Catatan Romo Ardi (8): Bebas

15 Agu 2017 | Cetusan

Pada mulanya adalah kelahiranku sebagai manusia lemah dan tak berdaya maka begitu banyak pembatasan, peraturan tujuannya satu: melindungiku

Bertambah besar aku batasan fisik bergeser jadi batasan mental, jangan ini, jangan itu, harus begini harus begitu. Tujuannya masih saja sama: melindungiku. Bedanya : yang pertama agar aku selamat secara raga, yang kedua terutama agar selamat secara jiwa dan siap berkembang penuh pada saatnya..

Nah..
aku makin kuat, makin mandiri, maka kerangka sistem nilai dan asumsi secara kritis aku atur kembali sesuai hasil refleksi pribadi, sesuai misi dan visi yang berkembang, dari kesadaran nurani dan pikiran sendiri (yang tetap saja -semoga- dalam tuntunan ILAHI)

Pentingnya interaksi dengan lain-lain pribadi (antara lain) adalah memandang diri sendiri dari kacamata insan lain hingga aku jadi menyadari betapa kikuknya aku dengan standar dan batasan yang aku buat sendiri..

Iya. Aku bangun benteng yang tak perlu hanya untuk mencoba melindungi suatu hasrat hati untuk bersatu denganMU..

Padahal rahmat ALLAH tak akan dapat dipagari atau dikecilkan dan dilukai..

Selama IA berkenan apapun jua pasti akan terjadi..

Dan kukecap kebebasan kuhirup nikmatnya udara lepas berpegang teguh pada kepasrahan yang dalam.. dan kepercayaan total pada Penyelenggaraan ILAHI..

Biar saja ada salah paham dan salah menilai

Biar saja aku direndahkan dan diremehkan..

Pada saatnya..
Matahari akan bersinar terang karena tak ada lagi yang buram dan tertutupi..

Maka tak ada lagi alasan salah persepsi (andai masih saja terjadi apa boleh buat, tak semua orang cukup bermutu dan cukup terbuka hati)

Satu dalam karya dan kerja. Aku mau lebur dan sungguh hadir di sini. Tak boleh terlalu terpancang pada gambar dan harapan sosokku nanti..

Hingga lupa bahwa yang indah dan suci juga sudah hadir di sini, saat ini bahwa mutu karya bagaimanapun juga tergantung dari kesediaan hati untuk sungguh hadir menyatu dalam kekinian..

Dia,
dalam membaca gerak hati sesekali lepas dalam pesona alami menyapa segala keindahan yang ada kini..

Meresapi keberadaannya, mensyukuri kehadirannya, mencercap kenikmatan menjalin relasi dalam batas yang makin meluas makin mendalam..

Kebebasan akan terus berdialog dengan kebijaksanaan..

Tentu saja kendali diri tetap perlu..

Namun jangan mengekang diri berlebihan dan tak wajar, biasa saja..

Namun mawas diri senantiasa harus ada sebagai penjaga. Refleksi, kontemplasi agar makin peka oada kehendakNYA dan senantiasa berjalan menurut yang IA mau..

Ya…
kusambut kesegaran dunia
dengan warna segala
cerah ceria..

Di usia dan semangat yang muda dan menggelora. Kusapukan warna aneka pada kanvas hidupku..

Jangan cuma biru!
Apalagi kelabu!
Merah, kuning, hijau dan lain lain selama harmoni dan tak membawaku hilang daripadaMU..

Lahir kembali aku..
kali ini lepas segala beban dan batasan yang berlebih dan tak perlu..

Hidup mengalir sungguh..
Improvisasi dan keputusan tergantung situasi..

Tugasku memperkaya diri dengan aneka pengalaman..

Sedang garis besarnya biar TUHAN sendiri yang menentukan..

Aku akan melengkapi rincian dan asesori biar cantik dan indah rangkaian hidupku..

Terimakasih Tuhan, aku rindu kasihMU..

Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J – 22 januari 1996

Simak kumpulan tulisan?(alm) Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J?dalam tagar?Ardi Handojoseno. Tulisan ini adalah seperti ditulis almarhum dengan suntingan seperlunya oleh?Donny Verdian (DV). Diterbitkan atas ijin Ibu?Eleonora Suparlan?(Ibunda Romo Ardi).

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.