Blontankpoer: Jangan memaksa blogger untuk menulis

28 Nov 2013 | Cetusan, Harblognas

Sejak awal ngeblog, satu hal yang selalu kuyakini dan kuamini hingga kini dan mungkin untuk selamanya adalah, untuk jadi seorang blogger keren, kamu nggak perlu berorganisasi.

Benar, aku memang pernah nyemplung di organisasi blog macam Angkringan (2002, bahkan membidaninya bersama Thomas dan kawan-kawan lain di Jogja -red) atau bahkan pernah juga jadi ‘what-so-called’ penanggung jawab nasional Blogbugs (2003-2004), komunitas blogger nasional yang dulu sempat kesohor sebelum akhirnya era social media datang melindas. Tapi aku tak lama berada di sana karena alasan tadi, ngeblog adalah ngeblog tak perlu berorganisasi beserta tetek bengeknya.

Tapi meski demikian, pendapatku toh tak berlaku bagi semua orang. Nyatanya, komunitas/organisasi yang berkaitan dengan dunia ngeblog di Indonesia tumbuh begitu marak dan hal ini tentu menarik untuk ditulis di sini dengan menghadirkan orang yang kuanggap memang aktif nyemplung di dalamnya.

Adalah Blontankpoer… errrr entahlah nama aslinya. Seorang berlatar belakang jurnalistik yang kini menetap di kota Solo, seorang blogger dan penggiat di komunitas blog Bengawan yang ‘kududukkan’ di sini untuk bicara soal blog dan organisasi.

Dari yang kuamati, ia tampak menyeruak di tengah geliat pelaku net citizen (sebutan untuk mereka yang giat berkomunikasi dan berkonten di jejaring internet -red) Indonesia. Pada saat yang lain mulai surut dan kukut ngeblog, Paklik Blonty, demikian kumenyebutnya, seperti tak pernah habis energi untuk terus ngeblog dan berkomunitas.

Ia juga bukan tipe organisatoris ‘hore-hore’ yang menghabiskan waktu berorganisasinya di coffeeshop mall untuk sekadar ‘ngopi cantik’. Otaknya penuh konsep yang terkadang aku sendiri sampai capek untuk mendengarkannya, dan satu lagi, karya nyata yang ia torehkan bersama komunitasnya juga ada, banyak malah!

Maka tak heran kalau ketika menginterview Paklik Blonty, aku butuh tenaga dan perhatian ekstra. Ia bukan orang yang mudah diperangkap dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kupersiapkan; sementara di sisi lain ia malah tak jarang mengejutkan memberi pernyataan yang membuatku berpikir, “Lah, ini pertanyaaannya tadi apa ya?”

Proses pengeditan tulisan ini pun tak semulus proses pengeditan tulisan yang lainnya.

“Ngisin-isini Klaten nek kowe ora iso ngedit interviewku! (Malu-maluin Klaten kalau kamu nggak mampu mengedit interviewku! -jawa)” ujarnya! Ya, aku dan dia memang sama-sama putra Klaten dan kami bangga untuk itu.

Jadi, silakan disimak, Kisanak! Tak perlu mengernyitkan dahi kalau tak mampu menangkap loncatan-loncatan pemikirannya. Cukup sruput teh yang ada di cangkir di sebelahmu sambil membayangkan itu adalah teh merk Blontea, teh racikan Paklik Blonty yang memang sudah dijual di beberapa gerai makanan yang ditunjuknya di kota-kota di Indonesia.

Kenapa blogger harus berorganisasi?
Gini. Seiring menguatnya kebebasan bersuara/berpendapat sebagai bagian dari HAM, maka blog dan social media sebenarnya hanyalah medium, seperti halnya tv, koran,radio dan media mainstream lainnya. Dalam konteks ini, setiap orang hakikatnya juga pewarta. Nah, berorganisasi memungkinkan orang saling bertukar pengalaman untuk meningkatkan kapasitas individu dalam memproduksi dan mengelola konten.

Itukah yang terpenting atau ada hal lain yang juga kamu anggap penting kenapa blogger harus berorganisasi?
Pola komunikasi juga penting!
Harus ada dialog dalam pola komunikasi antar anggota organisasi! Dialog mensyaratkan kemauan saling mengenali antar-pihak. Di dalamnya, ada tenggang rasa dan kesetaraan.

Menurutmu, apa yang akan kamu wanti-wanti untuk dijadikan garis batas aturan dalam membina komunitas blog?
Ada beberapa.
Pertama, karakter blogger.
Blogger kita itu mayoritas anak muda yang belum begitu kenal dunia tulis-menulis tapi mereka punya banyak keinginan, gagasan dan hal-hal lain yang ingin dibaginya. Dalam situasi demikian, maka komunitas bisa menjadi jembatan dan fasilitator untuk ‘perkembangan’ mereka. Makanya jangan memaksa mereka untuk menulis sehari sekian tulisan seminggu harus terbit sekian tulisan (wah kena nih gue! -red)

Ada lagi?
komunitas blogger jangan diformalkan lewat perkumpulan, yayasan dan sebagainya. Pengorganisasian secara formil akan memunculkan persepsi ‘ribet’, sebab dalam bentuk formal, dituntut ada AD/ART, program kerja dan seterusnya. Sebagai organisasi yang dibangun karena dasar kecocokan dan sukarela, maka komunitas pasti harus cair. Orang bisa keluar-masuk sesuai penilaian kemanfaatan subyektifnya. Dan itu harus disikapi sebagai kewajaran. Jangan kelewat tegang, kaku dan rigid.

