Kategori: Indonesia

  • Diskusi Kebangsaan Jokowi 2019 dalam prakiraan, persiapan dan kenyataan

    Diskusi Kebangsaan Jokowi 2019 dalam prakiraan, persiapan dan kenyataan

    Acara diskusi kebangsaan bertajuk ?Jokowi 2019?? (diskusi kebangsaan Jokowi 2019) yang kami adakan siang itu, Sabtu, 18 November 2017 ti Ashfield Town Hall, Ashfield, NSW, Australia berjalan lancar.

    Ada haru menyelinap di tengah gempita bahagia yang kurasakan bersama kawan-kawan NKRI OZ Community Inc karena aku teringat perjalanan mempersiapkan acara yang penuh liku dan sama sekali tak mudah.

    Rencana awal

    Sekitar bulan Mei 2017, saat publik dikagetkan dengan kekalahan dan dipidananya Ahok, Andrew Wanandy, kawan sesama orang Indonesia yang tinggal di sini menghubungiku melalui sambungan telepon.

    Ia menawariku jadi moderator pada sebuah acara diskusi kebangsaan yang sedianya akan diadakan pada september 2017.

    ?Kenapa gue, Ndrew??
    ?Loe beda! Dan justru karena beda itu loe pasti bisa bikin acaranya hidup karena opini yang disampaikan narasumber bisa dapat imbangannya!?

    A-ha! Menarik juga! Akupun menerima ?pinangan? itu. Tapi sayang, setelah ikut dalam beberapa kali meeting, acara itu harus dibatalkan karena hal yang tak bisa kusebutkan di sini.

    Tetap jalan?

    Pembatalan acara itu cukup memukul tapi tak melukai. Justru kami bersyukur karena sudah terlanjur terpicu semangat untuk tetap berkumpul dan membuat acara keindonesiaan.

    Kami berbincang, berdiskusi lantas bergegas memutuskan: acara dilanjutkan!

    Tapi rencana itu lagi-lagi digagalkan karena salah seorang narasumber yang kami hadirkan mengundurkan diri seiring pengunduran diri salah satu mantan panitia.

    Kami sempat hilang kendali. Jadi? Atau tak jadi saja?

    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

    NKRI OZ Community Inc.

    Di tengah keterombang-ambingan itu, Dr Nur Arif Makful, MSc yang sedianya jadi narasumber kami yang lainnya menyarankan untuk tetap jalan.

    Dan kami pikir benar juga!
    Untuk lebih memantapkan langkah (dan sebenarnya untuk mengirit biaya ini dan itu) kami lantas membuat asosiasi resmi yang diakui pemerintah Australia sebagai pengundang pembicara dan penanggung jawab jalannya acara. Kenapa demikian? Karena dengan memiliki asosiasi, ongkos sewa gedung bisa kami irit dan kami percaya ketika mengundang tamu dari Indonesia sebagai pembicara, dalam urusan visa, keberadaan asosiasi sebagai pengundang bisa menunjukkan kejelasan dan keseriusan kepada pihak imigrasi Australia.

    Maka terbentuklah NKRI OZ Community Inc. yang semula kami beri nama Care for NKRI. Dengan komunitas itu kami sadar telah berkomitmen dan amat sayang kalau komitmen itu hanya dipakai untuk menyelenggarakan satu acara lantas bubar. Kami sepakat untuk berjalan dalam jangka panjang.

    Tantangan

    Tantangan berikutnya adalah,

    Siapa pembicara lainnya?
    Apa yang dibicarakan?
    Biaya?
    Siapa saja yang perlu diundang?
    Adakah yang mau datang?

    Satu per satu hal tersebut kami selesaikan bersama-sama.

    Aku mengusulkan nama Bhatara Ibnu Reza. Ia seorang peneliti senior IMPARSIAL sekaligus calon doktor International Humanitarian Law and Military Affairs dari University of New South Wales Australia.

    Bhatara kukenal cukup lama, sejak awal masa pemerintahan Jokowi-JK 2014 silam. Saat itu kami sama-sama mendukung Jokowi pada Pilpres 2014.

    Bhatara bagiku adalah sosok cerdas yang supel, bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicara dan membawa topik percakapan yang sejatinya rumit jadi enak diperbincangkan. Nama Bhatara pun ditanggapi kawan-kawan NKRI OZ Community Inc. dengan baik.

    Persiapan beranjak ke fase berikutnya yaitu mulai mengurus visa dan tiket pesawat untuk Mas Nur Arief serta booking tempat pelaksanaan.

    Semuanya membutuhkan biaya yang lantas membuat kami harus tidak menggratiskan acara tersebut. Untuk umum, harga tiket kami bandrol seharga $15, sedangkan untuk mahasiswa kami beri harga spesial, $5.

    Hasilnya mudah ditebak.
    Tiket kami tak laku! Tak ada yang meminati! Ada yang alasannya kemahalan, ada yang tunggu nanti-nanti saja daftarnya meski ada juga yang secara terbuka berkata, ?Pembicaranya nggak terkenal??

    Bhatara dan Mas Nur Arif memang bukan selebritis tapi mereka bukan orang sembarangan. Datang dari latar belakang akademisi, mereka tahu bahwa apa yang dilontarkan harus mampu dipertanggungjawabkan dengan teori yang mereka pelajari bukan opini pasar atau gosip warung kopi tanpa dasar literasi.

    Jadi, kami cuek bebek aja!
    Salah satu kawan berkoar, ?Kalau yang datang banyak kita bersyukur tapi kalau yang datang sedikit ya anggap aja kita bikin acara nongkrong dan kongkow bareng-bareng kita aja?.?

    Tekad kami untuk membuat acara ini terjadi memang sudah bulat? lat? lat!

    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
    Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai

    ?Tangan Tuhan?

    Seminggu sebelum acara diadakan perkembangan jumlah peserta belum juga menggembirakan tapi kami tetap bergembira karena acara akan segera dilangsungkan dalam beberapa hari ke depan.

    Hari Kamis, dua hari sebelum pelaksanaan, aku bertemu dengan dua orang guru dari almamaterku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Mas Herry dan Mbak Rosa. Keduanya datang bersama guru-guru kolese (sekolah yang diasuh kaum Yesuit) lain dari Indonesia untuk belajar semingguan lamanya di Sydney.

    Dalam percakapan dengan mereka, akupun mengundang mereka untuk datang pada acara kami. Dan bukan kebetulan bahwa Andrew, Albert dan Johan (rekan-rekan lain di NKRI OZ Community Inc.) adalah lulusan Kolese Kanisius, aku lantas meminta Mas Herry dan Mbak Rosa untuk mengajak guru-guru dari Kanisius hadir juga.

    flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019
    flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019

    Diskusi kebangsaan jokowi 2019

    Gayung bersambut.
    Mereka bahkan tak hanya datang dari dua kolese itu saja tapi juga guru-guru dari seluruh kolese yang belajar hadir dalam acara kami. Mereka datang selain dari De Britto dan Kanisius juga dari Kolese Gonzaga (Jakarta), Kolese Mikhael (Surakarta), Kolese Loyola (Semarang) dan Seminari Mertoyudan (Magelang).

    Mereka, para guru itu, hadir membaur dengan warga diaspora serta mahasiswa Indonesia yang hadir secara khidmat dalam acara.

    Dari situ aku sangat merasakan betapa Tuhan pun turun tangan! Ia memberikan jalan dan menutup setiap celah kelemahan. Segala wujud kekhawatiran dan ketidaksiapan, digantiNya dengan keyakinan dan kesigapan.

    Saat hampir dikatakan amat jarang orang yang mau datang, Ia mengutus para guru untuk menemani rekan-rekan diaspora dan teman mahasiswa lain yang telah sudi hadir.

    Ia mengubah semua prakiraan buruk jadi baik bahkan yang terbaik seperti halnya cuaca sore itu yang diperkirakan hujan jadi kering kerontang.

    ?sesaat setelah MC, Imelda Santoso, mengundangku untuk memimpin lagu Indonesia Raya, aku meminta hadirin bangkit berdiri. Aku mengambil aba-aba ?Hiduplah Indonesia Raya? dan lagu suci nan berharga itupun berkumandang dilantunkan meski hanya oleh segelintir anak bangsa. Tak mengapa karena toh semangat kami mampu tetap menggelora dan gaungnya terdengar hingga lima ribu kilometer jauhnya ke sisi barat laut ke arah Tanah Air tercinta.

    ?Indonesia Raya? merdeka.. merdeka.. Tanahku, negriku yang kucinta!?

    Oh ya, video di bawah ini adalah bagaimana aku, dua guru De Britto dan para alumni Kanisius yang tinggal di Sydney bersama para guru Kanisius menyanyikan mars De Britto dan mars Kanisius secara bersamaan.

    https://www.youtube.com/watch?v=GLE7iMdaRBU

    Simak beberapa liputan media terkait acara kami di Tempo, JPNN dan Liputan6.

  • Jokowi, 2019? Sebuah diskusi kebangsaan

    Jokowi, 2019? Sebuah diskusi kebangsaan

    Kalau kalian tinggal/sedang berada atau punya saudara/kawan/pacar di Sydney, suruhlah ia datang ke acara keren, sebuah diskusi bertajuk ?Jokowi, 2019?’

    Lho, acaranya di Sydney, Australia kok yang dibicarakan Jokowi? Nggak salah?

    Enggak!
    Kalian enggak salah baca, acaranya memang di Sydney kota yang letaknya lima ribu kilometer jauhnya dari Jakarta. Acara ini memang tentang Indonesia, tak hanya tentang Jokowi, jadi diperuntukkan bagi mereka dan kalian anak bangsa serta siapapun yang tertarik dengan Indonesia dan tinggal di Sydney.

    Nara sumber acara ini pun bukan asal nara sumber. Mereka datang dari kaum akademisi, warga dan pecinta Indonesia, Bhatara Ibnu Rheza dan Dr. Nur Arif Makful, MSc namanya.

    Bhatara adalah kawan yang sejak beberapa tahun terakhir kukenal baik. Ia seorang kandidat doktor dalam bidang International Humanitarian Law and Military Affairs di University of New South Wales (UNSW). Ia juga seorang senior researcher IMPARSIAL, sebuah LSM yang salah satu pendirinya adalah alm. Munir.

    Nur Arif adalah seorang dosen di beberapa universitas dalam dan luar negeri, ia juga penggiat serta pemerhati masalah kebangsaan dan kebhinekaan yang juga seorang gusdurian.

    Acara akan diadakan di Ashfield Town Hall, 260 Liverpool Road, Ashfield, NSW 2131 pada sabtu ini, 18 November 2017 jam 1:30 – 4:00 pm.

    Lantas siapa yang mengadakan acara ini?
    Yang mengadakan adalah sebuah organisasi resmi bernama NKRI OZ Community Inc., dimana aku termasuk salah seorang pendiri dan pengurus inti. Organisasi itu kudirikan Juli 2017 silam bersama empat orang Indonesia lain yang tinggal di Australia.

    ?Tapi kalian kan udah enak tinggal di luar negeri? Ngapain sih bikin acara-acara ginian? Bukankah sudah tidak ingin balik ke Indonesia??

    Begini? ini bukan soal keberadaan kami, bukan pula soal mau-tidak-mau kami balik ke Indonesia. Keputusan untuk mengadakan acara ini adalah mengingat pentingnya untuk mencermati apa yang akan terjadi di Indonesia pada 2019 mendatang.

    Seperti yang kita tahu, 2019 adalah tahun politik. Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan dihelat. Nah, acara ini bisa dijadikan sebagai teropong atas apa yang kiranya akan terjadi berdasarkan analisa kedua nara sumber, bukan berdasarkan kepentingan politik maupun sektarian dan semoga jauh dari kepentingan-kepentingan yang sifatnya sesaat (toh akhirnya aku batal masuk parpol kok hahaha…)

    Lagipula, meski kami tidak di Tanah Air, kecintaan Indonesia itu tak otomatis luntur dan menghablur, Brur! Indonesia itu ibaratnya lahan sawah adalah air yang mengaliri dan mengairi tubuh serta jiwa kami untuk bertumbuh dan hidup. Ia menjadi karakter pokok hingga kapanpun dan dimanapun kami berada dan berusaha.

    Jadi, ayolah! Berhentilah menaruh syak wasangka kepada kami! Niat kami semoga suci dan tulus kok!

    Datang supaya nggak rugi karena yang jadi moderator pun tak kalah kerennya! Ia seorang superblogger Indonesia yang berdomisili di Australia yang tulisannya tiap hari kamu baca di sini :)

    Tertarik? Daftar di sini ya! Untuk mahasiswa dan mahasiswi bisa menggunakan link ini.

    Klik di sini untuk menuju ke situs web organisasi kami.

  • Sebelum menagih janji Anies – Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi – Ahok dulu terpenuhi?

    Sebelum menagih janji Anies – Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi – Ahok dulu terpenuhi?

    Sehari sesudah Pilkada DKI Jakarta, sebagian besar kawan yang kuikuti di linimasa yang kebanyakan adalah pembela Ahok – Jarot tampaknya sudah semakin legawa melihat kenyataan bahwa jagoannya kalah. Terlebih pernyataan pemberian selamat oleh Ahok – Djarot terhadap pasangan Anies – Sandi membuat kita semua lega (hal yang sebenarnya ‘kusyukuri’ dari kekalahan Ahok karena kalau yang kalah Anies – Sandi apakah mereka juga bisa selegawa itu?)

    Tapi meski demikian ada pula yang mulai menagih janji kampanye Anies-Sandi meski mereka juga sebenarnya sadar bahwa masa jabatan gubernur-wakil gubernur baru pun akan dimulai Oktober nanti!

    Sebenarnya wajar kok menagih janji kampanye terlebih untuk janji-janji yang gula-gula manisnya masih terasa di ingatan. Tapi persoalannya perlukah? Perlukah menagih janji kampanye ketika tahu bahwa kemungkinan (besar) hal itu hanya akan mengecewakan hati?

    Nggak sayang dengan perasaan dan pikiran yang beberapa bulan ini sudah dikerubuti hal-hal terkait Pilkada melulu? Nggak sayang untuk melarut-larutkan rasa sakit hati?

    Kenapa tak memilih untuk melupakan yang kemarin dan kembali menata diri serta fokus perhatian pada kehidupan pribadi kita masing-masing tak peduli siapapun pemimpinnya?

    Tapi kamu nggak fair, Don! Mereka menang karena janji-janji manis saat kampanye kemarin!

    Really? Baiklah kalau sangkamu demikian. Silakan melanjutkan penagihan janji terhadap Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Tapi pesanku, sebelum masa kepemimpinan Ahok berakhir, adakah janji-janji kampanye Jokowi – Ahok pada Pilkada 2012 silam juga sudah terpenuhi semuanya?

    Mari simak dan bandingkan janji-janji Jokowi – Ahok dan Anies – Sandi di bawah ini. Baca baik-baik dan jawab sendiri mana janji yang sudah ditepati, mana yang belum dan mana yang sudah pasti tak dapat ditepati hingga Oktober 2017 nanti.

    Janji kampanye Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama tahun 2012 seperti dimuat Republika.

    1. Tidak memakai Voorijder untuk merasakan juga kemacetan
    2. Hanya 1 jam di kantor. Selebihnya, meninjau pelayanan publik di lapangan.
    3. Tidak tersinggung dengan pertanyaan wartawan yang menyudutkan pihaknya
    4. Tidak memberikan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan Polisi Pamong Praja memukul warga.
    5. Menambah 1.000 unit bus Transjakarta
    6. Memberikan honor tambahan kepada Ketua RT/ RW di Jakarta sebanyak Rp 500 ribu per bulan, dan asuransi kesehatan.
    7. Memberikan asuransi kesehatan kepada semua anggota RT/RW.
    8. Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. (Jumpa pers di rumah Megawati Soekarnoputri, 20 September 2012)
    9. Membangun perkampungan yang sehat dan layak huni. Hunian di bantaran Sungai Ciliwung di desain menjadi kampung susun. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh tanpa melakukan penggusuran. (Debat Calon Gubernur DKI Jakarta, 14 September 2012)
    10. Mengatasi banjir dengan melakukan pembangunan embung/folder untuk menangkap dan menampung air hujan di setiap kecamatan dan setiap kelurahan. Mengintegrasikan seluruh saluran drainase agar terkoneksi dengan kanal-kanal pembuangan air.
    11. Memperbanyak armada angkutan umum, terutama bus TransJakarta di koridor-koridor yang tetap dipertahankan sebagai jalur bus khusus. Merintis MRT/subway. Busway diubah menjadi railbus yang berkapasitas lebih besar. Dengan demikian yang bergerak warga bukan mobil.
    12. Membangun Mal PKL, Ruang Publik & Revitalisasi Pasar Tradisional sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. (Jakarta, 18 September 2012)
    13. Membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas. Merevitalisasi dan melengkapi fasilitas kawasan Old Batavia.
    14. Membenah birokrasi bersih dan profesional agar pemerintahan berjalan bersih, transparan, dan profesional.
    15. Memberikan pendidikan gratis Kartu melalui kartu Jakarta Pintar. Dengan kartu ini maka warga Jakarta dapat merasakan pendidikan gratis dari SD hingga SMA. Program ini telah berhasil diterapkan di Solo selama 5 tahun. (Kampanye di Kampung Sawah, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, 29 Juni 2012).
    16. Melegalkan tanah-tanah yang sebelumnya tidak diakui oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau tanah ilegal. (Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, 15 September 2012)
    17. Melakukan redesain total dengan membangun Jakarta dari kampung-kampung. (Menteng Dalam, 14 September 2012).
    18. Setiap kampung punya ruang publik, ruang hijau, serta drainase memadai dan punya tangki pembuangan komunal. (Menteng Dalam, 14 September 2012)
    19. Melanjutkan program Kanal Banjir Timur serta pembangunan tanggul di tiap kecamatan.

