Catatan Romo Ardi (4): Ketika Tuhan Sedang Tersenyum

7 Agu 2017 | Cetusan

Ketika Tuhan sedang tersenyum, maka hari-hariku akan sungguh menjadi indah…

Sejak semula DIA hadir dalam segala peristiwa. Menyadari dan mengalami itu soal lain lagi karena manusia terlahir dengan segala keterbatasan dan kebebasan. Kita berhak berkembang dan menumbuhkan jalan. Diam tak dilarang, bergerak menyimpang pun dipersilahkan.

Namun pada umat pilihanNYA, IA berkenan menjaga dan merawat senantiasa agar dapat tumbuh kuat dan mantap untuk menyuarakan kasihNYA, menyatakan kehendakNYA, melanjutkan karyaNYA. Dan pada mereka, IA sentuh masing-masing secara pribadi sekali memberi makan diwaktu lapar, memberi minum jika haus, menghibur dalam kesedihan, menguatkan dalam keraguan, menenteramkan dalam kecemasan, menyirami dengan cinta kala hati kering dan kosong.

Dalam menyusuri pantai kehidupanku tak terbilang saat aku menjerit padaMU.. Dan selalu kutemukam jawabanMU..

Tidak selalu sama dengan yang kumau, tidak selalu sejalan dengan yang kuangan. Namun dari buahnya selalu aku dipaksa runduk menyerah dalam kepasrahan dan kekaguman yang amat sangat, “Tuanku… ENGKAU luar biasa!”

Paskah ini lagi..
dalam kepasrahan usahaku mencoba mengeja apa yang KAU mau dengan menggerakkan aku..
Untuk menggelar lagi konser keempat kali sementara memulainya sungguh sulit sekali..

Tuhan.. hanya kepercayaan kepadaMU yang kujadikan pegangan itupun berkali aku menjerit karena rapuh, dan sesekali hilang pandangan dari cakrawala sesekali lepas dan ragu seperti murid-murid di dalam kapal diterjang deru ombak riak gelombang dan angin kencang, sementara kulihat ENGKAU tidur dengan tenang…

Dan kini dalam fantasiku ENGKAU bangkit dan berseru “DIAM” maka angin dan badai pun reda dan dengan kasih mesra ENGKAU sapa dan tegur diriku, “Mengapa engkau kurang percaya”

Dan lihatlah…
Lihatlah hai mahluk semua..
DIA tersenyum padaku..
DIA tertawa padaku..
DIA raih tanganku
dan mengalirkan kegembiraan serta rahmat yang luar biasa. Aku sungguh merasakannya..

Dipeluknya aku,
Dan dibisikkan perintahNYA bagiku, “Karena kerelaan hatimu, AKU berkenan mengutusmu. AKU sediakan tugas perutusanmu dalam karya yang akan makin terbuka bagimu. Akan banyak tantangan namun sekaligus begitu banyak sukacita. AKU membutuhkanmu untuk menyalurkan rahmatKU. Menyentuh hati orang orang yang kupilih menjadi umatKU..”

Diciumnya keningku dan dibiarkan aku terbuai dalam kehangatan cintaNYA yang luas bagai langit tak berbatas, dalam bagai samudera..

DijanjikanNYA, “AKU akan memberimu penghiburan dan setiap kali penegasan sejauh kau mau terus memekakan diri terhadap kehadiranKU dalam segala peristiwa dalam setiap sosok sesama. Maka kedamaian dan ketentraman senantiasa ada padamu dan buah buah sukacita boleh kaupetik dan nikmati dalam setiap waktu yang kau jalani…”

Kala Tuhan sedang tersenyum DIA menggerakkan banyak orang untuk mewujudkan kehendaNYA membuatnya terlaksana dan menyempurnakannya dengan sentuhan ajaibNYA..

Kala Tuhan sedang tersenyum jiwa dan ragaku disegarkan dalam kelegaan dan kegembiraan, senyum dan tawa..

Tuhan…. terima kasih..

Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J – 25 April 1996

Simak kumpulan tulisan (alm) Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J dalam tagar Ardi Handojoseno. Tulisan ini adalah seperti ditulis almarhum dengan suntingan seperlunya oleh Donny Verdian (DV). Diterbitkan atas ijin Ibu Eleonora Suparlan (Ibunda Romo Ardi).

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.