Kategori: Refleksi 2025

  • Refleksi 2025: Menata Ulang Pertemanan

    Refleksi 2025: Menata Ulang Pertemanan

    Tahun 2025 ini aku memutuskan untuk lebih menutup diri terhadap publik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan menata ulang pertemanan.

    Di dunia non digital, aku sudah sejak lama jarang keluar rumah! Jarang banget. Ke kantor cuma seminggu dua kali itupun kalau pengen sepedaan. Kalau males ya work from home juga dibolehin. Ke kafe atau ke tempat keramaian, waduh kapan ya terakhir ke tempat kayak gitu, udah lama banget hahaha! Paling ke Gereja, makan di rumah makan bareng keluarga, grocery shopping dan antar-jemput anak-anak dari tempat kursus!

    Di dunia digital beda cerita.

    Aku begitu terbuka… by design sih!

    Makanya dari sisi itu pengetatan kulakukan.

    Kalau di Instagram susah diapa-apain karena akunku terverifikasi sejak Desember 2022. Hal itu membuatku tidak bisa mengubah status akun dari public menjadi private kecuali aku mau kehilangan tanda verifikasi yang waktu itu dikasih cuma-cuma oleh Instagram.

    Hal yang paling banter kulakukan adalah menghapus semua foto keluarga dan meng-unfollow serta meminta anak-anak dan istriku untuk unfollow aku demi privacy masing-masing.

    Yang paling radikal adalah yang kulakukan di Facebook.

    Beberapa orang menyarankanku untuk meninggalkan Facebook tapi aku memilih untuk tetap ada di platform itu untuk menjaga hubungan dengan kawan-kawan lama di Indonesia yang kebanyakan mungkin karena seusia, masih main Facebook :)

    Status akun Facebook yang tadinya terbuka untuk publik kuubah jadi terkunci alias locked. Perubahan itu membuat orang-orang yang tidak ada di list “Friends” ku tidak bisa melihat details dan linimasaku.

    Keputusan ini menjadi sebuah omnibus setelah beberapa waktu sebelumnya bingung bagaimana caranya mengelola privasi atas

    begitu banyak foto yang kuunggah sejak 2007 dan status/postingan yang sifatnya public. Daripada ngerjain setting setiap entitas satu per satu, ya udah deh dibikin locked aja beres!

    Yang jadi persoalan selanjutnya adalah “Friends”.

    Semakin kemari, semakin aku teriritasi dengan cara Facebook menggunakan istilah Friends sebagai orang yang terhubung langsung. Facebook menurut keyakinanku seperti melakukan simplifikasi terhadap arti “teman” bahwa untuk menjadi teman itu semudah kita kirim request “Add Friend” lalu kalau yang dikirimi memencet tombol “Confirm” maka dua orang tadi otomatis jadi teman.

    Mungkin aku tergolong manusia lama, untuk berkawan tidak semudah itu. Aku harus kenal dulu. Untuk kenal aku harus berinteraksi. Yang kulakukan kemudian adalah meng-exercise orang-orang yang sudah terlanjur ada di friendlistku; apakah mereka itu benar-benar teman atau bukan?

    Beberapa teman yang sudah meninggal dunia, kuhapus dari friendlist kecuali almarhum Papaku.

    Bukannya aku ingin melupakan mereka, tapi secara konteks sudah tidak pas! Emangnya di alam sana masih pegang henpon dan punya data untuk akses akun Facebook? Kan enggak!

    Beberapa orang yang aku merasa asing dari namanya tidak serta merta kuhapus. Mungkin aku yang lupa nama asli. Untuk menengarainya aku melihat foto profile. Kalau tetap lupa atau tak kenal, kulihat siapa “common friends” nya. Kalau dari common friends nya pun gak jelas, tak hanya orang itu, tapi semua common friends juga kuhapus sekalian.

    Belum selesai di sini, aku juga meng-exercise linimasa kawan-kawan lama. Tak semua kawan yang kita kenal ketika berteman itu punya karakter yang tidak berubah setelah bertahun tidak berinteraksi.

    Ada kawan yang dulu asik, sekarang linimasanya penuh dengan hal-hal berbau radikalisme agama. Tak ada ampun: UNFRIEND!

    Ada juga kawan yang dulu seper-jokowi-an tapi sejak 2023, sejak perkara MK merebak dan aku sudah memunggungi Jokowi dan kroninya eh lha kok sampe sekarang kok masih menyembah dan teriak jokowa-jokowi mulu? UNFRIEND!

