Buzzer politik dan usaha kita untuk berlaku adil terhadap logika

18 Jul 2017 | Cetusan

Berita politik tak pernah kehilangan pamor dan penggemar terlepas apakah situasi politik sebenarnya menghangat ataupun dingin pisan! Mungkin juga karena tingkat kekepoan kita yang maksimal tapi aku lebih memandang ketertarikan kita terhadap berita politik itu karena kepekaan dan kecintaan kita terhadap nusa dan bangsa.

Maraknya berita politik tak lepas dari jasa para buzzer politik yang menjejali kita dengan berbagai macam informasi dan opini sesuai keinginan mereka.

Buruk? Tak semuanya! Tapi juga tak semuanya tidak busuk!

Ada yang benar-benar bagus analisa dan cara penyajiannya tapi yang paling buruk, terlepas dari mutu tulisannya adalah jika seorang buzzer tutup mata dan membutakan cintanya terhadap tokoh junjungannya, majikannya.

Kebutaan dan ketidakterbukaan mata membuat tulisan-tulisan mereka, sebagus apapun, jadi tak berimbang dan monoton! Sialnya mereka tak peduli pada ketidakberimbangan itu. Ancaman UU ITE tak membuatnya takut karena makin seru dan makin banyak ancaman, makin kuat dan tinggilah pamor mereka!

Semakin dipergunjingkan, semakin banyak orang yang akan mengundangnya bicara dalam seminar-seminar ‘kalangan sendiri’ atau semakin banyak alasan untuk mencetak buku meski aku tak tertarik untuk mengetahui apakah isi bukunya akan sama dengan blognya atau tidak? Karena kalau sama saja dan mengusung penokohan majikan yang itu-itu pula, alangkah sayang lembar demi lembar kertas yang bersumber dari kayu yang dihabiskan hanya demi masturbasi popularitas semata?

Ujung-ujungnya? Ya duitlah!

Melalui tulisan ini aku tak menyarankan kalian untuk anti terhadap buzzer politik tapi setidaknya kita harus pandai memilah mana buzzer politik yang mencerahkan dan mana yang menyesatkan! Aku tak hendak memberi daftar nama siapa saja mereka karena selain aku tetap ingin menghormati pribadi-pribadi mereka, aku lebih memilih untuk memberikan ciri terhadap tulisan-tulisan mereka yang layak untuk dijadikan waspada.

Bagiku, seorang buzzer politik yang buruk memiliki pola tulisan ajeg nan statis dengan garis besar alur ‘cerita tulisan’ seperti di bawah ini:

1. Topik bombastis

Biasanya mereka membuka dengan topik menarik dan judul yang tak kalah bombastisnya. Paragraf-paragraf awal digunakan sebagai pendombrak berbekal penggalan-penggalan berita-berita headline koran dan televisi atau selentingan yang mereka dengar dari kanan-kiri.

Misalnya begini,

“Pelarangan komoditi bawang merah oleh pemerintah itu adalah cara yang amat efektif untuk melawan bau mulut! Saya bingung dengan mereka yang tidak setuju? Maunya apa? Bergerak salah, tak bergerak dipersalahkan!”

Orang-orang jadi tercenung dan kagum menggumam, “Bener juga orang ini!” lalu mereka penasaran dan scroll ke kalimat-kalimat selanjutnya…

2. Ulasan yang dangkal nan kering

Setelah sukses membombardir di paragraf-paragraf awal, mereka membubuhi analisa-analisa dangkal nan kering dalam beberapa kalimat tak panjang.

Cirinya ada dua.
Pertama mereka menghajar pihak lawan tanpa pandang bulu melalui kata-kata sekaligus menjunjung tokoh junjungannya.
Kedua, mereka menggunakan jargon-jargon yang familiar dan kesannya keren seperti misalnya, “kelompok sebelah”, “sumbu pendek”, “bumi datar”, “kafir”, “antek PKI/komunis” untuk menarik simpati dan mengambil hati orang tanpa mempedulikan analisa apa yang mereka bawa sebenarnya.

Misalnya begini,
“Tahulah kita alasan H^&^& R^&*^& (di artikel aslinya pasti menulis nama terang tanpa masking character seperti itu -red) lari ke luar negeri! Soalnya dia bau bawang merah! Makanya sah kan bahwa pemerintah melarang komoditi tersebut karena merusak relasi! Kalau mau tak dicegah ya ikuti aturan negara! Itulah kedaulatan! Dasar sumbu pendek! Kafir! Antek PKI!”

Orang tak kan memperhatikan logika antara bau mulut dan bawang merah, orang tak memperhatikan apa itu kedaulatan dan aturan negara karena mereka terhibur dengan keberanian si buzzer menyebut nama tokoh yang jadi lawannya dan penggunaan istilah-istilah seperti ‘antek PKI’, ‘kafir’ yang menurut beberapa orang barangkali ilmiah nan keren.

3. Menutup dengan kalimat-kalimat yang lagi-lagi bombastis sembari meninggalkan pesan yang diulang-ulang dari tulisan sebelumnya; trademark.

Tak memanjang di analisa, mereka langsung menutup tulisan dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya nggak nyambung tapi terkesan disambung-sambungin karena pilihan-pilihan diksi yang populis yang menyamarkan korelasi antara pembukaan dan analisanya yang dangkal tadi.

Misalnya begini, “Atau jangan-jangan mereka melawan pemblokiran bawang merah itu karena mereka tak berakal sehat? Jancuk koen! Kebanyakan makan micin!” Lalu ditutup dengan tradermarknya semacam, “Pipis dulu” atau “Pipis yuk!”

Lalu orang pun tertawa manggut-manggut membaca sambil bergumam, “Bener banget… keren! Dahsyat orang ini!” lalu memencet tombol share di handphone-nya untuk menyebarkan tulisan itu menjadi polutan, menjadi jelaga yang memenuhi langit-langit WAG, Facebook, Twitter dan kanal-kanal social media lainnya!

Jadi, jauhilah tulisan-tulisan yang ditampilkan buzzer politik yang seperti itu. Perasaanmu mungkin terpuaskan dengan begitu banyak bombardir kata-kata bombastis tapi kasihanilah dan adilah terhadap logika dan kepandaianmu. Jangan sampai gelak tawa dan isak air matamu mengalahkan pikiran waras sebagai seorang anak bangsa karena di pundakmu lah masa depan bangsa dipertaruhkan!

Mending baca tulisan-tulisan online yang menurutku berbobot dalam hal politik seperti tulisan-tulisan bernas milik Tirto atau sentilan lucu dan menggoda tapi tak bombastis ala Mojok.Co misalnya.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Albert Einstein. Suatu kali, genius dari awal abad 20 itu berkata, Politik itu lebih sulit ketimbang Fisika!

Apa yang dikatakan Albert itu benar! Politik lebih sulit karena tak bisa ditebak seperti Fisika yang terhitung jelas dan tepat!

Jadi kalau kalian mengira politik itu pasti bombastis seperti yang ditulis, jangan-jangan sang penulis sedang mempolitisasi dan memonetisasi politik itu sendiri karena sejatinya politik adalah dinamika hidup yang berbasis pada perkara nalar denganm sedikit kejutan di sana-sini.

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. apik, Don… aku masuk kategori mana, yaaa??? ?

    Balas
    • Kamu bukan buzzer politik, kamu komunikator politik :)

      Balas
  2. Daripada membaca tulisan buzzer politik, mending baca tulisan bernasmu Don ;)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.