Kurang dari seminggu lagi, musim dingin di Australia secara official berakhir.
Sejak dua minggu lalu, blossom tree yang kutanam di depan rumahku yang daunnya menggugur sejak awal musim dingin mulai berbunga indah seperti yang tampak dalam gambar di rawian ini.
Blossom tree
Ini adalah musim dingin ke-17 sejak migrasiku ke Australia di akhir 2008 silam dan kian lama aku kian sadar bahwa badan ini sejatinya adalah badan tropis yang tidak siap untuk musim dingin di negara sub-tropis. Apalagi dengan fisik yang makin menua, daya lawan terhadap suhu dingin kurasa makin menurun.
Segala daya untuk menghangatkan tubuh kulakukan.
Mulai dari menambah beberapa lapis pakaian, celana, kaus kaki yang sampai dua lapis, penutup leher berbahan wool yang tak boleh ketinggalan hingga penutup kepala serta pemanas ruangan yang tak boleh berhenti menyala di rumah.
Setiap April, sekitar dua bulan sebelum musim dingin tiba, aku suntik vaksin flu supaya kalaupun terdampak, aku tidak terkena varian flu ganas sehingga semua bisa lebih dikondisikan lebih baik. Tahun ini, aku cukup berhasil dalam hal per-flu-an. Tahun lalu aku bisa KO hampir dua-tiga minggu kena flu, tahun ini tidak sama sekali.
Tapi beda flu, beda pula dengan masuk angin!
Dan bicara soal masuk angin, masa-masa akhir musim dingin seperti ini sebenarnya justru adalah masa rawan.
Masa di mana tubuh mulai tidak sinkron dengan pikiran. Pikiran mengingatkan tubuh bahwa meski suhu udara di siang dan sore menaik tapi pagi dan malam tetaplah dingin dan angin yang meski menjarang tapi sekalinya bertiup, dinginnya menusuk tulang!
Tapi yang namanya tubuh, maunya bebas dari balutan berlapis-lapis katun. Tubuh yang makin berani untuk dibaluti satu lapis kemeja dan celana katun saja. Syal leher? Ah apa itu? Nggak perlu! Pun tidak dengan penghangat kepala!
Jadinya ya seperti mudah ditebak… Kepala berat nan pening, sendawa dan kentut yang tak berkesudahan membuat sebel anak-anak dan istri yang tentu tak tahan dengan baunya hehehe.
Kalau udah gitu, saatnya meringkuk sambil menunggu istri menghidangkan mie instan berkuah pedas, wedang jahe racikannya serta beberapa sachet tolak angin hampir setiap malam!
Migunani tumraping liyan, alias berguna bagi sesama adalah cita-cita sekaligus alasan kenapa blog ini terus kuadakan sejak 2002 hingga sekarang.?
Dua tahun silam, tepatnya 5 Mei 2017, aku menulis artikel bertajuk ?Pernikahan Beda Agama? Menikahlah di Australia!? Hingga sekarang, artikel itu adalah salah satu dari yang paling banyak dibaca orang. Beberapa dari pembaca menghubungi secara langsung untuk bertanya apakah benar menikah (sipil) beda agama itu mudah di sini juga tentang detil-detil yang mesti dipersiapkan.
Salah satu dari mereka yang membaca dan lantas menghubungiku adalah Fransiska Wuri Nugrahani atau yang akrab disapa Siska. 2017 silam Siska menghubungiku melalui email dan Instagram dan bertanya tentang tata-cara menikah beda agama di sini.
Tak dinyana, dua tahun kemudian, Siska menikah dengan I Made Dwicahyana Putra pada 21 Februari 2019 silam di Melbourne, Australia!
menikah beda agama
Siska yang berasal dari Ambarawa, Jawa Tengah adalah seorang Katolik sementara suaminya, Made, mudah ditebak, ia berasal dari Bali dan pemeluk Hindu.
Aku menghubungi Siska melalui WA beberapa waktu lalu. Aku ingin bertanya tentang bagaimana sukar-mudahnya mengurus pernikahan beda agama di negara ini. Bukan untuk membuktikan bahwa kekuatan sebuah tulisan blog itu begitu digdaya untuk memotivasi orang lain tapi justru untuk meng-update tentang apa yang kutulis dua tahun lalu itu.
Caranya cukup mudah
menikah beda agama
Tentang bagaimana proses persiapan pernikahan, Siska menyebut bahwa caranya cukup mudah. Ia mengisi formulir online dari situs Births Deaths Marriages (BDM) milik Pemerintah Australia pada bulan Januari 2019. (link)
Selanjutnya ia mencari kawan yang mau untuk dijadikan saksi pernikahan. Siska dan Made lantas pergi ke Marriage Registry (semacam kantor urusan pernikahan) untuk melakukan wawancara dan bayar syarat-syarat administrasi. Karena mereka menikah pada hari kerja (Kamis), ongkos pernikahan adalah $320. Sedikit lebih murah ketimbang kalau kamu mau menikah di akhir pekan, $370. Mereka juga diminta menunjukkan paspor lalu memilih tanggal pernikahan.
Lalu pertanyaan apa aja yang ditanyakan di Marriage Registry?
?Soal usia apakah sudah lebih dari delapan belas tahun atau belum, sudah pernah menikah atau belum? Siapa yang akan jadi saksi?? jawab Siska
Agama nggak ditanyain? ?Enggak lah. Jangankan agama, jenis kelamin aja enggak (ditanya)!?
Jadi kawan-kawan, kalau pacarmu beda agama, jangan buru-buru diputusin dulu. Jangan pula buru-buru pindah agama demi pasangan. Menikahlah secara sipil di Australia, kamu tak perlu seagama!
??agama tuh ga seharusnya jadi penghalang seseorang buat nikah.? (Fransiska Wuri Nugrahani)
Acara diskusi kebangsaan bertajuk ?Jokowi 2019?? (diskusi kebangsaan Jokowi 2019) yang kami adakan siang itu, Sabtu, 18 November 2017 ti Ashfield Town Hall, Ashfield, NSW, Australia berjalan lancar.
Ada haru menyelinap di tengah gempita bahagia yang kurasakan bersama kawan-kawan NKRI OZ Community Inc karena aku teringat perjalanan mempersiapkan acara yang penuh liku dan sama sekali tak mudah.
Rencana awal
Sekitar bulan Mei 2017, saat publik dikagetkan dengan kekalahan dan dipidananya Ahok, Andrew Wanandy, kawan sesama orang Indonesia yang tinggal di sini menghubungiku melalui sambungan telepon.
Ia menawariku jadi moderator pada sebuah acara diskusi kebangsaan yang sedianya akan diadakan pada september 2017.
?Kenapa gue, Ndrew?? ?Loe beda! Dan justru karena beda itu loe pasti bisa bikin acaranya hidup karena opini yang disampaikan narasumber bisa dapat imbangannya!?
A-ha! Menarik juga! Akupun menerima ?pinangan? itu. Tapi sayang, setelah ikut dalam beberapa kali meeting, acara itu harus dibatalkan karena hal yang tak bisa kusebutkan di sini.
Tetap jalan?
Pembatalan acara itu cukup memukul tapi tak melukai. Justru kami bersyukur karena sudah terlanjur terpicu semangat untuk tetap berkumpul dan membuat acara keindonesiaan.
Kami berbincang, berdiskusi lantas bergegas memutuskan: acara dilanjutkan!
Tapi rencana itu lagi-lagi digagalkan karena salah seorang narasumber yang kami hadirkan mengundurkan diri seiring pengunduran diri salah satu mantan panitia.
Kami sempat hilang kendali. Jadi? Atau tak jadi saja?
Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
NKRI OZ Community Inc.
Di tengah keterombang-ambingan itu, Dr Nur Arif Makful, MSc yang sedianya jadi narasumber kami yang lainnya menyarankan untuk tetap jalan.
Dan kami pikir benar juga! Untuk lebih memantapkan langkah (dan sebenarnya untuk mengirit biaya ini dan itu) kami lantas membuat asosiasi resmi yang diakui pemerintah Australia sebagai pengundang pembicara dan penanggung jawab jalannya acara. Kenapa demikian? Karena dengan memiliki asosiasi, ongkos sewa gedung bisa kami irit dan kami percaya ketika mengundang tamu dari Indonesia sebagai pembicara, dalam urusan visa, keberadaan asosiasi sebagai pengundang bisa menunjukkan kejelasan dan keseriusan kepada pihak imigrasi Australia.
Maka terbentuklah NKRI OZ Community Inc. yang semula kami beri nama Care for NKRI. Dengan komunitas itu kami sadar telah berkomitmen dan amat sayang kalau komitmen itu hanya dipakai untuk menyelenggarakan satu acara lantas bubar. Kami sepakat untuk berjalan dalam jangka panjang.
Tantangan
Tantangan berikutnya adalah,
Siapa pembicara lainnya? Apa yang dibicarakan? Biaya? Siapa saja yang perlu diundang? Adakah yang mau datang?
Satu per satu hal tersebut kami selesaikan bersama-sama.
Aku mengusulkan nama Bhatara Ibnu Reza. Ia seorang peneliti senior IMPARSIAL sekaligus calon doktor International Humanitarian Law and Military Affairs dari University of New South Wales Australia.
Bhatara bagiku adalah sosok cerdas yang supel, bisa menyesuaikan diri dengan lawan bicara dan membawa topik percakapan yang sejatinya rumit jadi enak diperbincangkan. Nama Bhatara pun ditanggapi kawan-kawan NKRI OZ Community Inc. dengan baik.
Persiapan beranjak ke fase berikutnya yaitu mulai mengurus visa dan tiket pesawat untuk Mas Nur Arief serta booking tempat pelaksanaan.
Semuanya membutuhkan biaya yang lantas membuat kami harus tidak menggratiskan acara tersebut. Untuk umum, harga tiket kami bandrol seharga $15, sedangkan untuk mahasiswa kami beri harga spesial, $5.
Hasilnya mudah ditebak. Tiket kami tak laku! Tak ada yang meminati! Ada yang alasannya kemahalan, ada yang tunggu nanti-nanti saja daftarnya meski ada juga yang secara terbuka berkata, ?Pembicaranya nggak terkenal??
Bhatara dan Mas Nur Arif memang bukan selebritis tapi mereka bukan orang sembarangan. Datang dari latar belakang akademisi, mereka tahu bahwa apa yang dilontarkan harus mampu dipertanggungjawabkan dengan teori yang mereka pelajari bukan opini pasar atau gosip warung kopi tanpa dasar literasi.
Jadi, kami cuek bebek aja! Salah satu kawan berkoar, ?Kalau yang datang banyak kita bersyukur tapi kalau yang datang sedikit ya anggap aja kita bikin acara nongkrong dan kongkow bareng-bareng kita aja?.?
Tekad kami untuk membuat acara ini terjadi memang sudah bulat? lat? lat!
Foto bersama para peserta setelah acara diskusi kebangsaan jokowi 2019 selesai
?Tangan Tuhan?
Seminggu sebelum acara diadakan perkembangan jumlah peserta belum juga menggembirakan tapi kami tetap bergembira karena acara akan segera dilangsungkan dalam beberapa hari ke depan.
Hari Kamis, dua hari sebelum pelaksanaan, aku bertemu dengan dua orang guru dari almamaterku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Mas Herry dan Mbak Rosa. Keduanya datang bersama guru-guru kolese (sekolah yang diasuh kaum Yesuit) lain dari Indonesia untuk belajar semingguan lamanya di Sydney.
Dalam percakapan dengan mereka, akupun mengundang mereka untuk datang pada acara kami. Dan bukan kebetulan bahwa Andrew, Albert dan Johan (rekan-rekan lain di NKRI OZ Community Inc.) adalah lulusan Kolese Kanisius, aku lantas meminta Mas Herry dan Mbak Rosa untuk mengajak guru-guru dari Kanisius hadir juga.
flyer acara diskusi kebangsaan jokowi 2019
Diskusi kebangsaan jokowi 2019
Gayung bersambut. Mereka bahkan tak hanya datang dari dua kolese itu saja tapi juga guru-guru dari seluruh kolese yang belajar hadir dalam acara kami. Mereka datang selain dari De Britto dan Kanisius juga dari Kolese Gonzaga (Jakarta), Kolese Mikhael (Surakarta), Kolese Loyola (Semarang) dan Seminari Mertoyudan (Magelang).
Mereka, para guru itu, hadir membaur dengan warga diaspora serta mahasiswa Indonesia yang hadir secara khidmat dalam acara.
