Butuh Validasi?

Awalnya aku geli melihat di Threads belakangan ini ada banyak orang berusaha menarik perhatian supaya yang nge-like dan yang nge-comment banyak. Tapi kegelian itu sirna ketika melihat diri sendiri! “Hey! Bukankah kamu juga masih kadang seperti itu bahkan lebih parah, Don!”

Pernah juga mendengar kabar ada oknum runner yang demi validasi sampai harus menyewa joki (membayar orang lain untuk lari mewakili dirinya dengan menggunakan piranti tracker) supaya di komunitas, si runner lebih dihargai dengan menunjukkan statistik trackernya? Duh! Bro! Sis! Kalau cuma untuk ngakali statistik, pakai AI aja gratis!

Semua orang butuh validasi, sadar-gak-sadar, dan itu wajar. Sejorok apapun levelnya ya nggak papa… Malah, hidup tanpa keperluan untuk divalidasi adalah hidup yang nir-tujuan.

Ketika ada seorang yang berani bilang bahwa hidupnya lepas-bebas tanpa peduli validasi orang lain, sejatinya, menurutku pada saat yang bersamaan dia justru butuh validasi! Validasi bahwa hidupnya gak butuh divalidasi hahaha…

Tinggal bagaimana kita mengelola dunia per-validasi-an, itu yang kemudian membedakan. Hidupku masih perlu validasi setidaknya dari dua pihak.

Pihak pertama, keluarga.
Makin ke sini aku makin mengerti bahwa panggilan hidupku ya untuk keluarga. Perjalanan setelah menikah adalah memenuhi janji pernikahanku di depan Allah; bahwa aku harus setia dan mencinta dalam kondisi apapun: untung dan malang, sehat dan sakit hingga maut memisahkan.

Artinya, ketika bekerja, validasiku  bukan semata untuk karir yang kinclong dan jabatan yang mentereng tapi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. 

Ketika harus beli sepeda, validasinya bukan supaya ketika selfie jadi keren karena ada sepedanya tapi untuk penghematan biaya transport dari rumah ke stasiun kereta terdekat sekaligus olahraga! 

Atau ketika aku sesekali minta ijin istri dan anak-anak untuk nongkrong dengan teman, nonton konser atau sekadar bersuara di social media, validasi yang paling masuk akal dalam kaitan dengan keluarga ya supaya aku mendapatkan sedikit hiburan di waktu senggang karena dengan hati yang terhibur bukankah beban hidup itu terasa lebih ringan untuk dijalankan?

Yang kedua dan yang utama adalah Tuhan.

Sebagai orang beriman, aku percaya sesudah mati nanti, perjalanan hidupku selama di dunia akan divalidasiNya; apakah aku layak masuk Surga atau pantasnya dibuang ke neraka?

Untuk itu, sekujur hidupku haruslah kubaktikan melalui cara-cara yang kuanggap benar. Cara itu bernama agama. Mendalami agama jadi faktor yang penting, sama pentingnya dengan menjalankan ajaran-ajaranNya dalam hidup sehari-hari.

Di titik yang paling praktikal yang kuterapkan, ketika sedang hendak melakukan apapun, sebisa mungkin aku menghadirkan dialog imajiner antaraku dengan Tuhan sebagai validator.

“Tuhan, boleh gak ngelakuin ini?”
“Tuhan, dikit aja deh! Aku tahu salah tapi nanti aku ngaku dosa kok di Gereja!”

Perkaranya aku ini kan makhluk lemah. 
Mentang-mentang Tuhan itu gak kasat mata lalu narasi tentangNya kadang kubikin seenak hati. Aku paling senang membayangkan Tuhan sebagai sosok bapak-bapak yang penuh senyum dan pemakluman seolah semua yang kita lakukan pasti diperbolehkan. Padahal? Nyatanya? Ya entah! Untuk yang satu ini aku merasa gak perlu tergesa-gesa untuk memvalidasi. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan di dunia…

Sebarluaskan!

Comments

2 responses to “Butuh Validasi?”

  1. Mengejar validasi akan mengeluarkan energi lebih besar dengan hasil yang tak pasti. Memilih jalan sunyi tapi tetap berisi itulah si java harmony. Sepi ing pamrih, rame ing gawe…hehehe…

  2. Orang normal butuh pengakuan dari orang lain karena dia punya kesadaran penuh, kecuali sudah menjadi petapa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses