Kategori: Cetusan

Ide kata ‘cetusan’ berasal dari begawan blog Indonesia, Paman Tyo (Antyo Rentjoko) yang kuajak diskusi sekitar akhir dekade silam.

Cetusan adalah pemikiran, opini, gagasan yang tercetus, terpantik dari otak. Kategori ini adalah salah satu yang tertua dalam blog ini.

Kategori ini memiliki beberapa sub-kategori seperti Indonesia, Australia, Agama dan harus diakui adalah sendi utama dari blog. Bukannya tak mungkin ke depannya akan ada beberapa sub-kategori baru muncul di bawahnya.

Politik, budaya, seni, cara pandang, sikap hingga hal-hal kecil yang kutemukan dalam kehidupan sehari-hari baik saat masih di Indonesia maupun saat sudah bermigrasi ke Australia bisa kalian baca lengkap di sini.

Beberapa tulisan dilengkapi gambar, beberapa tampil lugas yang penting tetap enak dibaca dan semoga mencerahkan

 

  • Dua Alasan Memilih Jadi Warga Negara Australia

    Dua Alasan Memilih Jadi Warga Negara Australia

    Hari ini genap tujuh belas tahun yang lalu aku pindah dan menetap ke Australia. Rasanya seperti baru kemarin berpamitan ke orang tua dan keluarga besar lalu masuk ke lambung pesawat bersama istri dan keesokan paginya sudah berada di Australia. 

    Dalam peringatan ke-17 ini ada yang sedikit berbeda. Semua bermula ketika aku posting foto paspor Australia di Instagram saat hendak berlibur ke Indonesia, akhir 2024 lalu.

    Beberapa orang lantas bertanya, “Loh kamu ternyata sudah bukan WNI lagi, Don?”

    Ya! Sejak beberapa tahun lalu aku memang sudah menjadi Warga Negara Australia. Memang tidak kuserbarluaskan tapi pun tidak kusembunyikan karena rasanya seluruh kerabat sudah tahu sejak lama. Kalau aku belum menyebarkan ke social media itu beda perkara karena aku punya batasan yang jelas tentang informasi mana yang bisa dan kapan untuk disebar dan mana yang tidak untuk dikonsumsi oleh publik sama sekali.

    Keputusan pindah kewarganegaraan itu sejatinya tidak ada kaitannya dengan perasaanku terhadap Indonesia. 

    Jadi salah kalau ada yang bilang bahwa aku jadi WNA karena sudah tidak lagi cinta bahkan kecewa terhadap Indonesia. Bahkan ada yang bilang aku kecewa pada Jokowi makanya aku jadi WNA. Hahahaha, sejak Jokowi belum mengecewakan pun sejatinya aku sudah bukan WNI lagi! 

    Sejak muda aku belajar ketika memilih satu pilihan, sebisa mungkin alasannya bukan karena aku benci pada pilihan yang lain karena kalau demikian, keputusanku tidak akan menjadi keputusan yang baik. Keputusanku akan tercampur aduk dengan rasa benci dan kecewa; dua hal yang yang tidak perlu ada dalam pengambilan keputusan yang besar, sebesar perpindahan status warga negara.

    Aku berpindah kewarganeraan karena aku melihat pilihan itulah yang terbaik bagiku dilihat dari dua alasan. Alasan praktis dan mekanis.

    Alasan Praktis

    Alasan praktisnya begini…
    Sejak aku memutuskan untuk hidup di sini dan tidak akan kembali menetap di Indonesia, maka semesta baruku ya Australia bukan Indonesia. Dari bangun sampai tidur, dari hari menjadi minggu, bulan lalu tahun, semua kuhabiskan di sini. Maka kalau aku kemudian masih mempertahankan status kewarganegaraan Indonesia, secara makna status itu sejatinya sudah kehilangan nilai kepraktisannya karena aku sudah tidak tinggal di Indonesia lagi.

    Kurang lebihnya sama kayak kalau kalian yang semula tinggal di Jogja lalu pindah ke Jakarta, apa gak terpikir untuk ganti KTP karena kamu sudah jadi penduduk Jakarta, bukan penduduk Jogja?

    Alasan Mekanis

    Alasan mekanisnya?
    Begini, memang hingga saat ini, seseorang masih bisa hidup di Australia tanpa harus jadi warga negara sejauh ia punya visa jenis apapun termasuk visa untuk permanent resident (PR). 

    Aku setuju tapi siapa yang bisa tahu hal itu akan berlangsung hingga kapan? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dari yang kuperhitungkan (namanya juga mekanis kan, jadi penuh perhitungan) keadaan geopolitik dunia sedang berubah. Jika keadaan geopolitik memburuk, yang terjadi biasanya akan ada banyak pengungsi mencari suaka ke tempat yang lebih baik. Australia biasanya jadi tempat tujuan.

    Nah, kalau semakin banyak pengungsi diijinkan masuk maka jumlah sumber daya alam yang harus dikonsumsi akan menyedikit. Contohnya? Air bersih. Tanah. Bahan makanan. Sementara itu, pelajaran yang bisa kita petik setidaknya lima tahun belakangan, perubahan iklim semakin memperburuk! Imbasnya nyata utamanya terkait ketersediaan sumber daya tersebut. Hujan tak lagi mudah diprediksi yang berarti cadangan air pun goyah mempengaruhi segalanya termasuk pola tanam-tanaman dan pengelolaan hewan ternak yang bisa dikonsumsi. 

    Tapi apa kaitannya semua itu dengan kewarganegaraan? 

    Barangkali, di titik tertentu pemerintah bisa jadi mengambil keputusan untuk tidak lagi menyamakan hak pendatang (berbagai macam bisa termasuk PR) dengan hak warga negara. Atau, dari sudut pandang yang lain, syarat untuk menjadi warga negara akan semakin dipersulit ketimbang sebelumnya. Nah untuk yang satu ini, perhitunganku sudah terbukti. Saat aku ujian menjadi warga negara dulu, mereka tak memintaku untuk ujian Bahasa Inggris, tapi saat tulisan ini kurawi (Oktober 2025), pemerintah Australia sudah memberlakukan syarat minimal dalam hal penguasaan Bahasa Inggris untuk menjadi warga negara menggunakan standard IELTS.

    Jadi itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk berganti kewarganegaraan.

    Bukan karena Indonesia-nya apalagi kalau ada yang menuduh aku sudah tidak cinta kepadanya.

    Kecintaanku pada Tanah Air memang tak bisa lagi diukur dari jenis paspor dan status kewarganegaraanku. Tapi setidaknya ketika kalian masih bisa membaca tulisan ini tanpa perlu alat penerjemah, anggaplah ini usahaku untuk tetap menyampaikan isi hati dalam bahasa yang kuhidupi sejak kecil, bahasa yang meniadakan lagi “aku” dan “kamu” apalagi “kalian”, bahasa yang meleburkan semua menjadi “kita”…

  • Satu Misa Banyak Romo. Untuk apa sih?

    Satu Misa Banyak Romo. Untuk apa sih?

    Dua hari lalu aku melihat di sosmed, sebuah rekaman video perayaan ekaristi di suatu tempat acara konvensi di Indonesia yang melibatkan begitu banyak imam. Bahkan tak hanya imam, para uskup juga dihadirkan di sana! Iya, para.. bukan cuma satu!

    Hal itu membuat pertanyaan lama yang mengendap di otak terusik muncul kembali ke permukaan; ngapain sih ngundang romo (bahkan uskup) banyak banget untuk satu perayaan ekaristi saja?

    Maka tumpahlah unek-unek ini. Melalui tulisan ini aku tak hendak menyalahkan tak pula membenarkan karena sebagai umat, apalah kuasaku. Maka anggaplah ini sebagai pendapat mana suka. Artinya kalau kalian suka ya silakan dipikirkan, kalau tidak pun tidak mengapa…

    Dua puluh tahun lalu saat masih tinggal di Indonesia, aku juga pernah mengadakan acara serupa. Waktu itu aku didapuk menjadi wakil ketua panitia pelaksanaan Konvensi Muda-Mudi Karismatik Katolik II di Yogyakarta. 

    Waktu itu ada tiga imam berasal dari luar Jogja serta satu imam dari Jogja yang kuundang ke acara. Imam yang dari Jogja adalah imam yang waktu itu menjabat sebagai moderator gerakan pembaharuan karismatik katolik. Ia datang hanya saat pembukaan saja untuk menyambut tiga imam lain dan para peserta. Sesudahnya beliau pulang.

    Tiga imam yang dari luar Jogja yang kuundang hadir tidak dalam kapasitas sebagai konselebrator misa saja. Kehadiran mereka “kami manfaatkan” untuk mengisi materi dan memberikan renungan selama tiga hari pelaksanaan (bahkan seingatku ada beberapa komunitas yang lantas mengajak mereka untuk hadir dalam acara-acara mereka beberapa hari kemudian!). Tiga imam, waktu itu rasanya sudah banyak sekali!

    Aku tak berprasangka buruk, tapi mari kita bertanya pada diri sendiri, ngapain sih ngundang romo dan uskup sampai sebanyak itu?

    Bukankah mengundang uskup dan imam dari berbagai daerah itu membutuhkan biaya yang tak sedikit? Ongkos transportasi, ongkos menginap dan apa iya mereka gak diberi sangu ketika pulang ke daerah masing-masing?

    Para panitia mungkin bisa bilang “Oh, dananya ada kok! Gak usah takut!”

    OK! Dananya ada?!
    Tapi apa ya perlu dana segitu hanya untuk mengundang mereka? Bukankah keberadaan dana itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang sifatnya sosial; semisal membiayai para peserta dari pelosok yang pengen datang tapi nggak mampu? Atau bukankah lebih baik misalnya dana kelebihannya dipakai untuk menyumbang mereka yang membutuhkan toh keadaan ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja? (Yuk yakinkan diriku bahwa kalian pun gak berpikir bahwa para imam dan uskup itu yang butuh kan?)

    Persoalan ini menurutku memang bukan ada dalam ranah “benar” atau “salah.” Tapi pada tatanan etika; Apa elok? Apa pantas?

    Toh mengundang para uskup dan romo dalam satu perayaan ekaristi itu tidak akan lantas membuat berkat dan kasih Tuhan jadi beda jumlahnya dibandingkan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh seorang romo saja kan?

    Diluar keterbatasan pengetahuanku terhadap hal-hal ritual, aku percaya roti dan anggur tetap diubah menjadi tubuh dan darah Kristus berapapun jumlah romo yang menjadi konselebrannya.

    Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua yang ingin tetap menjadi orang Katolik sesuai dengan yang diamanatkan oleh Sri Baginda Yesus sendiri. Kecuali.. kecuali kalau dengan mengundang para imam dan uskup hanya demi gengsi dan kebanggaan lalu derajat acara jadi naik dan banyak umat bisa selfa-selfi dengan mereka semua… itu beda perkara.

    Tapi, ah gak mungkin ah!
    Masa ada orang Katolik seperti itu sih? Kita semua ini kan pribadi yang rendah hati ya? 

    Eh, gitu gak sih?

  • Akhir Hidup MTV, Si Penanda Era

    Akhir Hidup MTV, Si Penanda Era

    Berita tentang bangkrutnya MTV (Music Television) membuatku sedih. Rasanya seperti kehilangan teman lama yang baru kemarin akrab!

    Dari berita yang kubaca di Euronews, alasan penutupan MTV ada dua.

    Pertama, pemotongan anggaran dari induk perusahaannya, Paramount Global. Kedua, hasil refleksi internal bahwa kebiasaan orang mengakses musik sekarang sudah berubah drastis. Mayoritas penikmat musik lebih memilih YouTube, Instagram, Spotify, Apple Music dan platform digital lainnya ketimbang menyalakan TV. Dua alasan yang sangat masuk akal. Dunia memang sedang berubah dari sisi keuangan. Dunia yang sebenarnya sudah cukup lama berubah dari sisi bagaimana orang berinteraksi dengan informasi.

    Sebagai anak yang tumbuh di era 90-an, MTV buatku lebih dari sekadar kanal televisi. Ia menjadi simbol sub-kultur yang mempengaruhi hidup banyak orang.

    Secara pribadi, seperti halnya majalah remaja HAI yang sudah menutup versi cetaknya, MTV punya peran besar dalam masa remaja lugu sampai dewasa muda.

    Aku mulai menikmati MTV sejak era Mike Kasem, VJ asal Amerika yang jadi salah satu punggawa awal di MTV Asia.
    Lalu hadir deretan VJ lokal: Sarah Sechan, Jamie Aditya, Daniel Mananta, Alex Abbad, hingga tentu saja Nadya Hutagalung, VJ dengan wajah ayu nan klasik, seklasik Dian Sastro.

    MTV, Musik yang tak hanya didengar tapi dipertontonkan

    Jasa terbesar MTV menurutku adalah keberhasilannya untuk mengubah image bahwa musik itu tidak hanya didengar tapi juga ditonton. Berkat MTV, para musisi dan pendukung produksi di industri musik dunia jadi paham bahwa sebagus-bagusnya musikmu, kalau videoklipnya nggak engaging ya bakal ditinggal. Mereka lalu berlomba-lomba membuat video klip yang menarik, sesuatu yang terus bertahan sampai kini seolah kalau udah rilis musik tapi belum ada videoklip itu ya seperti sayur tanpa garam!

    MTV dan Lifestyle

    Imbas dari video klip yang marak, orang banyak belajar dandan dari para musisi yang tampil juga para VJ yang hadir. 

    Misalnya dulu aku pernah ngebet banget pengen punya celana kargo cokelat karena nonton Natalie Imbruglia tampil keren di video musik Torn di MTV. Di waktu lain, aku juga pengin beli kemeja Hawai warna-warni gara-gara lihat Jamie Aditya tampil super santai dengan gaya itu waktu nge-VJ di MTV. Ya, MTV memang bukan cuma soal musik. Ia memengaruhi cara berpakaian, cara bergerak, bahkan cara berciuman! (Inget nggak adegan akhir Torn waktu Natalie dicium cowoknya? It was so hot to me back then!)

    MTV dan VJ

    Mungkin aku salah, tapi aku yakin MTV-lah yang pertama mempopulerkan istilah Video Jockey (VJ) — versi layar kaca dari DJ alias Disc Jockey.