    Janji kampanye Anies Baswedan dan Sandiaga Uno seperti dimuat DetikCom

    1. Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Pintar dalam bentuk Kartu Jakarta Pintar Plus untuk semua anak usia sekolah (6-21 tahun), yang juga dapat digunakan untuk Kelompok Belajar Paket A, B dan C, pendidikan madrasah, pondok pesantren dan kursus keterampilan serta dilengkapi dengan bantuan tunai untuk keluarga tidak mampu.
    2. Merevisi dan memperluas manfaat Kartu Jakarta Sehat dalam bentuk Kartu Jakarta Sehat Plus dengan menambahkan fasilitas khusus untuk para guru mengaji, pengajar Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, khatib, penceramah dan pemuka agama.
    3. Membuka 200.000 lapangan kerja baru, membangun dan mengaktifkan 44 pos pengembangan kewirausahaaan warga untuk menghasilkan 200.000 pewirausaha baru, selama lima tahun.
    4. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas Pendidikan Kejuruan dengan mengintegrasikan dunia usaha ke dalamnya, untuk menghasilkan lulusan yang langsung terserap ke dunia kerja dan berwirausaha.
    5. Mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok dengan menjaga ketersediaan bahan baku dan menyederhanakan rantai distribusi, serta menyediakan Kartu Pangan Jakarta untuk meningkatkan daya beli warga tidak mampu serta merevitalisasi pasar-pasar tradisional dan Pedagang Kali Lima untuk meningkatkan kesejahteraan para pedagang.
    6. Menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta untuk kepentingan pemeliharaan lingkungan hidup serta perlindungan terhadap nelayan, masyarakat pesisir dan segenap warga Jakarta.
    7. Membangun pemerintahan yang bersih, modern dan melayani berbasis transparansi, akuntabilitas dan keteladanan dengan mengoptimalkan pelibatan publik dan pemanfaatan teknologi (Smart City).
    8. Mengembangkan kinerja dan tata kelola pemerintahan untuk merealisasikan rencana kerja hingga 95 persen, mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam audit laporan keuangan, mencapai predikat 80 dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), menghentikan praktik penyelewengan di dalam birokrasi, dan memperbaiki manajemen aset-aset milik Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta.
    9. Meningkatkan Realisasi Rencana Program (daya serap anggaran) untuk memperluas cakupan dan efektivitas program-program penanggulangan banjir dan kemacetan, rehabilitasi dan pemeliharaan lingkungan hidup serta pengelolaan sampah.
    10. Memuliakan perempuan Jakarta dengan mendukung Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Ekslusif, melakukan pendataan dan pemantauan dini terhadap ibu-ibu hamil dan balita yang memerlukan bantuan khusus, memberikan cuti khusus bagi suami selama proses kelahiran anak, serta menyediakan fasilitas-fasilitas publik khusus seperti Ruang Menyusui dan Tempat Penitipan Anak yang dikelola secara sehat, profesional dan bisa diakses seluruh warga.
    11. Memberdayakan perempuan Jakarta dengan mendukung sepenuhnya partisipasi perempuan dalam perekonomian, antara lain melalui pemberian Kredit Usaha Perempuan Mandiri.
    12. Melindungi perempuan dan anak-anak Jakarta dari praktik pelecehan, kekerasan dan diskriminasi serta praktik perdagangan manusia (human traficking) dengan mengaktifkan 267 Rumah Aman, merevitalisasi Unit Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan berbasis aplikasi bekerjasama dengan Kepolisian Daerah Jakarta, dan memberi subsidi bantuan hukum bagi korban.
    13. Membangun sistem transportasi umum yang terintegrasi dalam bentuk interkoneksi antarmoda, perbaikan model manajemen layanan transportasi umum, perluasan daya jangkau transportasi hingga menjangkau seluruh warga, pengintegrasian sistem transportasi umum dengan pusat-pusat pemukiman, pusat aktivitas publik, dan moda transportasi publik dari luar Jakarta.
    14. Mengatasi kesenjangan Ibu Kota dengan menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri dengan menyediakan infrastruktur, lapangan kerja, fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi segenap warganya dan menjadikannya sebagai pusat inovasi konservasi ekologi.
    15. Mengaktifkan kembali komunitas-komunitas di Jakarta melalui kegiatan pengembangan kebudayaan, kesenian, olahraga, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan budaya membaca melalui Program Taman Maju Bersama, yaitu merevitalisasi taman-taman yang ada, membangun taman-taman baru dari wilayah pinggiran Jakarta, serta membangun Taman Pintar (Science Park).
    16. Membangun dan merevitalisasi pusat-pusat pengembangan kebudayaan, antara lain dengan:
      (a) Membangun Taman Benyamin Sueb sebagai pusat perawatan dan pengembangan kebudayaan Betawi dan pusat interaksi lintas-komunitas, yang di dalamnya berdiri Museum Kebudayaan Betawi.

      (b) Menyelamatkan dan merevitalisasi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dengan melakukan digitalisasi seluruh koleksinya, profesionalisasi pengelolaannya serta memperlayak sarana dan prasarananya.(c). Menjadikan Jakarta sebagai pusat kebangkitan film nasional melalui sinergi dengan semua pemangku kepentingan dalam kerja kreatif sinematografi dan industri film.

    17. Menyelenggarakan festival olahraga dan kesenian Jakarta sepanjang tahun untuk mengembangkan pembinaan olahraga dan kesenian berbasis komunitas.
    18. Menjadikan Jakarta sebagai Kota Hijau dan Kota Aman yang ramah, sejuk dan aman bagi anak, perempuan, pejalan kaki, pengguna jalan, dan seluruh warga; menggalakkan kegiatan cocok tanam kota (urban farming); melakukan audit berkala keamanan kampung; serta memperluas cakupan dan menperbaiki kesejahteraan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).
    19. Memperluas cakupan dan memperbaiki kualitas layanan air bersih dengan prioritas pada wilayah-wilayah dengan kualitas air terburuk, dan memberikan subsidi langsung untuk warga tidak mampu.
    20. Merevitalisasi layanan dokter komunitas, melakukan pelatihan peduli kesehatan diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar, melakukan pelatihan peduli lingkungan hidup, dan mengaktifkan Pos Perempuan Mandiri sebagai bagian dari program pengembangan Posyandu dan Posbindu.
    21. Memberdayakan para pengembang kelas menengah untuk merealisasikan pembangunan kampung susun, kampung deret dan rumah susun, serta mempermudah akses kepemilikan bagi warga tidak mampu.
    22. Membangun pusat-pusat pariwisata, tempat-tempat bersejarah dan pusat-pusat kegiatan warga sebagai tempat yang ramah, aman dan sejuk bagi anak, lansia dan warga difabel.
    23. Meningkatkan bantuan sosial untuk rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, lembaga sosial, Sekolah Minggu dan Majelis Taklim berbasis asas proporsionalitas dan keadilan.

    Simak juga tulisanku sebelumnya,?Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

  • Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

    Surat Ber-tjahaja untuk Basuki Tjahaja Purnama

    Ahok
    Credit photo: Sea Globe

    Hok, kalau tak ada perubahan drastis, kamu dipastikan kalah dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta kali ini. Tapi tak mengapa Hok, karena dibandingkan ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’, kamu tampaknya memang lebih siap untuk kalah.

    Dari awal aku memang mengira bahwa hari ini akan terjadi dan sebaiknya memang terjadi. Bukannya sok main ‘feeling’ tapi aku mencoba berpikir berputar bahwa seandainya kamu menang, para radikalis yang anti keberagaman itu akan bagai kepenuhan mesiu untuk menjalankan aksi-aksi berikutnya entah 505, 510, atau 501 namanya! Kekalahanmu bagaikan memberikan mesiu kosong pada ujung meriam yang siap njeblug… mereka kini justru yang mati angin sambil menunggu mesiu yang baru mungkin dekat-dekat 2019 nanti.

    Kekalahanmu juga adalah simbol betapa Tuhan tak hanya sayang kamu tapi Ia juga sayang ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’ itu, Hok!

    Membayangkanmu kalah itu mendamaikan karena kamu akan legawa dan akan bekerja sebagaimana rakyat biasa (kalau Jokowi tak memanggilmu untuk menempati pos baru di pemerintahannya sih…) Tapi membayangkan ‘kawan bermain dan berkompetisi-mu’ kalah? Mau kerja apa dia? Bukannya nanti dia jadi tak oke dan tak oce lagi?

    Jadi? Dunia belum berakhir! Bekerjalah tak hanya dalam lingkup Jakarta. Bekerjalah kepada sekelilingmu yang juga membutuhkan cinta dan menawarkan kasih nan semerbak kepadamu dan keluarga cantikmu itu.

    Kini saatnya untuk fokus pada sisa masa jabatanmu dan persidangan terhadap kasus yang menimpamu. Kita tak akan pernah tahu seperti apa tikungan jalan di depan. Kamu kalah, bisa jadi kamu juga masuk penjara karena kalah dalam persidangan. Betapa malangnya nasibmu? Aku tetap mendoakanmu supaya lolos dari jerat hukuman itu. Tapi kalaupun harus dibui, tak mengapa! Aku percaya orang-orang yang benar dan bercahaya sepertimu justru perlu dikirim ke tempat-tempat dan lorong yang gelap supaya daripadanya mengumbar cahaya yang menerangkan dan menenangkan.

    Aku ingin menutup surat yang kuuntai di atas kereta yang mengantarkanku pulang di tengah kepedihanku yang tak bisa kusembunyikan menyaksikan kalahmu ini dengan sebuah cerita pendek tentangku dan almarhumah Mamaku.

    Sepuluh tahun lalu aku pernah gagal dalam bercinta, Hok. Hilang separuh jiwaku, lunglai tubuhku, pupus rencana-rencanaku. Kepada Mama yang amat kucintai, aku pulang dan bersandar serta mengeluhkan kesahku.

    Lalu yang kuingat dan muncul dari bibirnya kala itu adalah begini,
    “Kamu gak perlu menang dalam setiap pertandingan, Le! Yang diperlukan hanya bertahan dan berjuang hingga garis finish! Menang dan kalah itu hanya pangkat dan jabatan. Kamu tetap jagoannya Mama dan itu adalah pangkat dan jabatanmu!”

    Betapa bangga dan mongkok hatiku saat itu, Hok!

    Hok, kamu telah mengakhiri pertandingan dengan baik! Kamu telah mencapai garis akhir! Sekarang telah tersedia garis start yang baru, berlarilah lagi di gelanggang yang baru. Bawa tjahajamu di sana seperti kami akan memelihara tjahajamu dari sini.

    Kalau udah longgaran, main-main ke Sydney lah, Hok! Kita nge-beer bareng sambil cerita sana-sini!


    Salam,

    DV, Superblogger Indonesia

    Simak juga tulisanku?sesudahnya,?Sebelum menagih janji Anies ? Sandi, adakah semua janji kampanye Jokowi ? Ahok dulu terpenuhi?

  • Pajak minuman soda bergula dan tingkat obesitas di Australia

    Pajak minuman soda bergula dan tingkat obesitas di Australia

    The Grattan Institute menyarankan Pemerintah Australia menarik pajak dari penjualan minuman soda bergula dengan alasan untuk mengurangi tingkat obesitas. Gula memang cenderung jadi pemicu terjadinya obesitas.

    Angka pajak yang diusulkan adalah 40 sen per 100 gram gula atau dengan kata lain, harga minuman soda bergula berukuran 2 liter akan mengalami kenaikan harga sebesar 80 sen. Meski baru sebatas usulan tapi ide ini sebenarnya menarik.

    Kenapa?
    Pertama, tahun ini adalah tahun dimana tingkat kematian dari penyakit jantung meninggi di Australia setelah lima puluh tahun terakhir mencatat angka rendah nan stabil. Kedua, terjadi peningkatan angka statistik obesitas di Australia. Secara garis besar, satu dari tiga orang Australia menderita obesitas.

    Eh btw, apakah obesitas itu? Menurut WHO, organisasi kesehatan dunia di bawah PBB, obesitas adalah keadaan tak normal pada tubuh manusia yang terjadi karena penumpukan lemak dan menghadirkan resiko kesehatan. Cara menghitung kadar obesitas seseorang adalah dengan jalan mengukur Body Mass Index (BMI) dimana berat badan seseorang (dalam kilogram) dibagi dengan dua kali tinggi badan (dalam meter). Orang dengan BMI lebih dari atau sama dengan 30 bisa dianggap obesitas sementara untuk mereka yang ada di ambang 25 hingga 29,99 disebut kelebihan berat badan.

    Tapi usulan dari Grattan itu tampaknya akan menempuh jalur panjang hingga akhirnya disetujui pemerintah karena kemungkinan ketika usulan itu diimplementasikan, imbasnya akan mengenai para petani gula di Australia Utara sana.

    Sebenarnya tanpa usulan tersebut, kita justru yang harus mengatur diri kita sendiri dalam mengonsumsi gula karena setinggi apapun pajak yang nantinya diaplikasikan, kalau otak sudah pengen minum minuman soda bergula ya tetap saja dibeli dan diminum. Sebaliknya, serendah apapun nanti pajak atau bahkan tak ada sama sekali, kalau memang sudah punya niat untuk hidup lebih sehat tanpa gula ya tak jadi soal.

    Aku sendiri memang sudah tak doyan gula. Beda dari stereotipikal orang Jawa lainnya dan pada umumnya, aku memang tak suka yang mengonsumi makanan dan minuman yang manis-manis.

    Bahkan sejak beberapa tahun terakhir aku sudah berhenti mengonsumsi gula secara langsung dan memilih penggantinya dari proses pencernaan terhadap karbohidrat ataupun buah-buahan.

    Serius, Don? Bahkan kopi juga gak pake gula?? Nggak. Kopiku kan latte dan dari susunya aku sudah dapat rasa gurih, aku lebih bisa mengapresiasi gurih ketimbang manis.

    Teh juga nggak??Nggak. Sekarang ngerasain teh pake gula malah aneh.

    …lagipula aku kan sudah cukup manis jadi untuk apa makan dan minum yang manis-manis?

    *Gubrak!

    Sumber Berita:

    1. Sugar tax could cut soft drink consumption, help halt growing obesity rates: Grattan Institute
    2. Obesity, type-2 diabetes could lead to surge in heart disease deaths, report warns
    3. Shocking Statistics That Illustrate Australia’s Obesity Problem
    4. Obesity
  • Hari pertama kerja? Semua ok kecuali…

    Hari pertama kerja? Semua ok kecuali…

    Hari pertama kerja tadi?
    Sebagai orang yang ?hobi? mencari pekerjaan baru (dan Puji Tuhan dapat kerjaannya), apa yang kualami tadi sebenarnya memang sudah diprediksi.

    Datang, disambut manager HR, diajak ke ruangan untuk dikenalkan pada profil perusahaan. Ia membawakan sejarah, visi-misi, service, daftar klien, apa yang akan kukerjakan, aturan ini dan itu? semuanya disampaikan hampir seharian.

    Jam istirahat tiba.
    Seperti yang sudah direncanakan, bos besar memanggilku untuk makan siang. Maka jadilah kami makan siang kurang lebih satu jam, ngobrol ngalor-ngidul banyak hal diluar pekerjaan.

    Kembali ke kantor, melanjutkan sesi perkenalan dengan hal-hal yang belum tuntas paginya demikian hingga sore.

    Semua berjalan sesuai rencana dan mulus-mulus saja.

