di KFC, bisa dihitung dengan jari, tapi kenangan yang terjadi dan terlukis di sana, tak terwakilkan oleh jari…

    Masih belum hilang keterkejutanku, beberapa hari lalu muncul di instagram bahwa sama halnya dengan KFC, gerai McDonnalds pertama di Jogja yang letaknya di Malioboro Mall juga tutup untuk selamanya sejak pertengahan september ini!

    Duh! Sedihlah!
    Aku termasuk orang pertama yang datang di hari pertama mereka buka untuk menjajal kenikmatan burgernya. McDonnalds di Malioboro Mall menurutku menempati posisi penting sebagai ajang untuk bersosialisasi dan menaikkan derajat kawula muda Jogja 90an. Kalau mau dicap kaya (atau memang kaya beneran), nongkrong aja di sana meski cuma beli kentang atau es krim sebiji, niscaya rasa percaya diri kita akan naik seribu persen apalagi ketika keluar dari sana, tangan kanan membawa tas belanjaan dan tangan kiri menggandeng pacar!

    Sama pula dengan KFC, McDonnalds Malioboro Mall menyimpan begitu banyak memori bagiku dari yang asik sampai asik banget :)

    Kemarin, akun IG Alumni Debritto mengabarkan hal lain lagi.

    Wajah Alex, ketua presidium alumni, mengabarkan bahwa acara temu alumni tahunan MPK (Manuk Pulang Kandang) tahun ini akan jadi reuni terakhir sebelum gedung SMA Kolese De Britto direnovasi.

    Membayangkannya saja sudah menyedihkan bagiku dan mungkin bagi ribuan alumni lainnya. Tempat dimana kami dulu bertumbuh, belajar dan berproses menjadi manusia dewasa akan diubah dan diperbaiki. Sebagai seorang heteroseksual, aku tak punya kenangan romantis di sekolah homogen itu. Tapi, sedihku bisa dibilang berlipat kali dibandingkan kesedihan ketika mendengar bahwa KFC dan MCDonnalds tutup untuk selamanya.

    Sayangnya hidup ini memang tidak memiliki tombol “rewind”. Ia terus bergerak maju sementara masa akan terus berganti dan berlalu. Melalui sarana fisik seperti gedung tempat dimana kenangan terjadi, juga jalanan dan perkakas lain lah kita seperti diberi alat bantu untuk merawat dan mengingat.

    Ketika sarana-sarana itu pada akhirnya berganti dan runtuh dan harus pula jadi bagian yang telah berlalu, kitapun kelabakan meraba dan mencari dengan apa lagi kita mampu mengenang dan bernostalgia…

    Sic transit gloria mundi 
    (Demikianlah kemuliaan dunia akan berlalu…)

  • Resolusi 2024 tercapai: Mengelola Foto Digital

    Resolusi 2024 tercapai: Mengelola Foto Digital

    Salah satu resolusi tahun baru yang sudah terselesaikan meski tahun 2024 baru berlangsung beberapa hari adalah membenahi pengelolaan koleksi foto digitalku. Selama ini, koleksi foto digitalku tersebar di iPhone, dua cloud services besar, Google dan iCloud (Apple) dan ada juga sedikit terpajang di Flickr.

    Workflow-ku dalam hal menyimpan foto selama ini adalah sebagai berikut, dari hasil jepretan iPhone 11 Pro data otomatis tersinkronisasi ke Google Photos. Kenapa aku nggak pakai Apple Photos padahal aku bekerja menggunakan Apple ecosystem? Karena waktu itu sempat bingung dan malas untuk mencari tahu bagaimana cara kerja Apple Photos yang kala itu bernama iPhoto sementara Google Photos cukup straight to the point, tinggal unggah, kelar!

    Sekitar tiga bulan silam, aku mendapat notifikasi dari Google bahwa accountku sudah mencapai lebih dari 75 persen dari quota yang disediakan, 200GB. Untuk meng-upgrade ke paket yang lebih besar, kuota ke 2TB, setiap bulan aku harus membayar 8 dollar lebih mahal ketimbang yang kubayar sekarang. 

    Di waktu yang hampir bersamaan aku juga mendapatkan notifikasi dari Apple iCloud bahwa kuotaku sudah mendekati 75 persen dari quota yang disediakan, 200GB. Untuk meng-upgrade kuota ke 2TB, setiap bulan aku harus membayar 10 dollar. Jika aku harus mengupgrade keduanya, dalam satu bulan aku harus mengeluarkan ekstra 18 dollar. Nggak banyak tentu saja tapi atas nama penghematan karena suku bunga bank yang terus naik, ya harus kulakukan!

    Setelah berpikir dan menganalisa, menjelang akhir tahun 2023, ada tiga keputusan yang kuambil dan semuanya saling terkait satu-sama lain.

    Pertama, memigrasi semua foto ke Apple Photos.

    Kedua, memusatkan semua data yang kerap kuakses di Apple iCloud sementara space yang semula kupakai untuk foto di Google akan kupakai untuk data-data yang sudah jarang kuakses lagi. Misalnya, data mixing dan mastering lagu-laguku yang ukurannya cukup raksasa!

    Ketiga, pada akhirnya, upgrade kuota ke 2TB tidak akan bisa kuhindari. Nah, layanan yang akan kuupgrade adalah Apple iCloud sementara yang Google akan tetap kubiarkan seperti sekarang, 200GB saja atau kalau perlu kudowngroad ke 100GB.

    Oh ya, dengan memigrasi semua foto ke Apple Photos dan melakukan integrasi ke semua device yang kupakai, hal ini ikut membuat space iphone ku melonggar. Maklum, device yang kupakai cukup tua, 1Phone 11 Pro, sudah hampir lima tahun tak kuganti lagi-lagi karena alasan penghematan.

    Mulai 1 Januari 2024 lalu, proses pemindahan pun kumulai. Berikut urutannya.

    1. Mengaktifkan layanan Photos di iCloud. Artinya, sejak pengaktifan, semua foto yang masih tersimpan di device akan tersinkronisasi ke Apple iCloud dan ke depannya, semua foto yang kuambil akan otomatis terhubung ke sana. 
    2. Mendownload semua foto dari Google Photos menggunakan Google Takeout. Total fotoku di Google Photos itu 55 GB besarnya terpecah dalam 55 files. Masing-masing file, ketika kuekstrak memuat sekitar 1000an foto. 
    3. Foto-foto itu lalu kupindah manual ke Apple Photos. 
    4. Aku tak hanya memindah tapi juga memilah. Setelah kunggah ke Apple Photos, foto-foto pun kupilah. Berikut aturan mainku.
      1. Semua foto yang tidak menampilkan obyek manusia, dihapus. Hal ini tidak berlaku bagi foto-foto yang kujadikan sebagai bukti atau mengandung nilai lebih. Misalnya foto renovasi rumah Klaten tahun 2015. Foto ini meski nggak ada penampakan obyek manusianya ya tetap kusimpan sebagai bukti dan kenangan.
      2. Kalian tahu aku sangat hobi ber-selfie hahahaha! Nah! Kecuali keren banget, foto-foto selfie yang jumlahnya ribuan ini kuhapus!
      3. Foto-foto yang memiliki kemiripan atau yang diambil sebagai bagian dari bracketing, kuhapus juga. Bracketing itu gampangnya adalah ketika kita motret satu moment trus kita jepretnya berulang-ulang untuk mendapatkan yang terbaik. Oh ya, hal ini kukecuailan untuk foton anak-anak. Aku tahu banyak banget bracketing tapi aku gak tega untuk menghapus satupun dari foto-foto itu hahaha!
      4. Foto-foto berisi konten yang sering kuunggah di instagram juga kuhapus. Lho kenapa? Yaaaa kan udah tersimpan di Instagram?!

    Setelah semua kupindah dan kupilah, berikut adalah tahapan berikutnya:

    1. Menghapus duplikasi foto. di Apple Photos ada feature untuk mendeteksi hal ini meski gak seratus persen selalu berhasil. Artinya, aku harus mantengin satu per satu, kalau ada yang identik ya kuhapus.
    2. Mengurutkan foto berdasarkan tanggal pemotretan. Karena gak semua foto puyna EXIF data yang terjaga dan akurat maka aku melakukannya manual. Misalnya foto yang ada di bawah ini yang dijepret alm. Papa pada 1982. Di Apple Photos, foto ini terdata diambil pada tanggal 28 September 2018. Lho kok bisa? Ya karena pada tanggal itu aku lagi mudik ke Indonesia dan mampir rumah di Klaten lalu memotret foto yang terpajang di dinding itu. Jadi data yang tersimpan ya tanggal waktu aku motret bukan waktu alm Papa memotret.
    3. Mengelompokkan foto dalam album. Foto-foto yang memiliki tema sama kukumpulkan dalam album tersendiri. Misal foto waktu aku liburan ke Indonesia, foto waktu Papa dan Mama meninggal dunia (2011 dan 2016), foto waktu kita jalan-jalan ke mana, gitulah pokoknya.

    Rencana ke Depan

    Meski secara mendasar proses pemindahan sudah selesai tapi ke depannya aku berpikir untuk lebih merapikan koleksi fotoku dengan mengklasifikasikannya berdasarkan tempat pemotretan. Kebanyakan memang bisa diambil dari EXIF data tapi kan gak semuanya. Karena toh pada akhirnya aku akan upgrade quota ke 2TB, maka sekalian aku akan memindahkan foto-foto dari Flickr account serta dari external harddrive ke Apple Photos.

    Dan yang terakhir, aku juga akan lebih rajin menghapus foto yang tidak perlu dan yang paling penting, berusaha untuk tidak memotret hal-hal yang memang tidak perlu terlalu sering dipotret. Selfie di lift adalah salah satunya meski untuk yang ini aku gak janji sih hehehe…

    Oh ya, foto di bawah adalah contoh foto yang tak kuhapus :)

  • Yak-yak’o dan yak-yak’an

    Yak-yak’o dan yak-yak’an

    Tiga tahun yang lalu di hari-hari sekarang ini konon ada yang terusik dengan statusku di Facebook lalu menelpon salah satu teman dan bilang, “Donny itu nulis tentang yak-yak’o di FB pasti sedang nyindir aku ya?”

    Aku ketawa ngakak dikabari. Kok ya tau-taunya aku nulis tentang dia! Jangan-jangan memang dia merasakan hal yang sama bahwa dirinya hanya bermodal ‘yak-yak’o’ saja padahal sejatinya memang suwung?

    Hari ini aku ngampet ngguyu lagi alias menahan tertawa. Tak hanya karena Facebook Memory mengingatkanku pada kejadian waktu itu tapi juga karena ada konteks yang pas banget untukku kembali mengangkat kata keramat ini, “yak-yak’o”

    Yak-yak’o dalam terjemahan kasar ke Bahasa Indonesia barangkali adalah, “Sok yakin!”

    Ada orang-orang yang sedang saling beradu demi jabatan dalam sebuah perkumpulan nggak terlalu penting bernama perkumpulan alumni.

    Mereka begitu serius menyusun program dan strategi pemenangan seolah jabatan yang nanti dimenangkan akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Seolah titahnya akan mengubah hidup-mati anggota-anggotanya. Dan untuk menggenapi tuduhanku atas ke-yak-yak’o-an mereka itu, seolah program-program yang mintilihir itu memang mereka dalami dan tahu bagaimana cara menjalankannya! Padahal? Yo yak-yak’o!

    Teoriku, dalam mengelola hal-hal yang kurang serius, bukankah sebaiknya juga jangan terlampau serius? Lha wong nanti dari program kerja yang segunung, realisasinya kan paling cuma bikin acara doa bersama di sini dan di sana dan bikin reuni sambil nyanyi hymne almamater dan selfa-selfi sana sini!

