Kategori: Cetusan

Ide kata ‘cetusan’ berasal dari begawan blog Indonesia, Paman Tyo (Antyo Rentjoko) yang kuajak diskusi sekitar akhir dekade silam.

Cetusan adalah pemikiran, opini, gagasan yang tercetus, terpantik dari otak. Kategori ini adalah salah satu yang tertua dalam blog ini.

Kategori ini memiliki beberapa sub-kategori seperti Indonesia, Australia, Agama dan harus diakui adalah sendi utama dari blog. Bukannya tak mungkin ke depannya akan ada beberapa sub-kategori baru muncul di bawahnya.

Politik, budaya, seni, cara pandang, sikap hingga hal-hal kecil yang kutemukan dalam kehidupan sehari-hari baik saat masih di Indonesia maupun saat sudah bermigrasi ke Australia bisa kalian baca lengkap di sini.

Beberapa tulisan dilengkapi gambar, beberapa tampil lugas yang penting tetap enak dibaca dan semoga mencerahkan

 

  • Sedia Tuhan Sebelum Hujan

    Sedia Tuhan Sebelum Hujan

    Adakah Tuhan masih diperlukan di tahun 2026 ini?

    Beberapa waktu lalu di linimasaku muncul sebuah video singkat yang kira-kira punchline-nya kayak gini:

    Kenapa Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di negara-negara skandinavia?
    Karena Fungsi Tuhan sudah diambil alih oleh negara!

    Ya namanya juga punchline memang kudu heboh supaya laku meski bener-salahnya nanti dulu :)

    Bagiku, punchline itu sangat asumtif. Yang bikin aja berbahasa Indonesia, jelas bukan orang skandinavia :)

    Atau katakanlah ia seorang yang hidup di Skandinavia dan bisa berbahasa Indonesia, sudahkah ia melakukan riset dengan metode yang benar sehingga punchline itu tercipta?

    Atau jangan-jangan hanya sebatas generalisasi alias gebyah-uyah tak berdasar?

    Pun jika si pembuat punchline menyadari bahwa Tuhan itu Pencipta, Sang Kausa Prima, sejatinya pernyataan seperti itu tidak perlu ada!

    Kenapa?
    Karena meski Tuhan itu tak kelihatan, meski negara seolah mengambil alih fungsiNya, bukankah negara itu sendiri bisa ada dan terjadi atas ijin Tuhan?

    Maka janganlah buru-buru bilang bahwa kita ini tak butuh Tuhan. Karena ketika kita bisa berpikir demikian, hal itu sejatinya justru sebuah penanda bahwa kamu punya satu kebutuhan yang amat mendasar yang mungkin kamu tak sadar atau enggan mengakuinya: kamu butuh kenal Tuhan lebih jauh lagi!

    Maka kenalilah Ia!
    Semakin kamu kenal, semakin kamu sadar bahwa Tuhan adalah yang paling kita butuhkan setiap waktu bahkan ketika Sang Waktu sendiri nanti pada akhirnya sudah tidak ada…

    Lagipula, ngomongin soal skandinavia, tahukah kamu bahwa Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang baru-baru ini ‘sukses’ menangkap Presiden Venezuela di istananya sendiri itu juga tertarik terhadap Greenland yang notabene ada di Skandinavia?

    Amit-amit sih tapi kalau sampai Amerika menyerang Greenland lalu menguasainya, adakah Tuhan tetap tidak diperlukan di sana meski negara kayaknya bakal gagal melakukan banyak fungsi seperti sebelum-sebelumnya karena sibuk berperang?

    Jadi, kalaupun saat ini kamu sedang merasa tidak perlu Tuhan, ya gak papa tapi janganlah keyakinanmu itu dibuang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan.

    Simpan saja keyakinanmu itu di kantong baju atau selipkanlah di tas laptop kamu. Sehingga pas kamu butuh, kamu bisa mengambilnya dan mengemukakannya entah lewat doa atau yang lain.

    Seperti kata pepatah lama yang diperbaharui Gita alias Idgitaf yang manis itu melalui lagunya yang lagi ngehits dan aku suka,

    Sedia aku sebelum hujan!
    Sedia Tuhan sebelum hujan!

  • Tentang Pandji dan Mens Rea-nya

    Tentang Pandji dan Mens Rea-nya

    Mari bicara tentang Pandji dan Mens Rea seperti kebanyakan orang pada umumnya.

    Kita mulai dengan funfact dulu…
    Berani bertaruh, aku adalah salah satu orang pertama yang nonton Mens Rea di Netflix yang dirilis tanggal 27 Desember 2025 silam!

    Kok bisa? Begini… Aku tinggal di Sydney, Australia dan nonton Mens Rea sekitar jam 1 malam tanggal 27 Desember 2025. Pada saat aku memutarnya, kalian yang di Indonesia belum bisa karena masih jam 10 malam tanggal 26 Desember 2025. Ada sih kemungkinan orang yang tinggal di daerah lain di Australia, New Zealand atau tempat yang dikenal sebagai the earliest timezone, Kiribati (UTC+13) juga nonton di waktu yang sama atau lebih dulu. Tapi kans-nya berapa persen?

    Materi

    Secara materi, bagi orang yang mengikuti politik Indonesia termutakhir sepertiku, Mens Rea sebenarnya tidak menawarkan hal baru.

    Secara teknik pembawaan Mens Rea itu ya Pandji banget! Ada sih beberapa inovasi baru yang segar seperti ketika ia bermanuver “Siu” ala Christiano Ronaldo yang jadi punchline untuk topik tentang para menteri Orde Baru yang kebanyakan diawali dengan suku kata “Soe (dibaca: Su)”

    Ada juga tentang “Kok Ngono?” dan “Ngopo?” yang dipakai lebih dari sekali sebagai acuan.. meski bagiku yang paling di luar perkiraan adalah ketika Pandji tiba-tiba menyanyikan lagu mandarin “Wo Yao Ce Chaofan”.

    Bagi orang yang tidak mengikuti Pandji sejak lama atau yang lupa pada joke-joke masa lampaunya, nyanyian Bahasa Mandarin itu terkesan lelucon biasa saja.

    Tapi karena aku sudah lama mengikuti, joke itu melemparku balik ke joke masa lalunya! Bagiku ini brilian! Pandji tidak hanya cerdas, dia juga percaya diri bahwa sebagian penontonnya akan ingat joke lawasnya dan… berhasil!

    Di atas hal materi yang dibawakan, yang membuat Mens Rea itu mahal, menurutku adalah pengalaman atau experience “road to Mens Rea”-nya baik yang dikelola secara sadar maupun hal-hal yang terjadi di luar rencana di sekitar peristiwa Mens Rea yang justru membuat value acara ini meninggi.

    Kita bahas dari yang dikelola dulu ya.
    Sejak pertama dicetuskan yang seingatku hanya beberapa hari/minggu setelah kisruh MK pada Oktober 2023 lalu, serangkaian promo dari podcast ke podcast digeber Pandji. Dia jadi bintang tamu di banyak podcast untuk membagikan rencana Mens Rea. Dia bahkan merilis lagu rap yang jadi soundtrack dan juga bikin serial podcast Skakmat; podcast dengan format paling aneh tapi jadinya unik karena menghadirkan tak hanya pembicaraan dengan politisi tapi mereka juga diajak main catur oleh Pandji.

    Dari yang menurutku tidak dikelola alias terjadi begitu saja (kata anak jaman sekarang, mestakung atau semesta mendukung) adalah ketika tiba-tiba terjadi ricuh dalam podcast antara Pandji dengan Total Politik. Sesuatu yang kemudian kita kenal dengan istilah “Asian Value” a.k.a “Cut that stup*d sh!t” yang malah jadi merchandise pendukung Mens Rea yang kayaknya laku keras.

    Kasus Tom Lembong, meski tak terelasi langsung tapi juga mendukung ‘pengalaman’ Mens Rea karena ketika Tom mendapatkan abolisi, Pandji mengundangnya, bersama Anies, untuk tampil di Indonesia Maya di Bandung beberapa bulan sebelum Mens Rea.

    Yang terakhir menurutku yang paling dahsyat. Mens Rea finale Jakarta yang diadakan pada saat kerusuhan Agustus 2025 masih sangat panas tensinya!

    Sudah barang tentu ini diluar rencana tapi alhasil, pengalaman para penonton di Indonesia Arena tentu menjadi satu yang tak terlupakan sepanjang umur mereka karena hadir dalam acara yang banyak bicara tentang sosial-politik di tengah situasi sosial-politik yang belum kondusif benar!

    Jadi ketika tempo hari menyimak Sammy ‘Notaslimboy’ di podcastnya Cing Abdel bilang “materi Pandji segitu doang, bayar tiketnya satu setengah juta!” Well, aku bukan membela Pandji tapi Mens Rea itu memang lebih dari sekadar materi tapi tentang pengalaman yang sayangnya memang bakal sulit untuk direproduksi di masa depan bahkan oleh Pandji sendiri!

    Kontroversi

    Ketika pertama nonton Mens Rea di Netflix (sampai tulisan ini dirawi aku udah nonton tiga kali!) aku sudah menyangka bakal banyak bit di acara itu yang rawan menimbulkan kontroversi mulai soal Gibran hingga soal Prabowo yang dengan loud and clear dibilang Pandji pernah menculik aktivis!

    Dan ternyata hal itu jadi kenyataan. Twitter (X) dan beberapa kanal social media ramai bicara tentang Mens Rea. Banyak yang memuji tapi tak jarang yang mengecam Pandji yang saat tulisan ini kurawi sedang mudik ke New York.

    Bagiku, yang kontroversial adalah mereka yang justru menanggapi secara berlebihan dan menganggap Pandji dan Mens Rea itu kontroversial!

    Udah tau lelucon, kok diprotes?
    Apa kalian protes kepada api
    karena ia menimbulkan panas dan luka bakar?
    Apa kalian marah-marah kepada es
    karena ia bikin dingin dan beku!?

    Jadi kalau kamu gak suka stand up komedi ya jangan ditonton karena resikonya kalau gak bikin kamu tertawa ya tersinggung.

    Kalian yang menyanjung Pandji secara berlebihan karena materi yang dibawakan sesuai dengan arah politiknya jangan senang dulu! Kalau kalian merasa tersentil, apa kalian bisa lebih dewasa dari mereka?


    Aku melihat Mens Rea ini bisa jadi penanda tak hanya bagi Pandji, tak hanya masa depan dunia stand up komedi Indonesia tapi juga dalam kebebasan berbicara.

    Kalau semuanya baik, Mens Rea bisa jadi momentum semakin dewasanya masyarakat Indonesia dalam menyampaikan dan mendengarkan pendapat sepedas, selucu atau senyinyir apapun itu.

    Tapi, sebaliknya, Mens Rea juga bisa jadi pintu gerbang ke masa silam nan kelam bernama ORDE BARU! Orde yang membungkam mulut dan menekan (serta mematikan) mereka yang berseberangan dengan kekuasaan.

    Kalau cuma somasi, kayaknya bakal ada banyak, seperti halnya Pandji belum lama juga menerima somasi dari sekelompok masyarakat Toraja yang tersinggung dengan joke Pandji yang usianya udah belasan tahun!

    Tapi kalau sampai Pandji dituntut di muka pengadilan apalagi misalnya menggunakan pasal UU ITE, itu bisa jadi alarm buruk.

    Sementara yang terburuk adalah kalau sampai somasi dan tuntutan apalagi ancaman tersebut membuat para komika lain dan kaum sipil yang biasa kritis jadi terbelenggu rasa takut!

    Kalau sampai begitu, ya wasalam!
    Tinggal nunggu waktu dimana nanti di televisi bakal ada serombongan komika pake bedak lalu bikin grup kayak Punokawan yang di masa Orde Baru muncul di TVRI di minggu siang.

    Mereka menghibur melalui banyolan tapi tak lupa menjadi corong bagi pemerintah untuk menyanjung program-program kerjanya supaya semuanya terkesan rapi dan halus kayak kemeja habis disetrika!

  • Refleksi 2025: Menata Ulang Pertemanan

    Refleksi 2025: Menata Ulang Pertemanan

    Tahun 2025 ini aku memutuskan untuk lebih menutup diri terhadap publik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan menata ulang pertemanan.

    Di dunia non digital, aku sudah sejak lama jarang keluar rumah! Jarang banget. Ke kantor cuma seminggu dua kali itupun kalau pengen sepedaan. Kalau males ya work from home juga dibolehin. Ke kafe atau ke tempat keramaian, waduh kapan ya terakhir ke tempat kayak gitu, udah lama banget hahaha! Paling ke Gereja, makan di rumah makan bareng keluarga, grocery shopping dan antar-jemput anak-anak dari tempat kursus!

    Di dunia digital beda cerita.

    Aku begitu terbuka… by design sih!

    Makanya dari sisi itu pengetatan kulakukan.

    Kalau di Instagram susah diapa-apain karena akunku terverifikasi sejak Desember 2022. Hal itu membuatku tidak bisa mengubah status akun dari public menjadi private kecuali aku mau kehilangan tanda verifikasi yang waktu itu dikasih cuma-cuma oleh Instagram.

    Hal yang paling banter kulakukan adalah menghapus semua foto keluarga dan meng-unfollow serta meminta anak-anak dan istriku untuk unfollow aku demi privacy masing-masing.

    Yang paling radikal adalah yang kulakukan di Facebook.

    Beberapa orang menyarankanku untuk meninggalkan Facebook tapi aku memilih untuk tetap ada di platform itu untuk menjaga hubungan dengan kawan-kawan lama di Indonesia yang kebanyakan mungkin karena seusia, masih main Facebook :)

    Status akun Facebook yang tadinya terbuka untuk publik kuubah jadi terkunci alias locked. Perubahan itu membuat orang-orang yang tidak ada di list “Friends” ku tidak bisa melihat details dan linimasaku.

    Keputusan ini menjadi sebuah omnibus setelah beberapa waktu sebelumnya bingung bagaimana caranya mengelola privasi atas

    begitu banyak foto yang kuunggah sejak 2007 dan status/postingan yang sifatnya public. Daripada ngerjain setting setiap entitas satu per satu, ya udah deh dibikin locked aja beres!

    Yang jadi persoalan selanjutnya adalah “Friends”.

    Semakin kemari, semakin aku teriritasi dengan cara Facebook menggunakan istilah Friends sebagai orang yang terhubung langsung. Facebook menurut keyakinanku seperti melakukan simplifikasi terhadap arti “teman” bahwa untuk menjadi teman itu semudah kita kirim request “Add Friend” lalu kalau yang dikirimi memencet tombol “Confirm” maka dua orang tadi otomatis jadi teman.

    Mungkin aku tergolong manusia lama, untuk berkawan tidak semudah itu. Aku harus kenal dulu. Untuk kenal aku harus berinteraksi. Yang kulakukan kemudian adalah meng-exercise orang-orang yang sudah terlanjur ada di friendlistku; apakah mereka itu benar-benar teman atau bukan?