Dari situ aku sangat merasakan betapa Tuhan pun turun tangan! Ia memberikan jalan dan menutup setiap celah kelemahan. Segala wujud kekhawatiran dan ketidaksiapan, digantiNya dengan keyakinan dan kesigapan.
Saat hampir dikatakan amat jarang orang yang mau datang, Ia mengutus para guru untuk menemani rekan-rekan diaspora dan teman mahasiswa lain yang telah sudi hadir.
Ia mengubah semua prakiraan buruk jadi baik bahkan yang terbaik seperti halnya cuaca sore itu yang diperkirakan hujan jadi kering kerontang.
?sesaat setelah MC, Imelda Santoso, mengundangku untuk memimpin lagu Indonesia Raya, aku meminta hadirin bangkit berdiri. Aku mengambil aba-aba ?Hiduplah Indonesia Raya? dan lagu suci nan berharga itupun berkumandang dilantunkan meski hanya oleh segelintir anak bangsa. Tak mengapa karena toh semangat kami mampu tetap menggelora dan gaungnya terdengar hingga lima ribu kilometer jauhnya ke sisi barat laut ke arah Tanah Air tercinta.
?Indonesia Raya? merdeka.. merdeka.. Tanahku, negriku yang kucinta!?
Oh ya, video di bawah ini adalah bagaimana aku, dua guru De Britto dan para alumni Kanisius yang tinggal di Sydney bersama para guru Kanisius menyanyikan mars De Britto dan mars Kanisius secara bersamaan.
https://www.youtube.com/watch?v=GLE7iMdaRBU
Simak beberapa liputan media terkait acara kami di Tempo, JPNN dan Liputan6.
Saat aku baru berani menulis, saat yang lain masih belum berhenti memaki-maki, atau sedikit orang mulai berani memaafkan, seorang warga Indonesia yang tinggal di Sydney bernama Hendra Ong menanggapi isu tentang Willis Canteen yang ramai dibicarakan sejak kemarin dengan cara berbeda.
Ia datang ke Willis Canteen siang ini, makan di sana, berfoto bersama dan memaafkan padahal seperti kita tahu, orang sedang ramai bicara tentang status yang konon diunggah Indra, pemilik warung itu.
Foto itu lantas diunggah sebagai komentar atas post yang kurilis di komunitas ‘Indonesia’ online terbesar di Australia, The Rock seperti tampak pada gambar di bawah ini:
Aku segera menghubunginya lewat Facebook Messenger dan berikut adalah penggalan wawancaraku dengannya.
Kapan pertama kali kamu dengar isu tentang ‘Willis Canteen’ ini? Kemarin saat lunch time. Dapat informasi dari whatsapp seorang kawan mengabarkan status yang dipasang Mas Indra (pemilik -red).
Kaget? Kaget! Sorenya saya telepon langsung ke Mas Indra.
Tadi kamu ke sana? Jam berapa? Jam 12:30 pm waktu makan siang.
Makan atau cuma ketemu lalu foto? Makan. Makan nasi padang dan jengkol.
Suasana warung tampak seperti biasa atau sepi? Sepi banget! Cuma empat orang yang makan, biasanya kan ramai.
Share dong, motivasimu tadi datang ke sana itu ngapain? Makan? Begini… Kebetulan tadi aku pantau FB dan nemu postinganmu yang menyejukkan dan aku pikir, aku juga ingin hidup damai dan tenang.
Kita punya Tuhan Yesus dan tiap minggu kita toh pergi ke gereja. Kalau kita tidak dapat memaafkanorang yang bersalah kepada kita, buat apa kita bertemu Tuhan?
Saya rasa inilah saatnya kita menunjukkan pada kawan-kawan di Indonesia bahwa kita yang hidup di luar negeri ini juga cinta damai biarpun agama dan etnis kita dimaki-maki. Kita tetap tersenyum dan memaafkan mereka!
Simak juga tulisanku tentang ‘Willis Canteen’ di sini.
Aku juga kaget waktu melihat sebuah posting di The Rock ada yang membahas tentang bagaimana seorang pemilik warung masakan asli Indonesia menuliskan status di akun social media yang berisi kebencian terhadap sebuah kelompok. Ia mengatai para Ahokers adalah anjing! (Aku menghargai usaha founder The Rock untuk menghapus postingan tersebut)
Yang lebih mengagetkan lagi, ketika melihat ke sekujur wall-nya, nada-nada kebencian yang dilontarkannya tak hanya terkait pada kelompok tertentu tapi juga suku dan ras serta pemeluk agama tertentu pula!
Hal ini menerbitkan banyak ‘padahal’ dalam pikirku karena mengejutkan.
Padahal orangnya sangat baik dan hangat. Setiap kali aku datang, dia selalu melongok ke luar lalu menyapa, “Apa kabar, Pak? Dari gereja?” Kebetulan aku selalu ke sana sepulang dari gereja di minggu siang bersama keluarga.
Padahal anak-anaknya juga ramah-ramah. Mereka sering mengajak main Odilia dan selalu memberikan kami kerupuk ekstra karena tak ada dari kami yang tak suka kerupuknya.
Padahal masakannya juga enak! Aku paling suka gado-gadonya! Selain porsinya ‘munjung’, cara masak dan konon bumbunya adalah bumbu asli Indonesia. Sambelnya diuleg tidak diblender seperti kebanyakan warung-warung sini menghidangkan gado-gado.
Ini gado-gado buatannya…
Ini kerupuk bonus yang biasa diberikan anak-anaknya yang baik dan ramah…
Padahal.. dan ini adalah ‘ke-padahal-an’ yang paling seru… padahal istrinya adalah keturunan ras tertentu dan beragama tertentu pula yang ternyata di dalam akun facebooknya selalu dijadikan sasaran kebenciannya!
Reaksiku kemarin awal-awalnya juga sama. Tak percaya! Marah dan menganjurkan boikot karena pemiliknya ternyata adalah seorang rasis!
Tapi lantas aku berpikir, kita selalu mengatai pihak seberang sebagai orang-orang yang bersumbu pendek jadi bukankah seharusnya kita memiliki yang lebih panjang; pikiran yang lebih panjang dan sumbu sabar yang lebih panjang pula?
Yang harus lebih pendek dari mereka hanyalah kemarahan. Kita boleh marah tapi jangan lebih panjang dari kependekan otak mereka!
Melawan tentu boleh bahkan satu bentuk keharusan! Tapi lawanlah dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Beri review buruk di facebook page atau dimanapun profil warungnya ada! Tapi jangan lupa gunakan kata-kata yang baik karena kita ini manusia baik-baik meski di-anjing-anjing-kan olehnya. Tak perlu menghujat karena kita bukan mereka dan justru merekalah yang seharusnya belajar banyak menjadi seperti kita, kan?
Masih belum puas? Berkunjunglah ke warungnya. Sampaikan kepadanya, secara baik-baik pula, bahwa apa yang dituliskan itu menyakiti kita semua. Kalau ia sadar dan menyampaikan maaf, beri waktu untuk berubah.
Tapi kalau tidak, ya sudah tak perlu didatangi lagi karena kita memang tak layak mendatangi orang yang seperti itu terlebih ketika kita hidup di Australia, negeri yang mencintai perbedaan dan menerima keanekaragaman meski tak bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.
Aku sendiri berpikir untuk menghadiahkan kaos Ahok seperti di bawah ini kepadanya secara cuma-cuma. Bukan sebagai apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu bahwa sekelas anjing pun masih bisa berbuat baik kepadanya. Lantas kalau demikian, kelas apakah dia sebenarnya?
Bagaimana menurut kalian? Ide yang brilian, kan?
Keterangan: Kaos ‘Ahok’ diproduksi oleh ‘Politik’ brand merchandise ‘politik’. Ikuti dan ‘like’ pagenya di sini!
Simak update terbaru:
Kisah Hendra, berkunjung ke Willis Canteen siang ini, makan dan memaafkannya! Saat aku baru berani menulis, saat yang lain belum berhenti mencela, Hendra menunjukkan karya nyata! Ia mendatangi Willis Canteen, makan seperti biasa, memaafkan dan berfoto bersama!
Kenapa kita tidak seperti dia? Mari memaafkan dan kembali menikmati hidangan lezat di kantin sana. Simak wawancaraku dengan Hendra Ong di sini:
Rasa hormat dan terima kasih harus kusanjungkan kepada seluruh rekan panitia yang kemarin (14/05) telah bekerja keras untuk mempersiapkan dan mengadakan acara Justice For Ahok di Botanical Garden, Sydney.
Secara pribadi, meski hanya sebagai peserta, aku merasa bangga jadi bagian dari acara besar itu. Belum pernah aku bertemu dengan sesama orang Indonesia sebanyak itu di Sydney. Bayangkan, lebih dari dua ribu (konon ada yang berani menyebut hingga tiga ribuan!) berada di satu tempat di luar negeri untuk hadir dalam sebuah acara ke-Indonesia-an itu rasanya bikin merinding disko, Bro!
Hadir dalam acara sebesar itu membuatku mengulas kembali kenangan saat dulu pernah membantu mengurusi acara kampanye Jokowi – ** (maaf, aku tetap tak mau menyebut nama wakilnya hehehe) yang kami adakan pada 29 Juni 2014 dan ketika itu dihadiri oleh sekitar 300 ‘anak bangsa’… sepersepuluh yang hadir kemarin tapi… kami toh waktu itu sudah seneng banget!
Lalu ketika pulang semalam, aku berpikir kenapa acara yang kami adakan dulu ‘hanya’ dihadiri oleh 300 anak bangsa sedangkan kemarin ada sekitar 3000-an orang lebih yang datang?
Sekadar iseng, beberapa poin berikut ini mungkin bisa jadi rujukan pembanding keduanya.
#1 Isu
poster tahun 2014
Isu tahun 2014 adalah isu Pemilihan Presiden (Pilpres). Bagi sebagian orang, Pemilu seheboh apapun adalah sesuatu yang periodik, berulang meski tiga tahun lalu, Jokowi hadir sebagai simbol ‘rakyat biasa’ sudah mulai tereskalasi tapi tetap saja, itu hanyalah Pemilu.
Sebaliknya, isu kemarin adalah isu yang menurutku tak biasa. Ahok yang baru saja kalah dalam Pilkada DKI Jakarta dan menjadi simbol minoritas masuk penjara karena dakwaan menista agama.
Bagi sebagian yang hadir mungkin ada yang menitikberatkan agenda acara pada ‘membela Ahok’ meski ada juga yang datang untuk mengambil posisi yang lebih umum dan mencoba merangkum banyak pihak; demi NKRI, demi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, penghapusan hukum penistaan terhadap agama, dan lain-lainnya.
Nah, isu yang luar biasa ini mampu tak hanya menerbitkan minat tapi juga urgensi bagi Warga Negara Indonesia maupun simpatisan Indonesia di Sydney untuk hadir dan berkumpul.
#2 Online community
Acara kemarin juga tak lepas dari peran dua komunitas Facebook ‘Indonesia-Australia’, The Rock dan Ausindoz.
Hingga saat tulisan ini kurawi, Ausindoz memiliki anggota sebanyak 16.879 sedangkan The Rock hampir dua kali lipatnya, 30.449! Pada dua komunitas besar ini pengumuman acara Justice For Ahok diadakan.
Itu baru Facebook! Belum lagi WhatsApp Group (WAG) ke-Indonesia-an yang menyebar serta ditambah beberapa gelombang-gelombang kecil seperti yang kulakukan melalui blog ini dalam tulisan beberapa hari yang lalu di sini.
Tahun 2014 dulu, kami justru membuat halaman Facebook setelah memiliki rencana untuk bertemu dan bukannya sebaliknya, punya komunitas Facebook dulu baru membuat acara.
Aku tak tahu kapan The Rock dan Ausindoz berdiri tapi yang kuingat, tahun 2014 dulu, kami panitia belum mengenalnya jika memang keduanya sudah ada.
WhatsApp Group seingatku dulu juga belum semewabah sekarang penggunaannya.
#3 Lokasi
https://youtu.be/Hy5C1I_OF1I
Tahun 2014 dulu kami memutuskan untuk mengadakan kampanye tepat di muka Sydney Opera House. Kami sudah mengurus ijin beberapa hari sebelumnya tapi toh polisi tetap akhirnya membubarkan acara karena yang kami perkirakan hanya 50 orang saja nyatanya yang hadir sekitar 300an!
Pilihan untuk mengadakan kampanye di depan Sydney Opera House setelah dipikir-pikir ternyata memang bukan pilihan yang tepat.
