
Tahun 2025 ini aku memutuskan untuk lebih menutup diri terhadap publik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan menata ulang pertemanan.
Di dunia non digital, aku sudah sejak lama jarang keluar rumah! Jarang banget. Ke kantor cuma seminggu dua kali itupun kalau pengen sepedaan. Kalau males ya work from home juga dibolehin. Ke kafe atau ke tempat keramaian, waduh kapan ya terakhir ke tempat kayak gitu, udah lama banget hahaha! Paling ke Gereja, makan di rumah makan bareng keluarga, grocery shopping dan antar-jemput anak-anak dari tempat kursus!
Di dunia digital beda cerita.
Aku begitu terbuka… by design sih!
Makanya dari sisi itu pengetatan kulakukan.
Kalau di Instagram susah diapa-apain karena akunku terverifikasi sejak Desember 2022. Hal itu membuatku tidak bisa mengubah status akun dari public menjadi private kecuali aku mau kehilangan tanda verifikasi yang waktu itu dikasih cuma-cuma oleh Instagram.
Hal yang paling banter kulakukan adalah menghapus semua foto keluarga dan meng-unfollow serta meminta anak-anak dan istriku untuk unfollow aku demi privacy masing-masing.
Yang paling radikal adalah yang kulakukan di Facebook.
Beberapa orang menyarankanku untuk meninggalkan Facebook tapi aku memilih untuk tetap ada di platform itu untuk menjaga hubungan dengan kawan-kawan lama di Indonesia yang kebanyakan mungkin karena seusia, masih main Facebook :)
Status akun Facebook yang tadinya terbuka untuk publik kuubah jadi terkunci alias locked. Perubahan itu membuat orang-orang yang tidak ada di list “Friends” ku tidak bisa melihat details dan linimasaku.
Keputusan ini menjadi sebuah omnibus setelah beberapa waktu sebelumnya bingung bagaimana caranya mengelola privasi atas
begitu banyak foto yang kuunggah sejak 2007 dan status/postingan yang sifatnya public. Daripada ngerjain setting setiap entitas satu per satu, ya udah deh dibikin locked aja beres!
Yang jadi persoalan selanjutnya adalah “Friends”.
Semakin kemari, semakin aku teriritasi dengan cara Facebook menggunakan istilah Friends sebagai orang yang terhubung langsung. Facebook menurut keyakinanku seperti melakukan simplifikasi terhadap arti “teman” bahwa untuk menjadi teman itu semudah kita kirim request “Add Friend” lalu kalau yang dikirimi memencet tombol “Confirm” maka dua orang tadi otomatis jadi teman.
Mungkin aku tergolong manusia lama, untuk berkawan tidak semudah itu. Aku harus kenal dulu. Untuk kenal aku harus berinteraksi. Yang kulakukan kemudian adalah meng-exercise orang-orang yang sudah terlanjur ada di friendlistku; apakah mereka itu benar-benar teman atau bukan?
Beberapa teman yang sudah meninggal dunia, kuhapus dari friendlist kecuali almarhum Papaku.
Bukannya aku ingin melupakan mereka, tapi secara konteks sudah tidak pas! Emangnya di alam sana masih pegang henpon dan punya data untuk akses akun Facebook? Kan enggak!
Beberapa orang yang aku merasa asing dari namanya tidak serta merta kuhapus. Mungkin aku yang lupa nama asli. Untuk menengarainya aku melihat foto profile. Kalau tetap lupa atau tak kenal, kulihat siapa “common friends” nya. Kalau dari common friends nya pun gak jelas, tak hanya orang itu, tapi semua common friends juga kuhapus sekalian.
Belum selesai di sini, aku juga meng-exercise linimasa kawan-kawan lama. Tak semua kawan yang kita kenal ketika berteman itu punya karakter yang tidak berubah setelah bertahun tidak berinteraksi.
Ada kawan yang dulu asik, sekarang linimasanya penuh dengan hal-hal berbau radikalisme agama. Tak ada ampun: UNFRIEND!
Ada juga kawan yang dulu seper-jokowi-an tapi sejak 2023, sejak perkara MK merebak dan aku sudah memunggungi Jokowi dan kroninya eh lha kok sampe sekarang kok masih menyembah dan teriak jokowa-jokowi mulu? UNFRIEND!
Dari semua exercise di atas, friendlistku lumayan lebih tertata.
Apakah ini penanda bahwa aku sudah mulai mengecilkan lingkaran pertemanan seperti orang-orang seusiaku pada umumnya? Kurasa belum.
Hingga sekarang aku masih aktif membuat pertemanan baru.
Bahkan di instagram yang tidak menggunakan sistem teman meski sama-sama produk di bawah Meta dengan Facebook, aku aktif berinteraksi dengan follower yang kemudian karena aku juga ingin kenal lebih jauh kufollow lah dia.
Di Whatsapp pun demikian. Aku nambah teman! Dengan sopir yang jasanya kupakai saat berlibur di Jogja, dengan sopir taksi yang kutemui hanya sekali saat mengantarku dari hotel ke Cengkareng saat pulang ke Australia, hingga kini kami masih berteman!
Di dunia non digital, ada juga beberapa kawan kerja dan mantan kawan kerja yang kemudian jadi kawan dan kami aktif berhubungan.
Perkawanan, sebagaimana halnya hidup terus berdinamika.
Mereka yang sudah tidak compatible dengan hidup dan keluarga ya kulepas, sebaliknya mereka yang terus memperkaya jiwa dan batin ya tetap kurawat…



