Catatan Romo Ardi (9): Batas

17 Agu 2017 | Cetusan

Kawan, engkau berbagi kegelisahanmu akan kematian. Mari kita rentang lebih jauh lagi hingga ke ujung segala: akhir jaman, batas dimana kesementaraan meluruh dan meleburkan diri dalam keabadian. Situasi yang tak terbayangkan karena kita begitu terbiasa dengan sekat waktu yang merenda kenangan masa lalu, kekinian yang elusif selalu bergegas melaju bersegera menjadi usang, serta kecemasan kegairahan harapan-kemungkinan masa depan. Bagaimana rupa realita manakala yang baru dan yang lama tak lagi ada? Bagaimana sebuah lagu dinyanyikan saat tempo yang memisahkan tinggi rendah nada lenyap dan dinamika yang merapatrenggangkannya senyap? Bagaimana sebuah tarian digelar saat gerakan yang memindahkan satu bentuk tatanan raga ke bentuk lain dalam kehalusan sebuah lambaian atau kegesitan yang menghentak hadir dalam keserentakan yang tak terceraikan? Bagaimana sebuah keindahan masih dapat mencuat menawan hati dan budi saat kesempurnaan mendapatkan kepenuhannya dan tak lagi ada kemungkinan lain darinya? Bagaimana pula sebuah nilai dan prioritas diterakan sedang setiap perbedaan mengandaikan pergerakan horizontal maupun vertikal, yang tanpanya semua itu tampaknya tak punya artinya. Aku pun tak tahu. Aku pun tak mengerti.

Kita berspekulasi tentang gambaran serba tak pasti dan membingungkan. Sebagian kita memeluk narasi yang diwariskan dari generasi ke generasi dan puas dengan keyakinan yang sesekali ditengok dan dirayakan bersama sebelum kembali tenggelam dalam rutinitas. Sebagian kita membekukan narasi itu menjadi sebuah dogma yang pantang dipertanyakan, yang untuknya darahpun siap ditumpahkan. Sebagian kita menegasi batas-batas dan melabeli segala sebagai ilusi. Dengan semangat melingkupi segala dinamika sebagai tak nyata, melucuti segala yang melekat, merelatifkan semua sembari mengecualikan diri sebagai yang mutlak, yang senyap, yang kosong. Sebagian mencari harmoni yang dapat memeluk entitas-entitas yang berseberangan dan konsep-konsep yang saling bertumbukan dan berlawanan. Sebagian memandang dengan hormat takjub, mencoba menangkap cahaya dan membiarkan diri digerakkan kuasa yang mengatasi segala. Sebagian tak peduli. Hidup sehari-hari sudah memberi terlalu banyak misteri dan ketidakpastian yang harus ditaklukkan satu demi satu, sebelum menyerah pada keniscayaan nasib yang tak terelakkan.

Seperti apakah keabadian dimana batas tak lagi hadir menyekat dan membelenggu? Apa jadinya jika kotak Pandora tak lagi menebar kepedihan saat di buka, dan wajah Rahwana tak lagi menerbitkan kengerian meski dia bermuka sejuta sekalipun? Apa jadinya jika kubur tak lagi pernah digali dan rahim tak lagi pernah menghadirkan puncak-puncak keajaiban penciptaan? Apa jadinya jika misteri kehilangan daya sensasi, debaran deburan hati yang meyertai harapan dan kecemasan akan tersingkap terungkap kesejatiannya? Apa jadinya jika awal adalah juga akhir, jika kini merapat lekat dengan yang lalu dan yang akan datang?

Nenek kakek moyang kita pernah melihat laut dan langit sebagai tepian semesta. Setelah kita putari dunia dan membuat tanah asing menjadi bagian rumah kita sebagai warga bumi, setelah kita amati semesta mikro renik pernik dan jelajahi alam raya menembusi debu-debu kosmos yang membuat kita seperti pasir di pantai yang tak berujung pangkal, kita masih juga tak tahu: dimanakah batas dari segala yang melampaui batas-batas yang kita akrabi? Setelah pengembaraan penuh hasrat dan keberanian, apa yang kita dapatkan selain seribu satu lebih lagi ketidakpastian yang harus kita tanggung?

