Dua hari lalu aku melihat di sosmed, sebuah rekaman video perayaan ekaristi di suatu tempat acara konvensi di Indonesia yang melibatkan begitu banyak imam. Bahkan tak hanya imam, para uskup juga dihadirkan di sana! Iya, para.. bukan cuma satu!
Hal itu membuat pertanyaan lama yang mengendap di otak terusik muncul kembali ke permukaan; ngapain sih ngundang romo (bahkan uskup) banyak banget untuk satu perayaan ekaristi saja?
Maka tumpahlah unek-unek ini. Melalui tulisan ini aku tak hendak menyalahkan tak pula membenarkan karena sebagai umat, apalah kuasaku. Maka anggaplah ini sebagai pendapat mana suka. Artinya kalau kalian suka ya silakan dipikirkan, kalau tidak pun tidak mengapa…
Dua puluh tahun lalu saat masih tinggal di Indonesia, aku juga pernah mengadakan acara serupa. Waktu itu aku didapuk menjadi wakil ketua panitia pelaksanaan Konvensi Muda-Mudi Karismatik Katolik II di Yogyakarta.
Waktu itu ada tiga imam berasal dari luar Jogja serta satu imam dari Jogja yang kuundang ke acara. Imam yang dari Jogja adalah imam yang waktu itu menjabat sebagai moderator gerakan pembaharuan karismatik katolik. Ia datang hanya saat pembukaan saja untuk menyambut tiga imam lain dan para peserta. Sesudahnya beliau pulang.
Tiga imam yang dari luar Jogja yang kuundang hadir tidak dalam kapasitas sebagai konselebrator misa saja. Kehadiran mereka “kami manfaatkan” untuk mengisi materi dan memberikan renungan selama tiga hari pelaksanaan (bahkan seingatku ada beberapa komunitas yang lantas mengajak mereka untuk hadir dalam acara-acara mereka beberapa hari kemudian!). Tiga imam, waktu itu rasanya sudah banyak sekali!
Aku tak berprasangka buruk, tapi mari kita bertanya pada diri sendiri, ngapain sih ngundang romo dan uskup sampai sebanyak itu?
Bukankah mengundang uskup dan imam dari berbagai daerah itu membutuhkan biaya yang tak sedikit? Ongkos transportasi, ongkos menginap dan apa iya mereka gak diberi sangu ketika pulang ke daerah masing-masing?
Para panitia mungkin bisa bilang “Oh, dananya ada kok! Gak usah takut!”
OK! Dananya ada?! Tapi apa ya perlu dana segitu hanya untuk mengundang mereka? Bukankah keberadaan dana itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang sifatnya sosial; semisal membiayai para peserta dari pelosok yang pengen datang tapi nggak mampu? Atau bukankah lebih baik misalnya dana kelebihannya dipakai untuk menyumbang mereka yang membutuhkan toh keadaan ekonomi memang sedang tidak baik-baik saja? (Yuk yakinkan diriku bahwa kalian pun gak berpikir bahwa para imam dan uskup itu yang butuh kan?)
Persoalan ini menurutku memang bukan ada dalam ranah “benar” atau “salah.” Tapi pada tatanan etika; Apa elok? Apa pantas?
Toh mengundang para uskup dan romo dalam satu perayaan ekaristi itu tidak akan lantas membuat berkat dan kasih Tuhan jadi beda jumlahnya dibandingkan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh seorang romo saja kan?
Diluar keterbatasan pengetahuanku terhadap hal-hal ritual, aku percaya roti dan anggur tetap diubah menjadi tubuh dan darah Kristus berapapun jumlah romo yang menjadi konselebrannya.
Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua yang ingin tetap menjadi orang Katolik sesuai dengan yang diamanatkan oleh Sri Baginda Yesus sendiri. Kecuali.. kecuali kalau dengan mengundang para imam dan uskup hanya demi gengsi dan kebanggaan lalu derajat acara jadi naik dan banyak umat bisa selfa-selfi dengan mereka semua… itu beda perkara.
Tapi, ah gak mungkin ah! Masa ada orang Katolik seperti itu sih? Kita semua ini kan pribadi yang rendah hati ya?
Teman-teman, dengan segala kerendahan hati, aku mengucapkan terima kasih.
Terima kasih atas perhatian yang begitu meluap kepada kami sejak wafatnya Paus Fransiskus, masa duka sembilan hari sesudahnya hingga proses konklaf dan terpilihnya paus yang baru yang meski berzodiak virgo tapi maunya dia dipanggil Leo, Paus Leo XIV.
Paus adalah pemimpin kami.
Imam tertinggi di bumi, sekaligus pelayan dari semua pelayan Tuhan (Servus servorum Dei). Penerus tahta Santo Petrus, murid utama yang dititipi umat serta gereja oleh Yesus sejak 2000 tahun yang lampau.
Nama Paus didoakan secara resmi oleh seluruh umat Katolik di dunia yang merayakan Perayaan Ekaristi setiap harinya.
Maka, ketika kalian memberi perhatian yang luar biasa besarnya, bahkan sejak Paus Fransiskus datang berkunjung ke Indonesia tahun lalu, hatiku jatuh dalam haru, merasa begitu diperhatikan dengan hangat tanpa dibedakan sama sekali.
Meski perhatian kalian akan menyurut seiring berjalannya waktu, tapi jika aku boleh berpesan, peliharalah ketertarikanmu itu bagai pelita kecil di dalam hatimu.
Bukan! Ini bukan rayuan gombal supaya kalian login ke Katolik karena untuk bisa masuk ke Katolik, aku percaya dengan apa yang dikatakan Yesus Kristus sendiri, “banyak yang terpanggil, sedikit yang terpilih” (bdk. Matius 22:14). Artinya, kalau kalian bukan yang terpilih masuk ke dalam GerejaNya, ya tidak akan bisa masuk menjadi bagian dariNya. Jadi, tenang saja….
Tapi aku percaya, tanpa harus pindah agama, kita ini kan sejatinya punya bahasa yang sama tentang cinta dan kasih bukan? Misalnya ketika Paus Fransiskus menyapa yang papa dan menderita, aku yakin tidak ada lagi batasan antara kami dan kalian karena kita semua manusia yang punya iba dan air mata.
Nah, kedua hal itu, cinta dan kasih adalah inti dari apa yang Yesus mau untuk kami tampilkan dalam hidup sehari-hari (Makanya kalau kamu menemui orang Katolik yang tidak menampakkan cinta dan kasih, cibirin aja, “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?” Hehehe…)
Oh ya, sesekali waktu, ketika siang yang kau hadapi terasa lebih kering dari panas yang kerontang, atau ketika malam yang kamu dalami terasa terlalu mencekam daripada gelap yang temaram, kalian boleh lho mampir ke Gereja Katolik di kota tempat kalian berada.
Pada jam-jam buka yang sudah ditentukan, Gereja biasanya terbuka untuk siapa saja.
Singgah saja. Duduk saja. Nggak perlu berdoa kalau kamu pikir doamu tidak akan didengarkan karena disampaikan di tempat yang berbeda.
Setahuku belum pernah ada orang yang datang dan duduk di Gereja lalu ditanya umat yang juga ada di situ, “Kamu sudah berdoa atau belum?” atau bahkan “Agamamu Katolik? Bukan?! Kok kemari?!?” (Kalaupun ada yang sampai begitu, lagi-lagi, ikutin caraku di atas, cibirin dan bilang “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?”)
Oh ya, sesekali waktu, ketika siang yang kau hadapi terasa lebih kering dari panas yang kerontang, atau ketika malam yang kau dalami terasa terlalu mencekam daripada gelap yang temaram, kalian boleh lho mampir ke Gereja Katolik di kota tempat kalian berada.
Pada jam-jam buka yang sudah ditentukan, Gereja biasanya terbuka untuk siapa saja.
Singgah saja. Duduk saja. Nggak perlu berdoa kalau kamu pikir doamu tidak akan didengarkan karena disampaikan di tempat yang berbeda.
Setahuku belum pernah ada orang yang datang dan duduk di Gereja lalu ditanya umat yang juga ada di situ, “Kamu sudah berdoa atau belum?” atau bahkan “Agamamu Katolik? Bukan?! Kok kemari?!?” (Kalaupun ada yang sampai begitu, lagi-lagi, ikutin caraku di atas, cibirin dan bilang “Cih! Katanya Katolik kok gak ada kasih?”)
Tapi.. sekali lagi…. kalau ternyata di hatimu ada keinginan yang lebih dari sekadar ingin memperhatikan dan mempelajari dari luar… kalau di hatimu ada suara yang lebih besar yang mengarahkanmu untuk menjadi Katolik, tinggal tanya ke satpam Gereja cara bikin janjian dengan pastor paroki, imam yang ditugaskan di gereja tersebut.
Utarakan apa yang kamu rasakan dan inginkan kepadanya, kepada pastor maksudku, bukan satpam hehehe…
Tapi kuingatkan sekali lagi, proses untuk menjadi Katolik itu tidak mudah, sangat panjang dan kadang berliku.
Dari pengalamanku mendampingi kawan-kawan yang ingin masuk Katolik, banyak dari mereka yang mundur teratur. Lagi-lagi ya ndak papa, semua ini, seperti yang kutulis di atas tadi, bukan tentang kamu dan keinginanmu tapi Tuhan dan kemauanNya karena bukan kamu yang merasa terpanggil tapi Tuhan yang memilihmu.
Maka, beranilah untuk menanggapi keinginanmu karena siapa tahu hal itu selaras dengan apa yang Tuhan mau…
Siapa tahu kalau memang Tuhan menghendaki, nanti yang ada bukan lagi kami dan kalian tapi KITA!
Nggak sampai lebih dari dua hari pelaksanaan konklaf, penerus tahta Santo Petrus yang ke-267 pun terdefinisi! Terlahir sebagai Robert Francis Prevost, meski berzodiak virgo, ia memilih nama Leo dalam kepausannya. Karena sebelumnya sudah ada tiga belas Leo, maka ia menjadi Paus Leo XIV.
Sebagai awam Katolik sepertiku, apa yang bisa diharapkan dari seorang Paus Leo XIV?
Sebelum konklaf dimulai, dalam sebuah diskusi dengan beberapa kawan dekat, aku mengemukakan bahwa alangkah baik jika paus pengganti Fransiskus nantinya akan memiliki sifat-sifat baik yang diambil dari tiga paus sebelumnya.
Ia harusnya memiliki jiwa diplomatis dan politis sekuat Yohanes Paulus II. Paus asal Polandia itu bertahta ketika dunia menjadi saksi kehancuran Uni Soviet serta kebangkitan globalisasi dan pada saat itu, posisi paus sangat diperhitungkan dunia.
Kenapa sifat ini penting saat ini? Peta politik dunia pun sedang berubah besar-besaran. Paus harus hadir tidak hanya menjadi pemimpin spiritual tapi juga pemimpin negara Vatikan dan yang lebih penting, pemimpin dari seluruh gereja katolik dan institusi-institusi yang terafiliasi dengannya yang tersebar di seluruh dunia.
Ia juga harusnya memiliki semangat menjaga dogma dan ajaran Gereja segarang Benediktus XVI.
Kenapa? Mari kembali menilik apa yang tertulis dalam Dei Verbum 10“Sacra traditio igitur et Sacra Scriptura unum sacrum depositum verbi Dei Ecclesiae commissum constituunt. (Maka Tradisi Suci dan Kitab Suci merupakan satu harta suci yang sama dari Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja).” Secara lugas, Gereja harus tetap menjadi gereja yang sama sejak didirikan oleh Yesus Kristus sendiri, 2000 tahun silam. Gereja yang peka jaman tapi tidak larut dan akhirnya hilang ditelan kemauan jaman.
Ia juga sebaiknya memiliki sikap humanis, rendah hati dan cinta damai seperti Fransiskus. Ah, yang ini gak perlu dijelaskan lagi ya karena bukankah kita masih belum lepas dari buaian indah Paus Fransiskus tiga belas tahun belakangan ini. Siapa yang tak mau punya paus se-bohemian dia dalam konteks ini?
Apakah ketiga harapan itu ada dalam Paus Leo XIV?
Menurutku ada!
Paus Leo XIV adalah seorang yang sejak muda menjalani hidup akademis yang sangat terstruktur. Ia menyelesaikan studi hingga jenjang doktoral di Roma, aktif dalam struktur organisasi ordo Augustinian (OSA) sedunia bahkan terpilih menjadi pemimpin tertinggi di ordo tersebut hingga dua kali banyaknya. Ia beberapa kali menjabat sebagai direktur seminari sebelum akhirnya ‘karirnya menanjak’ di era Paus Fransiskus, diangkat jadi uskup, ditarik dan ditempatkan Vatikan, dijadikan kardinal pada 2023 hingga terakhir, Februari silam ia menjabat posisi penting di Vatikan sebagai Order of Bishops yang kurang lebih adalah mengatur pengangkatan dan penempatan para uskup sedunia.
Modal itu membuatnya punya cara yang jitu untuk berdiplomasi dengan para pemuka negara dan agama lain di dunia.
Dari sisi dogma dan ajaran Gereja, tak diragukan lagi! Paus Leo XIV adalah profesor hukum gereja (canon), patristikus (orang yang mendalami asal-usul dan penulisan dokumen-dokumen awal Gereja, serta orang yang sangat mendalami teologi moralitas; sesuatu yang penting terutama di dalam dunia yang di satu sisi semakin rentan terhadap isu moralitas.
Yang terakhir, dari sisi kemanusiaan, kerendahhatian dan juru damai… konon dalam pesan resmi pertamanya sebagai paus, ada dua puluh kata ‘damai’ diucapkan olehnya.
Tak hanya itu, Paus Leo XIV meski berasal dari Amerika Serikat,ia berasal dari kelas menengah. Ayahnya Louis Marius Prevost, seorang veteran perang dunia kedua berdarah italia dan perancis. Sementara ibunya, Mildred Prevost adalah seorang librarian (ahli tata pustaka) dari etnis Louisiana Creole yang berdarah Afrika, Perancis dan Spanyol.
ia menjalani misi cukup lama di Peru, Amerika Selatan bahkan hingga akhirnya menjadi warga negara di sana. Kenapa ini semua penting? Karena latar belakang dan utamanya lanskap dimana ia berada adalah kedaan dan tempat yang sama dengan Paus Fransiskus bertumbuh (Argentina) yang memiliki keadaan sosial-budaya yang kurang lebih juga sama.
Selain itu, ordo Augustinian juga dikenal sebagai ordo yang peduli pada karya sosial kemasyarakatan juga pendidikan… dan pemilihan nama Leo bisa diartikan sebagai salah satu usahanya untuk meneruskan misi dari Leo sebelumnya, Leo XIII yang dalam salah satu karya tulis ensiklik Rerum Novarum (1891) berfokus membela hak buruh atas upah yang adil.
