
Hari ini, 20 tahun yang lalu, gempa besar mengguncang Jogja dan sekitarnya.
Aku ingat pagi itu sedang tidur di kantor di sekitaran Papringan, Jogja, lalu tiba-tiba suara gemuruh hebat dan hempasan yang mengguncang naik-turun, kiri-kanan, aku dan beberapa kawan lain yang juga bermalam di kantor pun lari berhamburan keluar menyelamatkan diri. Belum pernah aku merasakan gempa sehebat itu selama hidup.
Jogja pun luluh lantak.
Enam ribu korban jiwa jatuh, entah berapa yang terluka dan ada begitu banyak rumah-kantor rubuh, bahkan beberapa pusat perbelanjaan yang baru buka di Jl Solo rusak.
Hari itu, seperti yang kutulis dalam buku yang kemudian diterbitkan secara publik beberapa bulan sesudahnya bertajuk Detik-Detik Menghempas, aku melihat sisi dari kota Jogja yang gak pernah kulihat sebelumnya. Sejak pindah pada 1993, Jogja itu sarat dengan keriaan dan petualngan masa muda, tapi pagi itu, aku melihat Jogja dari sisi pandang kedukaan yang teramat dalam.
Dua puluh tahun sesudahnya, menengok ke belakang, sebenarnya gempa pagi itu bukan hanya mengubah Jogja dari dimensi duka saja, tapi juga mengimbuhkan dimensi lain tentang Jogja sejak saat itu hingga beberapa waktu berikutnya.
Jogja menjadi lebih internasional!
Bukan karena Jogja adalah destinasi wisata terbesar kedua setelah Bali, tapi karena gempa, Jogja menjadi destinasi, mungkin yang kedua terbesar setelah Aceh, bagi para non-government organisation (NGO) yang kebanyakan berasal dari luar negeri.
Mereka datang untuk memberikan bantuan atau lebih tepatnya menjadi operator dari bantuan-bantuan yang dikirim dari luar negeri untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.
Para bule jadi lebih banyak berlalu-lalang.
Mereka tentu membutuhkan tenaga kerja lokal. Teman-teman yang dulunya hanya kuliah, mendapatkan sangu tambahan dari bekerja di NGO. Teman-teman yang dulunya bekerja di bidang-bidang ‘konvensional’ memilih untuk keluar dari pekerjaan dan masuk ke NGO juga. Mereka mengerjakan banyak hal mulai dari pemeriksaan lapangan, administrasi dan banyak hal lainnya.
Teman-teman jadi lebih fasih berbahasa Inggris.
Pulang kerja yang biasanya nongkrong di angkringan pindah tempat ke coffeeshop-coffeeshop yang waktu itu memang mulai banyak bertebaran. Menenteng laptop, menggamit rokok, menyesap kopi dan bekerja. Budaya nge-beer sepulang kerja juga seingatku makin merebak waktu itu.
Gajinya rata-rata berapa? Aku tak tahu, tapi yang kutaksir sih lebih banyak dari yang sebelumnya mereka terima. Ada juga satu-dua yang panen raya. Mereka jadi bisa membuka usaha dan beli rumah. Ada juga yang serius melanjutkan karir di NGO, mereka direkrut untuk dipekerjakan di tempat-tempat lainnya. Dan… ada juga satu-dua yang kukenal bertemu jodoh di sana…
Aku tentu tidak tertarik untuk bergabung waktu itu karena selain bekerja di perusahaan sendiri, fokusku adalah untuk mempersiapkan pernikahanku dan pindah ke Australia.
Dua tahun kemudian, 2008, ketika pindah ke Australia, “trend NGO” masih ada di Jogja. Aku nggak mengikuti hingga kapan trend itu berakhir…
Aku mengenang para korban jiwa yang jatuh pada pagi itu dan pagi-pagi selanjutnya…
Damai di sisiNya!
Tinggalkan Balasan