    Dari semua exercise di atas, friendlistku lumayan lebih tertata.

    Apakah ini penanda bahwa aku sudah mulai mengecilkan lingkaran pertemanan seperti orang-orang seusiaku pada umumnya? Kurasa belum.

    Hingga sekarang aku masih aktif membuat pertemanan baru.

    Bahkan di instagram yang tidak menggunakan sistem teman meski sama-sama produk di bawah Meta dengan Facebook, aku aktif berinteraksi dengan follower yang kemudian karena aku juga ingin kenal lebih jauh kufollow lah dia.

    Di Whatsapp pun demikian. Aku nambah teman! Dengan sopir yang jasanya kupakai saat berlibur di Jogja, dengan sopir taksi yang kutemui hanya sekali saat mengantarku dari hotel ke Cengkareng saat pulang ke Australia, hingga kini kami masih berteman!

    Di dunia non digital, ada juga beberapa kawan kerja dan mantan kawan kerja yang kemudian jadi kawan dan kami aktif berhubungan.

    Perkawanan, sebagaimana halnya hidup terus berdinamika.

    Mereka yang sudah tidak compatible dengan hidup dan keluarga ya kulepas, sebaliknya mereka yang terus memperkaya jiwa dan batin ya tetap kurawat…

  • Refleksi 2025: Mundur dari Catholic Indonesian Community

    Refleksi 2025: Mundur dari Catholic Indonesian Community

    Salah satu keputusan besar yang kubuat di tahun 2025 adalah mengundurkan diri dari Catholic Indonesian Community (CIC) setelah tujuh belas tahun terlibat di dalamnya. CIC adalah sebuah komunitas orang-orang Katolik asal Indonesia di Sydney dan sekitarnya. Ada banyak ragam kegiatan di dalamnya mulai dari perayaan ekaristi mingguan di beberapa tempat, kegiatan-kegiatan bina iman mulai dari pendalaman iman hingga persekutuan doa, pasar murah makanan khas Indonesia hingga piknik bersama dan masih ada beberapa lagi yang lainnya. Aku bergabung dengan CIC sejak pertama kali sampai di Sydney, Oktober 2008. Terbilang cukup senior, aku berkontribusi dalam banyak hal di CIC. Mulai dari bergabung di dalam koor, main musik, pernah diminta menjadi pendamping iman anak-anak muda Katolik, pernah jadi wakil ketua sebuah persekutuan doa dan menjadi pengelola situs web CIC Sydney.

    Ada tiga alasan yang membuatku akhirnya memutuskan untuk mundur.

    Yang pertama, anak.
    Anak-anakku sudah beranjak remaja. Menurut hukum Australia, ketika berusia 18 tahun, mereka sudah berhak melakukan apapun yang mereka mau sebagai orang dewasa termasuk, misalnya, tidak mau lagi pergi ke Gereja. Aku tidak mau kehilangan waktu untuk membuat mereka mengerti dan memahami Iman Katolik. Sebagaimana aku sudah berjanji ketika menikah untuk membawa keluargaku ke dalam lingkup Gereja Katolik, selain menyekolahkan keduanya di sekolah katolik, menjalani semua sakramen inisiasi, mendidik mereka dalam praktek iman sehari-hari di rumah, kupikir mengajak mereka ke Gereja yang menggunakan bahasa mereka, Bahasa Inggris, adalah kelengkapan terbaik!

    Sebagai anak-anak dari orang yang lahir di Indonesia, mereka tentu mengerti Bahasa Indonesia tapi sekali lagi, bahasa ternyaman mereka ya Bahasa Inggris karena mereka lahir dan tumbuh besar di sini. 

    Pernah seseorang berkata kepadaku, “Mumpung anak-anak masih kecil, you mesti paksa mereka buat berbahasa indonesia jadi gak ilang! Nah salah satunya ya ikut misa di CIC!”

    O well, yang pertama aku gak mau maksa karena bahasa adalah sarana sementara aku dan istriku juga bisa kok berbahasa Inggris kenapa mereka yang harus terpaksa belajar Bahasa Indonesia? 

    Yang kedua, kalaupun harus mengajarkan mereka Bahasa Indonesia, tentu aku akan mengirimkan mereka ke sekolah atau balai kursus Bahasa Indonesia bukan melalui ikut misa di CIC!

    Yang kedua, jarak dan biaya.
    Sejak pindah ke rumah baru pada Januari 2022, jarak tempuh dari rumah ke tempat penyelenggaraan acara CIC menjadi sangat jauh. Mahal diongkos untuk bensin dan tol!