Meski demikian, dugaanku, karena latar belakang pendidikan dan keorganisasian, Paus Leo XIV akan lebih irit bicara atau setidaknya apa yang dibicarakan akan lebih tertata dibandingkan Paus Fransiskus. Sesuatu yang menurutku justru akan sangat baik mengingat dunia yang sudah semakin telanjang ketika bicara tentang keterbukaan informasi.
Pamornya di mata dunia kurasa juga tidak akan terang-benderang, tapi menurutku lagi-lagi tidak mengapa. Tugas seorang paus bukan untuk cari panggung, cari pamor dan menyenangkan dunia melainkan menggembalakan umat dan Gereja, menjadi pelayan dari segala pelayan Tuhan, Servus Servorum Dei.
Sudah barang tentu, seperti para paus sebelumnya, pro dan kontra terjadi bahkan kuyakin hingga di relung-relung gereja di Vatikan sana.
Adalah tugas kita sebagai umat Allah untuk mendoakan dan semakin rajin ke Gereja! Kok bisa? Iya! Karena hanya di gereja lah kita secara resmi diajak mendoakan Paus dalam Doa Syukur Agung. Eh tapi jangan salah gereja ya.. yang ada doa Syukur Agung-nya, yang digembalakan Paus hanyalah gereja yang didirikan Yesus Kristus sendiri, gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
Selamat untuk kita semua, umat beriman, Habemus Papam!
Gelaran sudah usai! Kecuali kamu adalah para imam dan klerus, marilah mari kita kembali fokus ke ijasah palsu.. eh maksudku kepada hidup sehari-hari, menjadi saksi Kristus melalui karya dan kasih bagi sesama dan semesta!
Ada dua kekecewaan yang muncul di tahun 2013 silam. Pertama, Paus Benediktus XVI mengundurkan diri dari kepausan pada 28 Februari 2013. Kedua, Jorge Mario Bergoglio terpilih menjadi penggantinya pada 13 Maret 2013. Ia kemudian memilih nama Fransiskus, Paus Fransiskus yang pertama.
Titik itu kuingat menjadi akhir dari masa delapan tahun petualanganku berkutat dalam sebuah komunitas iman katolik online yang mengambil jalur apologetika, mempertahankan iman katolik. Di dekade itu, apologetika memang menjadi topik hangat dalam Katolik setelah kalau tidak salah diperkenalkan oleh Paus Yohanes Paulus II, pendahulu Benediktus XVI.
Di komunitas yang anggotanya orang-orang Indonesia yang menyebar di seantero dunia dan kebanyakan menggunakan nama alias (aku pun salah satunya) itu ada banyak sumber yang bisa kubaca termasuk rujukan ke dokumen-dokumen penting Gereja selain Alkitab seperti misalnya Katekismus Gereja Katolik (KGK) hingga tulisan-tulisan dari para santo santa yang waktu itu meski sudah mulai mudah diakses lewat internet tapi sumbernya belum seterbuka sekarang.
Tapi menjadi bagian dari komunitas itu tak ada yang lebih seru selain terjun dalam arena perdebatan iman dengan mereka yang berasal dari keyakinan lain melalui kata-kata. Semakin sering berdebat semakin aku haus untuk membaca dan mendalami lebih dalam lagi. Semakin aku mendalami lebih dalam semakin aku ingin mempraktekkannya melalui debat, sebuah lingkaran yang terus terhubung tanpa kesudahan.
Salah satu dokumen terpenting yang selalu kami kupas waktu itu dan kami jadikan senjata untuk berdebat adalah Extra Ecclesiam Nulla Salus (EENS) yang dalam Bahasa Indonesia lugas bisa diartikan sebagai “Di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan”, juga Katekismus Gereja Katolik (KGK) 846 dan Lumen Gentium 14, dokumen produksi Konsili Vatikan II yang sering kami anggap sebagai dua hal yang saling terkait.
Semakin lama menggeluti dunia debat dan diskusi secara tak sadar semakin tinggi dinding yang terbangun mengungkungku dan idealisme serta prinsipku.
Sejatinya secara pergaulan aku tak berubah sama sekali.
Tetap terbuka dan tetap banyak teman dengan mereka yang kebanyakan berbeda agama. Hubunganku dengan Papa yang waktu itu masih belum Katolik pun tak berubah sama sekali. Perbedaan baru kentara ketika ada yang memancing pembicaraan dalam topik prinsipil yang kebanyakan justru terjadi di dalam lingkup Katolik. Aku bisa meledak-ledak tanpa harga tawar terutama terkait tentang keselamatan. Sesuatu yang lantas membuat beberapa kawan menganggapku telah berubah menjadi seorang KGK, bukan Katekismus Gereja Katolik tapi… Katolik Garis Keras!
Kembali ke konteks tahun 2013, itulah sebabnya dua kekecewaan yang kutulis di awal muncul. Aku dan kawan-kawan di komunitas dulu sangat mengidolakan Paus Benediktus XVI yang memang seorang teolog penjaga dogma sementara Paus Fransiskus, bahkan ketika pertama kali muncul di publik pun sudah menjadi pergunjingan di komunitas karena permintaannya kepada umat yang hadir di Basilika waktu itu untuk mendoakannya. Apa-apaan? Mana ada Paus minta didoakan umat sebelumnya? Yang ada adalah doa yang di-skripkan secara khusus untuk mendoakan Paus yang sudah tertulis di Doa Syukur Agung sejak lama, tanpa diminta!
Belum lagi ketika ada seorang anggota komunitas yang mengirimkan foto Paus Fransiskus yang waktu itu masih menjabat sebagai uskup di Buenos Aires, Argentina didoakan para pendeta. Begitu jatuh kami dalam kecewa. Tapi apa mau dikata, sekeras dan segalaknya komunitas, kami ini tetap Katolik yang taat pada otoritas. Komunitas itu bubar jalan, domain name-nya pun tak lagi diperpanjang.
Lalu selanjutnya adalah karya Tuhan kepadaku lewat hadirnya Paus Fransiskus.
Melalui aksi-aksinya, aku ditunjukkan bahwa agama itu bukan hanya dogma dan kasih itu tidak hanya ditunjukkan kepada Tuhan tapi juga kepada diri sendiri dan sesama dengan perspektif seluas-luasnya.
Waktu Paus Fransiskus membuat gebrakan dengan membasuh kaki para tawanan yang bahkan berbeda agama di Kamis Putih di awal masa kepausannya, sebagian hatiku masih berteriak menolak kenapa ia merusak pakem yang sudah sekian lama dilakukan dalam ritual Gereja? Tapi di sisi lain, aku tak bisa menampik kenyataan bahwa hal itu membuatku jatuh dalam keharuan. Kasih yang ditaruh dalam bingkai ketulusan yang dalam. Aneh asanya, hatiku marah tapi mataku basah!
Atau ketika ia memeluk seorang anak kecil yang bertanya apakah ayahnya yang atheis dan baru saja meninggal dunia itu masuk surga? Hati dogmatisku ingin memprotes tapi sisi humanisku rembes sebasah-basahnya.
Masih banyak lagi aksi-aksinya yang kuakses melalui social media. Puncaknya adalah ketika Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Dari jauh aku hanya bisa memandang penuh haru utamanya ketika ada orang-orang yang kukenal bisa berinteraksi sebegitu dekat dengan Paus Fransiskus.
Dan pada akhirnya, kematian Paus Fransiskus minggu lalu… Dua belas tahun lalu tak pernah terpikirkan aku akan sesedih ini. Kupikir aku akan bergembira ketika Paus Fransiskus tiada tapi nyatanya, aku begitu terpukul dan merasa kehilangan…
Pandanganku terhadap Iman Katolik tidak pernah berubah satu iota pun! Kalau dibilang keras ya masih keras.
Tapi kehadiran Paus Fransiskus membuatku mampu menjadi tak hanya keras secara prinsip keselamatan tapi juga keras untuk semakin mencintai sesamaku. Orang asing yang kulihat bukan lagi hanya tentang diselamatkan atau tidak karena itu adalah urusannya Tuhan. Mereka bagiku adalah sesama untuk dicintai sebesar-besarnya karena Allah sudah mengasihiku terlebih dahulu sedalam-dalamnya.
Paus Fransiskus yang baru saja berpulang secara iman kuhayati sebagai salah satu hadiah terindah Tuhan, tak hanya untuk Gereja Katolik tapi juga dunia yang sedang membutuhkan sosok sepertinya.
Pope Francis’ embracing of the digital world and social media has given new meaning to the word “followers” for the Catholic Church.
Dunia yang sejak awal 2010-an sudah semakin bergejolak dalam banyak sisi mulai dari sosial, politik, ekonomi, hingga isu rusaknya lingkungan hidup sampai pandemik Covid-19. Tak berhenti di situ, ketika pandemik mereda, perang Rusia – Ukraina tersulut, konflik Israel – Gaza memanas dan yang terakhir perang dagang antara Amerika Serikat melawan hampir seluruh bagian dunia pun terjadi.
Dengan kepribadian paus ke-266 yang membumi, cinta damai dan inklusif, kehadirannya bagaikan oase di padang gurun yang menyejukkan. Darinya kita diperbolehkan meneguk dan mengenal kasih Allah lebih dalam lagi.
Tapi sejatinya tidak hanya sampai di titik itu. Ibarat pertunjukan, hadirnya Paus Fransiskus didukung dengan panggung yang memiliki tata lampu dan tata suara yang mumpuni. Dalam realita, panggung, tata suara dan tata lampu itu bernama era keterbukaan ditandai dengan mudahnya mengakses informasi melalui social media. Ajaran dan aksi nyatanya teramplifikasi begitu kuat dan cepat dan nyaris tanpa sekat.
Kita jadi bisa tahu potret keseharian Paus Fransiskus semudah kita mengetik keyword yang tepat di Google. Scroll di linimasa social media, pun dengan gampang kita bisa tahu aksi-aksinya bahkan merk jam tangannya pun bisa kita dapatkan dengan mudah di sana.
Coba bayangkan pada para paus sebelumnya. Butuh waktu berapa hari untuk kita tahu detail peristiwa terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1981?
Yang kubayangkan, dengan keterbatasan media dan informasi waktu itu, orang-orang di Indonesia bakal baru tahu kejadian itu dari cuplikan berita yang disiarkan TVRI melalui program Dunia Dalam Berita beberapa jam atau hari sesudahnya. Pun yang didapat kukira hanya gambaran besarnya saja.
Bayangkan kalau kejadian itu terjadi saat keterbukaan informasi sudah seperti sekarang ini. Kita barangkali bisa tahu kesaksian dari para saksi mata di tempat kejadian, bagaimana Mehmet Ali Ağca, si pelaku diringkus atau bahkan mungkin kita bisa spill merk jam tangan apa yang dipakai paus yang sekarang sudah menjadi santo itu kenakan saat kejadian.
Di titik ini, secara iman aku seperti disadarkan betapa Tuhan sudah mengorkestrasi kehadiran Paus Fransiskus dengan sangat baik dan rapi.
Tentu Steve Jobs tak pernah terpikir bahwa ide untuk membuat telepon genggam menjadi begitu cerdas melalui iPhone yang kemudian diikuti oleh banyak produsen lainnya adalah untuk mendukung amplifikasi karya kepausan Paus Fransiskus. Aku yakin hal itu tak terjangkau sama sekali dalam benak Mark Zuckerberg muda ketika ia dan kawan-kawannya di asrama kampusnya membesut Facebook yang menjadi pionir media sosial dua dekade lalu.
Kita pun sering mendengar begitu banyak efek buruk dari penggunaan social media utamanya di kalangan muda. Tapi Tuhan melalui kuasa Roh Kudus yang melimpah atas diri banyak orang termasuk Paus Fransiskus, mengubah dan memanfaatkan hal-hal tersebut untuk karya nyata yang begitu baik bagi umat dan dunia.
Kita berdoa semoga Paus Fransiskus mendapatkan kedamaian abadi di surga sembari terus memohon penyertaan Allah supaya Roh KudusNya menunjuk pemimpin baru yang tepat dan menjadi gembala untuk kita semua umat beriman.
Beberapa waktu silam aku membuat survey tentang kaitan antara pernikahan dengan fenomena pindah agama yang kuedarkan di kanal-kanal social mediaku. Ada empat pertanyaan (tiga diantaranya adalah pertanyaan wajib dan satu opsional). Ada delapan puluh responden dan berikut hasil gambarannya.
Apa pendapatmu ketika ada seorang memutuskan meninggalkan agamanya ke agamamu dengan alasan menikah? (pertanyaan wajib)
Tanggapan: Biasa saja (46.3%) Senang (18.8%) Sedih (35%)
Sebaliknya, apa pendapatmu ketika ada seorang meninggalkan agamamu dan pindah ke agama lain dengan alasan menikah? (pertanyaan wajib)
Tanggapan: Biasa saja (33.8%) Sedih (65%) Senang (1.2%)
Haruskah seseorang pindah agama untuk menikah? (pertanyaan wajib)
Tanggapan: Tidak harus (86.8%) Harus (13.2%)
Punya catatan/kesan tentang fenomena orang pindah agama karena menikah? (pertanyaan opsional)
Kalo pindah agama trus baik sama agama barunya, ga menjelekkan agama lamanya, dan bersikap biasa aja, ga terlalu fanatik sama agama barunya sih silakan.. Tapi kalo begitu pindah trus jadi antipati ma agama lamanya jadi kesel.. Kan lucuk.. Dianya dulu apa sekarang apa, suka suka ngatain agama lamanya..
Jadi semakin jelas manusia terkotak-kotak oleh agama
Dari sebagian orang2 di sekitar saya yg pindah agama krn menikah, pada saat meninggal minta disemayamkan sesuai agama sebelumnya.
Seringkali terjadi perceraian ditengah jalan dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.
Lebay!
Punya! Istri saya juga pindah keyakinan karena menikah mengikuti saya. Pada intinya urusan agama itu urusan pribadi yang bersangkutan. Yang penting saya tidak memaksa dan itu adalah pilihan hidupnya, karena jika alasan dia pindah adalah karena saya, saya pribadi malah kurang sreg. Yang penting, pindah agama, apapun agamanya, menjadi manusia yang lebih baik.
Kesannya : agama menjadi halangan akan hidup menikah, namun yg menjalankan seolah2 krg sadar bgmn menyiapkan langkah2 sebelum kecantol cew/cow spy tetap sama agamanya nt kedepannya.
Yg pindah agama karena nikah artinya kurang imannya
Meski pindah agama jangan trus fanatik dan membenci agama lama lah ya, konyol itu namanya
Cukup paham dengan kondisinya,namun tetap menolak alasannya
Tidak seharus nya pindah agama krna menikah, Jodoh sudah Tuhan yg tentukan. Agama yg kita dpt dri lahir, akan menuntun kita pda kehidupan yg kekal .
jangan gadaikan agamamu hanya untuk cinta
Pindah kl keinginan hati ga masalah….tp kl terpaksa jdnya tertekan
Pindah agama karena menikah itu karena kebanyakan ada intervensi salah satu keluarga yang fanatik terhadap agamanya
berubahlah oleh pembaharuan budimu, bukan karena kelaminmu.