    Yang seru dan ternyata ?jadi masalah? yang tak terduga sebelumnya justru persiapan pagi dan pulang sore harinya.

    Selain bangun telat (meski weker sudah kustel, tapi percuma karena kumatikan dan aku kembali tidur), bobot tas kerja yang kubawa diluar perkiraan sangat berat!

    Ini memang salahku.?Jadi ceritanya beberapa pekan lalu aku dan Joyce berdiskusi tentang tas macam apa yang harus kubeli.

    Karena kantor tempatku kerja sekarang menganut pola BYOD (Bring Your Own Device), aku harus membawa laptop, ipad dan semua alat kerja dari rumah.

    Karena aku juga nge-gym, aku juga harus berpikir untuk membawa peralatan gym-ku.

    Dan karena nantinya aku akan bekerja pindah-pindah dari kantor klien yang satu ke klien lainnya, adalah tak mungkin untukku meninggalkan barang-barang tersebut di kantor klien karena bagaimanapun juga aku akan jadi sosok eksternal dan bukan pegawai mereka.

    Untuk itu Joyce menyarankan untuk membeli mobile office bag, sebuah tas mirip koper kecil yang memiliki roda di bagian bawah tas jadi kita tak perlu menjinjing sama sekali.

    Modelnya kira-kira seperti di bawah ini:

    mobile office

    Tapi aku berpikir model tas seperti itu too much! Terlalu besar dan ribet karena harus tarik tas beroda. Lagipula aku terlanjur suka pada satu tas (messenger bag) dan karena ukurannya cukup besar, Joyce pun setuju.

    Tas kubeli, barang-barang juga tak masalah, bisa kumasukkan.

    Tapi yang tak kuduga adalah bobotnya.

    Sepagian dan sesorean tadi aku cukup tersiksa untuk menjinjing tas dari rumah ke stasiun kereta sepanjang 2km yang kutempuh dengan berjalan kaki!

    Alhasil, pundak sakit, pinggang ngilu dan sekarang aku berpikir untuk akhirnya menuruti saja apa yang dikatakan istriku tadi bahwa mobile office bag adalah pilihan terbaik terutama dengan pola kerja dan barang-barang yang harus kumasukkan ke dalamnya.

    Tas yang sudah terlanjur dibeli? Ya jual lagi!

    Oh ya, gambar di atas adalah view dari tempat dudukku, Sydney CBD dari lantai 18.

    Selamat malam!

     

  • Eksekusi Mati. Efektifkah?

    Eksekusi Mati. Efektifkah?

    Setahun lalu, delapan orang yang secara hukum terbukti mengedarkan narkoba, dieksekusi mati di Nusakambangan. Tiga bulan sebelumnya, Januari 2015, enam orang terpidana mati kasus narkoba lainnya di-dor juga.

    Dunia menyambut hal itu dengan beragam reaksi utamanya karena hal itu terjadi pada awal masa pemerintahan Presiden Jokowi yang baru diangkat Oktober 2014.

    Sebagai presiden, Jokowi sebenarnya bisa saja menerima permohonan grasi dari para terpidana waktu itu tapi tentu ia punya alasan tersendiri kenapa akhirnya memutuskan untuk menolak.

    Darurat Narkoba

    Barangkali Jokowi berpikir bahwa Indonesia ada dalam situasi darurat narkoba dan hal itu harus bisa diselesaikan dengan salah satunya menolak grasi tersebut supaya eksekusi mati segera dilakukan.

    Hal ini ?terbaca? dalam pernyataannya pada sela-sela kunjungannya dalam pertemuan Pers Nasional di Auditorium TVRI Senayan, Jakarta Pusat.

    Dalam acara yang diadakan pada Senin 27 April 2015, atau dua hari sebelum delapan terpidana dieksekusi, Jokowi seperti dirilis Liputan6?bilang begini, “Itu yang harus dijelaskan. ?Dan pers harus menjelaskan, setiap hari ada 50 generasi muda kita mati karena narkoba. Kalau dihitung setahun, ada 18 ribu. Itu yang harus dijelaskan.”

    Wow! Jumlah yang sangat masif tentu saja!

    Tapi, kalau memang eksekusi mati adalah cara ampuh untuk mengurangi jumlah korban narkoba, kenapa dalam setahun belakangan tak ada satupun terpidana mati terkait kasus narkoba yang dieksekusi padahal konon menurut Budi Waseso, Kepala Badan Nasional Narkotika pada Februari 2016 silam melalui Detik.com?ada 151 orang terpidana mati yang menunggu eksekusi.

    Biaya

    Barangkali penyebabnya adalah faktor biaya. Menurut Jaksa Agung Prasetyo melalui Kompas.com, biaya eksekusi per terpidana adalah 200 juta rupiah tergantung tempat pelaksanaan serta tergantung ada tidaknya biaya angkut terpidana dari daerah dimana ia ditahan ke tempat pelaksanaan eksekusi.

    Anggaplah angka eksekusi per terpidana tetap sama, 200 juta rupiah, maka untuk ?menghabiskan? ke-151 terpidana lainnya, pemerintah hanya perlu dana sekitar 30.2 milyar rupiah saja.

    Apakah angka itu sulit didapat di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini?

    Ingat, ini kan darurat, harusnya ada kantung dana lain yang bisa diambil mengingat kedaruratan ini.

    Tapi tak ada yang lebih mengejutkan dari berita yang kudapat melalui DetikCom bahwa untuk tahun 2016 ini Kejaksaan Agung hanya mengajukan anggaran untuk mengeksekusi 14 orang saja dan tak terkonfirmasi apakah kesemuanya dari kasus narkoba atau tidak.

    Kenapa hanya 14 orang atau di bawah 10 persen dari total terpidana yang menunggu eksekusi?

    Efektifkah?

    Hal ini membuat pertanyaanku pada akhirnya berubah tidak pada seberapa serius Jokowi dalam mengatasi darurat narkoba tapi lebih kepada efektifkah eksekusi mati yang dilakukan selama ini?

    Jika efektif, bagaimana dengan pernyataan Luhut Panjaitan?pada kuliah umum di ITB beberapa waktu lalu yang menyebut bahwa jumlah korban narkoba setiap hari adalah 30 – 50 orang?

    Kalau benar angka itu adalah hasil analisa jitu, lantas berapa jumlah penurunan yang dicapai setelah keempat belas orang terpidana dieksekusi tahun lalu?

    Kenapa angkanya masih sama saja, 50 korban per hari?

    Pemerintah seharusnya tak hanya mengevaluasi anggaran terhadap biaya eksekusi mati saja karena ada yang lebih penting daripada itu yaitu menilai seberapa efektifkah eksekusi mati mempengaruhi penurunan angka korban narkoba.

    Jika memang ternyata tidak efektif, pemerintah harus memulai penelitian terbaru tentang cara ampuh menanggulangi narkoba lalu membuktikan dan menunjukkan pada dunia.

    Kuyakin kalau Indonesia berhasil, undangan terhadap Jokowi untuk bicara di forum-forum internasional akan semakin banyak dan tak hanya terbatas pada topik penanggulangan teroris atau bagaimana cara mengatasi ilegal fishing saja tapi juga tentang betapa efektif cara penanggulangan narkoba di Indonesia tanpa hukuman mati.

    A sign of hope is the increasing recognition that the dignity of human life must never be taken away, even in the case of someone who has done great evil. Modern society has the means of protecting itself, without definitively denying criminals the chance to reform. I renew the appeal I made most recently at Christmas for a consensus to end the death penalty, which is both cruel and unnecessary. – St. John Paul II

  • Sensor KPI, beberapa ide untuk mereka

    Sensor KPI, beberapa ide untuk mereka

    Level menggelikan dari cara sensor KPI makin tinggi.

    Setelah sebelumnya puting sapi yang sedang diperah susunya disensor, kali kemarin orang berbusana daerah di ajang pemilihan Puteri Indonesia juga dikerjain.

    Sensor KPI

    Sensor KPI

    Aku jadi berpikir, control-freak semacam ini bisa makin menggila dan alih-alih membuat orang-orang jadi alim, kita-kita malah bisa jadi makin pintar menertawakan kebodohan sebuah cara pandang yang ada dalam benak dan dengkul regulator!

    Mari kita membayangkan, akan seperti apa ke depannya?

    Sensor:Gitar


    Sensor KPI
    Sensor! Karena lekuk bodi gitar seperti lekuk bodi wanita!?Oh ya, ini adalah gambar gitar Gibson J45, gitar idaman hahaha!

    Sensor:Cantaloupe

    Sensor KPI

    Sensor! Bentuk tengahnya itu seperti bentuk vagina!

    Sensor:Dompet

    Sensor KPI

    Sensor! Struktur dan aduhhh itu warnanya seperti bentuk vagina lagi!

    Sensor:Donat

    Sensor KPI

    Sensor! Itu bolongan tengahnya mirip vagina maupun anus! Basah pula!

    Sensor:Timun

    Sensor KPI

    Sensor! Itu bentuk dan gedenya mirip penis! Bergerigi pula! Aduh nggak kuat!

    Sensor:Mouse

    Sensor KPI

    Sensor! Itu lekuk di dekat scrollernya mirip vagina!

    Sensor:Hotel bell

    Sensor KPI

    Sensor! Itu bentuk ujungnya mirip puting susu! Putih pula! (*padahal mana ada sih puting putih?)

    Sensor:Kran air

    Sensor KPI

    Sensor! Bentuknya mirip penis!

    Sensor:Korek Api

    blog_sensor_11

    Sensor! Bentuknya mirip penis. Eh.. sebentar, masa sekecil ini?!??

  • Tutupnya ‘Klinik Warsito’ dan gugurnya sebuah harapan

    Tutupnya ‘Klinik Warsito’ dan gugurnya sebuah harapan

    Warsito P Taruno akhirnya menutup ?Klinik Warsito? setelah berdiskusi dengan pihak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan dinyatakan tak ada celah untuk melanjutkan klinik riset miliknya itu.

    Gugurnya harapan

    Gugur sudah satu harapan bagi para penderita kanker dan keluarga penderita kanker di Indonesia. Ini bukan bicara soal harapan kesembuhan karena itu adalah milik Allah. Lebih daripada itu, mereka kehilangan harapan untuk menunjukkan usaha perlawanan terhadap kanker yang sifatnya alternatif, tak mahal dan tak menyakitkan!

    Terapi medis yang ditawarkan Pemerintah bukannya tidak ada karena melalui BPJS kini semua orang berhak untuk mendapatkan layanan medis yang layak dan murah serta nyaris gratis. Tapi seperti banyak diutarakan mereka yang pernah dan sedang mengikuti kemoterapi, proses terapi tersebut cukup menyakitkan dan terkadang malah mematikan, berbeda dengan pilihan terapi melaluki ?Klinik Warsito? yang cukup mengenakan rompi dan helm berbasis listrik statik yang tak menyakitkan.

    Seorang kerabat yang salah satu saudaranya menderita kanker sekitar empat tahun silam menceritakan kepadaku bahwa alih-alih dibawa ke dokter, ia memilih membawa saudaranya itu tadi ke klinik Warsito. Meski si saudara tadi toh akhirnya meninggal juga beberapa tahun kemudian, tapi kerabat-kerabatnya tak pernah menyesal telah memilih untuk membawa si penderita ke Klinik Warsito ketimbang ke Rumah Sakit. ?Setidaknya ia tak kesakitan hingga akhir dan ia tahu bahwa ia telah mengusahakan yang terbaik melalui klinik Pak Warsito? demikian ujarnya.

    Ia juga menceritakan bagaimana orang-orang rela mengantri di ruang tunggu berjam-jam sebelum klinik buka hanya demi bisa ditangani oleh Warsito yang doktor Teknik Elektronika lulusan Shizuoka Jepang ini.

    Mereka datang dari berbagai latar belakang; ada yang kaya dan banyak pula yang berkekurangan. Tak hanya dari sekitar Jakarta dan Tangerang, yang dari luar Jawa pun banyak. Meski demikian, mereka sama-sama punya satu semangat yaitu usaha untuk terus dan tetap melawan penyakit yang hingga saat ini di seluruh dunia masih diteliti dan dipilih proses penyembuhan yang paling mujarab ini.

    Kenapa Jokowi tak turun tangan seperti saat Gojek dilarang?

    Alasan Kementrian Kesehatan menutup tempat praktek yang bernama C Tech Labs Edwar Technology itu memang masuk akal, tidak sesuai standard Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 9 2014. Tapi tak semua yang masuk akal itu yang terbaik, kan?

    Buktinya, Jokowi sendiri sampai turun tangan ketika Gojek dilarang beroperasi oleh Kementrian Perhubungan beberapa waktu silam karena tak memenuhi aturan. Nah, kalau Jokowi mampu turun tangan saat Gojek terkena kendala aturan, kenapa ia tak melakukan hal yang sama untuk Klinik Warsito?

    Apa yang dilakukan Menteri RistekDikti, Muhammad Nasir cukuplah melegakan. Karena selain tempo hari mendukung pelarangan LGBT masuk ke kampus, beliau juga mendukung kelanjutan riset Pak Warsito dengan mendatangi klinik secara langsung.

    Tapi menurut hematku, ketimbang mendatangi Klinik Warsito, Nasir sebenarnya lebih baik menjalin jalur komunikasi yang lebih intensif dengan Kemenkes dan Presiden supaya kasus Warsito tak jadi begini.

    Duduk bersama pada satu meja dan mendiskusikan jalan keluar terbaik dengan memperhatikan kepentingan masyarakat banyak kupikir hal yang terbaik meski sekarang sudah sangat terlambat karena per tanggal 27 Januari 2016 klinik C Tech Labs Edwar Technology resmi ditutup dan seluruh karyawannya dirumahkan. Pak Warsito sendiri kini melanglang buana ke luar negeri menebarkan ilmu yang dikuasainya.

    Ke luar negeri adalah pilihan terbaik

    Apreasiasi besar kuberikan atas langkah yang ditempuh Pak Warsito ini.?Daripada terkurung di negara yang tidak memperhatikan kekayaan intelektual dan terlebih potensinya untuk membantu rakyat banyak, ya mending hengkang dan berada di lingkungan yang menerima serta menghormatinya.

    Adalah kerugian besar bagi Pemerintah Indonesia atas terjadinya hal ini. Bukannya tidak mungin, lima sampai sepuluh tahun lagi, tiba-tiba ada perusahaan medis raksasa dari negara maju datang ke Indonesia menawarkan solusi kanker yang tak murah tapi ilmunya berasal dari apa yang dikemukakan dan di-riset-kan oleh Pak Warsito.

    Di saat-saat seperti itu, yang kini terngiang di telinga mungkin opini begini, ?Wah, itukan buatan putra bangsa! Harus kita urus hak ciptanya! Masa dijual mahal padahal penemunya kan Pak Warsito. Kawan sebangsa kita!?

  • Surat buka-tutup untuk Neta S Pane

    Surat buka-tutup untuk Neta S Pane

    Sebenarnya ogah ikut trend bikin ?surat terbuka? maupun ?surat tertutup? tapi tangan gatal juga membaca berita yang dirilis Kompas.Com memuat opini Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane.

    Maka kuberi judul tulisan ini sebagai surat buka-tutup?

    Neta S. Pane melihat ada kejanggalan-kejanggalan dalam peristiwa teror di Sarinah/Thamrin minggu lalu.

    Khrisna Murti sendiri, sebagai orang yang turun ke lapangan saat itu, dalam laman facebook-nya memberi komentar cukup pedas pada NP seperti tampak di bawah

    Neta S Pane

    Bagiku sendiri terlepas dari benar tidaknya kejanggalan itu sebenarnya tak penting.

    Masyarakat toh sudah capek dengan urusan masing-masing, Bos! Kami hanya butuh hiburan. Bosen dong denger berita-berita ala Jonru dan PKS Piyungan? Bosen juga dengar sas-sus soal mafia migas, pengakuan terbaru dari Angelina Jolie, pengakuan Regina mantan istri Farhat Abaas, soal anggota parlemen yang lucunya melebihi Mongol Stress dan lain sebagainya.

    Sekali-kali kita perlu berita yang seperti itu, berita-berita kepahlawanan yang nyata bukan yang polesan Hollywood dan hanya bisa kita saksikan di bioskop.

    Dan berikut adalah kejanggalan-kejanggalan yang diutarakan Neta S. Pane.

    Kenapa Khrisna Murti cepat tiba ke TKP hanya dalam 10 menit? Kenapa Kombes Mertuani Sormin datang begitu cepat hanya dalam waktu 10 menit?

