Tuhan selalu kita hampiri menggunakan emosi padahal seharusnya nggak selalu.?Seolah kalau berdoa, kalau nggak pake nangis-nangis tak bisa dibaca dan bernyanyi lagu rohani, kalau nggak sampe serak-serak suaranya, dibilang kurang menjiwai.
Kesampingkanlah emosi, kemukakan logika dan etika lalu dekati Dia!
“Loh, tapi kalau dilogika, Tuhan itu tak ada, Don!”
Kata siapa!? Justru sebaliknya, bisakah kamu menggunakan logikamu untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tak ada? Bisa?
Kalau kamu hidup di Jogja dan selamanya belum pernah ke Jakarta, apakah berarti Jakarta itu tak ada?
“Wah kalau kamu menggunakan analogi semacam itu, berarti bisa kita bilang bahwa orang-orang yang ke Jakarta dan tinggal di sana itu tak ada, pembohong semua, Don!?”
Loh, kenapa begitu?
“Karena kan kamu belum pernah ke Jakarta dan tak percaya ada?”
Nah! Disitulah kamu perlu etika.
“Maksudmu, Don?”
Karena tak etis kalau kamu menghakimi orang yang sejatinya sama-sama sedang menghampiri penciptaNya…
*…lalu disiram teh*
Tinggalkan Balasan