Kenapa? Gedung tersebut adalah landmark kota Sydney, tempat yang menjadi tujuan wisatawan dalam dan luar negeri. Kehadiran kami waktu itu, meski tak mengganggu keamanan tapi barangkali membuat yang lain merasa tak nyaman. Kami berorasi, membacakan deklarasi, bersorak dan bernyanyi ‘Salam Dua Jari’!
Acara kemarin diadakan di Botanical Garden, taman memanjang yang luasnya sekitar 30 hektar!
Meski titik kumpul kami adalah Sydney Opera House, tapi kami sejak awal diarahkan untuk masuk ke dalam Botanical Garden, berjalan terus hingga hampir sampai di Macquarie’s Chair.
Menurutku pemilihan Botanical Garden sebagai tempat pelaksanaan acara adalah pilihan yang tepat yang memungkinkan para peserta untuk datang, berkumpul dan memulai acara terkait luasnya area membuat kehadiran kami tak langsung membuat perhatian pihak keamanan terlepas apakah mereka sudah mendapatkan ijin atau belum dari pihak berwajib.
Hal ini berbeda dengan tahun 2014. Mungkin karena sudah berijin, polisi jadi siap siaga dan ketika jumlah yang hadir sudah lebih dari total jumlah yang diijinkan (kalau tak salah 50 orang) mereka langsung membubarkan saat acara masih berjalan sekitar 15 menit padahal yang sedang berjalan menuju ke venue pun masih banyak dan kuyakin lebih banyak dari yang sudah hadir.
Tapi toh demikian, waktu itu kami berkeputusan untuk menuruti kemauan polisi karena yang terpenting, acara pembacaan deklarasi dukungan sudah direkam dan beberapa jam kemudian kukirimkan ke banyak media mainstream di Indonesia untuk disebarluaskan.
credit photo: Yenfang
Sedangkan kemarin, acara bisa berlangsung hingga lebih kurang 30 menit sebelum bubar dan diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya, memanjatkan doa singkat serta… foto-foto!
So, sekali lagi, selamat dan salut untuk panitia! Mengurus tiga ribuan anak bangsa yang hadir tentu tak mudah sama-sekali. Semoga di waktu-waktu yang akan datang, hal-hal seperti ini bisa diulangi lagi, lebih besar lagi dan lebih terkoordinir lagi demi Indonesia dan demi rasa cinta kita terhadap Tanah Air dan Bangsa!
Awalnya aku tak tertarik sama sekali untuk ikut-ikutan acara ‘Ahok‘ karena bagiku Indonesia adalah ‘beyond Ahok’, lebih dari sekadar Ahok.
Tapi dinamika politik terkini Tanah Air membuatku mulai berpikir, kenapa tak ikut? Ahok memang tidak merepresentasikan Indonesia tapi hukuman yang ia terima serta ekses yang muncul disana-sini, bukankah itu cukup mengguncang dan setidaknya headline berita-berita dan percakapan social media pekan lalu penuh dengan nada pesimis, penuh kekuatiran seolah kehilangan daya hidup yang lebih baik lagi seperti biasanya? Apa yang bisa kukerjakan?
Akhirnya akupun mulai mencari tahu kapan ada acara ‘Ahok’ di Australia terutama di Sydney?
Seorang kawan lama mengabari, “Minggu, jam 4 sore di Sydney Opera House…” A-ha! Tapi sayang jadwal pelayanan musik di Gereja bertepatan dengan acara tersebut. Ya sudah, apa mau dikata?
Tapi semua seperti sudah digariskan Tuhan. ?Sabtu sore, Linggar, kawanku duet dalam pelayanan di Gereja mengabari bahwa entah bagaimana pastor paroki setempat ternyata salah memberi jadwal kepada kita. “Ternyata yang main harusnya grup lain. Jadi kita nggak bisa main besok!”
“Wah, berarti memang kamu harus datang ke acara Ahok besok,” ujar Joyce, istriku.
Baiklah! Aku akhirnya menyempatkan diri pergi ke supermarket untuk membeli kaos polos warna merah sesuai anjuran.
Hari Minggu pagi tadi, awalnya pesimis apakah akan jadi berangkat atau tidak, matahari bersembunyi di balik awan yang menggelanyut ditingkahi angin sepoi yang mendingin. Tapi menjelang siang cuaca menghangat dan kami memutuskan untuk tetap berangkat.
KamiRiba di Sydney Opera House sekitar pukul 14.30 waktu setempat kami pikir kami akan jadi orang pertama yang datang ke sana. Tapi tak disangka, beberapa wajah Indonesia berkostum merah-putih sudah terhampar di pelatarannya!
Dan sesungguhnya, datang kembali ke Sydney Opera House itu seperti menguak kenangan masa lalu.
Meski gedung yang menjadi landmark kota Sydney itu kulewati hampir setiap hari saat pergi dan pulang bekerja, tapi terakhir kali aku menginjakkan kaki di terasnya adalah pada tanggal 29 Juni 2014, saat kami, 300 warga negara Indonesia mengadakan kampanye mendukung pasangan calon presiden Joko Widodo beserta wakilnya (Maaf, aku tak sudi menyebutkan namanya saat ini karena satu dan lain hal hehehe…)
Jadi, datang lagi ke Sydney Opera House adalah seperti mengenang dan menyematkan kembali kenangan serta semangat yang dulu pernah ada mendukung Indonesia yang lebih baik.
Sekitar pukul tiga, kami diarahkan oleh seorang kawan untuk masuk ke Botanical Garden yang letaknya bersebelahan dengan Sydney Opera House, tempat yang digunakan Joko Widodo, Presiden RI bertemu dengan Malcolm Turnbull beberapa waktu silam.
Aku tak tahu bagaimana struktur kepanitiaan acara ini karena memang informasi tentang acara ini berlangsung begitu spontan mengalir lewat Facebook dan Whatsapp Group.
https://youtu.be/huWzwsNlzl4
Menjelang pukul empat, orang-orang Indonesia telah benar-benar menyemut sepanjang Botanical Garden yang memiliki jalur melengkung di pinggir pantai/teluk Sydney Harbour.
Tak ada yang memulai dan seolah tanpa aba-aba tapi tiba-tiba lagu Indonesia Raya dikumandangkan begitu megah!
Di depan tampak beberapa orang mengangkat tinggi-tinggi tulisan SYDNEY SAVE AHOK. Setelah Indonesia Raya disusul beberapa lagu perjuangan dan diakhiri dengan doa singkat selama dua menit.
Aku merasakan hening yang menyeruak saat doa didaraskan. Pada wajah yang hadir begitu banyak yang kusyuk dan tak sedikit yang menangis, meneteskan air mata.
Selesai doa, sekali lagi, lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan kali ini aku giliran aku yang terbata-bata. Mataku berkaca, panas dan nanar saat menyanyikan lagu yang dulu setiap senin selalu kunyanyikan dengan sikap sempurna pada upacara bendera.
credit photo: Yenfang
Yang terbayang saat itu adalah Indonesia. Tanah Air, tempat tubuh ini pertama kali diberi hembusan nyawa, tempat jiwa dan kobaran semangat kehidupan bertumbuh mula-mula, semua menyatu dalam lagu karya WR Supratman yang menderu-deru itu.
Aha! Masuk ABC News, national TV channelnya Australia! (Credit photo: Andrew Wanandy)
Ada gelungan rasa tak jenak saat media di Indonesia akhir-akhir ini dibombardir dengan berita tentang begitu banyak tindak ketidakadilan, begitu banyak sas-sus tentang keadaan negara yang bakalan morat-marit dan penuh ancaman terhadap dasar negara dan kebhinekaan…
Terbayang wajah keluarga adikku, saudara-saudariku, kawan serta kerabatku yang ada di Indonesia serta kekhawatiran-kekhawatiran itu! Tapi semua sirna saat kami berteriak,
Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka! Tanahku negeriku yang kucinta! Indonesia Raya! Merdeka! Merdeka! Hiduplah Indonesia Raya!
Ah, Indonesia memang sangat layak dan berharga untuk dipertahankan dan diperjuangkan.
Jika tiga tahun lalu, tiga ratus anak bangsa menggedor lantai surga untuk mengharapkan supaya Jokowi menang, sore tadi, dua ribu… sekali lagi.. dua ribu anak bangsa mendobrak lantainya, mendaraskan doa tak hanya untuk Ahok tapi lebih daripada itu supaya Tuhan selalu mengobarkan semangat bagi kami untuk tetap mencintai negeri, Tanah Air kami, tempat kami akan mengenangkan segala kenangan-kenangan baik masa lalu kami.
Salam dari kami, wahai Negeri Yang berseri-seri, zamrud Khatulistiwa nan?abadi! Kami tak kan pernah berhenti mencintaimu dengan sepenuh hati meski raga dan hidup kami ada di sini!
Menikah di Australia itu berbeda dengan menikah di Indonesia. Perbedaan terbesarnya? Yang satu menikah di Indonesia dan satunya lagi di Australia hahaha!
Bagi kebanyakan orang-orang Australia, menikah adalah pilihan sedangkan di budaya kita, meski sebagian mulai memandang nikah itu pilihan, sebagian lainnya masih memandang bahwa kalau seseorang sudah dewasa dan mantep kenapa tidak segera menikah?
Menurut Eva Cox, seorang ahli sosiologi, seperti dirilis Domain Australia, beberapa pihak memandang pernikahan di Australia hanya sekadar upacara saja dan delapan puluh persen orang tetap akan memilih untuk tinggal bersama (kumpul kebo) sebelum menikah meski, masih katanya lagi, sebagian kecil masih tetap berpikir untuk menikah dulu sebelum tinggal bersama.
Syarat menikah?
Lalu ketika memutuskan untuk menikah, bagaimana prosesnya? Apakah sama dengan di Indonesia?
Seperti tercantum di situs ini beberapa syarat diantaranya adalah:
Tidak berstatus menikah dengan orang lain.
Tidak sedang akan menikahi orang tua kandung, kakek/nenek kandung, anak kandung, cucu maupun saudara kandung.
Berusia minimal delapan belas tahun kecuali pengadilan menyetujui pernikahan di mana salah satu calonnya berusia antara 16 – 18 tahun.
Mengerti apa arti pernikahan dan memutuskan secara sadar dan bebas untuk menikah.
Penghulu negara
Pernikahan di Australia diresimkan oleh celebrant. Apakah celebrant itu? Celebrant adalah orang yang diberi kuasa oleh negara untuk menikahkan pasangan. Istilah awamnya mungkin ‘penghulu negara’.
Jadi, seperti pengalamanku dulu, ketika semua syarat pernikahan (termasuk mengisi formulir) sudah terpenuhi kita pergi ke celebrant yang daftarnya bisa didapatkan, berkonsultasi, menentukan hari lalu menikah!
Agama? Tradisi!
Tapi apakah mempelai yang menikah di Australia tidak harus melangsungkan pernikahan secara agama?
Tidak! Pernikahan secara agama lagi-lagi adalah pilihan karena tak semua orang Australia wajib beragama. Yang terpenting, pernikahanmu dicatat negara.
Karena aku kebetulan beragama Katolik, untuk pasangan Katolik yang hendak menikah di Australia, mereka tak perlu menikah dua kali, ke celebrant dan ke Gereja karena setiap pastor yang resmi terdaftar bertugas di sini diberi otorisasi oleh negara untuk menikahkan pasangan seperti halnya celebrant pada umumnya.
Jadi karena menikah secara agama adalah opsional seperti halnya kamu bilang bahwa tak semua orang Australia wajib beragama berarti menikah dengan mereka yang beragama lain boleh dong?
Boleh saja, kenapa tidak? Semoga dengan ini kalian tahu kenapa banyak orang Indonesia yang beda agama dan ingin menikah, daripada ribet larinya ya nikah ke luar negeri? Ya karena alasan ini!
Pesta?
Menikah di Australia juga tak mutlak harus berpesta!
Aku pernah menemani sepasang kawan yang hendak menikah. Keduanya orang Indonesia dan karena mereka berencana untuk mengadakan pesta pernikahan di Indonesia, siang itu kami hanya mengantar ke kantor BDM (Birth, Death, Marriage) untuk bertemu dengan celebrant dan meresmikan pernikahan secara negara.
Yang datang ya benar-benar hanya orang tua, saksi dan kami, kawan-kawannya. Sesudahnya kami cuma makan-makan biasa di rumah makan lalu pulang.