    Dan itu revolusioner. Orang-orang seperti Mike Kasem, Sarah Sechan, Jamie Aditya, Nadya Hutagalung, Daniel Mananta, dan banyak lainnya, tidak diset sekadar untuk membawakan acara. Mereka adalah kurator musik, wajah yang menyaring video-video musik yang masuk ke MTV lalu menampilkannya. (Meski di belakang layar tentu ada tim yang berkontribusi dalam proses kurasi).

    VJ bukan cuma ngomong di depan kamera. Mereka memengaruhi banyak hal kepada para penonton. Berdandan, bergaya serta bicara khususnya dalam Bahasa Inggris.

    Di situ bedanya MTV dengan Channel [V], sesama music television yang berkantor pusat di Hong Kong dan sudah duluan meninggoy 2010an lalu. Kalau Channel [V] fokus ke video musiknya, MTV fokus ke experience-nya — dan para VJ adalah jantung dari pengalaman itu.

    MTV dan Tren Akustik

    Satu lagi hal besar dari MTV: mereka memperkenalkan dunia pada musik akustik lewat acara legendaris MTV Unplugged. Anchor pointnya tentu Nirvana, legend lah pokoknya! Tapi aku juga nggak pernah bosan nonton ulang sesi Pearl Jam, The Corrs, dan Eric Clapton. Efeknya tentu sampai ke Indonesia. ANTV langsung gercep bikin acara musik akustik lokal, yang kemudian memuat Dewa dan sudah barang tentu ikut melahirkan KLaKustik besutan KLa Project.

    Selamat Jalan, MTV! Beristirahatlah dalam damai!
    Seperti halnya HAI, bubarnya MTV makin meyakinkanku bahwa untuk segala sesuatu memang ada masanya. Nanti akan ada masa baru, media-media baru, dan kenangan-kenangan yang juga akan baru yang lahir dari sana. Mari terus melanjutkan hidup! 

    Life goes on, doesn’t it?

  • 17+8 Tuntutan Rakyat dan Pentingnya Aksesibilitas Desain

    17+8 Tuntutan Rakyat dan Pentingnya Aksesibilitas Desain

    Belakangan, linimasa media sosial Tanah Air ramai membicarakan 17+8 tuntutan rakyat terkait kisruh yang terjadi di akhir Agustus lalu. Tuntutan itu digagas oleh sejumlah pihak yang cukup vokal di dunia maya. Aku tak ingin membahas isinya. Lewat tulisan ini, aku ingin menyoroti hal yang lebih dekat dengan profesiku: aksesibilitas desain dalam brosur digital yang berisi tuntutan itu.

    Apa Itu Standar Aksesibilitas?

    Secara sederhana, standar aksesibilitas adalah seperangkat pedoman, aturan, atau prinsip yang memastikan produk termasuk brosur digital bisa digunakan oleh semua orang (inklusif)—termasuk mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, pendengaran, kognitif, maupun motorik.

    Dalam konteks digital (website, aplikasi, dokumen), standar yang paling dikenal adalah WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) yang dirumuskan oleh W3C.

    Kenapa ini penting?
Karena pesan dalam brosur itu ditujukan untuk semua: rakyat maupun para pemimpin. Kalau desainnya tidak ramah aksesibilitas, bisa saja pesan tidak terbaca dengan jelas. Akibatnya, tuntutan tidak ditanggapi bukan karena isinya ditolak, melainkan karena secara visual tidak bisa diakses.

    Masalah Kontras Warna

    Salah satu prinsip paling mendasar dalam WCAG adalah rasio kontras warna antara teks dengan latar belakang. Standarnya adalah minimal 4.5:1 agar teks bisa dibaca dengan nyaman. Aku mencoba melakukan riset kecil-kecilan dengan mengambil contoh brosur tuntutan dari internet. Hasilnya:

    • #DD7BAE (pink) sebagai latar dan #03793D (hijau) sebagai teks hanya menghasilkan rasio 1.98:1.
    • Bahkan teks putih (#FFFFFF) di atas latar pink hanya menghasilkan rasio 2.79:1.

    Keduanya jauh dari standar. Akibatnya, sebagian orang akan kesulitan membaca pesan yang ada.

    Menghargai Simbol, Tanpa Mengorbankan Pesan

    Aku paham kenapa warna pink dan hijau dipilih.

    • Pink identik dengan hijab Bu Ana, sosok ibu yang berdiri berani di depan aparat.
    • Hijau adalah warna jaket ojol yang dikenakan almarhum Affan Kurniawan, korban yang gugur dalam peristiwa itu.

    Kedua warna ini sarat makna dan simbol perjuangan. Namun, dalam eksekusi desain, simbol seharusnya tidak mengorbankan keterbacaan pesan. Dengan sedikit penyesuaian—misalnya menambahkan outline, memilih kombinasi warna kontras, atau mengatur tata letak—simbol tetap terjaga, tapi pesan tetap sampai.

    Berikut adalah alternatif yang rasio kontras warna-warnanya masuk standard.

    Pesan Baik Perlu Cara Penyampaian yang Benar

    Dari sini ada pelajaran penting:
Pesan yang baik tidak cukup hanya benar, tapi juga harus disampaikan dengan cara yang benar. Kalau kita peduli pada rakyat, peduli pada pemimpin, peduli pada semua pihak yang harus membaca tuntutan ini, maka desain pun perlu inklusif. Jangan sampai aspirasi besar tenggelam hanya karena desain yang tak ramah aksesibilitas.
    Pada akhirnya, memperjuangkan kebenaran berarti juga memastikan pesan perjuangan itu bisa diakses oleh siapa saja.

  • Udah WNA Masih Boleh Peduli Pada Indonesia?

    Udah WNA Masih Boleh Peduli Pada Indonesia?

    Apakah orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri tapi sudah tidak lagi menjadi WNI masih berhak untuk peduli pada keadaan Tanah Air belakangan ini? Banyak teman di Australia dan tempat lain yang lahir-besar di Indonesia, tapi sudah bukan WNI lagi. Aku salah satunya.

    Mungkin banyak pertanyaan semisal

    Bukankah you udah jadi “orang asing”?

    Bukankah you udah nyaman tinggal di negeri orang?

    Ngapain ngurusin Indo?

    Gak takut dibilang antek aseng?

    Well…
    Ini bukan soal paspor. Ini bukan soal ngurusin atau campur tangan. Ini soal kepedulian.

    Peduli pada tanah tempat kami lahir. Peduli pada keluarga, kerabat dan teman yang masih hidup dan berjuang di sana. Dan.. ini yang paling penting. Kalau kita bisa peduli pada Palestina dan Ukraina, kenapa kita tidak boleh peduli pada Indonesia?

    Tentu, semua ada batasnya.

    Batasan ini sebenarnya berlaku untuk siapa saja, bukan hanya kami para WNA.

    Bahwa sebebas-bebasnya bicara, ada etika dan aturan yang harus diikuti.

    Bicara memang nyaris tak terbatas di negara tempat kami tinggal tapi adakah yang kami utarakan itu menyakiti perasaan orang lain? Adakah yang kami kemukakan itu justru membuat jatuh mental atau malah sebaliknya memotivasi orang untuk berbuat baik?

    Masih terkait aturan, peduli kepada Indonesia juga harus menaati aturan di negara tempat kita berada.

    Contoh sederhana, minggu lalu banyak yang minta aku mendatangi wakil rakyat yang katanya sedang ada di Sydney.

    Aku diminta untuk “berdemo” di depan mereka. Permintaan itu kutolak. Alasannya? Aku punya kewajiban untuk menghormati privasi orang lain siapapun dia termasuk para wakil rakyat yang sedang berkunjung itu. Kalau menurut mereka aku dirasa mengganggu, mereka bisa melaporkanku kepada yang berwajib dan aku bisa diproses menggunakan aturan di negara ini.

    Selain batasan ada juga niat. Apa niatan untuk peduli pada Indonesia?

    Jika niatnya adalah untuk menghancurkan legitimasi pemerintahan karena dendam politik, lupakan saja pedulimu itu! Tapi kalau niatmu lurus — untuk Indonesia yang lebih baik, untuk kesejahteraan rakyat yang tinggal di dalamnya, dan untuk kita yang bisa memandang dari jauh dengan bangga—maka peduli itu sah.

    Karena pada akhirnya, apapun kewarganegaraannya, kita ini sama-sama manusia. Sama-sama warga bumi. Dan bumi ini harusnya jadi tempat tinggal yang asik, adil, dan damai untuk siapa saja.

    Aku. Kamu. Kami. Kalian. Kita semua!

  • Belajar Mabuk Hingga Teler

    Belajar Mabuk Hingga Teler

    Merokok tidak membuatku puas dan merasa gagah. Sebagai anak yang haus validasi, ego dan pikiranku terus bergerak; memberontak. Untuk itu, minum minuman beralkohol hingga teler adalah target mula-mula.

    Waktu duduk di kelas 6 SD, aku pernah diam-diam membeli Anggur KTI di warung dekat turunan Gang Lusi, Kauman, Kebumen. Kudapatkan informasi itu dari penarik becak langganan kami yang bercerita bahwa setiap malam ia minum KTI supaya bisa tidur pules lalu keesokan paginya bangun dengan segar. Kuminumlah ia dari bungkusan plastik, tak sampai habis lalu kubuang sebagian karena tak tahan dengan rasanya.

    Sekian lama tak mencoba, saat duduk di bangku kelas 2 SMP, gejolak itu muncul lagi. Persoalannya adalah, bahkan teman-teman se-genkku waktu itu belum pernah minum minuman beralkohol sama sekali lalu kepada siapa aku harus belajar?

    Adalah Rn, kawan SMPku, bukan segenk. 
    Ia tinggal tak jauh dari rumah. 

    Adalah Hrs, kawan SMPku, bukan segenk juga
    Ia tinggal tak jauh dari Rn. 

    Aku awalnya tak terlalu akrab dengan mereka kecuali karena kami tinggal berdekatan. Suatu waktu, saat kebetulan seperjalanan pulang dari sekolah, aku menawarkan ide untuk minum sampai teler. Mereka mengangguk meski anggukannya dingin dan senyap karena sama sepertiku, mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. 

    Belinya dimana?
    Bocil boleh beli?
    Minumnya dimana?
    Takarannya berapa?

    Lalu adalah Sgt, tetangga Rn dan Hrs yang aku tak kenal sebelumnya. Rumahnya di belakang surau. Ia dua tahun lebih tua dari kami. “Tenang bae! Sing penting ana duite beres!” ujarnya dengan dialek ngapak Kebumen yang khas.

    Kami lalu urunan dan mengangsurkan uangnya kepada Sgt. Hari dan tempat disepakati, Malam minggu di SMA Masehi yang letaknya di Jl A. Yani Kebumen. Kenapa di sana? Entah! Sgt mengusulkan tempat itu dan kami menuruti saja.

    Minuman yang dibelinya berukuran 1 litre. Dari penampakannya kupikir seperti botol sirup yang sering dibeli Mama dibungkus tas plastik warna hitam. Ada label bertuliskan “Drum” dengan gambar beberapa tong “drum” yang sering kulihat di film-film koboi. 

    Kami bertiga bergerak ke SMA Masehi selepas Maghrib sementara denyut kota meramai menyambut malam minggu. Pintu gerbang SMA Masehi terbuka sedikit dan dengan gesit kami menyelinap melalui celahnya. Setelah celingak-celinguk dan tak ada penjaga sekolah, duduklah kami di selasar sebuah kelas. Penerangannya temaram hanya sebuah bohlam kecil menggantung di atap sirap.

    Sgt segera membuka botol dan menuang minuman di atas gelas kecil yang ia bawa lalu mengedarkannya. “Pait ora?” tanyaku.

    “Ditenggak bae! Aja dirasakna!” ujarnya tak sabar.

    Aku menggelontorkan begitu saja minuman itu ke tenggorokan dan rasanya seperti menyesap api! Panasnya bukan main, hawanya kurasa sampai keluar dari lubang hidung, memanaskan mata!

    “Mengko nek wes munggah wes ora krasa rasane… sante bae!” lanjut Sgt menenangkan.

    Kami minum dengan kebat dan benar kata Sgt, makin naik (teler) makin terabaikan rasanya. Lalu entah sampai ke putaran berapa dalam perminuman, Sgt sekonyong-konyong berdiri dan melempar botol itu ke dinding kelas hingga pecah dan airnya pun tumpah di lantai.

    Kami kaget melihat perubahannnya yang drastis apalagi mendengar Sgt meracau tak jelas. 

    “Terna inyong nang Star bodol nek ora Puskud! Nyong pengen kithul!” ujarnya kepada kami. Star Bodhol adalah sebuah gedung bioskop Star yang sudah tak terpakai lagi dan letaknya bersebelahan dengan SMA Masehi. Puskud adalah sebuah gudang beras dan gandum yang letaknya tak terlalu jauh dari situ. Keduanya waktu itu dikenal di malam hari berubah jadi tempat bordil gelap.

    Kami segera tahu Sgt rupanya teler berat karena minuman yang kami tenggak. Bertiga kami berusaha menahan dan membujuknya tapi tak berhasil. Ia tetap memaksa untuk mencari lonte dan memenuhi syahwatnya.

    Karena tahu ia sedang sangat teler, bertiga dengan Rn dan Hrs, kami sepakat untuk pura-pura membawanya jalan ke Star Bodhol dan Puskud padahal tidak.  Sgt kami ajak jalan-jalan melewati pertokoan di Jl Pahlawan, sempat memutar ke arah Jl Pramuka, lalu balik lagi ke Jl Pemuda. Sgt terus meracau dan memarahi kami kenapa tak sampai-sampai ke Puskud atau Star Bodhol. Untung langkahnya semakin gontai sehingga ia mau-tak-mau tak bisa berjalan tanpa papahan kami bertiga. Akhirnya setelah beberapa lama, kami bisa sampai di pos ronda dekat rumah.

    “Gimana ini?” tanyaku ketakutan melihat reaksi Sgt yang semakin meracau, berwajah pucat dan mata menyipit nan merah.

    Hrs berbisik, “Udah di sini dulu aja sampai nanti biar mabuknya hilang.” Rn tak bersuara meski aku tahu ada rasa takut di matanya.