    Beberapa teman yang sudah meninggal dunia, kuhapus dari friendlist kecuali almarhum Papaku.

    Bukannya aku ingin melupakan mereka, tapi secara konteks sudah tidak pas! Emangnya di alam sana masih pegang henpon dan punya data untuk akses akun Facebook? Kan enggak!

    Beberapa orang yang aku merasa asing dari namanya tidak serta merta kuhapus. Mungkin aku yang lupa nama asli. Untuk menengarainya aku melihat foto profile. Kalau tetap lupa atau tak kenal, kulihat siapa “common friends” nya. Kalau dari common friends nya pun gak jelas, tak hanya orang itu, tapi semua common friends juga kuhapus sekalian.

    Belum selesai di sini, aku juga meng-exercise linimasa kawan-kawan lama. Tak semua kawan yang kita kenal ketika berteman itu punya karakter yang tidak berubah setelah bertahun tidak berinteraksi.

    Ada kawan yang dulu asik, sekarang linimasanya penuh dengan hal-hal berbau radikalisme agama. Tak ada ampun: UNFRIEND!

    Ada juga kawan yang dulu seper-jokowi-an tapi sejak 2023, sejak perkara MK merebak dan aku sudah memunggungi Jokowi dan kroninya eh lha kok sampe sekarang kok masih menyembah dan teriak jokowa-jokowi mulu? UNFRIEND!

    Dari semua exercise di atas, friendlistku lumayan lebih tertata.

    Apakah ini penanda bahwa aku sudah mulai mengecilkan lingkaran pertemanan seperti orang-orang seusiaku pada umumnya? Kurasa belum.

    Hingga sekarang aku masih aktif membuat pertemanan baru.

    Bahkan di instagram yang tidak menggunakan sistem teman meski sama-sama produk di bawah Meta dengan Facebook, aku aktif berinteraksi dengan follower yang kemudian karena aku juga ingin kenal lebih jauh kufollow lah dia.

    Di Whatsapp pun demikian. Aku nambah teman! Dengan sopir yang jasanya kupakai saat berlibur di Jogja, dengan sopir taksi yang kutemui hanya sekali saat mengantarku dari hotel ke Cengkareng saat pulang ke Australia, hingga kini kami masih berteman!

    Di dunia non digital, ada juga beberapa kawan kerja dan mantan kawan kerja yang kemudian jadi kawan dan kami aktif berhubungan.

    Perkawanan, sebagaimana halnya hidup terus berdinamika.

    Mereka yang sudah tidak compatible dengan hidup dan keluarga ya kulepas, sebaliknya mereka yang terus memperkaya jiwa dan batin ya tetap kurawat…

  • Refleksi 2025: Mundur dari Catholic Indonesian Community

    Refleksi 2025: Mundur dari Catholic Indonesian Community

    Salah satu keputusan besar yang kubuat di tahun 2025 adalah mengundurkan diri dari Catholic Indonesian Community (CIC) setelah tujuh belas tahun terlibat di dalamnya. CIC adalah sebuah komunitas orang-orang Katolik asal Indonesia di Sydney dan sekitarnya. Ada banyak ragam kegiatan di dalamnya mulai dari perayaan ekaristi mingguan di beberapa tempat, kegiatan-kegiatan bina iman mulai dari pendalaman iman hingga persekutuan doa, pasar murah makanan khas Indonesia hingga piknik bersama dan masih ada beberapa lagi yang lainnya. Aku bergabung dengan CIC sejak pertama kali sampai di Sydney, Oktober 2008. Terbilang cukup senior, aku berkontribusi dalam banyak hal di CIC. Mulai dari bergabung di dalam koor, main musik, pernah diminta menjadi pendamping iman anak-anak muda Katolik, pernah jadi wakil ketua sebuah persekutuan doa dan menjadi pengelola situs web CIC Sydney.

    Ada tiga alasan yang membuatku akhirnya memutuskan untuk mundur.

    Yang pertama, anak.
    Anak-anakku sudah beranjak remaja. Menurut hukum Australia, ketika berusia 18 tahun, mereka sudah berhak melakukan apapun yang mereka mau sebagai orang dewasa termasuk, misalnya, tidak mau lagi pergi ke Gereja. Aku tidak mau kehilangan waktu untuk membuat mereka mengerti dan memahami Iman Katolik. Sebagaimana aku sudah berjanji ketika menikah untuk membawa keluargaku ke dalam lingkup Gereja Katolik, selain menyekolahkan keduanya di sekolah katolik, menjalani semua sakramen inisiasi, mendidik mereka dalam praktek iman sehari-hari di rumah, kupikir mengajak mereka ke Gereja yang menggunakan bahasa mereka, Bahasa Inggris, adalah kelengkapan terbaik!

    Sebagai anak-anak dari orang yang lahir di Indonesia, mereka tentu mengerti Bahasa Indonesia tapi sekali lagi, bahasa ternyaman mereka ya Bahasa Inggris karena mereka lahir dan tumbuh besar di sini. 

    Pernah seseorang berkata kepadaku, “Mumpung anak-anak masih kecil, you mesti paksa mereka buat berbahasa indonesia jadi gak ilang! Nah salah satunya ya ikut misa di CIC!”

    O well, yang pertama aku gak mau maksa karena bahasa adalah sarana sementara aku dan istriku juga bisa kok berbahasa Inggris kenapa mereka yang harus terpaksa belajar Bahasa Indonesia? 

    Yang kedua, kalaupun harus mengajarkan mereka Bahasa Indonesia, tentu aku akan mengirimkan mereka ke sekolah atau balai kursus Bahasa Indonesia bukan melalui ikut misa di CIC!

    Yang kedua, jarak dan biaya.
    Sejak pindah ke rumah baru pada Januari 2022, jarak tempuh dari rumah ke tempat penyelenggaraan acara CIC menjadi sangat jauh. Mahal diongkos untuk bensin dan tol!

    Yang ketiga, partisipasi di paroki lokal.
    Dari apa yang kubaca di kitab kanon Gereja (Can. 518), prinsip pengembangan yang utama adalah secara teritorial melalui paroki lokal. Adanya paroki personal seperti paroki yang diijinkan berdiri berbasis bahasa kaum migran seperti CIC memang diperbolehkan. CIC adalah tempat singgah sementara bagi migran asal Indonesia untuk berasimilasi dengan budaya lokal. Aku sudah tujuh belas tahun tinggal di sini pun sudah berganti kewarganegaraan maka kupikir sudah saatnya untuk melepaskan diri dari komunitas itu dan lebih merasuk dan menyatu ke komunitas lokal.

    Meski alasan-alasanku kuat, tapi sejatinya aku butuh waktu bertahun-tahun untuk memutuskan.

    Sejak awal 2019 aku sudah mulai berpikir tentang hal ini. Memasukkannya dalam pergumulan batin dengan melibatkan banyak pendapat orang, membaca literasi (termasuk hukum kanon tadi) sebelum akhirnya menyatukan dalam doa, memasukkan dalam pertimbangan dan kemudian mengambil keputusan.

    Sejak akhir 2024 aku juga sudah mendengungkan dengan Romo chaplain (romo ketua/pendamping) CIC, rasan-rasan bagaimana kalau aku mundur dari koordinator situs web? Beliau menyetujuinya.

    Yang terberat adalah meninggalkan koor St Joseph Choir yang sudah berdiri sejak aku belum ada di Sydney. Ada begitu banyak sentimental values yang tertebar di sana. Musik adalah duniaku dan mereka yang ada di koor tersebut adalah orang-orang pertama yang kukenal ketika pindah ke Australia. Tapi sekali lagi, keputusan harus kuambil. Setelah acara Misa Hari Kemerdekaan Indonesia, Agustus 2025, aku menyampaikan niatanku tadi. Puji Tuhan, meski berat, semua anggota menyetujui bahkan mendukungnya.

    Kemarin, 21 Desember 2025 adalah kesempatan terakhirku untuk bermusik bersama St Joseph Choir menandai berakhirnya pelayanan di CIC.

    Sebuah perpisahan yang indah karena bukannya kebetulan, sehari sebelumnya, 20 Desember 2025 adalah hari ulang tahunku. Aku dibuatkan kejutan sangat meriah ketika seluruh umat di Gereja dipimpin Romo menyanyikan Selamat Ulang Tahun bagiku.

    Lalu kemana sesudah ini?
    Sejak pindah ke rumah baru, tiga tahun silam, aku terlibat aktif membantu komunitas orang-orang Katolik di sekitar rumah yang setiap hari Minggu berkumpul di aula sebuah sekolah untuk mengadakan misa. Di situ aku bernyanyi dan main musik. Pun aku sudah membangun koor yang isinya lagi-lagi orang-orang Indonesia yang tinggal dekat rumah. Sekitar seminggu setelah aku membuat keputusan mundur di Agustus 2025 lalu, tiada angin tiada hujan, koordinator komunitas kecil itu memberitahukan kepada kami via WhatsApp bahwa Mgr Vincent Long, Uskup Agung Keuskupan Parramatta tempat kami bernaung memberikan restu untuk mengubah komunitas kecil itu menjadi paroki independen!

    Here I am, Lord!
    Sesaat setelah aku membaca pengumuman itu, bulu kudukku berdiri! Tuhan seperti tak butuh waktu lama untuk melihat hamba-Nya ‘nganggur’ sepertiku!  Aku tak tahu akan dijadikan apa tapi aku punya perasaan sangat kuat bahwa di ladang itulah aku akan dipekerjakan-Nya dengan lebih diberdayakan lagi! 

    Terima kasih, CIC!
    Sebagaimana aku mengenang Indonesia sebagai tanah lahirku, aku akan terus mengingatmu sebagai komunitas yang dulu menyapihku untuk akhirnya bisa berdiri di Australia ini. It’s not a goodbye! It’s a “See you soon!” Aku gak akan kemana-mana!  Nanti kalau Tuhan beri umur panjang, di masa tuaku, ketika anak-anak sudah besar, sesekali waktu bolehlah nyanyi lagu-lagu Indonesia bareng-bareng lagi!

  • Refleksi 2025: Tilly and Trudy

    Refleksi 2025: Tilly and Trudy

    Kalau  membaca serial Refleksi 2025 sejak awal, tentu kalian mahfum bahwa gaji yang kuterima di pekerjaan baru sejak April 2025 berkurang banyak. Tapi tahukah kamu, sejak 13 Juni 2025, kami justru mengadopsi dua anjing yang jelas makan ongkos selain perhatian dan waktu? 

    Aku dan Joyce tumbuh di keluarga yang sayang pada binatang peliharaan. Terakhir kami memelihara anjing adalah Oktober 2013 saat Simba, anjing peliharaan kami, harus ditidurkan untuk selamanya karena sakit yang berkepanjangan. Sesudahnya kami tak pernah berpikir untuk memelihara binatang peliharaan lagi karena rasa duka setelah Simba pergi itu ternyata sulit dihilangkan.

    Januari 2023, setahun setelah pindah ke rumah baru, kami mencoba memelihara anjing lagi, Sandy namanya. Tapi tak sampai dua puluh empat jam, kami harus mengembalikannya kepada pemilik asal karena ternyata Elodia, anak kedua kami, alergi kulit yang sensitif terhadap bulu anjing. Sejak saat itu kami menahan diri. Penanda itu bagi kami sudah cukup bahwa untuk memelihara anjing, kami harus memastikan rasnya bukan ras yang bulunya menimbulkan alergi. Kami mengobservasi, ada beberapa pilihan ras tapi semuanya… mahal!

    Setelah badai yang kami alami karena dua PHK belakangan, di awal Juni 2025, seorang kawan lama Joyce menghubungi dan menawari kami untuk mengadopsi seekor anjing cavalier king charles. Namanya Tilly, umurnya dua tahun. Bulunya berwarna kecokelatan meski orang Inggris, negara asal breed ini, menamainya sebagai ruby cavalier (ruby padahal berarti merah gelap). Meski kami tersihir oleh keimutannya tapi kami sepakat untuk tidak mengambilnya. 

    Dua hari berselang tanpa ada pembicaraan terkait hal itu tapi tiba-tiba Joyce mengetengahkan topik itu lagi. “Ternyata Tilly punya saudara, Trudy namanya. Lucu deh!”

    Dia memamerkan foto lagi via WA dan benar, lucu banget. Perawakan Trudy lebih besar ketimbang Tilly, chubby! Tapi lagi-lagi, kami sepakat untuk tidak mengambil mereka.

    Hari Sabtu, 7 Juni 2025, ketika sedang nonton tv di ruang keluarga, Joyce lagi-lagi membuka pembicaraan tentang adopsi dan kali itu aku menjawab agak berbeda dari dua jawaban di atas. “Secara keuangan berat sih! Tapi coba kita hitung dan tanya ke Tuhan apakah kita siap untuk memelihara atau tidak…”

    Dan malam itu aku imbuhkan permohonan dalam doa malam keluarga supaya kami diberikan jalan terang apakah siap untuk memelihara anjing lagi atau tidak.

    Keesokan paginya, dalam perjalanan menuju Gereja untuk mengikuti perayaan ekaristi mingguan aku membuat keputusan. “Kayaknya kita gak memelihara anjing dulu. Gak cuma biaya. Gak cuma perhatian. Gak cuma Elo yang takut ada alergi lagi tapi juga gimana dengan Odi? Dia bakal sulit untuk adaptasi dengan Tilly ataupun Trudy!”

    Odi, anak pertamaku adalah seorang berkebutuhan khusus yang sejak kecil sangat tidak suka dengan boneka berbulu lebat. Bagaimana dia nanti bisa beradaptasi dengan Tilly ataupun Trudy yang juga berbulu lebat?

    Hari itu kami lantas tak membicarakan lagi tentang Tilly dan Trudy. Tapi nyatanya hal itu hanya bisa bertahan dalam hitungan jam saja karena sore harinya Joyce bilang, “Besok mereka mau bawa Tilly dan Trudy untuk kenalan, sekalian kita ujicoba apa kita suka atau enggak, bisa memelihara apa enggak? Elo kena alergi atau enggak, juga liat Odi gimana responnya…” Di titik itu aku terdiam. Takut tapi juga pengen. Bingung tapi juga seneng karena ‘case’ ini ternyata belum ‘closed.’

    Keesokan siangnya, datanglah mereka membawa Tilly dan Trudy dan kelanjutannya mudah ditebak, kami jatuh hati!

    Kami sepakat mengambil satu dari mereka dan rencana akan kami jemput pada Sabtu 14 Juni 2025.

    Persoalannya sekarang juga mudah kalian tebak, yang mana yang harus diambil, Tilly atau Trudy? Aku menyerahkan Joyce untuk memilih. Berbarengan dengan itu aku mulai mencari informasi tentang biaya pemeliharaan, harga makanan, ongkos dokter, asuransi dan segala macamnya. 

