GILA!
Empat tahun! Gila!
Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan seserius ini ngeblog, empat tahun yang begitu aktif setelah sebelumnya hanya berpredikat sebagai blogger abal-abal di donnie.or.id sejak Februari 2002.
Bangga? Jelas! At least aku tak harus mengingkari diriku sebagai blogger tulen lalu bergabung sebagai kalangan yang “sebenarnya ingin ngeblog tapi apa daya tak mampu konsisten dengan alasan sibuk atau tak tahu harus menulis apa lalu mengelompokkan diri dalam kalangan #moveon untuk menganggap yang blogger adalah yang tak #moveon!”
Berikut adalah catatan-catatanku setahun kemarin.
Terjerembab dalam Social Media
?sebenarnya ingin ngeblog tapi apa daya tak mampu konsisten dengan alasan sibuk atau tak tahu harus menulis apa lalu mengelompokkan diri dalam kalangan #moveon untuk menganggap yang blogger adalah yang tak #moveon!?
Tahun kemarin adalah tahun dimana aku tak seharusnya menjerembabkan diri dalam kubangan social media dan intrik-intrik serta gosip-gosip hangat di dalamnya.
Awal mulanya adalah ‘kasus’ hilangnya akun ?Indonesia? di Multiply itu. Setelah tulisan ini lalu dilanjut dengan yang ini, orang mulai tertarik mengenal “Siapa aku?” Timeline di Twitter pun sempat ramai dan gencar dengan pemberitaan itu diimbuhi begitu banyak teman-teman yang ‘blogger Multiply’ mendukungku untuk ‘merebut’ balik identitas tersebut. Dua media online, Penn Olson dan Daily Social tak ketinggalan turut menyiarkan berita ?kehilangan? ini.
Tapi sesungguhnya sejak awal aku tahu akun tersebut ‘diambil alih’, aku tak pernah berniat untuk merebutnya kembali karena hal itu sungguh tak terlalu berharga. Beda misalnya blog ini yang direbut orang sudah barang tentu aku akan mengeluarkan seringai dan melawan.
Ketika hal itu terjadi dan kegaduhan tercipta, sejatinya aku tak pernah bisa berhenti untuk terpingkal, tertawa. Lagipula meski aku benci untuk menjadi ‘tenar sebagai korban’, tapi setidaknya melalui kejadian itu aku membuktikan bahwa begitu mudah untuk menjadi pahlawan ketika kita menjadi yang terpinggirkan, yang terlukai dan tidak berada di posisi ‘mainstream’.
Pertanyaannya sekarang, nyamankah aku dengan kondisi itu? O well, aku tak mengukurnya pada intensitas kenyamanan terhadap diriku sendiri, aku justru ingin bertanya pada kalian yang mengungkap hal-hal seperti itu, nyamankah kalian untuk menerimaku sebagai pahlawan? :)
Raja Nyinyir
Untuk bagian ini, semuanya berawal mula dari tulisanku berjudul Kalian tidak sedang menjual blog kalian, kan?
Orang lantas menganggap aku nyinyir dan hal itu sama sekali tak membuatku keberatan. Nyatanya memang aku nyinyir, dan lebih baikku untuk nyinyir ketimbang bungkam karena kalau dengan kata-kata saja kita tak sanggup memberi perlawanan terhadap hal yang ‘mengganjal’ pemikiran kita, dengan apalagi kita akan melawannya?
Nyatanya memang aku nyinyir, dan lebih baikku untuk nyinyir ketimbang bungkam karena kalau dengan kata-kata saja kita tak sanggup memberi perlawanan terhadap hal yang ?mengganjal? pemikiran kita, dengan apalagi kita akan melawannya?