    Aku semakin tak tenang.
    Jantungku berdegup terlalu kencang. Aku takut bagaimana kalau ada tetangga yang melihat perilaku Sgt? Bagaimana juga kalau Sgt tak kunjung reda mabuknya? Malam itu harus kami kemanakan ia? Kepalaku memening, bibirku menebal dan ringan untuk dipakai bicara. Akupun semakin teler rupanya.

    Pukul delapan lewat, kami harus bergerak!

    “Mama Papaku sebentar lagi pulang! Duh kepriwe kiye?” tanyaku ketakutan sementara Sgt sudah tertidur pulas dengan mulut menganga di lantai kayu pos ronda. “Ya udah kita bangunkan Sgt lalu kita antar pulang.” ujar Hrs.

    Aku dan Rn ketakutan. “Bagaimana kalau ketahuan orang-orang di rumahnya?”

    Hrs menenangkan, “Santai! Kamar Sgt ada di ruang depan rumahnya. Nanti aku masuk ke rumah langsung kutidurkan di sana…”

    Fiuhhhh! Aku merasa lega…

    Kami membangunkan Sgt lalu mengajaknya berjalan hingga beberapa meter berikutnya Sgt muntah di tepi jalan.  Menjelang gang rumah Sgt, Hrs memberitahu kami untuk menunggu di situ. “Gak usah masuk semua nanti orang-orang rumahnya pada curiga…”

    Aku dan Rn menunggu sambil duduk-duduk di pertigaan depan gang rumah Sgt.

    Kami mengamati Hrs dari jauh dengan susah payah membopong Sgt lalu ketika tiba di depan rumah Sgt, sekonyong-konyong Hrs melepaskan bopongannya pada Sgt lalu lari tunggang langgang ke arah kami dengan langkah yang oleng karena ia pun mabuk. “Ana ramane…. ana ramane..”

    Aku sontak berdiri dan lari menjauh dari rumahnya. Sial bagiku! Karena saking olengnya, akupun terjatuh meski bisa bangun lagi lalu pulang ke rumah dengan terseok-seok.

    Sesampainya di rumah, pembantu membukakan pintu dan betapa bersyukurnya aku karena Papa dan Mama belum pulang sementara Chitra sudah tidur. Aku segera cuci kaki, menuju kamar langsung tidur. Rasa pusing dan mual menjadi-jadi. Aku tahu harus memuntahkan isi perutku supaya membaik tapi aku gentar untuk melakukannya. Gimana kalau pembantuku curiga?

    Tak seberapa lama kemudian, Papa dan Mama pulang. “Le…. iki Mama mundhut mie goreng Ratman Muda…” ujar Mama dari ruang tengah.

    Aku diam saja pura-pura tertidur, kepalaku berputar-putar. Papa dan Mama masuk ke kamar. Mama menggoyang-goyangkan tubuhku aku pura-pura bangun dengan tetap tertelungkup supaya mereka tak melihat luka akibat jatuh di wajahku dan supaya bau alkohol di mulut dan nafasku ketahuan olehnya.

    “Sesuk wae Ma…aku ngantuk!” ujarku dengan suara yang kubuat-buat seolah aku sudah tidur lebih dari tiga jam!

    Tapi Papa curiga. Ia rupanya membaui aroma yang aneh dari kamarku. “Kok wangi to kamare? Kowe mabuk ya?”

    Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tetap tertelungkup!

    “Mabuk seko ngendi! Lha wong ora ana botol lan yo opo Donny ki gelem ngombe? Ora mungkin!” ujar Mama membalas Papa. Sama seperti kasus rokok, aku sebenarnya tak yakin kalau Mama tak merasakan kecurigaan yang sama tapi aku kenal betul watak Mamaku. Ia menghindari konflik sekaligus membela buah hatinya yang satu ini hehe…

    Mereka kemudian keluar dari kamar mematikan lampu. Aku bangun dengan berjingkat mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dengan bantuan api aku bercermin, luka di pipiku tak terlampau dalam semoga besok kering dan hilang lebamnya, batinku.

    Aku menunggui sampai Mama dan Papa masuk ke kamar lalu berjingkat keluar menuju meja makan, mengambil mie goreng lalu makan dengan lahap saking laparnya.

    Ketika baru habis sebagian, tiba-tiba rasa mualku tak tertahankan. Aku lari ke kamar mandi dan muntah sejadi-jadinya…

    Lebih dari tiga puluh tahun sesudahnya, ketika menuliskan semua kenangan indah ini, aku tidak minum minuman beralkohol lagi. Entah nanti setelah tulisan ini jadi, sambil nonton Netflix mungkin aku akan menyesap whiskey, seteguk atau dua…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Tentang Isu Ijazah Palsu yang Ora Uwis-Uwis Itu..

    Tentang Isu Ijazah Palsu yang Ora Uwis-Uwis Itu..

    Ada dua hal yang membuatku senang dan mengikuti gemuruh perkara ijazah palsu yang berlarut-larut atau yang kata orang Jawa, ora uwis-uwis ini.

    Pertama, aku terhibur dengan perdebatan mereka.

    Apalagi kalau debatnya sudah sampai di level saling potong dan tindih waktu bicara, sudah sampai ada yang mengeluarkan wayang dan berlagak jadi dalang atau menunjukkan kaos dengan pesan tertulis di atasnya, sampai cela-celaan membawa masalah pribadi dan masa lalu bahkan sampai beranjak dari kursi dan saling tunjuk, aku nontonnya sambil berseru, “Tonjok! Tonjok!”

    Tapi kalau debatnya serius dan santun, aku skip! Ngapain harus serius dan santun untuk membahas kasus sebodoh dan segoblok ini sih? Unfaedah banget jadinya kan?!

    Kedua, dan kali ini agak serius, aku tertarik melihat bagaimana orang mengaplikasikan pendekatan stereotipe untuk menilai orang lain.

    Misalnya, bagi sebagian orang, karena Mulyono pernah begitu mengecewakan dan sering distereotipe-kan sebagai pembohong pun ia tak punya budaya baca, maka ijasah palsu itu seperti memvalidasi stereotipe yang sudah dibangun dalam benak mereka tentang Mulyono.

    “Ya wajar kalau palsu! Liat aja track recordnya mana ada yang asli?!” ujar mereka sambil menikmati kereta cepat Jakarta-Bandung dan jalan tol Jakarta-Jogja, misalnya :)

    Bagi sebagian yang lain yang sering dianggap sebagai orang yang condong ke Mulyono tentu lain lagi. Para penuntut yang berteguh menganggap ijasah junjungannya itu palsu itu akan dianggap sebagai orang yang belum bisa move on! Mereka akan dianggap berasal dari kantong yang sama yang dulu sering kita anggap sebagai kadrun, mereka yang dianggap anti-kebhinekaan dan bergaris keras!

    Makanya waktu Tom Lembong muncul di pihak “sana” hatiku senang bukan kepalang karena Tom yang adalah simbol minoritas baik suku bangsa maupun agamanya seolah menjadi anomali dan membuat orang yang mudah jatuh dalam kesalahan berstereotipikal pusing dan mual-mual!

    Mereka, sepertinya halnya terkadang kita, menggunakan analisa stereotipikal untuk melabeli seseorang. Mengumpulkan kepingan-kepingan informasi yang sama kategorinya lalu secara subyektif memasang label berdasarkan kategori itu ke jidat orang. Pembohong. Kadrun. Cebong. Termul. SJW. Anak Abah dan banyak lagi yang lainnya…

    Hal ini sebenarnya gak sepenuhnya salah dan kadang tak bisa kita hindari karena terbatasnya cara berpikir kita. Tapi, seperti yang ditulis Gordon Allport dalam bukunya yang terkenal The Nature of Prejudice (1954), kita harus berhati-hati karena penggunaan cara berpikir stereotipikal itu cenderung yang exaggerated, oversimplified, dan misapplied (dibesar-besarkan, disederhanakan secara berlebihan, dan disalahgunakan).

    Dalam hati kecilku, terlepas bagaimana akupun pernah kecewa padanya, aku berharap ijasah Mulyono bisa terbuktikan keasliannya.

    Kenapa?
    Karena kalau sampai asli, aku menebak akan ada banyak orang yang semula membenci dan kecewa akhirnya berbalik arah, karena informasi keaslian itu akan merusakkan jalinan informasi yang selama ini telah mereka jadikan label untuk ditempelkan ke jidat Mulyono.

    “Oh ternyata kita selama ini salah! Pak Mul adalah orang baik! Sebaik waktu kita bela dulu di awal mula kemunculannya! Lha buktinya dia punya ijasah dan dia diam saja ketika dikuya-kuya, disudutkan!”

    Karena kalau sampai asli, aku menebak akan ada banyak juga orang yang makin muak karena menganggap Mulyono bukan raja jawa tapi raja drama! “Kenapa gak dari dulu nunjukin itu asli? Kenapa harus sampe segaduh ini baru mengeluarkan bukti? Drama apa lagi yang mau dimainkannya?” Hmmm, aku mungkin akan ada di barisan ini.

    Karena kalau sampai asli, akan ada beberapa orang lain yang tetap tidak yakin dengan keaslian watak Mulyono. Dan untuk itu, mereka akan semakin penasaran mengangkat isu-isu konyol baru lainnya entah itu ijasah anaknya, kasus fufufafa atau yang lain-lain yang mungkin kita tak pernah terpikirkan sebelumnya pokoknya yang mampu menguatkan label Mulyono sebagai sosok yang palsu, tak perlu dibela dan kita diajak untuk menyesali kenapa dulu memilihnya.

    Nah, yang terakhir barusan inilah yang kutunggu!

    Ketika muncul isu-isu konyol berarti akan muncul tokoh-tokoh baru yang akan membuat kegaduhan-kegaduhan goblok yang ditawarkan algoritma Youtube kepadaku untuk ditonton!

    Mari mendoa untuk Silfester Matutina!

    Semoga ia tidak jadi dipenjara karena siapa lagi yang bisa meramaikan panggung debat selain dia?

    Bang, jangan tinggalkan kami, Bang!

  • Hanya Gara-gara Knalpot Blombongan

    Hanya Gara-gara Knalpot Blombongan

    Musim dingin Australia terlewati separuh tapi hawa yang menggigilkan tubuh masih belum beranjak pergi hingga kira-kira satu setengah bulan lagi lamanya.

    Sabtu sore kemarin, seperti sore-sore sebelumnya, aku berjalan kaki keliling kompleks membawa Trudy dan Trilly, dua anjing cavaliers-ku. Suasana cukup lengang, barangkali karena orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing dari berolahraga di pagi hari, mempersiapkan makan malam keluarga sebelum matahari lindap atau barangkali sudah pergi lagi untuk pergi makan di luar karena kan malam minggu?

    Lalu sekonyong-konyong, dari arah belakang, suara knalpot sepeda motor menyalak dengan kencangnya sekencang laju yang kutaksir melebihi batas maksimal area, 50km per jam.

    Aku paling benci suara knalpot seperti itu. Suara yang memekakkan telinga dan mengingatkanku pada knalpot blombongan kampret, seorang tukang blombong yang tinggal di daerah jokteng di Jogja.

    Spontan, aku menghujat pesepeda motor itu dalam hati, “Asu! Get-geti wae! Nabrako! Nabrako! (Anjing! Bikin kaget aja! Semoga ketabrak! -jw)” Well, tujuh belas tahun tinggal di negara ini tapi aku tetap berpikir dalam Bahasa Jawa.

    Tak dinyana, kurang lebih dua puluh lima meter di depanku, motor itu benar-benar menabrak sebuah mobil yang hendak masuk ke jalan utama tempat pesepeda motor itu melaju.

    Brak!!!! Aku kaget, tapi lagi-lagi spontan seolah melanjutkan mantra “Nabrako! Nabrako!” dengan “Modharrrrrroooo! (Mampusss! -jw)”

    Sepeda motor terbanting sementara si pengendara terpelanting lalu nyungsep masuk ke bawah mobil. Terdengar suara mengaduh si pengendara motor, tak lama kemudian ia digotong ke bahu jalan oleh beberapa orang yang tinggal di sekitarnya.

    Sepanjang sisa perjalanan sore itu, aku mengalami kegundahan hati yang luar biasa. Masih mencoba mereka ulang dalam benak tentang peristiwa kecelakaan tadi. Siapa yang bersalah? 

    Mobilnya harusnya tahu diri karena rambu jalannya giveway yang mengharuskannya untuk memastikan tak ada kendaraan lewat sebelum ia masuk ke jalan.

    Tapi sepeda motornya mungkin juga melaju terlalu kencang sehingga ia begitu mengagetkan si pengendara mobil yang sudah terlanjur mengira tak ada kendaraan yang akan lewat di mukanya.

    Lalu tiba-tiba terbersit rasa yang menyelinap ke dalam pikir, “Tapi… terlepas siapapun yang salah, bagaimana kalau ternyata kecelakaan itu terjadi karena mantra dan doaku “Nabrako! Nabrako!” tadi?”

    Kenapa pula ketika akhirnya kejadian, kata “Modharo!” yang muncul adalah ungkapan kelegaan luar biasa dalam hati?  Seolah mantra “Nabrako! Nabrako!” hadir sebagai penggalan doa umat, “Kabulkanlah doa kami ya Tuhan” sedangkan “Modharo” sebagai “Syukur kepada Allah!”

    Aku merasa begitu berdosa. 
    Nuraniku menghablur dan kemanusiaanku entah sudah tergadai demi apa!? 

    Kupikir aku sudah jauh lebih baik dari mereka yang selama ini aku kutuk karena membenci dan menyerang sesamanya hanya karena terusik beda kepentingan politik dan peribadatan agama. Karena ternyata, jangankan urusan politik dan agama, hanya karena benci pada suara knalpot blombongan saja aku sudah merasa berhak untuk mengutuk pengendaranya dan mendoakan supaya celaka lalu ketika ia betulan celaka, aku bersorak atas nahasnya…

    Kalau sudah begini sebenarnya yang asu siapa? Aku atau dia?

    Mea culpa, Mea maxima culpa!

