Catatan Romo Ardi (1): Menjadi Orang (to be a man)

1 Agu 2017 | Cetusan

Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J telah berpulang menghadap Tuhan 8 April 2017 silam, tapi kenangan atas dirinya masih terus mengemuka pada keluarga dan kawan-kawan yang mengenalnya saat beliau hidup.

Tepat di hari peringatan St Ignasius Loyola, pendiri Serikat Yesuit kemarin, kuasa Tuhan mempertemukan dan memperkenalkanku dengan Ibunda Romo Ardi, Ibu Eleonora Soeparlan melalui jejaring Facebook.

Kami lantas bercakap-cakap melalui Facebook Messenger dan pembicaraan menjadi amat hangat tak hanya karena kami sama-sama mengenang Romo Ardi tapi juga karena ternyata leluhur beliau berasal dari kawasan Sidowayah, Klaten yang berseberangan dengan kampung halamanku, Tegal Blateran, Klaten.

Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J, medio 90an

Pagi tadi, Bu Eleonora menghubungiku. Beliau bercerita bahwa saat sedang bersih-bersih lemari buku almarhum, beliau menemukan beberapa catatan menarik Romo Ardi yang dibuat sebelum Romo masuk Serikat Yesus, sekitar dekade 1990-an.

Tulisan-tulisan Romo lantas dikirimkan kepadaku oleh Bu Eleonora dan ketika membaca yang paling mengesankanku adalah relasi antara Romo Ardi dengan Tuhan yang tampak amat intim.

Atas ijin Ibu Eleonora, aku memutuskan untuk mengunggahnya satu demi satu tulisan Romo di blog ini sebagai wujud penghormatanku atas hidup seorang Romo Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J yang kukenal baik, juga tentu saja sebagai sarana untuk memuliakan Allah melalui ungkapan rasa cinta Romo Ardi kepadaNya.

 

MENJADI ORANG…
-to become a man-

Menjadi orang adalah…
meniti setiap hari, jam, menit, detik yng sudah dikaruniakanNya secara penuh sadar dan mengolahnya dengan kesungguhan jiwa raga menjadi mutiara mutiara yng terangkai indah…

Setiap moment dan waktu adalah persembahan yng indah bagi Tuhan, sesama manusia dan diri sendiri..

Menjadi orang adalah…
proses panjang penuh juang, pencarian makna diri dan posisi pribadi lewat kerja karya macam apa aku bisa beri kontribusi maksimal…

Bagi dunia yang lebih baik, bagi hadirnya kerajaan Allah ditengah tengah jaman ini…

Syukur syukur bisa cukup berarti sehingga jadi teladan pola di kelak kemudian hari…

Menjadi orang adalah…
kepasrahan…biar Dia yang bekerja menggerakkan seluruh yang ada… Memekakan diri terhadap kehendakNya atas diriku dan atas diri orang lain kemudian berkata di ujungnya… Aku MILIKMU..

Aloysius Maria Ardi Handojoseno, S.J – Oktober 1995

Simak juga ‘eulogy’ Romo Ardi yang kutulis di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.