Agama urusan kita sama Tuhan..hal yang paling mendasar n prinsip …
Kalau hanya menikah saja menjadi alasan untuk pindah agama berarti kepercayaan kepada Tuhan yg sejak lahir di pegang saja pindah apalagi dengan pasangannya. Kalau melalui menikah,kemudian mengalami sendiri pengalaman dengan Tuhan melalui pasangan dan kehidupan bersama pasangan sehingga akhirnya memutuskan untuk pindah karena melihat sendiri bagaimana ajaran tersebut hidup di dalam kehidupan sehari-hari nya, maka itu pasti pilihan yang tepat di hidupnya karena itu adalah perjalanan spiritual yang dibangun dari pengalaman. Kehadiran Tuhan nyata hadir di dalam dia. Yang sering ditemui adalah pindah agama karena kemudahan melalui awal proses menikah. Padahal pindah agama adalah pindah komitmen untuk hidup dalam agama itu dan turut terlibat dalam pengajaran agama tersebut. Perjuangan dan ujian dari menikah beda agama itu sangat berat.
Kalau dalam 1 rumah tangga ada perbedahan keyakinan (ayah & mama) kasihan buat anaknya dimana anak tersebut harus memilih mau ikut siapa papa atau mama dimana anak tersebut sangat menyangyangi ke dua org tuanya sedangkan tugas org tua membimbing anak agar menjadi anak yg baik dan taat pd agamanya yg dianut oleh kedua org tuanya gimana ini mau di terapkan ke anak kalau org tua aja sdh berbeda keyakinan
Sering keterpaksaan pindah agama membuatnya tidak belajar agama yang dianutnya itu
Karena agama itu adalah ?ageman?, terserah yg menjalani, asal bnr2 dijalankan dan bkn unt permainan
Berjuang untuk iman bukan meninggalkan iman untuk menikah
Jangan jual agama demi cinta
Menikah bisa langeng dan bahagia bukan urusan agama saja…
Sak karepku to!
Agama adalah hak masing-masing pribadi maka sebaiknya tidak ada paksaan, namun semua agama mensyaratkan pernikahan dengan yang seagama. Hal tersebut yang menimbulkan masalah.
Selama dia bisa menjadi lebih baik sebagai manusia dan sebagai pasangan hidup apa pun agamanya silahkan saja.
Cinta memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini, tapi please jangan agama juga yang jadi korban
Beberapa waktu lalu aku membuat sebuah polling sederhana tentang ‘Berkawan dengan Romo/Pastor’
Aku tak memiliki intensi lain selain ingin mendengar apa pendapat umum tentang sosok Romo/Pastor karena menurutku keberadaan mereka dalam kultur Katolik begitu menarik.
Menariknya? Banyak. Diantaranya karena mereka tak menikah sedangkan dalam masyarakat khususnya di Indonesia, orang yang sudah dewasa biasanya menikah. Sisi menarik lainnya juga adalah karena agama oleh masyarakat kita dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk ‘mendekati’ Tuhan sementara mereka, Romo/Pastor, adalah imam. Mereka hadir di tengah-tengah dalam interaksi kita denganNya.
Dalam polling tersebut, aku mengajukan beberapa pertanyaan dan mari kita membahas pertanyaan pertama, “Kenapa kamu berkawan dengan Pastor/Romo?”
Dan jawaban dari polling tersebut diantaranya adalah:
Romo sebagai teman diskusi (8 suara)
Romo adalah sosok yang pandai (45 suara)
Tampan/berkarisma (14 suara)
Sudah berkawan lama dengan Romo (8)
Biasa saja, tak ada yang istimewa (4)
Networking, tambah kawan, tambah rejeki, tambah ilmu (4)
Gembala umat/pemimpin agama/utusan Allah (3)
Pastor bak Bapak dan saya sebagai umat bak anaknya (1)
Mencari seorang ‘papi rohani’ yang bisa menjadi tempat curhat dan pencerahan rohani (1)
Pembimbing rohani (1)
Kedekatannya dengan Tuhan dan kesungguhannya melayani umat (1)
Cara pandang seorang romo pasti berbeda, dan tentu ingin tahu bagaimana life opinion dari mereka sebagai seorang romo (1)
Karena saya merasa romo bisa berperan sebagai orang tua saya saat saya jauh dari orang tua (1)
Kebutuhan akan pembimbing spiritualitas pribadi (1)
Untuk memotivasi saya dalam mengejar kekudusan (1)
Kerendahatiannya (1)
Orangnya menyenangkan (1)
Terbuka pada siapa saja (1)
Supaya bisa membantu apa saja yang diperlukan Romo (1)
Untuk bisa mendengarkan renungan-renungan rohani (1)
Merasa lebih nyaman saja (1)
Kebaikannya (1)
“Kultur” turun temurun dari keluarga untuk berkawan dengan Romo/Pastor (1)
Pemikirannya terbuka (1)
Apa salahnya? Mereka juga makhluk sosial yang perlu teman bicara! (1)
Cocok sifat, cara pandang dan karakternya (1)
Mampu berkomunikasi dengan umatnya dan membantu umatnya tanpa pandang bulu (1)
Saya tidak berkawan dengan Imam tapi menganggap Imam sebagai wakil Tuhan untuk membawa saya kembali kepadaNya melalui sakramen-sakramen yang hanya Imam yang dapat memberikannya (1)
Bertambah iman (1)
Supaya bisa diingatkan kalau salah jalan dan bisa dapat pencerahan/siraman rohani dengan cara yang lebih akrab (1)
Karena sedari kecil diajarin untuk berteman dengan semua termasuk dengan Romo/Pastor tapi ada batasan-batasan dan penghormatan yang harus kita beri kepada mereka. Misalnya cara berfoto bersama, jarak ketika bertatap muka, cara berbicara dan aturan soal apa yg kita bisa dibicarakan (1)
Pada kesempatan-kesempatan tertentu saat kami ingin santai sejenak dan pekerjaan kantor juga sedang tidak terlalu sibuk, Joyce sering mengajakku meluangkan barang 30 – 60 menit untuk sarapan pagi di salah satu kedai kopi kesukaan kami.
Dan pagi tadi adalah salah satunya. Setelah mengantar Kakak (Odilia, anak pertamaku) ke sekolah, kami mampir ke kedai kopi itu untuk sarapan.
Seperti biasa, aku dan Joyce memesan menu Big Brekkie, sebuah menu ?sarapan besar? ala Australia berisi dua telor ceplok setengah matang (bisa juga dipesan dalam bentuk omlet), dua sosis babi, dua lembar irisan daging babi (bacon), beberapa potong jamur serta dua iris roti tawar gandum serta ditemani secangkir besar kopi susu kesukaanku.
Waduh, gimana ini? Aku terlanjur pesan, terlanjur lapar dan terlanjur membayangkan akan makan babi dan babi dan babi!
Aku lantas tawar-menawar dengan Tuhan, tak jauh dari meja kasir sambil nunggu pesanan jadi.
Tuhan? Ini makanan sudah terlanjur kupesan, kalau nggak kumakan dan kubuang sayang, tapi aku tahu aku sudah terlanjur janji untuk tidak mengkonsumsi babi selama masa Pra Paskah. Gimana ya?
Dan seperti biasa, tak satupun terdengar suara Tuhan berbicara?
Ok, let?s put it this way! Bagaimana kalau aku makan babi pagi ini dan besok jumat kubayar lunas hutangku dengan puasa penuh sehari-harian?
Ia tetap tak menjawab? Atau mungkin menjawab tapi frekuensinya tak terjangkau.
Pesanan jadi dan aku beringsut kembali ke meja membawa nampan besar. Bau semerbak babi meruam hingga terasa di ujung bulu-bulu hidungku.
?Aduh, Hon!? bukaku kepada Joyce. ?Kenapa??
?Aku tadi lupa pesan babi? kan aku pantang?!? Ia tertawa dan tawanya memang sudah kuprediksikan.
?Makanya pantangnya jangan pantang babi! Pantang tuh pantang buka Facebook sebulan penuh! Pasti kamu ga bisa kan?? sergahnya. Joyce memang pantang tidak mengakses Facebook dalam masa ini. Aku diam saja.
?Wah gimana ya?? Aku mengernyitkan dahi dan mengajukan pertanyaan seolah memerlukan penegasan dan berharap ia bilang Ya udah nggak papa.. makan aja.
Tapi alih-alih demikian, Joyce menjawab dengan satu hal yang tak kuduga sebelumnya, ?Ya, ambil dan buang babinya…kalau berani!?
DORRRRRR! Ini tantangan berat, amat berat. Seekor babi sudah mengorbankan nyawanya untuk kunikmati dagingnya dan aku harus menolaknya begitu saja? Sebegitu sia-siakah hidupnya? Mana bisa aku kuasa menolak? Oh noooo!
Sejenak, dua jenak aku berpikir hendak benar-benar menyantap daging babi itu tapi tiba-tiba aku berkeputusan lain.
Kuambil selembar tissue, kubuka dan kuletakkan satu-per?satu daging babi baik yang berupa sosis maupun bacon, kubungkus lalu kubuang ke tempat sampah.
?OK, kubuang!? aku tersenyum ke arah Joyce.
Ia manggut-manggut. ?Tumben?.? ?O well…He died for me anyway?.? imbuhku.
Ya! Keputusanku untuk akhirnya membuang daging babi itu muncul setelah tiba-tiba aku menyadari dua ribu tahun silam Ia memilih mati demiku padahal Ia bisa memilih untuk tak seperti itu. Lalu kenapa aku tak bisa hanya sekadar mengorbankan kenikmatan daging babi dalam masa Pra Paskah seperti ini?
? dan satu ujian berat terlewati pagi itu?
Hal terkuat yang kupelajari dari pengalaman ini adalah, memang betul butuh satu tekad untuk menyatakan pantang tidak makan hal yang kita gemari, kita sukai.
Tapi sekuat apapun tekad itu, akan lebih sulit untuk mempertahankannya ketika suatu saat kita lupa lantas memesan makanan lalu ketika kenikmatannya sudah terbayang di benak yang sukses menyelinap karena ruam bau dan penampilannya yang tertangkap mata lalu sesaat hendak melahap? kamu ingat kamu sedang berpuasa!
Selayaknya sembilan per sepuluh jiwamu sudah merasakan nikmatnya daging babi tapi sepersepuluh bagian lainnya menolak!
Sepulang dari kedai kopi itu aku tetap merasa lapar dan seolah ada yang kurang dari sarapan tadi. Tapi memang sejatinya dalam hidup ini kita harus berlatih untuk berkekurangan supaya Ia melebihkan, kan?
Aku nggak habis pikir dengan cara pikir orang-orang yang mengkritik kedatangan dua belas uskup dalam penerimaan sakramen pernikahan cucu pengusaha properti papan atas, Ciputra, Narsis namanya, lengkapnya Narsis Nararya Ciputra yang menikahi Melisa.
Kalau dua belas uskup dibilang terlalu banyak, lantas ukuran pas-nya berapa??Apakah diatur dalam kitab hukum kanonik gereja katolik bahwa sebuah penerimaan sakramen pernikahan maksimal hanya boleh dipimpin oleh sekian imam, sekian uskup?
Aku juga yakin para uskup itu bukan manusia goblok.?Mereka tentu sudah memikirkan baik-buruknya, dan itu bukan melulu soal uang stipendium yang memang biasa diberikan pasangan pengantin kepada imam yang membawakan acara.
Mari berpikir positif dan para mahasiswa yang harusnya punya logika yang sedang cerah-cerahnya tentu bisa berpikir jernih.
Sebagai pengusaha developer kelas kakap, Ciputra, tentu punya banyak kenalan dan relasi. Aku yakin ia juga tak segan membantu Gereja ketika dibutuhkan karena memang Gereja memerlukan bantuan umat untuk operasional, kan?
Orang tua si Melisa juga tokoh. Ibunya adalah salah satu pengurus Yayasan John Paul II meski i have no idea yayasan apakah itu.
Jadi lumrah toh kalau mereka kenal sebegitu banyak uskup dan mengundang mereka untuk bersama-sama mendoakan bahtera rumah tangga si Narsis dan Melisa.
Kalau aku punya kenalan sebanyak seribu uskup, pun akan kuundang dalam pernikahanku dulu! Tapi aku tak punya. Kalaupunya puya, waktu itu aku tak punya cukup uang untuk mengongkosi akomodasi mereka?
Atau jangan-jangan pikirmu, uskup dan imam itu tidak boleh berkawan sekalipun itu dengan seorang yang kaya? Kalau memang benar, betapa kasihan orang kaya hanya karena kekayaannya maka lantas dianaktirikan? Betapa kasihan para uskup, hanya karena jabatannya lantas dibatasi pertemanannya?
Hermawi Taslim, ketua Forkoma PMKRI, dalam artikel ini ?menyebutkan, ?berlebihan dan terkesan menghilangkan sikap kritis Gereja Katolik yang terkenal dengan semboyan option for the poor atau berpihak pada orang miskin.?
Menurutku, tidak ada kaitannya antara hadir dalam sebuah perayaan penerimaan sakramen pernikahan dengan hilangnya kesan option for the poor. Logikanya, kalau punya sejuta teman miskin, apa tak boleh berkawan pula dengan satu orang kaya? Justru, siapa tahu, mereka berkawan dengan orang kaya untuk membantu membiayai misi mereka bagi orang miskin?
Aku berharap, komentar yang disampaikan Hermawi Taslim ini tidak mewakili PMKRI secara utuh dan formal. Karena kalau demikian, bagiku sebenarnya energi yang digunakan untuk membahas isu tak penting ini bisa dipakai untuk menguliti isu-isu yang lebih aktual yang justru lebih condong ke the poor.
Misalnya, membahas isu-isu aktual seperti penuntasan kasus-kasus HAM yang dijanjikan untuk diselesaikan oleh Jokowi tapi sampai sekarang juga belum terlaksana.
Atau, kalau mau yang lebih terdahulu nan arkaik tapi tak kunjung diselesaikan, kenapa tak membahas soal kasus HAM genocide/pembasmian pasca geger tahun 1965, termasuk merunut balik ada atau tidak kaitan antara PMKRI dengan Orde Baru saat itu seperti tertuang di referensi ini??Kalau ada, maka harus berbuat seperti apa untuk condong kepada the poor, mereka yang terzalimi oleh sejarah?
Aku menyayangkan opinimu, Franz di kolom kecil seperti tertulis di bawah ini?
Indonesia memang negara demokrasi yang menjamin kebebasan berpendapat warga negaranya, tapi sebagai seorang padri yesuit, seyogyanya kamu berpikir bahwa apa yang diutarakan olehmu sedikit banyak akan diperhitungkan dan jadi bahan pertimbangan mendalam oleh umat.