    Ada juga yang mungkin nggak yak-yak’o tapi yak-yak’an!

    Hmmm, aku susah menerjemahkan kata yak-yakan dalam Bahasa Indonesia. Maafkan!

    Yak-yak’an dalam mendapatkan jabatan, pokokmen kudu dadi, kudu iso piye carane… seolah begitu jadi akan mendapatkan banyak keuntungan yang seimbang dengan usaha yak-yakan yang dikeluarkan!

    Padahal ya katakanlah dadi,
    kowe ki dha arep ngapa?
    Arep’a dadhi ya arep nganti kapan?
    Njuk nek uwis.. arep kepiye?

    Minggu ini tensi politik dalam sebuah perkumpulan alumni sedang meninggi…

    Bagi yang yak-yakan dan yak-yak’o lha mbok sudah jangan terlalu diseriusin dan sebenarnya gak perlu diterusin. Menang dadi areng, kalah kowe yo mung dadi awu…

    Untuk apa berjuang demi jabatan terkait memori masa lalu di almamater? Bukankah lebih baik fokus pada keluarga dan pekerjaan!?

    Kalau hanya untuk berdoa bersama dan reuni, apa ya perlu jabatan? Jabatan apa yang lebih mulia dari tukang parkir, tukang bersih-bersih selama acara-acara itu dilangsungkan?

    Atau jangan-jangan demi gengsi?

    Sudahlah! Daripada terpolarisasi lebih baik hentikan dan akhiri dengan jabat tangan!

    Ingat lho! Sejak ada di almamater itu, bukankah kita diajari banyak menimbang tentang hal-hal yang kita lakukan? Membedakan roh dalam setiap gerakan?

    Mana yang lebih menguntungkan bagi kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar di muka bumi?
    Adakah melanjutkan pertandingan atau berjabat tangan?

    Salam yakin,
    Donny Verdian

  • Tentang Jogja (26): Masuk Kelas Fisika

    Tentang Jogja (26): Masuk Kelas Fisika

    Bagi kedua orang tuaku, dan barangkali juga orang tua kalian yang seumuran denganku, kelas penjurusan A1 alias Fisika dalam kurikulum 1984 ibaratnya langit adalah yang paling tinggi derajatnya sementara Biologi (A2) apalagi Sosial (S3) dan Bahasa (A4) adalah tingkatan-tingkatan lebih rendah selanjutnya.

    Barangkali Papa berpikir demikian karena latar belakang pendidikannya dulu adalah ekonomi dan perbankan maka dia pengen anaknya mengambil jurusan yang berbeda tapi tidak asal beda. Hal ini terbukti waktu aku bilang kalau aku pengen kuliah seni musik, buru-buru dia bilang, “Arep dipakani opo anak bojomu mengko, Le?” Padahal seni kan beda dari ekonomi, yes?!

    Belum lagi beberapa role models di keluarga besarku seolah mengindikasikan bahwa pilihan untuk masuk kelas A1 memang jadi nomer satu.

    Maka sejak SMP, sejak mulai dikenalkan mata pelajaran Fisika, aku berusaha keras untuk menyukainya. Usahaku berhasil karena nilaiku lumayan tinggi.

    Waktu masuk semester pertama kelas satu di De Britto, nilai Fisika ku tetap tinggi meski Kimia apalagi Matematika ku bisa dibilang pas-pasan. Jadi ketika di semester dua nilai-nilaiku merosot karena perhatianku mulai pecah pada kegiatan-kegiatan sambilan bersama teman-teman, nilai akhir yang menentukan penjurusan di kelas dua tetap bisa menyelamatkanku untuk berada di cita-cita orang tuaku, masuk jalur A1.

    Bangga? Jelas!
    Meski sebenarnya kalau mau dipikir sekarang, apa yang membanggakan ketika sebagian besar dari angkatanku lolos masuk kelas Fisika semuanya?

    Senang? Banget!
    Meski aku jadi mikir melihat kenyataan bahwa ternyata sebenarnya nggak semua anak berlomba-lomba masuk kelas Fisika! Ada beberapa anak yang terbilang paling pandai di kelas tapi malah masuk jurusan Biologi apalagi Sosial. Anak-anak yang untuk masuk ke kelas Fisika pun mereka sebenarnya bisa!

    Salah satunya adalah Michael Angga, teman seangkatan yang juga tinggal di Asrama Ampel 2 meski kami jarang berbincang. Dia pintar dan juara kelas tapi kenapa tidak masuk Fisika? Kenapa masuk kelas Sosial? Aku jadi bertanya, sudah benarkah caraku dan cara orang tuaku berpikir yang menempatkan kelas Fisika lebih dari kelas-kelas lainnya? Kalau benar, kenapa ada yang tidak sejalan?

    Di saat yang gamang itu, salah satu temanku yang lain bilang, “Anak (kelas) Fisika emang bisa bikin jembatan untuk nyeberangin orang dari satu sisi sungai ke sisi sungai yang lain, Don! Tapi… anak (kelas) Sosial bisa bikin jembatan untuk menyeberangkan kelas ekonomi bukan hanya orang tapi masyarakat bahkan warga negara keseluruhan dari yang semula kere jadi makmur dan kaya!”

    Aku sempat berpikir untuk mengubah jurusan yang sudah kupilih. Belum terlambat tapi ketika melihat daftar anak-anak yang ada di sana aku mengurungkan niat. Nggak semua, tapi banyak dari mereka adalah anak-anak yang suka bikin usil dan traumaku atas rasa tertekan karena dikerjain di bulan-bulan pertama di Jogja kembali belum juga hilang sepenuhnya…

    Hingga akhir masa studi di De Britto aku sangat jarang berbincang dengan Michael Angga.

    Michael Angga dan aku, medio 2019 yang lalu…

    Tapi lebih dari dua puluh tiga tahun kemudian kami bertemu. Aku sudah tinggal di Sydney, Australia dan Mike bersama keluarganya berlibur ke sini. Sore itu kami banyak berbincang tentang masa lalu di sebuah warung ramen di pusat kota Sydney.

    Mike memiliki karir gemilang dalam dunia perbankan. Hal itu membuatku semakin yakin bahwa apa yang diyakini Papa dan Mamaku tentang penjurusan kelas dulu tidak salah tapi tidak sekadar dan sebatas itu saja untuk seseorang bisa sukses dalam karir.

    Harus ada visi yang jelas tentang kenapa seseorang ada di jalur yang dipilih, harus konsisten juga yang pasti tekun dan hey…. bukankah Tuhan bekerja dibalik semuanya terlepas dari apapun jurusan kelas yang diambil?

    *Tentang Jogja, adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Kamu kaya kalau kamu…

    Kamu kaya kalau kamu…

    Tulisanku tentang Robot Trading kemarin lumayan banyak dibaca orang.  Barangkali memang tepat waktu saat gonjang-ganjing Robot Trading sedang mengemuka ya… 

    Tapi tahukah kalian, inti yang kutawarkan dari tulisanku kemarin itu sejatinya sederhana. Kutulis pada penggalan akhir tulisan dan ada baiknya ku-share lagi di sini..

    Hidup ini tak mengejar kaya. 
    Hidup berbahagia toh tak selalu identik dengan angka.

    Tapi sayangnya itu bukan sesuatu yang mudah untuk dimengerti dan dipraktekkan. Apalagi kalau kita terpapar dengan situasi sekitar yang membuat kita bingung tentang apa sih definisi kekayaan dan orang kaya itu?

    Pertengahan 80an

    Pertengahan tahun 1980an, Papa dan Mamaku sempat dicap orang kaya di kampung Kauman, Kebumen tempat rumah kontrakan kami berada. 

    Padahal kami ini bukan siapa-siapa. Waktu itu Papa membeli beberapa perkakas baru karena memang dia belum punya apa-apa dan baru saja memboyong Mama dan aku dari Klaten. Namanya juga keluarga baru, ada banyak kebutuhan yang perlu dicukupi termasuk kebutuhan perkakas-perkakas itu.

    Nggak sampai seminggu tinggal di rumah itu, Papa sudah membeli tv dan video player baru. Kulkas, kompor, rice cooker, tempat penyimpan beras dan blender juga baru. Perkakas furnitur pun baru semuanya hingga meja setrika dibeli baru karena mana ada waktu itu yang jual second hand :)

    Tak sampai seminggu berikutnya, tetangga sebelah ujug-ujug melakukan hal yang sama. Seolah tak mau kalah, semua jenis barang yang baru papa beli, dibelinya juga!

    Mereka memang bukan miskin tapi barangkali sejak sebelum kami hadir, mereka nggak punya referensi tentang apa itu kaya. Kehadiran kami memberi definisi baru bagi mereka bahwa kaya itu ya seperti kami meski sebenarnya kami ini ya jauh dari kata… kaya!

    Pertengahan 90-2000an

    Pertengahan tahun 1990an hingga 2000an, kekayaan diredefinisi melalui layar kaca: sinetron lebih tepatnya. Orang kaya adalah orang yang rumahnya gedongan, punya pilar besar berwarna putih, lantai marmer, guci-guci keramik berukuran gaban, kursi-kursi leather ala eropa, mobil harus sedan kalau enggak mercedes atau BMW, jas kedodoran dan celana baggy, dasi, handphone lipat berantena, pager di sabuk celana, lipstik tebal, rambut sasak singa dan pokoknya apapun… sekali lagi apapun yang terekam di sinetron kecuali cerita-cerita super noraknya!

    Jadi kalau mau kaya, di era itu, ya jadilah seperti mereka!

    Era setelah 2010

    Di era setelah 2010, kekayaan diredefinisi lagi melalui layar kaca tapi lebih kecil kacanya alias handphone. Bukan melalui sinetron yang hanya khayalan tapi melalui para sultan dan sultan wannabe yang pamer benar-benar kepunyaan mereka di social media.

    Di Instagram dan Youtube, para sultan pamer mobil-mobil premium.

    Para besan kesohor dan keluarga besarnya liburan hingga ke Turki. Tiap hari bikin video lalu dishare, “Hi guys, kita lagi mau ke Cappadocia pagi ini. Dingin banget jadi tadi sambil cari yang hangat-hangat kami mampir dulu ke butik *****. Aku beliin Papa aku sepatu baru dan sling bag ini. Cocok enggak guys? Di Jakarta belum masuk ini guys!”

    Atau seorang mantan penyanyi yang beberapa tahun belakangan jadi pelawak dan sekarang berubah jadi sultan dengan rumah megah, studio musik dan koleksi mobil super keren!

    Atau seorang  pembawa acara yang juga sultan yang usahanya menggurita mulai dari entertainment hingga klub bola basket dan sepakbola!

    Atau seorang sukses robot trading yang kemudian menjadi penyuka otomotif kelas kakap dan masih banyak lagi orang-orang sukses yang bisa kita lihat di social media untuk kita merestorasi apa definisi orang kaya.

    Dari mereka, para milenial yang budiman mengerti dan meletakkan definisi tentang kaya dan kekayaan…

    Pertanyaannya sekarang, apakah kekayaan itu ya memang benar-benar seperti itu?

    Jawabku iya. 
    Nggak usah banyak cingcong dan filosofis tapi kaya itu ya banyak duit! Duit melimpah tanpa nomer seri! Mau apa saja termasuk travelling dengan siapa saja, beli ini dan itu hingga karantina mewah tinggal bayar lalu beres perkara!

    Tapi pertanyaan berikutnya,  apakah hidup harus dihabiskan hanya untuk mengejar hal-hal seperti itu?