    Yang ketiga, partisipasi di paroki lokal.
    Dari apa yang kubaca di kitab kanon Gereja (Can. 518), prinsip pengembangan yang utama adalah secara teritorial melalui paroki lokal. Adanya paroki personal seperti paroki yang diijinkan berdiri berbasis bahasa kaum migran seperti CIC memang diperbolehkan. CIC adalah tempat singgah sementara bagi migran asal Indonesia untuk berasimilasi dengan budaya lokal. Aku sudah tujuh belas tahun tinggal di sini pun sudah berganti kewarganegaraan maka kupikir sudah saatnya untuk melepaskan diri dari komunitas itu dan lebih merasuk dan menyatu ke komunitas lokal.

    Meski alasan-alasanku kuat, tapi sejatinya aku butuh waktu bertahun-tahun untuk memutuskan.

    Sejak awal 2019 aku sudah mulai berpikir tentang hal ini. Memasukkannya dalam pergumulan batin dengan melibatkan banyak pendapat orang, membaca literasi (termasuk hukum kanon tadi) sebelum akhirnya menyatukan dalam doa, memasukkan dalam pertimbangan dan kemudian mengambil keputusan.

    Sejak akhir 2024 aku juga sudah mendengungkan dengan Romo chaplain (romo ketua/pendamping) CIC, rasan-rasan bagaimana kalau aku mundur dari koordinator situs web? Beliau menyetujuinya.

    Yang terberat adalah meninggalkan koor St Joseph Choir yang sudah berdiri sejak aku belum ada di Sydney. Ada begitu banyak sentimental values yang tertebar di sana. Musik adalah duniaku dan mereka yang ada di koor tersebut adalah orang-orang pertama yang kukenal ketika pindah ke Australia. Tapi sekali lagi, keputusan harus kuambil. Setelah acara Misa Hari Kemerdekaan Indonesia, Agustus 2025, aku menyampaikan niatanku tadi. Puji Tuhan, meski berat, semua anggota menyetujui bahkan mendukungnya.

    Kemarin, 21 Desember 2025 adalah kesempatan terakhirku untuk bermusik bersama St Joseph Choir menandai berakhirnya pelayanan di CIC.

    Sebuah perpisahan yang indah karena bukannya kebetulan, sehari sebelumnya, 20 Desember 2025 adalah hari ulang tahunku. Aku dibuatkan kejutan sangat meriah ketika seluruh umat di Gereja dipimpin Romo menyanyikan Selamat Ulang Tahun bagiku.

    Lalu kemana sesudah ini?
    Sejak pindah ke rumah baru, tiga tahun silam, aku terlibat aktif membantu komunitas orang-orang Katolik di sekitar rumah yang setiap hari Minggu berkumpul di aula sebuah sekolah untuk mengadakan misa. Di situ aku bernyanyi dan main musik. Pun aku sudah membangun koor yang isinya lagi-lagi orang-orang Indonesia yang tinggal dekat rumah. Sekitar seminggu setelah aku membuat keputusan mundur di Agustus 2025 lalu, tiada angin tiada hujan, koordinator komunitas kecil itu memberitahukan kepada kami via WhatsApp bahwa Mgr Vincent Long, Uskup Agung Keuskupan Parramatta tempat kami bernaung memberikan restu untuk mengubah komunitas kecil itu menjadi paroki independen!

    Here I am, Lord!
    Sesaat setelah aku membaca pengumuman itu, bulu kudukku berdiri! Tuhan seperti tak butuh waktu lama untuk melihat hamba-Nya ‘nganggur’ sepertiku!  Aku tak tahu akan dijadikan apa tapi aku punya perasaan sangat kuat bahwa di ladang itulah aku akan dipekerjakan-Nya dengan lebih diberdayakan lagi! 

    Terima kasih, CIC!
    Sebagaimana aku mengenang Indonesia sebagai tanah lahirku, aku akan terus mengingatmu sebagai komunitas yang dulu menyapihku untuk akhirnya bisa berdiri di Australia ini. It’s not a goodbye! It’s a “See you soon!” Aku gak akan kemana-mana!  Nanti kalau Tuhan beri umur panjang, di masa tuaku, ketika anak-anak sudah besar, sesekali waktu bolehlah nyanyi lagu-lagu Indonesia bareng-bareng lagi!