    Aku menginformasikan angka yang kudapat ke Joyce dan karena sejak awal pernikahan aku menyerahkan keuangan kepadanya, kuminta Joyce untuk membuat keputusan. Setelah diam beberapa saat dia bilang, “Hmmm.. kalau segitu kayaknya bisa sih…”

    Great! Lalu yang mana, tanyaku, Tilly atau Trudy? Joyce belum mengemukakan jawaban dan kami sepakat untuk menunda jawaban hingga last minutes.

    Rencana kami untuk mengambil Tilly atau Trudy pada Sabtu harus dibatalkan karena pada hari itu kami ada acara lain. Sebagai gantinya, kami akan mengambilnya hari Jumat, 13 Juni 2025.

    Pada Kamis malam, sekonyong-konyong, aku memecah kebuntuan tentang siapa yang perlu kami adopsi, “Daripada bingung kenapa gak kita ambil dua-duanya? Tilly dan Trudy?” Kami lantas berhitung cepat. Secara keuangan, memelihara anjing dua maupun satu itu ternyata tak beda banyak. Lagipula, kalau kami ambil salah satu, kasihan yang satunya lagi mengingat mereka berdua adalah kakak dan adik dan sudah bersama sejak kecil.

    And here we are!
    Jumat, 13 Juni 2025, bertepatan dengan hari pesta nama santo pelindung baptisku, Santo Antonius dari Padua, sekitar jam 10 malam, kami menjemput Tilly dan Trudy.

    Malam itu begitu dingin karena awal musim dingin. Joyce menyetir mobil, Odilia duduk di belakang. Di sebelahnya, Elodia memangku Tilly sementara aku mendekap Trudy yang masih ketakutan dengan suasana dan orang-orang baru. “It’s OK, Trudy! It’s ok! We’re home! We’re home soon!”

    Hari itu kami memahami cara Tuhan bekerja dalam sudut pandang yang berbeda lagi.  Kami memohon tuntunan, kami memilih untuk mengambil keputusan dan lantas menjalaninya dengan mantap hati serta penuh keyakinan karena percaya Tuhan yang mengijinkan semua ini terjadi adalah Tuhan yang tidak akan tinggal diam!

  • Refleksi 2025: Liburan ke Indonesia

    Refleksi 2025: Liburan ke Indonesia

    Beberapa jam setelah menerima kabar tentang PHK yang pertama di 9 September 2024, Joyce, istriku, mengkonfirmasi bahwa sebagian dari uang pesangon yang kuterima itu adalah pemenuhan janji Tuhan atas doa yang kami panjatkan sejak awal karena kami pengen banget pergi liburan.

    Tapi tentu aku tak serta-merta sepakat dengan apa yang dikatakan Joyce. Sebagai cowok, suami dan bapak, pikiranku terlampau rumit dan masih sangat kaget, marah sekaligus kecewa terhadap keputusan perusahaan untuk mem-PHK-ku. Aku butuh waktu untuk menerima dan percaya.

    Memang sudah lebih dari enam tahun kami nggak mudik ke Indonesia dan selama itu kami bisa berdamai karena tiga alasan. Pertama Pandemik COVID-19. Kedua karena toh kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan untuk menghubungi Chitra, adikku dan keluarganya kami bisa dan biasa pake WA. Sementara yang ketiga karena kami baru saja bangun rumah di tahun 2022, ekonomi masih kayak roller coaster, naik dan turun dan kadang turun banget! Untuk itulah sejak awal 2024 kami berdoa supaya Tuhan memberi petunjuk dan jalan keluar terhadap keadaan itu.

    Hingga awal November 2024, aku belum mendapatkan pekerjaan baru dan bayangan untuk percaya bahwa uang pesangon yang kuterima adalah jatah liburan kuparkir jauh-jauh dari pikiran. Apalagi ditambah kenyataan bahwa Joyce tidak berhasil mendapatkan kontrak kerja permanen dari kantor lamanya untuk tahun depannya, 2025. Uang itu tentu bisa terpakai untuk memerpanjang nafas!

    Tapi di sebuah sore yang indah, sekonyong-konyong Joyce bertanya, “Jadi kapan kita beli tiket pesawat ke Jakarta?”

    Hatiku berdesir seperti naik mobil di jalanan yang tiba-tiba sampai pada turunan yang curam. Pengen tapi takut. Takut tapi pengen banget!

    “Hmmm… kita minta tanda Tuhan. Nanti malam kita doa bareng supaya tandaNya diberi dalam minggu ini!”  Hari demi hari sesudahnya seperti gak ada tanda sama sekali hingga di akhir pekan, Joyce tiba-tiba bilang, “Aku udah beli tiket!” Ya itulah tandanya! Hahahaha!

    Seminggu sesudahnya, ketika sedang nyetir tiba-tiba aku ngomong ke Joyce, “Kayaknya ada yang barusan ngomong ke aku bahwa minggu depan bakal ada berita baik.” Joyce hanya menyeletuk, “Amin!”

    Dan semuanya terjadi seperti sudah dituliskan. Tiga hari sesudahnya, Joyce diterima bekerja di sekolah dekat rumah sebagai pegawai permanen. Seminggu berikutnya, aku diterima bekerja di perusahaan baru dengan jabatan dan gaji yang bahkan lebih baik dari perusahaan sebelumnya yang mem-PHK-ku!

    Kami sekeluarga pun pergi berlibur dengan hati yang penuh sukacita dari tanggal 27 Desember 2024 sampai 24 Januari 2025 meskipun dalam hati aku bertanya kenapa Tuhan mengarahkan kami ke Indonesia padahal kami hanya minta liburan dan waktu itu mikirnya bakal ke Korea atau kalau enggak Jepang? Di dalam lambung pesawat yang mengantarkan kami dari Sydney ke Jakarta, aku terus memikirkan dan bertanya dalam hati.

    Acara liburan kami pusatkan di Jakarta sampai lepas tahun baru lalu Jogja, berkeliling Jawa Tengah dan ke Jawa Timur, kembali ke Jakarta sebelum pulang ke Sydney.

    Di Jakarta, selain mengunjungi Eyang Putri dan para om serta tante, sepupu juga keponakan, kami bertemu dengan sanak saudara dari pihak Joyce.

    Di Jogja, kami menghabiskan waktu bersama keluarga adikku, Chitra.

    Jawa Timur adalah tujuan istimewa. Sejak Papa meninggal dunia, 7 April 2011, aku memang tak terlalu banyak berkomunikasi dengan keluarga besar Papa di Blitar. Pun terakhir kali aku mengunjungi Blitar adalah sesaat sebelum aku pindah ke Australia, Oktober 2008. Liburan inipun kupakai sebagai sarana untuk mengunjungi keluarga Budhe, kakak perempuan Papa yang tersisa. Pertemuan terjadi di rumah makan lalu kami lanjutkan mengunjungi makam Eyang dan Budhe Him sebelum akhirnya kami pamit pulang.

    Di Jawa Tengah kami melakukan tur ke Solo, Salatiga juga Semarang.

    Di Solo dan Salatiga aku berkunjung ke rumah om dan tante; sesuatu hal yang belum pernah kulakukan karena almarhumah Mama adalah anak sulung jadi yang biasanya terjadi adalah mereka yang mengunjungi rumah. Ketidakbiasaan ini ternyata menimbulkan kegembiraan yang luar biasa baik dariku, keluarga serta mereka, keluarga om dan tante yang dekat denganku sejak aku masih kecil. Di Semarang kami nyekar ke makam leluhur Joyce dan bertemu dengan saudaranya yang juga kukenal dekat sejak lama.

    Di aras pertemanan, aku mensyukuri bertemu Kunto di Jogja meski hanya beberapa jam saja. Kunto adalah sahabatku dan dalam waktu yang singkat nan padat kami meruahkan semua cerita yang belum sempat kami ceritakan dalam enam tahun belakangan.

    Di Jakarta, secara tidak dinyana aku mengalami sesi yang sangat intim dengan Damar Benny, sahabatku SMA yang lainnya. Hubunganku dengan Damben, begitu dia kupanggil, tidak selamanya hangat tapi kalau dingin juga gak sampai beku.  Malam itu kami banyak bicara dari hati ke hati, sesuatu yang tak pernah kunyana terjadi sebelumnya. Dan itu bukan puncak dari paragraf ini! You know what happened? Bahwa di saat kami ngobrol dengan intimnya, di saat itu pula di Bandung, sahabatku yang lain waktu SMA, Yudith Christianto, meninggal dunia mendadak! Waktu SMA aku sangat dekat dengan keduanya, Damben dan Yudith. (Aku pernah menuliskan obituari Yudith di blog silakan klik link ini).

    Aku sangat gundah malam itu. Sempat merasa sangat bersalah karena tak menghubungi Yudith dalam liburan kali itu. Tapi di tengah kekalutan, aku seperti diberikan pemandangan yang lebih dari sekadar salah-benar bahkan lebih dari tentang kedukaan itu sendiri. Aku merasa betapa kepergian Yudith yang mendadak itu seolah menjadi penyempurna proses rekonsiliasiku dengan Damben!

    Aku dan Damben sempat berpikir untuk melayat ke Bandung malam itu. Joyce pun mengijinkannya. Tapi karena satu dan lain hal kami harus membatalkan rencana itu. Sebagai gantinya, aku dan Damben sepakat untuk bertemu kembali keesokan harinya untuk mengenang Yudith sekaligus melanjutkan lebih banyak lagi cerita yang belum sempat tertuntasi malam sebelumnya. Satu hal yang sangat kusyukuri tapi sekaligus mengejutkan adalah tema pembicaraan kami waktu itu lebih banyak tentang Tuhan dan kepasrahan. Ketika aku kemudian diPHK dan mencari pekerjaan tiga bulan kemudian, Damben secara khusus dan intens membantuku berdoa rutin hingga aku benar-benar mendapatkan pekerjaan baru! Bahkan kemarin sore, waktu aku merilis Refleksi 2025 yang pertama, ia bertanya kepadaku, “Apa kabar? Udah stabil semua ya? Puji Tuhan!”

    Hal lain nan tak kalah pentingnya yang Tuhan boleh sampaikan dalam liburanku awal tahun 2025 ini adalah karena aku boleh berdamai dengan masa lalu yang aku dan keluarga orangtuaku alami di Kebumen dulu. 

    Tak banyak yang tahu bahwa aku pernah tinggal di Kebumen sebelum pindah ke Jogja pada 1993. Ada banyak hal yang aku dan keluargaku alami yang cukup menyakitkan dan membuatku seolah ingin menutup rapat cerita hidupku di Kebumen begitu saja. 

    Tapi Tuhan baik. 

    Ia ingin aku sembuh dari luka batin dengan cara mengirimkan teman-teman alumni SMP 1 Kebumen yang membuat segalanya mencair dan berakhir dengan indah. Sejak beberapa bulan sebelumnya kami akrab di grup Whatsapp alumni. Bahkan dari situ aku berani menuliskan kenangan demi kenangan yang terjadi di Kebumen di blogku sebagai sarana untuk menyembuhkan luka satu per satu. Lalu saat aku berlibur, kami janjian untuk bertemu. Melalui senyum dan ketulusan mereka, aku seperti diijinkan untuk melongok kembali apa yang terjadi di Kebumen dulu dengan damai! Aku diperbolehkan memaklumkan luka, memaafkan mereka yang melukai lalu membebat luka itu sesempurna mungkin supaya aku bisa berjalan lebih baik ke masa depan tanpa meninggalkan luka di belakang.

    Ketika liburan kami berakhir, di dalam lambung pesawat yang sedang bergerak perlahan menuju landas pacu di Bandara Soekarno Hatta, aku berterima kasih kepada Tuhan.

    Aku bersyukur pada akhirnya dibukakan pengetahuan bahwa seburuk-buruknya PHK yang kualami September 2024 silam, ada pesan indah yang hendak Tuhan sampaikan. Tuhan ingin menggenapkan semua yang harus terjadi: liburan dan pengalaman batin nan spirituil yang jauh lebih berharga dari sekadar liburan yang mengenyangkan dan menggembirakan fisik belaka.

  • Refleksi 2025: Terkena PHK Lagi!

    Refleksi 2025: Terkena PHK Lagi!

    Setelah yang pertama terjadi pada September 2024, tujuh bulan kemudian, April 2025, aku terkena PHK lagi. Keadaan ekonomi di Australia yang buruk akhir tahun lalu adalah pemicunya yang membuat banyak perusahaan termasuk perusahaan tempatku bekerja memutuskan melakukan efisiensi anggaran dengan cara mem-PHK karyawan-karyawannya.

    Kalau pada PHK pertama aku mendapatkan uang pesangon cukup besar sehingga bisa kupakai untuk berlibur ke Indonesia, PHK di bulan April 2025 tanpa pesangon sama sekali karena waktu kerja yang baru lima bulan!

    Tapi aku beruntung, enam hari sebelum resmi jadi penganggur, aku sudah mendapatkan pekerjaan baru melalui cara yang tidak pernah kunyana sama sekali sebelumnya.

    Jadi ceritanya sekitar seminggu sebelum pulang berlibur ke Indonesia, Desember 2024, aku ditraktir minum bir oleh mantan anak buah karena aku sudah memberikan referal untuk pekerjaan barunya. Dalam percakapan itu, dia minta tolong kepadaku untuk dicarikan designer yang barangkali perlu pekerjaan karena tempat kerjanya membutuhkan seorang designer lagi.

    “Tapi gajinya gak gede… kita cari yang middle level designer” ujarnya seolah ingin berkata bahwa pekerjaan itu bukan buatku karena aku terhitung senior dalam hal pengalaman juga gaji.

    Sepulang dari Indonesia di akhir Januari 2025, dalam sebuah rapat di kantor, manajer mengabarkan kabar buruk tentang perampingan karyawan yang kusebut di atas tadi. Badanku lemas sejadi-jadinya. Baru juga pulang liburan harusnya refreshed tapi malah dapat kabar seburuk itu! Uang pesangon dari PHK sebelumnya pun sudah habis terpakai untuk berlibur ke Indonesia lalu demi sejuta topan badai, aku akan kena PHK lagi? Bagaimana aku harus mengongkosi hidup keluarga dan membayar tagihan-tagihan hutang sementara mencari pekerjaan dengan level yang kudapat sekarang bukan perkara mudah?

    Aku segera menelpon mantan anak buahku tadi dan bilang “Kayaknya pekerjaan yang kamu tawarin dulu itu untukku!”

    Lalu terjadilah demikian! Hari pertama setelah libur Paskah, semalam sesudah Paus Fransiskus meninggal dunia, aku bekerja di perusahaan baru, sebuah universitas ternama di Sydney.

    Dan yang terberat adalah perkara bagaimana cara mengalokasikan gaji ke dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji yang kuterima sekitar tiga puluh lima persen lebih rendah dari yang semula kuterima. Aku berdiskusi panjang kali lebar dengan istri tentang bagaimana mengatasi hal ini. Apa saja yang bisa diirit, apa yang perlu ditunda dan apa yang harus terus dilanjutkan.