    Jawab sendiri-sendiri dalam hati! Nggak usah sok filosofis jawabnya. Silakan sambil ngitung uang di dompet dan di ATM. Jangan lupakan hutang hutang dan lihat sekeliling kepada para perkakas dan perhiasan, mana yang harus dijual dan ‘disekolahkan’ lebih dulu untuk hidup hari-hari ke depan yang belum juga menentu…

    Salam olahraga!

  • Robot Trading

    Robot Trading

    Sejak beberapa waktu belakngan, pembicaraan tentang robot trading, meski tak terlalu trending tapi menyelinap senyap di antara banyak hal yang menyeruak dalam percakapan-percakapan yang ada di berbagai media.

    Awalnya aku cuekin sampai akhirnya seorang kawan lama… lama sekali menghubungiku via WA dan bertanya, 

    “Don!  Mau ikut bisnis?”

    Sejujurnya aku agak trauma dengan ajakan seperti itu. Dulu sekali pernah juga datang orang bertanya begitu, berakhir dengan ajakan ikut sebuah bisnis nggak jelas…

    Pernah juga, dan ini yang paling bikin kapok, beberapa tahun lalu ada orang yang sok ‘yak-yak-o’ nggambleh nawarin bisnis. Secara hitungan logika masuk akal makanya sempat kuseriusin banget. Tataran ‘serius banget’ bagiku itu kalau sampai hal itu memberanikanku menyisihkan waktu untuk keluargaku dan pekerjaan utamaku guna mengurus ini dan itu. Sayangnya waktu mimpi belum sepenuhnya usai dan pondasi belum rampung dikerjakan udah bubar jalan, nggak ada ujung-pangkalnya lalu menghilang begitu saja! Ya asu sih!

    Jadi waktu ada yang menawari seperti itu, naluriku otomatis membangun benteng pertahanan naruto dalam sekejap, “Nggg…. bisnis apa ya?” sesuatu yang harusnya dibaca sebagai, “Nggak tertarik! Tapi sebagai kawan lama aku ingin mendengarkanmu karena itu yang kamu perlukan: didengarkan!”

    Intinya invest duit, Don!
    Kalau invest sekian juta, dapat untung sekian setiap harinya.

    Kalau invest sekian juta lagi di atasnya, dapat untung lebih banyak lagi setiap harinya.

    Kalau invest sekian lipat-lipat-lipat juta lagi di atasnya, ya tentu untungnya juga sekian lipat-lipat dan lipat lagi di atasnya..

    “Kalau nggak untung?” tanyaku.

    “Selama aku ikut, selalu untung sih! Cuma dua kali lost kayaknya…” kilahnya…

    “Loh kok bisa?”
    “Ya bisa, namanya juga bisnis ada lostnya tap…”

    “Bukan.. bukan itu! Pertanyaanku justru sebaliknya, kenapa baru dua kali lost padahal kan ini bisnis katamu?” tanyaku lagi.

    “Nah ini menariknya, Don! Pakai robot!”

    “Oh! Robot?!?” 
    “Robot yang menjalankan uang kita…” Robot yang kubayangkan adalah Robocop, Gaban, Sharivan dan yang pasti bukan Robot Gedek!

    “Lalu kitanya ngapain?”
    “Kita nggak ngapa-ngapain.. cuma ngitung cuan aja pokoknya! Asik, kan?!”

    Aku sempat tertarik dan membicarakan ide ini dengan istri. Toh cuma sekian juta rupiah? Uang kita diamkan lalu tiba-tiba jadi banyak karena.. robot yang mengerjakan.

    “Nanti kita pas pulang liburan ke Indonesia nggak perlu pusing mikir duit, Hon!” kataku meyakinkan.

    Istri teryakinkan, lampu hijau dinyalakan tapi aku tak bergerak. Ide kuendapkan. Kudiamkan.

    Bukan soal sayang uang, tapi soal motif dan alasan. 

    Semakin lama aku hidup semakin aku merasa perlu untuk berpikir tentang banyak hal dari sisi motif sebelum akhirnya bicara di level rencana dan akhirnya pelaksanaan.

    Apa motifku ikut bisnis itu?
    Apa motifku berinvestasi lalu mendapatkan untung?
    Apa motifku dan akhirnya, apa rencanaku dengan uang yang kudapat sedemikian banyak itu nantinya?

    Semua orang, termasuk aku, butuh duit.

    Apalagi di hari-hari ini, saat aku baru selesai membangun rumah dan pindahan, biaya tetek-bengek itu ada aja. Tagihan-tagihan berlomba saling berkejaran bagai anak-anak klitih memburu mangsanya!

    Tapi di satu sisi, aku ini orang kuno.

    Pandanganku soal uang masih sangat lawas bahwa uang itu harus dihasilkan dari kerja keras, dari jerih dan kepayahan dan dari bagaimana aku bertahan untuk berjuang menggunakan bakat atau talenta yang Tuhan berikan.

    “Lho tapi dalam bisnis itu kita juga diajak untuk berjerih payah, Don! Karena selain investasi kita juga diajak mencari teman untuk jadi…”

    “Jadi downliner?” potongku.
    “Iya! Ya rekan bisnis lah!” kilahnya.

    Nah itu dia!
    Apalagi itu!
    Aku sudah mencoba dan aku nggak punya bakat di bidang ‘itu’.

    Suatu waktu aku datang ke rumah kawan lamaku di Klaten sana lalu setelah memberi intro basa-basi tanya kabar ini dan itu, aku menohok dengan bilang, “Kamu mau bisnis denganku?” Semua berlanjut sampai dia bilang, “Masa kamu tega jadiin aku downlinermu, Don?”

    Aku terdiam!
    Aku tak punya bakat untuk berkelit dari pertanyaan itu. Hatiku nanar…

    Aku nggak bilang bisnis seperti itu jahat, tapi serius, aku nggak punya bakat. Lebih baik bagiku untuk berkarya membuat design bagi para klienku, sesuatu yang kutekuni sejak dua puluh tiga tahun yang lalu.

    Benar, aku mungkin akan kalah kaya dibanding mereka, tapi selama ini pun tanpa harus ada kehadiran mereka dengan cuan-cuan harian mereka berkat robot trading, sudah ada lebih banyak orang yang jauhhhh lebih kaya tapi aku toh tenang saja.

    Hidup ini tak mengejar kaya. 
    Hidup berbahagia toh tak selalu identik dengan angka.

    Tapi ini semua hanya pandangan dan pilihanku. Bagaimanapun juga aku tetap angkat topi dan menghargai orang-orang yang ikut bisnis robot trading ini. 

    Sekaligus aku sangat menyayangkan ketika ada segelintir orang nyinyir membicarakan sisi negatif tentang bisnis robot trading. Coba kalau profesimu diejek dan diceng-cengin apa ya kamu terima? Kan nggak juga.

    Udahlah biarin aja. Kalau kata Slank, “Asal nggak melanggar hukum biarkan saja…” 

  • Ejakulasi dini dalam relasinya dengan kecenderungan seseorang cepat keluar dari Grup WA

    Ejakulasi dini dalam relasinya dengan kecenderungan seseorang cepat keluar dari Grup WA

    Minggu kemarin aku memutuskan keluar dari Grup WA dengan alasan ada seorang yang secara masif mengindoktrinasi paham bahwa COVID itu tidak berbahaya.

    Sebenarnya aku sudah tahu hal ini sejak tahun lalu. Dalam beberapa kali percakapan pun aku sudah berusaha memberikan imbangan bahwa pendapatnya seperti halnya pendapatku sendiri belum tentu benar.

    keluar dari Grup WA

    Tapi ketika keadaan pandemik memburuk bulan-bulan belakangan, aku tak bisa tidak harus kembali bereaksi. Reaksiku sejatinya juga tetap sama, tidak menyalahkan pendapatnya. Aku hanya mengingatkan bahwa se-sok-yakin-sok-yakin-nya dia atas pendapatnya sendiri, COVID adalah kenyataan yang semua orang di dunia ini sedang berdiri menghadapi, mempelajari dan mencari jalan keluar untuk menekan penyebarannya. (not to mention bahwa dia pun sebenarnya juga bukan siapa-siapa. Ahli pun kagak!)

    Maka sebagai orang yang bukan ahli COVID, apa yang hendak ku-share di tulisan ini bukan tentang COVID-nya. Aku akan berbagi tentang justifikasi bahwa keluar dari WaG adalah pilihan terbaikku. Untuk urusan ini aku cukup berpengalamanlah!

    Pribadi yang cepat keluar

    Keluar dari grup WA adalah caraku memberi ultimate answer bahwa aku tidak setuju dengan pendapatnya dan ketidaksetujuan itu tidak bisa dikelola lagi dengan cara lain.

    Aku memang pribadi yang cukup mudah ‘keluar’ meski tidak cepat keluar hahaha…

    No, i’m serious!
    Aku nggak kemana-mana kalau ketidaksetujuan bisa difasilitasi. Tapi ketika perbedaan sudah menyentuh hal-hal prinsipil dan aku tidak berhasil meyakinkan pihak lain untuk setuju, ya udah mau gimana lagi?

    Dalam kasus kemarin, hal prinsipil itu karena kondisi pandemik yang kian memburuk dan pendapatnya yang belum tentu benar dan dilontarkan secara masif telah berhasil mempengaruhi beberapa orang dan ini membahayakan! Ada orang-orang yang karena pendapatnya semakin menganggap bahwa COVID tidak berbahaya. Di level aksi, mereka yang punya anggapan ini sudah semakin berani mengunjungi orang-orang isoman dengan alasan supaya mereka terhibur. Padahal, namanya isoman ya tetap harus isolasi kan?

    Keluar di dalam itu.. berbahaya

    Tapi kalau sudah tahu membahayakan kenapa justru tidak di dalam, Don? Karena kalau keluar di dalam itu berbahaya hahaha!

    No seriously, lagi-lagi i’m serious! 
    ‘Keluar’ meski tetap di dalam itu berarti menempatkan diriku sebagai pribadi yang suwung alias kosong! Aku nggak mau tetap ada di Grup WA tapi cuek dan kosong terhadap Grup WA tersebut!

    Prinsip “Aku berpikir maka aku ada” selalu kuusahakan untuk diimbangi dengan “aku ada untuk berpikir.”

    Jadi kalau aku ada di Grup WA tapi nggak ngapa-ngapain, nggak berkontribusi dan nggak berpikir ya mending keluar di luar alias lokur di lokur kan haha!

    Dan yang terakhir, keputusanku untuk keluar adalah pernyataan sikap bahwa aku dengan segala kelebihan dan kekuranganku telah sampai di titik yang tak tertahankan lagi untuk… keluar. Jrottt!

    Pribadi yang… mutungan

    Salah satu alasan kenapa aku selalu berusaha membangun postur profilku di depan umum sebaik mungkin adalah untuk merepresentasikan kejujuranku dalam berpikir. Sehingga ketika aku memutuskan minggat dari sebuah Grup Wa, setidaknya membuat mereka harusnya berpikir, “Oh, orang seperti DV aja memutuskan minggat karena dia! Kenapa ya? Kenapa akupun tetap ada di sini?”

    Tapi bagaimana kalau orang justru berpikir sebaliknya? “Wah kalau gini jangan invite DV lagi deh, orangnya mutungan!”

    Wah itu lebih baik lagi!
    Hidupku jadi tidak terpenjara karena mantra “Mau keluar dari WaG tapi sungkan dan supaya silaturahmi tetap terjaga, kan?” 

    You, right LoL!

  • Tentang Jogja (18): Bubarnya Kempo Dojo De Britto

    Tentang Jogja (18): Bubarnya Kempo Dojo De Britto

    Nggak selamanya memegang sabuk/tingkat lumayan tinggi di sebuah aliran seni beladiri itu menyenangkan. Waktu duduk di bangku kelas 1 SMA Kolese De Britto Yogyakarta, aku mengalaminya. 

    shorinji kempo de britto
    ilustrasi

    Sabuk tertinggi di De Britto? Tetap aja di-bully!