  • Refleksi 2025: Tilly and Trudy

    Refleksi 2025: Tilly and Trudy

    Kalau  membaca serial Refleksi 2025 sejak awal, tentu kalian mahfum bahwa gaji yang kuterima di pekerjaan baru sejak April 2025 berkurang banyak. Tapi tahukah kamu, sejak 13 Juni 2025, kami justru mengadopsi dua anjing yang jelas makan ongkos selain perhatian dan waktu? 

    Aku dan Joyce tumbuh di keluarga yang sayang pada binatang peliharaan. Terakhir kami memelihara anjing adalah Oktober 2013 saat Simba, anjing peliharaan kami, harus ditidurkan untuk selamanya karena sakit yang berkepanjangan. Sesudahnya kami tak pernah berpikir untuk memelihara binatang peliharaan lagi karena rasa duka setelah Simba pergi itu ternyata sulit dihilangkan.

    Januari 2023, setahun setelah pindah ke rumah baru, kami mencoba memelihara anjing lagi, Sandy namanya. Tapi tak sampai dua puluh empat jam, kami harus mengembalikannya kepada pemilik asal karena ternyata Elodia, anak kedua kami, alergi kulit yang sensitif terhadap bulu anjing. Sejak saat itu kami menahan diri. Penanda itu bagi kami sudah cukup bahwa untuk memelihara anjing, kami harus memastikan rasnya bukan ras yang bulunya menimbulkan alergi. Kami mengobservasi, ada beberapa pilihan ras tapi semuanya… mahal!

    Setelah badai yang kami alami karena dua PHK belakangan, di awal Juni 2025, seorang kawan lama Joyce menghubungi dan menawari kami untuk mengadopsi seekor anjing cavalier king charles. Namanya Tilly, umurnya dua tahun. Bulunya berwarna kecokelatan meski orang Inggris, negara asal breed ini, menamainya sebagai ruby cavalier (ruby padahal berarti merah gelap). Meski kami tersihir oleh keimutannya tapi kami sepakat untuk tidak mengambilnya. 

    Dua hari berselang tanpa ada pembicaraan terkait hal itu tapi tiba-tiba Joyce mengetengahkan topik itu lagi. “Ternyata Tilly punya saudara, Trudy namanya. Lucu deh!”

    Dia memamerkan foto lagi via WA dan benar, lucu banget. Perawakan Trudy lebih besar ketimbang Tilly, chubby! Tapi lagi-lagi, kami sepakat untuk tidak mengambil mereka.

    Hari Sabtu, 7 Juni 2025, ketika sedang nonton tv di ruang keluarga, Joyce lagi-lagi membuka pembicaraan tentang adopsi dan kali itu aku menjawab agak berbeda dari dua jawaban di atas. “Secara keuangan berat sih! Tapi coba kita hitung dan tanya ke Tuhan apakah kita siap untuk memelihara atau tidak…”

    Dan malam itu aku imbuhkan permohonan dalam doa malam keluarga supaya kami diberikan jalan terang apakah siap untuk memelihara anjing lagi atau tidak.

    Keesokan paginya, dalam perjalanan menuju Gereja untuk mengikuti perayaan ekaristi mingguan aku membuat keputusan. “Kayaknya kita gak memelihara anjing dulu. Gak cuma biaya. Gak cuma perhatian. Gak cuma Elo yang takut ada alergi lagi tapi juga gimana dengan Odi? Dia bakal sulit untuk adaptasi dengan Tilly ataupun Trudy!”

    Odi, anak pertamaku adalah seorang berkebutuhan khusus yang sejak kecil sangat tidak suka dengan boneka berbulu lebat. Bagaimana dia nanti bisa beradaptasi dengan Tilly ataupun Trudy yang juga berbulu lebat?

    Hari itu kami lantas tak membicarakan lagi tentang Tilly dan Trudy. Tapi nyatanya hal itu hanya bisa bertahan dalam hitungan jam saja karena sore harinya Joyce bilang, “Besok mereka mau bawa Tilly dan Trudy untuk kenalan, sekalian kita ujicoba apa kita suka atau enggak, bisa memelihara apa enggak? Elo kena alergi atau enggak, juga liat Odi gimana responnya…” Di titik itu aku terdiam. Takut tapi juga pengen. Bingung tapi juga seneng karena ‘case’ ini ternyata belum ‘closed.’

    Keesokan siangnya, datanglah mereka membawa Tilly dan Trudy dan kelanjutannya mudah ditebak, kami jatuh hati!

    Kami sepakat mengambil satu dari mereka dan rencana akan kami jemput pada Sabtu 14 Juni 2025.