Walaupun begitu, umumnya pernikahan diresmikan juga melalui pesta. Semeriah apa dan sesederhana apa itu keputusan pasangan masing-masing. Tapi umumnya, pesta pernikahan dilakukan dengan mengundang orang-orang yang dikenal kedua mempelai atau setidaknya kawan-kawan orang tuanya yang juga mereka kenal.
Jumlah yang diundang biasanya tak lebih dari dua ratus. Kok sedikit? Alasan beberapa orang yang kutemui adalah karena mereka ingin berpesta dengan orang-orang yang benar-benar dikenal dengan baik.
Jadi tak seperti di Jakarta dimana ada beberapa pasangan menikah bahkan mengundang gubernur untuk datang di acara resepsi, atau di beberapa daerah, pernikahan mengundang ratusan hingga ribuan orang yang berisi dari kawan-kawan mempelai, saudara-saudara mempelai, kawan-kawan saudara-saudara para mempelai, kawan-kawan orang tua mempelai, pejabat-pejabat yang dikenal oleh kawan-kawan dan saudara kawan-kawan maupun kawan-kawan saudara mempelai dan segala macamnya… Tidak! Pernikahan di Australia adalah milik kedua mempelai bukan milik kedua keluarga besar mempelai.
Eh, Don… Bagaimana dengan pernikahan sesama jenis di Australia? Meski pasangan homoseksual diterima dan diakui sebagai de facto/domestic partnership tapi hingga saat ini, sesuai tertera di situs ini, pernikahan sesama jenis belum diakui keberadaannya.
Secara tekstual, begini penjelasannya,
The right to marry is the one significant difference between the legal treatment of same-sex and heterosexual relationships in Australia. Although same-sex marriage remains controversial, there has been a shift in community and political opinion and the issue is likely to be on the new Parliament?s agenda.
So tunggu apalagi? Mau menikah di Australia? Yuk mari! Baca di sini dan temukan?panduan bagi kalian yang mau menikah di Australia bukan sebagai penduduk tapi sebagai turis.
Jika hingga batas waktu yang ditentukan visa tinggal tetap (permanent resident) belum juga kita dapat, apakah yang harus dilakukan?
Pulang
Bono, vokalis U2 dalam salah satu lagunya, “Walk On”, berkata begini:
Home Hard to know what it is If you never had one Ya! Syukurilah ketika kamu masih punya tempat yang bisa dijadikan rujukan sebagai rumah; tempat untuk berpulang karena ada begitu banyak orang-orang di luar sana yang tak bisa pulang bukan karena tak mau tapi memang tak punya!
Bayangkan para pengungsi yang nekat pergi dari negara asalnya menggunakan perahu itu, mereka ada di posisi point of no return, karena tak lagi ada rumah, tak lagi ada tempat tinggal saat hidup di tanah asalnya terdesak dan terancam.
Jadi, kalau PR-mu tak dikabulkan, pulanglah dengan lapang dada. Jangan justru membangkang dengan memilih jadi migran gelap lalu kucing-kucingan dengan pemerintah karena kalau demikian apakah yang sejatinya kamu kejar dalam hidup ini? Bukankah rasa nyaman yang bebas merdeka dari ketakutan? Menjadikan diri sebagai migran gelap membuatmu menjadi tak nyaman, ketakutan dan tak mendapatkan pengakuan dari administrasi negara tempatmu bersembunyi di dalam gelap.
Susun langkah ulang
Pulang bukan berarti kamu gagal. Pulang justru memungkinkanmu untuk menyusun langkah baru demi rencana yang lebih baik lagi untuk pergi kemari. Persiapkan apa yang harus disiapkan untuk masuk lagi ke Australia. Pelajari aturan-aturannya untuk mendapatkan poin-poin yang membuat pemerintah Australia merasa tak punya alasan lagi untuk menolakmu.
Cari pacar?yang memungkinkanmu mendapatkan PR? Kalau alasan mencari pacar semata-mata?untuk mendapatkan permanent resident saja barangkali sebaiknya jangan karena kalau demikian, ketika permanent resident sudah di tangan, dengan cara apalagi kamu bisa merekatkan dan mempertahankan kerekatan jodoh itu?
Tetapkan hati
Atau, kenapa tak memilih untuk membangun negeri sendiri? Kebahagiaan tak hanya terjadi di Australia! Kebahagiaan terjadi ketika kita menginginkannya dimanapun dan kapanpun.
Jadi, mau kamu tinggal di Sydney atau di Kroya, di Pyongyang atau di Mosul, mau di Allepo, Damascus atau Kalijodo di Jakarta, kebahagiaan adalah perkara bagaimana cara untuk mulai bersyukur atas hidup yang diberikanNya.
Tanah Air adalah tempat yang permai?meski selama ini banyak yang menjadikannya bahan olok-olok seolah menjadi tempat dimana segala keluh-kesah dan sumpah serapah ditumpahkan, padahal ketika kamu harus pulang, Tanah Air adalah satu-satunya tempat dimana kamu harus menjadikannya sebagai ‘alamat rumah.’
Ingat lho, mencari tempat untuk hidup bukanlah kompetisi dan mencari kalah-menang seperti dalam perlombaan. Mencari tempat hidup adalah mencari tempat terbaik untuk kita bisa melakukan hal-hal terbaik dalam hidup!
Pulanglah! Pulang! Bangun Tanah Air dan jadikan dirimu bahagia dengan membawa hal-hal baik dari tanah dan negeri ini ke sana. Jadilah saksi dan buatlah kami yang memutuskan untuk tetap tinggal di sini menjadi iri kenapa kami dulu tak memilih pulang ke Tanah Air saja kalau hal itu juga tak menghalangi kami untuk berbahagia?
Beberapa orang di Indonesia banyak yang tak percaya ketika kuberitahu bahwa aku di sini bekerja di sektor formal. Apa pasal? “Badanmu tattooan, telingamu lubang gede gitu apa gak jadi soal ketika bekerja di Australia?”
Ya! Pada kedua kakiku, dari pangkal paha hingga mata kaki penuh tattoo. Sisi kanan dan kiri leherku juga bertattoo. Telingaku sengaja kulubangi (earlobe) dan kini diameternya 16mm, sehari-hari kupasang ear tunnel seperti tampak pada gambar di atas. Jangan ditanya kenapa aku melakukannya karena pertanyaan yang sama juga akan kulayangkan kenapa kamu memilih untuk beragama dan beribadah? Hahaha…
Tapi serius, Don?Kerja di Australia dengan tattoo dan ber-earlobe gitu nggak papa? Tergantung sih! Tergantung dimana kalian bekerja.
Wah, kalau begitu artinya untuk perusahaan-perusahaan yang tak mengijinkan, mereka mendeskriminasikan pegawainya yang bertattoo dan ber-earlobe?
Kupikir juga begitu pada awalnya tapi ternyata tidak. Setidaknya demikian menurut pendapat juru bicara Fair Work Ombudsman Australia seperti dimuat di sini (link ke berita) bahwa penampakan fisik (termasuk tattoo dan earlobe) tidak dilindungi aturan ketenagakerjaan (Fair Work Act).
Lalu bidang-bidang apakah yang tak mengijinkan orang-orang bertattoo, ber-earlobe dan mereka yang melakukan body modification lainnya untuk menjadi pekerja? Tepatnya aku tak tahu tapi sebenarnya kamu bisa ketahui saat bertemu dalam sesi interview dengan pihak perusahaan yang hendak meng-hire-mu.
Aku punya beberapa tips atau poin-poin pemikiran terkait pekerjaan dan tattoo, earlobe dan body modification lainnya.
1. Kesepakatan
Seperti kusinggung di atas, kesepakatan saat sesi interview dengan pihak perusahaan adalah yang terpenting. Bicarakan sejak awal bahwa kamu bertatoo dan ber-earlobe atau memiliki body modification lainnya. Bila mereka keberatan, tentu kamu akan diberi tahu. Tuangkan kesepakatan-kesepakatan itu dalam kontrak sebagai landasan formal tentang ‘bagaimana baiknya’ menyikapi keadaan yang ada pada dirimu.
2. Tutupi
Seperti kukutip dari berita di atas bahwa penampakan fisik tak dilindungi aturan ketenagakerjaan maka setidaknya buatlah supaya tattoo, earlobe dan modifikasi tubuh lainnya tak tampak.
Bagiku ada dua jalan untuk membuat hal-hal tersebut tak tampak yaitu secara permanen maupun temporer.
Untuk langkah permanen, sekarang banyak ditawarkan teknologi laser untuk menghapus tattoo. Untuk menambal earlobe juga mudah, tinggal dijahit atau kalau mau yang lebih mulus tinggal ambil operasi plastik yang tentu lebih mahal ketimbang ‘jahit biasa’.
Tapi untuk yang temporer, kita bisa menutupi tattoo dengan pakaian, syal ataupun patch/plester selama bekerja. Untuk earlobe bisa disamarkan dengan patch/plester ataupun flesh/skin tone earplug semacam penutup earlobe yang memiliki warna kulit. Ia tidak menyembunyikan tapi menyamarkan.
Ini adalah contoh skin tone ear plug dan bagaimana saat dikenakan di telinga. Samar meski tak tersembunyi seutuhnya
3. Pakaian rapi
Meski bertattoo dan ber-ear tunnel, aku selalu mengenakan pakaian rapi ketika bekerja terutama saat berhadapan dengan client. Sebagai konsultan, aku merasa bahwa mengenakan stelan jas, kemeja yang disetrika, celana katun atau chinos, dan sepatu serta sabuk kulit formal adalah keharusan. Oh ya jangan lupa untuk menyemprotkan deodorant dan parfum dan simpulkan sebuah senyum dari bibir.
Penampilanku sehari-hari dalam bekerja
4. Karakter Pribadi
Ini sisi menariknya. Aku bekerja sebagai UX/UI Lead Consultant, bagian kecil dari industri kreatif yang kian besar. Entah kenapa, stereotipikal orang-orang ketika bicara tentang pelaku dunia industri kreatif selalu dikaitkan dengan gaya hidup hippie, celana skinny, kacamata oversized, music ingar-bingar maupun RnB dan lain-lainnya termasuk tattoo, earlobe sehingga ketika kita bertatoo dan ber-earlobe, kebanyakan orang memaklumkannya.
Malah, tattoo dan earlobe justru menjadi daya tarik yang mau-tak-mau melekat pada karakter pribadi kita. Beberapa klien secara eksplisit bahkan menyatakan ketertarikannya untuk bekerja denganku karena sisi funky-ku yang kuyakin salah satunya terbangun dari tattoo dan earlobeku itu.
Tapi apakah hanya itu yang membuat klienku suka bekerja denganku? Tak adakah hal-hal lain yang membangun karakter pribadiku menjadi menarik selain tattoo dan earlobe?
Poin terakhir di bawah ini bisa jadi yang paling penting! Simak!
5. Sensasional?
Kamu tattooan dan ber-earlobe maka kamu keren dan sensasional! Tapi tanpa tattoo dan tanpa earlobe, apakah kamu akan tetap menawan?
Aku adalah orang yang percaya bahwa apapun yang kuperbuat dan ada di sekitarku sebisa mungkin harus bisa kugunakan untuk membuat hidupku dan hidup di sekitarku lebih baik. Apa yang lebih baik ketika aku bertattoo dan ber-earlobe?
Ini perkara label. Di saat banyak orang menilai buruk tentang tattoo, earlobe dan modifikasi tubuh lainnya, aku justru terlecut untuk membuktikan sebaliknya bahwa tak selamanya orang-orang bertattoo dan orang ber-earlobe adalah orang-orang yang ngawur, tak serius, tak sukses dan berantakan.
Aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak yang kucintai dan mencintaiku. Membanggakan dan akupun dibanggakan olehnya. Aku berjuang untuk itu meski aku bertattoo dan ber-earlobe.
Aku memperhatikan sangat aspek spiritual dan memandang bahwa ada Yang Maha Tinggi, sosok dimana aku harus menjalin relasi baik sekaligus sosok dimana pada akhirnya aku akan berpulang nantinya. Aku aktif dalam kegiatan agama, meski aku bertatoo dan ber-earlobe.
Aku berusaha menghargai teman dan memelihara pertemanan dengan mereka yang bisa kujadikan kawan dari berbagai kalangan meski aku tattooan dan ber-earlobe.
Aku memiliki skill dan karir yang lumayan bisa diperhitungkan di sebuah negara maju bernama Australia… meski aku tattooan dan ber-earlobe.