    Ya baguslah, polisi datang cepat ke TKP! Sekaligus mematahkan mitos bahwa Polisi selalu terlambat datang kayak di film-film action 80an.

    Dengan menggunakan logika #ngawurteratur, aku berpikir bahwa Sarinah/Thamrin kan deket banget ke Istana Negara, tentu perhatian dan fokus keamanan akan lebih intensif di daerah sana dibandingkan daerah lainnya, jadi ya wajar kalau mereka datang lebih cepat ketika terjadi apa-apa.

    Datang lebih cepat dicurigain, datang lebih lambat?..dihujat?!

    Kenapa pelaku begitu tenang di ruang publik?

    Tanyakanlah pada pelakunya, Bos!
    Tapi seharusnya Bos juga tahu bahwa sejak peristiwa penyerangan Charlie Hebdo di Paris awal tahun 2015 silam disusul dengan serangan berikutnya di kota yang sama pada akhir tahun yang sama pula lalu peristiwa teror di Mumbai 2008, para teroris itu seperti mengubah pola serangan dari yang semula diam-diam lalu blarrrggghh jadi pola terbuka; tembak sana-tembak sini, menyerang langsung ke kerumunan, terekam media, kontak senjata baru blarrrgghhh?.

    Kenapa BIN dan Polri saling berselisih paham siapa penyebab teror, ISIS atau bukan?

    Setiap orang punya analisa sendiri-sendiri.
    Lagipula, meskipun ISIS telah mengakui bahwa itu adalah tanggung jawabnya, yang berwajib tentu juga harus meneliti apakah benar-benar mereka bertanggung jawab atau asal klaim biar numpang tenar?

    Ibaratnya ada gadis cantik muda yang ketauan hamil di luar nikah. Tiba-tiba ada dua pria ganteng mengaku sebagai bapak si jabang bayi. Orang tua si gadis tentu akan berhati-hati menentukan mana yang benar-benar adalah bapak dari cucunya, kan? Perlu ada penelitian, investigasi siapa yang menghamili, pemeriksaan DNA dan macam-macam lainnya?

    Sabar Bos? sabar.. semua perlu waktu…

    Polisi tidak memaparkan tim pengantar dan penjemput para teroris

    Sesuatu yang belum terpaparkan bukan berarti adalah tidak dijelaskan atau tidak memiliki kejelasan, Bos!

    Bisa jadi polisi memang benar-benar belum tahu siapa yang menjemput kecuali dari dugaan bahwa ada sebuah mobil GrandMax ber plat nopol Bandung yang digunakan untuk mengangkut para teroris (http://nasional.tempo.co/read/news/2016/01/15/078736622/bom-di-sarinah-dan-misteri-gran-max-putih).

    Bisa jadi pula polisi belum mau menjelaskan karena sedang mempelajari kasus lebih dalam untuk menangkap orang-orang terkait yang masih ada dalam pengejaran?

    Atau bisa jadi juga kejanggalan yang Bos tuliskan memang benar.

    Tapi yang paling jelas Bos, yang menjemput teroris di Thamrin kemarin adalah para malaikat maut yang menerima ?kiriman? dari para polisi-polisi gagah kita yang menembaki dan membunuh para teroris itu? :)

  • Catatan 70 tahun Indonesia Merdeka

    Catatan 70 tahun Indonesia Merdeka

    blog_70th

    Pada ulang tahun ke-70 tahun Indonesia ini, kiranya apa yang kutulis di bawah ini bisa dijadikan cermin tentang bagaimana seharusnya sebuah negara dan perangkatnya bekerja dan melayani warga negaranya.

    Kalian tentu ingat, bagaimana Maret 2015 lalu aku harus pulang mendadak ke Indonesia terkait kondisi kesehatan Mama yang sempat memburuk sementara aku baru sadar bahwa umur pasporku kurang dari enam bulan. Karena salah/kurang informasi, menganggap bahwa umur paspor tak boleh kurang dari enam bulan untuk masuk ke negara asal, aku lantas panik dan mengontak KJRI Sydney untuk meminta pergantian buku paspor.

    Kalau belum membaca kisahnya, silakan baca tulisan ini. Baru setelah tuntas membaca, kembalilah ke sini dan melanjutkan bacaan.

    OK, sudah dibaca?
    Baik kulanjut bercerita?

    Seperti kuulas di atas, kalau aku tak salah/kurang informasi barangkali aku tak perlu tarik urat dengan KJRI, tapi separuhnya aku merasa bersyukur atas kejadian itu karena dari situ aku belajar tentang ketidaksigapan mereka dalam membantu warga negara mengurus pembaharuan paspor dengan alasan kehabisan buku.

    Andai saja saat itu buku pasporku memang benar-benar habis dan aku tak bisa pulang dan Mamaku tak tertolong, bisakah aku menyalahkan mereka atas semua yang terjadi?

    Tapi ada yang lebih menarik untuk kuulas sekarang; sesuatu yang mungkin tak terkait dengan kejadian Maret 2015 silam tapi masih ada alur ceritanya yang berkelindan.

    Dari social media aku mendapat dua rilis informasi yang sepertinya berasal dari KJRI Sydney terkait dengan kelangkaan buku paspor. Uniknya lagi, keduanya hanya berselang dua hari, 11 dan 13 Agustus 2015.

    Mari kita ?telanjangi? kedua rilis tersebut.

    blog_70th_01

    Salinan di atas adalah salinan rilis yang pertama.

    Tanpa perlu berpikir panjang, kita tahu pesan itu failed karena penggunaan huruf kapital pada seantero pesan.
    Tak ada larangan tertulis tentang penggunaan jenis huruf pada penulisan pesan, tapi kita tahu bahwa hal itu bertentangan dengan netiket; sesuatu yang dipatuhi bersama sebagai sebuah kesadaran para pengguna layanan internet di muka planet ini.

    Menurut artikel ini, penggunaan huruf kapital pada sekujur pesan yang disampaikan adalah sama halnya dengan mengimbuhkan nada pekik/teriakan; sesuatu yang patut kita bayangkan seperti seorang yang bicara dengan nada keras dan lantang tak jauh dari muka telinga kalian!

    Apakah staf KJRI yang membuat pesan itu tak mengerti netiket ini? Atau aku harus menganggap bahwa barangkali tombol untuk mengatur penggunaan huruf kapital-non kapital di keyboard yang digunakan untuk mengetik sedang rusak?

    Mari kita lanjut dulu ke rilis info yang kedua, seperti tertera di bawah ini:

    blog_70th_02

    Rilis ini lebih sopan dan lebih ?connecting people? dengan memberikan sapaan ?Bapak dan Ibu? pada awal pesan. Good job!

    Penggunaan huruf kapital juga sudah pada tempatnya. Well done!

    Tapi bagaimana isinya?

    Ada enam poin yang disampaikan dan mari kita kupas satu per satu.

    Poin pertama bertutur tentang latar belakang kenapa bisa terjadi kelangkaan buku paspor.

    Ada desain baru pada buku paspor menggantikan desain lama dan hal itu terjadi sejak bulan Desember 2014. Untuk itu, hingga saat ini, delapan bulan sesudahnya, secara bertahap di seluruh kantor perwakilan pemerintahan di luar negeri, termasuk Sydney, sedang diadakan pembaharuan sistem untuk keperluan percetakan buku paspor berdasarkan desain baru tersebut. Sampai sini masih OK semua ya? Tapi baca larik berikut ini:

    Dan untuk itu, peralihan tersebut makan banyak waktu.

    WHAT??!!??
    Delapan bulan sejak Desember 2014 bukanlah waktu yang pendek, Kawan! Ia adalah rentang yang panjang dan mereka tetap tak berani memberikan tenggat waktu yang jelas selain berlindung di balik kata penunjuk jumlah nan subyektif, ?banyak??

    Mau sebanyak apa? Setahun lagi? Dua tahun lagi?

    Poin kedua, KJRI menjelaskan kondisi banyaknya permintaan buku paspor dalam hitungan bulan secara gamblang dan mendetail. Setiap hari mereka melayani 40 permintaan paspor baru sehingga dalam hitungan bulan rata-rata ada sekitar 800 buku banyaknya! Jumlah yang impresif meski ternyata angka itu berasal dari area layanan KJRI Sydney yang tak hanya mencakup New South Wales (NSW) tapi juga Queensland (QLD) dan South Australia (SA).

    Tapi, yang jadi pertanyaan, dengan data statistik yang sudah tersedia, kenapa hal itu tidak dijadikan pertimbangan yang bisa dilaporkan ke Jakarta sebelum proyek desain buku paspor baru dikerjakan?

    Atau kalaupun sudah, tidak adalah studi kelayakan yang menimbang kapasitas produksi dan selang peralihan sistem cetak pada setiap kantor perwakilan Indonesia di seluruh penjuru dunia?

    Poin ketiga. Aku menganggap poin ketiga ini adalah cara mereka berkilah atas pertanyaanku barusan di atas. Bukan, bukan jawaban tapi kilahan.

    Maksudmu, Don?
    Informasi di poin ini menekankan usaha yang telah mereka lakukan untuk minta kiriman dari Jakarta dan mereka juga telah minta kiriman dari kantor perwakilan Indonesia di kota lain?

    Tapi hasilnya? Berusaha itu boleh, dan memang harus dihargai tapi pada akhirnya hasil adalah tuntutan.

    Point keempat itu lebih menyedihkan lagi?
    Kenapa? KJRI Sydney meminta warga negara yang perlu buku paspor dalam waktu dekat untuk menghubungi sendiri KJRI di kota lain atau bahkan ke KBRI di Canberra.

    Kenapa kalian menyuruh kami untuk menghubungi sendiri KJRI kota lain padahal di poin sebelumnya kalian sendiri sudah pernah mencobanya? Apakah ini semacam, “Kita?udah nyoba, sekarang giliranmu? Good luck!?

    Kenapa tidak ada inisiatif untuk membantu secara maksimal, misalnya bilang ?Silakan isi formulir dan penuhi kelengkapannya dan kami yang akan menguruskan ke KJRI kota lain?? Apa susahnya seperti itu?

    Point nomer lima adalah poin yang meragukan apalagi membawa-bawa media social. Bulan maret lalu ketika kehabisan buku paspor, kalau aku tidak menelpon, aku tidak akan tahu tentang stock buku yang habis jadi bagaimana aku bisa percaya mereka akan menginformasikannya lewat social media?

    Dan poin keenam? Aduh?. coba?kalian liat percakapanku dengan kawan-kawan Maret lalu di Facebook di bawah ini…

    blog_paspor_03

     

    Eh sebentar, ada berita yang cukup menggiurkan yang kubaca sehari sesudah pengumuman itu. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengumumkan bahwa Kemlu berencana menerbitkan kartu diaspora bagi para diaspora Indonesia di luar negeri.

    Hal-hal yang tak bisa kubayangkan adalah, alokasi dana yang digunakan untuk pengadaan proyek tersebut, proses registrasi dan distribusi kartu-kartu itu yang pasti akan melewati jalur kantor-kantor perwakilan Indonesia di negara-negara di seluruh dunia.

    Akan sekacau apa implementasinya mengingat apa yang kutuang panjang lebar di atas?

    Aduh Mbak Retno, mbok sampeyan jangan ketinggian mimpinya.?Beresin dulu soal kelangkaan buku paspor baru ngomongin yang lainnya.

    Dirgahayu Indonesia!
    Catatan di atas ini adalah penunjuk bahwa setidaknya hingga detik ini aku masih mempedulikanmu meskipun terkadang sebagai orang indonesia yang merantau di sini, aku kehilangan pegangan apakah aku didukung oleh pemerintah negeri sendiri??Atau aku malah merasa seperti dibiarkan dalam pengembaraan yang hanya dielus-elus sekali waktu ketika ada kunjungan kenegaraan untuk diminta tampil tampan dan cantik di muka presiden atau pejabat yang hadir?

    Come on! Kita bisa lebih baik dari yang ini…

  • Manusia boleh berencana, JKW yang berkuasa

    Manusia boleh berencana, JKW yang berkuasa

    Kalau kalian aktif di social media Facebook dan jeli mengamati lini masa, aplikasi yang menurutku paling tak menarik perhatianku tapi mendadak muncul dalam benak saat ini adalah aplikasi yang menebak bagaimana dan kapan kamu akan mati.

    Ada seorang kawan yang mencoba aplikasi itu, hasilnya dipampang di wall-nya. Di situ tertera ia akan mati karena kecelakaan mobil pada tanggal, bulan dan tahun yang telah juga ditentukan.

    Itu bukan satu-satunya aplikasi. Ada yang senada malah lebih menarik karena secara grafis, hasil ?perhitungan kematian? nya ditampilkan dalam wujud nisan.

    Tapi kedua aplikasi itu tadi tak ada apa-apanya dibanding penampakan foto di bawah ini.

    blog_nisan

    Sembilan calon nisan (berikut dengan peti jenasahnya) telah dipersiapkan bagi kesembilan terpidana mati kasus narkoba yang besok malam akan dibunuh bersama-sama. Di sana tertulis rapi nama-nama lengkap orangnya beserta keterangan ?WF (wafat) 29.04.2015? (Tulisan ini dinaikkan dua hari sebelumnya!)

    Yang selanjutnya muncul di kepala bayangan adegan demi adegan yang mengulas demikian,

    kesembilan dari mereka didorong paksa menuju ke lapangan tembak, diikat kaki dan tangan, didirikan pada sebuah tiang, di-baca-i doa dan dibacakan surat pelaksanaan eksekusi tak jauh dari telinganya.

    Terdengar kertak gigi ketakutan, rintihan, doa serta isakan tangis yang belum tertuntaskan.

    Lalu derap langkah lebih dari seratus personil entah itu polisi atau tentara masuk ke arena, bunyi kokang senapan memecah sunyi dan selanjutnya ?dor! dor! dor! dor! dor!? Senapan menyalak menggema di angkasa diikuti jeritan para keluarga yang menunggu dari luar penjara dibarengi nafas berat tanda sekarat terpidana yang lunglai menuju akhir hayatnya.

    Sembilan dokter sigap memeriksa terpidana. Memerika entah dengan jari atau stetoskop ke tubuh, melongok jam tangannya…

    ?Dua puluh sembilan april dua ribu lima belas!? teriak para dokter itu.

    Sang pemimpin pasukan mengangguk.
    ?Perlu ditulis jamnya sekalian nggak?? tanya para dokter itu serentak sekali lagi.
    Pemimpin pasukan menggeleng cepat lalu menyilakan keseratus personil entah polisi atau tentara tadi keluar gelanggang cepat-cepat.

    Jasad-jasad terbunuh itu lalu diringkus tak kalah kilatnya oleh para petugas, ditandu menuju tempat untuk diproses sebelum diserahkan pada pihak keluarga.

    Lapangan sepi tak lama kemudian, menyisakan tiang-tiang yang dingin terdiam, entah mungkin juga roh-roh tak kasat mata yang masih tak percaya bahwa dirinya telah tiada, secepat itu, sesakit itu, semudah itu.

    Lalu pada langit yang gelap muncul tulisan jelas-jelas,
    ?Manusia boleh berencana, JKW yang berkuasa… TAMAT!?

  • Bangsa yang suka berdoa…

    Bangsa yang suka berdoa…

    blog_doa

    Intensitas pertemuanku dengan Tunggonono, meski kini kami tinggal satu kota, tidaklah setinggi di Jogja dulu.

    Dulu, tiap malam aku ketemu karena memang ia bekerja untukku, jadi petugas jaga malam di kantor yang kutempati untuk bermalam juga (makanya kuberi nama tunggonono yang dalam bahasa Indonesia berarti ?Temani/Tunggin?). Di sini, ia sibuk jadi ?petugas jaga malam? pacarnya, seorang bule yang sebutlah bernama Entenana.

    Tapi beberapa minggu sebelum Paskah, aku bertemu dengannya di perayaan ekaristi mingguan berbahasa Indonesia di Gereja St Joseph, Newtown, NSW!

    Setahuku Tunggonono memang Katolik.
    Dulu ia sering bercerita bagaimana getolnya berorganisasi dalam wadah mudika paroki desanya. Tapi setelah punya pacar beda agama, ia jadi nggak pernah ke gereja. Sama seperti trend sekarang lah, pemuda gereja dapat pacar yang non-katholik lalu Tunggonono pun sempat berpikir untuk pindah agama sesuai agama pacarnya; sesuatu yang hanya kusenyumi kecut dan kutinggalkan ia begitu saja saat ia bercerita dulu dan sejak saat itu ia tak pernah bercerita tentang agama lagi.

    Jadi, pertemuanku dengannya di gereja tempo hari benar-benar membuatku terpana.