    Tadinya kupikir setelah tahu bahwa aku ini memegang sabuk biru di Kempo, kawan-kawan akan merasa jengah dan tidak akan mem-bully aku lagi. Tapi aku salah sangka. Justru kenyataan itu menjadi tambahan bahan bakar untuk memperbesar api yang sudah sejak awal dinyalakan!

    Hampir setiap latihan, saat aku memimpin pemanasan dan gerakan-gerakan dasar, banyak orang yang berseliweran meledek dengan celotehan-celotehan meski kesannya sederhana dan sambil lalu tapi kalau didengarkan, lama-lama nggak enak juga.

    “Ajar wae pelatihe kuwi!”

    “Jap jingin! Poltrokke wae kathoke!”

    “Nek wani single, ra sah nganggo kempo-kemponan!”

    Yang membuatku lebih merasa frustrasi menghadapi semua itu adalah aku jadi semakin teryakinkan bahwa teori Papa tentang ilmu beladiri yang bisa mengubah sikap penakut jadi pemberani adalah salah besar! Gimana mungkin aku jadi berani kalau ketika dikata-katai, untuk melirik wajah merekapun aku tak sanggup!?

    Jalan keluar seorang pengecut: saya!

    Sebagai seorang pengecut, aku menyiapkan jurus jitu sebagai jalan keluar. Aku mulai ogah-ogahan melanjutkan Kempo. Setiap hari latihan aku mengelak dengan pergi ke Klaten, bermalam di rumah nenek. 

    Masuk semester kedua, aku membuat keputusan besar dengan keluar dari ekstra kurikuler Shorinji Kempo di De Britto.

    Yudith adalah orang pertama yang kuberitahu dan dia begitu kaget mendengarnya. Tak hanya Yudith bahkan Romo Pamong ikut terhenyak mendengar keputusanku itu. Baginya, aku sebagai pemegang sabuk tertinggi setelah Andre Jemb*t yang sudah duduk di kelas 3, adalah calon kuat ketua ekstrakurikuler Kempo.

    Namun tak seorang pun bisa menahanku. Aku tetap menyatakan diri keluar. Aku menggunakan hakku sebagai siswa bahwa aku toh berhak memilih ekstra kurikuler lain. Sementara itu sebagai kenshi, aku memutuskan untuk bergabung di dojo lain.

    Sebagai pengganti, Romo Pamong memilih Eko Put, kawan sekelasku yang meski masih sabuk putih tapi ia dipilih. (Aku tak tahu kenapa Romo tak memilih Yudith waktu itu padahal secara ‘hirarki’ Yudith adalah pemegang sabuk tertinggi kedua sesudahku).

    Bubarnya Ekstrakurikuler Kempo Dojo De Britto

    Meski menyatakan sudah keluar, aku nyatanya tak bisa lepas tangan begitu saja. Ini terjadi karena bahkan saat aku sudah bergabung di dojo lain, para sempai di dojo lain mengarahkanku untuk ikut mengurusi De Britto karena nantinya ketika aku naik ke Kyu I (sabuk cokelat) aku perlu bergabung ke sebuah dojo untuk jadi asisten pelatih, suatu syarat yang waktu itu harus ditempuh oleh pemegang sabuk cokelat sebelum dipromosikan menjadi pemegang sabuk hitam.

    Maka sesekali akupun datang ke hari latihan di De Britto. Dan setiap aku datang, bully-bully-an itu ya tetap ada, tak berubah.

    Yudith sempat membantuku untuk mengatasi keadaan dengan mengusulkan kepada Eko Put memindah hari latihan jadi lebih malam, jam 7. Kupikir asyik juga karena berarti aku bisa punya alasan untuk bolos jam belajar di asrama hehehe…

    Tapi perubahan jam membuat para peserta ekstra kurikuler kehilangan mood. Mereka menganggap untuk datang ke sekolah dan berlatih Kempo jam 7 malam itu terlalu larut.

    Maka dari yang semula anggota ekstra kurikuler ada sekitar 20 orang, gara-gara pemindahan jam jadi menyusut menyisakan sekitar 5-7 orang saja. Mereka yang masih bisa kuingat adalah aku, Yudith, Andri ‘Cawet’, Parlin, Eko Put dan beberapa yang lain.

    Romo Pamong

    Di awal tahun kedua aku di De Britto sebuah peristiwa terkait dengan kegiatan ekstra kurikuler Shorinji Kempo terjadi. Waktu itu Eko Put sudah dipilih sebagai ketua definitif. Suatu siang, aku dipanggil masuk ke ruang Romo Pamong.

    Ketika masuk, matanya menatapku tajam.

    “Donny, kamu tahu perangkat ekstra kurikuler Kempo dipinjam orang dari luar De Britto?”

    Aku terdiam sebentar.
    Aku memang mendapat laporan ada seorang yang meminjam perangkat tanding (randori) berupa dua set protektor. 

    “Iya Romo, tapi dia alumni!”
    Sebuah jawaban yang kusadari kini adalah satu kesalahan besar. Harusnya aku berani menjawab, “Oh ya? Itu bukan urusan saya!”

    “Alumni tetap saja orang luar! Kenapa kamu ijinkan?”

    Selanjutnya yang terjadi adalah perdebatan. Aku mengajukan keberatan kenapa aku disudutkan toh aku bukan ketuanya tapi Romo berkeras bahwa meski bukan ketua, aku adalah yang paling senior dan punya akses untuk berkomunikasi dengan kawan-kawan dari dojo lain terkait peminjaman piranti tersebut.

    Debat semakin panas hingga akhirnya muncullah kata-kata yang hingga kini tetap kuingat muncul keluar dari mulut Romo Pamong tersebut.

    “Mulai hari ini Ekstrakurikuler Kempo saya bubarkan!”

    Persetan, dalam hatiku!
    Tapi yang keluar di mulutku adalah sesuatu yang lebih bisa kuterjemahkan dalam bahasa yang lebih manusiawi, “Silakan, Romo. Dojo itu juga bukan punya saya….”

    Aku keluar memunggunginya begitu saja.

    Hari itu kutandai sebagai yang pertama memulai beberapa urusan yang kerap muncul antara aku dengan Romo Pamong tersebut hingga beberapa tahun sesudahnya.

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Berapa pasang kacamata diperlukan untuk sepasang mata kita?

    Namanya juga sepasang, mata kita pun cuma dua. Tapi terkadang butuh lebih dari sepasang kacamata untuk sepasang mata kita. Untuk yang tidak menyandang rabun dekat/jauh, yang mungkin terpikir untuk dipunyai barangkali hanya sunglasses atau waktu kecil aku menyebutnya sebagai kacamata riben yang mengacu ke brand italia, Ray Ban. Itupun untuk alasan mejeng biar kece dan trendi aja, kan?

    Tapi untukku yang menyandang rabun jauh dan rabun dekat, setidaknya aku butuh tiga pasang. Kacamata rabun jauh, rabun dekat dan sunglasses alias Ray Ban karena merk yang kupakai memang Ray Ban :)

    kacamata

    Kacamata Rabun Jauh

    Aku mengenakan jenis ini sejak duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Pernah beberapa kali mencoba peruntungan menggantinya pake contact lenses tapi ujung-ujungnya kalau nggak mata infeksi ya merasa nggak pernah bisa benar-benar nyaman.

    Waktu aku mulai terdeteksi menderita rabun dekat karena mata ‘tua’, aku sempat berharap supaya minusku berkurang lalu jadi nol sehingga aku tidak perlu menggunakan kacamata rabun jauh lagi. Tapi ternyata tidak demikian. Setidaknya beda dari alm. Papa yang waktu seusiaku, dia sudah tidak lagi perlu menggunakan kacamata rabun jauh dan cukup membawa kacamata rabun dekat saja!

    Kacamata Rabun Dekat

    Setelah sekitar tiga tahun aku melawan kehendak alam bahwa mataku menua, akhirnya dua tahun silam aku menyerah. Makin lama aku semakin sulit membaca ataupun mengerjakan sesuatu yang memerlukan fokus mata di jarak lumayan dekat.

    Tapi meski begitu, hingga sekarang aku tetap tak terlalu nyaman menggunakan kacamata model ini karena alasan praktis. Males bener harus gonta-ganti kacamata saat membaca jarak dekat dan melihat jarak jauh. 

    Yang terjadi, kalau perlu membaca, aku lebih baik membuka kacamata rabun jauh, menaruhnya di atas kepala lalu meletakkan bacaan dekat ke mata. Beres!

    Sunglasses

    Kupikir awalnya aku akan menggunakan sunglasses secara casual alias suka-suka. Itupun kalau ada keluangan dana karena aku harus punya sunglasses dengan ukuran lensa yang sesuai kondisi mataku. Tapi sejak beberapa tahun lalu, dokter mataku memberi tahu bahwa ada selaput yang tumbuh di sudut mata yang kemungkinan muncul karena aku nggak pernah pakai sunglasses saat matahari terik. Hidup di Australia terutama selama musim panas (desember – februari) matahari bersinar sangat terik dengan sedikit bahkan nyaris tanpa awan yang menutupi.

    Sungguhpun selaput itu katanya tidak membahayakan, tapi kalau terlambat penanganannya ya harus diambil pake cara operasi dan ini ribet! Jadi dokter menyarankanku untuk memiliki sunglasses. Maka setiap kali aku keluar rumah/gedung aku selalu menggunakan sunglasses.

    Kacamata lensa progressif?

    Iya! Aku punya kacamata lensa progresif dan cukup membantu. Dengan lensa progresif aku gak perlu gonta-ganti karena kedua lensa baik yang rabun jauh maupun rabun dekat ‘ada’ di lensa progresif. Tapi harga yang cukup mahal, hampir dua setengah kali lipat bedanya dibanding lensa rabun jauh dan kenyataan bahwa kondisi mataku cenderung berubah dari tahun ke tahun membuatku berpikir berkali-kali lipat untuk investasi lensa jenis ini. 

  • Interaksi sosial media: senggol bacok! Bikin kagol ya block!

    Interaksi sosial media: senggol bacok! Bikin kagol ya block!

    Minggu lalu, Twitter mengajari kita bagaimana cara berinteraksi di sosial media yang baik dan benar! Dengan alasan resiko memprovokasi yang memancing adanya keributan dan kekerasan, “risk of further incitement of violence.” Twitter dalam blognya memutuskan untuk men-suspend akun resmi milik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, @realDonaldTrump untuk selama-lamanya.

    ber-sosial media

    Interaksi sosial media, tentang mengelola resiko

    Ber-sosial media mau-tak-mau adalah juga tentang mengelola resiko yang muncul dari interaksi kita dengan sesama. Kesehatan mental dan kedamaian pikiran serta hati adalah hal-hal yang menurutku tak layak untuk dikorbankan dalam berinteraksi termasuk di social media. Maka sebagai orang yang makin tua merasa makin mudah insecure, akupun seturut dengan Twitter. Ibarat kata, kesenggol, bacok! Bikin kagol? Block!

    Nah, dalam rangka menerapkan hal itu, sejak beberapa tahun lalu aku melakukan beberapa hal seperti di bawah ini ketika menghadapi interaksi yang tak menyenangkan dan tak menenangkan utamanya dengan posting akun lain.

    Hide post/sembunyikan postingan

    Tindakan awal ketika menemukan postingan yang tak kusuka adalah dengan langsung menyembunyikan posting tersebut sehingga tidak tampak di linimasa.

    Misalnya ada orang yang memposting foto jenasah tampak close-up, segera kusembunyikan! Aku punya cara pandang ekstrim tentang ini, “Kalian posting foto jenasah, emang udah minta ijin dan dapat ijin dari si jenasah?”