    Itu adalah kali pertama aku mengalami hal seperti ini di Australia. Sejak pertama kali datang tahun 2008, karirku selalu naik dari sisi gaji dan jabatan. Sebelas kali berpindah kerja, semua kulakukan demi menjaga progresi dalam profesi.

    Tapi di titik itu, aku merasa Tuhan sedang memulai proses permurnian terhadapku dari sisi yang belum pernah kualami sebelumnya.

    Aku dan keluarga seperti diajak untuk berkontemplasi terhadap Injil yang menuliskan kisah Yesus memberi makan lima ribu orang hanya bermodalkan lima roti dan dua ikan. Semua tentang bagaimana Tuhan menggenapi apa yang sudah kami usahakan. 

    Dan entah jasa baik apa yang sudah kami lakukan terhadapNya dan sesama tapi Tuhan selalu menggenapi kebutuhan kami melalui cara-cara yang kalau dipikir nggak masuk akal. Ada banyak kejutan dan ketiba-tibaan yang akhirnya membuat kami berpikir, Ini pasti datang dari Tuhan! 

    Kalau dibilang gak mudah, pada kenyataannya memang sangat berat tapi Tuhan selalu beri penghiburan melalui apa saja termasuk dan yang terutama tentu cinta yang tumbuh di keluarga kami.

    Dan tahun ini sebenarnya bukan hanya soal ketercukupan tapi lebih dari itu Tuhan memampukan kami untuk menerbitkan rasa syukur atas apa yang kami punya.

    Bagiku ini sangat unik dan luar biasa. 

    Apa yang patut disyukuri dari gaji yang berkurang? Berhari-hari aku mencari jawabannya dan kutemukan satu: karena aku masih diberi pekerjaan saat banyak yang lain bernasib lebih buruk dariku!

    Apa yang patut disyukuri dari gaya hidup yang berubah karena keterbatasan? Karena kami masih diberi “gaya” yang membuat “hidup” yaitu cinta!

    Apa yang patut disyukuri dari segala yang harus kami syukuri? Ya karena Tuhan sendiri. Tuhan yang menaruh keyakinan dalam hati kami, Tuhan yang menaruh kami dalam kendali-Nya, sepenuh utuh!

  • Bad Night, Bad Hotel

    Bad Night, Bad Hotel

    Ketika dunia menyambut Natal dengan cara memberi diskon gede-gedean, umat Katolik bukannya tidak boleh ikut beli barang diskonan Natal tapi utamanya kita diajak untuk menghayati arti penantian.

    Arti penantiannya pun tak hanya menanti tanggal perayaan mengenang kelahiran Yesus pada 25 Desember, lebih dari itu, kita diajak untuk merenungi arti penantian atas kedatangan Tuhan yang kedua di Hari Kiamat kelak.

    Beberapa hari lalu aku mendengarkan podcast dari Bishop Robert Barron, Uskup di Keuskupan Winona-Rochester Amerika Serikat yang akhir-akhir ini kotbahnya selalu kudengarkan setiap pagi. Dalam kotbahnya terkait Masa Advent, Uskup Barron menyampaikan satu hal yang sangat mengena bagiku; hidup di dunia ini bagai melewatkan malam kelam di hotel yang buruk (bad night at a bad hotel).

    Aku pernah suatu waktu dulu, di tahun 2001, dari Jogja hendak pergi mengikuti retret di Pertapaan Ngadireso, Tumpang, Malang, Jawa Timur. Karena salah perkiraan, harusnya sampai di Surabaya jam 6 pagi tapi karena supirnya ngebut dan jalanan sepi, jam tiga pagi aku sudah sampai di Surabaya. Karena tak terlalu paham Surabaya, daripada ambil resiko, aku kemudian menginap di hotel ‘mesum’ yang letaknya tak jauh dari Terminal Bungurasih. Jangan berpikir aku mencari hotel itu untuk berbuat mesum tapi karena waktu itu, hotel terdekat dari terminal ya cuma satu itu! Mungkin ada yang lain tapi lagi-lagi karena aku gak berani ambil resiko, ya udah di situ aja!

    Hotelnya murah tapi tidak meriah. 

    Lantainya kotor, tak ada AC, kamar mandinya amis, kasurnya bau…. ya bau gitu deh, tapi yang paling kuingat sampai sekarang, di dinding kamar ada banyak coretan dan ada cap bibir wanita lengkap dengan gincunya! Waktu itu kupikir cap bibir palsu tapi pas kusentuh ternyata bener-bener gincu! (Jangan tanya “Ngapain kamu sentuh?” Akupun tak tahu kenapa dulu ingin menyentuhnya hahaha!)

    Inginku keluar lagi dari kamar dan checkout saat pertama kali masuk ke dalamnya!

    Tapi matahari belum muncul dan kalau aku pergi dari situ, gimana kalau ada orang jahat yang hendak mencelakai atau merampas barang milikku?

    Aku tak punya pilihan. Pintu kamar kukunci, korden kututup rapat-rapat. Aku duduk di atas kasur lalu berpikir bahwa aku harus bisa kerasan di kamar itu. Kalau waktu itu udah ada social media, mungkin aku akan menghabiskan waktu untuk bikin konten atau upload instasory biar seru! Tapi karena belum ada, sambil menunggu fajar, aku membaca kitab suci yang kubawa meski gak satu ayat pun nyanthol di kepala! Ya karena capek, ngantuk, was-was dan nggak nyaman sama sekali!

    Beberapa jam kemudian, begitu terdengar suara Adzan Subuh, aku tak sabar lagi. Buru-buru kubuka korden dan ketika kulihat terang tanah, aku bersicepat keluar dari kamar, menyerahkan kunci ke penjaga lalu pergi begitu saja dengan hati yang riang gembira! Lupa gosok gigi, lupa cuci muka! Pokoknya cabut!

    Hidup itu ya seperti itu, setidaknya menurut Uskup Barron.

    Waktu hidup kita di dunia ini adalah “bad night” dan tempat kita hidup di dunia ini adalah “bad hotel” dan sayangnya kita tak punya pilihan lain. Sambil menunggu kita keluar dari dunia ini, kita harus bisa kerasan. Terhadap sesama penginap lain kita dituntut harus berbuat baik meski di hotel dan malam yang tak baik. Sepanjang malam kita diajak untuk terus berharap bahwa gak lama lagi akan terang tanah dan ketika itu kita bisa pergi dari sini. Pun kita harus memastikan semua pintu terkunci supaya supaya kuasa jahat yang mengintai sepanjang malam hendak memperdaya tak bisa masuk, tak boleh menyelinap!

    Tapi sebaik-baiknya analogi yang dibangun Uskup Barron, ada satu yang tak sama antara yang menjadi analogi dan yang dianalogikan. Dalam soal hotel, kita tahu jam berapa matahari akan terbit sehingga kita paham kapan harus checkout. Dalam hal hidup, kita nggak tahu kapan waktu Tuhan itu datang sehingga kita bisa meninggalkan semua kefanaan ini. Tapi tak mengapa! Bukankah justru dalam ketidaktahuan itulah, kita semakin diajak untuk merenungi makna penantian. Kita diajak untuk tetap menyalakan iman!

  • Alam bisa marah?

    Alam bisa marah?

    Ketika terjadi sebuah fenomena alam yang berakibat buruk bagi manusia, banyak orang berkomentar, “Alam sedang marah!” 

    Apa definisi pasti dari keadaan itu? Keadaan bahwa alam marah? Emangnya kamu pernah ngajak ngobrol dia dan mancing supaya curhat lalu kamu tau bahwa dia sedang marah?

    Kalau istri marah dan kamu tahu, aku percaya lha wong itu istrimu! Kalau bosmu marah dan kamu gak tahu, ya kamu bodoh! Tapi kalau alam marah, dan kamu tahu dan paham, apa penandanya? Apa kuasamu dan sebesar apa itu sehingga bisa tahu bahwa alam sedang marah?

    Bukannya aku tak percaya alam bisa marah, tapi sampai ada clue yang bisa memberikan sesuatu yang nalar tentang itu, aku lebih percaya pada anggapan bahwa alam ini tak berhenti bergerak, terus berproses sejak awal mula diciptakan hingga nanti ia dilenyapkan.

    Perkara fenomena pergerakan dan proses itu kemudian membuat kita yang marah, senang, bingung ataupun bangga, itu beda perkara!

    Kita marah karena fenomena alam yang terjadi!
    Marah karena benih padi yang kita tanam ternyata gagal untuk dipanen karena gak cukup hujan!

    Marah karena tadi pagi kita lupa bawa jas hujan, pun aplikasi prakiraan cuaca di gadget gak bilang kalau sorenya hujan tapi kok malah basah gini?!

    Marah karena diam-diam kayu glondongan yang udah disiapkan untuk dicolong ketahuan gara-gara hanyut tersapu banjir.

    Kita juga bisa sedih karena fenomena alam yang terjadi.
    Sedih karena banyak korban jiwa meninggal dunia.

    Sedih karena gajah, harimau dan banyak binatang liar lain termasuk ternak warga mati.

    Sedih karena utang  negara belum terbayar tapi jembatan, jalan aspal semua rusak terbawa banjir!

    Sedih karena kita ada yang belum lama ini mencibir deforestasi dan dengan pilonnya menganggap kelapa sawit dengan tanaman hutan lainnya!

    Tapi di sisi lain, fenomana alam membuat kita terpompa, termotivasi!

    Termotivasi untuk hidup lebih bersahabat dengan alam, meski malam tadi mungkin masih buang softex dan kondom di lubang WC!

    Termotivasi untuk peduli pada geografi bahwa “Oh! Ternyata Indonesia itu gak cuma Jawa! Ada pulau namanya Sumatera dan sekarang sedang terdampak banjir bandang besar!”

    Termotivasi untuk mengumpulkan dana, warga bantu warga dan berkompetisi adu cepat dengan negara yang lelet kayak ingus yang mencoba melawan gaya gravitasi bumi!

    Dan… bagi segelintir cecunguk yang nama politisi, fenomena alam membuat mereka termotivasi untuk melakukan pencitraan demi suara di pemilihan yang akan datang.

    Jadi, alam bisa marah?
    Kalau Alam yang nyanyi lagu “Mbah Dukun” itu ya bisa! Itupun yang bisa tahu kapan dia marah atau enggak mungkin orang terdekatnya termasuk Vety Vera, kakaknya. Tapi kalau alam semesta? Ya bisa juga tapi bukankah kita ini terlalu kerdil nan kecil untuk bisa mengetahui bahkan tanda-tanda terkecil dari kemarahan itu!

    Turut mendoa bagi para korban di Pulau Sumatera!

  • “Halo, L!”

    “Halo, L!”

    L adalah adik kelas dua tingkat. Kami bersama sejak SD. Aku sebenarnya tak kenal dia waktu di SD, lebih mengenal keluarganya karena Mamanya adalah kawan dekat Mamaku, adikku kawan dekat adik bungsunya. Waktu kami masih tinggal di Jl Bengawan, Kauman, Mama sering menghabiskan waktu di rumahnya setelah menjemput Chitra, adikku.

    Selepas SD, ia sekolah di SMP 3 Kebumen, bertetangga dengan sekolahku, SMP 1. 

    Kami bertemu praktis hanya setiap Jumat, selepas sekolah. Pada saat itu, anak-anak kristiani dari semua kelas dari dua sekolah itu dikumpulkan di SMP 1 untuk mengikuti pelajaran agama selama 45 menit.

    Di situlah aku mulai melihatnya lebih dekat dan aku melukiskan momentum ‘kesadaran’ itu selayaknya seorang yang mendayung biduk menyusuri danau berkabut pada dinihari nan gelap. Lalu ketika matari meninggi dan kabut lenyap, baru pada saat itu si pendayung sadar bahwa alam sekitarnya begitu indah. Setelah sekian lama tak mengindahkannya, di momentum pertemuanku dengan L siang itu, aku baru bisa melihat bahwa dia adalah seorang anak gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mbangir.

    Matanya lebar bak bintang kejora dan alisnya menggantung bagai payung yang menaunginya. Bibirnya tipis, memerah. Rambutnya panjang sedada, dikepang dua. Pun badannya kurus dan menjulang, sama sepertiku, melebihi rata-rata anak di sekelilingku dan sekelilingnya.

    Pada awalnya kami masih malu-malu. Hanya curi-curi pandang dan begitu sepasang mata tertangkap basah oleh sepasang yang lain, kami saling melengos bersicepat seolah kami tak pernah saling tatap!

    Tapi aku lantas memberanikan diri untuk mendekatinya; mengambil jalan malu-malu! Aneh, bukan? Berani tapi malu? 

    Aku menulis pesan singkat “Hallo, L!” di secarik kertas lalu kuberikan kepada teman yang selalu duduk sebangku dengannya, sesama anak SMP 3. Dari jauh aku mengamati bagaimana ia membuka dan membaca tulisanku. Kulihat ia tersenyum, mencari dimana aku duduk lalu bersicepat menutup mulutnya seolah senyumannya tak boleh kupandang sebutir pun!

    Pertanda baik? Jelas!

    Setelah beberapa kertas terkirim dalam beberapa minggu, aku memutuskan untuk membuat movement yang cukup berani untuk ukuranku yang pemalu.

    Dalam sebuah siaran di Radio Bimasakti yang memungkian interaksi dengan pendengar, aku buru-buru menelpon penyiar dan mengirimkan lagu untuknya. “Untuk seseorang di Gang Serayu! Sampai ketemu Jumat depan ya!”

    Untuk memastikan bahwa ia mendengar, sebelumnya aku suruh adikku untuk mengabari adiknya meminta L supaya mendengarkan radio di jam yang sama!

    Tak lama kemudian aku membuat sebuah gerakan yang lebih berani lagi.

    Suatu sore, sepulang sekolah, aku cepat-cepat mengambil sepeda dan menunggu L keluar dari gerbang sekolah SMP 3. Begitu tampak batang hidungnya, aku menebar senyum. Ketika ia mendekat, aku menyapanya, “Halo, L!”

    Ia tersenyum lalu bertanya, “Halo, Don… Ada apa ya?”

    Aku memantapkan hati, “Hmmmm… aku boleh ngajak kamu makan di Bakso Kimo?” tanyaku.

    Ia diam.
    “Kamu suka bakso Kimo? Atau mau yang lain?” tanyaku lagi.

    Kebetulan waktu itu aku menang lomba kuis radio dan mendapatkan voucher makan gratis di Bakso Kimo. Memang hanya untuk satu orang tapi aku masih punya sisa uang rokok dari Mama yang bisa kupakai untuk menraktirnya. Aku bisa saja meminta uang Mama, tapi pada waktu itu, aku masih sangat malu untuk bicara tentang perasaan cintaku kepada lawan jenis.

    Ia mengangguk dan sore itu rasanya bagai disirami hujan bunga mawar sedemikian lebatnya di sekeliling aku dan dia!