    ?Loh Nggon? ke gereja? Masih Katholik tho kamu?!? aku berpapasan dengannya waktu kami hendak sama-sama mengambil komuni ke muka altar.

    ?Halo Bos! Kaget to sampeyan hehehehe!? ujarnya berbisik, Entenana mengikutinya di belakang.

    Setelah perayaan, aku menemui Tunggonono di halaman gereja.

    ?Kok saiki kowe kenal gereja, Nggon?? tanyaku menggoda.??Heheheheh alah si Bos? lha kemarin dikasih tahu teman katanya kalau ke gereja sini makanannya enak-enak? khas Indonesia!?

    Blarrrrrr!!!!
    Tunggonono belum berubah ternyata, Saudara-saudara!

    Gaya bicatanya masih glenyengan, diksinya sepertinya hanya guyonan biasa, tapi di akhir sebelum sampai tanda titik, ia menukik tajam, menohok dan seolah menusuk kita dengan pesannya!

    Eh tapi kalian jangan percaya apa yang diucapkan Tunggonono, atau kalau kalian percaya bahwa ada orang-orang Indonesia yang datang ke perayaan berbahasa Indonesia hanya untuk mengincar makanan yang dijual/dibagikan setelah misa, percayalah hanya ada satu orang yaitu Tunggonono sendiri!

    Nyatanya, orang-orang katolik Indonesia di sini adalah orang-orang yang saleh, agamis? suci. Semoga kalian percaya?

    Mungkin kalian jadi bertanya, ?Wow, di Australia ada perayaan ibadat berbahasa Indonesia??

    Ada! Banyak!
    Sebagai bangsa yang ber-Pancasila dan gemar beragama, orang-orang Indonesia di Australia pun tak bisa lepas dari kegiatan berkoloni dengan rekan sebangsannya pada hari-hari perayaan keagamaan untuk berdoa bersama.

    Aku adalah salah satu contohnya. Karena aku katolik dan Indonesia, CIC, Catholic Indonesia Community adalah wadah yang menyenangkan karena selain bisa berkumpul dengan sesama orang Indonesia dan berdoa? apalagi kalau makanannya yang enak-enak itu hehehe!

    CIC memiliki anggota yang lumayan banyak, susah ngitungnya. Komunitas yang embrionya sudah ada sejak akhir 70an ini mendapat restu dari keuskupan setempat.

    Selain mengadakan misa mingguan di gereja tempatku bertemu dengan Tunggonono, St Joseph?s Church Newtown, CIC juga mengadakan banyak perayaan ekaristi di gereja-gereja lainnya.

    Di kawasan timur kota Sydney, Kensington, tepatnya di gereja Our Lady of The Rosary Church, perayaan berbahasa Indonesia diadakan setiap hari minggu jam 3:30 sore juga pada setiap hari Jumat pertama tiap bulanny jam 7 malam.

    Di Campbelltown yang letaknya 58 kilometer dari Sydney, CIC juga mengadakan misa pada tiap hari minggu II jam 6 sore bertempat di Mary Mother of the Church.

    St Peter Julian Church yang berada di kawasan chinatown, kota Sydney, pada tiap sabtu pertama dan ketiga jam 2:15 sore juga diadakan perayaan berbahasa Indonesia.

    Di Our Lady of Dolours Church di Chatswood, sekitar 15 kilometer timur laut Sydney, pada setiap minggu III jam tujuh sore.

    Dan yang terakhir, di gereja tempat aku ber-pelayanan, St Agatha?s Penant Hills, perayaan berbahasa Indonesia diadakan pada hari sabtu minggu ke IV/V jam 7:30 malam.

    Wow, kan?! Nggak nyangka, kan?!
    Tunggu dulu, itu belum seberapa!?Komunitas-komunitas bina iman pendukung seperti persekutuan doa, kelompok pendalaman kitab suci dan lain sebagainya juga merebak baik yang berafiliasi dengan CIC ataupun yang berdiri sendiri dan mereka menggunakan Bahasa Indonesia juga! Rata-rata kegiatan diadakan pada hari Sabtu atau Minggu dan ada beberapa yang diadakan pada jumat malam.

    Jadi, kalau ada yang mau benar-benar niat dan minat, mengikuti acara-acara yang diadakan oleh komunitas CIC itu sudah cukup ?membawa? Indonesia di sini!

    Nah, itu baru Katholik, belum agama-agama lainnya. Bagi saudara muslim misalnya, di daerah Campbelltown kudengar juga ada pengajian khusus orang-orang Indonesia. Gereja-gereja protestan dari berbagai macam denominasi berbahasa Indonesia juga banyak betul dan bahkan jauh lebih banyak dari kegiatan serta sub-komunitas yang bernaung di bawah CIC.

    Menyenangkan, bukan?
    Jadi kalau kalian sepakat pindah ke Australia, jangan takut kehilangan kebiasaan untuk?makan makanan enak khas Indonesia dan mengikuti kegiatan beragama? Semuanya ada.

  • Klaten

    Klaten

    blog_klaten_14
    Stasiun Klaten

     

    ?Saya Donny Verdian, dari Klaten!?
    Begitu aku selalu memperkenalkan diri ketika bertemu dengan sesama orang Indonesia di Australia sini.

    Dari dulu hingga sekarang dan semoga untuk selamanya, aku memang tak pernah malu mengakui diri sebagai orang yang berasal dari kota kecil yang letaknya di antara Solo dan Jogja itu.

    ***

    Meski pada kenyataannya, dilihat dari sejarah, aku sebenarnya tinggal di Klaten tak lebih dari tujuh tahun saja.

    Aku memang lahir di sana pada akhir tahun 1977, tapi sejak awal 1984, Papa yang telah lebih dulu merantau ke Kebumen, sebuah kota kecil lainnya di sebelah barat Jogja sekitar 110km jaraknya, memboyong aku dan Mama. Chitra, adikku sekaligus saudara kandungku satu-satunya, baru lahir setahun kemudian.

    Di Kebumen aku lantas menetap hingga medio 1993 sebelum akhirnya aku memutuskan merantau, memisahkan diri dari keluarga untuk hidup mandiri bersekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

    Keluarga orang tua beserta adikku memang akhirnya pindah dari Kebumen ke Klaten pada 1998, tapi saat itupun aku sudah sangat jarang kembali ke Klaten. Paling hanya tiap akhir pekan, itupun hanya beberapa jam saja lamanya sebelum akhirnya kembali ke Jogja.

    Oleh karenanya memoriku terhadap Klaten terutama soal sahabat dan tempat sangatlah terbatas.

    Aku akan diam dan berujar, ?Wah maaf nggak kenal!? kalau ada yang bertanya, ?Oh kamu dari Klaten? Kamu harusnya kenal si A dong? Dia seumuran denganmu!?

    Mereka tak tahu bahwa sahabat-sahabatku di Klaten hanyalah mereka teman main sekampung, atau teman-teman yang pernah sama-sama duduk di bangku kelas nol kecil TK Maria Assumpta saja! Bayangkan, TK nol kecil dan itu terjadi pada tahun 1983 – 1984? Siapa yang masih memelihara repihan ingatan sedalam dan sejauh itu dalam benak?

    Walau memang pada akhirnya ada satu-dua kawan TK nol kecil yang kutemui lagi saat duduk di bangku SMA Kolese De Britto atau saat kuliah di Unveristas Kristen Duta Wacana. Ada pula seorang yang kukenal lagi lewat social media.

    Demikian juga soal tempat.
    Aku hanya mengenal Jalan Pemuda dan kampungku Tegal Blateran saja! Selebihnya paling Semangkak dan Sungkur (makam leluhurku), Sidowayah, Stasiun, Bareng, Karang Duwet, Mojayan, Srago lalu sudah. Kalau ada yang bertanya misalnya, ?Rumah kamu berapa jauh dari Tonggalan?? Aku akan geleng-geleng kepala juga, tak tahu dimana Tonggalan itu berada!

    blog_klaten_10
    Aku di depan rumah asalku di Kampung Tegal Blateran yang kini sedang direnovasi adikku, Chitra

     

    blog_klaten_08
    Aku dengan Mak Ndhuk, pengasuhku saat kecil. Kini sedang sakit dan sudah tampak begitu renta…
    blog_klaten_09
    Yang ini Mbak Benik namanya. Anaknya Mak Ndhuk…

     

    Nah, kesempatan menjenguk Mama minggu lalu kumanfaatkan untuk lebih mengenal Klaten. Dalam kunjungan selama tujuh hari itu, seharusnya aku memang tinggal dan menginap di rumah. Tapi karena rumah keluargaku yang berada di kampung Tegal Blateran sedang direnovasi, Chitra dan suaminya, Ayok, mengontrak sebuah rumah nan mungil untuk sementara sambil menanti rumah utama jadi. Untuk itu aku memilih bermalam di hotel saja daripada merepotkan.

    blog_klaten_01

    Hotel yang kupilih adalah Hotel Perdana Raya yang letaknya ada di jantung kota Klaten.?Pertimbanganku menginap di situ ada dua, harga yang tak terlalu mahal dan nostalgia.

    Hotel ini milik keluarga besar salah seorang kawan TK dulu, Vita namanya. Dari serpihan ingatan yang masih ada, aku ingat dulu pernah diundang ke acara ulang tahunnya bersama Mama. Bayangan suasana pesta ulang tahun Vita yang masih melekat itulah yang membuatku memilih untuk menginap di sana dan bukan di hotel yang lainnya.

    Sehari sebelum pulang ke Sydney, pada separuh pagi, aku keluar hotel dan jalan-jalan menyusuri kota, menggenapi nostalgia dan kenangan yang telah ada separuhnya sebelumnya.

    Ide ini spontan lahirnya.
    Semula aku hanya ingin mencari sarapan di sekitar hotel tempatku tinggal. Tapi hingga beberapa lamanya aku tak kunjung menemukan, niatan kuubah kenapa tak sekalian ke Bakso Anda saja?

    Aku dan Lie Fock Kuang, kawanku saat TK lalu ketemu lagi di De Britto dan kini jadi teman akrab, pengelola Bakso Anda yang melegenda
    Aku dan Lie Fock Kuang, kawanku saat TK lalu ketemu lagi di De Britto dan kini jadi teman akrab, pengelola Bakso Anda yang melegenda

    Bakso Anda adalah warung bakso legendaris di kota Klaten.
    Pemiliknya dulu adalah sahabat Mamaku. Aku ingat, waktu kami pindah ke Kebumen, pemilik Bakso Anda memberikan kenang-kenangan sebuah jam dinding dan? tulang belulang kepala babi yang katanya bagus untuk tolak bala di rumah yang akan kutempati!

    Anaknya yang kini menjadi penerusnya, Lie Fock Kuang, adalah kawanku di TK Maria Assumpta yang lalu bertemu lagi ketika kami sama-sama studi di SMA Kolese De Britto dan kami bersahabat hingga sekarang.

    Setiap pulang ke Klaten, aku tak pernah melewatkan kesempatan untuk setidaknya sekali makan bakso dan ngobrol ngalor-ngidul bersama Kuang.

    Pada hari kedua kedatanganku, Senin sore, aku sebenarnya sudah mampir makan ke Bakso Anda, tapi aku pikir ada baiknya aku ke sana lagi untuk sekalian berpamitan karena akan pulang ke Sydney keesokan harinya.

    Untuk menuju ke Bakso Anda yang letaknya di Jl Dewi Sartika, aku menyusuri kompleks pertokoan Jl Pemuda yang merupakan jalan protokol di Klaten.

    Dulu, pada era 1980 – 1983, setiap Papa pulang mudik malam mingguan dari Kebumen, ia selalu mengajak kami jalan-jalan ke situ untuk berbelanja lalu makan. Mama biasanya dibelikan pakaian, tas ataupun sepatu baru, sementara aku selain juga dibelikan tas, pakaian dan sepatu baru, aku kerap merengek minta dibelikan mainan baru.

    Menjelang pulang, biasanya Papa mengajak makan kalau nggak di Bakso Anda yang dulu letaknya di dekat alun-alun Klaten atau di Bakso Miroso yang letaknya di depan toko terbesar di Klaten waktu itu, Laris.

    Kebanyakan toko-toko yang berada di Jl Pemuda yang kulewati pagi itu masih sama dengan apa yang kulewati tiga puluh tahun silam.

    blog_klaten_04
    Rugos, huruf gosok
    blog_klaten_06
    Display yang berdebu
    blog_klaten_05
    Kalau bukan aku dan kita, siapa yang mampu menyelamatkan eksistensi Bahasa Jawa?
    blog_klaten_12
    Toko legenda, perhatikan tanggal berlakunya :) Aku menatap papan nama yang sama dengan saat kutatap, tiga puluh tahun silam…

     

    Djangkar masih setia dengan besi dan alat-alat bangunanannya, Redjo dan Mandjur masih menjajakan obat, Toko Florida masih jualan roti dan Sumber Kawruh di tengah gencarnya kemajuan teknologi informasi masih giat mencoba menjadi sumber kawruh/ilmu dengan tetap berjualan buku dan alat tulis bagi pelajar.

    Sebagian toko memang sudah direnovasi lengkap dengan segala kegenitan era masa kini, tapi ada juga yang masih tetap tampak sedia kala dengan tatanan dan bahkan etalase kayu yang menarik untuk disentuh karena apa yang kusentuh saat itu pasti adalah hal yang sama yang kusentuh di masa silam itu.

    Meski demikian ada juga toko yang telah berubah konsep jualannya. Laris, adalah salah satu contohnya. Dulu Laris berkonsep toko pada umumnya saat itu, menjual segala sesuatu yang ?terdepan? dengan konsep etalase, tapi kini ia memindah konsep itu di lantai dua sedangkan pada lantai dasar dipakai untuk berjualan groceries yang sangat laris, sesuai namanya, dan ramainya kalau kata orang Klaten, ora mekatilok itu!

    Yang amat disayangkan adalah hilangnya blok pertokoan yang letaknya di sisi alun-alun yang bersebarangan dengan Masjid Raya Klaten.

    Dulu di situ selain ada Bakso Anda juga ada deretan toko pramuka dan alat sekolah, Endras, berderet dengan toko alat elektronik yang aku lupa namanya serta penjual gorengan ?Bolang-baling? yang lezatnya tak kentara itu!

    Di situ dulu juga ada bioskop legendaris kota, Rita namanya. Waktu kecil alm. Papa dan Mama pernah mengajakku nonton beberapa kali dan satu yang kuingat adalah Kingkong.

    Waktu aku duduk di bangku SMA dan kuliah di Jogja, ketika pulang ke Klaten, aku kerap diajak nonton film esek-esek oleh kawan-kawan main kampungku waktu kecil. Suasananya riuh rendah! Setiap ada adegan hendak membuka baju atau ciuman, seisi bioskop penuh cecuitan lalu tiba-tiba ketika film terpotong karena sensor, suara orang ngedumel terdengar di sini sana!

    Oh ya, yang juga tak bisa lepas dari ingatanku, setiap nonton Rita, pantat dan pahaku selalu bentol-bentol karena gigitan bangsat-bangsat penghisap darah yang bersembunyi di sela rotan dan spon kursi yang busuk!

    blog_klaten_03
    Di muka dinding inilah, tiap malam minggu ketika jalan-jalan bersama alm. Papa dan Mama, aku selalu bernyanyi “Kidang Talun”

     

    Dari arah alun-alun, aku menuju ke kampung Tegal Blateran.
    Untuk menuju ke sana aku melewati rumah yang pada dinding mukanya berhiaskan teralis berbentuk kijang dan waktu kecil, ketika jalan di depannya bersama alm. Papa dan Mama dulu, aku selalu bernyanyi riang,

    Kidang talun,
    mangan kacang talun,
    mil kethemil mil kethemil
    si kidang mangan lembayun
    (RC Hardjasubrata)

    Di perempatan masuk kampung Tegal Blateran, aku bertemu dengan mBambung, kawan mainku waktu kecil yang sekarang jadi tukang becak dan biasa ngetem di situ.

    Kami ngobrol sebentar. Ia yang tahu kondisi Mamaku menyampaikan rasa prihatinnya dan mendoakan yang terbaik.

    Tak lama sesudahnya aku lantas belok kanan menyusuri Jalan Garuda menuju ke warung Bakso Anda. Laparku menggelembung dan membayangkan bulatan-bulatan bakso itu alangkah menyenangkan untuk disantap sepagi itu!

    Tapi sayang, laparku pada bakso bikinan teman dekatku itu tak tunai. Aku sampai di pintu Bakso Anda yang telah terkunci itu 10 menit terlambatnya dari jadwal tutup warung, 10:30 WIB!