    Ada lagi orang yang meskipun niatnya baik lantas memposting foto binatang yang disiksa, bayi yang ditinggalkan di dalam boks oleh orang tuanya… Sembunyikan! Bukannya tak mau peduli pada keadaan tapi kepedulian itu gak perlu dipancing dengan konten visual, kan? Ya kalau jadi peduli? Kalau jadi ngeri?

    Unfollow account sosial media

    Tindakan ini khusus hanya di Facebook. Bagiku Facebook memberikan pilihan tindakan yang lebih ringan dari UNFRIEND yaitu UNFOLLOW.

    Bedanya? Kita tetap ‘berteman’ tapi kita tidak perlu mendapatkan postingan-postingan akun yang kita unfollow di linimasa kita.

    Mereka yang ku-unfollow biasanya mereka yang berulang-ulang memposting seperti yang kucontohkan di atas. 

    Ada juga ragam akun yang biasanya langsung ku-unfollow tanpa harus kutunggu berapa kali memposting hal-hal yang tak menyenangkan. Akun-akun tersebut adalah mereka yang kuanggap memiliki kebencian terhadap identitas tertentu baik suku, agama maupun pilihan politik.

    BLOCK!

    Aku tidak mengenal istilah unfriend karena ketika aku meng-unfriend sebuah akun, pemilik akun masih bisa melihat profilku. Maka mem-block sebuah akun adalah pilihan terakhir yang makin lama makin tak kuragu untuk kulakukan ketika kupandang perlu! Ketika sudah mentok ya block! 

    “Duh, tapi apa kata orang dan kata yang diblock kalau tahu, Don?”

    Ya… apa yang diblock juga tahu bahwa yang dilakukannya itu membuatku tak damai dalam hati serta pikiran? Nggak juga, kan? :)

    Kalian tak perlu setuju dengan langkah-langkahku di atas karena setiap orang punya resistensi dan pilihan sikap yang berbeda dalam menanggapi hal-hal yang dimunculkan di social media. Tak mengapa…

  • Tentang Jogja (15): Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Tentang Jogja (15): Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Lustrum IX SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang diadakan pada tanggal 20 – 21 Agustus 1993 adalah acara ?hore-hore? sekolah pertama yang kuikuti di Jogja.

    Waktu itu aku masih dalam periode ?belum kerasan? dan masih begitu terkaget-kaget menerima perlakukan ?bully? di Wisma yang pernah kuceritakan di sini. 

    Seharusnya aku bergembira mengikuti acara tersebut. Tapi nyatanya meski ada sisi gembiranya tapi ada juga sisi ketar-ketir, sisi insecure yang membaur meski tak menyatu benar.

    Ingatanku tentang acara itu sudah cukup kabur, tapi beberapa hal yang bisa kuingat, ada baiknya kutulis dalam bentuk butiran di bawah ini.

    #1 Diadakan di lapangan sepak bola SMA Kolese De Britto Yogyakarta

    Salah satu hal yang membuatku bangga waktu itu adalah karena sekolahku memiliki lapangan sepakbola sendiri. Di atas lapangan yang membujur utara-selatan di sisi timur kampus itulah kegiatan lustrum diadakan. Sebuah panggung besar dibangun di sisi utara lapangan menghadap ke selatan. Lalu di sekeliling lapangan, stall/stand didirikan.

    #2 Stand Stece yang ramai benar?

    Salah satu stand/stall yang paling ramai dikunjungi adalah stand milik SMA Stella Duce I Yogyakarta yang saat itu juga sama-sama merayakan lustrum IX. Waktu itu aku jadi salah satu dari keramaian tersebut. Mendatangi stall mereka, aku hanya memiliki satu alasan, penasaran dengan para siswi-nya, seperti apa wujud mereka. 

    SMA Stella Duce I atau yang akrab disebut Stece adalah sekolah homogen wanita, sekolah yang selalu dipasang-pasangkan dengan De Britto. Masuk akal karena keduanya lahir dari ?rahim? yang sama, di tanggal dan tahun yang sama pula. Banyak kegiatan formal/non-formal yang diadakan antar-keduanya. Banyak juga yang akhirnya menemukan jodoh melalui kegiatan-kegiatan tersebut, tak sedikit yang kemudian, meski tak berjodoh, tapi tetap berkawan erat hingga jangka waktu yang lama.

    #3 Band JB berlatih?

    Sabtu siang, saat pengunjung belum terlalu banyak, band JB (John De Britto) berlatih sekaligus sound check sebelum acara manggung di malam harinya. Dalam latihan tersebut kuingat mereka membawakan dua lagu, Bed of Roses (Bon Jovi) yang lagi ngetop banget waktu itu dan Orion, sebuah nomer instrumentalia dari supergrup Metallica!

    Suara Andre Jemb*t, sang vokalis, luar biasa kerennya di lagu itu! Dengan perawakan cukup kekar dan rambut yang nyrodhog-nyrodhog (makanya dipanggil jemb*t), ia tampak luar biasa? waktu itu hahaha!

    Saat membawakan Orion, aransemennya keren betul. Bagian solo bass terasa begitu sama dengan yang pernah dibawakan oleh alm. Cliff Burton, bassist Metallica.

    Penampilan mereka menjadi lebih lagi karena rambut gondrong para personilnya. Hal ini jadi keunggulan karena sekolah kami memang mengijinkan para siswanya memanjangkan rambut.

    #4 Hanya bayangan ada di depanku?

    Anton Ismael, yang kini menjelma menjadi fotografer papan atas Indonesia adalah kakak angkatanku yang sekaligus jadi pendamping grup saat aku menjalani masa inisiasi (mospek) di De Britto. Dari dulu ia memang sudah suka motret. Sabtu siang itu, ia tampak sibuk hilir-mudik membawa peralatan kameranya dan jaga stand DPC (De Britto Photography Club) bersama salah satunya alm. Kristupa Saragih yang tak kalah kesohor itu. Lalu saat ia lewat stall di mana aku nongkrong bersama kawan-kawan, tiba-tiba Profit (kakak kelasku) menyanyikan Hanya Bayangan milik U-Camp, ?Hanya bayangan, ada di depanku?? 

    Aku dan Anton Ismael saat reuni De Britto, 27 Desember 2018 silam…

    Kami sontak tertawa dan Anton hanya manyun tersenyum. Lagu itu tentu ditujukan untuk Anton, seorang berperawakan hitam legam yang berjalan di depan kami?

    #5 Membeli kaos lustrum

    Aku dan Heribertus, kawan sekamar di Wisma, membeli kaos Lustrum. Kaos kepunyaanku sekarang entah hilang ke mana. Beberapa bulan lalu, Heribertus mengirim foto-foto di bawah ini! Setelah dua puluh tujuh tahun, kaos itu masih disimpannya dengan baik. Ia mengenakan lalu difoto oleh anaknya di depan cermin yang kami beli di tahun itu juga!

    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael
    Heribertus bersama cermin yang kami beli pagi itu di Gelael

    Her, betapa bersyukurnya kamu punya niat baik untuk menyimpan kenangan tak hanya dalam memori tapi dalam wujud barang aslinya!

    #6 Acara puncak di malam hari

    Acara puncak di malam harinya benar-benar hingar-bingar. Musik diputar dalam volume kencang, para kakak kelas berpakaian hitam legam, berambut gondrong menggoyang-goyangkan kepala dan mengibaskan rambutnya di muka panggung sambil menikmati musik. Dari mulut tercium aroma wangi alkohol bercampur asap tembakau?

    Aku memilih untuk minggir, ketakutan. 

    Heri mengajak, ?Ayo ikut headbang, Don!?

    Aku takut ketahuan kalau aku ketakutan.

    Spontan kujawab ajakan itu, ?Di sini aja aku, Her! Rambutku belum gondrong dan lebih suka menikmati musiknya?? 

    Heri yang akrab disapa Gorgom itupun meninggalkanku dan ikut mengayun-ayunkan rambutnya yang belum gondrong benar waktu itu?

    Selamat ulang tahun ke-72, 19 Agustus 2020, SMA Kolese De Britto, almamaterku tercinta. Tetap jaya untuk selamanya!

    Sydney, 19 Agustus 2020

    *Tentang Jogja adalah caraku melawan lupa atas kenangan-kenangan indah yang terjadi selama aku tinggal di Jogja sejak 1993-2008.

  • Garis-Garis Besar Haluan Berkawan Nyaman di Facebook

    Garis-Garis Besar Haluan Berkawan Nyaman di Facebook

    Tak lama sebelum ini, seorang kawan berkata kepadaku bahwa ia akan undur diri dari media social, utamanya Facebook. Ketika kutanya alasan pengunduran diri itu, jawabnya begini, ?Facebook udah nggak asik sekarang! Isinya gosip politik, isu agama dan selebritis! Kayak nggak ada hal lain yang enak buat dibahas!?

    Segera setelah mendengar alasan itu, aku merasa amat kasihan padanya.

    Kenapa? Bagiku, Ia membiarkan dirinya dibelenggu dan terpenjara padahal itu adalah akun miliknya sendiri! Facebook pun, hingga batas-batas tertentu memberikan kemerdekaan bagi kita untuk mengelola data dan informasi yang kita terima lho!

    Ini adalah fenomena dan aku tertarik untuk menganalisa mengapa cerita seperti kawanku tadi bisa terjadi?

    Enggak enak unfriend, takutnya dia marah dan tersinggung

    Salah satu cara paling mujarab untuk menyeleksi konten yang bersliweran di wall kita adalah dengan menyeleksi siapa yang kita ijinkan untuk urun informasi di sana! Mereka adalah teman (friend) dan siapa yang kita ikuti (follow) ditambah sedikit iklan sponsor yang datang dari Facebook.

    Untuk menyembunyikan konten sponsor, Facebook menyediakan link di sini.

    Untuk menghentikan konten dari orang yang kita follow, ya tinggal di-unfollow, kan?

    Tapi permasalahan biasanya muncul kalau kita harus meng-unfriend atau meng-unfollow kawan kita!

    Alasannya?
    ?Nanti dia marah atau tersinggung!?

    Manusiawi ya?
    Padahal, sejatinya seorang kawan sejati tidak akan marah ketika kamu memilih untuk meng-unfollow atau meng-unfriend di Facebook karena ketidakcocokan preferensi informasi yang disebarluaskan. Seorang kawan sejati akan menghargai tindakan itu karena ketika kita berkawan dengan seseorang bukan berarti kita harus cocok dan selaras dalam berbagai macam hal, bukan?

    Mungkin kalian bilang aku bicara seperti ini karena hanya berteori?

    Tidak! Kalian salah! Aku sudah dan selalu mempraktekannya sejak lama. Ada beberapa kawan yang ku-unfriend karena ketidakcocokan. Dan seperti kutulis di atas, ada dari mereka yang menerima alasanku, ada pula yang tidak menerima dengan beragam alasan. Salah satu yang mau kutampilkan di sini adalah alasan yang ini, ?Kamu sombong! Setelah hidup di Australia nggak mau lagi berteman denganku!?

    Responku? Kusenyumin ajah?.

    Itu prinsip dasar.

    Nah, kalau kamu sudah tega untuk melakukan hal di atas, berikut adalah panduan-panduan real yang kubikin berdasarkan pengalaman yang lagi-lagi, siapa tahu kamu perlu untuk dipraktekkan.

    Menambah kawan

    Makin lama, aku semakin jarang untuk menambah kawan di Facebook. Aku hanya menambah ketika suatu waktu menemukan seorang kawan lama yang belum masuk dalam daftar teman di Facebook. 