    Persoalannya sekarang juga mudah kalian tebak, yang mana yang harus diambil, Tilly atau Trudy? Aku menyerahkan Joyce untuk memilih. Berbarengan dengan itu aku mulai mencari informasi tentang biaya pemeliharaan, harga makanan, ongkos dokter, asuransi dan segala macamnya. 

    Aku menginformasikan angka yang kudapat ke Joyce dan karena sejak awal pernikahan aku menyerahkan keuangan kepadanya, kuminta Joyce untuk membuat keputusan. Setelah diam beberapa saat dia bilang, “Hmmm.. kalau segitu kayaknya bisa sih…”

    Great! Lalu yang mana, tanyaku, Tilly atau Trudy? Joyce belum mengemukakan jawaban dan kami sepakat untuk menunda jawaban hingga last minutes.

    Rencana kami untuk mengambil Tilly atau Trudy pada Sabtu harus dibatalkan karena pada hari itu kami ada acara lain. Sebagai gantinya, kami akan mengambilnya hari Jumat, 13 Juni 2025.

    Pada Kamis malam, sekonyong-konyong, aku memecah kebuntuan tentang siapa yang perlu kami adopsi, “Daripada bingung kenapa gak kita ambil dua-duanya? Tilly dan Trudy?” Kami lantas berhitung cepat. Secara keuangan, memelihara anjing dua maupun satu itu ternyata tak beda banyak. Lagipula, kalau kami ambil salah satu, kasihan yang satunya lagi mengingat mereka berdua adalah kakak dan adik dan sudah bersama sejak kecil.

    And here we are!
    Jumat, 13 Juni 2025, bertepatan dengan hari pesta nama santo pelindung baptisku, Santo Antonius dari Padua, sekitar jam 10 malam, kami menjemput Tilly dan Trudy.

    Malam itu begitu dingin karena awal musim dingin. Joyce menyetir mobil, Odilia duduk di belakang. Di sebelahnya, Elodia memangku Tilly sementara aku mendekap Trudy yang masih ketakutan dengan suasana dan orang-orang baru. “It’s OK, Trudy! It’s ok! We’re home! We’re home soon!”

    Hari itu kami memahami cara Tuhan bekerja dalam sudut pandang yang berbeda lagi.  Kami memohon tuntunan, kami memilih untuk mengambil keputusan dan lantas menjalaninya dengan mantap hati serta penuh keyakinan karena percaya Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi adalah Tuhan yang tidak akan tinggal diam!

  • Refleksi 2025: Liburan ke Indonesia

    Refleksi 2025: Liburan ke Indonesia

    Beberapa jam setelah menerima kabar tentang PHK yang pertama di 9 September 2024, Joyce, istriku, mengkonfirmasi bahwa sebagian dari uang pesangon yang kuterima itu adalah pemenuhan janji Tuhan atas doa yang kami panjatkan sejak awal karena kami pengen banget pergi liburan.

    Tapi tentu aku tak serta-merta sepakat dengan apa yang dikatakan Joyce. Sebagai cowok, suami dan bapak, pikiranku terlampau rumit dan masih sangat kaget, marah sekaligus kecewa terhadap keputusan perusahaan untuk mem-PHK-ku. Aku butuh waktu untuk menerima dan percaya.

    Memang sudah lebih dari enam tahun kami nggak mudik ke Indonesia dan selama itu kami bisa berdamai karena tiga alasan. Pertama Pandemik COVID-19. Kedua karena toh kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan untuk menghubungi Chitra, adikku dan keluarganya kami bisa dan biasa pake WA. Sementara yang ketiga karena kami baru saja bangun rumah di tahun 2022, ekonomi masih kayak roller coaster, naik dan turun dan kadang turun banget! Untuk itulah sejak awal 2024 kami berdoa supaya Tuhan memberi petunjuk dan jalan keluar terhadap keadaan itu.

    Hingga awal November 2024, aku belum mendapatkan pekerjaan baru dan bayangan untuk percaya bahwa uang pesangon yang kuterima adalah jatah liburan kuparkir jauh-jauh dari pikiran. Apalagi ditambah kenyataan bahwa Joyce tidak berhasil mendapatkan kontrak kerja permanen dari kantor lamanya untuk tahun depannya, 2025. Uang itu tentu bisa terpakai untuk memerpanjang nafas!

    Tapi di sebuah sore yang indah, sekonyong-konyong Joyce bertanya, “Jadi kapan kita beli tiket pesawat ke Jakarta?”