    Agak kecewa memang tapi ya sudahlah, toh selalu ada hari esok untuk kembali pulang ke Klaten dan mampir makan disitu dan bercengkrama sebentar dengan Fock Kuang!

    Selat Klaten
    Selat Klaten

    Sekitar lima puluh meter dari Bakso Anda, ada warung Selat dan Gado-gado Klaten yang kesohor! Penjualnya adalah kawan baik eyangku maka mampirlah aku ke sana.

    Aku ingat dulu, Eyang yang semasa muda bekerja di Penerbit Intan Pariwara sebagai editor buku, pulang kerja sering membawakanku selat Klaten yang biasa kusantap setelah bangun dari tidur siang. Waktu itu, biasanya aku hanya kuat menyantap separuh lalu yang separuhnya dihabiskan Mama.

    Tapi pagi itu, aku sadar bahwa ukuran lambung dan pencernaanku tak sesingset tiga puluh tahun lalu. Selat sepiring kusantap tandas tak sampai lima menit.

    Dua menit kemudian ketika hendak membayar, rasa lapar kembali menyerang. Aku yang masih dikenal baik oleh penjualnya pun tahu diri untuk tak pesan tambahan meski aku bersedia membayarnya.

    Aku lantas berjalan ke arah utara menuju ke hotel karena matahari telah tinggi dan aku harus bergegas mandi dan pergi menjenguk Mama.

    Karena masih lapar, akhirnya aku mampir makan lagi ke Bakso Miroso yang kerap kudatangi dulu bersama alm. Papa dan Mama.

    Masuk ke dalam warung itu, ingatanku terlempar ke era lalu.

    Biasanya dulu aku duduk di muka jendela bujur sangkar dihimpit alm. Papa dan Mama. Sambil menunggu pesanan datang, aku biasanya merengek minta dibukakan bungkusan mainan yang barusan dibelikan sementara Papa menyuapiku es soda gembira dengan sendok teh-nya.

    Ketika bakso datang, Mama lalu menyuapiku sementara tanganku sudah sibuk dengan mainan baru itu dan Papa juga sudah sibuk menikmati bakso pesanannya.

    Tapi siang itu, setelah tiga puluh tahun lebih berlalu, aku mendapati diriku seorang diri di depan jendela yang telah jadi usang dan tetap berbentuk bujur sangkar itu. Papa telah tiada, empat tahun lalu dan Mama sedang berjuang dengan sakit kerasnya.

    Aku memesan semangkuk bakso dan es soda gembira, pesanan yang sama dulu dipesan alm. Papa dan Mama.

    Di meja sebelahku ada seorang Nenek beserta anak dan cucunya. Nenek itu kutaksir seumuran dengan Mamaku, dan si anak itu kira-kira lima tahun di bawahku. Sesekali si cucu yang kupikir berusia sekitar enam tahun menoleh dan menaruh perhatian kepadaku.

    Aku membalas dengan senyum, lalu si cucu seolah melapor ke Nenek dan ibunya. Ketiganya lalu menoleh kepadaku dengan senyum dan kubalas juga dengan senyum?

    Bakso Miroso dan jendela bujur sangkar itu...
    Bakso Miroso dan jendela bujur sangkar itu…

    Aku termangu dan merenung.
    Dalam permenunganku itu, aku berpikir bahwa Waktu, sejatinya adalah seorang ahli matematika yang tak pernah salah. Ia tak pernah luput menambahkan kepada dirinya sendiri detik demi detik yang menggumpal menjadi menit lalu jam. Dari jam lantas beranjak ke hari, lalu minggu, bulan untuk menjadi tahun. Tahun demi tahun berganti, membawa gurat-gurat di wajah kita, membawa perubahan-perubahan di sekitar kita dan semakin mendorong kita pada akhir hidup masing-masing?

    Pada si cucu itu, aku melihat diriku sendiri tiga puluh tahun yang lampau. Pada diriku sendiri, aku membayangkan si cucu itu akan berada, tiga puluh tahun mendatang dari sekarang.

    Dan pada saat itu nanti aku tak tahu akan berada dimana?
    Bisa jadi aku telah mati, bisa jadi pula aku akan diberi waktu untuk berjumpa dengannya di warung itu dalam suasana yang berbeda, aku yang semakin renta dan ia juga yang menua?

    Tapi bisa jadi pula pertemuan di tempat itupun tak kan pernah ada lagi karena warung Bakso Miroso bisa bernasib sama dengan bioskop Rita, Toko Endras dan Bolang-baling yang digilas roda jaman untuk dalih kepentingan era baru dan pemimpin barunya nantinya. Tapi waktu, ia selama diijinkan ada, tetap akan ada? Ia tetap akan bermatematika, mengiterasikan diri dengan penambahan detik demi detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan menjadi tahun yang terus bergulung maju?.

    Aku bersyukur untuk pengalaman pagi yang indah itu, sebuah permenungan yang melegakan.

    Sesuatu yang membuatku tak pernah habis mengagumi karya Ilahi pada diriku yang tumbuh dan dibesarkan di sebuah kota kecil namun dikungkungi orang-orang yang begitu mencintaiku.

    ?Permenungan? yang sekaligus membuatku bangga akan asal-muasalku.
    Sebagai orang yang tumbuh bukan di balik angkuhnya tembok kompleks real estate melainkan sebagai ?anak kampoeng? lengkap dengan suka dukanya yang organik dan tak dibuat-buat.

    Sebagai anak yang muncul dari belaian kasih orang tua dengan sepoi angin yang melenakan di kampung tepian sawah dihiasi derasnya arus sungai Jalidin, bukan dari balik keindahan artifical dan kemacetan ibukota yang meninggikan tensi, memendekkan umur dan melelahkan?

    Perkenalkan, saya, Donny Verdian, dari Klaten!

  • Paspor

    Paspor

    blog_paspor_01

    Membaca lembar kedua buku paspor Republik Indonesia,

    Pemerintah Republik Indonesia memohon kepada semua pihak yang berkepentingan
    untuk mengizinkan kepada pemegang paspor ini
    berlalu secara leluasa dan memberi bantuan dan perlindungan kepadanya.

    selalu membuatku jatuh terharu…

    Rasanya, kalau kalian mau tahu, menggetarkan.
    Seperti seorang anak SD kelas satu yang hendak bepergian seorang diri naik kereta dari Klaten ke Purwokerto. Oleh Ibunya, si anak tadi dititipi secarik kertas untuk ditunjukkan kepada siapa saja yang oleh si anak dianggap perlu untuk dimintai bantuan dan perlindungan selama ia jauh dari ibunya.

    Tapi, Jumat minggu lalu (13/3), aku mendapatkan sebuah pengalaman yang membuatku semakin terharu membaca penggalan pesan di atas.

    * * *

    Kondisi Mamaku tiba-tiba memburuk dan aku memutuskan untuk pulang secepatnya ke Indonesia!?Kali ini tak dapat ditunda-tunda lagi karena aku tahu benar sifat Mamaku. Kalau tak dalam keadaan terdesak, ia sangat jarang meminta sesuatu dariku. Tapi kali itu, ia memintaku untuk pulang karena ingin bertemu, “Aku pengen banget ketemu Donny! Masih mungkin nggak ya aku menemuinya?” demikian Chitra, adikku, menceritakan apa yang dikatakan Mamaku.

     

    Paspor habis masa berlaku!

    Joyce, istriku, kuminta untuk membantuku mencarikan tiket pesawat pulang-pergi, sesuai rencana aku hendak berada di Indonesia seminggu lamanya. Tapi alangkah kagetnya ketika aku sadar bahwa masa berlaku pasporku kurang dari lima bulan padahal menurut aturan, paspor seharusnya diperpanjang paling lambat enam bulan sebelum habis masa berlaku.

    Joyce, dengan keadaan pasporku, sempat kesulitan ketika hendak memesan tiket untukku. “Saat sampai di Indonesia, dengan paspormu yang sekarang nggak jadi soal, tapi ketika kamu kembali kemari, ke Australia, dengan umur paspormu yang kurang dari lima bulan, mereka (pihak travel agent) concern kamu ditolak imigrasi!”

    Wah, aku yang hari itu sedang sibuk-sibuknya melakukan proses handover beberapa proyek ke anak buahku karena keperluanku mudik tak bisa lagi berkonsentrasi! Buyar, sebuyar-buyarnya!

    “Lalu bagaimana?” tanyaku.
    “Kita mesti ke Konjen sekarang!” kulirik jam sudah jam 11 siang. Aku bimbang karena aku tahu setiap hari Jumat, Konjen tutup pada siang hari untuk memberikan waktu bagi para stafnya beribadah.

     

    Hotline or Hotlie?

    Tapi tak ada pilihan lain bagiku.
    Lebih baik mencoba saat itu juga dengan apapun hasil yang akan kuterima tidak sama sekali.

    Aku lantas membuka situs web Konsulat Jenderal RI Sydney untuk mencari tahu syarat perpanjangan paspor dan kemungkinan jika ada ‘jalur emergency’ yang bisa kutempuh karena kepulanganku kali ini pun bukan untuk berlibur tapi untuk sesuatu yang sifatnya emergency.

    Dari situs web itu pula aku menemukan nomer telepon hotline. Aku segera mengambil telepon dan mencoba menghubungi mereka. Sekali, tak dijawab. Kucoba me-redial lagi, tak ada pula jawaban. Untuk yang ketiga kalinya kuulangi, dan hasilnya tetap sama. Aku mengirim pesan ke istriku, “Berangkat sekarang jemput aku, aku coba telpon hotline KJRI kok ngga masuk-masuk ya?”

    Tak lama kemudian Joyce menjemputku bersama Odilia dan Elodia. Ijin untuk mengambil jam istirahat lebih lama tak dipersoalkan oleh manajerku, pesannya hanya satu, “Do whatever you need to do for your family, DV!”

    Jarak dari rumahku yang berada di sisi utara kota Sydney ke kantor KJRI yang berada di sebelah timur tidaklah terlalu jauh, tapi cukup memakan biaya karena untuk mendapatkan jarak terdekat dengan perkiraan traffic lalu lintas yang paling lancar, kami harus membayar sekian dollar untuk sekian kali masuk pintu tol.

    Sepanjang perjalanan itu aku terus mencoba menghubungi nomer hotline yang terpampang di situs web KJRI. Tapi sebanyak percobaan yang kulakukan, sejumlah itu pula aku tak mendapatkan jawaban, hanya nada sambung lalu berakhir dengan tawaran untuk meninggalkan pesan suara.

    Aku lalu menyebarkan informasi tentang susahnya menghubungi hotline number tersebut di social media. Yang membuat semakin tak tenang, ternyata pengalaman tak mendapatkan jawaban ketika menelpon hotline number KJRI ternyata bukan dialami aku saja. Ada beberapa kawan lain yang meninggalkan komentar di status facebooku dengan isi menceritakan pengalaman yang sama.

    blog_paspor_02 blog_paspor_03 blog_paspor_04

    Aku semakin panik! Bayangan tak bisa menemui Mama lagi untuk selamanya semakin bermain di depan mata sementara jam menunjukkan sangat dekat dengan waktu dimulainya istirahat dan ibadah siang!

    Pak Ini atau Bu Ini…
    Kawan-kawan sesama perantau dari Indonesia, setelah membaca statusku, juga menawarkan bantuan.
    “Coba kamu hubungi Pak ini… nomer hpnya sekian sekian sekian!”
    “Kontak nomer lain, Don. Namanya Bu ini… nomernya sekian sekian sekian, tiga bulan lalu dia bantu aku banget!”

    Tapi semuanya kutolak!
    Bagiku, ketika aku membutuhkan bantuan, tanpa melalui ‘jalur khusus’ dengan Pak inilah, Bu inilah, harusnya permohonan bantuanku diproses secara sama dengan orang lain yang melalui ataupun tak melalui ‘jalur khusus’ tadi. “Thanks, tapi aku memilih menghubungi KJRI dengan cara normal saja!” jawabku pada mereka.

     

    Buku Paspor habis!

    blog_paspor_05

    Di luar dugaan, setelah sekian kali percobaan, kali itu, ketika jarak dengan kantor konjen semakin dekat, panggilanku melalui telepon diangkat.

    “Halo, selamat siang!”
    Aku yang sudah cukup emosi pun melampiaskan kekesalanku, “Wah…. akhirnya diangkat juga setelah berkali kali kali kali saya nyoba telpon, Mas!”
    “Oh, maaf kami tadi sedang rapat, Pak!”
    Whatt???? pemegang nomer hotline pun bisa rapat tanpa melakukan handover nomer ke staff lain? Bagaimana kalau ada hal yang lebih emergency dariku yang memerlukan bantuan ketika ia sedang rapat dan tidak ada seorang pun yang bertugas menggantikan dirinya untuk menerima telpon? Emosiku kian memuncak….

    “Kok bisa gitu? Saya butuh bikin buku paspor, Pak! Saya perlu pulang untuk urusan mendadak yang sangat penting hari minggu ini!”

    “Maaf, Pak tapi kami tak bisa melayani karena buku paspor habis!”
    “Hah! Kok? Kenapa nggak diberi tahu?”
    “Ini kami baru akan memasang pengumumannya!”

    “Nggak bisa dong! Ini saya sudah terlanjur hampir sampai konjen dan dari tadi saya buka websitenya nggak ada pengumumannya!”

    “I… ini baru mau kami pasang, Pak! Bapak hubungi saja pihak Canberra!” Ia menyarankanku untuk menghubungi pihak Kedutaan Besar Indonesia di Canberra.

    “Wah, nggak bisa! Saya tinggal di Sydney dan di sini ada Konjennya kok!” sergahku.
    “I… iya Pak tapi kami kehabisan buku…”

    “Nama kamu siapa?!” hardikku
    “Bapak hubungi saja di no….”
    “Na-ma ka-mu si-a-paaaa!!!???” suaraku tergetar karena emosi.

    “Bapak hubu….”
    Hubungan langsung kuputus. Bagiku mau kuulang seribu kali pertanyaanku, kuperpanjang percakapanku beratus menit pun tak kan mengubah keadaan, jadi kuputuskan untuk menyudahi komunikasi saat itu.

    Lima menit kemudian, kami sampai di muka kantor Konjen RI dan benar saja, pintu gerbang tertutup. Sebuah plang lusuh bertuliskan “CLOSED” tergantung sementara itu tak jauh darinya sebuah tiang mengibarkan Sang Dwi Warna tinggi-tinggi. Angin kota Sydney yang mengalun sedang membuat Merah Putih berkibar dengan gagahnya…

    * * *

    Lapar karena emosi dan panik membuat kami memutuskan untuk cari makan dulu. Dalam perjalanan menuju ke Fajar Restaurant, Joyce memintaku menelpon Kedubes di Canberra.

     

    Kami akan hubungi bapak

    Aku sebenarnya malas, karena ini bukan pada tempatnya. Bagiku jalurnya harusnya melalui hotline Konjen. “Cobalah, kita kan yang butuh!” ujar istriku. Aku yang sudah terlanjur emosi membalas, “Aku tahu aku yang butuh, tapi aku ini warga negara Indonesia! Dimana peduli pemerintah Indonesia kepadaku di saat-saat ini?”

    Tapi aku lantas menganggap saran Joyce adalah yang paling relevan saat itu untuk kulakukan.?Aku segera menelpon pihak Canberra. Mereka ternyata mengejutkanku dengan bersikap jauh lebih manis. Aku pun mengubah mind setku yang sudah terlanjur kucampur pekat-pekat dengan emosiku. Aku segera mengutarakan persoalan dan mereka sempat pula menerbitkan harapan bagiku. “Betul, Pak. Stock buku paspor baru di Sydney memang dilaporkan habis tadi pagi. Tapi kami akan mencoba menghubungi mereka kalau-kalau masih ada sisa untuk Bapak. Nanti kami akan menghubungi Bapak setelah mendapatkan jawaban dari Sydney ya…”

    Kami lantas makan dengan lahapnya kali itu. Marah, emosi dan panik itu ternyata makan energi.

    * * *

    Aku mengenal sosok, sebut saja Bung Bharata, sejak beberapa bulan yang lalu. Beliau kuhormati; seorang cendekia calon doktor bidang hukum yang sedang menempuh studi di Sydney, Australia. Perjumpaanku dengannya adalah ketika kami sama-sama memperjuangkan Jokowi dalam Pilpres 2014 silam lalu disambung dengan acara 10 tahun Munir dan yang terakhir pada persiapan acara menolak UU Pilkada Tak Langsung yang akhirnya karena ada kesalahpahaman teknis antaraku dengan panitia lainnya, aku memutuskan untuk tak datang mendukung jalannya acara. Namun demikian, hubunganku dengan Bung Bharata tidaklah berubah, selalu baik dan saling hormat-menghormati.

