Catatan ini tentang mereka yang terkungkung nama besar orang tua

20 Sep 2018 | Kabar Baik

Kisah tentang bagaimana Yesus ?dilecehkan? di kampung tempat asalNya sendiri itu mengingatkanku pada beberapa kawan yang hidupnya seolah terkungkung karena bayangan orang tua atau leluhurnya.

Yesus dilecehkan ketika Ia mengajar dengan begitu bagus dalam rumah ibadat. Bagi para tetangga yang mengenal Yesus serta keluargaNya, Ia adalah anak Yosef dan Maria (Lukas 4:22) tak lebih!

Salah seorang kawanku ia anak pengusaha kaya yang ternama di kota asalnya. Kawanku ini otaknya cemerlang dan ketika berkarir di perusahaan milik orang lain, ia memiliki jabatan yang begitu tinggi.

Tapi suatu saat, kawanku memutuskan keluar dengan alasan ingin membuktikan.

?Pembuktian? Apalagi?? tanyaku.

Ternyata ia ingin membuktikan pada lingkungan sekitarnya bahwa ia juga bisa jadi pengusaha yang lepas dari bantuan ayahnya. Bersama beberapa kawan ia lantas membuka usaha. Banting tulang, kerja keras siang dan malam pun akhirnya membuahkan hasil! Usahanya maju dan produknya dikuasai orang.

Namun sayang, ketika media mengendus bahwa kawanku tadi adalah anak pengusaha kaya, pandangan orang berubah, ?Yah, pantes kalau berhasil! Dia anak pengusaha itu! Pastilah didukung modal besar-besaran! Nggak heran!?

Kawanku yang lain anak seorang seniman besar. Darahnya dialiri seni sejak kakek-neneknya. Tapi karir seni kawanku tadi dianggap oleh khalayak tidak atau belum semoncer para pendahulunya.

Apakah ia tak bisa berkesenian? Bukan! Ia dianggap tak moncer karena orang-orang menakar karya seninya dengan karya seni orang tuanya. ?Ah masa cuma segitu? Dia kan anak seniman besar, harusnya karyanya bisa lebih baik daripada itu!?

Kawanku tadi jelas tak senang ?dibegitukan?, tapi ia tak punya cara lain selain berusaha dan terus berusaha untuk keluar dari bayang-bayang orang tua meski ia sendiri tak tahu bagaimana cara dan kapan hal itu bisa terjadi.

Terlepas dari seberapa hebat orang tua, tak semua anak suka untuk dikaitkan dengan para pendahulunya.

Mereka, anak-anak itu, adalah juga seperti halnya sebilah anak panah yang ingin lepas bebas tanpa label sebagai ?Anak A? atau ?Anak B?.

Adalah kita, kawan, saudara, sahabat dari mereka yang seharusnya mengambil posisi sebagai orang yang mengerti perjuangan berat itu. Atau setidaknya, ketika benar-benar tak bisa memberikan penilaian baik, diamlah jangan nyinyir!

Nyinyirmu mungkin sepele tapi amat berat untuk diterima oleh mereka. Ingatlah juga bagaimana Tuhan yang dulu pun dinyinyiri tetangga-tetanggaNya yang seolah tak percaya perkataan-perkataan indah keluar dari anak Yusuf dan Maria?

Masing-masing dari kita pasti punya leluhur, dan orang tua.?

Tapi tak selamanya kita ingin dikenal dan dikenang karena mereka. Kita memiliki hidup dan identitas sebagai diri sendiri, sebagai pribadi yang juga dicintai Allah dan berhak untuk menjalani hidup apa-adanya, sebebas-bebasnya?

Bandar Udara Halim Perdanakusuma, 20 September 2018

Jangan lupa isi?Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan.?Klik di sini?untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.