Persepsimu mempertemukan ide pembangunan patung tersebut dengan simpati dan toleransi umat beragama lain di sekitar menurutku juga kurang pada tempatnya.
Aku yakin umat beragama lain, apapun itu di tempat itu, memahami dan menjunjung tinggi toleransi lebih tinggi dari sekedar mempermasalahkan patung Bunda Maria yang konon tertinggi di dunia itu.
Umat muslim pun tak enggan berfoto di depan patung (credit: ucanews)
Mengkhawatirkan tidak adanya simpati dan goyahnya toleransi hanya karena hal itu sama saja sebuah penghinaan terhadap kemampuan umat-umat beragama lain di sekitarnya untuk bertoleransi dan saling mengungkapkan simpati.
Dari sisi ekonomi, hadirnya patung itu kuyakin juga menguntungkan warga sekitar, apapun agamanya. Banyaknya orang berziarah dari seantero Indonesia dan dunia, bukankah itu mendatangkan banyak devisa untuk warga dan pemerintah lokal? Dan apa sih yang lebih menyenangkan di dunia ini selain perasaan tercukupi secara ekonomi dan kenyang, Franz?
Jangan lupakan juga perasaan umat Katolik di sekitar Gua Kerep itu sendiri dan se-Keuskupan Agung Semarang juga para donatur, Franz. Apa kau pikir mereka tak lantas sakit hati terhadap ungkapanmu saat mengistilahkan bahwa patung itu sebagai sebuah perbuatan agamis yang paling konyol?
Menurut KBBI, konyol itu mengandung sesuatu yang tidak sopan, kurang ajar, kurang akal, tidak berguna dan sia-sia.. dimanakah letak kekonyolan patung tersebut?
Video di atas?ini ku-share kemarin di Facebook. Awalnya aku berpikir brilian juga ide orang ini meyakinkan orang lain tentang eksistensi Tuhan.
?Kalau Tuhan itu ada, kenapa ada sengsara?? tanya tukang potong rambut yang meragukan Tuhan ke pelanggannya.
Pelanggan itu tak bisa berkata apa-apa. Keluar dari tempat itu, ia menemui seorang berambut gondrong lalu membawa orang tersebut masuk ke dalam menemui si tukang potong rambut tadi.
?Bagaimana dengan ini??Ia berambut panjang apakah itu berarti tak ada tukang potong rambut??
Lalu jawab tukang potong rambut itu, ?Ada! Tapi ia tak datang padaku jadi rambutnya panjang begitu!?
Nah, sama saja, kan? Kenapa ada sengsara di luar karena mereka tak datang pada Tuhan.
***
Ada sesuatu yang kurang tepat dalam analogi ini.
Keberadaan Tuhan dipertaruhkan dengan ada atau tidak adanya sengsara.
Kalau aku jadi tukang potong rambut tadi, dengan tangkas aku akan menjawab, ?Tapi kalau begitu kenapa masih ada banyak orang yang tetap sengsara meski mereka selalu datang ke masjid, gereja, kuil dan tempat ibadat lainnya??
Bagaimana pula dengan orang yang tersiksa, terusir dari tanah airnya sendiri, terbunuh hanya karena mereka percaya Tuhan dan membela iman mereka? Dimana Tuhan?
Lalu pembicaraan bisa melebar kemana-mana?
Bagiku, percaya dan datang kepada Tuhan itu bukan jaminan bahwa seseorang tak akan mendapatkan sakit dan sengsara. Kalau memang rasa sakit dan sengsara itu ada dalam skenarioNya, apa mau dikata?
Percaya kepada Tuhan adalah kesadaran diri untuk mengakui sebuah kuasa yang lebih besar dari dirinya dan ini sejatinya tidak mudah.
Bagiku, hal itu adalah proses sepanjang hidup. Jatuh-bangun antara percaya dan tidak percaya meski itu tidak terucap kata-kata adalah lumrah karena kita lemah dan sebaliknya, ketika kita berusaha berjuang untuk terus percaya, itu juga lumrah karena.. Tuhan memang benar-benar ada untuk menguatkan kita untuk terus percaya.
Ada memang orang yang dibuat percaya seketika itu juga tanpa proses berbelit-belit. Tapi ada juga orang yang sok yakin dan sok percaya supaya kelihatan keren saja… meski itu hanya sedikit dan kalian pasti tidak termasuk disitu hehehe?
Jadi, kalau aku jadi yang ditanya oleh si tukang potong rambut tentang ada atau tidak adanya Tuhan, cukup bagiku untuk bilang ?OK, itu hak kamu untuk tidak percaya dan aku hormati.?
Tuhan tidak bisa dijelaskan.?Kalau Ia bisa dijelaskan dengan sempurna dan se-cemen itu, berarti Tuhan yang kita kenal bukanlah Tuhan Yang Maha Sempurna, karena kesempurnaan kita tidak ada se-tai-gigi-Nya, bagaimana mungkin kita bisa mengenal batas-batasNya?
Setelah bisa cukup tenang dengan tak menulis apapun terkait ribut-ribut Setya Novanto, mendadak nafsuku sebagai lelaki sejati menggelora mendengar berita prostitusi artis papan atas yang melibatkan nama Nikita Mirzani!
Aku mendadak ingin menulis soal kasus ini karena membaca tulisan ini.
Di situ dibilang ada akun nikitamirzanimawardi di social media yang belum dikonfirmasi sebagai akun resmi milik Nikita Mirzani atau bukan, menuliskan komentar sebagai berikut:
Apa yang dibilang di atas secara tersamar mungkin benar, tapi tidak lengkap.
Seperti ditulis oleh Yohanes, murid kesayanganNya, pada buku ke-8 ayat pertama hingga kesebelas, Yesus pada suatu pagi berada di Bait Allah (jadi bukan di gurun) hendak memulai kutbah. Ia tiba-tiba didatangi oleh para ahli taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah imam-imam dan ahli kitab agama Yahudi yang tampaknya merasa tersaingi dengan keberadaan Yesus yang makin populer waktu itu.
Kepada Yesus, mereka membawa seorang perempuan yang ketahuan berzinah. Niatnya adalah untuk menantang Yesus, beranikah Ia menjatuhkan hukuman rajam atas si perempuan seperti termaktub dalam kitab-kitab ajaran Yahudi.
Tapi alih-alih menuruti permintaan, Yesus malah menantang balik, ?Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa , hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Lalu mereka pergi tanpa satupun yang berani melemparkan batu pada si wanita.
Potongan cerita itu memang sangat sering dikutip dan biasanya digunakan untuk melukiskan betapa Yesus adalah pribadi yang welas asih dan menggambarkan betapa sebaiknya kita tak menghakimi orang lain yang kita anggap lebih berdosa daripada kita.
Tapi sebenarnya cerita itu belum lengkap kalau tak menyertakan ayat paling bontot dalam paparan kisah tersebut. Padahal, pesan paling kuat Yesus ada di sana. Jadi setelah semua orang pergi tanpa ada satupun yang melemparkan batu kepadanya, Yesus berkata pada si perempuan tadi, ?Aku tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Jadi, setelah diampuni, perempuan tadi diminta tidak berbuat dosa lagi mulai dari sekarang tanpa kompromi!
Tentu aku malas membayangkan bagaimana kalau si perempuan tadi setelah diampuni lalu berbuat dosa lagi? Berzinah lagi? Tapi yang lebih malas adalah membayangkan kalau para ahli taurat dan orang-orang farisi diam-diam menangkap si perempuan tadi lantas merajamnya hingga mati?
God Bless You, Nikita! He loves you..
Oh ya, ini ada visualisasi menarik cerita tersebut; diambil dari film Passion of the Christ karya Mel Gibson
Ini bukan tips atau ?how to? tentang bagaimana mencegah konflik antar-agama terjadi di Indonesia karena saya bukanlah siapa-siapa dan mereka yang berkonflik, meskipun bukan siapa-siapa juga, tapi jumlah mereka banyak dan sekali gerak jadi tampak menjadi ?apa?.
Ini hanya sekadar permenungan di atas toilet semalam dan semoga berkenan. Kalau tidak, lupakan aja dan anggaplah ini sebagai sampah kamis sore kalian.
Beragamalah
Beberapa teman bilang, ?Untuk apa beragama kalau malah bikin ribut dan konflik???Terhadap pertanyaan seperti ini, dulu pernah aku menjawab, ?Apa hubungannya antara agama dengan bikin ribut dan konflik??
Temans, agama itu nothing to do dalam perkara konflik. Walau memang ada beberapa sisi dari beberapa agama yang menjelaskan tentang bagaimana menghadapi ancaman (aku menganggap ini sebagai ?departemen pertahanan-nya agama?), tapi kita juga tak bisa menutup mata dari begitu banyak nilai-nilai agama yang baik.
Perkara konflik adalah perkara pelaku agamanya. Perkara aku, perkara kamu dan perkara mereka semua. Bagaimana kalian mengelola dan mengejawantahkan agama dalam hidup kalian, itu adalah kuncinya.
Kalau kalian merasa ada yang salah dengan agama, inilah saatnya untuk kembali beragama, apapun agama itu. Inilah saatnya untuk mempelajari dan merunut ulang kenapa bisa jadi dianggap salah.
Jangan malah meninggalkan dan antipati padanya! Jangan sampai ada orang-orang bodoh yang justru jadi representasi agama yang sama-sama kalian anut hanya karena kalian yang pintar sudah malas dan ogah-ogahan.
Pelajari benar-benar dan peluk sekuat mungkin agama kalian. Amalkanlah ia dalam hidup karena apalah gunanya kita memiliki benih yang bagus tapi tak ditanam di dalam tanah supaya tumbuh dan berbuah?
Kalau pengamalanmu mulai menyimpang, percayalah bukan agamamu yang salah tapi kamu yang kurang pandai menelaah. Bagaimana menilai penyimpangan itu? Jangan hanya bersandar pada ayat-ayat suci belaka, tapi juga lihat bagaimana lingkungan sekitar menilaimu.
Lakukanlah itu semua dalam kesetiaan seumur hidupmu?
100% Indonesia
Di Indonesia, agama menjadi identitas. Kebanyakan orang ketika bertemu pertama kali dengan seorang lainnya, agama ada dalam list pertanyaan yang menurut mereka patut ditanyakan walau sebenarnya hal itu amatlah personal.
Mulai dari yang halus,
?Udah sholat isya??, ?Oh kamu nggak ke gereja hari ini?? atau ?Oh kamu nggak makan babi??, hingga yang paling frontal, ?Agama loe apa? ? itu semua sudah mendarah daging dalam pergaulan masyarakat kita.
Mau kalian mengaku diri sebagai agnostik ataupun ateis, ketika kalian ke kelurahan untuk memperpanjang KTP, kalian belum punya pilihan untuk memasukkan hal-hal itu dalam kolom ?Agama?.
Tapi agama tak jadi satu-satunya identitas. Kita punya identitas lain yang menyatukan yaitu keindonesiaan kita!
Ada pertanyaan bagus yang dilontarkan kawanku dulu kepada kawanku yang lainnya, begini ?Menurut kalian, kita ini orang Cina yang tinggal di Indonesia, atau orang Indonesia yang berdarah Cina??
Nah, sekarang mari kita ganti kata ?cina? dengan identitas agama kita. ?Menurut kalian, Donny Verdian itu orang katolik yang Indonesia, atau orang Indonesia yang katolik??
Soegija, seorang yang lantas dikenal sebagai pahlawan nasional Soegijapranata,SJ pernah berujar tentang ?100% Katolik, 100% Indonesia?
Gantilah Katolik dengan agama kalian masing-masing, begitulah seharusnya cara pandang kita terhadap identitas kita.
Agama bukan jalan pintas jadi presiden atau jadi orang kaya
Jangan pernah berpikir untuk semata-mata mengejar karir dan popularitas melalui agama.
Jangan pernah ingin jadi pemuka agama karena duitnya besar dan popularitas namanya bisa untuk merayu cewek-cewek yang terbius mendengar ?speak nabi? kalian.
Apalagi, jangan pernah ingin jadi politisi ataupun presiden dengan menggunakan topeng alim-ulama yang taat beragama.
Kenapa? Agama dan kebenarannnya itu masalah wahyu. Wahyu adalah sesuatu yang tak bisa dirasakan indera kita. Sesuatu yang bisa kita rasakan melalui hati dan ini sifatnya subyektif sekali!
Misalnya suatu waktu aku merasa mendapat wahyu yang menyatakan bahwa Tuhan menginginkan seluruh ibu-ibu di Indonesia masak sayur lodeh pada hari Senin. Lalu melalui blog ini, aku mengumumkannya dan pertanyaanku ada berapa orang yang percaya?
Sedikit, kan? Tidak ada sama sekali malah! Ini karena aku, dalam bayangan kalian bukanlah seorang pemuka agama terlepas dari wahyuku itu benar atau tidak benar atau terlepas dari aku ini seorang pemuka agama atau bukan.
Nah, bayangkanlah seorang yang punya niatan ingin melintasi jalan pintas untuk mencapai ketenaran dalam hidup dengan menyaru sebagai tokoh agama lalu untuk kepentingannya pribadi menfatwakan, ?Tuhan semalam bicara pada saya, Ia ingin kita membasmi kaum kafir!?
Berapa orang yang percaya? Kalian para pembaca blog ini tentu tidak akan percaya tapi sayangnya ada begitu banyak orang bodoh di luar sana?
Peserta dan panitia serta pembicara Seminar Called To Love berfoto bersama di hari kedua
Memberikan yang terbaik bagiku adalah perkara totalitas.?Tak hanya waktu, tapi juga bicara tentang hasil yang inovatif; sesuatu yang barangkali belum pernah kita lakukan sebelumnya.
Awal Oktober 2004, lebih dari sepuluh tahun silam, aku mendapatkan mandat dadakan; menjadi ?ketua bayangan? dalam acara bertajuk sangar, Konvensi Nasional Muda-Mudi Karismatik Katolik II Indonesia dan sesuai jadwal akan diadakan pada Januari 2005.
Dalam struktur, aku ditempatkan sebagai wakil ketua, membantu ketua dan anggota tim panitia lainnya yang mangkrak, tak bekerja secara optimal berbulan-bulan sebelumnya.
Tentang tak bekerjanya tim pendahulu secara optimal, hal ini bukanlah salah mereka. Kesalahan justru ada pada yang memilih karena kebanyakan dari panitia terdahulu adalah mahasiswa yang tentu sudah sangat sibuk dalam kesehariannya walau waktu itu aku jauh lebih sibuk dari mereka juga sih hehehe…
Dua bulan waktu persiapan sejak aku ditunjuk tentu bukan waktu yang panjang. Sementara dukungan dari ?atas? baik dari tim keuskupan maupun nasional juga setengah hati dan sebatas doa; maksudku mereka mendukung tapi hanya dalam kata-kata dan doa semacam, ?Ayo Donny, kamu maju nanti Om bantu!? atau ?Jangan takut bekerja untuk Tuhan, Donny!? Oh ya satu lagi, mereka memang menawarkan bantuan keuangan, sepuluh juta rupiah banyaknya tapi itupun dengan catatan, ?Kalau acara sudah selesai tolong dikembalikan!?
