Cakra Manggilingan

25 Feb 2012 | Cetusan

oleh Hanny Kusumawati*
(1)
Lima puluh sembilan jam bersamamu praktis dilewati dalam diam. Kamu hanya angkat suara untuk hal-hal yang dirasa perlu saja.
Toilet dulu.
Mau beli rokok.
Balik duluan, ya.
Kamu akan mengangguk untuk ya. Menggeleng untuk tidak. Mengangkat bahu untuk terserah. Lantas kamu akan kembali terdiam. Membakar batang demi batang rokok sekhidmat orang membakar dupa, kemudian menangkapi momen dari balik lensa kamera. Ada sesuatu yang sakral pada caramu mengalungkan kamera itu di leher, juga caramu menggenggamnya erat-erat bahkan ketika kamu sedang tidak hendak memotret. Aku jadi teringat akan sebuah masa lalu yang jauh: pada imaji suster-suster Katolik dengan kalung salib yang tengah berdoa Novena.
Sesiangan kemarin, di Karangasem, aku memandangimu dari kejauhan. Kamu duduk berjam-jam di tepi pantai. Memeluk lutut sembari memandangi ombak yang sebentar datang sebentar pergi. Kamu terlihat seperti siluet yang sedih pada pantai yang sedih. Di tempat ini, dulu, seorang wartawan sepertiku ditemukan tewas dibunuh. Aku tidak tahu kapan giliranku. Mungkin sebentar lagi. Mungkin masih lama. Mungkin maut menjadi ramah padaku. Atau tidak.
Hari ini, ketika aku menemuimu pagi-pagi sekali, kamu masih juga menjaga sikap diammu. Seperti sebuah laku pada tari-tari. Kamu tak mengatakan kemana kamu hendak pergi, sementara aku harus bekerja mengirim berita. Jadi kusarankan kita bertemu di Monkey Forest Road menjelang senja. Kamu tidak berkata-kata dan hanya mengangguk saja.
Tiba-tiba aku kangen kamu. Yang dulu. Yang ramai dan banyak bicara. Yang selalu riuh bercerita tentang apa saja. Termasuk mengenai penanggalan Jawa.
* * *
(2)
Aku bukan Wage, tetapi Pahing. Kamu bilang, orang Pahing mudah menangis. Dalam penanggalan Jawa, hari Pasaran ditandai berdasarkan posisi bulan: Kliwon (berdiri), Legi (istirahat), Pahing (menghadap ke depan), Pon (tidur), Wage (duduk). Belakangan, Wage dan Pahing selalu membuatku teringat akan saat-saat ketika kita duduk berhadap-hadapan. Ditemani berbotol-botol bir dingin dan bergelas-gelas kopi hangat. Aku bertanya-tanya bagaimana kombinasi rasa keduanya ketika kamu mengantarkannya ke atas bibirku.
Lalu kamu bercerita tentang delapan tahun Jawa.
Purwana/Alip (ada-ada), tentang permulaan dari sebuah harapan. Karyana/Ehe (tumandang) tentang menciptakan. Anama/Jemawal (gawe) tentang mengerjakan. Lalana/Je (lelakon) tentang perjalanan. Ngawanga/Dai (urip) tentang kehidupan. Pawaka/Be (bola-bali) tentang kembali pulang. Wasana/Wawu (marang) tentang tujuan. Swasana/Jimakir (suwung) tentang ketiadaan. Bersama-sama, kedelapan tahun ini membisikkan pesan bijaksana yang belakangan selalu kubawa-bawa kemana-mana. Ada-ada tumandang gawe lelakon urip bola-bali marang suwung. Semua bermula dengan perjalanan mengarungi kehidupan dan pada akhirnya selalu kembali kepada ketiadaan.
Proses kehidupan yang berputar ini kemudian disebut Cakra Manggilingan, katamu. Roda penggilingan gandum yang selalu berputar. Mungkin konsep ini dibawa oleh orang-orang Hindu dari India ke tanah Jawa (atau bisa juga sebaliknya, kamu bilang kamu belum mempelajari sejarahnya benar-benar). Cakra Manggilingan mengingatkanmu pada Kabir, sufi bagi kaum Muslim dan yogi bagi kaum Hindu di abad ke-15.
Chalti chakki dekh kar, diya kabira roye. Dui paatan ke beech mein, sabit bacha na koye.
Chakki chakki sab kahe, keeli kahe na koye, jo keeli ku laag rahey, baal na baaka hoye!
“Chakki adalah alat penggiling gandum. Biasanya terbuat dari batu, dan terdiri dari dua bagian (atas dan bawah), melambangkan awal dan akhir kehidupan. Semua makhluk melewati kehidupan seperti biji-biji gandum yang dihancurkan di atas roda penggilingan. Jika diperhatikan baik-baik, sesungguhnya bagian penting dari roda penggilingan ini adalah titik pusat tempat roda berputar. Titik pusat ini melambangkan inti kehidupan (sebagian orang menyebutnya Tuhan, sebagian lagi menyebutnya Cinta). Biji-biji gandum yang berada dekat dengan titik pusat, biasanya tak ikut tergilas hancur; sama halnya dengan manusia yang berada dalam kedekatan dengan inti hidupnya,” katamu.
***
(3)
Aku menemukanmu pada batas senja, dan kita berjalan menuju Nyuh Kuning. Di sana ada sebuah rumah makan yang menyajikan pertunjukan tari Kecak Ramayana dan Fire Dance.
“Biarlah sesekali kita pura-pura jadi turis,” ujarku waktu itu, sambil melambai-lambaikan brosur agen perjalanan di tangan. Kamu hanya tersenyum tipis.
Kita pun duduk lesehan di sebuah bale. Memunggungi hamparan sawah yang disinari bulan, ditingkahi suara jangkrik dan bunyi kemeresak. Mungkin angin. Tikus. Atau ular. Nyala lilin mengambang dalam satu sloki minyak kelapa di atas meja. Lalu barisan penari Kecak dengan kulit coklat keemasan dan obor di tangan berjalan pelan-pelan, menyusuri pematang yang mulanya pekat. Kini obor-obor mereka membuat titik-titik di kejauhan serupa kunang-kunang. Empat puluh lima menit yang terlampau cepat ditingkahi dengan suara decak bersahutan dan bara-bara api yang menyala dalam gelap. Hanoman berhasil membebaskan Sinta dari sekapan Rahwana dan mengembalikannya ke pangkuan Sri Rama.
Sepanjang pertunjukan itu, kuperhatikan kamu sama sekali tidak mengambil gambar. Dalam perjalanan pulang menuju Tjampuhan, kamu akhirnya memecah sunyi selama lima puluh sembilan jam itu dengan sebuah pertanyaan: apakah dalam kisah Ramayana itu, Hanoman sesungguhnya diam-diam mencintai Sinta; bahkan jauh lebih dalam daripada cinta Sri Rama?
“Mungkin tak terlalu penting mempersoalkan siapa yang lebih mencintai Sinta,” jawabku sambil membakar sebatang rokok. “Pada akhirnya, bukankah yang paling penting adalah perihal siapa yang sesungguhnya dicintai Sinta?”
Reaksimu adalah tangis yang tergugu. Hingga lewat hitungan jam yang keenam puluh.