  • Tom Lembong

    Tom Lembong

    Tom Lembong adalah Thomas Trikasih Lembong. Kalau tak salah duga, Thomas itu nama baptisnya. Dalam tradisi Katolik, ada beberapa “Thomas” yang bisa dijadikan patron atau nama baptis seseorang. Tapi yang paling populer, selain Thomas Aquinas ya Thomas murid Yesus. Maka, lagi-lagi berasumsi, Thomas-nya Tom Lembong adalah Thomas, murid Yesus.

    Ada yang istimewa dengan Thomas yang satu ini. Ketika murid-murid lain percaya bahwa Yesus sudah bangkit dari mati, Thomas skeptis! Kawan sepermuridannya, Yohanes, menulis bahwa Thomas baru akan percaya kalau ia sudah melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jari ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tangan ke dalam lambung-Nya. Kalau enggak, seperti dilaporkan Yohanes, “Sekali-kali aku tidak akan percaya!”

    Delapan hari kemudian Yesus melunasi keinginan Thomas. Ia mendatangi Thomas dan memintanya untuk memasukkan jari ke luka paku dan lambung Yesus yang bolong karena ditusuk prajurit Romawi. Thomas melakukannya dan ia pun jatuh percaya.

    Tom Lembong sejak beberapa minggu terakhir menjadi mata pusaran berita di Indonesia. Proses hukumnya banyak disorot orang. Aku tak hendak membahas topik yang sama karena sudah terlampau banyak yang melakukannya. Aku lebih ingin mencoba mendalami pemikiran Tom dalam perspektif yang sangat sempit, sesempit pengetahuanku tentangnya. 

    Perspektif yang kupakai adalah kenapa Tom yang tumbuh dan besar di luar negeri memutuskan pulang ke Tanah Air. Padahal otaknya cemerlang, ia pun sudah berkarir dengan sangat baik di Amerika Serikat sana.

    Aku punya banyak kenalan yang kisah hidupnya kurang lebih sama seperti Tom.

    Lahir di keluarga kaya raya, ketika masih anak-anak dikirim ke luar negeri untuk studi hingga lulus sarjana lalu sesudahnya diminta pulang oleh orang tua untuk melanjutkan usaha keluarga, merawat orang tua sambil membangun keluarganya sendiri. Ketika ia beranak, anaknya akan menjalani siklus yang sama dengan dirinya dulu, dikirim ke luar negeri, lalu disuruh kembali, demikian seterusnya. Maka kubayangkan, alasan kepulangan Tom barangkali juga demikian, wajar untuk orang-orang di kelas sosialnya.

    Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apa yang membuat Tom tertarik untuk masuk ke gelanggang politik nasional. Untuk yang satu ini aku tak punya contoh apalagi clue.

    Tom meng-endorse Jokowi sejak awal mula. 
    Ia seperti sedang berinvestasi terhadap sosok walikota Solo itu seperti halnya ia berpialang saham di bursa pasar modal. Hasilnya memang luar biasa. Tak percuma Tom sering bolak-balik ke Solo untuk ‘merawat’ investasinya itu karena Jokowi kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta lalu dua tahun berikutnya jadi presiden. Maka tak heran kalau Tom kemudian masuk ke dalam kabinet menjadi menteri perdagangan. Tak lama memang. Konon Tom melihat Jokowi berubah, keduanya lalu berbeda arah.

    Lepas dari Jokowi, Tom ‘berinvestasi’ pada sahabat lamanya, Anies Baswedan. Lagi-lagi berhasil, Anies jadi gubernur lalu tahun 2024 maju dalam Pilpres dan Tom menjadi salah satu pentolannya.

    Anies kalah sudah bisa diterka tapi yang tak dinyana, Tom dibelenggu atas dugaan kasus korupsi yang disangkakan terjadi ketika ia di masa lampau menjadi menteri di era Jokowi. Ia divonis bersalah meski tak sepeser pun ia terima dari kasus itu. Jika keputusan pengadilan tinggi atau mahkamah agung tak menganulirnya, ia harus mendekam lebih lama di penjara, 4.5 tahun.

    Apakah Tom menyesal telah pulang ke Indonesia? Aku tak yakin. Seperti kutulis di atas, itu panggilan keluarga.

    Tapi apakah Tom menyesal terjun ke dunia politik jika harus menelan pil sepahit ini? Pun aku tak yakin.

    Orang sepiawai Tom tentu sudah menakar resiko hingga seburuk ini. Ketidakyakinanku juga besar karena seperti halnya yang dilakukan sang patron, Santo Thomas, Tom Lembong sejatinya sedang mencucukkan tangannya dalam-dalam ke dalam luka lambung Yesus.

    Ia sedang mendalami kepercayaan bahwa bangsa dan tanah airnya itu memang perlu diperbaiki melalui kedalaman luka yang ia cucuki. Tak sekadar dengan menjadi pengusaha sukses, tak cukup hanya dengan mengendorse tokoh dan jadi menteri tapi dengan pengorbanan dirinya sendiri seperti yang dilakukan Sang Guru, dua ribu tahun sebelum Tom hidup di bumi manusia ini.

    Penjara bukan akhir bagi Tom melainkan titik awal. Awal untuk ia akhirnya percaya bahwa dengan keterbatasannya, Tom Lembong bisa jadi pondasi awal bagi kebangunan bangsa dan tanah airnya di masa depan.

    Pun jika tidak, ia akan diingat sebagai korban mahal yang dipersalahkan demi kemurkaan dan ketamakan yang dihalalkan!

  • Kiss Cam dan Dunia Yang Kian Telanjang

    Kiss Cam dan Dunia Yang Kian Telanjang

    Dunia ini, dalam konteks keterbukaan informasi, sudah semakin telanjang.

    Mimpi apa Andy Byron dan Kristin Cabot, karena gara-gara nonton konser Coldplay, gara-gara berpelukan dan momentumnya tertangkap kamera yang ditayangkan layar besar, nama keduanya beredar ke seantero dunia! Yang bubar gak cuma kisah perselingkuhannya tapi karir dan juga barangkali keluarga.

    Kalau soal perselingkuhannya sih biasa aja sebenarnya!

    Tak ada yang mengejutkan karena penyakit perselingkuhan ini umurnya sudah sepanjang umur homo sapiens mengenal nafsu dan syahwat untuk menguasai apapun, memiliki siapapun yang mereka mau. Jadi kalau ada orang yang tiba-tiba bilang “Dunia ini sudah sedemikian kacaunya sehingga orang selingkuh ada dimana-mana bahkan di konser” bisa dipastikan dia adalah makhluk planet lain yang baru bermigrasi ke bumi. Harap dimaklumi!

    Dan soal efek telanjangnya informasi ini gak cuma menimpa Andy dan Kristin kok. Kalau kalian ingat Rocky Gerung pernah juga tertangkap basah sedang dipeluk seorang perempuan mirip Salsabila Syaira saat menonton konser Dewa19 awal tahun 2023 silam.

    Atau kalau mau contoh telanjangnya informasi tapi yang bukan soal perselingkuhan, beberapa waktu lalu ramai beredar video Donald Trump di depan media menyampaikan deal bagus antara Amerika dengan Indonesia.

    Trump dengan bangganya bilang bahwa mereka memberikan kortingan tarif barang Indonesia masuk ke Amerika jadi 19 persen tapi sebagai gantinya, berpuluh-puluh pesawat boeing bikinan Amerika dibeli Indonesia dan… konon Amerika Serikat akan diberi akses bebas terhadap sumber daya alam Indonesia.

    Gak tahu kalau kalian, tapi kalau jadi Prabowo barangkali aku akan kebakaran jenggot karena kok tiba-tiba saja Donald Trump menyampaikan isi deal itu secara terbuka! Untungnya netijen sangat mudah lupa atas satu kejadian karena saking banyaknya isu yang beredar dan memadati waktu mulai dari ijasah palsu, judol hingga pergantian logo partai dari mawar ke gajah.

    Teman, dunia ini terus bergerak ke arah yang kita tidak pernah tahu akan seperti apa.

    Kejadian-kejadian seperti ini harusnya membuat kita lebih banyak memberi jeda dalam hidup untuk melakukan introspeksi ke dalam diri termasuk hal yang kedengarannya klasik dan klise, iman.

    Aku tak hendak mengajari kalian untuk harus percaya Tuhan dan harus beragama, tapi melalui iman, setidaknya bagiku, aku jadi paham bahwa hidup ini memiliki misi.

    Hidup ini tak hanya digulirkan begitu saja dari lahir hingga mati tanpa maksud dan niat.

    Kenapa dan untuk apa kita hidup?

    Ketika kita punya misi, punya panggilan hidup, segala hal yang kita putuskan untuk katakan, tuliskan dan lakukan harusnya sudah melalui pertimbangan matang.

    Kenapa harus melakukan sesuatu? Apa perlunya?

    Sejauh apa hal itu akan menguatkan misi perutusan hidupku?

    Adakah hal itu menguntungkanku dan orang-orang yang mencintai dan mendukungku selama ini?

    Adakah hal itu tidak akan menyakiti siapapun?

    Sepanjang hidup adalah pelajaran mengambil keputusan yang lebih baik dan lebih baik lagi.

    Semoga peristiwa ini jadi peringatan untuk kita semua.

    Bagi yang masih berselingkuh, pintar-pintarlah menjaga privasi. Atau barangkali ini adalah momentum yang tepat untuk mengakhiri saja dan kembali setia kepada pasanganmu? Atau kalau masih ngebet, ya jadi adek-kakak aja biar aman?

  • Dosis yang tepat menyanyikan Mars De Britto

    Dosis yang tepat menyanyikan Mars De Britto

    Berapa dosis terbaik untuk menyanyikan lagu Mars De Britto? Untuk menghormati teman-teman non alumni De Britto yang membaca tulisan ini, kami lulusan SMA Kolese De Britto sejak hari pertama bersekolah dikenalkan sebuah mars berjudul Mars SMA Kolese De Britto, karya Pater Ludovicus Murabi SJ.

    Ketika masih studi di sana, mars ini kami nyanyikan tak hanya di acara-acara resmi sekolah seperti perayaan ekaristi dan upacara bendera (yang cukup jarang diadakan waktu itu) tapi juga saat event-event olahraga untuk mendukung tim kami bertanding. Tapi uniknya, tak hanya ketika masih studi di sana, banyak sekali alumni yang menyanyikan mars tersebut dalam acara-acara yang diadakan jauh setelah yang bersangkutan lulus dari De Britto.

    Nah, dalam beberapa waktu belakangan ini, di social media, aku sering menyuarakan betapa tidak pentingnya untuk seorang alumni menyanyikan mars ini secara bertubi-tubi. Aku nggak kaget ketika ada alumni yang tidak suka. Tapi nan tak kusangka, ternyata yang merasakan begitu bukan cuma aku seorang! Ada beberapa alumni yang bahkan menjapri-ku untuk menunjukkan persetujuannya bahwa bernyanyi mars terlampau sering itu ya cenderung memuakkan.

    Maka melalui tulisan ini, aku ingin mengelaborasikan pendapatku itu secara lebih mendalam.

    Yang pertama, pendapat itu tidak mengartikan bahwa cintaku pada almamater SMA Kolese De Britto menipis. Tidak dan tidak akan pernah. De Britto adalah takdir dan kawah candradimuka bagi pertumbuhan iman dan karakterku. Yang kedua, pendapat itu tidak pula bisa dibaca sebagai kebencianku pada mars. Dari sisi musik dan lirik, Mars De Britto adalah yang terbaik yang bisa melukiskan bangga dan cintanya perasaanku pada De Britto.

    Pendapatku tadi lebih tertuju pada perilaku alumni, tidak lebih dan tidak kurang. OK lah kalau di acara kematian seorang alumni, asal mendapatkan ijin dari keluarga yang berduka, mars itu layak dikumandangkan.

    Di acara reuni pun nggak masalah. Tapi ketika sedang kumpul di ruang terbuka lalu tiba-tiba menyanyikan mars? Atau ketika menghadiri pernikahan alumni lalu sekonyong-konyong melantun, “Akulah putra SMA De Britto…” saat tamu lain sedang sibuk bersantap atau ngobrol dengan tamu lainnya? Salahkah kalau kemudian aku bilang bahwa yang bersangkutan belum bisa move on dari kenangan masa SMA seolah tidak ada masa yang lebih baik sesudahnya yang ia lewati dan tidak ada lagu lain yang bisa dinyanyikan selain itu? 

    Tapi tenang saja, dulu akupun begitu hingga ada satu momentum yang membuatku berpikir untuk tidak lagi seperti itu.

    Momennya terjadi di tahun 2018 kalau tidak salah ingat. Waktu itu aku dan beberapa kawan di sini mengadakan seminar ke-indonesia-an. Nah, kebetulan di acara itu, hadir para alumni SMA Kanisius Jakarta juga dua orang guru SMA Kolese De Britto yang sedang tugas-kunjungan ke Sydney.

    Selepas acara, aku punya ide untuk menyanyikan Mars De Britto berbarengan dengan teman-teman alumni Kanisius menyanyikan lagu mars mereka. Momen itu lalu kurekam dan rekamannya kushare di social media.

    Beberapa saat sesudahnya, tiba-tiba aku berpikir, “Ngapain ya aku harus nyanyi mars saat mengadakan acara seminar yang bukan tentang De Britto? Apa karena ada guru De Britto yang hadir di sana lantas aku berpikir untuk bernyanyi Mars? Apa karena teman-teman Kanisius juga bernyanyi? Apa jangan-jangan karena aku ingin pamer ke social media saja?”

    Tapi kalaupun ingin pamer, kenapa aku harus pamer bernyanyi lagu Mars De Britto? Kenapa bukan Bukit Berbunga, Senja di Batas Kota atau joget-joget pake soundtrek SKJ ’88 misalnya?

    Jawabannya tidak pernah kutemukan hingga sekarang tapi sejak saat itu aku lantas memutuskan untuk lebih irit dalam bernyanyi mars. Kenapa? Karena kalau terlampau sering kunyanyikan, aku takut kehilangan esensi dan konteks ketika harus menyanyikannya kelak! Semacam kamu kangen pacar tapi karena sudah ketemu pacar setiap hari, kangen itu lalu hilang!