Jadi? Bertattoo dan ber-earlobe ataupun memodifikasi tubuh lainnya, bolehkah bekerja di Australia?
Sekali lagi jawabannya adalah tergantung. Sama halnya dengan pertanyaan, Apakah mereka yang tak bertatoo dan tak ber-earlobe adakah mereka juga baik semuanya? Jawabannya juga tergantung, kan?
Simak serial tulisanku bertajuk?Hikayat Tattoo, kenapa akhirnya aku memutuskan untuk memiliki tattoo dan perjalanan untuk aku mendapatkan semua rajah tattoo di kulitku.
Sekitar tiga tahun lalu, ada seorang yang mengirimkan pertanyaan melalui email kepadaku, begini…
Mas, apa benar kehidupan free-sex di Australia itu parah? Banyak kasus kumpul kebo? Aku takut nih kalau jadi pindah sana anakku nanti juga jadi ikut-ikutan begitu!
Sesaat setelah membacanya, hal yang kupetakan dalam otak adalah begini:
Untuk terjadinya seks bebas (free sex) tak mengharuskan adanya kumpul kebo karena seks bebas bisa dilakukan dimanapun, kapanpun dan dalam tempo yang bisa dibikin sesingkat-singkatnya maupun selama-lamanya selama tak ada masalah dengan ejakulasi seksual.
Jadi, mengasosiasikan kumpul kebo dengan seks bebas itu sama halnya mengasosiasikan hidup dengan bicara soal Pilkada melulu! Kumpul kebo lebih luas dari seks bebas, hidup lebih mulia ketimbang Pilkada yang barusan berlalu itu…
Tapi kenyataannya angka pasangan di Australia yang melakukan kumpul kebo memang punya kecenderungan naik dari tahun ke tahun. Pada tahun 1986, ada 5.7 persen pasangan di Australia kumpul kebo. Sepuluh tahun berikutnya, 1996, angkanya meningkat tajam jadi 10 persen. Pada 2011, naik lagi jadi 16.2 persen. (sumber di sini)
Lalu kenapa kumpul kebo?
Aku punya beberapa kawan yang kumpul kebo atau mereka yang pernah kumpul kebo sebelum akhirnya menikah/putus. Mendapatkan informasi tentang motivasi mereka melakukan kumpul kebo tidaklah mudah karena orang-orang sini amat anti untuk di-kepo-in terutama hal yang cukup personal seperti itu.
Tapi beberapa yang kudapat diantaranya adalah alasan-alasan berikut ini:
Ekonomi Kawanku ada yang memilih kumpul kebo dengan pacarnya karena dengan bersama mereka bisa nyicil beli rumah bareng-bareng sedangkan kalau sendirian cukup sulit karena harga properti di sini amat mahal. Lha kalau putus? Ya tinggal dijual lagi lalu dibagi dua!
Cinta Ini alasan yang paling banyak kutemukan. Mereka memilih kumpul kebo karena mereka mencintai pacarnya dan ingin mengimplementasikan cinta itu dalam kehidupan bersama.
Belum/Tidak mau terikat Pernikahan bagi beberapa kawan di sini adalah tantangan berat karena komitmen jangka panjang dan tetek-bengeknya. Kumpul kebo adalah cara terbaik mereka untuk menghindari pernikahan meski banyak dari mereka akhirnya menikah setelah kumpul kebo sekian waktu. Mereka banyak menggunakan kumpul kebo sebagai sarana penjajakan terhadap pasangannya apakah layak dinikahi atau ditinggalkan.
Kok nggak ada yang alasannya supaya ngeseks lebih enak? Mungkin ada tapi aku belum menemui yang berani mengungkapkan alasan sepolos itu. Tapi aku berpikir jika seks hanya alasan untuk kumpul kebo, bukankah ngeseks itu bisa dilakukan dimanapun tak perlu tinggal bersama? Di kamar hotel juga bisa? Di kawasan wisata yang sunyi juga gampang, di kost-kostan juga ok aja bahkan di toilet atau di rumah orang tua saat orang tua pergi juga mudah tho?
Lalu bagaimana pemerintah Australia menangani persoalan kumpul kebo ini?
Pemerintah pada awalnya melakukan langkah paling signifikan yaitu tidak menganggap kumpul kebo sebagai satu persoalan!
Pemerintah mengakui hubungan kumpul kebo dalam klasifikasi de facto relationship. Bahkan, pasangan kumpul kebo yang diakui bukan hanya yang berbeda jenis kelamin karena mereka yang menyukai kawan sejenis/homoseksual pun diakui keberadaannya meski belum diakui keabsahan pernikahannya. Oh ya, meski demikian, pemerintah memberi syarat bahwa sebuah hubungan dinyatakan sebagai de facto relationship saat mereka tinggal bersama selama minimal dua tahun. (Sumber di sini)
Tapi… tapi itu kan dosa? Yup! Tapi di Australia, persoalan dosa dan moral diletakkan dalam ranah pribadi yang tidak diatur negara selama hal tersebut tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain dan komunitas.
Sedikit banyak aku mendukung cara pemerintah memilah dosa/moral dengan peraturan ini. Kenapa? Bayangkan, Australia adalah negara yang dibangun di atas keragaman latar belakang orang tak hanya asal muasal tapi juga budaya dan agamanya. Kalau mereka menerapkan aturan bahwa dosa dan moral warga adalah urusan negara, betapa akan terpecah-belahnya negara ini karena masing-masing punya proyeksi yang bisa berbeda dengan yang lain tentang banyak hal terkait moral, agama dan dosa tadi!
Aku ingin menutup tulisan ini dengan cerita seorang Pastor asal Indonesia yang berbincang denganku beberapa tahun lalu.
Pastor itu bercerita bahwa ia merasa prihatin, sedih dan kecewa karena ada sepasang anak muda yang begitu aktif menggerakkan kegiatan di paroki tempat ia ditempatkan tapi setelah kenal lebih jauh, ternyata mereka adalah pasangan kumpul kebo yang tentu dalam pandangan imannya adalah perbuatan dosa.
Aku diam saja dan tak berkomentar. Aku menghargai rasa kecewa dan sedihnya sebagaimana aku dan pastor itu juga menghormati kebebasan orang muda tadi untuk memilih jalan hidupnya untuk tetap kumpul kebo meski tetap aktif di gereja.
Apakah pasangan muda tadi adalah kalangan orang munafik karena meski aktif di gereja tapi mereka juga kumpul kebo? Aku tak berani menyimpulkan karena ketika aku menyatakan demikian maka aku akan jadi orang yang lebih munafik dari mereka.
Don, kamu penulis Kabar Baik tapi kok kesannya mendukung kumpul kebo begini?
Lho! Jangan berasumsi! Lagipula kalau Tuhan tidak menghukum kenapa aku harus menghakimi? Bagiku ini adalah kenyataan yang harus kita sikapi dengan bijak, bukan dengan rasa takut seolah-olah bahwa kalau tak ada kumpul kebo maka semua orang di dunia ini akan jadi putih bersih tanpa dosa, bahwa seolah-olah jika kita sudah meributkan soal akhlak dan kumpul kebo maka cerita lama tentang petualangan seks sebelum nikahmu dulu yang kau sembunyi-sembuyikan akan aman-aman saja semata karena kini kamu sudah menikah dan merasa lebih punya hak untuk menuding mereka yg belum menikah dan kumpul kebo dan memilih jalan kehidupan seks bebas!
Dari dua tulisanku sebelumnya terkait serial ‘Alkohol di Australia‘, ada seorang pembaca yang menghubungiku dan bertanya, “Mas, bagaimana dengan orang-orang yang tak diperbolehkan minum minuman alkohol karena aturan agama? Adakah pesta-pesta di Australia juga menyediakan minuman non-alkohol?”
Fakta! Mendebarkan atau menyenangkan? :)
Oh jelas! Pesta di sini tak hanya menyediakan minuman beralkohol tapi juga minuman-minuman non-alkohol. Alasan keberadaannya pun tidak melulu karena agama. Ada yang memilih abstain tak minum minuman alkohol karena alasan kesehatan, ada juga alasan lain karena sesudah pesta ia misalnya harus nyetir kendaraan pulang atau besok paginya masih ada komitmen sesuatu yang tak bisa ditinggalkan dan membutuhkan kesadaran penuh.
Penyedia pesta biasanya menyediakan minuman-minuman non-alkohol seperti aneka ragam juice, minuman bersoda, teh, kopi hingga air putih biasa.
Bir temulawak-nya Australia, Bundaberg!
Tapi ada juga minuman bersoda yang memiliki rasa amat mirip dengan beer namun mengandung zero alcohol yaitu ginger beer atau yang di Indonesia dikenal sebagai bir temulawak.
Karena ini adalah tulisan terakhir dari rangkaian ‘Alkohol di Australia‘ (kecuali jika di masa datang aku memerlukan untuk menulis lanjutannya) maka aku juga ingin berbagi perilakuku dalam mengkonsumsi alkohol.
Aku bukanlah konsumen kelas berat alkohol. Setiap hari aku memang mengonsumsi alkohol tapi aku mengkhususkan diri pada anggur merah (red wine) jenis Cabernet Merlot. Takaran konsumsiku pun di bawah standard yaitu sekitar 150ml, setengah gelas kecil yang kuminum sepulang kerja. Dalam seminggu, biasanya aku menghabiskan satu botol wine (750ml). Budget yang kupakai biasanya kubatasi hingga maksimal $15 per botol. Aku tak mengkonsumsi bir, white wine apalagi spirit sehari-hari.
Pada acara-acara tertentu seperti pesta atau meeting, sebulan sekali, aku mengonsumsi alkohol lebih banyak dari biasanya dan pilihan biasanya jatuh pada beer terutama craft beer, beer yang dibuat secara istimewa ketimbang beer-beer pabrikan biasa. Berapa banyak? Untuk takaran sedang aku biasa minum cukup tiga hingga empat botol bir, tapi untuk takaran tinggi… hehehehe, jangan kaget kadang aku dan kawan-kawan bisa minum hingga 12-15 botol.
Banyak ya? Hehehe, tapi itu dulu! Sekarang sudah amat jarang kecuali mendapatkan ijin khusus dari Joyce, istriku. Kenapa perlu ijin khusus karena biasanya pesta diadakan pada Jumat sore/malam. Kalau aku minum banyak, 12 – 15 botol, keesokan paginya aku akan mengalami hangover padahal aku harus mengantar anak-anakku kursus ballet sabtu pagi jam 9:30! Jadi, bisa dibilang beberapa tahun belakangan aku sudah tak pernah minum beer secara berlebihan. Cukup tiga-empat botol lalu cabut! Ya, cabut alias pulang saat pesta masih berlangsung adalah kuncinya. Semakin kita berlama-lama, semakin kita terbujuk untuk minum terus dan terus dan terus…
Drink responsibly!
Bagaimana dengan perilakumu dalam minum minuman berlakohol? Apapun itu, jadilah yang terbaik untuk dirimu sendiri dan keluarga. Jangan minum karena kawan lainnya juga ikut-ikutan minum. Menyitir semboyan yang dipaparkan pemerintah Australia tentang budaya minum, minumlah dengan penuh rasa bertanggung jawab (drink responsibly). Artinya? Bertanggung jawablah terhadap hal-hal yang ditimbulkan dari perilaku minum minuman berlakoholmu! Jangan salahkan pemerintah, jangan salahkan penjual minuman apalagi jangan salahkan pemeluk agama lain yang kamu anggap memanas-manasi untuk terus minum dan minum lagi…
Angkat gelasmu, Kawan! Kalau mampir ke Sydney kabar-kabar ya, kita bersulang bersama!
Hal yang paling sering ditanyakan kawan-kawan di Tanah Air kepadaku adalah terkait perbedaan harga barang di Indonesia dan Australia. Salah satunya begini, “Don, kalau makan siang di Sydney harga per sajian berapa kira-kira?”
Lalu setelah kuberi tahu, misalnya sepiring nasi goreng seharga $15, ia kaget. “Buset! Itu kan kira-kira 150 ribu di sini! Mahal amat?! Di sini bisa dapet lima porsi kali!”
Bersyukurlah kalau harga makanan di Indonesia, menurutmu, lebih murah. Tapi benarkah demikian cara menghitung perbedaan harga antar dua negara?