Banyak orang lantas menempatkanku di posisi orang yang anti terhadap blog berbayar, padahal itu salah besar. Tujuan utamaku sebenarnya hanya untuk membuat para blogger berbayar itu tak lantas ‘menjual diri’ terhadap produsen, itu saja! Secara pribadi aku memang menolak untuk menulis berbayar di blog ini (kecuali orang sudi membayarku satu milyar maka aku akan setuju! Ini semata-mata untuk menyatakan suatu ketidakmungkinan dimasukkan dalam perhitungan “mungkin”) tapi pada kenyataannya toh aku menyediakan diri untuk menulis bagi blog/situs perusahaan lain dan aku mendapatkan bayaran.
Masalah ‘blog berbayar’ lewat, datang aneka acara kopdar blogger ber-sponsor. Awalnya aku tak tertarik untuk kembali ‘nyinyir’ dalam isu ini kalau tak ada beberapa ‘mulut’ memberitahukanku intrik-intrik termasuk begitu besarnya uang mengalir ke kocek panitia dan event organizer, runyamnya tata acara dan segala macam tetek bengeknya yang membuatku tak tahan lagi untuk tak nyinyir di timeline Twitter. Ada orang terluka? Jelas, tapi resiko tanggung sendiri karena aku tak berniat melukainya. Aku lebih berniat menghancurkan niat dan opininya bahwa blog dan acara kopi daratnya adalah sarana untuk mencari laba! Dalam hal ini sedikit banyak aku begitu bersyukur tak berada di Tanah Air karena dengan demikian aku tetap ?tampak? netral karena aku toh tak bisa mendedikasikan waktu dan keberpihakanku pada satu atau dua acara dan memusuhi yang satunya.
Nyinyir lantas melekat pada diriku, setidaknya begitu kata sebagian orang termasuk Bukik, kawan sesama blogger yang konsisten. Dalam artikel yang didedikasikan untuk menuliskan profilku, ia memberiku predikat Raja Nyinyir. Sekali lagi, aku tak sanggup untuk tak berkata tidak setuju terhadapnya. Aku memang nyinyir dan bangga dengan kapabilitas tersebut.
KpdYth
“…tapi aku berani bilang di tengah lesunya gairah ngeblog di tanah air, KpdYth adalah hal terbesar yang ?bersih? dari segala gosip dan intrik di dunia blog tahun ini.”
Bukannya sombong, tapi aku berani bilang di tengah lesunya gairah ngeblog di tanah air, KpdYth adalah hal terbesar yang ‘bersih’ dari segala gosip dan intrik di dunia blog tahun ini.
Dua soal yang kusebut di atas barusan datang secara tak terduga, tapi KpdYth adalah sesuatu yang kurencanakan matang, kupublikasikan dan mendapat tanggapan yang … luarrr biasa bagusnya! Banyak orang menilai ideku ini adalah ide gila yang orisinil dan menurutku memang demikian adanya.
Ide awalnya tak perlu kuceritakan, karena kalian bisa mengakses di sini, berapa jumlah kartu pos yang kukirimkan juga tak perlu kusebarluaskan, karena ini menyangkut uang nanti kalian akan sibuk untuk menghitung berapa uang yang kukeluarkan untuk melakukan proyek sosial yang benar-benar sosial ini :)
Dan kalau mulai saat ini kalian sudah tak menemukan lagi ‘tab’ oranye di atas yang biasanya bertuliskan “Klik di sini” serta hilangnya form di postingan ini, semua adalah pertanda bahwa per hari ini, tepat ulang tahun DonnyVerdian.Net yang keempat, aku mengakhiri program KpdYth. Aku sedang menggodok beberapa ide baru untuk membuat blog ini lebih memiliki fungsi sosial, tapi segala macam pertimbangan toh harus kulakukan karena ini akan melibatkan waktu, tenaga, pikiran dan uang sementara aku memiliki pekerjaan utama dan keluarga adalah yang terutama.
So, tunggu saja…
KitaIndonesia
Di antara riuhnya acara-acara kumpul-kumpul blog ber-reklame setahun ini, ide untuk membuat satu komunitas tanpa kumpul-kumpul dan tanpa reklame muncul di benak! Tapi apa yang membedakan dengan komunitas-komunitas lainnya? Bagaimana kalau terjebak dalam duplikasi yang seragam? Bagaimana kalau tak bertahan lama?