    Mars De Britto tetap dan akan terus kunyanyikan di saat-saat sakral. Misalnya ketika aku mengikuti misa requiem teman seangkatanku di De Britto yang meninggal beberapa tahun lalu. Di depan layar monitor, seorang diri dari jarak 5000 kilometer jauhnya dari Jogja aku tegak berdiri, mengepalkan tangan ke dada dan bernyanyi Mars sesungguh-sungguhnya sebagai wujud penghormatanku tak hanya kepada temanku yang berpulang tapi juga jadi rasa syukur atas waktu dan kenangan yang pernah tercipta antara aku, dia dan seluruh alumni De Britto.

    Atau pada Oktober 2018 silam aku pernah diundang SMA Kolese De Britto untuk sharing pengalaman kepada adik-adik kelas. Di akhir acara, Mars dikumandangkan. Akupun bernyanyi dengan perasaan hati yang bercampur-aduk! Ya haru! Ya bangga! Ya dan lain sebagainya!

    Pengalaman-pengalaman batin seperti itu menurutku tidak akan pernah muncul ataupun kalau tetap muncul tapi kadarnya tidak akan tinggi kalau aku terlampau sering menyanyikan mars.

    Aku tidak mengajak kalian untuk tidak menyanyikan mars secara bertubi-tubi. Jika memang itu caramu untuk mencintai De Britto ya monggo saja.

    Hanya saja bagiku, kecintaan pada almamater itu tidak melulu harus dilagukan. Lagunya toh memang sudah terlanjur indah, tapi bagaimana mengaplikasikan lirik dan maknanya dalam keseharian supaya hidupmu jadi lebih indah, itu adalah tantangan terberatnya, Dab!

    Apakah ketika tanganmu mengepal di dada dan matamu berkaca-kaca memandang ke atas dan bibir tergetar menyanyikan mars itu kamu sudah benar-benar punya cita-cita yang gagah?

    Apakah hatimu benar-benar sudah murni dan sejati? Apakah benar bahwa tuangan tenagamu itu untuk Tuhan dan bangsamu?

    Dan… apakah benar kamu sudah bersatu dengan SEMUA kawan sesama alumni De Britto meskipun terpencar hidupmu?

    Untuk yang terakhir, ijinkan aku meminjam istilah yang dulu sering kita pakai di sekolah, Prek, Su! Lha wong cuma gara-gara utang yang ndak kamu bayar aja njuk kamu memusuhi teman alumnimu kok… Lha wong cuma gara-gara urusan pilpres perkumpulan aja njuk kamu sipat kuping balik kanan dan gak mau lagi berkawan kok…

  • Rumah Kaswari

    Setelah enam tahun mengontrak, pada 1989-1990, Papa dan Mama akhirnya membangun rumah melalui mekanisme cicilan yang ditawarkan kantor tempat Papa bekerja. Papa meminjam dana 25 juta lalu untuk pengembaliannya diangsur lewat pemotongan gaji per bulan yang diterimanya. Di tahun itu, di kota sekecil Kebumen, rumah bisa dibangun dengan nominal segitu yang memang jika dibandingkan saat ini tak ada apa-apanya.

    Letaknya di Jl Kaswari, Kebumen. Jl Kaswari adalah sebuah jalan penghubung antara dua jalan utama di Kebumen, Jl Pemuda dan Jl A. Yani. Tak terlalu lebar! Pun sebelahnya ada saluran irigasi yang sama lebarnya dengan jalan, tapi Kaswari itu ramainya setengah mati.  Pejalan kaki, sepeda, becak, gerobak, sepeda motor, mobil, truk hingga delman tumpah ruah berebut jalur. Ini tentu hal yang sangat berbeda dengan kondisi jalanan di rumah kontrakan kami di Kauman yang terletak di dalam perkampungan yang hanya ramai karena dilalui truk memuat pasir dari Kali Lukula di siang hari lalu selepas jam enam sore, bisingnya tak ada yang mampu mengalahkan desiran angin lembah sungai yang membunyikan desir dari dedaunan pohon bambu!

    Rumah baru kami mulanya adalah sepetak sawah. Aku ingat pada satu perjalanan ke Jogja di awal 1989, saat melewati Jl Kaswari, Papa menunjukkan letak sawah itu kepadaku. Papa membelinya dari seorang yang tinggal di Semarang, Bu Dewi kalau tak salah, seorang yang berprofesi sebagai notaris. Karena bentukan awalnya sawah, kami tak bisa langsung membangun. Sawah harus dikeringkan beberapa lama, diurug, diratakan levelnya dengan tinggi jalan baru kemudian siap dibangun.

    Untuk pembangunan, Papa memanfaatkan jasa seorang kontraktor dan arsitek, Pak Marsum namanya.

    Hampir tiap malam Pak Marsum berkunjung ke rumah kami untuk ngobrol panjang lebar tentang rencana pembangunan hingga larut. Di masa itu pula, sepulang kerja, Papa membeli majalah-majalah perumahan lalu menggambar sketsa sebisanya di kertas padahal ia seorang lulusan ekonomi dan jauh dari gambar-menggambar seperti itu.

    Bulan Agustus 1989 pembangunan dimulai.

    Di hari-hari dan bulan-bulan itu, kami semakin sering lewat Jl Kaswari untuk melihat perkembangan pembangunan menikmati tahap-tahap pembangunannya mulai dari pondasi, dinding kemudian atap. Sama persis dengan yang aku, istri dan anak-anakku lakukan saat membangun rumah yang sekarang kami tempati ini era pandemi 2020-2021 silam bolak-balik ke lokasi pembangunan rumah.

    Ketika atap sudah naik, sekitar akhir tahun 1989, suatu malam, Papa mengajakku bermalam di rumah baru menggunakan alas tikar dan lampu sumbu minyak karena listrik belum diinstal.

    Ia menjelaskan kepadaku bahwa dalam tradisi Jawa, pemilik rumah berjenis kelamin laki-laki harus nginep duluan untuk kulanuwun dengan siapapun baik yang tampak, para tetangga, maupun yang tak tampak.

    Hal ini kulakukan juga di akhir 2021 silam ketika rumah baru yang kubangun mendekati tahap penyelesaian. Meski sudah tinggal di Australia tapi aku tetap merasa perlu untuk tidur di rumah baruku. Karena tak punya anak laki-laki, aku menginap seorang diri.

    Ketika rumah sudah hampir jadi, apa yang selama ini dirancang dan diceritakan Papa tentang bentuk rumah baru akan seperti apa, menampak.

    Rumahku waktu itu untuk ukuran tahun segitu dan di kota sekecil Kebumen termasuk rumah yang ultra modern. Warnanya didominasi perpaduan putih dengan cokelat tua pada bagian-bagian kayunya. Satu yang khas, rumah baru kami itu kaya dengan details dan ornamen di sana-sini. Di atas jendela kamar Papa dan Mama yang letaknya di depan, ada ornamen. Pada pilar yang terpancang di pelataran pun tak ketinggalan ada ornamen ala eropa. Bahkan, pada dua penangkal petir yang letaknya di atas genteng, Papa juga mengimbuhkan ornamen supaya tak tampil telanjang begitu saja.

    Di halaman depan rumah, di atas rumput, Papa menanam dua pohon cemara terpancang di kiri dan kanannya. Sejak awal, meski waktu itu Papa belum memeluk Katolik, ia sudah bercita-cita ingin memiliki pohon natal yang asli dan hal itu terjadi. Setiap Natal menjelang, Papa memasang lampu kerlap-kerlip dan setiap orang yang lewat selalu memperhatikan bahkan ada yang berhenti untuk menikmati.

    Waktu membangun rumah, mobil belum kami punyai. Tapi Papa sudah membangun garasi mobil di sebelah kanan, “Dinggo tamu lan yo sopo ngerti suk duwe rejeki meneh dinggo tuku mobil…” ujarnya waktu itu.

    Penampakan rumah baru kami yang penuh details dan ornamen itu mengundang banyak perhatian orang-orang yang melintas. Di awal-awal pindah, aku sering pura-pura baca koran di teras rumah untuk melihat bagaimana mereka mengamati rumah baru kami itu. Bahkan pernah ada dua orang mahasiswa (atau siswa, aku lupa!) datang mengetuk pintu untuk minta ijin mengadakan penelitian tentang bentuk rumah kami.

    Karena dana terbatas, lantai rumah yang dikeramik pada awalnya hanya bagian ruang tamu saja sementara ruangan-ruangan lainnya dipasang tegel biasa lalu di atasnya dipasang karpet warna abu-abu. Sekitar lima tahun kemudian Papa melepas karpet karena bau. Awalnya hendak dibiarkan saja dengan tegel warna kusam tapi Pap melihatnya sebagai hal yang kurang elok. Ia lantas ,menggantidengan lantai keramik hingga seragam seperti yang dipasang di ruang tamu.

    Kamar rumah kami ada empat. Satu kamar utama yang dipakai Papa dan Mama dan Chitra, satu kamar tamu, kamarku serta satu kamar pembantu di sudut belakang rumah. Ada dua kamar mandi. Kamar mandi pertama terhubung langsung dengan kamar utama sedangkan kamar mandi kedua ada di antara kamarku dan kamar tamu.

    Oh ya, kamar tamu selama beberapa waktu sempat dipakai oleh sepupuku dari pihak Papa, N.

    Kami tak memasang AC waktu itu karena sirkulasi udara di rumah kami dirancang dengan sangat baik. Udara segar di-supply dari sepetak taman tanpa atap yang ada di dalam rumah.

    Letaknya sebelah-menyebelah dengan dapur, sejajar dengan ruang keluarga dan ruang makan yang hadir tanpa sekat.

    Taman itu memiliki tebing buatan yang kemudian ditanami tanaman oleh Mama. Di bagian bawah ‘tebing’ ada kolam ikan yang semakin hari semakin asri seiring menumbuhnya lumut dan lebatnya tanaman-tanaman yang ada di atasnya. Sebenarnya ada fitur air mancur yang mengaliri tebing lalu jatuh ke kolam air.  Tapi sayang, sampai kami akhirnya harus pindah dan menjual rumah di tahun 1998, Papa dan Mama tak pernah mewujudkannya. Di sebelah taman tergantung kurungan burung yang dipakai Papa untuk memelihara burung yang setiap pagi berkicau menjadi weker alami bagiku.

    Di belakang dapur ada gudang dan seperti kusebut di atas tadi, kamar pembantu.

    Papa juga memasang jemuran di belakang rumah. Awalnya kami tak memasang pagar hingga akhirnya suatu saat celana jeansku hilang saat dijemur, Papa lantas memasang pagar sirap bambu mengelilingi rumah. Oh ya, sebenarnya masih ada sisa tanah di belakang bangunan yang sebenarnya cukup untuk empat kamar tidur. Papa sempat berpikir menjadikannya kolam ikan untuk memelihara lele atau apa saja tapi lagi-lagi sampai rumah kami jual di tahun 1998, petak tanah itu kami biarkan begitu saja terbengkalai dengan rerimbunan rumput dan beberapa pohon pisang.

    Ketika rumah sudah semakin jadi, kami mulai memindah barang-barang dari rumah Kauman ke rumah Kaswari. Tak semuanya kami bawa, sebagian kami berikan ke para tetangga di Kauman tapi sebagian lain yang bisa dimanfaatkan ya kami pindahkan. Ini terjadi karena keterbatasan dana waktu itu.

    Di masa itu, setiap pulang sekolah, waktu itu kelas 6 SD, aku diminta Mama untuk langsung mengayuh sepeda ke rumah baru karena mama sedang menjahit kain gorden rumah atau berberes hal-hal lainnya. Baru sore harinya kami pulang beriringan. Mama dan Chitra naik becak sementara aku bersepeda di belakangnya. Biasanya kami juga membeli makanan untuk dibawa pulang entah itu Bakmi Ratman Muda atau bakmoy di Eka Rasa kesukaanku.

    Aku lupa kapan tepatnya kami pindah dari Kauman ke Jl Kaswari tapi yang pasti sebelum April 1990 karena masa kontrak rumah bengawan jatuh masa setiap Februari.

    Tak ada perasaan yang semedhot ketika pindah dari Kauman ke Jl Kaswari, semua berjalan biasa saja dan kami waktu itu memang sudah kebelet ingin pindah secepatnya. “Sebelum Piala Dunia dimulai pokoknya kita sudah harus pindah!” tukas Papa.

    Kami mendiami rumah Jl Kaswari sejak saat itu hingga Juli 1998.

    Ada banyak sekali kenangan di rumah itu. Dinding-dinding rumah Jl Kaswari menjadi saksi jatuh dan bangunnya keluarga orang tua kami. 

    Di sana aku belajar begitu banyak hal. Mulai tentang pentingnya harmonisasi hubungan suami-istri, masa remajaku yang cukup bergejolak hingga kehancuran ekonomi keluarga yang menyesakkan yang kemudian menjadi pemicu kami meninggalkan Kebumen untuk selamanya.

    Hingga kini, beberapa kali aku masih sering melihat rumah itu melalui Google Earth. Konon yang kudengar, rumah itu sudah berganti pemilik beberapa kali dan dari data yang tersaji di Google Earth, tampaknya rumah itu sudah direnovasi hingga sama sekali berbeda dengan rumah yang dulu kami rancang, bangun, banggakan dan hidupi.

    Hmmm… untuk segala sesuatu yang ada di muka bumi ini memang ada masanya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Tujuh Puluh Kali Tujuh!

    Tujuh Puluh Kali Tujuh!

    Nyaris tak ada yang baru dari kejadian persekusi kegiataan retret remaja kristen di Cidahu, Sukabumi. Sama seperti yang terjadi di banyak tempat lain, alasan penyerangan selalu itu-itu saja, kalau nggak “Tidak dapet ijin!”, “Bukan dilakukan di tempat ibadah” ya “Mengganggu kami!”

    Tapi ada secuil hal yang membuatku akhirnya mau merawi tulisan ini. Cuilan yang sejatinya amat mengganggu hati ketika si pemilik rumah singgah yang lantas mendapatkan santunan 100 juta dari pemerintah yang alih-alih memakai uang untuk membenahi rumah yang dirusak, malah disumbangkan ke kaum lain.

    Sebagai makhluk penuh kalkulasi aku berpikir kenapa begitu? Kenapa tidak dipakai untuk membenahi bangunan yang dirusak? Kan untuk renovasi perlu ongkos? Kan mereka, para perusak itu yang salah? Kan pemerintah memang wajib membantu?