Logo acara waktu itu, sepuluh tahun lalu
Lalu apa yang kulakukan? Hanya dua, bermimpi dan mencari orang yang bisa diajak bekerja sama membuat mimpi itu jadi nyata!
Mimpiku untuk acara itu simple; aku ingin acara konvensi diadakan di hotel, bukan di tempat retret kumuh nan lusuh seperti biasanya sehingga peserta nyaman mengikuti jalannya acara dan berkesan. Aku juga ingin acara konvensi ini menghasilkan uang dan uangnya bisa diserahkan ke keuskupan dan nasional sebagai bentuk bantuan sekaligus ?sindiran? karena untuk acara sebesar itupun hibah uang hanya berupa pinjaman.
Mimpi itu lantas kusosialisaskan dan seperti yang kuduga sebelumnya, timbullah kegemparan!
Ada dua gugus besar komentar yang kuterima terkait mimpiku itu. Pertama, yang bernada mencibir karena dianggap tak mungkin mengingat waktu pelaksanaan yang tak lama lagi. Kedua, tudingan sinis yang menganggap aku antek kapitalis yang demen foya-foya karena gagasan untuk mengadakan konvensi di hotel berbintang!
Tanggapanku atas kegemparan itu? Berbahagia dan bersyukur, karena hal itu semua tak kuanggap sebagai tai kucing, melainkan sebagai pemberi semangat dalam aku menyiapkan semuanya.
Selanjutnya, sambil membiarkan mereka mencibir dan menuding, aku mencari rekan kerja.
Mengingat waktu yang sangat mepet, aku harus memastikan mendapatkan tim kerja yang luar biasa bagusnya dengan jumlah yang tak terlalu banyak. Untuk yang terakhir ini, pertimbanganku mudah, kalau Bung Karno saja hanya perlu sepuluh pemuda untuk mengguncangkan dunia, tentu untuk acara seperti konvensi meski tingkatnya nasional, tak perlu sampai dua digit jumlahnya yang penting kerja, kerja dan kerja!
Untuk itu aku menghubungi Nov dan Joy, sebutlah demikian namanya. Keduanya wanita dan keduanya kuanggap bisa jadi rekan kerja yang tak akan mengecewakan.
Pada suatu malam, aku datangi rumah mereka berdua dan memohon dengan sangat kesediaannya membantu sebagai dua orang anggota tim yang paling utama; yang kepadanya akan kupercayakan dan tenaga-tenaganya akan kuperdayakan!
Keduanya tak menolak. si Nov lantas kujadikan bendahara dan Joy kulantik menjadi sekretaris.
Nov kuminta untuk mengelola uang pinjaman sepuluh juta itu sebaik-baiknya dan ia juga kuberi tugas mencari beberapa kawan lain yang bisa ia percaya untuk membantunya mencari dana lewat program sponsorship.
Joy, si pengantin baru, setiap pagi setelah menyiapkan sarapan untuk suaminya yang juga adalah kawan baikku kuminta untuk pergi ke wartel dan menelpon masing-masing sekretaris keuskupan se Indonesia untuk mengadakan pendekatan supaya mereka mengirimkan kontingen ke acara konvensi.
Kepadanya juga kuminta mencari beberapa orang kawan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan administratif.
Sedangkan aku, selain menjaga hubungan dengan tim keuskupan dan nasional, aku juga mendekati beberapa calon pembicara yang akan bicara dalam konvensi itu. Dalam tataran teknis pelaksanaan, aku juga mendekati seorang pengusaha yang punya relasi dekat dengan manajer sebuah hotel berbintang untuk mendapatkan harga sewa kamar special.
Sebulan berlalu setelah persiapan, ketika aku presentasikan mimpiku yang separuhnya sudah mulai nyata ini, suara sumbang masih tetap ada. Cibiran memang sudah hilang, tapi tudingan kapitalis tak mereda.
?Kalau sudah ada duit segitu besar dari sponsor, kenapa tak diadakan di tempat retret biasa saja?? tanya seorang sambil menudingku.
Seminggu sebelum pelaksanaan, jumlah peserta telah terkumpul 200 orang dan uang sponsor terkumpul sesuai yang kami harapkan. Kerja panitia kuhentikan saat itu karena semua persiapan kelar digelar dan menggantinya dengan doa bersama setiap petang di sebuah selasar kampus besar di Jogja.
Selain memanjatkan doa kepada Tuhan, aku menggunakan acara doa bersama itu untuk mengikat tali persahabatan makin erat diantara tim kerja.
Di malam akhir sebelum acara, sebuah kejutan manis yang telah lama kupersiapkan; di hadapan seluruh anggota tim panitia, aku mengumumkan bahwa mereka tak perlu membayar untuk ikut acara ini dan tetap nginep di hotel!
Mereka bahagia! Akupun bahagia karena kebahagiaan mereka adalah jaminan yang membuat kerja mereka pada hari pelaksanaan makin luar biasa!
Acara berlangsung meriah dan menghasilkan beberapa keputusan-keputusan besar seperti release website kepemudaan dan membentuk tim baru untuk kepemudaan nasional (dimana aku berada di dalamnya) dan tentu saja feedback baik dari para peserta.
Di akhir acara, pada sesi penutupan di hadapan peserta, aku menyerahkan sebuah papan kardus besar berhias dan bertuliskan jumlah sisa uang yang masih kami simpan besar-besar kepada tim keuskupan dan nasional sebagai tanda bahwa selain mengembalikan uang modal 10 juta, aku dan tim juga menyerahkan sisa keuntungan acara dan sponsor!
Sejak saat itu, sejauh yang kudengar hingga kini, setiap acara konvensi nasional selalu diadakan di hotel. Entah aku tak tahu kemana lagi suara-suara yang sebelumnya mengataiku ?Kapitalis?… Mungkin mereka sudah asyik masyuk menikmati kamar-kamar hotel setiap acara konvensi diadakan.
***
Seminar Called To Love
Sepuluh tahun sesudahnya, seperti yang kalian tahu dan amati baik di blog ini maupun di Facebook-ku tiga bulan belakangan, aku ditunjuk menjadi ketua panitia Seminar bertajuk ?Called to Love?.
Uniknya, pembicara seminar ini salah satunya adalah Riko Ariefano, seorang peserta konvensi nasional di Jogja, sepuluh tahun sebelumnya yang kuceritakan di atas dan pernah sama-sama duduk di tim kepemudaan nasional hasil bentukan konvensi meski tak lama.
Tingkat acara ini hanya lokal Sydney saja, tak bisa dibandingkan dengan skala konvensi yang nasional. Tapi meski demikian, mimpi yang kusematkan pada acara itu tak kalah besarnya dengan yang pernah kusematkan di Jogja sepuluh tahun silam.
?Saya ingin acara kita ini meninggalkan kesan yang luar biasa bagi peserta dan? jadi tonggak pemersatu keluarga katholik Indonesia di Sydney!? tuturku di hadapan tim panitia pada audiensi yang pertama, 30 Januari 2015 yang lalu.
Tak semua mimpi itu terlaksana. Memersatukan keluarga Katholik Indonesia di Sydney ternyata adalah mimpi yang masih terlalu muluk; para petinggi komunitas-komunitas itu terlalu tinggi dagunya untuk sekadar kusapa dan kuajak turun tangan membantu dan bekerja sama di acara ini.
Tapi selainnya itu, Puji Tuhan terlaksana dengan amat baik.
Karena aku ingin menekankan ?kesan yang luar biasa bagi peserta? maka aku sadar itu berarti mengimbuhkan fasilitas yang didapat dan mengurangi beban biaya di sisi peserta sebisa-bisanya. Istilah pasarnya, dengan pengeluaran sedikit mendapatkan sebanyak-banyaknya benefit.
Untuk itu, faktor dana adalah penting sementara mengharapkan dana dari komunitas untuk merealisasikan mimpi yang belum tentu sama di setiap kepala adalah sebuah ketidakadilan.
Aku lantas membuat tim fund raising yang kebetulan diketuai oleh istriku sendiri, Joyce.
Ia dan beberapa kawannya dalam satu tim merancang beberapa kali fund raising dan hingga waktu pelaksanaan, kami telah mengadakan empat kali kegiatan.
Keempat-empatnya adalah kegiatan menjual makanan Indonesia, tapi satu dari antaranya sangatlah mengesankan. Waktu itu, akhir Maret, kami mengadakan acara ngamen dan bakar sate di ruang bawah gereja St Joseph Newtown, NSW.
Tak sampai setengah jam, sate telah habis terjual dan uang terkumpul lebih dari lumayan. Kegiatan ini menyita perhatian umat katolik Indonesia di Sydney sekaligus menjadi ajang promosi acara seminar itu sendiri!
Suntikan dana yang cukup besar dari fund raising memberanikan kami untuk terjun lebih total dalam persiapan. Kami membuat video teaser yang kami sebarkan secara viral di social media, merancang desain yang menarik dan konsisten pada setiap channel mulai dari flyer dan poster (cetak), hingga di website dimana kami membuka pendaftaran peserta secara online.
https://www.youtube.com/watch?v=Ju_FW13z-xo
Kami juga menyadari kerepotan para peserta jika harus mengikuti dua hari acara karena di sini, akhir pekan selain identik sebagai waktu luang untuk keluarga, juga adalah waktu luang untuk mengikuti kegiatan anak.
Menanggapi hal itu, kami lantas membeli sebuah audio recorder yang lantas kami gunakan untuk merekam materi seminar dan akan bisa didownload melalui situs kami, PDKKEPIPHANY.ORG yang saat tulisan ini kupublikasikan sedang dalam tahap pembangunan.
Kerepotan membawa anak kecil bagi sebagian peserta yang memiliki anak-anak juga kami dengar dan tanggapi dengan mengadakan layanan Children Ministry dimana anak-anak kami buatkan acara sendiri didampingi para pendamping yang berpengalaman secara cuma-cuma.
Segala persiapan telah kami lakukan, namun hingga pertengahan April kami belum memutuskan bagaimana membuat peserta terkesan, apa yang perlu ditambahkan sebagai ?bonus? dalam acara ini?
Setelah berhitung, aku lantas memutuskan untuk membeli lebih dari seratus buku dari sebuah penerbit di Indonesia yang akan kubagikan pada para peserta. Buku tersebut, ?Shake your Body and Find God? adalah buah karya pembicara seminar itu sendiri, Riko dan Lia.
Booklet acara yang berisi informasi komunitas PDKK Epiphany, profil pembicara, sponsor dan notes juga kami bagikan demikian juga dengan pena ber-signature acara.
Jadi kalau mau dijabar dan kalkukasikan, bagi seorang peserta yang membayar $25 (beberapa yang mendaftar pada masa early bird (sebelum 5 Maret) malah cukup membayar $17.5 saja), mereka mendapatkan buku ($8.8), booklet ($4), pena ($1.45), makan siang dua kali ($12), tempat (setelah dihitung, per peserta harus menanggung $2.5), teh dan snack, pengawasan terhadap anak-anak mereka selama acara dan acara seminar itu sendiri!
Itulah yang kami baca sebagai sebuah experience baru bagi peserta.
Oh ya sebuah catatan manis juga kami terakan dalam acara ini. Meski diragukan banyak orang, program sponsorship kami tak gagal total. Ada seorang pengusaha Indonesia yang memiliki bisnis di Australia yang sudi menjadi sponsorship partner.
Orang itu adalah Andrew Wanandi, pemilik Life Protector, yang uniknya adalah kawan dekat masa kecil Riko Ariefano, Si Pembicara.
Demikian catatan kecil ini kubuat dan kuakhiri.?Semoga bukan dibaca sebagai sebuah catatan kesombongan karena semuanya kukerjakan untuk Tuhan.
Semoga justru catatan ini bisa dijadikan sebagai pijakan yang paling buruk untuk acara-acara dan pelayanan-pelayanan kalian yang lebih mencengangkan!
Ad Maiorem Dei Gloriam? Demi kemuliaan Allah yang lebih besar!
Booklet yang kami bagikan….
Buku yang kami bagikan secara cuma-cuma…
Ballpoint ber-signature “Called to Love”
Ok, orangnya sama, tapi yang bawa gitar tampak jauh lebih tampan meski diambil sepuluh tahun sesudahnya. Atau mungkin sama-sama tampannya hanya beda kamera megapixelnya saja? Waktu itu, 2005, yang kiri, kamera bermegapixel besar belum ditemukan hahaha!
Aku menyerahkan plakat ke Noviandri, peserta dari Banjarmasin, Jumat 23 Januari 2005
Aksi terorisme, dimanapun dan kapanpun itu haruslah dikutuk karena hal itu sangat tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Akan tetapi, tanpa bermaksud seinci pun membenarkan apa yang telah diperbuatnya, pernahkah kita tidak mengutuk pelakunya dan berdoa ?yang baik-baik? bagi keselamatan jiwa para teroris yang kebanyakan juga mati entah karena aksi bunuh diri ataupun roboh ditembus timah panas polisi?
Sekuntum begini misalnya, ?Tuhan, maafkanlah ia karena ia tak tahu apa yang ia perbuat!?
?No, mate.. No! Not even in thousand F***ckin years!? kata kawanku di sini waktu kutanya soal itu.
Kertas
Piyu, dalam lagunya Harmoni pernah menulis, ?Kita terlahir bagai selembar kertas putih..? dan aku tak bisa lebih setuju lagi daripada itu.
Tak ada seorang yang dilahirkan memiliki harapan bahwa dirinya akan menjadi seorang teroris. Namun dalam kehidupan yang terarungi, ada begitu banyak sisi yang pada akhirnya mengubah pribadi seseorang berbeda-beda termasuk salah satunya menjadi teroris.
Kehidupan lantas menorehkan tinta dan gambaran di atas kertas putih tadi dan sayangnya kertas itu tidak washable! Kita tidak bisa menghapus apa yang telah kita torehkan meski kita mungkin bisa menimpanya dengan sesuatu yang baru.
Pertobatan dan pembenahan diri melalui jalur hukum mungkin membantu tapi ia tak bisa menghapus semua yang telah tertulis.
Kematianlah jalan keluarnya meski mungkin tak juga mengubah sifat yang tidak washable itu, tapi setidaknya kehidupan tak lagi mampu membuat coretan-coretan tambahan…
Selanjutnya adalah urusan Tuhan. Bagaimana Ia akan menerima segala coret-moret di atas kertas. Akankah Ia mempertimbangkannya sebagaimana banyak dibilang dalam kitab-kitab bahwa segala sesuatu yang kita perbuat di dunia ini akan diperhitungkan oleh Tuhan?
Kalau benar-benar demikian adanya, lantas siapakah dari kita yang bisa benar-benar bersih dan lolos dalam pengadilanNya? Ada? Bisa?