    Aku cenderung tidak menambahkan kawan dari rekan-rekan kerja yang sekarang karena di Australia sini, tak semua rekan kerja bisa otomatis dijadikan kawan, sebaik dan sedekat apapun dia.

    Aku menambah kawan di Facebook juga biasanya terkait dengan kegiatan pelayanan keagamaanku. Karena dalam empat tahun belakangan aku selalu menulis renungan Kabar Baik dan Facebook adalah media untuk menyebarluaskannya, maka mencari kawan yang memiliki potensi untuk jadi pembaca adalah hal yang kerap kulakukan.

    Menerima ajakan berkawan

    Meski makin jarang menambahkan kawan ke Facebook, sejatinya aku justru makin sering menerima ajakan pertemanan di media yang dibesut Mark Zuckerberg ini.

    Kawan di Facebook, secara kategori kubagi dalam tiga bagian besar.

    Pertama, kawan ?beneran?, alias kawan yang pernah kutemui secara langsung dan kami benar-benar berkawan.

    Kedua, kawan ?online?, adalah mereka yang belum pernah kutemui secara langsung tapi dalam interaksi online beberapa tahun belakangan membuat kami bisa berkawan.

    Ketiga, ?pembaca?, adalah mereka yang berkawan denganku karena sering/suka membaca tulisan-tulisanku di blog ini. Fans? Bukan juga! Aku tak suka istilah fans :)

    Tapi tak semua ajakan berkawan kuterima. Hal-hal berikut yang biasa kujadikan acuan dalam menerima/menolak ajakan pertemanan.

    Kenal? Ya! Langsung kuterima!

    Tidak kenal? Siapa common friends-nya? Kalau commond friends-nya adalah kawan-kawan dekatku dari kalangan yang selama ini kuakrabi, misalnya alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sahabat dan saudara, rekan sepelayanan, maka ajakan itu kuterima.

    Selain itu, hal-hal yang membuatku mempertimbangkan ajakan perkawanannya adalah aktivitas di wall mereka masing-masing. Kalau ia datang dari kaum radikal? Tolak!

    Kalau ia datang dari lawan politik yang berseberangan dengan pilihan politikku? Tolak!

    Kalau dia tidak berseberangan tapi isi wall-nya menyuarakan kebencian, mempromosikan perbedaan melulu? Tolak!

    Kalau ia ternyata bukan manusia melainkan promosi usaha? Tolak!

    Ketika tidak nyaman terhadap satu akun?

    Postingan yang tak sesuai dengan apa yang kuanggap bagus cenderung membuatku tidak nyaman dalam bermedia sosial. Ada beberapa kriteria tapi salah satu contohyna adalah mengunggah foto jenasah. 

    Aku bukan seorang penakut, tapi setidaknya kalau melihat foto jenasah sebaik/buruk apapun wajahnya, aku cenderung merasa gimanaaaa gitu. 

    Melihat seperti itu, hal pertama yang kulakukan biasanya adalah menyembunyikan konten dari wall-ku.

    Jika akun yang sama mengunggah konten-konten yang membuatku tak nyaman, hal kedua yang kulakukan adalah ?unfollow? tanpa harus ?unfriend?. Jadi secara hubungan, kita tetap berteman tapi aku tak lagi mengijinkan konten-kontennya masuk ke dalam linimasa/wall-ku. Sebagian besar persoalan ketidaknyamanan biasanya teratasi di sini.

    Block!

    Tapi dalam keadaan-keadaan tertentu, unfollow bukanlah solusi terbaik. Misalnya pernah suatu waktu, aku sudah meng-unfollow orang tersebut tapi ketika aku sedang menulis sebuah posting dan ia berkomentar secara kasar atau hal yang membuatku tak nyaman, aku akan bertindak.

    Unfriend? Bukan!

    Lebih tepatnya ?Block?! Kenapa? Nanggung! Beda antara ?unfriend? dengan ?block? amat tipis jadi aku pilih yang paling maksimal supaya aku bisa kembali nyaman secara maksimal juga.

    Wih, egois banget kamu, Don?

    Tergantung kamu lihat dari sisi mana! Tapi bagiku setiap orang berhak untuk merasa nyaman tanpa harus membuat orang lain tidak nyaman. Sehingga ketika ada orang lain yang berusaha membuatku tidak nyaman, lebih bagiku untuk lepas darinya supaya aku dan dia tetap bisa sama-sama nyaman tanpa harus saling berhubungan.

    Begitu?

  • Bagaimana seharusnya anak-anak kita ber-internet?

    Bagaimana seharusnya anak-anak kita ber-internet?

    Penggunaan gawai (gadget) begitu meluas sekarang tak hanya di kalangan dewasa tapi juga merambah anak-anak dan remaja. Di mana-mana, anak kecil tampak sibuk bermain tablet dan telepon genggam seolah melupakan sekitarnya termasuk orang tuanya sendiri.

    Ada yang salah?
    Tak elok bicara salah dan benar secara general tapi lebih baik bicara tentang bagaimana baiknya supaya bisa lebih terkelola karena bukankah segala sesuatunya kalau berlebihan itu kurang baik juga?

    Salah seorang kawanku yang tinggal di Sydney memberiku link sebuah eLearning menarik tadi pagi.

    Aku belum melihat seutuhnya, tapi dari apa yang kusimak, eLearning berjudul CyberParent itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana cara kita mengetahui apakah anak-anak seharusnya boleh atau tidak internet?

    eLearning yang merupakan produk Program Pelatihan Keamanan Berinternet ?Working with Mothers?, ini dikembangkan oleh Australian Multicultural Foundation yang berkolaborasi dengan Bully Zero Foundation Australia.

    Ada dua menu utama dalam eLearning tersebut yaitu ?Belajar? dan ?Latihan?.

    Dalam kolom ?Belajar? kita bisa menemukan pengertian-pengertian dasar tentang internet, social media, situs web, app serta bahaya-bahaya yang mengancamnya seperti cyber bullying, masalah privasi, permainan online, grooming/perekrutan (terkait dengan gerakan termasuk terorisme global).

    Sementara pada kolom ?Latihan?, kita bisa melihat beberapa hal terkait berapa lama waktu yang cukup untuk main internet, bagaimana kebiasaan berinternet yang baik, apa saja kiat-kiat praktisnya, apakah bahasa online itu.

    Aku menyarankan kalian terutama yang punya anak usia kecil dan remaja untuk menyimak eLearning ini, gratis dan berbahasa Indonesia. Sulih suaranya dikerjakan sendiri oleh kawanku yang memberi link ini namanya Imelda Santoso.

    Link menuju eLearning Cyberparent di sini!

  • Join WAG? No way!

    Join WAG? No way!

    Bulan madu menikmati teknologi baru bernama WhatsApp dan?WhatsApp Group tampaknya segera berakhir.

    Aku dan beberapa kawan yang kuhubungi menyatakan keengganannya untuk bergabung ke WhatsApp Group?(WAG) baru. Beda dengan beberapa waktu lalu, saat kita ramai-ramai mengenal WA sebagai hal baru sebagai pengganti Blackberry Messenger.

    Waktu itu dikit-dikit bikin WAG…

    Keluarga besar? Bikinin WAG!
    Keluarga inti? WAG pula supaya kekinian!

    Ikatan alumni? Bikin WAG!
    Tapi nggak mau kalau di ikatan alumni grup ada si ini dan si itu? Bikin WAG yang baru tanpa si ini dan si itu!

    Udah tenang-tenang bikin WAG tahu-tahu ada yang bermusuhan, pecah kongsi lagi, muncul WAG-WAG baru.
    Demikian terus-menerus…

    So, enough is enough!
    Secara umum, dari yang kukumpulkan ada beberapa alasan untuk menolak ketika diajak bergabung dalam sebuah WAG. Alasan-alasan itu antara lain adalah sebagai berikut:

    1. Ogah! Ada si itu dan si anu!

    Diinvite ke sebuah WAG tiba-tiba di list member ada Si Itu dan Si Anu? Ogah! Keluar deh!

    WAG itu layaknya komunitas offline, kadangkala kita tak cocok dengan seseorang atau sekelompok orang jadi ya wajar kalau tak semuanya harus masuk ke sebuah WAG meski topik yang diusung seluas apapun, seringan apapun dan semoderat apapun itu.

    2. Ga punya waktu untuk ngebaca

    Kawanku konon tergabung dalam hampir 100 WAG! Edan? Kata orang biasa, tapi bagiku itu sudah lebih dari luar biasa! Aku iseng bertanya, “Apa kamu sempat baca?”

    Temanku menggeleng. Aku baca kalau ada waktu.

    Lantas aku bertanya, “Kalau demikian kenapa kamu mau gabung ke WAG?”

    “Nggak enak kalau nolak!”

    Really?
    Salah satu alasan kenapa aku tak mau diundang ke lebih banyak WAG lagi adalah karena aku tak yakin punya waktu untuk membaca semua pesan yang masuk. Kalaupun ada waktu, pertimbangan untuk tidak membaca datang dari lain sisi yaitu sepenting apakah semua pesan yang masuk itu?

    3. Full of sh*t!

    Apa isi kebanyakan WAG?
    Dari yang kukumpulkan, kawan-kawan mengurutkan ini:

    • Ucapan selamat entah itu sukacita (ulang tahun, pernikahan, perayaan keagamaan) dan dukacita (sakit, kematian).
    • Hoax!
    • Foto-foto porno, meme, video lucu

    Kecuali kamu tertarik pada hal-hal di atas, silakan gabung WAG,tapi bagiku, untuk mengucapkan ucapan sukacita dan dukacita aku terbiasa mengirim secara personal tak melalui WAG yang kadang isinya cuma copy paste!

    Aku juga tak tertarik foto-foto porno, meme maupun video.

    Satu-satunya hal yang membuatku tertarik bergabung di WAG dan kawan-kawanku bergabung di WAG adalah ketika mereka mendapatkan kiriman Kabar Baik dariku hahahaha!

    4. Diskusi! Diskusi?

    Seorang kawan menghubungiku, “Bro, kamu kuajak bergabung ke sebuah grup kebangsaan. Kita banyak diskusi di sana.”

    Diskusi? Serius? Aku amat jarang menemui pengalaman berdiskusi yang menarik dan bisa berjalan baik di WAG. Yang ada justru saling adu pendapat, saling adu ketik yang berkelindan satu sama lain.

    Ada pula yang sedang seru berdiskusi tiba-tiba ada yang join diskusi dengan embel-embel, “Gue ikut diskusi tapi malas scroll ke atas boleh nggak?”

    Halloooo!!!!

    Diskusi? Mari bertemu di warung kopi. Diskusi secara offline tetap tak tergantikan.

    5. Data

    Aku tak pernah meneliti berapa banyak data yang kuhabiskan untuk ikut beragam WAG karena aku bekerja di sebuah perusahaan telco so data itu tak terlalu jadi masalah karena jadi benefit karyawan. Tapi ada beberapa kawan yang mengatakan semakin banyak gabung dalam WAG semakin boros data yang dihabiskan.

    Jadi? Cabut!

    6. Memori

    Bukan! Bukan karena kamu gabung ke WAG yang ada mantan pacarmu lalu kamu tenggelam dalam memori. Tapi kamu gabung ke WAG terlalu banyak lantas memori handphonemu habis dan kinerjanya melambat.

    Ya sutra, exit dulu ya!

    Bagaimana kalian? Masih nyaman bergabung dalam berjilid-jilid WAG? Atau jangan-jangan sudah muak juga sepertiku?

  • Tiga jurus menahan syahwat di social media. Apa saja?

    Tiga jurus menahan syahwat di social media. Apa saja?

