Bu Mien

9 Agu 2017 | Cetusan

Minggu lalu, ibu mertua adikku meninggal dunia.

Namanya Ibu Estherina Harmini. Aku mengenalnya sebagai wanita jawa yang amat bersahaja. Pertama kali ketemu beliau saat Papaku meninggal, 7 April 2011. Ia bersama suaminya, Pak Tedjo, anak pertamanya Ratna Anggriani dan suaminya, Unang Setia beserta Ayok Prabowo yang waktu itu masih pacar adikku, datang melayat.

Bu Mien yang kuingat adalah sikapnya yang begitu hormat kepadakupadahal aku ini hanyalah kakak dari menantunya.

Bu Mien menyambut kematian dengan begitu indah dan tenang dan hal ini kupercaya sudah jadi kehendakNya mengingat apa yang telah dilakukannya secara baik sepanjang hidup Bu Mien, percaya kepada Yesus.

Ada catatan menarik yang rupanya ditulis pada menjelang akhir hidup Bu Mien yang membuatku teringat pada catatan yang juga pernah dibuat Papa, lima hari sebelum ia wafat, 7 April 2011 silam.

Papa dulu menulis ini,?“Rasa takut itu muncul ketika perasaan tak mampu mengendalikan” seperti tampak pada foto di bawah:

Sedangkan Bu Mien menuliskan hal ini seperti ditulis ulang oleh anak sulungnya, Ratna di laman facebooknya.

Maut begitu nyata ketika ia menyumbat nafas terakhir keluar dari tubuh kita.

Dan kemudian kita merasakan tangan YESUS. IA menuntun kita melewati kematian menuju ke seberang.

YESUS berkata :
Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Jadi mengapa kita harus khawatir?
Tenangkan..
Tenangkan hatimu..
Jiwamu

Ketika Anda takut berjalan melewati lembah maut, dengarkan bunyi dentingan kunci. Itu adalah YESUS.

IA datang untuk membuka pintu agar Anda bisa masuk ke dalam rumah BAPA-NYA.

DOA MENGHADAPI MAUT
TUHAN terimakasih karena aku bukan anak yang terkunci. Lampu telah menyala di rumahku yang kekal dan Engkau akan ada di sana untuk mengijinkanku masuk.

TUHAN berilah aku keberanian untuk menerima rasa sakit dan iman untuk melihat rencana Mu.

Dan bawalah aku hidup bersama Mu ketika aku mati.
TUHAN berilah aku iman untuk menemui Mu di pintu kematian, sertailah aku ketika aku mati.
TUHAN aku mempercayai Mu dalam segala hal.
Amin.

Ini catatan aslinya. Tulisan tangan Bu Mien.

Membaca dan meresapi tulisan Bu Mien, semoga kita semua semakin percaya bahwa menghadapi kematian itu tak hanya butuh keberanian tapi juga keyakinan. Yakin bahwa Yesuslah kunci hidup kita di dunia dan pula di akhirat.

Sepindah malih, sugeng tindak, Bu Mien. Mugi katampia wonten sunaring pepadang Dalem Gusti Yesus lan saget ngaso kanti tentrem ing pangayunan Dalem Gusti. Salam kagem Papa ugi Mama.

Simak juga serial wafatnya Mama (di sini) dan Papa (di sini)

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Terima kasih banyak sudah mengabadikan secuil “jiwa” Mama Mien di salah satu tulisan Super Blogger Indonesia. Indahnya membayangkan kelak kita ikut “reuni” di Sana.. Sungguh bersyukur jika memiliki pengharapan di dalam Tuhan YESUS KRISTUS. Gbu n fam Donny Verdian.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.