Menurut buku yang kubaca, nilai tukar uang dua negara bukanlah ukuran yang baik untuk menghitungnya terutama pada dua negara yang punya level perkembangan (development level) yang berbeda. Lalu parameter apa yang tepat? Tak hanya satu tentu saja, tak hanya mengkonversi mata uang tapi juga hitungan faktor upah buruh. Di negara berkembang, upah buruh jauh lebih murah ketimbang negara maju. (Thirlwall, A.P. Growth and Development: With Special Reference to Developing Economies. Springer, 1989. Print, p. 24).
Jadi, kalau nasi goreng di Australia dihargai lima kali lipat dari yang dijual di Indonesia hal itu terjadi karena upah buruh adalah pengaruh utama yang membuat harga bisa berkali lipat jaraknya. Berapa uang yang perlu dibayar untuk upah buruh angkut bahan baku dari pelabuhan ke gudang. Berapa upah buruh untuk mereka yang mengelola barang dari gudang ke toko-toko. Berapa harga jual dari toko ke restaurant, berapa upah buruh masak, berapa upah buruh pelayan, sewa tempat, dan masih banyak lagi hingga akhirnya ketika ditotal jendral ya akhirnya menjadi komponen penyebab berlipat-lipatnya harga.
Tapi secara manusiawi, membandingkan harga dengan jalan menghitung konversi nilai tukar mata uang memang tak terhindarkan. Dulu pertama kali datang kemari pun aku sering merasa demikian.
Misalnya mau ngopi, tanya harga berapa lalu kaget ketika si penjual bilang $3.5. Hah? 35 ribu rupiah? Ngopi di angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu kala itu (2008) harganya hanya sepersepuluhnya!
Atau saat hendak potong rambut. Pas ngeliat daftar harga untuk potong rambut ala militer (1cm) ditulis $15 alias sekitar Rp 150 ribu rupiah! Yang bener aja? Potong 1cm di salon-salon di Indonesia dulu (2008) juga cuman 15 ribu rupiah saja kok!
Lalu bagaimana akhirnya aku berhenti membanding-bandingkan harga? Ya karena aku makin larut dalam kehidupan di sini, digaji dalam dollar, bertransaksi dalam dollar dan tak perlu membanding-bandingkannya dalam rupiah karena tak bersinggungan dengan rupiah lagi.
Kini yang terjadi malah sebaliknya, ketika aku kembali ke Indonesia untuk berlibur lalu membeli kopi di coffeeshop dan kaget kenapa harganya bisa sampai puluhan ribu mahalnya? Secara manusiawi aku tak menghitung konversi ke dollar, tapi aku hitung konversi dengan harga kopi ketika aku masih tinggal di Indonesia, sebelum 2008 silam.
Ya sama-sama nggak benernya, kan? Jadi? Kalau kamu hendak berlibur ke Australia dan mendapati harga-harga mahal? Nikmati saja! Kalau mau beli dan terbeli ya belilah, kalau tidak ya sudah tidak mengapa. Demikian juga catatan untukku dan banyak kawan migran asal Indonesia dan pulang berlibur ke Tanah Air, mendapati harga segala sesuatunya kok membubung tinggi dibandingkan saat kita masih tinggal di Indonesia dulu, ingatlah bahwa semua berhak berubah dan mengubah. Kan bukan cuma Australia aja yang boleh mahal, Bro?
Beberapa kawan di Indonesia juga sempat bertanya, berapa harga minuman beralkohol di Australia?
Jawaban yang mudah tapi sulit karena kebanyakan dari kawan di Indonesia masih menghitung perbedaan harga dengan mengkonversi langsung nilai dollar ke rupiah dan sebaliknya.
Don, bukankah itu cara yang benar? Tidak, karena kalau demikian berarti kamu membandingkan dengan cara apple-to-apple padahal harusnya tak demikian. Nanti akan kutulis di lain waktu soal ini.
Kembali ke topik, harga minuman berlakohol di Australia secara garis besar sebenarnya lebih mahal daripada di Indonesia dan banyak negara lainnya.
Menurut Lifehacker Australia dari informasi tahun 2014, harga bir di Australia termasuk yang termahal di dunia dengan harga per 0.5 liter botol adalah 4.45 USD setelah Iran, Kuwait, Uni Arab Emirates, Papua New Guinea, Singapore, Norway dan Qatar serta lebih murah dibanding Afganistan dan Jordan.
Sementara itu untuk wine/anggur, Australia menduduki peringkat ke-31 dari 126 negara dengan harga per botol wine adalah 11.33 USD, menurut Numbeo.
Lalu untuk spirit, aku tak menemukan data numeriknya tapi dari News.com.au?kudapatkan informasi bahwa meski dikonsumsi lebih sedikit seperti yang kutulis pada tulisan sebelumnya, tapi pajak yang dihasilkan dari konsumen spirit menduduki 41% dari keseluruhan pajak yang dihasilkan dari alkohol!
Jadi secara keseluruhan, harga alkohol di Australia tidaklah murah. Lalu bagaimana cara mendapatkan stok alkohol yang murah tapi meriah?
Dari pengalamanku, ini adalah beberapa tips yang mungkin bisa kalian pakai saat hendak berlibur atau bermigrasi ke Australia.
1. Beli di local cellar
Suasana cellar/bottleshop/toko alkohol
Aku lebih suka beli stock minuman alkohol di local cellar/toko alkohol dekat rumah karena biasanya mereka punya harga lebih reasonable (Untuk merk wine favoritku Lehmann, di cellar-cellar besar dijual per botol bisa sampai $15 tapi di sana cuma $11 bahkan kalau beli 2 cuma bayar $20 saja!). Selain itu, kenal dekat dengan pemilik/pegawainya amat menguntungkan karena kadang mereka memberikan informasi seputar update jenis-jenis minuman, diskon-diskon terbaru hingga free wine tasting.
Oh ya, menemukan local cellar/toko alkohol di Australia amat mudah. Hampir di setiap suburb, kita menemukan setidaknya satu.
2. Beli di ALDI
ALDI adalah nama retail brand di sini. Harga-harga barang yang dijual ALDI jauh lebih murah dan banyak dijadikan rujukan orang-orang saat berbelanja kebutuhan harian. ALDI punya anak perusahaan ALDI Liquor dan sama seperti induknya, harga minuman beralkohol di ALDI Liquor cukup miring dibandingkan yang lain.
3. Pilih jenis jangan merk!
Sebagai penyuka wine, aku tak pernah merasa perlu terpatok pada satu brand. Aku memilih untuk setia pada jenis wine yaitu cabernet merlot. Kenapa? Harga wine dari satu brand ke brand lain kadang jauh berbeda, sementara rasanya, asal jenisnya sama, masih bisa ditolerir lah lagipula sebagai penikmat harian, aku tak perlu wine yang rasanya ‘gimana-gimana’ amat :)
Jadi misalnya di local cellar atau cellar lainnya sedang ada banting harga untuk wine jenis cabernet merlot yang kusuka, apapun merknya, langsung kubeli!
4. Cari diskonan!
Hampir setiap cellar selalu punya ‘special offer’. Nah, pintar-pintarlah untuk mengikuti perkembangan ‘special offer’ apa yang menarik hatimu untuk membeli. Untuk local cellar, aku sudah membagi nomer handphoneku padanya, jadi kalau ada yang diskon, mereka langsung memberitahuku dan aku akan mengambil pesanan sepulang kerja.
Tulisan tentang alkohol di Australia tak berhenti di sini. Nantikan tulisan selanjutnya!
Beberapa minggu lalu, saat mengunggah foto botol anggur yang kukonsumsi ke social media, ada seorang kawan di Indonesia bertanya, “Perasaan kamu sering banget motret botol anggur? Minum terus? Kapan kerjanya?”
Marah? Tidak! Justru ini adalah hal menarik karena beda pandangan tentang minuman beralkohol itu sah-sah saja. Ada yang berpikir bahwa orang minum minuman berlakohol pasti mabuk seperti halnya orang berpikir bahwa orang bertattoo pastilah preman.
Di Australia, tak semuanya, tapi pada beberapa kalangan yang memilih minum alkohol tak berarti selalu mabuk-mabukan karena bukankah kita juga tak perlu makan hingga terkenyang-kenyang?
Minuman alkohol banyak dihidangkan di pub dan bar, pada acara-acara makan di restaurant mahal, pentas musik, atau di rumah untuk konsumsi sehari-hari seperti yang kulakukan setiap hari.
Apa saja yang diminum orang-orang Australia? Pada prinsipnya ada tiga, beer, wine dan spirit, sesuatu yang biasa disingkat sebagai BWS. Bagi yang belum tahu bisa googling apa arti ketiganya. Tapi kebanyakan, sejauh yang kutahu, orang-orang Australia lebih sering mengkonsumsi beer dan wine saja karena kepraktisan dan level alkohol yang cukup rendah yaitu antara 4 – 20%. Spirit jarang dikonsumsi selain karena kadar alkoholnya yang tinggi (rata-rata di atas 30%) juga banyak orang memilih mengonsumsi spirit dalam bentuk cocktail yang tak murah.
Dimana membeli minuman alkohol? Bersyukurlah kalau dulu di Indonesia (katanya sekarang udah dilarang ya?) beer bisa ditemukan di gerai-gerai minimarket atau di warung-warung rokok yang menyediakan minuman alkohol meski dijual secara sembunyi-sembunyi dan harus menggunakan kata sandi untuk memesannya.
Kenapa? Di Australia, pemerintah secara ketat mengatur penjualan minuman keras. Hanya toko-toko tertentu yang berhak menjual alkohol dan hanya orang-orang di atas usia 18 tahun saja (ditunjukkan dengan ID card) yang berhak membelinya.
Tak semua restaurant juga boleh menyajikan minuman beralkohol, mereka harus punya ijin khusus dari pemerintah. Dan tak semua restaurant yang memiliki ijin untuk menjual minuman beralkohol boleh menjual minuman pada jam-jam tertentu saja. Misalnya, di daerah Kingscross, tempo hari karena situasi keamanan yang memburuk ditandai banyaknya pertikaian antar pemabuk, pemerintah setempat menerapkan aturan bahwa konsumsi alkohol hanya dibatasi hingga pukul 1 dinihari saja.
Ada pula aturan di bar yang pernah kukunjungi bahwa mereka hanya boleh menjual alkohol untuk pengunjung yang masuk ke dalam bar. Bagi mereka yang memilih kongkow di teras bar, mereka tak diperbolehkan mengonsumsi alkohol di atas jam sembilan malam. Alasannya? Tak tahu pasti tapi yang jelas terkait dengan alasan kenyamanan dan keamanan lingkungan.
Orang minum minuman beralkohol, hingga batasan tertentu juga dilarang untuk mengendarai kendaraan di jalan raya. Polisi kerap mengadakan operasi pengechekan secara acak yang dinamakan RBT, Random Breath Test.
Teknisnya, meski namanya ‘random’ tapi kebanyakan RBT diadakan di akhir pekan atau di hari-hari libur nasional atau di dekat area keramaian yang memperbolehkan seseorang untuk minum minuman beralkohol.
Mobil akan diberhentikan oleh polisi lalu seorang mendekat dan meminta kita untuk menghitung angka 0 – 10 di dekat alat detektor nafas. Beberapa saat kemudian indikator akan bergerak. Kalau menyentuh level tertentu yang tak diperbolehkan kita akan diminta turun dan mengikuti prosedur hukum berikutnya entah itu denda atau kalau parah bisa juga hukuman kurung badan alias dipenjara. Oh ya, alat pendeteksi RBT juga ada yang menggunakan metode tiup, jadi kita diminta untuk meniup sebuah pipa yang terkoneksi dengan detektor seperti gambar di bawah ini:
Pipa putih yang dipegang itu yang harus ditiup untuk breath test
Waduh, kok ribet banget beralkohol di Australia? Katanya negara sekuler? Kok malah kesannya lebih ketat daripada negara agamis? Justru karena Australia adalah negara sekuler, pemerintah peduli pada manusia-manusianya, bukan yang lain yang tak kelihatan. Ada dua hal yang coba dilindungi pemerintah dalam hal ini. Pertama, kenyamanan orang untuk menikmati alkohol. Kedua, kenyamanan orang di sekitar penikmat alkohol. Dua-duanya harus bisa dijamin kenyamanannya. Adil, kan?
Lalu bagaimana cara mengonsumsi alkohol yang aman di Australia? Berapa kisaran harga kemasan minuman-minuman beralkohol? ?Ih kepo amat sih? Ya udah, tunggu aja tulisan berikutnya ya!
Oh ya, silakan simak campaign tentang Plan B, bagaimana pemerintah Australia mengajak orang yang hendak menikmati alkohol untuk memanfaatkan fasilitas transportasi publik ketimbang membawa kendaraan pribadi. Selengkapnya bisa disimak di sini.
Kali ini mari bicara hal-hal menarik dari menjadi seorang konsultan IT di Australia.
Ada banyak hal-hal menarik dari menjadi seorang konsultan IT bahkan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang kutulis pada tulisan sebelumnya, ketika kita temukan solusinya, pun akhirnya malah jadi menarik dan membuat kita semakin nyaman berprofesi sebagai konsultan IT di sini.
Apa saja hal itu?
Nggak punya personal spot
Ketidaknyamanan ini menjadi hal yang menyenangkan karena tanpa personal spot otomatis kita bisa merasa lebih easy going kapanpun kita harus pindah. Tak ada kelekatan pada kantor tertentu, pokoknya santai. Tinggal tenteng tas, panggil taksi lalu pergi!
Travelling
Ketidaknyamanan ini juga menjadi hal yang mengasyikkan karena waktu yang kita pakai selama travelling di atas public transport bisa kita manfaatkan sebagai ‘me’ time!
Mulai dari memutar film di Netflix, membaca social media (akhir-akhir ini jarang kulakukan karena isinya cuma soal Pilkada melulu!) hingga menulis blog sambil mendengarkan musik melalui headphone bahkan tidur jika memang perlu untuk memejamkan mata barang sejenak.
Travelling time bagiku adalah jeda/spasi hidup dari banyaknya hal yang harus dihadapi dan taklukkan.
Pakaian Rapi
Bekerja mengenakan pakaian rapi, yang semula adalah hal yang tidak nyaman menjadi nyaman karena setidaknya kita tampak lebih baik ketika rapi, bukan? Selain itu, berpenampilan rapi selama hari kerja membuat kita bisa lebih menghargai akhir pekan saat santai bersama keluarga. Kenapa? Dulu pernah aku setiap hari bekerja mengenakan kaos dan jeans serta sneakers, memang santai tapi alhasil saat akhir pekan tiba, karena aku mengenakan pakaian yang sama, rasanya seperti tak terlalu istimewa lagi karena tak beda!
Anti politik!
Bekerja sebagai pegawai tetap di perusahaan biasa akrab dengan hal-hal yang berbau politik. Hubungan yang semula baik antara kita dengan kolega bisa runyam karena masing-masing punya kepentingan. Menjadi konsultan IT terhindar dari politik atau setidaknya terkurangi banyak karena hubungan kita dengan klien hanya seumur jagung sebelum kita pindah ke klien lainnya. Hubungan kita dengan kolega antar konsultan pun juga sama, begitu proyek selesai kita sudah pindah ke proyek yang lain yang kemungkinan besar beda pula konsultan-konsultan yang ditempatkan di sana.
Musuhan dengan atasan atau bawahan pun jarang karena aku bertemu dengan atasan sama jarangnya dengan ketemu bawahan, sebulan sekali!
Expense
Jadi konsultan IT juga punya peluang banyak makan dan minum enak… gratis! Ketemu bawahan di restaurant lalu makan dan uangnya ditukar perusahaan. Ketemu atasan di coffee shop, mau minum kopi model apa saja dan kudapan semewah apa, uangnya ditukar perusahaan. Jadwal public transport sedang amburadul, hujan lebat tanpa henti? Panggil taksi, ongkos diganti! Ogah setrika dan cuci, tinggal bawa ke laundry dibayari perusahaan! Nyaman, kan?
Satu tim dengan para ahli
Tak ada konsultan yang bukan ahli; semua ahli dan punya pengalaman di bidangnya. Seringkali aku berada satu tim dengan para konsultan senior yang punya pengalaman bekerja di raksasa dunia. Technical Lead di proyekku terdahulu adalah seorang senior consultant yang dulu, dekade silam, membuat aplikasi kalkulator di Windows 7 lalu ikut membangun Microsoft Snippet serta Lync! Kawanku lainnya, dia konsultan paling senior di bidang Identity Management di belahan dunia bagian selatan khatulistiwa.
Bekerja bersama mereka dan mendengarkan bagaimana mereka dulu bekerja di perusahaan-perusahaan besar adalah hal yang membanggakan meski aku tak tahu apakah mereka juga bangga pernah bekerja denganku hahahaha…
Tiket mudah untuk naik ke jenjang karir lebih tinggi
Menjadi konsultan IT terutama di perusahaan terkemuka seperti yang kualami sekarang ini membuka peluang karir yang lebih tinggi di masa mendatang. Klien-klien yang kutangani adalah perusahaan-perusahaan besar dengan jumlah pegawai minimal sepuluh ribu banyaknya. Hal-hal yang kukerjakan siap kumasukkan ke dalam portfolio sehingga ketika aku memutuskan untuk pindah ke perusahaan lainnya, hal itu akan menjadi bekal besar untukku meyakinkan calon perusahaan yang kepadanya kulamar pekerjaannya.
Ketiadaan personal spot dan personal stuffs yang bisa kita pakai di kantor klien bisa kita siasati dengan memiliki barang-barang yang punya tingkat protabilitas tinggi.
portable cutlery
Mulai dari gelas, piring dan sendok/garpu/pisau. Kita bisa menggunakan yang portable dan bisa didapatkan di toko-toko adventure.
Stojo Pocket Mug (1)
Stojo Pocket Mug saat dilipat siap dimasukkan tas
Lalu laptop, mobile wifi/modem, charger, powerbank, noise cancelling headphone (ini perlu tak hanya untuk mendengarkan musik tapi juga untuk mengurangi noise dari percakapan yang muncul di kantor klien), kantong teh, bahkan tissue toilet pun aku bawa cadangan.
Bagaimana dengan portable storage? Masih perlukah USB flashdisk? Tidak! Aku sudah tidak menggunakan USB flashdisk sejak tahun lalu karena lebih banyak menggunakan cloud storage yang tinggal upload/download saat diperlukan.
Tas besar
Karena begitu banyak portable stuff yang harus dibawa, mau tak mau aku harus menggunakan tas besar yang nyaman dibawa dan tak terlalu memberatkan. Karena aku punya masalah dengan tulang belakang (tulang belakangku agak bengkok ke kanan) maka aku memilih menggunakan tas besar sistem trolly yang bisa kutarik dan tak harus kujinjing.
Samsonite mobile office bag yang kupakai setiap hari
Up-to-date dengan jadwal public transport
Bekerja menggunakan kendaraan pribadi bukanlah pilihan tepat di Sydney. Jarak antar kantor klien biasanya tak terlalu jauh jadi lebih baik menghapalkan jadwal public transport atau kalau memang sedang malas betul ya tinggal panggil taksi nanti toh ongkos yang dikeluarkan diganti perusahaan.
Untuk pengaturan jadwal public transport, sejak awal tahun silam aku menginstall aplikasi TripView yang punya sistem hampir bisa dikatakan real time data. Artinya kita bisa tahu posisi kereta/bus/ferry yang akan kita naiki sudah sampai mana dan akan sampai di tujuan jam berapa.
Aplikasi Trip View, kita bisa mendeteksi hampir realtime bus/ferry/kereta yang akan kita tumpangi
Penunjang penampilan
Karena kita dituntut untuk tampil rapi dan profesional, hal yang tak pernah tak kubawa di dalam tas adalah: deodorant, parfum, permen karet mint. Ketiganya amat penting untuk menangkal bau mulai dari bau badan, bau keringat maupun bau mulut! Dulu malah aku sempat bawa sikat gigi segala macam tapi lantas kupikir too much!
Permen karet penghilang abab
Parfum yang kupakai setiap hari
Setia setiap saat. Kamu juga pakai, kan?
Jaga Hubungan dengan Kantor Pusat dan manajemen
Menjaga hubungan dengan kantor pusat amatlah penting! Kenapa? Sebagai konsultan yang ditempatkan di kantor klien, peluang kita bertemu dengan manajer dan anak buah (karena aku lead consultant aku punya beberapa anak buah) amat jarang. Kita harus proaktif untuk selalu keep in touch dengan mereka baik itu melalui telepon, email ataupun coffee meeting dan lunch!
Hal ini amat penting karena banyak informasi terkait kebijakan perusahaan termasuk proyek-proyek baru yang masuk, issue-issue dengan anak buah dan peer colleagues, training sessions yang perlu kita tahu dan berguna untuk pengembangan karir personal kita.
Olahraga dan jaga makan
Bekerja sebagai konsultan membutuhkan dinamika yang tinggi. Energi adalah barang yang mahal. Untuk itu, berolahraga untuk mengatur stamina dan vitalitas tubuh amat diperlukan bahkan menurutku lebih perlu ketimbang aneka vitamin dan supplemen yang ditawarkan bakul-bakul obat di luaran sana.
Interaksi kita dengan klien kadang juga membuat tak bisa menghindari untuk ikut acara makan siang maupun coffee break yang melibatkan banyak makanan yang secara nutrisi membuat pola makan yang sudah kita atur jadi berantakan. Oleh karena itu sebisa mungkin melakukan diet dengan menghitung jumlah kalori yang kita konsumsi dengan yang kita keluarkan amat penting. Puji Tuhan aku melakukan hal ini cukup seksama.
Sejak mulai berkarir di bidang IT, 1999 silam, beberapa kali aku pernah menempati posisi berbeda.
Bermula dari penjaga warnet, lalu web designer. Setelah membangun perusahaan tahun 2000, posisiku jadi web development manager. Web content manager juga pernah kuemban saat mengelola Gudeg.Net hingga akhirnya pindah ke Australia tahun 2008.
Di Australia aku mulai berkarir sebagai web developer (front to back end/full stack) lalu fokus ke front end side pernah pula menjadi Head of Digital (acting) dan sejak Mei 2016, aku banting stir ke dunia konsultasi.
Ya, di perusahaan jasa konsultasi IT milik perusahaan telekom no 1 di Australia ini, posisiku adalah UX/UI Lead Consultant.
Apa pula itu? UX/UI adalah singkatan dari User Experience/User Interface, sebuah anak cabang IT yang belum lama terdefinisikan bidangnya. Tapi aku belum hendak mengulas tentang hal tersebut karena aku lebih ingin fokus ke suka dan duka bekerja menjadi Lead Consultant.
Tulisan ini akan bersambung ke dalam beberapa tulisan lainnya mendatang, tapi baiklah kumulai dengan ‘duka’ nya menjadi seorang Lead Consultant.
Simak berikut ini…
Nggak punya personal spot di kantor
Bekerja sebagai konsultan, kebanyakan waktu kuhabiskan dengan bekerja di kantor client. Dengan lama engagement per proyek yang sekitar 2 sprints (4 minggu) aku praktis tak punya personal spot di kantor tersebut.
Maksudnya? Aku tak punya kursi dan meja tetap dimana biasanya banyak digunakan pegawai untuk menyimpan barang-barang personal mulai dari alat makan (cutlery), alat olahraga hingga foto istri dan anak-anak yang biasa dipajang di dinding cubical.
Travelling, berpindah-pindah
Sebagian orang bermimpi enaknya bekerja travelling dan berpindah-pindah. Percayalah, aku dulu juga demikian! Tapi setelah mencoba, kini aku mulai punya impian untuk bekerja di satu kantor, tak berpindah-pindah. Mau gimana lagi, namanya manusia, kan? Maunya enaknya aja hahaha!
Ketidaknyamanan bekerja berpindah-pindah itu tak datang dari lelah fisik sebenarnya, lebih banyak lelah pikiran. Ada beberapa waktu dimana dalam seminggu aku mengerjakan dua proyek sekaligus bahkan saat tulisan ini kurawi aku ada dalam komitmen dua proyek dengan pembelahan waktu yang amat tidak menyenangkan karena dari senin – rabu siang aku bekerja di proyek A, lalu rabu sore hingga kamis siang aku ke proyek B, kamis sore hingga jumat aku kembali ke proyek A!
Ketidaknyamanan lain muncul ketika misalnya kita sudah merasa nyaman dengan klien yang lovely dan kawan kerja yang amat supportive lalu tiba-tiba engagement berakhir dan kita harus lompat ke proyek lainnya. Ada banyak ketakutan jangan-jangan klien tak akan se-lovely yang sekarang dan kawan kerja juga gak akan se-supportive sekarang!
Pakaian rapi
Ada yang bertanya kenapa aku sekarang lebih banyak berpakaian rapi-jali? Pake kemeja dan celana non-jeans lalu kadang pakai jas padahal sebelumnya aku selalu tampil casual ketika pergi ke kantor hanya dengan mengenakan kaos polos warna hitam, celana jeans skinny plus sneakers?