    Sebagai makhluk yang aktif di sosial media beberapa kejap aku sempat pula tak bisa mengelak dari pikiran “Ah, ini mah pencitraan! Supaya dapet sorotan maka duitnya disumbangkan!”

    Tapi semua pikiran itu lenyap ketika menyadari bahwa cuilan hal di atas sejatinya hadir sebagai cermin yang kepadanya aku berkaca sudah sekristiani apa diriku?

    Kupikir aku sudah cukup Kristiani karena tiap minggu ke Gereja.

    Kupikir aku sudah cukup Kristiani karena aku rajin berdoa.

    Kupikir aku sudah cukup Kristiani karena aku mencintai dan mengasihi orang-orang yang juga mengasihi dan mencintaiku!

    Tapi…. ternyata belum! Masih jauh!

    Apa yang ditampakkan si pemilik rumah singgah yang memberikan uang santunan untuk orang lain itu adalah cerminan cinta, kasih sekaligus pemaafan terhadap orang lain dan itu adalah identitas kristiani yang sesungguhnya!

    Kita, orang-orang Kristiani, oleh Tuhan Yesus diajari untuk mencintai tanpa syarat, tanpa batas. Mau apapun suku bangsanya, apapun agamanya karena kami dan kalian, aku dan kamu serta mereka semua adalah sesama, sama-sama manusia, sama-sama istimewanya di mata Tuhan.

    Soal perkara perusakan itu sendiri, seperti yang kutulis di atas, lupakan saja. Katanya pihak yang berwajib sudah menangkap para pelaku? Harapan kita semoga hukum ditegakkan. Tapi saranku, berharaplah secukupnya saja, gak perlu banyak-banyak biar gak kecewa kalau hasilnya gak seperti harapan kita.

    Berharaplah seluruh penuh hanya kepada Yesus!

    Dan sama seperti ketika Yesus mendoakan mereka yang menganiaya-Nya, mari kita doakan para pelaku yang merusak karena sejatinya mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, apa yang mereka rusak, siapa yang sebenarnya mereka lukai!

    Berilah maaf tak hanya kepada mereka yang merusak di Sukabumi tapi di tempat-tempat lain karena Sukabumi atau bukan, suka tak suka, seperti yang kutulis di atas tadi, jamak terjadi, bukan?

    And you know what?

    Lama-kelamaan aku jadi curiga kenapa Yesus dulu mengajari para murid untuk memaafkan orang yang bersalah sebanyak tujuh puluh kali tujuh. Barangkali… barangkali karena Yesus tahu bahwa akan tiba masanya ketika kita yang hidup di jaman ini semakin digencet, semakin disudutkan dan dipersekusi dan ini berarti semakin kita perlu banyak maaf untuk diberikan kepada mereka terlepas mereka minta maaf atau tidak.

    Jalan ini tidak pernah mudah, Kawan!

    Dua ribu tahun lalu Yesus melaluinya dan kita, namanya juga pengikut, ya harus ikut menapakinya. Tapi sebagaimana Tuhan sudah lebih dulu setia, akankah kita tega untuk tidak setia?

  • Satu yang Tak Bisa Lepas (Reza Artamevia)

    Satu yang Tak Bisa Lepas (Reza Artamevia)

    Satu Yang Tak Bisa Lepas (SYTBL) adalah karya terbaik Ahmad Dhani yang dipopulerkan orang lain dan dieksekusi dengan sangat menawan dan berkelas. Secara musik, ada kesenyawaan antara SYTBL dengan Unbreak My Heart-nya Toni Braxton, penyanyi Amerika Serikat. Andaikan Toni yang menyanyikan SYTBL, bisa jadi benar-benar mirip.Tapi untung Toni tidak tertarik berbahasa Indonesia dan memang kita nggak perlu dia! Kita punya Reza Artamevia!

    Tanpa mengecilkan penyanyi wanita yang lain di eranya, Reza, mantan backing vocal Dewa19 itu bagiku adalah magma yang berpijar di era 90an. Tarikan suaranya mendefinisikan suara wanita yang sebaik-baiknya. Tak harus merdu tapi jujur dan bertenaga. Jujur itu tanpa pretensi apapun ketika menyampaikan, jujur adalah transparansi yang muncul nan tak kentara baik ketika ia bicara maupun bernyanyi.

    Sementara saat menyentuh nada tinggi, Reza tidak melengking tapi memarau. Aku jadi ingat komentar almarhumah Ibuk dulu bilang “Suaranya Reza itu gerok!” Gerok itu parau dalam istilah Jawa. Paraunya tak seberat Renny Jayusman, lady rocker Indonesia era dekade sebelumnya, 80an tapi tetap menjadi sebuah mutu manikam yang entah kapan terakhir kali kita melihat ada bakat baru yang seperti itu…

    SYTBL dibuka dengan seksama nan tak tergesa-gesa.

    Dibuka dengan suara brush sticks yang diseret-seret di atas snare drum yang selalu berhasil mengingatkanku pada suara sapu lidi pembantu rumah tangga di rumah Eyang dulu saat menyapu halaman belakang di pagi hari, “Srek.. srek… srek!”

    Satu bar kemudian intro nan menghanyutkan dimainkan lewat permainan gitar akustik yang aku tak tahu pasti siapa yang memainkannya tapi tebakanku sih Tohpati, tampak dari feel dan isian-isiannya.

    Dua bar cukup menyajikan intro sebelum mengantarkan Reza bersuara,

    Kusimpan masa demi masa
    Tak mudah ‘tuk terlupa
    Saat kau masih disisi
    Hingga saat kau dengannya
    Kadang ku menangis

    Reza bernarasi bagai berpuisi dan ini dilakukan hingga akhir lagu.

    Tak semua bagian dari lagu ini dibiarkan penuh dengan akrobat musik, beberapa dibiarkan mengosong hanya menyisakan sisa sustain dari bass dan keys tipis-tipis sementara dari jauh tetap terjaga tempo oleh drum yang ditabuh menggunakan brush stick seolah membiarkan pendengar benar-benar meresapi kesepian yang memang jadi tema lagu ini.

    Aku mendengarkan lagu ini tahun 1997-1998 di radio Geronimo FM Yogyakarta menjelang pukul 12 malam. Pilihan waktu yang tak bisa dipersalahkan karena Jogja lagi sendu-sendunya di jam-jam jahanam itu!

    Jogja yang menyepi menjelang peraduan, sisa hujan yang terperangkap di atas permukaan aspal dan menjadi cermin cahaya lampu merkuri pinggir jalan yang begitu temaram menyatu dengan reff lagu ini,

    Satu yang tak bisa lepas
    Percayalah hanya kau
    Yang mampu mencuri hatiku
    Akupun tak mengerti

    By the way, lagu ini merayap memuncak pada bridge setelah interlude singkat,

    Meski hatikupun mengerti
    Masih ada satu asa
    Kucoba ‘tuk melawan
    Angkuhnya hasrat hati

    Aku memaknai lagu ini ketika cinta remaja sedang begitu terbentur-benturkan ego dan nafsu. Lagu ini menjadi sarana terbaik untuk kita menglorifikasi sakit hati dan harapan bahwa cinta yang telah pergi bisa kembali meski sejatinya tak pernah muncul lagi! (Muncul-muncul cuma pas di-stalking lewat FB dan IG dan doi sudah tuwir kiwir-kiwir hahaha).

    Ah satu lagi, aku suka cara lagu ini diakhiri…

    Setelah reff yang meninggi tiba-tiba semua terhenti ketika Reza menyenandungkan,

    Dan perasaan yang lemah ini
    Menyentuh sendiriku

    Reza! Aku padamu!

  • Untuk Kalian Yang Terkena PHK…

    Untuk Kalian Yang Terkena PHK…

    Hatiku miris setelah membaca berita di linimasa social media bahwa arus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Indonesia semakin tinggi angkanya.

    Maka poin-poin di bawah ini semoga bisa dijadikan pertimbangan dalam masa yang tidak menyenangkan ini. Anggaplah ini hiburan dariku, orang yang juga pernah di-PHK tahun lalu dan diputus kontrak kerja dua bulan silam di Australia sebelum akhirnya mendarat di pekerjaan baru yang menyenangkan.

    You are not alone!

    Inget lagunya Michael Jakson yang judulnya You Are Not Alone kan? Yes, kamu tidak sendirian!

    PHK memang sedang terjadi dimana-mana akibat ketidakseimbangan ekonomi dan ini bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia! Hindari perasaan yang membuatmu merasa paling menderita, bahwa orang lain pasti lebih bahagia karena hal ini justru akan membuatmu semakin terpuruk lagi. Kalau dengan membuka social media bikin panas karena liat kawanmu kok kayaknya hidupnya asik-asik aja, mending unfollow atau berhenti sama sekali untuk sementara dari social media!

    Dunia Belum Berakhir!

    Pekerjaan boleh hilang tapi ketika nafas masih ada berarti kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan kesempatan itu datang dari Tuhan. Eh, kalian masih sepertiku, percaya Tuhan kan?

    Move On!

    Hubungi keluarga, teman, kenalan siapapun dengan tujuan mencari bantuan.

    Gak melulu uang sih karena bisa jadi mereka juga lagi repot tapi setidaknya melalui mereka, kamu bisa minta bantuan kalau ada lowongan kerja untuk kamu masuki. 

    Oh ya, dari sisi yang positif, PHK juga bisa berarti kita punya waktu luang tambahan untuk memoles curriculum vitae dan portfolio-mu serta yang paling penting kemampuan. Kecuali kamu anak orang kaya, modal kita selain kesehatan adalah ketajaman pikir serta kemampuan! Asah terus! Jangan kasih kendor!

    Wiraswasta? Nanti dulu…

    Aku selalu percaya bahwa berwiraswasta itu bukan jalan keluar dari persoalan setelah kamu terkena PHK.

    Kenapa? Selain modal uang, kamu juga perlu modal mental untuk menjalankan usaha dan ini adalah hal yang harus kamu sadari tidak semua orang punya. Tapi, atas nama kepepet dan move on, kalau memang ada ide usaha dan modal ya kerjakan aja siapa tahu memang itulah jalan keluar. Pesanku satu, jangan dipaksakan!

    Ada patokan-patokan yang harus kamu jadikan check point untuk menilai apakah keputusanmu untuk berwiraswasta itu sudah tepat, belum tepat atau salah sama sekali!

    Misalnya, kamu harus berani memasang patokan bahwa per bulan pertama harus gak boleh rugi lebih dari sekian, per bulan kedua harus mulai untung segini… oh ya satu hal lain lagi, keluarga dan waktu adalah hal yang harus dengan sangat hati-hati kamu perhatikan jangan sampai dikorbankan terlalu banyak… 

    Me-redefinisi kembali apa itu “kerja?”

    PHK membuktikan bahwa kecintaan kalian selama ini kepada perusahaan tempat kalian bekerja adalah salah dan bertepuk sebelah tangan!

    Kalian digaji dan diperhatikan bukan karena mencintai tapi karena bekerja; mengorbankan waktu, menggunakan kemampuan untuk melakukan hal-hal yang mereka minta! Ketika mereka meraa tidak lagi butuh kalian, gaji, perhatian dan status pun dihilangkan, dicabut!

    Kalau kalian sampai jatuh cinta pada perusahaan tempat kalian bekerja itu artinya manager dan bos HRD perlu diberi kenaikan gaji karena berhasil memerangkapmu dan mencuci otakmu untuk mencintai hal yang seharusnya tidak perlu kamu cintai.

    Cintailah keahlian yang memampukan kalian untuk bekerja karena dengan bekerja berarti kalian bisa mencukupi keluarga dan keluarga itulah yang layak kita cintai sepenuh dan setulus-tulusnya.

    Mikirnya gini aja, mungkin kalian sering dengar ini, kalau kalian mati, perusahaan hanya akan kirim orang untuk ngelayat, syukur-syukur dikirimi rangkaian bunga dan sedikit uang tanda duka. Tapi tak lama kemudian mereka sudah akan pasang lowongan untuk mengganti posisi yang kamu tinggalkan… Tapi siapa yang sanggup mengganti posisimu di hati anak-anak dan istri/suamimu dan orang tuamu juga kawan-kawan serta kerabatmu?

    Maka, pesanku, ketika nanti kalian sudah dapet kerjaan baru, jangan berhenti untuk tetap mencari peluang yang lebih baik di luar sana. Ketika ada yang lebih baik, sambar! Sikat! Jangan takut dicap kutu loncat karena kutu, sekecil apapun, ia juga berhak untuk hidup layak!

  • Siapa tahu itu yang tuhan mau?

    Siapa tahu itu yang tuhan mau?

    Teman-teman, dengan segala kerendahan hati, aku mengucapkan terima kasih.

    Terima kasih atas perhatian yang begitu meluap kepada kami sejak wafatnya Paus Fransiskus, masa duka sembilan hari sesudahnya hingga proses konklaf dan terpilihnya paus yang baru yang meski berzodiak virgo tapi maunya dia dipanggil Leo, Paus Leo XIV.

    Paus adalah pemimpin kami.

    Imam tertinggi di bumi, sekaligus pelayan dari semua pelayan Tuhan (Servus servorum Dei). Penerus tahta Santo Petrus, murid utama yang dititipi umat serta gereja oleh Yesus sejak 2000 tahun yang lampau.

    Nama Paus didoakan secara resmi oleh seluruh umat Katolik di dunia yang merayakan Perayaan Ekaristi setiap harinya.

    Maka, ketika kalian memberi perhatian yang luar biasa besarnya, bahkan sejak Paus Fransiskus datang berkunjung ke Indonesia tahun lalu, hatiku jatuh dalam haru, merasa begitu diperhatikan dengan hangat tanpa dibedakan sama sekali.

    Meski perhatian kalian akan menyurut seiring berjalannya waktu, tapi jika aku boleh berpesan, peliharalah ketertarikanmu itu bagai pelita kecil di dalam hatimu.

    Bukan!
    Ini bukan rayuan gombal supaya kalian login ke Katolik karena untuk bisa masuk ke Katolik, aku percaya dengan apa yang dikatakan Yesus Kristus sendiri, “banyak yang terpanggil, sedikit yang terpilih” (bdk. Matius 22:14).  Artinya, kalau kalian bukan yang terpilih masuk ke dalam GerejaNya, ya tidak akan bisa masuk menjadi bagian dariNya. Jadi, tenang saja….

