Catatan Natal: menolong yang lebih kaya, membahagiakan yang mayoritas

24 Des 2016 | Cetusan

Jumat, 23 Desember 2016.
Laju waktu di hari terakhir kerja tahun ini bergulir lamban. ?Orang-orang yang berlalu lalang tinggal segelintir karena sebagian lain sudah mengambil cuti Natal, menyisakan jalanan yang lengang, gerbong kereta yang juga kosong lebih dari sebagian.

Sekeluarku dari Town Hall Station, seperti yang sudah-sudah, aku mengambil ruas jalur ke arah Event Cinema di George St sebagai jalan pintas terdekat menuju kantor.

Tapi ada yang tak biasa pagi itu. Setelah keluar dari lorong, tepat di bibirnya yang bersebelahan dengan sebuah restaurant, seorang pemuda tidur di trotoar dengan wajah ditutup sebagian menggunakan selimut tipisnya seperti tampak pada foto di atas.

Di depannya tertulis dalam kertas kardus seperti ini (kutulis ulang)

Hi I’m 22 years old and homeless.
Can you spare any change to help me out. Thank you much appreciated. Merry Christmas.

Aku menyebutnya homeless, gelandangan.
Jumlah homeless di Australia kian hari memang kian memprihatinkan. Dari sensus yang dibuat pada 2011, di seluruh negeri terdapat 105.237 homeless dengan sebaran berdasarkan usia, usia sepantaran si pemuda tadi, 19 – 24 tahun, ada sekitar 15.325, atau 15% dari seluruh jumlah homeless yang ada.

Yang lebih memerihkan lagi, mereka menggelandang karena pilihan hidup, sesuatu yang amat dijunjung tinggi dalam alam ultra-bebas (dan kadang kebablasan) di Australia sini.

Jadi kubayangkan ada satu titik dimana ia memilih untuk hidup menggelandang ketimbang bekerja. Aneh banget, kan? Tapi hal itu harus dihormati sebagai pilihan hidupnya sendiri!

Tapi sebagai orang yang merasa dirinya pemalas tapi lantas berjuang segala daya untuk tak malas, aku terus terang gusar melihat pemandangan seperti itu. Rekan-rekan sepantarannya bersibuk-sibuk ria menggapai cita-cita, kenapa ia malah tidur di trotoar dan mengharapkan sedekah dari yang lewat di depannya?

Kenapa ia tak mencari kerja apa saja, toh di negara ini, pemerintah menekan habis-habisan pelaku bisnis supaya mengambil tenaga kerja sebanyak-banyaknya sehingga tingkat pengangguran turun?

Kenapa ia setidaknya tak belajar main gitar lalu ngamen, bukankah itu lebih baik dari sekadar tidur mengganggu orang lewat dan mengharapkan dollar?

“22 tahun? Dulu aku seumuran itu harus banting tulang cari uang untuk membiayai hidupku sendiri di Jogja!”

Aku lantas berlalu begitu saja…

Beberapa jam sesudah kejadian itu, aku menyesal dengan ketetapan hatiku tadi.

Harusnya aku tak menggerutu, tak pula mengatai dia. Bukan. Bukan karena aku harus menghormati pilihan hidupnya, tapi lebih karena aku seharusnya hanya punya dua pilihan, membantu atau diam saja.

natal

Kawan, dunia ini sudah penuh dengan keterbalikan. Orang yang perlu bantuan belum tentu orang miskin, orang yang perlu sokongan belum tentu kaum minoritas yang tertindas lagi tersingkir.

Ada banyak kesempatan dimana kita melihat justru orang yang lebih kaya secara jasmani dan duniawi yang perlu disorongkan bantuan kepadanya. Dan, bukankah dimana-mana sedang terjadi saat ini betapa kaum yang mengaku dari kalangan mayoritas malah ketakutan hanya karena senyala iman kaum minoritas yang tertindas?

Seolah apa yang kita lakukan ini bisa memporak-porandakan ‘kapal’ mereka. Seolah apa yang kita kenakan dan pajang sebagai simbol perayaan, jika dikenakan dan dilihat kaumnya, maka imannya akan menghablur seiring deru hujan di bulan desember.

Untuk itu mereka merazia? Untuk itu mereka memilih untuk tidak mengucapi kita selamat saat kita merayakan Natal?

Hey, kawan! Ingat, Natal adalah kita, dan kita adalah Natal.
Dua ribu tahun silam, Yesus hadir juga tanpa perhitungan bahwa Ia hanya akan menolong orang miskin dan tertindas saja. Ia menolong siapa saja, bagaimanapun strata sosialnya, apapun agama dan orientasi seksual serta pekerjaannya. Buktinya, pelacur, pejabat cukai dan istri-istri pejabat banyak yang jatuh hati pada pengajaranNya, pada pribadiNya yang begitu welas asih tanpa batas.

Jadi mari, justru kita bantu mereka tak peduli apakah mereka lebih miskin atau mayoritas? Lebih makmur dan digdaya.

Kita bantu apa yang membuat mereka bahagia. Kita gandeng, kita manusiakan dan kita dengarkan mereka. Kalau atribut yang kita pakai dianggap mengganggu interaksi kita dengan mereka, lepaskan saja karena bukankah yang paling penting itu yang ada di dalam hati melebihi dari segala yang lahiriah? Bukan pula karena takut, tapi lebih karena ada yang jauh lebih penting ketimbang atribut dan rasa takut itu sendiri yaitu kasih yang bisa kita salurkan dari Tuhan kepada mereka, mereka dan mereka.

Karena tantangan saat ini dan saat-saat nanti adalah sama; bagaimana menemukan Tuhan dalam setiap perkara yang kita hadapi, termasuk dalam segala kegetiran karena tekanan ini.

Selamat Merayakan Natal. Damai untuk semua.

Salam dariku dan keluarga,

DV

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Don, Selamat Natal buatmu dan keluarga, sekalian mau minta maaf karena ngga bisa aktif di grup WA Kabar baik. Udah lama ngga punya handphone. Punyaku dipake anakku yg sulung krn tinggal dan sekolah di Tomang sama mamahku (aku di kebon jeruk). Jadi inget dulu umur 22 tahun, masih tinggal di rumah ortu tp udh nyari uang sendiri mulai dari kerja di kantor dan ngasi les anak2 SD jadi bisa bantu papahku dan adek yg masih kuliah.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.