    Hatiku berdesir seperti naik mobil di jalanan yang tiba-tiba sampai pada turunan yang curam. Pengen tapi takut. Takut tapi pengen banget!

    “Hmmm… kita minta tanda Tuhan. Nanti malam kita doa bareng supaya tandaNya diberi dalam minggu ini!”  Hari demi hari sesudahnya seperti gak ada tanda sama sekali hingga di akhir pekan, Joyce tiba-tiba bilang, “Aku udah beli tiket!” Ya itulah tandanya! Hahahaha!

    Seminggu sesudahnya, ketika sedang nyetir tiba-tiba aku ngomong ke Joyce, “Kayaknya ada yang barusan ngomong ke aku bahwa minggu depan bakal ada berita baik.” Joyce hanya menyeletuk, “Amin!”

    Dan semuanya terjadi seperti sudah dituliskan. Tiga hari sesudahnya, Joyce diterima bekerja di sekolah dekat rumah sebagai pegawai permanen. Seminggu berikutnya, aku diterima bekerja di perusahaan baru dengan jabatan dan gaji yang bahkan lebih baik dari perusahaan sebelumnya yang mem-PHK-ku!

    Kami sekeluarga pun pergi berlibur dengan hati yang penuh sukacita dari tanggal 27 Desember 2024 sampai 24 Januari 2025 meskipun dalam hati aku bertanya kenapa Tuhan mengarahkan kami ke Indonesia padahal kami hanya minta liburan dan waktu itu mikirnya bakal ke Korea atau kalau enggak Jepang? Di dalam lambung pesawat yang mengantarkan kami dari Sydney ke Jakarta, aku terus memikirkan dan bertanya dalam hati.

    Acara liburan kami pusatkan di Jakarta sampai lepas tahun baru lalu Jogja, berkeliling Jawa Tengah dan ke Jawa Timur, kembali ke Jakarta sebelum pulang ke Sydney.

    Di Jakarta, selain mengunjungi Eyang Putri dan para om serta tante, sepupu juga keponakan, kami bertemu dengan sanak saudara dari pihak Joyce.

    Di Jogja, kami menghabiskan waktu bersama keluarga adikku, Chitra.

    Jawa Timur adalah tujuan istimewa. Sejak Papa meninggal dunia, 7 April 2011, aku memang tak terlalu banyak berkomunikasi dengan keluarga besar Papa di Blitar. Pun terakhir kali aku mengunjungi Blitar adalah sesaat sebelum aku pindah ke Australia, Oktober 2008. Liburan inipun kupakai sebagai sarana untuk mengunjungi keluarga Budhe, kakak perempuan Papa yang tersisa. Pertemuan terjadi di rumah makan lalu kami lanjutkan mengunjungi makam Eyang dan Budhe Him sebelum akhirnya kami pamit pulang.

    Di Jawa Tengah kami melakukan tur ke Solo, Salatiga juga Semarang.

    Di Solo dan Salatiga aku berkunjung ke rumah om dan tante; sesuatu hal yang belum pernah kulakukan karena almarhumah Mama adalah anak sulung jadi yang biasanya terjadi adalah mereka yang mengunjungi rumah. Ketidakbiasaan ini ternyata menimbulkan kegembiraan yang luar biasa baik dariku, keluarga serta mereka, keluarga om dan tante yang dekat denganku sejak aku masih kecil. Di Semarang kami nyekar ke makam leluhur Joyce dan bertemu dengan saudaranya yang juga kukenal dekat sejak lama.

    Di aras pertemanan, aku mensyukuri bertemu Kunto di Jogja meski hanya beberapa jam saja. Kunto adalah sahabatku dan dalam waktu yang singkat nan padat kami meruahkan semua cerita yang belum sempat kami ceritakan dalam enam tahun belakangan.

    Di Jakarta, secara tidak dinyana aku mengalami sesi yang sangat intim dengan Damar Benny, sahabatku SMA yang lainnya. Hubunganku dengan Damben, begitu dia kupanggil, tidak selamanya hangat tapi kalau dingin juga gak sampai beku.  Malam itu kami banyak bicara dari hati ke hati, sesuatu yang tak pernah kunyana terjadi sebelumnya. Dan itu bukan puncak dari paragraf ini! You know what happened? Bahwa di saat kami ngobrol dengan intimnya, di saat itu pula di Bandung, sahabatku yang lain waktu SMA, Yudith Christianto, meninggal dunia mendadak! Waktu SMA aku sangat dekat dengan keduanya, Damben dan Yudith. (Aku pernah menuliskan obituari Yudith di blog silakan klik link ini).