Hanny Kusumawati (@beradadisini), Dia menggoreskan kata dan garis di mana-mana. Suka mendengarkan Eminem, Owl City, dan Strings sambil membaca Murakami, Yoshimoto, Lahiri, Umrigar, dan Budi Darma.
Anda ingin menjadi penulis tamu di situs ini seperti Hanny? Silakan baca informasi di sini
Sebarluaskan!

7 Komentar

  1. so sweeeeettttttttttttt suka bacanya, saya jumat kliwon (laporan)

    Balas
  2. Hemm….
    Ku masih beradadisini dan asyik banget menyimak kata demi kata dalam jurnal ini…
    Dan sejatinya masih berharap dilain kesempatan ada pembahasan tentang “sedulur papat lima pancer” setelah Cakra Manggilingan ini…
    Entah tulisannya mau beradadisini ataupun beradadisana… Ku rela emengikutinya…

    Balas
  3. Tulisannya mbak hanny apik tenan T.T

    Balas
  4. sita membuktikan cintanya dalam bara batara brahma.
    saya coma umanis.

    Balas
  5. penulis yang baik lagi nih.. di program wage… ikutin ah…

    Balas
    • Ayo, kirim tulisanmu!:)

      Balas
  6. Jadi? Siapa yang dicintai Sinta?

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.