Batas membuatku tahu bentuk rupamu. Mengenali kerenyahan tawamu, merasai energimu yang gelisah mencari relung palung yang lebih dalam untuk diselami. Tanpa batas aksara, bagaimana pula aku bisa memanggili namamu? Batas memberi adamu, adaku. Batas membuatku tahu engkau dan aku, kami dan kita, dia dan mereka, bukanlah satu titik kristal yang memancarkan banyak rupa yang sejatinya satu.

Batas membuat kemarahan membuncah saat proporsi wajar diterjang. Batas yang menipis melambungkan rasa ke langit ke tujuh saat kebersamaan menyelinap makin dekat ke kesatuan dan harmoni, kesalingan yang erat rekat. Bagaimana segala emosi dapat hadir jika batas tak lagi ada?

Batas digariskan dalam kisah purba, menandai wilayah kebenaran, yang lepas darinya menambahkan satu predikat: pemberontak, atau lebih lagi: pendosa. Batas melindungi kita dari ruang asing yang belum teruji terkaji kadar keselamatannya dan manfaatnya, memastikan kerekatan kita satu sama lain tuk saling menjaga. Bagaimana kita tahu kita terus bertumbuh, jika batas tak lagi ada, tak lagi mengundang kita untuk menelusuri dan melampauinya? Ataukah perkembangan itu tak lagi ada karena segala sudah utuh, penuh?

Ketakutan datang dari rasa tak berdaya dan naluri mempertahankan kuasa menentukan diri. Ketakutan datang dari penolakan atas kerapuhan diri dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih dari yang kita bisa pahami. Jangan-jangan, ketakutan sekecil apapun nantinya tak ada lagi, karena tak ada lagi yang perlu diinginkan, dipertahankan dan diperebutkan, saat yang bisa kita perbuat hanyalah menerima. Kecemasan tak lagi punya tempat karena tak ada yang bisa disembunyikan dalam alam baru serba jernih tembus pandangan, pendengaran, pencecapan, perasaan.

Jadi, apakah kita lalu baik berhenti mencecapi dan mencermati realitas yang terus mengembang ini, membangun rumah istirahat dan memuaskan diri dengan serpihan-serpihan kepastian yang memberikan kenyamanan dan rasa aman? Atau baiklah kita siapkan saja tenda dan bekal secukupnya, mengembara kemana Roh membawa, sembari berharap akan dituntunNya kita ke oase-oase teduh saat raga letih dan jiwa telah terlalu banyak luka? Atau acuh saja kita, business as usual, toh kita tak bakal mampu mengubah sebagian terbesar sejarah dimana kita hadir; membiarkan diri dengan sendirinya mengubah apa yang memang harus diubah dan membiarkan apa yang harus dibiarkan?

Kawan, biar kutandai episode ini bukan dengan titik yang mengakhiri rangkaian kata, sebagai sebuah janji bersua lagi sebelum keabadian merengkuh kita dalam pelukannya. Ah, bukankah kita juga sama percaya, kematian juga bukanlah titik yang menutup segalanya. Kita tak percaya kehidupan sesederhana itu. Masih begitu banyak hal belum tercurah dan tercerah. Maukah engkau mewarnainya pula dengan guratan pena dari kedalaman jiwamu?

Jadi,

Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J – 4 Desember 2012

Simak kumpulan tulisan?(alm) Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J?dalam tagar?Ardi Handojoseno. Tulisan ini adalah seperti ditulis almarhum dengan suntingan seperlunya oleh?Donny Verdian (DV). Diterbitkan atas ijin Ibu?Eleonora Suparlan?(Ibunda Romo Ardi).

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.