    Jangan tanya bagaimana aku mempersiapkan diri menghadapi hari itu!

    Aku sanggup berpuasa rokok sejak malam sebelumnya supaya mulutku tak bau! Aku menyiapkan poloshirt merk Country Fiesta (CF) warna biru muda yang dibelikan Papa di Toko Djakarta bulan lalu. Aku mengenakan celana pendek cokelat khaki dan memasang setut di pinggangku. Dan untuk sepatu, aku memilih Nike warna abu-abu. Sepatu yang jarang kupakai karena saking sayangnya; dibelikan Papa di Jogja dan tak bisa ditemukan di Kebumen kecuali di lapak-lapak pasar yang sudah barang tentu palsu karena belum disahkan Roy Suryo dan Rismon waktu itu!

    Mama sempat bertanya kenapa aku tampil beda sore itu? “Arep neng endi, Le, kok necis men?”

    Aku bukan anak yang bodoh. Tentu sudah menyiapkan jawaban sejak lama untuk mengelabuinya, “Mama-e Hendy ngundang kanca-kanca untuk syukuran, Ma…” Hendy adalah teman dekatku, anak pemilik Toko Remaja. (Sorry, Hen! Sorry Tante! Hahaha!)

    Mengendarai sepeda, kami janjian bertemu di sudut alun-alun kota. Di depan telepon umum berseberangan dengan SMA N 1 Kebumen aku menyandarkan sepeda menghadap ke arah barat, arah dimana L harusnya muncul karena rumahnya ada di sana.

    Setelah sekitar lima belas menit menunggu, L menampakkan dirinya mengendarai sepeda jengki warna hijau tua. Dari jauh kulihat ia mempercepat ayunan sepedanya dan senyumnya tersimpul malu-malu. Aku masih ingat betul yang ia kenakan sore itu. Rok warna merah panjang model tali dengan dasaran kemeja putih berkerah lebar. Sepatunya kulit hitam berkaos kaki putih. Rambutnya dikepang dua, berpita merah juga. Klasik. Formal.

    Kami lalu bersepeda beriringan. Tanpa kata. Tanpa suara. 

    Sesampainya di warung Bakso Kimo, aku segera memesan, “Pak. Bakso loro ya…”

    “Kamu mau minum apa?” tanyaku dan itu adalah kata pertama sore itu setelah sebelumnya kami hanya menyapa, “Halo?!” waktu pertama bertemu tadi!

    Dengan malu-malu, ia bilang “Es teh boleh…” 

    Kami duduk. Tak saling berhadapan. Sebelah-menyebelah. Berjarak. Tak terlalu jauh dan kadang kudekatkan dengan alasan ingin mengambil saos dan sambal yang sengaja kuletakkan di depannya. Setiap sentuhan yang tak disengaja (meski kuharapkan) ada desiran yang begitu kuat kurasakan menjalari sekujur tubuh!

    Tak banyak kata yang kami ucapkan. Hanya degup jantung yang saling beradu. Kami berbincang soal kebiasaan sekolah kami masing-masing. Kami bicara tentang adik kami masing-masing termasuk ajakanku untuk bertemu di kesempatan berikutnya, “Sabtu ini ke Gereja jam berapa bareng keluargamu? Ketemuan yuk!”

    Satu jam usia pertemuan kami sore itu. Kami berpisah jalan di depan Bakso Kimo. 

    Sesampainya di rumah, ketika menyalakan radio hendak mengirim pesan, begitu terkejutnya aku mendengar L lebih dulu mengirimkan salam buatku. “Buat seseorang di Jl Kaswari. Makasi traktiran baksonya tadi ya…”

    Sekonyong-konyong, sekelilingku berubah menjadi taman bunga yang mekar nan indah. Langitnya berwarna merah muda, tanahnya putih berkilau bak sutera.

    Aku mabuk kepayang!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • BOTOL dan alasanku pindah ke Jogja

    BOTOL dan alasanku pindah ke Jogja

    Sebenarnya aku belum ingin pindah ke Jogja!
    Bagiku masih terlalu pagi. Baru juga lulus SMP, masih ingin tinggal di rumah lebih lama bersama Papa, Mama dan Chitra. Sudah juga punya rencana untuk melanjutkan studi di SMA 1 Kebumen, kebetulan juga waktu itu lagi cukup serius PDKT dengan cewek, adik kelas dua tingkat yang secara hitungan bisalah jadian! Baru deh nanti kalau sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah baru mikir mau ke Jogja atau mungkin kota lainnya.

    Lalu apa yang membuatku akhirnya bertekad bulat untuk pindah ke Jogja? Ada beberapa alasan tapi yang paling mengemuka diantaranya adalah karena “BOTOL”

    Botol? Ya! Botol!
    Jadi suatu sore, Mama memintaku membeli ayam goreng di rumah makan yang letaknya di sebelah Toko Varia.  Ketika hendak menaiki sepeda untuk kembali ke rumah, sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di teras rumah makan itu memanggilku, “Tol! Botol! Tol! Botol”

    Awalnya aku tak menanggapi karena memang aku tak pernah mendengar istilah itu sebelumnya ditujukan kepadaku. Tapi akhirnya aku sadar karena tak ada orang lain yang ada di sebelahku jadi “Botol” itu pasti untukku.

    Sesampainya di rumah aku menyampaikan ini kepada Papa dan Mama. Sama sepertiku, mereka pun bingung kenapa aku dipanggil Botol?

    Aku memang dikaruniai ukuran kepala yang besar dan jidat lebar. Dua hal itu selalu jadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingku sejak kecil. Jadi kalau cuma dibully dengan dipanggil Nonong, Jenong, Bathuk, Buthak, Cunong, Profesor udah kebal, udah biasa. 

    Tapi ini Botol? Kenapa botol?
    Apa karena bentukku seperti botol? Tidak juga sepertinya. Yang ada justru dulu pernah dibully “Jerangkong” alias tulang-belulang karena aku kurus betul. 

    Tapi Botol?
    “Mungkin karena kacamatamu tebel kayak pantat botol, Le!” ujar Mama menenangkan mencoba menutup rasa penasaranku yang masih terbuka lebar.

    Anehnya lagi, tak lama sesudah itu, banyak anak di sekolah memanggilku dengan panggilan sama: botol. Tol! Botol!

    Karena penasaran, dengan polos aku lantas bertanya kepada salah satu kawanku. “Kenapa ya aku sekarang lebih banyak dipanggil botol?”

    Kawan tadi tertawa terbahak-bahak “Hahahah! Masa kamu gak tau sih, Tol? Botol! BOTAK DAN TOLOL! Hahahaha.. Tol! Botol!” Ia berjalan keluar kelas dengan riang gembira seperti orang yang lega habis boker besar!

    Aku terdiam.
    Kali ini benar-benar aku ‘kena’.
    Aku dikatain botak tidak masalah. Meski kuanggap kurang tepat karena aku tidak botak melainkan bathuk (jidat) yang lebar.

    Tapi TOLOL? Ini adalah penghinaan yang bagiku luar biasa!

    Hingga sekarang, saat tulisan ini kurawi, menjadi bodoh adalah momok yang luar biasa menakutkan. Aku adalah orang yang merasa harus selalu punya pemikiran yang tajam karena hanya dengan itu aku bisa mengambil keputusan-keputusan hidup terbaik. Oleh karenanya sejak kecil hingga kini aku selalu mengambil banyak waktu dan kesempatan untuk belajar melalui membaca dan mengobservasi apa saja supaya tetap brilian. Papa dan Mama berkali-kali-kali menekankan kepadaku bahwa karena aku bukan anak orang kaya; maka intelektualitas termasuk di dalamnya kecerdasan, moral dan etika adalah modal utamaku untuk hidup di dunia.

    Maka dibilang TOLOL adalah sebuah penghinaan yang tak hanya ditujukan kepadaku tapi juga kedua orang tuaku. Aku tak bisa menganggap hinaan itu sambil lalu! Tapi untuk melawan, waktu itu  aku takut karena aku memang tak sepemberani mereka yang memanggilku Tol! Botol! itu.

    Aku lalu memutuskan untuk mengambil jarak.  Pelan-pelan menarik diri dari garis peredaran selama ini, memilih mengurung diri di rumah mempersiapkan EBTANAS dengan lebih sungguh atau sesekali berkumpul dengan anak-anak yang masih mau memanggilku Donny … atau dipanggil yang lain pun gak masalah asal bukan Tol! Botol!

    Di titik itu aku sadar harus meringkus rencana-rencana indahku yang kuutarakan di atas lalu memilih untuk mengambil kesempatan yang pernah ditawarkan Papa dan Mama untuk pindah ke Jogja.

    Melarikan diri? Lebih tepatnya menyelamatkan masa mudaku! Aku tak mau menyerahkan masa mudaku dalam bully yang tak selayaknya kuterima. Aku memilih menjalankan naluriku sebagai manusia, pindah ke tempat yang lebih baik.

    Sejak saat itu hari demi hari yang kulewati kuhitung secara seksama. Aku semakin tak sabar untuk mengakhiri semua dan pindah menuju dunia baru: Jogja!

    Catatan:

    Setelah pindah ke Jogja, aku sama sekali tidak berinteraksi dengan kawan-kawan lama kecuali mereka yang sudah pindah ke Jogja sejak SMP. Bahkan ketika mereka pun sudah pindah ke Jogja untuk kuliah sementara keluargaku masih tinggal di Jogja, tak sekalipun aku berusaha untuk kembali berhubungan. Tapi aku sadar, semua yang ada di muka bumi ini ada masa dan kadaluwarsanya termasuk luka batin. Perlahan ia menyembuh melalui interaksi lewat media sosial dan whatsapp group dan akhirnya di awal Januari 2025 yang lalu, tiga puluh dua tahun sesudah aku menarik diri, ketika sedang berlibur ke Indonesia, aku menemui kawan-kawan lama dalam reuni yang singkat tapi indah di Jogja… Di titik itu, tak ada lagi luka, yang ada tinggal kasih, kasih yang menyembuhkannya.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Nyolong Triplek

    Nyolong Triplek

    Aku tahu kapan orang tuaku marah dalam taraf biasa dan kapan marah banget. Selain waktu ketahuan nonton bokep, ada satu peristiwa lain yang kutangkap dalam ingatan ketika mereka marah banget kepadaku, hal ini yang hendak kuceritakan di sini.

    Menjelang akhir kelulusan, guru yang mengampu beberapa mata pelajaran yang tidak termasuk dalam EBTANAS memberi kami tugas akhir yang meski tidak setara dengan nilai EBTANAS tapi apapun hasilnya akan termaktub dalam ijazah SMP kami nantinya.

    Guru mata pelajaran Ketrampilan (kalau tidak salah ingat, itu nama mata pelajarannya) memberi kami tugas untuk membuat sebuah lukisan tiga dimensi di atas triplek. Jadi intinya, setelah selesai melukis, kami diminta untuk mencungkil bagian-bagian tertentu di permukaan triplek untuk memberi kesan bahwa lukisan itu tidak dua dimensi karena ada bagian yang timbul dan tenggelam.

    Entah setan dari mana yang hinggap, aku kemudian punya ide untuk mencuri triplek yang dipakai pada rak penyimpanan tas yang ada di depan ruang BP/BK.

    Sepulang sekolah, saat benar-benar sudah sepi, aku mengambil begitu saja lalu meringkusnya pulang.

    Tapi entah malaikat dari mana pula yang lantas membuat guru BP waktu itu, Bu T, tahu bahwa aku mencuri triplek! Padahal, jaman dulu CCTV belum semasyarakat sekarang jadi tak mungkin sekolahku punya satu, pun suasana sudah kupastikan sepi makanya aku berani nyolong!

    Aku dipanggil di Ruang BP dan dengan wajah yang penuh senyum tapi tajam mata bagai tusukan belati, Bu T ngendika, “Donny, tolong kembalikan tripleknya ya?”

    Aku gelagapan.
    Dan ini bukan hanya soal kembali-mengembalikan saja. Lebih dari itu, Bu T memintaku untuk matur ke kedua orang tua dan mereka harus datang ke sekolah membawa surat pernyataan bahwa mereka tahu anaknya mencuri. 

    Dan yang namanya penyesalan datang belakangan karena kalau duluan itu namanya registrasi, bukan?!

    Awalnya aku mencoba untuk tidak mengabarkan hal ini kepada kedua orangtuaku. Tapi aku paham kalau tidak menyelesaikan masalah ini, aku terancam tidak lulus dan rencana-rencana baik untuk pindah ke Jogja untuk melanjutkan studi SMA bisa buyar seketika. Aku benar-benar ketakutan bahwa kedua orang tuaku akan marah besar. Tak hanya karena anaknya ketahuan maling tapi lebih dari itu, ada sebuah peristiwa besar yang masih menjadi trauma terkait dengan pencurian.

    Peristiwanya terjadi sekitar dua tahun sebelumnya.

    Aku sengaja tak menuliskannya sebagai sebuah cerita tersendiri dalam serial “Tentang Kebumen” ini karena terlalu riskan. Meski kedua orang tuaku sudah meninggal dunia tapi orang yang hendak kuceritakan ini masih hidup. Bukan pula soal hidup-mati seseorang tapi dia adalah saudaraku sendiri!

    Dengan details yang tidak akan kupaparkan di sini, yang hendak kusampaikan sesingkat bahwa salah satu saudaraku yang tinggal bersama kami tertangkap basah mencuri barang milik tetangga. Sebenarnya tentang ia yang doyan mencuri, itu cerita lama. Sejak ia tinggal bersama kami, ada banyak kehilangan-kehilangan kecil dan besar yang terjadi. Mulai dari uang seribu perak sampai jam tangan Mama yang raib. Beberapa diakui, beberapa disanggahnya. Cerdik memang. Licin tepatnya!

    Tapi kejadian pencurian barang milik tetangga itu menjadi gongnya. Suatu siang, rumah kami diketok pintu oleh seorang yang kukenal adalah teman saudaraku tadi. Dengan gelagapan dan suara bergetar, ia lapor kepada Mama bahwa saudaraku ada di kelurahan, diamankan!

    Aku tak ikut menyertai Mama waktu itu, tapi dari apa yang diceritakannya, dengan nada bergetar juga kepadaku, saudaraku tadi benar-benar tertangkap basah, maksudnya, tertangkap sedang nyolong dan akhirnya dibikin basah oleh darah. Ia dihajar bahkan hampir dilinggis kepalanya. Beruntung ia diselamatkan seseorang dan dilarikan ke kantor kelurahan. 

    Masalah bisa diselesaikan dalam sekejap dengan bantuan pelumas bernama uang. Tapi trauma tidak sesingkat itu menguapnya.

    Papa dan Mama jadi sangat benci dengan tindakan pencurian. Hampir setiap hari Mama selalu menyampaikan hal tersebut kepadaku dan Chitra, adikku. Itu pula yang membuatnya memberiku ijin untuk merokok bahkan memberiku uang jatah rokok harian. Kenapa? Bukan karena ia mau anaknya merokok, tapi ia tak mau anaknya nekat mencuri uang hanya untuk membeli rokok!