Maha Pengampun
Jika kamu merasa bisa, berhentilah membaca artikel ini karena apa yang kutulis di bawah jadi tak penting lagi.?Tapi jika kamu merasa belum tentu bisa, let?s gimme five karena aku bersama dengan kalian.
Seperti halnya Saint Gertrudes pernah berkata, ?Saya adalah seorang pendosa besar!? maka demikianlah kita, pendosa yang tanpa ke-maha pengampunan-nya tak kan bisa masuk ke surga yang kita kehendaki.
Beruntung Tuhan itu Maha Ampun!?Karena meski Ia perhitungan, ia memiliki sifat yang memiliki tingkat tertinggi, maha, dalam hal mengampuni.
Bisa jadi, ketika kita mati nanti, karena Ia adalah Maha Ampun, alih-alih memperhitungkan dosa kita, Ia malah menyambut kita dalam gerbangNya lalu mengajak kita masuk seperti seorang Ayah menyambut anaknya yang pulang ke kampung untuk mudik merayakan Lebaran.
Lalu, kalau kitapun bisa merasakan keberuntungan itu, kenapa kita tidak saling mendoakan saja sebagai sesama manusia untuk bisa sama-sama mendapatkan pengampunan dariNya?
Tak peduli apapun warna kulitnya, tak peduli apapun agamanya, tak peduli apapun kesalahannya kepada kita termasuk? para teroris itu?
Karena setiap orang berhak membayangkan Tuhan, maka akupun dalam hal ini membayangkan begini?
Dengan kita berdoa bagi para teroris supaya mereka diampuni, bisa jadi Tuhan lalu jatuh iba lantas Ia tak hanya mengampuni dosa para teroris tapi juga mencegah segala macam bentuk teroris yang ada di dunia ini terjadi.
Enak kan membayangkan Tuhan yang mudah jatuh iba seperti itu?
* * *
Sebelum menutup tulisan ini, aku hendak menulis ulang cerita yang kudapat dari sebuah buku tentang seorang nenek, anak kecil yang hidupnya berkekurangan dan hadiah Natal.
Ada seorang nenek sedang berbelanja hadiah Natal untuk cucu dan keluarganya. Di balik kaca, seorang anak tuna wisma yang hidupnya berkekurangan memandang si Nenek dengan takjub melihat barang belanjaan tadi.
Si Nenek jatuh iba, ia lantas mengundang si anak masuk ke toko dan meminta si anak untuk memilih apa saja yang ia ingin beli. Singkat cerita, si anak tunawisma tadi lalu membeli kado yang ia inginkan.
Ketika hendak berpisah, si anak bertanya, ?Apakah kamu Tuhan sehingga mau memberikan hadiah ini untukku?? (aku cukup tertarik kenapa ia tak bertanya ?Apakah kamu Sinterklas? mengingat background cerita ini adalah di New York, kota besar di negara sekular yang tentu lebih dekat dengan tradisi Sinterklas ketimbang Yesus).
Si Nenek menggeleng lalu menjawab, ?Aku anak Tuhan.? Si anak membalas, ?Oh, pantas dan memang benar adanya, kamu anak Tuhan karena aku bisa merasakan relasi antara Tuhan denganmu!?
Dalam perspektif yang sama tapi di persoalan yang berbeda, tentu kita bisa bersikap memaafkan sekaligus mendoakan supaya para aktor teroris itu diampuni segala dosanya untuk memperlihatkan pada dunia bahwa kita adalah anak terang yang memiliki Tuhan yang besar.. Tuhan yang Maha Pengampun.
Tak mudah memang, akupun masih terseok-seok? Tapi setiap aku mengeraskan hati dan terbalut emosi untuk tak mendoakan mereka, aku selalu berpikir kalau aku saja berat lantas seberapa ringan Tuhan mengampuni dosa-dosaku yang tak ringan ini?
Hal yang paling mengejutkan bagiku pekan-pekan belakangan adalah persepsi pada beberapa orang bahwa daging kambing pun punya perasaan!
Adalah Kaesang Pengarep yang dengan lugunya menceritakan ?kecelakaan? mengkonsumsi daging babi di blog lalu orang-orang ramai mencercanya dan naga-naganya ada yang mempersepsikan bahwa Kaesang menghina daging kambing.
Absurd sekali ya? Dan keabsurdan itu sesuatu yang infectious karena aku jadi ikut-ikutan absurd, merenungkan seandainya adalah sebuah agama baru yang melandaskan aturannya pada seonggok daging brutu ayam!
Kebanyakan kalian tahu bahwa dalam tradisi kita ada larangan tak tertulis tentang mengkonsumsi brutu ayam. Kalau nenek buyutku (almh) dulu berujar, ?Ora ilok mangan brutu ayam! Marai lali! (Nggak baik makan brutu ayam! Bikin mudah lupa -jw)?
Nah, aku membayangkan jika orang yang pertama-tama melarang konsumsi brutu ayam dengan alasan ?mudah lupa? itu mendirikan sebuah agama baru, Anti Brutu Ayam namanya.
Syahadatnya singkat hanya satu kalimat, ?Aku percaya pada kelezatan daging ayam kecuali bagian brutunya?
Ajaran utamanya yang lantas banyak dijadikan tulisan di atas tripleks lalu dihias dan dipajang di tembok rumah umatnya, begini bunyinya,
?Wahai orang-orang beriman, diperintahkan kepadamu untuk tidak makan brutu ayam karena itu akan membuat akalmu mudah lupa. Barangsiapa yang lupa akalnya, kepadanya akan diberikan siksaan kekal di dalam lumbung api di neraka!?
Awalnya pemeluk agama Anti Brutu Ayam adalah pencinta damai. Bagi mereka, meski percaya bahwa hanya orang yang tak makan brutu ayam yang bisa ke surga, mereka tetap baik kepada pemeluk agama lainnya yang tak sepaham.
Namun semua itu berubah karena sebuah insiden yang akhirnya menjadi sebuah tahapan baru dalam sejarah hidup manusia penggunjing brutu ayam. Jadi rupanya, sebelum meninggal, wasiat terakhir dari sang nabi Anti Brutu Ayam adalah membuat sebuah badan yang mengurus pengaturan makan brutu ayam lebih ketat lagi.
Oleh penerusnya, hal itu direalisasikan dengan membuat badan bernama Majelis Anti Brutu Ayam Nasional atau biasanya disebut sebagai Ma?Brut Anal yang diketuai oleh seseorang dan diberi gelar M. Anal.
Tugas harian M. Anal dan lembaganya sebenarnya mudah. Mereka memproduksi sticker lalu mendatangi pabrik-pabrik pengolahan ayam, memeriksa tiap potongan, memastikan telah menanggalkan bagian brutunya lalu menempelinya dengan sticker, ?Tanpa brutu tak perlu ragu?
Pemerintah menanggapi pendirian Ma?Brut Anal itu dengan penuh suka cita karena setidaknya mereka tak perlu lagi berpikir untuk repot mengatur pabrik-pabrik serta silang sengketa soal brutu ayam dengan pemeluk agama Anti Brutu Ayam.
Persoalan bermula ketika sebuah majalah mingguan nasional yang terkenal sebagai tukang cari gara-gara, TEMPA, memuat berita mengejutkan tentang korupsi dalam tubuh Ma?Brut Anal!
Ditengarai ada seorang anggota majelis, anak buah Pak M. Anal, yang terlibat penjualan brutu ayam hasil potongan kepada mereka yang tak memeluk agama Anti Brutu Ayam dengan harga kiloan yang mahal!
Pemerintah sigap! Mendapat laporan dari Pak M. Anal setelah ia membaca TEMPA, Presiden mengerahkan pihak kepolisian untuk mencokok lalu menangkap anggota majelis tadi.
Dalam sidang gelar perkara di pengadilan, si anggota majelis berinisial FZ itupun mengakuinya, ?Saya memang menjual brutu ayam tapi tidak ke umat kita sendiri! Saya menjualnya ke orang-orang kafir jadi kan sebenarnya tak masalah mereka toh sudah kafir!?
Pak Hakim lantas bertanya, ?Berapa keuntungan yang kau dapat dari situ??
FZ terdiam cukup lama. ?Hmmmm? berapa ya?.. sebentar? hmmm??
Detik berlalu, menit berderap dan hening selama itu terpecahkan ketika hakim angkat bicara, ?Saudara FZ, kenapa tak dijawab? Anda lupa??
?I? iya? saya lupa.. bahkan saya sudah lupa apa pertanyaan Yang Mulia barusan.?
Seisi gedung pun gaduh. ?Lupa? bagi pemeluk agama Anti Brutu Ayam adalah sebuah kutuk karena menurut mereka lupa identik dengan brutu ayam yang menurut sang nabi akan mengakibatkan kelupaan!
?Mohon tenang saudara-saudara.. mohon tenang!? Hakim mengetuk palu untuk mendinginkan suasana yang memanas.
?Saudara FZ, anda bilang tadi anda lupa? apakah anda ikut makan daging brutu ayam tadi sehingga anda lupa??
FZ tampak pongah. ?Eh? hmm? Yang mulia? Yang Mulia ma.. maaf, barusan tanya apa??
Seisi gedung kembali gaduh kali ini ditingkahi komentar-komentar pengunjung yang hadir. ?Mohon tenang saudara-saudara? mohon tenaaaannggg!? hakim kembali mengetuk palu untuk mendinginkan suasana.
?Saudara FZ!? Kali ini Hakim bernada menghardik. ?SAYA TANYA SEKALI LAGI DEMI TUHAN YANG ANTI BRUTU AYAM, APAKAH ANDA IKUT MAKAN DAGING BRUTU AYAM??
FZ terperanjat! Ia tersudut, pantatnya seperti disundut dan keringatnya mengucur deras akrena takut. Ia tak bisa berkelit lagi dan akhirnya mengakui bahwa ia memang sering mengkonsumsi brutu ayam.
Kericuhan tak terhindarkan lagi. Pemeluk agama Anti Brutu Ayam yang hadir yang tadinya dikenal santun dan damai itupun mengangkat kursi lalu melemparkannya ke wajah FZ hingga ia tersungkur, terjatuh dan berdarah-darah sementara hakim dan aparat lainnya angkat tangan, mereka beringsut lari menuju ke belakang.
Tiba-tiba di tengah kegaduhan itu, muncul sosok tinggi besar yang menyeruak dari kalangan massa, maju ke depan membawa pedang yang disarungkan dan digenggam di pinggangnya.
?Diam semua! Diam!? ucapnya.
?Demi? Demi kemurnian ajaran Anti Brutu Ayam dan demi nama baik Masanbrut Anal dan Pak M. Anal saya akan memenggal kepala si FZ yang sudah korupsi dan yang paling berat, ia telah makan brutu ayam!?
Dalam sekejap, bilah pedang yang berkilau itu terayun dari atas ke bawah melerai kepala FZ dari tubuhnya. Simbahan darah melumuri lantai gedung pengadilan siang itu dan massa bertempik sorak kegirangan seolah ada sesuatu yang mereka kalahkan!
Hari itu adalah hari dimana hukum negara dikalahkan oleh pedang sekaligus hari dimana kata damai yang semula melekat pada umat Anti Brutu Ayam menjadi sebuah sejarah yang ada di belakang.
Si algojo tadi rupanya bernama Habis Riski Sepah Dibuang atau yang biasa dipanggil sebagai Risik. Ia lantas muncul sebagai pahlawan dan tak lama kemudian seolah seperti tak ingin kehilangan momen, ia mendeklarasikan sebuah front yang dinamainya Front Pembela Anti Brutu Ayam!
Umat lantas berduyun-duyun bergabung dengan front pembela itu dan dalam waktu yang singkat, berita tentang front itu memenuhi media, menjadi trending topic di beberapa social media.
Dengan halus, kehadiran front pembela tadi juga menggeser fungsi Ma?Brut Anal. Kini tugas menempelkan sticker ke daging-daging ayam dikuasai oleh Risik dan kanca-kancanya. Bahkan tak hanya itu, Risik juga membuat aturan baru berupa sticker baru bertuliskan, ?Manusia brutu, layak dibrutukan!? yang ditempelkan di jidat dan pantat pemilik pabrik yang ketahuan bermain curang atas aturan Anti Brutu Ayam.
Banyak korban jiwa yang timbul karena pemasangan sticker itu. Masyarakat jadi liar dan main hakim sendiri menggunakan segala macam senjata yang ia punya untuk tak hanya melukai tapi juga membunuh mereka!
Pemerintah toh diam saja. Telisik punya telisik, mereka malah senang karena tugasnya kian ringan, tak perlu mencari dan menggaji hakim-hakim serta polisi-polisi baru karena warga front pembela itu telah bisa menjadi hakim dan polisi yang efektif terhadap musuh-musuh mereka.
Keadaan yang tak berimbang itu menimbulkan perlawanan.?Adalah anak FZ, korban pemenggalan kepala tadi yang akhirnya membuat sebuah movement baru bertajuk, ?Brutu Ayam yang Kinasih?!
Gerakan itu jelas sempalan dari Anti Brutu Ayam. Dalam sebuah wawancara di televisi, anak FZ yang cantik itu bicara bahwa keberadaan movement yang ia pimpin adalah untuk mengoreksi ajaran nabi tentang bahayanya makan brutu ayam. ?Bagi kami sederhana, dalam sepotong brutu ayam, terpampang kasih Tuhan yang luar biasa karena kenikmatan dagingnya!?
Sudah barang tentu gerakan ini dihajar oleh front pembela. Tapi bak cendawan di musim hujan dan selayaknya apa yang dikatakan dalam lagu ?Gugur Bunga?, mati satu, tumbuh seribu, demikian pula nasib dan takdir movement itu. Mereka kian membesar, terduplikasi dan dimana-mana.
Front pembela memutar otak dan berpikir keras.?Sempat terpikir dan terlaksana untuk melakukan propaganda berlabel ?Brutu Ayam membawa kolesterol jahat!? dengan kampanye lanjutan bertajuk, ?Kalau Brutu Ayam itu anugerah Tuhan, kenapa ia membawa bencana kolesterol??
Pada awalnya, hal itu mampu memukul mundur perkembangan movement Brutu Ayam yang Kinasih, tapi mereka berakal pintar meski makan brutu ayam.
Mereka datang ke presiden dan minta dibuatkan pabrik obat anti kolesterol. Pemerintah awalnya ragu, tapi mengingat akan banyak terserapnya tenaga kerja di pabrik itu, tak tanggung-tanggung, mereka memfasilitasi pembangunan 30 pabrik di seluruh negeri!
Front pembela kebingungan kepalang! Mereka lantas menggelar munaslub di sebuah hotel di ibukota. Dalam musyarawah yang luar biasa itu, Risik menegaskan, ?Kita harus bertindak keras!?
Ide itu lantas ditanggapi oleh para tetua-tetua front pembela dengan mengadakan kaderisasi orang-orang muda. Mereka masih berusia muda dan awalnya diiming-imingi untuk disekolahkan ke luar negeri. Tapi alih-alih disekolahkan, mereka malah dikirim ke basis-basis teroris untuk dididik militan.