Ada tuntutan dari perusahaan untuk tampil rapi jali dan itu tertuang di dalam kontrak kerjaku dulu.
Hal ini membuat aku harus selalu siap dengan pakaian halus ter-setrika (simak tulisanku tentang hal ini di sini) dan selalu membawa deodorant serta permen karet di tas. Kenapa? Supaya klien tak ragu mendekat hanya karena kita bau keringat atau bau mulut sisa makan bawang semalam!
Nah, itulah beberapa hal yang menurutku tak terlalu menyenangkan selama menjadi konsultan. Di tulisan berikutnya aku akan bercerita tentang solusi dari hal-hal tersebut di atas.
Ada yang berteriak-teriak melarang kaumnya untuk mengenakan atribut Natal yang dianggap milik kaum kristiani.
Ada yang menertawai mereka dan menganggap sebagai kalanganyang tak bisa hidup dalam keberagaman.
Pertanyaannya sekarang adalah, apakah mereka yang menertawai itu tahu esensinya bahwa atribut Natal yang dibicarakan itu memang benar milik kaum kristiani atau tidak?
Di sini menurutku yang punya potensi membahayakan. Kenapa? Sekarang mereka tertawa, tapi nanti ketika mendadak seolah mereka mendapat ?jalan Tuhan?, mereka berbalik membenarkan perilaku pelarangan penggunaan atribut itu semata karena mereka nggak ngerti esensinya.
Soalnya aku punya kawan yang begitu itu, beberapa, banyak. Dulu ia mencibir mereka yang menolak keberagaman tapi sekarang ia ikut berseru bahkan lebih kencang daripada yang dicibiri dulu. Bukan karena ia tahu yang diyakini dulu salah, tapi lebih karena ia tak tahu mana yang benar sejak dulu.
Maka jadilah?tulisan ini. Kutujukan bagi kalian semua baik yang berteriak melarang maupun menertawai pelarangan itu. Kubungkus dalam bingkai ?bagaimana sih pelaksanaan pesta Natal? di Australia sebagai representasi negara yang mayoritasnya beragama kristen.
Kenapa pesta Natal, karena di dalam pesta itu, segala atribut yang kini diributkan, dikenakan.
#1 Penyelenggara
Pesta natal untuk kaum tuna wisma (homeless). Dalam foto ini, pesta terjadi di Inggris, tapi di sini kurang lebih juga seperti ini… Credit photo: chroniclelive.co.uk
Penyelenggara christmas party bisa siapa saja. Mulai dari keluarga dekat, kantor, hingga gereja. Beberapa organisasi sosial juga menyelenggarakan christmas party yang ditujukan bagi kalangan tak mampu (ya, di negara ini ada juga orang miskin), termasuk kaum tunawisma (homeless) yang keleleran di jalan-jalan dan taman kota.
#2?Waktu
Diadakannya ya dekat-dekat Natal. Tapi rata-rata chirstmas party dihelat antara pertengahan November hingga tepat tanggal 25 Desember, saat hari Natal secara official dirayakan di seluruh dunia.
#3 Tempat
Tergantung! Kalau keluarga ya biasanya di backyard/taman belakang, ruang makan atau mungkin di taman-taman umum dan tempat wisata. Tapi dua terakhir yang kusebutkan biasanya sudah penuh dan untuk memakainya perlu booking sejak jauh hari sebelum masa-masa Natal tiba.
Untuk pesta yang diadakan di kantor, mereka biasanya mengadakan di tempat-tempat hiburan, mulai dari bar, bowling club, taman-taman outdoor, museum, atau biasanya yang paling awam ya di restaurant.
Untuk pesta yang diadakan Gereja biasanya diadakan di taman depan gedung Gereja atau di ruang pertemuan paroki setempat. Komunitas Katolik Indonesia di Sydney biasanya mengadakan pesta Natal di gedung pertemuan umum.
Lho, kenapa nggak di dalam Gereja? Nah itu bedanya, Bro! Kalau upacara perayaan Natal itu diadakan di dalam Gereja dengan menerapkan tata-aturan acara yang kami sebut liturgi.
Oh beda ya? Beda! Mulai ngeh, kan? Lanjut dulu ya…
#4 Peserta
Peserta christmas party ya siapa saja yang diundang oleh penyelenggara. Kalau pesta Natal keluarga tentu berlangsung tertutup hanya untuk keluarga itu. Pesta Natal kantor ya biasanya pegawai-pegawai kantor tersebut. Pesta Natal yang diadakan organisasi sosial ya pesertanya seperti yang kutulis di atas, kalau nggak kaum homeless ya kaum papa yang miskin.
Sementara pesta Natal Gereja, pesertanya biasanya ya umat di paroki tersebut…
Donny, apakah mereka itu orang-orang kristen semua? Adakah yang beragama berbeda??Kalau yang pesta Natal Gereja biasanya memang orang-orang katolik semua karena kan pesertanya umat di paroki tersebut.
Tapi kalau pesta Natal di kantor misalnya, jangankan tahu jumlah yang hadir ditilik dari jenis agama karena untuk bertanya, “Agamamu apa?” pun hal itu akan mendatangkan kerut di dahi atau gerakan angkat bahu sambil bersikap acuh pertanda, “Ngapain loe tanya-tanya agama?”
Lho, tapi itu kan Pesta Natal, Don?! Pestanya orang Kristen??
*Dahiku mendadak berkerut dan aku angkat bahu?
#5 Atribut dan Pakaian
Pesta Natal di keluarga biasanya berlangsung sederhana. Pakaian ya sesimple mungkin kecuali memang kalangan keluarga itu sudah menentukan akan mengenakan kostum apa.
Karena Natal di Australia jatuh pada musim panas maka kami nggak pakai jaket atau sweater tebal seperti yang banyak dilukiskan di media-media itu.
Untuk pesta Natal di Gereja, pakaian juga biasa dan seadanya.
Untuk pesta Natal di perkantoran, pakaian biasanya lebih diperhatikan. Yang wanita mengenakan gaun atau stelan sedangkan yang pria ya pakai jas atau kemeja formal atau smart-casual (kemeja plus jeans).
Tapi kadang pesta Natal di perkantoran itu menerapkan tema tertentu. Aku pernah bekerja di perusahaan yang mengadakan pesta Natal dengan tema ?Bajak Laut?.
Absurd, kan? hehehe…
Tapi mereka pakai topi sinterklas juga, Don??Ya kalau mau pakai ya pakai, tidak wajib dan lebih pada hak.
Jadi mereka yang non-kristiani juga pakai topi sinterklas, Don??Bukankah topi sinterklas itu dipakai untuk perayaan upacara Natal??
Oh tidak! Topi sinterklas tidak termasuk dalam tata aturan gereja yang dalam bahasa kami biasa disebut sebagai liturgi meski ada beberapa yang mencoba kreatif dengan menggunakan topi tersebut.
#6 Kegiatan
Lalu apa yang dilakukan dalam Pesta Natal, Don?
Kalau di keluarga, acaranya makan bersama lalu tukar-menukar kado sambil ngobrol santai.
Di perkantoran acaranya bebas. Kalau ada sepatah dua patah kata pun berlangsung sangat singkat lalu dilanjutkan dengan makan-makan, minum-minum.
Makanannya beberapa memang mengandung babi tapi biasanya panitia penyelenggara mengedarkan pertanyaan pada peserta pesta adakah yang punya pantangan terhadap makanan tertentu. Nah di sini mereka yang berkomitmen untuk tidak menyantap makanan tertentu biasanya mengajukan permohonan lalu dikabulkan dengan tersedianya makanan-makanan alternatif.
Minuman pun demikian. Memang, sebagian besar minuman adalah beralkohol tapi bagi yang tidak minum alkohol juga disediakan aneka rupa juice, soft drink, kopi dan teh juga air putih tentunya.
Lalu ketika suasana sudah makin hangat, biasanya digelar live music entah itu dalam wujud full band atau DJ yang mengajak orang untuk berajojing.
Ah, masa gitu aja? Nggak mungkin! Doanya kok nggak ada?
Doa? Doa ya di gereja atau di tempat ibadah masing-masing atau kalau mau doa ya di dalam hati saja.
Pesta Natal itu tidak terkait dengan doa-doa, Mas Bro. Pesta Natal itu terkait dengan sukacita, kebahagiaan dan yang paling penting kebersamaan dengan tidak memandang perbedaan yang ada karena Tuhan datang juga untuk semua kalangan, tak terbatas, tak dibatasi.
Merentang dari 1 Desember hingga 28 Februari (kalau tahun kabisat sampai 29 Februari), musim panas di Australia menghadirkan begitu banyak godaan dan tantangan. Apa saja? Simak di bawah, Gan!
#Ultra Violet
Di balik keindahan langit cerah nan biru tanpa awan, ada bahaya mengancam yaitu sentoran ultraviolet dari sinar matahari. Di Australia kadang intensitasnya sampai ke level ekstrim, 14!
“Wah, bisa jadi item dong!” Nggak hanya item karena kalau item gosong orang-orang bule malah suka. Bahaya yang lebih parah adalah eksposure sinar UV ke kulit bisa mengakibatkan kanker kulit!
#Suhu Panas
Musim Panas di Australia identik dengan suhu udara yang kadang bahkan bisa menggapai-gapai angka di atas 40 derajat celcius! Malah, 2010 silam aku pernah menjadi saksi pencapaian suhu tertinggi di Sydney dalam 100 tahun terakhir. Waktu itu suhu mencapai lebih dari 46 derajat celcius! (Kalian bisa simak di sini pengalamanku itu!)
Perhatikan perubahan suhu per-jam-nya.
Di Australia Selatan bahkan suhu di atas 50 derajat adalah hal yang biasa terjadi selama musim panas. Kamu membayangkan air setengah matang, kan? Aku membayangkan telor ditaruh di atas aspal jalanan akan jadi setengah matang!
#Jam tidur memendek
Aku tak tahu apakah kamu juga merasakannya, tapi jam tidur selama musim panas itu memendek karena matahari baru tenggelam sekitar pukul 8 malam dan sudah terbit lagi jam 5:00 pagi!
Meski jendela ditutup, AC dinyalakan untuk menurunkan suhu kamar tetap saja begitu…
#Larangan menyalakan api
Panasnya suhu udara ditingkahi dengan tingkat kekeringan yang amat tinggi membuat Australia rentan terjadi kebakaran baik itu kebakaran hutan (bushfire) maupun kebakaran di perkantoran dan perumahan.
Pada hari-hari tertentu di wilayah-wilayah yang juga ditentukan kita dilarang untuk memantik api dengan alasan apapun. Dilarang keras-keras pula untuk membuang puntung rokok sembarangan. Kenapa? Khawatirnya itu akan menjadi awal dari kebakaran yang hebat. Malah kini muncul aturan untuk mematikan mobil secepatnya ketika berhenti karena asap knalpot yang keluar dan mengenai rumput, daun atau apapun medium yang tak kedap api itu membahayakan karena bisa memicu terjadinya kebakaran.
#Larangan menggunakan air secara berlebihan
Musim panas juga identik dengan intensitas hujan yang menurun. Untuk memastikan persediaan air yang digunakan untuk menggerakkan lini hidup masyarakat tercukupi, pemerintah menerapkan aturan untuk tidak menggunakan air selain untuk mandi dan minum. Jadi kalau mau siram-siram tanaman atau cuci mobil menggunakan air? Ketauan tetangga bisa dilaporin dan kita kena denda!
#Kurang ‘bahan’
Karena suhu yang panas membuat badan gerah, banyak orang Australia memilih mengenakan pakaian seadanya hingga mereka tampak seperti ‘kekurangan bahan pakaian’.
Yang cewek banyak yang hanya mengenakan bra dan celana pendek super-duper ketat berlalu lalang kesana-kemari. Ada juga yang bahkan nggak pakai bra lalu pakai singlet yang aduhai menggoda. Yang cowok nggak mau ketinggalan. Mereka malah buka baju, mengenakan celana pendek begitu saja.
Don, dmana letak godaan dan tantangannya untuk hal yang satu ini? Sebagai lelaki normal, jelas memandang lawan jenis yang berpakaian serba minim dan ‘kurang bahan’ itu ya menyenangkan. Tapi kan bukan muhrim? Makanya kuanggap ini sebagai sebuah godaan…
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish.AcceptRejectRead More
Privacy & Cookies Policy
Privacy Overview
This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.