Bisakah tetap mengimaniNya tanpa harus dibenci semua orang?

27 Nov 2019 | Kabar Baik

Dalam Kabar Baik hari ini Yesus menyampaikan sesuatu yang bagi para muridNya waktu itu tentu sangat mengejutkan, ?Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku!? (Lukas 21:17) Bukankah Dia datang sebagai raja tapi kenapa justru dibenci saat mereka menjadi murid Sang Raja?

Pada prakteknya, para murid Tuhan waktu itu memang mengalami hal tersebut. Mereka dibenci semua orang. Ditekan, dikejar, dianiaya bahkan dibunuh karena iman terhadap Yesus.

Dibenci semua orang karenaNya?

Lalu adakah hal itu masih terjadi sampai sekarang? Adakah kita tetap dibenci semua orang karena kita mengimaniNya??

Barangkali hanya sedikit dari kita yang dianiaya hingga dibunuh karena iman. Tapi tekanan karena iman terhadap Yesus, hingga dua ribu tahun sesudah kenaikanNya ke surga masih saja terjadi!

Di negara-negara maju, Gereja Katolik kerap diprotes karena sikapnya yang dianggap ?kaku? terhadap isu-isu yang kritis seperti misalnya pernikahan sesama jenis, eutanasia bahkan kontrasepsi buatan, pun Gereja tetap menunjukkan sikap penolakannya.

Di negara-negara tertentu, dimana umat Tuhan menjadi minoritas, tekanan tampak lebih nyata. Banyak gereja dirusak, ditutup. Banyak rencana pendirian gereja dibatalkan. Bahkan di sana-sini, persekusi terhadap peribadatan juga kerap menghiasi media.

Lalu bagaimana menyikapi hal ini?

Dibenci itu resiko bukan tujuan

Inilah tantangannya.
Yang pasti, menurutku, mula-mula kita harus melihat ?dibenci orang? itu bukanlah tujuan melainkan resiko. Dan yang namanya resiko, kalau bisa ya dihindari jangan sampai terjadi. Seperti halnya naik sepeda motor itu beresiko jatuh dari kendaraan tapi sebisa mungkin kita berhati-hati dalam berkendara hingga sampai ke tujuan dengan selamat tanpa harus jatuh, bukan?

Ketika Gempa Jogja terjadi, 2006 silam, pernah terjadi sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Gereja ditolak bantuannya ke salah satu daerah terdampak gara-gara isu kristenisasi.

Masyarakat sekitar menolak karena di dalam bantuan tersebut terselip buku-buku rohani Katolik.  Organisasi tersebut segera menarik bantuan dan memohon maaf. Bantuan disortir ulang dengan amat hati-hati lalu diedarkan lagi dan akhirnya diterima dengan baik oleh masyarakat.

Bagiku ini adalah contoh bagaimana kita sebagai orang yang mengimaniNya menghindarkan resiko ?dibenci orang? sebaik mungkin. Tujuan organisasi itu memang bukan melakukan kristenisasi melainkan untuk membantu. Maka daripada tujuannya terbengkalai gara-gara cara yang salah, lebih baik caranya diperbaiki sehingga tujuan tetap terlaksana.

Tapi ada kalanya yang terjadi agak berbeda. Misalnya ada sebuah kasus dimana sebuah kelompok doa dipersekusi karena kegiatannya dianggap kristenisasi padahal selama? ini baik-baik saja.?

Bagiku, tujuan dari kegiatan itu jelas yaitu berdoa bukan kristenisasi. Maka ketika tujuan yang jelas itu dipertanyakan dan dijadikan bahan pertimbangan oknum untuk mempersekusi, kita harus melawan.

Dibenci karena perlawanan kita? Selama kita yakin berada di jalur yang benar dan tidak melanggar hukum positif negara ya tak mengapa, itu resiko sebagai murid Tuhan!

Dibenci atau ‘damai’?

Tapi bukankah sebaiknya kita mengalah, Don??Bukankah kita diajari untuk mengupayakan damai? Bukankah kita dibilang kalau ditampar pipi kiri maka berikanlah pipi kanan (lih. Yoh 18:23)?

Banyak orang menggunakan dalih-dalih semacam ini bukan untuk membela iman tapi untuk menutupi rasa takut karena terhimpit oleh desakan orang-orang.

Takut itu bukan damai. Damai harus tercipta atas dasar saling menghormati bukan asas menakuti-ditakuti. Dan jangan salah! Aku setuju kok kalau kita ditampar pipi kiri maka berikan pipi kanan. Tapi persoalannya, kamu baru digertak dan belum sempat ditampar pipi kiri tapi kamu sudah buru-buru memberikan pipi kanan?

Semoga Tuhan menguatkan kita dalam mengikutiNya.

Sydney, 27 November 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.