    Tenggat waktu untuk menyampaikan kabar ke Mama dan papa menyempit. Pilihannya benar-benar tinggal dua, kalau tidak besok meminta Papa dan Mama datang untuk menyerahkan surat ke Bu T atau aku tak lulus dan harus menunggu setahun berikutnya untuk punya mimpi sekolah di Jogja atau mungkin tidak jadi sama sekali!

    Sore itu, saat Papa pulang kantor, di ruang tengah rumah aku menceritakan semuanya.

    Tak perlu! Kalian tak perlu tahu bagaimana reaksi mereka waktu itu. Papa dan Mama tak pernah main tangan kepadaku. Seumur hidup aku jadi anaknya, tak sekalipun gamparan pernah mendarat ke wajahku. Tapi, kata-kata yang ditujukan itu bak mitraliyur yang trilyunan lebih menyakitkannya daripada tendangan sekalipun!

    Semua berakhir dengan air mata.
    Aku menyesal telah mencuri. Mama dan Papa sedih karena anak yang ia bangga-banggakan melakukan hal yang paling mereka laknat selama ini.

    Hari itu aku berjanji untuk tidak akan jadi maling lagi! Janji yang kupegang hingga kini hingga nanti…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Dipaido

    Dipaido

    Salah satu kondisi yang paling menyesakkan sebagai manusia adalah ketika ia tak lagi dipercaya oleh sesamanya karena apa yang pernah diperbuat di masa lalunya.  Ada istilah Jawa yang unik untuk menyampaikan hal ini, dipaido.

    Misalnya, ada seorang yang baru seminggu jatuh dari sepeda motor. Orang itu bisa jadi akan dipaido ketika menawarkan diri untuk memboncengkan seorang yang lain. Kenapa? Takut nanti mengalami kecelakaan lagi seperti yang ia baru alami minggu sebelumnya.

    Seorang lain yang baru saja mendapatkan peringatan dari atasan karena kerja terlalu lambat. Bisa jadi ia akan dipaido ketika bilang ke teman lainnya bahwa laporan yang ia kerjakan akan tuntas sore nanti. Kenapa? Ya yang kemarin aja lelet, masa sekarang tiba-tiba cepet?

    Hari-hari ini, sepertinya semakin banyak orang mem-paido Mulyono tentang ijazahnya. (Dalam EYD, “p” harusnya luluh ketika mendapat awalan “me” menjadi “memaido.” Tapi demi untuk menampilkan “paido” sebagai topik, ijinkan aku menerabas aturan itu dan membuat “p” jadi tidak luluh, mem-paido, ya!)

    Dan gelombang mem-paido-kan dia itu semakin lama semakin besar saja.  

    Dulu ia dipaido karena dianggap sebagai orang ndeso, orang yang tak cakap, orang yang tak punya bleger atau potongan sebagai pemimpin. Sekarang yang mem-paido Mulyono bukan lagi tentang impresi-impresi itu tapi tentang sesuatu yang semakin tampak nyata karena banyak jejak masa lalu yang dianggap ‘nggak banget!’ dan… paido-able.

    Mulai dari perkara ‘Sudah tapi belum!’

    Dari Wooshh hingga ke kisah investor IKN yang datang berbondong-bondong tapi nyatanya zonk!

    Sejak soal Esmeka hingga bermuara dan memuncak di Paman MK!

    Aku dulu juga seperti Mulyono, sering dipaido. 
    Badanku ceking! Aku dipaido bisa mengangkat yang berat-berat. Mereka yang mem-paido itu lupa, aku punya otak yang gemuk yang bisa menelurkan ide untuk merayu orang supaya mengangkat barang-barang itu tadi untukku.

    Aku juga dipaido bisa bakal punya pacar karena jidatku lebar, badanku ceking dan rambutku merah jagung. Tapi mereka lupa dengan keadaan dirinya sendiri yang seperti apa! Eh pas giliran punya pacar dan beberapa pacar juga gebetan sebelum-sebelumnya, aku dipaido bakal bisa setia! Ya udah aku cuekin saja! Untuk apa menanggapi kepaidoan mereka terhadapku karena yang paling penting adalah tetap mencinta! Karena di dalam “tetap mencinta” akhirnya jatuh juga pada setia!

    Soal Si Mulyono itu aku gak tahu harus bagaimana memberinya saran untuk lepas dari kepaidoan orang-orang terhadapnya.

    Kalau menurutnya cara terbaik adalah dengan meringkus lawan-lawan yang mem-paido-nya selama ini hingga ke pengadilan lalu ke bui dengan cara menunjukkan ijazah aslinya di muka hakim, ya silakan! Tapi aku kok justru mem-paido caranya itu karena meski hakim nanti menyatakan asli, meski nanti lawan-lawan itu dibui, apakah segala wujud paido-paido itu akan sirna begitu saja? Takutnya malah nanti hakim pun akan dipaido karena ia dianggap mematahkan ke-paido-an begitu banyak orang terhadap Mulyono!

    Mulyono (dan keluarganya) berada dalam kubangan kepaidoan yang tidak landai sama sekali!

    Bahkan kalaupun ia memutuskan untuk cuek,buang badan, seperti aku dulu yang nyuekin kepaidoan orang lain, barangkali cueknya pun akan dianggap sebagai sebuah kepaidoan yang baru! “Ah! Bohong itu! Dulu aja bilangnya mau pulang ke Solo untuk momong cucu, kan? Nyatanya momong partai!”

    Mungkin… mungkin satu-satunya jalan bagi Mulyono adalah bikin jenang abang lalu ganti nama! Dari Mulyono, ia bisa berganti jadi Joko Paidodo sambil diiringi doa supaya segala bentuk kepaidoan itu surut seperti matari di sore hari.

    Asal jangan surut usia dulu, Pak! 
    Kudoakan njenengan panjang umur karena sepertinya gelaran kepaidoan ini masih akan berjalan lama!

  • Tenaga Dalam

    Tenaga Dalam

    Sekira dua tahun setelah ikut beladiri Kempo, aku ingin sesuatu yang lebih. Benar! Kempo berhasil membuatku jadi lebih sedikit tidak penakut.  Kempo juga berhasil membuatku merasa orang lain segan terhadapku hanya gara-gara warna sabuk yang menggambarkan tingkatan. Tapi apakah sejatinya aku sudah benar-benar keluar dari sifat penakutku? Apakah aku sudah benar-benar bertransformasi jadi cowok sesuai dengan gambaran-gambaran yang kudapatkan dari sekelilingku? Jawabnya, belum!

    Dalam proses pencarian itu, aku bertemu pada satu muara menarik: ikut beladiri tenaga dalam!

    Sebenarnya dalam Kempo, kami dilarang untuk ikut cabang beladiri yang lain tapi uniknya, orang yang memberiku ide untuk ikut beladiri tenaga dalam justru adalah salah satu sempai (kakak tingkat) Kempo sendiri! Tentu kami bicara dan berencana dalam senyap supaya tak ada orang lain yang tahu dan mendengar.

    Dalam sebuah kesempatan tak lama kemudian, aku mengemukakan ide itu kepada Papa dan Mama.

    Mama lebih condong ke arah, “Untuk apa sih? Kamu bentar lagi udah lulus SMP! Katanya mau ke Jogja? Apa perlu ikutan ‘gitu-gitu’?” Tapi Papa mendukungku!  Seperti biasa, keputusan akhir ada di tanganku dan aku kemudian memutuskan untuk bergabung.

    Nama perkumpulan beladiri tenaga dalamnya tak perlu kusebutkan. Aku tak tahu apakah perkumpulan itu masih ada hingga kini tapi waktu itu namanya sedang naik daun di seantero kota. Konon, Sang Guru yang jadi pendiri adalah sempalan dari sebuah perkumpulan pencak silat terbesar di Kebumen. 

    Aku dan Sempai yang mengajakku untuk bergabung pun membuat janjian. Ia menjemputku menggunakan sepeda motor. Aku diberi sangu 25 ribu rupiah oleh Mama. Sebuah jumlah yang sudah sangat besar waktu itu tapi sejumlah itulah yang diminta untuk dijadikan biaya pendaftaran dan ‘pembukaan’. Pembukaan? Iya. Nanti aja, baca terus tulisan ini kalian akan tahu apa maksudnya.

    Lokasi padepokannya terletak cukup jauh dari rumahku. 

    Ia berada di sebelah utara kota, di jalan menuju arah Karang Sambung. Bangunannya adalah rumah desa kebanyakan dan berada tepat di sebelah saluran air irigasi.

    Ketika sampai di sana, banyak sepeda motor diparkir di halaman depan rumah sementara orang-orang banyak yang duduk di pelataran sambil merokok dan ngobrol entah tentang apa.

    Oleh Sempai, aku dibawa masuk ke ruang tamu yang tidak berperkakas selain gelaran tikar, beberapa asbak dan bungkus rokok, gelas dan botol air minum serta piring sisa kudapan. Di sekelilingnya ada orang-orang yang melakukan kegiatan sama dengan yang ada di luar, merokok dan ngobrol entah tentang apa.

    Tak lama kemudian, Si Sempai memanggilku untuk berdiri. “Don! Ini Mas ***** , pendiri dan guru padepokan.”

    Aku mengulurkan tangan kepadanya. Umur Sang Guru kutaksir sekitar 10-15 tahun di atasku. Perawakannya kurus, tak terlalu tinggi, sepipiku, mengenakan kopiah, kaos lengan panjang bertuliskan nama perkumpulan dan celana panjang lebar warna hitam. “Selamat datang, Mas! Nanti hubungi ke Mas yang berkumis itu untuk dibantu pendaftarannya ya…” Ia kemudian masuk ke ruangan lainnya yang dibatasi tirai.

    Aku kemudian bergeser ke “Mas berkumis” yang ditunjuk.

    “Ini formulirnya, tolong diisi lalu ditandatangani. Kamu ada KTP?” tanyanya. Aku menggeleng, umurku masih 15 tahun waktu itu!

    Segera setelah formulir kuisi dan kutandatangani, kusodorkan uang dua puluh lima ribu untuk pendaftaran dan ‘pembukaan’ tadi. Sabar, bentar lagi sampai di sana tentang apa itu ‘pembukaan’! Sabar!

    Aku kemudian diminta duduk. Baru kali itu aku punya kesempatan untuk mengamati orang-orang yang ada di sekitarku. Sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya, aku mulai melibatkan diri dalam percakapan mereka. Rata-rata umur yang ada di sana sekiranya usia anak-anak SMA. Ada juga yang ada di awal 20 tahunan sementara “Mas Berkumis” tadi, kutaksir umurnya sekitar 40 tahun, sedikit lebih tua dari Sang Guru, pantas kalau ia jadi semacam admin di padepokan tersebut.

    Sekitar lima belas menit menunggu, dari balik tirai, Sang Guru menampakkan wajahnya lalu memanggilku. “Sini, Mas… Masuk sini…”

    “Mas berkumis” ikut menyertaiku lalu menyerahkan formulir itu kepadanya. “Mas Donny ini non-muslim, Mas.”

    Sang Guru mengangguk lalu tersenyum kepadaku. “Mari masuk.”

    Di balik tirai itu adalah kamar tidur dengan tak banyak sinar matahari yang masuk.

    Sang Guru berdiri lalu memintaku duduk bersila di bawah.

    “Mas Donny akan ‘dibuka’ sekarang sehingga setelah ini sudah punya tenaga dalam yang bisa dipakai untuk membela diri. Santai saja, pokoknya fokus dan doa, nggih!” Aku mengangguk meski agak deg-degan juga.

    Ia tak secara spesifik memintaku untuk berdoa tertentu jadi secara spontan aku mengucap Salam Maria beberapa kali.

    Yang terjadi kemudian, Sang Guru merapal doa dalam bahasa yang tak kumengerti. Tak lama kemudian, kedua telapak tangannya ditempelkan ke kepalaku dan dengan bergetar, kedua ibu jarinya ditekan ke jidatku kuat-kuat.

    Kepalaku terasa begitu ringan waktu itu tapi tak lama kemudian berujung pada rasa pening yang bukannya luar biasa sakit tapi cukup terasa entah karena tekanan dua ibu jarinya atau yang lainnya…

    Sepuluh menit kemudian semua selesai. “Sampun! Sudah selesai!” Kami bersalaman lalu keluar.

    Orang-orang yang ada di ruangan serentak berdiri dan menyalamiku satu-per satu seraya memberi selamat. Di titik itu aku baru paham bahwa aku sudah dibuka dan sudah jadi anggota resmi dari padepokan itu.

    Sang Guru keluar lalu minta salah seorang dari yang hadir untuk menguji tenaga dalamku.

    Setelah piring, asbak, botol air minum beserta gelas disingkirkan, aku disuruh berdiri di ujung ruangan lalu orang yang diminta tolong tadi ada di ujung yang satunya.

    “Mas Donny tenang saja, gak perlu bergerak, gak perlu panik pokoknya yakin kalau dia gak akan bisa menyentuh badannya Mas Donny.” Aku mengangguk, deg-degan pakai banget!

    Lalu sekonyong-konyong, orang yang ada di ujung satunya tadi meloncat ke arahku dalam gerakan seperti di film silat. Mukanya memerah, matanya melotot, bibirnya terbuka lebar seperti mengaum hendak menerkamku! Kakinya dipakai untuk membuat lonjakan sementara tangannya terbuka dan diarahkan menyorong kepadaku. Aku sempat ingin menghindar tapi beberapa detik kemudian, ketika aku belum sempat bereaksi, si penyerang itu terlempar hingga terjengkang ke lantai.

    Wow! Aku benar-benar takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti di film-film tapi ini nyata!

    Siang itu jadi momentum awal ketertarikanku pada yang namanya tenaga dalam. Apa yang kuceritakan di atas hanyalah awalannya saja karena dalam keikutsertaanku selama beberapa waktu kemudian, aku mendapatkan beberapa kemampuan lain yang sepertinya tak elok untuk kuceritakan di sini tapi yang pasti waktu itu membuatku merasa lebih percaya diri!

    Hampir setiap dua hari sekali aku ke padepokan mengendarai sepeda untuk nongkrong, merokok, ngobrol dengan sesama yang lain sambil menunggu Sang Guru untuk entah ikut ngobrol memberikan wejangannya atau tiba-tiba memberikan satu ilmu baru. Aku bisa berada di sana hingga sebelum adzan Maghrib dikumandangkan. Pun aku terlbat dalam kegiatan-kegiatan lainnya di padepokan itu. Setiap sebulan sekali ada pertemuan rutin untuk mendapatkan “isian-isian” baru, kadang ikut acara kungkum (berendam di dalam air)  tengah malam di Sungai Lukulo yang alirannya ada tak jauh dari padepokan.