Dan satu hal lagi, dalam komunitas blogger yang kebanyakan anak-anak muda yang berjiwa bebas, jangan sekali-kali memaksa mereka masuk tema-tema berat seperti activism, politik dll. Biarkan mengalir sesuai naluri dan kemauan anggota saja. Mau melakukan monetizing lewat review atau buzzing, pun tak jadi soal. Biarkan saja berjalan alamiah…. Diskusi yang digelar sesekali hanya upaya bersama-sama untuk mengenali ‘dunia lain’, sesuatu di luar dirinya. Dan, lewat diskusi, kopdar, dll itu, disadari atau tidak, pasti terjadi proses pembelajaran

Itu pandangan idealmu apa kenyataan di lapangan yang memang demikian?
Aku menyimak situasi. Bukan pandangan ideal.

Apa hal itu sudah kamu implementasikan di Komunitas Bengawan yang kamu gawangi?
Dalam konteks Bengawan, kesadaran untuk mengarah ke arah komunitas blog yang ideal memang ada. Makanya, dulu kami sering lakukan internal workshop, bikin focus group discussion (FGD), hingga bikin strategic planning.

Kelihatannya memang serius, padahal tidak. Kami di Bengawan menyadari, ngeblog itu kerelaan, semaunya. Maka, tak pernah dalam FGD, workshop dll itu lantas mengharuskan kami harus begini atau begitu. Mengalir saja….

Harus disadari, tidak semua blogger pernah mengalami workshop, FGD dan sejenisnya itu. Anggap saja yang demikian sebagai pengalaman baru, yang bisa jadi bekal mereka. Jangan berharap dari workshop dll itu, mereka mampu begini-begitu. Selalu ada proses, dan komunitas bisa mengambil peran, meski inisiatif dari anggota juga.

Seberapa jauh komunitas blog itu berguna bagi publik?
Komunitas blogger di Indonesia belum bisa dikatakan seperti itu (berguna bagi publik -red) meskipun memang dibangun untuk didedikasikan ke arah itu.?Meski demikian, pada prakteknya, komunitas blogger kuyakin selalu memberi dampak positif kepada lingkungan terdekatnya.

Ada contoh nyata untuk itu?
21 November kemarin, pihak Kementerian Komunikasi dan Informasi (kemenkominfo) menyumbang mobile community access point (M-CAP) berupa sepeda motor roda tiga dengan enam unit laptop, lcd dan screen, printer, silent genset, headset untuk difabel dan rakyat miskin di Solo dan sekitarnya.

Rencana ke depan, Bengawan akan mengelolanya dengan cara mendatangi basis-basis difabel dan kawasan miskin untuk edukasi ICT, bisa internet, bisa komputer dasar sesuai permintaan publik.

M-CAP ini adalah yang pertama di Indonesia dan aku ikut mendesain keperluan dan menyusun spesifikasi perangkat yang nilainya hampir 200 juta itu.

Bantuan ini sebenarnya dari kementerian langsung ke Pemerintah Kota Surakarta lalu kami yang kelola. Prosedurnya demikian. Itu pertama di Indonesia, kalau kami bisa optimalkan, mungkin akan dibuat lebih banyak untuk daerah-daerah lain.

Twitter dan berbagai kanal social media lainnya banyak dipilih mereka yang meninggalkan blog. Gimana menurutmu dalam kaitannya juga peran komunitas blog?
Kalau kini Twitter banyak dipilih orang, itu pun tak mematikan semangat orang ngeblog. Kompasiana, blogdetik, dll adalah contoh nyata gairah blogging. Mereka merasa individu bebas, bukan anggota komunitas blogger kota tertentu. Tapi,prakteknya, baik Kompasiana maupun Blogdetik juga diorganisir pengelola, dan muncul komunitas kompasianer di berbagai kota. Apapun sebutan atau sifatnya, keinginan blogger ‘berorganisasi’ nyata adanya.

Kamu terlibat aktif di acara ASEAN Blogger di Solo tempo hari. Kamu jadi apa di sana?
Aku diposisikan sebagai deputi/wakil ketua umum.
Tapi secara de facto, aku yang bikin argumentasi awal, kenapa kegiatan dilangsungkan di Solo. Tentu, selain karena aku bisa menggandengkan dengan Pemkot Surakarta, untuk berbagi beban pembiayaan acara, dalam arti, Pemkot Solo menyediakan beberapa fasilitas gratis untuk mendukung acara tersebut. Sebab, Pemkot, publik Solo dan Bengawan juga sama-sama dapat manfaat. Apalagi acara ini kan untuk Kementerian Luar Negeri dan ASEAN.