    Siang itu, setelah makan, aku mencoba menghubunginya. Rupanya ia sedang bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah Sholat Jumat.

    “Bung Bharata, Bung sudah baca statusku?” tanyaku padanya.
    “Oh sudah Bung Donny. Tenang saja, saya akan bantu. Di masjid, biasanya saya banyak bertemu staff konjen, malah Pak Konjen pun biasanya sholat di sana juga. Nanti akan saya sampaikan keluhan Bung.”

    “Wah, jangan, Bung” sergahku. “Saya maunya pakai cara normal saja, Bung! Saya tak mau main belakang!”

    “Loh ini bukan main belakang, Bung! Dan ini demi kebaikan Indonesia juga karena kalau benar stock buku paspor itu habis, ini sudah tidak benar!” Ia lalu melanjutkan, “Lagipula, Bung harus pulang! Ibu Bung pasti sudah menanti Bung untuk pulang secepatnya!”

    Aku tak bisa berkomentar apa-apa.?Sambil menunggu Bung Bharata beribadah, aku dan Joyce mengatur strategi lain.

    “Kamu keberatan nggak kalau pulangmu diundur selasa atau rabu jadi hari Senin kita nekat ke Canberra, datangin kedubes untuk minta paspor baru untukmu!”

    “Pilihan lain?”
    “Kamu nekat pulang tapi kamu harus urus di Indonesia. Aku nggak tahu berapa lama urus di sana dan apakah kamu akan punya waktu untuk mengurusnya karena kamu kan pasti sibuk dengan Mama…”

     

    Berkeputusan

    Aku terdiam sejenak, “Hmmm, aku akan putuskan setelah Bung Bharata menelpon nanti.”
    Tak lama setelah kami semua selesai makan dan memberi makan Odilia dan Elodia, yang kutunggu-tunggu memberi kabar.

    “Halo, Bung Donny!”
    “Halo, Bung Bharata, bagaimana?”

    “Ini saya tadi bertemu dengan rekan konjen dan ternyata memang buku paspor mereka habis, Bung!”

    “Waduh, beneran ya?”
    “Iya! Tapi Bung jangan khawatir, saya akan bantu cari info di Canberra…”

    “Nggak usah, Bung Bharata. Tadi saya sudah kontak Canberra dan mereka berjanji akan menelpon saya untuk mencarikan kepastian!”

    “Oh baiklah, Bung! Pokoknya saya tetap bantu Bung Donny ya dan sekali lagi, Bung Donny harus pulang untuk Ibu!”
    “Terimakasih, Bung. Wassalam!”

    “Ok….” aku bicara dengan nada sangat pelan di depan Joyce. “Ternyata memang buku paspornya benar-benar habis dan.. kayaknya aku memilih untuk tetap nekad pulang hari Minggu ini lalu ngurus paspor di sana minggu depan sampai jadi!”

    Joyce menghormati keputusanku. Kami lalu bergegas untuk membeli tiket ke travel agent yang telah kami kenal baik.
    Proses pembelian tiket berlangsung cepat, travel agent tak menghiraukan pasporku yang akan habis dalam waktu dekat, “Yang penting nanti begitu tiba di Indonesia, kamu langsung perpanjang paspor!” tukasnya. Aku menghargai nasihatnya meski aku tak yakin apakah ia akan memberikan nasihat yang sama kepada orang yang tak menjadi klien bisnisnya.

    Kepanikan akhirnya benar-benar reda ketika aku menjelaskan kepada atasanku tentang hal yang baru saja kuhadapi dan kemungkinan aku akan memerlukan tambahan waktu berada di Indonesia jika diperlukan untuk mengurus paspor baru. Ia, atasanku, hanya berujar, “No worries… go for it!”

    Hingga sore hari, ada begitu banyak kawan mencoba mencarikan solusi untukku tapi aku tak menerima satupun tawaran solusi itu dengan alasan bahwa aku telah melaksanakan cara yang paling benar yaitu menghubungi nomer hotline Konjen RI di Sydney, sebagai kantor perwakilan pemerintah RI terdekat dari tempat tinggalku.

    Aku menutup hari itu dengan sebuah kekecewaan meski tak terlalu getir. Sesaat sebelum tidur ketika sedang menyiapkan packing, aku membuka buku paspor yang hendak kusatukan dengan tiket yang tadi kubeli. Pada bagian yang kusebut di atas tadi, halaman kedua, kubaca ulang-ulang dengan penuh hayat tulisan itu kembali,
    Pemerintah Republik Indonesia memohon kepada semua pihak yang berkepentingan untuk mengizinkan kepada pemegang paspor ini berlalu secara leluasa dan memberi bantuan dan perlindungan kepadanya.

    Aku makin terharu dibuatnya.
    Haruku karena aku menabrakkan bayangan betapa indahnya tulisan itu dengan betapa mirisnya apa yang kuhadapi hari itu.

    Aku menutup buku pasporku, meletakkan kacamataku dan melirik ke layar handphoneku.?Hmmmm, tak ada panggilan ataupun pesan baru masuk dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra. Padahal, tadi mereka berjanji akan menelponku untuk mengabarkan hasil usaha mereka meminta buku paspor dari Konjen RI di Sydney kepadaku.

    Sebagai warga negara Indonesia yang baik, aku hanya?mampu berpikir mungkin mereka terlalu sibuk dengan urusan lain sehingga tak punya waktu luang untuk memperhatikan janji mereka kepada seorang warga negara seperti saya. Mungkin.

    ps: Akhirnya, aku mendapatkan perpanjangan paspor di Indonesia. Jangan tanya dengan cara apa? Jangan!

  • Kecewa sih, Jok! Tapi nggak nyesel…

    Kecewa sih, Jok! Tapi nggak nyesel…

    blog_jok

    Ah, nahan rasa gatal dengan cara tidak menggaruk itu ternyata hal yang menyakitkan!?Meski pada postingan ini aku pernah berjanji untuk tak menulis tentang hal yang sifatnya populis nan politis lagi, tapi hal itu rupanya harus kujilat sendiri sebulan setengah sesudahnya!

    Akhir-akhir ini beberapa pesan masuk melalui social media dan email bertanya tentang “Kecewakah aku dengan Jokowi? Menyesalkah aku dulu pernah memilihnya?” Bahkan salah satu kawan baikku di Indonesia ketika kutelpon untuk memberitakan keadaan Mama malah sempat curcol, “Piye Jokowi? Kecewa ora? Kowe kan dulu pentolan relawan di Australia! Piye?”

     

    Kecewa

    OK, jadi kalian sempat kecewa terhadap Jokowi karena kasus KPK – Polri seolah dibiarkan berlarut-larut hingga baru kemarin diumumkan hasilnya, kan?

    Sekarang sudah nggak kecewa lagi dong? Hasilnya kan memuaskan?

    Aku malah masih kecewa terhadapnya terutama terkait kebijakannya menolak grasi para terpidana mati tanpa pandang bulu. Bagiku, hanya Tuhan yang berhak memutus kematian seseorang, bukan dokter, tak pula presiden! Keputusan kematian itu adalah keputusan ilahi.

    Kalian sempat juga menyesal memilih Jokowi pada Pilpres 2014 silam, kan? Kalau iya, disinilah bedanya aku dengan kalian! Kalian mungkin pernah menyesal, tapi aku tidak. Aku kecewa tapi tidak menyesal. Kenapa? Karena aku punya akar alasan yang cukup kokoh untuk memilih Jokowi ketimbang Prabowo waktu itu. Bukan karena sosoknya yang populis, demen blusukan dan lain sebagainya. Kalau kalian mau tahu alasanku, coba simak tulisan lawasku?berjudul Dulu Aku Memilih Prabowo. Tulisan ini telah dibaca ribuan orang dan disebarluaskan melalui jejaring social media tahun lalu.

     

    Andai yang jadi presiden itu Prabowo

    Lalu kalau ada orang yang dulu memihak dan memilih Prabowo bilang, “Coba dulu Prabowo yang terpilih! Pasti tidak seperti ini! Lebih baik dari ini!” tanpa harus menjawab pernyataannya, bagiku orang-orang seperti adalah orang yang tak layak untuk ditanggapi!

    Para pemimpi yang merasa tampan ketika punya modal kata ‘Andai’. Orang-orang seperti itu bisa punya kecenderungan untuk berlaku sama terhadap istrinya, misalnya, “Ah, coba aku dulu nggak nikah denganmu! Coba dulu kutanggapi ajakan nikah mantanku yang satu itu…. Mungkin bisa lebih membahagiakan!” Sayang, hidup ini bukan perkara pengandaian!

    Adapun tentang Jokowi sendiri, mari kita lanjutkan untuk mengamati dan mendampinginya dengan berbagai kritik serta saran dan jangan lupa untuk bertepuk tangan dan memberikan salut ketika ia meraih keberhasilan. Jangan pernah berintensi untuk meninggalkannya, bukan karena dirinya sendiri tapi lebih karena sikapmu yang telah memilihnya dulu.

    blog_jok_01
    Kalau nanti kamu kecewa lagi dengan Jokowi, ingatlah kata-kata bijak dari Anies ini…

     

    blog_jok_02
    Atau yang ini…

     

    Kita harus konsisten dengan pilihan kita, Mas Bro! Perkara KPK – Polri akhirnya memang diputuskan dengan keputusan yang memihak ke publik tapi aku yakin itu bukan akhir segalanya. Jokowi masih punya empat tahun ke depan dalam masa pemerintahannya untuk digoyang politisi-politisi busuk maupun menggoyang persepsi buruk kita terhadapnya. Kalaupun ia pada akhirnya dimakzulkan seperti sas-sus yang beredar sehingga tak punya waktu sepanjang empat tahun lagi, ya anggap saja ini pembelajaran yang juga tak kalah baiknya untuk diri seorang Jokowi dalam me-manage harapan masyarakat terkait tingginya kedudukan yang ia raih!

    Jadi beneran nggak nyesel, Don?
    Enggak! Sama sekali nggak!

    Kecewa?
    Sedang… sedang kecewa tapi semoga tidak berkepanjangan!

    Kalau pemilu diulang dan menghadirkan komposisi yang sama antara Prabowo dan Jokowi saat ini apa tetap akan memilih Jokowi?

    Waduh, ini yang susah! Kenapa kamu ga tanya lebih dulu apakah saat ini aku masih menjadi WNI yang berhak memilih atau tidak?

    OK, jadi kamu sudah nggak WNI lagi?
    Errrrrr…

  • Ketika otak juga perlu di-Indonesia-kan

    Ketika otak juga perlu di-Indonesia-kan

    blog_indomagz_01

    Salah satu hal menarik terkait dengan ‘mencari keindonesiaan’ di Australia sini adalah adanya beberapa buletin berbahasa Indonesia yang dicetak dan diterbitkan setiap periode tertentu.?Mendapati restaurant yang menjual masakan Indonesia itu sudah lumrah, menemui grocery store penjual barang-barang khas Indonesia itu bisa dimaklumi juga. Tapi ketika kita menemui setidaknya (yang kutahu) tiga buletin cetak yang dicetak secara konsisten (salah duanya malah sudah terbit sejak 1998 silam!) dan didistribusikan secara merata, kita tahu bahwa kebutuhan untuk selalu mendapat yang ‘indonesia’ itu tak hanya berhenti di level lidah yang mengecap makanan saja tapi juga sudah sampai ke otak yang memerlukan asupan informasi khas Indonesia yang lebih tradisional dari teknologi terkini (internet) yaitu cetak!

    Ketiga buletin itu adalah Indo Post, Buletin Indo dan IndoMedia.

     

    Distribusi

    Saat baru pertama kali pindah ke Australia, 2008 silam, tiap awal bulan aku selalu menanti edisi terbaru dari buletin-buletin tersebut.

    Untuk mendapatkannya, karena waktu itu aku tinggal di daerah Northwest, aku harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit menuju ke kawasan timur kota tempat dimana banyak terdapat restaurant-restaurant penjual makanan Indonesia. Buletin-buletin itu biasanya diletakkan di dalam rak yang tersedia di restaraunt-restaurant tersebut atau di toko grocery Indonesia (simak tulisanku tentang White Lotus, Indonesian grocery yang cukup punya nama di Sydney) dan bisa diambil secara cuma-cuma. Selain itu, pada event-event ‘Indonesia’ seperti misalnya festival 17-an, sumpah pemuda, ataupun acara-acara keagamaan yang diselenggarakan komunitas-komunitas ‘Indonesia’, buletin-buletin juga bisa kita temukan.

    Meski gratis, kalau kalian ingin mendapatkan kiriman buletin ketimbang mengambil di tempat-tempat yang kusebut di atas (itupun kalau masih kebagian), kalian juga bisa berlangganan dengan biaya yang sangat murah yang kupikir itu pasti hanya untuk mengcover biaya pengiriman saja.

    Tak hanya dalam wujud cetak, ketiga buletin itu juga menawarkan bentuk digital yang bisa kita nikmati pada website mereka.

     

    Iklan, Iklan… Berita

    Dari edisi terbaru, Februari 2015 yang kupegang, baik Indo Post maupun BuletinIndo memiliki jumlah halaman yang sama, 90 halaman diluar sampul. (Aku mendapatkan keduanya di Fajar Restaurant dan sayangnya aku tak mendapatkan IndoMedia. Mungkin stoknya sudah habis atau mungkin juga belum rilis).

    Keduanya dicetak dalam ukuran kertas A3. Cover dicetak glossy dan full colour sedangkan kontennya dicetak menggunakan kertas daur ulang (seperti kertas koran) dengan konten disajikan dalam mode hitam putih meski ada juga bagian-bagian tertentu yang berwarna, mungkin dengan pertimbangan konten yang berada di situ adalah iklan berbayar.

    Kebanyakan isinya adalah iklan dan hampir semua iklannya terkait dengan ladang usaha berbasis keindonesiaan.?Kalau cuma iklan restaurant dan catering sudah biasa. Di buletin itu juga disajikan iklan-iklan yang mungkin bikin kalian mikir, “Oh, ada juga di Australia sana?”

    Sebut saja iklan sekolah nyetir mobil dengan instrukturnya orang Indonesia, iklan alih bahasa (translasi), jasa transfer keuangan ke/dari Indonesia, jasa peminjaman uang, acara-acara/event keagamaan dan komunitas-komunitas Indonesia, jasa agensi dan konsultasi visa pelajar dan migrasi, jasa angkutan pindahan rumah, jasa angkutan antar-jemput anak sekolah, jasa angkutan antar-jemput dari/ke bandara, sekolah, pijat urut, lowongan pekerjaan bahkan iklan penanganan jenasah oleh orang Indonesia termasuk kemungkinan mengirimkan jenasah ke Indonesia pun ada!

    Adapun konten lain selain iklan biasanya adalah berita terkait headline kejadian yang terjadi baik di tanah air, Australia maupun penjuru dunia dalam kemasan yang singkat dan ringan. Jangan bandingkan dengan analisa ala Tempo atau Kompas, tapi bandingkanlah dengan berita-berita sekilas ala portal berita masa kini.

    Menarik, kan?
    Mau lihat seperti apa? Simak di website mereka masing-masing, Indo Post, Buletin Indo dan IndoMedia.

    Simak juga cuplikan isi buletin di bawah ini:

    Hamparan iklan nan menyenangkan...
    Hamparan iklan nan menyenangkan…
    Duh, ada Bang Ipul juga :)
    Duh, ada Bang Ipul juga :)
    Ini agak random menurutku, event di Jogja diumumkan di media Australia? Jadi pengen pulang kampung! :)
    Ini agak random menurutku, event di Jogja diumumkan di media Australia? Jadi pengen pulang kampung! :)
    Nah, iklan penguburan pun ada sampai ke jasa layanan kirim jenasah!
    Nah, iklan penguburan pun ada sampai ke jasa layanan kirim jenasah!
    Iklan event
    Iklan event
    Aneka permainan kata dan angka
    Aneka permainan kata dan angka
    Resolusi cinta? Anyone? :)
    Resolusi cinta? Anyone? :)
    Infotainment? hmmm nggak juga kali ya...
    Infotainment? hmmm nggak juga kali ya…
    Iklan finance dan properti adalah yang paling jamak!
    Iklan finance dan properti adalah yang paling jamak!
  • Luar negeri dalam bayanganmu…

    Luar negeri dalam bayanganmu…

    blog_globe

    Sadar-ngga-sadar, ada banyak stereotipe yang menempel di otak kita tentang ?luar negeri?. Akupun dulu juga begitu. Ada banyak bayangan yang muncul ketika orang bertanya, ?Seperti apakah luar negeri itu??