    Aku sangat gundah malam itu. Sempat merasa sangat bersalah karena tak menghubungi Yudith dalam liburan kali itu. Tapi di tengah kekalutan, aku seperti diberikan pemandangan yang lebih dari sekadar salah-benar bahkan lebih dari tentang kedukaan itu sendiri. Aku merasa betapa kepergian Yudith yang mendadak itu seolah menjadi penyempurna proses rekonsiliasiku dengan Damben!

    Aku dan Damben sempat berpikir untuk melayat ke Bandung malam itu. Joyce pun mengijinkannya. Tapi karena satu dan lain hal kami harus membatalkan rencana itu. Sebagai gantinya, aku dan Damben sepakat untuk bertemu kembali keesokan harinya untuk mengenang Yudith sekaligus melanjutkan lebih banyak lagi cerita yang belum sempat tertuntasi malam sebelumnya. Satu hal yang sangat kusyukuri tapi sekaligus mengejutkan adalah tema pembicaraan kami waktu itu lebih banyak tentang Tuhan dan kepasrahan. Ketika aku kemudian diPHK dan mencari pekerjaan tiga bulan kemudian, Damben secara khusus dan intens membantuku berdoa rutin hingga aku benar-benar mendapatkan pekerjaan baru! Bahkan kemarin sore, waktu aku merilis Refleksi 2025 yang pertama, ia bertanya kepadaku, “Apa kabar? Udah stabil semua ya? Puji Tuhan!”

    Hal lain nan tak kalah pentingnya yang Tuhan boleh sampaikan dalam liburanku awal tahun 2025 ini adalah karena aku boleh berdamai dengan masa lalu yang aku dan keluarga orangtuaku alami di Kebumen dulu. 

    Tak banyak yang tahu bahwa aku pernah tinggal di Kebumen sebelum pindah ke Jogja pada 1993. Ada banyak hal yang aku dan keluargaku alami yang cukup menyakitkan dan membuatku seolah ingin menutup rapat cerita hidupku di Kebumen begitu saja. 

    Tapi Tuhan baik. 

    Ia ingin aku sembuh dari luka batin dengan cara mengirimkan teman-teman alumni SMP 1 Kebumen yang membuat segalanya mencair dan berakhir dengan indah. Sejak beberapa bulan sebelumnya kami akrab di grup Whatsapp alumni. Bahkan dari situ aku berani menuliskan kenangan demi kenangan yang terjadi di Kebumen di blogku sebagai sarana untuk menyembuhkan luka satu per satu. Lalu saat aku berlibur, kami janjian untuk bertemu. Melalui senyum dan ketulusan mereka, aku seperti diijinkan untuk melongok kembali apa yang terjadi di Kebumen dulu dengan damai! Aku diperbolehkan memaklumkan luka, memaafkan mereka yang melukai lalu membebat luka itu sesempurna mungkin supaya aku bisa berjalan lebih baik ke masa depan tanpa meninggalkan luka di belakang.

    Ketika liburan kami berakhir, di dalam lambung pesawat yang sedang bergerak perlahan menuju landas pacu di Bandara Soekarno Hatta, aku berterima kasih kepada Tuhan.

    Aku bersyukur pada akhirnya dibukakan pengetahuan bahwa seburuk-buruknya PHK yang kualami September 2024 silam, ada pesan indah yang hendak Tuhan sampaikan. Tuhan ingin menggenapkan semua yang harus terjadi: liburan dan pengalaman batin nan spirituil yang jauh lebih berharga dari sekadar liburan yang mengenyangkan dan menggembirakan fisik belaka.

  • Refleksi 2025: Terkena PHK Lagi!

    Refleksi 2025: Terkena PHK Lagi!

    Setelah yang pertama terjadi pada September 2024, tujuh bulan kemudian, April 2025, aku terkena PHK lagi. Keadaan ekonomi di Australia yang buruk akhir tahun lalu adalah pemicunya yang membuat banyak perusahaan termasuk perusahaan tempatku bekerja memutuskan melakukan efisiensi anggaran dengan cara mem-PHK karyawan-karyawannya.

    Kalau pada PHK pertama aku mendapatkan uang pesangon cukup besar sehingga bisa kupakai untuk berlibur ke Indonesia, PHK di bulan April 2025 tanpa pesangon sama sekali karena waktu kerja yang baru lima bulan!