Menurutmu goal dari ABFI kemarin tercapai ngga?
Secara misi dari Kementerian Luar Negeri terhadap adanya ASEAN Blogger untuk persiapan Komunitas ASEAN 2015, sudah tercapai. Juga, dalam rangka mengisi kekosongan gathering blogger berskala nasional, yang melibatkan banyak orang, yang sudah jarang diadakan.

Menurutmu, ASEAN Blogger itu sendiri sudah berfungsi secara nyata belum tho? Kamu kan di atas bilang bahwa komunitas harus memberi dampak positif ke lingkungannya… lalu bagaimana dengan isu beberapa blogger yang dibui di Vietnam? Kan Vietnam itu ASEAN juga? Lantas apa peran Asean Blogger dalam melawan tirani seperti itu?
Kalau langsung menukik ke advokasi blogger Vietnam dll yang teraniaya, memang belum. Aku juga tak terlalu setuju ASEAN Blogger mengarah ke freedom of expression, dan isu-isu berat lainnya. Seumpama di event itu muncul semacam pernyataan bersama mengecam Pemerintah Vietnam, lalu peserta dari negeri itu dijemput aparat sepulang dari Solo, siapa yang bertanggung jawab? Siapa pula yang terpaksa jadi korban?

Kupikir, kita harus bijak menyikapi situasi. Toh, dengan bertemu blogger dari berbagai negara, mereka sudah bisa diskusi panjang lebar soal kebebasan dan strategi menghadapi rezim otoriter, meski secara informal.

Jangan terlalu semangat jadi aktivis. Lebih baik diberdayakan pelan-pelan, supaya matangnya beneran, sehingga lahir generasi dengan militansi tinggi pada saatnya nanti.

Aku lebih nyaman ASEAN Blogger jadi organisasi hore-hore dulu. Lha wong di level pengurus dan penggiatnya juga belum banyak yang menguasai soal-soal hukum, politik, tatakrama pergaulan diplomatik kok. Biarkan ia konsentrasi di wilayah kultural, wisata, ekonomi, dll. Toh, dalam setiap interaksi blogger antar-bangsa pasti akan muncul diskusi terbatas soal itu. Biarkan itu bergerak alamiah.

Untuk advokasi blogger dll itu, bisa diwakili lembaga-lembaga advokasi kasus HAM, juga pegiat kebebasan berekspresi. ASEAN Blogger dan lembaga sejenis bisa berinteraksi, saling bertukar gagasan dan informasi, dan seterusnya. ASEAN Blogger tidak dirancang untuk yang demikian.

Wah brarti ASEAN Blogger dirancang untuk apa?
ASEAN Blogger dirancang sebagai wadah blogger Indonesia yang concern terhadap banyak hal mengenai ASEAN. Ia menjadi mitra Kemenlu, dalam hal ini Ditjen Kerjasama ASEAN untuk mensosialisasikan kesepakatan regional membentuk Komunitas ASEAN 2015. Itu jangka pendeknya. Tapi untuk jangka panjang, Asean Blogger diharapkan jadi jembatan pergaulan antar-bangsa yang diperankan oleh publik.

Sebarluaskan!

9 Komentar

  1. blogger nulis sepisan pindho, bar wes enthuk bolo gawe gank, bar kuwi dadi baser, dadi caleg, dadi selebrutu

    Balas
    • wong jatidirine ora wani ngetokake wae kok tanggung unine. mbok rada cong sithik, sing dawa sisan.. apik lho yen dawa, bisa kanggo kontrol, kanggo imbangan. kan ora kudu mathuk lan sarujuk, ta? :)

      Balas
  2. Ng..nganu….

    Balas
  3. Menarik, tentang tulisannya.
    dijadikan ilmu untuk bisa diserap.

    terima kasih.

    Balas
  4. numpang UPDATE:
    MCAP motor roda tiga, sampai sekarang belum berfungsi maksimal.. sebagai prototipe, ternyata hasil rancang bangunnya tidak berhasil. bahan yang digunakan terlalu berat sehingga membuat tumpuan beban ada di belakang, sulit dikendarai di jalan. kapasitas mesin juga tak support terhadap bodi.

    akubatnya, tidak mudah dikendarai. malah, saya pernah terguling.

    celakanya, muncul ekses. kami dikira mengangkangi fasilitas yang sejatinya tanpa dukungan pembiayaan perawatan dan operasional.

    dua bulan lalu diaudit dari kementerian. kami usulkan modifikasi ulang supaya bisa dikendarai dan bisa jalankan program. demikian…

    kami mohon maaf kepada semua pihak.

    Don, selamat Natal dan Tahun Baru. salam buat semua keluargamu.

    Balas
  5. ternyata di klaten banyak #blogger2 keren ya :D salam kenal mas, saya juga asli klaten dan masih menetap di klaten. hee

    Balas
  6. ujug-ujug kangen pakdhe Bontank, tekon mbah Gugel, lha kok malah nyasar mrene. apik tapi laporane masdab DV, as always :-)

    Balas
  7. *Blontank – sori pakdhe, kesusu

    Balas
  8. Seorang sosok blogger senior di Indonesia yang bisa dijadikan panutan untuk beberapa hal :-)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.