    Tapi aku percaya, tanpa harus pindah agama, kita ini kan sejatinya punya bahasa yang sama tentang cinta dan kasih bukan?  Misalnya ketika Paus Fransiskus menyapa yang papa dan menderita, aku yakin tidak ada lagi batasan antara kami dan kalian karena kita semua manusia yang punya iba dan air mata.

    Nah, kedua hal itu, cinta dan kasih adalah inti dari apa yang Yesus mau untuk kami tampilkan dalam hidup sehari-hari (Makanya kalau kamu menemui orang Katolik yang tidak menampakkan cinta dan kasih, cibirin aja, “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?” Hehehe…)

    Oh ya, sesekali waktu, ketika siang yang kau hadapi terasa lebih kering dari panas yang kerontang, atau ketika malam yang kamu dalami terasa terlalu mencekam daripada gelap yang temaram, kalian boleh lho mampir ke Gereja Katolik di kota tempat kalian berada.

    Pada jam-jam buka yang sudah ditentukan, Gereja biasanya terbuka untuk siapa saja.

    Singgah saja. Duduk saja. Nggak perlu berdoa kalau kamu pikir doamu tidak akan didengarkan karena disampaikan di tempat yang berbeda.

    Setahuku belum pernah ada orang yang datang dan duduk di Gereja lalu ditanya umat yang juga ada di situ, “Kamu sudah berdoa atau belum?” atau bahkan “Agamamu Katolik? Bukan?! Kok kemari?!?” (Kalaupun ada yang sampai begitu, lagi-lagi, ikutin caraku di atas, cibirin dan bilang “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?”)

    Oh ya, sesekali waktu, ketika siang yang kau hadapi terasa lebih kering dari panas yang kerontang, atau ketika malam yang kau dalami terasa terlalu mencekam daripada gelap yang temaram, kalian boleh lho mampir ke Gereja Katolik di kota tempat kalian berada.

    Pada jam-jam buka yang sudah ditentukan, Gereja biasanya terbuka untuk siapa saja.

    Singgah saja. Duduk saja. Nggak perlu berdoa kalau kamu pikir doamu tidak akan didengarkan karena disampaikan di tempat yang berbeda.

    Setahuku belum pernah ada orang yang datang dan duduk di Gereja lalu ditanya umat yang juga ada di situ, “Kamu sudah berdoa atau belum?” atau bahkan “Agamamu Katolik? Bukan?! Kok kemari?!?” (Kalaupun ada yang sampai begitu, lagi-lagi, ikutin caraku di atas, cibirin dan bilang “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?”)

    Tapi.. sekali lagi…. kalau ternyata di hatimu ada keinginan yang lebih dari sekadar ingin memperhatikan dan mempelajari dari luar… kalau di hatimu ada suara yang lebih besar yang mengarahkanmu untuk menjadi Katolik, tinggal tanya ke satpam Gereja cara bikin janjian dengan pastor paroki, imam yang ditugaskan di gereja tersebut.

    Utarakan apa yang kamu rasakan dan inginkan kepadanya, kepada pastor maksudku, bukan satpam hehehe…

    Tapi kuingatkan sekali lagi, proses untuk menjadi Katolik itu tidak mudah, sangat panjang dan kadang berliku.

    Dari pengalamanku mendampingi kawan-kawan yang ingin masuk Katolik, banyak dari mereka yang mundur teratur. Lagi-lagi ya ndak papa, semua ini, seperti yang kutulis di atas tadi, bukan tentang kamu dan keinginanmu tapi Tuhan dan kemauanNya karena bukan kamu yang merasa terpanggil tapi Tuhan yang memilihmu.

    Maka, beranilah untuk menanggapi keinginanmu karena siapa tahu hal itu selaras dengan apa yang Tuhan mau…

    Siapa tahu kalau memang Tuhan menghendaki, nanti yang ada bukan lagi kami dan kalian tapi KITA!

    Berkah Dalem!

  • Berharap Pada Leo

    Berharap Pada Leo

    Nggak sampai lebih dari dua hari pelaksanaan konklaf, penerus tahta Santo Petrus yang ke-267 pun terdefinisi! Terlahir sebagai Robert Francis Prevost, meski berzodiak virgo, ia memilih nama Leo dalam kepausannya. Karena sebelumnya sudah ada tiga belas Leo, maka ia menjadi Paus Leo XIV.

    Sebagai awam Katolik sepertiku, apa yang bisa diharapkan dari seorang Paus Leo XIV?

    Sebelum konklaf dimulai, dalam sebuah diskusi dengan beberapa kawan dekat, aku mengemukakan bahwa alangkah baik jika paus pengganti Fransiskus nantinya akan memiliki sifat-sifat baik yang diambil dari tiga paus sebelumnya. 

    Ia harusnya memiliki jiwa diplomatis dan politis sekuat Yohanes Paulus II. Paus asal Polandia itu bertahta ketika dunia menjadi saksi kehancuran Uni Soviet serta kebangkitan globalisasi dan pada saat itu, posisi paus sangat diperhitungkan dunia.

    Kenapa sifat ini penting saat ini?
    Peta politik dunia pun sedang berubah besar-besaran. Paus harus hadir tidak hanya menjadi pemimpin spiritual tapi juga pemimpin negara Vatikan dan yang lebih penting, pemimpin dari seluruh gereja katolik dan institusi-institusi yang terafiliasi dengannya yang tersebar di seluruh dunia. 

    Ia juga harusnya memiliki semangat menjaga dogma dan ajaran Gereja segarang Benediktus XVI. 

    Kenapa? Mari kembali menilik apa yang tertulis dalam Dei Verbum 10 “Sacra traditio igitur et Sacra Scriptura unum sacrum depositum verbi Dei Ecclesiae commissum constituunt. (Maka Tradisi Suci dan Kitab Suci merupakan satu harta suci yang sama dari Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja).” Secara lugas, Gereja harus tetap menjadi gereja yang sama sejak didirikan oleh Yesus Kristus sendiri, 2000 tahun silam. Gereja yang peka jaman tapi tidak larut dan akhirnya hilang ditelan kemauan jaman.

    Ia juga sebaiknya memiliki sikap humanis, rendah hati dan cinta damai seperti Fransiskus. Ah, yang ini gak perlu dijelaskan lagi ya karena bukankah kita masih belum lepas dari buaian indah Paus Fransiskus tiga belas tahun belakangan ini. Siapa yang tak mau punya paus se-bohemian dia dalam konteks ini?

    Apakah ketiga harapan itu ada dalam Paus Leo XIV?

    Menurutku ada!

    Paus Leo XIV adalah seorang yang sejak muda menjalani hidup akademis yang sangat terstruktur. Ia menyelesaikan studi hingga jenjang doktoral di Roma, aktif dalam struktur organisasi ordo Augustinian (OSA) sedunia bahkan terpilih menjadi pemimpin tertinggi di ordo tersebut hingga dua kali banyaknya. Ia beberapa kali menjabat sebagai direktur seminari sebelum akhirnya ‘karirnya menanjak’ di era Paus Fransiskus, diangkat jadi uskup, ditarik dan ditempatkan Vatikan, dijadikan kardinal pada 2023 hingga terakhir, Februari silam ia menjabat posisi penting di Vatikan sebagai Order of Bishops yang kurang lebih adalah mengatur pengangkatan dan penempatan para uskup sedunia.

    Modal itu membuatnya punya cara yang jitu untuk berdiplomasi dengan para pemuka negara dan agama lain di dunia.

    Dari sisi dogma dan ajaran Gereja, tak diragukan lagi! Paus Leo XIV adalah profesor hukum gereja (canon), patristikus (orang yang mendalami asal-usul dan penulisan dokumen-dokumen awal Gereja, serta orang yang sangat mendalami teologi moralitas; sesuatu yang penting terutama di dalam dunia yang di satu sisi semakin rentan terhadap isu moralitas.

    Yang terakhir, dari sisi kemanusiaan, kerendahhatian dan juru damai… konon dalam pesan resmi pertamanya sebagai paus, ada dua puluh kata ‘damai’ diucapkan olehnya.

    Tak hanya itu, Paus Leo XIV meski berasal dari Amerika Serikat,ia berasal dari kelas menengah. Ayahnya Louis Marius Prevost, seorang veteran perang dunia kedua berdarah italia dan perancis. Sementara ibunya, Mildred Prevost adalah seorang librarian (ahli tata pustaka) dari etnis Louisiana Creole yang berdarah Afrika, Perancis dan Spanyol.

    ia menjalani misi cukup lama di Peru, Amerika Selatan bahkan hingga akhirnya menjadi warga negara di sana. Kenapa ini semua penting? Karena latar belakang dan utamanya lanskap dimana ia berada adalah kedaan dan tempat yang sama dengan Paus Fransiskus bertumbuh (Argentina) yang memiliki keadaan sosial-budaya yang kurang lebih juga sama.

    Selain itu, ordo Augustinian juga dikenal sebagai ordo yang peduli pada karya sosial kemasyarakatan juga pendidikan… dan pemilihan nama Leo bisa diartikan sebagai salah satu usahanya untuk meneruskan misi dari Leo sebelumnya, Leo XIII yang dalam salah satu karya tulis ensiklik Rerum Novarum (1891) berfokus membela hak buruh atas upah yang adil.

    Meski demikian, dugaanku, karena latar belakang pendidikan dan keorganisasian, Paus Leo XIV akan lebih irit bicara atau setidaknya apa yang dibicarakan akan lebih tertata dibandingkan Paus Fransiskus. Sesuatu yang menurutku justru akan sangat baik mengingat dunia yang sudah semakin telanjang ketika bicara tentang keterbukaan informasi. 

    Pamornya di mata dunia kurasa juga tidak akan terang-benderang, tapi menurutku lagi-lagi tidak mengapa. Tugas seorang paus bukan untuk cari panggung, cari pamor dan menyenangkan dunia melainkan menggembalakan umat dan Gereja, menjadi pelayan dari segala pelayan Tuhan, Servus Servorum Dei.

    Sudah barang tentu, seperti para paus sebelumnya, pro dan kontra terjadi bahkan kuyakin hingga di relung-relung gereja di Vatikan sana.

    Adalah tugas kita sebagai umat Allah untuk mendoakan dan semakin rajin ke Gereja! Kok bisa? Iya! Karena hanya di gereja lah kita secara resmi diajak mendoakan Paus dalam Doa Syukur Agung. Eh tapi jangan salah gereja ya.. yang ada doa Syukur Agung-nya, yang digembalakan Paus hanyalah gereja yang didirikan Yesus Kristus sendiri, gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.

    Selamat untuk kita semua, umat beriman, Habemus Papam!

    Gelaran sudah usai! Kecuali kamu adalah para imam dan klerus, marilah mari kita kembali fokus ke ijasah palsu.. eh maksudku kepada hidup sehari-hari, menjadi saksi Kristus melalui karya dan kasih bagi sesama dan semesta!

    Berkah Dalem!

  • Lagi-lagi kehilangan pekerjaan, lagi-lagi Tuhan membangkitkan!

    Lagi-lagi kehilangan pekerjaan, lagi-lagi Tuhan membangkitkan!

    Tak pernah terpikirkan dalam mimpi yang paling liar sekalipun bahwa dalam waktu tujuh bulan belakangan aku kehilangan pekerjaan dua kali!

    Yang pertama, seperti yang pernah kubagikan tahun lalu terjadi pada September 2024. Aku dirumahkan. Cerita selengkapnya tentang kejadian ini  sudah kutulis dan bisa disimak di Superblogger.Id. Dua bulan kemudian, November 2024, aku mendapatkan pekerjaan yang baru, bekerja kontrak dengan tenggat waktu kerja 4 bulan saja. Tapi karena alasan restrukturisasi perusahaan, kontrakku tak diperpanjang.

    Sebenarnya sejak mendapatkan pekerjaan baru pada November 2024 lalu seperti ada yang membisikkan kepadaku bahwa aku tidak akan lama ada di situ. 

    Aku sempat membagikan hal ini kepada dokter keluarga yang kerap kami jadikan tempat curhat dan kepadanya kami sering minta didoakan. Tapi ia menenangkan. “Terima dulu pekerjaan ini. Disyukurin. Tuhan mau kamu enjoy liburan di Indonesia…!”

    Dengan pesangon yang lumayan besar dari perumahan di bulan September silam aku dan keluarga memang mendapatkan berkat untuk bisa berlibur ke Indonesia. Apa yang dikatakan Dokter itu benar adanya. Selama liburan Desember 2024 – Januari 2025, aku tak perlu berpikir mencari pekerjaan baru dan gaji terus masuk selama kami berlibur. Bayangkan kalau tidak!

    Sepulang dari Indonesia pada akhir Januari 2025, keadaan kantor menggenting.

    Manajemen mengumumkan laba bersih perusahaan di kuarter lalu tidak terlalu menyenangkan dan mereka memutuskan untuk mengadakan restrukturisasi secepatnya sebagai reaksi.

    Akupun bersicepat mencari pekerjaan dan mendapati bursa kerja di Australia ternyata masih belum kembali pulih normal. Sedikit banyak masih seperti tahun lalu, ada banyak lowongan yang ditawarkan tapi yang melamar jauh lebih banyak bahkan untuk mendapatkan kesempatan wawancara pun adalah sebuah keajaiban!

    Mendekati akhir Februari, hasil pencarian masih nol besar dan aku semakin gelisah. Jika tidak mendapatkan pekerjaan baru, dua bulan lagi kami tak tahu harus makan apa dan bayar banyak tagihan menggunakan cara apa.

    Hal ini sedikit banyak lantas mempengaruhi diriku. Aku jadi sangat mudah terpantik panik. Sangat sulit bagiku untuk fokus melakukan hal yang biasanya dengan mudah menarik konsentrasi penuhku. Lebih sering melamun dan tak tertarik untuk melakukan apapun. Doaku pun hanya berisi kata-kata tanpa bisa kumaknai seperti biasanya. Oh ya dua hal lain yang biasa kujadikan sebagai patokan ketika aku sedang berada di fase ‘aneh’, intermittent fasting ku berantakan dan konsumsi alkoholku naik drastis!