    Tapi aku beruntung, enam hari sebelum resmi jadi penganggur, aku sudah mendapatkan pekerjaan baru melalui cara yang tidak pernah kunyana sama sekali sebelumnya.

    Jadi ceritanya sekitar seminggu sebelum pulang berlibur ke Indonesia, Desember 2024, aku ditraktir minum bir oleh mantan anak buah karena aku sudah memberikan referal untuk pekerjaan barunya. Dalam percakapan itu, dia minta tolong kepadaku untuk dicarikan designer yang barangkali perlu pekerjaan karena tempat kerjanya membutuhkan seorang designer lagi.

    “Tapi gajinya gak gede… kita cari yang middle level designer” ujarnya seolah ingin berkata bahwa pekerjaan itu bukan buatku karena aku terhitung senior dalam hal pengalaman juga gaji.

    Sepulang dari Indonesia di akhir Januari 2025, dalam sebuah rapat di kantor, manajer mengabarkan kabar buruk tentang perampingan karyawan yang kusebut di atas tadi. Badanku lemas sejadi-jadinya. Baru juga pulang liburan harusnya refreshed tapi malah dapat kabar seburuk itu! Uang pesangon dari PHK sebelumnya pun sudah habis terpakai untuk berlibur ke Indonesia lalu demi sejuta topan badai, aku akan kena PHK lagi? Bagaimana aku harus mengongkosi hidup keluarga dan membayar tagihan-tagihan hutang sementara mencari pekerjaan dengan level yang kudapat sekarang bukan perkara mudah?

    Aku segera menelpon mantan anak buahku tadi dan bilang “Kayaknya pekerjaan yang kamu tawarin dulu itu untukku!”

    Lalu terjadilah demikian! Hari pertama setelah libur Paskah, semalam sesudah Paus Fransiskus meninggal dunia, aku bekerja di perusahaan baru, sebuah universitas ternama di Sydney.

    Dan yang terberat adalah perkara bagaimana cara mengalokasikan gaji ke dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji yang kuterima sekitar tiga puluh lima persen lebih rendah dari yang semula kuterima. Aku berdiskusi panjang kali lebar dengan istri tentang bagaimana mengatasi hal ini. Apa saja yang bisa diirit, apa yang perlu ditunda dan apa yang harus terus dilanjutkan.

    Itu adalah kali pertama aku mengalami hal seperti ini di Australia. Sejak pertama kali datang tahun 2008, karirku selalu naik dari sisi gaji dan jabatan. Sebelas kali berpindah kerja, semua kulakukan demi menjaga progresi dalam profesi.

    Tapi di titik itu, aku merasa Tuhan sedang memulai proses permurnian terhadapku dari sisi yang belum pernah kualami sebelumnya.

    Aku dan keluarga seperti diajak untuk berkontemplasi terhadap Injil yang menuliskan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang hanya bermodalkan lima roti dan dua ikan. Semua tentang bagaimana Tuhan menggenapi apa yang sudah kami usahakan. 

    Dan entah jasa baik apa yang sudah kami lakukan terhadapNya dan sesama tapi Tuhan selalu menggenapi kebutuhan kami melalui cara-cara yang kalau dipikir nggak masuk akal. Ada banyak kejutan dan ketiba-tibaan yang akhirnya membuat kami berpikir, Ini pasti datang dari Tuhan! 

    Kalau dibilang gak mudah, pada kenyataannya memang sangat berat tapi Tuhan selalu beri penghiburan melalui apa saja termasuk dan yang terutama tentu cinta yang tumbuh di keluarga kami.

    Dan tahun ini sebenarnya bukan hanya soal ketercukupan tapi lebih dari itu Tuhan memampukan kami untuk menerbitkan rasa syukur atas apa yang kami punya.

    Bagiku ini sangat unik dan luar biasa. 

    Apa yang patut disyukuri dari gaji yang berkurang? Berhari-hari aku mencari jawabannya dan kutemukan satu: karena aku masih diberi pekerjaan saat banyak yang lain bernasib lebih buruk dariku!

    Apa yang patut disyukuri dari gaya hidup yang berubah karena keterbatasan? Karena kami masih diberi “gaya” yang membuat “hidup” yaitu cinta!

    Apa yang patut disyukuri dari segala yang harus kami syukuri? Ya karena Tuhan sendiri. Tuhan yang menaruh keyakinan dalam hati kami, Tuhan yang menaruh kami dalam kendali-Nya, sepenuh utuh!