    Ketika aku akhirnya pindah ke Jogja, Juli 1993, aku tak lagi sering ke sana.

    Di awal-awal kepindahan, aku selalu mengusahakan untuk datang ke padepokan pada sabtu sore sebelum jadwal pergi ke Gereja. Tapi lama kelamaan aku merasa tak punya waktu dan tak lagi mampir ke sana.

    Cerita ini kusudahi dengan mengingat apa yang terjadi beberapa bulan kemudian. Saat itu aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Pada suatu malam aku terjebak dalam sebuah keributan yang terjadi di asrama tempatku tinggal.

    Salah seorang kakak kelas mencekik, mendorong dan hampir saja memberiku bogem mentah yang cukup menyakitkan. 

    Sesampainya di kamar, seorang kawan bilang, “Untung lho kamu tadi gak digampar! Untung cuma didorong! Untung cuma dicekik!”

    Aku dengan jumawanya masih sanggup bilang, “Ya karena aku punya tenaga dalam. Dia gak akan bisa menggampar meski tetap bisa mendorong dan mencekikku!”

    Temanku naik pitam. “Asu! Dia itu gak gampar kamu karena dia kasihan sama kamu, Dul! Kalau tahu kamu komentar kayak gini, tadi aku dan temen-temen gak akan halangi dia untuk menghajar kamu!”

    Malam itu berlalu dengan sangat wagu…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Mengambil Keputusan

    Belajar Mengambil Keputusan

    Nilai terbaik yang kudapat dari kedua almarhum orang tuaku adalah kebebasan yang mereka berikan kepadaku untuk mengambil keputusan hidup dari yang kecil hingga besar. Mulai dari keputusan untuk membeli pakaian jenis apa hingga yang besar-besar seperti ketika hendak pindah ke Jogja tahun 1993, memutuskan untuk men-dropout-kan diri dari kampus karena bekerja pada 2000 dan tentu saja keputusan untuk pindah ke Sydney, Australia di tahun 2008.

    Dan yang kuceritakan berikut ini adalah sekelumit saja sebenarnya…

    Waktu itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP dan sedang sangat giat untuk menggeluti kegiatan beladiri Shorinji Kempo. Di satu sore ketika sedang berlatih, kakak tingkat (sempai) memberitahu bahwa aku terpilih untuk ikut sebuah kejuaraan daerah di Purwokerto di jalur embu beregu yunior (kerapian teknik dalam sebuah regu). Senangku bukan kepalang! Bisa terbayang bagaimana aku akan terlibat dalam persiapan yang ketat, rasa deg-degan ketika menjelang kejuaraan dan kalau menang… aku bakal dapat medali! Bisa kupasang di kamar atau kupamerkan ke kawan-kawanku di sekolah nantinya!

    Kukabarkanlah berita menyenangkan ini kepada Mama dan Papa dan mereka mendukungnya.

    Latihan insentif pun dimulai. Hampir setiap dua hari sekali aku datang ke gedung untuk berlatih bersama teman-teman yang masuk dalam regu.

    Hingga sekitar tiga minggu kemudian, di sebuah siang di sekolah, Bu H.S Marnani, guru seni musik, memanggilku ke ruang guru. Di sana sudah ada Nunik, teman duetku dalam bernyanyi beberapa waktu belakangan. “Donny dan Nunik. Kalian harus mempersiapkan diri untuk ikut lomba Porseni tiga bulan lagi.”

    Keikutsertaan kami di Porseni itu akan menjadi hal yang penting karena dari yang pertama itu akan jadi kesempatan terakhirku sebelum lulus SMP dan kalau aku bisa juara 1, 2 atau sesial-sialnya tiga, kami akan dikirim ke Porseni tingkat propinsi. “Dan kalau dari perkiraan saya, Nunik bisa juara satu dan Donny juara dua bisa dapet lah,” lanjut Bu Nani. Sainganku di kelompok pria memang sudah terpetakan. Dalam lomba yang diadakan setahun sebelumnya, aku kalah olehnya. Maka perkiraan yang dibikin Bu Nani bukannya tanpa alasan.

    Kami mulai digenjot untuk berlatih keras.
    Sepulang sekolah kami berlatih satu hingga dua jam setiap hari mempersiapkan dua lagu yang akan kubawakan, Budaya Kebanggaan Kita dan Irama Desa. Lagi-lagi hal menyenangkan ini kukabarkan kepada kedua orang tuaku dan mereka lagi-lagi mendukungku.

    Di hari-hari awal semuanya baik. 
    Latihan persiapan kejuaraan daerah Kempo dan latihan porseni bisa kuatur karena setiap pagi aku membawa perlengkapan beladiri ke sekolah, bekal makan selepas pulang dan latihan nyanyi sebelum akhirnya melanjutkan berlatih Kempo ke gedung latihan yang jaraknya tak terlampau jauh.

    Tapi lama-kelamaan hal itu ternyata berimbas juga utamanya di sisi persiapan untuk ke kejuaraan Kempo. Karena latihan bernyanyi kadang molor selesainya membuatku kadang datang terlambat latihan. Hingga akhirnya di sebuah sore aku mengajak Papa dan Mama bicara untuk membantu mencari jalan keluar. Mereka tak banyak berkomentar. Hanya memberikan beberapa masukan “Kamu bagus di nyanyi dan Kempo, terserah kamu mau bagaimana? Mau maju dua-duanya kalau bisa ya bagus, kalau tidak ya pilih salah satu saja!” 

    Dan akhirnya setelah merenung beberapa hari, aku memilih untuk menggugurkan rencana ikut dalam kejuaraan kempo. Aku memang suka Kempo tapi pada dasarnya kesukaanku itu lebih banyak didasarkan sebagai motif untuk kompensasi terhadap rasa takutku terhadap banyak hal. Ikut beladiri Kempo saja sudah cukup membuatku merasa keren dan tak tampak sebagai sosok penakut! Apalagi kalau sampai ikut kejuaraan dan juara, kan lebih asyik lagi? Sementara nyanyi dan musik itu berbeda. Tak perlu penjelasan lebih lanjut tentang ini, buktinya sampai saat tulisan ini kurawi, 32 tahun kemudian aku masih dan bahkan semakin aktif bernyanyi dan bermusik.

    Papa dan Mama, lagi-lagi mendukung keputusanku itu. Tak banyak yang disampaikan selain “Oh ya wes nek wes mbok pikir tenan…”

    Kabar segera kusampaikan kepada sempai dan tentu mereka kecewa sebagaimana sejatinya perasaanku. Saking kecewanya, salah satu sempai, Sutarman, datang ke rumah untuk berbicara dengan kedua orang tuaku mencoba membujuk supaya aku tetap berangkat ke Purwokerto. Tapi lagi-lagi, Papa dan Mama mendukung keputusanku, “Kami nurut Donny saja, Mas…”

    Sejak saat itu sampai tiga bulan kemudian aku fokus persiapan lomba menyanyi.

    Tapi sayang, apa yang diprediksikan Bu Nani ternyata tidak menjadi kenyataan. Nunik memang jadi  juara 1 tapi aku hanya menempati posisi juara harapan tiga yang berarti aku tak lolos klasifikasi menuju porseni tingkat provinsi.

    Kecewa? 
    Jelas! Sangat! 

    Gara-gara peristiwa itu aku mogok nyanyi hingga lebih dari delapan tahun! Aku baru bernyanyi lagi di tahun 2001 ketika aku mulai aktif dalam kegiatan musik di Gereja. 

    Pada saat itu, sempat berpikir Duh andai saja aku memilih ikut kejuaraan kempo barangkali akan menang! Dan kenyataannya memang demikian. Tim yang diajukan ke kejuaraan di Purwokerto mendapatkan medali emas.

    Tidak mudah untuk move on, tapi dari kejadian itu aku belajar tentang bagaimana mengambil dan mempertanggungjawabkan keputusan. Dari sana aku berlatih untuk mengambil keputusan lebih baik lagi dan selama hal itu kuambil dalam keadaan sadar dan setelah melalui proses berpikir, penyesalan bisa ditepis atau setidaknya dibikin sesedikit mungkin, seperti yang dibilang Frank Sinatra di magnum opusnya, My Way, “Regrets, I’ve had a few, but then again, too few to mention.”

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Dua Alasan Memilih Jadi Warga Negara Australia

    Dua Alasan Memilih Jadi Warga Negara Australia

    Hari ini genap tujuh belas tahun yang lalu aku pindah dan menetap ke Australia. Rasanya seperti baru kemarin berpamitan ke orang tua dan keluarga besar lalu masuk ke lambung pesawat bersama istri dan keesokan paginya sudah berada di Australia. 

    Dalam peringatan ke-17 ini ada yang sedikit berbeda. Semua bermula ketika aku posting foto paspor Australia di Instagram saat hendak berlibur ke Indonesia, akhir 2024 lalu.

    Beberapa orang lantas bertanya, “Loh kamu ternyata sudah bukan WNI lagi, Don?”

    Ya! Sejak beberapa tahun lalu aku memang sudah menjadi Warga Negara Australia. Memang tidak kuserbarluaskan tapi pun tidak kusembunyikan karena rasanya seluruh kerabat sudah tahu sejak lama. Kalau aku belum menyebarkan ke social media itu beda perkara karena aku punya batasan yang jelas tentang informasi mana yang bisa dan kapan untuk disebar dan mana yang tidak untuk dikonsumsi oleh publik sama sekali.

    Keputusan pindah kewarganegaraan itu sejatinya tidak ada kaitannya dengan perasaanku terhadap Indonesia. 

    Jadi salah kalau ada yang bilang bahwa aku jadi WNA karena sudah tidak lagi cinta bahkan kecewa terhadap Indonesia. Bahkan ada yang bilang aku kecewa pada Jokowi makanya aku jadi WNA. Hahahaha, sejak Jokowi belum mengecewakan pun sejatinya aku sudah bukan WNI lagi! 

    Sejak muda aku belajar ketika memilih satu pilihan, sebisa mungkin alasannya bukan karena aku benci pada pilihan yang lain karena kalau demikian, keputusanku tidak akan menjadi keputusan yang baik. Keputusanku akan tercampur aduk dengan rasa benci dan kecewa; dua hal yang yang tidak perlu ada dalam pengambilan keputusan yang besar, sebesar perpindahan status warga negara.

    Aku berpindah kewarganeraan karena aku melihat pilihan itulah yang terbaik bagiku dilihat dari dua alasan. Alasan praktis dan mekanis.

    Alasan Praktis

    Alasan praktisnya begini…
    Sejak aku memutuskan untuk hidup di sini dan tidak akan kembali menetap di Indonesia, maka semesta baruku ya Australia bukan Indonesia. Dari bangun sampai tidur, dari hari menjadi minggu, bulan lalu tahun, semua kuhabiskan di sini. Maka kalau aku kemudian masih mempertahankan status kewarganegaraan Indonesia, secara makna status itu sejatinya sudah kehilangan nilai kepraktisannya karena aku sudah tidak tinggal di Indonesia lagi.

    Kurang lebihnya sama kayak kalau kalian yang semula tinggal di Jogja lalu pindah ke Jakarta, apa gak terpikir untuk ganti KTP karena kamu sudah jadi penduduk Jakarta, bukan penduduk Jogja?

    Alasan Mekanis

    Alasan mekanisnya?
    Begini, memang hingga saat ini, seseorang masih bisa hidup di Australia tanpa harus jadi warga negara sejauh ia punya visa jenis apapun termasuk visa untuk permanent resident (PR). 

    Aku setuju tapi siapa yang bisa tahu hal itu akan berlangsung hingga kapan? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dari yang kuperhitungkan (namanya juga mekanis kan, jadi penuh perhitungan) keadaan geopolitik dunia sedang berubah. Jika keadaan geopolitik memburuk, yang terjadi biasanya akan ada banyak pengungsi mencari suaka ke tempat yang lebih baik. Australia biasanya jadi tempat tujuan.

    Nah, kalau semakin banyak pengungsi diijinkan masuk maka jumlah sumber daya alam yang harus dikonsumsi akan menyedikit. Contohnya? Air bersih. Tanah. Bahan makanan. Sementara itu, pelajaran yang bisa kita petik setidaknya lima tahun belakangan, perubahan iklim semakin memperburuk! Imbasnya nyata utamanya terkait ketersediaan sumber daya tersebut. Hujan tak lagi mudah diprediksi yang berarti cadangan air pun goyah mempengaruhi segalanya termasuk pola tanam-tanaman dan pengelolaan hewan ternak yang bisa dikonsumsi. 

    Tapi apa kaitannya semua itu dengan kewarganegaraan? 

    Barangkali, di titik tertentu pemerintah bisa jadi mengambil keputusan untuk tidak lagi menyamakan hak pendatang (berbagai macam bisa termasuk PR) dengan hak warga negara. Atau, dari sudut pandang yang lain, syarat untuk menjadi warga negara akan semakin dipersulit ketimbang sebelumnya. Nah untuk yang satu ini, perhitunganku sudah terbukti. Saat aku ujian menjadi warga negara dulu, mereka tak memintaku untuk ujian Bahasa Inggris, tapi saat tulisan ini kurawi (Oktober 2025), pemerintah Australia sudah memberlakukan syarat minimal dalam hal penguasaan Bahasa Inggris untuk menjadi warga negara menggunakan standard IELTS.

    Jadi itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk berganti kewarganegaraan.

    Bukan karena Indonesia-nya apalagi kalau ada yang menuduh aku sudah tidak cinta kepadanya.

    Kecintaanku pada Tanah Air memang tak bisa lagi diukur dari jenis paspor dan status kewarganegaraanku. Tapi setidaknya ketika kalian masih bisa membaca tulisan ini tanpa perlu alat penerjemah, anggaplah ini usahaku untuk tetap menyampaikan isi hati dalam bahasa yang kuhidupi sejak kecil, bahasa yang meniadakan lagi “aku” dan “kamu” apalagi “kalian”, bahasa yang meleburkan semua menjadi “kita”…

  • Satu Misa Banyak Romo. Untuk apa sih?

    Satu Misa Banyak Romo. Untuk apa sih?

    Dua hari lalu aku melihat di sosmed, sebuah rekaman video perayaan ekaristi di suatu tempat acara konvensi di Indonesia yang melibatkan begitu banyak imam. Bahkan tak hanya imam, para uskup juga dihadirkan di sana! Iya, para.. bukan cuma satu!

    Hal itu membuat pertanyaan lama yang mengendap di otak terusik muncul kembali ke permukaan; ngapain sih ngundang romo (bahkan uskup) banyak banget untuk satu perayaan ekaristi saja?

    Maka tumpahlah unek-unek ini. Melalui tulisan ini aku tak hendak menyalahkan tak pula membenarkan karena sebagai umat, apalah kuasaku. Maka anggaplah ini sebagai pendapat mana suka. Artinya kalau kalian suka ya silakan dipikirkan, kalau tidak pun tidak mengapa…

    Dua puluh tahun lalu saat masih tinggal di Indonesia, aku juga pernah mengadakan acara serupa. Waktu itu aku didapuk menjadi wakil ketua panitia pelaksanaan Konvensi Muda-Mudi Karismatik Katolik II di Yogyakarta. 