Enam bulan sesudahnya, saat movement Brutu Ayam yang Kinasih menjadi hits dimana-mana, lulusan sekolah teroris tadi pulang ke negeri dan dibaiat untuk menjadi ?pengantin?; istilah yang digunakan untuk bomber.
Pada sebuah malam jahanam yang telah lama direncanakan, secara serentak, para pengantin tadi dikerahkan ke pabrik-pabrik obat anti kolesterol di seluruh negeri. Kepada mereka dikenakan sebuah rompi penuh dendam yang terwujud dalam bulatan-bulatan bom berserabut kabel dan terhubung ke dalam tombol siap pencet siap ledak yang terkepal kencang di tangan kanan.
Mereka masuk ke dalam pabrik, ke dalam rumah petinggi gerakan, ke dalam perkampungan orang-orang yang terlibat dalam gerakan. Ketika orang sedang terlelap baik dalam tidur maupun pekerjaannya, tiba-tiba para ?pengantin? tadi berteriak ?Anti Brutu Ayam Akbar! Anti Brutu Ayam Akbar!?, memencet tombol lalu pecahlah anggota badannya menjadi keping bercampur keping pabrik dan keping rumah, keping orang yang bekerja di pabrik dan keping orang yang tinggal di rumah. Mereka semua, hancur berkeping-keping!
Itulah awal perang akhir dunia. Sesuatu yang ternyata lupa dituliskan sebagai nubuatan, sebagai ramalan oleh sang nabi pembawa agama Anti Brutu Ayam dalam kitab sucinya.
Pada saat yang bersamaan nun jauh di alam lain setelah kematian, Ia, sang nabi, sambil menggenggam ipad di tangan yang menyiarkan kejadian perang akhir dunia itu terkejut dan tertunduk sedih.
?Kamu kaget?? tanya sekretaris sang nabi pada suatu pagi dengan air muka tenang datang membawakan secangkir kopi serta sepiring nyamikan.
?I.. iya.. aku kaget? aku lupa menulis di kitabku dulu tentang ramalan peristiwa ini!?
?Kenapa lupa?? ?A? aku sudah terlalu banyak makan brutu ayam ketika aku menuliskan ajaran demi ajaran dalam kitab tentang bahayanya makan brutu ayam!?
?Hmmmm, ya sudah tak ada yang perlu dan bisa disesali. Mari sini, Pak! Santai dulu sambil menyaksikan perang manusia-manusia itu dan mengudap? brutu ayam!?
Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang. Mas Kris pada suatu saat, dua ribu tahun yang lampau
Diantara sekian banyak alasan konyol terkait penolakan penghapusan kolom agama di KTP, ada tiga hal yang menurutku cukup menarik untuk kita bahas di sini…
Jadi kita tahu cara menguburnya?
Salah satu alasan terbaik yang pernah kudengar kenapa kolom agama itu perlu ada di KTP adalah, kalau suatu waktu si pemilik KTP ditemukan mati di suatu tempat antah-berantah, setidaknya si penemu jasad tahu bagaimana ia harus merawat jasad tersebut sesuai kolom agama yang tertera di KTP-nya.
Hal ini berdasarkan pada kenyataan bahwa hampir setiap agama punya tradisi penguburan yang khas.
Tapi tunggu sebentar, mari kita ambil contoh, katakanlah seorang Katolik, ia ditemukan terbujur kaku lalu seorang menemukannya, membuka dompet dan menemukan KTPnya dan identitas agamanya. Ia lalu menguburkan jasad itu selayaknya seorang Katolik dikebumikan lengkap dengan jas (pria) dan dimasukkan ke dalam peti, dilingkari rosario pada tangannya dan diberi bekal Injil yang diselipkan dalam dekapan di atas dadanya. Tapi akankah hal itu yang ia minta ketika hidup bahwa jika ia mati ia ingin dikenai jas lengkap dengan alat-alat rohani meski ia Katholik?
Bagaimana kalau ternyata ia hanya minta untuk dikuburkan secara sederhana dengan kemeja batik, celana kain serta sepatu murah Cibaduyut ala Jokowi?
Tak semua orang ingin dikebumikan sesuai pakem meski ia pemeluk agama tertentu, kan?
Solusinya? Bikin saja kolom di KTP berisi, ?Jika aku diketemukan mati, kuburkanlah aku dengan cara sbb:..? dan kita tak perlu kolom agama…
Jangan sentuh mayat beragama tertentu…
Salah satu alasan terbaik lainnya terkait perlunya ada kolom agama di KTP adalah kenyataan bahwa ada aturan dalam agama-agama tertentu berkata bahwa jenasah yang ketika hidup beragama A, hukumnya tidak boleh disentuh oleh orang selain beragama A! Sebaliknya ada pula aturan, orang yang ketika hidup bukan penganut A, ia dilarang disentuh oleh orang beragama A!
Nah, pengadaan kolom agama di KTP memang membantu pengaturan hal ini. Tapi hal ini akan benar-benar membantu jika KTP-nya dipasang di tempat terbuka dan mudah dibaca tanpa harus menyentuh jasadnya, misal di jidat atau di dada (ditattoo sebenarnya bagus juga tapi tattoo sendiri dilarang oleh banyak agama, lagipula tattoo kok cuma menampilkan agama, rugi amat?!)
Kebanyakan KTP diletakkan di dompet dan bagi pria, dompet itu letaknya di saku belakang celana. Nah, bagaimana mungkin seorang ketika menemukan jasad tak menyentuh tubuhnya terlebih dahulu melainkan mengambil dompet dan membuka KTP untuk memastikan apakah agama si jenasah itu ketika masih hidup?
Solusinya? Kenapa tak dibuat standarisasi penanganan jenasah yang tak diketahui identitasnya! Misalnya dengan menggunakan tangan robotik atau si penemu jasad harus mengenakan sarung tangan dan kolom agama di KTP tetap bisa dihilangkan?
Kalau kolom agama di KTP dihilangkan, orang akan malas beragama?
Ini bukan satu alasan terbaik tapi uhmmm… baiklah mari kita bahas secara singkat di sini.
Kemalasan orang beragama bukan karena ada atau tidaknya kolom agama di KTP. Agama- agama yang diakui Indonesia sudah ada sejak ribuan tahun sementara KTP ber-kolom agama baru ada sekian puluh tahun silam.
Tidak ada laporan signifikan tentang berapa persen orang jadi lebih rajin beragama ketika kolom agama diputuskan diadakan di KTP, dan aku yakin juga tak ada orang yang mampu membuat perhitungan berapa ratus ribu orang yang lalu ?masuk neraka? karena malas beragama kalau kolom agama di KTP dihilangkan.
Ada yang bisa?
* * *
Yang menarik di sini adalah kenapa agama beserta ?tetek bengeknya? selalu jadi bahan perbincangan dan pergunjingan yang besar? Seolah tak ada hal lain yang lebih mempengaruhi hajat hidup orang banyak yang bisa dikedepankan?
Ageman (pakaian) atau penis?
Aku mencoba mendekati pertanyaan itu dengan mengangkat dua pandangan tentang agama.
Pertama adalah agama dipandang sebagai ageman atau pakaian dalam Bahasa Jawa.?Niatnya bagus, agama adalah pakaian yang pas untuk kita, belum tentu pas untuk orang lain sehingga tak elok kita memaksakan agama kita kepada orang lain. Tapi persoalannya adalah, kita cenderung biasa pamer pakaian yang kita kenakan terlepas orang suka atau tak suka.
Kedua adalah agama dipandang sebagai penis, alat kelamin pria. Aku menemukan quote unik beberapa waktu silam bahwa agama itu layaknya penis. Kita punya satu, tapi mohon jangan ditunjuk-tunjukkan ke khalayak karena itu adalah penis!
?Don, tapi penis itu barang jorok sementara agama mulia, kenapa kau bandingkan?!? Eitsss? ini soal cara pandang!
Bagiku penis itupun sesuatu yang mulia.?Bayangkan kalau pria tak punya penis! Ia akan kebingungan bagaimana membuang air kencing padahal air kencing adalah air kotor yang perlu kita keluarkan melalui? penis!
Bayangkan juga jika penis itu tak pernah ada.?Bagaimana kehidupan bisa berkembang biak secara alami karena penis adalah alat untuk mengeluarkan sperma yang akan membuahi telur dan jadilah manusia. Bayangkan pikirmu?
?Tapi penis yang dipakai untuk bercinta dengan penjaja seks komersial? Ia tetap tak mulia!? Nah, di sini lagi salahmu! Ketika penis dipakai untuk hal-hal yang tak senonoh termasuk bercinta dengan penjaja seks komersial, yang salah bukan penisnya tapi otak oknum yang memilikinya. Sama dengan agama? ketika kalian menganggapnya mulia, sebagian lain justru menaruhnya di tempat paling buruk karena menggunakannya untuk aneka rupa niatan-niatan iblis!
Jadi kembali ke soal kolom agama di KTP, aku pikir ada baiknya dihapus saja. Selain tak terlalu berguna, format KTP dengan tidak adanya satu kolom itu bisa diperingkas dan diperkecil. Hal ini akan menghemat penggunaan kertas, tinta, plastik, mesin industri dan banyak lagi manfaat yang bisa didapatkan.
Dari dulu sebenarnya aku tinggal tunggu waktu untuk membuktikan bahwa cara-cara mereka melakukan ‘kristenisasi’ akan terantuk batu. Dan benar, kan? Kita berdoa saja semoga ‘ombak’ di social media soal video yang konon mengungkapkan adanya ‘kristenisasi’ terselubung di car free day itu tak mendatangkan perpecahan di tengah optimisme rakyat yang sedang menggebu-gebu lewat pemerintahan yang baru.
Kalau kalian menemukan tanda petik pada saat kumenuliskan kristenisasi, semata itu menunjukkan bahwa cara mereka sebenarnya salah!?Kristenisasi, seperti halnya ‘sasi-sasi’ yang lain memang tak bisa terhindarkan terutama pada ajaran-ajaran agama yang memang memiliki point pengembangan pada penyebaran ajaran pada orang-orang yang ‘masih di luar’ untuk ‘dimasukkan ke dalam’. Tapi tentu saja, cara penyebarannya harus penuh hikmat dan kebijaksanaan, tak bisa dibuat secara onar apalagi kasar!
Aku turut menyesalkan jika ada orang yang tersakiti pada setiap ‘kristenisasi’ seperti itu tapi sadarlah kalian sebenarnya tak sendirian! Akupun, meski agamaku Katholik, dulu kerap dijadikan sasaran tembak dan dibujuk-bujuk untuk masuk ke gereja mereka.
Pernah suatu waktu, akhir 90an dulu, aku dekat dengan seorang wanita. Niatku memacarinya karena dia dulu cantik dan tampaknya baik. Tapi waktu sedang PDKT, suatu sore dia mengajakku berdiskusi soal agama, sejak awal aku tahu dia beragama Protestan dari denominasi tertentu. Diskusi makin seru dan aku makin tertarik karena hal itu seolah menandakan bahwa wanita yang kudekati itu tak hanya cantik dan baik tapi juga pintar serta berwawasan luas. Tapi ada sebuah titik dimana ia menyentuh titik sensitifku, “Agamamu itu sesat, Donny! Ia tak akan mampu menyelamatkanmu maka ayo ikutlah pergi ke gerejaku denganku!”
Tiada ampun lagi, aku bilang padanya bahwa itu akan jadi pertemuan terakhirku dengannya. Sesudahnya, tak sekalipun aku mau diajak bertemu dengannya dan tak sampai hati aku untuk mengkhianati akal budiku kalau aku harus menghiba mengajaknya untuk ketemuan apalagi kencan!
Walah, kok jadi ngelantur! Jadi gini, aku punya beberapa tips untuk menghentikan gerak mereka berdasarkan pengalamanku sendiri. Oh ya, sebelum terlupa, aku ingin menyatakan bahwa tak semua denominasi dan orang-orang Kristen berpandangan bahwa kristenisasi harus dilakukan dengan cara seperti itu.
Pintu-pintu masuk
Orang-orang seperti itu biasanya memanfaatkan momentum-momentum khusus untuk datang dan menyampaikan niatnya. Momen ketika kita atau kerabat sedang sakit adalah salah satu ‘pintu terbaik’ mereka! Biasanya mereka menawarkan ‘kesembuhan’ dan ‘pendampingan’ dengan embel-embel ‘ikutlah kami, ikutlah ke gereja kami’. Padahal, secara logika, kalau mereka memang mau menawarkan kesembuhan dan pendampingan yang benar-benar dari Tuhan, bukankah ia akan datang tanpa syarat dan embel-embel?
Pintu-pintu masuk lainnya biasanya ketika kita sedang bingung mencari pekerjaan, putus cinta, kehilangan pekerjaan, pokoknya saat-saat dimana kita merasa berada pada titik-titik nadir itulah mereka datang menyaru sebagai penyelamat dunia!
Tolak sejak awal
Ketika mereka sudah menyatakan niatnya dan kamu keberatan dengan ajakannya, tolaklah sejak awal! Kesalahan orang-orang yang akhirnya baru marah belakangan menghadapi orang-orang seperti itu adalah karena mereka tak tegas menolak atau sungkan jika harus menolak sejak awal! Mereka itu sudah terlatih untuk mengelola celah, jadi ketika kamu tak menolak, bagi mereka itu adalah celah dan hal itu akan terus didekati oleh mereka hingga kalian muak atau akhirnya menerima.
Dari pengalamanku, kalau mereka sudah mulai berdalih, “Kamu mau diselamatkan?”, “Bapak mau ikut jalan Tuhan?” atau yang senada biasanya akan kujawab dengan tegas dan singkat, “Maaf, saya tidak tertarik!” Kalau mereka terus membombardir dengan berbagai macam gaya, pastikan untuk tidak melayaninya.
Masih ngeyel?
Tapi bagaimana kalau masih ngeyel? Tergantung! Kalau kamu pengen iseng sekali-kali berdebat dengan mereka, ajaklah berdebat. Tapi satu hal yang kamu perlu tahu sebelum perdebatan adalah, mereka itu sudah terlatih dengan berbagai macam kondisi perdebatan mulai dari yang ringan sampai yang paling berat. Jadi kalau sampai argumenmu terpatahkan atau kamu tak bisa mematahkan argumen mereka, jangan patah arang karena sekali lagi, mereka itu well-trained!
Lalu bagaimana kalau ngeyelnya sudah melampaui batas misalnya mengancam dan menjelek-jelekkan agama kita? Tegaslah tapi jangan main kasar karena kalau kamu main kasar, kamu sudah masuk ke dalam perangkapnya dan sangat mudah bagi mereka untuk bilang, “Ya pantas saja kamu main pukul, agamamu itu sih! Makanya bergabunglah dengan agamaku dan gerejaku!”
Ancam saja mereka untuk dilaporkan ke polisi karena kalian kan tinggal di negara hukum. Kalau masih nggak takut juga, ancam juga pendeta/pimpinannya untuk dilaporkan sekalian.
***
Aku juga ingin menyampaikan pesan kepada mereka yang kerap mengadakan kristenisasi dengan jalan-jalan yang tak semestinya.?Berhentilah melakukan hal-hal seperti itu. Pikir dan sangkamu hal itu akan menyenangkan hati Tuhan dan membuat kerajaanNya di dunia ini lebih besar, eh? Belum tentu, kan??Yang sudah barang tentu, makin banyak orang baru kau dapatkan, makin menggembung pula pundi-pundi uang perpuluhan dan makin besar pulalah lingkar perut para pemimpin-pemimpin yang tamak akan uang tapi tampak tenang bagai air nan menghanyutkan!
Menyebarkan ajaranNya itu perlu dan memang jadi salah satu tugas umat. Tapi, lakukan hal itu dengan cara yang lebih bermartabat. Jadilah saksi akan kehebatan dan kasihNya melalui tanggung jawabmu sehari-hari.?Bekerjalah secara jujur dan baik hormati atasanmu dan hargai bawahanmu. Bahagiakanlah keluargamu dalam kasih serta berperilakulah yang baik di masyarakat sekitar dan membantu yang kekurangan. Dari situ, orang-orang itu tak perlu kamu ajak jadi Kristen, karena kalau mereka tertarik oleh karena perilaku hidupmu, mereka akan datang sendiri dengan damai dan penuh sukacita.
“Lho tapi kan kita diminta untuk menjadikan semua bangsa muridNya?” Benar… Tapi tunggu sebentar, memangnya kamu sudah jadi muridNya??Kamu sudah menjalankan semua aturan dan menjauhi laranganNya? Sudah menjadikan anak-anak istrimu dan orang-orang terdekatmu jadi muridNya juga?
“Sudah!” Serius? Wow! Sudah mampu mencintai musuhmu secara maksimal? Sudah berapa kali memaafkan orang-orang yang bersalah kepadamu? Berapa kali? Hukumnya tujuhpuluh kali tujuh!?Sudah memberi minum dan makan orang-orang yang paling terhina?
“Ah tapi pihak mereka juga sering pake cara-cara menjijikkan untuk menyebarkan agama mereka?” Ya itu urusan mereka! Kalau kamu adalah bagian dari mereka, lanjutkanlah itu tapi kalau kamu yakin agamamu adalah yang terbaik, aku berpikir harus ada pembeda antara kamu dan mereka. Caranya? Tunjukkan keterbaikannya itu melalui hidupmu dan dirimu sendiri!
Bagiku ini sungguh tak logis. Setidak logisnya perhitungan pihak The Appeal of Conscience Foundation (ACF) memberikanpenghargaan kepada Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan kehidupan toleransi beragama di Indonesia beberapa waktu silam. (baca berita selengkapnya di sini)
Jelas-jelas yang diserang malam itu adalah acara peribadatan yang seharusnya dilindungi hak-haknya oleh Undang-Undang Dasar 1945 dan ini tentu bukan yang pertama dan ternyata bukan pula yang terakhir karena beberapa hari berikutnya, giliran saudara-saudara protestan yang diserang di wilayah yang tak terlalu jauh dari rumah Mas Julius. (Baca berita selengkapnya di sini)
Kalau sudah seperti ini, aku merasa kita, kaum minoritas ini, seperti layaknya kawanan domba yang harus melewati padang ilalang yang penuh dengan predator tanpa pengayom sementara negara dan masyarakat yang lebih banyak diam dan hanya bisa bersimpati hanya bisa mengamati dari pinggiran padang?
Tapi inilah hidup. Hidup yang harus dilalui dengan berbagai cara menyiasatinya termasuk hal-hal di bawah ini?
Sadarilah kekecilan kita
Sayangnya jargon kualitas di atas kuantitas tak berlaku di sini. Kita kalah jumlah, kalah tenaga serta tak cukup bersuara. Sekalinya kita bersuara, ia tak terdengar entah karena tak ada telinga yang mau mendengarkan, atau mereka mau mendengar tapi tak mau bertindak, atau bising suara lain menutup frekuensi suara kita…
Sebagai kawanan domba tanpa pengayom seperti kutulis di atas, tingkat vulnerability kita sangat tinggi, didesak kawanan lain yang jumlahnya lebih besar sekali saja, kita akan tergencet seperti yang sudah-sudah.
Kasus barangkali akan mengudara sebentar di media, kecaman datang dari sini -sana tapi ya sudah? tak berapa lama lalu kasus itu hilang tak berbekas hingga kasus berikutnya muncul mengikuti daur yang sama yang ajeg.
Jadi sadarilah ini sebagai sesuatu yang memang sudah datang dari ?sono? nya, mau-tak-mau, suka-tak-suka…
Maafkan? maafkanlah
Jadi orang Katholik itu berat dan tak mudah. Alih-alih diberi asupan semangat untuk balas menyerang, kita malah diminta oleh Ajaran untuk memaafkan.
Yesus, ketika sedang pedih-perihnya disalib memaafkan para prajurit romawi yang menyalib-siksaNya dengan doa yang terkenal,
?”Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat? (Lukas 23:34)
So, do it! Maafkanlah mereka dengan penekanan pada frase bahwa mereka tak tahu apa yang mereka lakukan!
Dan, hanya orang bodoh yang melakukan sesuatu hal yang mereka sejatinya tak tahu, kan? Jadi mari kita identifikasikan para penyerang itu sebagai orang bodoh yang harus kita terima sebagai mitra hidup yang ada di lingkungan kita.
Apa yang kamu harapkan dari seorang yang bodoh? Nothing! Makanya maafkan dan jangan pernah membuat urusan dengan mereka karena kebodohan mereka yang bisa jadi melakukan hal-hal yang lebih membahayakan lagi tanpa mereka sadar dan ketahui.
Bermasyarakatlah
Membaur itu beda dengan kamuflase. Kita perlu membaur tanpa harus kehilangan identitas sebagai seorang Katolik. Ibaratnya domba yang tadi kulukiskan berada di tengah lapangan, tinggalkan lapangan itu dan menyatulah dengan mereka yang ada di pinggiran.
Membaur itu tidak dilakukan dengan embel-embel supaya selamat karena percayalah dua hal. Pertama, kita sudah punya cap sebagai minoritas, dan selama cap itu kita pertahankan ancaman itu tetap akan ada. Kedua, ketika serangan itu akhirnya datang juga, kalau kita berharap bahwa masyarakat akan membantu kita, bersiaplah kecewa karena tak sedikit dari mereka yang memilih menyingkir entah itu karena takut masuk ke dalam pusaran masalah atau yang lainnya.
Jadi bermasyarakatlah dan membaurlah sekadar memberi contoh kepada mereka bahwa hanya dengan seperti itu kita bisa menghayati hidup berdampingan yang saling hormat-menghormati.
Berikan kontribusi-kontribusi sosial juga material untuk setidaknya menjadi saksi bahwa kita juga bisa mengabdi pada masyarakat.
Bekerja dan berpenghasilanlah
Minoritas itu kecil tapi jangan lantas kamu jadi miskin dan bodoh!
Cari pekerjaan dan bekerjalah secara luar biasa. Banting tulang dan berkeringat darahlah untuk itu! Kumpulkan uang dan sekolahkan anakmu di sekolah terbaik yang bisa kamu dapatkan yang bahkan tetanggamu sendiri tak sanggup untuk memikirkannya.
Persiapkan masa depan keluargamu terutama anak-anak untuk berbagai macam rencana dari yang paling baik hingga yang paling buruk termasuk kalau sampai harus bermigrasi ke tempat yang lebih aman yang tak diganggu lagi dalam berkeyakinan dan beribadah!
Jangan pernah memaafkan negara!
Selama ini kita tersihir pada pernyataan, ?Jangan pikirkan apa yang Negara berikan kepadamu tapi berpikirlah apa yang telah kau berikan bagi negara??
Kita membayar pajak tapi negara tak tahu diri!
Ubah stigma itu dan camkan dalam benakmu bahwa, ?Kita telah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai warga negara tapi apa yang lantas Negara berikan kepada kita??
Kita lebih sering menjadi korban. Kita lebih sering dijadikan telenan bagi negara yang sedang menyiapkan bumbu dan masakan yang nikmat tapi kita sendiri dibikin sembilu babak belur dan tak pernah merasakan nikmatnya.
Dan yang paling penting, jangan pernah memaafkan negara kecuali ia meminta maaf kepadamu. Kita hanya memaafkan kepada mereka yang tak mengerti apa yang mereka perbuat, tapi negara adalah penggenggam aturan yang seharusnya menjaga pelaksanaan aturan itu tanpa terkecuali.
Jangan pula pernah memohon yang keterlaluan kepada negara untuk melindungi kita kaum minoritas. Terlalu banyak memohon itu ketika tak terkabulkan, nyerinya sampai ke ulu hati, menyakitkan.
Dan jangan pernah pula berharap terlalu banyak kepada siapapun yang jadi presiden nanti seperti halnya harapan kita yang hampir mati terhadap presiden yang kini. Sepolos maupun segagah apapun ia, tanyakan dalam hati apa kalian yakin mereka mau dan mampu mengalahkan orang-orang bodoh yang menyerang kita tadi?
Kalau kamu tak mampu menemukan jawabannya hingga 9 Juli nanti, ada baiknya kita diam? Di dalam diam ada perencanaan meski di dalam diam bisa jadi juga berarti keputusasaan. Tapi apapun itu, di dalam diam, kita telah menyatakan sikap…
Mereka, Dihinakan tanpa daya Ya, tanpa daya Terbiasa hidup Sangsi (Kesaksian, WS Rendra)
Makanan dan agama itu urusan personal, masing-masing boleh diterjemahkan seenak perut dan jidat…
Entah di Indonesia, di sini rasanya semakin banyak restaurant terutama di mall yang menawarkan paket kustomisasi makanan.?Misal, di sebuah gerai makanan ala Malaysia, laksa dihadirkan dengan cara kustomisasi. Selain daging, sayur dan mie yang hendak dicampurkan dalam mangkuk bisa dipilih-pilih.
Sampai titik itu barangkali masih bisa ?dimengerti?, tapi yang menurutku kebangetan, kuah laksanya pun bisa diganti dengan santan rendah lemak atau malah clear soup (tanpa santan)!
?Ya suka-suka tho! Kan tergantung bagaimana menerjemahkan laksa itu?? Benar, tapi sebagai pecinta makanan yang asli, seasli mungkin ?dari sononya? aku keberatan untuk menyebut hasil kustomisasi itu sebagai laksa.
Kalau daging, sayur dan bihun diberi kuah bening lalu dianggap laksa, apa bedanya ia dengan soto lantas?
Agama seolah seperti mangkuk-mangkuk besar di selasar food court yang masing-masing berisi tata nilai yang boleh dikustom.
Begitu juga dengan agama.?Hari-hari ini, banyak orang mengustom agama yang ia anut dan jalankan.?Agama seolah seperti mangkuk-mangkuk besar di selasar food court yang masing-masing berisi tata nilai yang boleh dikustom.
Kita datang membawa mangkuk kecil berlabel agama yang diberi (dipaksa?) oleh orang tua kita masing-masing tapi lantas, alih-alih menuju mangkuk agama masing-masing, kita malah beredar ke sana-kemari mengambil dan memilih nilai-nilai yang kita suka dan membuang yang tak sekehendak hati.
Mangkuk agama A menawarkan sesuatu yang menyenangkan tapi dilarang menurut mangkuk agamanya sendiri, diambillah sesuatu itu lalu disatukan dengan nilai-nilai lain dari agama asalnya.
Demikian juga ketika tahu bahwa ada hal-hal yang tak terlalu menyenangkan dari mangkuk agamanya sendiri, dikeluarkannya lah ia di lantai untuk dibuang. Alhasil, satu mangkuk agama miliknya itu telah beraneka rupa warna dan tentu saja rasanya.
Seseorang lantas datang membawa parang siap berperang. Setengah menghardik, ?Hey! Tapi kamu harus ambil semua nilai dari A saja atau B saja, tak boleh dicampur!” demikian katanya.
“Kenapa?” orang tadi bertanya.
“Karena demikianlah aturannya dan supaya kami lebih mudah mengenali mana yang kawan yang bisa kita rangkul dan mana yang musuh; yang darahnya halal untuk kami tumpahkan!”
Di titik ini aku tak yakin ia berani menjawab dengan ?Ya suka-suka tho!?
* * *
Aku dengan urusan laksaku dengan mereka yang menghardik soal agama barusan sebenarnya sama saja, kami terjebak dalam perkara identitas; bahwa segala sesuatunya harus diberi label dan ia harus tetap sama sepanjang masa, setidaknya sepanjang hidup kami.
Yang menang lalu berhak menentukan siapa yang paling salah dan harus musnah.
Yang membedakan hanyalah reaksinya. Aku hanya menggumam lalu menuliskan ini sementara mereka bisa jadi mengalungkan parangnya ke leher mereka. Kami lupa bahwa hakikat makan harusnya kenyang supaya senang, dan hakikat beragama harusnya percaya supaya tenang.
Tapi kalian juga sebenarnya sama saja. Terlalu riuh merayakan kebebasan dan membuang jauh-jauh identitas sebagai hal yang penting dan mengolok-olok balik kami sebagai orang kolot nan radikal, tapi apakah kalian tak kehilangan hakikat itu sendiri?
Dan pada keasyikan kita masing-masing, akhirnya kita bertemu pada hakikat baru yang jadi jembatan antara kita yaitu ‘Kebenaran’, kita berperang di situ menentukan mana yang lebih benar.
Yang menang lalu berhak menentukan siapa yang paling salah dan harus musnah.
Tulisan ini terbersit ketika sedang menikmati sajian babi panggang di Jogja, sebulan silam, lalu melihat kawan lama yang kutahu sebenarnya tak boleh makan babi masuk ke rumah makan itu dengan raut wajah yang tampak begitu kelaparan :)
This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish.AcceptRejectRead More
Privacy & Cookies Policy
Privacy Overview
This website uses cookies to improve your experience while you navigate through the website. Out of these cookies, the cookies that are categorized as necessary are stored on your browser as they are essential for the working of basic functionalities of the website. We also use third-party cookies that help us analyze and understand how you use this website. These cookies will be stored in your browser only with your consent. You also have the option to opt-out of these cookies. But opting out of some of these cookies may have an effect on your browsing experience.
Necessary cookies are absolutely essential for the website to function properly. This category only includes cookies that ensures basic functionalities and security features of the website. These cookies do not store any personal information.
Any cookies that may not be particularly necessary for the website to function and is used specifically to collect user personal data via analytics, ads, other embedded contents are termed as non-necessary cookies. It is mandatory to procure user consent prior to running these cookies on your website.