    Ernest Prakasa menjadi sorotan beberapa hari lalu.
    Gara-gara cuitannya yang mengkaitkan Zakir Naik, seorang ulama India, dengan ISIS, ia harus meminta maaf berulang-ulang, di banyak kanal social media.

    Salah satu yang kuikuti karena menarik adalah permintaan maaf yang dilayangkan melalui akun Instagramnya seperti di bawah ini.

    Teman2, izinkan saya mengungkapkan sesuatu. Tadi malam, dengan mengacu ke beberapa artikel di media asing, saya men-twit soal keterkaitan antara Zakir Naik & ISIS. Pada saat itu saya berpikir, karena medianya media terkenal maka beritanya valid. Tapi setelah banyak protes, saya jadi merenungkan bahwa apa jadinya seandainya yg mereka beritakan tidak benar. Maka saya sudah menyebarkan fitnah. Untuk itu, saya mohon maaf pada teman2 yg sudah tersakiti hatinya. Dengan tulus tanpa tekanan dari pihak mana pun saya ingin minta maaf, semoga ini jadi pelajaran bagi saya untuk lebih hati2 dalam menerima informasi di media. Bagi teman2 yg sudah terlanjur melabeli saya “anti Islam” dan sebagainya, saya pasrah :) Saya lahir hingga remaja di lingkungan Betawi Muslim & mereka tidak pernah mempermasalahkan agama saya. Saya sering dibully krn Cina, tp tidak pernah dibully krn Kristen. Jadi apa dasar saya untuk membenci Islam? Sekali lagi, saya mohon maaf, dan berjanji untuk lebih berhati-hati. Dimaafkan atau tidak, saya serahkan pada teman2 sendiri. “Enak banget tinggal minta maaf!”. Iya sih bener juga, tapi namanya orang salah, bisa apalagi selain minta maaf? Sekian dari saya, terimakasih udah ngebaca postingan ini. ??

    A post shared by Ernest Prakasa (@ernestprakasa) on Mar 6, 2017 at 12:41am PST

    Perhatianku tiba-tiba terpaku pada penggalan pesan di atas sebagai berikut:

    …Pada saat itu saya berpikir, karena medianya media terkenal maka beritanya valid…

    Aku tak mau menyebut nama medianya meski aku tahu dan mungkin kalian juga sudah tahu karena yang lebih menarik daripada sekedar memberitahukan nama media itu adalah pertanyaan yang muncul,

    Benarkah media terkenal menyebarkan berita tak valid? Atau jangan-jangan media tersebut menyebarkan berita yang valid tapi lantas dianggap tak benar oleh khalayak?

    Hal ini mengingatkanku pada pengalaman bertemu seorang kawan lama di masa silam.

    Pernah aku berjumpa kawan lama di Jogja dulu. Setelah beberapa kali gonta-ganti profesi, ia pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan yang waktu itu aku belum pernah mendengar namanya.

    “Perusahaan di bidang apa itu?”
    “Media positioning!” jawabnya.

    “Opo kuwi? Tambah ora mudheng!” demikian balasku karena aku memang benar-benar tak tahu nama perusahaan apalagi bidangnya! Asing! Baru!

    Lalu ia menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah menerima permintaan dari klien (kebanyakan produsen barang retail) untuk dibuatkan berita yang lantas diterbitkan oleh media.

    “Wah, berarti seperti tulisan pesanan?” Ia mengangguk.

    “Bodreks dong?” Ia tersenyum, “Nggak juga lah!” Bodreks adalah istilah wartawan yang dibayar/menerima bingkisan dari pihak tertentu untuk menuliskan tulisan sesuai pesanan.

    Jadi sehari-hari tugasnya adalah berhubungan dengan media dan meminta mereka untuk menurunkan tulisan tentang produk dari produsen yang membayarnya. Kadang-kadang tulisan juga diarahkan pada pengungkapan ketidakbaikan produk para pesaing.

    Dari situ aku baru sadar bahwa tak selamanya media-media itu menyampaikan berita yang benar; atau setidaknya, ketika muncul pesanan, sebuah berita bisa saja jadi tak berimbang karena condong pada salah satu kekuatan yang membayar/mengongkosi untuk mengalahkan pesaingnya!

    Kembali ke persoalan yang dihadapi Ernest dengan mengaitkan pengalaman berbincang kawan lama yang kutulis barusan, aku jadi berpikir bahwa di jaman yang laju informasinya lebih kencang daripada air kencing ini, persoalannya bukan lagi pada benar-salahnya sebuah informasi, tapi pada bagaimana kita mampu mengendalikan syahwat untuk menyebarkan informasi yang kita terima terlepas dari validitasnya.

    Ada tiga hal yang menurutku bisa kita pakai untuk pengendalian itu.

    social media

    Pertama, perlukah informasi itu dibaca?

    Ketika sebuah informasi kamu terima, hal pertama yang harus dipikirkan adalah, perlukah dibaca? Kalau perlu, untuk apa? Adakah pengaruhnya kalau kita baca maupun tidak kita baca terhadap kehidupan pribadi kita? Keluarga kita? Pekerjaan kita dan orang-orang terdekat kita?

    Berapa lama waktu diperlukan untuk membaca informasi tersebut dan adakah pengorbanan waktu itu seimbang dengan apa yang kita dapat dari situ?

    Kedua, perlukah dipercaya?

    OK, kalian akhirnya memutuskan untuk membaca. Tapi membaca tidak identik dengan otomatis percaya! Apa perlunya untuk percaya? Kenapa jadi percaya? Apa yang membuatmu percaya? Apakah karena berita itu menjelek-jelekkan calon gubernur lawan, misalnya, maka kita jadi percaya? Bagaimana dengan berita yang menjelek-jelekkan calon yang kita bela, kenapa kita dengan cepat bilang tak percaya dan menganggap itu adalah hoax semata?

    Ketiga, perlukah disebarkan?

    Kuhormati kalau kalian akhirnya percaya dengan berita yang kalian baca. Tapi perlukah lantas kita menyebarkan berita yang kita percaya itu kepada orang lain? Untuk apa? Supaya sama-sama jadi percaya? Apa gunanya dengan membuat orang lain jadi sekepercayaan dengan kita? Apakah hal itu lantas membuat mereka juga sama-sama akan sudi dipenjara ketika kita tersandung kasus hukum oleh karena penyebaran informasi tersebut?

    Gunakanlah ketiga hal itu sebagai penyaring, sebagai filter sebelum akhirnya kita menekan link judul untuk membaca berita seluruhnya, memaksa batin dan pikiran kita untuk percaya hingga meminta ujung jempol kita menyebarkan berita yang kalian baca dan percaya itu kepada khalayak di bumi social media.

    Eh btw, bumi social media itu bumi yang bulat atau datar ya?

  • Mengundurkan diri dari social media seperti Sarah. Perlukah?

    Mengundurkan diri dari social media seperti Sarah. Perlukah?

    Sarah Sechan mengundurkan diri dari social media. Sebuah postingan yang diunggah via akun instagram dijadikannya sebagai penanda.

    Kabar pengunduran diri itu kudapat dari seorang kawan yang men-share di Facebook. Lalu ia, kawanku tadi, dengan gaya ‘sok mellow nan latah’ nya pun berujar, “Sepertinya aku juga akan berpikir hal yang sama dengan Sarah, mundur dari social media.”

    Pertanyaanku, sebenarnya perlukah kita untuk ikutan latah, mengundurkan diri dari social media seperti Si Sarah?

    Ada baiknya kita simak poin-poin penting yang tersebar dalam postingan Sarah yang disampaikan dalam Bahasa Inggris yang apik itu.

    Sarah menuliskan ini, “I need to really start living and enjoy every moment of my life, not busy trying to make a point or seek approval from strangers.”

    Lalu ini, “I want to go back to the days when I eat because it?s basic necessity, not because foodporn posts are considered cool.”, juga ini, “I want to wear certain outfit because it makes me feel comfortable, not because I have to post ootd (or because I got them free ).”

    …dan ini yang paling menohok, “I want individuals to know me because they have met me and spent time with me, not because they read a sentence of my caption underneath a photo I posted after selecting from hundreds of pretentious selfies . and vice versa, I don?t want to think I know someone just because I follow him/her on social media.”

    Membaca dan mencoba memahami poin-poin tersebut, aku tidak bisa tidak harus menyelamati Sarah karena keputusan pengunduran dirinya adalah keputusan yang benar betul-betul! Simply karena aku berpikir ketika hidup sudah penuh dengan genangan polutan, satu-satunya cara untuk menyelamatkannya ya move on, angkat kaki dari kubangan!

    Tapi membaca poin-poin tersebut di atas sekaligus juga membuatku merasa bahwa aku tak perlu meninggalkan social media, atau kalaupun nanti suatu saat harus meninggalkannya, alasanku tentu bukan alasan yang sama dengan yang Sarah punyai.

    Aku toh bukan orang yang merasa harus mencari pembenaran dari para follower-followerku. Tak hanya karena jumlah followerku tak ada apa-apanya dibandingkan Sarah, tapi… come on, mereka itu siapa sih? :))

    Aku juga bukan orang yang bisa menahan lapar. Kalau ada makanan yang enak ya embat aja, gak usah diperhitungkan dulu layak ditayangkan nggak? ‘Instagram-able’ apa nggak? Lapar? Hajar!

    Aku juga merasa tak terbebani untuk selalu mengenakan outfit yang nggak malu-maluin atau setidaknya yang at least 50 likes kudapat ketika kupajang foto selfieku di social media! Kenapa? Seganteng-gantengnya orang, ia tetap akan ganteng meski tak mengenakan outfit yang keren sekalipun! *uhuk…

    Kawan, percayalah bahwa ketika ada hal yang diijinkan untuk muncul di muka bumi ini, pasti bisa kita manfaatkan untuk kebaikan asal kita mau menempatkan diri dan memilih cara pandang yang tepat terhadap hal tersebut. Demikian juga dengan social media! Tak semua hal yang ada di sana itu buruk. Sekali lagi, tergantung bagaimana kita memandang dan memposisikan diri terhadapnya.

    Ketika aku belum bisa menemukan cara untuk memandang social media secara baik, setidaknya aku memilih menempatkannya sebagai hiburan saja, tak lebih dan kadang kurang. Social media bagiku yang terutama adalah sarana untuk mencari tahu kabar kawan-kawan lamaku, bukan media untuk mencari tahu kabar burung yang menyudutkan lawan politik calon gubernur pilihan kita, misalnya.

    Aku tak ingin menempatkan social media lebih penting dari hal-hal tersebut. Kenapa? Ya supaya ketika nanti saat aku harus mengundurkan diri dari social media, hal itu muncul bukan karena satu penyesalan apalagi kebencian tapi sebuah sikap yang legawa. Singkat kata, aku tak mau menempatkan social media sebagai hal yang mempengaruhi jalan terus/terhentinya hidupku.

    Jadi mau mundur seperti Sarah Sechan? Suka-suka tapi mending dipikirin dulu, Bro, Sis! Tak semuanya harus dihentikan! Yang penting bagaimana jalan seimbang menggunakan penguasaan pikiran dan hati. Kalem aja, jangan bukannya gaduh lalu goyah karena berat sebelah… kalau jatuh sakit soalnya!

    Simak artikel tentang pengunduran diri Sarah Sechan dari social media di sini.

  • Tentang RS, FH, dan kenapa orang memilih cybersex sebagai solusi pemuas nafsu sex alternatif?

    Tentang RS, FH, dan kenapa orang memilih cybersex sebagai solusi pemuas nafsu sex alternatif?

    Hari-hari ini, publik di Tanah Air dikagetkan dengan beredarnya transkrip pembicaraan via telepon dari seorang yang mirip FH, seorang yang akhir tahun silam terlilit kasus makar bersama beberapa tokoh lainnya.

    Yang membuat heboh adalah materi percakapan yang membawa-bawa nama RS, pimpinan ormas kenamaan ?agama yang dalam beberapa bulan terakhir ini memang jadi sorotan.

    Apa yang jadi materi percakapan tersebut sebenarnya hanyalah pengantar karena tiba-tiba muncul sebuah situs web yang memuat informasi yang lebih dalam antar FH dan RS, transkrip percakapan yang tak senonoh dan cenderung tabu melalui media WhatsApp lengkap dengan foto-foto syur seorang wanita yang konon mirip sosok FH tersebut.

    Aku sengaja tak menampilkan nama terang dan tak juga mencantumkan alamat situs web tersebut bukan karena takut ancaman UU ITE saja tapi lebih pada kepentinganku untuk menempatkan diri sebagai orang yang lebih bermartabat. Karena bagiku, sebenci-bencinya aku terhadap sosok FH dan RS, alangkah tak patutnya jika kebencian itu justru jadi pemicu penurunan derajat dan martabatku.

    “Kok turun derajat gimana tho, Bos?” Tunggonono tiba-tiba membalas begitu ketika semalam kami bercakap-cakap di WA terkait masalah di atas.

    “Ya, turun derajat lah! Manusia macam apa kamu kalau mengumbar privasi orang lain ke publik? Hak kamu apa?” ketusku.

    “Tapi ya si RS dan FH itu kurang kerjaan, Bos! Esek-esek kok ya lewat WA! Kenapa nggak langsung aja?! Dimana enaknya sih? Cuma ngebayangin?!” tanya Tunggonono lagi.

    Cybersex itu nyata!

    Hal itu mengingatkanku pada kejadian dulu. Sekitar akhir dekade 90an hingga awal tahun 2000, di Jogja, aku dipercaya oleh seseorang untuk mengelola sebuah warung internet (warnet). Dari laporan tukang bersih-bersih yang kutugaskan merapikan warnet setiap pagi, aku mendapat laporan bahwa pada beberapa tempat duduk, dan keyboard dan kadang-kadang hingga ke permukaan layar monitor, ditemukan tumpahan sperma!

    Sperma? Ya! Sperma yang kubayangkan ada sebagai hasil onani penyewa warnet! Menjijikkan? Tapi itulah kenyataan! Apa mau dikata?!

    Kegiatan onani/masturbasi menggunakan media perangsang foto/video porno memang sudah ‘awam’, tapi di warnet?

    Hal yang lebih mengagetkan lagi, setelah iseng membuka beberapa log file percakapan via aplikasi mIRC yang terjaring, aku banyak mendapati rekaman pembicaraan yang berisi esek-esek, persis sama dengan isi percakapan orang yang diduga adalah FH dan RS tersebut di atas.

    Dari situ akhirnya aku sadar bahwa cybersex itu ada dan nyata.

    Stimulasi seksual

    “Tapi kok cybersex itu bisa terjadi tho Bos? Aku tetap nggak mudheng dimana enaknya?” Tunggonono menghajarku dengan pertanyaan yang menusuk…

    Menurut Katherine Hertlein Phd, seorang associate professor dari University of Nevada dalam sebuah jurnal kepada American Psychological Association mengemukakan bahwa cybersex itu terjadi karena percakapan dengan lawan jenis (atau dengan sejenis, tergantung ketertarikan seksual pelaku) dalam media apapun termasuk internet itu tak hanya melibatkan komunikasi saja, percakapan saja, tapi juga seksual dan emosional.

    “Nah, karena sudah melibatkan seksual dan emosional, yang ada tinggal bagaimana menstimulasi hingga terangsang lalu mencapai klimaks, Nggon!” balasku pada Tunggonono.

    Unsur-unsur atau cara untuk menstimulasi nafsu pun ternyata tak hanya berupa teks maupun suara saja tapi juga foto maupun film yang direkam menggunakan webcam. Jadi, sepasang pelaku cybersex, mereka tak hanya bisa saling bertukar teks dan suara, tapi juga mengirim foto dan bahkan men-share rekaman webcam mereka!

    “Oh, pantas dulu di warnet sebelah rumahku, Bos, di Minomartani, Sleman sana… cari komputer yang ada webcamnya selalu penuh! Mungkin ya untuk esek-esek itu ya?” tanya Tunggonono lagi.

    “Ya mungkin demikian! Jadi kamu mulai mudheng, Nggon?”

    Imajinasi

    Nah, hal lain yang juga menarik, dan ini adalah menjadi pangkal kenapa cybersex selalu memicu ketertarikan para pasangan adalah karena penggunaan imajinasi.

    “Maksudnya, Bos?”

    Adanya jarak yang membuat kita terpisah dengan partner cybersex tak melulu mendatangkan kerugian. Justru, kita dibebaskan untuk membayangkan atau mengimajinasikan sosok partner dengan pancingan konten baik teks, suara, foto dan video yang kusebut di atas tadi.

    Tampak dalam transkrip orang mirip FH dan RS yang kubaca, masing-masing pihak berusaha memancing seolah mereka sedang berada di satu ruangan dan melakukan kegiatan yang sama: berhubungan seks!

    “Oh, jadi mungkin dengan begitu si FH bisa membayangkan sosok RS itu seperti Rambo dan sebaliknya, RS bisa membayangkan FH itu mungkin mirip si….”

    “Hush! Jangan sembrono, Nggon! Tapi pokoknya ya begitu!” sergahku.

    AAA engine

    Hal lain yang juga membuat orang suka melakukan cybersex adalah adanya faktor AAA engine yaitu Accessibility (kemudahan akses), affordability (keterjangkauan dalam hal biaya) dan anonymity (anonimus, tanpa identitas).

    Bayangkan jika harus berkencan secara langsung?!
    Kalau dalam kasus orang mirip FH dan RS dimana si RS sudah berkeluarga dan belum tentu diijinkan oleh istrinya/bidadari 1 untuk memperistri orang lain lagi, jika mereka memaksa untuk selalu bertemu dan melampiaskan nafsu seksual, di hotel misalnya, tentu biayanya akan mahal.

    Mahalnya biaya juga tak melulu ter-referensi ke dalam jumlah uang, tapi juga resiko ketahuan secara si RS kan orang terkenal dan mudah dikenali. Bayangkan kalau ia tertangkap cctv yang dipasang di lobi atau di lift, kan lebih berabe lagi!

    Belum lagi soal biaya.
    Berapa yang harus dibayar untuk bill tagihan hotel? Makan? Deodorant dan parfum serta mint penyegar mulut supaya bau pete dan jengkol hilang tak berbekas? Mungkin juga biaya menebus obat penghilang bau di sekitar daerah kewanitaan? Alat kontrasepsi? Dan tetek bengek lainnya sementara di internet, praktis mereka hanya perlu koneksi internet yang bagus dan murah (yang pasti jauh lebih murah ketimbang sewa kamar hotel, kan?) dan bisa dilakukan dimanapun serta kapanpun!

    “Maksudnya, Bos?”
    Ya maksudnya, kalau mau cybersex di ruang tengah keluarga saat sedang bercengkerama dengan ‘bidarai 1’ pun juga bisa toh tinggal pakai handphone?

    Atau mau di kamar mandi pun bukannya lebih mudah karena ketika harus ‘ekseskusi’ dengan jalan masturbasi ya bisa di tempat dan saat itu juga asal jangan sampai ketahuan satpam karena ada suara berisik nan aneh saja?

    “Jadi, gimana Nggon? Udah jelas?”
    “Udah, Bos! Tapi tetap nggak masuk akal… kok bisa terangsang dan bisa puas hanya sekadar membayangkan!”

    “Masa kamu dulu saat jarak jauh dengan Cathy nggak pernah cybersex, Nggon?”
    “Hahahaha.. Si Bos mancing…?”

    Tiba-tiba batere handphoneku lemot dan aku tak bisa melanjutkan percakapanku dengan Tunggonono itu…

    Simak jurnal Are Internet affairs different yang banyak kupakai quote-nya di tulisan ini, di sini.

  • Google Pixel, an unboxing video

    Google Pixel, an unboxing video

    Sebulan setelah mendapatkan iPhone7, aku mendapatkan Google Pixel.

    Kenapa aku menggunakan kata ‘mendapatkan’, karena memang benar-benar aku mendapatkan, tanpa harus membelinya!

    Waduh! Kamu udah jadi buzzer mereka ya, Don!? Bukannya kamu dulu anti buzzer?

    Hahaha, ini tidak ada kaitannya dengan menjadikan diri sebagai buzzer walaupun kalau pada akhirnya aku benar-benar diajak untuk jadi buzzer Apple dan Google aku akan merasa amat tersanjung karena berarti reputasiku sebagai blogger sudah benar-benar super!

    Tapi lupakan soal superblogger karena dalam video di bawah ini aku akan memperlihatkan kepada kalian bagaimana proses unboxing Google Pixel kuadakan.

    https://www.youtube.com/watch?v=A9ZyvdcShhg

    Ooopss, kalau tak bisa melihat videonya, bisa klik linknya langsung di sini!

  • iPhone 7 and Beats Studio Wireless Headphone Unboxing

    iPhone 7 and Beats Studio Wireless Headphone Unboxing

    Akhirnya aku dapet iPhone 7 tepat di hari pertama rilis iPhone seri teranyar itu, Jumat 16 September 2016.

    iPhone ini menggantikan iPhone 6 yang sudah kupakai sejak tepat dua tahun silam.

    Waktu aku merilis foto yang jadi featured image postingan ini ke Facebook, selain beberapa berkomentar “Kemana rambutmu dua tahun terakhir ini, Don?” (errgggghh,mereka nggak ngerti kalau tiap dua minggu sekali aku memang memangkas rambutku hingga gundul!) tak sedikit yang bilang, “Wuihhhhh… enak banget hidupmu, Mas Donny? Baru dua tahun ganti iPhone kok sudah ganti lagi?”

    Amin dan kuamini kalau kalian bilang hidupku enak banget tapi sebenarnya enak-tak-enak itu tak bisa ditakar dari iphone yang kupakai hehehe…

    Ketahuilah, aku tak membeli iPhone itu meski aku mendapatkannya.

    Hah? Jadi gratis? Kok bisa? Nyolong?!
    Hahahahaha! Aku dapat dua barang baru nan gratis. iPhone 7 dan sebuah wireless headphone ber-merk Dr Dr Beats seri Studio.

    Apa karena aku adalah seorang superblogger?
    Tentu bukan. Jadi di Australia dan banyak negara maju lainnya, beberapa operator telekomunikasi menawarkan sistem kontrak pasca bayar untuk para pelanggannya baik yang periode setahun maupun dua tahun.

    Setiap kontrak biasanya menyertakan handset/mobile phone sebagai bundle dari kontrak itu.

    Misalnya kita ambil kontrak paket seharga $85 per bulan, kita akan mendapatkan jatah telepon, sms, internet lalu kita boleh memilih handset yang kita suka yang masuk dalam range harga tersebut.

    Nah, kontrak dua tahunanku tepat berakhir bulan September 2016 ini. Kalau dua tahun lalu aku dapet iPhone 6, sekarang, kebetulan bertepatan dengan rilis iPhone 7 oleh Apple beberapa hari sebelumnya, aku memilihnya.

    Jadi, jangan sensi dulu, Kawan… Aku ganti iPhone 7 karena memang kontrakku tepat habis bulan ini dan aku ingin memperpanjang kontrak.

    Mau liat bagaimana proses unboxing-nya? Silakan lihat di video bawah ini atau kamu bisa juga mengakses direct link Youtube just in case video di bawah tak muncul entah karena apa….

    https://www.youtube.com/watch?v=vFge0T2RyKs&feature=youtu.be