Lalu terbentuklah KitaIndonesia.Net pada 17 Agustus 2011, beranggotakan khusus blogger-blogger Indonesia yang tinggal di luar negeri, termasuk diriku.
Iseng, beberapa orang bertanya kepadaku “Kenapa khusus yang di luar negeri? Bagaimana dengan kami yang ada di Indonesia? Tak boleh join kah?” Aku hanya tersenyum setiap membaca pertanyaan itu. Kalau boleh aku bertanya balik, barangkali aku juga akan bertanya, “Kenapa harus ber-reklame? Kenapa harus ada untung puluhan bahkan ratusan juta? Kenapa harus pake Event Organizer untuk menyelenggarakan sebuah acara blog? Kenapa harus ada singkir-singkiran untuk siapa menjadi panitia apa? Kenapa harus ada anomali?” Dan tentu masih banyak lagi pertanyaan yang ketika diarahkan pada mereka yang patut menjawab hanya akan membuat mereka melongo, berpikir sesaat dan menjawab sekenanya yang kuyakin tak kan sanggup memuaskanku, sama seperti aku yang tak kan bisa memuaskanmu :)
Personalisasi
Tahun ini aku gagal untuk membuat blog ini benar-benar keluar dari zona ‘personal’ku. Aku tak sanggup benar-benar tak memasukkan urusan personalku ke blog ini. Meski minim, tapi target yang kuurai tahun kemarin tak kesampaian.
Namun, bagaimanapun ini adalah kegagalan yang tak bisa diingkari dan digugat keberadaannya. Ia bersifat tetap, setetap kepergian Papaku untuk selamanya pada 7 April 2011 silam, sehari sesudah ia terserang stroke yang pertama sekaligus terakhirnya. Tak sampai sepuluh hari kemudian aku berhasil menuliskan serial yang menceritakan kepergiannya secara kuat, mengharukan namun sebenarnya aku justru menawarkan sebuah harapan bahwa meski kita pedih ditinggal orang yang kita cintai, tapi kita tahu bahwa ada Tuhan yang tak pernah berhenti menopang kita dengan skenario-skenario indahNya.
Kawan dekatku waktu SMA yang juga adalah seorang editor buku kenamaan, AA Kunto A secara khusus menyampaikan pesan kepadaku bahwa ia sering membagikan link tulisan tentang kepergian Papa itu kepada kawan-kawannya yang juga kehilangan orang tuanya. Ia menulis bahwa pendalamanku terhadap peristiwa kepergian Papa itu tertuang begitu detail dan luar biasa menggugat perasaan sekaligus menawarkan harapan untuk bangkit.
OK! Itu tahun lalu… Apa target untuk blog ini setahun mendatang?
Terus terang aku tak terlalu bernafsu untuk mengumbarnya di sini. Ada beberapa gelintir yang takutnya kalau kubuka malah nggak jadi, sementara sebaliknya, bukankah sesuatu yang disimpan akan berdaya lebih kuat pada waktunya ia ditampakkan?
Lagipula, kian hari, aku kian merasa bahwa blog ini adalah bagian dari hidupku sendiri. Ia bukan pakaian ataupun gadget yang kukenakan, tapi ia lebih seperti hidung, mata, kaki atau organ tubuh yang lainnya yang memiliki fungsi mendasar dan berguna bagi hidup. Ia bukan tamu di rumah hidupku yang cuma sebentar lalu pergi kuusir ia sudah lebih menjadi sebuah ruang dalam hidup ini yang setiap saat harus kuisi lebih karena kecintaanku terhadapnya dan daripadanya kusandarkan semua pemikiran dan opiniku.
Jadi, selamat ulang tahun yang ke-4 untuk blog-ku, DonnyVerdian.Net! Mari mengayuh lebih kuat lagi!
Tinggalkan Balasan