    Bayangan-bayangan itu kita peroleh dari film, buku dan terutama cerita orang-orang yang pernah ke luar negeri yang dipaparkan secara subyektif dan kita olah di dalam benak dengan tak kalah subyektifnya.

    Berikut salah beberapa di antaranya.

     

    Dingin! Bersalju!

    Banyak orang menganggap bahwa luar negeri itu nggak boleh panas dan selalu dingin serta bersalju (kecuali Mekkah).

    Padahal di Australia sini misalnya, ketika musim panas tiba, suhunya bisa lebih tinggi daripada suhu di Indonesia. Pernah aku mengalami suhu sepanas 46 derajat lebih lho! (Baca tulisanku tentang pengalaman ini!)

    Tak semua ?luar negeri? itu bersalju juga!

    Di Australia tidak ada salju kecuali di beberapa gunung itupun hanya saat musim dingin.?(Baca tulisanku lainnya tentang Perlengkapan musim dingin dan Perlengkapan musim panas)

     

    Pasti Lebih Maju

    Tergantung majunya dalam arti apa, tapi yang pasti kalau pengertian maju-mu adalah pada barang-barang yang jauh lebih bagus atau infrastruktur yang lebih modern, sebenarnya nggak juga.

    Banyak negara yang ada di luar Indonesia yang tidak semaju yang dibayangkan. Bahkan banyak negara yang jauh lebih tertinggal dari Indonesia.

    Di negara maju seperti di Australia sini, pun kalian masih bisa temui tiang listrik yang terbuat dari kayu dan sudah tampak tua tapi masih dipergunakan.

    Sepeda motor petugas pos pun sepeda motor tua yang kutaksir diproduksi pada era 80an. Bandingkan dengan Indonesia, tiang listrik kayu mana ada? Beton semua!

    blog_polisi

    Sepeda motor petugas pos pun kuyakin jauh lebih muda dari yang dipakai di sini. Malah kemarin kudengar mobil ferrari pun dipakai untuk patroli polisi kan?

    Luar biasa! :)

    (Bagian ini pernah secara khusus kutulis di sini)

     

    Pasti Lebih Kaya

    Ngggg? amin sih, kuamini doa kalian tapi pada kenyataannya tak semua yang tinggal di luar negeri itu lebih kaya.

    Pendapatan kami memang dollar dan nilai tukarnya dibandingkan rupiah bisa dibilang lumayan. Tapi kami menggunakan uang itu juga dengan perhitungan dollar. Beda misalnya kami digaji dollar dengan standard di sini lalu dipergunakan hidup di Indonesia, mungkin di titik baru terasa kaya.

    Tapi itupun tak selalu benar karena nyatanya sekarang ada banyak esekutif kelas menengah ke atas di Jakarta yang gajinya melebihi gaji kami di sini.

    Yang jadi masalah bagi Indonesia (dan negara berkembang lainnya) itu sebenarnya bukan ada tidaknya orang kaya di negara tersebut tapi lebih pada perbandingan ada berapa gelintir orang yang sangat kaya dan ada berapa ribu/juta orang yang sangat miskin.

    Selebihnya, hidup, dimanapun adanya, tantangannya hanya satu: penuh tantangan!

     

    Pasti lebih murah, titip oleh-oleh dong!

    Suatu waktu dulu pernah teman bilang, ?Don, kalau pulang ke Indonesia titip oleh-oleh dong!?

    ?Apa??
    ?Macbook pro kek atau apa gitu.. kalau murah nanti kutukar duitnya!?

    Banyak orang berpikir barang dari luar negeri pasti murah. Padahal justru sebaliknya, di negara maju, barang-barang itu jauh lebih mahal.

    Katakanlah itu barang import (dan hampir semua kan made in China jadi pasti import) pasti kena bea pajak masuk, kalau barang mewah lebih gede lagi pajaknya! Katakanlah itu barang asli Australia, harga justru jauh lebih mahal lagi karena biaya labour (pekerja) di sini masih lebih mahal dibandingkan biaya labour di China plus ongkos-ongkos lain yang membebani produk hingga pajak per satuan barang!

    Kalau mau titip oleh-oleh pun, itu sebenarnya agak rancu. Aku berpikir terminologi oleh-oleh itu sendiri harusnya dihilangkan seiring perkembangan jaman dimana kalian bisa berbelanja online untuk mendapatkan hal yang tak bisa kalian dapatkan di ‘rumah sendiri’.

     

    Keju dan burger? dan mie instan

    Aku dulu berpikir tinggal di luar negeri pasti makan keju dan burger.

    Padahal tidak juga! Apalagi di negara-negara yang kulturnya dibangun dari ras pendatang seperti Australia dan Amerika, keju dan burger itu hanya salah satu pilihan di antara banyak pilihan khas dari negara-negara pendatang.?Di sini cari chinese food dan thai food jauh lebih mudah ketimbang cari tukang jual steak, keju dan burger.

    Lalu bagaimana dengan masakan Indonesia??Dulu aku mengira masakan Indonesia yang beredar paling mie instan dan semua yang serba bisa dihidangkan secara instan lainnya.

    Padahal??Tidak semuanya begitu.

    Australia mungkin tak adil untuk dijadikan imbangan karena jarak yang dekat dengan Indonesia sehingga mudah untuk mengeskpor bahan baku makanan dari sana.?Tapi kawan lamaku yang tahun lalu meninggal, ia tinggal di San Fransisco dan semasa hidupnya pernah membuka rumah makan khas Indonesia yang cukup punya nama.?Tentu ia tak hanya menjual mie instan dan mungkin tak juga menjual keju dan burger, kan??Coba baca tulisanku ini?atau ini)

    Kalian berpikir ini gado-gado yang kubeli di Jogja atau Solo? Bukan! Ini kubeli di Sydney lengkap dengan kerupuk dan  Teh Botol kemasan kotaknya!
    Kalian berpikir ini gado-gado yang kubeli di Jogja atau Solo? Bukan! Ini kubeli di Sydney lengkap dengan kerupuk dan Teh Botol kemasan kotaknya!
  • Selamat, Indonesia!

    Selamat, Indonesia!

    Foto saat Jokowi usai melakukan pidato kenegaraannya yang pertama sebagai Presiden RI. Ia memekikan, "MERDEKA!" Photo by AP/Dita Alangkara
    Foto saat Jokowi usai melakukan pidato kenegaraannya yang pertama sebagai Presiden RI. Ia memekikan, “MERDEKA!”
    Photo by AP/Dita Alangkara

    Ya pokoknya selamat!
    Kalian sekarang punya presiden keren yang beda dari yang sudah pernah ada. Ia anak bantaran kali Bengawan Solo yang daerah asalnya hanya sekitar lima puluh kilometer jauhnya dari kampungku di Klaten sana, Joko Widodo namanya!?Presiden energik yang barangkali bau keringatnya sama kayak kita apek dan penguk khas anak kampung bukan bau parfum berkelas yang jutaan harga per botolnya.

    Wakil presidennya pun tak kalah keren karena kalau tidak keren ia tentu tak kan dipilih Presiden kalian yang keren, kan??Dan bukan hanya itu, Jusuf Kalla sepanjang sejarah adalah satu-satunya wakil presiden yang dipilih dua kali dengan dua presiden yang berbeda, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Di point ini, kalian nggak usah mempermasalahkan siapa yang lebih keren dari siapa; SBY dan Jokowi…

    Selanjutnya mari kita bekerja, bekerja dan bekerja sesuai ajakan Jokowi pagi tadi dimulai dari diri sendiri dengan melakukan mulai dari hal-hal kecil di lingkungan kita masing-masing.

    https://www.youtube.com/watch?v=DU0kOS0mKXY

    Dan dalam hiruk-pikuk pesta rakyat yang kunikmati dari layar monitor sejak tadi pagi aku tersadar akan satu hal berikut ini…
    Dulu, waktu meninggalkan Indonesia, 1 November 2008, tak setetes airmata pun mengalir untuk kesedihan karena meninggalkan negeri tapi kali ini, meski tak sampai berderai-derai, barangkali untuk pertama kalinya, aku menangis bagi Indonesia. Bukan tangisan pedih tapi bangga sekaligus haru karena kemenangan Jokowi – JK adalah kemenangan rakyat semesta. Kemenanganmu dan kemenanganku, kemenangan kita bersama!

    Salam tiga jari!

  • Sekolah Pelangi

    Sekolah Pelangi

    blog_pelangi

    Mengamati di lini masa social media kemarin, ternyata perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-69 ramai juga ya padahal kupikir semula hanya Lebaran dan Natal saja yang bisa ramai?

    Di sini juga ada beberapa rangkaian acara menyambut ?hari merdeka? baik itu yang diadakan kelompok-kelompok kecil ataupun dalam ukuran besar sebesar yang diadakan di Melbourne lengkap dengan pengibaran bendera dan pagelaran Tari Saman dengan jumlah penari yang 69 banyaknya! Masif, kan? (Klik tulisan tentang acara ini di sini)

    See! Bikin merinding kan?!
    Gue bilang juga apa?. Negara dan bangsa kita itu memang sesuatu yang harusnya selalu kita bangga?in kok! Nggak setiap yang berkaitan dengan ?Indonesia? itu selalu minor dan miring.

    Nah, biar nambah-nambahin hal-hal positif tentang Indonesia, baru-baru ini aku mewawancarai Epy Djulianti, seorang Indonesia yang tinggal di sini. Aku mengenalnya sejak acara #AUS4JKW, waktu itu aku dan Mbak Epy adalah salah dua dari sekian relawan yang mengorganisir acara itu yang akhirnya berhasil mengumpulkan 300 anak bangsa di depan Sydney Opera House. (simak tulisannya di sini).

    Tapi tentu aku tak mendiskusikan tentang Jokowi dengan orang yang biasa kupanggil Mbak Epy itu. Ada hal yang lebih menarik daripada tentang Jokowi, yaitu tentang ke-indonesia-an yang ditanam di Australia sini.

    Ia, Mbak Epy, adalah seorang principal (semacam kepala sekolah) dari Sekolah Pelangi, sebuah sekolah Bahasa Indonesia yang letaknya di Leumah, sebuah kota di negara bagian NSW berjarak sekitar 56km dari Sydney.

    Nah, kalian, orang-orang Indonesia, coba bayangkan!
    Ketika sekitar 46% dari kalian pada 9 Juli silam memilih mencari sosok presiden yang pintar berbahasa Inggris, ketika kalian sekarang lebih banyak berlagak bicara dalam Bahasa Inggris saat bergaul di kafe-kafe atau lebih mengajarkan Bahasa Inggris/Mandarin dan Arab daripada Bahasa Indonesia ke anak-anak kalian, di Australia sini, orang-orang seperti Mbak Epy sibuk mengenalkan Bahasa Indonesia sebagai warisan pusaka bangsa yang indah nan memancarkan pesona!

    Wow, kan?
    Penasaran? Simak wawancara lengkapnya di sini!
    Salam Merdeka!

    DV: Mbak, Sekolah Pelangi ini berdiri sejak kapan?
    Epy: Sekolah Pelangi berdiri sejak angkatan pertama dimulai, 1 Februari 2012 yang lalu.

    Ide awalnya bagaimana sih kok bisa berdiri?
    Ide awalnya bergulir sejak 2006, datang dari Pak Jon (Jon Soemarjono – mantan dosen studi Indonesia di beberapa universitas di Sydney, sekarang board of member Ethnic Communities? Council of NSW -red) dan Amrizal Zein.

    Kepedulian mereka saat itu adalah untuk menyediakan fasilitas bagi anak-anak keturunan Indonesia yang lahir di Australia terutama untuk mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia.

    Baru tahun 2012, terwujudlah ide itu. Selain Pak Jon dan Pak Amrizal, juga ada Ibu Gustiana Dauener, Pak Ruslan Pandapotan dan saya sendiri sebagai pendirinya waktu itu.

    Kegiatan Pramuka di Sekolah Pelangi

    Lalu kenapa namanya Pelangi?
    Nama itu berasal dari Pak Konjen, Gary Yusuf (Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney waktu itu, sekarang Duta Besar Indonesia untuk Fiji -red) karena waktu itu pihak konjen punya program namanya Program Pelangi jadi ya sudah disamakan saja namanya.

    Pembiayaan ketika Sekolah Pelangi didirikan bagaimana?
    Biaya awalnya hasil swadaya dari para pendiri. Kemudian baru setelah grant disetujui oleh DEC (Departemen of Education and Communities -red), Pemerintah Australia yang membiayai hingga sekarang.

    Tak hanya itu, Pemerintah Australia melalui DEC juga mempersilakan kami untuk memakai gedung AB Central Airds pada tiga bulan pertama kemudian pindah ke Leumeah High School sampai sekarang.

    Oleh DEC, Sekolah Pelangi dimasukkan dalam kategori apa?
    Kategori Community Language School. Jadi kita memakai kurikulum yang telah ditetapkan yaitu NSW Indonesian Language Curriculum.

    Jumlah gurunya hingga sekarang ada berapa, Mbak?
    Ada enam tapi yang aktif per minggu tiga orang. Semuanya diatur dalam jadwal.

    Kesenian angklung

    Kalau jumlah murid dan rentang usia mereka?
    Sampai sekarang kita menerima pendaftaran sebanyak 80 murid tapi yang aktif berkisar antara 30 – 35. Rentang usia mereka mulai dari pre-school sampai kelas 12.

    Ide awal pendirian Sekolah Pelangi kan untuk anak keturunan Indonesia yang tinggal di Australia. Apakah pada prakteknya semua muridnya adalah keturunan Indonesia semua?
    Tidak. Ada juga yang berasal dari Afrika Selatan, Vietnam dan Pakistan.

    Lalu apa sebenarnya motivasi para murid ketika masuk ke Sekolah Pelangi?
    Bagi yang keturunan Indonesia, kebanyakan dari mereka karena ingin melestarikan bahasa Ibu dan berharap mereka bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan keluarga di Indonesia.
    Sedangkan untuk yang berasal dari bangsa lain, mereka ingin mempelajari bahasa asing untuk mendukung prestasi di sekolah dan karir masa depan mereka saja.

    Mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Pelangi apa saja?
    Yang paling terutama adalah Bahasa Indonesia lalu disisipkan pengetahuan budaya, musik tradisional angklung, tarian tradisional Indonesia, dan? Pramuka!

    Dalam bayangan para murid, Indonesia itu seperti apa, Mbak?
    Bagi yang lahir atau pernah ke Indonesia, mereka punya pandangan yang kurang lebih dengan kita yang lama tinggal di Indonesia, Mas.
    Tapi bagi bangsa lain, Indonesia itu ya Bali.

    Mengajar dan mengurus Sekolah Pelangi tentu banyak suka-dukanya. Dukanya dulu, Mbak, tolong ceritakan.
    Dukanya, masih kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia di daerah sekitar Sekolah Pelangi (Leumah – Campbeltown) untuk memanfaatkan fasilitas sekolah komunitas yang sangat murah sekali ($5 per family untuk satu session) dan didukung oleh Pemerintah Australia dan Indonesia.?Sementara ada keluarga yang mengirim anak-anaknya meski mereka tinggal agak jauh seperti dari Blacktown, bankstown, Campsie, dan Hurstville.

    Kalau sukanya?
    Sukanya adalah, anak-anak sudah bisa mengucapkan kata-kata dalam ejaan Bahasa Indonesia dan sudah mengerti susunan kalimat.

    Tapi yang paling mengesankan sebenarnya, kami bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk masyarakat anak-keturunan Indonesia maupun bangsa lainnya terutama generasi muda untuk belajar dan melestarikan bahasa Indonesia di luar negeri.

    Mbak Epy dan piagam yang didapatnya kemarin. Selamat, Mbak!

    (Dalam upacara peringatan kemerdekaan yang diadakan di kantor Konsulat Jenderal Indonesia di Sydney kemarin, Mbak Epy bersama para pendiri, seluruh staf dan murid mendapatkan piagam penghargaan resmi atas nama Pemerintah Republik Indonesia terkait dengan dukungan dalam pengajaran dan pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia.

    Oh ya, kamu tertarik untuk tahu lebih jauh tentang Sekolah Pelangi? Kunjungi halaman facebook mereka ?atau jika ingin bertanya atau bahkan ingin memberikan sumbangan tenaga dan pemikiran, silakan kirim email ke alamat ini:iafa.nsw@gmail.com.)

     

    Update:

    Beberapa hari silam aku menemukan link ke video menarik tentang Sekolah Pelangi dari laman milik Mas Yahya Zakaria, salah satu staf pengajar di Sekolah Pelangi. Simak videonya di sini: