Bisakah percaya tanpa bukti?

1 Apr 2019 | Kabar Baik

Anak pegawai istana itu sakit. Ia bukan orang yang percaya kepada Yesus, tapi ketika seluruh kota mengelu-elukan Dia, pegawai itupun mendatangiNya, berusaha untuk percaya dan memohon kesembuhan anaknya.

Pegawai istana itu lalu disuruh Yesus pulang karena, ?Anakmu hidup!? Ia percaya. Pulanglah ia dan benar, anaknya memang hidup dan sembuh.

Percaya dua kali?

Ada yang menarik dalam kisah Kabar Baik ini. Oleh penulisnya, Yohanes, rasa percaya pegawai istana itu ditulis dua kali banyaknya.

Yang pertama ditulis dalam Yohanes 4:50,?

Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Yang kedua ditulis dalam Yohanes 4:53,

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.

Percaya pada kata dan bukti dari kata-kata

Rasa percaya yang pertama adalah percaya pada perkataan. Pegawai istana itu percaya apa yang dikatakan Yesus. Rasa percaya yang kedua adalah percaya setelah perkataan tadi terbukti; melihat bahwa yang ia dapati sesuai dengan apa yang dikatakanNya yaitu bahwa anaknya hidup.

Bisakah kita bayangkan bagaimana jika si pegawai istana yang sudah percaya pada perkataan Yesus itu tapi ketika pulang dan didapati anaknya tak hidup? Adakah ia melanjutkan rasa percaya itu?

Karena kelemahan manusia, bukti dari perkataan terkadang baru akan akan melunasi rasa percaya seutuhnya. Jika tidak? Ya tidak lunas tapi tuntas saat itu juga!

Waktunya Tuhan bukan waktu kita?

Semuanya terjadi hingga kini.
Ada begitu banyak orang yang semula percaya kepada Tuhan mulai meninggalkan karena tak percaya lagi. ?Katanya Tuhan mau memberi hidup enak dan nyaman tapi kok miskin melulu hidupku?? atau ?Katanya Tuhan mau menyembuhkan sakit tapi kok malah tambah berat begini seolah tiada harapan lagi??

Dengan apa kita harus menghibur mereka?

Banyak yang menghibur, ?Waktunya Tuhan bukan waktu kita!? tapi adakah itu akan jadi hiburan yang mempan untuk seseorang yang menaruh harap akan bukti?

Pada masa Pra Paskah ini, kita diajak untuk belajar percaya dengan cara yang lebih baik lagi. Percaya yang tak perlu melihat tanda dan mukjizat tapi tetap percaya.

Bisakah?
Bisa nggak ya?

Sydney, 1 April 2019

Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”
(Yesus, seperti ditulis Yohanes dalam Yohanes 4:48)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.