    Waktu itu ada tiga imam berasal dari luar Jogja serta satu imam dari Jogja yang kuundang ke acara. Imam yang dari Jogja adalah imam yang waktu itu menjabat sebagai moderator gerakan pembaharuan karismatik katolik. Ia datang hanya saat pembukaan saja untuk menyambut tiga imam lain dan para peserta. Sesudahnya beliau pulang.

    Tiga imam yang dari luar Jogja yang kuundang hadir tidak dalam kapasitas sebagai konselebrator misa saja. Kehadiran mereka “kami manfaatkan” untuk mengisi materi dan memberikan renungan selama tiga hari pelaksanaan (bahkan seingatku ada beberapa komunitas yang lantas mengajak mereka untuk hadir dalam acara-acara mereka beberapa hari kemudian!). Tiga imam, waktu itu rasanya sudah banyak sekali!

    Aku tak berprasangka buruk, tapi mari kita bertanya pada diri sendiri, ngapain sih ngundang romo dan uskup sampai sebanyak itu?

    Bukankah mengundang uskup dan imam dari berbagai daerah itu membutuhkan biaya yang tak sedikit? Ongkos transportasi, ongkos menginap dan apa iya mereka gak diberi sangu ketika pulang ke daerah masing-masing?

    Para panitia mungkin bisa bilang “Oh, dananya ada kok! Gak usah takut!”

    OK! Dananya ada?!
    Tapi apa ya perlu dana segitu hanya untuk mengundang mereka? Bukankah keberadaan dana itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang sifatnya sosial; semisal membiayai para peserta dari pelosok yang pengen datang tapi nggak mampu? Atau bukankah lebih baik misalnya dana kelebihannya dipakai untuk menyumbang mereka yang membutuhkan toh keadaan ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja? (Yuk yakinkan diriku bahwa kalian pun gak berpikir bahwa para imam dan uskup itu yang butuh kan?)

    Persoalan ini menurutku memang bukan ada dalam ranah “benar” atau “salah.” Tapi pada tatanan etika; Apa elok? Apa pantas?

    Toh mengundang para uskup dan romo dalam satu perayaan ekaristi itu tidak akan lantas membuat berkat dan kasih Tuhan jadi beda jumlahnya dibandingkan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh seorang romo saja kan?

    Diluar keterbatasan pengetahuanku terhadap hal-hal ritual, aku percaya roti dan anggur tetap diubah menjadi tubuh dan darah Kristus berapapun jumlah romo yang menjadi konselebrannya.

    Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua yang ingin tetap menjadi orang Katolik sesuai dengan yang diamanatkan oleh Sri Baginda Yesus sendiri. Kecuali.. kecuali kalau dengan mengundang para imam dan uskup hanya demi gengsi dan kebanggaan lalu derajat acara jadi naik dan banyak umat bisa selfa-selfi dengan mereka semua… itu beda perkara.

    Tapi, ah gak mungkin ah!
    Masa ada orang Katolik seperti itu sih? Kita semua ini kan pribadi yang rendah hati ya? 

    Eh, gitu gak sih?

  • Akhir Hidup MTV, Si Penanda Era

    Akhir Hidup MTV, Si Penanda Era

    Berita tentang bangkrutnya MTV (Music Television) membuatku sedih. Rasanya seperti kehilangan teman lama yang baru kemarin akrab!

    Dari berita yang kubaca di Euronews, alasan penutupan MTV ada dua.

    Pertama, pemotongan anggaran dari induk perusahaannya, Paramount Global. Kedua, hasil refleksi internal bahwa kebiasaan orang mengakses musik sekarang sudah berubah drastis. Mayoritas penikmat musik lebih memilih YouTube, Instagram, Spotify, Apple Music dan platform digital lainnya ketimbang menyalakan TV. Dua alasan yang sangat masuk akal. Dunia memang sedang berubah dari sisi keuangan. Dunia yang sebenarnya sudah cukup lama berubah dari sisi bagaimana orang berinteraksi dengan informasi.

    Sebagai anak yang tumbuh di era 90-an, MTV buatku lebih dari sekadar kanal televisi. Ia menjadi simbol sub-kultur yang mempengaruhi hidup banyak orang.

    Secara pribadi, seperti halnya majalah remaja HAI yang sudah menutup versi cetaknya, MTV punya peran besar dalam masa remaja lugu sampai dewasa muda.

    Aku mulai menikmati MTV sejak era Mike Kasem, VJ asal Amerika yang jadi salah satu punggawa awal di MTV Asia.
    Lalu hadir deretan VJ lokal: Sarah Sechan, Jamie Aditya, Daniel Mananta, Alex Abbad, hingga tentu saja Nadya Hutagalung, VJ dengan wajah ayu nan klasik, seklasik Dian Sastro.

    MTV, Musik yang tak hanya didengar tapi dipertontonkan

    Jasa terbesar MTV menurutku adalah keberhasilannya untuk mengubah image bahwa musik itu tidak hanya didengar tapi juga ditonton. Berkat MTV, para musisi dan pendukung produksi di industri musik dunia jadi paham bahwa sebagus-bagusnya musikmu, kalau videoklipnya nggak engaging ya bakal ditinggal. Mereka lalu berlomba-lomba membuat video klip yang menarik, sesuatu yang terus bertahan sampai kini seolah kalau udah rilis musik tapi belum ada videoklip itu ya seperti sayur tanpa garam!

    MTV dan Lifestyle

    Imbas dari video klip yang marak, orang banyak belajar dandan dari para musisi yang tampil juga para VJ yang hadir. 

    Misalnya dulu aku pernah ngebet banget pengen punya celana kargo cokelat karena nonton Natalie Imbruglia tampil keren di video musik Torn di MTV. Di waktu lain, aku juga pengin beli kemeja Hawai warna-warni gara-gara lihat Jamie Aditya tampil super santai dengan gaya itu waktu nge-VJ di MTV. Ya, MTV memang bukan cuma soal musik. Ia memengaruhi cara berpakaian, cara bergerak, bahkan cara berciuman! (Inget nggak adegan akhir Torn waktu Natalie dicium cowoknya? It was so hot to me back then!)

    MTV dan VJ

    Mungkin aku salah, tapi aku yakin MTV-lah yang pertama mempopulerkan istilah Video Jockey (VJ) — versi layar kaca dari DJ alias Disc Jockey.

    Dan itu revolusioner. Orang-orang seperti Mike Kasem, Sarah Sechan, Jamie Aditya, Nadya Hutagalung, Daniel Mananta, dan banyak lainnya, tidak diset sekadar untuk membawakan acara. Mereka adalah kurator musik, wajah yang menyaring video-video musik yang masuk ke MTV lalu menampilkannya. (Meski di belakang layar tentu ada tim yang berkontribusi dalam proses kurasi).

    VJ bukan cuma ngomong di depan kamera. Mereka memengaruhi banyak hal kepada para penonton. Berdandan, bergaya serta bicara khususnya dalam Bahasa Inggris.

    Di situ bedanya MTV dengan Channel [V], sesama music television yang berkantor pusat di Hong Kong dan sudah duluan meninggoy 2010an lalu. Kalau Channel [V] fokus ke video musiknya, MTV fokus ke experience-nya — dan para VJ adalah jantung dari pengalaman itu.

    MTV dan Tren Akustik

    Satu lagi hal besar dari MTV: mereka memperkenalkan dunia pada musik akustik lewat acara legendaris MTV Unplugged. Anchor pointnya tentu Nirvana, legend lah pokoknya! Tapi aku juga nggak pernah bosan nonton ulang sesi Pearl Jam, The Corrs, dan Eric Clapton. Efeknya tentu sampai ke Indonesia. ANTV langsung gercep bikin acara musik akustik lokal, yang kemudian memuat Dewa dan sudah barang tentu ikut melahirkan KLaKustik besutan KLa Project.

    Selamat Jalan, MTV! Beristirahatlah dalam damai!
    Seperti halnya HAI, bubarnya MTV makin meyakinkanku bahwa untuk segala sesuatu memang ada masanya. Nanti akan ada masa baru, media-media baru, dan kenangan-kenangan yang juga akan baru yang lahir dari sana. Mari terus melanjutkan hidup! 

    Life goes on, doesn’t it?

  • 17+8 Tuntutan Rakyat dan Pentingnya Aksesibilitas Desain

    17+8 Tuntutan Rakyat dan Pentingnya Aksesibilitas Desain

    Belakangan, linimasa media sosial Tanah Air ramai membicarakan 17+8 tuntutan rakyat terkait kisruh yang terjadi di akhir Agustus lalu. Tuntutan itu digagas oleh sejumlah pihak yang cukup vokal di dunia maya. Aku tak ingin membahas isinya. Lewat tulisan ini, aku ingin menyoroti hal yang lebih dekat dengan profesiku: aksesibilitas desain dalam brosur digital yang berisi tuntutan itu.

    Apa Itu Standar Aksesibilitas?

    Secara sederhana, standar aksesibilitas adalah seperangkat pedoman, aturan, atau prinsip yang memastikan produk termasuk brosur digital bisa digunakan oleh semua orang (inklusif)—termasuk mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan, pendengaran, kognitif, maupun motorik.

    Dalam konteks digital (website, aplikasi, dokumen), standar yang paling dikenal adalah WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) yang dirumuskan oleh W3C.

    Kenapa ini penting?
Karena pesan dalam brosur itu ditujukan untuk semua: rakyat maupun para pemimpin. Kalau desainnya tidak ramah aksesibilitas, bisa saja pesan tidak terbaca dengan jelas. Akibatnya, tuntutan tidak ditanggapi bukan karena isinya ditolak, melainkan karena secara visual tidak bisa diakses.

    Masalah Kontras Warna

    Salah satu prinsip paling mendasar dalam WCAG adalah rasio kontras warna antara teks dengan latar belakang. Standarnya adalah minimal 4.5:1 agar teks bisa dibaca dengan nyaman. Aku mencoba melakukan riset kecil-kecilan dengan mengambil contoh brosur tuntutan dari internet. Hasilnya:

    • #DD7BAE (pink) sebagai latar dan #03793D (hijau) sebagai teks hanya menghasilkan rasio 1.98:1.
    • Bahkan teks putih (#FFFFFF) di atas latar pink hanya menghasilkan rasio 2.79:1.

    Keduanya jauh dari standar. Akibatnya, sebagian orang akan kesulitan membaca pesan yang ada.

    Menghargai Simbol, Tanpa Mengorbankan Pesan

    Aku paham kenapa warna pink dan hijau dipilih.

    • Pink identik dengan hijab Bu Ana, sosok ibu yang berdiri berani di depan aparat.
    • Hijau adalah warna jaket ojol yang dikenakan almarhum Affan Kurniawan, korban yang gugur dalam peristiwa itu.

    Kedua warna ini sarat makna dan simbol perjuangan. Namun, dalam eksekusi desain, simbol seharusnya tidak mengorbankan keterbacaan pesan. Dengan sedikit penyesuaian—misalnya menambahkan outline, memilih kombinasi warna kontras, atau mengatur tata letak—simbol tetap terjaga, tapi pesan tetap sampai.

    Berikut adalah alternatif yang rasio kontras warna-warnanya masuk standard.

    Pesan Baik Perlu Cara Penyampaian yang Benar

    Dari sini ada pelajaran penting:
Pesan yang baik tidak cukup hanya benar, tapi juga harus disampaikan dengan cara yang benar. Kalau kita peduli pada rakyat, peduli pada pemimpin, peduli pada semua pihak yang harus membaca tuntutan ini, maka desain pun perlu inklusif. Jangan sampai aspirasi besar tenggelam hanya karena desain yang tak ramah aksesibilitas.
    Pada akhirnya, memperjuangkan kebenaran berarti juga memastikan pesan perjuangan itu bisa diakses oleh siapa saja.

  • Udah WNA Masih Boleh Peduli Pada Indonesia?

    Udah WNA Masih Boleh Peduli Pada Indonesia?

    Apakah orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri tapi sudah tidak lagi menjadi WNI masih berhak untuk peduli pada keadaan Tanah Air belakangan ini? Banyak teman di Australia dan tempat lain yang lahir-besar di Indonesia, tapi sudah bukan WNI lagi. Aku salah satunya.

    Mungkin banyak pertanyaan semisal

    Bukankah you udah jadi “orang asing”?

    Bukankah you udah nyaman tinggal di negeri orang?

    Ngapain ngurusin Indo?

    Gak takut dibilang antek aseng?

    Well…
    Ini bukan soal paspor. Ini bukan soal ngurusin atau campur tangan. Ini soal kepedulian.

    Peduli pada tanah tempat kami lahir. Peduli pada keluarga, kerabat dan teman yang masih hidup dan berjuang di sana. Dan.. ini yang paling penting. Kalau kita bisa peduli pada Palestina dan Ukraina, kenapa kita tidak boleh peduli pada Indonesia?

    Tentu, semua ada batasnya.

    Batasan ini sebenarnya berlaku untuk siapa saja, bukan hanya kami para WNA.

    Bahwa sebebas-bebasnya bicara, ada etika dan aturan yang harus diikuti.

    Bicara memang nyaris tak terbatas di negara tempat kami tinggal tapi adakah yang kami utarakan itu menyakiti perasaan orang lain? Adakah yang kami kemukakan itu justru membuat jatuh mental atau malah sebaliknya memotivasi orang untuk berbuat baik?

    Masih terkait aturan, peduli kepada Indonesia juga harus menaati aturan di negara tempat kita berada.

    Contoh sederhana, minggu lalu banyak yang minta aku mendatangi wakil rakyat yang katanya sedang ada di Sydney.

    Aku diminta untuk “berdemo” di depan mereka. Permintaan itu kutolak. Alasannya? Aku punya kewajiban untuk menghormati privasi orang lain siapapun dia termasuk para wakil rakyat yang sedang berkunjung itu. Kalau menurut mereka aku dirasa mengganggu, mereka bisa melaporkanku kepada yang berwajib dan aku bisa diproses menggunakan aturan di negara ini.

    Selain batasan ada juga niat. Apa niatan untuk peduli pada Indonesia?

    Jika niatnya adalah untuk menghancurkan legitimasi pemerintahan karena dendam politik, lupakan saja pedulimu itu! Tapi kalau niatmu lurus — untuk Indonesia yang lebih baik, untuk kesejahteraan rakyat yang tinggal di dalamnya, dan untuk kita yang bisa memandang dari jauh dengan bangga—maka peduli itu sah.

    Karena pada akhirnya, apapun kewarganegaraannya, kita ini sama-sama manusia. Sama-sama warga bumi. Dan bumi ini harusnya jadi tempat tinggal yang asik, adil, dan damai untuk siapa saja.

    Aku. Kamu. Kami. Kalian. Kita semua!