    Adalah M, mantan anak buahku yang sekaligus teman baik. Ia berasal dari Laos.

    Awal Februari silam aku mengabarkan kepadanya sedang mencari pekerjaan tetap lalu ia menginformasikan bahwa kantor tempatnya bekerja akan segera mencari orang yang bisa mengerjakan hal yang biasa kukerjakan.

    “Tapi gajinya kecil… Kayaknya kamu nggak bakalan mau, Donny!” terangnya.

    Setelah kuhitung-hitung, memang beda jauh gaji yang ditawarkan dengan yang kuterima saat itu. Tapi untuk menyenangkan hatinya, akupun meng-apply pekerjaan sambil terus mencari pekerjaan lain.

    Interview yang kulakukan pun kupersiapkan seadanya. Tidak menggampangkan tapi juga tidak terlampau serius.

    Namun hingga pertengahan maret saat tak ada satupun perusahaan yang kulamar memberikan kabar gembira, perusahaan tempat M bekerja adalah satu-satunya yang memberi sinyal positif. 

    Aku lantas berdiskusi dengan Joyce untuk memetakan keuangan keluarga jika aku diterima di perusahaan tersebut. Diskusinya sangat singkat, beda dengan diskusi-diskusi kami sebelumnya tentang banyak topik yang biasanya berjalan begitu lama kadang berhari-hari untuk melunakkan satu kalau tidak dua dari kami hahaha!

    Kesimpulan diskusi hadir sederhana, “Emang kita punya pilihan lain? Kan enggak? Ya udah jalanin aja dulu!”

    Ya sudah, terjadilah kepada kami menurut kehendak Tuhan. Akhir maret perjanjian pekerjaan terfinalisasi. Awal April aku menghubungi manajer tempatku bekerja sebelumnya untuk mengundurkan diri. Kabar ini rupanya membuatnya serta kawan-kawan kerja lain merasa bergembira karena aku mendapatkan pekerjaan pengganti.

    “I am happy for you! Aku khawatir banget denganmu karena beda denganku yang gak punya keluarga, kamu kan punya tanggungan…”

    Tak hanya itu, ia menawarkan diri untuk memberikan referensi baik bagi perusahaan baru dan hal itu ia lakukan secara sungguh-sungguh.

    And… here i am!
    Dua hari setelah Tuhan bangkit dari kematian, satu hari setelah Paus Fransiskus wafat dan beranjak kepada keabadian, pagi itu aku mengayuh sepedaku ke kantor baru untuk memulai pekerjaan yang baru. 

    Gajiku memang mengkerut, secara keuangan ada banyak hal yang harus direkalkulasi lagi. Tapi satu hal yang kupercaya, matematika Tuhan itu tidak selalu se-linier dengan matematika angka yang dipahami manusia sepertiku. Matematika Tuhan bicara penggenapan bukan tentang kekurangan. Ia mengemukakan ketercukupan dan adalah perjuangan kita untuk menyelaraskan karena kita percaya apa yang diberikanNya adalah yang terbaik.

    Tak pernah terpikirkan dalam mimpi yang paling liar sekalipun bahwa dalam waktu tujuh bulan belakangan aku kehilangan pekerjaan dua kali!

    Tapi kalian tahu yang lebih tak bisa terpikirkan lagi daripada itu? Tuhan selalu membangkitkanku dan keluarga untuk tidak terpuruk, untuk membuat kami mampu berjalan dengan kepala tegak karena hidup masih perlu terus dijalankan!

  • Sugeng Tindak Romo Paus…

    Sugeng Tindak Romo Paus…

    Ada dua kekecewaan yang muncul di tahun 2013 silam. Pertama, Paus Benediktus XVI mengundurkan diri dari kepausan pada 28 Februari 2013. Kedua, Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi penggantinya pada 13 Maret 2013. Ia kemudian memilih nama Fransiskus, Paus Fransiskus yang pertama.

    Titik itu kuingat menjadi akhir dari masa delapan tahun petualanganku berkutat dalam sebuah komunitas iman katolik online yang mengambil jalur apologetika, mempertahankan iman katolik. Di dekade itu, apologetika memang menjadi topik hangat dalam Katolik setelah kalau tidak salah diperkenalkan oleh Paus Yohanes Paulus II, pendahulu Benediktus XVI.

    Di komunitas yang anggotanya orang-orang Indonesia yang menyebar di seantero dunia dan kebanyakan menggunakan nama alias (aku pun salah satunya) itu ada banyak sumber yang bisa kubaca termasuk rujukan ke dokumen-dokumen penting Gereja selain Alkitab seperti misalnya Katekismus Gereja Katolik (KGK) hingga tulisan-tulisan dari para santo santa yang waktu itu meski sudah mulai mudah diakses lewat internet tapi sumbernya belum seterbuka sekarang.

    Tapi menjadi bagian dari komunitas itu tak ada yang lebih seru selain terjun dalam arena perdebatan iman dengan mereka yang berasal dari keyakinan lain melalui kata-kata. Semakin sering berdebat semakin aku haus untuk membaca dan mendalami lebih dalam lagi. Semakin aku mendalami lebih dalam semakin aku ingin mempraktekkannya melalui debat, sebuah lingkaran yang terus terhubung tanpa kesudahan.

    Salah satu dokumen terpenting yang selalu kami kupas waktu itu dan kami jadikan senjata untuk berdebat adalah Extra Ecclesiam Nulla Salus (EENS) yang dalam Bahasa Indonesia lugas bisa diartikan sebagai “Di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan”, juga Katekismus Gereja Katolik (KGK) 846 dan Lumen Gentium 14, dokumen produksi Konsili Vatikan II yang sering kami anggap sebagai dua hal yang saling terkait.

    Semakin lama menggeluti dunia debat dan diskusi secara tak sadar semakin tinggi dinding yang terbangun mengungkungku dan idealisme serta prinsipku.

    Sejatinya secara pergaulan aku tak berubah sama sekali. 

    Tetap terbuka dan tetap banyak teman dengan mereka yang kebanyakan berbeda agama. Hubunganku dengan Papa yang waktu itu masih belum Katolik pun tak berubah sama sekali. Perbedaan baru kentara ketika ada yang memancing pembicaraan dalam topik prinsipil yang kebanyakan justru terjadi di dalam lingkup Katolik. Aku bisa meledak-ledak tanpa harga tawar terutama terkait tentang keselamatan. Sesuatu yang lantas membuat beberapa kawan menganggapku telah berubah menjadi seorang KGK, bukan Katekismus Gereja Katolik tapi… Katolik Garis Keras!

    Kembali ke konteks tahun 2013, itulah sebabnya dua kekecewaan yang kutulis di awal muncul. Aku dan kawan-kawan di komunitas dulu sangat mengidolakan Paus Benediktus XVI yang memang seorang teolog penjaga dogma sementara Paus Fransiskus, bahkan ketika pertama kali muncul di publik pun sudah menjadi pergunjingan di komunitas karena permintaannya kepada umat yang hadir di Basilika waktu itu untuk mendoakannya. Apa-apaan? Mana ada Paus minta didoakan umat sebelumnya? Yang ada adalah doa yang di-skripkan secara khusus untuk mendoakan Paus yang sudah tertulis di Doa Syukur Agung sejak lama, tanpa diminta!

    Belum lagi ketika ada seorang anggota komunitas yang mengirimkan foto Paus Fransiskus yang waktu itu masih menjabat sebagai uskup di Buenos Aires, Argentina didoakan para pendeta. Begitu jatuh kami dalam kecewa. Tapi apa mau dikata, sekeras dan segalaknya komunitas, kami ini tetap Katolik yang taat pada otoritas. Komunitas itu bubar jalan, domain name-nya pun tak lagi diperpanjang.

    Lalu selanjutnya adalah karya Tuhan kepadaku lewat hadirnya Paus Fransiskus.

    Melalui aksi-aksinya, aku ditunjukkan bahwa agama itu bukan hanya dogma dan kasih itu tidak hanya ditunjukkan kepada Tuhan tapi juga kepada diri sendiri dan sesama dengan perspektif seluas-luasnya.

    Waktu Paus Fransiskus membuat gebrakan dengan membasuh kaki para tawanan yang bahkan berbeda agama di Kamis Putih di awal masa kepausannya, sebagian hatiku masih berteriak menolak kenapa ia merusak pakem yang sudah sekian lama dilakukan dalam ritual Gereja? Tapi di sisi lain, aku tak bisa menampik kenyataan bahwa hal itu membuatku jatuh dalam keharuan. Kasih yang ditaruh dalam bingkai ketulusan yang dalam. Aneh asanya, hatiku marah tapi mataku basah!

    Atau ketika ia memeluk seorang anak kecil yang bertanya apakah ayahnya yang atheis dan baru saja meninggal dunia itu masuk surga? Hati dogmatisku ingin memprotes tapi sisi humanisku rembes sebasah-basahnya.

    Masih banyak lagi aksi-aksinya yang kuakses melalui social media. Puncaknya adalah ketika Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Dari jauh aku hanya bisa memandang penuh haru utamanya ketika ada orang-orang yang kukenal bisa berinteraksi sebegitu dekat dengan Paus Fransiskus.

    Dan pada akhirnya, kematian Paus Fransiskus minggu lalu… Dua belas tahun lalu tak pernah terpikirkan aku akan sesedih ini. Kupikir aku akan bergembira ketika Paus Fransiskus tiada tapi nyatanya, aku begitu terpukul dan merasa kehilangan…

    Pandanganku terhadap Iman Katolik tidak pernah berubah satu iota pun! Kalau dibilang keras ya masih keras.

    Tapi kehadiran Paus Fransiskus membuatku mampu menjadi tak hanya keras secara prinsip keselamatan tapi juga keras untuk semakin mencintai sesamaku. Orang asing yang kulihat bukan lagi hanya tentang diselamatkan atau tidak karena itu adalah urusannya Tuhan. Mereka bagiku adalah sesama untuk dicintai sebesar-besarnya karena Allah sudah mengasihiku terlebih dahulu sedalam-dalamnya.

    Sugeng tindak, Romo Paus.
    Berkah Dalem…

  • Paus Fransiskus dan Social Media

    Paus Fransiskus dan Social Media

    Paus Fransiskus yang baru saja berpulang secara iman kuhayati sebagai salah satu hadiah terindah Tuhan, tak hanya untuk Gereja Katolik tapi juga dunia yang sedang membutuhkan sosok sepertinya.

    Pope Francis’ embracing of the digital world and social media has given new meaning to the word “followers” for the Catholic Church.

    Dunia yang sejak awal 2010-an sudah semakin bergejolak dalam banyak sisi mulai dari sosial, politik, ekonomi, hingga isu rusaknya lingkungan hidup sampai pandemik Covid-19. Tak berhenti di situ, ketika pandemik mereda, perang Rusia – Ukraina tersulut, konflik Israel – Gaza memanas dan yang terakhir perang dagang antara Amerika Serikat melawan hampir seluruh bagian dunia pun terjadi.

    Dengan kepribadian paus ke-266 yang membumi, cinta damai dan inklusif, kehadirannya bagaikan oase di padang gurun yang menyejukkan. Darinya kita diperbolehkan meneguk dan mengenal kasih Allah lebih dalam lagi.

    Tapi sejatinya tidak hanya sampai di titik itu. Ibarat pertunjukan, hadirnya Paus Fransiskus didukung dengan panggung yang memiliki tata lampu dan tata suara yang mumpuni. Dalam realita, panggung, tata suara dan tata lampu itu bernama era keterbukaan ditandai dengan mudahnya mengakses informasi melalui social media. Ajaran dan aksi nyatanya teramplifikasi begitu kuat dan cepat dan nyaris tanpa sekat.

    Kita jadi bisa tahu potret keseharian Paus Fransiskus semudah kita mengetik keyword yang tepat di Google. Scroll di linimasa social media, pun dengan gampang kita bisa tahu aksi-aksinya bahkan merk jam tangannya pun bisa kita dapatkan dengan mudah di sana.

    Coba bayangkan pada para paus sebelumnya. Butuh waktu berapa hari untuk kita tahu detail peristiwa terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1981?

    Yang kubayangkan, dengan keterbatasan media dan informasi waktu itu, orang-orang di Indonesia bakal baru tahu kejadian itu dari cuplikan berita yang disiarkan TVRI melalui program Dunia Dalam Berita beberapa jam atau hari sesudahnya. Pun yang didapat kukira hanya gambaran besarnya saja.

    Bayangkan kalau kejadian itu terjadi saat keterbukaan informasi sudah seperti sekarang ini. Kita barangkali bisa tahu kesaksian dari para saksi mata di tempat kejadian, bagaimana Mehmet Ali Ağca, si pelaku diringkus atau bahkan mungkin kita bisa spill merk jam tangan apa yang dipakai paus yang sekarang sudah menjadi santo itu kenakan saat kejadian.

    Di titik ini, secara iman aku seperti disadarkan betapa Tuhan sudah mengorkestrasi kehadiran Paus Fransiskus dengan sangat baik dan rapi.


    Tentu Steve Jobs tak pernah terpikir bahwa ide untuk membuat telepon genggam menjadi begitu cerdas melalui iPhone yang kemudian diikuti oleh banyak produsen lainnya adalah untuk mendukung amplifikasi karya kepausan Paus Fransiskus.
    Aku yakin hal itu tak terjangkau sama sekali dalam benak Mark Zuckerberg muda ketika ia dan kawan-kawannya di asrama kampusnya membesut Facebook yang menjadi pionir media sosial dua dekade lalu.

    Kita pun sering mendengar begitu banyak efek buruk dari penggunaan social media utamanya di kalangan muda. Tapi Tuhan melalui kuasa Roh Kudus yang melimpah atas diri banyak orang termasuk Paus Fransiskus, mengubah dan memanfaatkan hal-hal tersebut untuk karya nyata yang begitu baik bagi umat dan dunia.

    Kita berdoa semoga Paus Fransiskus mendapatkan kedamaian abadi di surga sembari terus memohon penyertaan Allah supaya Roh KudusNya menunjuk pemimpin baru yang tepat dan menjadi gembala untuk kita semua umat beriman.

    Berkah Dalem!